Poison Of Love Part 11 End


image

Tittle: Poison of Love 10
Cast:
Song Eunso
Cho Kyuhyun
Henry Lau
Shin Haneul
Dennis Kane a.k.a Dennis Cho (new cast)
Genre: Romance
Rate: 17+
Leght: Chapter
Author: Mylittlechick

Terharu karena banyak yang sayang sama Eunso.. sampe minta Eunso hamil huhuhuhu.. “berurai airmata”

END.. kali ini bener” END… eh kenapa mikirnya dennis itu anak minhye dan kyu? Kan bapaknya bule. Ibunya wanita malam. Tak mungkinlah itu minhye. Minhye sekarang dirumah sakit jiwa gr” Kyuhyun. kwkwkwkw (authronya yang mau itu mah).

Oh ya buat yang berasa janggal denger papa mama, bayangin dennisnya manggilnya kyk anak-anak barat. Yang nyebut mama dan papa lucu banget. Kenapa aku milih papa sm mama, soalnya keponakan aku yang unyu, manggilnya lengkap gt. Papa.. Mama.. dengan suara yang ngegemesin. Jadi deh tercipta panggilan ini. hahaha.

Yang nanyain ttg Dennis ntar di akhir aku tulis penjelasan anak ini. trus Mau Minta Maaf sama fans nya Haechul ya.. maaf haechulnya dibuat jahat disini. Oke! Dimaafin kan? hehe

Happy reading. JGN BAHAS TYPO lagi OKE..!!

=====o0o=====

Kyuhyun harus merasakan kecemasan yang mendalam sekali lagi dalam hidupnya. Tapi, ia tidak bisa menunjukkan itu di depan Dennis; anak yang saat ini masih menangis dalam gandengan tangannya. Mereka berdua berdiri di depan pintu periksa yang memishkan mereka dengan Eunso. Menanti dokter Park yang memeriksa Eunso saat ini. Perasaan keduanya jelas terbaca, cemas dan khawatir.

Tap..tap..tap.. suara langkah kaki yang mendekati mereka membuat Kyuhyun menoleh ke belakang kemudian ia benafas lega.

“Hyung.” Henry tiba dengan nafas tersengal-sengal.

“Syukurlah kau akhirnya datang juga. Aku ingin kau bawa Dennis pulang.”

“Aku ingin disini bersama Papa.” Dennis melirik ke arah Kyuhyun penuh harap.

“Tolong Papa, pergilah bersama Paman Henry. Ya..?” Kyuhyun berjongkok di depan Dennis sambil mengusap airmata yang berada di pipi mungilnya itu.

“Tapi.”

“Kau anak yang kuat kan?” potong Kyuhyun. “Tolong Papa, jadilah anak yang manis saat ini. Papa butuh kau untuk kuat dan jadilah anak baik selama paman Henry menjagamu, eoh?” Kyuhyun mengusap kepala Dennis dan tersenyum menenangkan. Ia juga harus kuat, demi Dennis.

“Baiklah Papa,” jawab Dennis, menarik ingusnya yang hendak jatuh. Ia akan kuat seperti Papanya.

“Itu baru anakku,” bisik Kyuhyun. “Kemarilah.” Menarik Dennis ke dalam pelukannya dan mengecup kepala Dennis. “Pergilah dengan Paman Henry.”

Henry mengulurkan tangannya kepada Dennis sambil tersenyum. “Kajja jagoan.”

Dengan enggan Dennis pun meraih tangan Henry yang terulur padanya. Menoleh ke belakang ke arah Kyuhyun yang melambaikan tangan padanya dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Memberikan dukungan agar Dennis bisa kuat.

Setelah Dennis pergi dengan Henry, Kyuhyun pun menghembuskan nafasnya. Saatnya untuk panik seorang diri. Jantungnya hampir saja lepas dari tubuhnya ketika melihat Eunso terjatuh. Apa yang salah? Bukankah seharusnya Eunso sudah sehat dan tidak seharusnya ia pingsan kalau itu hanya karena rasa lelah. Apa yang terjadi?. Meremas rambutnya dengan kedua tangan, Kyuhyun berjalan bolak-balik mengukur jarak di lorong rumah sakit. Tidak sabar untuk menunggu dokter Park yang memeriksa Eunso.

CEKLEEEEKK…

Pintu terbuka. Kyuhyun langsung menghampiri suster yang keluar dari pintu itu. “Tuan Cho, masuklah.”

Di dalam ruangan dokter Park sedang membaca laporan dari hasil lab yang luar biasa cepat langsung keluar setelah ia menyuruh perawat mengambilkan sampel untuk pemeriksaan Eunso. Kyuhyun menghembuskan nafasnya lega melihat Eunso menoleh padanya. Istrinya sudah sadar.

“Oppa,” panggil Eunso.

Kyuhyun meraih tangan Eunso lalu mengecup punggung tangan itu lembut. “Tuhan, kau menakutiku.” Mencium Eunso lembut dan tegas. Lega karena istrinya dengan cepat bisa sadarkan diri.

“Kyuhyun-ssi,” panggil dokter Park.

Kyuhyun melirik Dokter Park dengan ekspresi tegang. “Dokter Park, lama tidak berjumpa. Bagaimana Eunso?” Semenjak Eunso pergi ke Jerman Kyuhyun tidak pernah lagi bertemu dengan dokter Park. Dokter yang memeriksa keadaan Eunso sejak ia kecil. Dokter Park masih terlihat sama, hanya ada dua kerutan tambahan di wajahnya yang membuatnya terlihat semakin tua.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Eunso hanya kekurangan darah dan terlalu lelah.”

Kyuhyun menghembuskan nafasnya lega. “Sepertinya ide piknik di musim panas adalah ide yang buruk,” bisik Kyuhyun sembari mendaratkan kecupannya di kepala Eunso. Eunso tersenyum lemah menyambut lelucon Kyuhyun.

“Kalian pergi piknik?” tanya dokter Park.

“Nee. Bersama Dennis.” Dokter mengangkat alisnya ketika mendengar nama Dennis. “Seorang anak laki-laki yang kurang lebih sudah tiga bulan ini kami adopsi,” jelas Kyuhyun.

Dokter Park hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali menerima informasi itu. Menuliskan sesuatu di atas kertas dokter Park menyerahkannya kepada perawat. “Eunso sudah boleh pulang, aku memberikan resep untuk penambah darah dan beberapa vitamin. Dosisnya ringan sehingga tidak akan mempengaruhi kondisi bayinya. Aah..  Aku ingin resep obat untuk kandunganmu agar aku bisa mencocokkan dengan obat yang lain”

Dokter Park mengedipkan matanya ketika Kyuhyun dan Eunso hanya diam dan menatap dokter Park bingung.

“Bayi?” suara Kyuhyun. Terkejut.

“Hamil?” suara Eunso. Sama terkejutnya.

“Kalian tidak tahu?” suara dokter Park. Terkejut juga menyadari kedua orang tua itu tidak menyadarinya.

“Tapi.” Suara Eunso terbata. Mencoba untuk bangkit dari posisinya yang berbaring. Kyuhyun yang masih sedikit terkejut tidak menahan Eunso agar tetap berbaring. “Aku tidak mungkin hamil.”

“Tidak mungkin?” Dokter Park menaikkan alisnya bingung.

“Aku sudah di Vasektomi,” jawab Kyuhyun.

Dokter Park menaikkan lagi alisnya mendengar berita itu. Kenapa harus di Vasektomi? “Well, apa kau melakukan prosedur yang benar setelah di Vasektomi?” tanya dokter Park. Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Kau memakai kondom ketika bercinta selama dua bulan setelah operasi kecil itu?” tanyanya lagi.

“Nee. Aku mengikuti instruksinya dengan benar,” Jawab Kyuhyun.

“Ini membingungkan.” Alisnya naik, jika Kyuhyun sudah di Vasektomi kemungkinan untuk Eunso hamil akan kecil sekali. Dan jika Eunso hamil itu hanya ada dua kemungkinan, Kyuhyun tidak melakukan prosedur Vasektomi dengan benar atau Eunso hamil dengan laki-laki lain.

“Aku tidak tidur dengan laki-laki lain selain kau oppa.” Suara Eunso terdengar mengerikan ketika ia juga memikirkan hal itu.

Kyuhyun tersenyum canggung sambil mengusap kepala Eunso. Tentu saja dia tahu bahwa Eunso tidak tidur dengan laki-laki lain.

Dokter Park merasakan aura ketegangan diantara kedua orang itu. “Baiklah, aku akan meneliti lebih lanjut. Siapa nama dokter yang melakukan operasi itu padamu? dan kapan tepatnya?”

“Dokter Shin Changmin. Tiga bulan yang lalu”

“Shin Changmin, dia dokter beda yang handal tidak mungkin salah melakukan operasi seperti ini.” Jarinya menepuk-nepuk pelan pipinya berfikir keras. Sepertinya ada yang salah. “Kau bilang kapan tepatnya operasi itu?”

“Kurang lebih tiga bulan yang lalu.”

“Tiga bulan. Itu berarti 12 minggu.” Sekali lagi memeriksa hasil laboratoriumnya. “Yah, itu artinya Eunso hamil sebelum kau melakukan operasi. Karena usia kandungan Eunso sudah menginjak 14 minggu.”

Kyuhyun dan Eunso lagi-lagi tercengang. “Nee?”

“Kurang lebih sudah tiga bulan lebih sekarang.”

“Tapi.” Eunso kembali bersuara. “Sebelumnya aku mendapatkan tamu bulananku,” lanjutnya.

“Apa pendarahannya banyak?”

Eunso diam sejenak sambil melirik ke arah Kyuhyun. “Tidak, hanya satu hari dan tidak terlalu banyak. Tapi, kupikir itu karena aku sedang stress sehingga darahnya tidak keluar lagi”

“Ada banyak wanita yang mengalami hal seperti itu ketika hamil. Itu hal yang wajar.”

Eunso menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya pendek-pendek. Dia hamil? hamil? jadi saat menstruasinya datang dia sudah hamil? benarkah?.

Eunso memberanikan diri melirik ke arah Kyuhyun. Kyuhyun menatapnya dengan mata melebar ngeri, ketakutan terlihat jelas di mata itu. Dirinya juga tidak percaya bahwa Eunso bisa hamil. Bahkan sebelum ia menjalani operasi Vasektomi.

“Aku akan menambahkan vitamin untuk kandunganmu juga agar tetap kuat. Tapi, kau harus tetap memeriksakan diri pada dokter kandungan.” Setelah mengucapkan hal itu dokter Park pun pergi.

Kyuhyun masih berdiam diri, memandang kosong ke wajah Eunso. Eunso bergerak takut-takut menyentuh tangan Kyuhyun. “Oppa.”

Kyuhyun berbalik sebelum Eunso menyentuhnya, berjalan keluar menyusul dokter Park. “Dokter Park.”

“Oppa,” panggil Eunso.

Kyuhyun tidak mendengar Eunso, dan terus mengejar dokter Park. Airmata menggenang di pelupuk mata Eunso. Entah ia harus merasa senang atau sedih. Senang karena akhirnya keinginan terbesarnya menjadi kenyataan, yaitu mengandung anak Kyuhyun. Sedih karena kenyataan bahwa Kyuhyun tidak menyukai ide dia hamil. Mungkin ketika kehamilan ini masih berusia dua atau tiga minggu, Kyuhyun akan memintanya untuk menggugurkannya. Tapisekarang, tidak mungkin di gugurkan akrena usia kandungannya sudah menginjak empat belas minggu.

Empat belas minggu?. “Ya Tuhan,” desah Eunso. Itu artinya ia sudah melewati fase trimester pertama bukan? Dan dia masih baik-baik saja saat ini. Sehat dengan kondisi yang baik. Eunso mengusap perutnya dan tersentak, entah kenapa ia memang merasa aneh dengan sedikit perubahan tubuhnya. Ia memang lebih berisi dan Eunso ingat, Kyuhyun mengatakan padanya bahwa berat badannya bertambah bukan?

Eunso menarik blousenya ke atas dan menatap perutnya, memang sedikit buncit. Ia mengira bahwa itu memang karena dia sedikit gemuk. Bagaimana tidak, nafsu makannya bertambah semenjak Dennis ada di rumah. Dan Kyuhyun sama sekali tidak pernah mengeluh dengan kondisinya yang sedikit gendut. Kyuhyun bahkan menyukainya. Karena itu Eunso tidak terlalu memperdulikan perutnya yang membuncit ini.

“Ternyata ada kau disana eoh?” bisik Eunso lirih. Tertawa dengan airmata berjatuhan di perutnya. “Terima kasih, terima kasih karena kau ada disana. Terima kasih karena bertahan sampai saat ini. Terima kasih.” Tidak henti-hentinya Eunso mengucapkan rasa syukurnya kepada jabang bayi yang ada di dalam perutnya sekarang. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa bayinya bertahan disana hingga ia tidak menyadarinya.

Eunso mengusap airmatanya dan menatap pintu yang tertutup itu. Apa yang akan Kyuhyun lakukan sekarang?

.

Dennis menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan. Tidak tahu harus bagaimana, ia takut dan cemas. Tidak ingin Mama barunya pergi seperti Eommanya. Melihat Eunso jatuh seperti itu, mengingatkannya pada kejadian yang paling buruk yang pernah ia ingat. Airmata jatuh di pipinya, membautnya terisak-isak kecil.

Henry menoleh ke arah Dennis sambil menggigit bibirnya. Apa yang harus ia lakukan untuk menghibur anak ini?. “Hei Dennis. Tegarlah,” ujar Henry.

Dennis mendongak ke arah Henry sambil mengusap airmatanya.

“Mamamu orang yang kuat. Dia sudah pernah mengalami hal yang lebih mengerikan dari pada sekedar pingsan. Percayalah.”

Dennis menganggukkan kepalanya. Ia harus percaya bahwa Eunso akan kembali padanya. Bahwa Eunso akan bermain bersamanya keesokan harinya. “Paman Henry,” panggil Dennis.

“Nee?”

“Sebenarnya paman ini siapa?” Dennis Cho dengan segala rasa penasarannya.

“Aku? Aku fans Papamu.”

“Apa itu Fans?”

“Seseorang yang memuja sang idola,” jawab Henry sambil menaik-naikkan alisnya. “Papamu itu orang yang keren sekali bukan?” Dennis mengangguk. “Karena itu aku memujanya dan mengidolakannya.”

“Aku juga mengidolakan Papa,” ujar Dennis.

Henry menatap Dennis cukup lama sebelum memutuskan. “Akhirnya, setelah sekian lama ada member baru. Kyuhyun fans club. Kita benar-benar harus membuat nama untuk Fans Cho Kyuhyun. Bagaimana jika Sparkyu,” ujarr Henry semangat sambil menggerakkan tanganya memutar ke depan wajah Dennis. “Kita juga bisa meresmikan Poison couple fans club,” lanjutnya.

Dennis mengedipkan matanya berkali-kali. Sepenuhnya tidak mengerti apa yang Henry katakan padanya. Apa paman Henrynya ini suda gila?.

“Oh.” Henry menghentikan mobilnya di sisi Jalan lalu melongok ke luar jendela. “Apa yang dilakukan gadis itu di luar sini? Dennis kau tunggu sebentar nee.”

Henry keluar meninggalkan Dennis seorang diri di dalam mobil. Kakinya melangkah dan mengejar seorang gadis yang berjalan sambil sedikit melompat-lompat dan bersenandung. “Haneul,” panggilnya.

Haneul yang di panggil pun menoleh ke belakang dan terkejut mendapati Henry berada di belakangnya. Cepat-cepat ia menyembunyikan benda yang ia pegang dari tadi ke belakang punggungnya. Henry menaikkan alisnya. “Apa yang kau sembunyikan?”

“Tak ada,” jawab Haneul gugup.

Henry menyipitkan matanya curiga. “Jangan bilang itu Majalah game edisi terbaru dan kau tidak mau membaginya denganku.”

“Anni, bukan itu.” Merah, wajah gadis itu semerah tomat.

Henry memberengut tidak suka. “Kebetulan kau lewat aku ingin mengatakan bahwa aku sudah mendapatkan video-video itu. Aku akan memberikannya padamu ketika aku ke kantor Kyuhyun hyung.”

Haneul menatap Henry terkejut. “Kau berhenti dari mobilmu hanya untuk mengatakan ini?” wajahnya kembali merona.

“Oo. Selagi aku ingat.” Henry menghentikan kalimatnya kemudian matanya menangkap sosok yang ia kenal. Wanita dewasa dengan pakaian yang indah, Cantik dan anggun seperti biasanya.

Henry menatap wanita itu penuh rindu. Im Nana, Sudah sangat lama ia tidak bertemu dengan wanita itu. Meskipun wanita itu sering menghadiri acara pertemuan keluarga di rumah, Henry tetap tidak melihatnya. Sudah jelas Henry menghindari wanita itu, karena setiap ia melihat wanita itu hatinya masih merasa sangat sakit karena penghianatannya. Menikahi laki-laki lain. Menikahi kakaknya sendiri.

“Hanry-ssi?” suara Haneul terdengar jauh dari pendengaran Henry.

Mata Im Nana menangkap mata Henry. Henry tersentak karena pertemuan mata yang tiba-tiba itu. Im Nana tidak tersenyum ataupun menghindari tatapan matanya. Dan entah apa yang merasukinya, tangan Henry bergerak dengan sendirinya. Menangkup wajah gadis yang berada di hadapannya dan menarik wajah itu ke arahnya, menunduk dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Haneul. Mencium gadis itu.

Haneul mengerjabkan matanya sekali. Dua kali. Lalu memejamkan matanya ketika ciuman Henry berubah sedikit lebih berani. Menyecap dan mencicipi rasa dari bibir Ranum Haneul, Henry terus menggerakkan bibirnya. Haneul menaikkan tangannya dan berpegangan pada lengan Henry. Menjatuhkan kantung yang berisikan hadiah yang ingin ia berikan kepada Henry.

Henry melepaskan tautan bibirnya, membuat Haneul sedikit goyah. Matanya tidak berani untuk menatap Henry. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ya Tuhan, Henry mengambil ciuman pertamanya. Dengan malu-malu Haneul menaikkan pandangannya namun tatapannya membeku karena Henry tidak membalas tatapannya melainkan menoleh ke arah seorang wanita yang berdiri tidak jauh di belakangnya.

Wanita itu pergi, membuat Haneul menaikkan alisnya bingung. Haneul menoleh lagi ke arah Henry.

“Aku pergi. Dah Haneul.”

Haneul merasa bingung, apa yang terjadi. Kenapa Hnery menciumnya dan pergi begitu saja setelah membuat jantungnya berdetak sangat kencang?.

.

Henry mesuk ke dalam mobil dan mengacak-acak rambutnya. Apa yang barusan ia lakukan? Bagamana mungkin dia mencium Haneul di depan Nana seperti itu?. “Isssshh.. Pabo,” rutuk Henry pada dirinya sendiri.

“Paman, kau mencintai Haneul nuna?” Suara Dennis mengingatkan Henry bahwa ada penumpang gelap di mobilnya.

“Ya Tuhan. Kau membuatku kaget,” ujar Henry. Memegang jantungnya yang berdegup kencang. Ah tidak jantungnya sudah berdegup kencang sebelum Dennis mengagetkannya. “Tidak, aku tidak mencintai Haneul” Tidak lupa untuk menjawab Pertanyaan Dennis.

“Lalu kenapa Paman menciumnya?”

‘Karena ada wanita itu,’ batin Henry. “Sudah jangan bertanya lagi. Kita harus pulang.” Kemudian Henry melajukan mobilnya. Melirik ke arah kaca spion untuk melihat Haneul yang masih berdiri dalam keadaan bingung. Ya Tuhan, apa yang baru saja ia lakukan?.

.
.
.

Di Mobil yang berbeda. Eunso menatap dalam diam ke luar jendela. Hari sudah gelap, jalanan pun sudah diterangi oleh lampu-lampu kota. Suasana di dalam mobil sunyi dan sepi. Kyuhyun tidak mengatakan apapun juga sejak ia mengajak Eunso pulang dari rumah sakit. Tidak berkomentar apapun tentang kehamilannya, entah itu marah atau gembira. Kyuhyun tidak mengatakan apapun.

Eunso menoleh ke arah Kyuhyun yang menopangkan kepalanya di tangannya yang bersandar di jendela. Terlihat lelah dan kalut karena adanya masalah.

“Oppa,” panggil Eunso.

“Tidak sekarang sayang,” jawab Kyuhyun cepat.

“Tapi kita harus membicarakannya. Jangan mendiamiku.”

“Nanti.. Kumohon. Nanti,” desis Kyuhyun.

Airmata kembali menggenang di mata Eunso. “Itu artinya oppa tidak suka mendengar aku hamil ya?”

“ASTAGA. KUBILANG JANGAN SEKARANG, KAU INGIN MEMBUATKU MENABRAKKAN MOBIL INI?”

Eunso terlonjak karena terkejut. Ia menutup mulutnya dan terisak sambil menoleh ke samping. Membuang wajahnya dari suaminya ini. Kyuhyun mendesah lalu mengulurkan tangannya ke kepala Eunso.

“Nanti kita bicarakan. Kau harus berfikir dulu,” ujarnya.

“Apa yang harus kau pikirkan? Memikirkan bagaimana caranya menyingkirkan bayi ini?” tuduh Eunso.

“Astaga. Bagaimana mungkin kau berfikir aku ingin membunuhnya?”

“Reaksimu yang mengatakannya oppa.”

“Tuhan.” Kyuhyun membenturkan kepalanya ke sandaran kursi di belakang kepalanya. Berhenti ketika lampu merah menyala. Mengusap wajahnya dengan tangannya, lelah dan ia tidak tahu harus apa. Dengan Eunso hamil itu artinya ia akan memiliki anak kandungnya sendiri, tapi juga itu berarti kematian untuk Eunso.

“Kau harus menerima kenyataan bahwa aku sudah hamil empat bulan.” Suara Eunso terdengar serak.

“Tuhan, Aku mendengar dokter Park tadi. Tidak perlu menjelaskannya. Aku sangat tahu kau sekarang sedang hamil. Berat badanmu bertambah, kau juga beberapaka kali menjadi sensitive ketika aku mencumbu payudaramu belakangan ini. Astaga. Song Eunso. Tidak adakah yang bisa membuatku  mati saat ini?.”

“Kenapa kau ingin mati sekarang?”

“Agar aku tidak perlu melihatmu mati dan meninggalkan aku lebih dulu!”

Eunso mengigit bibirnya yang bergetar. Airmata kembali jatuh di pipinya. “Ini seharusnya berita yang membahagiakan bukan?”

Kyuhyun melajukan lagi mobilnya ketika lampu hijau menyala tanpa menjawa Eunso. Kembali membisu sampai mobil itu membawa mereka kembali ke rumah. Rumah dimana mereka bisa kembali tenang karena ada malaikat kecil disana yang menyejukkan hati keduanya.

.
.

Eunso sedang berbaring di tempat tidurnya ketika pintu kamarnya di ketuk dan Dennis masuk. “Mama.” Anak laki-laki itu berlari dan menghampiri Eunso.

Tersenyum Eunso mengulurkan tangannya kepada Dennis dan memeluknya. Menyerap kehangatan dan aroma sampo Dennis. Ia membutuhkan ini, sebuah pelukan. Kyuhyun tidak memeluknya tapi ada Dennis disini yang menggantikannya.

“Mama, kau sudah sembuh?” tanya Dennis.

“Ya sayang, Mama sudah sehat kembali.” Eunso mengusap wajah Dennis lembut.

Dennis tersenyum dan memeluk Eunso lagi. “Aku takut Mama, Aku takut Mama akan meninggalkanku seperti Eomma.” Dennis kembali terisak.

Eunso mengangkat Dennis agar naik ke tempat tidurnya dan membaringkan putranya itu di sisinya. Menepuk-nepuk punggung Dennis dengan sayang. “Mama tidak akan meninggalkanmu, tidak juga Papamu. Tidak akan pernah. Mama akan kuat dan sehat selalu.”

‘Sangat kuat agar bisa melahirkan bayi ini dengan selamat,’ tambahnya dalam hati.

“Tadi Papa juga sangat takut.” Dennis mengusap airmatanya.

“Ya, Mama tahu.”

“Mama jangan jatuh lagi.”

“Tidak akan jatuh lagi.” Eunso mengecup lembut kepala Dennis. “Kau mau tidur disini bersama Mama? Mama membutuhkanmu”

“Jka boleh.”

“Tentu saja boleh sayang. Temani Mama malam ini.”

‘Temani Mama karena Papamu meninggalkan Mama dalam kesepian ini.’

.

Kyuhyun membuka pintu dengan pelan dan melangkah mendekati tempat tidur. Dilihatnya Eunso tidur dengan tangan memeluk Dennis. Ia duduk di sisi sebelah Eunso sambil memandangi wajah istrinya itu. Matanya sembab karena menangis dari tadi. ‘Oh istriku yang cantik, apa yang harus kulakukan?’ batinnya.

Kyuhyun menurunkan pandangannya ke perut Eunso yang sekarang ia tahu sedikit membesar karena adanya kehidupan di dalam sana. Melihat itu membuat dadanya sesak seketika, meskipun dokter Park mengatakan bahwa kondisi Eunso sangat baik ia tetap dilanda ketakutan. Mengingat bahwa dalam catatan medis Eunso ia tidak bisa hamil. Tapi, benarkah begitu?.

“Papa.” Suara lembut Dennis mengalihkan perhatian Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh ke arah Dennis sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir. “Ssstt.. tidurlah lagi” mengusap kepala Dennis dan membungkuk untuk mengecup kepala Dennis, lalu berganti mencium kepala Eunso. Dan pergi meninggalakn Eunso dan Dennis dalam tidur mereka. Berjalan ke ruang kerjanya untuk mencari sesuatu.

.
.
.

SRAAAKK… SRAAAKK… Dokter Park membolak-balik kertas rekam medis Eunso selama di Jerman. Dahinya berkerut sambil membaca dengan sangat serius. Menangkap sesuatu yang ganjal dari catatan itu.

“Jadi bagaimana?” tanya Kyuhyun penasaran.

Dokter Park meletakkan lampiran demi lampiran kertas itu sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengerti ini benar-benar murni hasil dari pemeriksaan atau hanya karangan semata.”

“Maksud dokter?”

“Kyuhyun-aa, yang mengenal kondisi badan Eunso sejak kecil hanya aku. Aku yang tahu berkembangan yang berubah pada dirinya. Kemarin aku sadar bahwa Eunso telah banyak mengalami kemajuan, dia tidak hanya menjadi sangat sehat. Aku bahkan tidak menangkap adanya satu tanda yang mengindikasikan bahwa tubuh Eunso kemungkinan bisa menurun lagi. Dia kuat dan sehat sama seperti wanita kebanyakan. Dan aku bisa pastikan dia sangat mampu untuk hamil dan melahirkan.”

“Jadi, maksudmu rekam medis ini adalah palsu?”

“Aku tidak mengerti.” Dokter Park membuka lagi lembaran kertas itu. “Ini seperti di rekayasa, seolah-olah Eunso masih memilki cacat. Tapi, nyatanya. Eunso sangat sehat.”

Kyuhyun mendenguskan hidungnya sambil menoleh ke arah jendela. Rekayasa eoh?. “Tapi ada banyak dokter mengatakan hal yang sama, bahwa Eunso tidak boleh hamil.”

“Jika yang mereka baca catatan ini, maka ya jawabannya akan sama. Eunso tidak boleh hamil. Tapi, sayangnya akulah yang paling tahu kondisi Eunso sejak kecil sampai sekarang.”

“Astaga.” Kyuhyun mengusap rambutnya frustasi. Apa-apaan ini?

“Kenapa kalian tidak mendatangiku?” tanya dokter Park. Sedikit kesal karena mereka sama sekali tidak berkonsultasi padanya.

Kenapa? Kyuhyun pun tidak mengerti, kenapa ia tidak langsung mendatangi dokter Park saat itu? malah langsung memeriksanya ke dokter lain dan mengambil keputusan bodoh secara sepihak.

“Cih.. dokter itu ternyata serius mengincar istriku,” desis Kyuhyun.

“Dokter Kim ini?” tanya dokter Park. Kyuhyun menaikkan bahunya sebagai jawaban. “Itu wajar. Eunso gadis yang cantik dan lembut. Siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya?”

Kyuhyun tersenyum. Ya, siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya? Dirinya bahkan anak kecil seperti Dennis pun jatuh cinta pada Eunso.

“Terima kasih dokter Park. Kau sangat membantu” Kyuhyun berdiri dan menyalami dokter Park.

“Tidak perlu sungkan, aku senang selalu bisa membantu Eunso.”

Kyuhyun keluar dari ruangan dokter itu dengan emosi yang tidak terbaca. Matanya menggelap karena menginginkan sesuatu dari seorang Kim Haechul. Sungguh, laki-laki itu membuat Kyuhyun harus rela di Vasektomi, Rela tidak memilki anak kandung sendiri karena catatan rekayasanya ini. Beruntung karena Eunso sudah hamil terlebih dahulu.

“Ya Tuhan.” Kyuhyun mendesah menyebutkan nama Tuhan. Tidak lagi mengumpat seperti biasanya, dia lebih sering menyebut nama Tuhan sekarang. “Laki-laki ini tidak tahu sedang berurusan dengan siapa ruapanya.”

Kyuhyun mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. “Aku ingin kau meneliti seseorang untukku.”

.
.

Eunso sedang duduk memeluk lututnya di aatas sofa ruang bermain seorang diri. Tidak ada Dennis yang menemaninya, karena anak itu sedang berada di sekolahnya saat ini. Mungkin berbuat nakal atau melakukan sesuatu lagi. Untungnya Dennis tidak lagi menyebabkan kerusakan atau melukai orang. Itu semua berkat arahan dari para gurunya di sekolah, sekolah yang memang pantas untuk di bayar mahal.

Eunso sesekali masih menitikan airmatanya. Memandang kosong ke depan. Masih sangat terpukul dengan diamnya Kyuhyun atau penolakan Kyuhyun tentang kehamilannya. Kenapa dia tidak bahagia? kenapa?. Eunso membersitkan hidungnya dan menghapus airmatanya. Tidak. Eunso tidak akan bersedih. Kyuhyun pasti akan menerima kehamilan ini, Suaminya hanya butuh waktu untuk menerima berita ini. Benarkan?.

Suara di pintu ruang bermain mengagetkan Eunso. Ia menoleh ke belakang dan melihat Kyuhyun berdiri disana. Kyuhyun menatapnya lama, seakan mengatakan ‘disini kau rupanya.’ Kyuhyun berjalan mendekati Eunso dengan langkah-langkah yang lebar. Eunso menurunkan kakinya ke lantai, menatap Kyuhyun dengan debaran jantung yang cepat. Tidak bisa membaca ekspresi Kyuhyun. Marah atau apa?.

Kyuhyun tiba dihadapannya dan langsung menangkup wajahnya dengan kedua tangannya dan melumat bibirnya. Keras, dalam dan penuh penekanan.

“Heeuummm…” Desahan Eunso terlepas dari bibirnya. Kyuhyun mengulurkan tangannya ke punggung Eunso dan lutut Eunso dan membawanya dalam gendongannya. Membawanya ke arah kamar.

Di dalam kamar Kyuhyun menurunkan Eunso. Berdiri di sebalah tempat tidur, tanganya dengan lihat melepaskan pakaian Eunso. Baju dan rok Eunso teronggok di lantai dengan cepat. Perlahan dan hati-hati Kyuhyun membaringkan Eunso di atas temapt tidur. Kemudian menyusul Eunso dengan merangkak di atasnya.

Eunso menatap suaminya dengan takjub, sekarang ia menangkap tatapan memuja dari suaminya. Tidak ada marah atau pun kesedihan. Perlahan Kyuhyun memberikan kecupan di mata hidung dan dagu Eunso. Turun melewati leher dan belahan dadanya lalu melepaskan bra yang masih melekat di tubuh Eunso.

Eunso mengerang nikmat sekaligus sakit ketika Kyuhyun mengulum puncak payudaranya. Benar yang Kyuhyun katakan, payudaranya memang sensitive belakangan ini. Kyuhyun menaikkan pandangan matanya, tidak tersenyum, namun tatapannya menghanyutkan.

Eunso mendesah ketika tangan Kyuhyun menyentuh perutnya yang membuncit itu. Turun dan memberikan kecupan di atas perut itu. Eunso tertegun, apa itu artinya Kyuhyun menerima bayi itu?. Kyuhyun melepaskan sisa pakaian Eunso. Kembali naik hanya untuk mencium Eunso lagi.

Kyuhyun melepaskan ciumananya dan berdiri, melepaskan bakaiannya sendiri lalu bergabung kembali bersama Eunso. Berada di atas Eunso dengan bertumpu pada sikunya. Tangannya mengusap lembut pipi Eunso sambil terus memandangi wajah istrinys itu. Menikmati sentuhan itu Eunso memejamkan matanya dan bersandar pada tangan Kyuhyun.  Setelahnya membuka kembali matanya, mata Kyuhyun memancarkan cinta yang begitu dalam.

“Berjanjilah padaku satu hal,” bisik Kyuhyun.

“Apapun, oppa,” jawab Eunso. Mengusap rahang Kyuhyun. Kegiatan favoritenya mengusap rahang tegas itu.

“Rajin ke dokter kandunga. Rajin minum obatnya. Jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak bergerak. Jangan mengangkat yang berat-berat. Jangan melakukan apapun yang membahayakan. Dan.” Kalimat Kyuhyun menggantung. Menelan salivanya, memejam sebentar sebelum kembali menatap Eunso. Mata itu sedikit basah.

Eunso menggigit bibir bawahnya, tidak tahan melihat Kyuhyun yang seperti ini.

“Dan.. Kumohon, Bertahanlah. Lahirkan bayinya dengan selamat. Kalian berdua harus selamat.” Kyuhyun menegaskan kalimatnya dengan memegang perut Eunso.

Eunso tertawa dengan airmata kembali jatuh di pipinya. Kyuhyun menerimanya, menerima bayi mereka. “Aku janji,” bisik Eunso.

Kyuhyun menganggukan kepalanya dan mulai menggerakkan pinggulnya ke pinggul Eunso. Menelusup masuk ke dalam kehangatan Eunso. “Sekarang, bercintalah denganku.”

Eunso mengerang nikmat setelah Kyuhyun masuk sepenuhnya. Memeluk kepala Kyuhyun sambil mendesah nikmat, berirama dengan gerakan pinggul Kyuhyun. Mereka bergerak dengan irama yang lembut namun mematikan, sesekali memberikan ciuman dan saling melumat. Percintaan kali ini seperti menegaskan bahwa semua yang telah mereka lalui, semua yang terburuk yang telah mereka lalui tidak akan pernah memisahkan mereka. Apapun itu.

“Aku mencintaimu,” bisik Kyuhyun sebelum ia mendapatkan pelepasannya.

“Aku mencintaimu,” sahut Eunso. Kemudian ia mendapatkan klimaksnya yang disusul oleh Kyuhyun detik berikutnya.

Kyuhyun melepaskan dirinya dari Eunso, tidak ingin menekan Eunso karena berat tubuhnya. Mengambil selimut dan mencium perut Eunso sekilas sebelum menutupi Eunso dan dirinya.

“Terima kasih karena kau ada,” bisikan itu tidak lolos dari pendengar Eunso. Kyuhyun juga bersyukur bahwa bayi itu ada. Ya Tuhan, apa dia bisa lebih bahagia lagi dari ini?

.

Alis Kyuhyun terangkat membaca dokumen yang diberikan oleh orang yang ia perintahkan untuk mencari berita mengenai Kim Haechul. Berita yang sangat mengejutkan dan mencengkan. Sehingga Kyuhyun bersyukur bahwa Eunso, tidak perlu terlalu lama berdekatan dengan dokter itu.

.
.
.

Kim Haechul sedang berjalan keluar dari rumah sakit ketika langkahnya tertahan oleh beberapa orang asing berjas hitam. Tangannya di borgol dan tubuhnya di seret dengan paksa.

“Hei.. apa-apaan ini?. Lepaskan aku!”

“Finnsly we find you, Dr. Kim Haechul or should I call you Kang Dongsu.”Haechul membeku. Kepalanya berputar ke belang menatap wajah orang yang sudah sangat ia hapal.

“Alex Cochran.” Suaranya memburu karena takut. Bagaiaman mungkin FBI berada disini. Bagaimana mungkin mereka menemukannya? Sial.

“So, after a long way over the years looking for you. We finally found you in your own country.  Really Ironic isn’t it?”

“Damn You,” Geram Haechul.

Haechul dibawa oleh orang-orang berpakaian rapi dan hitam itu masuk ke dalam mobil tahanan. Semua mata tertuju padanya. Memandang terkejut dirinya yang secara langsung di tahan dan dibawa.

Di kejauhan Kyuhyun berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap mobil itu dengan tatapan membara. Melaporkan Haechul kepada FBI belumlah membuatnya puas. Ingin rasanya ia membuat Haechul merasakan apa yang ia rasakan. Bagaimana rasanya jika laki-laki itu tidak kan pernah memiliki anak? Atau bahkan tidak bisa bercinta seumur hidupnya lagi?.

“Jadi, Kim Haechul adalah buronan FBI?” Suara Henry berada di sebelahnya.

Kyuhyun menoleh ke arah Henry sekilas lalu mengangguk. “Mengejutkan memang, ketika aku mencari tentang dirinya ada banyak hal yang mengganjal. Ia tidak terdaftar di Freie Universitat Berlin sebagai Kim Haechul. Tapi kang Dongsu. Dan ternyata Kang Dongsu adalah buronan. Tertuduh yang membunuh istrinya dengan memalsukan rekam medis istrinya sendiri.”

Henry meringis ngeri. “Dia memalsukan cacatan medis istrinya?”

“Ya. Di catatan medis ditulis istrinya meninggal karena serangan jantung. Tapi nyatanya, kematian istrinya sudah direncanakan karena dia perlahan-lahan meracuni istrinya dengan obat pemacu jantung,” jelas Kyuhyun panjang lebar.

“Kenapa rasanya aku melihat dejavu ya?” Henry memberikan cengiran rasa humornya kepada Kyuhyun. Dan langsung menyesalinya ketika Kyuhyun menatapnya penuh peringatan.

“Aku dan Eunso berbeda,” geramnya.

“Tentu saja hyung. Kau sekarang sangat mencintainya.” Henry menganggukkan kepalanya menyetujui.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya. Entahlah membaca berita tentang Haechul ini membuatnya merinding, teringat akan niat awalnya yang memang ingin membunuh Eunso. Tapi syukurlah, syukurlah karena akhirnya ia menyadari kesalahannya sendiri dan berhenti, bahkan berbalik mencintai istrinya. Sangat mencintainya.

“Beruntung Eunso tidak mati di tanganku,” bisik Kyuhyun.

“Atau di tangan dia,” sambung Haechul.

Kyuhyun mengigit bibirnya. Benar, beruntung Eunso tidak berada terlalu dekat dengan laki-laki itu. Apa jadinya jika laki-laki itu berhasil menjerat Eunso. Tidak, tidak, tidak. Kyuhyun tidak akan membiarkan hal itu terjadi. jika Eunso berpaling darinya pun, Kyuhyun akan berusaha keras mempertahankan Eunso.

“Tapi, kali ini kau lebih keren hyung. Melaporkannya kepada FBI. Tidak membuangnya seperti wanita itu.”

“Kejahatannya begitu besar. Jika aku melakukan hal yang sama seperti Minhye, aku yakin dia bisa membalas dendam. Aku tidak mau anak dan istriku dalam bahaya. Biarkan hukum yang mengatasinya.”

“Keren,” ujar Henry takjub.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya panjang untuk membuang rasa kesalnya. “Tapi, rasanya aku ingin sekali memotong alat kelaminnya.”

Henry meringis ngeri. “Beruntung tidak kau lakukan. Keputusanmu tepat sekali.” Cepat-cepat Henry pun mengalihkan perhatian Kyuhyun. “Ayo pulang hyung. Aku bosan terus-terusan di rumah sakit.”

.
.
.

Tidak ada yang paling membahagiakanuntuk Eunso di dunia ini selain memiliki suami dan anak yang tampan. Di tambahl lagi akhirnya ia mengandung, sehat dan kuat. Kyuhyun menerima kehamilan itu dengan tenang dan tidak marah-marah. Mengejutkan memang, kenapa tiba-tiba Kyuhyun bisa menerimanya begitu saja. Sedikit Eunso menebak ada sesuatu yang terjadi pagi itu. Tap, apapun itu ia tidak perduli. Ia bahagia. Sungguh bahagia.

“Mama.” Dennis memanggilnya, membangunkan Eunso dalam lamunannya.

“Ya sayang?” Eunso mengulurkan tangannya kepada Dennis dan menariknya agar duduk di sebelahnya.

Dennis menatap perut Eunso yang saat ini sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan lalu menatap wajah Uenso yang tersenyum padanya. Sejak ia diberitahu bahwa ia akan memilki adik, Dennis tidak banyak menunjukkan reaksinya. Anak ini mengangguk tapi tidak tersenyum atau terlihat sedih. Mungkin, Dennis sedang mencoba untuk mencerna apa yang sedang terjadi, ujar Kyuhyun saat Eunso menanyakan reaksi Dennis. Tapi, itu berita yang mengejutkan, ia tidak tahu apa-apa tentang seorang adik atau bayi.

“Bagaimana di sekolah?” tanya Eunso. Mengalihakn perhatian Dennis.

Dennis tersenyum lalu menjawab Eunso dengan riang. “Menyenangkan.” Jawaban yang selalu Eunso dengar.

Eunso tersenyum gemas sambil memeluk Dennis.

“Mama,” panggil Dennis.

“Ya?”

“Kapan adiknya datang?”

“heum.. sekitar empat atau tiga bulan lagi.”

Dennis menganggukkan kepalanya menerima informasi itu, matanya sedikit memancarkan perasaan takut, khawatir dan sedih. “Hei… Anak Mama kenapa?” Eunso menaikkan dagu Dennis agar menghadap padanya.

“Mama, Jika adik lahir. Apa aku masih boleh tidur dengan Mama?”

“Tentu saja sayang, kita bisa tidur bertiga. Papamu biar diluar saja.”

Dennis mulai tertawa mendengar jawaban Eunso. Sedikit terhibur karena jawaban yang diberikan oleh Eunso. Melihat itu, Eunso mengerti kekhawatiran Dennis. Mungkin Dennis takut Eunso dan Kyuhyun akan melupakannya ketika bayi ini lahir nantinya.

“Kau tahu, Mama dan Papa menyayangimu. Bahkan jika ada adik bayi, kami tetap menyayangimu.” Dennis tersenyum senang.  “Karena kau adalah pemberian Tuhan yang berharga, mengisi rumah ini dengan tawa renyah untuk pertama kalinya. Membuat gaduh untuk bertama kalinya. Dan karena kehadiranmu Mama dan Papa tahu bagaimana rasanya bahagia karena memilikimu. Terima kasih, karena mau mengizinkan kami menjadi orang tuamu.” Suara Eunso bergetar karena rasa haru. Belakangan dia menjadi lebih emosional dari biasanya.

Dennis tersenyum cerah. “Mama, aku menyayangi Mama.” Memeluk Eunso dengan erat.

Eunso tertawa sambil membalas pelukan Dennis. Mengeratkan pelukannya dan mendaratkan kecupan ringat di wajah Dennis.

.
.

Di kehamilannya yang menginjak usia ke delapan Eunso sudah mulai susah bergerak, perutnya  semakin besar dan tubuhnya membengkak. Eunso merasa jelek dan gendut karena ini, tapi ia tetap merasa bangga dengan kehamilannya. Tapi, tetap saja ia merasa seperti bantal yang berjalan. Ia pun malu jika Kyuhyun memandanginya lama. Kyuhyun selalu memandang tubuhnya yang membesar. Mungkin jijik, atau menyesal karena sudah menikahi wanita jelek sepertinya.

“Mama…” Teriakan Dennis memanggilnya di kejauhan.

Eunso menoleh ke arah halaman rumah lalu melambaikan tangannya kepada Dennis dan Kyuhyun yang berjalan sambil bergandengan tangan. Dengan celana yang terlibat di lutu mereka menyusuri halaman berrumput sambil membawa sebuah ember hitam di tangan Kyuhyun. Memancing, itulah yang kedua laki-laki tampan itu lakukan tadi. Entah dimana, karena dengan sangat bijaksana kedua laki-laki itu bersekongkol untuk merahasiakan tempat memancing mereka.

Menjengkelkan bukan? Sekarang dirinya tidak lagi diizinkan untuk bergabung dengan kebersamaan mereka berdua.

“Ini rahasia sesama laki-laki, wanita tidak  boleh tau.” Itulah yang Kyuhyun katakan padanya ketika Eunso bertanya kemana mereka akan memancing.

“Mama, kami menangkap banyak ikan.” Dennis berlari menghampiri Eunso. Melepaskan pegangan tangan Kyuhyun.

“Pelan-pelan memeluk Mama.” Teriak Kyuhyun pada Dennis.

Dennis berjalan lebih perlahan dan memeluk Eunso, mendongak di atas perut bulat Eunso. Eunso tersenyum geli melihat kepala kecil di atas perut besarnya itu.

“Ada berapa banyak?” tanya Eunso.

“Sangat banyak.” Dennis merentangkan tangannya ke udara menjelaskan seberapa banyak itu.

Eunso tertawa dan melirik ke dalam ember yang dibawa oleh Kyuhyun. Kosong. “Dimana ikannya?”

“Dengan bijaksana Papa memutuskan untuk melepaskan ikannya.” Jawab Dennis sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Benarkah?” tanya Eunso pada Kyuhyun.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa itu tidak benar, lalu mencium pipi Eunso. “Bagaimana kabarmu sayang?”

“Baik, aku tetap jelek dan gendut.” Cemberut kepada Kyuhyun.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil meletakkan ember kosong itu di atas pagar tembok. “Dennis, katakan pada Papa, Mama cantik atau jelek?”

“Mama jelek dan gendut,” jawab Dennis.

“Mwo..?” Eunso melebarkan matanya.

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya yang sakit. Airmata keluar dari sudut matanya.

“Oppa, kenapa kau mengajari Dennis mengatakan hal seperti itu padaku?” tanya Eunso ngeri. Bagaimana mungkin, putranya yang lucu, tampan dan menggemaskan itu mengatainya seperti itu.

“Jangan salahkan aku, kau yang terus menerus mengulang-ulang kata itu. Jelek dan gendut. Jelek dan gendut. Anakmu mengikuti kata-katamu,” jawab Kyuhyun sambil mengelap sudut matanya. “Kau lupa, bahwa anak ini cerdas, eoh?” Eunso memberengut sedih. Menatap mata Dennis yang berkedip polos.

Kyuhyun meraih pinggang Eunso dan menariknya ke dalam pelukan Kyuhyun. Tersenyum ketika menikmati sensasi perut besar Eunso menempel pada perutnya. “Harus berapa kali kukatakan bahwa kau semakin cantik dan seksi ketika hamil. Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar aku ingin bercinta dengan tubuh gembul ini. Tapi aku harus bertahan untukmu dan bayi kita.”

Eunso tersenyum malu, itu kalimat paling menggairahkan yang pernah ia dengar. “Ayo, katakan bahwa kau cantik dan seksi sayang,” desak Kyuhyun.

Eunso memutar matanya lalu mengucapkannya dengan sambil tertawa. “Aku cantik dan Seksi.”

“Nah. Sekarang Mama cantik atau jelek nak?”

“Mama Cantik dan Seksi.” Suara Dennis terdengar dari kejauhan.

“Itu baru istri dan putraku.” Mencium bibir Eunso dan mengangkat istrinya dengan mudah ke dalam gendongannya. “Lihat, gembul pun masih bisa kugendong.” Mencium Eunso lagi. “Dennis, kau sedang apa?”

“Sebentar Papa. Ada Kumbang bertanduk,” sahut Dennis di kejauhan. Di halaman rumah mereka.

“Setelah selesai masuk dan bawa ember kosong itu.”

“Ya. Papa.”

.
.
.

Sejak keputusan tidak akan melihat jenis kelamin sang jabang bayi ataupun melihat foto USG nya sering terjadi pertengkaran di keluarga kecil itu. Oh tidak. Bukan pertengkaran besar, hanya berdebatan kecil yang sering menimbulakan pihak yang sedang mengandung marah besar.

“Laki-laki.” Suara Dennis.

“Perempuan.” Suara Kyuhyun.

“Aku ingin laki-laki, Papa.” Dennis lagi.

“Papa ingin perempuan.” Kyuhyun.

“Apa tidak ada yang menanyakan pendapatku?” Suara Eunso.

“Aku ingin laki-laki suapaya bisa menemaniku bermain.” Dennis

“Papa Ingin perempuan, supaya bisa jadi sasaran keprotektivan Papa selain Mama.” Kyuhyun

“Papa egois.” Dennis.

“Kau juga.” Kyuhyun.

“Hallo..? apa ada yang mendengarkan aku?” Eunso.

“Pokoknya Laki-laki.” Dennis.

“Perempuan.” Kyuhyun.

“Baiklah, aku memang tidak ada diantara kalian. Aku adalah hantu.. hantu berperut besar. Ohohohoho.” Eunso.

“Sssttt Mama.”

“Diam sayang.”

“Kalian menyuruhku diam? benar-benar menyuruhku diam? Eoh? aku akan diam selamanya. Selamanyaaaa!!!”

Tap…tap…tap…tap… BRAAAKKK.

Kyuhyun dan Dennis melongok melihat pintu yang baru saja di banting oleh Eunso. Terbuka lagi ketika Eunso muncul dan berteriak, “Jangan berani-berani ada yang masuk ke kamar dan tidur denganku malam ini”

BRAAAAKK..

Kyuhyun dan Dennis terlonjak kaget mendengar bantingan pintu itu. Kyuhyun menoleh ke arah Dennis begitu juga dengan Dennis.

“Ini salahmu.” Tuduh Kyuhyun.

“Tidak, salah Papa.”

“Heii.. berani membantahku eoh?”

“Ssttt Papa. Aku sedang belajar.”

Kyuhyun membuka mulutnya lagi lalu menutupnya rapat. Ia pun melanjutkan kesibukannya yang tertunda tadi karena lagi-lagi harus berdebat dengan Dennis.

.

Eunso membuka matanya ketika mendengar suara pintu dibuka. Kyuhyun dan Dennis masuk bersama-sama dengan setangkai bunga mawar merah berada di tangan mereka. Dennis menyerahkan bunga mawar kepada Eunso dengan tatapan menyesal.

“Maaf Mama, izinkan aku tidur dengan Mama malam ini.” Eunso mengambil bunga itu. Menatap Dennis dengan tatapan masih kesalnya.

Giliran Kyuhyun yang memberikan bunga mawar kepada Eunso. “Maaf sayang. Izinkan aku tidur denganmu malam ini.”

Eunso mengambil bunga mawar dari tangan Kyuhyun lalu memberikan tatapan masih marahnya. “Aku ingin seseorang bernyanyi lullaby untukku.” Perintah Eunso.

“Dengan senang hati.” Kyuhyun langsung berjalan mengambil gitarnya.

Dennis naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sebelah Eunso. Lengan Eunso memeluk Dennis dan menepuk-nepuk lengan Dennis. “Mama, kumohon adik laki-laki saja,” bisiknya pelan. Sangat pelan agar Kyuhyun tidak mendengar permintaannya.

“Ssttt.. Mama juga berharap bayinya laki-laki,” bisik Eunso. lalu mereka berdua tertawa pelan. Membuat Kyuhyun yang baru datang dengan tangan di gitarnya harus menaikkan alisnya bingung. Kali ini Istri dan anknya sedang bersekongkol untuk apa?

.
.
.
.

Pagi itu terasa lebih dingin. Salju pertama turun di bulan November, meskipun turun hanya sedikit tapi tetap hawa dinginnya membuat orang-orang betah berada di dalam rumah. Kyuhyun sedang mengikat dasinya ketika Eunso berjalan dengan pelan keluar dari kamar mandi. Melihat itu, Kyuhyun langsung melupakan dasinya dan menghampiri Eunso.

“Sayang, Kau kenapa?” wajah Kyuhyun memucat, seperti wajah Eunso saat ini. “Sakit? Kontraksi?”

Eunso menggelengkan kepalanya. Dahinya berkerut ketika rasa sakit menyerang perutnya lagi. Eunso menekan perutnya yang besar dan menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya.

“Kontraksi?” ulang Kyuhyun.

Eunso mengangguk sambil meringis lagi.

“Ya Tuhan. Kode Merah!” teriak Kyuhyun kepada seisi rumah.

“Kode merah?” tanya Eunso dengan alis masih berkerut.

“Merah untuk keadaan genting dan siap melahirkan. Hijau untuk keadaan masih biasa-biasa saja,” Jawab Kyuhyun singkat. “Duduklah sayang.”

Kyuhyun membimbing Eunso duduk di atas tempat tidur. Ia menarik lepas dasi yang mengikat di lehernya dan mengambil tas pakaian Eunso yang sudah terisi dan tinggal siap dibawa.

“Sejak kapan ada kode merah dan hijau?” tanya Eunso. Berusaha mengalihakan perhatiannya dari rasa sakit akibat kontraksinya.

“Dennis yang memberikan ide. Kali terakhir kau kontraksi palsu dan membuat panik seisi rumah dan ternyata itu hanya alaram palsu. Dia merasa kewalahan dan takut. Karena itu dia memutuskan untuk membuat ini menjadi mudah. Agar semua tidak perlu panik. Anak itu, Cerdas bukan?” ujar Kyuhyun bangga.

“Yaa..” jawab Eunso bangga. “Dan aku Mamanya.”

“Aku Papanya.” Kyuhyun memegang lengan Eunso agar berdiri. “Kau sanggup berjalan atau perlu kugendong?”

“Jalan saja, itu mengurangi rasa sakit dari pada di gendong.”

“Baiklah.”

“MAMA!” Dennis membuka pintu dan menghampur masuk mendekati Eunso dan Kyuhyun.

“Pelan-pelan dengan Mama.” Kyuhyun selalu mengingatkan Dennis untuk memegang Eunso dengan pelan-pelan.

“Apa benar-benar sudah merah? Adiknya akan lahir Papa?” tanya Dennis. Berjalan mengikuti Eunso dan Kyuhyun di belakang.

“Ya sayang. Apa kau sudah menyiapkan supir Han?” tanya Kyuhyun.

“Supir Han!” Teriakan Dennis memekakkan telinga. Ia pun lari dengan terburu-buru keluar.

“Hati-hati dengan langkahmu!” teriak Kyuhyun. “Anak itu. Kenapa selalu berlari dengan cepat?”

“Dia tidak akan jatuh oppa, dia gesit. Ngomong-ngomong, kenapa Dennis yang menyiapkan supir Han?”

“Ketika kode Merah dibunyikan, maka semua harus siap pada tugasnya masing-masing. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, tidak terorganisir dan pekerjaan jadi berantakan.” Eunso ingat hari itu, ketika Kontraksi pertamanya. Seisi rumah menjadi berantakan, pelayan saling bertubrukan karena berlarian mengambil barang-barang yang tidak penting. Panik, dan itu semua karena teriakan Kyuhyun yang panik. Siapa yang tidak panik jika diteriaki dan dibentak oleh Kyuhyun?

“Dennis bertugas memanggil supir Han, dan memastikan mobilnya sudah siap. Dan yang lain sudah mendapatkan tugas masing-masing.”

“Dan itu ide briliant dari Dennis lag?”

“Oo. Hati-hati melangkah.” Mereka menuruni tangga dengan pelan-pelan.

“Beruntungnya aku, punya anak berotak cerdas. Lebih cerdas dari Papanya.” Eunso melirik Kyuhyun sambil memberikan cengirannya. Kyuhyun memberikan tatapan kesal kepada Eunso namun tidak menyangkalnya. Apa yang diucapkan Eunso benar. Dennis berfikir dulu sebelum bertindak sedangkan dia bertindak tanpa berfikir. Selalu merasa panik.

“Kau lihat, kami tidak selalu mirip bukan?” ujar Kyuhyun.

Eunso tertawa. Itu benar, karena sekarang Dennis menunjukkan dengan jelas bakat dengan kecerdasannya. Berbeda dengan Kyuhyun yang berbakat karena tekatnya, meskipun terkadang mereka sangat kompak ketika mengusili Eunso.

“Supir Han sudah ada!” teriakan Dennis. Nyaring dan terdengar jelas.

Eunso tertawa sambil meringis pelan. Mengaduh ketika kontraksinya datang lagi. Pegangan tangan Kyuhyun mengencang di lengannya. Membimbing terus itrinya dengan selamat menuju mobil.

Di rumah sakit Eunso harus meraskan kontraksi berkali-kali. Mengerang dan berteriak tidak ada gunanya karena itu Eunso menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan untuk meringankan rasa sakit di perutnya. Matanya menagkap Kyuhyun yang berjalan mondar-mandir di dekatnya. Menatap Eunso khawatir. Melirik ke arah jam berkali-kalai.

“Kenapa lama sekali? Apa ini wajar?” tanya Kyuhyun pada Eunso.

“Memang begini oppa,” jawab Eunso dengan suara lirih.

“Kau sudah merasa kesakitan dari tadi sayang.” Kyuhyun emnghampiri Eunso dan meraih tangannya. “Operasi Cecar saja, kumohon.”

“Tidak. Dokter Park bilang. Aku sanggup untuk melahirkan normal.”

“Ya Tuhan, tapi aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Kumohon. Operas saja.”

“Oppa.” Eunso mengusap pipi Kyuhyun lembut. “Ini pertama dan terakhir kalinya aku hamil. Izinkan aku mengeluarkannya secara normal. Jika memang dokter mengatakan aku tidak akan berhasil melahirkan dengan normal, maka aku akan operasi saat itu juga.”

“Kyuhyun menempelkan kepalanya di kepala Eunso sambil meremas tangan istrinya. Dia sulit untuk meminta kepada Eunso saat ini. Eunso sangat keras kepala. Tangannya mengusap perut Eunso lembut. “Cepatlah keluar sayang. Appa tidak sanggup melihat Eomma tersiksa.”

Eunso tersenyum mendengar itu, tersentuh karena perasaan rasa cinta Kyuhyun padanya. Eunso mengerutkan alisnya rasa sakit itu datang lagi. Menyerang perutnya, lebih kuat dan lebih panjang durasinya. Eunso mengerang dan meremas tangan Kyuhyun yang menggenggam tangannya. Apa sudah waktunya?.

“Sepertinya sudah waktunya. Bersiap pindah ke ruang bersalain.” Dokter Park masuk ke dalam sambil melihat jam tangannya. “Dokter Lee akan menangani persalinan ini. Dan seperti janjiku, aku akan menemani di dalam selama proses melahirkan. Kalian siap?”

Eunso menoleh ke wajah Kyuhyun yang memasang ekspresi panik, namun berusaha untuk mengendalikannya. Tuhan, Eunso tahu apa yang saat ini Kyuhyun rasakan. Takut, khawatir dan cemas. Semuanya. Dan Kyuhyun berusaha untuk tetap tenang.

“Oppa,”

“YA!” Suara Kyuhyun serak.

“Semua akan baik-baik saja. Lihat aku, sembilan bulan mengandung dan aku baik-baik saja. sehat, bahkan sangat sehat. Karena itu oppa, jangan cemas dan khawatir. Kami berdua akan baik-baik saja.”

Kyuhyun menatap wajah Eunso, menangkup wajah itu dan mencium lama kepalan istrinya itu. “Aku takut,” bisiknya lirih.

“Aku tahu. Kami akan baik-baik saja.”

Kyunyun menarik dagu Eunso dan mendaratkan ciumannya. Bibir Kyuhyun bergetar di atas bibir Eunso. “Aku mencintaimu.”

“Aku juga oppa.”

“Saatnya masuk.” Suster yang berpakaian operasi hijau masuk ke dalam dan bersiap mendorong tempat tidur beroda milik Eunso. Kyuhyun mengikuti di belakang. Setibanya di ruang bersalin Kyuhyun dipakaikan oleh perawat pakaian yang sama seperti yang ia kenakan. Pakaian operasi berwarna hijau.

Kyuhyun menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya sebelum berjalan mendekati Eunso. Tangannya mencengkeram kuat tangan Eunso yang balik mencengkerammnya. Kyuhyun mengusap kepala Eunso yang sudah mulai berkeringat. Matanya tidak lepas dari wajah Eunso, istrinya meringis dan mengigit bibir bawahnya untuk menahan sakitnya.

“Jangan gigit bibirmu nyonya. Ini” seorang suster memberikan sebuah kain yang digulung kecil untuk Eunso gigit. “Pastikan dia mengigit kain itu tuan,” seru perawat itu. Kyuhyun mengangguk dan menekan handuk itu pelan. Memastikan handuknya tetap di tempat.

“EEERRGGG..” Eunso mulai berteriak. Teriakan yang tertahan oleh kain kecil itu. Kyuhyun menegang dan membalas cengkeraman tangan Eunso.

“Bagus.” Dokter Lee; seorang dokter wanita yang di rekomendasikan oleh dokter Park akhirnya masuk. “Teriakan yang kencang. Anda bisa melahirkan dengan mudah jika bersmemangat seperti itu. Sekarang nyonya, Aku ingin mendorong dengan kekuatan penuh.”

“Dorong sayang,” bisik Kyuhyun.

Eunso mengangguk dan mulai mendorong sekuat tenaga. Teriakannya lagi-lagi teredam oleh kain. Tubuhnya mendorong ke depan lalu terhempas ke belakang setelah dorongan keras itu. Kain yang menutupi mulut Eunso terlepas. Cepat-cepat Kyuhyun mengambil kain itu dan menyelipkannya di mulut Eunso lagi.

“Sekali lagi nyonya. Aku belum melihat kepalanya.”

“Lagi sayang,” bisik Kyuhyun.

Eunso mengangguk lagi dan mendorong lagi. Kejadian berulang lagi dan Eunso terhempas ke belakang sekali lagi. “Aku melihat kepalanya. Satu dorongan lagi.”

“Kau dengar dokternya? Sekali lagi.” Kyuhyun mengusap kepala Eunso, menepiskan rambut yang menutupi wajah Eunso.

Eunso menghembuskan nafasnya tersengal-sengal. Tidak menyangka melahirkan dengan normal sangat menyita tenaganya. “Aku lelah.”

Kyuhyun mengeraskan rahangnya panik. “Jangan seperti ini, kau yang minta ini normal bukan? Jadi, kumohon. Kumohon. Hanya satu dorongan lagi.” Eunso bergeming dengan nafas tersengal-sengal.

“Sayang, Kumohon. Aku benar-benar takut sekarang!”

Eunso tertawa pelan. “Oppa berisik, aku hanya bilang aku lelah bukan menyerah.” Menarik nafas panjang dan Eunso mendorong maju lagi ke depan sambil berteriak menyeruakan kekuatannya untuk mengeluarkan bayinya.

“ooee…ooee..” suara tangisan itu kencang. Sangat kencang.

“Laki-laki.” Teriak dokter itu. Memberitakukan kepada Eunso dan Kyuhyun.

Kyuhyun menempelkan kepalanya di kepala Eunso dengan perasaan lega. Akhirnya bayi mereka keluar.

“Dennis menang,” bisik Eunso.

Kyuhyun tertawa lalu mengecup kepala istrinya. Eunso memejamkan matanya kemudian membuka matanya lagi. Merasa sakit di perutnya, seperti ada sobekan dibawah sana. Mengeram tertahan Eunso mencengkeram tangan Kyuyun. Kyuhyun lagi-lagi menegang.

“Apa yang terjadi? Eunso?. Dokter Park! Apa yang terjadi pada Eunso?”

“Tidak ada apa-apa Kyuhyun-aa. Kecuali kau takut pada anak kembar.” Suara dokter Park menenangkan.

“Nee..?”

.
.
.

Cho Hyun Soe lahir lima menit lebih lama dari saudara kembarnya Cho Hyun No, saat ini berada di gendongan ayahnya yang menatap takjub wajah bayi mungil itu. Kyuhyun duduk di depan  Eunso yang memeluk Hyun No di lengannya. Istrinya menatap sama kagumnya seperti Kyuhyun.

“Kau benar-benar menakutiku ketika Dia lahir,” ujar Kyuhyun.

Eunso tersenyum lalu mengulurkan tangannya agar bisa menyentuh bayi perempuannya. Kyuhyun menunduk agar Eunso bisa menyentuhnya. Ini benar-benar anugerah terindah yang datang pada mereka berdua. Kembar. Laki-laki dan perempuan. Sungguh menakjubkan.

“Kau tahu, apa yang akan Henry katakan tentang ini?” ujar Eunso tiba-tiba.

“Aku tahu,” sahut Kyuhyun. “Dia akan bilang ‘KEREN’.”

Eunso dan Kyuhyun tertawa bersama-sama mengingat Henry yang selalu bisa membuat mereka tertawa itu. Lihat saja, membicarakannya saja sudah sangat menghibur. Apa lagi jika orangnya ada disini.

“Dimana Dennis, oppa?. Aku merindukannya.”

Kyuhyun melirik ke arah jam. “Seharusnya Henry sudah membawanya kesini. Mungkin sebentar lagi mereka tiba.”

“Dia pasti senang, akhirnya dapat adik laki-laki.”

“Yaa.. aku juga menang, lihat. Aku punya bayi perempuan.”

“Itu bayiku oppa.”

“Tidak. Ini bayiku, kau kan ingin laki-laki juga. Jadi siap-siap rebutan dengan Dennis saja. Ini milikku.”

“Iiiisssshhh…” Eunso mencupit kesal paha Kyuhyun. Membuat suaminya mengaduh pelan lalu tertawa. Kyuhyun berjalan ke arah box bayi dan meletakkan bayi perempuannya; Hyun Soe. Berjalan ke arah Eunso dan mengangkat bayi laki-lakinya;  Hyunno. Meletakkanya ke dalam box yang satu lagi. Mencium bayinya satu persatu lalu kembali lagi kepada Eunso.

Menaikkan tubuhnya dan berbaring di sebelah Eunso. Berhati-hati pada selang infus yang menempel di tangan Eunso, Kyuhyun memeluk Eunso dengan luapan perasaan bersyukur. “Aku tidak pernah menyangka bayinya kembar,” bisiknya.

“Aku juga. Kukira ketika dokter mengatakan ada dua denyut nadi yang terdengar, itu denyut nadiku dan bayinya. Tapi ternyata, denyut nadi kedua bayinya.” Eunso tertawa, selalu saja terjadi kesalah pahaman. Lain kali ia harus ingat untuk bertanya dengan lebih jelas. Tapi, Ini benar-benar mengejutkan dan menyenankan.

“Bagaimana keadaanmu? Apa sakit? Apa lelah?”

“Tidak oppa. Aku merasa sangat sehat.”

Kyuhyun mengusap pipi Eunso lembut. “Tuhan, aku tidak tahu harus bilang apa lagi padamu. Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah memberikanku tidak hanya satu bayi tapi ternyata dua. Terima kasih karena mencintaiku. Aku tidak tahu apa lagi.”

Eunso tersenyum, sambil mengusap dada Kyuhyun. “Cukup katakan kau mencintaiku oppa.”

Kyuhyun menunduk dan tersenyum. “Tidak perlu memintanya sayang. Aku mencintaimu. Selalu.” Menunduk dan mencium Eunso dengan penuh rasa syukur. Mereka saling memberi dan menerima diantara ciuman itu. sedikit-demi sedikit ciuman itu pun berubah menjadi lebih bergairah.

“Ehem.” Suara menginterupsi itu sukses membuat Kyuhyun melepaskan bibirnya dari bibir Eunso. “Ada anak-anak disini.” Suara Henry mengingatkan.

Kyuhyun duduk dan langsung tersenyum kepada Dennis. Dennis berlari, melepaskan tangan Henry yang menggenggamnya dan berlari kepelukan Kyuhyun. Kyuhyun mengangkat Dennis dan menggendong putranya agar bisa melihat Eunso.

“Mama baik-baik saja?” tanya Dennis khawatir melihat Eunso berbaring lemah di atas temapt tidur.

“Mama baik-baik saja. Peluk Mama dengan pelan ya, karena Mama sedang sakit.” Mengecup pelan kepala Dennis, Kyuhyun mendudukkan Dennis di atas tempat tidur. Dennis langsung mengulurkan tangannya dengan pelan memeluk Eunso, yang langsung disambut oleh Eunso.

“Cepat sembuh Mama,” ucap Dennis tulus.

“Terima kasih sayang.” Eunso mengecup lembut rambut Dennis. Selama hampir 24 jam menunggu proses kehamilan membuatnya terpisah dari Dennis cukup lama. Dan itu membuatnya merindukan putranya ini.

“KEREN.” Suara Henry terdengar menginterupsi mereka. Wajah Henry berseri-seri ketika melihat sepasang bayi kembari itu. Yang lebih membuatnya takjub adalah bayi kembar itu sepasang. Laki-laki dan Perempuan. Penasaran dengan itu, Dennis pun berjalan mendekat ke box bayi. Sedikit berjinjit agar bisa melihat bayi-bayi itu.

Kyuhyun mengangkat Dennis ke atas bahunya agar Dennis bisa melihat lebih jelas adik-adiknya. “Mereka ada dua Papa?”

“Ya. Mereka kembar. Laki-laki dan perempuan.”

“Keren.. itu artinya kita berdua menang.”

Kyuhyun tertawa sambil melirik ke arah Eunso. Eunso pun membalas tawa Kyuhyun dengan senyum terhibur. “Yang ini laki-laki, namanya Cho Hyunno,” tunjuk Kyuhyun pada bayiyang di sebelah kanan. “Dan ini Cho Hyun Soe. Adik perempuanmu,” tunjuknya pada bayi yang di sebelah kiri.

Kyuhyun menurunkan lagi Dennis dari bahunya agar Dennis bisa menyentuh kedua adiknya. Kyuhyun berjongkok di sebelah Dennis dan mengusap kepala Dennis lembut. “Tolong bantu Papa dan Mama jaga adik-adikmu ya. Sayangi mereka.”

“YA, Papa” Jawab Dennis. Tersenyum bahagia kepada Ayahnya. Kyuhyun memeluk pinggang Dennis sambil terus menceritakan kepada Dennis tentang adik-adiknya.

Eunso memandang dari tempat tidur sambil menitikan airmata terharu. Itu pemandangan yang sangat indah. Suaminya dengan ketiga anaknya. Tiga. Ya Tuhan, bukankah garis tangan itu memang benar? Akhirnya Eunso dan Kyuhyun memang memilki tiga anak. Eunso tertawa pelan menyadari itu. Tidak pernah mengira bahwa akhir dari kisah hidupnya akan seperti ini. Diirinya yang selalu sakit sejak kecil, tidak pernah berharap atau bermimpi akan sembuh. Tapi Kyuhyun membawanya ke tahap ini, meskipun ada banyak lika-liku yang menggoyahkan kebahagiaan mereka. Mereka tetap bisa mencampai pada titik ini. Titik dimana kau tidak lagi menginginkan apapun karena kau sudah merasa sangat-sangat bahagia.

“Apa yang dipikirkan Mamamu sampai tersenyum seperti itu?” bisik Kyuhyun pada Dennis. Tepat di sebelah tempat tidur.

Eunso tersenyum memandang kedua orang itu. “Aku bahagia,” bisiknya.

“Aku juga sayang,” sahut Kyuhyun.

“Aku juga,” Dennis mengikuti.

“AKU JUGA. Aku ingin yang laki-laki ya…? yaa..?” suara Henry.

“Yaak.. buat sendiri anakmu. Jangan membawa anakku,” bentak Kyuhyun

“Eeeyy.. Kalian tetap saja pelit… pasangan pelit.  Poison couple yang pelit.”

“Paman Henry, jangan berisik ini rumah sakit,” ujar Dennis sambil menunjuk tulisan dia atas dinding yang bertulisakan. DILARANG BERISIK DI RUMAH SAKIT.

Dennis membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi. Anak yang cerdas bukan? Cho Dennis ini.

.
.
.
.

THE END…

EAAAA.. ngamuk nih kalo end nya gini aja… ga seru kalo kalo ga ada epilog kan ya. ya donk.. ya ajalah… Gini nih, selalu pengen manjain kalian. Ga usah panjang lebar. Nikmatin EPILOG nya.

EPILOG…

Namsan Park terlihat terlihat indah ketika siang hari. Bunga-bunga bermekaraan ketika Musim Semi tiba, membuat orang-orang yang melakukan piknik di hamparan luas tamannya merasa nyaman dan betah untuk berlama-lama disana.

Keluarga kecil Cho seperti biasa menikmati liburan bersama. Cho Kyuhyun bermain tangkap bola bersama Cho Dennis, sedangkan Song Eunso duduk di atas selimut pinkniknya bersama kedua bayi kembar mereka. Satu tahun setengah setelah kelahiran si kembar. Waktu berlalu sangat cepat, kedua bayi itu pun tumbuh dengan sangat sehat dan semakin menggemaskan. Sama halnya seperti si kembar, Dennis pun tumbuh semakin besar dan cerdas. Tidak heran jika ada banyak yang menyukai Dennis, karena anak itu sangat mempesona. Seperti Papanya.

“Baiklah anak-anak. Mama punya satu botol susu. Dan Mama ingin kalian berdua berbagi.”

“maauu..mauu…” Hyunno mengambil botol susu yang diberikan oleh ibunya dan meminumnya sendiri tanpa memberikannya kepada adiknya.

Hyun Soe menatap kakaknya penuh harap, menunggu giliran untuk dibagi susu, namun Hunno masih belum memberikannya susu.”Su..” Hyun Soe menarik tangan kakaknya, meminta bagiannya.

“Maaauu..” teriak Hyunno.

“Suuuuu..” pekik Hyun Soe nyaring.

“Astaga. Cho Hyunno, Mama bilang berbagi kan?” tegur Eunso kepada anak laki-lakinya, namun tersenyum geli kepada mereka berdua. Selalu seperti itu. Hyunno selalu lebih egois, namun terkadang jika ia lagi sedang memanjakan adiknya dia akan berbagi tanpa Hyun Soe harus memintanya.

“Jangan menangis sayang, Mama punya dua botol susu. Tada…” Dengan cepat Eunso membuka botol susu untuk Hyun Soe dan memberikannya pada putrinya. Bayi perempuan itu langsung meminum susunya dengan semangat.

Eunso tersenyum gemas melihat keduanya. Tidak lupa ia mengambil ponselnya dan memotret memori itu. Kenang-kenangan untuk pertumbuhan si kembar.

Gerakan di sudut matanya membuat Eunso menoleh dan menatap Henry yang dari tadi hanya berdiam diri. Tidak biasanya laki-laki itu berdiam diri, biasanya ia akan mengoceh atau mengajak bermain Hyunno dan Hyun Soe.  Tapi hari ini, Henry terlihat tidak bersemangat.

“Ada apa dengannya?”

“Aaahh.. aku menang Papa. Tepati janji Papa.” Suara Dennis mengalihkan perhatian Eunso. Tersenyum kepada kedua laki-laki yang berarti dihidupnya itu.

“Arraso.” Kyuhyun duduk di atas selimut piknik sambil menghembuskan nafas tersengal-sengalnya.

“Janji apa?” tanya Eunso penasaran.

“Janji laki-laki. Wanita tidak perlu tahu,” jawab Kyuhyun.

Sungguh menyebalkan sekali. Eunso paling benci jawaban itu. Memberengut Eunso pun menggerutu. “Kalian lihat saja. Saat Hyun Soe besar, kalian juga tidak akan boleh tahu rahasia kami berdua.”

Kyuhyun menaikkan bahunya tidak perduli lalu menunduk ke arah Hyun Soe. “Papa mau susunya juga.”

“Heeeemmm.” Hyun Soe menjauh dari Kyuhyun sambil menggelengkan kepalanya tanpa melepaskan sedotan susu dari mulutnya.

“Ya Tuhan, kau pelit sekali,” bisik Kyuhyun sedih. “Apa yang ini mau memberikan satu teguk untuk Papa?” Kyuhyun pun beralih pada Hyunno. Dan sama seperti adiknya Hyunno pun menjauh dan menggelengkan kepalanya.

Kyuhyun memberengut sedih sambil merangkak ke arah Eunso, lalu membaringkan kepalanya di pangkuan istrinya itu dan berbisik. “Kau tidak akan pelit padaku kan sayang?” Eunso tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Bagus. Karena aku sangat suka menyusu padamu.”

“Oppa!” tegur Eunso sambil mencubit lengan Kyuhyun yang mengaduh pelan setelahnya.

Dennis menggelengkan kepalanya sambil mendekat pada adik kembarnya dan tersenyum pada keduanya. Hyunno dan Hyun Soe secara bersamaan menyodorkan susu milik mereka kepada kakak tersayang mereka itu. Dennis menyedot susu milik Hyunno lalu mengambol bola lagi. “Kajja kita main,” ajaknya kepada si kembar.

Si kembar meletakkan botol susu mereka dan berdiri, berjalan dengan sangat lancar sekarang. Menyusul Dennis dan mereka bermain bola bersama, dengan tertawa dan sambil berlari-lari mengejar bola.

Eunso dan Kyuhyun hanya bisa tersenyum memandangi ketika anak mereka. Mereka sangat akur dan rukun jika sedang bermain bersama. Tidak ada pertengkaran antara si kembar. Tidak ada omelan kesal Dennis kepada si kembar jika si kembar berbuat nakal. Tidak ada tangisan jika salah satu merasa kehilangan yang lainnya. Mereka saling menyayangi. Seperti mereka bertiga memang sudah ditakdirkan untuk menjadi satu keluarga.

“Hyung. Eunso. Aku pergi sekarang.” Suara Henry menarik lamunan Kyuhyun dan Eunso. Mereka menoleh ke arah Henry secara bersamaan. “Annyeong.” Henry pun pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

“Kenapa dia?” tanya Kyuhyun.

Eunso menaikkan bahunya. “Aku rasa dia ada sedikit masalah. Tapi, tidak biasanya dia tidak menceritakannya padaku.”

“Masalah seperti apa?”

“Apa mungkin dengan Haneul?”

“Heuuumm… Mereka memang terlihat sedikit canggung belakangan ini,” jawab Kyuhyun sambil berbisik. “Yah, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Tidak perlu ikut campur.

“Nee,” jawab Eunso. Berharap, semoga apapun yang mengganggu Henry bisa cepat terselesaikan. “Oppa, aku juga ingin bermain bola.”

Kyuhyun duduk dan berdiri menarik tangan Eunso. “Kalau begitu ayo.” Lalu mereka pun bergabung bersama ketiga anak mereka, menendang bola dan si kembar berlarian mengejar bola. Tertawa bahagia bersama.

.
.
.

Side Story Hanry (Haneul- Henry)

“Haneul.” Henry berlari mengejar Haneul yang langsung berbalik dan menjauhi Henry begitu gadis itu melihat Henry berdiri di lorong apartemennya. “Tunggu, kita harus bicara.” Menangkap pergelangan tangan Haneul dan memutar tubuh Haneul dengan cepat.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Semua sudah selesai,” desis Haneul. Matanya yang sembab terlihat mulai berkaca-kaca lagi.

“Tidak semudah itu kau mengatakan ini sudah selesai. Aku tidak bisa menerimanya.” Bentak Henry.

Haneul menatap Henry dengan mata melebar. Henry tidak pernah membentak. Henry juga tidak pernah menatapnya seperti sekarang. “Aku tahu, aku gadis yang bodoh. Tapi sudah cukup Henry, aku tidak mau terus-terusan kau manfaatkan.”

“Sial, apa kau berfikir semua ini karena aku memanfaatkanmu?”

“Lalu apa? Aku juga buat sebuah pelarian.”

Henry mengeraskan rahangnya sebelum menjepit dagu Haneul dan menunduk. Melumat bibir Haneul dengan ciuman yang panas dan mendesak. Haneul menggeliat dan berusaha mendorong Henry, tapi kekuatan Henry lebih besar dari dirinya. Perlahan-lahan gerakan melawan itu pun berubah menjadi kebutuhan. Tangannya naik  melalui punggung Henry dan merangkul di leher Henry. Ia kalah, selalu kalah pada Henry.

Henry melepaskan ciumannya, dan mengusap bibir Haneul yang basah karena ulahnya. “Kumohon, aku akan menjelaskan semuanya. Ini bukan semata-mata karena sakit hatiku pada Nana. Ini semua murni karena aku peduli padamu.”

Haneul menitikan airmatanya yang langsung di hapus oleh Henry. Laki-laki itu menatapnya dengan penuh penyesalan, ia tidak sadar telah melukai Haneul begitu dalam. “Biarkan aku masuk ke apartemenmu Haneul-aa.  Aku ingin berada di dalam dirimu. Sekarang!”

Henry merebut kunci apartemen Haneul dan membuka pintunya cepat. Menarik gadis itu masuk bersamanya ke dalam. Menutup pintu itu dan menguncinya. Entah apa yang mereka lakukan di dalam apartemen itu.

.
.
.

FIN..

Oke.. kali ini bener-bener tamaaat….. Cerita Haneul Henry ngegantung ya? ada apa sih sama mereka? Kyuso aja mpe kepo tuh.. hahahaha.. Kalo mau ada side story Haneul Henry. Ngacung ya. Kalo yang ngacung sama banyaknya dengan komen disini bakal aku buat. Aku janji bakal buat. Tapi aku juga minta kalian janji untuk sabar. Dan ga nagih-nagih mulu… Woookeeee????

Aku juga janji bakal buat Kyuso Series beserta Dennis, Hyunno dan Hyun Soe dan kehidupan harmonis keluarga kecil ini kalo kalian mau. Tapi janji.. janji sama aku. Kalian harus sabar!!! Gimana? Deal?.

Nah.. sekarang aku mau cerita dan sedikit bagi-bagi foto-foto mereka.

Ada yang nanyain Dennis kan?

Nama lengkapnya Dennis Kane. (aku pake nama asli loh. Ditambah Cho karena kan jadi anak angkat). Ada yang bilang Campuran Korea-Amerika. ada yang bilang juga campuran Korea-Australia. Aku ga tau mana yang benar. Lahir tanggal

Hyunno dan Hyun Soe. Nama aslinya Jesper dan Celsee. Mereka asli kembar dan cukup terkenal di Instagram loh… ^^. Orang tuanya asli orang Korea juga.

289 thoughts on “Poison Of Love Part 11 End

  1. Baru baca endingnya sumpah ff ini keren banget terus feelnya dapet banget, aku sampe spechless thor 🙂
    Thor please buat lanjutan ff hanry ya, soalnya aku penasaran sm kisah mereka kkk~ Pokoknya keep writing ya thor 🙂 Fighting!!!

    Suka

  2. Wwaahhhh “KEREN” Wkwkwkw ceritanya bener2 nggak ketebak banget… bikin deg2an sendiri. Kirain ini bakalan sad ending yang eunsonya bakalan meninggal tapi ternyataa.. waahhhh keren keren keren keren bgt thor pokoknyaaa..
    Kalo bisa bikin sequil denisnya udah gede yaa thor wkwkwkwk..

    Suka

  3. woah pasangan bahagia.. ternyata eunso hamil sebelum kyu ngelakuin vasektomi.. akhirnya keinginan untuk punya anak kandung kesampaian.. haechul sampe ngerekayasa cacatan medis eunso buat dapetin eunso.. cinta mati kayaknya tuh.. kyu yg awalny niat ngebunuh eunso sekarang jd cinta eunso.. eunso yg sakit berobat sampe sembuh dan akhirnya punya anak.. akhir kisah yg happy ending.. tiga anak kyuso hidup rukun, seneng deh bacanya.. fighthing buat ff kyuso lainnya 😀

    Suka

  4. Hoaaaaa gak henti-hentinya takjub kepada penulis cerita ini. Aslinya BAGUS BANGET.. bukannya berlebihan tapi emang beneran bagus, ya walalupun ceritanya dewasa tapi umurku sudah bisa membaca dan memahaminya(?).
    Author, ditunggu cerita bagus lainnya.
    oya yang ff tentang luhan itu koq gak bisa kebuka? Mworago???

    Suka

  5. Endingnya keren banget kyuso punya bayi kembar,, penasaran sama kisah henry sama hanuel ada apa dengan mereka ? Penasaran banget . Ditunggu side story henry hanuel sama kyuso serisnya … Semangat buat aouthornya 🙂 dan semoga ffnya bisa cepet di posting …

    Suka

  6. Sempet takut ini akan jadi ff sad ending pas tau Eunso hamil. Eh ternyata si Haechul itu orang psycho.
    Cho triplets ngegemesin sumpeh hahaha
    ngebayanginnya jadi si Song triplets
    seneng ff ini happy ending
    nice ff
    ditunggu karya selanjutnya 🙂

    Suka

  7. Cerita nya pas endnya pas banget tapi yang gantung pas bagian henry sama haneulnya nih thor
    Unni buat side story Haneul Henry
    Untungnya eunsoo bisa hamil juga udah gitu dapet 2 pulak lagi
    Chuke ya untuk kyupa
    Thor buat sequel nya kenapa
    Mau ya? ya? Thor

    Suka

  8. heechul buronana? Tapi bisa menyembuhkan pasien sakit parah, wooah keren tapi untung insting kyuhyun kuat jadi eunso gk berlama-lama lagi bersama heechul dan bisa ngebangun keluarga bahagia ditambah dua anak kembar yg baru lahir aaa pokoknya ngiri sama ini keluarga..
    buat side story henry haneul aku ngacung juga setinggi-tinggi nya sama series dennis dan sikembarnya ya thor

    Suka

  9. Wah seneng… Happy ending ever after… Saat lahiran eunso, seolah kita ikutan tegang jg…daebak, thor… Sequel dong henry – haneul story yg didalamnya mengikutsertakan kyuso family pasti seru…. Love cerita ini deh…makasih ya, thor…@_@

    Suka

  10. huhuhu :’ udh tamat ya? happy ending dan keren banget… aku kira eunso gak bakal hamil tapi ternyata udh hamil. terharu sama kyuhyun. iri sama keluarga kecil mereka :’)
    thor, sequel dong.. ini sayang banget kalo gak dilanjutin

    Suka

  11. Hoki bgt….
    hamil sebelum vaksetomi…
    dpt kembar….
    cowo cewe lagi….
    plus ada dennis….
    bener2 lengkap….
    pnasaran knp si henry sama haneul tiba2 udah saling marahan sampai2………..uhuk*
    Finally happy end….^^

    Suka

  12. cerita yg bgus dan berakhr happy end
    aku ngak nyangka kalau heechul sprtj itu
    tpi syukur kyu cepat tau
    dan tidak berlarut2 mslhnya.
    keluarga yg bahagia
    wahhh psti eunso dan kyu senang bgt
    punya anak
    lgsg dpt 3
    hehehe
    di tggu sequal nya thor
    semangat thor
    maaf ada sdkit typo
    semangat;-)

    Suka

  13. ye ye ye yeahh!!!
    finally Eunso hamil dan melahirkan anak kembar cowok cewek, kayak ucapan Henry tadi ‘KEREN’..
    happy ending of course tp buat Double H Couple.nya mau nih buat side story mereka..
    oh ya, after story Kyu-So jg ditunggu, masih penasaran aja, si dokter Changmin itu bener2 melakukan operasi itu ke Kyu atau ada yg lain ya, kasian Kyu aja kalo beneran di operasi toh Eunsonya juga sehat bgt gituu..
    hihi..

    Suka

  14. woahhh KEREN…
    rupanya bener jga feeling aku kalok eunso eonni itu mengandung. wah keren sekali lg dapat anak kembar pula. itu kyu oppa senengnya sampek kelangit dah😊 itu semua karena eunso eonni.. gomawo eonni…😘
    wah dennis bakal jd penerus kyu oppa. kerennnn

    aduh gemes banget dah sama peran dennis eon disini. suka sama sifat dan tingkah dia apalagi tingkah kyu oppa😄
    aduh eonnn kami butuh kyunso seriesssnya ya..
    dan pasti akan sabar menunggu dipost.
    gomawo eonni😊 udah buat ff ini untuk para readers. dan ditunggu karya” keren selanjutnya…

    Suka

  15. wahhh asdfghjklwiudgsu bagusssssssss :’) mau aja sih kalo dibuatin side storynya henry~~~ ditunggu pasti… dan btw kok gak ada bahasan kyuhyun gak ngasih tau ke eunso masalah heechul ???? apa emang kyuhyunnya sengaja gak mau ngasih tau apa gimana gitu lah… tapi its okay its lop lah~~ aing puas bacanya~~ ^^

    Suka

  16. Woahh daebak ! Ak udh bca dr part 1 ampk end , tp bru tau cara comen ndk sni hiks 😥 maklum lah ya wong ndeso 😥 critana keren bgt bkn perasaan campur aduk 😮 ak ampk pen jd nih author pasti persaanna sneng bgt bsa nyenengin org” kyk ak 🙂 ak mau side story hanry ma after storyna kyuso :3 #unjuk_tangan ak bkl sbar bgt kok thor nungguinna kk~

    Suka

  17. Side story eunsoo kyu deniss n si kembar eonni >< cerita’a benar” mencetarkan kkkk~ anyway thank u eonni udh updated secepat ini. Selanjut’a akan sangat bersabar untuk menanti seri” yg terbaru. Ganbatte ^^

    Suka

  18. Bhuaaa tamattt and publish nya cptt oemjii wkwkwk
    Firsttt!! Bnerrr kann eunsi bkal hamill
    Buat hechul oemji -_-”
    D sini bner2 sweeetttt momenttt abisss wkwkk
    And buat author wkwk gomawo buat litle sotry henry nya wkwk sbnr nya agak gak nyambung wkwk oh iya yg minri sm siwon kgk ad litle story nyaa
    Kangen sm minri tiba2 –#
    D tggu cerita slanjut nya yaaa semoga yg step father bs cpt tamat jugaa
    Keep writing fighting !! ^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s