Code Number Part 2


Author: fadhilaxx

 

Title: Code Number Trilogi – Chapter 2: This is Not The End of…

 

Category: NC21, Yadong, Romance, Kekerasan, Chapter (Trilogi)

 

Cast:

 

Kim Jongin as Kai

Han Junghwa as Jill

Oh Sehun as Sehun

 

Other cast:

 

Han Taehyung

Park Jimin

 

I’m back~~

 

Thankyou buat yang sudah komen ^^

 

Buat yang cuma baca aja tanpa RCL juga thankyouuu ^^

 

Jujur saya emang gasuka FF panjang-panjang, takut readers bosen.

 

Kekee~

 

Chapter 2 ini juga saya bikin pendek. Biar ceritanya masuk, engga muter-muter kayak odong-odong tetangga hahaa

 

Happy reading guys! ^^

 

 

 

 

 

 

 

Code Number Trilogi – Chapter 2: This is Not The End of The…

 

 

Jill. Aku mengenalnya sebagai Han Junghwa. Gadis kecil dengan lolipop di kedua tangan lentiknya. Junghwa memang manis. Bahkan di usianya sekarang, ia jauh lebih manis dari ingatanku bertahun-tahun yang lalu. Gadis kecil dengan senyuman lebar di setiap langkahnya.

 

Itu dulu.

 

Kematian ibunya membuat dirinya menjadi gadis tanpa ekspresi. Senyumnya mematikan. Bukan menghangatkan seperti dulu. Mata bulat dengan iris keemasan, ditambah bulu mata lentiknya memang hampir sempurna. Siapa sangka dengan mata indah itu, ia telah melihat ratusan nyawa merengang dihadapannya.

 

Han Junghwa.

 

Jill.

 

Si gadis Cherry Blossom.

 

Hingga aku bertemu dengannya kembali lima tahun lalu. Aku direkrut menjadi pembunuh utama Black Corp setelah Boss secara langsung melihat kemampuan membunuhku setelah pelatihan bertahun-tahun. Selama masa itu pula aku tidak pernah sekalipun bertemu dengan Junghwa. Ada sedikit rasa kecewa mengetahui ia bukan lagi gadis kecil pengemut lolipop. Tentu saja. Pistol telah menggantikan sepasang lolipop di tangannya. Aku bukannya terkejut melihatnya tanpa ampun menghabisi target. Hanya saja ini sedikit lucu buatku. Bagaimana bisa gadis polos dengan senyuman malaikat kini mampu melakukan apa saja agar peluru tepat menancap di jantung targetnya?

 

Dia bukan lagi Han Junghwa. Ia tumbuh menjadi wanita elegan, anggun, classic atau apapun yang ingin kau sebutkan. Anggap saja dia memang Jill. Namun bagiku ia tetaplah Han Junghwa. Gadis kecil pengemut lolipop.

 

Apapun kebenaran yang akan terungkap, percayalah Junghwa, aku tetap mencintaimu…

 

Selalu.

 

 

 

 

*****

 

 

 

“Noona.”

 

Taehyung mengangetkanku. Oh, jam berapa ini? Aku baru merasakan pegal di seluruh badanku setelah hampir 12 jam hanya menatap layar desktop. Mencoba menggali kembali informasi mengenai Ketua Park.

 

“Kenapa?”

 

Aku benar-benar sibuk sekarang. Sepertinya adikku yang satu ini mendengus kesal karena jari-jariku kembali berkutat indah di atas keyboard. Tanpa memperhatikannya sedikitpun.

 

“Noona, bisakah kau mempertimbangkan..”

 

“Taehyung-ah kalau kau masih ingin membahas ini, pintu keluar ada dibelakangmu. Kau bahkan belum menutupnya rapat.”

 

Taehyung mengganggu konsentrasiku. Kudengar langkahnya berderap maju mendekatiku. Duduk di atas meja kerjaku.

 

“Untukmu.” Taehyung menyodorkan segelas cokelat panas.

 

Kupicingkan mataku kearahnya. Heran dengannya yang akhir-akhir ini (terlalu) baik padaku.

 

“Han Taehyung. Kau sudah dewasa rupanya,” ujarku senang.

 

Astagaaa kapan terakhir kali kami berbicara sedekat ini? Aku rindu tidur bersamanya. Aku rindu bagaimana Taehyung selalu mengeluh kepadaku tentang bagaimana sulitnya masa pelatihan. Yahh mungkin baginya karena memang aku satu-satunya keluarga yang tersisa untuknya.

 

 

Kusesap cokelat panas yang ia bawakan. Matanya masih menatapku lekat. Aku cukup pandai membaca ekspresi orang lain. Dan Taehyung memang seseorang yang mudah sekali mengekspresikan perasaannya. Mudah sekali ditebak. Aku tahu ia masih mengkhawatirkanku.

 

“Apa Noona tahu,” ia membuka pembicaraan setelah hening beberapa saat.

“… berita pembunuhan Eksekutif Yoon dan seluruh keluarganya serta 20 bawahannya adalah ulah dari Ketua Park?”

 

“Ya, aku tahu.” Aku masih mengangguk sambil meminum cokelat yang kini mulai terasa hangat.

 

“Bagaimana jika Noona menjadi salah satu korban seperti mereka?”

 

Taehyung mulai menggenggam tanganku. Kuletakkan gelas cokelat itu dan mulai berdiri menghadapnya. Bahkan dalam posisi ini aku lebih pendek dua senti dibandingkan terakhir kali bertemu dengannya. Hey Han Taehyung! Berapa senti pertumbuhanmu setiap hari?

 

“Tidak akan.”

 

“Bagaimana jika Noona terluka?”

 

“Apa kau tidak pernah terluka saat membunuh seseorang? Jangan konyol.” Aku mengacak pelan rambutnya. Tersenyum dengan tingkah polosnya. Ya, dia memang kejam. Tapi selalu bersikap manis jika berhadapan denganku.

 

“Aku akan melindungimu, Noona.”

 

Taehyung menarikku ke dalam pelukannya. Aku mengusap punggungnya.

 

Aku juga akan melindungimu, Han Taehyung.

 

Kulepas pelukannya padaku. Tersenyum padanya seolah memberitahunya aku akan baik-baik saja.

 

“Tidurlah. Aku tidak mau kau menggangguku.”

 

Ia hanya mengangguk mendengarkanku patuh. Kukecup singkat pipinya. Taehyung berjalan menjauh.

 

“Noona.”

 

Langkahnya terhenti tepat di depan pintu.

 

“… aku tidak tahu kau mungkin sudah mengetahuinya atau tidak, tapi…”

 

“Apa?”

 

Taehyung berbalik menatapku.

 

“Semalam Kai hyung mengambil sesuatu dari lemarimu. There.

 

Taehyung menunjuk lemari kecil di sudut ruangan. Aku hanya menatapnya sekilas.

 

“Kau hanya terlalu berlebihan, Taehyung-ah,” aku kembali mengetikan kata sandi untuk membobol website Jinseong Group.

 

 

Good night. Dan tutup kembali pintunya.”

 

Apa benar…

 

 

 

 

*****

 

 

 

Oh Sehun fokus menatap layar desktopnya. Memandangi profil gadis tersebut. Lengkap dengan daftar seluruh korban yang telah ia habisi. Meja cokelat bermarmer terlihat bersih tanpa ada berkas apapun yang menumpuk disana. Hanya ada satu layar menampakkan foto Jill dengan mata cokelat terangnya, satu notes, dan sebuah pena bertinta biru. Oh ya, sebatang kecil cherry blossom mewarnai vas kaca mewah miliknya. Menambah manis meja kerjanya.

 

“Perempuan itu. Sepertinya memang mampu mengendalikan dirinya dengan baik, Tuan.”

 

Sekretaris Jin membuyarkan lamunanku akan fantasi Han Junghwa.

 

“Aku tahu.”

 

“Dia mulai membunuh sejak usia 17 tahun. Korban pertamanya tidak tanggung-tanggung. Investor saham terbesar dari Amerika. Suatu prestasi tentunya, menurutku.”

 

“Hyung, apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya secara langsung?”

 

Sekretaris Jin memang sudah dianggap kakak kandung sendiri bagi Oh Sehun. Membantunya dari berbagai masalah. Termasuk terakhir membantunya melenyapkan jejak komplotan China yang berusaha memberikan suntikan mati padanya.

 

“Memacarinya mungkin?”

 

Sekretaris Jin lalu tertawa.

 

“Itu juga terlintas dipikiranku, hyung.”

 

“Dia cantik. Dan dia pemegang sabuk hitam. Yahh mungkin agak sedikit sulit menaklukannya.” Jin mengerling padaku. “Tanda tangani semua berkas ini. Akan kutemui lagi kau setelah berunding dengan pemegang saham siang ini.”

 

Jill.

 

Sehun tersenyum memegang cherry blossom  yang ada di sudut meja kerjanya.

 

 

*****

 

 

 

Jill mengeluarkan code number yang ada dibalik ID card transparan miliknya. Mengamatinya sekilas sebelum memasukkan kata sandi tersebut ke dalam server utama Jinseong Group.

 

Apa akan berhasil?

 

Bingo! Data terbuka. Tapi, damn it!

 

“Oh Shit! That’s a trap!

 

Jill mengumpat didepan halaman server yang terus menunjukkan loading, mengarahkan servernya ke server virus Jinseong Group. Dengan cepat ia meng-klik tombol stop dengan brutal. Sedetik saja ia terlambat, semua data Black Corp akan jatuh ke tangan Jinseong Group.

 

“Oke, karena kau yang memaksa akan kugunakan cara yang lebih ekstrim. Malam ini aku akan membobolmu, apapun resikonya.”

 

Jemari Jill kembali lincah menari di atas keyboard. Mencoba memecahkan kode yang sialnya terproteksi dengan sangat sempurna.

 

Sudah beberapa hari ini Jill hanya memandang layar desktopnya. Rasa frustasi kembali menyerang dirinya saat mendapati pesan failed mode dari server utama. Jinseong Group. Program apa yang kalian gunakan? Sialan!

 

“Ada apa?”

 

Suara teduh itu menyejukkanku. Kai, dengan langkah ringannya, berjalan lurus kearahku, duduk asal di meja kerjaku. Tubuh bagian atasnya tampak jelas karena ia hanya menggunakan celana boxer sehabis mandi. Aroma shampoo yang masih menguar dari arahnya tercium indraku. Dengan gerakan cepat, Kai menarik daguku, mengecupku sekilas. Hanya kecupan biasa namun mampu meningkatkan hormonku. Kai melanjutkan aktivitasnya mengeringkan rambutnya dengan handuk biru kecil milikku.

 

“Sepertinya aku butuh obat penenang. Semua kegiatan ini membuatku gila. Bagaimana mungkin server ini sama sekali lost connection? Ini pertama kalinya untukku.”

 

Jill menuju kulkas kecil miliknya di dekat pintu. Mengambil botol air mineral, meneguknya hingga habis dalam waktu singkat.

 

Kai bergeser ke arah kursi yang tadi diduduki Jill, mencoba ikut mengutak-atik server tersebut.

 

“Apa yang kau butuhkan, sayang?” Mata teduh Kai masih fokus menatap rentetan kode yang berderet didepannya. Sepuluh jarinya dengan lincah bergerak. Hanya dalam hitungan detik, pertahanan pertama Jinseong Group berhasil ia lumpuhkan.

 

Well. Aku lupa kalau kau Kim Jongin. Otak Komputer Black Corp.

 

Aku hanya terpaku menatapnya. Kode yang berhari-hari dengan susah payah ingin kupecahkan namun dengan sialnya, hanya butuh waktu kurang dari semenit, Kai membuka semuanya.

 

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Kai dengan polosnya bertanya padaku.

 

Oke. Apa dia tidak sadar betapa jeniusnya dia? Atau memang ia hanya pura-pura bodoh?

 

Dengan gusar kutatap layar flat tersebut, menduduki Kai yang masih terduduk manis di kursi kerjaku. Mataku seakan tak percaya. Benar, ini berkas Jinseong Group. Kuarahkan mouse yang kupegang menuju tanda panah yang ada di pojok kanan page tersebut. Ahaa! Apa kau mau membodohiku, Kim Jongin?

 

“Kau gagal. Semua data ini masih terkunci. Cih. Kupikir kau memang jenius. Aku benar-benar salah menilaimu.” Aku makin gusar melihat serentetan kode yang dengan keparatnya masih setia berderet seakan menertawakanku.

 

Dan Kai hanya tertawa girang.

 

“Kenapa? Apa ada yang salah dengan mukaku? Sialan.”

 

“Han Junghwa. Apa kau pikir aku sebodoh itu? Lihatlah.” Kai menunjuk ke bagian paling bawah. Tujuh halaman.

 

“Jadi…”

 

“Ckckck. Kau memang bodoh, Junghwa.”

 

Kai menarik tengkukku dan menghisap bibirku dalam. Lumatan itu bergantian antara bibir atas dan bawahku.

 

“Jadi maksudmu semua data ini terproteksi tujuh kali? Dan aku harus membuka satu per satu? Oh God!”

 

Kai hanya mengangguk. Bibirnya sibuk menjilat-jilat leherku.

 

“Tepatnya enam kode. Satu kode sudah kupecahkan. Sisanya milikmu.”

 

Kai mengulum telinga kananku, merambat melalui rahang sebelum akhirnya kembali melumat bibirku tanpa ampun.

 

Aku menangkup kedua pipinya. Mencoba menjauhkan bibir lelaki ini dari jangkauanku walaupun sebenarnya aku enggan.

 

“Apa kau hanya mengejekku? Kalau memang tidak berniat membantuku sebaiknya dari awal tidak usah membantu. Sialan kau!”

 

Mataku masih terpaku menatap layar. Rentetan angka tersebut membuatku pusing. Kai semakin keras menertawaiku.

 

“Aku akan membantumu. Satu kode satu ronde. Bagaimana hmm?”

 

Sialan.

 

“Apa itu artinya aku harus melayanimu enam kali? Tidak, tidak, keparat, terimakasih.”

 

Tangan Kai mulai menyusup di balik kemeja longgar sepaha berwarna abu-abu milikku.

 

“Benarkah?” Kai hanya tersenyum usil. Mengelus payudaraku yang memang tidak tertutupi oleh bra.

 

“Hentikan! Aku bisa memecahkannya sendiri tanpa bantuanmu.” Nafasku mulai berat saat Kai menggigit kuat leherku.

 

“Ya! Kim Jongin!”

 

“Jadi mau berapa lama kau akan terus menatap layar huh? Setahun? Dua tahun? Dua tahun pun belum tentu kau memecahkan kode itu.” Kai tersenyum setan melihat mukaku yang memerah persis seperti udang rebus.

 

Aku menatap manik matanya. Mata sialan itu memang selalu berhasil menghipnotisku. Hingga tanpa sadar Kai sudah membuka seluruh kancing kemejaku. Ciuman yang lembut dan intens dengan sedikit kesan menuntut. Kai menahan tengkukku sebelum lengan mungilku mendorong tubuhnya menjauh, melepas ciuman ini secara sepihak.

 

Nafasku tidak sepanjang kau bodoh!

 

Tangan nakal Kai menahan pinggangku yang hendak beranjak, tampaknya belum puas dengan french kiss barusan. Dengan mudahnya ia memutar tubuhku hingga kini aku duduk menghadapnya. Dan lagi-lagi aku baru sadar ia telah membuang kemejaku yang entah sejak kapan bertengger menutup layar monitor dibelakangku.

 

“Aku menawarimu pilihan yang mudah kenapa harus mengambil jalan yang sulit, eoh?” Kai masih sibuk menghisap lekukan leherku. Hanya satu titik namun ia menghisapnya dengan cukup kuat. Darah berdesir menjalari tubuhku.

 

Kami sama-sama hanya menutupi bagian bawah. Dada kami terekspos bebas dan Kai sepertinya menyukai hal itu. Ia menahan pinggangku untuk tetap menempel padanya, sementara tangan yang lain meremas payudaraku intens.

 

“Bagaimana, Han Junghwa? Teruskan atau tidak hmm?”

 

Sudah seperti ini mana bisa dihentikan, bodoh!

 

Namun aku terlalu malu untuk mengatakannya.

 

Kuhisap bibir tebalnya yang sedari tadi dengan lancangnya menyedot leherku. Dapat kurasakan Kai tersenyum dalam ciuman ini. Posisiku yang lebih tinggi darinya membuat air liur kami menetes hingga ke dagunya saking intensnya ciuman yang kami lakukan.

 

Kai secara sepihak memutus ciuman ini dan tanpa menunggu jawaban, ia melahap satu payudaraku yang memang sedari tadi bergesekan dengan dadanya. Dilahapnya benda kenyal menganggur itu dengan gerakan seksi, menikmati surga dunia nyata yang ia ciptakan. Membiarkan kedua tanganku menjambaki sela-sela rambutnya.

 

Sebuah deringan ponsel menghentikan aktivitas kami.

 

Dengan susah payah aku menjangkau smartphone yang tergeletak di sebelah keyboard.

 

Kulihat nama yang muncul di layar. Manajer Lee.

 

“Yeobeoseyo?”

 

Nona ada sedikit masalah.

 

“Ada apa Manajer Lee? Awwhh..”

 

Aku melotot geram pada Kai. Ia dengan senyuman sialnya mengacuhkanku dan melanjutkan kegiatan menggigit putingku.

 

Nona tidak apa-apa? Apa terjadi sesuatu?” Manajer Lee terdengar resah.

 

Seseorang menggigit payudaraku, Manajer. Tolong panggil polisi.

 

“Ani, tidak apa ahh.. apa. Lanjutkan Manajer.”

 

Kim Jongin kau memang setan. Ia masih sibuk mengulum rakus kedua dadaku. Ia mendongak menatapku. Sorot matanya seolah tak bersalah, tapi percayalah semua itu hanya tipuan semata. Aku memberi tatapan seakan memohon ‘tunggu sebentar’ padanya, namun ia hanya menggeleng kecil. Kurasakan jari lentiknya masuk menelusup ke dalam lubangku, mengelus klitorisku yang pasti sudah menegang di bawah sana.

 

Suara Manajer Lee masih terdengar setia menjelaskan semua hal kepadaku. Aku hanya mendengarkan seadanya, tanpa memahami satu kalimatpun. Kugigit erat bibir bawahku agar desahan ini tidak terdengar sampai ke seberang sambungan telepon. Manajer Lee mungkin akan terkena serangan jantung mendapati aku mengangkat panggilannya dengan posisi seperti ini.

 

Mati-matian aku menjauhkan tangan Kai yang mulai agresif mengaduk-aduk lubangku. Aku menatapnya dan menggeleng lemah.

 

Kai, please…

 

Dan Kai sepertinya puas mempermainkanku.

 

Lalu apa yang harus saya lakukan, Nona?

 

Sungguh malang Manajer Lee yang masih dengan sabarnya melaporkan secara detail padaku tanpa tahu apa-apa.

 

“Kirim s-saja laporan itu p-padaku Manajer Lee. Email. S-sekarang juga aahh..” Segera kututup sambungan itu sebelum Manajer Lee menyadari ada lelaki yang sedang menusuk-nusuk lubangku secara kasar.

 

Sial sial sial! Kim Jongin keparat kau.

 

“Ya! Kim Jongin!”

 

Aku mulai gelisah dalam pangkuannya. Berkali-kali kurasakan vaginaku mulai berkedut namun kutahan pelepasan itu. Pahaku merapat mencoba menghentikan aktivitas Kai. Akan lebih memalukan jika ia melihatku menikmati ini semua.

 

Aku berpegangan erat pada pundaknya. Mencengkeram sangat erat hingga kuku polos tanpa nail art ku tercetak jelas di bahunya. Mati-matian aku menahan desahan yang ingin menyeruak dari mulutku.

 

Sementara Kai dengan tanpa dosanya, masih tetap mengaduk vaginaku dengan gerakan memutar, dan dengan intens menghisap leherku. Bercak merah yang ia buat pasti tak terhitung jumlahnya.

 

“Sssh.. K-Kai cukupp ohh..”

 

Kai malah semakin kasar mengaduk vaginaku. Wajahnya terangkat menatapku dengan tatapan yang tajam. Ia mengamati setiap ekspresi wajahku. Sungguh, aku malu jika ia melihatku dalam keadaan terangsang seperti ini. Hingga akhirnya gelombang orgasme pertamaku tiba.

 

“Aaaahhhh ….”

 

Mulutku tak henti-hentinya mengambil pasokan udara karena kurasa lubang hidungku saja tidak cukup.

 

Dan disaat aku masih menikmati pelepasan yang baru saja melanda, Kai dengan gesitnya melucuti pakaian yang tersisa di tubuh kami. Aku masih terengah saat ia mencoba menusukkan juniornya ke dalam vaginaku. Kucengkeram erat lengannya saat ia mulai mendorong junior tegangnya.

 

“Aahh..” Aku membantunya dengan menaikkan sedikit pinggulku, agar juniornya lebih mudah masuk. Dengan sedikit hentakan pada selangkanganku, juniornya masuk sepenuhnya. Perasaan lega menjalari tubuhku.

 

“Tunggu, Junghwa.” Kai menghentikanku saat ingin kukecup bibir tebalnya.

 

“Ada apa?” Aku memiringkan kepalaku.

 

Kai memajukan kursi yang kami duduki, meraih sebuah figura yang berisi fotoku dengan Taehyung di sudut kanan meja kerja, kemudian membaliknya.

 

“Aku tidak ingin Taehyung melihat hal yang belum seharusnya ia lihat.” Ia tertawa sambil mengecup bibirku sekilas.

 

Pria ini benar-benar.

 

“Jadi bisa kita mulai sekarang?”

 

Kami tertawa bersama. Aku bahkan tidak tahu apa yang kami tertawakan.

 

“Apa kau benar-benar akan memperkosaku enam kali?” Ucapanku terdengar was-was. Kami belum pernah selama itu melakukan hubungan seks.

 

“Hei kapan aku memperkosamu? Kalau aku memperkosamu kenapa kau tidak lari saja?” Kai tertawa geli melihat ekspresi sebalku.

 

“Ya! Siapa bilang aku akan lari?” Kucubit kecil pinggangnya.

 

“Turun. Aku sudah tidak ada niat untuk melakukannya denganmu.” Kai menggodaku.

 

Aku menggeleng kuat. Kueratkan lilitan kakiku di pinggangnya, membuat juniornya semakin melesak ke dalam.

 

Lihatlah, siapa sekarang yang benar-benar ingin diperkosa?

 

“Han Junghwa, kuanggap ini sebagai jawaban iya. Sepertinya besok kau harus rela tidak bisa berjalan.”

 

Kai mulai menggendongku ke ranjang. Smirk andalannya merupakan hal terakhir yang kulihat sebelum ia melumat habis bibirku.

 

Kai kembali menyentakkan miliknya memasuki diriku dan menggerakkan pinggulnya. Oh God! Kenapa wajahnya terlihat bernafsu sekali. Kutahan tangan berotot Kai yang mulai merayap menggapai putingku.

 

“Aaagghhh…” Kai ikut mendesah nikmat. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa juniornya kembali berkedut.

 

Kai meremas bokongku, menghentakkan miliknya keluar-masuk vaginaku dengan ritme yang semakin gila. Kulingkarkan kakiku di pinggangnya, ikut memaju mundurkan pinggulku dan tersentak mendapati juniornya menusuk lebih dalam.

 

“Sshhh…” Aku mendesah seiring cairan orgasmeku yang meluber keluar. Cairanku membuat akses lebih mudah bagi juniornya. Suara benturan alat kelamin kami begitu memabukkan. Kulirik Kai yang menggeram nikmat diatasku. Peluh yang mulai mengaliri pelipisnya dan bibirnya yang tak henti-hentinya mendesah membuatku semakin bernafsu. Kutarik tengkuknya dan menghisap bibirnya penuh dan dalam. Kai melumat kasar bibirku. Tangannya tak henti-hentinya meremas payudaraku.

 

“Aaaaaahhhh…..” Kai mengerang seraya menghujam miliknya dalam-dalam, memuncratkan berjuta cairan spermanya di rahimku. Kepalanya masih mendongak seiring pelepasan hebat yang menerpanya.

 

Kai menimpakan tubuhnya diatasku, masih dengan nafasnya yang terengah. Aku mengusap lembut rambutnya. Kai mengecupi sekitar putingku. Menatap sekilas wajahku yang benar-benar sudah kelelahan. Kucoba menetralkan nafasku yang tidak beraturan.

 

Ia mencubit hidungku. Mengecup bibirku yang setengah terbuka.

 

“Dasar payah.” Kai menjitak pelan keningku.

 

Aku hanya mampu memejamkan mata. Masih bisa merasakan sperma nya yang mengaliri perutku.

 

“Baru satu kali. Masih ada lima kali orgasme lagi, Han Junghwa.”

 

Kai mulai menggerakkan pinggulnya kasar. Menggigit gemas puncak putingku.

 

Oh shit! Sepertinya memang besok aku tidak bisa berjalan dengan benar.

 

 

 

 

*****

 

 

 

 

Kai masih tertidur seperti bayi. Wajah polosnya puluhan kali lipat lebih tampan. Aku rela tidak tidur malam ini demi memuaskan diri mengamati wajahnya, berhubung seminggu kedepan akan sulit bagi kami untuk bertemu. Kai baru saja menerima tugas dari ayah untuk sebuah misi di Busan. Aku pasti merindukanmu, Kai.

 

Sangat.

 

Tanganku berhenti mengusap kepala Kai setelah kurasakan siluet bergerak di ujung ruangan. Samar-samar bayangan itu semakin mendekat. Kutarik jubah tidurku dan memakainya asal. Seseorang tersebut, yang kuyakini lelaki, berhenti melangkah di sudut rak tinggi berisi kumpulan buku favoritku. Lelaki itu menarik sebuah buku dan membolak-balik isinya. Kulirik Kai masih tertidur lelap. Langkahku perlahan mendekatinya.

 

“Aku tidak tahu kau memiliki suami, Junghwa-ssi.”

 

Suara itu..

 

Aku berhenti melangkah.

 

“Apa kau tahu aku menunggumu? Kupikir kau akan datang ke apartmentku. Sepertinya aku terlalu banyak berharap.”

 

Oh Sehun?!

 

Sehun dengan enggan membaca deretan puisi pada salah satu buku favoritku.

 

Eulalie. Aku tidak tahu kau menyukai puisi romantis seperti ini.” Sehun tersenyum kecut melihatku yang aku sendiri tidak tahu seperti apa ekspresiku sekarang. Takutkah? Heran? Atau senang?

 

Bagaimana dia bisa masuk? Kenapa? Apa yang dia butuhkan?

 

Bagaimana dia bisa masuk? Apa yang dia inginkan? Apa itu yang terlintas dipikiranmu, sayang?”

 

Sehun mengembalikan puisi Edgar Allan favoritku dan menyender di rak buku.

 

Apa dia bisa membaca pikiranku?

 

“Aku yakin kau tidak akan menanyakan hal bodoh seperti tadi. Kau bahkan lebih mahir membobol rumah orang ketimbang diriku.” Cengiran di bibirnya mulai terlihat.

 

“Apa yang kau mau?” Kuberanikan diri mendekatinya.

 

Aku tidak perlu repot-repot bertanya darimana ia tahu rumahku, atau bagaimana ia bisa masuk tanpa ada satupun alarm keamanan yang berbunyi.

 

“Bukankah aku sudah mengundangmu untuk datang? Kau hanya perlu mengunjungiku. Apa salah jika dua rekan kerja saling bertemu?”

 

Dengan langkah santai, Sehun melangkah anggun. Tanpa kusadari, punggung tangannya sudah mengelus lembut pipi kiriku.

 

“Sialan.”

 

“Apa kau baru saja mengumpatku, Tuan?”

 

Ani~ Aku hanya heran wajahmu terlihat cantik sempurna bahkan dalam keadaan gelap seperti ini sekalipun.” Sehun menangkup kedua pipiku, posesif. “Aku masih tidak mengerti malaikat sepertimu bisa menyakiti seseorang dengan tangan halus ini.” Sehun menggenggam tanganku.

 

“Mungkin yang kau maksud bukan menyakiti tapi membunuh? Dan apa kau sedang merayuku, Oh Sehun?” Kuhempas tangannya kasar.

 

“Wow, aku tidak tahu kau hafal namaku. Kupikir kau lupa karena ini pertama kalinya kau menyebut namaku. Apa aku terlalu tampan untuk dilupakan?” Senyum Sehun mengembang sempurna.

 

“Bisakah kau hati-hati dengan lidahmu? Aku bisa menghabisimu saat ini juga jika kau mau.”

 

“Tidak akan~” Sehun mengelilingi kamarku dengan leluasa. Aku bersyukur Kai masih terlelap.

 

“Kau terlalu yakin, Sehun.”

 

“Aku suka kau memanggil namaku. Akan lebih baik jika kau mendesahkan namaku.” Sehun memberiku wink yang kuanggap itu sebagai rayuan murahan.

 

Dan astaga mengapa ia terlihat semakin tampan?

 

“Dengan apa kau membunuhku, Han Junghwa? Tangan kosong? Aku tidak yakin kau menyimpan senjata dibalik bajumu. Atau sebenarnya memang ada? Mau aku bantu melepas bajumu?” Smirk menyebalkan itu kembali ia tunjukkan.

 

Sialan!

 

Sehun mengamati Kai yang entah mengapa tidak terusik dengan pembicaraan ini. Setahuku ia paling sensitif dengan suara.

 

“Aku masih menunggumu, Junghwa-ssi. Datang padaku. Setelah itu kau sendiri yang akan memutuskan akan tetap mencintai pria itu atau tidak.” Sehun mengedikkan kepalanya ke arah Kai sekilas, seakan jijik hanya dengan menatap wajahnya.

 

“Bagaimana jika aku menolak?” Aku mendengar suaraku mengalun seperti sebuah bisikan. Takut Kai akan mendengarnya.

 

“Terserah. Tapi dapat kupastikan, it will be your ending story.

 

Sehun mengecup bibirku sekilas. Menghisap bibir bawahku sebentar sebelum berpamitan padaku.

 

“Selamat malam, Han Junghwa.”

 

Dan ketika aku tersadar, siluetnya telah menghilang dibalik tirai jendela.

 

Kutatap Kai dengan dengkuran halusnya.

 

 

“Apgujeong 127-B. Hanya dua blok dari rumahmu di Sinsadong. Datang jika kau penasaran.”

 

Kai… beritahu aku. Apa yang kulakukan ini benar?

 

 

 

 

TBC

 

 

 

64 thoughts on “Code Number Part 2

  1. Dimana ada Kai di situ ada Sehunnnn . Duh sepertinya duo ini gak terpisahkan ya meskipun di dunia nyata Sehun lebih suka hangout bareng Chanyeol dan Kai sama Sehun kalo becanda sambil ‘tabok-tabokan’ eh tapi Kai mah hangoutnya sma Soojung ya *baper|gak nyambung
    Duh mereka hot bgt lah (Kai – Junghwa), aishhhh Sehun orang ke3 wk
    Nextttt

    Suka

  2. Jangan!!! Jangan kesana!! Nanti Kai marah atau jangan-jangan ini cuma jebakan ugh NC-nya sama ceritanya ngena banget aku suka, hot ia ceritanya juga ia pokoknya nice deh buat Author

    Suka

  3. Thehun apa maumu??
    Omg~~ Si kai n jill sweet bangett yakk ckckck
    Apa yang di pilih Jill nemuin sehun kah? tp nnti kai murka?? uwooo..penasaran euuyy

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s