You And I Part 8


Title : You And I  Part 8

 

 

Author : Mrs. Moonlight

 

 

Category : Chapter, Kekerasan, NC 17, Romance, Sad

 

 

Cast : Cho Kyuhyun

 

 

Lee Ji Hye

 

 

And all other cast

 

 

Selamat membaca

 

 

***

 

 

Previous Chapter

 

 

‘’Katakan pada eomma …siapa wanita itu? Aku bahkan masih mengingat foto yang telah kau bakar tempo hari, salah satunya memperlihatkan kau sedang menggandeng wanita yang sepertinya sedang hamil.’’

 

 

Kyuhyun mengepalkan tangannya. Emosinya mulai merambat dari dadanya naik ke otaknya. Nafasnya mulai tak beraturan. Ia segera membalikkan dirinya berhadapan dengan ibunya. Sepertinya tak ada gunanya lagi mendebat wanita yang telah melahirkannya itu.

 

 

‘’Benarkah eomma ingin tahu siapa wanita yang ada di dalam foto itu?’’ Kyuhyun berujar pelan sembari melangkah mendekati ibunya. Kilat kesedihan mulai tampak dari kedua matanya.

 

 

Nyonya Cho berdiri terpaku di tempatnya. Ia menunggu jawaban yang keluar dari mulut putranya.

 

 

‘’Wanita itu bernama Lee Ji Hye. Dia… isteriku…’’

 

 

~0O0~

 

 

‘’Wanita itu bernama Lee Ji Hye. Dia… isteriku…’’

 

 

Nyonya Cho langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Dalam hatinya benar-benar shock mendengar jawaban dari putranya. Ia menggeleng lemah, pikirannya mencoba mencerna arti dari perkataan Kyuhyun yang sangat membuat nafasnya tercekat.

 

 

‘’A-apa?? Wanita itu… isterimu? Kau tidak bercanda pada eomma, kan?’’

 

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Saat ini wajahnya benar-benar tegang serta memerah. Bahkan di dalam dadanya tengah berperang batin antara menyembunyikan rahasia pernikahannya atau mengatakan yang sebenarnya meskipun itu sangat menyakitkan.

 

 

‘’Aku… telah menikahinya di sebuah gereja kecil di pinggiran kota Seoul pada musim gugur tahun lalu. Pernikahan itu hanya di hadiri oleh Changmin Hyung, Ji Hye beserta ayahnya dan pendeta yang memimpin pemberkatan pernikahan.’’ Kyuhyun berkata lirih. Matanya masih menatap ibunya yang berdiri mematung dengan ekspresi yang tak terbaca.

 

 

‘’Ke-kenapa kau tidak mengatakan pada eomma, kalau kau akan menikah Kyuhyun-a? Kenapa kau begitu ceroboh?’’

 

 

‘’Aku mencintainya eomma… AKU MENCINTAINYA!! Aku takut appa dan eomma tidak menyutujui wanita pilihanku. Ji Hye… hanya seorang gadis sederhana, eomma. Dia bukan seorang wanita yang berasal dari kalangan atas maupun wanita karir lainnya. Ia bekerja di penginapan Changmin hyung. Kami berkenalan lalu mulai menjalani hubungan sampai ke tahap serius. Alasan aku menikahinya adalah karena appa menyuruhku ke luar negeri, aku takut kehilangannya.’’

 

 

Suasana di ruangan itu mendadadak sunyi. Selewat beberapa saat nyonya Cho tak dapat menyembunyikan isakannya. Ia tampak sangat terguncang, Air matanya mengalir di wajahnya.

 

 

‘’Seharusnya kau memberitahukannya pada appa dan eomma, nak. Tidak perduli bagaimana pendapat kami nanti. Kau tidak boleh… tidak boleh menanggung semuanya sendiri. Kau… masih memiliki orang tua…’’ Nyonya Cho berkata di sela-sela isakannya.

 

 

Kyuhyun masih mengawasi ibunya dengan pandangan terluka. Ia menundukkan wajahnya, menatap lantai di bawah kakinya, memejamkan matanya sejenak.

 

 

‘’Kalau memang benar kau sudah menikah, mengapa tidak mengenalkannya kepada appa dan eomma? Kami juga ingin berkenalan dengan menantu kami. Kyuhyun-a… foto itu… di dalam foto itu  benarkah isterimu sedang hamil?’’

 

 

‘’Ne… ‘’

 

 

‘’Kalau begitu… itu artinya… isterimu sudah melahirkan? Apakah eomma boleh melihat cucu eomma?’’  Nyonya Cho mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, perasaan bahagia mulai menjalari hatinya saat ia membayangkan bagaimana perasaannya nanti bila telah bertemu dengan menantu serta cucunya.

 

 

Kyuhyun mengangkat wajahnya menatap sang ibu.

 

 

‘’Eomma berjanji… akan menjelaskan semuanya kepada appamu agar tidak salah paham.’’ Nyonya Cho masih berkata dengan suara pelan mencoba meyakinkan putranya.

 

 

‘’Aku… tidak bisa mengenalkannya kepada appa dan eomma…’’

 

 

‘’Apa? Kenapa tidak bisa?’’ Nyonya Cho bertanya lagi dengan nada kecewa. Ia tak habis pikir mengapa Kyuhyun berkata seperti itu.

 

 

‘’Karena … aku tidak tahu di mana isteriku berada. Aku telah meninggalkannya demi kesehatan appa. Aku telah menelantarkannya dan tak pernah menghubunginya lagi agar appa tak menaruh curiga padaku. Aku hanya berharap appa lekas sembuh, karena aku sangat menyayangi appa. Tapi… aku juga menyayangi isteriku, eomma. Aku tidak tahu… apakah dia sudah melahirkan? Apakah anak kami sehat? Apa jenis kelaminnya? Aku… benar-benar tidak tahu! Malam itu… aku ikut menyantuni para korban yang terkena musibah kebakaran bersama appa. Dan di sanalah… aku bertemu dengannya. Dia… datang kepadaku… memohon-mohon kepada para polisi agar bisa bertemu denganku, meyakinkan semua orang bahwa aku adalah suaminya… eomma tahu, apa yang aku katakan padanya di depan semua orang?’’

 

 

‘’ AKU TIDAK MENGAKUINYA SEBAGAI ISTERIKU, EOMMA!! ITU SEMUA DEMI APPA… AKU RELA MENGORBANKAN KEBAHAGIAANKU MEMPERTARUHKAN MASA DEPANKU… SEMUA…. DEMI APPA!!  APAKAH SUATU SAAT NANTI… APPA BISA MELAKUKAN APA YANG TELAH AKU LAKUKAN UNTUKNYA? APPAKAH APPA JUGA BISA MENGORBANKAN KEBAHAGIAN APPA UNTUK KEBAHAGIAANKU???’’ Kyuhyun berkata dengan suara lantang seolah-olah ia ingin melepaskan semua beban yang menghimpit dadanya selama ini. Wajahnya memerah, setetes air mata mengalir pelan dari salah satu matanya yang sembap.

 

 

Nyonya Cho kembali terisak. Dadanya bergemuruh… ia tak henti-hentinya menitikkan air matanya. Tangan kanannya yang gemetar menyentuh dadanya. Rasanya sungguh menyesakkan mendengar semua penuturan dari Kyuhyun.

 

 

Suasana di ruangan itu menjadi tegang. Hanya isakan tangis nyonya Cho yang masih terdengar. Sedangkan Kyuhyun masih berdiri sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

 

 

Kedua orang itu masih larut dengan pikiran dan kesedihan masing-masing. Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka barusan telah di ketahui dan di dengar dengan sangat baik oleh Tuan Cho.

 

 

Tuan Cho menghembuskan nafas beratnya sambil menyentuh sebelah tangannya di depan dadanya, sama sekali tak bisa berkata apa-apa. Setelah merenung sejenak, Tuan Cho kemudian berjalan pelan menjauhi kamar putranya.

 

 

***

 

 

Menjelang tengah malam Tuan Cho masih duduk di depan meja kerjanya. Ia hanya termenung, sama sekali tak melakukan apa-apa. Setelah mendengar pembicaraan antara isteri dan putranya, akhirnya kini ia tahu. Siapa wanita muda yang di lihatnya saat ia menyantuni para korban kebakaran beberapa bulan yang lalu.

 

 

Wanita itu ternyata memang isteri putranya, atau lebih tepatnya … menantunya. Ia masih mengingat dengan jelas kejadian malam itu, bagaimana penampilan menantunya serta keinginannya untuk bertemu dengan Kyuhyun namun Kyuhyun tidak mengakuinya sebagai isteri. Tuan Cho sangat bingung pada waktu itu hingga ia lebih memilih kembali ke mobilnya tanpa menanyakan kebenarannya terlebih dahulu.

 

 

Akhirnya… ia mengetahui semuanya. Kyuhyun telah menikah namun merahasiakan pernikahannya.

 

 

Kyuhyun bahkan rela untuk tak mengakui isterinya, hanya karena ia tidak ingin ayahnya kembali sakit.

 

 

Kyuhyun melakukan semua ini demi kesehatannya… bahkan ia rela mempertaruhkan segalanya…

 

 

Tuan Cho kembali membeku. Ia tidak akan menyalahkan keputusan yang telah di ambil Kyuhyun untuk menikahi wanita pilihannya. Ia masih berpikir… untuk apa semua harta melimpah bila tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Untuk apa memiliki semuanya bila di dalam hati sama sekali tidak ada ketenangan. Ia menghela nafasnya.

 

 

Baiklah… tuan Cho berujar pada dirinya sendiri. Ia juga akan mengorbankan semuanya demi putra tercintanya, Cho Kyuhyun. Ia sudah tak perduli lagi dengan jabatan yang saat ini masih di embannya, ia juga tak perduli sekalipun ia harus di jatuhkan lawan politiknya. Tuan Cho hanya ingin menunjukkan kenyataan pada putranya, bahwa ia juga sangat menyayanginya. Apapun akan ia pertaruhkan bahkan nyawanya sekalipun.

 

 

Ia juga ingin melihat putranya hidup bahagia …

 

 

***

 

Sore itu Kyuhyun baru sampai di dalam apartmentnya. Ia membuka pintu apartment dengan pandangan muram sambil menutup pintunya kemudian melangkah pelan. Aroma masakan lezat yang menguar berasal dari ruang dapur membuat perutnya tergelitik untuk mencicipinya. Kyuhyun menghentikan langkahnya saat di lihatnya meja makan telah siap dengan berbagai macam hidangan. Pasti Shin ahjumma yang menyiapkan semuanya, sebelum ia kembali ke kediaman keluarga Cho.

 

 

Kyuhyun berbalik menuju westafel yang terletak di sudut dinding untuk mencuci tangannya kemudian mengeringkannya dengan lap bersih yang tergantung di sebelahnya. Ia menuju meja makan, menggeser kursinya lalu mendudukinya. Tangan kanannya telah siap memegang sumpit serta tangan kirinya memegang mangkuk di hadapannya.

 

 

Hari ini menu hidangannya terdiri dari Sup ayam ginseng, Mie udon serta Kimchi. Arah pandangan matanya langsung tertuju pada semangkuk Kimchi di hadapannya lalu tangan kanannya yang memegang sumpit, mengambil Kimchi itu perlahan, menuangkannya pada mangkuk kosong di depannya.

 

 

Kyuhyun sudah tak sabar lagi ingin mencicipi Kimchi, dengan sekali suapan ia langsung melahapnya.

 

 

‘’Sayang… bagaimana rasa Kimchi-nya? Enak? Aku pikir kau tidak menyukainya karena dari dulu kau tidak pernah menyentuhnya. Cha habiskan….’’

 

 

Uhuukk-uhuukk… Kyuhyun yang sedang makan langsung terkejut saat tiba-tiba ia mendengar sebuah suara. Ia tersedak ketika di rasanya Kimchi yang di makannya tersangkut di tenggorokan. Ia buru-buru meminum segelas air putih kemudian mengedarkan matanya ke seluruh penjuru ruang makan. Namun ruang makan itu tetap sepi, tidak ada siapa-siapa selain dirinya.

 

 

Suara yang di dengarnya barusan…adalah  suara Ji Hye-isterinya. Baru mendengarnya saja langsung membuat otot-otot tubuhnya menegang hingga membeku kaku di tempatnya. Karena ia memang sangat merindukan suara lembut itu. Suara yang sudah lama sekali tak di dengarnya lagi.

 

 

Kyuhyun mendesah kemudian bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Mungkin itu hanya halusinasinya saja akibat ia terlalu merindukan isterinya. Ia bersyukur ternyata pikiran bawah sadarnya masih bisa mengenang suara Ji Hye lebih jelas dari pada mimpinya.

 

 

Baiklah… Kyuhyun berkata dalam hatinya. Ia akan lebih sering memakan Kimchi setiap hari. Ia akan rutin mengkonsumsi makanan kesukaan isterinya itu dengan harapan agar ia bisa mendengar suara Ji Hye lagi. Paling tidak… halusinasinya ini dapat mengobati kerinduannya kepada isterinya.

 

 

Kyuhyun kemudian melanjutkan makannya. Ia menghabiskan satu mangkok Kimchi dengan lahapnya hingga membuatnya kekenyangan. Padahal dulu, ia sama sekali tidak pernah menyukai sayuran.

 

 

***

 

 

Jam dinding di kamar mewah nan luas itu menunjukkan pukul dua belas dini hari. Kyuhyun masih duduk di atas tempat tidurnya dengan laptop di pangkuannya dan sebelah tangannya mengenggam beberapa kertas penting. Matanya masih terfokus pada layar laptop sementara berkali-kali ia menguap. Rasa kantuknya sudah tak bisa di ajak kompromi rupanya.

 

 

Kyuhyun akhirnya menyerah. Ia mematikan laptop, mengumpulkan kertas-kertas yang masih berserakan kemudian meletakkannya di atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya lalu perlahan membaringkan tubuhnya di atas kasur.

 

 

‘’Sayang… tidurlah! Jangan terlalu lembur bekerja. Ingat kesehatanmu!!’’

 

 

Kyuhyun terhenyak. Ia mengangkat sedikit kepalanya menengok ke kiri dan kanannya. Namun di kamar itu tidak ada siapa-siapa selain dirinya.

 

 

Lagi… ia mendengar suara selembut beledu itu mengalun indah, menyapanya.

 

 

Ia tersenyum kemudian melanjutkan tidurnya lagi. Hari ini mungkin terasa sedikit aneh namun ia merasa bahagia. Pada saat ia sangat merindukan Ji Hye pasti ia mendengar suara isterinya itu dalam halusinasinya. Rasanya ia akan sering-sering merindukan Ji Hye atau menyibukkan dirinya sendiri di dalam kesepian hatinya agar ia dapat mendengar suara itu kembali.

 

 

Kyuhyun mulai memejamkan matanya rapat-rapat sembari memeluk bantal guling. Ia mencoba untuk terlelap dalam alam bawah sadarnya sekarang juga.

 

 

‘’Tidurlah sayang… mimpi yang indah…’’

 

 

Kyuhyun tahu… ia berhalusinasi lagi. Ia semakin mengeratkan pelukkannya pada bantal guling.

 

 

‘’Ne… selamat tidur juga, sayang… aku mencintaimu.’’

 

 

Akhirnya… ia pun terlelap dalam tidurnya.

 

 

***

 

 

Tuan Lee sedang berdiri di depan pintu flat-nya, ketika matahari menampakkan sinar kemerahannya di ufuk timur. Tangan kanannya yang memegang kunci memasukkannya ke lubang kunci serta memutar kenop-nya dan pintu terbuka, ia melangkah masuk ke dalam serta menutup pelan pintunya.

 

 

Tuan Lee melepas alas kakinya. Raut keletihan tergurat jelas dari wajah tuanya karena ia baru saja pulang dari bekerja sebagai penjaga malam. Ketika ia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja ia sangat terkejut saat melihat cucunya-Jae Hyun sedang merangkak dari kamar tidurnya keluar menuju ruang tamu di mana Tuan Lee berdiri sekarang. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Mungkin Jae Hyun mengompol namun pakaiannya belum di ganti oleh ibunya.

 

 

Tuan Lee tersenyum sembari menjongkokkan tubuhnya. Ia membentangkan kedua tangannya untuk memeluk cucunya itu.

 

 

‘’Jae Hyun-a… kemarilah… ini kakek…’’

 

 

Tetapi Jae Hyun masih terus merangkak pelan membelokkan tubuhnya memasuki kolong meja kemudian kepalanya membentur dinding di hadapannya.

 

 

‘’Huuaaaaaaaa… huuaaaaaaaaa… maa….maa….’’ Jae Hyun menangis dengan suara kencang menggapai-gapaikan kedua tangan mungilnya minta di gendong.

 

 

Tuan Lee langsung mengulurkan kedua lengannya mengeluarkan cucunya dari kolong meja. Ia menggendong sembari mengayun-ayunkan cucunya yang masih menangis.

 

 

‘’Jangan menangis, Jae Hyun-a. Ini kakek. Ayo ganti baju dulu, ne. Eommamu di mana? Kenapa bayinya  bangun, ia tidak tahu.’’ Tuan Lee berjalan menuju kamar putrinya namun sepertinya Ji Hye tidak ada di kamarnya.

 

 

‘’Hye-ya! Hye-ya!’’ Tuan Lee menggendong Jae Hyun berjalan menuju dapur sambil memanggil-manggil putrinya, Ji Hye.

 

 

Ji Hye sepertinya sedang sibuk menyiapkan bahan makanan yang akan di masaknya di dapur kecil itu. Ia menengok ke arah ayahnya yang tengah menggendong bayinya.

 

 

‘’Hye-ya… Jae Hyun mengompol. Tolong gantikan dulu pakaiannya! nanti dia masuk angin.’’ Tuan Lee menyerahkan Jae Hyun ke dalam gendongan ibunya.

 

 

‘’Mian appa. Aku tidak tahu kalau Jae Hyun sudah bangun. Appa duduk dulu, aku akan membuatkan teh.’’ Sambil menggendong bayinya Ji Hye menyiapkan cangkir kosong kemudian mengisinya dengan satu buah teh celup dan dua sendok gula, menyeduhnya dengan air panas dari termos lalu mengaduk tehnya.

 

 

‘’Minumlah appa. Aku akan menggantikan pakaian Jae Hyun.’’ Ji Hye meletakkan cangkir teh yang masih mengepul asapnya di atas meja-di hadapan Tuan Lee.

 

 

‘’ Terimakasih, nak. Jae Hyun jangan di mandikan dulu, Hye-ya. Ini masih pagi. Kasihan nanti dia kedinginan.’’ Tuan Lee menasehati putrinya yang sedang berjalan memasuki kamarnya.

 

 

‘’Ne… appa.’’ Ji Hye menjawab perkataan ayahnya.

 

 

***

 

 

Siang ini udara kota Seoul lumayan cerah, orang-orang melakukan aktifitas rutin mereka seperti biasa.   Lee Ji Hye yang tengah bersiap-siap akan pergi, berniat mengajak putranya. Kebetulan hari ini Tuan Lee menerima gaji, ia memberikan sebagian uangnya kepada Ji Hye untuk membeli keperluan Jae Hyun.

 

 

Ji Hye menggendong putranya berjalan kaki dari flat-nya menuju halte. Mereka menaiki tranportasi bus menuju kawasan pertokoan. Sesampainya di tempat yang di tuju, Ji Hye langsung memasuki satu persatu toko pakaian. Ia akan membelikan beberapa baju untuk putranya karena sekarang Jae Hyun sudah berumur tujuh bulan lebih, ukuran tubuhnya semakin berkembang, pakaian yang lama sudah tak muat lagi untuknya.

 

 

Ji Hye sibuk memilih pakaian anak-anak dengan gambar yang lucu dan unik. Berkali-kali ia mencoba mencocokkan baju dengan tubuh Jae Hyun, namun ia hanya memilih baju yang harganya cocok dengan uang di kantongnya. Ia ingin sekali membelikan Jae Hyun jaket baru untuk persiapan musim dingin nanti tapi sepertinya ia harus menahan niatnya.

 

 

Setelah membeli keperluan putranya, Ji Hye berjalan lagi di trotoar jalan raya. Ia melirik bayinya yang masih memandang para pejalan kaki dengan mata bulatnya yang indah sambil sesekali menggelembungkan liurnya yang terlihat seperti balon. Ji Hye menghela nafas seraya tersenyum senang. Tingkah putranya memang semakin menggemaskan. Banyak para pejalan kaki yang berpapasan dengannya menyapa Jae Hyun atau tersenyum ke arah putranya. Ternyata Jae Hyun sangat ramah kepada semua orang. Ia akan langsung tertawa ketika ada orang yang menegurnya.

 

 

***

 

 

Ji Hye yang masih menggendong bayinya serta menenteng beberapa kantong belanjaan, memasuki sebuah kedai kopi sederhana. Ia mengedarkan pandangan di seluruh ruangan itu kemudian mendudukkan dirinya di sebuah meja kosong di sudut ruangan yang dindingnya di lapisi kaca. Ia melepaskan gendongannya dan mendudukkan Jae Hyun di pangkuannya.

 

 

‘’Annyeonghaseo… anda akan memesan apa nyonya?’’ Seorang pelayan tengah membungkukkan kepalanya sambil menyapa ramah di hadapan Ji Hye.

 

 

Ji Hyepun membungkukkan kepalanya, ‘’Ne… saya pesan satu Moccalatte dan pudding coklat.’’

 

 

Si pelayan tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya berlalu dari hadapannya.

 

 

Ji Hye masih mengajak Jae Hyun mengobrol sambil menunjuk orang-orang yang berlalu lalang yang di lihatnya dari kaca di sampingnya.’’Lihat orang-orang itu, nak…’’

 

 

‘’Mam… mam… mam… mamm… mamm…’’ Jae Hyun menunjukkan tangan mungilnya kearah orang-orang di luar sana sambil bergumam dengan bahasanya sendiri.

 

 

‘’Oh… Jae Hyun senang melihat keramaian, benarkan? Nanti eomma akan mengajak Jae Hyun jalan-jalan lagi, ne.’’

 

 

Tak selang berapa lama pesanannya-pun datang. Sebelum Ji Hye menyantap makanannya, ia mengeluarkan botol susu yang berisi susu formula dari tas tangannya kemudian mengocoknya sebentar sebelum di berikan pada putranya. Ji Hye menjejalkan dot botol pada mulut mungil putranya yang langsung menyedot susu formula sambil bergumam. ‘’Mmmmmmmm… mmmmmmm..’’

 

 

Ji Hye tersenyum sambil memegang botol susu. Sepertinya Jae Hyun haus. Hanya hitungan menit botol susunya sudah kosong.

 

 

‘’Putra eomma pintar! Nanti di rumah, Jae Hyun makan bubur arraseo!’’

 

 

‘’Muuuuu… muuuuu… muuuuuu…’’ Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut mungil putranya.

 

 

Ji Hye langsung menyantap makanannya sampai habis dan menyesap gelas yang berisi Moccalatte. Ia mengusap mulutnya dengan tissue yang tersedia di hadapannya. Namun tanpa di sadarinya seorang pria yang duduk tak jauh dari tempatnya tengah berjalan menghampirinya.

 

 

‘’Ji Hye-ssi!’’

 

 

Ji Hye mengangkat wajahnya kearah pria yang berdiri di hadapannya saat ini. Ia terkejut saat mengetahui siapa orangnya.

 

 

‘’Soo Hyun-ssi… ‘’

 

 

‘’Annyeong… apa aku mengganggumu?’’ Kim Soo Hyun bertanya ragu-ragu menatap Ji Hye.

 

 

‘’Si-silahkan duduk!’’ Ji Hye telihat gugup membalas tatapan pria tampan di hadapannya ini.

 

 

‘’Ne… terimakasih.’’ Kim Soo Hyun mengambil tempat duduk di sebelah Ji Hye dengan masih memandangi Ji Hye dan bayi yang berada dalam pangkuannya.

 

 

‘’Aku tadi melihatmu masuk, Ji Hye-ssi… Tapi karena aku masih mengobrol dengan seorang teman, kuputuskan untuk menunggu temanku pergi baru aku menghampirimu. Uhm… bayi ini sangat lucu…’’

 

 

‘’Ne…’’ Ji Hye menjawab pelan.

 

 

‘’Apa ini keponakanmu? wajahnya sangat menggemaskan…’’ Soo Hyun tersenyum menatap wajah Jae Hyun yang masih sibuk memainkan jari-jari mungilnya.

 

 

‘’Bayi ini bukan keponakanku, tapi… anakku…’’

 

 

Soo Hyun tersentak mendengar jawaban Ji Hye. Dalam hatinya seperti di hantam sesuatu yang membuatnya merasa sakit sekaligus kecewa. Ia hanya tersenyum getir sama sekali tak menyangka bahwa wanita yang selama ini di incarnya kini telah berkeluarga.

 

 

***

 

 

Ji Hye masih duduk memangku Jae Hyun sedangkan Kim Soo Hyun duduk di sampingnya. Mereka berdua mengobrol panjang mengenai kehidupan masing-masing. Sesekali Ji Hye mencium puncak kepala bayinya di sela-sela obrolannya.

 

 

Kim Soo Hyun menatap sendu wanita yang duduk di sampingnya ini. Berkali-kali ia melirik wajah bayi mungil itu yang terlihat senang dalam dekapan sang ibu. Benar-benar bayi yang menggemaskan. Pasti ayahnya adalah pria yang sangat beruntung bisa menikahi wanita yang di pujanya itu. Dan kenyataan ini membuat Soo Hyun menelah ludahnya dengan susah payah berkali-kali. Hatinya tak sanggup membayangkan betapa bahagianya rumah tangga mereka.

 

 

Soo Hyun masih memandang wajah Ji Hye yang menceritakan tentang kehidupannya. Ia setengah tak fokus dengan perkataan Ji Hye karena ia sendiri sibuk mendamaikan hatinya yang saat ini tengah resah karena patah hati. Ia memaksakan senyum lemahnya ketika Ji Hye melirik ke arahnya.

 

 

‘’Seperti itulah kehidupanku Soo Hyun-ssi. Setelah rumah kami terbakar habis, aku bersama appa menyewa sebuah flat kecil.’’ Ji Hye berujar lirih.

 

 

Mereka berdua terdiam lagi.

 

 

‘’Maaf sebelumnya Ji Hye-ssi, apakah suamimu sampai saat ini belum kembali?’’ Soo Hyun bertanya dengan nada sumbang.

 

 

Ji Hye melirik ke arah pria di hadapannya ini. Ia hanya tersenyum tips sambil menggeleng lemah.’’Dia belum kembali. Bagiku… ia tidak akan pernah kembali selamanya.’’

 

 

‘’A-apakah itu artinya… dia sudah meninggal dunia?’’

 

 

Ji Hye terdiam menundukkan kepalanya. Soo Hyun menyesali kata-kata yang di ucapkannya barusan setelah ia melihat perubahan pada raut wajah wanita di sampingnya ini.

 

 

‘’Maaf… aku tidak bermaksud bertanya seperti itu…’’

 

 

‘’Gwenchana. Sepertinya aku harus pulang. Putraku sudah mengantuk.’’ Ji Hye berdiri dari tempat duduknya sembari menggendong Jae Hyun yang sudah tertidur.

 

 

‘’Tunggu sebentar…’’ Kim Soo Hyun juga ikut berdiri mengulurkan tangannya menyentuh tangan Ji Hye yang bebas.

 

 

Ji Hye terkesiap menatap Soo Hyun.

 

 

‘’Bisakah… aku mengantarmu pulang ke tempatmu?’’ Soo Hyun bertanya penuh pengharapan yang tergambar jelas dari wajahnya.

 

 

‘’Maafkan aku, Soo Hyun-ssi. Tapi sepertinya aku pulang naik bus saja.’’ Ji Hye menolak secara halus.

 

 

Soo Hyun terlihat kecewa, ia masih mencari akal agar bisa bertemu dengan Ji Hye kembali.

 

 

‘’Bagaimana kalau besok malam kita bertemu lagi di sini. Pukul tujuh?’’

 

 

Ji Hye terlihat sedang berfikir namun pada akhirnya ia menyunggingkan senyumnya kepada Soo Hyun yang menatapnya lekat-lekat dengan penuh arti.

 

 

‘’Akan ku usahakan… ‘’ Ji Hye akhirnya bersuara.

 

 

‘’Ne. Terimakasih.’’

 

 

***

 

 

Di kamar flat-nya yang sempit, Ji Hye masih berdiri sambil mengayun-ayunkan putranya dalam gendongannya malam itu. Meskipun sudah lewat tengah malam sepertinya Jae Hyun masih belum tertidur pulas. Bila ibunya membaringkannya di atas kasur maka ia akan langsung terbangun.

 

 

Ji Hye melirik putranya lagi yang kini telah memejamkan matanya dengan mulut mungilnya yang terbuka. Pipi tembamnya terlihat sangat menggemaskan yang membuatnya berkali-kali menciumi buah hatinya itu.

 

 

Bagian favorit Ji Hye ketika menciumi putranya adalah bagian leher belakang. Jika ia mendekatkan bibirnya maka Jae Hyun akan tertawa karena geli. Ia tak henti-hentinya berteriak kegirangan bercanda bersama ibunya.

 

 

Ji Hye mendudukkan tubuhnya di sisi tempat tidur. Dengan perlahan ia menciumi kening mungil putranya yang masih sangat halus. Ia merasa kedua matanya mulai mengabur, air matanya mengalir pelan pada kedua pipinya.

 

 

Ia menerawang langit-langit kamarnya dengan tatapan memilukan.

 

 

Dalam hatinya menyimpan kepedihan yang mendalam.

 

 

Sekarang putranya Jae Hyun sudah berumur tujuh bulan lebih. Ia sudah pandai mengucapkan beberapa patah kata seperti pa… ma… mu… ia juga  sudah pintar merangkak sendiri walau terkadang sering terjatuh atau membentur benda di hadapannya. Tinggi serta berat badannya-pun bertambah dan ia-pun sudah mulai memakan bubur serta buah-buahan yang di haluskan.

 

 

Tak terasa… begitu cepat waktu berlalu. Padahal kemarin ia baru saja melahirkan bayinya itu. Tiba-tiba saja dalam benaknya muncul berbagai macam pertanyaan.

 

 

Apakah ayah dari anaknya tahu dan perduli bagaimana perkembangan putranya kini?

 

 

Apakah ayah dari putranya masih memiliki perasaan… masih memiliki hati… masih ingin bertemu dengan putra mungilnya?

 

 

Jawabannya sudah pasti…. tidak mungkin.

 

 

Ji Hye menghapus air matanya dengan punggung tangan kanannya. Setiap saat yang menjadi beban pikirannya hanya satu. Bagaimana masa depan putranya nanti tanpa kasih sayang seorang ayah? Entahlah… ia tidak sanggup membayangkannya.

 

 

Ia menatap langit gelap di luar sana dengan tatapan kosong. Setiap malam ia tak bisa tidur. Begitu banyaknya masalah yang di hadapinya. Begitu banyaknya beban yang di pikulnya. Rasanya ia ingin menyerah saja pada takdir hidupnya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya…  berapa lama lagi semua cobaan ini akan berlangsung?

 

 

***

 

 

Di bawah langit yang sama namun berbeda tempat, nampak Cho Kyuhyun masih betah duduk di atas kursi malas sambil memandangi bulan dari jendela apartmentnya yang terbuka. Hembusan udara malam yang semilir menerpa wajahnya. Setiap malam ia juga tak bisa tidur. Ia selalu kesepian.

 

 

Semakin hari tubuhnya semakin kurus, wajahnya terlihat semakin tirus dengan mata bulatnya yang kemerahan serta lingkaran hitam pada kantung matanya akibat jarang beristirahat. Selera makannya-pun semakin menurun. Ia lebih memfokuskan pekerjaan dari pada menjaga kesehatannya.

 

 

Kyuhyun mendesah pelan sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bayangan isterinya yang sedang tersenyum masih terekam jelas pada ingatannya saat ini. Tak mudah memang melupakan seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupmu.

 

 

Seandainya… Lee Ji Hye bukan satu-satunya wanita yang ada di dalam hati dan benaknya saat ini … mungkin ia sudah berpaling pada wanita lain. Sejauh ini bagi Kyuhyun, Ji Hye masih isterinya. Ia pasti akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari keberadaan isteri tercintanya itu.

 

 

Bila mengingat Ji Hye… entah mengapa gelombang kepedihan itu semakin menguasainya kini. Menerjang dirinya yang kesepian, menyeretnya ke dalam arus ombak kerinduan dan kesakitan serta  membuatnya semakin tenggelam ke palung penderitaan yang paling dalam.

 

 

Mungkin suatu hari nanti… kepedihan ini akan mereda berganti dengan terbitnya kebahagiaan. Ya… tentu saja ia masih berharap dapat berkumpul kembali dengan isteri beserta anaknya. Anaknya… ?

 

 

Lalu bagaimana keadaan anaknya sekarang?

 

 

Seperti apa rupanya?

 

 

Apakah anaknya berjenis kelamin laki-laki atau perempuan?

 

 

Sekarang mereka ada di mana?

 

 

Begitu banyaknya pertanyaan yang berkeliaran dalam benaknya saat ini. Ia akan menunggu jawabannya. Tak lama lagi ia pasti bisa menemukan keluarga kecilnya.

 

 

***

 

 

Cho Kyuhyun masih berada di dalam ruangan kantornya yang luas sore itu. Ia masih duduk di depan meja kerjanya dengan memeriksa beberapa berkas-berkas penting yang menumpuk di atas meja di hadapannya. Sesekali matanya tertuju pada layar laptop serta jemarinya mengetik Keyboard-nya. Kyuhyun benar-benar menyibukkan dirinya sekarang seakan tak ada lagi hari esok untuknya bersantai.

 

 

Sesaat kemudian terdengar bunyi beberapa ketukan dari pintu kantornya hingga membuatnya mendongakkan kepalanya. ‘’Masuk!!’’ Kyuhyun berkata dengan suara tegas, matanya masih menatap pintu yang perlahan mengayun terbuka.

 

 

Seorang laki-laki bertubuh tegap berpakaian setelan jas hitam melangkah menyeberangi ruangan itu lalu berhenti di hadapan Kyuhyun sambil membungkuk hormat.

 

 

‘’Annyeonghaseo sajangnim. Saya datang membawa berita perkembangan tentang pencarian nona Lee Ji Hye.’’

 

 

‘’Ne… berita apa yang akan kau laporkan padaku?’’ Kyuhyun bertanya dengan suaranya yang bergetar. Dalam hatinya sangat berharap kali ini ia bisa menemukan titik cerahnya.

 

 

‘’Beberapa bulan terakhir ini anak buah saya telah mencari tahu tempat kerja Tuan Lee Tae Sung dan kami sudah menemukannya sajangnim…’’

 

 

Kyuhyun hampir terlonjak kaget dari tempat duduknya sangking gembiranya. Akhirnya ia   menemukan dimana ayah mertuanya bekerja.

 

 

‘’Benarkah? Apakah anak buahmu sudah bertemu dengan Tuan Lee?’’

 

 

Sang pria berjalan lebih dekat sampai ke meja kerja Kyuhyun. Tangan kanannya membuka Kantong di balik jasnya seraya mengeluarkan secarik kertas. Ia menyodorkan kertas itu di atas meja di hadapan Kyuhyun.

 

 

‘’Ini alamatnya, Tuan. Yang kami ketahui adalah Tuan Lee bekerja sebagai penjaga malam di bank swasta tersebut.’’

 

 

Tangan kanan Kyuhyun meraih secarik kertas itu lalu membacanya. Secercah harapan untuk bisa bertemu dengan Ji Hye lagi membuatnya lupa pada pekerjaannya saat ini. Ia berusaha bernafas senormal mungkin meskipun di dalan hatinya tengah meletup-letup penuh kebahagiaan.

 

 

‘’Terimakasih atas informasinya. Sekarang juga aku akan mencari alamat ini.’’ Kyuhyun berkata dengan sorot mata yang membara.

 

 

Si pria di hadapannya kembali membungkuk hormat membalikkan tubuhnya berjalan keluar dari ruangan itu.

 

 

Kyuhyun dengan gerak cepat mematikan laptopnya, menyambar kunci mobilnya. Ia ingin bergegas menemukan ayah mertuanya secepat yang ia bisa.

 

 

***

 

 

Langit kota Seoul mulai berwarna kuning keemasan dengan gurat kehitaman. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Kyuhyun berjalan pelan memasuki sebuah bank swasta yang terletak di pusat kota Seoul. Ia mengedarkan matanya menelisik setiap penjuru mencari-cari keberadaan ayah mertuanya. Pintu utama kantor bank itu telah di tutup hanya ada beberapa mobil saja yang terparkir di halamannya.

 

 

Kyuhyun melihat ada seorang security yang masih duduk di pos penjagaan, ia berjalan menghampirinya.

 

 

‘’Annyeonghaseo… maaf mengganggu… ‘’ Kyuhyun berkata dengan sopan ketika di lihatnya sang security terheran-heran menatapnya.

 

 

Kyuhyun membungkuk hormat. ‘’Saya Cho Kyuhyun. Saya ingin bertanya tentang keberadaan Tuan Lee Tae Sung.’’

 

 

Pria itu-pun membungkuk hormat pada Kyuhyun sambil mengernyitkan keningnya. ‘’Maaf ada keperluan apa anda mencari Tuan Lee?’’

 

 

‘’ Saya masih memiliki hubungan keluarga dengan beliau dan sudah lama tidak bertemu. Apakah tuan Lee bekerja di sini?’’

 

 

‘’Benar, Tuan Lee memang bekerja di sini. Biasanya Tuan Lee masuk bekerja sekitar jam delapan atau sembilan malam.’’

 

 

‘’Uhm… apakah saya boleh meminta alamatnya, tuan?’’ Kyuhyun bertanya dengan nada pelan serta hati-hati.

 

 

‘’Ne… tunggu sebentar, tuan. Saya akan mencatatkan alamatnya.’’ Si pria-pun melangkah memasuki pos penjagaan lagi sambil menulis sesuatu di atas kertas kemudian ia berbalik menuju Kyuhyun dan menyerahkan alamat Tuan Lee yang di tulisnya.

 

 

Kyuhyun membaca alamat yang tertera pada kertas tersembut sambil menyunggingkan senyumnya. ‘’Terimakasih banyak, tuan.’’

 

 

***

 

 

Malam ini Lee Ji Hye masih duduk di pinggir tempat tidurnya sambil menyelimuti tubuh Jae Hyun yang sedang tertidur. Nafasnya naik turun secara teratur. Ji Hye menundukkan wajahnya mengecup pipi tembam bayinya.

 

 

‘’Jae Hyun-a… eomma pergi dulu. Jae Hyun tidur yang nyenyak, ne…’’ Ji Hye bergumam pelan sembari bangkit berdiri berjalan keluar dari kamarnya.

 

 

Tuan Lee terlihat sedang duduk di ruang tengah sambil melipat beberapa pakaian bersih. Ji Hye tersenyum melihat ayahnya yang sangat rajin membantunya mengurus pekerjaan rumah. Bahkan ayahnya itu tak segan-segan mencuci piring atau mencuci baju bila ia melihat Ji Hye tengah kewalahan mengurus Jae Hyun yang sedang rewel atau demam. Terbiasa hidup sendiri setelah di tinggalkan isteri tercintanya membuat tuan Lee terbiasa mengurus rumah. Bagi Ji Hye ayahnya adalah ayah terbaik di dunia. Dan ia sangat bersyukur memiliki ayah seperti tuan Lee Tae Sung.

 

 

Tuan Lee mendongak menatap putrinya yang mematung di hadapannya sembari tersenyum.

 

 

‘’Appa… Aku akan keluar sebentar. Aku titip Jae Hyun.’’

 

 

‘’Mwo… kau akan kemana Hye-ya?’’

 

 

‘’Aku akan pergi ke kedai kopi di daerah gangnam. Hanya ingin bertemu teman. Aku janji akan cepat pulang …’’

 

 

Tuan Lee menganggukkan kepalanya.’’Baiklah… tapi jangan lama-lama. Jae Hyun pasti akan mencarimu, nak.’’

 

 

‘’Ne… appa aku pergi dulu.’’ Ji Hye membungkuk hormat kemudian menghilang di balik pintu. Tuan Lee berdiri dari duduknya menutup pintu yang tadi di lewati putrinya lalu berjalan menuju kamar cucunya.

 

 

Jae Hyun masih tertidur nyenyak meskipun selimutnya melorot sampai batas kaki. Tuan Lee mendekati cucunya mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur. Ia mengulurkan tangan kanannya membelai lembut kepala cucunya.

 

 

Seharian ini Jae Hyun bermain-main dengan kakeknya. Ia memasukkan semua benda ke dalam mulutnya kemudian mengigit-gigit pelan. Mungkin giginya akan tumbuh lagi. Jae Hyun baru akan diam setelah ibunya memandikannya dan mengganti pakaiannya. Baru setelah itu ia meminum susu formulanya sampai habis dan kekenyangan hingga membuatnya cepat tertidur.

 

 

Tuan Lee masih menepukkan telapak tangannya pada punggung cucunya saat di dengarnya suara ketukan pintu yang terdengar cukup keras.

 

 

Tuan Lee bangkit berdiri lalu berjalan pelan menuju ruang depan. Dalam hatinya merasa heran mengapa Ji Hye mengetuk pintu sekeras itu atau mungkin ia kembali lebih cepat. Padahal tadi ia bilang akan pergi ke daerah Gangnam yang letaknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya sekarang.

 

 

Suara ketukan pintu itu kembali terdengar, sepertinya orang di luar sana sudah tak sabar lagi menunggu di bukakan pintu.

 

 

‘’Ne… sebentar… ‘’ Tuan Lee memutar handle pintunya. Ketika pintu di hadapannya terbuka Tuan Lee langsung terperanjat tak percaya melihat seseorang yang sedang berdiri di hadapannya.

 

 

Orang itu membungkuk hormat seraya tersenyum kepada Tuan Lee. ‘’Apa kabar aboenim?’’ Kyuhyun memandang wajah ayah mertuanya yang tercengang melihat kedatangannya.

 

 

‘’Kyu-Kyuhyun? Cho Kyuhyun?’’ Tuan Lee tergagap.

 

 

‘’Ne… aboenim. Saya Cho Kyuhyun-menantu anda.’’

 

 

***

 

 

‘’Jadi bagaimana keadaan Ji Hye, aboenim?’’ Kyuhyun yang duduk bersimpuh di lantai ruang tamu kecil ini bersama Tuan Lee sudah tak dapat membendung kerinduannya pada isteri tercintanya.

 

 

‘’Hmm… kebetulan Ji Hye sedang keluar. Dia bilang akan menemui temannya di kedai kopi di daerah Gangnam.’’

 

 

Kyuhyun menghela nafasnya lagi. Ia menundukkan wajahnya yang memerah.’’Maafkan saya, aboenim. Selama sepuluh bulan terakhir ini saya tidak bisa memberikan kabar apa-apa.’’

 

 

‘’Tidak apa-apa, nak. Kami memaklumi keadaanmu. Yang penting sekarang kau telah kembali. Karena musibah beberapa bulan yang lalu rumah yang lama sudah terbakar habis dan kami harus mencari flat kecil ini untuk tempat tinggal.’’

 

 

Mendengar penjelasan ayah mertuanya yang sama sekali tidak menampakkan reaksi kemarahan  semakin membuat Kyuhyun menyesali sikapnya sewaktu ia bertemu Ji Hye, malam itu. Mungkinkah Ji Hye tidak pernah menceritakan pertemuan mereka di lokasi kebakaran pada ayahnya?

 

 

Kyuhyun menggeser posisi duduknya di hadapan Tuan Lee. Dengan raut wajah yang seakan-akan memendam begitu banyak penyesalan. Ia mengulurkan kedua tangannya menyentuhnya tangan ayah mertuanya kemudian menciuminya.

 

 

‘’Maafkan saya, aboenim. Saya tidak ada di sini saat musibah itu datang. Saya sangat menyesal….’’Kyuhyun tak dapat membendung kesedihannya ia menatap wajah ayah mertuanya itu dengan mata berkaca-kaca.

 

 

Tuan Lee hanya menepukkan sebelah tangannya yang bebas pada punggung menantunya, ia tak tahu harus berkata apa?  Ia juga  sangat terharu melihat kedatangan Kyuhyun yang masih berusaha mencari keberadaan putrinya.

 

 

‘’Sudahlah nak. Itu semua sudah berlalu. Kau tidak boleh terlalu merasa bersalah. Sekarang ini apakah kau tidak ingin melihat anakmu?’’

 

 

Perkataan Tuan Lee mampu membuat Kyuhyun terhenyak beberapa saat.

 

 

‘’Ji Hye sudah melahirkan seorang putra, Kyuhyun-a. Sekarang putramu sedang tidur di kamar… ‘’

 

 

Dengan susah payah Kyuhyun meneguk salivanya sendiri. Dalam hatinya berdesir hebat serta jantungnya berdebar kencang. Gelombang kebahagiaan mulai merambat hangat di tubuhnya.

 

 

‘’Bolehkah… bolehkah saya menemuinya, aboenim?’’ Kyuhyun mengucapkan kalimat itu dengan bibirnya yang bergetar. Seakan ia sudah tak sabar lagi ingin melihat anaknya untuk yang pertamakalinya.

 

 

Tuan Lee bangkit berdiri dari duduknya diikuti oleh Kyuhyun. ‘’Mari … kita lihat di kamar.’’

 

 

Tuan Lee berjalan memasuki sebuah kamar kecil yang tak terlalu terang. Kyuhyun dengan gugupnya memasuki kamar itu. Ia mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut kamar yang di dalamnya hanya terdapat sebuah ranjang yang tak terlalu besar, sebuah lemari kecil dan beberapa pakaian yang terlipat rapi di keranjang di sudut kamar.

 

 

Pandangannya terpaku saat melihat seorang bayi yang memakai pakaian tidurnya tengah menelungkupkan tubuhnya di atas kasur tipis. Kyuhyun memberanikan dirinya melangkah pelan mendekati tempat tidur itu. Semakin dirinya mendekat semakin kencang debaran jantungnya.

 

 

‘’’Itu putramu. Kyuhyun-a. Namanya Jae Hyun… ‘’ Tuan lee masih berdiri di samping Kyuhyun yang duduk di tepi tempat tidur.

 

 

Dalam sekejap suasana di kamar kecil itu mendadak tegang…

 

 

Kyuhyun masih duduk memandangi putranya yang tertidur nyenyak. Hatinya berdebar kencang. Ia tampak tak yakin pada dirinya sendiri untuk membangunkan putranya. Namun perasaan bahagia membuncah begitu saja menjalari seluruh tubuhnya. Memberi rasa hangat dan damai…

 

 

Ia memberanikan dirinya mengulur kedua lengannya yang gemetar memeluk tubuh mungil putranya,  kemudian mengangkatnya dan memeluknya erat di dadanya. Kyuhyun tak kuasa membendung perasaannya saat ini. Air matanya menetes pelan.

 

 

Berkali-kali ia mengecup wajah putranya dengan lembut hingga membuat Jae Hyun menggeliat pelan menggerak-gerakkan kaki serta tangan mungilnya lalu membuka kedua mata hitamnya yang indah.

 

 

Anehnya… Jae Hyun sama sekali tak menangis berada dalam gendongan sang ayah. Biasanya ia akan selalu menangis bila tidurnya di ganggu. Namun sepertinya saat ini pengecualian bagi Kyuhyun, ayah kandungnya. Kyuhyun terus menyunggingkan senyumnya sambil memandangi putranya yang juga membalas tatapannya dengan sesekali menguap.

 

 

‘’Sayang… ini appa. Appa sudah pulang… ‘’ Kyuhyun bergumam lembut menatap sendu Jae Hyun yang mencoba memasukkan ibu jarinya ke dalam mulutnya.

 

 

‘’Mam… mam… mam… mam…’’ Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir mungil Jae Hyun hingga membuat Kyuhyun tertawa bahagia sembari berkali-kali mengecup wajah putranya.

 

 

Tuan Lee yang berdiri di samping Kyuhyun mulai mengambil posisi duduk di sisi tempat tidur itu. Ia  mengangkat tangan kanannya membelai kepala cucunya dengan penuh kasih sayang. ‘’Rupanya Jae Hyun tahu kalau saat ini … appanya yang menggendongnya. Ia pasti sangat merindukan appanya.’’

 

 

***

 

 

Sesaat berada dalam pelukan ayahnya… Jae Hyun tiba-tiba langsung menangis kencang yang membuat Kyuhyun langsung berdiri panik mengayun-ayunkan tubuh mungil Jae Hyun yang terus meronta.

 

 

Tuan Lee memberitahu Kyuhyun kemungkinan Jae Hyun haus minta di buatkan susu. Karena Ji Hye belum kembali dan sepertinya Kyuhyun juga tengah sibuk menenangkan putranya. Alhasil Tuan Lee langsung menuju dapur membuatkan susu untuk cucunya.

 

 

Dengan langkah tergesa-gesa karena sepertinya tangisan cucunya semakin kencang, Tuan Lee langsung memberikan botol susu pada Kyuhyun yang tengah menggendong Jae Hyun. Perlahan Kyuhyun menjejalkan dot bagian atas ke mulut mungil putranya yang langsung mengemut serta menyedot susunya.

 

 

Kyuhyun tersenyum melihat Jae Hyun sudah tak menangis lagi dan sepertinya ia juga mulai memejamkan matanya. Kyuhyun mengambil botol susu yang telah kosong itu dari dekapan putranya lalu meletakkannya di atas kasur. Ia kembali mengayun-ayunkan gendongannya.

 

 

‘’Jae Hyun sudah tidur lagi rupanya… lebih baik di baringkan saja di atas kasur, Kyuhyun-a…’’ Tuan Lee menasehati menantunya.

 

 

Kyuhyun mendudukkan dirinya kembali di sisi tempat tidur sambil membaringkan putranya di atas kasur dengan sangat hati-hati.

 

 

‘’Apa Ji Hye masih lama pulangnya aboenim? saya takut bila Jae Hyun menangis mencari-cari eommanya… ‘’ Kyuhyun berujar pada ayah mertuanya.

 

 

‘’Entahlah… tapi dia bilang hanya pergi sebentar… sampai sekarang belum datang.’’Tuan Lee bergumam pelan.

 

 

‘’Ji Hye pergi kemana aboenim?’’

 

 

‘’Dia pergi ke kedai kopi di kawasan Gangnam. Katanya ia sudah janji bertemu dengan temannya.’’

 

 

Kyuhyun berpikir sejenak kemudian bangkit dari duduknya.’’Kalau begitu… biar saya saja yang akan mencarinya, aboenim. Apakah tidak apa-apa bila saya meninggalkan Jae Hyun di sini bersama aboenim?’’

 

 

‘’Ne. Tak apa-apa, nak. Pergilah… jangan cemaskan putramu.’’

 

 

***

 

 

Kedai kopi itu masih ramai oleh pengunjung meskipun malam semakin larut. Interiornya di buat semirip mungkin dengan nuansa tradisional di tambah beberapa lampion sebagai penerangannya. Para pengunjung juga sudah mulai angkat kaki dari tempat ini. Ji Hye menyesap secangkir moccalatte-nya hingga habis dan meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. Ia mengelap bibirnya dengan tissue. Kim Soo Hyun yang duduk di hadapannya hanya bisa memandanginya dengan tatapan yang sulit di artikan.

 

 

‘’Ingin pesan minuman lagi?’’ Kim Soo Hyun bertanya pada Ji Hye yang menatap kearahnya.

 

 

‘’Tidak usah. Terimakasih.’’

 

 

‘’Aku yang harusnya berterimakasih padamu, Ji Hye-ssi. Karena kau mau menemuiku di sini.’’ Soo Hyun masih memasati setiap inci wajah wanita ini. Wanita yang selalu berkeliaran di dalam benaknya.

 

 

Mereka berdua terdiam cukup lama. Ji Hye hanya bisa menundukkan wajahnya menatap jari-jari tangannya yang bertautan. Ia terlihat canggung berduaan seperti ini dengan Soo Hyun. Terlihat seperti sepasang kekasih. Aneh sekali…

 

 

‘’Ehm… apakah bayimu tidak apa-apa di rumah sendirian, Ji Hye-ssi?’’Soo Hyun mencoba mengobrol untuk mencairkan suasana canggung ini.

 

 

‘’Ne. Aku menitipkan bayiku pada appa. Tapi aku berjanji tidak akan lama.’’

 

 

Soo Hyun menatap kedua tangan Ji Hye yang bersimpuh di atas meja di hadapannya. Ia memberanikan dirinya menjulurkan tangan kanannya menggenggam lembut jemari wanita yang masih menunduk malu itu.

 

 

Ji Hye tersentak lalu mengangkat wajahnya memandang Soo Hyun dengan tatapan tak percaya. Mata keduanya saling beradu. Soo Hyun semakim menggenggam erat kedua tangan Ji Hye yang terasa hangat dan lembut dalam genggamannya.

 

 

‘’Maafkan aku Ji Hye-ssi. Aku… tahu ini bukan saat yang tepat, tapi… aku harap kau mau mendengarkan aku. Sekali ini saja… ku mohon…’’

 

 

Bingung tidak tahu apa yang harus di katakan, akhirnya Ji Hye lebih memilih diam. Ia mendengarkan…

 

 

‘’Aku… aku sudah menyukaimu sejak lama, Ji Hye-ssi. Bisakah… kali ini saja kau tidak menolakku?’’ Soo Hyun berkata dengan perasaan bergejolak di dalam batinnya. Wanita itu telah berkeluarga tapi ia masih nekat menyatakan perasaannya. Mungkin dia sudah gila sekarang… dan akan lebih gila lagi jika ia terus-terusan memendam perasaannya. Sungguh menyedihkan…

 

 

Akhirnya dengan perlahan Ji Hye membalas genggaman tangan pria ini kemudian melepasnya.

 

 

Soo Hyun terpana melihat kenyataan di hadapannya. Nafasnya serasa tercekat. Ia sudah tahu jawabannya sekarang.

 

 

‘’Maafkan aku, Soo Hyun-ssi. Tapi… aku sudah menikah dan memiliki anak. Aku… tidak bisa membalas perasaanmu… maafkan aku… ‘’ Ji Hye berujar dengan suara yang sangat pelan. Kedua matanya memandang pria di hadapannya dengan pandangan mengiba.

 

 

Soo Hyun merasa tubuhnya seakan tak bertenaga lagi mendengar perkataan wanita yang di sukainya barusan. Ia sangat kecewa namun masih mencoba menyunggingkan senyum meskipun raut wajahnya tak dapat menyembunyikan perasaannya. ‘’Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf telah lancang mengatakan hal yang tidak penting ini.’’

 

 

Ji Hye menjadi serba salah. Ia akhirnya bangkit berdiri menggeser kursinya begitu juga dengan Soo Hyun yang agak kaget melihat reaksi Ji Hye.

 

 

‘’Saya akan pulang ke flat sekarang. Terimakasih atas traktirannya, Soo Hyun-ssi. Lain kali aku akan membalas kebaikanmu.’’ Ji Hye membungkukkan kepalanya lalu berbalik menuju pintu kedai, membukanya dan menghilang di balik pintu.

 

 

Udara malam semakin dingin di luar kedai ini hingga membuat Ji Hye mengeratkan kedua tangannya bersedekap di depan dadanya. Ia berdiri di pinggir jalan mengedarkan pandangannya mencari-cari bus yang lewat. Namun sepertinya ia harus sabar menunggu.

 

 

‘’Ji Hye-ya… ‘’

 

 

Degg…

 

 

Suara itu…

 

 

Benarkah suara itu?

 

 

‘’Ji Hye-ya… ‘’

 

 

Suara yang memanggil-manggil namanya semakin jelas terdengar. Namun Ji Hye masih mematung menetralisirkan debaran jantungnya sampai pada akhirnya sebuah tangan kekar menyentuh lembut salah satu lengannya, yang membuatnya mau tak mau harus berbalik melihat orang yang berdiri di belakangnya.

 

 

‘’Ji Hye-ya… ini aku…’’

 

 

Ji Hye langsung merasakan otot-otot tubuhnya mengejang, semakin membeku di tempat. Ia membelalakkan matanya melihat seorang pria yang berdiri di hadapannya saat ini. Hawa dingin semakin berhembus tajam menusuk hingga persendian tulangnya. Tubuhnya seakan mati rasa, kaku. Dan tiba-tiba saja di dalam dadanya saat ini bergemuruh hebat.

 

 

‘’Sayang… ini aku. Cho Kyuhyun…’’

 

 

***

 

 

Cho Kyuhyun berdiri tak bergerak seperti patung di hadapan Ji Hye sekarang. Bola matanya yang kecokelatan terlihat sendu dan teduh. Lingkaran di bawah matanya kentara sekali berwarna gelap. Rahangnya tirus, wajahnya menunjukkan gurat kelelahan nyaris pucat seakan-akan darahnya berhenti mengalir. Dan yang paling menyedihkan adalah Ji Hye sama sekali tak bereaksi apa-apa.

 

 

Kyuhyun mencoba melangkah pelan mendekati wanita yang sangat di rindukannya itu. Ia memajukan satu langkah ke depan namun Ji Hye malah melangkah mundur. Semakin Kyuhyun melangkah untuk meraihnya semakin cepat pula Ji Hye memundurkan langkahnya.

 

 

Akhirnya Kyuhyun berhenti di tempatnya. Matanya masih menatap lekat-lekat wanita di hadapannya kini. Ia menggeleng lemah. Dalam hatinya terasa sedih melihat isterinya sama sekali tak mau memeluknya bahkan isterinya itu mencoba menjauhinya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak seolah-olah oksigen di sekitarnya telah menipis. Keduanya matanya terasa panas…

 

 

‘’Sayang… ini aku… Kyuhyun-suamimu…’’ Kyuhyun menghembuskan nafas beratnya. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.’’Kemarilah… sayang! Aku sangat merindukanmu.’’

 

 

Ji Hye masih terdiam, membisu. Ia mengabaikan perkataan pria di hadapannya ini. Ia merasa luka di dadanya kembali berdenyut-denyut, berdarah, Sakit…

 

 

‘’Hye-ya… ku mohon jangan seperti ini…’’ Kyuhyun berkata lirih dengan raut wajah frustasi. Ia melangkah maju mendekati isterinya namun lagi-lagi Ji Hye melangkah semakin mundur hingga punggungnya membentur dinding di belakangnya.

 

 

‘’Ji Hye-ssi! Ada apa?’’ Kim Soo Hyun yang baru saja keluar dari kedai kopi sangat cemas melihat Ji Hye yang tersudut di tembok dengan wajah ketakutan menatap seorang pria di hadapannya.

 

 

Soo Hyun yang mengkhawatirkan keadaan Ji Hye, langsung berjalan mendekati kedua orang itu hingga pria di hadapan Ji Hye memandangnya dengan tatapan tajam.

 

 

‘’Maaf tuan… ada apa ini? Mengapa anda membuat teman wanita saya ketakutan?’’

 

 

‘’Ini bukan urusan anda. Pergilah…’’ Kyuhyun menjawab dengan wajah tak senang.

 

 

‘’Tapi kau membuatnya ketakutan…’’

 

 

‘’Aku suaminya… dan dia isteriku. Aku harap anda tak usah ikut campur.’’Kyuhyun langsung mencekal pergelangan tangan Ji Hye tapi ia memberontak dengan sekuat tenaga.’’Hye-ya…’’

 

 

‘’Lepaskan aku!!’’ Ji Hye berkata ketus. Ia menatap Kyuhyun dengan kedua matanya yang berkobar-kobar penuh amarah.

 

 

‘’Dengarkan aku, sayang…’’Sepertinya ucapannya terus di abaikan oleh Ji Hye. Kyuhyun mencekal tangan isterinya tak perduli bagaimana wanita ini mencoba melepaskan dirinya.

 

 

Soo Hyun yang melihat posisi Ji Hye terdesak tak tinggal diam, ia mendekati Kyuhyun kemudian langsung menepis kasar pegangan tangan Kyuhyun hingga membuatnya hampir terjungkal ke samping.

 

 

‘’Ayo Ji Hye-ssi… kita pergi!’’

 

 

Soo Hyun menarik salah satu tangan Ji Hye mengajaknya meninggalkan tempat itu.

 

 

Kyuhyun merasa darah di seluruh tubuhnya mendidih melihat pria asing itu memegang tangan isterinya. Ia sangat tidak terima dan langsung menghampiri pria itu dengan secepat kilat melayangkan pukulan bertubi-tubi menghantam wajahnya.

 

 

Bugh!

 

 

Bugh!

 

 

‘’Aaarrggghhh…’’ Ji Hye menjerit tatkala melihat Soo Hyun jatuh tersungkur di sampingnya. Ia berlutut meraih bahu Soo Hyun membantunya bangkit berdiri.

 

 

Soo Hyun meringis ketika merasa bibir bagian bawahnya terasa sangat perih, ia merasakan setitik cairan asin berwarna merah menetes dari luka di bibirnya.

 

 

‘’Hye-ya! Apa yang kau lakukan!’’ Kyuhyun benar-benar tak bisa menahan emosinya melihat isterinya lebih memilih menolong pria lain di hadapannya.

 

 

‘’Kenapa kau memukulnya?’’ Ji Hye berkata ketus lagi. Pandangan matanya mulai buram.

 

 

‘’Hye-ya… aku hanya…’’

 

 

‘’Untuk apa kau datang lagi padaku? Aku bukan isterimu, ingat!’’Ji Hye berkata dengan nada tinggi.

 

 

Kyuhyun menggeleng lemah.’’Hye-ya… maafkan aku… tujuanku ke sini untuk mencarimu. Karena kita masih suami isteri…’’

 

 

‘’Aku tidak memiliki suami sepertimu. Kau dengar! bagiku… suamiku telah mati! Ia telah mati di sini…’’ Ji Hye memukul dadanya dengan air mata berlinangan hingga membuat kabur pandangan matanya.’’Suamiku telah mati di dalam hatiku. Selamanya…’’

 

 

‘’Ji Hye-ya… Ku mohon… jangan seperti ini… maafkan aku!!’’ Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya berlutut di hadapan isterinya.

 

 

‘’Maaf tuan… sepertinya kita sudah tak memiliki hubungan apa-apa lagi.’’

 

 

‘’Hye-ya… HYE-YAAAAAA…’’ Kyuhyun mengerang putus asa. Ia melihat Ji Hye berlari menjauhinya menyusuri trotoar jalanan yang lengang.

 

 

Kyuhyun kemudian bangkit berdiri sembari mengusap wajahnya. Ia melirik ke arah Kim Soo Hyun yang berdiri membeku di tempatnya lalu menatap lurus ke depan lagi berjalan mencari-cari ke arah mana isterinya pergi.

 

 

***

 

 

Dengan wajah berlinangan air mata serta dadanya yang terasa sulit bernafas, akhirnya Ji Hye menghentikan larinya. Ia menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas ke tembok jalanan di belakangnya. Ia masih menangis pilu, kedua telapak tangannya membekap mulutnya. Nafasnya masih tersendat-sendat. Sakit sekali…

 

 

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa pria itu ada di hadapannya?

 

 

Mungkin kejadian barusan hanya halusinasi alam bawah sadarnya…

 

 

Tapi bagaimana caranya halusinasi itu bisa berbicara padanya serta memukul Kim Soo Hyun tepat di depan hidungnya…

 

 

Air matanya semakin deras mengalir. Suara sesenggukkannya lolos begitu saja dari mulutnya. Ia menggeleng lemah.

 

 

‘’Tidak mungkin… ini semua pasti mimpi…’’

 

 

‘’Ini bukan mimpi, sayang. Ini nyata…’’

 

 

Ji Hye menengokkan kepalanya ke arah dari mana suara itu berasal. Meskipun penerangan di lorong ini sangat gelap namun cahaya bulan masih bisa menerangi mereka berdua yang kini saling berhadapan.

 

 

Ji Hye melihat Kyuhyun melangkah pelan mendekatinya.

 

 

Mereka berdiri berhadapan dengan jarak beberapa centi saja. Mata keduanya bertemu pandang. Saling menyelami perasaan masing-masing.

 

 

Kyuhyun mengangkat sebelah tangannya meraih tangan wanita yang sangat di rindukannya ini meskipun wanita itu masih menatap tajam padanya ini.

 

 

‘’Jangan sentuh aku!’’ Ji Hye akhirnya bersuara, ia mencoba melepaskan pegangan tangan Kyuhyun namun sepertinya pria itu semakin erat mencekalnya.

 

 

‘’Hye-ya… dengarkan aku…’’

 

 

‘’Lepaskan! Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi darimu! Pergi! Pergi!!’’

 

 

Mendengar penolakan dari isterinya semakin membuat Kyuhyun merasa sedih. Ia benar-benar putus asa. Berkali-kali Ji Hye menolak untuk di sentuhnya.

 

 

‘’Maafkan aku, Hye-ya… ku mohon maafkan aku…’’Kyuhyun berkata dengan suara bergetar. Ia menatap isterinya dengan pandangan memohon… meminta belas kasih…

 

 

‘’Aku bukan isterimu. Apa kau lupa Tuan Cho Kyuhyun yang terhormat… kau sendiri yang mengatakannya…’’ Kali ini Ji Hye benar-benar tak bisa menahan emosinya lagi. Suaranya terdengar lantang dan meledak-ledak. Air matanya terus mengalir tak henti-hentinya…

 

 

Namun tiba-tiba saja Kyuhyun langsung menghambur memeluk tubuh isterinya itu. Ia merengkuh Ji Hye ke dalam dekapannya meskipun wanita itu meronta-ronta minta di lepaskan. Ia semakin mengeratkan pelukannya, menciumi puncak kepala isterinya dengan bibir bergetar, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Seakan-akan mengisi kembali energinya…

 

 

Kyuhyun mengecup kening isterinya berkali-kali serta membenamkan wajah Ji Hye ke dadanya. Ia berusaha menarik nafas panjang. Menghembuskannya perlahan, mengendurkan pelukannya itu mencoba merengkuh wajah wanita di hadapannya ini dengan kedua tangannya.

 

 

Ji Hye menatap sayu ke arahnya. Masih mengalir air matanya… Masih tak beraturan nafasnya…

 

 

‘’Lepaskan aku! biarkan aku hidup tenang… aku tidak akan pernah menganggumu lagi, Kyuhyun-a. Ku mohon…’’

 

 

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Ia tampak kesakitan setiap kali mendengar kata-kata yang terucap dari bibir isterinya. Kata-kata yang mampu mengoyak hatinya…

 

 

Maafkan aku… maafkan aku… Hye-ya…

 

 

‘’Dengar! pernikahan kita telah berakhir. Kita bukan suami isteri lagi… jangan datang menemuiku lagi… ’’ Ji Hye berucap sangat pelan nyaris seperti bisikan.

 

 

Dengan susah payah Ji Hye menelan ludahnya. Ia dapat merasakan jari-jari tangan Kyuhyun mengusap lembut air matanya dan semakin mendekatkan wajahnya.

 

 

Detik berikutnya Kyuhyun telah menempelkan bibirnya dengan lembut menekan bibir wanita yang sangat dirindukannya ini. Ia menyesapnya lalu melumatnya. Rasanya masih sama. Bibirnya terasa kenyal, manis dan lembut sekali. Tidak ada yang berubah.

 

 

Salah satu tangan Kyuhyun menyentuh tengkuk Ji Hye serta memiringkan kepalanya mencari-cari kenyamanan posisi mereka. Memperdalam ciuman yang sangat menuntut ini…

 

 

Ciuman itu semakin panas… semakin dalam… seolah-olah mewakili bagaimana perasaan Kyuhyun yang penuh kesakitan, duka serta kerinduan yang selama ini tak terlampiaskan. Sudah lama sekali… ia tak merasakan gairah yang meluap-meluap di dalam dadanya… sudah terlalu lama tubuhnya merindukan pagutan bibir seintim ini…

 

 

Jari-jari tangan Kyuhyun yang panjang mulai membelai rambut Ji Hye, mengelusnya dengan penuh perasaan. Kedua matanya menatap dalam wanita yang masih di cumbunya ini…  masih di dalam kuasanya…

 

 

Kyuhyun memejamkan matanya, ia menghanyutkan dirinya dalam penyatuan bibir yang sangat intens ini. setetes air mata mengaliri wajahnya. ia semakin menekan bibirnya lebih dalam lagi, menyedot, mengulum serta menggigit lidah isterinya. Mereka saling bertukar saliva. Mencurahkan segala kepedihannya ke dalam sebuah pagutan panas yang berapi-api ini… meneriakkan kenyataan pada wanita-nya… kalau ia sangat merindukan moment seperti sekarang ini…

 

 

Ji Hye mencoba mendorong dada Kyuhyun dengan kedua tangannya, ia megap-megap kehabisan nafas namun semakin kuat ia meronta… semakin bergairah pula Kyuhyun menciumnya, membelit lidahnya, menyesap bibir atas dan bibir bawahnya secara bergantian hingga membuat Ji Hye benar-benar tak berkutik, pasrah.

 

 

Dengan panik akhirnya Ji Hye melepaskan ciuman Kyuhyun. Ia menolehkan wajahnya ke samping. Kali ini berhasil. Kyuhyun menghentikan ciumannya. Tetapi kedua tangan Kyuhyun kembali merengkuh wajahnya.

 

 

Mereka berdua saling menatap dalam diam. Menormalkan debaran jantung masing-masing. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya…

 

 

‘’Maafkan aku sayang. Ku mohon maafkan aku…’’ Kyuhyun berujar pelan dengan tatapan yang tulus bersungguh-sungguh.

 

 

Ji Hye tidak menjawab. Ia masih shock memandangi Kyuhyun. Suaranya seakan tercekat pada batang tenggorokannya.

 

 

Kyuhyun memajukan wajahnya mengecup puncak kepala isterinya dalam waktu yang lama. Kedua lengannya masih melingkari tubuh Ji Hye yang tak henti-hentinya mencoba meronta-melepaskan dirinya.

 

 

‘’Ku mohon jangan bergerak, sayang. Biarkan aku memelukmu seperti ini… aku sangat merindukanmu…’’ Desahnya.

 

 

Suasana di sekitar lorong gelap itu bertambah sunyi. Suhu udaranya-pun semakin minus. Hanya sesekali terdengar suara bising kendaraan di kejauhan. Tempat ini seakan-akan menjadi saksi bisu atas aktifitas yang mereka lakukan tadi.

 

 

Tiba-tiba saja Kyuhyun teringat akan ayah mertuanya serta putranya, Jae Hyun. Karena tujuannya adalah mencari Ji Hye dan mengajaknya pulang sebelum anak mereka menangis mencari-cari ibunya.

 

 

Bola mata kecokelatan milik Kyuhyun yang teduh menatap jauh ke dalam mata Ji Hye yang masih berhadapan dengannya. Matanya menelusuri setiap lekuk wajah wanita-nya tanpa ada yang terlewati. Ia menarik nafasnya dalam-dalam.

 

 

‘’Hye-ya… mari kita pulang ke flat. Apa kau tidak mencemaskan Jae Hyun? Humm…’’ Kyuhyun berkata lirih tanpa satu kalipun mengedipkan matanya mengamati isterinya. Ia menunggu…

 

 

Tentu saja perkataan Kyuhyun membuat Ji Hye lebih tercengang sembari mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa ia tahu tentang Jae Hyun?

 

 

‘’Aku sudah menemui aboenim dan Jae Hyun, putra kita. ’’ Kyuhyun seakan menjawab apa yang ada di benak Ji Hye saat ini.

 

 

Hening…

 

 

‘’Mari kita kembali flat, Hye-ya… kasihan aboenim menjaga Jae Hyun sendirian…’’ Kyuhyun masih berusaha membujuk isterinya itu. Ia berharap Ji Hye bisa sedikit lunak bila membahas tentang Jae Hyun, putra mereka.

 

 

‘’Aku akan pulang, tapi… jangan menyentuhku. Jangan memaksaku…’’Ji Hye kemudian bersuara  ketus. Setelah menimbang-nimbang akhirnya ia juga memilih pulang bersama Kyuhyun.’’Lepaskan tanganmu! Aku masih bisa berjalan sendiri.’’

 

 

Seakan mengerti bahwa dirinya masih sangat sulit untuk di maafkan, Kyuhyun-pun mengalah. Ia melepaskan pelukannya serta mengangguk lemah.

 

 

‘’Baiklah. Ayo sekarang kita naik ke mobil!’’

 

 

Mereka berdua berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata, menuju di mana mobil Kyuhyun di parkir.

 

 

***

 

 

Ji Hye ikut ke dalam mobil Kyuhyun. Meskipun selama di dalam perjalanan, ia sama sekali tak bersuara. Mereka berdua saling membisu.

 

 

Hingga telah sampai di depan flat-pun, Ji Hye masih tak mau mengajak Kyuhyun berbicara.

 

 

Tuan Lee sangat lega melihat kedatangan putri serta menantunya. Ji Hye yang begitu sampai di dalam flat langsung berjalan tergesa-gesa menuju kamar Jae Hyun. Ia mendudukkan dirinya di samping tempat tidur.

 

 

Jae Hyun masih pulas tertidur meskipun dalam posisi tertelungkup. Ji Hye mengulurkan telapak tangan kanannya mengelus pelan kepala putranya kemudian mendekatkan wajahnya mengecup pipi bayinya yang tembam.

 

 

Kyuhyun duduk di samping Ji Hye sambil mengangkat salah satu tangannya mencoba mendekap tubuhnya.

 

 

‘’Jangan sentuh aku!’’ Ji Hye menepis tangan Kyuhyun. Ia bangkit berdiri menatap pria di hadapannya ini dengan tatapan benci.

 

 

‘’Aboenim sudah berangkat kerja. Ia menyuruhku untuk tidur di sini.’’

 

 

‘’Aku tidak mau tidur denganmu!’’

 

 

‘’Gwenchana. Aku akan tidur di ruang tamu sampai aboenim pulang bekerja.’’

 

 

Ji Hye menatap Kyuhyun dengan tatapan kesal. Mengapa dia tidak sekalian saja lenyap dari hadapannya. Agar lebih mudah bagi Ji Hye untuk semakin membencinya karena kenyataan bahwa ia telah kembali dan berada dalam jangkauannya membuat Ji Hye berharap banyak padanya. Dan itu semakin membuatnya takut kehilangan pria yang diam-diam masih merebut cintanya ini.

 

 

Ia memalingkan mukanya dari wajah Kyuhyun. Hatinya tak sanggup menatap wajah pria itu lebih lama…

 

 

‘’Setelah appaku pulang… aku harap kau segera angkat kaki dari sini. Tempat ini terlalu sempit untuk di tinggali banyak orang.’’Ji Hye berkata ketus lagi…

 

 

Kyuhyun tak henti-henti menatap wajah Ji Hye yang sepertinya masih marah padanya. Ia berusaha untuk lebih sabar menghadapi isteri tercintanya ini. Mungkin Ji Hye butuh waktu untuk memaafkan kesalahannya…

 

 

‘’Dengar Hye-ya… selagi isteriku dan anakku ada di sini, maka aku akan tetap tinggal di sini meskipun berjuta kali kau mengusirku, menyuruhku menjauhimu. Aku tak akan pergi.’’Kyuhyun bangkit berdiri.’’Aku sudah pernah melakukan kesalahan dengan meninggalkanmu dan anak kita. Tapi untuk saat ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.’’

 

 

Kyuhyun menghela nafas beratnya kemudian berjalan meninggalkan kamar ini.

 

 

Mata Ji Hye hanya bisa terpaku menatap punggung Kyuhyun yang menghilang di balik pintu. Telapak tangan kanannya menyentuh dadanya.

 

 

Air matanya kembali menetes pada kedua pipinya. Ia tak tahu harus berbuat apa… sekarang pria itu sudah kembali… pria itu benar-benar ada di hadapannya… Kenyataan bahwa pria itu adalah ayah kandung dari putranya, menghantam pikirannya yang kalut sekarang ini…

 

 

Haruskah ia memaafkannya… dan mencoba mengulanginya dari awal…

 

 

***

 

 

Ji Hye menggeliat pelan dari tidurnya. Matanya yang masih mengantuk melihat jam yang tergantung di dinding, Jarum panjangnya menunjukkan pukul sembilan pagi.

 

 

Ia dengan panik mencoba bangkit dari tempat tidurnya lalu menoleh ke samping tempat tidur mencari-cari keberadaan bayinya tapi sepertinya Jae Hyun sudah tidak ada.

 

 

Dengan langkah tergesa-gesa Ji Hye keluar dari kamarnya. Mencari-cari Kyuhyun atau ayahnya namun sepertinya memang tak ada orang lain di dalam flat kecuali dirinya. Secara bersamaan pula tiba-tiba saja terdengar sebuah ketukan yang berasal dari pintu depan.

 

 

Sambil mengusap peluh pada wajahnya Ji Hye berjalan mendekati pintu yang masih terdengar suara ketukannya. Ia menekan kenopnya membuka pintu di hadapannya.

 

 

Seorang pria paruh baya berpenampilan rapi menyunggingkan senyum ramahnya di hadapan Ji Hye yang masih terheran-heran menatapnya.

 

 

Ji Hye membalas senyuman pria paruh baya itu dengan membungkuk hormat.

 

 

‘’Apakah benar ini tempat tinggal nona Lee Ji Hye?’’ Pria paruh baya itu berkata dengan sopan.

 

 

‘’Be-benar. Saya Lee Ji Hye…’’ Ji Hye menjawab dengan nada suara gugup dan khawatir. Dalam hatinya bertanya-tanya ada apa orang ini mencarinya?

 

 

‘’Senang sekali bisa bertemu dengan anda nona Lee. Perkenalkan saya Cho Yong-hwan, ayah dari Cho Kyuhyun.’’

 

 

 

To be continued…

 

 

Terimakasih saya ucapkan buat Handa juga readers semua yang telah membaca dan masih mengikuti jalan cerita ff ini. Kritik dan saran dari kalian semua akan saya terima dengan senang hati. Gomawo…

 

 

 

476 thoughts on “You And I Part 8

  1. Nah sakit kan rasanya di tolak orang yg sangat kau cintai.. Begitupun jihye juga sakit ketika kau tolak dulu kau…
    Mau apa ayah kyuhyun menemui jihye ?

    Suka

  2. I was wondering what is kyuhyun’s dad said to jihye😱😱😱pensaran banget😱😱

    and betewe dari kemaren2 baca ini ff gak selesai2😂, baca dari part awal sampe skrng sih, seneng banget bacanya 😍😍 gak ngebosenin😂 semoga happy ending ya 🙏🏻
    thanks too mrs.moonlight for this ff, best👍🏻

    lanjut baca 2 part terakhir, tapi besok deh udah ngantuk😂

    Suka

  3. Akhirnya Kyuhyun dan ji Hye bertemu lg,dan Kyuhyun ketemu sm anaknya,kira2 kmn ya itu dan anaknya??,
    Trus ngapain ayahnya Kyuhyun ke flat nya juga Hye??
    Semoga berakhir bahagia dehh☺☺
    Lanjut truss..

    Suka

  4. Akhirnya kyuhyu dan jihye ketemu lagi, walaupun jihye masih ketus dan nggak mau disentuh sama kyuhyun.
    Terus kenapa appa kyuhyun bertemu dengan ji hye. Lalu kemana jaehyun dan appa jihye??

    Suka

  5. Ayeeeeee kyu jihye ketemu, dapet banget sedihnya. Baca tentang kyu yg frustasi karena rindu sama jihye. Sukaaaaaaa ff ini ya ampunnnn

    Suka

  6. Akhir ny kyu bisa menemukan istri dan anak nya kembali ya walaupun reaksi ji hye masih ketus terhdap kyu …
    Semoga saja jihye memaafkan kyu dan hidup bersama kembali….
    Pda akhir ny tuan cho menemui ji hye demi kebahagiaan sang anak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s