Code Number Part 3 (END)


Author: fadhilaxx

 

Title: Code Number Trilogi – Chapter 3 (END): New Return

 

Category: NC21, Yadong, Romance, Kekerasan, Chapter (Trilogi)

 

Cast:

 

Kim Jongin as Kai

Han Junghwa as Jill

Oh Sehun as Sehun

 

Other cast:

 

Han Taehyung

Park Jimin

 

 

 

Yap last chapter.

 

Thankyou buat semuanya yang udah komen, maaf gabisa saya bales satu-satu.

 

Bagi yang mau kenalan sama Author,  id line/ pin bb/ id twitter /instagram dll bisa email ke hildashin@gmail.com

 

Boleh minta apa aja asal jangan minta duit haha

(saya juga masih kere masih kuliah jadi jangan dimintain duit!) :p

 

Nanti pasti dibales.

 

Bagi yang mau kenalan aja, kalo ga juga gapapa haha

 

Sekali lagi makasih buat readers semuaaaa~

 

Sampai jumpa di FF yg lain (atau mungkin sequel? huehueeh)

 

Bhay! *tebar confetti*

 

Code Number Trilogi – Chapter 3 (END): New Return

 

 

 

“Aku tidak tahu kau akan datang secepat ini. Andai saja kau datang begitu kutemui, aku akan mengunjungimu lebih awal.”

 

Sehun sumringah menatapku di balik meja kerjanya. Sama halnya denganku, dia juga tidak repot menanyakan bagaimana aku menyusup masuk ke dalam apartementnya.

 

“Tidak usah bertele-tele. Katakan siapa dirimu dan apa tujuanmu mendekatiku?”

 

“A a a~ tidak secepat itu,” Sehun menggoyang-goyangkan telunjuknya sambil menggeleng.

 

“Lalu?” Suaraku masih tenang seperti biasa.

 

“Aku belum sarapan. Bisa kau temani aku? Aku lapar~”

 

Bibirku bergetar. Merasa dipermainkan olehnya, aku mulai mendengus kesal.

 

“Apa kau pikir aku menghabiskan waktu kesini hanya untuk memilihkan menu sarapan untukmu?”

 

Oke, kini suaraku meninggi satu oktaf.

 

“Junghwa sayang aku tidak tahu kau akan datang sepagi ini. Marhaebwa. Apa aku selalu ada dipikiranmu hingga jam enam pagi seperti ini kau sudah menerobos masuk ke rumah orang?” Sehun tersenyum jahil. “Tapi jika kau bersedia memilihkan menu sarapan akan lebih baik lagi.” Ia mengerling nakal.

 

Aku muak jika ia mulai pada tahap merayuku.

 

“Aku juga belum mandi. Apa kau mau ikut mandi denganku?” Sehun seakan menatap dengan tatapan mengulitiku dari atas hingga bawah.

 

Dan aku berusaha untuk tidak menampar wajahnya saat itu juga.

 

Perlahan kukeluarkan jarum suntik yang ada di balik coat hitam milikku. Mungkin sedikit obat bius akan menutup sementara mulut sialnya.

 

“Hei bukankah itu terlalu cepat? Aku bahkan belum sempat mengisi pistolku dengan peluru. Kau ingin bertempur dengan pria tanpa senjata apapun ditangannya?”

 

“Mungkin aku akan berubah pikiran jika kau berlutut memohon.” Kuangkat wajahku angkuh.

 

“Atau mungkin kau yang akan memohon padaku, Junghwa.” Sehun menyeringai.

 

Sehun berjalan menuju meja kecil berisi nampan penuh dengan makanan.

 

“Duduklah. Aku benci makan sendirian.”

 

Oke kuturuti kemauannya.

 

“Kau mau omelet atau steak?” Sehun menanyaiku sambil menyesap espresso nya

 

Tawaran yang menggiurkan tapi tidak, terimakasih.

 

“Bagaimana aku tahu kau tidak memberiku racun?”

 

“Apa kita harus makan sepiring berdua, Han Junghwa? Itu akan lebih romantis!” Mata sipitnya berbinar.

 

“Aku hanya akan melihatmu makan. Siapa tahu saat aku makan seseorang mencekikku dari belakang.”

 

Sehun tertawa lepas.

 

“Apa aku terlihat lucu bagimu?”

 

Gwiyobda. Aku suka gadis dengan tipe sepertimu.” Satu sendok omelet masuk kemulutnya.

 

“Tipe pembunuh sepertiku? Kau jangan bercanda.”

 

Aku mulai merasa kalau pria ini sebenarnya menyenangkan. Hanya saja ia mesum. Dan sialnya itu mengingatkanku akan Kai.

 

Sehun berdiri mengambil gulungan tisu di meja kerjanya. Baru kusadari kamarnya berisi penuh dengan lukisan. Aku baru melihat sekilas nama Van Gogh ada di lukisan paling ujung saat sepasang tangan menyekapku. Membekap mulutku dengan tisu. Semuanya buram dan aku tergeletak begitu saja di kursi marmer mewah miliknya.

 

 

 

*****

 

 

 

Jill membuka mata sekitar enam jam kemudian. Kepalanya pusing. Ia mencoba mengingat kejadian tadi pagi. Ia makin terkejut mendapati dirinya berada di apartmentnya sendiri.

 

Bukankah aku tadi di Apgujeong?

 

Oh Sehun, siapa kau?

 

Jill melirik kasur disampingnya. Surat kecil tergeletak manja disana.

 

Kai sudah berangkat.

 

Jill ingat meninggalkan Kai saat ia masih terlelap.

 

“Kau kan belum berpamitan denganku. Apa surat seperti ini cukup menurutmu? Cih tidak sopan!”

 

 

Junghwa-ya aku tidak tahu kau punya urusan sepagi ini

Aku pergi satu minggu ya

Jaga dirimu

Dan jangan merindukanku!

 

“Aku tidak akan rindu padamu, bodoh!”

 

Satu lagi

Jangan selingkuh dengan laki-laki lain!!

Aku benci itu

 

 

“Apa semalam Kai melihat semuanya?”

 

 

 

*****

 

 

 

 

“Manajer Lee aku tahu kau sibuk tapi bagaimana mungkin kau baru memberitahuku sekarang?!”

 

“Maaf, Nona.”

 

“Bagaimana bisa.. Oh Sehun..”

 

Sungguh ini membuatku bingung!

 

“Saya pun terkejut, Nona. Namun masalah ini belum diketahui oleh Boss.”

 

“Jadi selama ini Sehun yang menangani semua bisnis illegal Ketua Park begitu?”

 

“Dan sepertinya akan balas dendam kepada ayahmu.”

 

“Apa?”

 

 

 

 

*****

 

 

 

“Kau datang.”

 

Wajahnya masih tetap sama. Tersenyum lengkap dengan eye smile nya. Menjengkelkan. Membuatku muak.

 

“Lama tidak bertemu, Kim Jongin.”

 

Sehun mengulurkan tangannya, bermaksud menjabat tangan pria itu. Namun yang didapatinya justru tatapan merendahkan dari seorang Kai.

 

“Kita bertemu semalam, kau ingat? Aku bahkan menahan diri untuk tidak menghabisimu saat kau mencium Jill. Bajingan.”

 

“Aku tahu kau hanya pura-pura tidur. Lalu kenapa tidak kau bunuh saja aku waktu itu?” Sehun melempar pandangannya ke Sungai Han.

 

Sore itu sangat indah. Pantulan jingga dari langit seakan meresap ke dalam genangan ribuan kubik air Sungai Han yang kini sudah meleleh seutuhnya. Ini pertengahan tahun. Itu berarti musim semi hampir tiba. Bahkan pelangi terlihat muncul di sudut jembatan setelah seharian Seoul diguyur hujan.

 

“Mungkin aku bisa mengabulkannya saat ini juga,” Kai menggeram marah.

 

Sehun menepuk pundak Kai, yang secara langsung ditepis keras oleh Kai.

 

“Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Apa Jill yang mengubahmu?” Sehun masih dengan sikap elegannya.

 

“Apa kau akan memberitahunya?” Kai langsung ke inti masalah.

 

“Soal?”

 

“Kau tahu persis, Oh Sehun!”

 

“Maksudmu masalah ibu Junghwa yang berselingkuh dengan ayah kandungmu sehingga ayahnya membunuhnya? Atau masalah kau hanya pura-pura mencintainya selama ini?”

 

“Aku benar-benar mencintainya!”

 

“Oh ya? Saking cintanya sampai-sampai kau pernah menguncinya di gudang dan hampir membakarnya hidup-hidup.” Sehun mengambil beberapa kerikil dan melemparkannya ke dalam Sungai Han.

 

“Oh Sehun!”

 

“Aku tidak tahu kalau cinta serumit itu.”

 

 

 

 

*****

 

 

 

“…. dan blueprint ini?” Jill masih mengamati tumpukan informasi yang didapatkan Manajer Lee.

 

“Bukti pembangunan casino illegal. Ratusan casino sudah didirikan bahkan mereka memiliki banyak cabang di Macau.”

 

Jill melihat dengan seksama. Satu persatu kata yang tercetak ia amati dengan sorot mata tajam. Ekor matanya terbelalak mendapati fakta bahwa…

 

“Tidak mungkin. Manajer, ini benar-benar tidak mungkin..”

 

“Benar, Nona. Tuan Oh Sehun adalah pria yang menyelamatkan Nona dari kebakaran gudang senjata beberapa tahun yang lalu. Bahkan ia mengalami koma selama tiga bulan setelah itu.”

 

Tidak mungkin.

 

“Bagaimana bisa..” Jill bingung menghadapi kenyataan bahwa dunia memang sempit. “Bukankah Kai yang masuk ke dalam api dan menyelamatkanku?”

 

“Dan satu lagi, Nona. Tuan Kim Jongin adalah spy dari Jinseong Group. Ia rekan satu komplotan dengan Tuan Oh Sehun. Awalnya saya pun terkejut. Namun melihat fakta bahwa sidik jarinya ada di daftar laboratorium Jinseong, kemungkinan ia bergabung dengan Jinseong Group jauh sebelum Black Corp.

 

Apa ini mimpi? Jika iya, aku ingin terbangun sekarang juga!

 

“Apa ayah tahu bahwa Kai adalah bagian dari Jinseong?”

 

Suaraku mulai bergetar lemah.

 

“Tahu. Namun status Tuan Oh Sehun sebagai dewan direksi yang menjalankan seluruh kegiatan Jinseong belum diketahui oleh Boss.”

 

“Jangan katakan apapun pada ayahku!”

 

“Nona tapi…”

 

“Jangan kumohon!”

 

“Nona, tapi Oh Sehun akan membunuh ayah Anda. Bagaimana jika Boss dalam keadaan tidak waspada? Akan sangat berbahaya bagi dirinya dan Black Corp.

 

“Sebelum hal itu terjadi, biar aku sendiri yang akan menghabisi Oh Sehun.”

 

 

 

 

 

*****

 

 

 

 

“Aku sampai bingung kejahatanmu yang mana yang harus kuberitahukan terlebih dahulu kepada Jill. Apa kau punya saran?” Sehun tersenyum menang.

 

“Sehun, kau tahu persis bukan aku pelakunya. Apa kau tidak bisa sekali saja percaya padaku?” Kai benar-benar kehilangan akal sehatnya. Seumur hidupnya baru kali ini ia memohon.

 

Dan Sehun tertawa lepas. Mata sipitnya semakin tak terlihat dengan tawanya yang selebar itu.

 

“Apa kau akan bilang bahwa kau dijebak? Jangan bodoh. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kau yang membakar gudang itu.” Sehun menatap matahari yang perlahan bersembunyi dan berganti dengan malam.

 

“Dulu memang aku membenci gadis itu. Sangat. Keluarganya telah menghancurkan keluargaku. Rasanya benar-benar ingin kuhabisi seluruh keluarga Han. Tetapi..”

 

“Tetapi lama-lama kau mencintainya? Begitu maksudmu? Aku sudah sering melihat hal seperti itu di film. Bisakah kau membuat alasan yang lebih masuk akal?” Sorot mata Sehun berubah tajam. Menanggapi sinis Kai yang sepertinya mulai jatuh ke pusaran konyol perasaan cinta.

 

“Gadis itu membuatku hidup.”

 

“Tidak ada kata cinta dalam kamus seorang pembunuh.” Sehun mencoba memojokkan Kai.

 

“Aku tidak peduli apa yang akan kau katakan maupun apa yang akan kau lakukan, Oh Sehun. Tapi jika kau menciumnya lagi, jangankan mencium, sekali kau menyentuhnya saja aku bersumpah akan mengeluarkan isi jantungmu.”

 

“Sebelum kau membunuhku, sepertinya aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu.” Sehun mengeluarkan pistol yang menempel di pinggangnya. Mengarahkan tepat ke jantung Kai.

 

“Kau..”

 

“Ada yang mau kau katakan, Kim Jongin?”

 

“Tidak ada.”

 

Dan ledakan dari pistolnya adalah hal terakhir yang kudengar.

 

“Selamat tinggal, Kim Jongin.”

 

 

 

 

 

*****

 

 

 

 

“Wah wahh.. Han Junghwa. Aku tidak tahu kau sangat hobi memasuki rumah orang. Apa kau terlalu merindukanku? Bukankah tadi pagi kita baru saja sarapan bersama?”

 

Jill menerobos masuk ke ruangan pribadi Oh Sehun. Matanya menatap bengis lelaki di hadapannya.

 

Bajingan. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.

 

“Apa kau tahu kedatanganku kesini untuk membunuhmu?” Jill membuka pembicaraan.

 

“Mau kubawakan teh atau kopi?” Sehun mendekati Jill, menampakkan senyumannya yang terlihat biasa saja. Padahal di hadapannya, gadis itu menggenggam sebuah belati. Belati yang dapat menembus lehernya kapan saja ia mau.

 

“Targetku bukan Ketua Park lagi, tapi kau.” Sudut bibir Jill terangkat. Langkahnya ringan semakin mendekati Sehun.

 

“Kau yakin? Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?”

 

“Tidak ada kata sepakat untukmu.”

 

Jill merampas krah lelaki itu, memukul punggung Sehun dengan sikunya. Ia hampir menancapkan belati tersebut kearah jantung Sehun namun dengan sigap Sehun menangkisnya membuat belati tersebut terjatuh. Dengan gerakan cepat Sehun menendang belati hingga terseret menuju bawah sofa.

 

Untuk sedetik Jill terperangah dengan pergerakan gesit Sehun. Kesadarannya mulai pulih saat Sehun meninju perutnya dengan sangat keras. Sampai-sampai Jill terpelanting ke lantai. Punggungnya membentur meja besi dibelakangnya.

 

“Brengsek kau, Sehun.”

 

“Maaf jika itu terlihat menyedihkan seorang pria memukul wanita. Tapi asal kau tahu, aku tidak melihatmu sebagai seorang wanita.” Sehun tersenyum mengejek.

 

Jill merogoh sakunya dan sebuah jarum suntik dengan racun dosis tinggi sudah berpindah ke tangannya. Di sisi lain, Sehun terlihat tenang. Seakan wanita di hadapannya bukanlah ancaman baginya.

 

“Tidak masalah jika kau tidak menyukai belati. Kuharap kau tidak takut dengan jarum suntik.” Langkah Jill seperti penari ballet. Anggun namun tegas.

 

“Han Junghwa, kau memang bodoh. Pantas saja pria seperti Kai mampu menipumu bertahun-tahun.” Sehun menggeleng prihatin.

 

“Apa maksudmu?” Seperti dugaan Sehun, Jill tertarik.

 

“Apa yang kau tawarkan sebagai barter? Kita sedang berbisnis, ingat? Tidak ada bisnis yang gratis.”

 

“Kau mencoba menipuku, huh? Maaf tapi aku tidak berselera.” Jill tersenyum kecut.

 

“Kau yakin Kai adalah orang yang menyelamatkanmu dari kebakaran?”

 

Tuan Oh Sehun adalah pria yang menyelamatkan Nona dari kebakaran gudang senjata beberapa tahun yang lalu.

 

“Bagaimana kau bisa tahu tentang kebakaran itu?”

 

“Nona Jill, mungkin kau tidak mengetahuinya, tapi aku sedikit kecewa padamu.” Sehun berjalan mendekat.

 

Bahkan ia mengalami koma selama tiga bulan setelah itu.

 

Tidak mungkin.

 

“Kau sangat naif, Han Junghwa.” Sehun meraih pipi halus wanita itu. “Mau melakukan persetujuan denganku? Hanya sebentar saja. Aku janji tidak akan lama. Setelah itu jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku. Tapi nanti. Setelah tawaran kita selesai.” Sehun menyentuh bibir mungil gadis itu. Sial! Dia harus mati-matian untuk tidak melahap bibir merah itu saat ini juga.

 

“Apa yang kau ketahui tentang Kai?” Jill membuka suaranya sesaat setelah menimbang dengan sangat hati-hati.

 

“Dan apa tawaranmu?” Sehun tersenyum sekilas. Memperlihatkan eye smile nya.

 

“Apa yang kau butuhkan, Oh Sehun?”

 

 

 

 

 

*****

 

 

 

 

 

Kepala Jill terus bergerak menyambut kecupan rakus dari Sehun.

 

Sialan pria ini lebih bernafsu daripada Kai!

 

Kedua ‘rekan bisnis’ ini telah telanjang sempurna. Sehun menindih tubuh polos Jill di kasur king size miliknya.

 

 

“Bercinta denganku, maka kau akan mengetahui seluruh informasi yang kau butuhkan. Bukankah kau sangat menyayangi Kai, hmm? Berani taruhan, ini tidak akan merugikanmu sama sekali, Han Junghwa.”

 

“Sehun-ssi kau benar-benar brengsek!”

 

“Terimakasih telah memujiku.”

 

 

Dan disinilah Jill sekarang. Mengerang menahan desahan dibawah tindihan Sehun. Aku kembali memfokuskan diriku menghadapi Sehun. Menangkup wajahnya dan menyingkirkannya dari bahuku. Sehun beralih melumat bibirku. Menghisapi setiap sudut bibirku sedangkan aku kewalahan mengimbangi sikap kasarnya.

 

Kupelankan gerakan bibirku, membiarkan Sehun yang melahap bibir atas dan bawahku bergantian. Mengusainya. Membiarkannya melampiaskan nafsunya. Beberapa kali bibirku digigit dan itu sangat perih. Kurasakan bibirku menebal akibat ciumannya yang sangat menggebu.

 

Gerakan bibirnya mulai memelan. Hingga akhirnya hanya berupa kecupan-kecupan ringan yang mendarat di bibir tipisku. Nafasku tersengal begitu ia berhenti menghisap bibirku.

 

“Aku tidak menyangka akan begini nikmatnya hanya dengan menyentuh bibirmu saja.” Sehun menatapku sayang sambil tangannya mulai bergerilya meremas payudara polosku.

 

Wajahku terlihat menegang.

 

Seharusnya tidak kulakukan ini.

 

“Dan bisakah kau sedikit memperhatikanku? Hanya saat ini saja. Anggap saja aku Kai, apa itu susah?” Sehun mengarahkan wajahnya ke lekukan leherku, menghirup aromanya sekilas dan menghisapnya kencang.

 

Kutahan kedua bibirku untuk mendesah walau itu sangat sulit mengingat tangan Sehun yang lain mulai menggesek klitorisku.

 

Kai, mian…

 

Bibirnya merambat naik melalui rahangku. Mengecupinya tanpa ada yang terlewatkan satu senti pun. Dikecupnya bibirku perlahan. Begitu lembut dan hati-hati. Kemudian ia mulai menggerakkan bibirnya, melumat bibirku dengan ritme yang menggairahkan. Kulingkarkan tanganku dilehernya, menariknya agar semakin merapat. Kurasakan bibirnya tertarik membentuk senyuman di tengah ciuman ini. Tangannya masih meremas pelan payudaraku. Menghantarkan aliran-aliran listrik yang sialnya membuatku menikmati permainannya. Bibirku secara otomatis mengikuti alur permainan bibirnya. Menghisap bibir atasnya lembut dan menuntut.

 

“Mmmhhhh..” Aku melenguh pelan ketika merasakan lidahnya mengoyak rongga mulutku. Kuremas pelan rambutnya dan baru kusadari ia memangkas rapi rambut tipis itu. Rambutnya jauh lebih rapi dibandingkan terakhir kali kita bertemu.

 

Sehun melepaskan bibirnya, memindahkannya menuju pipiku yang mulai memanas. Memberi kecupan-kecupan singkat yang kemudian bermuara di leherku. Lidahnya menyapu lembut kulit leherku. Ia menghisap kuat bergantian dari satu sisi ke sisi yang lain. Aku meringis pelan ketika ia menjilat bekas hisapannya tadi.

 

“Hanya saat ini, Jill. Biarkan aku menyentuhmu.” Sehun menatapku tajam. Matanya jauh menembus kedalam retinaku.

 

Kai maafkan aku. Aku menyayangimu. Kumohon maafkan aku…

 

Sehun mencium keningku lama. Ada kehangatan yang menjalari tubuhku. Perlahan ia merangkak turun. Direnggangkannya kedua pahaku. Ekspresi wajahnya terlihat gembira melihat lubangku yang merekah.

 

“Aaahhh…” Desahanku menyeruak begitu saja begitu merasakan lidah Sehun menyapu vaginaku. Menjilati klitorisku yang terasa berkedut nikmat. Mengerang nikmat merasakan lidahnya yang menjilati dengan rakus vaginaku. Menggigit klitorisku perlahan, serta jarinya yang telah memasuki lubangku. Menggesek-gesek dinding rahimku dari dalam. Kubuka mataku yang sedari tadi terpejam, manatap nanar Sehun yang menenggelamkan kepalanya ke vaginaku, terlihat seperti menyantapnya. Aku tidak sanggup menahan rasa geli nikmat yang ia berikan.

 

Nafasku makin tercekat. Sehun mempercepat kocokan jarinya pada vaginaku. Tanganku sibuk mencari pegangan, apapun yang dapat kusentuh kini kuremas dengan kuat. Rasa ini benar-benar nikmat yang begitu menyiksa dan menggebu. Tanganku malah menjambak rambut Sehun, seakan memintanya untuk menghisap vaginaku lebih dalam. Ia terlalu sibuk menggeluti vaginaku, semakin menenggelamkan wajahnya kesana.

 

“Aaaaagghhhhh…” semakin tersengal dan sulit untuk kukendalikan. Jeritanku membahana di kamar yang untungnya kedap suara. Pahaku menghimpit kepala Sehun yang sialnya justru semakin dilebarkan olehnya. Tubuhku menegang, dan sepersekian detik setelahnya sesuatu menyembur dibawah sana. Sehun menjilatinya hingga habis. Aku benar-benar lega. Tubuhku lemas seolah semua tulang lolos dari tempatnya.

 

Kulihat Sehun mengangkat wajahnya, tersenyum puas melihat reaksiku. Ia merangkak naik, mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Mengamatiku tajam yang masih tersengal mendapati orgasmeku.

 

“Aku senang kau mendesah nikmat. Akan lebih baik lagi jika kau mendesahkan namaku.”

 

Sehun kembali menggeluti leherku. Tangannya kini meraup dadaku kasar. Diremas dan dipelintirnya putingku yang sudah sangat mencuat ini.

 

God! Ini benar-benar nikmat.

 

“Han Junghwa, desahkan namaku. Sekali saja.”

 

Mulutnya merambati rahangku. Menyedot dan menjilatinya. Aku yang belum sadar sepenuhnya tersentak dengan juniornya yang menyeruak masuk tiba-tiba.

 

“Ya! Bisakah kau memberitahuku dulu kalau kau akan memasukkannya?”

 

Aku benar-benar kesal padanya.

 

Ia hanya tersenyum kecil. Dengan sabar ia menyodok vaginaku dengan junior besarnya.

 

Ini lebih besar daripada Kai.

 

“Aaassshh…” Aku mendesah pelan merasakan juniornya memasukiku perlahan.

 

“Sedikit kecewa aku bukan yang pertama. Kai menang satu langkah didepanku.” Sehun melirik vaginaku yang kini sudah berisi juniornya sepenuhnya.

 

“Jadi aku kah yang pertama bagimu, Oh Sehun?” Aku meremehkannya.

 

“Jangan bermimpi, Junghwa. Kai memang yang pertama, tapi aku akan menjadi yang seterusnya bagimu.” Sehun tersenyum licik. Perlahan, ia mulai menggerakkan junior super besarnya memasuki tubuhku, kemudian menariknya keluar perlahan. Aku mendesah menikmati dinding-dinding vaginaku bergesekan dengan juniornya.

 

Sehun melakukannya berulang dengan tempo lambat, membuatku semakin tersiksa.

 

“Bisakah.. nngghh.. kau lebih cep-aahh.. cepatt?”

 

“Desahkan namaku.” Sehun menatapku. Gerakan pinggulnya justru makin ia perlambat.

 

Oh Sehun!

 

“Aahh.. jebal…”

 

“Hey kenapa harus malu? Hanya ada aku disini. Jika kau menikmatinya, mendesahlah.” Ia tersenyum setan diatasku.

 

“Aku benar-benar sudah gila.” Aku hanya menertawai apa yang telah kulakukan. Benarkah yang kulakukan ini, Kai?

 

“Tidak apa-apa karena kau juga telah membuatku gila.” Sehun mengulum telingaku. Menggigitnya kecil, lalu menjilatnya.

 

Tiba-tiba ia menghentakkan secara kasar memasukiku. Menerobos dinding-dinding vaginaku begitu saja. Aku kaget saat tubuhku menerima gelombang kenikmatan yang begitu besar secara mendadak.

 

“Ohhh…”

 

“Oh siapa, hmm?” Sehun semakin mengeluar-masukkan juniornya dengan kecepatan tinggi.

 

“Ohhhh Sehunhh nngggghh…” Ini gila tapi ini nikmat. Persetan dengan semuanya. Kudesahkan namanya berulang kali. Dan Sehun benar-benar puas mengerjaiku.

 

“Oohhhhh…” Aku mengerang frustasi. Sehun menyerang bagian–bagian sensitifku. Aku sudah berusaha meredam desahan dengan mengigit kuat bibirku namun gagal.

 

“Ya, sayang. Ini aku.” Jawab Sehun. Menyapukan bibirnya menjelajahi seluruh tubuhku. Dari leherku yang jenjang turun ke dada yang kuyakini sudah penuh tanda–tanda kemerahaan hasil perbuatanya. Turun lagi ke payudaraku, dengan puting yang sudah mengeras dan ia mengulumnya lagi. Menyedotnya seperti bayi kelaparan bergantian.

 

Aku bingung. Rasanya lebih nikmat saat junior itu keluar dan masuk lagi dengan sangat cepat. Kupejamkan kedua mataku, tidak mengindahkan tatapan Sehun yang kini seakan menembus pikiranku.

 

“Buka matamu, Junghwa. Aku ingin kau menatapku saat menyebut namaku.” Pinta Sehun. “Percayalah aku tidak akan menyakitimu.” Sehun bergumam tepat di bibirku dan menatapnya lembut.

 

Juniornya keluar dan masuk lagi lebih cepat, lebih dalam memasukinya. Aku berusaha keras menatapnya namun gagal. Nikmat ini menutup kewarasanku. Sehun menghujamku dengan hentakkan keras secara beruntun.

 

“Sehunn.. aaahhh….”

 

Sehun hanya menatapku dengan tatapan lapar. Ia puas membuatku berantakan seperti ini.

 

Aku tidak tahan, Kulingkarkan kakiku dipinggangnya mengikuti naluriku. Makin kutekan pinggangnya agar juniornya melesak semakin dalam. Menghujam lubangku dengan hantaman yang membentur kuat dinding rahimku. Vaginaku berdenyut cepat, perasaan yang tadi datang kembali. Tapi ini jauh lebih nikmat. Sehun mengerti itu dan menambah iramanya seakan tahu apa yang kuinginkan.

 

“Aaarghh.. Junghwa-ya.. ini sangat nikmat.. ahhh…” Sehun menggenjot lubangku dengan tempo yang semakin gila. Bisa kulihat ia pun menggeram nikmat. Mulutnya tiada henti meracau dan mendesah. Pinggulnya semakin dalam menekan vaginaku.

 

“Sseehhuuunn.. assshh…”

 

Aku menyerah dan meledak dalam kenikmatan luar bisa yang ia ciptakan. Semua saraf tubuhku lemas seketika membuatku begitu ringan. Seperti melayang tapi kueratkan pelukanku padanya.

 

“Han Junghwaa… kau milikkuu….” Sehun menghentakkan juniornya keras sedalam mungkin di dalam vaginaku, membenamkan wajahnya di sisi leherku. Menyerah pada sebuah pelepasan yang luar biasa untuknya. Spermanya menyemprot keluar begitu banyak.

 

Samar–samar aku mendengar desahannya. Sehun memanggil namaku dengan nafasnya yang memburu, terengah–engah sama sepertiku. Ia lalu ambruk diatasku, menormalkan kembali nafasnya.  Namun tak lama ia beranjak ke sisiku dan melepaskan tubuh kami yang menyatu. Menyeretku yang masih ada dipelukannya. Kulihat banyak sekali cairan yang keluar dari dalam lubangku begitu juniornya keluar.

 

Sehun memeluk rapat tubuhku. Duduk bersandar pada sisi tempat tidur. Mengecupi dengan gencar tengkukku yang sudah berpeluh.

 

“Tidak ada ronde selanjutnya, kau ingat? Jadi hentikan ciumanmu.” Aku tersadar yang kami lakukan hanya bisnis. Bisnis yang menguras tenaganya.

 

“Kau ini galak sekali. Aku hanya memelukmu apa itu salah?” Sehun mempoutkan bibirnya. Menarik tengkukku dan mencium bibirku gemas.

 

Apa yang kau lakukan? Kau pikir kau seksi? Cih.

 

“Hanya satu ronde setelah itu semua informasi menjadi milikku. Jadi sekarang lepaskan aku.”

 

“Baiklah hanya lima detik biarkan aku memelukmu seperti ini, Junghwa-yaa.” Sehun kembali memeluk erat pinggangku. Menempelkan tubuh polos kami menjadi semakin menyatu. Dapat kudengar dengan jelas detak jantungnya yang mulai normal.

 

Kuresapi aroma tubuhnya yang seperti vanilla. Membuatku sedikit tersihir hingga tanpa sadar, sebuah tusukan jarum suntik tepat menembus pembuluh nadi yang ada di leherku. Dalam sekejap tubuhku lemas, terkulai dibahunya.

 

“Han Junghwa, kau benar-benar bodoh.” Sehun menampakkan seringaiannya yang menakutkan.

 

 

 

 

*****

 

 

 

“Hyung! Bukankah dia… gadis bar itu? Ya! Apa yang kau lakukan padanya? Dia gadisku, Hyung!”

 

Jimin terperanjat melihat Jill pingsan dalam keadaan telanjang.

 

“Siapa bilang dia gadismu? Dia milikku, Park Jimin!”

 

Sehun dengan gesit memakai jubah tidurnya. Berjalan santai menuju laboratorium rahasia di sebelah ruangan pribadinya.

 

“Hyung katakan padaku bagaimana kau mengenalnya?” Sepertinya Jimin benar-benar hilang akal kecolongan satu langkah di belakang Sehun. Atasannya yang satu ini memang sangat serakah soal wanita.

 

“Dia sendiri yang menyerahkan tubuhnya padaku. Aku bisa apa jika ia yang meminta?”

 

Sehun berkonsentrasi mencampur larutan berwarna biru, menambahkan beberapa zat dan mengambilnya dengan pipet tetes.

 

“10 ml sepertinya cukup untuk melumpuhkan fungsi otaknya.” Sehun menimbang larutan yang kini berubah menjadi kuning terang tersebut.

 

“Apa yang kau lakukan, Hyung? Jangan-jangan..”

 

“Bisakah kau diam? Kau ini cerewet sekali.”

 

Dengan gusar ia mendorong Jimin yang menghalangi pintu. Berjalan ke arah Junghwa yang tergeletak tak berdaya di atas ranjang.

 

 

“Hyung! Kau tahu eksperimen kita belum sempurna. Bahkan kita tidak tahu apa efek samping jika kau berikan cairan itu padanya. Bagaimana kalau dia mati?” Jimin bergidik ngeri mendengar ucapannya sendiri.

 

Jemari Sehun terulur bersiap meneteskan cairan itu ke mulut Jill namun terhenti saat ia sadar Jimin terperangah menatap tubuh polos milik Jill, terpampang jelas dihadapannya.

 

“Apa yang kau lihat?” Sehun menarik selimut menutupi tubuh Jill, hanya sebatas dada.

 

“Ani, Hyung!” Jimin tergagap ketahuan sedang menikmati tubuh telanjang Jill yang memang memabukkan bagi setiap pria yang melihatnya.

 

“Kau pergi ke Sungai Han. Temui Sekretaris Jin. Bantu dia melenyapkan jejak Kai sebelum agent Black Corp yang lain menyadarinya.”

 

“Baiklah baiklaah! Dasar pria tengik. Bajingan menyebalkan!” Jimin mengumpat sembari melaksanakan perintah Sehun.

 

Sehun meneteskan cairan kuning itu kedalam mulut Jill, mengangkat tengkuknya sedikit agar cairan itu masuk sepenuhnya. Ia menatap wajah Junghwa khawatir. Ada rasa was-was yang menghinggapinya jika saja ramuan itu gagal.

 

“Kau milikku, Han Junghwa. Sampai kapanpun.”

 

 

 

 

 

*****

 

 

 

 

EPILOG

 

 

“Bukankah aku menyuruhmu untuk istirahat, Nyonya Han? Ani. Sekarang kau Nyonya Oh.”

 

“Aku hanya membantumu membereskan meja kerja. Kau kan tahu aku paling benci kotor.” Tangan lincah Junghwa merapikan meja marmer melingkar dengan nama Oh Sajang tertempel manis didepannya.

 

Arasseo.” Sehun bergerak mendekatinya. Memeluk Junghwa dengan sayang, seolah tubuh itu sangatlah ringkih. Menangkup kedua pipi tirus Junghwa dan menghisap lembut bibir yang kini tersenyum lembut untuknya. Hanya untuknya.

 

Siapa sangka bibir angkuh yang dulu selalu mengumpatnya kini dengan mudah dikulumnya?

 

“Mmmhh… Kalau kau seperti ini kapan aku selesai hmm?” Junghwa mulai sadar kecupan Sehun semakin menuntut.

 

“Kutunggu kau di bawah. Hari ini aku sepenuhnya milikmu.” Sehun mengecup sekilas hidung dan bibir tipisnya. Melangkah keluar ruangan dengan perasaan bangga.

 

Han Junghwa. Gadis pembunuh dengan deretan korban di tangannya. Siapa yang menyangka dengan mudahnya jatuh kepelukanku? Beruntung zat yang kuberikan bereaksi positif dengan tubuhnya. Tidak masalah jika ia kini hilang ingatan asalkan ia hanya mendesahkan namaku, dan bukannya Kai. Tubuh indahnya terlalu berharga untuk dibiarkan begitu saja.

 

 

Selamat tinggal, Jill.

 

 

Selamat datang, Han Junghwa.

 

 

 

 

END

 

 

 

DOORR

 

HAHA

 

Pasti banyak yang ga suka endingnya yaa haha.

 

Thankyou sudah support selama ini.

 

Kalau mau nyumpahin author boleh kokkk haha.

 

Lets knowing each other by sending your greeting via Twitter / askfm / IG

 

Ask my ID here hildashin@gmail.com

 

Kalau banyak yg minta sequel (MUNGKIN) saya pertimbangkan XD

 

See ya! ^^

 

 

 

115 thoughts on “Code Number Part 3 (END)

  1. Cerita nya bgus bgt.. Nyesel baru baca skarang.. Karna awal nya udh sma kai.. Suka jill nya sma kai aja.. Slama kenal ya thor.. Aku readr bru..

    Suka

  2. Agak nyesek juga yaah :3,
    Walaupun bias ane sehun, tapi karena pertama udah ama si kai nya, jadi engga seneng seneng bgt akhirnya sm sehun

    Suka

  3. Apa ini ?! Kai nya mati ? Goddd gak mau gak mau -kece an Sehun sih sebenernya wk- tapi atuh lah Kai kan ‘lebih dulu’ . Ini harus ada sequel sih fix , binggung tapi mau milih Kai atau Sehun . Wkw kalo efek obatnya udh hilang Jill pasti marah bgt tuh sama Sehun dan nyari in Kai . Sehun apaan main dateng aja , caranya licik lagi . Beteee sama Sehunnnnn
    Demo sequel authorrrr

    Suka

  4. Udh di baca berkali-kali juga nih FF masih seru aja. Kalau baca selalu ngebayangin yang jadi ceweknya itu gue#wkwkwkw =)) =)) 😀
    Yg pasti FF nya keren bgt gk nyakak kalau endingnya Sama sehun. Walaupun gue gk terlalu suka Sama EXO karena mata gue udh di sihir duluan Sama anak” BTS yang absurd bgt itu. Dan ini FF pertama yg gue baca sampai 6 kali gk bosen” #lebayamatnihorg!!
    Ok segitu aja gue comentnya! Salam kenal dari aku #JR 😉

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s