Come Back To Me Part 1 of 2


76568666

 

Author                  : Banana

Title                       : Come Back To Me

Category              : NC21, Romance

Cast                       :

Shin Dong Wook  (B1A4 CNU)

Baro B1A4

Kang Si Hyun

A/N                        : FF ini adalah sequel dari FF terdahulu daku yg berjudul (Don’t Look Back yang di post di blog Flying ini juga ^_^

 

@@@

“maaf.” Aku berpaling ketika pria yang memelukku mulai mencium bibirku dengan penuh hasrat. Aku melepas pelukannya perlahan, aku mengalihkan pandanganku ke dapur, membawa segelas orange jus yang habis sebagai alasanku pergi ke dapur.

 

Baro hanya diam melihatku, bukan pertama kalinya aku menolak seperti tadi. Dia juga pasti mengerti kenapa aku selalu menolak skinship kami jika sudah berlebihan. Meskipun aku tahu sebenarnya dia mulai merasa risih dengan penolakanku.

 

Pikiranku kacau kembali ke dua minggu yang lalu, sial. Kenapa kami bertemu lagi. Aku melihat ke arah ruang tamu. Baro kembali sibuk dengan ponselnya, aku mendesah pelan. Tepat seminggu yang lalu Baro melamarku, aku belum menjawabnya, masih belum bisa.

 

Aku kembali duduk di sebelahnya, berusaha bersikap santai. Baro terlihat serius menatap ponselnya, aku melihat sekelibat jika itu sebuah pesan tapi entah darimana, tak lama ponselnya berdering. Baro menatapku sebentar lalu mengangkat teleponnya. Perasaanku tiba-tiba resah.

 

“begitukah? Terimakasih informasinya. Aku akan mentransfer bayaranmu.” Pria ini terlihat seperti agen atau mafia jika mulai berbicara dengan mata-mata pribadinya, semua informasi bisa di dapat dengan cepat mengenai apapun, tunggu baru saja aku bilang jika Baro punya mata-mata yang pandai bukan, oh tidak.

 

“kenapa kau tidak memberitahuku.” Aku meliriknya, dia melihat ke arah televisi dengan pandangan tajam, jangan bilang jika dia tau kalau aku bertemu pria itu lagi.

 

“bisa kau jawab aku?” kali ini dia menatapku, cukup menusuk. Aku menggigit bibir dalamku, ini tidak baik.

 

“itu tidak penting.”

 

“tentu saja penting untukku, bagaimana aku tahu kalau kau ternyata ingin kembali ke pelukan brengsek itu, ternyata ini alasanmu tidak bisa menerima lamaranku?”

 

“aku bukan tidak menerima, aku hanya butuh waktu berpi…”

 

“kau masih mencintainya bukan, aku melihat semua foto pertemuan kalian kema..”

 

“kau memataiku? Apa aku musuhmu? Kenapa kau tidak pernah percaya padaku, apa kau lihat di foto itu aku memeluknya? Aku menciumnya? Pertemuan kami tidak di sengaja, dan aku tidak mencintainya sama sekali.”

 

“lalu kenapa kau masih ragu menikah denganku.” Baro menekan perkataanya, aku tidak bisa menjawab yang satu itu, aku juga tidak tahu kenapa aku masih ragu dengan hubungan kami.

 

“kau tidak pernah mencintaiku.”

 

“tentu aku men..”

 

“kau selalu menolakku, seperti beberapa saat tadi.”

 

“Baro, suatu hubungan tidak bisa di nilai hanya dengan melakukan skinship. Lagipula kita belum punya ikatan resmi untuk melakukan sejauh itu.”

 

“lalu kenapa kita tidak menikah? Oh, atau kau masih belum bisa melupakan sentuhan si brengsek itu ketika menidurimu?”

 

Kepalaku memanas, aku menamparnya seketika tanpa sadar, aku tidak suka perkataannya. Apa dia tidak menghargai kesulitanku selama ini.

 

“kau yang selalu membahasnya Baro, jika aku tidak berhasil melupakannya maka itu salahmu.” Aku berkata tegas, dia terlihat marah.

 

“baiklah, ingatlah dia selama kau mau. Jangan lupakan dia yang membuatmu tidak bisa mengandung lagi.” Dadaku tertikam mendengar kalimatnya, mataku ikut memanas, tanganku mengepal kencang dan air mataku berlinang.

 

Baro terlihat menyesal tapi juga berusaha meyakinkanku jika masa laluku harus di lupakan, tidak ada lagi Dongwook. Namun perkataannya menyakitkan. Dia menunduk dan memegang kepalanya.

 

“maaf, aku tidak berniat menyakiti perasaanmu, aku hanya terlalu takut kehilanganmu. Karena aku tahu aku tidak cukup baik padamu selama ini, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku benar-benar ingin kau menjadi teman hidupku.” Dia langsung memelukku hangat, aku tidak membalas pelukannya, tapi airmata-ku jatuh ke pundaknya.

 

“menikahlah denganku, kita bisa memulai hidup yang baru. Apapun yang kau mau akan ku lakukan.”

 

“kau tahu aku tidak bisa mengandung dan memberikanmu keturunan.”

 

“kita bisa mengadopsi berapapun yang kau mau.”

 

Aku membalas pelukannya, ku akui Baro adalah pria yang baik, meski dia terlihat tak acuh padaku selama kami berhubungan namun dia tidak pernah mengeluh tentang kekuranganku. Faktanya aku tidak bisa membiarkan Baro masuk ke dalam hidupku, bagaimanapun sebuah keturunan adalah hal yang sangat penting dalam suatu keluarga. Terlebih ibunya tidak merestui hubungan-ku dengan baro sejak awal karena kekuranganku sebagai wanita.

 

“lupakan dia, hiduplah denganku.”

 

aku menutup mataku, berusaha mencari jalan keluar untuk kami berdua.

 

“baiklah, kita menikah…. secepatnya.” Baro memelukku erat, dia mengecup puncak kepalaku sambil berterima kasih berulang kali. Mungkin ini yang terbaik.

 

 

@@@

 

 

“oppa, apa yang kau pikirkan, siapa sebenarnya wanita yang kita temui dua minggu yang lalu.” Hani menggayutkan tangannya di lengan Dongwook, pria itu hanya tersenyum sesaat dan menggeleng.

 

“kenapa kau masih tidak mau jujur padaku, dia mantan istrimu kan?” Dongwook melihat Hani dengan pandangan kaget. Hani tersenyum sepolosnya menunjukan eye smilenya.

 

“kau lupa jika appa punya mata-mata, aku bertanya padanya tentang mantan istrimu yang wajahnya persis seperti yang kita temui waktu itu.” Hani mengeluarkan sederetan kalimat yang pelan namun penuh tekanan.

 

“oppa, kau harus ingat kerjasama keluarga kita, perusahaan ayahmu hampir banghkrut jika bukah ayahku yang menolongnya, aku tidak punya pilihan selain mempercepat pertunangan kita.” Gadis itu selalu tersenyum tak peduli apapun yang di ucapkannya, seperti dunia ada di bawah kekuasaan keluarganya, Dongwook mengusap hidungnya dan tersenyum kembali.

 

“ku kira kau sudah berubah, ternyata kau masih suka mempermainkan orang lain. Kuharap kau tidak menyesali keputusanmu untuk menjadi istriku.”

 

“tidak ada yang perlu di sesali, aku bisa menjadi istri yang baik, dan kau juga harus menjadi suami yang baik.”

 

“kau tau suami yang baik adalah suami yang mencintai istrinya, aku tidak mencintaimu.” Dongwook pergi meninggalkan Hani sendirian di restauran itu, Hani tersenyum kecut, jari lentiknya menyentuh gelas kaca berisi wine dan mencengkram gelas itu.

 

“wanita sialan, akan kubuat kau kehilangan sekali lagi, mungkin hanya kehilangan anakmu belum membuatmu jera.” Hani menyipitkan matanya, paras cantik itu tidak terlihat polos seperti yang dia tunjukan selama ini kepada orang lain, hanya keluarganya dan Dongwook yang tahu sifat aslinya, untunglah Dongwook tidak mengetahui penyebab kebangkrutan keluarga Dongwook.

 

@@@

 

Aku memandang jari manisku yang sudah terpaut dengan cincin putih berlian dari Baro, pernikahan kami akan berlangsung sebulan lagi, dengan susah payah Baro meyakinkan ibunya jika dia akan bahagia hidup bersamaku. Aku tau calon mertuaku tidak menyukaiku sama sekali, mengingatkanku pada mantan ayah mertuaku yang kejam itu.

 

“Sihyun, kau harus mencoba gaunnya” Baro menggegam tanganku, mungkin dia tau aku melamun sejak tadi, aku tersenyum dan berjalan ke ruang ganti.

 

Asisten Butik itu membantuku memakai gaunnya, aku berkaca melihat tubuhku, mengelus perutku yang akan selalu rata kecuali aku berubah menjadi sangat gemuk. Gaun ini begitu indah sampai aku merasa jika aku tidak pantas memakainya, terlalu indah untukku. Sebenarnya aku tidak suka dengan pesta pernikahan kami yang mewah, tapi mungkin ini yang pertama untuk Baro jadi dia ingin moment penting itu di gelar sebesar-besarnya.

 

“wah, nona sangat cantik, bentuk tubuh nona masih sangat bagus walaupun nona pernah ha…” perempuan setengah baya untuk langsung terdiam dan mengunci mulutnya, aku tersenyum padanya dari kaca.

 

“tidak apa-apa, menurutmu aku pantas memakainya?”

 

“iya, sangat cocok dengan anda. Ayo kita keluar dan biarkan calon suami anda melihat betapa cantik calon istrinya.” Aku tersenyum kaku padanya, sebelum keluar dari ruang ganti aku menghembuskan nafasku perlahan.

 

Dapat kulihat tatapan Baro yang terpaku padaku, bibirnya terbuka sedikit, tidak pernahkah melihay sorang pengantin secara langsung?.

 

“baru melihat wanita cantik?” tanyaku sambil tertawa, dia ikut tertawa dan mendekat padaku, dia sudah memakai Tuxedonya, sangat tampan dan gagah.

 

“aku jadi sangsi untuk mengundang tamu pria ke pernikahan kita.” Dia bercanda sambil melihat semua bagian dari tubuhku, tatapannya sungguh puas, well memang dia yang memesan gaun ini untukku.

 

“tidakkah menurutmu bagian dadanya terlalu rendah, aku harus menutupinya dengan tanganku saat keluar tadi.”

 

“kita bisa merubah sedikit jahitannya jika kau mau”

 

“kau suka?” aku bertanya lagi dan dia mengangguk pasti.

 

“aku akan menjadi pria yang beruntung sebentar lagi”

 

@@@

 

Dongwook menatap lurus ke peti mati tempat ayahnya bersemayam, tidak ada yang bisa mengartikan perasaan Dongwook saat ini, tidak ada raut sedih atau apapun itu, hanya ada pandangan kosong dari matanya.

 

Hani yang berada disampingnya terus menggenggam tangannya, semua aset perusahaan dan harta ayahnya akan di wariskan pada Dongwook, yang artinya Dongwook bisa menghandle semuanya mulai sekarang, dia tidak bersedih sama sekali. Yang di pikirannya hanya mencari jalan bagaimana dia bisa keluar dari lingkaran keluarga Hani sebelum mereka bertunangan.

 

“oppa, apa yang kau pikirkan.” Hani bertanya, wajahnya menunjukan kekhawatiran yang tentunya tidak setulus itu di mata Dongwook, pria itu hanya tersenyum dan membenarkan letak kacamatanya.

 

Upacara pemakaman berjalan lancar, semua kerabat dekatnya hadir di acara itu, setelah jasad ayahnya di kremasikan, Dongwook meminta Hani tidak usah ikut ke tempat pelepasan abu ayahnya. Karena walau Dongwook sangat membenci ayahnya, dia butuh waktu untuk merenung sendirian.

 

Setelah berpamit pulang Hani menghubungi mata-matanya untuk mengetahui kabar terbaru dari Sihyun. Senyum mengembang di bibirnya yang merona merah, ternyata Sihyun akan menikah dengan pria lain. Ini kabar bagus karena dia tidak perlu repot-repot menyingkirkan Shiyun toh wanita itu akan menikah.

 

“ternyata Baro, aku tidak menyangka wanita sialan itu menikahi sepupu jauhku.”

 

Dongwook menatap sungai tempat pembuangan abu ayahnya, memperhatikan aliran sungai yang membawa abu ayahnya menjauh, dia tidak bisa fokus saat ini, dia merasa kepergian ayahnya merupakan kelegaan namun juga terasa berat. Ayahnya belum mendapat hukuman yang sesuai karena sudah menghancurkan hidupnya, menghancurkan semua miliknya.

 

“bagaimana bisa kau pergi begitu saja, aku harap kau tidak bisa tenang disana.”

 

Dia teringat dengan sosok ayahnya yang selama ini dikenalnya, tidak pernah ada kenangan manis disana. Dari kecil ayahnya selalu bersikap kasar, menganggap Dongwook dan ibunya adalah suatu beban dan Dongwook harus menurut apapun yang di inginkan ayahnya hanya karena dia adalah anak satu-satunya. Ibunya harus pergi lebih dulu saat Dongwook masih kuliah, sejak saat itu ayahnya makin menjadi dan terus menghancurkan hidupnya perlahan-lahan.

 

Mulai dari mimpinya untuk bermusik, mimpinya untuk hidup bahagia dengan Sihyun, sial. Kenapa kehidupan ini terlalu berat. Dongwook meninggalkan tempat peristirahatan terakhir ayahnya dan memutuskan untuk beristirahat di rumahnya.

 

Selama perjalanan pulang Dongwook hanya melihat kearah luar kaca mobilnya, melihat pohon yang mulai berguguran menjelang musim dingin. Dia teringat dengan ruang ayahnya dirumah, mungkin dia akan memeriksa beberapa berkas disana untuk kepentingan perusahaan yang akan dia jalankan setelah ini.

 

“apa Tuan muda punya rencana keluar lagi?”

 

“tidak, kau boleh pulang, kembali besok pagi.”

 

“baik Tuan.” Dongwook turun dari mobilnya, langkah besar kakinya berjalan menuju ruangan ayahnya, beberapa pelayan rumahnya memberi hormat dan hanya si angguki sedikit darinya.

 

Setelah berada di dalam ruangan ayahnya, perasaan kecewanya kembali muncul, dia ingat betul kapan terakhir kali berada disini, tepat sebelum ayahnya mengancurkan karirnya saat dia masih bersama Sihyun. Dongwook duduk di bangku empuk ayahnya dan membuka semua laci yang ada di meja kerja ayahnya. Bahkan tidak ada fotonya atau ibunya yang berada di ruangan ini, sangat bagus.

 

Dia mengeluarkan beberapa berkas dan menaruhnya di meja, kebanyakan berkas itu adalah laporan keuangan perusahaan dan proyek yang masih berjalan.

 

Dongwook mencoba menyalakan komputer ayahnya yang sialnya masih di password, beberapa kata sandi yang dia coba gagal, tanggal lahir ibunya bukan sandi yang tepat, tanggal lahirnya itu tidak mungkin, tanggal lahir ayahnya juga bukan. Dongwook berpikir sejenak, dia teringat dengan deretan angka yang mengartikan tanggal ibunya meninggal. Sialan, kenapa menggunakan sandi dengan hari meninggal seseorang.

 

Dongwook melihat sekilas folder berkas yang ada didalamnya, tangannya bergerak kearah dengan mouse yang di pegangnya, dan berhenti di nama folder “Emas” dia membuka folder itu, berisi tiga rekaman video dari ruangan ini, dari CCTV ruangan ini lebih tepatnya. Bibirnya membentuk senyum setelah melihat semua video itu.

 

“sudah kuduga dari awal.”

 

@@@

 

“oppa, kau terlihat sangat tampan.” Hani tersenyum melihat setelah jas hitam yang Dongwook pakai, hari ini adalah hari pertunangan mereka. Dongwook tersenyum menanggapinya, selalu begitu. Tidak ada pujian yang di keluarkan pria itu untuk calon tunangannya.

 

Hani berkaca merapikan poni depannya, tidak menyedari senyuman manis Dongwook tadi berubah sedikit mengerikan. Dan dengan keyakinan yang ada di dalam hati pria itu, pertunangan ini tidak akan terjadi, dan tidak akan pernah terjadi.

 

“Kau ingin aku membatalkannya sekarang, atau nanti di depan tamu undangan kita?” Hani menatap tidak mengerti.

 

“maksudmu apa?” pria itu tersenyum lagi dan merapikan rambut Hani.

 

“Hani, kau jangan pernah berharap dengan pertunangan atau perniakahan kita. Aku tidak ingin di miliki oleh wanita sepertimu.” Hani menegang, ada apa dengan pria ini yang tiba-tiba berkata begitu tajam.

 

“wanita sepertiku? Sebenarnya apa yang kau maksud.”

 

“sayang sekali ayahku tidak cukup pintar menyembunyikan semua rahasia kalian, dulu aku berharap di balik sikap egoismu masih ada kebaikan, tapi justru kau lebih buruk dari yang ku bayangkan. Kau ingat pernah berkunjung kerumah ayahku dan mengobrol dengannya di ruang kerjanya? Bebrapa tahun yang lalu saat aku masih menikah.”

 

Kali ini Hani membulatkan matanya, darimana Dongwook tau tentang pertemuannya dengan ayah Dongwook, Hani menelan salivanya dan tangannya mulai mendingin.

 

“ternyata kau juga ikut berperan untuk kehancuran rumah tanggaku, memanfaatkan kejatuhan keluargaku untuk memenuhi keinginan busukmu. Dari kita masih belia kau tahu aku sama sekali tidak memiliki rasa untukmu. Sama sekali tidak ada.”

 

“lalu kenapa kau menerima hubungan kita satu tahun belakangan ini?”

 

“seperti yang kau bilang, keluargamu sudah berjasa untuk keluargaku. Hubungan kita tidak lebih dari sekedar kepentingan materi”

 

“ta.. tapi kau tidak bisa mencampakanku begitu saja, aku bisa menghancurkan semua yang kau miliki sekarang juga jika kau berani membatalkan pertunangan ini!”

 

“silahkan, tapi kau akan ikut hancur Hani, Video rekaman pertemuanmu dengan ayahku akan tersebar luas dan keluarga yang selalu membanggakanmu akan mendepakmu keluar dari rumahmu sendiri, aku juga punya bukti kelicikan perusahaan kalian. Mungkin beberapa investor akan meninggalkan kalian begitu saja, dan aku? Aku tidak akan mengalami kerugian apapun.”

 

“aku.. aku minta maaf oppa, tolong jangan batalkan pertunangan kita, aku melakukan semuanya untukmu. Aku ingin bersamamu oppa, beri aku kesempatan sekali saja untuk berubah.” Hani menggenggam pergelangan tangan Dongwook, matanya memerah ingin menangis.

 

“kesempatanmu sudah hilang bertahun-tahun yang lalu saat kau menginjakan kakiku di rumah ayahku.” Tatapan Dongwook menusuk tajam ke arah Hani, raut wajahnya dingin selayaknya seseorang yang ingin membunuh. Hani melepaskan tangannya dari Dongwook takut.

 

“jangan pernah menunjukan wajahmu di depanku, kalau perlu pergilah dari negeri ini jika kau tak ingin aku semakin mempersulit keadaanmu, karena aku baru saja berubah pikiran.” Hani menatap ragu pria yang di depannya.

 

“tadinya aku akan melepasmu begitu pertunangan ini batal, tapi itu terlalu mudah untukmu. Aku akan memastikan jika perusahaanmu akan bangkrut perlahan-lahan, jadi kusarankan kau pergi jauh-jauh dan membawa semua tabunganmu untuk hidup di luar negeri. Carilah pria kaya yang mau menikahimu, itu satu-satunya cara kau bisa hidup mewah untuk waktu yang lama.”

 

Hani kehilangan keseimbangannya setelah Dongwook pergi, tubuhnya bergetar dengan semua ancaman yang dia terima. Sialan, kenapa keadaan berbalik memojokannya.

 

“brengsek kau dongwook!”

 

@@@

 

Nafasku tidak teratur saat ini, kegugupanku memuncak saat ini, aku bahkan tidak bisa tidur tadi malam. Waktu terasa begitu cepat dan sekarang aku harus menikahi Baro. Aku tidak lagi memikirkan opini orang lain terhadap status ku yang sudah pernah menikah, aku hanya takut jika pernikahan ini berjalan tidak baik. Perasaanku juga tidak enak, aku tahu feelingku sellau benar tentang keadaan buruk yang akan terjadi tapi kuharap kali ini aku salah.

 

Jam berdetak cepat di telingaku, entah sejak kapan pendengaranku menjadi tajam, aku masih duduk diam di depan cermin, ini waktunya. Aku hanya perlu berjalan ke altar dan menjabat tangan Baro, setelah itu kami akan mengucapkan janji suci masing-masing. Dan sedikit pesta setelahnya. Aku mengambil bucket bunga mawar merah yang harus kubawa saat di depan pendeta nanti.

 

Aku mendengar pintu terbuka, pelayan Baro masuk untuk memastikan aku sudah siap. Aku mengangguk dan menyuruhnya pergi duluan, aku berdiri dan mengecek kembali gaunku memastikan tidak ada bahan yang ku injak atau kusut, pintu terbuka lagi dan aku mulai kesal karena pelayan itu tidak sabar.

 

Tapi yang kutemukan jauh dari perkiraanku, dia berdiri di sana sambil menatapku datar, dan mengunci pintu ruangan ini. Aku berdiri kaku tak bisa bergerak, ya tuhan tolong kau hancurkan saja gedung ini sekarang juga. Aku harap aku hanya berhalusinasi, tapi sayangnya dia terlihat nyata, sangat nyata karena dia sudah berada di hadapanku. Aku menunduk menatap sepatu hitam mengkilatnya.

 

“aku tidak suka gaunmu, tidak cocok sama sekali.” Aku menutup mataku, dan kuharap aku bisa menutup telingaku.

 

“tolong pergi” aku mengumpulkan keberanianku untuk mengeluarkan dua kata itu, dia menyentuh pundakku, refleks aku menepis tangannya, mataku membulat marah.

 

Tatapannya tidak berubah, datar dan dingin. Aku bersumpah jika aku tak pernah melihat tatapan seperti itu darinya dulu. Tapi aku tidak bisa hanya berdiam diri. Kudengar ketukan di pintu aku ingin menjawab panggilan pelayan itu namun Dongwook menyipitkan matanya padaku mengencamku untuk tidak bersuara, dan aku tidak tahu kenapa aku tidak mengeluarkan suara apapun.

 

“kembali padaku.” Aku tidak percaya dengan yang dia ucapkan, kembali padanya? Apa dia gila mengucapkan perkataan itu dengan mudahnya di hari pernikahanku?

 

“apa kau sadar dengan ucapan gilamu?”

 

“kau mencintai pria itu?”

 

“iya, dan kuharap kau pergi sekarang, tidak perlu melihatku mengikat janji pernikahan dengan Baro, aku takut jika kehadiranmu bisa membawa kesialan.” Dia tertawa kecil, aku benar-benar membencinya.

 

“tidak semudah itu.” Dia menarik tanganku paksa, tubuhku menghimpitnya, tangannya melingkar erat di pinggang dan punggungku. Aku mendorong tubuhnya.

 

“lepaskan! Atau aku akan berteriak”

 

“silahkan, jika kau ingin semua orang tau calon pengantin wanita di pernikahan ini ketahuan sedang bercumbu dengan mnatan suaminya.” Bibirnya meraup bibirku dengan cepat, aku mengalihkan wajahmu agar bibir kami terlepas, tapi sepertinya dia tidak kehabisan akan karena kedua tangannya sudah di cengkramnya di atas kepalaku hanya dengan tangan kirinya, dan tangan kirinya menangkup daguku, dia berhasil mencuri ciuman dariku lagi. Aku meronta, tapi sialnya gaun pernikahanku membuat ku kesulitan bergerak. Aku merasa goyah saat tangannya yang menangkup dagunya melembut dan membelai pipiku. Dia melepaskan ciumannya dan berbisik tepat di telingaku.

 

“aku mencintaimu.” Airmataku turun, kenapa pria  ini terus menerus melakukan hal kejam padaku, ini tidak adil. Kenapa hanya aku yang merasakan sakit.

 

“kembalilah padaku, kita mulai lagi semuanya, aku tidak akan membuatmu kecewa lagi.”

 

“tolong lepaskan, aku harus menikahi orang lain. Kita hanya sebuah masa lalu.”

 

“kau akan menikah, tapi denganku, bukan orang lain.” Dia melepas tanganku, menghapus airmataku.

 

“ada banyak yang harus aku jelaskan padamu.”

 

“terlambat, apapun yang kau katakan sekarang sudah tidak berguna.” Aku mendorongnya pelan, dia tidak melakukan perlawanan, aku pergi bebrapa langkah darinya.

 

“kau akan melihat kehancurannya jika kau menikah dengannya.” Aku terdiam, apalagi yang dia bicarakan.

 

“aku benar-benar akan menghancurkan semua hidupnya jika kau pergi ke altar itu.” Aku berbalik, melihatnya dengan marah.

 

“iya, aku memang kejam. Kau hanya akan menikah denganku. Pergilah ke altar dan bilang padanya jika kau tidak bisa menikah dengannya, aku menunggumu di mobil.” Aku masih terpaku, dia melewatiku dan berkata dengan tegas.

 

“jika kau menikahinya, aku janji jika aku langsung menghancurkan semua miliknya sebelum kalian keluar dari gedung ini. Kau tak ingin hal sama terulang lagi kan. Melihat suamimu pergi karena kehidupan kalian hancur, setidaknya kau sudah mengalaminya denganku.” Aku menunduk, menyembunyikan airmatanya, aku mendengarnya memanggil namaku dengan lembut sebelum mengeluarkan kalimat yang menyakitkan lagi.

 

“aku hanya memberimu waktu sepuluh menit.” Dia tidak berubah, masih bersikap jahat padaku bahkan semakin menjadi. Aku tidak mungkin membatalkan pernikahan ini, Baro akan sangat marah apapun alasanku. Dan aku juga tidak ingin pergi dengan Dongwook,

 

Tapi bagaimana jika pria brengsek itu serius dengan kata-katanya, bagaimana jika rumah tanggaku hancur untuk yang kedua kalinya, ya tuhan kenapa kau memberikan cobaan yang sangat berat.

 

Tidak, aku tidak mau hal yang sama terjadi lagi, lagipula Baro akan menemukan wanita yang lebih baik dariku dan pastinya bisa membahagiakan Baro dengan ‘seutuhnya’.

 

@@@

 

Dengan langkah berat Sihyun berjalan menuju altar, bunga mawar merahnya yang cantik terlihat aneh karena kelopaknya terlepas saat Sihyun menjatuhnya bucket bunga itu saat Dongwook menariknya, air matanya jatuh ke pipi. Baro tersenyum melihat Sihyun berjalan di altar itu, tangannya menyambut Sihyun. Wanita itu tersenyum lembut padanya dan menyatukan tangan mereka.

 

Baro tidak dapat melihat air mata Sihyun dengan jelas karena wajah wanita tercantik hari ini tertutupi kain tipis berenda indah. Pendeta mulai memberi sambutan kepada semua undangan, Sihyun bisa merasakan kebahagiaan Baro yang terpancar dari wajah tampannya. Sihyun menjatuhkan bunganya dan membukan penutup wajahnya, Baro yang bingung dengan keadaan itu menatap calon pengantinnya dengan bingung.

 

“maaf” Sihyun menangis, Baro bisa melihat jelas air matanya sekarang.

 

“aku tidak bisa menikah denganmu” Baro dan semua para tamu undangan sangat terkejut dengan ucapan Sihyun tidak terkecuali calon ibu mertuanya.

 

“ada apa denganmu? Jika kau gugup kita bisa menundanya sebentar” Sihyun menggeleng.

 

“aku tidak pernah mencintaimu Baro, aku tidak bisa menikah denganmu, maaf tapi pernikahan ini tidak bisa di teruskan.” Baro terdiam, Sihyun menangis dan wanita tua yang tidak lain adalah ibu Baro berjalan menuju dua orang yang gagal mengikat janji suci itu, tangannya melayan kearah sihyun namun Baro menahannya.

 

“KAU GILA? KAU MEMBATALKAN PERNIKAHAN INI DENGAN SEPIHAK? SUDAH BAGUS ANAKKU MAU MENIKAHIMU ! DASAR JALANG!”

 

“Ibu tolong berhenti!”

 

“kau masih membelanya? Kau sudah dengar sendiri jika dia tidak mencintaimu! Harusnya dia menolak jauh hari bukan sekarang, dia hanya mau mempermalukanmu!”

 

Baro menunduk marah pada semua yang terjadi, tapi dia tidak bisa menatap Sihyun, bahkan tangisan Sihyun menyakiti pendengarannya. Baro ingin menyuruh wanita itu pergi tapi terlambat karena seseorang sudah menarik tangan calon pengantinnya keluar dari gedung. Dia mendengar ibunya terus berteriak marah dan bisikan para tamu. Baro melihat Sihyun berbalik menatapnya dengan tatapan menyesal, Baro percaya jika ini bukan Sihyun inginkan, pria brengsek itu pasti yang memaksanya.

TBC-

@@@

 

 

52 thoughts on “Come Back To Me Part 1 of 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s