Dream Or Real Part 5


Tittle : Dream Or Real

Category : Romance, Chaptered

Casts :

-Cho Kyuhyun

-Lee Donghae

-Lee Jiyoon

Other Casts : Find By Yourself

Author : Angel_Cho

Note : Terimaksih buat Ka Handa yang udah posting ff ini ^^ Semoga masih ada yang suka sama cerita gak jelasku ini yaa ^^ maksih juga buat Ka AnimePutri@Homedesign yang udah buatin cover nya. And this my home http://angelcho88.wordpress.com . Enjoy!

 

.

.

 

Dua minggu berlalu, namun situasi antara Jiyoon dan Kyuhyun tetap sama—dalam kebisuan, hening tanpa percakapan. Ya… setelah kejadian malam itu—dimana Kyuhyun tiba-tiba saja mendiami Jiyoon, pria itu benar-benar menambah itensitas mesin pendinginnya. Benar-benar tanpa suara. Banyangkan saja, hidup dengan orang yang tidak mau berbicara, bagaimana rasanya? Demi apapun itu sungguh tidak mengasikkan.

Pernah suatu malam Jiyoon mencoba ingin mengorek informasi penyebab sifat Kyuhyun yang demikian dengan bertanya secara baik-baik, namun yang ada Kyuhyun tak menggubrisnya sama sekali. Dia justru pergi meninggalkan dirinya dikamar dan melangkah menuju perpustakaan. Tempat yang belakangan ini menjadi favorit Kyuhyun. Bahkan Kyuhyun sering tidur disana, ketimbang dikamar. Argh! Sungguh menyebalkan! Ingin rasanya Jiyoon mencincang Kyuhyun hidup-hidup.

“Aku mencincangmu!” Gumam Jiyoon menggeram.

“Kau ingin mencincang siapa?” Alis Jungsu bertaut heran saat gumam Jiyoon terdengar olehnya.

Jiyoon tersenyum bodoh karena ia baru sadar kalau gumaman itu keluar tanpa disengaja. “Aniya ahjussi.” Ia menggeleng dan kembali mencoba fokus dengan pekerjaan dimeja. Namun gagal, pikirannya selalu saja tertuju pada suami sialannya. Ck.

“Kau ingin makan siang tidak Nona Muda?” Jungsu melihat jam tangannya, sembari membereskan berkas-berkasnya. Ia bangkit, tapi Jiyoon tetap bergeming dengan pandangan kosong. Ada apa dengannya?

“Nona?” Seruan Jungsu membuat Jiyoon mengerjapkan matanya.

“Eh.. kenapa ahjussi?”

Jungsu menghembuskan nafasnya, lantaran ia kembali mendapati Jiyoon yang seperti ini lagi. Melamun dan sering tidak fokus. Sebenarnya ia sudah curiga hal tersebut ada kaitannya dengan Kyuhyun. Karena melihat cara Kyuhyun berpapasan dengan Jiyoon saja seperti orang lain. Well ya mereka memang pasangan yang mendadak menikah, jadi wajar kalau mereka masih membutuhkan adaptasi satu sama lain, tapi kali ini mereka benar-benar berbeda.  Padahal mereka sering berpapasan saat di kantor. Heum… ya, jangan heran kalau mereka sering bertemu di area kantor. Itu karena semenjak dua minggu yang lalu Kyuhyun sudah mulai bekerja disini. Tapi bukan sepenuhnya bekerja. Kyuhyun disini bekerja sambil belajar mengenai dunia perbisnisan. Jadi jabatannya pun masih sangat abu-abu, meski ayah Jiyoon menempatkan diruang General Manajar. Ruangan yang bersebelahan dengan Jiyoon. Sebab Jiyoon pun menduduki jabatan tersebut.

“Waktunya makan siang.” Sahut Jungsu malas.

“Ah… ya, ayo cari sesuatu ahjussi. Aku sudah lapar.” Ia tersenyum, lalu menyambar ponsel. Jungsu hanya bisa mengela nafas begitu Jiyoon berlalu begitu saja darinya. Dasar Nona Muda!

“Nona sedang ada masalah dengan Kyuhyun?” Gerakan tangan Jiyoon saat akan menekan tombol lift terhenti kala pria disamping bertanya.

Jiyoon menggeleng pelan. “Tidak. Aku tidak ada masalah apapun dengan Kyuhyun.”

Jawaban yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Selalu saja begitu. Dan itu membuat Jungsu jengah. “Ayolah Nona, kau tidak bisa membohongiku. Lihat saja tingkahmu, selalu melamun dan tidak fokus. Apa-apaan itu.” Cibirnya.

Mendesahkan nafasnya. Jiyoon lalu menatap wajah Jungsu dengan lesu. “Aku tidak tahu ahjussi. Tapi belakangan ini Kyuhyun mengabaikanku. Dia tidak mau bicara denganku. Bahkan saat tidur saja dia memilih diruang perpustakaan.” Akuh Jiyoon muram.

“Mungkin kau melakukan kesalahan?” Tebak Jungsu. Sesaat kemudian mereka masuk kedalam lift begitu pintu otomatis didepan mereka terbuka.

“Tapi aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun, ahjussi. Hari itu tiba-tiba saja Kyuhyun mendiami dan membentakku. Padahal malam itu kami baik-baik, bahkan dia begitu manis saat…” Jiyoon segera menutup mulut dan memalingkan wajahnya. Ia malu, karena secara tidak langsung ia sudah mengatakan apa yang ia dan suaminya lakukan.

Bibir Jungsu berkedut, menahan tawa karena ucapan Jiyoon. “Aku kira kalian tidak akan melakukannya lagi. Tapi ternyata… bahahahaha.” Dan tawa itu membahana didalam lift. Untung saja hanya ada mereka berdua yang ada disana.

Sial! Umpat Jiyoon dengan wajah yang sudah masih seperti cabai merah. “Itu tidak lucu ahjussi!” Gerutunya kesal.

“Itu bagimu. Tapi tidak bagiku.” Ujar pria itu setelah tawanya meredah. “Coba kau ingat-ingat, apa saja yang terjadi. Mungkin saja ada sesuatu yang membuat Kyuhyun marah dan tidak suka padamu.”

Jiyoon diam, memikirkan apa saja yang terjadi dihari tersebut. Tapi yang jelas, saat pagi mereka baik-baik saja. Lalu ia pergi kekantor, dan kesal karena Jungsu hilang entah kemana. Padahal pria itu sudah berjanji padanya untuk makan siang bersama. Kemudian, ia memutuskan makan siang sendiri dan… huft ia bertemu dengan mantan sialannya—Lee Donghyu. Dan lebih sialnya lagi, pria itu mengajaknya makan siang bersama. Lalu…— ya Tuhan! Jiyoon langsung menepuk dahinya.

“Astaga…” Serunya yang membuat dahi Jungsu berkerut. “Aku bertemu dengan Donghyu, lalu makan siang bersama. Dan Kyuhyun melihatnya.” Jiyoon manatap Jungsu dengan terkejut karena kesadarannya sendiri.

Pria disamping Jiyoon itu mendengus. “Pantas saja dia marah. Mungkin dia pikir kau bertemu dengan Donghae. Sementara Donghae adalah pria yang sudah menyakiti dirimu dan ya… tentu saja kau bodoh karena mau bertemu dengan pria itu. Pada kenyataannya ‘kan Kyuhyun belum mengetahui kalau Donghae dan Donghyu adalah saudara kembar.” Jiyoon memejamkan matanya, menyadari kebenaran akan ucapan pria itu. “Dan kau, untuk apa kau mau bertemu dengan pria itu lagi? Sudah jelas dia menyakitimu. Dasar bodoh!”

Kali ini Jiyoon terima ucapan Jungsu, karena faktanya ia mengakui jika dirinya memang bodoh. “Aku harus bertemu dengan Kyuhyun, ahjussi.” Serunya.

“Temui saja dia.” Seloroh pria tampan itu. “Dia ada diruangannya.” Katanya yang mengerti dengan tatapan Jiyoon yang seolah bertanya dimana keberadaan suaminya.

Jiyoon dan mengangguk. Meski Jungsu adalah pria yang menyebalkan, tapi pria itu selalu mengerti dirinya. Benar-benar pria yang baik.

===o0♥0o===

Tulisan demi tulisan yang terdapat dilembaran buku terus membuat mata seorang pria terfokus kearah sana. Sudah tiga jam lebih pria itu mencoba mempelajari agar mengerti dengan rangkaian kata-kata disana. Namun sayang, hasilnya nihil. Dia masih tidak bisa mengerti dengan maksud yang tertera.

“Argh!” Umpatnya sembari mengacak-acar rambutnya. Kalau saja ada Jungsu, mungkin ia bisa bertanya padanya. Tapi pria itu tengah sibuk dengan atasannya yang dia ikuti kemana-mana.

Suara ketukan pintu membuat pria itu sedikit merapihkan dirinya yang sudah masam sejak tadi pagi. Setelah dia mengatakan kata ‘masuk‘, pandangannya langsung teralihkan kembali pada kertas-kertas didepannya.

“Kyuhyun.” Panggilan seseorang yang sangat Kyuhyun tahu siapa pemiliknya.

“Apa ada yang ingin Nona bicarakan denganku?” Meski nada Kyuhyun terdengar santai, namun bagi wanita berparas cantik itu tidak demikian. Dia yakin sekali jika Kyuhyun masih sedikit enggan berbicara dengannya.

“Bisakah kita bicara seperti biasa.” Pintanya sembari duduk didepan Kyuhyun. “Jujur saja, aku tidak suka dengan situasi ini.”

“Situasi apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti.”

“Aku tahu, kalau aku salah karena—” Ucapan Jiyoon terpotong begitu ponsel Kyuhyun berdering disamping berkas-berkas.

Yeobseyo.” Sahut Kyuhyun yang tidak mengacuhkan Jiyoon. “Oh geurae, aku akan segera kesana. Terimaksih.” Kyuhyun kembali meletakkan ponselnya, dan melirik pada Jiyoon. “Maaf aku harus pergi, ada sedikit urusan.” Pamit Kyuhyun seraya meninggalkan Jiyoon yang mendengus lelah karena pria itu pergi begitu saja.

“Kau benar-benar marah ya?” Gumam Jiyoon setelah tubuh suaminya tidak terlihat lagi oleh padangannya.

Lalu sekarang ia harus bagaimana? Kapan lagi ia harus berbicara untuk meminta maaf pada Kyuhyun. Sementara kadar pertemuan mereka saja sangat sedikit. Dikantor sibuk dengan pekerjaan, dan saat dirumah Kyuhyun fokus teman-teman barunya—buku.

Astaga…

===o0♥0o===

Kyuhyun mendesahkan nafasnya, saat ia sudah berada didalam lift seorang diri. Pertemuannya dengan Jiyoon tadi hampir saja membuat emosinya kembali mencuat. Namun syukurlah, ia bisa menahannya. Karena jujur saja Kyuhyun masih kesal dengan istrinya itu. Bisa-bisanya dia bertemu dengan pria yang sudah menyakitinya. Ia bukan marah karena cemburu, tapi ia marah karena kesal dengan Jiyoon yang masih saja bertemu mantan calon suaminya.

Kyuhyun pikir, siapa yang membuat dirinya seperti sekarang. Oke, ia akui kalau kehidupannya kini lebih baik dengan semua fasilitas yang ia terima dari ayah mertuanya. Namun tetap saja, baginya ini tidak menyenangkan sama sekali. Sekarang hidupnya justru berubah menjadi robot, dikendalikan oleh orang. Dan orang itu adalah mertuanya sendiri. Jika saja Jiyoon dan calon suaminya tidak memiliki masalah, mungkin ia pun tidak akan seperti ini. Namun pada kenyataanya, ia justru begini. Dan itu semua gara-gara pria bodoh yang sudah menyakiti Jiyoon. Jadi jangan salahkan kalau dirinya ini begitu geram dengan sikap Jiyoon waktu itu.

“Tuan Cho.”

Kyuhyun terkesiap sadar begitu suara wanita yang tadi menelfonnya terdengar. “Ye, Nona Ahn.” Sahutnya sopan.

Sajangnim bilang saya harus menjelaskan tentang proyek dengan tengah Nona Lee kerjakan.” Kyuhyun manggut-manggut. “Jadi mari ikut saya.” Wanita yang umurnya tidak jauh dari Kyuhyun itu melangkah mendahuli. Mengantarkan pria itu untuk keruangannya dan menjelaskan semua yang tadi atasannya suru.

Sebenarnya Kyuhyun sendiri tidak mengerti dengan alasannya Tuan Lee yang menyuruhnya mengerti dengan proyek yang tengah Jiyoon jalani. Well, keberadaannya disini memang untuk mempelajari bisnis, namun ia tidak menyangka jika ia harus mencampuri proyek istrinya. Heran.

Ahn Jehyeon, nama wanita yang tengah menjelaskan pada Kyuhyun tersembut terus berbicara panjang lebar, hingga tidak menyadari air muka frustasi saat ini Kyuhyun. Bukan karena pusing, melainkan karena Kyuhyun tidak mengerti dengan penjelasan Ahn Jehyeon padanya.

“Aku akan membawa berkas ini untuk dipelajari lagi, Nona Ahn.” Ujar Kyuhyun setelah wanita yang sudah bersuami itu selesai dengan penjelasannya.

“Baik Tuan Cho.” Dia tersenyum mengamini.

“Kalau begitu saya permisi, terimaksih atas penjelasannya.” Kyuhyun menyambar berkas itu dan segera pergi meninggalkan ruangan.

Melirik tangannya, sudah waktunya makan siang. Ah.. tidak, tapi ia sudah melewati waktu tersebut. Jadi Kyuhyun putuskan untuk segara mengisi perutnya. Barang kali saja, setelah tubuhnya terisi, pikirannya pun lebih dan mengerti dengan semua yang dipelajarinya hari ini. Dan selama kurang lebih dua minggu Kyuhyun berada di lingkungan kantor, pria itu menyadari; jika pekerjaan dibidang ini sungguh sangat susah. Berbeda sekali dengan pekerjaannya yang dulu, ia hanya datang kerumah yang memanggil dirinya untuk datang dan hanya perlu membereskan alat pendingin ruangan. Lalu pekerjaannya pun selesai. Berbeda dengan sekarang, yang justru harus berkutat dengan lembaran demi lembaran. Huft…

“Kyuhyun.”

Pria itu menolehkan kepalanya, karena terdengar panggilan dari belakang. “Oh hyung, waeyo?”

“Kau mau kemana? Aku kira kau bersama istrimu.”

Dahi Kyuhyun mengerut. “Bagaimana hyung bisa tahu? Tadi memang aku bertemu dengannya, tapi Nona Ahn memanggilku.”

Alis pria disamping Kyuhyun naik sebelah. “Untuk apa kau bertemu dengan Nona Ahn?”

Sajangnim yang menyuruhku.” Kali ini Jungsu menganggukan kepala karena ia baru ingat kalau Tuan Lee memang berkata begitu padanya, tempo hari.

“Lalu sekarang kau mau kemana?” Tanyanya mengulang.

“Aku ingin makan siang.”

“Aku juga belum makan siang karena Jiyoon entah pergi kemana. Padahal aku menunggunya karena dia pergi keruanganmu dulu.” Jungsu mendengus, mengingat tadi ia sudah menunggu Jiyoon yang tidak muncul-muncul. Sial ‘kan?

Tanpa membalas ucapan Jungsu, Kyuhyun lantas menuju basement yang diikuti oleh pria itu.

===o0♥0o===

“Kau tahu Kyu, kalau mantan calon suami Jiyoon itu mempunyai saudara kembar.”

Gerakan tangan Kyuhyun yang ingin menyeruput minumannya pun terhenti saat mendengar ucapan itu Jungsu. Kyuhyun menatap pria didepannya dengan penuh tanya. Namun ia tetap diam.

“Jiyoon bilang kau pernah melihatnya saat dikafe tempo lalu? Aku pikir, itu bukan Lee Donghae, tapi kakaknya—Lee Donghyu. Karena tidak mungkin Jiyoon mau bertemu dengan pria macam Donghae. ” Masih bergeming, Kyuhyun masih enggan untuk menyahut. “Dan kau marah bukan karena melihat mereka berduaan? Jiyoon bilang kau mendiaminya. Kau cemburu ya?” Tebak Jungsu penuh selidik.

Kyuhyun menyesap minumannya, lalu mendesakan nafas. “Aku tidak marah atau cemburu, hyung. Aku hanya kesal, karena aku pikir Jiyoon begitu bodoh dengan bertemu pria itu lagi.”

“Asal kau tahu saja, Kyu. Istrimu itu memang bodoh. Disakiti oleh kakak beradik. Ck, itu sungguh menggelikan.” Cibir Jungsu.

“Maksud hyung?”

Well… kenyataannya Jiyoon juga pernah berhubungan dengan Donghyu, mereka pernah menjalin kasih cukup singkat, namun cukup membuat Jiyoon merasa sakit karena mendapati Donghyu tengah berciuman dengan salah satu temannya saat masih mereka masih kuliah dulu. Lalu hubungan mereka berakhir, kemudian Jiyoon bertemu dengan adik Donghyu, yaitu Donghae. Entah bagaimana caranya hingga Jiyoon jatuh kedalam pelukan pria itu, hingga memutuskan untuk bertunangan dan berencana menikah. Andai saja Donghae tidak bermain belakang dengannya.” Jungsu meneguk minumannya setelah ucapan selesai. Sekilas pria itu tersenyum mengejek dengan kebodohan Jiyoon selama ini. Astaga…

“Jadi… pria itu merupakan mantan kekasih Jiyoon?” Wajah Kyuhyun menyiratkan keterkejutan atas apa yang Jungsu katakan padanya. Waw… sungguh luar biasa. Kakak beradik begitu kompak untuk menyakiti satu wanita. Pria macam mereka?

“Ya, begitulah.” Katanya tak acuh dengan menaikkan kedua bahumu.

“Hebat sekali dua Lee itu.”

“Apanya yang hebat? Aku justru tidak suka dengan mereka berdua. Karena dari awal aku tidak menyetujui Jiyoon berhubungan dengan keluarga Lee Donghae. Setidaknya setelah aku tahu kebusukan mereka. Apa lagi ayahnya, ck… sungguh sangat memuakkan. Pria itu penjilat, dia sengaja memanfaatkan Jiyoon dengan menyuruhnya untuk menyetuhui kerja sama suntikan dana untuk perusahaan si biadab itu. Dan bodohnya Jiyoon menuruti dan mengerek pada Tuan Besar. Kau sendiri tahu, kalau Tuan dan Nyonya besar itu selelu menuruti keinginan Jiyoon, jadi ya… mereka mengabulkan permintannya.”

“Lalu… apa aboenim tahu dengan kelakukan ayah Donghae?”

Jungsu mengangguk mantap. “Tentu saja, tapi Tuan Besar baru tahu saat Donghae bermain dibelakang Jiyoon. Beliau menyelidiki semuanya. Makanya beliau langsung setuju menikahkanmu dengan Jiyoon. Agar keluarga penjilat itu sadar, dan tidak lagi mencoba untuk berbuat hal buruk.”

Kyuhyun membuang nafasnya setelah ucapan panjang lebar Jungsu terhenti. Jadi ini alasannya? Astaga… separah itu ‘kah keluarga Lee Donghae? Pantas saja ayah mertuanya bertindak dengan sedemikian rupa padanya.

“Kenapa hyung menceritakan ini padaku? Aku bahkan masih termasuk kedalam orang asing yang tiba-tiba saja menjadi bagian dari keluarga aboenim.” Kenyataan itu memang benar adanya, Kyuhyun termasuk orang asing dari keluarga besar macam Lee. Namun baik Jungsu dan ayah mertuanya terlihat biasa saja padanya.

“Aku yakin kau adalah orang baik, Kyu. Dibalik sifatmu yang tak acuh, tapi kau sangat bertanggung jawab. Contohnya saja pada Jiyoon. Kau bertanggung jawab dengan tegas. Dan aku menyukai itu. Walau pun kelakuanmu memang sedikit buruk.”

Kyuhyun hanya mencibir dengan sindiran Jungsu. “Aku bukan pria baik. Buktinya aku melakukan itu pada Jiyoon.”

Kekehan Jungsu justru keluar dengan kilahan  Kyuhyun. Aneh sekali suami Jiyoon itu. Ada-ada saja. “Iya-iya, terserah kau saja. Tapi asal kau tahu, Tuan Besar tidak akan mengijinkanmu menikah dengan anaknya jika kau adalah orang jahat. Percayalah.”

Entah Kyuhyun harus senang atau bagaimana dengan tuturan Jungsu, namun yang jelas ia sedikit lega karena masih ada orang yang percaya padanya selain Hyukjae. Karena selama ini, orang-orang disekitarnya tidak ada peduli. Bahkan untuk melihatnya pun enggan.

===o0♥0o===

Jika siang hari Kyuhyun akan sibuk didalam kantor, maka dimalam hari Kyuhyun akan selalu disibukkan dengan buku dan beberapa berkas untuk ia pelajari. Sejujurnya Kyuhyun sudah bosan dengan keadaan begini. Ia seperti bukan dirinya sendiri. Sekarang-sekarang ini ia tidak bisa menikmati harinya dengan baik. Ia tidak bisa mencuri waktu senggang untuk tertidur dibawah pohon, seperti yang dulu selalu ia lakukan saat masih bekerja dijasa servis. Karena sekarang, ia harus selalu belajar dan belajar. Sungguh membosankan.

Bahkan saat ia baru selesai makan malam pun Yesung sudah memperingatkan dirinya untuk belajar dibeberapa bab yang sudah mereka pelajari sebelumnya. Hah! Sepertinya semua orang selalu saja memaksanya untuk belajar, kecuali Jungsu. Pria itu memang selalu membimbingnya, namun dia tidak pernah memaksa. Jungsu selalu mengerti dengan kemampuan dalam bidangnya.

Terkadang, Kyuhyun selalu berpikir; kenapa bukan Jungsu saja yang mengerjakan semua pekerjaan dikantor. Toh pada kenyataanya pria itu sungguh pintar dan begitu handal dan segala hal. Berbeda jauh sekali dengan dirinya yang justru tidak mengerti apa-apa. Dengan urusan saham saja Kyuhyun tidak mengerti, apa lagi mengurusi menanam modal yang berinvertasi dengan proyek diperusahaan. Ya ampun… ia benar-benar payah.

“Kyuhyun…”

Tetap bergeming saat suara yang sangat dikenalnya menyeruak seketika. Konsetrasi pada buku pun buyar begitu saja. Ia menghela nafas, lalu mencoba terfokus pada rangkaian kata didepannya.

“Kyu, aku ingin bicara denganmu.”

Kyuhyun menyerah, ia menutup benda persegi itu lalu menatap sang istri yang sudah duduk disampingnya. “Kau ingin bicara apa?” Tanya dengan nada lembut. Sontak alis Jiyoon pun sedikit bertaut. Heran karena suaminya mendadak lembut seperti ini.

“Aku ingin meminta maaf. Kau mungkin marah padaku karena waktu itu kau melihatku dengan seorang pria dikafe. Tapi sungguh, dia bukan siapa-siapa. Dulu, memang dia adalah kekasihku. Mantan lebih tepatnya. Dan sekarang… nothing. Jadi kau jangan salah paham, Kyu.” Jelas Jiyoon dengan berharap Kyuhyun tidak lagi mendiaminya. Karena jujur saja ia paling tidak menyukai situasi dalam keheningan.

Sekali lagi Kyuhyun menarik nafas. Dan ternyata ucapan Jiyoon sama seperti yang Jungsu katakan padanya tadi siang. “Sudahlah, lupakan saja. Itu hakmu untuk bertemu dengan siapapun. Asal kau tahu batasannya, karena sekarang statusmu bukan lagi wanita single, aku hanya tidak mau jika nanti orang-orang berpandangan miring tentang dirimu.”

Entah kenapa, rasanya Jiyoon ingin sekali menangis, matanya sudah memanas dengan pelupuk yang penuh genangan. Benar, ucapan Kyuhyun memang ada benarnya. Dan kenapa dia begitu bodoh untuk tidak berpikir kearah sana. Astaga…

Bibir Kyuhyun melengkung, melihat mata merah Jiyoon didepannya. Baginya, Jiyoon menangis karena ucapannya adalah hal yang lucu. Lantaran Jiyoon jarang sekali bertingkah demikian. “Sudah malam, tidurlah.” Pintahnya yang disambut dengan gelengan dari Jiyoon. “Wae?”

“Asal aku tidur denganmu. Aku tidak mau kau tidur disini lagi.” Dahi Jiyoon mengerut dengan kedutan dikedua sudut bibir Kyuhyun. “Kau kenapa? Ada yang lucu?”

Kyuhyun menggeleng, walau dalam hati Kyuhyun ingin sekali terkekeh dengan rajukan Jiyoon. Kendati bagitu, hatinha sedikit senang karena ternyata Jiyoon memperhatikannya juga. Ck. “Aniya, kajja kita tidur.” Kyuhyun meraih jemari Jiyoon dan menariknya menuju kamar yang sudah lama ia tidak tempati.

Sementara Jiyoon hanya terkekeh pelan dengan sikap hangat Kyuhyun tadi. Ia tidak menyangka jika suaminya akan bertindak begitu. Karena kalau boleh jujur, baru kali ini Kyuhyun menggenggam tengannya dan melangkah bersama. Ahh… sepertinya langit malam tengah cerah. Secerah hatinya tentu saja.

===o0♥0o===

Seulas seringaian tajam terukir pada bibir pria yang duduk dengan santai dimeja kebesarannya itu setelah salah seorang memberikan penjelasan yang sungguh sangat mengejutkan sekaligus membuatnya puas. Dan ternyata, tidak ada sia-sia dia menyuruh orang untuk menyelidiki asal usul pria sialan yang sudah merebut wanitanya begitu saja.

“Kena kau Cho Kyuhyun!” Desisnya penuh amarah yang tersirat dimulutnya. Pria ini sungguh sangat-sangat puas saat tahu dengan sosok asli dari suami mantan wanitanya itu. Dan benar sajakan, jika Cho Kyuhyun bukanlah pria yang sekelas dirinya. Jadi… mari kita lihat, apa yang akan terjadi nanti. “Tunggu saja waktumu.” Dia terkekeh pelan dengan rencana busuk dikepalanya. Dia bahkan sudah siap dengan kabar yang akan sangat menggemparkan jika waktu sudah tiba.

Demi apapun, pria ini begitu membenci suami Lee Jiyoon itu. Karena dialah yang sudah merembut wanitanya. Karena dialah, dirinya menjadi sebegini mengenaskannya. Dan karena dialah, perusahaan ayahnya nyaris bangkrut. Bedebah. Kau. Cho Kyuhyun!

===o0♥0o===

Pagi ini seoul tengah menangis, sebab sejak dari dua jam yang lalu, butiran bening yang turun dari langit terus mengisi kepermukaan. Namun bagi Jiyoon, awan mendung pekat yang menghiasi langit tidak memperngaruhi perasaan bahagianya. Alasannya satu, yaitu karena sang suami—Cho Kyuhyun. Lantaran pria itu kini sudah bisa bersikap lebih hangat. Buktinya saja dengan tadi malam, dia begitu hangat apa lagi saat menemaninya tidur. Ugh! Jiyoon tidak pernah menyangka kalau Kyuhyun akan memeluknya saat terbaring diranjang. Dan ia tidak bisa berbohong, kalau pelukan Kyuhyun benar-benar menenangkan pikirannya yang sedikit kacau dengan masalah proyek diperusahaannya.

Bau harum kopi hangat tiba-tiba saja masuk kedalam indah penciuman Jiyoon. Sontak wanita itu segera menutup hidungnya. Jungsu yang berniat akan menyeruput kopinya pun mendadak heran reaksi sepontan Nona Mudanya.

“Kau kenapa?” Kyuhyun bertanya seraya duduk disamping Jiyoon setelah selesai dengan acara mandi paginya.

“Aku tidak suka baunya.” Protes Jiyoon dengan masih menutup rapat-rapat hidungnya.

Hah?

Jungsu keheranan. Tidak biasanya Jiyoon begini, toh setiap harinya wanita itu akan baik-baik saja saat mereka sarapan dan dia meminum kopi seperti ini. “Ini kopi biasa Nona. Dan baunya pun sama seperti sebelumnya.”

“Aku tahu, tapi aku sungguh mual dengan baunya. Jadi bisakah ahjussi singkirkan kopinya sekarang juga!” Jiyoon memejamkan matanya rapat-rapat, merasa tidak kuat lagi dengan mendorongan dari dalam perutnya. Ia mual. Dengan segera wanita itu meloncat dari duduknya menuju wastafel. Memuntahkan isi perutnya yang baru saja ia makan.

Jiyoon terhenyak dengan pijatan lembut dilehernya. “Kau kenapa?” Tanya Kyuhyun dengan nada khawatir.

Wanita itu menggeleng dan menarik nafasnya dalam-dalam. “Aku tidak suka dengan bau kopinya.”

Hyung sudah menghabiskan kopinya, jadi sekarang kau bisa kesana. Kau harus makan lagi.” Hanya sebuah anggukan untuk mengamini ucapan suaminya. “Kajja.”

Jiyoon masih saja menutup hidungnya, padahal kopi pagi Jungsu sudah lenyap didalam perutnya. Dan Jungsu pun hanya bisa menghela nafasnya. “Kopinya sudah habis, Nona.”

Appa dan eomma, mana?” Pagi ini memang sedikit membuat Jiyoon heran karena mendapati bangku kedua orang tua kosong saat ia akan sarapan tadi.

“Tuan dan Nyonya pergi ke China, Nona. Karena harus menghadiri undangan salah satu perusahaan disana.” Jawab Jungsu.

“Kenapa eomma dan appa tidak bilang?”

“Beliau sudah mengatakan beberapa hari yang lalu.”

Benarkah? Tapi kenapa ia tidak tahu?

“Tuan Besar mengatakannya saat Nona sedang dikantor. Dan aku pikir saat itu Nona sedang melamun, jadi Nona tidak menyimaknya dengan baik ucapan Tuan Besar.” Ujar Jungsu yang seolah mengerti dengan isi pikiran wanita didepannya.

Dan Jiyoon pun hanya diam, membenarkan ucapan Jungsu. Ia ingat, kalau memang ayahnya pernah datang keruangannya. Asal tahu saja, yang membuat melamun seperti itu ‘kan ya… cuma suaminya. Kyuhyun.

Sementara Kyuhyun tidak terlalu peduli percakapan tadi, toh ada atau tidaknya sang mertua itu tidak berefek apapun baginya. Dia tetap melanjutkan makannya dengan baik. Yaa… itulah Kyuhyun. Pria yang tidak banyak bicara, namun bukan termasuk pendiam juga. Karena ada saatnya dimana Kyuhyun akan menjadi seperti ahjumma-ahjumma dipasar. Cerewet sekali. Tunggu dan liat saja nanti.

===o0♥0o===

Alis Kyuhyun sedikit berkerut sesaat setelah ia paham dengan berkas ditangannya. Sebuah proyek pembangunan gedung Mall berlantai lima. Aneh sekali, karena baru kali ini Kyuhyun tahu kalau perusahaan milik ayah mertuanya yang menjurus kedalam bidang perfilman dan penulisan ini mendadak bekerja sama dengan sebuah perusahaan kecil yang nanti akan membangun sebuah Mall yang dekat permukiman warga. Lalu jika pembangunan itu berjalan, maka otomatis daerah pemukiman pun mungkin akan tergusur karena lahan yang kurang.

Yang menjadi masalahnya cuma satu yaitu; rumah warga disana. Dan Kyuhyun tidak menyetujui jika hal itu sampai terjadi.

Bagaimana nasib para warga nanti?

Itulah yang ada didalam pikirannya. Kalau saja itu adalah proyek miliknya, dengan sekejap ia tidak akan menerima kerja sama tersebut. Tapi didalam berkas ini sudah ada bubuhan tanda tangan istri dan juga ayah mertuanya. Jika sudah begini, itu artinya proyek ini akan segera berjalan.

Kyuhyun bangkit dari kursinya, melangkah lebar keruangan sebelah. Dengan tanpa permisi, Kyuhyun masuk begitu saja kedalam ruangan. “Apa ini?!” Cecarnya tanpa basa basi dan melempar berkas itu dimeja istrinya.

Jiyoon nampak sedikit terkejut dengan kedatangan Kyuhyun yang agak murka. “Apa— maksudmu?” Meraih berkasnya, sedetik kemudian Jiyoon menoleh pada Kyuhyun setelah tahu apa yang ada ditangannya. “Ini proyekku, bagaimana bisa kau tahu?”

Aboenim yang selalu memberikan semua berkas proyek padaku.” Dahi Jiyoon berkerut dalam. “Untuk apa kau setuju dengan proyek ini, hah?!!”

Jiyoon menelan salivahnya susah payah, sedikit seram dengan nada bicara Kyuhyun yang terkesan marah padanya. “Tentu saja agar perusahaan kita semakin berkembang.” Jawabnya santai.

Pria depan Jiyoon pun mendengus. “Jadi kau hanya memikirkan perusahaan? Tanpa tahu bagaimana nasib warga yang mungkin saja akan terkena gusuran?”

Jiyoon berdecak, mengerti kemana arah pembicaraan suaminya. “Kau tenang saja, Kyu. Aku sudah mengatur semua. Dan aku juga tidak sejahat itu. Aku akan membeli tanah mereka dengan harga yang seharusnya. Jadi kau tidak perlu khawatir akan hal itu.” Tutur Jiyoon.

Sebersit rasa lega pun menyambangi Kyuhyun, karena ternyata Jiyoon masih memikirkan mereka. Setidaknya membeli tanah untuk mengganti rumah mereka, jika memang tanah itu akan diperlukan. “Kau serius dengan ucapanmu?”

“Sungguh.”

“Oke, aku pegang janjimu. Tapi jika kenyataannya tidak seperti yang kau katakan, maka aku tidak bisa tinggal diam.” Ucap Kyuhyun bersungguh-sungguh.

Jiyoon mendekati Kyuhyun, dan menyeretnya untuk duduk disofa. “Kau terlihat tidak senang proyek ini, Kyu? Kenapa?”

“Aku hanya tidak suka. Karena aku pernah merasakannya.” Kyuhyun tersenyum pahit, mengingat kenangannya yang dulu.

“Memangnya kau pernah merasakan apa, Kyu?” Jiyoon bertanya dengan penasaran.

“Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kita makan. Sudah waktunya makan siang.”

Wanita itu tahu kalau Kyuhyun mengalihkan membicaraan dengan mengajaknya makan siang. Tapi ya mau bagaimana lagi, karena ia juga tidak mungkin mendesak suaminya untuk bercerita. Ia sadar, Kyuhyun bukan orang yang sering mengatakan isi hatinya. Jadi ya… sudahlah, tunggu saja. Barangkali suatu saat nanti dia akan membagi cerita padanya.

===o0♥0o===

“Bisakah aboeji hentikan saja semua ini?” Pintahan seorang pria tidak dihiraukan sama sekali oleh pria paru payah yang tengah duduk tanpa memandang.

“Sebaiknya, kau ikuti saja semua perkataanku. Dan jangan pernah untuk mencoba mengacaukan semuanya.” Suara dingin nan khas itu tidak membuat Donghyu gentar sama sekali.

“Tidak aboeji! Aku tidak mau melakukan itu semua. Jiyoon terlalu baik padaku.” Dia memang tidak akan pernah bisa melakukan hal buruk pada wanita yang dicintainya. Karena baginya, Jiyoon adalah wanita teristimewah.

“Baik, jika kau tidak mau melakukannya, lebih baik kau pergi saja!”

Aboeji aku mohon, jangan melakukan itu. Sebagai gantinya, aku akan mencoba melunasi hutang perusahaan aboeji, dan akan menjual perusahaanku.” Ujarnya sungguh-sungguh dengan memohon.

“Kau pikir berapa hutang perusahaan saat ini hah? Jika saja keluarga Lee Jiyoon itu tidak mencabut suntikan nadanya, mungkin nasib perusahaan kita juga akan baik-baik saja.”

“Aku tahu, tapi aku berjanji dan akan membuktikannya kalau aku bisa melunasi hutang perusahaan aboeji. Asal aboeji tidak lagi melakukan hal-hal buruk pada wanita itu.”

Seringaian mengejek tersungging dibibir ayah Donghyu. “Kau masih mencintainya?”

Donghyu mengangguk. Karena kenyataannya ia memang masih sangat mencintai Jiyoon. “Iye aboeji, aku masih mencintai dia. Sangat.”

“Kenapa kau tidak mengejarnya lagi?”

“Itu tidak mungkin, karena dia sudah bersuami dan dia sangat mencintai suaminya.”

“Baiklah, aboeji tidak akan berbuat apapun pada wanita itu. Tapi ucapanmu tidak bisa ditarik lagi.” Pria berusia lanjut itu berdiri. “Besok kau mulai bekerja diperusahaan.” Ujarnya kemudian berlalu begitu saja dari anak lelaki pertamanya. Meninggalkan Donghyu yang hanya menghela nafas.

Ya, hanya dengan inilah ayahnya berhenti mengusik keluarga Jiyoon. Biarlah ia kehilangan perusahaan kecilnya dan kembali pada perusahaan ayahnya, asal Jiyoon tetap baik-baik saja. Karena selama ini, ayahnya ‘lah yang sudah membuat Jiyoon seperti sekarang, mungkin dia merasakan sakit akibat ulahnya dan juga Donghae.

Tapi demi Tuhan, dulu ia tidak pernah berniat sekali pun untuk menyakiti Jiyoon. Kejadian dimasa lalu adalah ulah adiknya. Donghae sengaja membawa wanita saat dirinya tengah dalam keadaan mabuk, hingga adegan yang tidak diinginkan pun terjadi. Tepatnya saat Jiyoon datang dan melihat semuanya. Dan dihari itu, ia sudah kehilangan Jiyoon karena rencana busuk adiknya. Meski begitu, Donghyu tidak pernah membenci Donghae. Ia mengerti akan tindakan Donghae yang demikian, tentu saja karena pria itu mencintai Jiyoon. Berdalih tujuan untuk menikahi Jiyoon agar membantu perusahaan, namun kenyataannya Donghae jatuh hati pada mantan kekasihnya. Ia bisa melihat dengan jelas dimata Donghae, walau pun pria itu selalu berkilah sedemikian rupa.

Jadi sekarang tugasnya hanya satu, yaitu membuat wanita yang cintainya tenang tanpa adanya gangguan lagi dari siapa pun. Termasuk ayahnya.

===o0♥0o===

Kyuhyun tersenyum samar melihat tingkah istrinya yang sedikit berbeda beberapa hari ini. Dia terlihat lebih manis dan… selalu menempel padahnya. Entah apa alasan Jiyoon, hingga kemana pun wanita itu selalu ikut bersamanya. Sampai urusan pekerjaan pun Jiyoon meminta dirinya untuk selalu membantunya, hingga tidak ada alasan lagi untuk dirinya menjauh dari Jiyoon. Benar-benar aneh. Seperti saat ini, istrinya itu begitu cekatan memakaikan dasi dikerah bajunya.

“Kau sangat tampan dengan kemaja dan jas ini, Kyu.” Ujar Jiyoon kembali membantu suaminya memakaikan jas berwarna hitam.

“Ini sama saja seperti biasa, Nona.” Kyuhyun sedikit merapihkan jasnya. “Tidak ada bedanya sama sekali.” Komentarnya melihat pantulan dicermin.

Jiyoon berdecak. “Kau ini selalu saja begitu. Sudahlah, sebaiknya kita segera pergi sebelum acara di mulai.” Ucap Jiyoon sebelum melenggangkan kakinya meninggalkan Kyuhyun yang hanya tersenyum simpul.

“Dan kau juga sangat cantik.” Gumam Kyuhyun dengan sangat pelan. Dan sayangnya, Jiyoon tidak bisa mendengar pujian itu dari mulut suaminya.

Dengan malas, akhirnya Kyuhyun menyusul Jiyoon. Karena ucapan wanita itu memang benar, mereka harus segera pergi untuk menghadiri acara salah satu kolega ayah mertuanya. Harusnya para petualah yang datang kesana. Namun dikarenakan beliau tidak ada disini, jadi ia dan Jiyoon yang harus menggantikan. Ck. Ini sungguh sangat tidak mengenakkan, sebab Kyuhyun tidak menyukai acara seperti itu. Tapi ya mau bagaimana lagi, menolak pun percuma saja, Jiyoon pasti akan memaksanya. Huft.

Selain karena Kyuhyun tidak suka berada tempat ramai begitu, juga  karena ini hal baru baginya. Untuk pertama kalinya Kyuhyun hadir diacara para orang-orangborjuis. Selama hidupnya, Kyuhyun tidak pernah bermimpi untuk berpartisipasi dalam acara itu, karena ia sadar, ia bukan orang berdarah biru. Ia hanya orang biasa dengan latar belakang yang tidak jelas. Mengenaskan.

===o0♥0o===

Dahi Jiyoon sedikit mengernyit dengan bahasa tubuh Kyuhyun yang memperlihatkan ketegangan sejak dari rumah. Tidak jarang suaminya itu menarik nafas dan menelan salivah. Padahal saat ini mereka masih didalam mobil. Aneh sekali.

“Kyu, kau kenapa?” Tanya Jiyoon.

Pria itu melirik sekilas lalu menggeleng. “Aku tidak apa-apa.” Dustanya dan jangan harap Jiyoon akan percaya.

“Kau tegang ya?” Tebak Jiyoon yang seratus persen benar. Tak lama kemudian, wanita cantik dengan gaun berwarna pastel itu tersenyum geli. “Tidak usah tegang, santai saja.”

Mendengus pelan, kemudian Kyuhyun menarik nafasnya. “Aku tidak tegang.” Masih berkilah juga pria ini. Ck.

“Ingat Kyu, kau adalah Tuan Cho. General Manajer Leon Picture. Jadi kau harus percaya diri. Ok.” Jiyoon mengerti dengan ketegangan suaminya, makanya ia berkata demikian.

“Yang General Manajer itu kau, bukan aku.” Ya, setidaknya Kyuhyun memang merasa seperti itu. Jabatan yang disandangnya pun masih tidak jelas. General Manajer. Yang benar saja? Kenyataannya ia masih belajar, itu pun masih sangat pelan-pelan. Karena ia bukan pria yang ber-IQ tinggi seperti istrinya. Memalukan. Sungguh.

“Ayolah Kyu, orang-orang pun tahunya kau adalah sang GM. Kau masih ingat bukan dengan ucapanku saat rapat redaksi kemarin?” Kyuhyun tetap bergeming walau ia tahu maksud ucapan istrinya. “Jadi kau tidak usah takut dengan apapun. Kau adalah suamiku. Ingatku.”

Tanpa diingatkan pun Kyuhyun tahu kalau dirinya adalah suami wanita disampingnya. Dan karena itulah dirinya menjadi tegang begini. Ia takut akan terjadi masalah diacara nanti. Karena sejak dari tadi, perasaanya sudah tidak enak. Seperti ada sesuatu, tapi Kyuhyun tidak tahu apa itu.

“Ayo kita keluar.” Ajak Jiyoon setelah mobil yang ditumpangi mereka berhenti tepat didepan red carpet. Para wartawan dengan sederet media massa sudah menunggu kedangan mereka. Kontan ketegangan Kyuhyun semakin menjadi. Ini benar-benar gila.

“Aku tidak yakin, Yoon.” Ujarnya gusar memadangi orang-orang luar saja.

C’mon, you can do it.” Jiyoon tersenyum manis seraya meraih tangan suaminya. Memberi keyakinan, jika dia pasti bisa melewati semuanya.

“Semoga saja.” Kyuhyun menarik nafasnya dalam-dalam, membalas tengan istrinya dengan erat.

Ckrak…

Ckrak…

Ckrak…

Suara pontretan dari sederet media masa sontak mengguar begitu Kyuhyun dan Jiyoon turun dari mobil sekelas Audy. Dengan sekuat hati, Kyuhyun mencoba tenang dengan memasang wajah santai dan senyuman menawan dibibirnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti; Bagaimana kehidupan baru rumah tangga kalian? Kapan kalian berencana untuk memiliki momongan, dan… Apakah kalian menikah atas dasar cinta, mengingat Lee Donghae adalah calon suami Nona Jiyoon sebelumnya? Diserang dengan serentetan pertanyaan, keduanya kompak untuk cukup mengumbar senyuman tanpa menjawab pertanyaan itu. Kyuhyun terus melangkah sembari rengkuh posesif pinggang istrinya. Seolah memberitahukan kepada mereka semua, kalau itu adalah jawaban atas pertanyaan yang terlontar.

“Santai saja.” Jiyoon berbisik ditelinga Kyuhyun. Orang yang melihat adegan tadi pun kontan takjup dengan kebersamaan mereka. Dan Jiyoon memang sengaja melakukannya. Bagus ‘kan?

Arraseo.” Balas Kyuhyun lalu memberanikan diri untuk mengecup puncak kepala istrinya, rona merah diwajah wanita itu pun timbul dengan sikap langka Kyuhyun tadi.

Saat mereka sudah didalam ballroom, suasana yang kentara dengan kemewahan itu menjadi sambutan yang membuat Kyuhyun menjadi semakin gusar karena tidak tenang. Ruangan luas dengan tema putih ini penuh dengan kaum kelas atas yang saling bercakap satu sama lain. Dan Kyuhyun yakin sekali jika diantara mereka tengah berlomba memerkan kekayaannya masing-masing. Terutama para wanita, tentu saja. Tapi untungnya Jiyoon tidak termasuk kedalam orang-orang seperti mereka. Kyuhyun bersyukur untuk itu.

Annyeong haseyo, Tuan Jang Nam Phil. Selamat ulang tahun untuk perusahaan anda.” Kyuhyun seketika tersadar dari alam lamunanya begitu Jiyoon berujar pada pria setengah bayah didepan mereka.

“Selamat ulang tahun perusahaan, Tuan Jang.” Kali ini Kyuhyun juga berlaku sama seperti istrinya dengan mengulurkan tangan sebagai tanda kesopanan, karena yang depan mereka adalah si-Tuan-pestanya

Jang Nam Phil tersenyum dengan meraih uluran tangan Kyuhyun. “Terimakasih Tuan dan Nyonya Cho.” Pria ini merupanya tahu siapa kedua pasangan cantik dan tampan itu. Tentu saja karena dua bulan yang lalu ia datang diacara pernikahan mereka. “Silahkan menikmati acara sederhana ini.”

“Iya Tuan Jang, terimaksih.” Dan tak lama kemudian, pria itu pamit setelah ucapan itu keluar dari mulut Kyuhyun. Pria ini tentu saja bisa memaklumi Jang Nam Phil yang berpamitan pada mereka, tentu saja karena beliau harus menyalami para tamunya yang lain.

“Kau mau wine?” Tawaran Jiyoon ditanggapi gelengan cepat dari Kyuhyun.

“Kau jangan minum.” Seru Kyuhyun, ia tidak mau lagi jika Jiyoon mengkonsumsi minuman berakhol itu. Karena alkohol ‘lah yang membuatnya menikah dengan wanita disampingnya. Ya.. karena faktanya memang gara-gara minuman itu yang membuat Jiyoon mabuk dan menyerang dirinya. Oh astaga… jujur sana Kyuhyun malu jika mengingat dengan kejadian itu. Ugh!

“Iya aku tidak akan minum, Kyu. Kau tenang saja.” Balasnya sebelum menyambar salah jus yang tertata cantik dimeja.

“Wah… wah… wah… aku tidak menyangka jika akan bertemu dengan Tuan dan Nyonya Cho disini.” Ucapan dengan nada mengejek sontak membuat Jiyoon dan Kyuhyun menoleh kebelakang.

Sial! Jiyoon mendesis saat tahu siapa pemilik suara itu. Dan tentu saja harusnya tahu kalau dialah orangnya. “Aku juga tidak menyangka bisa bertemu denganmu, Tuan Lee Donghae.” Sejujurnya Jiyoon malas sekali untuk berurusan dengan pria ini, tapi ya mau bagaimana lagi, menghindar pun percuma saja karena hanya akan mempermalukan diri sendiri.

“Ngomong-ngomong Tuan Cho, saya ingin tahu bagaimana rasanya menjadi orang kaya mendadak?” Donghae tidak mengubris dengan balasan Jiyoon tadi, ia justru lebih tertarik untuk mengajak suaminya. Pria ini bahkan tidak peduli dengan tatapan Kyuhyun begitu pertanyaannya keluar.

“Apa maksudmu, Tuan Lee?” Dingin dan datar, itu suara Kyuhyun saat berbalik tanya dengan pria didepannya.

“Jiyoon-ah.” Panggil Donghae dengan senyuman penuh makna. “Apa kau sangat frustasi karena kita tidak jadi menikah? Hingga kau memilik pria rendahan seperti dia?” Mata Donghae menyalang kearah Kyuhyun dengan tidak suka.

“Jaga ucapanmu, Lee Donghae!” Jiyoon mulai geram dengan ucapan Donghae yang merendahkan suaminya. “Kau harusnya bercermin diri, siapa yang lebih rendahan disini. Suamiku atau kau si pria yang suka meniduri wanita jalang?!” Seringainya Jiyoon muncul dengan wajah geram Donghae saat ini.

Heol! Ayolah Nona, itu hal wajar bukan? Siapapun pernah mengalaminya? Suamimu pun juga begitu. Tapi ingat, drajatku lebih darinya. Sedangkan dia?” Donghae menatap Kyuhyun yang masih bungkam. “Dia hanyalah seorang tukang servis AC Nona Mudaku sayang.” Tawa kemenangan nan mengejek Donghae mengguar setelah mengatakan fakta yang sebenarnya tentang Kyuhyun.

“Terimakasih, untuk pujiannya Tuan Lee Donghae-ssi.” Kali ini Kyuhyun bersuara, ia tidak tahan dengan hinaan yang diucapan pria itu. “Iya memang benar, dulu profesiku memang hanyalah tukang servis. Lalu kenapa? Ada yang salah dengan itu?” Tantangnya tanpa takut. Ya, buat apa dia takut karena profesinya yang dulu bukanlah hal yang untuk ditakuti.

“Tentu saja salah, profesimu itu sungguh sangat tidak pantas untuk bersanding dengan istrimu saat ini. Bahkan pendidikanmu saja hanya setinggi bangku sekolah. Apakah itu tidak memalukan?!”

“Tidak! Itu tidak memalukan sama sekali bagiku. Karena yang terpenting itu bukanlah pekerjaan kotor.”

Donghae tertawa keras, sekeras-kerasnya. Dia sengaja agar semua orang di ballroom mengalihkan perhatian padanya. Dan well, usahanya berhasil, sebeb sekarang orang-orang tengah mengarah padanya dengan pandangan yang heran. Begitu pun Jiyoon dan Kyuhyun.

Donghae berdehem sebelum akhirnya kembali mengeluarkan suara. “Tuan dan Nyonya sekalian, mungkin anda sudah tahu bukan dengan pasangan pengantin baru didepanku ini?” Pria itu melempar pada orang-orang yang melihatinya. “Dia adalah mantan tunanganku, Lee Jiyoon dan juga suaminya Tuan Cho Kyuhyun yang terhormat. Asal anda semua tahu, kalau menantu dari Tuan Lee ini adalah orang yang bekerja dijasa servis dengan berpendidikan rendah, benar bukan Tuan Cho?”

PLAK!!!

Tamparan keras dari tangan tangan Jiyoon mendarat sempurna di pipi kiri Donghae.

“Cukup Lee Donghae! Kau keterlaluan! Memangnya apa yang salah dengan profesi suamiku yang dulu hah? Karena pendidikannya tidak setinggi dirimu, begitu?”

“Jiyoon-ah.” Seru Kyuhyun, namun dengan cepat Jiyoon mengacungkan tangan keudara, mengisyaratkan Kyuhyun untuk tetap diam.

“Dengar Lee Donghae, aku tidak peduli dengan status suamiku yang dulu bekerja di jasa servis, karena bagiku itu bukan hal rendah seperti yang kau katakan. Dan aku tidak peduli bagaimana pendidikannya yang rendah, karena aku mencintai suamiku. Aku mencintai semua yang ada pada dirinya. Masa lalu, pekerjaan dan pendidikan, itu hanyalah sepenggal kehidupannya. Lalu apa yang salah? Kau seharusnya yang berkaca diri, karena kau jauh lebih rendah dari manusia yang terendah dari dunia ini!” Jiyoon menarik nafasnya dalam-dalam setelah ucapan amarahnya meluncur begitu saja. Tak lama kemudian, pandangan Jiyoon mulai mengabur dan mendadak berputar-putar. Ia pusing.

“Jiyoon-ah!” Pekik Kyuhyun saat tubuh mungil itu limbung dipelukannya. “Jiyoon-ah!” Panggilnya begitu menyadari kedua mata Jiyoon merapat. Sial! Istrinya pingsan. Dan semua ini gara-gara Lee Donghae. Bedebah!

Orang-orang yang melihat keadaan Jiyoon pun sontak terkejut. Sebagian dari mereka juga ada yang memekik untuk menelfon ambulan atau sebagainya. Suasana pesta sukses geger karena ulah pria yang masih terdiam ditempat itu.

“Brengsek kau Lee Donghae!” Desis Kyuhyun dengan menatap Donghae yang tercengang karena Jiyoon tidak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang lagi, Kyuhyun langsung menggedong istrinya dan menjauh dari kerumunan orang-orang disana.

===o0♥0o===

Kyuhyun menatap wajah cantik istrinya yang tengah terbaring dengan keadaan masih sama dengan sejam yang lalu itu. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh salah satu sisi pipi Jiyoon. Satu yang membuat Kyuhyun tidak habis pikir, yaitu ucapan istrinya saat geram pada Lee Donghae. Dia mengatakan: kalau dia mencintainya. Jiyoon mempunyai perasaan padanya. Hah… apa itu sungguhan atau hanya akal-akalan Jiyoon saja agar pria yang mempermalukan dirinya itu sadar, kalau dia sudah tidak mempunyai perasaan padanya. Ah… entahlah, ia sendiri bingung. Karena dari cerita Jungsu waktu itu saja ia bisa yakin, jika Jiyoon masih mempunyai perasaan pada mantan tunangannya. Jadi, ucapan cinta Jiyoon padanya tadi hanyalah untuk membuat Donghae sadar saja. May be.

Mengingat kejadian tadi, begitu terkejutnya Kyuhyun saat itu, mana kala melihat tubuh Jiyoon yang luruh sesaat setelah ucapan penuh amarah yang dialamatkan untuk Lee Donghae itu keluar. Ia takut jika Jiyoon mengalami hal buruk hingga tidak sadarkan diri, tapi ternyata… syukurlah Jiyoon tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan saja. Dan…

Kyuhyun mengejapkan matanya saat tubuh Jiyoon mengeliat pelan. “Jiyoon-ah.” Ujarnya.

“Engh… Kyuhyun. Aku ada dimana?” Suara Jiyoon masih terdengar serak.

“Kau dirumah sakit.” Jawabnya dengan rasa lega karena akhirnya Jiyoon sadar juga.

“Ada apa denganku?” Ia mencoba untuk duduk, namun Kyuhyun segera mencegahnya.

“Kau diam saja. Tadi kau pingsan saat dipesta.”

Jiyoon manggut-manggut mengerti setelah ia ingat dengan yang apa ia alami sebelum tidak teringat apa-apa lagi. Ia medadak merasa pusing dan berputar-putar. Hanya itu yang ia ingat.

Wanita ini terkesiap saat tangan Kyuhyun menyentuh perutnya. Hatinya berdesir, kendati ini bukan kali pertamanya Kyuhyun bertindak demikian, hanya saja sentuhan suaminya itu sedikit berbeda. Seperti ada sesuatu.

“Ada apa, Kyu?” Tanyanya heran.

Kyuhyun tersenyum manis dan menatap wajah Jiyoon dalam-dalam. Seolah menyampaikan apa yang ia rasakan saat ini. Tapi sayangnya itu hanya membuat Jiyoon semakin heran dengan sikapnya yang begini.

“Kyu?”

“Aku hanya ingin menyapanya.” Sahutnya seraya menyadarkan kepala diperut istrinya.

__TBC__

 

235 thoughts on “Dream Or Real Part 5

  1. Udah keliatan ada rasa 💋. Keliatan juga ada baby💞. Hamilkan ya? Hamil kan?? Lengkaaap 👍. Gedek banget liat karakter Donghae disini. Biasanya teduh, sekarang gersang hihii 😂.

    Suka

  2. ya ampun lee donghae bener2 deh dia kok jahat banget ya sampe ngungkit2 masalalunya kyuhyun ckckckc yeeaaa jiyoon berani ya ngebela suaminya d depan orang banyak gitu seru pad baca part itu hehehe apa mungkin dia mulai cinta sama kyuhyun ya aigoooo semoga aja…oh iya apa jiyon hamil?? aaaaa kayaknya iya deh

    Suka

  3. baru kali ini aku baca ff dimana kyuhyun yg strress ama hal hal yang berbau tumpukan buku, kertas, dan kantor. biasanya baca ff kyuhyun yg digambarkan sebagai pria berIQ tinggi dan gila kerja dengan perusahaan yg wowowo. haha aqu udh tebak dari awal. jiyon pasti hamil

    Suka

  4. Aku penasaran dengan asal usul kyuhyun…dimana orang tuanya kyuhyun..semoga kata mencintai yg jiyoon katakan benar2 tulus bukan untuk balas dendam dengan donghae..

    Suka

  5. donghyu dan donghae saudara kembar?! dan donghyu adl mantan pacar jiyoon sblm donghae?! ya ampuun.. benar kt kyuhyun, pria macam apa mereka berdua yg tega menyakiti jiyoon? tapi sepertinya donghyu lebih baik dibandingkan donghae.

    syukurlh jika jiyoon hamil. dah curiga pas jiyoon mual hirup bau kopi

    Suka

  6. Woow, jiyoon salut buat jiyoon yg membela kyuhyun di depan banyak relasi bisnisnya .
    Donghae jadi mati kutu kkk~

    jiyoon hamil,, udah nebak sih pas dia ga suka mencium aroma kopi ..

    Suka

  7. Wooow jiyoon hamil
    Tp cara yg dipake donghae kurang elegan
    Rada kampungan
    Hrsnya jgn kaya gt thor
    Jd itu tooh maksudnya si bapak joyoon kirain ada maksud terselubung apa sampe mereka diijinin nikah

    Suka

  8. Kpn ya si Ikan mokpo itu nanti dpat blasan dgn apa yg d perbuat, jdi ikut geram waktu bcanya hihh.
    Slmat untuk psngan jikyu krna akn ada aegi di tengah2 klian.klo d htung prnkh mrka udah 2 bln ,msak jiyoon gk ngerasa klo dia hmil.

    Suka

  9. Ternyata bang ikan jahat bangettt ya -_-
    itu kata” jiyoon beneran kan cinta am kyu ????!!
    ohh bentar jd itu alesan kenapa gg marah besar am kyu dan ji ya , bijaksana banget ya cii om ini , hihihi
    yeaahh jiyoon hamil chukae *tebarpakuuuu

    Suka

  10. aaaaa envy ngeliat kyu.. so sweet banget :^
    Dan ngacungin jempol dengan keberanian jiyoon bela sang suami 😛
    chukkae yaa kyuyoon udah mau punya aegi ><

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s