I Got You Supermodel Part 9


i got you super model chapter 9

 

Author :           Putria Kim

Tittle :              I got you, supermodel!

Category :       NC21, Yadong, Romance, Married Life, Chapter

Cast :               Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Park Jiyeon as Jung Jiyeon

Cho Faustin

Cho Caitlyn

Shim Changmin

Super Junior’s member

And other cast…

 

“I got you, Supermodel!” (Chapter 9)

Author’s: Hi readers. Sorry kalau agak lama nunggu lanjutan part sembilannya karena belakangan nggak ada ide buat nulis. Aku baca komen kalian tentang calon cho quadruplet, rasanya sih wajar-wajar aja kalau menurtku. Toh terkadang orang yang udah pernah hamil anak kembar besar kemungkinan untuk hamil anak kembar lagi. Dan mungkin disini ceritanya jadi terkesan maksa ya? Aku terima pendapat kalian kok. Mungkin juga karena  tempo hari pas bikin part ke delapan lagi kecanduan sama song triplets jadi secara nggak sadar dan nggak langsung aku ikut terpengaruh dan menuangkan semuanya di ff ini. Tapi nasi udah jadi bubur, cerita yang udah terlanjur dibuat nggak mungkin aku ganti lagi. Jadi terserah yang mau anggap tulisan aku sedikit aneh atau apalah itu. Aku hanya ingin melanjutkan apa yang udah aku mulai. Ada yang mau kasih nama untuk cho quadruplets?

For your information, jenis kelamin mereka dua cewek dua cowok yaa sesuai sama suara terbanyak para pembaca. Dan satu lagi, part sepuluh mungkin akan menjadi ending dari ff ini. Ada yang mau kasih saran? Endingnya Jiyeon sama Changmin atau Jiyeon balik lagi ke Kyuhyun? Aku akan bikin end ceritanya sesuai dengan suara terbanyak.

Big thanks for admin Handa, and for all readers. Tanpa kalian tulisanku nggak akan berarti apa-apa. *BOW*

Happy reading. Sorry for typos and no bash please.

 

(Preview)

“Lain kali biarkan aku menggendong mereka berdua, aku tidak tega melihatmu menggendong Caitlyn dengan perut membuncit seperti itu” pandangan Changmin terfokus pada perut besar Jiyeon.

 

“Ayo besok kita pergi ke dokter, kali ini kau harus melakukan USG” desak Changmin.

“Shireo!” tolak Jiyeon. Selama ini Jiyeon memang tidak pernah mau melakukan USG, ia hanya rutin melakukan check up pada dokter kandungannya, teman sejawat Changmin di rumah sakit.

 

“Kenapa kau keras kepala sekali Jiyeon-ah? Aku takut terjadi sesuatu padamu, perutmu itu jauh dari ukuran normal seorang wanita yang sedang hamil empat bulan.” Kata Changmin risau, perut Jiyeon memang terlihat sangat besar. Jauh lebih besar sekarang daripada saat ia mengandung si kembar dulu.

 

“Apa kau tidak takut jika terjadi sesuatu pada calon anak yang ada di dalam perutmu itu? Ayolah Jung Jiyeon, demi kebaikan dirimu dan calon anak-anakmu” bujuk Changmin lagi.

 

Jiyeon mulai menimbang-nimbang ucapan Changmin. Apa yang dikatakan Changmin ada benarnya juga. Melakukan USG sama seperti membuka luka lamanya, potongan-potongan bayangan semasa ia hamil dulu berputar di benaknya. Jiyeon yang selalu pergi memeriksakan kandungannya sendiri tanpa didampingi Kyuhyu, hingga skandal kehamilannya dengan Ahn Jae Hyun. Semua itu masih tersimpan rapi dalam memori otak Jiyeon. Untuk kesekian kalinya Jiyeon merasakan rasa sesak menghimpit dadanya tiap mengingatnya, Cho Kyuhyun.

 

Jiyeon menghela napas seraya berkata, “Baiklah. Besok kita pergi check up sekaligus USG”

Changmin tersenyum lebar. Akhirnya kali ini ia berhasil membujuk Jiyeon.

***

Jiyeon merebahkan tubuhnya di atas ranjang panjang, Changmin berdiri di sampingnya. Sementara sang dokter sudah bersiap dengan peralatan USGnya.

Dioleskannya krim pada perut Jiyeon, dan proses USG pun segera dimulai.

 

“Sangat mengejutkan!” pekik sang dokter setelah melihat layar monitor, tempat dimana keempat calon buah hati Jiyeon bersemayam.

 

Kedua mata Changmin terbelalak melihatnya. Hal yang sama terjadi pada Jiyeon.

 

”Ini pertama kalinya dalam hidupku bertemu dengan pasien yang mengandung empat anak kembar sekaligus” ucap si dokter dengan mata berbinar bangga.

 

“Selamat untuk kalian berdua! Kau hebat sekali dokter Max!” ucapnya dengan ibu jari terangkat.

 

Mata Jiyeon berkaca-kaca seraya kedua tangannya mengelus lembut perutnya yang kian hari kian membuncit besar. Jadi, jawaban atas segala rasa curiganya tentang perut besarnya itu karena ada empat janin yang hidup di dalam rahimnya. Empat anak sekaligus! Jiyeon merasa sangat bahagia sekaligus beruntung karena tidak semua wanita bisa dianugerahi hal tersebut. Hanya dengan dua kali hamil dia mendapatkan setengah lusin anak. Andai Kyuhyun tahu. Hati Jiyeon berbisik lirih.

 

“Bagaimana dengan jenis kelaminnya dok?” tanya Jiyeon penasaran.

“Dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka berpasangan” jawab sang dokter.

Jackpot! Sesuatu yang benar-benar langka kini terjadi padanya. Lagi-lagi Changmin dibuat melongo karenanya.

***

“Eomma…”

Si kembar berlari ke arah Jiyeon dan Changmin yang baru saja keluar dari dalam mobil.

“Hi, sayang. Kalian sudah makan?” tanya Jiyeon pada si kembar yang sedang bermain sepeda di depan toko.

“Sudah eomma. Alice ajumma membawa makanan enak sekali” celoteh Faustin senang.

“Oh ya? Memangnya kalian makan apa?” Jiyeon menjawil lembut pipi Faustin.

“Pizza…” sahut Caitlyn.

“Eomma aku mau makan pizza lagi nanti. Eomma belikan untuk Faustin yaa. Faustin suka sekali makan pizza” seloroh Faustin dengan sorot mata berbinar.

“Ne, nanti eomma akan belikan. Kajja kita masuk ke dalam”

“Changmin ajussi… Gendong!” pinta Caitlyn.

“Hoop!” Changmin mengangkat tubuh mungil Caitlyn dengan senyum terkembang di wajahnya.

“Jiyeon!” seru Alice dari arah pojok kanan.

“Hi, Alice!” balas Jiyeon seraya berjalan ke arah sahabatnya.

“Lama tak jumpa, belakangan ini pasti kau sangat sibuk”

Jiyeon mengambil duduk di hadapan Alice.

“Ya, aku baru pulang dari Milan kemarin sore. “ jawab Alice.

“Oh ya, perkenalkan ini temanku, Alice” ucap Jiyeon memperkenalkan Alice pada Changmin yang masih berdiri di sampingnya.

Changmin tersenyum tipis pada gadis berambut blonde itu seraya mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.

“Max” ucap Changmin memperkenalkan dirinya.

“Alice” sambut Alice dengan tersenyum simpul.

“Eomma, mana permen kapasnya?” tanya Faustin tiba-tiba.

 

Namja mungil itu menagih janji eommanya. Tadi pagi sebelum Jiyeon meninggalkan si kembar di toko sementara ia dan Changmin pergi ke dokter kandungan si kembar meminta permen kapas sebagai imbalannya.

 

“Oh astaga! Eomma lupa membelinya!” gumam Jiyeon sembari menepuk jidat.

Air muka Faustin berubah mendung. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Ledakan tangis Faustin tidak dapat terbendung lagi.

“Huaaaa…..”

“Uljima… Uljima…” ucap Changmin pada Faustin. Diusapnya butir-butir yang melelehi pipi si namja kecil.

“Nanti eomma akan belikan. Uljima sayang” ucap Jiyeon lembut.

Garis-garis muka Faustin memancarkan kekecewaan. Jiyeon makin merasa bersalah kepada kedua buah hatinya.

 

“Ada yang perlu eomma bicarakan dengan Alice ajumma, nanti kalau sudah selesai eomma akan ajak kalian membeli permen kapas dan es krim. Kalian suka?”

 

Tak ada respon dari keduanya. Si kembar diam membisu.

 

“Biar aku saja. Kajja Faustin kita beli permen kapas” sambar Changmin disertai menggamit tangan mungil Faustin. Sementara Caitlyn tetap tenang dalam gendongan Changmin.

 

“Ajussi, aku juga mau digendong seperti Caitlyn” ucap Faustin manja dengan sesenggukkan.

“Mwoya ige? Faustin mau digendong juga?” tanya Changmin terkejut.

Jiyeon tergelak kecil mendengarnya. Ia tahu pasti Changmin akan kesulitan menggendong si kembar secara bersamaan.

 

“Caitlyn turun sebentar yaa” Changmin menurunkan si cantik Caitlyn terlebih dulu. Setelah itu baru ia akan berjongkok dan meminta Faustin menaiki punggungnya dengan tangan mungilnya melingkar di lehernya.

 

HOOOP! Si kembar sudah berhasil digendongnya. Faustin di belakang dan Caitlyn di depan.

 

“Pegangan yang erat ya!” ujarnya pada si kembar.

“Ne, ajussi” jawab si kembar serempak.

Jiyeon dan Alice saling beradu pandang seraya tersenyum tipis melihat hal tersebut.

“Aku pergi dulu” Changmin berpamitan pada Jiyeon.

“Ne, himneyo dokter Max!” tukas Jiyeon memberi suntikan semangat.

“Jadi, dia suamimu?” tanya Alice selepas kepergian Changmin dan si kembar.

“Bukan, dia temanku” jawab Jiyeon sekenanya. Ia masih belum siap untuk berbagi cerita pada Alice.

Alice manggut-manggut. Mengerti.

 

“Perusahaanku sedang membutuhkan beberapa orang model untuk pakaian hamil, dan aku langsung teringat padamu. Apa kau berminta yeon?” tanya Alice to the point sambil menyesap cappucinonya.

 

“Benarkah?” seru Jiyeon antusias.

Alice mengangguk mantap, “Tentu saja!”.

“Kalau begitu besok siang kau harus pergi bersamaku ke kantor. Ada berkas-berkas yang harus kau tanda tangani”

“Tidak ada sesi pemilihan?”

 

“Tidak perlu, aku langsung yang merekomendasikanmu pada perusahaan. Beberapa orang fotografer juga masih mengingatmu dengan baik. Tidak perlu risau begitu” ucap Alice tenang seolah dapat membaca pikiran Jiyeon.

 

Jiyeon hanya tersenyum simpul. Sedari tadi ia memang memikirkan hal itu, soal seleksi model. Jiyeon tidak cukup percaya diri untuk melakukan pemotretan untuk salah satu brand fashion ternama di dunia, dulu memang ia sudah sering melakukannya tapi sekarang? Apalagi sudah beberapa bulan ia melakukan hiatus dari dunia model. Rasa percaya dirinya belum terkumpul sepenuhnya.

 

“Terimakasih banyak Alice” ucap Jiyeon.

“No problem, besok aku jemput setelah jam makan siang. Aku pergi dulu”

Alice memakai kaca mata hitamnya seraya berjalan meninggalkan Jiyeon yang masih senyum-senyum sendiri karena saking senangnya.

***

 

Suara alas kaki yang beradu dengan lantai marmer menggema di sepanjang koridor. Sebuah pintu kayu kokoh berdiri di hadapannya, pintu kayu bertuliskan CEO di tengahnya.

Tok…Tok…Tok… suara pintu kayu beradu dengan tangan si pengetuk.

“Masuk!” sahut seseorang dari balik pintu.

Cho Kyuhyun menarik handel pintu, lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam.

“Oh, kau sudah datang. Duduklah” Kim Young Min menyambut kedatangan Kyuhyun.

Kyuhyun mengempaskan tubuhnya pada sofa empuk di tengah ruangan. Sementara itu Kim sajang mengambil dua kaleng minuman bersoda dari dalam lemari es kecilnya di sudut ruangan.

“Bagaimana kabarmu?” tanya si boss pada Kyuhyun.

“Baik, seperti yang anda lihat sajangnim.” Jawab Kyuhyun dengan tersenyum tipis.

“Aku senang melihatmu sudah kembali seperti dulu” tutur Young Min seraya menyesap minumannya.

“Bersiaplah. Aku sudah menyiapkan album solo untukmu”

“Ne?” tanya Kyuhyun kaget.

“Album solo?” tanya Kyuhyun lagi. Ia ingin memastikan bahwa indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik.

“Ya. Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk album solo perdanamu. Aku rasa sudah waktunya kau kembali lagi Kyuhyun-ah” Kim Young Min berujar mantap.

“Apa anda yakin sajangnim?”

“Tentu saja. Aku tidak pernah bermain-main. Kembalilah ke dorm, dan besok kau bisa mulai latihan vokal.”

 

Dalam hati Kyuhyun bersorak gembira karena akhirnya ia bisa kembali bermusik lagi. Meski kali ini ia akan bernyanyi solo, tidak bersama para member Super Junior. Kyuhyun tetap merasa senang karena ini seperti awal baginya, ia akan kembali lagi ke dunia yang sudah membesarkan namanya.

***

Sepeninggal Alice, Jiyeon dan Changmin terlibat perbincangan serius saat si kembar sedang sibuk dengan permen kapas dan es krimnya.

 

“Kau serius akan melakukannya?” tanya Changmin.

“Ne, sudah lama aku tidak berpose di depan kamera. Aaaaah aku merindukan hal itu” ungkap Jiyeon riang.

“Kenapa? Kau tidak menyukainya?” sorot mata Jiyeon berubah seketika saat menatap air muka Changmin yang terlihat risau.

 

Changmin terdiam, mengabaikan pertanyaan Jiyeon. Dalam hatinya berteriak bahwa ia tidak setuju dengan keputusan Jiyeon namun Changmin menyadari posisinya saat ini, ia tidak memiliki wewenang apapun untuk melarang wanita yang diam-diam mengisi ruang hatinya.

 

“Dwaesso! Aku akan mengantar kalian pulang” tuturnya sambil ngeloyor pergi meninggalkan Jiyeon yang masih melongo karena tingkahnya.

***

Kyuhyun mengusap pelan layar ponselnya, fotonya bersama keluarga kecilnya ia jadikan wallpaper. Kyuhyun tersenyum getir melihat gambar tersebut.

 

“Kalian ada dimana? Apa kalian baik-baik saja?” bisik Kyuhyun dalam hati.

“Bogoshipo… Jeongmal bogoshipo” ucapnya lirih.

 

Kyuhyun mendekap erat ponsel pintarnya seolah mendekap Jiyeon dan kedua buah hatinya. Andai ia tahu kalau hari itu adalah hari terakhirnya bersama Jiyeon dan si kembar tentu ia tidak akan pergi kemanapun, ia tetap berdiam diri di apartement bersama keluarga kecilnya, ia tidak akan pergi menemui Victoria. Dan semuanya takkan menjadi runyam seperti sekarang. Seandainya… Seandainya… Gumam Kyuhyun dalam hati.

 

“Kajja Kyuhyun-ah” ucapan sang manajer membuyarkan lamunan Kyuhyun. Ia segera turun dari mobil dan membetulkan helaian-helaian rambut tebalnya yang menjuntai disana sini. Hari ini ia akan tampil di Mnet Mcountdown untuk melakukan comeback stage perdananya, ini juga pertama kalinya bagi Kyuhyun kembali tampil di depan publik setelah hampir lima bulan menyepi dari dunia hiburan.

***

“Eomma, ayo kita beli pizza” rengek Faustin manja.

 

“Nanti kita beli pizza, tapi sekarang harus mandi dulu” Jawab Jiyeon singkat seraya melepas jaket yang melekat pada tubuh si mungil Caitlyn. Jiyeon hendak memandikan si kembar.

 

Faustin mempoutkan bibirnya pertanda kesal. Jiyeon karena permintaannya tidak bisa segera ia turuti. Namja kecil itu mengambil gadgetnya di dalam tas untuk meredam rasa kesalnya.

 

Caitlyn berari kecil menuju kamar mandi dan memasukkan tubuhnya pada bath tub yang sudah terisi air. Gadis kecil itu mengambil bebek karet di samping bath tub. Sementara itu, Faustin masih duduk manis di ruang tengah bersama tablet pc di pangkuannya.

 

“Sayang, ayo mandi” ajak Jiyeon pada Faustin.

Faustin tak mengindahkan ajakan Jiyeon. Ia masih sibuk bermain dengan tablet kesayangannya.

“Sayang, kita mandi dulu ya”

Jiyeon mengambil tablet dari genggaman tangan Faustin. Namja kecil itu menatap Jiyeon dengan mata berkaca-kaca. Sebentar lagi tangisnya pecah.

“Huaaaaa…” pekik Faustin kencang.

 

Jiyeon menggendong si sulung dan membawanya ke kamar mandi. Tangis Faustin semakin menjadi-jadi saat Jiyeon akan melepas pakaiannya. Namja kecil itu tidak mau mandi. Dan sekarang ia sudah berlari keluar kamar mandi.

 

“Caitlyn tunggu sebentar ya. Eomma akan mengurus Faustin dulu, jangan pergi kemana-mana karena lantainya licin. Mengerti?” Nasehat Jiyeon pada Caitlyn.

Caitlyn mengangguk patuh. Gadis kecil itu kembali sibuk bermain bebek karet dan gelembung sabun di dalam bath tub.

 

Dengan susah payah Jiyeon berhasil menaklukkan Faustin, perut yang membuncit besar tidak menjadi halangan baginya. Jiyeon menggendong Faustin yang terus meronta minta turun dari gendongannya.

 

“Faustin… Faustin, dengarkan eomma dan jangan menangis terus. Nanti eomma akan mengajak kalian membeli pizza, tapi sekarang kalian harus mandi dulu. Penjual pizza tidak akan mau memberikan pizza pada kalian jika kalian tidak mandi. Arra?” tutur Jiyeon mencoba memberi pengertian pada si kembar, atau lebih tepatnya kepada Faustin.

 

Faustin menganggukkan kepalanya. Tangisnya sudah mulai reda. Jiyeon tahu betul bagaimana sifat putra kecilnya, ia tahu Faustin akan bertingkah seperti ini tiap kali keinginannya tidak segera terpenuhi. Jiyeon mendesah lega karena berhasil membujuk putra sulungnya.

 

“Besok kita bersepeda bersama, kalian suka?”

“Suka eomma” jawab Caitlyn.

“Aku juga suka” Faustin menimpali.

 

Secara runut Jiyeon memandikan si kembar, dari mulai menggosok tubuh mereka dengan sabun, mencuci rambut si kembar, lantas mengawasi si kembar menggosok giginya.

 

“Jaaaa…Sudah selesai. Kajja kajja” ucap Jiyeon membimbing si kembar keluar dari kamar mandi.

“Jangan lari Faustin! Lantainya licin, nanti bisa jatuh”

Namja kecil itu sudah berhasil kabur menuju kamarnya. Jiyeon dan Caitlyn mengekori di belakangnya.

Faustin langsung mengambil tablet pc miliknya, sementara Jiyeon mengambil pakaian untuk mereka di dalam lemari.

“Aaaahhh…Sssssh” desis Jiyeon.

 

Tiba-tiba kepala Jiyeon terasa nyeri bak dipukul godam dengan kuat. Tubuhnya limbung dan Jiyeon nyaris tidak dapat menopang bobot tubuhnya. Beruntung kedua tangannya masih dapat memegang handel lemari dengan kuat sehingga bisa membuat tubuhnya tetap berdiri, perlahan tubuh Jiyeon meluruh ke lantai.

 

Rasa nyeri di kepalanya berhasil membuatnya berurai air mata dan mengaburkan pandangannya. Namun, kelibat si kembar di hadapannya berhasil membangkitkan semangatnya, ia berusaha melawan rasa sakit yang sedang menderanya. Jiyeon meremas ujung bajunya, mencoba mencari pelampiasan untuk meredam rasa sakit. Pelan-pelan Jiyeon mengumpulkan tenaganya dan bangkit berdiri, dengan tertatih dia berjalan menuju ranjang si kembar dan menjatuhkan tubuhnya disana.

 

“Sayang…” panggil Jiyeon lirih pada kedua buah hatinya.

 

Caitlyn langsung mendekati eommanya dan menatapnya lekat-lekat. Gadis kecil itu seolah mengetahui ada yang tidak beres dengan eommanya. Caitlyn merangkak naik ke atas ranjang, lalu mengelus pipi Jiyeon dengan lembut dengan kedua tangan mungilnya. Ia memandang si bungsu dengan sorot mata yang sayu seraya tersenyum samar.

 

“Sayang bisa pakai baju sendiri tidak? Kepala eomma sakit sekali” ucap Jiyeon lirih.

 

“Ne eomma, Caitlyn bisa” jawab Caitlyn mantap. Dengan cekatan Caitlyn memakai pakaian dalamnya sendiri meski ia harus jatuh bangun saat memakai celana dalamnya karena yeoja mungil itu masih belum bisa menyeimbangkan tubuhnya.

 

Linangan air matanya tak terbendung lagi. Selain karena rasa nyeri di kepalanya yang kian menjadi-jadi juga karena rasa haru melihat si bungsu memakai pakaiannya sendiri.

Setelah selesai berpakaian sendiri Caitlyn mendekati Jiyeon dan mengusap lelehan air mata di pipi eommanya.

 

“Sayang, tolong ambilkan ponsel di kamar eomma” pinta Jiyeon pada si bungsu.

Caitlyn langsung berlari menuju kamarnya.

 

“Faustin pakai baju sendiri, Caitlyn juga pakai baju sendiri” celoteh Caitlyn pada saudara kembarnya yang masih duduk di atas karpet dengan handuk melilit tubuh kecilnya. Faustin masih berkutat dengan tabletnya.

Caitlyn menyerahkan ponsel tersebut pada Jiyeon.

“Eomma, ayo kita beli pizza. Pizaaaaaaa..Pizaaa” pekik Faustin antusias.

Ditinggalkannya tablet pcnya di atas sofa dan namja kecil itu merangkak naik ke atas tempat tidur, meloncat-loncat kecil disana.

“Faustin…aaah…kajima” desis Jiyeon sambil memegangi kepalanya.

“Kepala eomma sakit. Besok saja ya makan pizzanya” tukas Jiyeon memberi pengertian pada si sulung.

“Shireo! Aku mau makan pizza eomaaaaaaa” sahut Faustin penuh penekanan.

Jiyeon mendengus pelan. Mengumpulkan segenap tenaganya seraya berkata, “Faustin! Dengarkan eomma, kepala eomma sakit sekali. Tadi kan faustin sudah makan pizza dari Alice ajumma, besok eomma janji akan membeli pizza sebanyak yang kalian mau. Tapi besok bukan sekarang. Arraci?”

 

“Eomma…aku mau sekarang” ucap Faustin pelan dengan wajah memberengut.

“Jebal Faustin-ah, jangan nakal di saat seperti ini. Kepala eomma mau pecah rasanya” balas Jiyeon lirih dengan mata terpejam.

“Eomma…..Appa…huaaaa” Faustin menangis sejadi-jadinya.

“Huaaaaaaa…..”

Suara tangis Faustin membuat kepala Jiyeon berdenyut nyeri tanpa jeda.

“Appa…appa” sebut Faustin dalam tangisnya.

 

Ini pertama kalinya Jiyeon mendengar si kembar memanggil nama ayahnya. Selama hampir lima bulan, Jiyeon berhasil membuat mereka lupa akan ayahnya. Seolah Jiyeon memiliki obat penghapus ingatan, karena Jiyeon selalu berhasil mengalihkan perhatian mereka saat mereka sedang ingat ayahnya ataupun merindukan ayahnya. Terlebih lagi sekarang ada Max Changmin yang setia di sisinya, secara tidak langsung menjadi sosok ayah baru bagi si kembar tanpa mereka sadari. Jiyeon bersyukur akan hal itu.

 

Jiyeon menekan nomor Changmin. Membuat panggilan.

“Changmin-ah, kau bisa datang ke rumah sekarang?” ucap Jiyeon lirih.

“Waegeure?” sahut Changmin di ujung telepon seraya mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk. Ia baru selesai mandi.

“Ppaliwa… Jebal…” gumam Jiyeon.

Tut..Tut..Tut.. sambungan telepon terputus.

***

Wajah Changmin memancarkan gurat-gurat ketakutan begitu melihat keadaan Jiyeon yang terkulai lemah di tempat tidur si kembar. Changmin berlari mendekati Jiyeon lalu menyentuh keningnya. Panas sekali.

“Jiyeon-ah, gwaencana?” tanya Changmin gelisah.

“Oh kau…sudah…datang” jawab Jiyeon terbata.

“Kajja kita ke rumah sakit” Changmin sudah bersiap menggendongnya tapi Jiyeon menepis kedua tangan Changmin.

“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Sepertinya aku hanya perlu istirahat” tukasnya lirih.

“Jinjja gwaencana?” tanya Changmin meyakinkan.

Jiyeon mengangguk pelan.

“Dimana yang sakit?” tanya Changmin cemas.

“Kepalaku” jawab Jiyeon lirih nyaris berbisik.

 

“Baiklah kalau begitu kau harus istirahat.” Changmin mengangkat tubuh Jiyeon lantas membawanya menuju kamarnya. Hal tersebut membuat si kembar terkesima dan langsung mengekori mereka menuju kamar Jiyeon.

 

“Tidurlah. Jangan khawatikan si kembar, aku akan menjaga mereka” tutur Changmin lugas seolah mengerti isi hati Jiyeon.

Jiyeon mulai memejamkan matanya. Ditariknya selimut beledu untuk membalut tubuh Jiyeon.

 

“Mwoya ige? Kenapa belum pakai baju eoh?” tukas Changmin begitu melihat Faustin masih memakai lilitan handuk di tubuhnya.

“Kajja kajja pakai baju dulu. Eomma sedang sakit dan butuh istirahat. Jadi ajussi yang akan mengurus kalian. Arra?”

Changmin membimbing si kembar keluar dan menuju kamarnya.

***

Lewat tengah malam Jiyeon terbangun dari tidurnya. Handuk kecil basah menempel di keningnya. Tubuhnya sudah kembali normal. Mungkin Jiyeon memang kelelahan karena beberapa hari belakangan ia kurang tidur karena harus mengkroscek beberapa laporan penjualan dari toko macaroonnnya. Jiyeon mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar dan mendapati Changmin tertidur di bawah beralaskan karpet. Jiyeon bingkas bangun, disibaknya selimut yang membalut tubuhnya. Berjalan mendekati Changmin yang tertidur pulas.

 

Dengan hati-hati Jiyeon menyelimuti tubuh Changmin.

“Sudah baikan?” tanya Changmin seraya memegang tangan kanan Jiyeon. Matanya masih terpejam, sepanjang malam ia terus terjaga takut terjadi sesuatu pada Jiyeon.

“Gwaencana. Kenapa kau tidur di bawah eoh?”

“Memangnya ada tempat lain huh? Atau maksudmu aku harus tidur di sampingmu? Begitu?”

“Bu..bukan begitu maksudku” sahut Jiyeon tergagap. Pipinya memerah.

“Jadi, aku boleh tidur di sampingmu?” goda Changmin.

“Yaaa! Kau kan bisa tidur di sofa depan.” Jiyeon memalingkan wajahnya.

 

Jiyeon tidak sanggup beradu pandang dengan pria itu. Dia sudah tahu titik kelemahan Jiyeon, Changmin tahu kalau muka Jiyeon akan berubah merah padam seperti dipulas blush on jika sedang digoda dan merasa malu.

 

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian” jawab Changmin. Tangannya meraih dagu Jiyeon, sontak membuat mereka berdua kini sudah saling bertatapan.

 

Selama bebearapa detik mereka berdua saling bertentang mata. Kedua mata jernih Jiyeon menyimpan berjuta cerita tentang kepedihan. Sorot mata yang teduh namun terlihat menyedihkan jika diselami lebih dalam.

 

Jiyeon menatap tajam kedua bola mata Changmin. Lebih dalam dan lebih dalam lagi ia seperti tersedot ke dalam lubang hitam dan kini ia berada dalam dunia ilusi yang ia ciptakan sendiri. Dalam bayangannya Jiyeon melihat dirinya mengejar Changmin yang sedang menggendong si kembar di hamparan rumput hijau. Mereka sama-sama mendorong dua kereta bayi, menyusuri jalanan kota Paris di pagi hari. Dan…tiba-tiba bayangan Kyuhyun muncul di ruang matanya. Membuyarkan semua mimpi indahnya bersama Changmin.

 

Changmin menjentikkan jarinya di kening Jiyeon, kontan membuatnya mengerang sakit.

“Aaaaaaahhh… appo”

“Mau coklat panas?” tawar Jiyeon pada Changmin.

“Dangyunhaji! Kau harus membayarku karena sudah menjagamu dan si kembar, dan aku rasa menikmati coklat panas di tengah malam seperti ini pasti sangat enak”

***

“Kyuhyun is BACK!!!!!”

 

Begitulah judul sebuah headline sebuah situs showbiz ternama di Korea. Jiyeon tersenyum tipis membacanya. Ia meletakkan ponselnya di meja lantas melanjutkan aktivitasnya tadi, mengaduk coklat panas milik Changmin.

 

Perasaan rindu, kesal dan lega memenuhi rongga hatinya. Tak dapat dipungkiri kalau selama ini ia selalu merindukan sang suami, tak peduli betapa dalam luka yang telah Kyuhyun torehkan di hatinya ia tetap merindukan sang suami. Apalagi sekarang Jiyeon sedang mengandung  buah cinta mereka, isi kepala Jiyeon secara acak terus memutar memori indahnya bersama Kyuhyun semasa ia hamil si kembar dulu.

Jika tadi Changmin yang bermain di ruang matanya, kini Kyuhyun yang mengambil alih. Bayang-bayang dirinya terus menghantui Jiyeon.

“Eomma juga merindukan appa, nak” ucap Jiyeon pada keempat bayi kembar yang ada di dalam rahimnya seraya mengusap lembut kulit perutnya.

 

Disusutnya bulir-bulir jernih di pelupuk matanya. Kemudian ia tersenyum simpul, perasaan lega merembesi hatinya melihat Kyuhyun sudah kembali beraktivitas di dunia hiburan. Setidaknya ia bisa mengetahui keadaan sang suami dari beragam berita tentangnya di dunia maya, karena Jiyeon belum punya cukup keberanian untuk menghubungi Kyuhyun ataupun bertemu dengannya.

***

Gelak tawa si kembar mengiringi acara bersepeda mereka pagi ini, di jalanan kota Paris yang masih cukup lengang, Jiyeon, Changmin dan si kembar bersepeda di taman. Sesekali si kembar bergantian mendorong sepeda roda empat mereka masing-masing. Pagi yang cerah untuk memulai aktivitas.

“Huaaaah… Cuacanya bagus sekali” seloroh Jiyeon seraya menjatuhkan tubuhnya di bangku taman.

Changmin menatap matahari yang mulai mengintip di balik gumpalan awan putih di petala langit.

“Jiyeon…” panggil Changmin.

“Ne?”

“Sayang, jangan jauh-jauh” ucap Jiyeon pada si kembar yang masih bersepeda di depan mereka berdua.

“Aku boleh bertanya sesuatu padamu?” tanya Changmin hati-hati.

Jiyeon menatap Changmin lekat-lekat, lantas menganggukkan kepalanya.

“Sudah lama aku ingin menanyakannya, hanya saja aku belum cukup berani untuk bertanya padamu”

Suasana berubah serius seketika.

“Jadi, sekarang kau sudah punya cukup keberanian?” goda Jiyeon mencoba mencairkan suasana.

Changmin tersenyum lebar.

“Apa kau seorang single parent?” tanya Changmin to the point.

Jiyeon menatap manik mata Changmin, “Aku masih bersuami, Changmin-ah”

 

DEG! Degup jantungnya berpacu tak beraturan setelah mendengar lontaran kalimat dari mulut Jiyeon. Tubuh Changmin seketika menjadi kaku seperti papan. Harapannya untuk memiliki Jiyeon perlahan pudar setelah mengetahui status wanita yang ada di hadapannya sekarang.

 

Detik itu Changmin baru menyadari satu hal, betapa jauh hatinya telah jatuh pada seorang wanita bernama Jung Jiyeon. Terbesit senyum getir di wajah tampannya, Changmin seolah baru saja menjejalkan ribuan pil pahit yang akhirnya membuat tenggorokannya kering, tercekat kepedihan.

 

“Aku pergi kesini karena ada masalah rumah tangga, suamiku memiliki wanita lain dan aku memergoki mereka sedang bercumbu di depan mataku.” Bulir-bulir jernih mulai menumpuk di ujung matanya.

 

Changmin merengkuh tubuh Jiyeon. Rasa ingin memiliki bergejolak hebat di dalam hatinya. Jika  Changmin diberi kesempatan untuk memilikinya ia tidak akan membiarkan wanita yang ada dalam dekapannya itu berlinang air mata seperti ini. Tidak akan pernah. Bisik hatinya.

***

Lagu At Gwanghamun yang Kyuhyun bawakan berhasil menghipnotis para penonton yang ada di studio.

Oneul babochoereom geu jarie seo ittneun geoya (Hari ini, seperti orang bodoh aku berdiri disini).

Biga naerimyeon heumbbeog jeojeumyeo oji anhneum neoreul gidaryeo (Membiarkan tubuh ini basah dibawah hujan, Menunggumu, yang pasti tidak akan datang).

Lirik lagu tersebut seolah menggambarkan kondisi Kyuhyun saat ini. Sampai tak terasa Kyuhyun meneteskan air matanya di atas panggung.

“Aku merindukanmu, malaikat tak bersayapku” Hati Kyuhyun berbisik lirih.

***

“Kau sudah siap?” tanya Alice sesampainya di toko macaroon Jiyeon.

Dilihatnya Jiyeon sedang berbicara dengan para pekerjanya.

“Oh hi, Alice. Tunggu sebentar”

“Merry, tolong jaga si kembar sampai dokter Max datang.” Ucap Jiyeon pada salah satu pegawai wanitanya.

“Baik boss” jawab Merry singkat.

“Sayang, eomma pergi dulu yaa. Jangan nakal! Sebentar lagi Changmin ajussi datang kesini” ucap Jiyeon berpamitan pada si kembar. Di kecupnya kening si kembar secara bergantian.

“Eomma pergi dulu. Annyeong”

“Annyeong eomma.” Jawab si kembar serempak. Si kembar melambaikan tangannya dan berlari kecil mengantar kepergian eommanya sampai di depan toko mereka.

***

Kata-kata Jiyeon tempo hari terus berngiang di kepala Changmin. Rasa gelisah menyelimutinya sepanjang hari. Berkali-kali ia mengetukkan jemarinya di atas meja kerjanya.

 

Fakta bahwa Jiyeon bukanlah seorang single parent membuat hati Changmin meronta-ronta, hatinya meminta agar Changmin mengungkapkan perasaannya pada Jiyeon, perasaan cinta yang terus bertambah tiap harinya. Perasaan yang mungkin tanpa Changmin sadari terus menggerogoti hatinya  jika tak kunjung diungkapkan.

 

Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 12.20 siang. Changmin melepas kacamata minusnya serta jas putih kebesaran seorang dokter, lantas ia bergegas keluar ruangan. Ia akan menemui si kembar.

***

“Unbelievable! Kau benar Jung Jiyeon? Si nona Korea?” seloroh seorang fotografer yang baru saja bertemu dengan Jiyeon di kantor Alice.

“Hi Frank! Senang bisa berjumpa denganmu lagi” sahut Jiyeon dengan menyambut pelukan Frank.

Fotografer pria tersebut memeluk Jiyeon erat.

“Oh Frank! Kau membuat bayi-bayiku sesak nafas” protes Jiyeon karena Frank memeluknya terlampau erat.

Perlahan pria bule itu melepas pelukannya seraya berkata, “Oh I’m sorry babe.”

“Sudah berapa bulan?” tanya Frank.

“Mendekati lima bulan”

“Jiyeon, ayo kita ke ruangan manajer. Kau harus menandatangani beberapa berkas” Alice menginterupsi obrolan mereka.

 

“Sudah cukup temu kangennya, Frank. Jiyeon seorang wanita bersuami, jadi kau tak perlu repot menggodanya lagi” ucap Alice memperolok Frank, yang sejak dulu memang sempat menaruh hati pada Jiyeon.

 

“Santai saja, non. Aku juga seorang lelaki beristri” jawabnya singkat dengan tersenyum lebar pada kedua wanita di hadapannya.

“Kau sudah menikah?” tanya Jiyeon terkejut.

 

“Kenapa? Kau tidak percaya? Atau kau merasa menyesal karena pernah mengabaikanku? Apa kau sedih karena pria keren di hadapanmu ini ternyata tidak bisa kau miliki?” goda Frank.

 

“Hahahaha sudah cukup leluconnya Frank! Ayo Jiyeon” Alice menyeret tangan Jiyeon menjauh dari fotografer penggoda bernama Frank.

Jiyeon membaca dengan seksama isi perjanjian kontraknya sebelum ia membubuhkan tanda tangannya.

 

“Baiklah, aku setuju.” Ucap Jiyeon senang setelah membaca keseluruhan isi kontrak, disana tertulis bahwa ia hanya akan melakukan photoshoot untuk edisi bulan ini. Wajahnya akan menghiasi catalog bagian pakaian wanita hamil.

 

Jiyeon membubuhkan tanda tangannya di surat kontrak tersebut.

“Terimakasih atas kerjasama anda nona Jung” ucap sang manajer perusahaan.

Kedua orang itu saling berjabat tangan.

“Besok akan dimulai sesi photoshoot pertama pukul sembilan pagi. Bersiaplah” ucap sang manajer memberitahu.

“Aku akan datang tepat waktu” jawab Jiyeon singkat sambil tersenyum manis.

“Sudah selesai kan? Ayo Jiyeon kita keluar” tukas Alice cuek.

“Kau boleh keluar sekarang nona Jung”

Jiyeon dan Alice bingkas bangun dari duduknya.

“Kau tetap disini, Alice! Ada yang perlu kita bicarakan” ucapan si manajer berhasil menghentikan gerak langkah Alice. Gadis itu menatap malas ke arah Jiyeon.

“Aku tunggu di luar” ucap Jiyeon lirih sembari menepuk lengan Alice pelan.

***

Untuk merayakan kembalinya Kyuhyun ke dorm, para member Super Junior sudah menyiapkan pesta kejutan. Suasana dorm terlihat gelap dan sunyi karena semua lampu sengaja dimatikan, para member sudah berada di posisinya masing-masing. Siwon berdiri membungkuk di belakang rak sepatu, Ryeowook berdiri tepat di belakang pintu sembari tangan kanannya memegang sakelar lampu yang ada di sampingnya, Yesung ada di belakang sofa sementara yang lain bersembunyi di dapur.

 

“Jangan dimakan!” seloroh Heechul menepis tangan Shindong yang mencoba mencolek es krim berbentuk kue ulang tahun.

“Sedikit saja hyung” pinta Shindong.

“Tidak!” ucap Heechul tegas dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa dia belum sampai juga?” ujar Leeteuk risau karena Kyuhyun tak kunjung datang.

“Jam berapa sekarang?” tanyanya cemas.

“Gelap hyung, jamnya tidak kelihatan” jawab Eunhyuk polos.

“Bodoh! Liat saja jam di ponselmu” sahut Kangin gemas.

“Oh iya, mianhe hyung. Hehe” Eunhyuk nyengir lebar menyadari kebodohannya sendiri.

 

Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam, seharusnya Kyuhyun sudah berada di dorm sekarang karena menurut penuturan sang manajer semua jadwal Kyuhyun selesai pada pukul setengah sebelas malam.

“Donghae-ah, coba kau hubungi manajer hyung” perintah Leeteuk.

“Ne, hyung” jawab Donghae patuh. Diambilnya ponsel dari saku celana.

KLIK. KLIK..

Terdengar suara password pintu yang telah berhasil dibuka.

Kyuhyun masuk ke dalam dorm.

“Mwoya?” seloroh Kyuhyun kaget melihat kondisi dorm yang gelap gulita.

Tiba-tiba terdengar suara terompet menusuk gendang telinganya. Ryeowook segera menekan sakelar lampu dan…

 

“Teeeettt…Toooottt…Teeeet…Toooottt” suara terompet yang ditiup terdengar saling bersahutan. Satu persatu member keluar dari tempat persembunyiannya.

 

Mata Kyuhyun terbelalak sempurna, bahkan kini kedua mata indahnya hampir meneteskan air mata karena merasa sangat terharu.

Rombongan dari dapur keluar dengan membawa es krim serta makanan lainnya.

“Selamat datang kembali, evil Kyu” sambut Leeteuk hangat. Dipeluknya erat maknae kesayangannya.

Kyuhyun tidak bisa membendung laju air matanya lagi.

“Gomawo hyung” ucap Kyuhyun haru.

***

“Maaf membuatmu lama menunggu” Alice berujar ringan.

“No problem. Tapi kenapa lama sekali? Apa saja yang kau bicarakan dengannya?” tanya Jiyeon penasaran.

“Aku akan ceritakan padamu, tapi tidak disini”

“Baiklah. Ayo kita pergi makan, aku yang traktir” ajak Jiyeon sambil menggamit lengan Alice.

 

Di dalam mobil menuju café terdekat dari kantor Alice, Jiyeon hanya diam dan mengamati raut wajah Alice yang memancarkan kekesalan.

 

“Sudah hampir enam bulan aku menjalin hubungan dengan manajer itu, Dave.” tukas Alice membuka perbincangan. Jiyeon menghentikan gerak tangannya mengaduk teh chamomile di hadapannya, menatap Alice dengan penuh perhatian.

 

“Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku?” sahut Jiyeon pura-pura kesal.

“Awalnya aku ingin memberitahumu, tapi…” gumamnya tertahan

“Tapi?”

 

“Dua bulan belakangan aku baru tahu kalau ternyata Dave sudah memiliki istri dan anak. Keluarganya tinggal di Jerman, hal itu membuat pikiranku sangat kacau bahkan membuatku tidak nafsu makan dan susah tidur. Aku terus menyalahkan diriku sendiri karena dengan bodohnya telah menyerahkan semua yang aku miliki padanya. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Kau tahu kan kalau aku tidak pernah berhasil menjalin hubungan dengan pria manapun dengan jangka waktu selama hampir enam bulan? Ini pertama kalinya bagiku. Aku begitu mencintainya, Jiyeon.” Alice mencurahkan semua isi hatinya pada Jiyeon.

 

“Tanyakan pada hatimu, Alice. Hatimu tahu apa yang harus kau lakukan. Sekarang katakan padaku apa keinginan hatimu?” Jiyeon menatap kedua bola mata Alice dalam-dalam.

“Aku ingin bersamanya selamanya. Memilikinya seutuhnya, tak peduli tentang berbagai fakta tentangnya yang sudah berkeluarga. Persetan dengan semua itu!”

Jiyeon tersenyum getir mendengarnya.

 

“Baiklah, aku mengerti. Aku rasa cinta sudah membutakan dirimu. Memang semua keinginanmu yang ingin bersama dengannya itu hal yang sangat manusiawi dan bukan sebuah masalah jika ia memang seorang pria single, tapi Dave sudah berkeluarga Alice. Dia punya istri dan anak yang menunggunya di rumah, dia seorang pria yang telah mengikrarkan janji sucinya di hadapan tuhan, dia adalah seorang ayah bagi anaknya. Jangan lupakan fakta itu, Alice.” Mata Jiyeon berkaca-kaca saat mengucapkannya.

 

Alice diam membisu dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.

“Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang Jiyeon? Aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja” ucap Alice dengan air mata bercucuran.

 

“Let him go, Alice. Aku tahu itu menyakitkan. Tak pernah mudah untuk melepas orang yang sangat kita cintai. Tapi percayalah padaku Alice, sakitmu itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan sakit hati yang akan dirasakan istri Dave. Aku sudah pernah merasakannya Alice.” Butir-butir jernih lolos dari kedua mata Jiyeon.

 

Alice menatap Jiyeon lekat-lekat. Terkejut mendengar curahan hati Jiyeon secara tidak langsung.

 

“Aku datang ke Paris untuk melupakan segalanya. Aku melihat suami yang sangat aku cintai bercumbu dengan wanita lain di hadapanku. Kau bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat itu? Sebagai sesama wanita sekaligus sahabatmu, aku mohon jangan lanjutkan hubungan terlarangmu bersama Dave. Kecuali jika memang kau ingin melihat istri Dave bernasib sama sepertiku” ucap Jiyeon parau.

***

“Dimana anak-anak?” tanya Jiyeon pada Changmin yang berdiri menunggunya di depan toko.

“Mereka sedang main ular tangga bersama Merry” jawab Changmin singkat.

“Ada yang perlu aku katakan padamu” Changmin menjatuhkan tubuhnya di bangku kayu panjang yang ada di depan toko macaroon. Jiyeon duduk di sampingnya.

“Apa yang mau kau katakan eoh? Kenapa mendadak jadi serius begitu?” tanya Jiyeon heran saat melihat air muka Changmin berubah tegang.

“Saranghae”

 

Bagai disengat ratusan volt listrik, kedua mata Jiyeon membeliak. Ia terkejut bukan main mendengarnya, ditatapnya wajah pria di sampingnya itu. Keringat dingin membasahi keningnya.

 

“Mwoya ige? Jangan bercanda Max Changmin! Aku tahu kau sedang mengerjaiku.” canda Jiyeon dengan mempoutkan bibirnya. Jiyeon berusaha menetralkan suasana, ia dengan susah payah menyembunyikan degup jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya.

 

Ketegangan Changmin mencair seketika setelah mendengar celotehan Jiyeon. Kini pria itu bisa tersenyum lebar. Jiyeon lega melihatnya. Kali ini ia berhasil lolos dari pernyataan mematikan yang dilontarkan Changmin. Sejujurnya Jiyeon sendiri belum tahu pasti bagaimana perasaannya pada Changmin. Semuanya masih terasa abu-abu baginya.

 

“Aku tidak sedang bercanda ataupun mengerjaimu badut gendut” ucap Changmin seraya mencubit hidung mancung Jiyeon.

“Aaaah…aaaah” erang Jiyeon pelan sambil menyingkirkan tangan Changmin dari hidungnya.

“Aaaaargh jinjja! Kenapa suka sekali mencubit hidungku!” ucap Jiyeon kesal. Diusapnya hidungnya yang mulai memerah.

“Supaya hidungmu bertambah mancung seperti pinokio”

Changmin terkekeh setelah melakukan aksi cubit hidung Jiyeon.

“Aku tahu motifmu Changmin-ah, kau ingin menjadikanku badut pinokio bukan?” decaknya kesal.

“Hahaha that’s great idea!”

“Besok aku akan melakukan photoshoot. Bisa mengantarku?” Jiyeon mengubah topik pembicaraan.

“Jam berapa? Biar aku lihat agendaku dulu. Kau tahu kan aku dokter yang sangat sibuk?” ucap Changmin dengan nada dibuat-buat.

“Kau lupa kalau besok hari Kamis? Aku tahu kau tidak punya jadwal praktek besok.”

Lagi-lagi Changmin tersenyum lebar.

“Berhenti tersenyum lebar seperti itu! Membuatku mual saja”

“Yaaaa! Apa kau bilang? Senyumku memuakkan?” ucap Changmin tak terima.

Changmin melancarkan serangan gelitik andalannya pada perut buncit Jiyeon.

“Hahahaha… Geumanhae. Hahaha…” semburan tawa Jiyeon tak tertahan lagi dan iamemohon agar Changmin menghentikan aksi gelitiknya.

Changmin tidak menghiraukannya, ia terus melakukannya sampai Jiyeon memohon dan memanggilnya Oppa barulah saat itu Changmin akan menghentikannya.

“Changmin oppa geumanhae. Jebal op..paaaahh.. aaaahhh”

 

De Javu! Potongan-potongan kenangannya bersama Kyuhyun di malam terakhir mereka bersama berkelebat di kepala Jiyeon. Kyuhyun dan dirinya melakukan hal yang sama dengan apa yang baru saja ia lakukan bersama Changmin. Cho Kyuhyun, hantu kenangan yang tidak pernah lenyap dari hati dan pikiran Jiyeon.

Tubuhnya seolah membeku tiap kali teringat pada Kyuhyun.

 

“Jiyeon-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Changmin cemas sekaligus merasa bersalah.

Jiyeon terlihat memegangi perut buncitnya. Wajahnya terlihat seperti orang yang sedang menahan sakit.

“Dimana yang sakit?”  sergahnya panik.

“Aaaaah…ku baik-baik saja” jawab Jiyeon dengan mengedipkan matanya.

“Yaaa! Kau mengerjaiku?”

“Tidak. Tadi aku merasakan sesuatu di sebelah sini” ucap Jiyeon seraya meletakkan tangan Changmin di bagian kanan perut buncitnya.

“Omo! Mereka menendang perutmu” ucap Changmin antusias saat dirasakannya ada getaran kecil dari dalam perut Jiyeon.

Jiyeon hanya tersenyum simpul.

“Tunggu sebentar” Changmin berlari menuju mobilnya, ia akan mengambil stetoskop di dalam tas kerjanya.

“Kau ingin mendengar detak jantung mereka?” tanya Changmin. Jiyeon mengangguk pelan.

Dipasangkannya stetoskop pada kedua telinga Jiyeon sementara itu Changmin meletakkan ujungnya di atas perut Jiyeon.

“Whoaaaa daebak!” Jiyeon mendengarkan detak jantung keempat buah hatinya yang saling bersahutan.

Changmin tersenyum melihat ekspersi bahagia tercetak jelas di wajah wanita yang dicintainya.

***

Kain sutra putih membalut tubuh indah Jiyeon, menyisakan bagian perut buncitnya yang dibiarkan terekspos, konsep wanita hamil pada zaman Yunani kuno, itulah yang dikatakan Frank, sang fotografer pada Jiyeon. Tatanan rambut yang dibuat bergelombang serta bandana berhias bunga-bunga kecil melekat di kepalanya. Jiyeon terlihat sangat menawan. Meski dengan kondisi tubuhnya yang sedang hamil tak mengurangi kecantikan dan kesan seksi pada dirinya. Dari kejauhan Changmin dan si kembar mengamati Jiyeon yang mulai berpose di depan kamera.

 

“Ajussi aku mau minum” pinta Faustin pada Changmin.

Changmin mengambil dua buah susu kotak rasa coklat dan strawberry dari dalam tas jinjing milik Jiyeon, lantas diberikannya pada si kembar.

“Eomma cantik sekali ya?” celetuk Changmin.

“Ajussi suka eomma?” sahut Caitlyn.

“Ne?”

“Break!” ucap Frank sang fotografer.

“Good job Jiyeon!”

“Istirahat lima belas menit” ucap Frank pada semua anak buahnya.

Jiyeon berjalan menghampiri Changmin dan si kembar.

“Kalian pasti bosan ya?” tanya Jiyeon.

Mereka bertiga menjawab dengan gelengan kepala.

Si kembar fokus pada susu kotaknya sementara Changmin menatap Jiyeon dengan kagum dan tanpa berkedip sedikitpun.

“Masih ada satu sesi lagi. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat supaya kita bisa segera makan malam” ujar Jiyeon.

“Apa kau tidak lelah?” tanya Changmin.

 

“Tidak. Aku sudah sering melakukannya dulu. Ini bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan photoshoot untuk pakaian pernikahan. Aku harus berkali-kali mengganti gaun pengantin” Papar Jiyeon.

 

“Tapi sekarang kau sedang hamil.” Ungkap Changmin risau.

“Gwaencana. Gajinya bisa ku gunakan untuk membayar sewa rumah tiga bulan ke depan”

“Aku sanggup membayarnya”

“Tidak perlu. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu”

“Aku tidak merasa direpotkan Jiyeon-ah.”

“Aku rasa kita sudah pernah membahas hal ini.”

“Sudahlah. Aku harus berganti pakaian”

Jiyeon melangkahkan kakinya menuju ruang ganti.

“Apa aku salah mengkhawatirkan wanita yang aku cintai?” seru Changmin. Jiyeon menghentikan langkahnya.

Dia berbalik badan, melangkah mendekat.

“Sayang, eomma ganti baju dulu ya.” Ucap Jiyeon pada si kembar. Si kembar mengangguk pelan.

“Kita bicarakan nanti saja” ujarnya pada Changmin.

***

“Omona!” seru seorang wanita yang tengah membuka katalog brand fashion langganannya.

“Oppa…Oppa… cepat kemari” teriak wanita itu memanggil suaminya.

“Ada apa eoh?” tanya sang suami menghampiri istrinya.

“Lihat ini”

Kedua mata suaminya terbelalak sempurna.

***

“Kyuhyun-ah… Cho Kyuhyun…” seru seseorang dengan suara beratnya sesampainya di dalam dorm.

“Yaaaa! Jangan teriak-teriak. Ini bukan hutan!” decak Heechul kesal.

“Ada apa hyung?” tanya Kyuhyun yang baru keluar dari kamarnya.

Yesung berjalan cepat menghampirinya. Diberikannya katalog berisi gambar Jiyeon pada si namja evil.

Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kyuhyun mencubit pipi Yesung.

“Aaaaaaah” erang Yesung.

“Ini nyata! Aku tidak mimpi! Akhirnya….aku menemukanmu sayang” seru Kyuhyun riang.

Heechul langsung menghampiri Yesung dan Kyuhyun.

“Aku akan pergi ke Paris hari ini juga” ucap Kyuhyun mantap.

 

 

To be continued…

339 thoughts on “I Got You Supermodel Part 9

  1. Kasihan changmin, kayaknya dia tulus, tapi aku lebih suka jiyeon balik sama kyuu, kyu udah hampir gila, dan sebaiknya masalahnya diselesaikan dulu sama mereka bedua. Semoga kyuu bisa ambil hati jiyeon lagiii dan changmin bisa berlapang dada melepaskan jiyeon :”
    Semoga jiyeon ga memilih changminnn 🙏

    Satu part lagi untuk menjawab semua harapan reader, semoga aku bisa dapet pw part 10, fightingg admindeul, maaf kan jika selalu merepotkan meminta pw ff yang dipost 😂

    Suka

  2. masih belum tau apa yang terjadi diantara mereka dan kenapa kyu oppa bisa keluar dari suju di part 7 dan 8 jadi tolong kirimin PW nya ya thor
    ini email aku : atcunajah@gmail.com

    kasian ya jiyeon harus menanggung kesakitan ini sendiri,untung aja di luar negri jiyeon dibantu sama changmin yah…walaupun changmin mendekati dan selalu ada disamping jiyeon karena dia memiliki perasaan sama jiyeon tapi dari yang aku baca diatas kayanya changmin orang yang baik,
    dan semoga saat kyu oppa datang menjemput jiyeon changmin bisa moveon kalau bisa sama alice aja,alice juga butuh pendamping yang baik dan tulus dan semoga alice gak jadi wanita egois kaya victoria yang tetap bertahan walau tau kyu oppa udah punya istri dan anak

    Suka

  3. Woahhhh udh part 9 aja… kyu semangar ngejarnya.. changmin gmn ya? Ksian. End ny jiyeon sma siapa? Next chapt. Last chapt terus bobo.. kkk

    Suka

  4. Akhirnya kyuhyun tau keberadaan jiyeon,,
    semoga jiyeon mau memaafkan kyuhyun, dan semoga dia ga punya perasaan lebih ke changmin,,
    walaupun kecewa sama kyuhyun, tapi ttp aja ga rela kalo jiyeon sama changmin 😥

    Suka

  5. Duh Jiyeon jgn gampang maafin Kyuhyun ya…..Kyuhyun blm menderita bgt menurut saya. Hrs buat Kyuhyun menderita parah br deh dimaafkan dia

    Suka

  6. Emm lelaki baik jarang klo tanpa maksud seperti changmin, entah dia tulus ato tdk tp dy baik bgttt m jiyoon n c kembar krn dy mencintai jiyoon n berharap bisa bersama dg jiyoon walopun kenyataan jiyoon mch bersuami
    Akhirny kyuhyun comback jg, n mdh”an saat kyuhyun d paris nanti jiyoon memaafkn kyuhyun y
    Omo jiyoon hamil kembar4? Gmn repotny y nanti klo dh lahir.. y ampun kembar2 aj dh repot bgtttt

    Suka

  7. Waaah aku masih kecewa sma kyu skrang aku berharap jiyeon sma changmin, biar kyu tau rasa
    Mereka beneran kya suami istri ih aku iri haha
    Aku ngebayangin nih klo tu 4bayi lahir dimana ngurusnya ya??? Pasti lucu seru dll lah haha

    Faighting thoooorr….
    Faighting ka handa post ffnya 🙂

    Suka

  8. Aaaahhhccc
    Gak tau knapa d ff nie
    Q berharap jiyi sma changmin,,gak peduli sma c’kembar..
    Toh changmin dah menerima segala
    Keadaan jiyi dengan 6anak…hehe
    Jebaaaalllll
    Sma changmin aja ya ya yaya…heeeee
    Neeext q tunggu ya…😉😉😉

    Suka

  9. annyeong readers… makasih buat supportnya yaa akhirnya selese juga bikin last part dari ff ini. tinggal nunggu tgl 18 dikirim ke kak handa, semoga bisa cepet dipost biar bisa menuntaskan rasa penasaran kalian tentang ending ff ini. hihi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s