Dream Or Real Part 10 (END)


Dream Or Real

 

Tittle : Dream Or Real

Category : Romance, Chaptered

Casts :

-Cho Kyuhyun

-Lee Jiyoon

Other Casts : Find By Yourself

Author : Angel_Cho

Note : Chapter end akhirnya hadir nih hehehe 😀 makasih buat admin Handa yang udah post ff ini sampai selesai. Buat yang baca story ini juga makasih banget RCL nya. Okee langsung baca ajah.

Happy Reading ^^

 

===o0♥0o===

 

Cahaya yang sangat menyilaukan, itu yang pertama kali Jiyoon rasakan saat ia berusaha untuk membuka kedua kelopak matanya. Bau obat menyengat yang begitu kentara dengan ruangan serba putih. Rumah sakit. Hanya itu yang ada dibenak Jiyoon saat mencoba mencari tahu dimana keberadaanya saat ini.

 

Jiyoon sedikit menolehkan kepalanya kesamping, begitu merasakan genggaman erat ditangannya. Suaminya tengah terlelap dengan keadaan terduduk dan menompangkan kepala miringnya tepat samping tangan yang bertaut erat. Astaga…, mata wanita itu meringis prihatin dengan posisi tidur Kyuhyun saat ini.

 

Ingin rasanya Jiyoon membangunkan Kyuhyun, tapi ia tidak tega begitu melihat wajah lelah dan pucatnya itu. Ia tahu sekali kalau sebenarnya Kyuhyun tidak dalam keadaan baik-baik saja, karena ia masih ingat dengan jelas kalau kejadian menyeramkan itu berhasil melukai perut suaminya. Lalu kenapa Kyuhyun disini? Bukankah dia juga harusnya mendapat perawatan medis dengan benar? Lantas kenapa suaminya justru tidur dengan posisi demikian?

 

“Akh…” Wanita itu mengeluh saat mencoba bangkit, namun yang dirasakan justru rasa sakit yang menyerang perutnya. “Bayiku.” Ia bergumam begitu sadar kalau dirinya disini karena mengalami pendarahan hebat setelah ia tersandung dan terjatuh saat peristiwa itu. Ia tidak tahu apa bayinya masih ada didalam perutnya atau tidak, sebab ia tidak bisa ingat dan merasakan apapun lagi setelah rasa sakit diperutnya begitu menggila kemudian semuanya menggelap bersamaan dengan terikkan orang-orang disekitarnya yang terus berdengung.

 

‘Ya Tuhan, aku mohon… aku tidak mau mendengar berita kehilangan dia’ Kepala Jiyoon menggeleng bertubi-tubi seraya dengan isakannya yang lolos karena ketakutan.

 

“Jiyoon-ah.”

 

Jiyoon tetap bergeming dalam isakannya meski Kyuhyun sudah terjaga dari tidur. Ia takut, hanya itu yang ia rasakan. Ia tidak mau mendengar ucapan Kyuhyun kalau bayi mereka sudah tiada. Ia tidak bisa.

 

“Jiyoon-ah.” Seru Kyuhyun yang mulai panik saat mendapati istrinya yang terisak pelan dengan menutup kedua telinganya rapat-rapat. “Jiyoon-ah, wae geurae?”

 

Gelengan yang terus menerus dari kepala Jiyoon kontan membuat Kyuhyun semakin khawatir dengan kondisinya saat ini. Apa lagi dia baru sadar setelah satu hari penuh dia tidak sadarkan diri. Ia pun bangkit dan duduk di sisi ranjang dan mengguncangkan tubuh istrinya yang tiba-tiba histeris tidak karuan.

 

“Aku mohon, jangan bilang kalau aku kehilangan dia, Kyu.” Kata Jiyoon masih dengan kehisterisannya.

 

“Jiyoon, dengarkan aku,” Pinta Kyuhyun, namun hanya sebuah gelengan yang lagi-lagi Jiyoon isyaratkan. “Tidak, sayang. Kau tidak kehilangan dia.” Kyuhyun berkata dengan menatap manik Jiyoon seraya senyuman tipis di bibirnya. Mencoba memberitahukan kalau yang ditakutinya tidak terjadi.

 

Jiyoon bangkit dan segera memeluk tubuh suaminya. “Kau tidak bohongkan, Kyu?” Suara Jiyoon masih bergetar karena isakan.

 

Sebuah gelengan dari Kyuhyun cukup membuat desahan nafas lega mengepul dari mulut Jiyoon. “Aku tidak bohong, Yoon. Dia masih bersama kita. Disini.” Kyuhyun menyetuh perut Jiyoon setelah sedikit merenggangkan rengkuhan kuat itu.

 

Tangisan Jiyoon pecah mendengar itu semua. Ia bukan menangis karena sedih, tapi karena ia sangat bahagia. Sungguh lega luar biasa perasaannya begitu tahu kalau calon bayi mereka ternyata masih berada didalam perutnya. Ia kira, ia sudah kehilangan buah cintanya, tapi ternyata Tuhan masih melindungi cabang bayi mereka hingga detik ini.

 

“Aku takut, Kyu.”

 

Kyuhyun tersenyum simpul seraya mengelus punggung ringkih istrinya. Ia tahu, bahkan sangat tahu sekali kalau Jiyoon begitu takut dengan keadaan calon bayi mereka, karena ia pun sama merasakannya. Ia juga sama takutnya dengan Jiyoon saat hazelnya melihat darah yang menganak sungai dari pahanya waktu itu.

 

Jika saja kala itu ia tidak membawa Jiyoon kerumah sakit dengan cepat, mungkin calon bayi mereka juga tidak akan selamat sampai detik ini. Karena dokter bilang; kandungan Jiyoon cukup sangat lemah karena kurangnya asupan dan ditambah lagi dengan kandungan Jiyoon yang masih sangat rentan karena usianya juga masih terbilang muda.

 

“Kyu, perutmu.” Jiyoon berujar setelah ia melepaskan pelukan pada suaminya.

 

Kyuhyun menangkup wajah pucat Jiyoon dan tersenyum sembari menggeleng pelan. “Aku tidak apa-apa, hanya sedikit tergores.” Pisau ditangan Hyera waktu itu memang berhasil melukai perut Kyuhyun, hanya saja itu tidak sampai menancap kedalam tubuhnya, hanya sedikit goresan, namun cukup membuatnya sedikit nyeri.

 

“Sungguh, kau tidak apa-apa?”

 

Kyuhyun mengangguk, dan menyibak bajunya untuk mempelihatkan perutnya yang sudah terutup perban. “Lihat, aku tidak apa-apa ‘kan?”

 

Jiyoon mendesah lega begitu melihat perut Kyuhyun yang memang nampak biasa saja, hanya tertutup perban sepanjang sepuluh sentimeter. “Syukurlah, aku sangat takut denganmu waktu itu.”

 

“Aku lebih takut, Yoon. Apa lagi melihat darah yang mengalir dipahamu.”

 

“Sudahlah, yang penting semuanya sudah baik-baik saja. Tapi… bagaimana dengan wanita itu?” Wanita yang di maksud Jiyoon tentu saja adalah si pelaku yang membuat dirinya dan Kyuhyun seperti ini.

 

“Dia sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.” Terdengar nada kegeraman pada suara yang di lontarkan Kyuhyun.

 

Geurom, apa sekarang kita sudah bisa bernafas lega?”

 

“Tentu saja, sekarang kita aman. Tidak ada lagi yang perlu kita takuti atau pun cemas. Semuanya sudah selesai.”

 

Kyuhyun benar, semuanya masalah sudah selesai. Masalah perusahaan kini sudah berangsur membaik dan nampak berjalan lancar. Kedua orang yang pernah membuat kekacauan pun sudah pasti akan lama mendekam di penjara. Dan pelaku yang membuat istrinya disini pun sudah mendapat balasan yang sepadan dengan perbuatannya.

 

“Kyu,” Panggil Jiyoon karena mendadak Kyuhyun diam sambil terus menatapnya.

 

“Iya?”

 

“Aku lapar.”

 

Kyuhyun terkekeh dengan wajah Jiyoon yang tiba-tiba saja kembali manja padanya. My wife is back—Jiyoon yang selalu manja dan merajuk pada dirinya.

 

Kyuhyun pun menekan tombol untuk memanggil perawat karena sejak Jiyoon masih tidak sadarkan diri, belum ada makanan yang mengatarnya kesini. Heran. Padahal biasanya pelayanan rumah sakit itu sangat baik. Tapi see… tidak akan makanankan disini?

 

Heuh…

 

===o0♥0o===

 

Disebuah tempat yang terasa begitu hening dan dingin, seorang wanita meringkuk dengan duduk dipojokkan sambil menekuk kedua lututnya. Tatapan kosong dengan lingkar matanya menghitam, menandakan kalau wanita ini tidak tidur semalaman. Ia tengah menikmati keheningan pagi ini dengan seorang diri.

 

Penyesalan.

 

Hanya itu yang ia rasakan semenjak jeruji besi menyapanya kemarin malam. Ya, ia menyesal karena sudah melakukan hal bodoh hingga membuatnya berakhir disini. Menjadi wanita tahanan. Seumur hidupnya, ia tidak pernah berpikiran kalau ia akan merasakan dunia penjara seperti saat ini. Andai saja di tidak pernah melakukan penyekapan terhadap istri dari pria yang membuat pamannya masuk penjara, mungkin saat ini ia juga masih bisa menghirup udara bebas seperti biasanya. Tapi pada kenyataanya, ia disini—dipenjara dengan seorang diri tanpa ada yang menemani.

 

Awalnya, ia kira kalau dengan melakukan pembalasan atas yang sudah Kyuhyun lakukan pada pamannya, ia bisa merasa puas. Apa lagi ia menyekap istrinya dan berniat membunuhnya. Tapi takdir berkata lain, ia justru sangat menyesal.

 

Harusnya ia sadar kalau pamannya memang bersalah dan pantas untuk mendekam di penjara. Tapi kenapa ia justru berusaha membalasnya? Oh Tuhan…, semuanya sudah terlambat. Kini ia disini dan tidak lagi mempunyai seseorang yang di sampingnya. Lee Donghae pergi meninggalkan dirinya, dan pamannya sudah berada di tempat yang sama dengan dirinya dengan status yang tidak mempunyai apa-apa lagi. Harta serta kekuasaanya lenyap tak berbekas. Sekarang ia sudah hancur.

 

“Nona Jung Hyera.”

 

Ia menganggkat kepalanya saat suara petugas memanggil namanya. “Iya, ada apa?”

 

“Ada seseorang yang ingin menemui anda.” Kata petugas itu seraya membuka kunci jeruji.

 

Hyera bangkit dengan kerutan di dahinya. Siapa yang ingin menemuinya? Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Orang tuanya sudah tiada, saudara jauh uang lain pun rasanya tidak mungkin, karena tidak pernah akur selain dengan paman yang selama ini menampung hidupnya—Min Jinsoo.

 

Meski dalam hati Hyera terus bertanya-tanya soal; siapa yang menemui dirinya, tapi wanita itu tetap mengikuti langkah petugas yang menuju sebuah ruangan yang khusus untuk membesuk para tahanan.

 

Langkah Hyera tertahan saat petugas membuka pintu ruangan yang cukup kecil dan menampakkan seseorang didepannya yang terpisah oleh sebuah kaca lebar. Hyera tetap bergeming dengan mata yang sudah terkunci oleh sosok pria itu.

 

Kenapa dia ada disini? Kenapa ia mau menjenguknya? Harusnya dia membencinya? Harusnya dia tidak pernah menampakkan diri didepannya lagi setelah apa yang di lakukan terhadap wanita yang dicintainya.

 

“Hyera-ya.” Pria itu bersuara lebih dulu.

 

Hyera pun mengejap sadar dari diamnya dan melangkah maju lantas ia pun duduk didepan sosok itu yang dibatasi oleh sebuah kaca.

 

“Kenapa kau ada disini?” Mata Hyera masih terus mentap pria itu.

 

“Aku ingin melihatmu dan meminta maaf atas semua kesalahnku padamu.”

 

Hyera menggeleng pelan. “Kau tidak bersalah, Lee Donghae. Karena sejak awal aku memang salah. Aku kalut hingga berbuat seperti itu terhadap Lee Jiyoon.” Kepala Hyera menunduk karena entah kenapa pelupuk mendadak terisi oleh genangan air mata.

 

“Kau tidak akan melakukan itu semua, jika aku tidak meninggalkan dirimu sendirian. Harusnya aku sadar kalau ada seorang wanita yang sangat mencintaiku, tapi aku malah meninggalkannya. Aku minta maaf.” Pria ini—Lee Donghae—sadar kalau dirinya juga ikut andil kalau ia juga bersalah atas tindakan Hyera pada Jiyoon. Mungkin, kalau saja ia tidak meninggalkan Hyera, wanita ini pun pasti tidak akan berbuat nekat hingga sedemikian rupa. Ia sudah mengenal lama sosok Hyera, harusnya ia pun tahu. Tapi kenapa ia malah melakukan hal bodoh dengan meninggalkan dia? Oh Tuhan..

 

“Aku—” Hyera terdiam lagi, tidak tahu harus berkata apa. Karena pada dasarnya Lee Donghae yang membuat akal dan pikirannya menghilang dan bertindak tidak wajar.

 

“Aku akan menunggumu. Aku akan menunggu wanita yang mencintaiku.”

 

Kepala Hyera terangkat dengan mata yang sedikit melebar kaget. “Donghae-ya, kau… kau—”

 

“Iya, aku akan menunggumu untuk bersama seperti dulu lagi. Bukan karena aku kasian padamu, tapi aku tidak mau menyia-nyiakan wanita yang selama ini mencintaiku. Ajarkan aku kembali untuk mencintaimu lagi, membuat rasa itu kembali tumbuh seperti dulu.”

 

Hyera membengkap mulutnya untuk menahan isakan yang lolos karena kata-kata Donghae. Sorot mata pria itu terlihat tulus dan tidak ada kebohongan disana. Dan Hyera percaya itu. Percaya kalau Donghae mau kembali dengannya lagi meski saat ini ia sudah mendekam didalam penjara.

 

“Jangan menangis, aku mohon.” Donghae tidak ingin lagi melihat buliran mata Hyera untuk kesekian kalinya. Andai saja tidak ada kaca yang membatasi ruang mereka, demi Tuhan, ia ingin mengusap mata basah itu dengan lembut.

 

“Terimakasih… terimakasih untuk mau menungguku.” Meski tubuh Hyera bergetar karena tangisnya, tapi wanita ini bahagia. Cukup dengan Donghae bersamanya, maka hidupnya terasa sempurna.

 

“Jalani semuanya dengan baik, aku akan menunggu sampai kau keluar dan kembali padaku seperti dulu.”

 

Hyera mengangguk sembari mengusap kedua pipi basahnya dan tersenyum, lantas Donghae pun membalas senyuman Hyera.

 

Ini keputusan Lee Donghae, menunggu Hyera keluar dari penjara. Meski pun butuh waktu yang lama, tapi itu tidak masalah. Cintanya pada Hyera memang sudah hilang, tapi rasa cinta itu bisa saja kembali muncul karena terbiasa dan juga belajar untuk mencintainya. Dan Donghae yakin, ia pasti bisa untuk kembali mencintai sosok wanita didepannya, Jung Hyera.

 

===o0♥0o===

 

Satu minggu sudah berlalu, kini kehidupan Kyuhyun dan Jiyoon sudah kembali seperti semula. Keadaan Jiyoon sudah membaik sejak pulang dari rumah sakit tiga hari yang lalu. Bahkan hari ini wanita itu sudah kembali bekerja dikantor, padahal Kyuhyun sudah melarang keras agar Jiyoon tetap dirumah dan Kyuhyun pun memintanya untuk tidak bekerja lagi. Tapi permintaannya itu justru tidak di indahkan, wanita itu mendadak keras kepala dan tidak mau menurutinya.

 

“Nona,” Panggil Jungsu yang baru saja masuk kedalam ruangan Jiyoon setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.

 

“Iya, ahjussi.” Jiyoon menyahut tanpa menoleh, dia tetap fokus dengan berkas yang sudah di tinggalkannya satu minggu ini.

 

“Jangan terlalu fokus dengan pekerjaan.” Jungsu heran dengan Jiyoon, dia sangat fokus dengan berkas-berkasnya sejak kembali masuk bekerja di perusahaan.

 

Ahjussi jangan seperti Kyuhyun, aku baik-baik saja.”

 

Jungsu mendengus seraya duduk dikursi dan menyerahkan sebuah map di meja Jiyoon. “Ini laporan yang kau inginkan.”

 

Jiyoon menghentikan kegiatan mengamati berkas di tangannya, ia menatap Jungsu sekilas dan mengambil laporan dari pria itu. “Semuanya lancar dan tidak ada masalah.” Ujarnya sambil menyederkan punggung setelah melihat map yang tadi bawa Jungsu.

 

“Pemasukan Leon Picture memang sangat baik, Nona. Bahkan harga saham kembali naik setelah masalah pembangunan Mall itu terselesaikan.”

 

“Ah… syukurlah, aku lega mendengarnya.” Jiyoon tersenyum dan meletakkan kembali map itu. “Ngomong-ngomong, ahjussi. Kyuhyun dimana aku belum melihatnya sejak tadi pagi.”

 

“Kyuhyun baru saja kembali dari meeting dengan bagian pemasaran.” Dan Jungsu pun tidak akan ada diruangan Jiyoon kalau rapat itu belum selesai, karena kemana pun Kyuhyun pergi untuk urusan pekerjaan, sudah pasti Jungsu menemaninya. Maklum saja Kyuhyun masih tidak paham dengan urusan kantor. Dia masih belajar.

 

“Baiklah kalau begitu, aku ingin keruangan Kyuhyun saja.” Ujar Jiyoon seraya berdiri dari duduknya dan melenggang keluar dari ruangannya, kontan itu membuat Jungsu mendengus. Selalu saja begini—Jiyoon mencari Kyuhyun padanya. Ck, padahal Kyuhyun itu punya ponsel, tapi herannya Jiyoon lebih bertanya padanya dari pada dengan suaminya sendiri. Aneh.

 

===o0♥0o===

 

Kepala Jiyoon sedikit melongok masuk kedalam ruangan Kyuhyun, setelah ia sampai didepan pintu kokoh itu. Tadinya ia ingin bertanya pada sekretaris Kyuhyun, tapi wanita itu tidak ada dimejanya. Dan ternyata suaminya tengah berbiacara dengan asisten keduanya di sofa—Lee Hyukjae.

 

“Apa aku mengganggu?” Jiyoon masih bertahan di posisinya.

 

Kyuhyun dan Hyukjae yang mendengar suara pelan itu pun kontan mengarah padanya. “Tentu saja tidak, kamarilah.” Tangan Kyuhyun melambai-lambai, meminta Jiyoon untuk duduk disampingnya.

 

“Hay, Nyonya Cho.” Sapa Hyukjae begitu Jiyoon sudah duduk didekat Kyuhyun.

 

Jiyoon meringis dengan panggilan Hyukjae yang terasa asing ditelinganya. “Tolong jangan panggil aku seperti,” Protes Jiyoon. “Nona saja, oke.”

 

Kyuhyun mencibir geli dengan protesan istrinya. “Umurmu sudah pantas dipanggil Nyonya, ketimbang Nona.”

 

“Panggilan Nyonya itu lebih pantas untuk eomma, Kyu. Dan aku tidak mau disamakan dengan eomma.”

 

Kyuhyun menaikkan kedua bahunya saat Hyukjae meminta pendapat dengan tatapan matanya.

 

“Sudah waktunya makan siang, Kyu. Apa kau masih ada pekerjaan?” Jiyoon bertanya seraya melirikkan matanya kearah kertas yang di pegang Kyuhyun. Dan sepertinya itu adalah grafik bulanan.

 

“Sebenarnya tidak ada pekerjaan, Nona.” Hyukjae menyahut dengan panggilan yang Jiyoon mau. “Hanya berdiskusi dan belajar mengenai perusahaan, maklum saja aku belum terlalu mengerti dengan pekerjaan baruku ini.”

 

Jiyoon mengangguk paham. Tentu saja ia mengerti dengan alasan mereka yang terlihat fokus dengan semua pekerjaan yang meraka tangani. Ia pun mengerti kenapa  Kyuhyun, Hyukjae dan Jungsu selalu bersama untuk membahas semua masalah dalam perusahaan. Tentu saja ini karena Kyuhyun dan Hyukjae masih termasuk orang awam dengan pekerjaannya yang sekarang.

 

“Sebaiknya sekarang kita makan siang.” Ujar Kyuhyun sambil melirik jam ditangannya yang kini sudah menunjukan pukul dua belas lebih. “Jungsu hyung, jangan lupa ajak dia.” Tambah Kyuhyun kemudian.

 

“Aku akan mencarinya.” Sambung Hyukjar.

 

“Dia ada diruanganku.” Timpal Jiyoon, dan kemudian ia pun bangkit mengikuti Kyuhyun yang sudah melangkah kearah pintu.

 

Ya begitulah para petinggi Leon Picture, mereka selalu melewatkan makan siang bersama jika pekerjaan dirasa sudah beres. Dan terkadang, diselama makan mereka, pasti ada saja urusan kantor yang dibahas. Entah itu Kyuhyun yang bertanya atau pun Hyukjae. Dari pada Kyuhyun, Hyukjae ‘lah yang lebih banyak bertanya soal ini dan itu. Karena jelas Hyukjae masih belajar dari dasarnya.

 

Meski pun begitu, Hyukjae pun tidak hanya bertanya pada rekan kerjanya. Ia juga lebih banyak belajar sendiri secara otodidak jika ia tengah berada didalam rumah. Meski berat, tapi Hyukjae mencoba menikmatinya. Dan ia suka dengan pekerjaan yang sekarang.

 

===o0♥0o===

 

Setelah Hyukjae mencari keberadaan Jungsu yang ternyata memang ada diruangan Jiyoon, akhirnya akan siang keempat orang itu pun mencari tempat makan dan jatuh pada sebuah restoran khas Jepang. Tempat favorit Jiyoon.

 

Disinilah mereka, duduk mengitari meja bundar beralas kayu yang indah.

 

Jiyoon tersenyum senang begitu para pramusaji meletakkan pesanannya ditengah meja. Sushi tuna, Tempura dan Tokoyaki, itu yang menjadi pesanan Jiyoon kali ini. Jangan heran dengan pesanan Jiyoon yang mencapai tiga macam, itu karena naluri keinginannya. Sebab semenjak hamil, selera makan Jiyoon meningkat derastis.

 

Sedangkan Kyuhyun, Hyukjae dan Jungsu hanya memesan Shabu-shabu.

 

“Selera makan ibu hamil memang berbeda dari pada kita.” Celetuk Jungsu saat menikmati irisan daging sapi dan jamurnya.

 

“Jangan menyindirku, ahjussi.” Cibir Jiyoon yang membuat Kyuhyun dan Hyukjae tersenyum tipis.

 

“Aku tidak menyindir, Nona. Hanya berkata dengan faktanya saja.”

 

Dengusan Jiyoon menguap, gemas saja dengan pria yang satu itu. Pria yang sampai saat ini masih menyendiri, padahal dia sudah berumur diatas tiga puluh tahun. “Terserah yang tua saja, yang muda lebih baik mengalah.”

 

Sindiran itu rupanya cukup membuat mata Jungsu mendelik tajam. Selain manja, Jiyoon ini memang orang yang tidak mau kalah jika sudah menyangkut sindir-menyindir. Ada saja bahasannya untuk membalas.

 

Malas berdebat, akhirnya Jungsu dan yang lainnya kompak untuk membisu, menikmati acara makan siang mereka dalam keheningan sampai ponsel yang terletak di depan Hyukjae bergetar.

 

“Ada apa?” Tanya Hyukjae mengangkat sambungan ponselnya. Kontan ketiga orang itu pun memperhatikan gerak-gerik Hyukjae. “Aku ada restoran Jepang bersama Kyuhyun dan yang lainnya. Oh, baiklah aku akan kesana setelah pekerjaan selesai.”

 

Oke fix, bukan hanya Jungsu yang mengerutkan dahi karena heran dengan percakapan itu, tapi dan Jiyoon pun demikian. Kedua orang itu heran dengan ucapan Hyukjae. Namun tidak dengan Kyuhyun, pria itu rasanya sudah tahu siapa yang menjadi lawan bicara sahabatnya, maka dari itu ia tetap melanjutkan makannya.

 

“Siapa?” Jungsu tertanya sesaat setelah Hyukjae memasukkan ponselnya kedalam saku jas.

 

“Kim Nana.” Hyukjae menyahut enteng seraya menyesap minumannya.

 

“Kim Nana?” Ulang Jungsu. “Wanita yang menjadi resepsionis perusahaan?” Tebaknya yang mencoba mengingat sederet nama yang dikenalnya. Dan tebakannya jatuh pada wanita yang seringkali memberitahukan soal kedatangan tamu perusahaan pada dirinya.

 

“Iya benar.”

 

“Jadi… maksudmu kau berhubungan dengan Nana, begitu?”

 

Well ya, aku memang berhubungan dengannya. Tapi masih sebatas teman dekat. Itu saja.” Jelas Hyukjae apa adanya. Karena memang itulah yang saat ini tengah ia jalani. Ia dan Nana memang dekat, namun masih sebatas teman karena wanita itu sendiri yang meminta untuk tidak lebih dari itu. Dia ingin lebih mengenal dirinya sebelum hubungan mereka terlalu jauh.

 

“Bukankah teman dekat diatas ranjang?”

 

Uhuk… uhuk… uhuk…

 

Hyukjae seketika tersedak tanpa sebab dengan celetukan Kyuhyun yang tanpa dosanya. “Sialan, aku tidak seperti itu, Cho Kyuhyun.” Protesnya kesal.

 

“Benarkah, tapi kenapa kemarin pagi saat aku menghubungimu suara Nana yang mengangkat telfonmu?” Iya, kemarin pagi Kyuhyun memang menghubungi Hyukjae, dan justru suara serak Nana yang menjawabnya.

 

“Eh… ehm… itu… ya… sebenarnya…” Hyukjae tidak bisa berkata, mau membantah pun percuma, Kyuhyun sepertinya sudah tahu dengan hubungan tidak jelasnya bersama Nana

 

“Sudahlah, aku tahu sekali tabiatmu. Tapi kalau menurutku, lebih baik perjelas hubunganmu dengan Nana jika tidak ingin menyesal nantinya.” Mengenal Hyukjae sejak jaman sekolah, tentu saja Kyuhyun tahu bagaimana perilaku Hyukjae jika dengan seorang wanita. Ya… you know what-lah.

 

“Aku tahu, Kyu.” Hanya itu balasan Hyukjae, dan ia pun kembali mengunyah irisan daging sapinya tanpa mau mendengar nasehat dari Kyuhyun lagi. Ia sudah bosan.

 

Sementara itu, Jiyoon yang sejak tadi menjadi pendengar yang baik pun kini mengerti kemana arah pembicaraan ketiga pria didepannya—Lee Hyukjae berhubungan dengan Kim Nana. Ck, ia sungguh tidak menyangka jika pria itu bersama dengan wanita yang lumayan ia kenal. Karena sejatinya Nana ‘lah yang dulu membuat dirinya dekat dengan Lee Donghae.

 

Daddy!!!”

 

Sebuah pekikan khas bocah perempuan terdengar, kontan orang yang tengah menikmati makannya pun menoleh kearah sumber suara.

 

Daddy, I miss you so much.” Bocah perempuan bersetelan serba pink itu tiba-tiba saja bergelanyut manja di lengan Jungsu.

 

Baby, kau bersama siapa, huh?” Jungsu mengangkat tubuh bocah itu ke pangkuannya.

 

“Bersama mommy.”

 

“Lalu dimana mommy sekarang?”

 

“Ke toilet.” Tunjuk bocah itu pada pada sudut ruangan yang memang ada pentunjuk papan toilet disana. “Daddy kemana saja, aku rindu padamu?”

 

“Maafkan daddy, Baby. Daddy banyak pekerjaan, jadi tidak bisa melihatmu dirumah.” Jungsu mencubit pipi tembab bocah di pangkuannya.

 

“Miki-ya,” Suara lembut tiba-tiba terdengar yang bersamaan dengan langkah kaki yang mendekati meja itu. “Maaf, aku tidak tahu kalau kau disini. Tadi aku ketoilet, dan entah bagaimana Miki bisa bersamamu.” Wanita itu berkata sesal seraya mengambil bocah bernama Miki dari Jungsu.

 

“Tidak apa-apa, maaf aku tidak mengunjungimu akhir-akhir ini.” Kini Jungsu yang berkata menyesal lengkap dengan wajah sedihnya.

 

“Aku mengerti,” Kata wanita itu. “Kalau begitu aku harus pergi, Naoki pasti sudah rewel dengan Miyoung eonni dirumah.”

 

Jungsu mengangguk, “Hati-hati dijalan, aku akan menghubungimu.” Dan dengan kalimat itu, wanita berserta bocah menggemaskan tadi meninggalkan meja makan dengan yang membuat ketiga orang disana terdiam karena penuh tanya di kepalanya.

 

Siapa wanita itu?

 

Pertanyaan itu yang langsung keluar dikepala Jiyoon, Kyuhyun dan Hyukjae. Kenapa mereka terlihat akrab sekali? Apa lagi kesan keduanya seperti seorang keluarga dengan satu anak begitu mereka bercakap-cakap. Tapi hey, selama mereka mengenal sosok Jungsu, pria itu tidak pernah membahas soal wanita sekali pun. Dia selalu fokus dengan pekerjaannya. Lalu ini apa?

 

Ahjussi, siapa wanita tadi?” Jiyoong bertanya yang tidak bisa menutupi rasa penasarannya.

 

Jungsu mengamati satu persatu wajah ketiga orang didepannya. Dan tak tak lama kemudian sebuah senyuman kikuk tersungging di bibirnya. “Itu… Shin Nara.”

 

“Oke, dia Shin Nara. Lalu apa hubunganmu dengannya, ahjussi? Kenapa anak itu memanggilmu dengan sebutan daddy?” Jiyoon bertanya masih dengan rasa ingin tahunya. Terlebih karena panggilan bocah tadi. Bagaimana bisa Jungsu di panggil daddy, sementara sampai detik ini saja pria itu tidak pernah terlihat dengan seorang wanita. Aneh.

 

“Nara temanku, dan anak itu adalah anakku dengan Nara.”

 

“APA!!!” Ketiga orang itu kompak memekik kaget hingga membuat orang-orang didalam resto melihat kearah mereka.

 

Ahjussi, kau sedang bercanda ‘kan?” Raut wajah Jiyoon begitu terkejut, berikut Kyuhyun dan Hyukjae pun sama.

 

“Apa wajahku terlihat sedang bercanda, Nona.” Jungsu berpose hingga membuat Jiyoon mendengus jengah.

 

“Aku serius, ahjussi.” Jiyoon bersikukuh.

 

“Aku juga serius, Nona. Miki memang anakku dan Nara.” Jungsu melipat tangannya setelah meletakkan sumpit. Ia sudah selesai dengan makannya.

 

“Ta—tapi ba—bagaimana bisa ahjussi mempunyai seorang anak, sedangkan selama ini saja ahjussi tidak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita.”

 

“Jiyoon benar, aku juga tidak pernah melihatmu bersama dengan wanita selama ini, hyung.” Kyuhyun menimpali ucapan istrinya. Sementara Hyukjae tetap diam. Meski dalam hati ia pun sama terkejutnya dengan hal yang baru saja ia ketahui itu. Ya karena jelas Hyukjae baru mengenal Jungsu, itu pun baru beberapa minggu ini. Tidak seperti Jiyoon atau pun Kyuhyun.

 

“Hubunganku dan Nara cukup rumit, Nona.” Ujarnya memulai mengakuan sambil tersenyum. “Aku tidak pernah dekat wanita itu bukan berarti aku tidak mempunyai seseorang yang dekat denganku, itu karena memang aku hanya malas dan tidak nyaman untuk melakukan itu semua. Namun Nara berbeda, dia selalu menerimaku kapan saja. Aku senang bersamanya. Dan soal Miki, sebenarnya dia hadir tanpa disengaja, ada sebuah insiden kecil hingga membuatnya hadir didalam perut Nara karena diriku. Dan aku cukup tahu diri, aku bertanggung jawab, tapi aku tidak menikahinya. Aku selalu ada bersamanya, rasanya itu sudah cukup hingga membuat Naoki anak keduaku lahir didunia ini.”

 

Tercengang, terkejut dan takjup. Itu yang pantas untuk mendeskripsikan wajah ketiga orang didepan Jungsu. Mungkin Kyuhyun dan Hyukjae tidak terlalu terkejut seperti Jiyoon saat ini. Karena jelas ini adalah fakta yang sangat-sangat mengejutkan bagi Jiyoon. Bayangkan saja, hampir setiap hari Jungsu bersama Jiyoon semenjak dirinya masih di dunia sekolah, tepatnya semenjak ayahnya membawa Jungsu dari panti asuhan dan bergabung sebagai keluarganya. Kendati seperti itu, Jungsu tidak mau di angkat sebagai anak oleh ayahnya. Makanya kenapa nama Jungsu tetap bermarga Park, bukan Lee. Itu semua karena Jungsu yang menginginkannya. Dan sebagai tanda terimakasih Jungsu terhadap ayah Jiyoon, Jungsu selalu mengawasi Jiyoon kemana pun dan juga menuruti kemauan ayah Jiyoon untuk belajar dan terjun dia bisnis.

 

Nah, sudah jelaskan bukan kalau sejak dulu Jungsu selalu bersama Jiyoon? Lalu bagaimana bisa Jiyoon tidak tahu soal wanita yang bernama Shin Nara itu? Oh Tuhan…

 

Eh… tunggu!!! Jiyoon mengejapkan matanya beberapa kali saat sadar dengan sesuatu yang aneh pada Jungsu. Yaitu ketika pria itu tiba-tiba saja menghilang tanpa sebab. Seperti saat ia dan Jungsu akan siang bersama, dan saat itulah Jungsu tidak ada kabarnya hingga membuatnya harus makan seorang diri di kafe. Iya, benar ini hal yang mengganjal bukan?

 

Geurom, saat ahjussi mendadak pergi, apa ahjussi menemui wanita itu?” Jungsu tersenyum dan mengangguk pelan. “Astaga…” Jiyoon menyandarkan punggung dikepala kursi.

 

Hyung, jadi kau sudah mempunyai dua anak?” Lagi, hanya sebuah anggukan yang Jungsu berikan. “Lalu kenapa hyung tidak menikahinya?”

 

Jungsu mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu dan Nara pun tidak pernah membicarakannya. Saat dia hamil Naoki pun dia hanya bicara soal dirinya yang mengandung dan tidak memintaku untuk menikahinya.”

 

Jiyoon meringis heran. Sebenarnya ada apa dengan sosok pria itu? Bukankah dia adalah pria yang begitu peka dengan sekitarnya, lalu kenapa dia sendiri tidak peka dengan Nara? Heran.

 

Dulu saja dia yang berkata kalau ia dan Kyuhyun adalah pasangan tidak peka. Lalu apa kabarnya dengan sikapnya itu saat ini? Dia sungguh bodoh. Harusnya Jungsu bisa mengerti meski tanpa Nara berkata soal pernikahan diantara mereka. Jiyoon yakin sekali kalau Nara itu sebenarnya sangat-sangat menginginkan sebuah pernikahan, tapi karena dia seorang wanita, jadi dia hanya diam dan berani membahas itu dengan Jungsu. Ck.

 

“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, ahjussi.”

 

===o0♥0o===

 

Usai makan siang, Jiyoon dan Kyuhyun memutuskan segera kembali ke kantor. Sementara Jungsu dan Hyukjae pergi untuk mengecek proyek pembangunan Mall.

 

Selama dalam perjalanan menuju kantor, isi kepala Jiyoon sebenarnya masih saja di penuhi oleh segudang pertanyaan soal pria yang sudah berkepala tiga itu. Jujur saja, sampai saat ini rasanya Jiyoon tidak percaya kalau Jungsu sudah mempunyai dua anak. Gila, ia menyangka dengan hal itu.

 

“Kau masih memikirkan soal Jungsu hyung?” Tanya Kyuhyun yang menebak air muka Jiyoon yang seolah tengah berpikir keras.

 

“Tentu saja, aku hanya heran dan… entahlah aku bingung dengan sosok ahjussi. Aku jadi meragukan diriku sendiri, Kyu.”

 

“Maksudmu?” Alis Kyuhyun menaut heran meski ia terus fokus dengan jalanan didepannya.

 

“Aku ragu, apakah selama ini aku mengenal ahjussi dengan baik atau tidak? Lihat saja sekarang, aku bahkan baru tahu soal wanita serta anaknya, padahal aku sudah hidup dengannya lebih dari sepuluh tahun.”

 

“Mungkin Jungsu hyung punya alasan tersendiri kenapa ia tidak bicara soal itu padamu. Dan aku juga yakin kalau hyung juga mempunyai alasan kenapa dia seolah menyembunyikan itu semua dari kita.”

 

Jiyoon memang sadar kalau ucapan Kyuhyun ada benarnya, tapi tetap saja ini terasa aneh. Dan ia jelas masih syok.

 

“Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, aku yakin Jungsu hyung bisa mengambil pilihan terbaiknya.” Kata Kyuhyun lagi.

 

“Tapi, Kyu. Rasanya aku jadi gemas sendiri dengan sikap ahjussi. Aku yakin kalau sebenarnya Shin Nara itu menginginkan sebuah pernikahan. Tapi dia tidak berani untuk memintanya, mungkin karena Jungsu ahjussi belum bisa menyakinkan Shin Nara. Misalnya ahjussi tidak pernah bilang soal perasaannya atau alasan apapun hingga membuat wanita itu tetap diam.”

 

“Perasaan?” Ulang Kyuhyun. “Rasanya itu tidak mungkin, kau sendiri tidak pernah bilang perasaanmu padaku, tapi apa aku ragu?” Ada sebuah gelengan dikepala Kyuhyun. “Tentu saja tidak. Aku yakin kalau kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Karena kalau tidak, aku rasa kau tidak akan betah dan bahkan bertingkah manja denganku.”

 

Sial! Kenapa dia jadi membicarakan soal perasaannya? Jiyoon membatin dalam diamnya. Ia tidak tahu harus membalas ucapan Kyuhyun seperti apa. Karena itu memang benar adanya. Yasudah, kalau Kyuhyun sudah tahu dengan perasaanya, itu artinya ia tidak perlu untuk mengucapkan perasaan saat ini ‘kan?

 

“Jangan mengalihkan permbicaraan, Kyu.”

 

“Aku tidak mengalihkan pembicaraan, Yoon. Tapi aku bicara soal fakta. Mungkin mereka sebenarnya tahu dengan perasaaan masing-masing, tapi bisa saja ada sesuatu yang membuat mereka tetap bertahan dengan keadaan yang sekarang.”

 

“Ahh… aku jadi pusing sendiri memikirkan ahjussi dan wanitanya.”

 

Kyuhyun terkekeh pelan. “Sudah jangan terlalu di pikirkan, kasian si baby kalau mommy-nya tidak tenang.”

 

“Iya, aku tahu.”

 

===o0♥0o===

 

Sore harinya, Kyuhyun dan Jiyoon langsung pulang setelah semua pekerjaan di kantor selesai. Sebenarnya, sebelum pulang Jiyoon mencari-cari Jungsu, tapi sejak makan siang mereka di restoran Jepang, pria itu belum juga kembali, hanya Hyukjae saja yang berada diruang kerjanya. Dan Jiyoon pikir, mungkin Jungsu sedang mengunjungi Shin Nara mengingat percakapan mereka tadi siang.

 

Jiyoon menghela nafasnya seraya meletakkan baju ganti milik Kyuhyun di atas ranjang. Karena saat ini suaminya itu tengah membersihkan diri, dan menyiapkan baju untuk Kyuhyun adalah kegiatannya selama ini.

 

Sembari menunggu Kyuhyun selesai, Jiyoon memutuskan untuk keluar mencari cemilan yang biasa sedia dilemari pendingin.

 

Tepat saat dirinya melewati ruang perpustakan—tempat biasanya Kyuhyun kunjungi kalau sudah malam untuk belajar—dan saat ini sosok sang ayah ada didalam sana, itu pun ia tahu karena pintu kokohnya sedikit terbuka. Tanpa pikir panjang lagi, Jiyoon memutuskan untuk masuk.

 

“Apa aku menganggu, appa?” Seperti biasa, sebelum untuk masuk Jiyoon bertahan didepan pintu dengan kepala yang sedikit melongok.

 

Pria paruh bayah itu tersenyum menggeleng. “Tentu saja tidak.”

 

Appa, aku ingin bertanya.” Kata Jiyoon setelah mengambil duduk didekat ayahnya.

 

“Bertanya soal apa?”

 

“Soal… Jungsu ahjussi.” Jiyoon pikir mungkin ayahnya perlu tahu kalau Jungsu mempunyai hubungan rumit dengan seorang wanita.

 

“Kenapa dengan Jungsu?”

 

Untuk sesaat Jiyoon diam memikirkan soal hal ini atau tidak pada ayahnya. Tapi mau bagaimana pun ayahnya ini juga sudah mengasuh Jungsu sejak lama, jadi wajar bukan kalau beliau tahu?

 

“Apakah appa kalau Jungsu ahjussi sudah mempunyai anak dengan seorang wanita?” Tanya Jiyoon hati-hati.

 

“Dengan Shin Nara, bukan?” Jawab pria itu dengan santai tanpa mengalihkan perhatiannya dari bacaan ditangannya.

 

Sementara itu menganga tidak percaya kalau ternyata ayahnya sudah tahu soal wanita itu. “Bagaimana bisa appa tahu, kalau Jungsu ahjussi sudah mempunyai anak?”

 

“Jungsu sendiri yang bilang pada appa sejak dulu.”

 

“Lalu kenapa appa diam saja, kalau memang sudah tahu. Kenapa appa tidak memaksa ahjussi untuk menikahi wanita itu?” Jiyoon sungguh heran dengan semua ini, ia tidak percaya kalau ayah ternyata sudah tahu, tapi beliau tetap diam dan tidak memaksa Jungsi untuk menikahi wanita yang sudah melahirkan anaknya.

 

Appa sudah pernah menyuruhnya untuk menikah, Yoon. Tapi Jungsu tidak menurutinya, dan appa tidak mau memaksanya selama dia masih bertanggung jawab dengan kedua anaknya.”

 

Oh Tuhan… bahkan ucapan ayahnya Jungsu tidak mau mengindahkan, apa lagi kalau dia yang angkat bicara, mungkin nanti hanya akan di anggap angin lalu oleh Jungsu.

 

“Lalu kenapa appa tidak pernah bilang padaku soal hubungan Jungsu ahjussi.”

 

Tuan Lee meletakkan bukunya diatas meja dan menatap anaknya sembari tersenyum. “Bukannya appa tidak ingin memberitahukanmu, tapi itu adalah masalah Jungsu. Biarkan dia menyelesaikan urusannya sendiri. Dia pasti tahu apa yang terbaik untuknya.”

 

Gagal sudah usahanya untuk membuat Jungsu menikahi Shin Nara. Awalnya ia kira kalau ia bisa meminta ayahnya untuk memaksa Jungsu, tapi nyatanya tetap saja. Nihil. Heuh…

 

“Aku kekamar dulu, appa.” Pamitnya yang hanya di angguki oleh sang ayah.

 

Wajah Jiyoon tertekuk setelah keluar dari ruang perpustakaan. Karena ia justru tidak mendapatkan apa-apa meski ia sudah bicara soal Jungsu pada ayahnya.

 

“Putus asa karena tidak bisa memaksa aboemin, huh.” Suara Kyuhyun yang tiba-tiba muncul dari sampingnya kontan membuat wanita itu berjengit kaget.

 

“Astaga… kau mengagetkanku, Kyu.” Jiyoon mengelus dadanya, sementara justru Kyuhyun terkekeh geli dengan ekspresi wajah istrinya saat ini.

 

“Aku lapar,” Ujar Kyuhyun. “Kenapa tidak ada salad buah atau pun sayuran dilemari pendingin?”

 

Jiyoon menepuk dahinya, ia lupa soal soal makanan favorit suaminya. “Maaf Kyu, aku lupa kalau stok buah dan sayuran sudah habis sejak kemarin. Dan aku juga lupa untuk berbelanja.” Cengiran lebar yang menghiasi wajah Jiyoon kontan membuat Kyuhyun mencibir pelan.

 

“Aku buatkan omlete saja, bagaimana?” Tawar Jiyoon.

 

Kyuhyun menaikkan kedua bahunya. “Tidak masalah.”

 

===o0♥0o===

 

Lee Hyukjae menatap sejenak sebuah pintu didepannya sebelum masuk kedalam sana. Pintu flat yang dulu ia tinggali sebelum Kyuhyun memberikannya pekerjaan baru hingga membuat kehidupannya berubah 180 derajat. Dimana dirinya yang kini sudah menikmati kehidupan yang jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Dan entah kenapa malam ini ia ingin sekali melihat dan mengambil beberapa barang yang ada di flat kecil ini. Well, karena semenjak ia dicampakan oleh seorang wanita, ia tidak lagi tinggal disini, melainkan di flat milik Kyuhyun.

 

Menarik nafasnya, lantas Hyukjae pun masuk setelah berhasil membuka pintu dengan kunci cadangannya.

 

Pria yang sebentar lagi genap berusia 28 tahun itu menyernyit saat melihat keadaan flatnya yang masih terawat padahal sudah lama ia tidak tinggal disini.

 

Sunggingan senyum sinis terpatri di bibi Lee Hyukjae saat ia melewati dapur kecilnya dan menemukan bungkusan ramen ditong sampah.

 

‘Dia masih tinggal disini.’ Kedua bola mata Hyukjae berputar dengan fakta kalau ternyata sosok itu masih menghuni flatnya. Well, kenyataanya dulu ia memang memberikan flat ini pada wanita itu, tapi ia tidak menyangka kalau dia masih disini. Ia kira sosok itu sudah pergi entah kemana setelah dia mencampakkannya dan membuatnya harus pergi dari flatnya sendiri karena dirinya diusir dari sini. Ck, miris sekali.

 

Tanpa mau berpikir panjang lagi, Hyukjae segera masuk kedalam kamarnya dan membongkar isi lemari untuk mencari beberapa benda pentingnya.

 

“Jae-ya.”

 

Tangan Hyukjae yang tengah mengambil barang-barangnya terhenti saat suara lembut yang khas dan sangat dikenal itu mengguar ditelinganya. Setelah melirik sekilas, pria ini pun kembali melakukan kegiatan yang sempat terhenti. Ia tidak ingin bercakap-cakap dengan wanita itu. Ia muak. Sungguh.

 

“Jae, kau disini untuk pulang?”

 

Hyukjae tetap bergeming, malas dengan ocahan wanita itu. Baginya, pengusiran yang wanita itu pernah lakukan padanya cukup membuat tidak ingin berlama-lama untuk tetap berada disini.

 

Lalu tadi dia bilang apa?

 

Pulang?

 

Ck, ia bahkan sudah tidak sudi tinggal disini lagi kendati ini adalah flat yang penuh dengan kenangannya selama ia menjalani hidupnya seorang diri.

 

“Lee Hyukjae.” Suara wanita itu terdengar jengkel dengan kedimanan Hyukjae saat ini.

 

Setelah menarik nafas dan menutup kardua yang sudah terisi oleh berang-barangnya, Hyukjae bangkit dan berani menatap sosok yang tengah di ambang pintu kamar. “Aku tidak pulang. Bukankah kau bilang ini adalah rumahmu setelah aku memberikannya padamu dan kau mengusirku dari sini?”

 

Wanita itu terdiam, ia tidak bisa membalas ucapan Hyukjae yang merupakan keberanan itu. Oke, ia akui kalau ia memang mengusir Hyukjae dari flat ini, tapi sekarang ia menyesal apa lagi setelah melihat Hyukjae direstoran waktu itu. Ck, sungguh Hyukjae sangat berbeda seperti saat ini. Dia memakai kemeja kantoran, berbanding terbalik dengan dulu yang hanya orang pria urakan dan tidak jelas.

 

Dengan langkah ragu, wanita itu memberanikan diri untuk mendekati Lee Hyukjae yang masih berdiri didepan lemari. “Jae, aku… aku minta maaf atas semua kesalahanku. Aku menyesal.”

 

Hyukjae mendesis sambil melipat kedua tangannya. ‘Dasar wanita modus’. “Aku sudah memaafkanmu,” Katanya dengan nada malas. “Dan seperti yang pernah aku ucapkan dulu, kalau flat ini milik, jadi aku tidak akan sembarangan untuk kesini lagi.” Hyukjae melemparkan kunci candangan yang tadi ia bawa. “Itu kuncinya.”

 

Wanita itu terperangah kaget, ia kira Hyukjae akan melunak setelah ia meminta maaf, tadi yang ada pria itu justru semakin sinis padanya. Apa? Hey, kemana Lee Hyukjae yang begitu tergila-gila padanya? Kemana Lee Hyukjae yang selalu menuruti keinginana dengan suka cita? Dan kemana Lee Hyukjae yang selalu memberinya uang untuk ini dan itu?

 

“Jae, kalau flat ini untukku, lalu kau tinggal dimana?” Ia memancing untuk mengorek informasi tempat tinggal pria itu, karena semenjak ia mengusir Hyukjae, ia tidak pernah tahu lagi dimana dia tinggal.

 

“Disebuah tempat yang tentu saja sangat nyaman,” Hyukjae tersenyum. “Jadi silahkan saja ambil flat ini.”

 

“Jae-ya,” Panggil wanita itu sambil mencekal tangan Hyukjae yang berniat melewati dirinya. “Aku minta maaf, sungguh.”

 

Pria itu hanya melirik sekilas dan mengayun tangannya, menyingkirkan tangan wanita itu darinya. “Aku sudah memaafkanmu, Minah.”

 

Senyuman dibibir wanita bernama Minah terbit. “Sungguh?” Hyukjae yang mengangguk jengah. “Geurom, apa kita bisa seperti dulu lagi?”

 

Dan yeah, Hyukjae sudah mengira kata-kata itu akan muncul dari wanita yang merupakan mantan kekasihnya ini. “Maaf, aku tidak bisa. Dulu kau membuangku begitu saja seperti sampah disaat aku tidak mempunyai apa-apa. Dan jangan kira aku tidak tahu dengan apa yang ada didalam otakmu, Minah. Kau ingin kembali padaku setelah melihatku sudah seperti sekarang ini?” Mata Hyukjae menatap tajam dengan wanita itu. “Jangan bercanda, Minah. Aku bukan lagi pria bodoh yang tergila-gila padamu. Karena sekarang, aku bahkan bisa mencari sepuluh wanita seperti dirimu dalam satu malam, tapi sayangnya aku bukan pria seperti itu. Aku hanya butuh seorang wanita yang mau menerimaku apa adanya. Bukan ada apanya!”

 

“Jae…”

 

“Dan itu bukan dirimu, Minah. Tapi wanita yang selama ini berada disisiku, dan mau menerima diriku yang seperti ini.”

 

Minah diam seribu bahasa, ia kalah telak atas semua ucapan Hyukjae. Sial! Awalnya ia kira saat melihat Hyukjae yang berada di dalam flat ini adalah sebuah pertanda bagus untuk hidupnya yang baru, tapi yang ada ia justru mendapat menolakkan dan cemoohan yang menyakitkan dari mulut pria itu. Tks.

 

“Aku harus pergi, Kim Nana pasti sudah menunggu di rumah.”

 

===o0♥0o===

 

Hari ini cuaca di Seoul cukup menyenangkan. Langit putih nampak sangat cerah karena mentari menyinari tanpa adanya awan mendung yang menutupinya. Bunga-bunga dimusim semi terlihat bermekaran hari ini, sontak semua masyarakat Korea pun menyambut musim ini dengan suka cita. Sama seperti seorang wanita yang tengah berjalan berdampingan dengan suaminya itu. Dia sangat menikmati hari minggu ini dengan berjalan-jalan disekitar taman.

 

“Kyuhyun, aku ingin permen kapas itu.” Tunjuk wanita yang berbadan dua itu pada sebuah pedangan yang tidak jauh dari mereka berada.

 

Pria bersetelan kesual ini nampak terdiam sejenak, ia jadi ingat dengan peristiwa yang menimpah istrinya lima bulan yang lalu. Saat itu istrinya menginginkan sebuah permen kapas yang didekat taman, ia memang selalu menuruti apapun yang di inginkan Jiyoon—istrinya, hingga saat itu ia menepihkan mobilnya untuk membeli apa yang Jiyoon mau. Namun siapa yang sangka sebelumnya, kalau sebuah penculikan yang di lakukan seorang wanita justru penimpah istrinya. Tapi itu sudah berlalu dan keadaan Jiyoon kini jauh lebih baik dan semuanya pun sudah baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Karena bagi Cho Kyuhyun hanya kehamilan Jiyoon yang yang menjadi kekhawatirannya selama ini.

 

Kenapa?

 

Karena yeah… selama Jiyoon hamil, dia berubah menjadi sangat-sangat manja dan heum… sedikit merepotkan, kadang laka. Misalnya seperti meminta ini dan itu, dan permintaan Jiyoon itu sungguh sangat aneh, seperti meminta cup cake sepuluh rasa, dan harus dari sebuah toko kue yang ada daerah Busan. Bayangkan saja, berapa mil jarak Seoul dan Busan? Meski pun begitu, Kyuhyun tetap menuruti semua keinginan Jiyoon dengan sabar. Pernah lagi waktu itu Jiyoon meminta Kyuhyun untuk mencari eskrim disaat jarum pendek sudah di angka tiga dini hari, alhasil waktu itu Kyuhyun harus pergi kemini market untuk mencari eskrim, karena kebetulan stok eskrim di lemari pendingin sudah habis. Jika saja jerih payahnya mencari eskrim di pagi buta itu dimakan oleh istrinya, ia juga pasti akan senang, tapi nyatanya Jiyoon justru sudah tertidur setelah ia tingga untuk ke mini market. Heuh… sabar.

 

“Kyu, aku mau itu?”

 

Suara rajukan Jiyoon kembali terdengar, kontan membuat Kyuhyun sadar dari lamunannya yang teringat akan kegemasannya pada tingkah Jiyoon.

 

Ia tersenyum dan mengangguk. “Ayo, kita kesana.” Ajaknya. Kyuhyun tidak mau lagi meninggalkan istrinya sendiri jika sedang diteman, ia tidak ingin kerjadian yang dulu kembali terulang. Itu cukup mengerikan.

 

Kyuhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat bagaimana antusiasnya Jiyoon ketika mendapatkan permen kapas yang saat ini sudah ditangannya. Oh Tuhan… sebenarnya berapa usia Jiyoon yang sebenarnya? Kenapa dia menjadi seperti anak kecil begini?

 

“Jiyoon, hati-hati.” Entah sudah berapa kali Kyuhyun menegur Jiyoon hari ini. Wanita yang tengah hamil enam bulan itu seolah tidak memikirkan kandungannya dengan berjalan lincah kesana kemari dan terkadang berlari kecil yang membuat Kyuhyun harus menahan nafas karena takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu.

 

Bukannya menurut dengan teguran Kyuhyun, Jiyoon justru terkekeh dan sedikit berlari menghampiri suara itu sambil satu tangannya menggenggam permen kapas tadi ia beli. “Daddy, kami baik-baik saja, oke.” Katanya seraya bergelanyut manja dilengan Kyuhyun. Kedua orang ini agaknya tidak perduli dengan lingkungan disekitarnya, tidak jarang orang-orang yang berpapasan dengan mereka menatapnya dengan pandangan yang entah bagaimana. Ya… you know what-lah kalau Jiyoon dan Kyuhyun ini memang selalu seperti anak remaja yang tengah dimabuk cinta, sering kali memperlihatkan kemesraan mereka dimana pun itu. Sampai-sampai keduanya sering di protes jika sedang bersama dengan Hyukjae atau pun Jungsu.

 

“Jiyoon, aku mohon jangan berlari seperti itu, aku tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan kalian berdua.”

 

Kedua bola mata Jiyoon bergerak-gerik tidak tentu arah, mencoba bersikap biasa setiap kali Kyuhyun sudah memohon padanya. “Kami selalu baik-baik saja, Kyu. Percayalah.”

 

“Iya iya iya aku percaya, tapi—”

 

Oke stop!” Sambar Jiyoon. “Jangan memberiku kulia dihari minggu ini, oke? Lebih baik sekarang kita mencari makan, karena aku lapar.” Nah ini dia kebiasaan yang tidak bisa Kyuhyun cegah selama kehamilan Jiyoon, nafsu makannya sangat mengangumkan. Meningkat tiga kali lipat dari sebelum Jiyoon hamil.

 

“Kau ingin makan apa?”

 

“Heum…” Jiyoon berpikir sembari mengelus perutnya yang membuncit. “Aku pasta dan pizza.”

 

‘Junkfood lagi’. Kyuhyun mendesah pelan, “Bisakah kau jangan makan makanan seperti itu untuk hari ini, Yoon? Kamarin kau sudah memakan dua pizza, lalu sekarang pizza lagi?” Kyuhyun menggeleng tegas. “Tidak boleh.”

 

Wanita itu memberengut. Selalu saja begini—Kyuhyun melarangnya makan ini dan itu—alasannya hanya satu, yaitu karena kurang sehat. Ck.

 

“Yasudah, kalau begitu kita makan steak saja.” Tawar Jiyoon pada akhirnya.

 

“Oke.”

 

===o0♥0o===

 

Sebuah lirikan tajam dari mata Jiyoon mengerucut kearah Jungsu yang berpapasan dengannya begitu ia dan Kyuhyun memasuki rumah setelah harian ini ia habiskan untuk berjalan-jalan. Wanita ini agaknya masih mempermasalahkan soal hubungan Jungsu dan Shin Nara. Kendati kabar itu sudah berhembus sejak lima bulan yang lalu, tapi tetap saja setiap kali Jiyoon melihat wajah Jungsu, ia menjadi kesal.

 

“Hentikan tatapanmu yang seperti itu, Jiyoon.” Tegur Kyuhyun yang sudah bosan melihat Jiyoon yang seolah memberikan tatapan permusuhan pada pria yang saat ini sudah berada di dapur itu.

 

Hal ini pula yang membuat Jiyoon akhirnya tidak lagi berkecimpung di dunia kantor, dia marah dengan Jungsu karena tidak juga menikahi ibu dari anak-anaknya.

 

“Aku hanya kesal pada ahjussi.”

 

“Iya aku tahu, kau sudah mengatakannya berulang kali.”

 

Jiyoon tidak membalas ucapan Kyuhyun. Jangan heran kenapa ia marah dengan Jungsu sampai saat ini. Karena waktu itu ia pernah kembali membahas soal Shin Nara dan meminta Jungsu untuk menikahinya. Bukan Jungsu meresap ucapan Jiyoon, pria itu justru tidak kau mengindahkannya. Katanya; itu adalah urusanku, Nona. Jadi jangan heran kalau Jiyoon masih kesal dengannya. Dasar pria!

 

“Ada apa?” Kyuhyun bertanya sesaat setelah menutup pintu kamar mereka. Pria ini tidak akan bertanya kalau Jiyoon terus menempel padanya. Apa lagi saat inu istrinya itu tengah bermain-main kancing kemeja tanpa mau menatap wajahnya.

 

“Heum… kau tidak mandi, Kyu?”

 

“Tentu saja aku mandi.” Kyuhyun menyeringai geli. Satu hal yang bisa Kyuhyun pelajari dari semua sikap Jiyoon selama ini, yaitu ketika menginginkan sesuatu, tapi dia tidak berani mengatakannya, maka dia akan seperti ini. Bergelanyut manja dan selalu menempel padanya.

 

“Eh… kau ingin mandi air dingin atau hangat?” Tanpa diminta lagi, tangan Jiyoon sudah membuka kancing kemeja Kyuhyun satu persatu dan pria itu pun tetap bergeming, tahu kemana arah kemauan istrinya saat ini. Biarkan saja, ia ingin menunggu seperti apa Jiyoon meminta padanya.

 

“Air apa saja.” Balas Kyuhyun singkat setelah tubuhnya sudah setengah telanjang akibat kemejanya sudah dilucuti oleh istrinya. Ck, wanita ini selalu saja bertingkah aneh.

 

“Heum…” Jiyoon bergumam tidak jelas seraya mengalungkan tangannya pada leher Kyuhyun. “Kalau mandi sambil Daddy-nya menengok Baby, bagaimana?”

 

“Cih,” Kyuhyun mencibir sebelum akhirnya melumat bibir Jiyoon yang sejak tadi menantangnya untuk segera di bungkam. “Baiklah, ayo kita tengok si Baby didalam buthtub saja, Mommy.” Setelah ucapan itu Kyuhyun langsung menggendong Jiyoon ala bridal, lantas kedua pun masuk kedalam kamar mandi.

 

“Kapan kau menyiapkan ini, huh?” Kyuhyun menurunkan Jiyoon didekat buthtub yang sudah terisi dengan air penuh serta gelembung yang berasal dari sabun favorit milik istrinya ini, padahal mereka baru saja pulang tadi anehnya buthtub itu sudah siap untuk mereka gunakan.

 

“Aku meminta pada ahjumma sebelum kita sampai dirumah.”

 

“Pantas.” Gumam Kyuhyun tersenyum geli sembari mendekatkan wajahnya dan detik berikutnya bibirnya sudah meraup bibi istrinya dengan ritme pelan. Selalu hati-hati dan tidak ingin terburu, mencoba menikmati permainan bibir yang biasa mereka rasakan.

 

Disela ciumannya, tangan Kyuhyun tidak mau hanya bergeming di punggung istrinya. Seperti yang sudah-sudah, tangan itu pasti selalu bergerilya kemana-kemana, melepas satu persatu pakaian yang menutupi tubuh berisi Jiyoon saat ini.

 

Bukan cuma tangan Kyuhyun yang bermain lincah atas tubuh Jiyoon, namun wanita ini pun demikian. Perlahan namun pasti, tangannya sudah berhasil membuat celana Kyuhyun menyingkir dari tempatnya.

 

“Eungg…” Erangan pertama Kyuhyun lolos ketika tanpa disangka tangan Jiyoon sudah bermain gesit pada miliknya.

 

Ciuman mereka terlepas lantaran Jiyoon yang menjauhkan diri dan juatru mengecupi seluruh tubuh suaminya. Mulai dari leher, pundak, perut hingga pusarnya dan berakhir tepat didepan milik suaminya. Sambil berjongkok, tanpa canggung mulut Jiyoon sudah bermain lincah hingga membuat Kyuhyun terus mengerang tertahan tidak karuan. Inilah kegilaan Jiyoon, dia selalu membuatnya gila lebih dulu setiap kali mereka bermain.

 

“Jiyoon, cukup sayaang aku tidak mau keluar didalam mulutmu.” Katanya sambil menahan kepala Jiyoon agar tidak semakin dalam. “Ungghh… Stop!” Dengan terpaksa Kyuhyun menjauh miliknya sebelum gelombang itu benar-benar keluar dan berakhir didalam mulut Jiyoon. Sayangnya ia tidak mau itu terjadi, ia lebih suka mengeluarkan didalam diri Jiyoon sepenuhnya.

 

Tidak mau membuang waktu lagi, Kyuhyun langsung mengiring tubuh polos istrinya kedalam buthtub. “Kyu, pelan-pelan.” Seperti biasanya, Jiyoon sudah dalam posisi siap menerima Kyuhyun kapan saja.

 

Perlahan namun pasti, Kyuhyun pun bergabung dan membenamkan miliknya hati-hati. Jiyoon sedikit meringis sambil mengalungkan tangan dileher Kyuhyun. “Aaahh…” Lenguhan itu keluar saat tubuh mereka benar-benar menyatuh didalam air dengan posisi favorit Jiyoon, dimana Jiyoon yang ada diatas pangkuan Kyuhyun. Selain karena nyaman, juga karena posisinya tidak menindih calon bayi mereka.

 

“Apa dia baik-baik saja?”

 

Jiyoon mengangguk sambil sedikit meringis karena gerakan mereka yang terus mengayun hingga membuat air didalam buthtub sedikit bergelombang karenanya.

 

“Kenapa kau suka sekali mengajakku bermain disaat kita mandi, huh?”

 

“Uhh… karena aku suka.” Sahutnya sedikit terengah-rengah.

 

“Tapi aku tidak mau kita hanya disini, sayang. Ranjang sudah menunggu kita.”

 

“Itu bukan masalah.”

 

Seringaian penuh kemenangan Kyuhyun tersungging. Demi apapun Kyuhyun sangat menyukai wajah gairah istrinya seperti saat ini. Dia terlihat sangat cantik dengan wajah merah merona itu. Ia rasa, ia adalah pria yang paling beruntung yang bisa mendapatkan istri seperti Jiyoon. Istri yang mau menerima apa adanya. Istri yang saat ini mengandung anak anaknya, dan istri yang saat ini tengah mencari puncak kenikmatannya—Lee Jiyoon.

 

===o0♥0o===

 

Jarum pendek pada jam dinding kini sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi Jiyoon dan Kyuhyun justru baru saja keluar setelah kurang lebih lima jam mereka bergelung didalam kamarnya. Jungsu hanya melirik sekilas saat pasangan yang berjalan bersisihan menuju meja makan itu.

 

Jungsu menggeleng melihat Jiyoon yang mencari bahan makanan dilemari pendingin, sementara Kyuhyun menyiapkan peralatan masak mereka.

 

Mereka ini selalu saja tidak sadar waktu jika sudah berduaan. Lihat sekarang, seharusnya sejam yang lalu mereka bergabung saat acara makan malam tiba, tapi yang ada… justru tidak ada tanda-tandanya mereka untuk menampakkan diri, dan Jungsu tahu kenapa mereka seperti itu. Ck, dasar.

 

Pria berusia lebih dari kepala tiga ini bangkit dan mendekati Jiyoon yang masih mencari bahan makanan dilemari pendingin. “Wajah habis bercinta,” Sindir Jungsu saat melewati Jiyoon untuk menaruh cemilan dan bakas minumannya di dapur.

 

“Apa yang salah dengan wajahku, ahjussi yang tidak peka?” Jiyoon tidak mau kalah dengan sindiran Jungsu. “Lebih baik aku bercinta dengan suamiku sendiri, dari pada bercinta seseorang yang tidak memiliki ikatan apapun.”

 

Skak mate! Jungsu lagi-lagi dibuat bungkam jika Jiyoon sudah mengungkit soal hubungannya dengan Shin Nara. Astaga…

 

“Ngomong-ngomong, kenapa Nona menjadi cerewet sekali padaku?”

 

Ahjussi,” Seru Jiyoon dalam seraya meletakkan beberapa sayuran dimeja. “Aku wanita, dan aku juga bisa merasakan apa yang Shin Nara rasakan saat ini. Kalian mempunyai dua anak, tapi kalian tidak menikah? Cih, apa-apaan itu. Sungguh jika aku menjadi Shin Nara, lebih baik aku pergi dari hidupmu dan membawa kedua anak-anakku.” Jiyoon berbalik dan memulai menyisir sayur-sayurannya, tidak ingin lagi berdebat dengan masalah yang sama setiap kali ia berhadapan dengan Jungsu.

 

Sementara Jungsu yang sudah pergi setelah perkataan Jiyoon, Kyuhyun justru hanya menggeleng jengah dengan pemandangan yang sering ia tonton itu. Lagi pula… ia juga memiliki pemikiran yang sama dengan Jiyoon, hanya saja ia lebih memilih tetap diam seperti ayah mertuanya dari pada seperti Jiyoon yang terus mengajak Jungsu untuk sindir-menyindir.

 

“Sampai kapan kalian akan seperti itu terus?” Tanya Kyuhyun.

 

“Sampai ahjussi sadar kalau dia salah.”

 

“Yang penting dia masih bertanggung jawab dengan kedua anaknya, Yoon.”

 

Kedua bola mata Jiyoon berputar malas, kemudian menghentikan kegiatan mengiris sayurannya dan berbalik pada Kyuhyun. “Seorang wanita itu membutuhkan sebuah hubungan yang jelas, Kyu. Bukan hanya sekedar pertanggung jawabannya saja.”

 

Iya, Kyuhyun tahu kalau ucapan Jiyoon itu benar. Tapi entahlah, ia menjadi bingung sendiri untuk mencari cara agar Jungsu dan istrinya sedikit berdamai seperti dulu. Ini sudah lima bulan, dan keduanya masih saja bertingkah kekanakan dengan bersikap demikian. Jika begini terus-menerus, lalu bagaimana nasib hubungan keduanya yang renggang itu?

 

Ingin rasanya Kyuhyuh sedikit membujuk Jungsu, tapi ia sedikit enggan dan menghormati keputusannya yang memilih untuk tidak terikat dengan Shin Nara. Padahal mereka sudah memiliki dua anak. Oh God…

 

===o0♥0o===

 

Seperti biasanya, jika jadwal pemerikasaan kandungan Jiyoon tiba, maka Kyuhyun pasti akan pulang lebih cepat dari kantornya. Seperti hari ini, pria itu langsung pulang meski kerjaan dikantornya belum sepenuhnya rampung. Ia sengaja, karena ia lebih mengutamakan istri dan calon anaknya dari pada pekerjaan.

 

Sepanjang menyelusuri koridor rumah sakit untuk menemui dokter kandungan, senyum Kyuhyun terus mengembang tanpa henti. Rasa senang dan bahagia pada pria ini begitu kentara hingga membuat beberapa orang yang melihatnya menatap iri pada Jiyoon yang berdampingan dengan Kyuhyun saat ini.

 

Suami idaman. Kira-kira seperti itu untuk menggambarkan sosok Kyuhyun dimata orang yang melihatnya. Binar matanya tidak bisa membohongi kalau pria ini sangat mencintai istrinya. Lihat saja tingkah Kyuhyun, dia tidak canggung sama sekali untuk mengelus perut buncit istrinya yang bulan ini sudah memasuki angka sembilan, yang berarti sebentar lagi dia akan melahirkan buah cinta mereka yang selama ini dinantikannya.

 

Kedua duduk di kursi antrian—menunggu nama Jiyoon di panggil.

 

Lagi, beberapa pasangan mata terus menatap kedua suami istri itu dengan iri. Mungkin, mereka berpikir kalau Jiyoon adalah wanita beruntung yang mendapatkan perhatian penuh dari suaminya. Karena dari beberapa orang yang menunggu antrian, hanya Jiyoon dua pasangan lainnya yang datang bersama suami. Sisahnya mereka hanya sendiri atau pun bersama kerabatnya.

 

“Nyonya Cho Jiyoon.” Ujaran dari perawat yang berdiri didepan pintu kontan membuat pasangan muda ini tersenyum dan bangkit dari duduknya.

 

“Hati-hati,” Kata Kyuhyun seraya membantu Jiyoon untuk berdiri. Usia kandungan yang sudah memasuki bulan kelahiran, tentu saja ini membuat Jiyoon sedikit susah untuk bergerak, apa lagi juga sudah bangkit setelah ia duduk.

 

Setelah mengucapkan salam pada sang perawat, Kyuhyun dan Jiyoon pun masuk dan langsung di sambut oleh seorang dokter wanita yang sudah menunggu mereka.

 

Kyuhyun hanya duduk sambil melihat Jiyoon yang tengah diperiksa oleh dokter yang bernametag Hwang Minji itu. Sesekali ia tersenyum ketika matanya bertemu dengan manik istrinya. Dalam hidup Kyuhyun, sebelumnya ia tidak pernah menyangka kalau ia bisa melalui semua ini. Mempunyai seorang istri, mamanjakan dan memperhatikannya seperti yang sekarang ia lakukan.

 

“Bagaimana keadaan kandungan istriku, Dok?” Kyuhyun bertanya setelah Jiyoon melakukan serangkaian pemeriksaan dan kini sudah duduk disampingnya.

 

“Sangat baik, Tuan. Dan bayinya pun sangat aktif.” Sahut Dokter Hwang. “Geurom, apa Tuan dan Nyonya tidak ingin melihat jenis kelamin janinnya?”

 

Pasangan calon orang tua itu kompak menggeleng. “Tidak, kami tidak ingin tahu jenis kelaminnya sampai hari melahirkan itu tiba.” Kyuhyun membalas. Dan ya, Kyuhyun dan Jiyoon memang sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin anaknya. Mereka ingin mendapat kejutan. Lagi pula, laki-laki atau perempuan itu tidak masalah. Yang penting bayi mereka sehat, itu sudah lebih dari cukup.

 

“Baiklah kalau begitu,” Dokter itu memaklumi. “Saran saya, karena kandungan Nyonya Cho sudah masuk bulan kesembilan, mohon untuk lebih waspada, Tuan. Kelahiran Nyonya Cho memang diperkiraan akan berlasung pada munggiu ketiga bulan ini, tapi itu bisa saja terjadi tepat seperti yang diperkirakan, atau justru lebih cepat dan bisa saja terjadi lebih lama.”

 

Kyuhyun mengangguk dan tersenyum. “Saya mengerti, Dok.”

 

“Ini resep vitaminnya.”

 

Pria itu mengangguk sambil meraih kertas resep yang diberikan dokter. “Terimakasih, kalau begitu kami permisi.” Dan dengan itu kedua pun lantas pamit dan meninggalkan ruangan itu dengan hati begitu bahagia. Siapa pula yang tidak bahagia jika sebentar lagi bayi mereka akan segera lahir didunia ini.

 

“Eh.. Shin Nara-ssi.” Ujar Jiyoon saat tubuhnya berpapasan dengian seorang begitu ia baru saja keluar dari ruangan. Sementara Kyuhyun hanya diam ketika Jiyoon menghentikan langkahnya.

 

“Ah… kau pasti Lee Jiyoon.”

 

Jiyoon mengangguk, “Iya kau benar. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini?” Ia heran karena mendapati Nara ada ditempat dokter kandungan.

 

“Aku ingin memeriksakan kandunganku.”

 

Apa?

 

“Kandungan? Kau hamil lagi?” Wanita itu mengangguk dan tersenyum tipis. “Tunggu, apa itu anak Jungsu ahjussi?” Lagi, wanita hanya mengangguk.

 

Astaga… Jiyoon pun langsung menoleh pada suaminya, seolah meminta pendapat dengan apa yang baru saja didengarnya itu.

 

“Nara-ssi, bisakah kita bicara sebentar setelah kau selesai memeriksakan kandunganmu?”

 

“Tentu.”

 

“Baiklah, kalau begitu aku tunggu didepan kafe rumah sakit ini.”

 

===o0♥0o===

 

Brak…!!!

 

 

Jiyoon menaruh gelas cantik itu dengan sedikit kesal setelah lemon tea tandas kedalam tenggorokannya. Wanita bukan hanya sedang kesal, tapi ia geram dan sangat-sangat marah dengan pria yang bernama lengkap Park Jungsu itu. Dasar pria sinting!!!

 

Bagaimana bisa dia berbuat seperti itu pada Shin Nara? Dia membuat wanita itu kembali mengandung anaknya yang ke tiga, sementara hubungan mereka masih sebatas teman. Hah, apa-apaan itu? Apa dia tidak berpikir bagaimana orang memandang Shin Nara selama ini. Dia hamil tanpa status pernikahan. Oh Tuhan… hilangkan saja penis pria itu!!! Seenaknya saja dia menyemburkan isinya pada wanita yang tidak memilik ikatan apapun hingga membuatnya kembali mengandung. God!

 

“Dasar pria tidak berperasaan!” Geram Jiyoon tertahan. Karena sangat tidak mungkin ia berkoar kekesalan saat ini—ia ada di dalam kafe.

 

“Jangan marah-marah seperti itu, sayang. Kasian si Baby.” Kyuhyun hanya bisa menggeleng kepalanya saja sejak Jiyoon keluar dari rumah sakit dan menuju kafe inj, dia terus menggerutu soal Jungsu dengan mengatakan semua kekesalan yang dia rasakan sekarang.

 

“Kyuhyun, bagaimana aku tidak kesal, kalau—”

 

“Iya aku tahu, Yoon.” Sambar Kyuhyun memotong ucapan istrinya. “Tapi tolong jangan marah-marah terus, kita bukan sedang dirumah.”

 

Iya, Jiyoon tahu sekali kalau saat ini dia berada di kafe. Tapi mau bagaimana lagi, mood-nya benar-benar buruk seketika setelah tahu kalau Jungsu kembali menghamili Nara. Tks.

 

Selang beberapa menit kemudian, setelah Jiyoon berdiam diri, sosok wanita yang ditunggu pun muncul. Dia berjalan anggun mengarah pada meja bernomor 30 itu.

 

“Maaf menunggu lama,” Kata wanita itu seraya duduk depan kedua pasangan muda ini.

 

“Oke Shin Nara-ssi, aku to the point saja,” Ujar Jiyoon sambil menarik nafasnya. “Sungguh kau mengadung anak Jungsu ahjussi lagi?”

 

Nara tersenyum simpul. “Iya benar, aku memang tengah mengandung anak Jungsu lagi.”

 

Tubuh Jiyoon melemas, sementara Kyuhyun hanya diam memperhatian kedua percakapan wanita didepannya.

 

“Lalu kenapa kalian tidak menikah saja? Sudah ada anak yang hadir di antara kalian.”

 

‘Pernyataan yang selalu sama’ Batin Nara berujar. “Kami memiliki alasan tersendiri untuk tidak ketahap itu.”

 

Dahi Jiyoon mengenyit, ia bingung dengan jawaban Nara yang tidak dapat ia mengerti. “Kalau boleh aku tahu, apa alasannya? Kau dan ahjussi sudah memiliki anak, jadi kenapa kalian harus seperti ini?”

 

“Adanya anak itu bukan masalah diantara kami, Jiyoon-ssi. Selama Jungsu bertanggung jawab, aku tidak akan mempermasalahkan soal statusku.”

 

Oh God, kali ini Jiyoon benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Nara. Disaat wanita kebanyakkan membutuhkan status, tapi wanita ini justru tidak mengindahkannya. Heran.

 

“Tapi Nara-ssi—”

 

“Jungsu sudah menceritakan semuanya, dia bilang kau terus memaksanya untuk menikahiku?”

 

“Tentu saja mamaksanya, itu demi dirimu, Nara-ssi.”

 

“Terimakasih untuk usahamu, Jiyoon-ssi. Tapi percayalah, aku tidak pernah mempermasalahkan soal status kami. Jungsu selalu hadir ditengah-tengah kedua anakku saja itu sudah lebih dari cukup.”

 

“Sungguh, aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu.”

 

Nara terkekeh pelan. “Bukan hanya kau yang berkata seperti itu, tapi keluargaku pun demikian.”

 

Well, jika itu memang pilihanmu, aku tidak akan memaksa kalian lagi.” Jiyoon menyerah, ia tidak ingin lagi mencampuri urusan Jungsu. Mereka terlalu rumit.

 

Geurom, aku harus pamit.”

 

Jiyoon hanya mengangguk tanpa semangat, dan setelahnya Nara pun pergi meningglkan kedua pasangan ini.

 

“Sudah jelaskan kalau Nara juga tidak menginginkan pernikahan, jadi cukup kau jangan membahas apa-apa lagi pada Jungsu hyung.”

 

Arraseo.”

 

===o0♥0o===

 

Park Jungsu menaikkan kedua alisnya ketika melihat calon orang tua itu masuk kedalam rumah dalam keadaan hening. Tumben sekali, karena biasanya si wanita pasti akan mengajak suaminya berceloteh apapun. Tapi sekarang, dia hanya dengan air muka lusuh.

 

Hah?

 

Ada apa dengannya? Bukankah mereka baru saja kembali dari rumah sakit? Tapi kenapa wajah Jiyoon seperti itu?

 

Melipat koran ditangannya dan meletakkan diatas meja, Jungsu pun bangkit dan berniat masuk kedalam kamar jika saat Jiyoon tidak muncul didepannya dengan tiba-tiba.

 

“Ada apa?” Tanyanya.

 

“Selamat atas kehamilan Nara yang ketiga kalinya, ahjussi.” Hanya itu yang keluar dari mulut Jiyoon, karena setelahnya dia pergi begitu saja tanpa menjelas apapun lagi.

 

Tadi dia bilang apa? Nara hamil anak ketiganya?

 

What?

 

Jungsu terdiam untuk mencerna ucapan Jiyoon itu. Nara hamil lagi. Oh Tuhan… jadi wanita itu… ahh.. tapi kenapa wanita itu tidak mengatakan padanya? Kenapa ia justru tahu dari mulut Jiyoon? Ck.

 

===o0♥0o===

 

“Jadi… kau tidak akan memaksa Jungsu hyung lagi?”

 

Jiyoon mengangguk seraya bermain tangan Kyuhyun yang melingkar di perut buncitnya. Posisi Jiyoon yang membelakangi otomatis ia tidak tahu seperti wajah Kyuhyun saat ini. Well, karena semejak kehamilannya menginjak delapan bulan, posisi tidur dengan membelakangi Kyuhyun adalah kesukaannya. Selain karena tidak menyesahkan perutnya, juga karena ia merasa begitu di cintai dengan dekapan suaminya ini.

 

“Iya, aku menyerah. Lelah rasanya aku membujuk ahjussi selama delapan bulan ini, tapi hasilnya tetap nihil. Mereka berdua sama saja. Sama-sama gilanya.”

 

Kyuhyun terkekeh sambil mengeratkan rengkuhannya. “Yang terpenting Jungsu hyung bertanggung jawab, itu saja aku rasa sudah cukup ketimbang hyung tidak mau mengakui status anaknya dan lari dari kenyataan.”

 

Well, Jiyoon rasa ucapan Kyuhyun ada benarnya. Sebab itu sekarang ia tidak ingin mencoba masuk kedalam hubungan rumit pria yang sudah berkepala tiga itu.

 

“Aku sudah mengantuk, Kyu.” Jiyoon sedikit menguap. Wajar saja kalau Jiyoon mengantuk, karena semejak kehamilan Jiyoon menginjak empat bulan, mata istrinya ini paling tidak bisa bertahan diatas jam 10 malam. Dia pasti akan terlelap dimana pun jika memang sudah waktunya untuk tidur. Bahkan saat mereka tengah di mobil pun sudah Jiyoon terbang ke alam mimpinya.

 

===o0♥0o===

 

Entah berapa lama Jiyoon tertidur, karena saat matanya terbuka, ia tidak mendapati Kyuhyun disampingnya. Kemana dia? Pertanyaan itu langsung muncul saat ia mencoba bangun dari posisinya. Jiyoon sedikit meringis, merasa sakit di bangian perut dan pinggangnya. Itulah alasan kenapa sampai ia terjaga seperti ini. Padahal jam di nakas masih pukul satu dini hari, tapi tiba-tiba saja tidurnya tidak nyaman karena sakit yang terus-menerus mengusiknya.

 

“Akh…” Jiyoon meringis palan ketika ia mulai melangkah keluar kamar untuk mencari Kyuhyun sambil memegangi pinggangnya yang terasa nyeri. “Kyuhyun.” Panggilnya sembari menuruni anak tangga dengan perlahan.

 

Tidak ada sahutan yang terdengar hingga Jiyoon memanggil nama Kyuhyun ketiga kalinya. “Sebenarnya kemana Kyuhyun pergi? Kenapa dia tidak ada di perpustakaan?” Tempat yang biasa Kyuhyun huni pun tidak berisi sang empunya. Padahal jika Kyuhyun tidak ada dikamar, otomatis Kyuhyun pasti ada didalam tempat berkumpulnya para buku-buku. Tapi sekarang entah kemana perginya si calon ayah itu.

 

Tidak mau hanya mencari keruang perpustakaan, Jiyoon melangkah menuju keluar rumah sambil menahan sakit yang terus menyerangnya.

 

“Aduuh…” Jiyoon rasanya sudah tidak kuat, ia pun akhirnya menuju ruang tengah dan mendudukan diri disana. Entah apa yamg terjadi dengan perutnya hingga terasa begitu nyeri. Apa ini kontraksi? Tapi rasanya itu tidak mungkin, karena kehamilannya saja baru mengijak bulan kesembilan.

 

“Astaga… Jiyoon!” Itu suara panik milik Kyuhyun. Pria yang entah datang dari mana itu langsung di serbu kepanikan ketika melewati ruang tengah dan mendapati Jiyoon yang seperti sedang kesakitan disana.

 

“Kyu, perutku sakit.”

 

“Kita kerumah sakit sekarang, tahan sebentar.” Kyuhyun langsung menggendong Jiyoon menuju garasi setelah berlari kedalam kamar untuk menyambar kunci mobilnya.

 

===o0♥0o===

Menit demi menit sudah berlalu, tanpa terasa sudah dua jam Kyuhyun menunnggu dengan gusar didepan ruang persalinan dirumah sakit yang ada di daerah distrik Gangnam.

 

Ya, saat ini Jiyoon memang tengah mencoba melahirkan buah hati mereka. Sebelumnya Kyuhyun mengira kalau perut Jiyoon tengah terjadi sesuatu—seperti sakit perut biasa. Tapi setelah sampai dirumah sakit, Dokter bilang kalau Jiyoon sudah mengalami pembukaan kedua, yang artinya Jiyoon siap melahirkan bayi mereka kedunia. Oh Tuhan… padahal kandungan Jiyoon baru memasukin bulan kesembilan, dan perkiraan dokter pun masih tiga minggu lagi, tapi rupanya bayi mereka sudah tidak sabar untuk hadir ditengah-tengah keluarga kecilnya hingga dia ingin segera lahir kedunia ini.

 

Ingin rasanya Kyuhyun menemani Jiyoon didalam ruang bersalin, memberinya semangat agar anak mereka cepat lahir. Tapi dokter justru mengalaranya, karena sejak ia sampai dirumah sakit, ia terus dilanda kepanikan luar biasa hingga dokter memintanya untuk tetap menunggu diluar ruangan, takut-takut kalau Kyuhyun tetap bersikukuh menemani Jiyoon, yang ada situasinya akan semakin genting. Jadi Kyuhyun disitu—diam menunggu Jiyoon bersama Jungsu dan kedua mertuanya.

 

“Kenapa lama sekali.” Itu keluhan Kyuhyun yang sudah kesekian kalinya.

 

“Sabarlah, Kyu.” Kata Jungsu.

 

“Aku tidak bisa sabar lebih lama lagi, hyung. Ini sudah tiga jam, tapi kenapa Jiyoon belum juga melahirkan?”

 

“Wajar saja kalau sedikit lama, karena kau tahu sendiri Jiyoon melahirkan dengan normal, apa lagi ini adalah yang pertama kalinya. Jadi pasti akan sedikit sulit, sebab Nara pun seperti itu.”

 

Ah… ya, Kyuhyun hanya hampir lupa kalau Jungsu sudah pernah mengalami hal seperti dirinya. Dia ‘kan seorang ayah beranak dua. Geezzzz…

 

Tiga jam, empat jam sampai lima pun jam berlalu, tapi sampai detik ini kabar Jiyoon yang sudah melahirkan belum juga terdengar ditelinga Kyuhyun.

 

Kegusaran dan kekhawatiran pun bukan hanya Kyuhyun yang merasakan, tapi kedua orang tua Jiyoon dan Jungsu juga demikian. Mereka semua takut kalau sesuatu terjadi dengan wanita yang tengah berjuang untuk melahirkan anak pertamanya itu. Memang wajar kalau Jiyoon sedikit lama dalam persalinannya, tapi apa sampai selama ini?

 

Jungsu masih ingat betul saat Nara melahirkan anaknya yang pertama—Miki, wanita itu sedikit kesulitan dalam persalaninanya, tapi Nara hanya menghabiskan waktu tiga jam, karena saat itu pembukaan Nara sudah sampai di angka lima. Lalu kelahiran Naoki—anak lelakinya—hanya membutuhkan waktu dua jam, karena proses persalinan melalui operasi ceisar.

 

Lalu kenapa Jiyoon begitu lama? Apa ada masalah dengan kandungannya?

 

“Oh ya Tuhan…” Kyuhyun mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Sungguh rasanya ingin sekali Kyuhyun mendobrak pintu didepannya itu dan melihat bagaimana keadaan istrinya saat ini. “Eommonim, kenapa lama sekali?” Pria ini bertanya ibu mertuanya yang juga sama khawatir dengan dirinya.

 

“Sabarlah, Kyu. Mungkin Jiyoon mengalami sedikit kesulitan karena ini adalah kelahiran pertamanya.” Kata Nyonya Lee yang berusaha membuat menantunya tenang.

 

“Aku sangat khawatir, eommonim. Aku takut terjadi sesuatu dengan Jiyoon dan bayinya.”

 

Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, ia tahu sekali kekhawatiran Kyuhyun sekarang, tapi mau bagaimana pun yang mereka bisa lakukan hanya bersabar dan berdoa; semoga Jiyoon baik-baik saja.

 

“Yakinlah, Jiyoon dan bayi kalian akan baik-baik saja.”

 

Selang beberapa menit setelah ucapan Nyonya Lee, pintu yang sejak tadi Kyuhyun tatapi itu terbuka. Nampak seorang dokter dan para suster keluar mengerkorinya.

 

“Bagaimana keadaan istri dan anakku, Dok?”

 

Dokter wanita yang tadi sore Kyuhyun temui bersama Jiyoon itu tersenyum. “Istri anda baik-baik saja, Tuan Cho. Dan selamat Nyonya Cho baru saja melahirkan seorang bayi perempuan yang sempurna, tanpa ada kecacatan sedikit pun.”

 

Desahan lega seketiga keluar dari mulut ke empat orang yang sudah menunggu kabar baik ini.

 

“Apa saya boleh melihat istri dan anakku, Dok?”

 

“Tentu saja, Tuan. Tapi setelah Nyonya Cho dipindahkan diruang perawatan.”

 

===o0♥0o===

 

Bagi Kyuhyun, tidak ada yang lebih indah dan bahagia selain hari ini. Hari dimana dirinya yang sekarang sudah menjadi seorang ayah. Bahagia dan sangat bersyukur, itu yang Kyuhyun rasakan saat ini. Ia sangat bahagia melihat bayi perempuannya tengah tertidur didalam box samping ranjang istrinya. Dan ia juga sangat bersyukur karena kedua orang yang sangat dicintainya kini selamat dan berada disisinya.

 

Mata Kyuhyun berkaca-kaca melihat wajah teduh putri kecilnya yang sangat cantik. Dia mirip sekali dengan Jiyoon. Mata, hidung dan bentuk wajahnya milik Jiyoon, hanya bagian bibirnya saja mirip dengannya. Oh astaga… sungguh ia begitu berterimakasih pada Tuhan karena ia beri kesempatan untuk menjadi seorang ayah. Karena selama hidupnya, Kyuhyun tidak pernah membayangkan kalau semua ini akan terjadi padanya.

 

“Kyuhyun.”

 

Pria itu menoleh kearah istrinya dan tersenyum sambil menatap wajah pucat bercampur lelahnya. “Dia sangat cantik sepertimu.” Kyuhyun mengusap pipih Jiyoon lembut.

 

“Aku tahu,” Balas wanita itu dengan nada rendah dan terdengar bahagia. “Kyu, aku ingin melihat anak kita.” Pinta Jiyoon. Kyuhyun pun mengambil putri kecil dengan sangat hati-hati dari dalam boxnya.

 

“Lihat, wajahnya mirip sekali denganmu.”

 

Dengan hati-hati Jiyoon bangkit dan mendudukan dirinya ketika Kyuhyun sudah disampingnya bersama bayi mungil tanpa dosa itu.

 

Kebahagian wanita ini meluap, pelupuk matanya seketika penuh genangan begitu melihat wajah putih bersih putrinya yang tertidur. Perlahan tangan Jiyoon menyentuh dan mengelus permukaan pipi bayi ditangan suaminya dengan penuh cinta. Rasanya perjuangan selama lima jam lebih untuk melahirkan putrinya ini tidak ada apa-apanya setelah melihat wajah mungilnya itu. Sungguh demi apapun Jiyoon sangat bahagia sekali. Tidak ada kebahagiaan yang luar biasa selain bisa melahirkan seorang bayi dari dalam rahimnya sendiri. Dan Jiyoon mengalami ini semua.

 

“Terimakasih, Kyu. Aku sangat bahagia.” Setetes air mata bahagianya meluncur bercampur isakan.

 

“Tidak, Yoon.” Kyuhyun menggeleng. “Aku yang harusnya bilang terimakasih padamu, karena perjuanganmu putri kita bisa lahir didunia ini. Terimakasih, sayang.”

 

“Cho Suyoon,” Jiyoon bergumam. “Aku ingin anak kita bernama Suyoon, Kyu.” Pinta Jiyoon. Nama ini sudah Jiyoon persiapkan sebelum hari ini tiba.

 

“Itu nama yang indah, aku suka. Cho Suyoon.” Kyuhyun memberikan bayinya ketangan istrinya. “Kau tahu, Yoon. Saat kau masih diruang persalinan, aku hampir saja gila karena mengkhawatirkan kalian berdua. Aku takut sesuatu terjadi padamu, dan aku…” Kyuhyun menggeleng ngeri, ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

 

“Aku tahu, ahjussi tadi sudah mengatakannya padaku.” Tadi Jungsu memang mengatakan bagaimana gusarnya Kyuhyun saat menunggu dirinya diluar ruang bersalin. “Sekarang aku baik-baik saja, kau tidak perlu takut lagi.”

 

“Iya sekarang kau baik-baik saja, dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaanmu selama berjuang melahirkan Suyoon. Maafkan aku. Maaf karena tadi aku tidak bisa menemanimu.” Kyuhyun benar-benar sangat menyesal karena ia tidak bisa menemani Jiyoon selama persalinannya.

 

“Sudahlah, semuanya sudah berlalu dan aku juga sudah baik-baik saja.”

 

Kyuhyun diam untuk sejenak, matanya terkunci pada manik Jiyoon didepannya. “Terimakasih untuk semuanya. Untuk hadir dalam hidupku dan mewarnainya hingga aku menjadi seperti ini. Meski pun kita mengenal karena sebuah kecelakaan, tapi aku tidak pernah menyesalinya. Aku malah sangat bersyukur karena dulu kita dipertemukan dengan cara yang tidak wajar. Sebab pada akhirnya, aku justru mendapatkan wanita seperti dirimu. Ibu dari anakku. Aku mencintaimu, Lee Jiyoon.” Sesaat setelahnya, kecupan hangat mendarat didahi Jiyoon.

 

“Aku juga mencintaimu, Cho Kyuhyun.” Balas Jiyoon dengan senyuman penuh luapan kebahagiannya.

 

Tanpa Jiyoon membalas ucapannya pun Kyuhyun tahu kalau Jiyoon memang mempunyai perasaan yang sama padanya meski ini adalah kali pertama Jiyoon berkata demikian. Bagi Kyuhyun, tingkah laku serta sikap yang Jiyoon tunjukan saja rasanya itu sudah cukup untuk menangkap seperti apa perasaan wanita yang menjadi istrinya ini.

 

Dan seperti yang Kyuhyun ucapkan tadi, ia tidak pernah menyesal karena pertemuannya dengan Jiyoon berawal jadi sebuah kecelakaan. Karena kecelakaan itu kini berbuah manis bahkan mengubah kehidupan yang buruk jauh menjadi lebih baik. Ia mendapatkan istri secantik Jiyoon, juga bisa merasakan kembali bagaimana hangatnya sebuah keluarga yang sempat lenyap dalam hidupnya

 

Mungkin terdengar sedikit aneh, karena terkadang Kyuhyun masih saja merasakan kalau ini semua ada sebuah mimpi. Ya, sebuah mimpi yang sangat-sangat indah. Keluarga, gaya hidup bahkan lingkungannya semua berubah hanya karena sebuah kecelakaan diatas ranjang. Dan sekali lagi, ia tidak akan pernah menyesal karena semua itu terjadi padanya. Karena faktanya, kehidupan yang dulu sempat hanya sebatas mimpi kini justru menjadi kenyataan. Ya, sebuah kenyataan. Bukan lagi sebuah mimpi.

 

Dan Kyuhyun berjanji, ia akan berusaha untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi demi istri dan juga anaknya. Menjaga dan melindungi mereka dengan sebaik mungkin. Bukan hanya janji, tapi Kyuhyun akan membuktinya seiring waktu yang terus berjalan ini demi keluarganya kecil ini. Keluarga dari seorang Cho Kyuhyun.

 

===DREAM OR REAL END===

 

Huwaaaaaa… akhirnya ff ini end juga teman teman ^^, sebenernya masih agak nggak rela nih pisah sama mas-mas tukang reparasi AC wkwkwk XD XD tapi mau gimana lagi, ceritanya udah cukup sampai disini ajah ^^ Buat yang mau liat ceritaku yang lainnya, kalian bisa main kerumahku, ANGEL CHO.

TengKYU all, byee…

 

 

 

176 thoughts on “Dream Or Real Part 10 (END)

  1. akhirnya tamat, happy ending
    – selamat buat jiyoon dan kyuhyun.
    – wah ternyata jungsu ajusshi diam diam kayak gitu
    – semoga donghae dan mirae bisa bersatu

    Suka

  2. yea happy end..ini nyata cho kkk.. cho suyoon udh hadir di tngah2 kyuji

    ikut gedek q sma jungsu..
    knpa coba nara g mau mnta d nikahin sm jungsu..pnsaran sm alasan mrka berdua..

    buat hae smngat buat nunggu hyera

    Suka

  3. Yeah happy ending 😄😄
    Jadi penasaran sama jungsu dan nara!! Kenpaa nara nggak mau jungsu menikahinya?? Kenpaa jungsu nggak memaksa nara untuk menikah dengannya? Aaahh bikin penasaran

    Suka

  4. Akhirnya happy end, suka semua karakter disini.. Bener bener keren dah nih Fanfic, bakal kangen juga nih sama kyuhyun jiyoon 😁 nanti mampir ke ANGEL CHO jg deh author 😉

    Suka

  5. Ceritanya keren. Ide ceritanya unik. Karakter2nya juga beda dari biasanya. Apalagi donghae. Kerasa banget progressnya kyuhyun. Cuma kurang satu. Momennya kyuhyun sama jiyoon kurang banyak. No sequel? U,U

    Suka

  6. aaaaaa seneng rasa nya menukan karakter kyuhyun yg lain karna seama ini yg aku baca kyuhyun yg kaya raya kyuhyun yg pintar kyuhyun yg seenaknya kyuhyun ygdiktaktor tp di ff ini karakter dia jauh berbeda selamat buat authornya
    😘😘😘😘😘👍👍👍👍

    Suka

  7. aahh….
    Happy ending akhirnya…
    Semua tokoh dapat pasangan masing masing…
    Sng bgt cho suyoon udh hadir dlm khdpan kyuhyun ma jiyoon..
    Masih penasaran ttg keputusan jungso ma nari yg gmw terikat tali pernikahan bahkan udh maw pny ank ketiga..
    Hehehe 🙂
    Penasaran juga se ma kelnajutan hubgna donhae-hyera ma hyukjae-nana.. 😀
    MOGA MOGA ADA SEQUEL ya author angel_cho, hehehe..
    Biar afdhol gtoe…
    #Modus ;p

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s