TRIANGEL PART 11


image

Author : ZaZiepiet

Tittle : TRIANGEL [11th-It’s Happy Ending Right?]

Category : Romance, Chapter, Yadong, NC 21, NC 17, Married Life, General, sad

Cast :     ●    Lee Hyobin
Cho Kyuhyun

Other Cast

Happy Reading~ ☺

NO PLAGIAT PLEASE!!

CHO KYUHYUN

“Bujuk Lee Hyobin untuk menggugurkan bayinya.”

Kalimat Lee Donghae bagaikan bom mati yang ia lemparkan untukku. Setelah kenyataan yang tak pernah kuketahui terucap olehnya, sekarang ia mengucapkan kalimat yang menjadi vonis kematian bagi isteriku.

Menggugurkan bayi yang ada di kandungan Hyobin. Bayi ku─bayi kami. Bayi yang ternyata tidak bisa tumbuh dengan sempurna dalam tubuh Hyobin. Membunuh perlahan-lahan Lee Hyobin karena kelainannya dan membuat Hyobin mengalami kesakitan yang terus berulang-ulang.

Tidak pernah aku ketahui─dan mereka semua menyembunyikannya dariku. Kenyataan yang membuat eomma selama ini begitu menyayangi Hyobin, Ahra nunna yang lebih memilih Hyobin dan perlahan membenciku. Karena keadaan Hyobin, bayi itu tumbuh dari diriku, sebagian dari tubuhku dan bayi itu membunuh Hyobin secara perlahan─malaikat kematian Hyobin─dan akulah yang mendatangkannya.

“B-bagaimana bisa?” suaraku tersendat, air mataku menetes dengan begitu perih. “Bagaimana bisa aku melakukan hal itu?” suaraku putus asa.

Meminta Lee Hyobin menggugurkan bayinya─sama halnya aku membunuh darah dagingku sendiri. Anakku.

Lee Donghae menatapku datar─wajahnya menyiratkan sebuah amarah dan ketidak pedulian terhadap kesakitan ku, kepedihanku. Laki-laki yang ternyata kuketahui adalah cinta pertama Lee Hyobin, masa lalu Lee Hyobin hanya menatapku seolah-olah aku tidak perlu dikasihani. Mungkin dia benar.

“Ada dua pilihan.” Suaranya terdengar lagi, “Mengaborsi bayi itu atau─kehilangan Lee Hyobin atau bahkan bayi itu selamanya.”

“Kau bukan Tuhan, dokter!” desisku.

“Mengaborsi bayi itu tanpa persetujuan Lee Hyobin, hanya akan mengakibatkan kefatalan di masa mendatang. Hyobin akan mengalami gangguan mental─dan yang terparah, dia tidak akan bisa mengandung lagi.”

“Lalu untuk apa kau menyuruhku untuk melakukan hal itu?!” suaraku mengeras. Mataku menatap tajam Lee Donghae.

“Karena bayi itu membunuhnya! Kau yang mengahmilinya sialan!!” Lee Donghae berteriak padaku. “Kau menghamilinya! Membuat Hyobin menderita karena pernikahan kalian! Kau membuat segalanya menjadi mimpi buruk untuk Hyobin!”

“Yang bersalah disini bukanlah Lee Hyobin! Namun kenapa? Kenapa ia seolah menjadi sumber masalah?! Tidak tahukah kau beban apa saja yang ia pikul selama bersamamu?!” nafasnya memburu, membuatku terhenyak akan semua kata-katanya.

Lee Hyobin adalah gadis yang begitu tertutup. Yang kutahu darinya hanya sekian dari segala hal yang ada pada dirinya. Aku tahu Lee Hyobin suka dengan cokelat, karena itu makanan favoritnya. Aku tahu Lee Hyobin benci asap dari rokok, aku tahu hobby nya adalah berenang, aku tahu semua hal itu tapi tidak untuk apa yang ada di dalam dirinya.
Aku tidak tahu apapun tentang Lee Hyobin.

“Kau membuatnya tertekan atas segala pembatalan pertunanganmu dengan Jihyun! Membuatnya setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik merasakan rasa bersalah yang seharusnya bukan menjadi bebannya! Dan kau─”

“Kau hanya menjauh, tidak peduli dengan keadaannya! Hingga detik ini bagaimana bisa kau tidak mengetahu semua hal ini? Kelainan kandungan Hyobin, apakah kau tau kenapa?! Karena Lee Hyobin tidak ingin kau merasa semakin tertekan dengan keadaannya!!”

Aku menutup mataku begitu sakit, kenyataan yang harus aku ketahui lagi. Deru nafas Donghae terdengar memburu, dan aku kehilangan suaraku. Lee Hyobin menjadi seperti ini karena diriku. Karena diriku, hidup Lee Hyobin menjadi hancur. Kehamilannya, pernikahan ini, kehilangan orang tuanya, dan─bayi yang menjadi malaikat pencabut nyawanya.

Semua dikarenakan diriku! Dan aku? Aku hanya seolah tidak tahu menahu apapun. Yang ku pentingkan hanya Lee Hyobin telah menjadi isteriku, dan aku berkewajiban memberinya penghasilan. Tanpa mau peduli bagaimana kehidupan Lee Hyobin secara nyata. Semua tertutupi dengan sempurna, karena hingga detik ini aku bahkan tidak tahu menahu apapun yang dialami Hyobin.

Karena gadis itu masih tetap membangunkanku dipagi hari, tetap membuatkanku sarapan hangat, tetap menyambutku saat aku pulang, dan masih tersenyum padaku. Tanpa kutahu bahwa semuanya palsu. Aku dapat membayangkan bagaimana air matanya yang sering kali menetes tanpa ada diriku, rasa sakit yang selalu ia alami sendirian tanpa sepengetahuanku.

Dan aku teringat bahwa aku selalu ada untuk Jung Jihyun. Saat gadis itu menangis, merasakan kesakitan saat aku meninggalkannya untuk menikah dengan Hyobin, menemaninya di saat ia berada di rumah sakit, selalu ada untuknya. Semua ingatan itu seakan mengiris hatiku perlahan-lahan.

“Aku─akan melakukannya─” suaraku tertelan. “Aku─akan membujuknya.”

Hanya ada satu pilihan. Dan memilih Lee Hyobin adalah hal yang diinginkan hatiku. Aku─tidak akan bisa hidup tanpa Lee Hyobin. Apakah aku mencintainya? Aku sama sekali tidak tahu.

***

“Hyobin sayang, bagaimana perasaanmu?” suara eomma terdengar saat aku perlahan masuk kedalam kamar Hyobin.

“Gw-gwenchanah…eomm…ah…”

Rasanya bagai anak panah yang menusuk tajam tepat di ulu hatiku. Lee Hyobin bahkan hampir tak sanggup lagi berbicara, isteriku seakan lumpuh secara perlahan. Dan semua karena bayi itu─bayi dalam kandungannya. Dan kenyataan bahwa bayi itu berasal dariku membuatku seakan ingin membunuh diriku sendiri.

“Aigoo, sehatlah arra? Eomma akan selalu di sini.” Eomma mengusap-usap pipi pucat Hyobin. Dan mata Hyobin menemukanku.

“Oh, Kyuhyun-ah.” Sapa eomma, begitu dingin. “Eomma membawakan baju untukmu, dan beberapa makanan. Bersihkan dirimu, dan makanlah.”

Mataku masih memandang Hyobin yang tersenyum padaku, bibirnya yang pucat, matanya yang terlihat kuyu dan wajahnya yang begitu tirus. Bagaimana gadis ini begitu bodoh?  Merelakan dirinya terbunuh─demi bayi itu. Kututup mataku sakit, tidak sanggup lagi menatap senyum lemah Hyobin.

“Arraseo,” jawabku pada eomma. Dan aku perlahan berjalan mengambil beberapa baju dan berjalan kearah kamar mandi.

“Bayinya pasti akan sangat cantik,” suara eomma terdengar sayup-sayup saat aku menutup pintu. “Dia akan mirip dengan ibunya.”

“Tentu saja, kau dan Kyuhyun akan menjadi orang tua yang hebat.”

Itu lebih baik. Setidaknya bayi itu tidak akan mengikuti jejak kebrengsekanku. Namun, bisakah aku melihatnya kelak? Melihatnya tumbuh menjadi cantik seperti Hyobin? Bisakah aku merasakan rasanya menjadi seorang ayah?

Bayangan demi bayangan datang dalam otakku. Sosok gadis kecil yang berlarian dengan tawanya yang bagai lonceng yang bergemerincing. Teriakannya yang menyebutku ‘Appa’, pelukan dari lengan kecilnya di leherku. Bisakah? Bisakah aku merasakan semua itu? Tuhan─apakah ini karma yang kau berikan untukku? Tapi kenapa─harus Lee Hyobin dan calon anak kami?

Air mata mengalir bersamaan dengan air yang mengguyur tubuhku. Isakan kecil keluar dari bibirku, bagaimana bisa aku menjadi begitu cengeng seperti ini? Karena kedua malaikatku─harus mengalami hal seperti ini. Dan semua karena diriku. Akulah penyebab semua kekacauan ini. Dan akulah─penyebab kematian Hyobin nanti.

“Noona,” gumamku saat Ahra noona mengambil duduk di sebelahku.

“Kenapa kau disini?” tanyanya.

“Ada eomma di dalam, dan aku─lebih baik aku disini. Menungguinya.” Karena aku tidak sanggup menatap mata Lee Hyobin yang masih berbinar saat menatapku. Aku tidak pantas mendapatkan segala cinta nya.

Ahra noona hanya memandangku. Masih kuingat amarahnya yang melihatku tengah membopong tubuh Hyobin yang penuh dengan darah. Jeritannya, makiannya yang menyatakan bahwa ia membenciku karena membuat gadis polos seperti Hyobin menjadi seperti ini. Membenci bahwa adik yang selama ini ia sayangi berubah menjadi namja brengsek.

“Kyuhyun-ah,” panggilnya. Membuatku menoleh dan menatap matanya, sadar bahwa ia menatapku dengan begitu sedih membuatku mengalihkan tatapan lagi.

“Bagaimana─perasaanmu?”

“Aku baik-baik saja.” Sahutku, mencoba sebiasa mungkin. Menjaga agar suaraku tidak bergetar. Aku membutuhkannya─membutuhkan seseorang yang bisa menenangkanku, membutuhkan Ahra noona yang selalu memelukku saat aku kehilangan arah, menuntunku agar aku kembali dan menjadi kuat. Tapi tidak bisa, Ahra noona sudah membenciku.

“Apakah kau akan melakukannya? Membujuk Hyobin?” bagaimana dia mengetahuinya? Oh─tentu saja, Lee Dongahe yang memberitahukannya. Mereka adalah teman semasa kuliah dan kupikir mereka lebih dari teman─hingga aku tahu bahwa Lee Donghae adalah masa lalu Hyobin, yang hingga sekarang masih mencintanya.

“Kenapa Kyu-ah?” tanyanya lagi, karena aku sama sekali belum menjawabnya.

“Karena aku tidak bisa kehilangan Hyobin.” Suaraku tertelan. “Aku─tidak bisa kehilangannya.”

“Apa kau mencintainya─Kyuhyun-ah?”

Aku terdiam, apakah iya? Apakah aku mencintainya? “Aku tidak tahu.” Jawabku.

“Aku hanya tidak ingin Lee Hyobin meninggalkanku─aku tidak bisa membayangkan bahwa aku akan kehilangannya, dan semua karena diriku.” Suaraku bergetar. “Bayi itu─tidak akan tumbuh jika bukan karenaku. Dan Lee Hyobin─tidak akan menjadi seperti ini jika aku tahu sejak awal.”

Kepalaku menoleh pada Ahra noona. “Katakan noona-ya, katakan Lee Hyobin akan baik-baik saja.” Suaraku menyerak, “Isteriku─akan baik-baik saja bukan?”

“Kyuhyun-ah…”

“Akulah yang seharusnya mendapatkan hukuman. Tapi─tapi kenapa harus Lee Hyobin?” kurasakan mataku memburam. “Seandainya gadis itu tidak bertemu denganku─seandainya semua ini tidak terjadi, noona-ya.”

Kurasakan tangan noona meraihku dan aku berada dalam pelukannya. “Kau tahu kenapa aku begitu menyayangi isterimu? Karena aku melihat sungai di padang sahara saat menatap matanya. Sejak awal aku tahu bahwa Lee Hyobin adalah gadis yang berbeda, dan kenyataannya memang seperti itu.”

“Hari dimana kau meninggalkannya setelah upacara pernikahan kalian, Lee Hyobin menelponku dan menangis karena perutnya kembali sakit. Eomma ingin memberitahumu, aku ingin memberitahumu, semua orang menginginkan kau tahu─dan semua orang juga ingin Hyobin menggugurkan kandungannya.” Suaranya berhenti.

“Tapi─Lee Hyobin melarangnya. Mengatakan bahwa ia akan memberitahumu sendiri, dan menolak untuk menggugurkan janinya karena─ia percaya bahwa bayi itu adalah bukti cintamu untuknya.”

Bukti cintaku untuknya. Jantungku bagaikan diremas-remas, begitu sakit dan seakan nafasku menguap begitu saja.

“Dan Lee Hyobin percaya suatu saat nanti─sekalipun ia tidak bisa menjaga bayinya, dia percaya kau akan melakukan hal itu, karena kau menginginkan bayi itu─kau akan memberikan cintamu pada bayi itu.”

Kulepas pelukanku, “Aku bahkan tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak noona-ya.” bisikku.

“Kau mencintainya, Kyuhyun-ah. Kau mencintai Hyobin, isterimu.” Ahra noona berucap dengan begitu yakin.

Benarkah?

“Kau disini, Kyuhyun-ah?” suara eomma terdengar. “Hyobin mencarimu hingga dia tertidur. Kenapa kau disini?”

“Gwenchana, eomma.” Jawabku. “Aku akan masuk.” Tubuhku berdiri dan berjalan masuk melewati eomma dan menutup pintunya. Aku tidak ingin terlihat lemah.

Lee Hyobin tengah tertidur dengan lelap. Masker oksigennya telah diganti dengan selang oksigen agar tidak terlalu mengganggunya saat bergerak maupun berbicara. Wajahnya masih sangat pucat dan pipinya menjadi sangat tirus dibandingkan pertama kali ia menjadi isteriku. Seharusnya aku tahu hal itu, namun dengan bodohnya aku mengabaikan perubahan fisiknya selama ini.

Perutnya yang terlihat menonjol dibalik selimut rumah sakit menarik perhatianku. Ada bayiku─bayi kami.

***

Aku menatap Lee Hyobin yang menangis pilu tanpa suara, kalimat yang aku ucapkan, keputusan yang kuambil akan mengakhiri penderitaannya. Air matanya seolah tidak akan pernah berhenti mengalir, matanya mendongak dan jemari mungilnya mencengkram seprei hingga buku jari itu memutih.

Air mataku menetes saat aku kembali mendapati sebuah cairan merah itu perlahan mengotori selimutnya. Tidak ada jeritan, Lee Hyobin menahan kesakitannya dan aku hanya menatapnya tanpa bisa melakukan sesuatu. Darah itu semakin melebar dan aku bangkit dari posisiku. Mencium pelipisnya yang terasa begitu dingin di bawah bibirku.

“Aku akan memanggil dokter.” Suaraku bergetar, namun gadisku tidak peduli.

Aku mencoba berjalan biasa, namun saat pintu tertutup aku berlari dengan segenap nafasku menuju tempat Lee Donghae berada. Harus ada operasi hari ini, Lee Hyobin harus sembuh.

“Lakukan!! Lakukan padanya! Ambil─bayi itu!” mungkin aku layaknya orang gila. Namun Lee Donghae bergerak cepat. Memanggil perawat dan segera menyiapkan ruang operasi.

Dan aku menemukan Lee Hyobin terpejam tanpa detak jantung lagi. Segalanya berubah menjadi kepanikan, aku berteriak berlari memeluk tubuh mungil itu. Mencium seluruh wajahnya dengan bibir bergetar. Memanggil-manggil namanya saat tubuhku tertarik oleh perawat agar menjauh.

Paru-paru Hyobin di pompa. Jantungnya dikejutkan dan nyawaku seolah melayang saat denyut lemah perlahan kembali muncul dalam monitor. Aku berjalan mendekat dan mencium dahinya begitu dalam, menghirup aroma tubuhnya. Lee Hyobin─isteriku. Ciumanku turun kearah perut mungilnya yang terlihat menonjol, menciuminya dengan perasaan berduka.

Appa harus merelakanmu agar eomma tetap hidup, aegi-ah.

Aku tidak bisa kehilangan Hyobin. Tidak akan pernah bisa. Membayangkan Lee Hyobin tidak akan pernah membuka matanya lagi bagaikan ribuan anak panah menusukku satu persatu hingga aku tidak lagi merasakan apa itu rasa sakit.

Satu jam, dua jam, tiga jam aku menunggu dan memandangi lampu merah yang menandakan operasi masih berjalan layaknya orang bodoh. Yang kulakukan hanya menatap lantai dengan perasaan sakit. Apakah keputusan yang kuambil adalah keputusan yang benar? Merelakan bayi itu untuk menyelamatkan Lee Hyobin.

“Uri Hyobin, gadis itu akan selamat bukan?” suara eomma terdengar disela isak tangisnya dalam pelukan appa. “Dia gadis yang kuat, bukan?”

Usapan dipunggungku membuatku menoleh dan mendapati Ahra noona, dengan tampang lusuhnya. “Isterimu akan baik-baik saja Kyuhyun-ah.”

“Lee Hyobin adalah gadis yang kuat, dia akan kembali padamu.”

Air mata merebak dalam mataku. “Apa aku mengambil keputusan yang benar, noona? Memilih Lee Hyobin dengan merelakan bayi kami? Bayi yang begitu dicintai Hyobin─” suaraku terhenti.

“Berdoalah─” Ahra noona memelukku, “Berdoalah semoga keputusan yang kau ambil adalah keputusan yang terbaik.”

“Annyeon haseyo! Lee Hyobin imnida!”

Memori pertemuan kami untuk pertama kali terputar dalam kepalaku. Membandingkan bagaimana raut wajahnya dulu yang begitu bercahaya dengan sekarang. Akulah yang menghilangkan pancaran cahaya pada Hyobin. Aku adalah kegelapan yang menghancurkan Lee Hyobin.

“Sa-sarangh-hhae ophh-pahh…”

Air mataku menetes saat bisikan itu kembali terdengar. Bahkan dalam keadaannya yang hampir lumpuh, Lee Hyobin mengucapkan kalimat itu. Mengatakan bahwa ia mencintaku.

“Aku─mencintainya,” bisikku. “Aku mencintai isteriku noona-ya, aku mencintai Lee Hyobin.”

Apakah terlambat untuk sekarang? Untuk mengatakan bahwa ternyata aku mencintainya? Aku ingin memeluknya, menciuminya dan mengatakan bahwa aku begitu amat mencintainya. Mengatakan bahwa aku menginginkan bayi itu juga, membuatnya bahagia sekali lagi.

Pintu operasi terbuka membuatku terlonjak segera berdiri. Dokter Lee keluar dengan raut wajahnya yang begitu lusuh. Jejak air mata jelas terlihat dari sisi matanya, yang membuatku luruh dan jatuh terduduk. Lee Hyobin, apakah semua sudah terlambat untukku?

***
To Be Continue♥

266 thoughts on “TRIANGEL PART 11

  1. sedih bgt plis jgn ngegantung gini TRIANGEL. ini udah 2017 dan belum ada lanjutannya, eonni tolong dilanjutkan ffnya kami reader masih setia menunggu.

    Suka

  2. Ffnya sukses bikin nyesek. Pas bagian kyuhyun pov wahh disitu berasa tersayat, dilempar ke dasar laut dah baru sadar kalo dia yg nyebabin hyobin kehilangan semuanya.
    Keren keren keren

    Suka

  3. Gila banget kaaa baru juga aku baca karya aku langsung suka😁cerita nya sukses bikin aku nahan supaya engga nangis tapi yaa ujung2 nya nangis juga😂hyobin ga akan mati kan bakalan tetep selamet(?)semoga aja hyobin selamet biar bisa jadi keluarga yang utuh sama kyuhyun oppa nyaa💕lanjut kaka….

    Suka

  4. Authooooor abis baca ulang dan ga kerasa 8 bulan sudah berlalu huhuhuhu
    Apakah Hyobin meninggal atau nggak;((((( happy ending kan?:((((((
    Author how have you beeeeeeen? Author sehat2 aja kan? Heheheheeee pasti sibuk banget ya;((

    Suka

  5. Udah lama banget ini nggak ada lanjutannya..
    Keren ceritanya, aku pengen kyuhyun menyesali perbuatannya, hyobin dan anaknya bisa diselamatkan tp kyuhyun, dia masih blm bisa meninggalkan sang kekasih, sampai saat kyuhyun benar² sadar akan kehadiran hyobin yg sangat dia butuhkan .. begitulah pokoknya..
    LANJUT THOR….!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s