Unclear


image

AUTHOR : Queensera P.

TITLE : Unclear

CATEGORY : NC21 | Yadong | Romance | Oneshoot

MAIN CAST : Cho Kyuhyun – Lee Sena

DISCLAIMER :

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders!

Copyright©2016 by Queensera P.

Wanita itu bergerak. Menggeliatkan tubuhnya diatas tempat tidur. Diiringi dengan sebuah  geraman kesal dari bibirnya saat mendengar suara Eminem dan Rihanna saling bersautan, membuat waktu tidurnya yang memang sedikit menjadi terganggu. Apalagi dia baru tidur sekitar jam tiga pagi tadi.

Dengan kepala yang terasa berat, dia bangkit lalu mengambil ponselnya pintarnya. Si penganggu tidur.

“Akhirnya kau angkat juga teleponku. Aku sudah menghubungimu berkali-kali tau!” kalimat itu langsung menghujam gendang telinga Sena bahkan sebelum wanita itu sempat mengucapkan ‘Hallo’. Mendengar suara manajernya, Sena kemudian mendengus, “Ada apa?” tanyanya dengan suara khas orang bangun tidur.

“Ada apa? Hei, hari ini kita ada rapat pertemuan dengan majalah Secret. Jam sepuluh. Apa kau lupa?”

Sena menggaruk alisnya yang tidak gatal, menguap lalu matanya berkeliling untuk melihat jam yang menggantung di dinding. Pukul delapan lebih tujuh belas menit. Wanita itu mendesah. Dengan malas, dia bangkit dari posisi setengah berbaringnya. Masih dengan ponsel yang diapit antara bahu dan telinga, dia kemudian mengutip beberapa pakaian yang berceceran dilantai —teronggok begitu saja bagaikan sampah— lalu memakainya serampangan. Setelah itu berjalan kearah sliding-door balkon kamarnya. Menyibak tirai putih yang membentang menutupi dinding kaca tersebut. Kemudian meliukkan tubuhnya kekanan dan kekiiri, melakukan peregangan sedikit demi mengurangi rasa kantuk dan pegal ditubuhnya.

“Maaf—aku memang lupa. Aah.. Baiklah. Jemput aku satu jam lagi kalau begitu,” katanya tanpa berbasa-basi, kemudian langsung mengakhiri teleponnya begitu saja.

Sena menatap kondisi kamarnya saat ini. Disekelilingnya, masih ada beberapa pakaiaan yang tercecer. Gelas-gelas dan botol bekas wine yang jatuh bergelimpangan. Sofa kulit yang sudah tidak serapi pada posisi seharusnya. Dan yang pasti, bungkus aluminium foil yang tersebar diberbagai tempat didekat tempat tidurnya. Wanita itu meringis, menyadari betapa kacaunya semalam.

Lalu kepalanya, dia putar kearah tempat tidur. Dan saat itu pula lah sebuah senyum kecil terpahat diwajahnya. Melihat sesosok pria yang masih damai dalam tidurnya.

Sena berjalan mendekat lalu mendaratkan bokongnya untuk duduk dipinggir ranjang. Tubuhnya yang ramping itu membungkuk agar lebih condong pada si pria sedangkan tangannya terulur untuk menggapai sisi wajahnya.

“Kyuhyun.. bangun. Hei.. ini sudah pagi,” bisiknya lirih tepat disamping telinga pria yang dipanggil ‘Kyuhyun’ tersebut. Ya Tuhan— bagaimana bisa ada seorang yang ketika tidur saja terlihat begitu menarik? Kyuhyun sangat menggemaskan dengan bibirnya yang terbuka sedikit itu. Sena kembali tersenyum tipis, jemarinya bergerak halus demi mengusik waktu tidur pria tersebut. Sementara yang dipanggil hanya menggeliat sebentar, bibirnya menggumam sesuatu yang tidak jelas kemudian tertidur lagi membelakangi Sena. Sepertinya bantal guling lebih menarik bagi pria itu.

Sena mendecih pelan, telunjuk dan jempolnya dia gunakan untuk mengambil sejumput rambut Kyuhyun— menarik-nariknya pelan. “Kau tidak mau bangun?” tanyanya. Wanita itu diam untuk menunggu. Namun selang beberapa menit, tidak ada jawaban samasekali untuknya. Kyuhyun masih tetap pada posisinya— memunggungi Sena. Dia menghembuskan nafas, susah memang jika membangunkan makhluk yang satu ini.

“Baiklah, lanjutkan tidurmu kalau begitu,” lanjutnya, kemudian mengecup lembut pelipis pria tersebut. Namun belum sempat wanita itu bangkit dari posisi tubuhnya yang membungkuk, dua buah lengan kekar tiba-tiba saja sudah melingkar erat dipinggangnya. Sena yang kaget, tentu saja langsung memekik.

“Mau kemana?” gumam Kyuhyun dengan suara yang terpendam karena, begitu Sena kembali duduk ditempatnya pria itu langsung memosisikan kepalanya untuk berada dipangkuan Sena dengan wajahnya yang sengaja dia hadapkan ke perut gadis itu. “Disini saja. Aku masih ingin tidur~” kepalanya mengusak-usak disana, suaranya terdengar lirih— agak serak juga, namun Sena masih bisa mendengar ucapan tersebut.

Gadis itu mendengus kecil, sudut bibirnya tertarik keatas. Jemarinya dia gunakan untuk menyapu lembut rambut hitam tebal berponi milik kekasihnya tersebut.

Ah.. Kekasih? Tidak, itu salah. Hubungan mereka tidak sejauh dan selayak itu untuk disebut sebagai sepasang kekasih. Lalu apakah, suami-istri? Oh, tolong, jika sepasang kekasih saja bukan status yang melekat pada diri mereka, apalagi sepasang suami-istri? Lalu, apa? Persahabatan? Tidak, mereka juga bukan sepasang sahabat. Tidak ada persahabatan yang benar-benar pure diantara pria dan wanita, semua orang tahu itu. Dan semua orang mengakui itu. Jadi, tidak ada suami-istri, tidak ada sepasang kekasih dan tidak ada juga pesahabatan diantara mereka. Hubungan mereka— terlalu rumit, namun bisa juga menjadi terlalu sederhana jika dijalankan. Membingungkan, lebih tepatnya begitu.

Tidak perlu heran tapi jika ada yang bertanya mengapa mereka bisa tertidur ditempat yang sama. Atau berbagi ranjang yang sama. Atau bisa juga berbagi ‘kenikmatan’ yang sama. Jawabannya mudah saja, umur mereka yang sudah bisa dikatakan dewasa ditambah dengan lima tahun saling mengenal diri masing-masing, saling tertarik— bahkan sejak masih sama-sama menduduki bangku perkuliahan— bukan berarti mereka tetap menjadi orang-orang polos yang tidak tahu apa-apa mengenai hubungan bebas kan? Apalagi jika berada ditengah gaya hidup hedonis— yang nyaris bertentangan dengan adat, seperti saat ini.

American Style.

Teknisnya sih seperti itu bentuk hubungan yang dijalani oleh Cho Kyuhyun dan Lee Sena. Give and give. Saling menguntungkan tanpa ada ikatan apa-apa. Keterlaluan memang, karena mereka mengesampingkan norma. Tapi siapa peduli? Ini tentang mereka.Tidak ada pengaruhnya untuk orang lain, jadi siapa yang bisa melarang? Apalagi hubungan yang bebas seperti ini sudah mereka jalani sejak empat tahun lalu, dan mereka nyaman-nyaman saja. Baik-baik saja. Sampai sekarang.

Walapun tanpa komitmen, tanpa ketetapan, dan tanpa status tapi mereka selalu berada disisi masing-masing jika membutuhkan. Mereka saling melengkapi, mereka saling berbagi— entah itu perhatian atau kasih sayang. Tapi sungguh, jangan pernah membawa-bawa cinta kehadapan mereka. Karena baik Cho Kyuhyun maupun Lee Sena, tidak pernah bisa mengerti tentang perasaan itu kecuali rasa ingin dan membutuhkan. Hanya sesederhana itu.

“Kalau masih ingin tidur, lanjutkan saja.” jawab Sena sambil membenarkan posisi duduk dan kepala kekasihnya itu.

“Kita baru saja menghabiskan malam bersama, sekarang kau sudah mau pergi lagi?” ucap Kyuhyun retoris dengan kedua alis yang terangkat. Matanya yang masih terlihat merah itu menatap Sena yang menunduk diatasnya. Kyuhyun sangat tau kalau wanita Maha Cantik-nya ini sangat sibuk, sama seperti dirinya. Tapi bisakah untuk kali ini saja dia egois? Setidaknya, dia ingin menghabiskan waktu seharian ini bersama dengannya sebelum berangkat kembali ke Singapore besok.

Pekerjaan mereka yang luar biasa sibuk memang membuat kualitas waktu untuk berdua sangat minim, walau mereka sendiri tidak pernah menetapkan seperti apa hubungan mereka tapi untuk masalah seperti ini, keduanya adalah pasangan yang kompak. Terlalu kompak malah.

Cho Kyuhyun yang notabene merupakan seorang Vice President sekaligus penerus dari pemilik maskapai penerbangan terbaik dan tersukses di Asia— Singapore Airlines memang lebih banyak menghabiskan waktu di negara tropis tersebut dibandingkan negaranya sendiri sedangkan Lee Sena yang memulai debut karirnya didunia modelling tidak jarang juga untuk berpergian ke berbagai negara demi menuntaskan pekerjaannya itu. Alhasil, mereka harus seperti ini— pintar-pintar mencuri waktu hanya untuk sekadar melepas rindu saja.

“Kali ini hanya rapat, aku yakin tidak akan lama. Mungkin kita bisa makan siang bersama di café Hyukjae Oppa nanti, bagaimana?” tawar Sena. Setidaknya, mood pria itu harus diperbaiki dulu jika tidak ingin mereka berdebat seperti yang sudah-sudah.

Kyuhyun menengadahkan kepalanya, menatap Sena dengan mata sayu khas orang yang masih mengantuk. Lalu bergumam “Seriously?” yang dijawab gadis itu dengan satu kali anggukan kepala karena, sekarang fokusnya sudah terbagi antara ponsel yang ada ditangannya—entah menghubungi siapa—dengan dirinya. Mungkin yang wanita itu sedang hubungi adalah Han Yoorin, si manajer berpostur mungil yang selama ini Kyuhyun ketahui selalu menemani Sena.

Sena kembali memusatkan perhatian Kyuhyun, dia meletakkan ponsel pintarnya diatas meja nakas samping tempat tidur, lalu dengan jahilnya menjepit hidung pria itu yang saat ini malah kembali memejamkan matanya.“Hei, bangun~” ucapnya gemas.

Kyuhyun yang membuka kedua kelopak matanya lebar-lebar karena tidak bisa bernafas akibat perlakuan wanita itu, membuat Sena terkekeh geli.

Dengan gerakan tiba-tiba tanpa memerintahkan Kyuhyun untuk mengangkat dulu kepalanya dari pangkuannya, Sena bangkit dari duduknya. Menyebabkan kepala pria itu terdorong kedepan nyaris mencium tepian ranjang. “Yak!!” teriaknya dengan ekspresi wajah tidak jauh berbeda dengan kondisi pantat panci yang ada di café kakak-nya. Sementara Sena? Gadis itu malah tertawa kencang, menampilkan deretan gigi-giginya yang rapi. Aura dewi-nya begitu terlihat walau gadis itu baru saja terbangun dari tidur. Membuat lagi-lagi dada Kyuhyun berdesir.

“Jangan jadi pemalas Tuan Konglomerat. Bangun. Mandi lalu sarapan.” katanya lagi.

Sena merajut langkahnya memasuki kamar mandi tak memedulikan gerutuan Kyuhyun yang menyambut telinganya. “Jangan marah-marah, Tuan. Atau keriputmu semakin bertambah~” ucapnya kemudian dia menutup pintu.

Sena berhenti didepan cermin. Dia mematut kondisi tubuhnya disana. Benar-benar kacau. Rambutnya sungguh berantakan—kusut. Mencuat kesana-kemari seperti gembel yang tidak pernah mengurus diri. Bercak-bercak merah—nyaris keunguan juga ditemui di beberapa tempat.

Dia menengokkan kepalanya kekanan dan kekiri siapa tahu Kyuhyun juga meninggalkan sesuatu disana. Dan—ya, dia mendapati lagi satu bercak merah berada di samping leher sebelah kirinya. Sena berdecak kesal, setahunya semalam dia sudah memperingati Kyuhyun untuk tidak meninggalkan satupun ‘jejak’ disana. Hisapan pria itu memang tidak bisa diragukan.

Mungkin dia bisa menoleransi itu yang berada ditengah belahan dadanya, tapi yang ada dileher? Kalau sudah begini, Sena harus memakai pakaian yang berkerah tinggi. Tidak mungkin dia memakai Shawl, karena ini bukan musim dingin. Sena juga tidak mau disebut salah kostum tentunya. Memakai pakaian biasa— kalau dia bermuka tebal sih, dia akan baik-baik saja jika nanti ada yang mengejeknya atau menggodanya tapi sayangnya dia bukan gadis seperti itu. Dia bukan gadis bermuka tebal.

Lama berkutat dengan memikirkan bercak-bercak merah keunguan yang Kyuhyun tinggalkan serta mengumpat pria itu yang tidak bisa mengondisikan sesuatu, Sena jadi tidak menyadari jika pria jangkung tersebut juga ikut masuk kedalam kamar mandi.

“Akh!” pekiknya kaget ketika dia merasakan ada yang melingkar disekitar perutnya.

Wanita itu menggeliat tak nyaman, bahunya mengedik agar Kyuhyun tidak menumpu dagunya disana. Dia bau. Ingin mandi. Membersihkan diri, membersihkan sisa-sisa percintaan mereka semalam tapi pria itu malah bertingkah seperti ini. Sena menepuk kencang lengan Kyuhyun yang melingkari perutnya, “Lepas, Cho! Kau tidak risih apa?” perintahnya.

Dia saja merasa risih dengan tubuhnya yang masih terasa lengket ini.

Kyuhyun menggeleng, “Tidak sama sekali.” Menipiskan bibirnya kemudian menenggelamkan hidung dan bibirnya pada leher Sena yang jenjang itu.

Mendengar jawaban Kyuhyun, Sena memutar kedua bola matanya malas “Memangnya kau tidak ingin mandi huh?” Dia menggerakan lehernya lagi, mencoba untuk melihat wajah pria itu. Tapi tidak bisa karena Kyuhyun menahannya, pria itu masih ingin menghidu aromanya.

Bibir Kyuhyun beralih ke belakang cuping telinga gadisnya itu, dengan jahil dia menggigit kecil bagian yang ada disana, menghembuskan nafasnya juga disana kemudian kembali menciumi area telinga, leher dan tengkuk gadis tersebut hingga membuat Sena tidak tahan. Sekedar informasi saja, Cho Kyuhyun itu— selain menjadi pewaris perusahaan maskapai penerbangan yang tergolong besar dan sukses, dia juga menjadi seorang penggoda ulung terbesar yang pernah Sena tau. Lihat saja kelakuannya. “Tck, Cho Kyuhyun hentikan! aku mau mandi~” hardiknya yang diakhiri dengan rengekkan kecil namun masih tetap saja tidak diindahkan oleh Cho Kyuhyun.

“Bagaimana jika mandi bersama?”

“Tidak! Aku tau kemana tujuanmu itu. Sekarang lepaskan—” tangannya mencoba untuk melepas pelukan Kyuhyun.

“Kau tau, tapi kau menolakku hm?” bisik Kyuhyun seduktif. Pria ini benar-benar, geram Sena dalam hati. Dia memelototi tatapan menggoda pria itu yang bisa dia lihat dari cermin. Jangan lupakan dengan senyum setengah iblis yang sangat pria itu andalkan.

“Memangnya yang semalam masih belum puas apa?!” tanyanya— setengah berteriak karena frustasi pria itu tidak kunjung melepaskannya juga. Dia sudah terlambat, Ya Tuhan.. Han Yoorin bisa mencak-mencak jika dalam waktu satu jam model-nya belum juga siap. Dan melayani Cho Kyuhyun yang selalu bergairah, tidak akan secepat itu menyelesaikannya.

Kyuhyun terkekeh, dia menghela nafas kemudian menghembuskan nafasnya disana lagi membuat bulu kuduk Sena meremang. “Jika iya, bagaimana?”

“Tapi—euungh.. Kyu!” desahnya frustasi saat tangan Kyuhyun yang tadi masih memeluk perutnya dari luar kain tipis lingerie, kini telah menjamah sisi pinggulnya—sedikit meremas. Sena tahu, Kyuhyun sedang memprovokasinya agar mau melakukan itu lagi.

Alis Kyuhyun bertaut. Sial! Wanita ini tidak memakai celana dalamnya? Tangan Kyuhyun sama sekali tidak merasakan ada kain disana. Jadi wanita ini hanya memakai lingerie tipis ini? “Wow. Kurasa kau sudah lebih dulu mempersiapkan diri, Sayang..” katanya dengan menekankan kata ‘mempersiapkan’. Tangannya merayap lagi lebih kebawah, mengusap lembut daerah tempat dimana miliknya tersebut bernaung— seperti biasanya. Sena yang merasakan jari-jari panjang itu akan kembali memulai ‘aksinya’, mendesah lagi. Kakinya mulai men-jelly. Jika Kyuhyun tidak memeluknya mungkin dia sudah merosot kebawah. Jari-jari Kyuhyun membuatnya kegelian dan basah.

Sena menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun, menggeleng tak tahan sambil menggigit bibirnya kuat-kuat, menghalau desahan yang bisa saja —tanpa terkendali— keluar dari mulutnya itu.

Kyuhyun yang melihat refleksi tubuh keduanya dari cermin itu, menajamkan matanya. Melihat Sena yang kini sedang menggigit bibir bawahnya membuat dia semakin tidak tahan. Wanita itu— entah kenapa terlihat semakin seksi dan menggoda jika menggigit material lembut tersebut.

Dengan gerakan cepat, Kyuhyun memutar tubuh Sena untuk menghadapnya. Dia langsung mencium keras bibir itu. Menyesapnya kuat-kuat, seperti bibir itu adalah miliknya—hanya miliknya. Dan diciptakan hanya untuknya. Tidak orang lain.

Salah satu tangannya Kyuhyun gunakan untuk melingkari punggung gadis itu, menariknya mendekat agar tidak ada jarak diantara mereka. Sedangkan tangannya yang lain dia gunakan untuk mengambil dan mencengkeram seikat rambut cokelat-panjang Sena— seperti menjambak namun tidak benar-benar menjambak. Perlakuannya tersebut membuat kepala Sena mendongak keatas.

Bibirnya tebalnya tidak berhenti untuk terus bergerak liar diatas bibir Sena, menggigit bibir bawah itu lalu menariknya membuat Sena semakin memejamkan matanya kemudian menyesapnya lagi dengan keras. Lidahnya tidak mau ketinggalan, benda lunak itu sudah menjelajahi mulut hangant Sena. Menyapa setiap detail yang dimiliki oleh wanita itu. Mengajak untuk saling mengait.

Dan demi tuhan, seluruh tubuh Sena kini bahkan bergetar dibuatnya.
Kyuhyun tidak pernah santai jika mereka sedang berciuman. Nyatanya, pria itu memang tidak bisa bermain lembut atau pelan-pelan jika sudah bergairah. Lebih seringnya pria itu menunjukkan sikap ‘ganas’ dan ‘liar’.

Sena mengernyitkan alisnya ketika dia sudah mulai merasakan bahwa selaput tipis yang berada dikulit bibirnya terkelupas karena ciuman Kyuhyun yang menggebu. Perih. Namun dia juga menikmati ini— seliar apapun Kyuhyun.
Tidak ada yang bisa dilakukan Sena. Kyuhyun terlalu dan selalu mendominasi permainan. Jadi sekarang, hanya tangannya saja yang ikut memeluk pinggang pria tersebut.

Kyuhyun menghentikan ciumannya sejenak, kini dia hanya mengecup-ngecup lepas bibir Sena yang terbuka itu dengan lembut. Lalu dahinya dia tumpukan pada tulang pipi Sena. Nafas mereka masih memburu. Terengah-engah akibat keminiman udara yang mereka pasok tadi.

“Hhh.. sepher-tinya hihirku ke—has,” desah Sena yang masih memejamkan matanya serta mengatur nafasnya yang pendek-pendek itu. Kyuhyun melonggarkan pelukannya sedikit, mundur satu langkah namun tangannya masih bertanggang dipinggang wanita tersebut. Kemudian mendongak, menatap mata Sena yang kini malah memicing padanya. Bibir wanita itu masih terbuka sebesar jari kelingking.

Kyuhuun menaikkan alis, tanda tidak mengerti apa yang tadi diucapkan gadis itu. Tangannya yang satu lagi juga masih disana namun sudah tidak ‘menjambak’ rambutnya lagi melainkan kini bertengger di sepanjang rahang kanan hingga telinga belakang wanita itu. Menangkup sebagian wajahnya.

“Bicara yang jelas, Sena.” ucapnya, namun dibalas oleh Sena dengan cubitan yang wanita itu berikan berulang kali pada pinggangnya.
Membuat Kyuhyun langsung memekik keras. “Awwww.. Aw! Aw!” tangannya mengusap-usap bagian yang tadi dicubit, yang dia yakini pasti sekarang sudah berwarna merah. “Kau tega sekali sih!” gerutunya. Sedangkan Sena hanya melengos—malas menatap Kyuhyun, mengibas-ngibaskan kedua tangannya didepan bibirnya yang sampai saat ini belum juga bisa mengatup.

Kyuhyun yang melihat kelakuan kekasihnya itu, terkekeh geli. Dia menggelengkan kepalanya pelan. Ah! Kyuhyun mengerti sekarang, pasti Sena merasa kebas pada bibirnya mengingat tadi dia begitu semangat menyesap material lembut itu. “Ada apa dengan bibirmu itu? Mau kucium lagi huh?” godanya dengan kerlingan mata yang membuat Sena langsung melirik sinis dirinya.

Kyuhyun maju selangkah mendekati gadisnya, merapatkan tubuh mereka lagi. Ibu jari dan telunjuknya dia gunakan untuk menjepit dagu Sena—membawa bibir gadis itu untuk tepat berada didepan mulutnya. Matanya menatap gadis itu dalam. “Jangan diulangi lagi. Jangan coba-coba menggigit bibirmu lagi jika berada didekatku. Atau, ketika kau menggigit bibirmu ini, usahakan jangan sampai terlihat olehku. Jika tidak, kau tahu akibatnya akan seperti—“ matanya melirik sebentar bibir gadis itu yang kini benar-benar membengkak, basah dan memerah namun menggoda. Kyuhyun menelan ludahnya, kemudian menjatuhkan lagi tatapan bola kelamnya pada kedua retina cokelat Sena “Brengsek! Bibirmu itu—“

Selanjutnya yang Sena rasakan adalah Kyuhyun yang melumat lapar bibirnya lagi. Meyesap benda yang masih dirasanya perih itu dengan semangat yang semakin menggebu.

Kyuhyun mengeluarkan lidahnya, menjilati bibir ranum Sena yang masih terbuka itu seperti es krim cone. Menjilat secara bergantian bibir atas dan bawahnya, membuat tubuh Sena kembali bergetar. Kemudian dia menyelipkan benda lunak tak bertulang itu pada celah yang ada diantara bibirnya. Menjilati lagi, membiarkan salivanya membasahi bibir wanita itu. Seterusnya Kyuhyun melakukan itu berulang-ulang, membuat Sena terbuai dengan kelembutan lidah Kyuhyun. Hingga wanita itu mulai memejamkan matanya karena menikmati perlakuan Kyuhyun tersebut. Membuat Kyuhyun yang melihat itu juga langsung menarik tengkuknya. Menciumnya keras serta menyesapnya lagi dan lagi diikuti dengan desahan dan lidahnya yang perlahan menyusup masuk kedalam mulut wanita itu untuk mengajak lidah Sena bergulat. Sena tentu saja menyanggupi permainan lidah Kyuhyun, walau tidak selihai pria itu. Cho Kyuhyun is fucking a goodkisser.

Tangan Kyuhyun dengan cekatan melepaskan kain tipis yang menghalangi kulit tubuhnya dan kulit wanita itu. Sena yang sudah ditelanjangi, merasakan kulitnya meremang. Sesuatu dibawah sana meminta untuk dituntaskan, omong-omong.

Setelah menanggalkan celananya— karena memang semenjak tadi dia hanya bertelanjang dada, dan melepaskan lingerie wanita itu. Kyuhyun membawa Sena dalam gendongannya menuju bath-up. Meletakkan tubuh telanjang Sena pada bak kering itu, kemudian tanpa berlama-lama lagi dia membuka kedua kaki jenjangnya.

Milik Kyuhyun semakin terasa berdenyut ketika lubang Sena terpampang begitu saja dihadapannya. Dia benar-benar terangsang kali ini. “Aku akan bermain cepat kali ini.” ungkapnya.

Kyuhyun membawa kedua kaki jenjang gadis itu untuk disampirkan pada dinding bath-up, membuat Sena benar-benar mengangkang didepannya. Tanpa menunggu waktu lagi, dia memasukan telunjuk dan jari tengahnya pada lubang milik Sena, mengoyaknya dengan gerakan cepat dan kasar. Kyuhyun memang tidak pernah berlaku lembut kan?— sengaja mencoba memberikan penetrasi bagi wanita itu. Dan seketika itu juga Sena menjerit, merasakan perih dan nikmat secara bersamaan pada miliknya. Dia menggerakan kedua kakinya, ingin menurunkannya dari atas tepi bath-up yang menyangganya karena tidak kuat menahan serangan Kyuhyun dibawah sana. Namun gerakannya itu langsung ditahan oleh Kyuhyun.

“Hei— Jangan berlagak seperti gadis perawan, Lee Sena. Ini hanya dua jari.” ucapnya disertai dengan kekehan. Dia benar-benar senang jika menggoda milik Sena seperti ini. Dan setiap kali dia melakukannya, Sena selalu seperti ini— kalah sebelum masuk ke permainan inti.

Sena mendesah, “Lakukan sa-jahh dengh-han cepat, Choh—Kyu-hyungh! Kau bu—Arrgh” Demi tuhan, Sena tidak pernah bisa menyelesaikan kalimatnya jika seperti ini. Miliknya sudah basah, sesak dan berdenyut, dia merasa geli dengan permainan jari Kyuhyun dibawah sana. Dan Cho Kyuhyun benar-benar buang waktu. Tidak tahu apa jika Sena masih ada urusan lain? Sialan! Kenapa tidak langsung ke inti saja sih?

Kyuhyun terkekeh melihat wajah Sena yang sudah memerah walaupun saat ini wanita itu sedang menutupinya dengan kedua tangan. Dia melepaskan kedua jarinya dari milik Sena setelah dirasa cukup, kemudian mengocok miliknya sebentar lalu mengarahkannya pada lubang tersebut. Mata Sena semakin memejam erat, dia menahan napasnya ketika merasakan ujung milik Kyuhyun sudah menyentuh organ vitalnya. Kyuhyun sendiri mendesah ketika perlahan-lahan batangnya dia dorong kedalam, “Enggh..” milik Sena selalu sempit padahal dia sudah sering memasukinya.

Sena sendiri, walau mereka sudah sering melakukan ini tapi gadis itu tetap saja merasakannya seperti ini adalah pertama kali Kyuhyun menyentuhnya. Makanya, Cho Kyuhyun selalu mengejeknya seperti perawan yang akan diperkosa oleh pria hidung belang.

Sena meraih leher Kyuhyun kemudian memeluknya erat, saat benda tajam itu telah sepenuhnya masuk didalam. Dia bisa merasakan urat-urat keras milik pria itu disana. Untuk meredam desahan yang sudah sampai diujung tenggorokannya, Kyuhyun mencium lagi bibir Sena. Pinggulnya dia naik-turunkan hingga bunyi gesekan antar-kelamin itu terdengar.

Lama mereka bertahan dengan posisi seperti itu hingga Sena akhirnya melepas ciuman Kyuhyun tiba-tiba. Dia sudah tidak tahan lagi. Alisnya mengernyit, merasakan milik Kyuhyun yang besar, penuh dan tajam itu menggesek organ vitalnya dengan kasar. Kyuhyun yang menyadari itu, akhirnya memelankan genjotannya. Saat melihat wajah Sena— dia jadi merasa tidak tega. Milik gadis itu pasti masih nyeri karena serangannya semalam. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah dipertengahan jalan, dia tidak bisa berhenti. Dan ini harus segera diselesaikan.

Well—berengsek sekali kau Cho Kyuhyun. “Kau lelah?” tanyanya, kemudian menggeram. Tidak ada jawaban. Dia bertanya lagi “Sakit?” Sena menggeleng, membuka matanya. Jemarinya mengusap lembut rahang Kyuhyun, tersenyum tipis kemudian berkata “Tidak apa-apa. Ini sudah sering kan? Lanjutkan saja~”

Kyuhyun menyeringai disudut bibirnya, kembali dia mencium bibir Sena dalam. Ini yang dia suka dari Sena, gadis itu sangat mengerti dirinya. Gadis itu akan selalu menunjukkan senyumnya sekalipun sebenarnya apa yang dia rasakan adalah hal yang bertolak belakang.

Genjotannya semakin cepat dan cepat, membuat Sena mencengkram erat bahunya— hampir mencakar bagian itu dengan kuku-kukunya yang cantik. “A-akuhh.. Sheh—ben-thar lagiihh—“ katanya terbata-bata. “Tunggu aku, Sayang..“ jawab Kyuhyun diiringi dengan desahan. Bibirnya kali ini turun kedada gadis itu, mencium seluruh permukaan dua buah payudara Sena sebelum melahap dan menyesap keras puting kirinya. Sena mendesah akibat perbuatan Kyuhyun. Ini nikmat. Sungguh nikmat. Cho Kyuhyun memang ahli dalam ‘memujanya’.

Kyuhyun mengejang— oh, sebentar lagi dia sampai. Dengan mulut yang semakin keras menyesap puting gadis itu, Kyuhyun akhirnya menumpahkan semuanya. Mengeluarkan semua cairannya. Mulutnya masih terus menyesap hingga beberapa saat dan akhirnya berhenti ketika dirasanya cukup, terbuka begitu saja namun dengan puting Sena yang masih memenuhi mulutnya. Kepalanya saat ini dia sandarkan pada dada wanita itu. Sedangkan matanya memejam karena merasa lelah.

Begitupula dengan Sena yang kini tengah merasakan cairan hangat itu memenuhi dan mengisi rahimnya, milik Kyuhyun masih terus menembakkan cairannya membuat Sena menggelinjang nikmat. Setelah beberapa detik selesai, barulah dia mendesah lega. Kedua tangannya dia gunakan untuk mengusap lembut rambut dan dahi Kyuhyun yang berpeluh. Kyuhyun sendiri masih disana tanpa mau melepaskan miliknya, pria itu juga enggan untuk beranjak dari tubuh gadis itu. Tangannya masih memeluk erat tubuh Sena.

Tiga puluh detik.

Dua menit.

Tiga menit dua puluh detik.

Empat menit.

Mereka masih tetap bertahan pada posisi itu hingga akhirnya Sena menggumam “Bangun, Tuan Konglomerat~” dia menjawil-jawil pipi Kyuhyun yang memang penuh. Namun bukannya beranjak bangun, pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan kini mulutnya malah kembali menyesap puting Sena. Sedangkan tangannya satu lagi memelintir puting Sena yang lain. Perlakuan Kyuhyun tersebut membuat Sena mau tak mau memutar kedua bola matanya. “Kyu..” panggilnya lagi.

“Sye-bhen-tar..” gumamnya kurang jelas karena mulutnya sedang digunakan untuk melakukan hal lain.

“Aku harus mandi. Yoorin pasti akan memarahiku jika aku belum apa-apa. Jadi— lepaskan, oke?” rayunya. Tangannya bergerak menyentuh payudaranya sendiri, mencoba untuk melepaskan putingnya dari mulut Kyuhyun namun oleh pria itu tangannya malah disingkirkan. Kyuhyun berdeham dalam tenggorokannya— tanda menolak. Tangan Sena yang kini berada dalam genggamannya malah dia arahkan pada rambutnya— memberitahu Sena bahwa dia ingin gadis itu mengusap-usap rambutnya seperti tadi. Dia masih ingin seperti ini.

Sena mendesah, gadis itu seperti sedang menyusui seorang bayi yang kehausan— bayi besar karena nyatanya mulut Kyuhyun sama sekali tidak mau berhenti menyesap sejak tadi.

Kyuhyun tidak tahu apa, jika perlakuannya yang seperti ini malah membuatnya geli? Bagaimana tidak, milik pria itu masih bersarang pada miliknya, mulutnya tidak mau berhenti menyesap putingnya dan yang terakhir puting satunya lagi pria itu mainkan dengan cara menekan-nekan kadang juga memelintirnya.

Dengan hati sedikit dongkol akhirnya dia lebih memilih mengalah, dia pun kembali mengusap rambut Kyuhyun. “Baiklah— lima menit!” tegasnya tanpa memberikan penawaran. Namun Kyuhyun malah menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aish, Cho Kyuhyun! aku akan terlambat kalau kau terus begini tau!”

Baiklah—dia paham, Cho Kyuhyun sedang dalam mode manjanya. Ah, tapi masa bodohlah! Lagipula pria ini kenapa seperti tidak pernah ada puasnya sih? Menyebalkan.

.

Unclear

.

Terjadi keributan kecil didalam kamar apartemen berpintu 7030 itu. Sena terus menghentak-hentakan kakinya ketika berjalan, bibirnya juga tidak berhenti menggerutu sejak tadi pada Kyuhyun. Sedangkan pria itu— yang kini duduk disamping ranjang sambil mengancingkan lengan kemeja linennya, hanya menatap datar wanita yang memiliki tinggi 168 cm itu.
Kyuhyun heran kenapa Sena bisa marah-marah begitu. Apa salahnya memang?

“Kenapa lagi sih kau ini?” tanyanya kemudian, karena tidak tahan dengan gerutuan Sena yang tidak jelas itu. Dia beranjak dari duduknya lalu menuju ke walk in closet. Mencari jas yang sekiranya cocok dengan warna kemeja yang saat ini dipakainya.

Sena yang sedang berdandan didepan cermin lantas langsung memutar tubuhnya menghadap kearah dimana Kyuhyun menghilang tadi. “Kenapa?? Kau masih bertanya kenapa? Benar-benar Cho Kyuhyun, kau itu berpikir tidak sih?!” sentaknya kesal. Ugh, dia ingin sekali melempar wajah tampan pria itu dengan seluruh peralatan make-up nya jika saja ia tidak menyayangkan harga-harganya yang fantastis.

Jadi begini ceritanya— tadi saat mereka telah menyelesaikan percintaan kilat mereka di bath-up plus dengan tingkah manja Kyuhyun yang kumat tidak mau beranjak dari atas tubuhnya, Sena pikir itu akan benar-benar berakhir setelah dia memberikan waktu. Dan akan menjadi yang terakhir untuk pagi ini. Tapi ternyata tidak, pria itu malah kembali menyerangnya. Kali itu dibawah shower, Kyuhyun bilang itu cara tercepat dan ternikmat untuk membersihkan badan dibanding jika harus menunggu satu per satu untuk keluar-masuk menggunakan kamar mandi secara bergantian. Gila!

Bagaimana Sena tidak sebal? Masalahnya lagi— Han Yoorin harus menyaksikan itu semua. Ah, tidak—tidak semua. Tapi manajernya itu, karena dia salah satu orang yang mengetahui password apartemennya dan mengira bahwa dirinya yang agak pemalas ini masih bergelung dibawah selimutnya— maka bermodalkan dengan ketidaktahuannya jika Kyuhyun berada disini, dia langsung masuk saja kedalam kamarnya. Dan yang terjadi, wanita bertubuh mungil itu berdiri menegang seperti patung— syok melihat kamarnya yang super berantakan seperti terkena Topan Haiyan akibat aktivitas mereka semalam. Ditambah dengan keluarnya dia dan Kyuhyun dari dalam kamar mandi secara bersamaan.

See? Kalau sudah begini, dimana lagi dia harus menyembunyikan urat malunya?

Yoorin memang paham seperti apa dan bagaimana hubungannya dengan Kyuhyun. Mengetahui modelnya bercinta dengan putra konglomerat— pewaris Singapore Airlines itu juga bukan hal yang tabu lagi baginya. Walaupun Sena tidak pernah secara blak-blakan bercerita padanya, tapi karena kepekaannya—wanita itu sungguh luar biasa menjadi tahu sendiri. Namun melihat dengan mata kepalanya sendiri, tidak pernah terancang dalam bayangan Yoorin— melihat modelnya hanya menggunakan bathrob didampingi dengan pria yang hanya melingkarkan handuk sebatas pinggangnya keluar dari tempat yang paling berpotensi untuk menjadi arena bercinta selain kamar, bagaimana menurutmu? Tentu saja wajah Yoorin langsung memerah seperti udang rebus yang kematangan.

Dan Sena benci hal itu. Dia merasa kecolongan oleh Han Yoorin. Semua itu gara-gara Cho Kyuhyun! Jika pria itu tidak mesum dan tidak memaksa, pasti tidak akan begini. Jika pria itu tidak menyerangnya lagi, pasti Yoorin tidak sekurang-ajar itu memasuki kamarnya dan menyaksikan mereka berdua secara bersamaan.

“Sudahlah. aku yakin dia pasti mengerti,” ucap Kyuhyun santai-santai saja bahkan menambahkan kalimatnya itu dengan kedipan matanya, membuat Sena mendengus geli. Ya, manajernya itu malah sangat mengerti. Saaa-ngat pengertian! Tapi kan dia malu… ish Cho Kyuhyun ini tidak mengerti apa?! Sena berbalik kearah cermin lagi, tidak mau peduli. Percuma juga bicara pada Kyuhyun Dia melanjutkan lagi acara berdandannya yang tadi sempat tertunda.

Pria itu sudah keluar dari walk in closet, jas yang dicarinya juga sudah ketemu. Well, Sena memang selalu menyimpan pakaian-pakaian Kyuhyun disini. Ah, bukan—bukan hanya pakaian. Tapi segala perlengkapan yang pria itu butuhkan, semuanya bisa dia dapatkan disini. Apartemennya, bagaikan rumah kedua bagi pria itu. Walaupun tidak pernah ada kesepakatan diantara mereka, tapi semua berjalan sebagaimana mestinya. Sudah dibilang kan? Kyuhyun dan Sena adalah pasangan yang sangat kompak.

Kyuhyun berjalan mendekati gadis itu, melingkarkan kedua tangannya dipinggang ramping Sena lalu meletakkan dagunya pada bahu kecilnya “Ah.. kau manis sekali jika sedang merajuk, Sena,” ujarnya seraya mengecup sekilas pipi Sena. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Sena melirik Kyuhyun sinis. Jengah terhadapnya.

Kyuhyun terkekeh, “Yayaya.. baiklah, maafkan aku oke?” tangannya semakin mengeratkan pelukan tersebut, membuat Sena lagi-lagi merasa nyaman jika berada didalam dekapan pria itu. Pelukan Kyuhyun memang yang terbaik setelah Ayah dan Kakaknya.

Hah, omong-omong Kyuhyun sebenarnya masih tidak ingin berpisah dengan gadis ini. Tapi harus bagaimana? Dia juga sudah dihubungi oleh sekretarisnya untuk menghadiri rapat sekaligus pembicaraan tentang pesta yang akan diadakan oleh perusahaannya itu malam nanti—yang merangkup juga hari ulang tahun Ibunya. Kyuhyun menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya disamping leher Sena.

“Berikan aku satu ciuman,” pinta Kyuhyun. Namun yang ditangkap oleh telinga Sena—atau bahkan orang lain yang mendengarnya, pasti menganggap permintaan Kyuhyun itu sebagai perintah.

Sena menolehkan kepalanya kesebelah kanan, tepat dimana wajah Kyuhyun berada. Maksudnya adalah ingin memrotes perintah pria itu tapi oleh Kyuhyun, bibirnya malah langsung dilumat tanpa ampun. Tidak kasar, namun juga tidak lembut. Khas seorang Cho Kyuhyun jika dalam keadaan ‘baik-baik saja’. Mau tidak mau Sena juga harus mengimbanginya, membalas setiap lumatan yang Kyuhyun berikan.

Hanya sebentar, sekitar tiga puluh detik kemudian ciuman itu terlepas. “Astaga.. kenapa hari ini aku ingin terus memilikimu sih?” geram Kyuhyun pada dirinya sendiri, membuat Sena terkekeh. Dia kemudian mendorong dada Kyuhyun menjauh, membuat jarak sebesar empat puluh centi kemudian mencubit gemas pipi penuhnya. “Ahh.. Kau menggemaskan sekali~” ungkapnya. Habis sudah semua kekesalannya pada pria itu, dasar Cho Kyuhyun perayu! Tapi memang pada dasarnya dia tidak pernah bisa kesal, marah ataupun benci pada pria itu berlama-lama sih. Sama seperti Cho Kyuhyun terhadapnya.

“Ck. Kau pikir aku anak kecil?” gerutunya, lalu melepas kedua tangan Sena dari pipinya. Sena menunjukkan deretan giginya. Terkikik. “Ya, memang. Kau itu anak kecil berumur lima tahun yang terperangkap didalam tubuh seorang pria dewasa yang berumur dua puluh sembilan tahun” sahut Sena. “Dan mesum!” tambahnya lagi.

Kyuhyun menjulingkan matanya sesaat kemudian secara tiba-tiba tangan kanannya mencengkram lembut rahang Sena hingga bibir gadis itu mengerucut kedepan, “Kuperingatkan— lebih baik jaga mulutmu baik-baik, Nona Lee,” Katanya disertai dengan mata yang dipicingkan namun didetik itu juga, dengan secepat kilat dia menyesap bibir mengerucut gadis itu. Hanya menyesap sebentar, karena jika lebih— Kyuhyun yakin tidak bisa mengendalikan dirinya. “Aku, pergi.” lanjutnya, kemudian melepaskan rahang Sena.

Sena yang melihat raut mendung Kyuhyun—yang terbaca seperti tidak rela mereka harus berpisah sekarang, hanya tersenyum mengangguk. Kedua Tangannya kemudian dia gunakan untuk mendorong-dorong punggung tegap Kyuhyun agar segera keluar dari kamar karena sungguh— dia sangat tidak enak pada Yoorin jika wanitabermata bulat itu harus menunggunya lebih lama lagi di ruang tamu sana. “Ya, pergilah!” ucapnya.

Tapi baru saja mengambil tiga langkah, Kyuhyun langsung mengerem. Kemudian memutar tubuhnya memandang wanita itu— lagi. Sena yang melihatnya, jadi mengerutkan alis. Apa? Ada yang tertinggal kah? Ada yang dilupakan pria itu?

“Kau ingat kan?” tanya Kyuhyun kemudian.

Sena semakin mengerutkan alisnya, lensa cokelatnya berutar kesana-kemari. Mencoba mengingat sesuatu. Dia kemudian  menelengkan kepalanya kekiri, bibirnya mengerucut— ingat apa? Apa Kyuhyun mengatakan sesuatu padanya kemarin? Atau pagi tadi?
Kyuhyun mendesah, ia tahu betul— Lee Sena pasti lupa. “Malam nanti adalah pesta ulang tahun Ibu. Kau akan datang?”

Sena menepuk dahinya keras. Oh iya, kemarin Kyuhyun bilang bahwa hari ini adalah ulang tahun yang ke limapuluh untuk wanita yang telah melahirkannya tersebut. Kenapa dia bisa lupa itu?
Wanita itu kemudian memamerkan sederet giginya lagi pada Kyuhyun— meringis. Haruskah? Haruskah dia datang? Dia tidak dekat dengan kedua orang tua pria itu. Dia hanya sebatas mengenalnya saja. Mungkin Tuan dan Nyonya Cho juga begitu terhadap dirinya. Jadi jika dia datang— dia rasa hanya kecanggungan yang ada diantara mereka. Tapi—

“Aku tidak memaksamu. Terserah kau akan datang atau tidak,” lanjut Kyuhyun ketika mendapati raut wajah gadis itu yang seperti— keberatan? Tidak mau? Atau tidak bisa?

Kyuhyun menghela nafas. “Hei, tidak usah dipikirkan, Sena. Tidak apa-apa jika kau tidak bisa.” Katanya terkekeh sambil mengelus puncak kepala gadis itu. Kemudian dia melanjutkan lagi langkah kakinya menuju ke arah pintu keluar. Diikuti dengan Sena yang mengekorinya dibelakang.

Di ruang tamu, mereka bertemu dengan Yoorin—si wanita bertubuh mungil yang sedang asyik memainkan ponselnya. Sedangkan Yoorin sendiri, yang merasakan adanya orang lain yang tengah berjalan mendekat kearahnya, kemudian mendongakkan kepala. Terkesiap ketika melihat Cho Kyuhyun dan Lee Sena jalan beriringan menuju padanya. Ini kejadian langka, omong-omong.

“Hai, Han!” sapa Kyuhyun dengan senyum lebarnya yang tidak dia buang dari wajah tampannya. Telapak tangan kanan yang terangkat setinggi wajahnya pada Yoorin.

“H-hai..” jawab Yoorin disertai senyum kikuk, lalu bangkit berdiri dari duduk santainya diatas sofa.

“Maaf, membuatmu menunggu.” ucap Kyuhyun dengan tangan yang kini meraih punggung Sena kemudian meletakannya disepanjang bahu ramping wanita tersebut. “Aku harus pergi. Titip Sena, ya? Jaga dia—” lanjutnya.

Yang tanpa Kyuhyun sadari bahwa kalimatnya tadi telah memberikan efek yang hampir sama dirasakan oleh kedua wanita tersebut— yang kini malah berdiri mematung disana.
Lee Sena dengan perasaan yang berdesir didadanya— entah apa itu. Tapi yang dia tahu, itu adalah perasaan yang membuncah senang seperti ketika malam menyambut tahun baru. Dan Han Yoorin yang berpikir, bahwa hubungan model-nya dengan pria yang ada dihadapannya ini telah memiliki kemajuan. Karena jika iya, dia akan menjadi orang pertama yang siap membeberkan berita bahagia itu pada semua orang.

Ini lucu— tapi sekedar informasi saja, seburuk apapun bentuk hubungan yang Kyuhyun dan Sena miliki— dia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya adalah hard-shipper untuk kedua orang tersebut. Katakan dia kekanakan, tapi memang seperti itu faktanya. Dan mungkin, dia adalah satu-satunya orang yang tidak ingin mereka berpisah. Kyuhyun-Sena sangat ideal jika disandingkan, omong-omong.

“Paksa dia untuk makan, karena kau lihat—” Kyuhyun meraih pergelangan tangan Sena, melingkarkan ibu jari dan telunjuknya disana kemudian menghadapkannya pada Yoorin, “Tubuhnya terlalu kurus untuk ukuran seorang model!”

Sena mendelik mendengar ucapan Kyuhyun. Tidak terima. Kurus-kurus.. Kurus apanya? Dia lalu menginjak kencang kaki Kyuhyun yang dilapisi pantofel, membuat pria itu langsung mengaduh dan balas mendelik.
Yoorin yang melihatnya kemudian terkekeh geli, dia mengangguk-anggukan kepalanya. “Well—dia memang terlalu keras jika sedang berdiet. Aku juga sedikit heran padanya, padahal lemak yang berada ditubuhnya itu kian menipis.”

“Nah! Kau dengar sendiri kan Lee Sena? Manajer-mu saja berkata seperti itu. Awas saja jika aku mendapatimu yang terkena asam lambung lagi seperti kemarin. Penyakitmu itu kampungan sekali. Memalukan!” sindir Kyuhyun lugas—sedikit melirik sinis wanita yang masih berada dalam rangkulannya tersebut.

Dia berbicara seperti itu karena, kemarin saat dia tiba di apartemen ini, dia mendapati gadis itu yang sedang meringkuk seorang diri diatas kasur dengan air mata yang terus jatuh deras keluar dari matanya disertai bibirnya yang meringis kesakitan.

Cho Kyuhyun yang melihatnya, tentu saja dibuat kalang-kabut. Seperti orang kesetanan, berlari kesana kemari demi mencari obat gadis itu yang selama bermenit-menit tidak juga dia temukan. Merutuki Sena yang bisa kecolongan terkena penyakit seperti itu tapi tidak menghubungi siapapun untuk dimintai pertolongan. Merutuki dokter yang dia hubungi karena tidak juga sampai-sampai di apartemennya. Jika Kyuhyun tidak datang dan menyaksikan itu semua, apa kabar Lee Sena sekarang?

“Okay— aku pergi. Bye ladies!” katanya lagi, kemudian mencuri satu kecupan lagi dibibir Sena dan melenggang pergi meninggalkan kedua gadis tersebut.

.

Unclear

.

“Jadi, kau menghabiskan malam bersama dengannya— lagi?” tanya Yoorin langsung, setelah keduanya duduk didalam mobil yang akan membawanya ke kantor pusat majalah Secret yang terletak di distrik Gangnam.

Yoorin melirik wanita yang berada disampingnya sekilas, kemudian memfokuskan pandangannya kedepan lagi. Tangannya memutar setir kekanan. Sena yang sibuk membolak-balikan majalah ditangannya hanya menggumam, kemudian menjawab “Seperti yang kau lihat tadi.”

Gadis mungil itu mendesah, “Sampai kapan?” tanyanya ambigu yang membuat Sena langsung melupakan majalahnya dan menolehkan kepala padanya, menatapnya dengan alis berkerut. Yoorin meliriknya lagi sekilas, “Sampai kapan kalian akan seperti itu? Melakukan sesuatu yang tidak sehat,” katanya lagi dengan menekankan kata ‘sesuatu’ dan ‘tidak sehat’ sekadar untuk memperjelas kelakuan dua anak manusia— yang sialnya benar-benar dia dukung kebersamaannya itu.

Sena hanya mengedikkan bahunya kecil sebagai jawaban. Yoorin sudah berulang-kali menanyakan hal yang seperti ini, jadi dia sudah malas juga menanggapinya.

“Kalian sudah dewasa Sena. Apa yang kalian lakukan itu salah. Memang sih, itu hak-mu dan dia tapi apa kau tidak malu setelahnya? Kau wanita, jika suatu saat terjadi sesuatu padamu ‘lagi’ bagaimana?” ungkap Yoorin tidak tahan.

Sena berdecak keras, “Han Yoorin— perlu kau tahu, selama ini kami baik-baik saja, dan tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Jadi— berhenti memerintahku ini-itu, okay?!” jawab Sena lugas, dengan pandangan yang hanya lurus kedepan. Sama sekali tidak mau menatap manajer-nya tersebut.
Yoorin juga berdecak. Dengan mengedikkan bahunya, dia membalas “Tidak ada? Apa perlu kuingatkan lagi, Lee Sena? Terakhir kali kalian ‘melakukannya’, kau hamil. Ingat? Kau mengandung anaknya, entah apa yang bisa membuatmu kecolongan seperti itu. Dan dia tidak mengetahuinya. Kau juga tidak mengetahuinya. Aku pun begitu. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini. Tidak ada yang menyadari kehadiran-‘nya’. Sama sekali jika saja dokter saat itu tidak memberitahu kita bahwa kau telah keguguran, diantara kita tidak akan ada yang tahu. Dan sekarang— mungkin memang tidak ada hal buruk yang terjadi diantara kalian, tapi nanti? Kau harus memikirkan kedepannya akan bagaimana Sena. Akibatnya akan seperti apa. Demi Tuhan, kau pernah keguguran!” Yoorin berhenti sebentar, mengisi paru-parunya dengan oksigen. Matanya melirik wanita yang berada disampingnya lagi lalu melanjutkan, “Aku memang mendukung hubunganmu dengan Cho Kyuhyun. Aku menyukai kebersamaan kalian. Aku mempercayakanmu padanya, dan dia adalah pria yang baik walau sikapnya— well, sedikit kasar dan tidak mau kalah. Tapi dilain sisi aku juga sangat menentang bentuk hubunganmu dengannya. Aku tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi— aku yakin kau juga menginginkan yang seperti itu. Aku ingin kau bisa menjaga dirimu sendiri, Sena. Bukan untuk karirmu, tapi untuk dirimu. Hanya dirimu sendiri. Tolonglah..”

Sena tetap diam. Sama sekali tidak menggubris kalimat panjang Yoorin.
Sedangkan manajer-nya itu kembali dibuat mendesah. Gemas. “Aku berkata seperti ini sebagai seorang teman bukan sebagai seorang partner kerja atau apa. Aku mengkhawatirkanmu. Sangat— Lee Sena,” Yoorin memberhentikan mobilnya saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merahnya. Kejadian itu, dia jadikan kesempatan untuk menatap Sena.

“Yang perlu kau tahu satu lagi adalah fakta bahwa.. Aku dan dia tidak sedang menjalin hubungan. A-pa-pun.” Jawab Sena tegas seraya melayangkan tatapan tajamnya pada wanita bertubuh mungil tersebut. Menutupi rasa sakitnya ketika Han Yoorin membahas masalah tentang kegugurannya. Walau dia tidak pernah mengharapakan apapun dari Cho Kyuhyun. Walau dia tidak pernah mengharapkan sesuatu yang bisa menjadi perekat antara dirinya dengan pria itu. Tapi mengetahui, bahwa dia pernah mengandung— adalah salah satu hal yang sangat disesalinya. Bagaimanapun, dia nyaris menjadi seorang Ibu waktu itu. Jika saja—
Sena memejamkan matanya sebentar. Menghembuskan nafas, mengatur emosinya.

“Kami tidak pernah terikat. Aku dan Cho Kyuhyun hanya menjalaninya begitu saja. Kami hanya melakukan apa yang kami inginkan. Apa yang kami butuhkan. Jadi, jangan berharap apapun pada hubungan kami. Biarkan kami yang seperti ini. Apa adanya. Jangan pernah mengatakan apapun untuk membuat hubungan ini semakin jelas, karena akupun tidak mengharapkan itu. Kami— tidak saling mencintai. Cho Kyuhyun.. tidak pernah mencintaiku,” lanjut Sena dengan suara yang mencicit diakhir kalimatnya.

Cho Kyuhyun tidak pernah mencintaiku. Apakah itu benar? Pria itu— memang tidak pernah mencintainya kan?

Kami— tidak saling mencintai. Tapi, kenapa dia jadi merasa sesak begini mendengar kalimatnya sendiri? Ada apa ini? Sena meremas tangannya. Mengurangi kekalutannya.

Yoorin yang menyadari itu tertawa sinis. Dia menjalankan mobilnya lagi. “Kau yakin?” tanyanya. menghela nafas kemudian melanjutkan, “Tidak saling mencintai, ya? Hah.. kupikir tidak seperti itu. Percaya atau tidak, aku bisa melihat adanya cinta dari tatapan kalian. Kalian saling memuja. Satu sama lain. Mungkin kau dan dia hanya belum menyadarinya saja. Tapi aku? Aku jelas tahu, Sena. Aku sudah berada diantara kalian bahkan sejak kalian belum memulai hubungan kotor dan tidak jelas ini. Sekeras apapun kau menutupinya, kau tidak bisa menyangkal. Begitupun dengan dia.”
Sena terdiam. Benarkah seperti itu? Karena faktanya, dia memang tidak bisa melihat pria lain selain Cho Kyuhyun. Sejauh apapun pria itu berada.

“Kau tahu tidak bagaimana senangnya aku tadi ketika dia bilang Titip Sena, ya? Jaga dia? Aku merasa bahwa hubungan kalian itu memiliki kemajuan. Aku yang mendengarnya saja merasa begitu tersanjung, Cho Kyuhyun benara-benar membuatku ingin memiliki pria sepertinya. Dan—mengenai apa yang dia katakan tadi, apalagi kalau bukan karena cinta Sena? Kyuhyun sudah menunjukkan tanda-tanda itu walau seperti yang aku bilang tadi, kalian hanya belum menyadarinya. Sesederhana itu,” jelas Yoorin dengan berbunga-bunga. Bibirnya tersenyum menenangkan.

Sena juga tersenyum, sangat tipis. Bahkan hampir tidak terlihat. DIa juga merasakan itu. DIa merasakan apa yang Yoorin rasakan tadi— mungkin lebih.

Tapi kemudian dia menyadari, bagaimana jika tidak? Bagaimana jika perkataan Kyuhyun tadi hanya ungkapan kekhawatirannya? Bagaimana jika tidak ada secuil pun perasaan cinta yang pria itu sematkan pada kalimatnya? Sena menggeleng. Tidak, dia tidak boleh berharap. Dia dan Cho Kyuhyun tidak memiliki kejelasan apapun pada hubungan mereka. Tidak, sama sekali. Jadi bagaimana bisa mereka memiliki masa depan yang cerah pada hubungan yang seperti itu?

183 thoughts on “Unclear

  1. Jd mrk mnjlin hubngn tnp stts.. enak d kyu dunk, g enak d sena. Bnr tu kt yoorin bisa aj klian brdua itu udh sling cinta cm msih blom mnyadari prsaan msing2 aj.
    Q mlah jd pnsran gmn reaksi kyu klo tw sena sblmny pnh hamil ank kyu n dy kguguran. Kira2 gmn y respon ny kyu?…
    Ini bisa kah d buat sequel ny

    Disukai oleh 1 orang

  2. Bener-bener unclear deh 😂😂😂 harusnya msh ada lanjutannya..siapa tau kyu mnta sena dtg di ulang tahun ibu nya mau nyatain perasaannya ato mgkn mo ngumumin ke keluarganya klo kyu nglamar sena??? Bisa jadi kan ya 😄😄

    Disukai oleh 1 orang

  3. mentang2 judulnya unclear jadi ga clear deh ^^ . aku nyangkanya Kyuhyun bakalan kecelakaan dan mati saat Kyuhyun bilang ” jaga Sena ya…”

    yaa antara mau di lanjutin dan ga udah sii.. karena kan hidup kadang emang kaya begitu.. ” unclear” sebenernya ini cerita biasa aja, tapi pembawaan, penggambaran cerita sama sweetmomentnnya kece abis, ada beberapa typo tapi ga begitu ngaruh buat aku… .. ini cerita keren…hanya menceritakan satu waktu, maksudnya ceritanya GA nyeritain esok kemudian dan BLA BLA BLA.. kasarnya ini cuma cerita saat Sena dan Kyuhyun bangun tidur dan bersiap bekerja. sippp keep fighting Yo ^^

    Disukai oleh 1 orang

  4. Aduh, antara mau liat kelanjutannya sama nggak nih.. Seneng banget akhirnya nemu lagi fanfic yang keren. Semangat terus nulisnya thor ❤️❤️

    Suka

  5. sena pernah hamil tp dia gatau?sampe keguguran baru tau? 😯

    mereka saling cinta tp gak pernah menyadari atau emg mengelak?
    hubungan kayak apa yg mereka jalanin sebenernya 😅 sequel plis.

    Suka

  6. Sesuai judul ‘unclear’
    bener2 gantung,,
    sena mungkin bisa menyadari perasaannya, tapi ga mungkin dia yg memulai kan, dia ga tau gimana perasaan kyuhyun, walau yoorin bisa merasakan kyuhyun mencintai sena,, tapi kan sena butuh kepastian,, mungkin sena hanya tidak ingin hubungannya dengan kyuhyun memburuk kalo dia membahas tentang hubungan mereka ..

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s