Sun Flower Part 9


tumblr_o2c7amfzay1slzs2yo1_400

 

Title : SUN Flower

Author : DEVITA

Gendre : Colosal, Angst, Romance, Drama, Thrailer, NC

Ranting : 17+

Cast :

  • Kim Taehyung
  • Choi Min Gi
  • Park Jong Soo
  • Han Ahn Rin
  • Kim Seokjin
  • Park Ji Soo
  • BTS member & Super Junior Member&SNSD

Author Note :

Sebelum mulai cerita nih yah, author mau tanya nih. Gimana sih pendapat Readers tentang ff ini? apakah terlalu berat kah? Terlalu bertele” kah? Atau mungkin terlalu abstud? Butuh pencerahan permisah soalnya otak lima watt author mulai stuck disini. Dan dikarenakan banyaknya tugas kuliah, test, PI jadi nih ff makin tersingkir dari otak author tapi author tetep usahain update minimal dua kali sebulan kok. Oh iya dan satu lagi cerita ini tuh panjang nanti author malah mikir apa di bagi dua aja yah ceritanya. Bagian satu ini sun flower bagian duanya nanti sequel beda judul kekkeke tau deh author bingung.

 

 

(Part 9)
(Love Enemy)

 

Beberapa orang pengawal membawa Jisoo dan Jimin ke kompleks penjara yang biasanya digunakan untuk menghukum para pembangkang kerajaan. Setelah sampai pintu masuk keduanya di pisahkan, Jimin di seret mengikuti Min Gi dan Jisoo yang diseret ke tengah lapangan. Jimin terus menatap adiknya, kedua tangan Jisoo digantung di sebuah tiang yang biasanya untuk eksekusi mati, tubuh Jimin mulai bergetar ketakutan melihat adiknya yang hampir disiksa oleh beberapa prajurit penjaga penjara.

 

“Jadi keponakanku,” ucapan Min Gi mengalihkan perhatianya, lelaki itu langsung menoleh menatap Permaisuri yang berdiri disampingnya. “Sebelum aku melihat hiburan dari adikmu, maukah kau melakukan hal yang lebih menarik untuku?”

 

Mata Jimin menatap Min Gi waspada, dalam hatinya mulai mengutuk ratu muda itu dengan seluruh sumpah serampah menjijikan di dunia ini. Wanita disampingnya ini menghukum adiknya begitu saja, tanpa sidang tanpa pembelaan bahkan tanpa aba-aba menyeret mereka kemari.

 

“Apa itu Yang Mulia?” Namun ia tau bahwa mulut Min Gi adalah bagian dari hukum Silla, kecuali Kaisar tidak ada yang bisa menentang Min Gi termasuk Jimin.

 

“Aku tau kau pasti bisa mendongeng kan? ada sebuah cerita yang sangat ingin aku dengar. Sebuah cerita yang di ambil dari kisah nyata.” Menatap Jisoo dari mimbar atas mimbar itu biasanya digunakan para pejabat atau hakim atau bahkan Kaisar sendiri untuk menyaksikan proses eksekusi.

 

Jimin menatap Min Gi tidak mengerti, kenapa disaat genting seperti ini wanita itu malah ingin mendengar dongeng cerita nyata. Apakah Permaisuri Silla sudah tidak waras? “Cerita apa itu Yang mulia?”

 

Wanita itu langsung menyeringai kepalanya ditolehkan menghadap Jimin. “Cerita tentang Pangeran gagah berani bernama Kim Tae Hyung, yang pergi berperang ke perbatasan Gaeseong.”

 

Di detik itu juga Jimin merasa jantungnya ditikam oleh seekor serigala. Tatapan bengis Min Gi yang dingin dan mengancamnya seperti memintanya memilih antara nyawa adiknya atau nyawa temanya. Ia masih mengingat setiap kata yang diucapkan Tae Hyung padanya dan ia menyadari bahwa semua ucapan lelaki itu benar. Jika satu saja di antara mereka yang berani membuka mulut maka seluruh pasukan dan seluruh pejabat yang membantu mereka saat itu akan terkena imbasnya.

 

“Aku tau kau berada disana saat itu, aku juga yakin kau tau apa yang terjadi disana hingga mereka dengan tidak masuk akalnya menyerah. Dan aku juga tau apa yang diincar oleh Tae Hyung, Jimin-ah. Aku akan menunggu sambil bersenang-senang dengan adikmu, kau bisa mulai bercerita jika kau sudah siap.” Senyum Min Gi melebar lalu meluruskan kepalanya kembali menghadap Jisoo.

 

Jimin mengikuti arah pandang Min Gi mendapati seorang prajurit sudah membawa cambuk di tanganya membuat bola mata lelaki itu melebar dengan pupil yang mengecil. Matanya mulai menatap Jisoo ketakutan, adiknya. Adik kecilnya akan habis di tiang gantung disiksa karena jatuh cinta? apakah ini masuk akal?! Apa ada yang salah dengan jatuh cinta? tentu saja tidak. Yang salah adalah keadaan Jisoo saat itu, adiknya berada pada situasi yang tidak tepat dan waktu yang salah.

 

Jentikan jari lentik Min Gi memulai hukuman Jisoo, sebuah cambukan cukup keras menghantam punggungnya membuat gadis itu mengerang keras. Jimin meremas tanganya sendiri sambil menutup matanya tidak akan tahan melihat bagaimana adiknya disiksa. Namun walaupun lelaki itu sudah menutup matanya ia masih bisa mendengar jeritan kesakitan Jisoo yang melumpuhkan seluruh persendianya. Ia tidak tahan, ia tidak bisa membiarkan adiknya seperti ini tapi ia juga tidak ingin kehilangan seluruh temanya.

 

Tubuh Jimin bergetar frustasi setiap mendengar cambukan dan jeritan Jisoo. Lelaki itu tidak bisa lagi menahan rasa sakit di ulu jantungnya, rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Jimin membuka matanya lalu menghadap Min Gi.

 

“Yang Mulia…” panggilan itu membuat Min Gi menjentikan jarinya lagi menghentikan prajurit yang mencabuk Jisoo. “Tolong hentikan, biar aku saja yang menggantikanya Jisoo dia masih terlalu muda, dia masih keras kepala dan sok pintar walaupun sebenarnya dia tidak tau apa-apa. Saya yang akan menanggung semuanya tolong lepaskan adiku dan hukum aku sebagai gantinya.”

 

Mata Jimin merah berair menoleh menatap Jisoo yang tergantung lemas di tiang gantung dengan punggung yang terdapat beberapa bekas cambukan. Ia tidak bisa memilih antara keduanya, ia tidak bisa memilih mana yang lebih berharga diantara temanya atau adiknya.

 

“Dan kau fikir aku akan berwelas asih setelah mendengar hinaan yang tajam dari mulut lancangnya? Dia yang menghinaku Jimin, bukan kau. Dan baiknya lagi aku hanya ingin mendengar ceritamu tapi kau menolaknya lalu apa boleh buat?” menoleh ke arah Jimin.

 

“Saya akan bercerita!” sahut Jimin cepat, “Asalkan Yang Mulia berjanji pada saya.”

 

“Janji apa?”

 

“Berjanjilah Yang Mulia.” Desak Jimin lagi belum mau menjawab.

 

“Baiklah, aku berjanji.”

 

“Berjanjilah Anda tidak akan menghukum teman-temanku, Anda juga tidak menceritakanya pada Kaisar. Karena saat itu kami tau kami dalam keadaan terdesak, jika Anda melakukanya maka kami semua, seluruh prajurit dan pejabat yang membantu Pangeran akan terseret dan tidak menutup kemungkinan akan dihukum mati.”

 

Senyum Min Gi mengembang, jadi ini alasan kenapa mereka semua tutup mulut? Ji Sung, Jimin bahkan mungkin seluruh prajurit yang di tanyainya. “Keponakanku sayang. Apa kau lupa bahwa aku lah yang mengirim pasukan bantuan saat itu, jika ada diantara para pendukung yang digantung aku lah orang yang pertama.”

 

Nafas Jimin berhembus kencang begitu saja seperti itu adalah hembusan nafas terakhirnya. Ia lupa tentang yang satu itu, bodoh! Jimin ingin sekali membenturkan kepalanya sendiri ke dinding beton di belakangnya. Jika tau seperti ini ia akan menceritakanya sejak tadi! kenapa harus mengorbankan Jisoo dasar lelaki bodoh!

 

****

 

Tae Hyung sudah duduk di kursi paling ujung, kursi utama dalam pertemuan rahasia ini. Semua yang orang yang ia undang sudah lengkap, sekarang ia mempunyai dua setengah bagian kerajaan dan Tae Hyung hampir yakin dia akan mendapatkan dua setengah bagian lagi melalui Ji Sung dan Kyuhyun.

 

“Mengenai iniden Gaeseong,” ujarnya dengan nada yang rendah namun ramah. “Aku yakin di antara kalian semua tau apa penyebab utamanya. Dan aku yakin kalian tidak suka dengan rencana Kaisar, dia ingin membunuh putra-putra kalian bersamaku. Apakah kalian dengan mudah memaafkan Kaisar yang bahkan tidak menghargai kerja keras kalian? Apakah kalian masih ingin menjadi pengikutnya walaupun dia bahkan tidak menghargai nyawa generasi penerus Silla.”

 

“Saya setuju dengan Anda Yang Mulia.” Kata perdana mentri Min Yong Han –ayah dari Min Yoongi. “Tidak ada lagi alasan bagi kami memberi kesetiaan padanya karena Kaisar bahkan tidak melirik perasaan kami dan kesetiaan kami. Kaisar tidak lagi menghargai kami.”

 

“Itu dia, dan selaku Pangeran tertua Silla aku merasa dia tidak pecus memimpin negara ini. Maka dari itu, kita harus segera mengakhiri masa kekuasaan Kaisar Jung Soo.”

 

“Kita sudah mendapat dukungan dari Baekje, kita juga sudah memiliki seperempat kekuatan Silla kita bisa memenangkan ini Yang Mulia.” Kata Kim Jung Woon  –paman dari Kim Nam Joon.

 

“Tidak Tuan Kim, masih belum. Baekje tidak akan membantu sekuat tenaga, mereka hanya lada hitam dalam perang ini, dan kita lah garamnya. Kita belum cukup kuat untuk menaklukan Silla sekarang karena dibutuhkan setidaknya separuh bagian kerajaan untuk mendukung kita nanti agar pemerintahan kita kuat.” Tae Hyung menyenderkan punggungnya ke kursi sambil menatap para pejabat satu persatu.

 

“Lalu apa rencana Anda Yang Mulia?” tanya Jung Yoon Ho –ayah dari Jung Hoseok.

 

“Tentu saja mendapatkan sisanya. Kita akan mendapatkan sisanya dari Duang Ju, Dong Hae dan Selir Seo Hibin.”

 

“Selir Kehormatan memiliki banyak pendukung di belakangnya, jika kita bisa menarik beliau maka bisa dipastika kita akan mendapat lebih dari separuh pemerintahan Silla Yang Mulia.” Kyuhyun menegakan punggungnya setuju dan menghadapkan badanya pada Tae Hyung.

 

“Tapi bagaimana cara Anda merangkul mereka?” Chang Min membuka suara, “Mereka adalah pengikut paling setia Kaisar, kita tidak bisa mendapatkanya dengan mudah. Dan jika mereka buka mulut itu akan sangat berbahaya.”

 

“Siapa yang bilang kita akan merangkul mereka?” Tae Hyung menegakan tubuhnya sambil menyeringai.

 

“Lalu apa yang Anda rencanakan Yang Mulia?” Ji Sung menatap Tae Hyung serius.

 

“Mentri Duang Ju sudah terlalu tua untuk bisa dipergunakan Wakil Jendral, dan Jendral Besar. Jendral Besar Dong Hae tentu saja terlalu setia untuk kita pengaruhi, mereka tidak akan jatuh ke tangan kita bagaimana pun kita mencoba. Itu berbahaya, jika kita mendekati mereka sedikit saja maka Jung Soo pasti bisa mencium pergerakan kita.”

 

“Apa yang harus kita lakukan pada mereka?” kali ini Kang In membuka suaranya.

 

“Bunuh mereka.”

 

Semua orang yang berada di ruangan itu terperanggah terkejut mendengar ucapan Tae Hyung. Semua mata melebar menatap Tae Hyung tidak percaya, membunuh tangan kanan dan tangan kiri Kaisar. Bukan masalah mereka menolak tapi ini diluar perkiraan mereka, membunuh kedua orang paling berpengaruh di Silla bukanlah hal yang mudah.

 

“Yang Mulia…” Jung Yoon Ho bersuara tidak percaya.

 

“Kalian tidak setuju?” tanya Tae Hyung menatap mereka satu persatu namun tidak ada yang menjawab.

 

“Bukan begitu Yang Mulia, ini terlalu berbahaya.” Kata Ji Sung pelan.

 

“Tidak akan berahaya jika ada aku disini, kalian hanya perlu melakukan apa yang aku perintahkan dengan benar dan semuanya akan selesai dengan cepat. Wakil Jendral, katakan padaku apa kau tidak ingin menjadi Jendral Besar? kau lah yang akan aku jadikan pengganti Jendral Dong Hae nanti. Dan kau Jendral Kyuhyun, apakah kau tidak mau menjabat menjadi Mentri pertahanan pengganti Duang Ju? Katakan padaku.”

 

Kedua lelaki itu terdiam beberapa saat menatap Tae Hyung dengan sedikit keraguan, namun pada akirnya kedua lelaki itu merunduk hormat di hadapan Tae Hyung. “Kami bersedia Yang Mulia.”

 

“Kalau begitu kalian harus membunuh Dong Hae. Karena jika tidak dia yang akan menjadi mentri pengganti Duang Ju.”

 

“Lalu jika Mentri Duang Ju akan segera digantikan kenapa kita garus membunuhnya?” tanya Mentri Min.

 

“Untuk menghilangkan pengaruhnya, dan juga mempercepat rencana kita.”

 

“Lalu bagaimana dengan Selir Kehormatan Yang Mulia?” Sahut Jung Woon.

 

“Mengenai itu, Tuan Kim kau adalah ketua departemen pendidikan jadi aku yakin kau memiliki beberapa teman di departemen penyidikan bukan?”

 

“Ya Yang Mulia, ada apa?”

 

“Biar aku beri tau sesuatu yang mengejutkan pada kalian mengenai Selir Seo.” Kata Tae Hyung dengan seringaian misterius di bibirnya membuat semua orang yang berada disana semakin penasaran. “Dia adalah penyebab utama kematian Permaisuri Soo Yeong.”

 

“T-tapi bukankah Permaisuri Soo Yeong meninggal karena sakit?” walaupun terkejut namun Chang Min masih bisa langsung mengajukan pertanyaan.

 

Tae Hyung menggeleng pelan sambil tersenyum. “Kalian sepertinya tidak tau apa-apa soal ini, Permaisuri Soo Yeong meninggal perlahan-lahan oleh racun Selir Seo.”

 

“Itu masuk akal, Selir Kehormatan adalah orang yang pandai tentang berbagai ramuan obat-obatan.” Sahut Yoon Ho.

 

“Benar, tapi untuk apa beliau sampai melakukan itu?” Tanya Kyuhyun.

 

“Untuk Tahta Permaisuri.” Sahut Tae Hyung. “Tapi sayangnya dia gagal, Pamanku malah memilih Choi Min Gi sebagai Permaisurinya.”

 

“Anda tau cerita ini dari mana Yang Mulia?” tanya Jung Woon lagi.

 

“Tidak penting aku dapat dari mana Tuan Kim, yang terpenting adalah selidiki kasus ini sampai tuntas. Cari tau siapa saja yang terlibat di dalamnya dan laporkan padaku, kita bisa menggunakan ini untuk mendapatkanya. Untuk Jendral Besar, Mentri Min kau tau keluarga Kaisar akan berkunjung ke Tamna minggu depan?”

 

“Ya, Yang Mulia.”

 

“Gunakan kesempatan itu. Perintahkan Dong Hae pergi ke perbatasan Baekje, disana aku sudah mengirim surat pada Pangeran Sehun untuk mengatasinya. Dan untuk memastikan apakah kita berhasil atau tidak, Jendral Kyuhyun menyamarlah menjadi pasukan Baekje. Jika kau mau kau boleh menjagal kepala Jendarl itu.”

 

“Baik Yang Mulia.” Kata kedua lelaki itu serempak.

 

“Dan untuk bagaimana kita mengeksekusi Duang Ju dan Selir Seo, biar aku yang mengurusnya.” Seringaian kemenangan tergambar jeras di bibir Tae Hyung.

*****

 

Jimin berdiri di depan pintu masuk istananya ketika Tae Hyung kembali dari perundingan gelap tadi. Alisnya berkerut tipis mendapati Jimin yang menatapnya dengan muak, lelaki itu menghampirinya dengan cepat lalu melayangkan sebuah tinju yang cukup keras di pipi kanan Tae Hyung. Tae Hyung terpental beberapa langkah, semua pengawal dan dayang yang berada disana langsung membantu Tae Hyung dan menangkap Jimin.

 

“Apa yang kau lakukan pada adiku? Keparat!” umat Jimin sambil meronta dari cengkraman para pengawal.

 

Tae Hyung langsung mengerti kemana inti permasalahan ini, lelaki itu bangun sambil mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya. “Aku tidak melakukan apa pun pada Jisoo.” Jawabnya tenang sambil mengangkat tanganya, menyuruh para pengawal melepaskan Jimin.

 

“Pembohong! Katakan padaku apa yang kau lakukan pada adiku semalam!” setelah lepas dari cengkraman para pengawal Tae Hyung, Jimin menyerang lelaki itu lagi.

 

Lelaki itu menduduki perut Tae Hyung sambil memukulinya. Sementara Tae Hyung tidak membalas atau pun melawan, bahkan menahan para pengawalnya untuk menangkap Jimin. Ia hanya membiarkan Jimin memukulinya sampai puas, karena jujur saja ia tidak punya kata-kata untuk membela dirinya sendiri. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam, ia juga tidak yakin tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Jisoo.

 

Pukulan Jimin semakin melemah, lelaki itu pada akirnya melepaskan Tae Hyung yang sekarang sudah babak belur oleh tanganya. Tae Hyung pantas mendapatkan ini, pukulan yang Tae Hyung dapatkan tidak sebanding dengan robekan kulit Jisoo akibat cambukan prajurit Min Gi.

 

 

“Karena kau! Karena kau Jisoo mendapatkan banyak bekas luka! Karena kau aku harus berpisah dengan adiku!” Jimin berteriak di depan wajah Tae Hyung sambil mencengkram kerah baju lelaki itu.

 

Tae Hyung ingin bertanya namun bibirnya yang berdarah terlalu sakit untuk digerakan. Ia hanya menatap Jimin diam sambil melihat lelaki itu, Jimin hampir menangis, matanya sudah merah berair namun dia menahanya. Setelah puas memaki Tae Hyung, lelaki itu bangkit berdiri dan melangkah pergi namun Tae Hyung mencegahnya. Tae Hyung menggenggam tangan Jimin mencegah lelaki itu pergi.

 

“Tunggu sebentar…” ucapnya lemah dengan darah yang mengalir dari mulutnya.

 

Jimin merunduk menatap keadaan Tae Hyung yang terlihat menyedihkan, lelaki itu tidak melawanya sama sekali tadi. Bahkan membiarkan dirinya dipukuli habis oleh Jimin, apakah karena Tae Hyung merasa bersalah? Apakah lelaki ini benar-benar menyesal. Jimin menghela nafasnya kasar, mungkin dia bisa meminta sedikit bantuan pada Tae Hyung jika itu memang benar.

 

Keduanya duduk bersandar pada ranjang Tae Hyung, setelah tabib mengobati Tae Hyung lelaki itu dengan bodohnya malah duduk terkapar di samping ranjangnya. Jimin sempat masih mengumpat Tae Hyung beberapa kali tadi namun Tae Hyung tidak menanggapinya jadilah ia malah ikut duduk di samping Tae Hyung. Jimin tidak mengerti apa yang ada pada diri Tae Hyung yang membuat lelaki itu mudah sekali memenangkan hati orang lain, membuat orang-orang dengan mudahnya percaya padanya seperti Jimin saat ini.

 

Ada perasaan menyenangkan saat Tae Hyung menatapnya dengan senyuman tipis, seperti sapaan tulus seorang yang sangat peduli padamu. Dan Jimin tidak pernah paham dengan hal seperti itu.

 

“Apa yang terjadi pada Jisoo?” Tae Hyung bertanya sambil menghadakan kepalanya pada Jimin.

 

“Dia ketahuan oleh Permaisuri keluar dari kamarmu tadi pagi.”

 

“Dia dihukum?”

 

Jimin melirik tajam Tae Hyung lalu berdecak kesal. “Tentu saja bodoh!”

 

“Hukuman apa?” Tae Hyung masih saja bertanya dengan nada yang tenang.

 

“Apa perdulimu?!” sahut Jimin ketus.

 

“Aku perduli padanya Jimin-ah.”

 

Jimin terdiam beberapa saat menatap lurus kedepan sambil menelan ludahnya ringan. “Kau menyukai adiku?”

 

“Ya aku menyukainya.”

 

“Kau mencintai Jisoo?” menoleh menatap Tae Hyung yang kali ini terdiam menatapnya. Jimin menunggu jawaban Tae Hyung sampai beberapa saat namun lelaki itu tidak menggerakan bibirnya sedikitpun membuat Jimin mendengus. “Sudah aku duga kau hanya mempermainkanya.”

 

“Bukan begitu.” Sahut Tae Hyung cepat.

 

“Lalu apa?!” suara Jimin meninggi lagi.

 

Tae Hyung terdiam lagi, jawabanya sudah jelas dia tidak mencintai Jisoo tapi ia juga tidak bisa mengatakanya pada Jimin. Tae Hyung tidak ingin mempermainkan Jisoo, ia juga tidak ingin menyakiti gadis kecil itu.

 

 

“Itu hanya sebuah kecelakaan, aku mabuk.” Merundukan kepalanya menatap lantai kamar. “Aku sama sekali tidak bermaksud melakukan itu, aku bahkan tidak ingat apa yang aku lakukan semalam.”

 

Jimin menghela nafasnya kasar, pertanyan yang berputar di kepalanya sekarang adalah bagaimana Jisoo bisa berada di kamar Tae Hyung tadi malam. Seingatnya semalam Jisoo meminta ijin padanya untuk piket menjaga gudang obat di istana, lalu bagaimana bisa gadis itu berakhir di kamar Tae Hyung? Ia tidak sempat menanyakan ini pada Jisoo. Dan ia rasa percuma bertanya pada Tae Hyung.

 

“Jisoo dicabuk, dan akan diasingkan.” Jawab Jimin sangat berat.

 

Tae Hyung mengangkat kepalanya dengan cepat dan membulatkan matanya pada Jimin. Lelaki itu terkejut, ia tidak bisa mengatakan apa-apa saking merasa bersalah.

 

“Jimin-ah…” Tae Hyung tidak tau lagi apa yang harus ia ucapkan, apalagi melihat wajah kesakitan Jimin.

 

“Karena kau aku harus berpisah dengan satu-satunya keluarga yang aku punya. Kau puas huh?” Jimin tersenyum pahit.

 

“Aku akan mencari cara untuk membebaskanya. Percayalah padaku aku tidak akan membiarkanya begitu saja, aku tau ini semua salahku dan aku akan bertanggung jawab.”

 

“Memang apa yang bisa kau lakukan?”

 

“Apa pun.” Katanya dengan penuh keyakinan, “Aku akan melakukan apa pun untuk meringankan hukuman itu.”

 

“Tidak usah!” jawab Jimin ketus, “Lebih baik kau memperhatikan langkahmu mulai dari sekarang karena aku akan mengawasimu! Permaisuri sudah tau semuanya tentang perang Gaeseong. Dan mulai dari sekarang aku akan mengawasimu untuknya.”

 

“Kau memberi taunya!” nada bicara Tae Hyung meninggi. “Apa kau masih tidak percaya padaku Jimin-ah, setelah apa yang aku lakukan kau…”

 

“Aku tidak punya pilihan!” sahut Jimin cepat dan keras. “Nyawa adiku ada di tanganya, dan informasi itu untuk bayaran agar dia tidak menghabisi adiku di tiang gantung!”

 

Tiang gantung?! Jantung Tae Hyung seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Lagi-lagi lelaki itu hanya bisa terdiam terkejut menatap Jimin. Jisoo digantung Min Gi tadi, wanita sialan itu! geraman Tae Hyung tertahan di tengorokan. Wanita sialan itu menggunakan kesalahan Jisoo untuk mendapat informasi yang ia inginkan? Dan menggunakan nyawa Jisoo sebagai jaminan agar Jimin mengikuti perintahnya. Tae Hyung tidak mengira Choi Min Gi ternyata wanita yang cukup licik dan tangguh untuk dilawan.

 

“Kau tidak perlu khawatir aku akan mencari cara membebaskan Jisoo.” Berusaha meyakinkan Jimin untuk tetap berada di pihaknya berkali-kali namun sepertinya lelaki itu tidak memiliki pilihan.

 

Jimin hanya terdiam menatap Tae Hyung, ia tau Tae Hyung sudah memenangkan kepercayaanya. Tapi keadaan berbicara lain, nyawa Jisoo sedang terancam, hanya ia dan Tae Hyung yang bisa menyelamatkan adiknya.

 

“Aku harap aku bisa mempercayaimu.” Beranjak bangun untuk meninggalkan kamar Tae Hyung.

 

“Bolehkah aku menjenguknya besok?” pertanyaan itu menghentikan langkah Jimin, lelaki itu menoleh kebelakang tetap dengan tatapan dinginya pada Tae Hyung.

 

“Jika kau membuatnya menangis lagi aku akan membunuhmu saat itu juga!” sahutnya ketus lalu keluar dari kamar Tae Hyung.

 

*****

 

Min Gi menatap pantulan dirinya sendiri di cermin, bayangan dari semua ucapan Jisoo berputar di kepalanya. Mulut lancang gadis kecil itu jujur saja sudah mengalahkan Min Gi dari dalam. Semua yang dikatakan Jisoo benar, dia tidak memiliki siapa pun untuk disayangi di dunia ini, tidak bahkan Tae Hyung. Lelaki itu sudah diluar kendalinya, seluruh kasih sayangnya hanya sebuah lelucon, semua ucapanya hanya dengungan tak berguna. Lelaki itu bahkan mungkin lupa apa itu cinta, bagaimana dia bisa ‘menidurkan’ dua perempuan dalam satu malam?

 

Ucapan Tae Hyung malam itu, semua sentuhan dan perhatian yang lelaki itu berikan hanya sebuah guyonan. Setiap ucapan yang keluar dari bibirnya hanya omong kosong agar mendapatkan apa yang dia inginkan. Apakah semua yang ia lakukan hanya seperti kerikil yang dengan mudahnya di tendang lalu hilang dan terlupakan? Menghela nafasnya kasar. Semua yang kau lakukan sia-sia Choi Min Gi, kau mengorbankan hidupmu hanya untuk nyawa seorang keparat.

 

“Sayangku.” Min Gi menoleh mendapati Jung Soo sudah berdiri di belakangnya, lelaki itu tersenyum tipis saat melihat mata bulat Min Gi yang terlihat sangat polos saat memandangnya. “Kenapa kau belum tidur gadis kecilku?”

 

“Aku menunggumu samchon.” Min Gi membalas senyuman itu, nada halus yang terkesan agak manja membuat Jung Soo begitu bahagia. Sikap Min Gi semakin baik akhir-akhir ini padanya, ia ingin mecium gadis kecilnya namun ada satu hal yang mebuat kebahagiaanya tersendat.

 

“Ada yang ingin kau bicarakan?” menatap Min Gi yang beranjak berdiri di hadapanya.

 

“Apa aku selalu terlihat seperti itu?”

 

“Kau memang selalu seperti itu.” kebiasaan Min Gi hanya ingin berbicara padanya jika ada sesuatu yang dia inginkan. Menunggu bukanlah salah satu sifat gadis itu.

 

 

Tangan Min Gi perlahan menyentuh dada bidang Jung Soo, kepalanya mendongak menatap Jung Soo dengan intens membuat lelaki itu menahan nafasnya. “Hari ini aku menjadi permaisuri yang jahat.”

 

“Memang apa yang kau lakukan?” tangan Jung Soo mulai menyetuh pinggang Min Gi.

 

“Aku menghukum Jisoo.” Raut wajah Jung Soo langsung berubah. “Aku mencambuknya dan mengasingkanya. Aku melakukan itu karena dia berbicara lancang padaku.”

 

Jung Soo melepaskan pelukanya dari Min Gi lalu mundur menjauh dari gadis itu, lelaki itu diam berjalan ke ranjang Min Gi.

 

“Apa Yang Mulia marah padaku?” Min Gi mengikuti Jung Soo lalu berlutut di hadapan Jung Soo dan menaruh lengan serta kepalanya di atas pangkuan Jung Soo. “Apa aku harus membatalkanya saja? Jika Samchon tidak senang dengan perlakuanku.”

 

“Apa yang dia katakan padamu?” menatap Min Gi yang seperti seokor kucing manja di pangkuanya.

 

“Dia bilang aku tidak memiliki siapapun yang mencintaiku dan aku cintai di dunia ini, bahkan aku tidak mencintai Yang Mulia Kaisar.” Mengangkat kepalanya dan mendongak menatap Jung Soo. “Dia bilang aku cemburu padanya karena dia memiliki begitu banyak cinta sedangkan aku hanya sebatang kara. Aku sangat marah dan tersinggung saat itu, jadi aku menghukumnya begitu saja.”

 

“Sayangku…” Jung Soo mengenggam rahang Min Gi lembut seperti menggenggam berlian yang sangat rapuh.

 

“Maafkan aku, tidak seharusnya aku menghukumnya seperti itu. Karena bagaimanapun dia benar.” Min Gi merudukan kepalanya. “Aku tidak punya siapa-siapa.”

 

 

“Sayangku…” kali ini Jung Soo mengangkat tubuh Min Gi lalu mendudukan gadis itu di pangkuanya. “Aku mencintaimu, ada aku disini. Selama aku masih disini kau adalah pemilik diriku dan semua miliku. Kau adalah pemilik Kaisar Silla, maka semua milik Kaisar Silla adalah milikmu, setiap butir debu di Silla adalah milikmu. Jangan pernah berpikir kau tidak memiliki siapa-siapa atau apa-apa.”

 

Min Gi menatap Jung Soo sesaat sebelum memeluk lelaki itu, menyembunyikan wajahnya di pundak Jung Soo. “Kau memaafkanku?”

 

“Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan untukmu sayangku.” Jung Soo mengusap punggung Min Gi perlahan.

 

“Samchon?”

 

“Hmmm”

 

“Kau bilang semua yang berada di Silla adalah miliku, bolehkah aku memiliki Dong Hae?” mendengar itu Jung Soo melepaskan pelukanya perlahan lalu menatap Min Gi dengan tanda tanya di matanya. “Aku ingin Jendral besar menjadi pengawalku, apa Samchon keberatan?”

 

“Sama sekali tidak sayang, tapi kenapa tiba-tiba kau meminta Dong Hae menjadi pengawalmu?”

 

“Bukan apa-apa, hanya aku merasa sangat aman jika Dong Hae sendiri yang menjagaku, kemampuan bertarungnya membuatku merasa seperti aku bisa menyebrangi perbatasan Silla hanya dengan dia.”

 

“Memang kau mau pergi kemana?” alis Jung Soo berkerut.

 

“Tidak,” Min Gi tersenyum lebar. “Aku akan selalu disampingmu, aku hanya ingin keamanan ekstra karena aku rasa sudah mulai ada yang tidak menyukaiku di istana.”

 

“Siapa?”

 

“Mungkin, Selir Seo, Jimin dan para pendukung mereka. Tapi jika Yang Mulia keberatan, aku tidak akan tersinggung. Aku tau Jendral Besar pasti memiliki tugas yang besar, apalagi sebentar lagi mentri Duang Ju pensiun.”

 

“Baiklah.”

 

Mata Min Gi sedikit membulat menatap Jung Soo yang tengah tersenyum padanya. “Benarkah?” Jung Soo hanya mengangguk pelan dan Min Gi kembali memeluknya.

 

“Yang Mulia, kebaikan hatimu lebih tinggi dari pada langit.” Kata Min Gi sambil menyeringai di dalam pelukan Jung Soo.

*****

 

Jungkook berdiri di depan pintu kamar Jisoo, setelah mendengar apa yang terjadi kemarin dari Tae Hyung lelaki itu merasa uring-uringan. Tidak ada yang bisa menjelaskan betapa kosong harinya tanpa Jisoo, gadis itu selalu mencari masalah padanya dan jika Jungkook sedang bosan maka ia yang akan mencari masalah dengan Jisoo. Semuanya berlangsung entah sejak kapan sampai ia merasa bahwa menggangu Jisoo adalah kegiatan wajib yang harus ia lakukan setiap hari. seperti setiap hari ia harus merasakan pukulan Jisoo untuk memulai harinya atau mendengarkan teriakan cempreng melengking untuk memperbaiki telinganya. Gadis itu selalu terlihat begitu bersemangat, cerewet dan tidak bisa diam bahkan ketika dia sedang sakit, tapi kali ini semuanya sangat berbeda.

 

Jisoo terbaring menyedihkan di kasurnya, tidur dengan posisi tertelungkup memperhatikan punggungnya yang terdapat beberapa garis merah. Jungkook tetap mematung menatap Jisoo dari depan pintu, ia tidak berani masuk. Kepalanya menoleh ke pintu masuk lorong saat mendengar derap langkah mendekat ke kamar Jisoo, Jungkook langsung menutup kembali kamar gadis itu dan berdiri diam menghadap lorong. Dari ujung lorong mulai terlihat sosok Tae Hyung dan Jimin yang mendekat ke arahnya.

 

“Kau sudah lama huh?” Tae Hyung menepuk punggung Jungkook pelan sambil tersenyum tipis.

 

“Tidak,” lelaki itu berbohong, tidak sepenuhnya karena ia tidak sadar sudah berapa lama ia menatap Jisoo dan itu terasa cepat untuknya.

 

“Kau tidak masuk untuk menjenguknya?” kali ini Jimin membuka suara “Walaupun kalian seperti anjing dan kucing tapi kalian cukup dekat untuk disebut teman masa kecil.”

 

“Nanti saja hyung.” Jungkook hanya membalas dengan senyuman tipis.

 

“Kalau begitu aku akan masuk.” Tae Hyung berdiri di depan pintu kamar Jisoo, “Kalian tunggu aku di tuang tamu, Jungkook ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

 

“Baik hyung.” Jawab Jungkook singkat lalu berlalu begitu saja bersama Jimin ke ruang tamu.

 

Tae Hyung menggeser pintu kamar Jisoo perlahan, wajahnya meringis sedikit saat mendapati pemandangan pertama yang ia lihat adalah punggung tragis Jisoo. Berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara, ia tidak ingin mengganggu tidur Jisoo tapi sepertinya Taehyung gagal. Gadis itu mengerang pelan lalu menggeliat sedikit merasakan tempat tidur sebelah kirinya bergerak pelan.

 

“Oppa?” ia pikir itu Jimin, kakaknya mungkin ingin mewawancarainya mengenai kejadian kemarin malam.

 

“Jisoo-ya…” mata Jisoo membulat seketika ketika ia sadar suara itu bukan suara kakaknya, kepalanya yang tadi tertelungkup ke arah kanan langsung ia balikan ke arah kiri.

 

“Pangeran…” bisiknya pelan masih bisa didengan jelas oleh Tae Hyung, lelaki itu hanya tersenyum tipis sambil mengusap kepalanya membuat jantung Jisoo terasa sakit.

 

“Maafkan aku,” Tae Hyung terus mengusap rambut Jisoo sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu. “Ini semua salahku.”

 

“Tidak…” Jisoo tersenyum tipis, ia sangat bahagia mendapati Tae Hyung begitu memperhatikanya. Lelaki itu begitu manis dan menyayanginya, Jisoo tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Namun disisi lain ia ingat bagaimana semua ini akan berakhir dengan cepat, walaupun mereka saling mencintai Jisoo tidak akan bisa bersama Tae Hyung.

 

Gadis itu bergerak berusaha bangun dari posisi tengkurapnya dibantu dengan Tae Hyung. Keduanya duduk berhadapan di ranjang dan saling menatap satu sama lain. Sebentar saja, Jisoo ingin egois dan memiliki Tae Hyung untuk dirinya sendiri, karena esok hari ia akan pergi. Karena sebentar lagi lelaki ini akan menikahi wanita lain. Mata Jisoo mulai memerah dan berair.

 

“Apakah sangat sakit?” tangan kanan Tae Hyung menyentuh pipi Jisoo perlahan dan menatap gadis itu khawatir.

 

Jisoo merunduk lalu menggeleng pelan sambil tersenyum. “Justru aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.” Jawaban itu membuat Tae Hyung terdiam bingung. “Semua ucapanku benar, ucapan kakak dan ucapan ayah. Walaupun aku terlahir tanpa kasih sayang ibu, tapi ibu tetap menyayangiku lewat surga. Dia memberiku banyak kasih sayang melalui orang yang berbeda-beda.”

 

Tae Hyung tersenyum manis diluar tapi sebenarnya lelaki itu sedang mengumpat pada dirinya sendiri. Sampai detik ini ia masih tidak ingat apa yang ia katakan dan ia lakukan kemarin malam pada Jisoo. Kenapa gadis ini bertingkah seolah Tae Hyung adalah kekasihnya? Apakah dia mengatakan sesuatu yang aneh pada Jisoo? Tubuh Tae Hyung menegang seketika ketika Jisoo bergerak perlahan untuk memeluknya.

 

“Aku juga mencintaimu Pangeran.” Kata Jisoo memeluk Tae Hyung membuat mata Tae Hyung melebar.

 

Jadi apakah semalam Tae Hyung bilang kalau ia mencintai Jisoo? Tunggu! Bagaimana bisa?! Tubuhnya semakin tegang di dalam pelukan Jisoo. Tae Hyung ingin bilang bahwa kemarin malam adalah sebuah kesalahan tapi apakah ia tega? Melihat tubuh mungil ini yang sudah dicambuk oleh Min Gi. Mata polos yang begitu penuh dengan harapan apakah ia tega menabah hancur Jisoo dengan kejujuranya?

 

Jisoo perlahan melepaskan pelukanya lalu menatap Tae Hyung sambil tersenyum tipis. “Ada apa Yang Mulia?” tanyanya setelah menyadari raut kosong Tae Hyung.

 

“Jisoo-ya, apa aku melakukan sesuatu yang buruk padamu kemarin malam?” tanya Tae Hyung pelan takut membuat Jisoo kecewa tapi terlambat, raut wajah Jisoo sudah terlihat kecewa saat mendengar pertanyaan itu.

 

“Jadi apakah Pangeran tidak bisa mengingatnya? Semua yang kau katakan dan kau lakukan padaku?”

 

Nafas Tae Hyung tecekat seketika, kenapa ucapan Jisoo terdengar begitu menakutkan untuk Tae Hyung? Apa yang ia lakukan kemarin malam pada Jisoo?

 

“Ini…” Jisoo kemudian menunjukan bercak merah di lehernya mambuat mata Tae Hyung membulat seketika. “Apa kau tidak mengingatnya Pangeran?” raut wajah Jisoo menjadi begitu kecewa.

 

“Jisoo-ya? Apa aku…?” pertanyaan itu tertahan di tenggorokan Tae Hyung tapi ia yakin Jisoo tau maksudnya.

 

“Kau bilang aku adalah milikmu, dan kau juga bilang padaku agar tidak mencoba melarikan diri darimu. Apakah itu hanya karena kau mabuk pangeran?”

 

“B-bukan begitu…” Tae Hyung ingin menggengam Jisoo namun gadis itu dengan cepat menghindarinya.

 

 

“Tidak apa-apa Yang Mulia, para Pangeran dan Kaisar memang biasanya melakukan sepeti hal yang kau lakukan. ini bukan masalah besar.” Jisoo merundukan kepalanya dalam, jadi kemarin malam lelaki itu melantur dan mengatakan semuanya hanya karena ia mabuk.

 

“Jisoo-ya dengarkan aku, aku akan bertanggung jawab apapun yang terjadi padamu.”

 

“Tidak perlu.” Suaranya sudah sangat serak. Min Gi benar, tau apa ia soal cinta? bahkan membedakan ucapan sungguhan dan orang mabuk pun ia tidak bisa. Bagaimana dengan bodohnya Jisoo percaya dengan ucapan orang mabuk? Lalu merasa bahagia dan bangga dengan semua bualan ini.

 

“Jisoo…”

 

“Pergilah, aku ingin sendiri.” Kembali membaringkan dirinya dengan posisi memunggungi Tae Hyung

 

“Aku tidak akan pergi sebelum kau mendengarkan aku.” Gadis itu tidak merespon Jisoo tetap terdiam memunggungi Tae Hyung dengan pundak yang begerak kecil menahan isakanya.

 

Tae Hyung menghela nafas lalu mendekat ke Jisoo. “Apa kau benar-benar mencintaiku Park Jisoo?” gadis itu masih tidak meresponya. Akhirnya Tae Hyung menggengam pundak Jisoo lalu menariknya perlahan agar berbaring setengah terlentang dengan Tae Hyung yang berada diatasnya.

 

“Apakah sekarang itu menjadi hal yang penting Yang Mulia?” jawab Jisoo dingin dengan matanya yang berkaca-kaca. “Jika memang kemarin malam adalah sebuah kesalahan biarkan aku belajar dari kebodohanku. Biarkan aku sendiri.”

 

“Membiarkanmu? Apakah yang kau maksud membiarkanmu mati di tangan Min Gi atau membiarkanku mati di tangan Jimin?” tanya Tae Hyug tajam sambil menyentuh dagu Jisoo.

 

“Tenang saja, kakakku tidak akan bisa membunuhmu Yang Mulia.”

 

“Apa kau kecewa karena cintamu tidak tebalas atau karena aku telah melakukan sesuatu yang tidak aku ingat padamu?”

 

Jisoo terdiam beberapa saat sambil menelan air liurnya sendiri yang mengumpul di tenggorokan. “Aku tidak tau mana yang lebih menyakitkan Yang Mulia. Menjadi gadis putus asa atau menjadi seongok sampah.”

 

“Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu Park Jisoo. Sudah aku bilang apa pun yang terjadi padamu nanti aku akan bertanggung jawab apa kau tidak mengerti?” mata Tae Hyung mulai menajam karena kesabaranya menipis.

 

“Dan bukankah aku sudah bilang kau tidak perlu melakukanya Yang Mulia.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena kau tau aku akan pergi.” Akirnya air mata yang mengumpul sejak tadi mengalir juga di ujung mata Jisoo. “Yang aku tau, sekalipun kau mencintaiku sekarang itu hanya akan menghiburku sesaat. Dan kenyataanya, kau tidak mencintaiku.”

 

“Apa aku bilang bahwa aku tidak mencintaimu? Kapan aku mengatakanya?” ucapan itu membuat Jisoo membisu, gadis itu hanya terdiam menatap wajah Tae Hyung yang sangat dekat dengan wajahnya. “Kau tidak akan pergi ke mana-mana Jisoo, dan kau juga tidak perlu berfikir apakah aku mencintaimu atau tidak. Jika kau memanng mencintaiku maka teruslah mencintaiku, tidak ada yang berhak menggangu perasaanmu termasuk aku.”

 

“Kau berniat menghiburku?”

 

“Terserah…” wajah Tae Hyung mendingin, lelaki itu kembali menegakan punggungnya. “Aku sudah berbicara apa yang ingin aku katakan, jika kau masih tidak mempercayaiku itu terserah padamu.” lelaki itu kemudian ranjak bangun dari ranjang Jisoo namun gadis itu menahan tanganya sejenak.

 

“Kau mencintai wanita lain?”

 

Tae Hyung terdiam, benar Park Jisoo, Kim Tae Hyung mencintai wanita lain sekaligus membenci wanita itu. Wanita yang selalu berhasil membuat jantungnya seperti terbakar lalu membeku dalam hitungan detik, wanita yang Tae Hyung sendiri tidak bisa mengerti apa maunya dan membuat lelaki itu frustasi. Setiap kali ia meihat wanita itu Tae Hyung ingin sekali menarik wanita itu lalu mengurungnya untuk dirinya sendiri tapi dengan rahang pipih yang angkuh membuat Tae Hyung juga merasa ia ingin sekali membunuh wanita itu.

 

“Kau mencintai wanita lain.” Jisoo melepaskan genggamanya lalu berbalik perlahan kembali memunggungi Tae Hyung. “Apakah Tuan Putri Ahn Rin?”

 

“Bukan.” Jawab Tae Hyung pendek dengan nada yang sangat rendah.

 

“Aku tidak perduli siapa pun gadis itu Pangeran, kau yang memintaku untuk terus mencintaimu maka jangan salahkan aku jika aku tidak akan berhenti.” Seringaian tipis tergambar di sudut bibir Jisoo tanpa di ketahui Tae Hyung. “Aku tidak akan berhenti sampai aku mendapatkanmu.”

 

“Lakukan apa yang kau inginkan.” Beranjak dari ranjang Jisoo. “Tapi percayalah padaku Jisoo-ya, kau bukan tandinganya.”

 

“Siapa dia?”

 

Tae Hyung hanya memandang punggung Jisoo yang masih dipenuhi bekas sayatan lalu tersenyum tipis. Siapa dia? Dia adalah wanita yang membuatmu terbaring menyedihkan seperti sekarang, nyawamu ada ditanganya Park Jisoo. Dan jika kau tau siapa wanita itu Tae Hyung yakin Jisoo pasti akan mundur seketika, karena tidak ada kesempatan sedikitpun untuk seorang gadis mungil yang lucu untuk menalawan ular betina seperti Min Gi. Park Jisoo masih terlalu polos untuk mengerti betapa kejamnya dunia luar, mereka tidak akan memberimu kesempatan kedua.

 

“Tidak perlu tau siapa dia, yang harus kau tau adalah kau harus selalu berada di sekitarku dan kakakmu. Percayalah padaku itu adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan sekarang Jisoo-ya.”

 

Setelah itu tanpa mengucapkan apa pun lagi Tae Hyung keluar dari kamar Jisoo. Lelaki itu menuju ruang tengah dimana Jimin dan Jungkook sudah menunggunya disana, menghembuskan nafasnya pelan sebelum duduk di hadapan Jimin.

 

“Bagaimana?” tanya Jimin menatap Tae Hyung datar.

 

“Tanyakan sendiri pada adikmu!” jawaban itu membuat Jimin berdecak kesal.

 

“Lalu apa rencanamu hyung?” kali ini Jungkook angkat bicara.

 

“Jisoo berangkat besok pagi?” pertanyaan Tae Hyung ditanggapi anggukan dari dua lelaki di hadapanya.

 

“Diasingkan kemana?”

 

“Aku tidak tau pasti, tapi Permasuri bilang ke barat. Mungkin ke daerah Seokkuram.” Sahut Jimin.

 

“Jungkook, pergilah ke perbatasan Seokkuram nanti malam aku akan meminta tolong Jendral Changmin untuk memberiku beberapa prajurit. Cegat mereka di perbatasan, dan bawa Jisoo ke Eupseong disana aku akan mengutus seseorang untuk mencarikan tempat persembunyian untuk Jisoo.”

 

“Baik hyung, tapi sampai kapan kita akan menyembunyikan Jisoo? Kita tidak selamanya bisa menyembunyikanya begitu saja.”

 

 

“Sampai konspirasi ini berhasil, ini tidak akan lama lagi Jungkook. Aku yakin kau bisa menjaga Jisoo karena aku dan Jimin tidak bisa turun tangan langsung untuk mengurus Jisoo jadi aku serahkan dia padamu.”

 

Jimin hanya terdiam mengetahui semua konspirasi yang direncanakan Tae Hyung, dan memang hanya itu yang bisa ia lakukan. Tentu saja Jimin tidak menyukai rencana Tae Hyung, lelaki itu ingin membunuh pamanya, paman yang menjadi wakilnya dan merawatnya secara tidak langsung. Tapi ia tau ia tidak lagi memiliki pilihan, setelah terbukti bahwa Jung Soo memang berencana membunuh Tae Hyung bersama denganya dan teman-temanya tidak ada lagi kata yang bisa ia gunakan untuk membela Jung Soo. Ditambah apa yang sudah dilakukan Min Gi pada Jisoo, Jimin benar-benar tidak tau lagi dan tidak punya pilihan lagi.

 

Sementara Tae Hyung, dua kali lelaki itu menyelamatkanya. Pertama dia sudah menyelamatkan nyawanya dan seluruh prajurit Silla yang ikut berperang saat itu. lalu menyelamatkan nyawa adiknya yang ceroboh, walaupun pada akhirnya Tae Hyung pasti akan membuat kekacauan besar di Silla nanti tapi setidaknya Jisoo aman berada di sekitar Tae Hyung. Apakah itu bayaran atas nyawa adiknya? Nyawa adiknya harus dibayar dengan membantu Tae Hyung mendapatkan apa yang dia inginkan. Anggap saja begitu, dan memang tidak ada yang benar-benar percuma di dunia ini.

 

“Kapan kau akan melakukanya?” Jimin tiba-tiba berbicara sambil menatap Tae Hyung serius. “Konspirasi itu.”

 

“Seorang wanita bodoh berfikir bahwa mempercepat pernikahanku adalah hal yang cepat untuk menyingkirkanku dengan cara yang tak kasat mata. Tapi sebenarnya yang dia lakukan adalah mempercepat kematian suaminya sendiri.” Dan untuk kesekian kalinya wanita itu membuat kepala Tae Hyung hampir menggelinding. “Minggu depan aku akan berkunjung ke Tamna, aku akan bertemu Ahn Rin dan Seok Jin dan tentu saja Perdana Mentri mereka, Putra bungsu Perdana Mentri akan menjadi Kaisar, aku yakin dia tidak cukup bodoh untuk menolakku.”

 

“Apakah semuanya sudah siap hyung?” tanya Jungkook tidak percaya.

 

“Belum, para petinggi masih mempersiapkanya tapi aku yakin tidak akan lama lagi.”

 

“Kau belum memiliki cukup banyak suara untuk memenangkan pemerintahan Tae Hyung-ah, kau butuh lebih banyak lagi.”

 

“Dan kita akan mendapatkanya sebentar lagi, Selir Seo Hibin sudah berada di tanganku.”

 

TBC

38 thoughts on “Sun Flower Part 9

  1. Si Jongsoo bodoh didepan Min Gi. Mau aja dikibulin. Sbnernya Min Gi tau ngga sih klo Taehyung juga mencintai dia. Krna dari awal ngga ada yg nyatain cinta mereka, ahhh kurang deh scene antara Min Gi and Taehyung…

    Suka

  2. Aku merasa ini akan sad ending :v
    malah min gi begitu sm keponakanny..
    jimin pasti benci bgt sm min gi apalagi jisoo so, gimana ntar wkt tae sm min gi nikah… pasti jimin sm jisoo nambah benci bgt

    Suka

  3. lanjut thor aku suka ff ini… di sini makin banyak pencerahan antar cast nya,taehyung mingi jungsoo smuanya punya obsesi yg sm tp tujuan beda 😦 tp apakah akan berhasil? wlo tae tae ku kejam tp aku ttep dukung dia smoga aja kisah tae tae ku ga sad ending.n aku lebih setuju ff ini ga di bagi dua suka gini aja biar ga pusing n lebih ngeeh gini

    Suka

  4. Yosh..aku suka yg tdk mainstrem! Keren nih km penggemar yg kolosal2 ya..pdhl rumit bgt dan tokohnya buanyak.. Tp sayang aq pngennya ada seseorang bwt taetae tp jgn min gi…siapa gtu gadis lg bwt taetae..td nya kupikir ahn rin tp d main cast min gi urutan paling atas ..yaah. tp seru jg pas mreka bkin skandal ‘hot’ sering2 aje yeh. 😅

    Suka

  5. Sumpah dah ini cerita tambah bikin gue merinding.gg :v

    Otak author terbuat dari apa sih,sumpah ini keren banget,serasa nnton drakor real….

    Aku suka banget sama bahasany,, meskipun banyak typo,but no problem hehehe..
    Gg bertele” itu menurut aku sih…

    Semangat thor……

    Suka

  6. Jisoo yg malang, jadi korbannya min gi,
    Omaigat, semoga rencana taehyung berjalan lancar, meski aq ga rela klo Jung soo dibunuh..ahjussi imut itu telah menawan hatiku…hihihi

    Suka

  7. licik?? dari ff ini aku belajar. sebenernya emang didalam diri manusia itu ada sifat licik. tergantung kitanya aja. mau mengikuti atau nggak. jungso. kita udah tau gimana dia. taehyung. juga sama. mingi. kayaknya dia lebih milih ngikutin kelicikannya sekarang. dan semua karakter. kalian pasti tau sifat liciknya. tadi authornya nanya “apakah terlalu berat??” bagiku yang lebih suka comedy romance dan kisah modern. ini terlalu berat. tapi ini pendapat aku aja thor. unsur komedinya juga sangat sedikit. tapi aku bakalan tetep ngikutin kok.

    semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttttttttttt

    Suka

  8. bingung mau komentar gimana terlalu bagus nih ff 😂 konfliknya wow banget, ceritanya keren, huh kaga bisa nebak gmana akhirnya di tunggu banget part selanjutnya penasaran fighting thorr semangat!!

    Suka

  9. Waaahh akhirnya part ini keluar juga…
    Udh nunggu lama bgt thor.. 🙂
    Kira” gmna ya kelanjutannya..
    Apakah nanti taehyung bakal bersatu sama mingi..??
    Kok sepertinya mereka bakalan saling benci ssihh..
    Gk sbr bgt pengen baca part selanjutnya.. 🙂

    Suka

  10. Sebenernya itu pertarungan tae hyung vs jungsoo atau tae hyung vs mingi??
    Gak bisa nebak jalan critanya,,,,
    Makin seru dan bikin gregetan,,,,

    Klo menurutku kakak,,,,gak usah dibagi 2,,,,biar panjang gak pa2,aq tetap sabar menanti,,,,yang penting bisa sampe selesai critanya,,,,hehehe
    Semangat :-):-):-)

    Suka

  11. O my god…. serasa lg nntn drama di tipi ni😊 intrik politik bagus… nympe bkin geleng” pd jht smw tuk dptn ap yg mrk mw. 👍👍 aq dukung taehyung aj deh wt jd pemenangnya. Mingi-jungsoo nasibnya di tangan author 😆😆😆😆

    Suka

  12. Taehyung dan min gi,,, mereka sama2 pintar,,, tpi aq selalu memuji kepandaian dan imajinasi author yg udah nyiptain cerita yg sungguh menakjubkan…
    Semangat thor,,,, di tunggu selalu kelanjutanya

    Suka

  13. WOW…….. ini ff ngak bisa ketebak, aku suka sama jisoo n kookie jadian #ngarep bget. Pemeran utama pada jahat. Terserah kakak mau dibagi dua atau dilanjutkan yg penting nih ff diposting ampe selesai……
    FIGHTINGGG…….. KAKAK author 🙂 😀

    Suka

  14. Hai eonn , kalo menurutku ceritamu keren kok , jarang” ada cerita yang cast nya v di sini. Aku suka , berat si tapi gk berat” banget menurutku . Ayo eonn tetep semangat ya nulisnya janji apapun yang terjadi km harus selesaiin cerita ini smpe end ok . Gak sbr ni aku nya nunggui jin muncul di cerita ini . See you next part ya :):)

    Suka

  15. Wowwww keren bgt taehyung.
    Otak pintarnya ya ampuun nyeremin ya
    Jadi sbntr lg tae akan menang kah?
    Jika ia gmn kelanjutannya si jungsoo?
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^

    Suka

  16. Licik lawan licik mana yg menang????? Kita lihat nanti,tapi q msh penasaran dngan rencana min gi,,,,,,terserahlah kau mau apain ne ff chingu, mau bgi 2 atau lnjt gpp yg penting ttp dilanjtin jngan stengah” ye… Hwaiting;D

    Suka

  17. Cerita ni emg berat, byk konflik, byk politik yg atur strategi, ini ciri khas crta kerajaan. Awal crta suka sm min gi n tae tp mreka sm2 berperang strategi, ju2r sy ga suka peran jisoo dsni ga tau knp.jung Soo kaisar jahat malah bnr2 tulus cinta sm min gi,sdgkan tae lbh srg mnyakitiny Krn dendam. Kekurangan crta kerajaan emg kdg bosen sm konflik yg ga ad habisnya n crta yg pjg. Cast utama yg jd jahat, cast pendukung yg jahat jg ga ketebak akhir crtany bakal gmn. Btw smgat trs bt berkarya…😊 Fighting

    Suka

  18. Cerita ni emg berat, byk konflik, byk politik yg atur strategi, ini ciri khas crta kerajaan. Awal crta suka sm min gi n tae tp mreka sm2 berperang strategi, ju2r sy ga suka peran jisoo dsni ga tau knp.jung Soo kaisar jahat malah bnr2 tulus cinta sm min gi,sdgkan tae lbh srg mnyakitiny Krn dendam. Kekurangan crta kerajaan emg kdg bosen sm konflik yg ga ad habisnya n crta yg pjg. Cast utama yg jd jahat, cast pendukung yg jahat jg ga ketebak akhir crtany bakal gmn. Btw smgat trs bt berkarya…😊

    Suka

  19. Akhirnya update juga ni ff 😀 . Taehyung, otaknya lohh,, bener” cerdas 😀 , seneng deh liatnya, tapi gimana nasib min gi nanti?? Apa dia bisa bersatu sama taehyung?? 😮 . Bingung aku sama jalan pikiranya dia, dia ngebantuin taehyung tapi juga nentang taehyung :3 . Sebenernya maunya apa ?? 😮 :3 .

    Yaudah, cepet di lanjut aja ya, jan lama” 😀 ga sabar nungguinya 😀

    Suka

  20. konfliknya makin terasa dan rumit Tae hyung akan mengadakan konspirasi untuk menyingkirkan Jung soo. lalu apa rencana Min gi yang menginginkan Donghae. pertarungan antara cinta dan balas dendam. Jisoo yang berada antara Tae hyung dan Min gi benar-benar penasaran dengan cerita selanjutnya.😉😉👍👍👍✌✌

    Suka

  21. Awww!!! Makin seruuu, serius ka
    Min Gi udah ga sepolos dulu ya, mungkin gegara udah tau politik jd segala sesuatunya udah diplanning bener2. Apalagi sekarang pinter banget main taktiknya biar dia bisa aman tp jg ga dirugiin-_- jadi rada gimana gitu ama Min Gi
    Ko gue ngrasa kalo Min Gi ama Jisoo bakalan sebelas duabelas ya? Bener2 ya lingkungan kerajaan penuh konspirasi, banyak banget yg bakal dikorbanin demi kepentingannya masing2
    Okay ditunggu next part ya ka, tengkyuu~

    Suka

  22. jisoo.. sungguh pas baca pada bagian jisoo d hukum dengan d cambuk yang awalnya kasian pada min Gi yang telah berkorban untuk taehyung jadi mulai ga suka dengannya
    moga aja jisoo dengan jungkook

    semangat thor buat bikin ff nya.. ff nya kereeeeeeennn !!!!!!

    Suka

  23. Annyeong,makin keren nih ceritanya,menurut aku ceritanya stabil ko,gk terlalu lambat dan gk terlalu cepet,,dan ini masih kurang panjang sih menurut aku mah 😀 ,jd klo mau d panjang’in lg jg gk papa,jd intinya ,cerita ini tuh udah paling aman,gk yg gimana mana,maksudnya,jalanin aja ceritanya seperti persi kaka sendiri,klo pun mau ada yg d rubah atau d tambahin itu menurut aku tinggal tambain feeling nya aja deh buat semua cast dan terutama sma pemeran utamanya,,hehe maaf ya so ngatur,semangat berkarya

    Suka

  24. makin menakin & penasaran aja ceritanya,,, salut sma arthornya yg bisa punya ide cerita yg sedetail & rumit ini.
    Baru ini saya baca ff kerajaan yg bisa bikin minat & sangat menarik, susah dijelasinnya deh…
    pokonya mah keren abiiiiiisss nih ff nya ditunggu banget2 kelanjutannya ya thor…
    Maaf bnget dri part pertama baru komen sekarang hehee…
    jujur aja saya bru baca di part 7,trus dirasa menarik langsung maraton bacanya dri part 1 smpe 7- 8 & jahatnya bru dipart 9 ini komennya heheee
    maaf yaaa buat Arthoor yg baik ini….
    maafff banget heheee
    oke deh… pokonya ditunggu kelanjutannya ya…
    semangaaaaaaaat💪💪

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s