Not Such A One Night Stand


image

Author : Sunny

Title : Not Such A One Night Stand

Category : NC21, yadong, Romance tragedy, oneshot.

Cast : – Oh Sehun

            – Moon Ahjung (OC)

             -Park Chanyeol

             – Yungjin (OC)

Desclaimer : cerita ini murni berasal dari pemikiran author sendiri. Apabila ada kesamaan jalan cerita dan tokoh, maka itu terjadi tanpa di sengaja. Dilarang untuk menyalin atau mempublikasi tanpa menyertakan credit.

Not Such A One Night Stand

Sobekan foto berserakan di lantai. Wajah gelap dan blur di foto itu sudah sulit dikenali karena potongannya terlalu kecil, ciri potongan yang di balut kemarahan, dan tidak ada niatan untuk kembali disatukan setiap potongannya. Moon Ahjung menangis tersedu di sudut kamar apartemennya yang remang. Kalau bisa, ia ingin menangis meraung saat ia mulai menyadari bahwa ia telah diselingkuhi.

Betapa mudah takdir membolak-balikan hidupnya. Ia masih ingat tadi pagi ketika Chanyeol, kekasihnya, meneleponnya untuk memberikan percakapan yang manis di pagi hari. Ia masih ingat betul. Ahjung memang baru mengenal Chanyeol selama setahun, menjadi kekasihnya selama tujuh bulan, dan kini… ia diselingkuhi ? Ahjung ingat benar bagaimana perangai Chanyeol yang hangat dan begitu menyayanginya. Lantas, untuk alasan apa Chanyeol berselingkuh darinya ?

“Ahjung-ah, sampai kapan kau terus mengurung diri di kamar ? Aku sudah membuatkanmu makanan. Makanlah denganku.” Itu suara Yungjin, sahabat Ahjung, sekaligus paparazzi yang diam-diam mengintai Chanyeol sejak gadis itu menyimpan kecurigaan pada kekasih sahabatnya.

Suara ketukan terdengar di pintu kamar Ahjung. Namun si empunya kamar terus mengabaikan panggilan itu.

“Ahjung-ah, kau tau, aku jadi menyesal telah melakukan hal ini padamu. Ku pikir kau hanya akan merobek foto itu dan menelepon Chanyeol lalu memutuskan hubungan kalian. Aku tidak mengharapkan hal yang seperti ini darimu,”

“Ahjung-ah.. yak, Moon Ahjung ! Keluar lah atau aku dobrak pintu kamarmu !” Yungjin menunggu, namun sahabatnya tidak kunjung memberi respon. Dengan berat hati, ia mendobrak pintu kayu itu dengan sekuat tenaga. Gagal dengan kekuatan bahunya, Yungjin menedang pintu itu, di dorong rasa khawatir.

“Yaaaak !!! Ahjung-ah, kau baik-baik saja ? Jangan buat aku khawatir.”

Drak ! Drak !  Yungjin menendang pintu bercat putih itu. Namun, sebelum pintu itu terdorong kedalam, pintunya terbuka.

“Kau berniat merusak propertiku, hah ?” Omel Ahjung dengan mata sembab.

“Ahjung-ah !!! Apa kau baik-baik saja ?” Tanya Yungjin, tak menanggapi omelan Ahjung, sambil berhambur ke pelukan sahabatnya itu. “Aku merasa sangat bersalah telah membuatmu begini.” Rengek Yungjin. Enggan melepaskan pelukan pada tubuh sahabatnya.

“Aku baik-baik saja, setidaknya aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih karena tidak menggangguku untuk beberapa jam tadi. Lagian ini bukan salahmu. Aku berterimakasih padamu, Yungjin-ah.” Jelas Ahjung sambil menepuk pundak sahabatnya yang masih menangis.

“Kau sudah aku anggap seperti diriku sendiri, aku tidak mau kau disakiti.”

Dan air mata itu mulai mengalir lagi. Sahabatnya ini adalah keluarga dengan jarak terdekat yang ia miliki, sementara itu Ahjung hanya mempunyai ayah dan nenek di tinggal bersama di Daegu. Ayahnya seorang diri mengurus sang nenek, sekaligus tetap bekerja sebagai seorang sekertaris di sebuah perusahaan asuransi untuk membiayai kehidupan mereka.

“Gomawo Yungjin-ah.”

“Kau harus lupakan pria brengsek itu, eoh ?! Aku akan menghajarnya bila bertemu nanti. Aku akan mendatanginya ke klub !”

“Sudahlah… lagian aku akan segera memutuskannya. Itu hanya akan jadi percuma Yungjin.”

“Tapi kau…”

“Dengar, aku ingin besok…” Ahjung memegang bahu sahabatnya, menatapnya tegas dan tampak mengumpulkan tenaga saat hendak mengucapkannya. “Aku ingin besok… ikut ke klab denganmu.”

“Apa kau yakin ?” Tanya Yungjin ragu.

“Aku ingin lihat langsung.”

Tampak Yungjin berpikir keras, apa membawa orang patah hati untuk melihat aksi perselingkuhan kekasihnya adalah ide yang bagus ? Yungjin sendri tidak yakin tidak akan ada pertengakaran antara mereka saat mereka bertemu.

“Baiklah, kau boleh ikut. Tapi ingat, aku tidak ingin kau melukai atau mempermalukan dirimu sendiri, arasseo ?!”

Ahjung mengangguk pasti.

Keesokan malamnya, dua wanita dewasa muda itu duduk di kursi meja bar. Keduanya tidak terbiasa minum, meski begitu Yungjin tetap memesan wine sementara Ahjung memilih meminum mojito. Hampir selama lima belas menit mereka menunggu dan mencari Chanyeol sejak kedatangan mereka, akan tetapi mereka belum juga melihat batang hidung lelaki itu. Dalam hati, Ahjung berharap bahwa ia tidak menemukan Chanyeol di tempat ini.

“Ahjung-ah, ku rasa perutku melilit. Aku ingin ke toilet sebentar. Kau.. kau jangan beranjak dari sini, tunggu  sampai aku kembali. Arasseo ?”

“apa kau baik-baik saja ? kau sakit ? bagimana kalau kita pulang saja ?” usul Ahjung, khawatir melihat Yungjin yang tampak meringis kesakitan.

“tidak usah, aku baik-baik saja. sungguh. Kurasa aku hanya tidak biasa minum lagi.”

“kalau begitu baiklah. Cepat kembali ya.”

Yungjin hanya menjawab dengan sebuah anggukan dan segera berlari menuju toilet.

Sementara menunggu Yungjin, Ahjung tetap mencari Chanyeol dengan Matanya. Menanti kedatangan lelaki bertubuh super tinggi itu. Sebenarnya ada dorongan dalam diri Ahjung untuk menelepon lelaki yang masih berstatus sebagai kekasihnya tersebut, namun ia urungkan. Ia takut mendapati dirinya akan kembali luluh dan sulit menerima kenyataan yang membuatnya sudah sangat hampir percaya.

“bawakan aku segelas vodka.” Ujar seorang wanita yang berdiri tak jauh dari Ahjung.

Ahjung memperhatikan wanita itu sesaat. Wanita itu tampak sangat mencolok dengan gaun merah super seksi dan ketat, juga lipstick merah yang menyala di bibirnya yang penuh. Sekilas wanita itu sangat menggoda dan cantik. Ahjung lantas menatap dirinya sendiri, membandingkan dirinya dengan wanita bersurai coklat itu, dan hasilnya sangat jauh berbeda. Ahjung merasa kecil. Tapi di satu sisi, ia juga takut melihat penampilan ekstrim wanita itu, karena itu sama sekalu bukan gaya berpenampilannya.

Segelas vodka yang diminta wanita itu datang, Ahjung menatap gelas itu, hanya karena penasaran. Lantas ia mendapat teguran. “chogiyo, apa kau akan terus memperhatikanku ?”

Ahjung tersedak ludahnya sendiri. wajahnya seketika tegang, lantas ia menggeleng cepat. “tidak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud..”

“ah, sudahlah lupakan. Lanjutkan saja kegiatanmu.”

Ahjung mengangguk mengerti. Ia lantas mengarahkan arah pandanganya ke arah lain, namun tak lama matanya kembali menangkap gerakan yang mencurigakan. Wanita itu memasukan sesuatu ke dalam gelas Martininya dan segera melenggang pergi.

“ah, aku sungguh tak nyaman berada di tempat ini.” keluh Ahjung. Ia melihat jam tangannya, lalu menghembuskan nafas panjang. Entah harus berapa lama ia menunggu Chanyeol, dan juga Yungjin yang belum kembali.

“apa aku sebaiknya menyusul Yungjin ?” Tanya Ahjung pada dirinya sendiri. Lalu tanpa berpikir lebih lama lagi, ia segera berdiri untuk menyusul Yungjin. Namun, sebuah pemandangan menghentikan langkahnya. “Chanyeol ?” lirih Ahjung.

Ia melihatnya, Ahjung melihat dengan mata kepalanya sendiri. Chanyeol bersama seorang wanita bertubuh seksi yang sedang berusaha menggodanya. Wanita itu dengan sengaja menempelkan dadanya yang besar di tubuh Chanyeol. Sementara tangan lelaki itu bermain nakal di pantat wanita itu. Wanita yang sama seperti di foto yang di tunjukan Yungjin. Tubuh Ahjung melemas. Rasanya ia tidak sanggup melihat pemandangan itu lebih lama lagi. Inginnya ia menghampiri Chanyeol dan menghajar lelaki itu habis-habisan. Akan tetapi, menggerakan  kakinya ke arah Chanyeol saja ia sudah tidak sanggup.

Tanpa menunggu lebih lama, Ahjung beranjak untuk menyusul Yungjin untuk mengajaknya pulang. Karena malam ini, mereka datang bersama dengan mobil Yungjin. Begitu sampai di toilet wanita, Ahjung mengelap air matanya yang mulai keluar. Ia tidak boleh terlihat menangis di depan Yungjin, bisa jadi sahabatnya itu akan menyeretnya dan menghadapi Chanyeol. Itu hanya akan menambah rumit masalah, Ahjung butuh waktu.

“arrrrghhh !!! engghhh !!!” langkah Ahjung terhenti ketika mendengar suara erangan kesakitan di dekat pintu toilet wanita. Ia urungkan niatnya untuk masuk ke dalam toilet begitu ia mendengar erangan itu lagi.

“ennggghhh !!! Arrggghhh hah hah hah !! to-tolong aku.” Suara berat itu tampak begitu kepayahan. Ahjung mulai takut dan waspada, jangan-jangan ada pembunuhan ? pikir Ahjung.

“aaaaaaaaaakk !!!” Ahjung terpekik ketika bahunya ditarik seseorang. Ia menepis lengan itu dan segera membalikan tubuhnya. Tampak di depannya laki-laki yang dipenuhi peluh dan membungkuk sambil memegangi dadanya.

“jangan berteriak, nanti jalang itu mendengarnya.”

Ahjung yang masih ketakutan mengangguk mengerti. Tangannya bergetar menutupi mulutnya, sementara tubuhnya juga terus bergetar hebat.

“to-tolong aku.” Ujar lelaki itu dengan suara lirih dan nafas yang jauh dari kata teratur. otot-otot di lehernya tampak menegang, menojolkan urat-uratnya yang besar. Keringat terus bercucuran dari dahi lelaki itu. Ahjung seketika panik. Ia memeriksa tubuh lelaki itu, tidak ada yang berdarah atau terluka, selain bibirnya yang tampak sangat merah karena ia terus mengigitnya.

“a-apa yang bi-bisa aku bantu ?” tanya Ahjung terbata.

“ba-bawa aku pergi dari sini. Ka-kau bisa menyetir ? nnggghhh… ku mohon.”

Ahjung mengangguk mengerti. Ia lantas menerima kunci mobil yang diberikan lelaki itu, dan tubuhnya bagai tersengat ketika lelaki itu melingkarkan tangannya di bahu Ahjung dan menumpukan sebagian berat badannya di tubuh ahjung.

“yak ! Sehun-ah, kau dimana ?” teriak seorang wanita dari kejauhan. Ahjung menyipitkan matanya, sepertinya ia tidak asing dengan wanita berbaju merah ketat itu. Tak salah lagi, itu si wanita pemesan vodka.

Lelaki yang di panggil Sehun itu mengerang, lalu Ahjung juga mendengar ia berdecak. “kau bisa berlari ? aku akan berusaha berlari. Cepat, kita harus menghindar dari wanita itu.”

“a-aku mengerti.” Ahjung menyanggupi. Ia menahan tubuh Sehun lewat pinggangnya, lalu berusaha menyerat kakinya yang masih gemetar.

“itu mobilku.” Sehun menunjuk sebuah mobil sedan putih yang terpakir mewah di pelatarn parkir klab.

Setelah memastikan si empunya mobil siap untuk berkendara, Ahjung segera menginjak pedal gas dan mengemudikan mobil itu dengan kecepatan yang cukup tinggi.

“kita akan kemana ?” tanya Ahjung bingung begitu mereka sudah cukup jauh dari klab.

“nggghh” erang Sehun, tak menjawab pertanyaan Ahjung.

Ahjung kebingungan. Pikirannya kacau. Lalu, tanpa pikir panjang Ahjung membawa lelaki itu ke apartemennya. Begitu mereka sampai di apartemen, Ahjung segera membaringkan Sehun di sofa apartemennya. Lelaki itu masih sadar, dan masih terus mengerang. Keringatnya sudah membashi seluruh kemeja putihnya. Menampkan siluet indah di balik kemeja basah itu.

“aku akan membawakanmu air.” Ahjung berdiri dari duduknya di ujung sofa, berniat untuk membawakan air minum. Namun niatnya terhenti ketika tangan lelaki itu menahan lengan Ahjung.

“siapa namamu ?” tanyanya dengan suara yang sangat rendah, menambah kesan seksi.

“Ah-Ahjung.”

Lelaki itu lantas tersenyum, menatap Ahjung dengan tatapan nanar. “aku sangat berterima kasih padamu, maafkan aku karena menempatkanmu di posisi yang sangat tidak menguntungkan, tapi aku masih memerlukan satu bantuan.”

Ahjung melongo, lelaki ini sudah tidak terbata-bata lagi bicaranya, meskipun nafasnya masih tidak teratur. Ahjung merasa heran, tetapi ia tetap bertanya sambil menutupi kegugupannya. “apa itu ?”

Bukannya jawaban yang di dapat Ahjung, lelaki itu lantas menariknya dan membawa tengkuk Ahjung untuk segera melehap bibir plumnya. Ahjung yang segera menyadari situasi berusaha mendorong jauh tubuhnya dari tubuh Sehun.

“lepaskan aku, ku mohon lepaskan aku.” Ahjung memohon begitu bibirnya berhasil terlepas dari bibir Sehun.

“aku tidak bisa. Jalang itu memasukan obat perangsang ke dalam minumanku. Aku membutuhkanmu.” Tanpa peringatan, Sehun lantas kembali mencium Ahjung. Ia melumat bibir gadis itu dengan agresif, menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya. Sadar bahwa Ahjung tidak membalas ciumannya lantas ia menggigit bibir gadis itu hingga Ahjung mengerang dan membuka mulutnya, memberikan akses bebas untuk Sehun mengeksplor mulutnya.

“emmmpphh…” erang Ahjung begitu ia terbuai dengan ciuman panas Sehun di bibirnya.

Dengan cepat Sehun melepaskan gaun ketat Ahjung, lalu melemparnya ke sembarang arah. Lelaki itu lantas memutar tubuhnya, membuat ia berada di atas tubuh mungil Ahjung yang hanya berbalut bra dan celana dalam.

Sehun menatap Ahjung, yang terengah-engah setelah ciuman panas dan panjang mereka, dengan tajam. Lalu matanya mengedar ke sekeliling ruangan apartemen yang asing di matanya, dan berhenti ketika ia menemukan sebuah pintu ruangan yang ia yakini adalah kamar gadis itu.

“ku mohon, lepaskan aku.” Lirih Ahjung dengan air mata berlinang.

“maaf aku tidak bisa, cantik.” Ujar Sehun dengan suara yang tenang. detik selanjutnya ia membawa Ahjung ke dalam ruang yang ternyata memang benar kamarnya. Ia melemparkan gadis itu ke ranjang dan segera menindih gadis itu.

Ahjung tersentak saat ia merasakan sesuatu menggesek pahanya. Namun sebelum ia sempat memeriksa hal itu, Sehun sudah kembali melumat bibirnya. Kali ini lebih lembut, membuat Ahjung terbuai dan tanpa sadar membalas ciuman lelaki itu.

Sehun melepaskan ciumannya, ia menatap ahjung yang terengah-engah. Lalu dengan segera ia melepas kemejanya yang sudah tidak beraturan hingga tampaklah tubuh indah Sehun di depan Ahjung. Ia tersenyum puas saat mendapati tatapan kagum di mata Ahjung. Selanjutnya, Sehun melepaskan celananya sendiri, menampilkan sesuatu yang sempat menggesek paha Ahjung. Sekali lagi, Ahjung tersentak melihat benda itu. seketika ia takut.

Mendapati tatapan ketakutan di mata Ahjung, Sehun segera mencium Ahjung kembali. Kedua tangannya menyelusup di balik bra hitam Ahjung, lalu meremas kedua payudaranya dengan lembut. Memainkannya dengan piawai.

“aaaahhh…” Ahjung mendesah. Ia menjambak rambut Sehun yang sangat halus ketika lelaki itu mengecupi payudaranya, lalu mengigit collar bone-nya, menghantarkan suatu kenikmatan duniawi yang sama sekali belum pernah ia cicipi.

“mendesahlah untukku, Ahjung.”

“nggghhh…”

Ahjung semakin frustasi. Ia bahkan tidak sadar bahwa dirinya sudah sama telanjangnya dengan Sehun. Kesadaran yang masih tersisa dalam dirinya berusaha menutupi dadanya, namun itu tidak bertahan lama saat Sehun menggesek-gesekan miliknya di bagian tersensitifnya. Lelaki itu membuatnya begitu tersiksa, dan mulai berharap lebih.

“Kau cantik, Ahjung-ah.” Desah Sehun, membuat pipi Ahjung merona.

Perlahan tapi pasti, Ahjung mulai merasakan Sehun mendorong kejantanannya untuk memasuki dirinya. Ia mengigit bibirnya ketika rasa sakit menyengat tubuhnya. Ini pengalaman pertamanya, dan akan ia lakukan dengan pria asing di atasnya. Air mata kembali mengucur dari ekor mata Ahjung. Antara menahan sakit dan menahan kesedihan. Ia akan kehilangan mahkotanya sebagai wanita.

Sehun melihat kesedihan di mata Ahjung, terlebih ketika ia mendorong dirinya masuk ke dalam tubuh gadis itu. Ia menemukan kesulitan untuk memasuki Ahjung, gadis ini pasti masih perawan. Tapi ia sadar bahwa bila ia berhenti, ia bisa menyiksa dirinya sendiri dan Ahjung. Ia sudah hampir menembus pertahanan Ahjung. Dengan penuh kelembutan, Sehun kembali mengecupi wajah Ahjung, dan memberi ciuman lembut di bibir gadis itu. Sementara satu tangannya bermain nakal di payudara gadis itu.

“ahhh… nggghh” Ahjung mendesahkan kenikmatan.

Perlahan tapi pasti, Sehun kembali menggesek-gesekan miliknya pada milik Ahjung, setelah ia merasa bahwa Ahjung sudah basah. Ia lantas menghujamkan miliknya dengan kuat, mengoyak selaput dara Ahjung.

“aaaaahhh !!!” Ahjung berteriak. Gadis itu terperanjat, ia menjambak rambut sehun dan mengigit bibirnya sendiri.

Sehun tak bergerak. Ia membiarkan tubuh Ahjung beradaptasi dengan tubuhnya. Kemudian Ahjung kembali berbaring, dadanya naik turun mengikuti irama nafasnya. Mata gadis itu basah dan kehitaman karena maskaranya yang luntur.

“aku akan bergerak, aku berjanji tidak akan menyakitimu.” Ucap Sehun lembut. Ahjung mengangguk mengerti.

“ahh.. ahh…” Ahjung mendesah, terus mendesah menikmati permainan ini. Kuku-kukunya mancakar halus punggung lebar lelaki itu. Matanya menatap pahatan indah wajah Sehun yang terpantul cahaya bulan.

“sebut namaku,” pinta Sehun, berbisik di telinga Ahjung.

“Se-hun… ahh…”

Sehun tersenyum puas. Ia menggerakan pinggulnya dengan tempo yang semakin cepat. Desahan kedua insan itu mendominasi kamar Ahjung yang remang. Hujaman demi hujaman terus menghantarkan keduanya menuju surga duniawi. Hingga pada akhirnya, Sehun meledakan dirinya jauh ke dalam tubuh Ahjung, menghantarkan kehangatan.

-oOo-

Ahjung mengerjapkan matanya. Cahaya matahari menerobos melalui celah gordyn kamarnya. Badannya terasa sakit dan pegal. Ia seketika terbangun, dan mendapati dirinya hanya di balut selimut dan dalam keadaan tanpa busana. Rasa sakit yang berasal dari kewanitaannya masih sangat terasa. Air mata langsung jatuh membasahi wajahnya. Ahjung memeluk dirinya sendiri dalam kehancuran.

Setelah lelah menangis, Ahjung bangkit dari ranjangnya, ia mengambil kimononya, berjalan untuk membuka jendela dan merasakan cahaya pagi. Lalu ia bercermin, wajahnya tampak sembab dan kemerahan. Make up yang semalam ia aplikasikan sudah tidak terlihat, menampilkan wajah cantik naturalnya, mungkin lelaki itu yang membersihkannya. Ah benar, dimana lelaki itu ? Ahjung tidak menemukannya sejak ia bangun. Lelaki itu pasti sudah pergi, tanpa meninggalkan apapun selain rasa sakit pada jiwa dan raganya.

“Ha, apa aku baru saja mengalami one night stand ?” Ahjung menertawakan dirinya sendiri.

Dering ponsel menyadarkan Ahjung, ia lantas menjawab panggilan itu. “Ya, Yungjin-ah ?”

“Ahjung, apa kau baik-baik saja ? Kau dimana ? Kenapa kau meninggalkanku semalam ?”

“Maaf, Yungjin-ah. Aku… semalam aku tiba-tiba sakit kepala. Lalu seseorang yang melihatku, memesankan aku taksi.” Ahjung terpaksa berbohong.

“Begitu…”

“Yungjin-ah, malam ini aku akan ke klab lagi. Aku akan menyelesaikan semuanya malam ini.”

“Tapi aku tidak bisa malam ini, aku harus menemani adikku ke rumah sakit.”

“Tidak apa-apa, kau pergi saja temani adikmu. Aku akan baik-baik saja.”

“Kau yakin ?”

“Ya, aku sangat yakin.”

“Baiklah kalau begitu. Istirahatkan tubuhmu ya, simpan energimu untuk nanti malam.” Ahjung mendengar Yungjin terkekeh disana.

Setelah percakapan singkat itu, Ahjung segera membersihkan dirinya. Menghilangkan segala beban pikirannya dengan berendam air hangat.

“Akan aku selesaikan semuanya. Aku sudah terlanjur hancur.” Lirih Ahjung.
Malam pun tiba. Ahjung kembali ke klab yang kemarin ia datangi. Kali ini ia lebih pede dengan gayanya. Ia memilih untuk menggerai rambut hitamnya, memoleskan lipstik merah tebal di bibir tipisnya, menggunakan mini dress ungu yang menampilkan bahu indahnya dan hanya menutupi sampai atas lututnya.

“Aku ingin wine.” Pesan Ahjung pada bartender. Setelah menerima pesanannya, Ahjung mencari Chanyeol dengan matanya. Menurut info yang ia dapatkan dari Yungjin, Chanyeol hampir setiap hari datang ke klab tersebut sejak dua bulan yang lalu. Jadi kemungkinan besar ia menemukan Chanyeol malam ini.

Sekitar sepuluh menit menunggu, Ahjung melihat lelaki itu. Chanyeol, masih dengan wanita yang sama, duduk berdekatan sambil bermesraan. Hari ini bahkan lebih parah, Chanyeol mencium wanita itu dengan panas. Rasa sesak memenuhi dada Ahjung. Ia lantas menghabiskan winenya dan segera berjalan menuju meja Chanyeol.

“Yeol-ah ! Ternyata kau disini ya ?!” Bentak Ahjung, ia terbakar emosi.

Chanyeol yang sedang asyik bercumbu dengan wanita itu lantas tersentak. Ia menatap Ahjung dengan terkejut. “Ahjung ?”

“Jangan berani menyebut namaku lagi, Park Chanyeol. Kau sudah tidak berhak.”

“Dengarkan Ahjung-ah, aku bisa jelaskan…”

“Jelaskan saja apa yang kurang dariku sampai kau bermain dengan jalang seperti dia, brengsek !”

Mata Chanyeol mengkilat marah. Ia bangkit dari duduknya dan mencengkram bahu Ahjung.

“Hey, lihat. Sekarang kau berani berbicara kasar, hah ? Dan… pakaianmu, kenapa tidak dari dulu kau seperti ini, sayang ?”

Ahjung menangkis tangan Chanyeol dari bahunya. Lalu menampar pria itu. “Jangan sentuh aku !!!”

Chanyeol mengusap pipinya yang panas karena tamparan Ahjung. Lalu dengan sengaja ia kembali menyengkram bahu Ahjung dan menggungcangnya. “Apa yang kurang darimu, hah ? Apa yang kurang ? Kau membosankan, Moon Ahjung ! Kau adalah gadis yang membosankan ! Kau selalu menghindar ketika aku ingin menyentuhmu !”

Hati Ahjung tertohok. Ucapan Chanyeol sungguh menyentak kesadarannya. Apa selama ini Chanyeol hanya memikirkan kepuasan nafsu dengannya ? Apa lelaki ini tidak pernah benar-benar mencintainya ? Ahjung ingin sekali menangis, tapi ia pertahankan harga dirinya. Ia menahan tangis kehancurannya.

“Aku salah menilaimu, Chanyeol ! Kau jahat ! Kau bajingan !” Ahjung memukul dada lelaki itu dengan membabi buta. Kemarahan mengusainya. Air mata yang ia tahan, terus mendorong untuk keluar.

“Aku membencimu, Park Chanyeol !!!” Teriak Ahjung. Membuat beberapa tamu klab menatap mereka penasaran.

Chanyeol hanya tertawa meremehkan, sampai pada akhirnya ia menahan lengan Ahjung dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ahjung. “Dengar, aku tidak pernah benar-benar mencintaimu. Dulu aku hanya penasaran padamu, hanya ingin bermain-main. Tapi aku sadar, aku hanya membuang waktu dengan wanita membosankan sepertimu.”

Bagai pukulan telak. Chanyeol berhasil menghancurkan Ahjung hingga berkeping-keping.

Usai pertengkaran hebat itu, Ahjung kembali ke kursi barnya. Ia ingin pulang. Tapi badannya terlalu lemah untuk berjalan lagi ke pintu keluar klab yang berada di lantai dasar.

“Aku ingin sebotol wine terbaik disini.” Lirih Ahjung.

“Baiklah…” ucap seorang bartender.
Setelah botol winenya datang, Ahjung segera meminum minuman itu sampai tandas dalam satu tegukan. Jejak kemerahan membasahi kerongkongan hingga dadanya. Perlahan Ahjung mulai hilang kesadaran.

“Begini lebih baik.” Ucap Ahjung pada dirinya sendiri.

“Astaga, ternyata kau bisa mabuk.” Ujar seseorang yang suaranya dekat dengan posisi Ahjung.

Ahjung mengangat kepalanya. Ia lantas melihat bayangan seorang lelaki yang duduk disampingnya. Wajah lelaki itu buram, bahkan masih tetap buram setelah Ahjung mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Ku pikir kau gadis polos.” Tambah lelaki itu.

Ahjung tertawa meremehkan. “Hahaha… apa semua lelaki menganggapku polos ? Aku… aku hanya tidak menunjukan sisi liarku pada mereka.”

Lelaki itu hanya tertawa.

“Lagipula, aku sudah tidak perlu bersikap seperti Ahjung yang dulu. Kekasihku berselingkuh dan… seorang asing memperkosaku kemarin malam. Itu semua karena Ahjung yang polos, Ahjung yang bodoh. Ahjung yang dulu.” Ceracau Ahjung, ada nada kesedihan di dalam suaranya. “Ah, kepalaku, kepalaku sakit sekali. Ini pasti karena aku kualat telah membohongi Yungjin kemarin.” Erang Ahjung sambil memegangi kepalanya.

“Yungjin… aku harus meneleponnya, dia mungkin bisa menjemputku ?” Ahjung mencari ponselnya dari dompetnya. Ia lantas mengetikan beberapa angka dengan mata yang disipitkan, namun seketika ia berhenti. “Ah, tidak tidak, Yungjin sedang menemani adiknya. Kalau begitu, baiklah… ku rasa aku bisa pulang sendiri.” Ahjung mendorong kursinya, namun begitu ia menjejakan kakinya di lantai, tubuhnya limbung.

“Kau sudah mabuk berat, bodoh.” Ujar lelaki itu, begitu ia telah menangkap tubuh limbung Ahjung.

-oOo-

“I didn’t know that I was starving ’til I tasted you

Don’t need no butterflies when you give me the whole damn zoo

By the way, by the way, you do things to my body

I didn’t know that I was starving ’til I tasted you”

“Kau berisik sekali. Hentikan nyanyianmu.”

“Yak ! Mengapa kau menggendongku, hah ? Kau membawaku kemana ?”

“Diamlah, sekarang kau aman. Apa kau tidak mengenali apartemenmu sendiri, Ahjung ?”

Ahjung terkekeh menanggapi ucapan lelaki yang baru saja menurunkannya. “Hey, kau mengenalku ?”

Lelaki itu hanya berdeham.

“Ah, panas sekali disini…” Ahjung berusaha menarik sleting gaunnya.

“Yak yak yak ! Apa yang kau lakukan, hah ?!”

“Melepas bajuku, apa lagi ?” Balas Ahjung cuek, lalu Ahjung mendengar laki-laki itu berdecak.

“Kau ternyata wanita yang gila.” Ujar lelaki itu yang hanya di balas dengan kekehan Ahjung.

“Ah, sleting sialan ! Kenapa menyulitkanku, eoh ?!” Omel Ahjung. “Yak ! Apa kau bisa membukakan sletingku ?”

“Buka saja sendiri. Aku akan pulang.”

“Jangan, ku mohon. Bantu aku dulu.” Rengek Ahjung. Pada lelaki tampan di depannya. “Hey, kurasa kau tidak asing. Apa aku mengenalmu ?”

Ahjung mendekati lelaki itu. Matanya yang masih belum bisa melihat dengan jelas menelisik wajah lelaki itu. Jari telunjuknya yang lentik menunjuk wajah tampannya.

“Uhuk ! Kemarilah biar aku bantu.” Ujar lelaki itu, bermaksud mengalihkan perhatian Ahjung.

Mata Ahjung segera berbinar, ia memunggungi lelaki itu dan mengangkat rambutnya, menampilkan leher putih jenjangnya. Lelaki itu lantas menurunkan sleting baju Ahjung, sambil berusaha setengah mati menahan keinginannya untuk melarikan bibirnya di leher indah itu.

“Sudah.”

“Terimakasih. Kau boleh pulang.” Ujar Ahjung ceria.

Lelaki itu hanya berdeham dan mengangguk.

“Tunggu, boleh aku tau namamu ?”

Ada jeda beberapa detik sebelum lelaki itu menjawab. “Sehun, aku Oh Sehun.”

“Se-hun ? Oh-Se-Hun ?” Eja Ahjung perlahan. Rasanya ia tidak asing dengan nama itu.

Sementara itu, Sehun dengan gelisah menunggu reaksi Ahjung. Ia sudah siap menerima pukulan atau makian dari Ahjung, tapi bukan dengan sengaja ia bertemu dengan Ahjung. Semua ini bagai sudah ada yang mengatur.

Sehun melihat Ahjung yang melangkah mendekatinya, wanita itu mengucek matanya sambil terus menatap wajahnya. Detik selanjutnya, wanita itu tersandung. Dengan sigap, Sehun menangkap tubuh Ahjung.

“Gwaenchanha ?” Tanya Sehun, sambil menatap Ahjung. Nafas keduanya memburu.

“Sehun ?”

“Kau ingat ?” Tanya Sehun, ragu.
Ahjung mengangguk lemah. Air matanya meleleh. Ia tersedu dalam pelukan Sehun.

“Maafkan aku…” lirih Sehun di telinga Ahjung. Membuat tangis Ahjung menderas.

“Kau brengsek ! Brengsek !” Maki Ahjung sambil memukuli punggung Sehun, karena tubuhnya yang masih berada dalam dekapan lelaki itu.

“Aku tahu. Maafkan aku.” Gumam Sehun sambil memeluk tubuh gadis itu lebih erat.

Lalu entah siapa yang memulai, keduanya telah saling berpagutan. Ahjung tidak sanggup melawan egonya sendiri. Ia mencium Sehun dengan agresif dan menuntut. Ia bahkan tidak membiarkan laki-laki itu melepas ciuman mereka. Ia ingin berkuasa. Keduanya bahkan tidak sadar bahwa mereka sudah berada di atas ranjang tanpa busana apapun di tubuh mereka.

“Nggghhh…. Sehun-ah…” desah Ahjung. Ia merasa dirinya begitu penuh dibawah sana.

“Ahjung-ah…”

Keduanya saling bergumul panas di atas ranjang Ahjung. Peluh membasahi mereka. Hujaman dalam terus diterima Ahjung, membuatnya dilanda kenikmatan yang dahsyat.

“Ahh… Sehun, disana… ahh…” desah Ahjung. Ia menggigit bibirnya sendiri saat Sehun memanjakan payudaranya dengan bibir tipisnya. Sesekali lelaki itu mengigit kecil disana, meninggalkan jejak kepemilikannya di sekitar dada Ahjung.

“Kau begitu cantik, Ahjung.”

“Sehun-ahh… hah.. hah…”

“Ya sayang ?”

“Aku hampir sampai… aaahhh…” Ahjung mendesah keras. Tubuhnya seketika melemas. Sementara disana Sehun masih menggiati aktivitasnya. Hingga pada akhirnya, ledakan hangat mengalir ke dalam tubuh Ahjung.

-oOo-

Sehun memperhatikan wajah Ahjung yang tertidur lelap. Jarinya bergerak ringan menyelusuri wajah cantik Ahjung dari keningnya, mata, hidung, pipi, dagu dan berakhir di bibir kemerahan itu. Bibir yang memerah dan sedikit lecet karena habis diciuminnya.

Matanya lantas menangkap jejak keunguan di leher Ahjung. Seketika rasa bersalah menggelayuti dada Sehun. Ia yakin bahwa dirinyalah penyebab terbesar dari kekacauan pada diri gadis ini.

“Mianhae, Ahjung-ah.” Lirih Sehun sambil membelai lembut surai hitam milik Ahjung. “Aku tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu. Tapi entah mengapa aku bersyukur.”

“Hiks hiks..” Ahjung tersedu dalam tidurnya. Matanya yang terpejam bergetar, tapi tidak terbuka. “Jahat, kau jahat Chanyeol-ah.”

Dahi Sehun berkerut dalam, ia berpikir tentang lelaki yang disebut Ahjung. Lelaki itu pasti kekasihnya yang ia tampar. Ya, sebelum menghampiri Ahjung, Sehun menyaksikan pertengakaran kedua orang it u. Tangan Sehun bergerak ke punggung Ahjung, lalu ia menepuk-nepuknya pelan, menenangkan nya yang kini semakin menenggelamkam wajahnya di dada Sehun.

Detik selanjutnya, Sehun bisa merasakan gerakan kelopak mata gadis itu. Tak lama, Ahjung mengangkat wajahnya menatap Sehun.

“Mimpi buruk, hm ?” Tanya Sehun.
Ahjung mengangguk.

“Mau berbagi denganku ?” Tanya Sehun lagi. Ia mengangkat kepala Ahjung dan meletakannya di lengan kokohnya.

“Hidupku jungkir balik, dan aku belum siap.”

Sehun tidak menjawab, ia menunggu Ahjung melanjutkan ceritanya.

“Aku payah dalam urusan cinta. Ketika pada akhirnya aku berpikir aku menemukan cinta yang sesungguhnya, dia malah berkhianat.”

“Mau mendengar pendapatku ?”

“Silakan.”

“Apapun yang kau hadapi saat ini, kau harus tetap menghadapinya karena hidup bagai,”

“Roda yang terus berputar.” Ucap keduanya bersamaan.

Ahjung tersenyum. Ia menatap jauh ke dalam mata Sehun. Dan Sehun sadar, dirinya terpesona kepada pemilik sepasang mata indah itu. Tanpa peringatan, Ahjung meneggelamkan wajahnya kembali ke dada Sehun.

“Ah, aku mengantuk.” Erang Ahjung, yang di sambut tepukan nyaman tangan Sehun di pundaknya.

“Tidurlah, Moon Ahjung.”

-oOo-

Ahjung terbangun dari tidur lelapnya. Ia menguap lebar sambil merentangkan tangannya, merenggangkan otot-ototnya yang tegang. Kemudian ia sadar, lagi-lagi ia terbangun sendiri. Ia tidak menemukan Sehun dimanapun. Ahjung hanya tertawa pelan, another one night stand has passed.

Sebut saja Ahjung sudah gila, karena hari ini ia tidak merasakan rasa sedih atau sakit apapun dalam dirinya. Ia telah merelakan segala yang terjadi di hidupnya.

Dengan ceria, Ahjung memakai kimononya, menata ranjangnya dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia berniat membuat sarapan untuknya sendiri sebelum berangkat kuliah. Ketika ia hendak melangkah keluar kamarnya, ia melihat foto yang terpajang di dinding kamarnya, fotonya dengan Chanyeol. Dengan malas ia melempar bingkai itu ke tempat sampah.

Siulan merdu terdengar dari arah dapurnya. Ahjung seketika waspada, bagaimana bila ada penjahat masuk ? Ia melangkahkan kakinya dengan pelan, lalu ia melihat sesosok pria tengah sibuk dengan alat masak di dapurnya.

“Siapa kau ?” Tanya Ahjung, pada lelaki berambut basah dengan hoodie hitam yang cukup ketat di tubuhnya.

“Ah, kau sudah bangun ?”

“Sehun ?” Tanya Ahjung saat ia mendapati bahwa ternyata lelaki itu adalah Sehun, yang memakai hoodie Ahjung.

“Kau lapar ?” Tanya Sehun sambil mengocok telur.

Ahjung mendekati Sehun. “Kenapa kau masih di rumahku ? Bukankah seharusnya kau pergi ?” Tanya Ahjung dengan nada sarkastis.

Sehun menyadari ada nada yang tidak menyenangkan di suara Ahjung. “Tidak, aku masih disini.”

“Ya, memang. Tapi untuk alasan apa ? Seharusnya kau pergi.”

“Apa kau mengusirku ?”

“Menurutmu ?

“Duduklah, kau pasti lapar.” Sehun membalikan tubuh Ahjung dan sedikit mendorongnya. Namun Ahjung segera menangkis tangan itu.

“Keluarlah, selagi aku masih bersikap baik.” Perintah Ahjung dengan nada yang dingin.

Sehun menatap tubuh Ahjung yang membelakanginya. Gadis itu tampak rapuh dan kecil. Entah mengapa ia tidak bisa mengabaikan gadis ini.

“Aku tidak mau.” Tegas Sehun. Membuat Ahjung berbalik dan menatapnya tak percaya.

“Dengar, aku sangat memohon padamu dengan hormat, Sehun-ssi. Aku tidak ingin melihatmu di rumahku sekarang juga.”

“Kenapa ? Apa karena kau marah padaku ? Kau bisa menghajarku kalau kau mau.” Cecar Sehun dengan nada penuh frustasi

“Ya ! Aku marah padamu. Apa kau tahu, seberapa sakitnya aku karena perbuatanmu malam itu, hah ?! Kau pergi begitu saja, aku… kau membuatku merasa seperti wanita murahan !”

Hati Sehun tertotohok. Ya, ia meninggalkan Ahjung malam itu, karena ia tidak siap untuk menghadapi wanita itu. Tapi ia kini menyesalinya, ia benar-benar menyesal telah memperlakukan Ahjung seperti itu.

“Maafkan aku.”

Ahjung tertawa meremehkan. “Minta maaf saja terus. Sudahlah, aku berbaik hati padamu dengan akan melupakan kejadian malam itu. Sekarang kau pulang.”

Bukannya bergerak, Sehun malah terpaku di tempatnya. Dalam hidupnya, ia tidak pernah merasa setidakberdaya ini. Ia… ia ingin tetap melihat Ahjung, yang sekarang sudah tidak sudi melihatnya.

“Apa kau membenciku ?” Tanya Sehun.

“Aku heran kau masih perlu bertanya.”

“Sekalipun, setelah malam yang kita lalui bersama, kau tidak menikmatinya sama sekali ?”

Wajah Ahjung seketika terasa panas. Susah payah ia menahan ekspresi wajahnya supaya tidak berubah. Ia seketika teringat malam-malam itu. Di satu sisi ia masih membencinya, disisi lain ia tidak berbohong bahwa ia juga menikmatinya.

“Ya, sama sekali tidak.”

“Tapi aku iya. Aku sangat menikmati malam itu. Aku menyukainya. Kau… wanita pertamaku.”

Ahjung menatap Sehun tak percaya. Lalu ia mengerjapkan matanya, mengembalikan ekspresi semulanya yang datar.

“Apa peduliku ?” Tanya Ahjung cuek. “Pergilah, ini terakhir kali aku memintamu. Aku membuang waktuku denganmu, seharusnya aku sudah bersiap pergi ke kampus.” Kata Ahjung cuek. Gadis itu berjalan melewati Sehun untuk memgambil segelas air.

Sedetik kemudian, Ahjung tersedak. Ia terkejut saat Sehun memeluk bahunya dari belakang. Begitu erat dan hangat.

“Apa jadinya bila aku ternyata mencintaimu ?”

“Ha ?”

“Bisakah kita memulainya dari awal ? Aku ingin mengenalmu. Aku tidak bermaksud untuk menebus kesalahanku atau apapun itu, aku hanya ingin mengenalmu karena aku merasa nyaman.”

“Kau gila !” Ledek Ahjung. Berusaha melepaskan diri dari pelukan Sehun.

“Kumohon, izinkan aku.”

“Tidak. Hubungan kita telah berakhir setelah kita turun dari ranjang. Kau mengerti ? Bahkan itu tidak bisa di sebut hubungan !”

“Kalau begitu, ayo kita jalin hubungan itu !”

Ahjung menginjak kaki Sehun. Hingga lelaki itu melepaskan pelukannya. Ia lantas menatap mata Sehun. “Sayangnya, aku sudah tidak percaya lagi pada cinta sejak malam itu.”

-end-

Note : gimana ? Semoga berkesan ya ^^ by the way ini ff nc pertama aku. Jadi aku butuh kritik dan saran kalian, kalo kritik di sertai alasan ya ^o^. Rasanya deg-degan bikin cerita kaya gini, tapi kalo suka baca ya tanggung resiko jadi punya dorongan buat bikin juga. Iya kan ? Hahahahahaha xD

53 thoughts on “Not Such A One Night Stand

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s