“Trouble Maker, Kim Taehyung”


image

“Trouble Maker, Kim Taehyung”

Author: Mincha

Cast: BTS V, Noona, Jimmin, Jungkook, etc

Length: Oneshoot

Genre: Romance

Rate: M, NC

Aku sibuk membantu Taehyung merapikan pakaiannya lagi sebelum pemotretan di mulai, semua orang tampak sibuk dengan tanggung jawabnya masing-masing sehingga aku harus turun tangan untuk membantu di sini. Jika orang berfikir menjadi seorang menejer artis adalah sebuah pekerjaan yang mudah, mereka salah besar. Menjadi seorang menejer idol memiliki tanggung jawab yang besar dan memerlukan tenaga yang luar biasa dahsyat. Kau harus bangun lebih pagi, menyiapkan segala hal dan memastikan idol menjalankan skedul tepat waktu dan terkadang merangkap menjadi stylist dan asisten kemudian tidur lebih akhir untuk memastikan skedul esok harinya.

Satu-satunya hal yang membuatku tetap bertahan dengan pekerjaan ini adalah Taehyung, aku pernah menjadi staff tetap namun kemudian di pindahkan pada posisi ini. Iya… aku adalah kekasihnya yang sukses membuat semua readers mincha baper di fanfiction “You better Kiss me Noona”. Satu-satunya cara untuk tetap bisa bersama dengannya tanpa di curigai siapapun adalah dengan menjadi menejernya.

“Tae. Berhenti menatapku seperti itu, seseorang bisa curiga”

Iya… ia terus memandangku dengan dua mata indah itu. Aku tidak tahu apa yang kini tengah berputar di otaknya tapi yang jelas mata itu membuatku sedikit bergidik, pasalnya kami tengah di studio pemotretan dengan puluhan kamera yang menyala, bisa kacau jika ada salah satu kamera saja yang menangkap aksinya.

Dengan sangat pelan ia beralih menatap cermin di hadapannya yang berada tepat di belakang punggungku.

“Sayang sekali, berdiri sedekat ini tapi tidak bisa menyentuhmu”

Meskipun ia menatap dirinya sendiri di cermin saat bicara, aku bisa merasakan ribuan sengatan listrik tiba-tiba menjalar di tubuhku saat mendengarkan kalimatnya. Anak ini, bisakah sehari saja tidak membuatku panas dingin?

“Modelnya sudah datang”

Seorang staff berteriak dan member BTS bersiap menuju sudut ruangan yang menjadi lokasi pemotretan. Awalnya aku tidak terlalu paham tema apa yang tengah di usung dalam pemotretan ini, semua member BTS mengenakan pakaian tidur berupa piyama satin dengan warna yang berbeda-beda oleh setiap membernya. Aku fikir ini sama dengan konsep comeback mereka, namun ternyata di luar dugaan, di sana ada seorang model wanita mengenakan lingery yang sangat seksi. Dia adalah model Jepang yang sangat terkenal, yah… pemotretan ini dilaksanakan di salah satu studio di Jepang sebagai salah satu rangkaian persiapan comeback mereka di Jepang dan hari ini ada pemotretan dengan salah satu majalah terkenal di Jepang.

Aku bisa melihat Jimin dan Jungkook berusaha terlihat baik-baik saja saat perempuan itu duduk di antara keduanya. Yang benar saja, ia memang mengenakan bra di dalam piyama tipis itu, tapi hanya menutupi sebagian payudaranya saja. Aku tak percaya Bang PDnim mau menerima tawaran ini, tak bisa kubayangkan amukkan para Army jika melihat hasil dari foto ini nantinnya. Perempuan itu sebaya denganku namun ia bersikeras memanggil semua member BTS oppa dengan alasan agar kemistri mereka lebih terbangun, aku benar-benar merasa mual saat mendengarkan alasan itu.

Aku tidak tahu apakah ini hanya aku saja tapi rasanya perempuan itu sedikit nakal, ia dengan sengaja menempelkan tubuhnya pada siapapun member BTS yang berdiri di dekatnya.

“Noona…”

Jimin bergegas menghampiriku, menyerahkan ponselnya padaku.

“Noona… bisakah kau fotokan aku?”

Saat ini Namjoon, Taehyung dan Jungkook yang mendapat giliran berfoto sehingga member lain diberi waktu untuk beristirahat. Aku meraih ponsel Jimin dan mengikutinya pada bagian ruangan yang lebih sepi, memintaku memotokan dirinya. Jimin sangat menyayangi fansnya dan selalu memberi kabar lewat fancafe atau sekedar mengupload foto.

“Noona… apa PDnim serius dengan konsep ini?”

Jimin bicara selagi kami duduk di sofa di dalam ruang ganti bersama Jin yang tengah asik dengan ponselnya.

“Aku tidak membaca detail konsepnya pagi ini, memangnya kenapa?”

“Menurutku wajar saja jika ada model perempuan, hanya saja tidakkah sedikit berlebihan jika kami harus berbaring di kasur yang sama dengan wanita itu? Kami tidak mengenalnya dan pastinya Jungkook akan sangat canggung”

“Ne? aku tidak tahu jika ada hal seperti itu”

“Hal seperti apa?”

Suara berat Taehyung menghentikan pembicaraan kami dan ia memaksa Jimin bergeser sehingga ia duduk di sebelahku.

“Jangan duduk terlalu dekat”

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku dengan sikap posesifnya yang masih sering kambuh bahkan dengan membernya sendiri. Ia duduk di sebelahku menggeser Jimin menjauh membuat mochi imut itu menggerutu. Taehyung tersenyum lebar padaku dan aku di sini berusaha bersikap sebiasa yang aku mampu meskipun pipiku merona cerah.

Aku tidak bisa melanjutkan pembicaraanku karena mereka kembali di panggil untuk sesi pemotretan berikutnya.

Aku bersumpah aku ingin sekali mencakar wajah perempuan itu. Kali ini adalah giliran ia bersama Taehyung. Mereka di minta berbaring di ranjang itu, dari informasi yang aku dapat mereka hanya diminta berbaring berhadap-hadapan tidak ada perintah untuk menyentuh, tapi kenapa posisi mereka sangat dekat? Perempuan itu menyentuh wajah Taehyung dan amarahku naik ke ubun-ubun, aku mencoba untuk tenang karena aku percaya Taehyung akan sangat professional dengan pekerjaannya namun di sini hal itu tidak mudah. Yang membuat aku semakin kesal, ia bahkan tidak keberatan saat perempuan itu bersandar di bahunya.

Fuck! Aku tidak bisa menyaksikan adegan ini lebih lama lagi, bisa-bisa aku mengamuk.

Aku mencoba meredam amarahku dan bergegas menuju ruang ganti yang sepi. Tidak ada siapapun di sini, semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan keras, masih terlalu kesal. Aku ingin memarahi perempuan itu dengan segala sisi egoisku namun akal sehat dan logika terus berusaha menyadarkanku bahwa semua ini hanya rekayasa dan akan berakhir saat pemotretan selesai.

Pintu ruangan ganti terbuka dan aku menemukan Taehyung di sana dengan wajah sumringahnya. Apa dia sesenang itu? dahiku berkerut memilih untuk mengabaikannya dan berniat untuk keluar namun ia menahan salah satu tanganku.

“Mau kemana?”

“Lepaskan aku Tae, seseorang bisa datang dan melihat kita”

Tepat saat kalimatku berakhir, suara langkah kaki beberapa orang terdengar mendekat dan aku yakin itu adalah menejer oppa, menejer yang paling mencurigai hubungan aku dan Taehyung. Aku berniat melepaskan genggaman Taehyung di pergelanganku tapi yang ada ia menarikku pada salah satu bilik kecil ruang ganti.

“YA!”

Aku hampir saja berteriak saat ia mengunci pintu dan suara menejer oppa semakin keras. Aku pastikan ia ada di ruangan ini bersama Jin oppa. Terdengar jelas mereka ada tepat di depan pintu tempat aku dan Taehyung bersembunyi. Fuck! Aku bahkan tidak tahu kenapa aku harus bersembunyi. Ruangan ini sangat kecil, tidak sampai satu meter kali satu meter, hanya sebesar kamar toilet. Bibirku tertutup rapat menahan suara yang bisa keluar, mataku menatap tajam Taehyung yang berdiri di hadapanku dalam jarak yang sangat dekat. Ia tersenyum simpul kemudian menarik salah satu telunjuknya ke depan bibirku mengisyaratkan agar aku tetap diam.

Aku mengalihkan pandanganku dari Taehyung yang terus mengintimidasiku dengan dua mata itu, bukankah seharusnya aku yang marah?  Aku memilih untuk mengalihkan pandanganku pada dinding di sisiku yang berisi tulisan berbahasa Jepang yang tidak aku pahami masih berfikir apa yang aku lakukan di sini.

Jemarinya mengangkat wajahku memaksaku untuk melihatnya. Ia menggigit bibirnya dan menatap bibirku dengan lapar, aku menggeleng-gelengkan kepalaku, yang benar saja, ini bukan saat yang tepat. Aku mendorong tubuhnya sedikit menjauh, tapi ruangan sempit ini tidak membantu sama sekali dan dengan mudah ia mencapai bibirku. Aku meremas bahunya kuat mengisyaratkan ia untuk berhenti namun yang ada ia malah menarik tubuhku padanya menciumku lebih dalam.

Bibirnya meruntuhkan akal sehat yang bersusah payah aku pertahankan sejak tadi. Siapa yang bisa tahan dengan seorang Kim Taehyung?

Lidahnya menjilat tiap sisi bibirku memastikan ia tidak melewatkan satu incipun. Dan secara tiba-tiba ia menggigit bibir bawahku, aku bersumpah aku hampir saja menjerit jika ia tidak menaham mulutnya tetap di sana membungkamku. Aku melotot padanya menandakan aku marah dan sepertinya ia menyadari hal itu karena sekarang ia membuka matanya. Shit! Ia bahkan tersenyum di dalam ciuman panasnya denganku. Aku berteriak keras di dalam otakku mencaci maki dia sementara ia di sana mengejekku dengan ciummannya yang semakin dalam, membuatku tidak berdaya. Seperti sebuah telepati yang terjalin antara aku dan dia. Aku terus meminta ia berhenti namun ia semakin tenggelam pada apa yang ia lakukan.

Aku kalah telak dan sekarang menikmati ciuman panas kami. Aku hanya perlu memastikan tidak mengeluarkan suara apapun. Kami cukup beruntung saat itu Jungkook tidak bangun dan tidak ada yang mengetahui apa yang kami lakukan, tapi di sini sangat ramai. Orang keluar masuk ruang ganti dengan mudahnya, cara terbaik adalah tetap diam tidak mengeluarkan suara apapun sampai ruangan diluar pintu kecil ini kosong.

Semua kekacauan semakin parah saat tangannya mulai nakal meraba pahaku yang tak tertutup dress di atas lutut yang aku pakai. Tangan itu terus naik ke atas dan aku terus berusahan menyingkirkannya dari tubuhku. Yang benar saja, di tempat seperti ini?

“Hmmm…”

Suaraku redam di dalam mulut Taehyung saat jemarinya berhasil masuk ke dalam pantyku.

“Hyung… apa kau mendengar seseorang?”

Suara Jin oppa benar-benar membuatku takut, bisa dipastikan ia masih di sana bersama menejer oppa.

“Tidak. Bukankah hanya ada kau dan aku di sini?”

Aku sedikit bernafas lega mendengarkan hal itu namun fokusku kembali pada jemari Taehyung yang kini sedang berada di dalam pantyku, mulai bergerak agresif membuat kedua kakiku tidak bisa diam. Jemarinya menggesek naik dan turun pada vaginaku dan tanganku meremas kuat bahunya tidak sanggup menahan kenikmatan dari sentuhannya.

Seharusnya sekarang aku bertindak tegas karena hal seperti ini akan menyebabkan kekacauan besar jika ada yang mengetahuinya, seharusnya aku menghentikannya, seharusnya aku yang berkuasa, bukankah aku lebih tua? Tapi kenapa? Kenapa aku malah berdiri di sini, menikmati apa yang ia lakukan padaku. Aku pasti sudah gila, merasa sangat tidak waras.

Aku menggigit bibirnya keras saat jari tengahnya mengoyang isi rahimku, fuck! Aku siap berteriak jika saja mulut itu tidak menahanku. Suara eranganku tertahankan dengan baik meskipun sesekali terdengar pelan. Aku hanya bisa berharap tidak ada kamera cctv yang mengawasi kami atau seseorang diluar sana mengetahui apa yang aku dan Taehyung lakukan.

Jemarinya bergerak dengan lihai keluar dan masuk, kakiku gemetar saat ia menambahkan satu jari lagi, bergerak cepat dan aku meluncur menaiki arash. Anak ini, ia lebih mengerikan dari demon dan setan manapun, dengan mudahnya meruntuhkan semua sisi keras dan tegas dalam diriku. Dimana ia menuntuk ilmu semacam ini? kenapa aku selalu dibuat tidak berdaya seperti ini?

Aku terengah-engah berusaha menutup mulutku saat ia melepaskan ciumannya dariku, suara nafasku yang keras bisa menjadi petaka jika Jin oppa mendengarkannya. Ia masih berdiri di hadapanku dengan bibirnya yang merah pekat. Matanya menatapku dalam saat ia menjilat jemarinya tadi kemudian mengedipkan salah satu matanya padaku. Apa aku boleh berteleportasi saja sekarang?

*****

“Biar aku saja yang pergi ke venue”

Aku bicara pada menejer oppa dalam rapat intern singkat kami. Semua orang masih sibuk di studio pemotretan yang akan siap dalam satu atau dua jam ke depan, namun ada pekerjaan lain yang harus di lakukan. Seseorang harus ke venue fansign untuk memastikan semuanya sudah clear dan aku memilih menawarkan diriku untuk pekerjaan itu. Aku tidak sanggup lama-lama di sini, menyaksikan model seksi itu berdekatan dengan kekasihku, belum lagi Taehyung yang tidak bisa menahan tangan nakalnya dariku.

Aku mengecek beberapa hal yang di rasa perlu serta memastikan semuanya akan berjalan lancar besok hari. Beberapa orang melaporkan kesalah-kesalahan minor namun aku rasa hal itu bisa di atasi besok jadi bisa dipastikan tidak ada masalah.

“Oppa…. Semuanya sudah siap”

Aku bicara padanya lewat ponselku, masih di venue.

“Baiklah, kau sudah bisa istirahat.  Pastikan besok siang tidak ada yang terlambat”

“Ne…”

Akhirnya aku memiliki waktu untuk diriku sendiri.

Aku berpamitan pada staff venue berjalan pelan keluar dari venue merasakan dinginnya udara sore yang baru saja selesai di guyur hujan. Semoga besok cuaca cerah, kasihan para fans jika mereka kehujanan.

Seseorang berdiri di dekat pintu venue sibuk memainkan kakinya sendiri. kepalanya tertutup kupluk jaketnya dan wajahnya terlindungi oleh masker. Matanya membentuk garis lurus saat ia menemukanku, aku bahkan bisa membayangkan ekspresinya saat ini meskipun aku hanya bisa melihat dua matanya. Aku tidak berniat membalas senyuman itu, berpura-pura tidak tahu meskipun sebenarnya aku paham benar. Aku berpaling dan berjalan menjauh, tidak tertarik menghampirinya sama sekali.

“Noona…kau tidak melihatku?”

Ia menghalangi langkahku, memaksaku menatap matanya.

“Aku sudah melihatmu”

Kemudian aku melewatinya dan berlalu.

“Ada apa denganmu?”

Dia masih bertanya? Yang benar saja, seharian ia bersama model seksi ber-hampir-bikini itu, mengurungku di ruang ganti kemudian melakukan hal gila dan dia masih bertanya.

“Aku ingin sendiri”

Aku melangkah menjauh meskipun aku tahu ia terus mengikutiku. Terserah saja, yang jelas hari ini aku ingin sendiri menikmati waktuku di Jepang.

Aku duduk di salah satu bangku taman, di bawah sebuah pohon yang sangat rindang, menghadap pada keramaian kota yang tak pernah berhenti ini. Taehyung berdiri di hadapanku menatapku dengan ekpresinya yang tak kupahami, aku benar-benar sedang malas untuk bicara jadi aku mengalihkan pandanganku darinya. Ia grasak grusuk melepaskan jaketnya dan memakai topi yang sedari tadi hanya ia pegang. Kemudian aku merasakan kehangatan di tubuhku saat ia memasangkan jaketnya padaku kemudian duduk di sisi terujung bangku taman. Kami seperti dua orang yang tidak saling mengenal, duduk di sini bersama pada masing-masing ujung kursi.

Ia tidak berhenti menatapku meskipun aku mengabaikannya 100%, sesekali ia mengikuti arah padanganku penasaran dengan apa yang sedang aku lihat, kemudian kembali menatapku saat menemukan aku hanya menatap kosong pada hal tak tentu. Aku tak percaya ia bisa duduk tenang di sana tidak melakukan apapun dan hanya menatapku, dia seorang Kim Taehyung yang bahkan tidak bisa diam semenit saja namun betah berlama-lama dalam keadaan dingin dan hanya fokus padaku yang tidak meresponnya sedikitpun, ia bahkan tidak menyentuh ponselnya yang terus berdering.

Aku menghembuskan nafasku kasar dan berdiri, melepaskan jaketnya yang ditubuhku kemudian menyerahkannya lagi padanya.

“Pakailah, kau kedinginan. Kau bisa sakit”

“Tapi kau juga kedinginan”

“V, aku menejermu”

Dan saat itu dahinya berkerut, ia menurunkan masker yang menutup mulut dan hidung mancungnya menatapku dengan ekspresi dingin.

“V?”

Kemudian tersenyum sinis.

“Jadi sekarang aku sedang bicara dengan menejerku?”

Aku mengangguk dan ia tak bisa menyembunyikan amarah dari wajahnya. Ia mengacak saku celananya kemudian mengeluarkan dua helai kertas.

“Tolong berikan ini pada kekasihku dan katakan padanya aku akan menunggu di depan gedung
jam 7”

Ia menarik salah satu tanganku dan menyerahkan satu kertas tiket kemudian berlalu. Aku mengamati kertas kecil itu dan hampir menangis saat mengetahui jika itu adalah tiket konser dari pianist kesukaanku, Yiruma. Aku marah padanya tapi juga tidak tega memperlakukannya seperti ini, jika aku tidak tegas maka ia akan terus bersikap semaunya. Aku tidak mau orang-orang mengetahui hubungan kami, aku tidak mau merusak karirnya.

*******

Aku berdiri menatap poster besar Yiruma yang terpajang di pintu ruangan konser, masih berfikir apakah ini keputusan yang benar. Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatuku, masih berfikir sangat keras saat seseorang menggenggam lembut jemariku, meraih tiket konserku dan menyerahkan pada petugas tiket. Ia menarikku memasuki ruangan konser yang sudah penuh oleh penonton karena konser baru saja di mulai. Kami menjadi sangat kaku saat duduk berdampingan di deretan kursi penonton, seperti sebuah kencan buta dengan orang yang tidak kau kenal, mungkin perasaan bersalah atau entahlah namanya. Lampu yang redup menjadi cahaya yang menerangi wajahnya saat ia melepaskan masker dan kacamatanya, tidak akan ada yang mengetahui kami di sini karena semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, selain itu ini adalah bangku yang paling belakang. Taehyung selalu memilih bangku paling belakang untuk mewaspadai jika saja ada yang mengenalnya.

Aku tidak bicara apapun, fokus pada pertunjukan konser di depanku sesekali tersenyum menikmati alunan suara piano yang indah. Meskipun demikian aku bisa menyadari Taehyung yang lebih banyak menatapaku dari pada pemain piano di atas panggung itu. Tangannya menggenggam tanganku yang tergeletak di atas pahaku, memainkan jemariku di sana. Ia benar-benar mengacaukan fokusku meskipun hanya dengan tindakan kecil ini dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menatap wajah tampannya. Ia tersenyum sumringah dan mendekatkan wajahnya padaku menciumku secara mendadak, dahiku berkerut mencerna apa yang terjadi namun tubuhku mengikuti irama desapan bibirnya di bibirku.

Aku mendorong tubuhnya menjauh sehingga tautan bibirnya dengan bibirku terlepas, ia menatapku bingung dan aku benar-benar sudah tidak bisa menahan semua amarahku. Aku berdiri dari kursiku dan bergegas keluar, akan sangat lucu jika seseorang mendengarkan pertengkaran kami.

“Noona…”

Ia menarik salah satu tanganku saat aku berhasil keluar dari gedung konser.

“Ada apa denganmu?”

“Seharusnya aku tidur saja di hotel”

Aku bergumam kecil namun begitu yakin dia mendengarkanku.

“Kau tidak suka pergi denganku?”

“Tae! Kita sedang dalam perjalanan kerja, tidak bisakah kau bersikap professional?”

Dahinya berkerut dan ia melepaskan genggagamannya di tanganku.

“Tapi sekarang bukan jam kerja”

“Apa kau tidak ingat apa yang kau lakukan padaku tadi?”

Ia menggigit bibirnya dan terdiam.

“Bagaimana jika seseorang mengetahuinya?”

“Tidak ada yang tahu”

Aku mengacak rambutku, frustasi dengan tingkahnya yang selalu seperti ini.

“Ini bukan yang pertama kalinya kau seperti itu. Apa aku harus menyebutkannya satu persatu? Kita beruntung tidak ketahuan tapi jika kau terus seperti itu, bisa saja keadaan akan menjadi kacau. Aku lelah setiap hari diintimidasi oleh menejer oppa yang selalu mencurigaiku, bagaimana jika dia tahu? Bukan hanya kau, tapi aku juga bisa kehilangan pekerjaanku”

Ya… aku tertekan dengan ketakutan jika saja ada yang mengetahui hubunganku dan Taehyung selain membernya.

“Bukankah kita sudah membuat kesepakatan untuk hanya berkencan di dorm dan apartemenku? Tapi kenapa kau selalu membuatku was-was dengan sikapmu? Kau membuatku merasa tidak aman”

Matanya membesar dan aku yakin kalimatku cukup menyakitinya. Biasanya ia akan marah besar dan mengatakan semua yang terlintas di otaknya padaku dan sekarang aku sudah siap mendengarkan semua celoteh itu, tapi ia hanya diam kemudian menarik nafas dalam dan menghembuskannya berat.

“Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu. Kau bahkan lebih sibuk setelah menjadi menejer kami, kita menjadi sangat jarang untuk memiliki waktu berdua saja. Kita memang bertemu setiap hari, tapi rasanya sangat asing saat aku tidak bisa memperlakukanmu seperti yang seharusnya aku sebagai kekasihmu. Aku hanya ingin memastikan kau masih kekasihku, aku tidak mau hubungan kita menjadi hambar justru saat kita lebih banyak bertemu. Aku bahkan tidak bisa memelukmu lagi setiap akhir pekan…”

Please… jangan menangis.

“Dan Hari ini, aku tahu kau tidak menyukai model itu jadi aku melakukannya. Aku hanya ingin kau paham bahwa aku lebih memilihmu dari pada dia meskipun ia terus menggodaku. Dan… aku tidak mengerti kenapa kau lebih suka mengobrol dengan member lain ketimbang aku, mengobrol saja tidak akan membuat kita ketahuan. Kau berbicara dengan Jimin, memperhatikannya dengan sangat baik, mengikuti apapun maunya. Aku tahu kau mencoba untuk jadi professional, tapi di saat yang sama kau seolah mengabaikanku. Aku terus memandangmu, mengajakmu berbicara dan mengobrol tapi kau selalu berusaha untuk menghindar. Aku hanya bingung, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, tapi sepertinya caraku salah”

Aku menarik nafas dalam mencoba menenangkan diriku,

“Aku ingin kembali ke hotel”

*****

Aku duduk bersandar pada ranjang hotel yang aku tempati. Karena aku satu-satunya menejer perempuan, aku mendapatkan kamar sendiri meskipun ukurannya tidak besar.

Apa aku keterlaluan?

Itulah yang terus berputa di otakku, aku hanya ingin memberi Taehyung sebuah pelajaran, aku ingin bersikap tegas padanya tapi kenapa rasa aku justru menyakitinya?

Aku menggigit ujung-ujung jariku sendiri merasa sedih dengan kalimatnya saat di venue tadi. Ia benar, meskipun aku sudah menjadi menejernya, kami tidak bisa leluasa berkomunikasi satu dengan lainnya seperti biasanya. Aku selalu merasa tak aman jika saja ada yang mencurigai kami, itu saja. Lagi pula Taehyung sangat sering lupa diri, ia bahkan mengecup bibirku di depan gedung Bighit saat aku akan pulang, aku benar-benar beruntung saat itu sudah tengah malam dan tidak ada yang melihat kami. Jika ia terus bersikap ceroboh seperti ini, aku khawatir dengan hubungan kami yang bisa saja terbongkar dan harus berakhir tragis. Aku belum siap dengan segala kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi jika. Aku belum siap kehilangannya dan ketakutanku berefek pada sikapku padanya.

Apa sebaiknya aku minta maaf?

Oke, mungkin aku bisa melakukan sesuatu, aku tidak mungkin membiarkan semuanya begitu saja. Akan ada masalah baru yang bisa muncul.

Aku bangun dari posisiku dan bergegas menuju kamar Taehyung, Jimin dan Jungkook yang berjarak beberapa pintu dari kamarku.

Aku mengetuk pelan pintu kamar itu dan seketika Jungkook membukakan pintu untukku.

“Noona…”

Ia tersenyum dengan gigi kelincinya dan membiarkan aku masuk, sementara Jimin tengah sibuk melakukan push up di salah satu karpet.

“Di mana Taehyung?”

“Dia di kamar mandi sejak tadi dan masih belum keluar, ini sudah hampir dua jam”

Jimin bangun dari posisi push upnya dan berbaring di ranjangnya kelelahan. Aku berjalan menuju pintu kamar mandi mendekatkan kupingku pada pintu berharap bisa mendengarkan sesuatu, tapi nihil. Aku mengetuk pintu dengan pelan berharap ia bisa mendengarkanku.

“Tae… ini aku. Kau baik-baik saja? Jimin bilang kau sudah di sana selama dua jam”

Hening.

Aku mulai panik dan kembali mengetuk pintunya sementara Jimin dan Jungkook terdengar asik dengan obrolan mereka. Posisi pintu kamar mandi berada di lorong yang menyamping di sisi dekat pintu kamar hotel jadi mereka tidak bisa melihatku di sini dan aku tidak tahu apa yang mereka kerjakan di sana.

“Tae…”

Suaraku pelan dan aku mulai khawatir.

“Apa kau datang sebagai menejerku atau kekasihku?”

“Tae… kita perlu bicara”

Tapi ia tidak membalas jawabanku, mungkin aku memilih jawaban yang kurang tepat. Ia diam cukup lama dan aku mulai resah dengan diriku sendiri. mungkin ia sedang tidak ingin menemuiku. Aku berbalik siap meninggalkan pintu kamar mandi saat aku mendengarkan suara kenop pintu yang di buka. Aku menemukan Taehyung di sana berdiri dengan rambut basahnya dan hanya memakai handung yang menutupi bagian penting saja. Ia keluar beberapa langkah melewatiku, menjulurkan kepalanya mengecek apa yang tengah Jimin dan Jungkook lakukan, karena penasaran aku mengikutinya, menemukan dua lelaki itu tengah asik bermanin video game pada TV besar hotel. Aku masih sibuk memandang mereka saat Taehyung menarik tanganku membawaku ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.

Setidaknya ruangan ini kedap suara sehingga bisa dipastikan mereka tidak akan mendengarkan pembicaraan kami.

Aku bersandar pada salah satu dinding kamar mandi yang cukup luas, lampunya redup namun aku masih bisa menatap wajah Taehyung dengan jelas. Rambutnya masih basah, tangannya melipat di dada dan ia menatapku serius. Aku tak berani mengangkat wajahku menunduk merasa bersalah.

“Mianhae… aku terlalu kasar”

Aku tidak mendengarkan jawaban apapun hanya merasakan pergerakannya dan kini ia berada tepat di depanku. Aku merasakan ia mengangkat wajahku, menyampirkan rambut yang menutupi wajahku pada telingaku sehingga ia bisa melihatku seutuhnya.

“Aku hanya takut terjadi sesuatu yang buruk. Aku belum siap kehilanganmu”

Suaraku pelan dan aku siap menangis, berusaha keras menahannya untuk diriku sendiri.

“Tapi sepertinya aku sedikit keterlaluan padamu. Aku hanya ingin sedikit lebih tegas, tapi aku juga tidak menyadari kesalahanku aku selalu mengabaikanmu di depa-“

“Ssssttttt…”

Ia menempelkan jari telunjuknya di depan bibirku memaksaku berhenti untuk mengatakan semua kalimat yang sudah aku rangkai di otakku.

“Itu sedikit keterlaluan, tapi aku tahu tindakanmu juga benar. Setidaknya jangan abaikan aku saat aku bicara padamu atau hanya mengobrol singkat. Hal seperti itu tidak akan menarik perhatian siapapun, aku berjanji akan lebih berhati-hati lagi”

Dan ia tersenyum dengan manis seperti biasanya. Satu hal yang sangat aku sukai dari Taehyung adalah ia bisa begitu mudah memaafkan suatu kesalahan dan berfikir setiap orang berhak mendapatkan maaf, kelembutan hatinya selalu sukses membuat aku terpesona.

“Bisakah kau atur skedulku agar aku memiliki setidaknya satu malam saja setiap minggunya untukku sendiri agar aku memiliki waktu dengan kekasihku”

Aku memegang daguku seolah berfikir sangat keras.

“Itu sedikit mustahil, tapi aku akan berusaha keras. Meskipun hanya saat larut, tapi hitungannya tetap satu malam bukan?”

Dan kami terkekeh pelan sebelum akhirnya terjebak dalam pemikiran masing-masing.

“Tak terasa sudah hampir dua tahun kita bersama”

“Ini bukan waktu yang singkat dan proses yang mudah, kita sudah melewati banyak sekali hal”

Ia menyentuh kedua pipiku dengan dua telapak tangannya yang dingin.

“Bae… apa kau bisa membantuku sekali lagi?”

Dahiku berkerut menandakan aku tidak mengerti apa maksudnya yang mengalihkan pembicaraan kami ke sesuatu yang berbeda.

“Aku sudah menghabiskan waktu lama di sini dan aku tidak berhasil menjinakkan adikku”

Ia menarik salah satu tanganku membawanya menuju bagian tubuhnya yang masih tertutup handuk.

Fuck! Ia sangat keras.

Pipiku memanas memahami apa yang ia maksudkan, mungkin aku bisa melakukan sesuatu. Tanganku mulai bergerak dan aku bisa merasakan nafasnya yang mulai tidak teratur. Suaranya redam saat aku memijiat pelan di sana masih pada handuknya. Ia melepaskan genggamannya di tanganku membiarkan aku bekerja sendiri kemudian mempermudah aksesku dengan membiarkan handuknya terjatuh ke lantai.

Bisa kau bayangkan, sekarang aku di sini, hanya bersama Kim Taehyung dan ia tidak mengenakan apapun.

Mataku menatap mata indahnya lekat selagi tanganku bekerja dengan baik pada miliknya, mengurut dari atas ke bawah dan sebaliknya, sesekali aku menyentuh ujungnya dan saat itu ia akan mendesis pelan. Jika aku hanya mengandalkan tanganku, ini akan sangat lama dan kau tahu di luar ada Jimin dan Jungkook yang mungkin curiga dengan apa yang terjadi di sini. Aku melepaskan tanganku saat precum menyentuh jemariku, dahinya berkerut saat ia benar-benar menikmati serviceku dan aku tiba-tiba berhenti.

Aku tersenyum nakal padanya sebelum berlutut di hadapannya, aku tak percaya pipinya memerah, is he blushing? Oh Gosh… how cute and sexy.

“Ssshh….”

Ia mendesis hebat saat ujung lidahku menyentuh ujung miliknya, aku mengulum pelan benda besar dan keras itu, blow job pertamaku tidak akan mudah, aku perlu memastikan aku tidak tercekik karena jujur saja dia sangat besar. Aku menelan secara perlahan dan sangat sulit untuk tidak tercekik saat ia menusuk ujung kerongkonganku. Aku bergerak pelan menghisap dan melepaskan, naik dan turun.

“Hah… Fuck!!!”

Ia meremas rambutku pelan saat lidahku membantu pergerakan mulutku di tubuhnya, aku tidak tahu hal seperti ini juga menyenangkan di lakukan oleh wanita, jadi ini tidak pure untuk membuaskan ia saja karena di sini aku juga mencari suatu kepuasan yang bisa aku rasakan saat aku mampu membuat ia mengerang dan tak berdaya seperti ini. Tangannya membantu pergerakan mulutku di tubuhnya menjadi semakin cepat, sesekali aku tercekik dan bergumam menghantarkan getaran pada miliknya yang bergerak cepat di dalam mulutku.

“Holly Shit! You’re so nice beib… hah…”

Tidak butuh waktu lama saat aku merasakan cairan kental dan asin lepas ke kerongkonganku, Taehyung menarikku untuk berdiri lagi saat aku masih membersihkan wajahku dari sisa-sisa cum nya yang berlepotan. Bibirnya menyentuh bibirku, menjilat wajahku membantuku membersihkan diriku dari cariannya sendiri. Ia betah berlama-lama di di bibirku, menciumku dengan sangat panas. Tangannya memegang pantatku, mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di pinggiran westafle. Kami sedang dalam proses hot making session saat suara ketukan mengejutkanku dan Taehyung.

“Hyung! Apa kau masih lama? aku perlu ke kamar mandi”

Shit! Aku lupa di luar masih ada Jimin dan Jungkook. Aku turun dari pinggiran westafle, menatap wajahku di cermin sejenak memastikan tak ada hal yang mencurigakan di wajahku hanya bibir berwarna merah padam dan wajah horny, SHIT!.

Taehyung memakai celana boxer miliknya, mencoba mengatur nafasnya yang tidak teratur. Kami berdiri di depan pintu, mencoba memenangkan diri kemudian membuka pintu dengan pelan, menemukan Jungkook berdiri dengan wajah herannya.

“Noona? Aku kira kau sudah kembali ke kamarmu”

Aku tersenyum palsu menutupi gugupku.

“Ia membantuku mencuci rambut”

Jawaban Taehyung membuat dahinya berkerut.

“Kalau begitu aku kembali ke kamarku”

Aku  bergegas meninggalkan tempat itu sebelum Jungkook lanjut dengan pertanyaan yang lebih spesifik.

****

“Apa Jungkook curiga?”

“Tidak. Ia sangat polos, mudah sekali membohonginya”

Aku bernafas lega membaca pesan yang Taehyung kirimkan, menghempaskan tubuhku di ranjang merasa tenang. Saat aku hampir tertidur, ponselku kembali bergetar dan aku menemukan pesan dari Taehyung di sana.

“Aku di depan pintu kamarmu”

Mataku membelalak dan aku bergegas menuju pintu, membukanya dan menarik Taehyung ke dalam.

“Apa ada yang melihatmu ke sini?”

Ia menggeleng.

“Aku sudah memeriksa dengan sangat teliti”

Aku mengangguk paham dan kembali menghempaskan tubuhku di ranjang, hari ini terasa begitu panjang.

Aku membuka mataku yang mulai terpejam saat merasakan beban ranjang yang bertambah. Aku menemukan Taehyung menatapku di sana sambil menggigit bibirnya.

“Noona… kita belum selesai”

“Hmmm?”

Saat itu juga ia sudah berada di atas tubuhku.

“Tae Hmmmm….”

Ia membungkamku dengan bibirnya, melumat bibirku pelan dan sangat berhati-hati memastikan aku menikmati setiap gerakannya di bibirku. Tanganku memegang bahunya erat berharap ia tidak melepaskanku menuju jurang kenikmatan terlalu dalam. Ini tidak akan membutuhkan foreplay terlalu panjang jadi tidak akan memakan waktu lama.

Aku menarik kaosnya lepas dari tubuh indah itu, memastikan aku merekam dengan baik tubuhnya di ingatanku karena aku harus menunggu satu minggu lagi untuk melihat maha karya tuhan yang indah itu.

Ia tersenyum bangga kemudian membantuku keluar dari seluruh pakaianku, tubuhku sudah sangat sensitive hari ini jadi sedikit sentuhan saja berpengaruh sangat besar pada rotasi di dalam rahimku. Rambut halusnya menari di antara jemariku selagi ia menciumiku dengan sangat baik, aku yakin ia layak di beri penghargaan sebagai the best kisser of the year.

“hah…”

Ia melepaskan bibirnya dari bibirku membiarkan setiap suara keluar dari mulutku saat ia menggesek-gesekkan miliknya di bibir miss Vku. Fuck! Aku tidak sanggup menahan semua ini lebih lama lagi.

“Tae… please…”

Dahinya masih menempel di dahiku, bibirnya sedikit terbuka dan matanya menatapku sayu.

“With my pleasure”

“HAhhhh….”

Ia menusuk sangat dalam di perutku, di dalam otakku aku membayangkan seperti apa di dalam sana saat tubuhnya yang keras dan panjang itu memasuki tubuhku yang sarat akan organ. Aku pernah membaca sebuah artikel seperti apa saat penis memasuki Rahim namun sekarang yang ada di dalam otakku hanya milik Kim Taehyung yang mencabik isi perutku.

“Tae…hng….”

Ia bergerak sangat cepat sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Aku mungkin akan sedikit perih esok pagi tapi eksekusi ini harus cepat karena malam sudah mulai larut dan aku harus bangun sangat pagi.

“Noona… hah… kenapa masih sesempit ini? kita sudah sering melakukannya”

Aku tidak sempat menjawab pertanyaan erotisnya karena fokusku kini pada setiap gesekan tubuhnya di tubuhku di bawah sana.

“Taeh…hah….ngh….”

“haaaaahhh….”

****

Taehyung menarik selimut untuk menutupi tubuh polos kami dan memelukku sebelum mulai tertidur.

“Tae… pastikan kau sudah di kamarmu esok hari sebelum semua orang bangun, setidaknya Jimin dan Jungkook”

“Arraseo… setidaknya biarkan aku tidur denganmu beberapa jam saja. Aku benar-benar merindukan tidur di ranjang yang sama denganmu”

-end-

34 thoughts on ““Trouble Maker, Kim Taehyung”

  1. Kang teteeee omegat author hot banget TT panas dingin inih…. moga ga kenyataan. Aku blum siap akang tete… sarangek.. jukiiii help me jaeball :v gilaaaa

    Suka

  2. ya ampun minchaaaaaa aku kangen sama taehyung
    thanks minchaaa saranghaeoooooo
    love love kiss hug give you my gold or silver
    btw yg gue suka dr ff taehyung yg loe tulis itu v itu polos polos innoncent yg nafsuan dn pacarnya pasrah aja
    wkwkw blah gue ngerasa bejat sama anak berondong
    keep writing

    Disukai oleh 1 orang

  3. Omaygosh!!!!!! Hubungan mereka udah 2th??? Adududuh makin langgeng aja yah mereka. Semoga ada sequel lagi dan mereka bisa sampe married and finally punya anak hehehe pengen di tambah gendre family gitu hehhe
    Ditunggu karya sselanjut ya ka 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  4. ciee si taehyung so sweet amat 😍😍 woahh si taetae suka ama si noona kya jungkook ajah yang pengennya noona noona wkwk 😂 keren thorr ceritanya, minta sequelnya dong thorr 😳😄

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s