The Devil’s Love Part 11


image

Title : The Devil’s Love Part 11

Author : Mrs. Moonlight

Category : Action, Complicated

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Ji Hye and others

DON’T BE PLAGIATOR !!

Selamat membaca…

Jam dinding baru menunjukkan pukul sembilan malam ketika pintu kamar yang di huni Ji Hye di ketuk berulang kali. Mungkin terdengar agak aneh. Biasanya, pintu di buka dari luar oleh Kyuhyun atau Kim ajhumma yang memang menyimpan kunci kamar, tapi mengapa dari luar sana terdengar bunyi gedoran berulang kali. Apakah ada seseorang yang tak sabar untuk masuk ke dalam kamar ini? pikir Ji Hye. Mungkin Kyuhyun atau Kim ajhumma lupa, jika mereka berdua-lah yang mengunci pintu dari luar.

Ji Hye meletakkan cangkir tehnya di atas meja kaca bundar di samping kursi malas, kemudian bangkit dan berjalan pelan mendekati daun pintu. Sesekali ia berteriak lantang, ‘’Siapa di sana?’’ kemudian bertanya lagi, ‘’Kyuhyun? Ajhumma?’’ Ji Hye terus memanggil-manggil sampai dirinya tiba ke depan pintu, akan tetapi dari luar sana tetap tak ada yang menjawab panggilannya.

Wanita itu mencondongkan tubuhnya di sana, berharap ia dapat mendengar setiap pergerakan dari luar yang tertangkap telinganya. Namun tiba-tiba saja, bunyi kunci pintu yang di putar, seketika mengejutkannya. Dengan sigap Ji Hye mengulurkan tangan kanan memutar kenop pintu dan membukanya. Ia menjulurkan kepala, melihat keheningan di hadapannya. Ternyata tak ada seorangpun yang berdiri di ambang pintu. Hanya sorot lampu putih yang terlihat dari ujung lorong. Serta bayangan dirinya sendiri yang terpantul di dekat kaki.

Mungkinkah Kyuhyun sedang mengerjainya sebagai bentuk permintaan maaf yang konyol karena telah merusak benda kesayangannya? Ji Hye berpikir keras— ataukah Kim ajhumma yang membuka pintu, tetapi wanita paruh baya itu terburu-buru kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya?

Penasaran, Ji Hye memutuskan keluar melewati pintu kamar menuju lorong yang menghubungkan kamar tidur dengan ruang makan. Namun sebelum ia sempat melangkah, tiba-tiba sepasang lengan berotot melingkari lehernya dengan erat, hingga membuatnya kesulitan bernapas. Kepala wanita itu mendongak ke atas di sertai pandangan mata yang membelalak ngeri. Sekarang kedua tangannya di tarik ke belakang oleh seseorang yang mendekapnya ini. Belum habis rasa syoknya, Ji Hye di kejutkan lagi oleh kedatangan seseorang yang ikut bergabung bersama mereka. Orang kedua ini melangkah dengan pelan dan rileks. Ji Hye dapat mendengar jelas hentakan sepatunya yang menginjak lantai. Dan tanpa di duga sama sekali, sebuah moncong pistol di acungkan tepat di pelipis kirinya membuat dunia sekitarnya seolah lenyap dari hadapan.

‘’Kalau kau masih betah hidup—jangan berteriak dan ikuti perintahku!!’’

***

JI HYE membuka perlahan matanya sambil menghirup napas dalam-dalam. Wanita itu menyipit tatkala beradaptasi dengan sinar terang yang menusuk retina. Beberapa detik kemudian, ia benar-benar terkejut mengetahui sedang berada di mana sekarang? Terduduk dengan punggung bersandar pada dinding putih dengan kedua kaki berselonjor di atas lantai kotor sedingin es. Bahkan, kedua pergelangan tangannya yang bertumpu di pangkuan, terikat tambang biru yang terasa menggores kulit. Begitu juga pegal yang mendera tengkuknya akibat hantaman sebuah benda, karena setelahnya Ji Hye tak ingat apa-apa lagi.

Namun setelah wanita itu tersadar, ia tak berada di ambang pintu kamar Kyuhyun lagi. Ia berada di sebuah tempat asing mirip bangunan usang yang terbengkalai atau gudang tua. Tak ada perabot yang tersisa di sini. Dindingnya yang ber cat putih berhiaskan lumut liar, mulai keropos di makan usia. Lubang ventilasinya di sesaki debu tebal yang telah menguning, menyumpal setiap celahnya sehingga menyulitkan pergantian udara. Di seberang ruangan juga terdapat tumpukan jerami yang menggunung. Lantainya sangat kotor, berdebu dan  banyak genangan air di tiap sudutnya. Ji Hye mengamati genangan air itu, tatapannya merayap pada garis-garis kuning yang tercetak jelas di permukaan dinding bagian bawah sampai ujung dinding paling atas, yakni jejak rembesan air yang berasal dari plafon retak. Sarang laba-laba bergelantungan di sudut atas ruangan, layaknya gumpalan benang putih yang terbentang membentuk lingkaran. Agak menjijikkan dan mengerikan.

Di tambah lagi bau pengap, lembab dan amis yang mendominasi udara di sekelilingnya. Tiba-tiba saja mual menyerang dasar perutnya bergerak naik ke kerongkongan. Membuat Ji Hye muntah-muntah, namun tak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Keadaan tempat ini makin lama mirip perpaduan kandang sapi dan penjara bawah tanah. Rasa pengap, dingin, maupun kesunyian seolah membelenggunya dengan rantai yang tak kasat mata. Tubuhnya kaku akibat terlalu lama duduk, dan tak ada yang bisa di lakukannya. Kecuali, ia menjerit sekeras mungkin. Siapa tahu di luar sana, ada seseorang yang bisa menyelamatkannya.

‘’Tolong! Tolong aku!!’’ Ji Hye berteriak—berharap siapapun yang mendengarnya bersedia menolongnya. ‘’Kumohon tolong aku! Ada orang yang menculikku ke sini!!’’ Ia terus meninggikan suaranya berulang kali sampai tenggorokannya kering. Rasanya sia-sia saja berteriak seperti ini, karena seperti dugaan awal, lokasi ini memang terisolasi dari keramaian.

Secara mengejutkan, satu-satunya pintu di ruangan itu menjeblak terbuka, menggemakan kegaduhan hingga Ji Hye tersentak. Tatapannya mencari-cari siapa yang menendang pintu lalu terhenyak mendapati sosok pria berperawakan tinggi kekar—yang separo badannya memenuhi ambang pintu.

Wanita itu tak berkedip memperhatikan penampilan si pria yang begitu familier, selain rambut gelapnya serta postur badan yang mirip petinju kelas dunia. Akan tetapi bekas luka parut yang membelah bibirnya secara vertikal-lah yang memaksa Ji Hye berpikir keras, kembali mengingat-ingat di mana ia pernah berjumpa orang ini. Tanpa Ji Hye sadari pria itu menghentikan langkah tepat di hadapannya.

‘’Kau berisik sekali! Malam-malam berteriak seperti orang gila. Kau mau aku menyumpal mulutmu dengan pisau?’’ Si pria membentak Ji Hye seraya menjongkokkan badan agar bisa memelototi tahanannya.

‘’Mengapa kau membawaku ke tempat ini?’’ 

Orang itu memandang Ji Hye dengan galak, ‘’Kau tak perlu tahu mengapa kami membawamu? yang seharusnya kau khawatirkan adalah nyawamu sendiri. Kira-kira, kau akan berwasiat apa untuk kekasihmu Cho Kyuhyun?’’

Mendengar nama Kyuhyun di bawa-bawa ke dalam topik pembicaraan, membuat sebagian diri wanita ini tak terima. Ia balas memandang si pria jahat dengan kejengkelan yang blak-blakan. ‘’Kau tidak buta, kan? Kyuhyun bukan kekasihku. Kami tak memiliki hubungan apa-apa. Seandainya aku mati, takkan ada setetes air mata yang keluar darinya untukku. Kau dan teman-temanmu ataupun orang yang membayarmu tak ada bedanya di mataku. Kalian semua bodoh! Bodoh karena salah menculik orang!’’

Mata pria itu menggelap. Ucapan Ji Hye tadi telah membangkitkan amarahnya yang sedari tadi meraung-minta di bebaskan. Dan dalam gerakan cepat, sebelah telapak tangan si pria langsung menampar pipi kanan Ji Hye. Hantamannya begitu kuat, sampai tubuh wanita ini terkulai ke samping, menabrak angin.

‘’Sekali lagi kau bicara tanpa kusuruh, wajahmu-lah sasaran tanganku selanjutnya! atau mungkin aku ingin bersenang-senang menikmati tubuhmu dulu, sebelum kau menjadi mayat. Bukankah seperti itu yang di lakukan Kyuhyun padamu?’’ Ancam si pria sambil menggeram bersamaan ekspresi puas, berhasil menakut-nakuti tawanannya.

Ji Hye mengangkat kepala kemudian meludah tepat mengenai wajah si pria, karena perkataan orang itu barusan telah menghina harga dirinya. Baginya, sudah cukup Kyuhyun yang memperlakukannya secara tak manusiawi, jangan orang lain juga. Dan harga yang harus di terima Ji Hye adalah si pria jahat itu mencekik lehernya dengan kedua tangan. Hampir membuat Ji Hye kesakitan sekaligus sesak napas, tapi pada akhirnya ia di lepaskan lagi. Ji Hye terbatuk-batuk dengan napas tersengal, sampai mengeluarkan air mata. Sementara si pria berwajah parut langsung meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan apapun.

***

Setiap detik waktu yang bergulir di tempat ini, bagaikan menanti sang malaikat maut mencabut nyawanya, pikir Ji Hye. Ia telah bersumpah, bila ada kesempatan untuk membalas dendam maka kedua tangannya sendiri yang akan mengoyak jantung si bajingan tadi, lantas  melemparnya untuk santapan anjing-anjing kelaparan. Ji Hye saat ini masih terduduk di lantai dengan tangan terikat. Kepalanya terkulai lemah menunduk dengan rambut hitam panjangnya yang awut-awutan menenggelamkan punggung serta bahunya.

Suara derap langkah sepatu yang menyisiri lantai tertangkap pendengarannya. Wanita itu mengangkat kepala serta menajamkan telinga. Pandangannya tetap fokus pada pintu ruangan yang menganga lebar. Kegelapan di luar sana berangsur lenyap dengan datangnya seberkas sinar kekuningan yang menyelinap masuk bersamaan dua bayangan hitam di ambang pintu.

Kemunculan sosok wanita cantik-lah yang membuat perasaan Ji Hye bercampur antara takut dan penasaran. Wanita asing itu bertubuh proporsional dalam balutan Hem hitam berkerah renda di padu dengan rok abu-abu ketat sebatas paha. Ia mengenakan jaket kulit berwarna hitam yang semakin menonjolkan tubuh seksinya, serta memakai bot hitam setinggi dengkul. Rambut cokelat terangnya yang tebal menampakkan semburat merah, tatkala lampu di ruangan menyinarinya.

Wanita itu berhenti seraya melemparkan senyum puas kepada Ji Hye, yang nampak sangat kotor dan tak berdaya. Kemudian seorang pria lagi menyusul memasuki ruangan itu. Kedatangannya berhasil menarik perhatian Ji Hye yang menyipitkan mata memandangnya.

‘’Apakah dia orangnya?’’ Tanya si wanita pada pria yang kini berdiri satu langkah di belakangnya, tanpa mengalihkan pandangannnya dari Ji Hye.

‘’Menurutmu siapa lagi wanita yang berada di kamar si brengsek itu kalau bukan dia?’’ Jawab si pria, lugas. Tangan kanannya yang memegang senter kecil, menyoroti Ji Hye dengan sengaja hingga wanita itu membuang muka karena silau.

Awalnya wanita cantik itu menaikkan sebelah alis dengan bingung. Lama-kelamaan ia menatap Ji Hye seksama, menampakkan ekspresi tertarik yang paling berbahaya. Mata indahnya menjelajahi penampilan tawanannya yang bisa di katakan sangat tidak layak untuk ukuran seorang wanita simpanan. ‘’Wajah yang standar, tak terlalu cantik namun lumayan menggairahkan.’’ Ucap si wanita tiba-tiba. ‘’Rambut panjang bergelombang dengan sepasang mata hitam yang indah. Masih jauh dari tipe ideal, tetapi mungkin Kyuhyun memiliki penilaiannya tersendiri.’’ Tambahnya lagi dengan bibir melengkung jijik, sambil membayangkan bagaimana Kyuhyun bercinta dengan wanita ini? walaupun secara pribadi, ia tak merasa cemburu. Tapi justru kebenciannya semakin bertambah, menunggu saat yang tepat untuk meluapkannya.

‘’Kau tahu, saudaraku… sepertinya mereka berdua memang memiliki hubungan khusus. Tak heran jika ‘orang kita’ menemukannya berada di kamar kekasihnya.’’Wanita cantik itu berkata pada pria di belakangnya.

Tahu jika dirinya yang sedang di bicarakan, Ji Hye mengumpulkan segenap keberanian untuk bertanya. ‘’Apakah kalian membicarakan Kyuhyun dan aku?’’ Ji Hye sangat yakin jika mereka berdua bukanlah orang lokal. Karena menggunakan dialeg asing yang tak di mengerti olehnya. Sangat membingungkan menurut Ji Hye yang nampak seperti orang dungu sekarang. ‘’Kalian siapa?’’

‘’Oh, aku hampir lupa. Kenalkan pria yang bersamaku ini… ‘’ Si wanita menoleh ke arah pria yang berdiri di belakangnya, ‘’Dia adalah saudaraku Masahiro Higashide. Bila kau memiliki ingatan yang kuat, kau pasti masih mengenalinya.’’

Ji Hye menatap pria itu. Dia lumayan tampan. Mungkin bisa di bilang begitu, karena rahang tegasnya menonjolkan wajah tirus yang alami. Hidungnya mancung bersamaan bola mata kecokelatan yang berbinar. Rambut gelapnya agak memanjang hampir menyentuh kerah kemeja. Tubuhnya tinggi dan tegap. Sepertinya wajah ini memang pernah di lihatnya, tapi di mana?

Pusaran memori masa lalu Ji Hye bergerak mundur. Ia mencari ingatannya bersama pria yang di yakininya pernah di jumpai itu. Dan akhirnya, semua mendadak jelas, seolah lampu terang langsung menyala di benaknya. Wanita itu mengingatnya. Di suatu pagi… pada awal musim panas setelah kunjungan singkatnya ke rumah Lee Hyuk Jae, Ji Hye merasakan seseorang menguntitnya. Seorang pria asing yang memperingatkan dirinya agar pergi menjauhi Kyuhyun.

Iya benar, pasti dia orangnya pikir Ji Hye sambil menerawang.

Suara deheman si wanita, mengembalikan kesadaran Ji Hye ke masa kini. Mereka berdua saling bertatapan, meski sangat susah bagi Ji Hye untuk menetralkan debaran jantungnya. Ia menunggu wanita cantik itu berkata lagi, ‘’Dan tentu saja kau harus mengenalku juga. Aku adalah… Mako Mori.’’

***

Mako Mori…

Tentu saja Ji Hye sangat mengenal nama itu yang merupakan mantan tunangan Kyuhyun. Bahkan sampai detik ini, ia berani bertaruh, foto itu masih tergantung di dinding perpusatakaan di kediaman Kyuhyun. Karena sebenarnya pria itu masih mencintainya dan belum dapat melupakannya. Bagaimana bisa Ji Hye dengan begitu bodoh mengharap cinta dari Kyuhyun, bila ada seorang wanita yang selalu hidup di dalam kenangannya?

Tiba-tiba saja emosi menyelubungi hatinya. Ji Hye ingin sekali menangis dan berteriak sekeras mungkin. Alih-alih yang dapat di lakukannya hanya menundukkan pandangan saat kedua matanya mulai memanas. Memandang kecantikan Mako Mori yang begitu sempurna.

‘’Saudaraku… Masahiro, tolong buka ikatan tangannya! Aku mengobrol sedikit dengan perempuan ini.’’Perintah Mako.

Masahiro Higashide melangkah pelan ke arah Ji Hye yang meringkuk di lantai. Pria itu berjongkok seraya membuka lipatan pisau peraknya mengiris tambang yang mengikat kedua pergelangan tangan Ji Hye sampai terlepas, menyisakan segaris warna merah muda di sana. Masahiro menarik lengan Ji Hye untuk berdiri, meski wanita ini sempat terhuyung karena keram yang di rasakan kakinya.

Setelah Ji Hye berdiri di hadapannya, barulah Mako Mori mengamatinya lebih teliti. ‘’Sebenarnya, aku tak ingin menyakitimu, andaikan kau mendengar peringatan Masahiro, sebelumnya.’’ Jeda sesaat. Mako menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan,  ‘’Mungkin kau bertanya-tanya, mengapa Masahiro membututimu? Mengapa pula ia mencoba mendekatimu? tapi sepertinya kau sangat keras kepala sama sepertiku. Pada akhirnya kau akan menyesali semua perbuatan Kyuhyun padamu, ya kan? Padahal pria itu menganggap setiap wanita yang menjalin hubungan dengannya, tak lebih dari sekedar pemuas kebutuhan sex-nya. Dia juga tak pernah menjanjikan cinta apalagi sebuah komitmen pernikahan.’’

Ji Hye melihat raut wajah Mako Mori yang saat ini di landa murung. Matanya berkilat sedih menatap hampa ke dinding di seberang, yang menampakkan bayangan-bayangan mereka sendiri.

‘’Aku sangat membenci Cho Kyuhyun…’’ Lanjut Mako masih menjaga ritme suaranya tetap  datar tanpa emosi. ‘’Mungkin dulu, aku sangat mencintainya melebihi hidupku. Kami bertemu lalu bertunangan. Kami berdua memiliki impian yang sama yaitu menikah, memiliki anak dan menua bersama.’’

Itu juga impianku, Ji Hye membatin miris.

‘’Tapi… sebuah petaka datang. Aku mengandung anak Kyuhyun. Ya, sebenarnya, aku telah lama mengetahuinya dan berencana membuat kejutan, sampai tiba saatnya untuk memberitahukan kehamilanku. Namun bukannya ekspresi bahagia seorang calon ayah yang kudapatkan darinya, melainkan pernyataan dingin bahwa dia tidak menginginkan bayi ini lahir. Kyuhyun menyalahkanku, seharusnya aku bisa mencegah kehamilan sedini mungkin dengan berbagai cara. Tapi aku sangat bahagia dengan kehamilanku. Aku akan memiliki anak dan menjadi seorang ibu.’’

Keheningan mutlak selama beberapa menit meliputi ruangan ini. Mako menghentikan ceritanya sejenak. Ia sibuk mengusap kedua matanya dengan jemari tangan, tanpa menyadari kalau Ji Hye masih memperhatikannya.

‘’Pria itu sangat kejam.’’ Mako kembali bercerita, kali ini dengan sorot dendam yang menyala-nyala. ‘’Dia sangat jahat. Kami bertengkar hebat dan aku terus membantahnya. Kemudian, Dia memukuliku—tanpa pernah aku tahu bahwa Kyuhyun memiliki sisi kejam. Sisi gelap yang di sembunyikannnya di balik tameng wajah malaikatnya. Aku menyadari hatiku telah di butakan oleh cinta. Aku juga menyadari bahwa tak ada lagi kasih sayang yang di tunjukkan Kyuhyun padaku, ketika dia menjambak rambutku, membenturkan kepalaku berulang kali ke atas kasur karena aku tak menurutinya. Aku menangis tak berdaya dan sangat lemah. Berteriak memohon-mohon belas kasihannya, seperti kelinci yang menghadapi harimau buas. Pada akhirnya, tubuhku kehilangan keseimbangan, aku terjatuh keras di lantai dingin. Rasa perih bagai tersayat-sayat kurasakan dari dalam perut. Aku menjerit meminta tolong padanya. Namun kesakitan itu melumpuhkan sekujur tubuhku. Kemudian aku tak tahu apa-apa lagi. Yang kuingat, hanya terbaring di ranjang Rumah sakit dalam kondisi lemah. Ketika salah seorang perawat mengatakan padaku jika ia ikut berduka karena keguguranku, akhirnya aku tahu bahwa calon anakku telah pergi selamanya.’’

Hening kembali menyergap…

Suara angin malam berdesau memenuhi setiap sudut ruangan, melalui celah-celah dinding yang bolong maupun ventilasi yang kotor. Ji Hye gemetar, simpati mendengar penuturan Mako yang menurutnya, tak beda jauh dari apa yang di alaminya. Wajah cantik Mako mengunci tatapannya, melayangkan aura permusuhan yang kental. Seolah Ji Hye memiliki kesalahan yang tak dapat di maafkannya seumur hidup, seperti halnya dengan Kyuhyun.

‘’Setelah berhari-hari di rawat di Rumah sakit, akhirnya aku kembali lagi ke rumah Kyuhyun. Di tempat itu, dia mengurungku di dalam kamarnya yang seperti neraka. Kenangan di malam pertengkaran kami membuatku gila. Aku menangis terus menerus. Berduka cita setiap hari karena kematian calon anakku. Seolah-olah tak ada lagi hari esok untukku. Tak ada harapan. Aku memutuskan untuk mengakhiri semua penderitaan ini. Aku ingin bunuh diri tapi niat itu urung. Aku memutuskan kabur dari rumahnya, pada suatu malam di awal musim gugur. Saat itu Kyuhyun berada di luar kota dan ini adalah kesempatan emas bagiku. Aku membawa sejumlah uang dan passpor. Tentunya diam-diam bersyukur, pria kejam itu tak pernah memperhitungkan, jika sewaktu-waktu aku kembali ke Jepang. Karena bila Kyuhyun sampai berpikiran seperti itu, sudah tentu dia melenyapkan passpor- ku juga.’’

Mako menghela napas sebentar,‘’Aku bergerak cepat malam itu, memecahkan kaca jendela dengan kaki kursi, lantas melompatinya begitu saja. Aku berlari menyeberangi halaman berumput yang berbatasan langsung dengan jalan aspal. Untungnya, salah satu pagar kayu yang paling ujung telah rusak. Dengan mudahnya aku bisa membukanya, membuat celah besar agar bisa kulewati. Aku terus berlari sepanjang jalan raya itu sampai mendapatkan sebuah taksi yang membawaku langsung ke Bandara. Setibanya di sana, aku langsung membayar tiket tujuan Tokyo. Tak peduli berapapun harganya, yang terpenting bagiku adalah pergi meninggalkan Korea. Meninggalkan semua kenangan burukku di sini.’’

Ji Hye terkesima membayangkan adegan Mako kabur dari kediaman Kyuhyun. Seandainya saja ia bisa melakukannya juga. Namun keanehan tampak melekat di wajah sedih Mako. Mata wanita itu berubah tajam, seolah ingin menembus ulu hatinya.

‘’Sekembalinya dari Seoul, aku menemukan kebahagiaanku di Jepang. Aku menikahi seorang pria yang mencintaiku. Namun sayangnya kebahagiaan kami belum lengkap. Sudah dua kali aku di nyatakan hamil, namun aku kembali keguguran. Menurut dokter, kandunganku lemah. Tapi menurutku, ada yang salah dengan rahimku. Aku menduga jika penyebabnya ada pada keguguranku yang pertama. Itu semua karena kekejaman Cho Kyuhyun. Bahkan, pria berhati Iblis itu masih terus mengganggu kehidupanku meski aku telah bersuami, menyebabkan pertengkaran terus-menerus di dalam rumah tanggaku. Aku tak tahan dengan semua ancamannya dan bersumpah akan membalas perlakuannya, suatu saat nanti. Ketika Masahiro melapor padaku bahwa ada seorang wanita yang tinggal di dalam rumah Kyuhyun, aku pikir mungkin pria itu telah menikah dan memiliki istri. Tapi, kenyataannya kau berada dalam posisi yang sama sepertiku. Masahiro telah memperingatkanmu untuk menjauhi Kyuhyun, tapi sayangnya tak kau gubris. Kau masih tinggal bersamanya. Aku menebak, mungkin kau jatuh cinta pada Kyuhyun. Atau dia sendiri yang jatuh ke dalam perangkapnya. Iblis itu mencintaimu…’’ Mako Mori terbahak-bahak, hingga suaranya terdengar mengerikan, melengking tajam memecah kesunyian malam.

Ji Hye mengernyit takut, mendengar tawa sumbang itu seakan membangkitkan semua bulu kuduknya. Tatapan bingungnya beralih pada si tampan Masahiro yang menaikkan sebelah alis memandangnya. Lalu kembali memasati Mako Mori yang terlihat gila. Berperilaku sedih dan murung, lalu tiba-tiba tertawa tanpa ada alasan yang lucu.

Kesadaran lain datang menghantam Ji Hye. Ia menatap panik Mako Mori yang memandanginya dengan seringai bahaya sekaligus mematikan. Tanpa di sadari, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh Ji Hye di iringi degupan jantung yang meningkat drastis. ’’Apa tujuanmu menyekapku?’’

‘’Apa tujuanku? Tentu saja aku menginginkan nyawamu, sayang.’’ Mako memotong perkataan Ji Hye dengan lembut. ‘’Aku ingin Cho Kyuhyun mengalami apa yang pernah aku alami.’’

Kali ini Ji Hye benar-benar naik pitam. ‘’Dengar! Kyuhyun tidak pernah mencintaiku. Aku hanya pelacur baginya…’’Entah mengapa ketika mengatakan perihal ini, terasa menyakitkan. Namun itu memang fakta. Ia cuma tempat pelampiasan napsu bagi Kyuhyun. Jadi, mana mungkin pria itu tiba-tiba jatuh cinta padanya. Rasanya mustahil seperti mengharapkan salju turun di bulan Mei.

Mako Mori tersenyum mengejek. ‘’Benarkah? Aku rasa kau belum mengenal Kyuhyun luar-dalam. Aku tahu dia mencintaimu. Dia takut kehilanganmu. Seperti apa yang di gambarkan Masahiro padaku, bahwa Kyuhyun mengejarmu ke luar kota pada malam kaburnya dirimu…’’

‘’Dari mana kau tahu tentang kejadian itu?’’ Ji Hye bertanya ketus. Matanya menyipit penuh selidik saat Mako mengetahui peristiwa yang di alaminya.

‘’Tentu saja semua info apapun mengenai Kyuhyun, hampir semuanya kuketahui. Kecuali aktifitas di dalam rumah. Tadinya aku berpikir, mungkin kau hanya bonekanya. Tapi dari semua yang di ceritakan Masahiro padaku, membuatku tercengang. Kau lebih dari sekedar mainan Kyuhyun. Kau adalah nafas baginya, nyawanya dan kelemahannya. Aku menginginkan Kyuhyun mati secara perlahan karena kehilanganmu selamanya. Untuk itu-lah aku menyekapmu. Dan sebentar lagi, aku akan membunuhmu…’’ Mako mengatakannya dengan sangat tenang dan lugas. Garis-garis kekejaman nampak nyata dari raut wajahnya bersamaan dengan tatapan membunuh yang di layangkannya kepada Ji Hye. 

Kemudian Mako merogoh saku jaketnya dengan tangan kanan, tak lama nampak sebuah pistol perak dalam genggamannya. Wanita itu meluruskan tangan, mengarahkan pistol kearah Ji Hye yang berdiri kaku dengan wajah sepucat mayat di hadapannya.

‘’Kau ingin aku menembakmu di bagian mana—agar kau langsung mati tanpa tersiksa lebih dulu?’’ Mako menyipitkan mata, mencari sasaran yang pas dari bagian tubuh Ji Hye untuk di bidik. ‘’Jantungmu, kurasa…’’Bisiknya sambil bersiap memantapkan hati bahwa moncong pistol memang mengarah ke dada kiri Ji Hye.

‘’Ucapkan selamat tinggal pada Kyuhyunmu…’’ Tambahnya sesaat sebelum telunjuk tangan kanannya menarik pelatuk pistol.

Ji Hye merasakan ketakutan itu. Jantungnya berdenyut menyakitkan, seolah menginstruksikan dirinya agar kabur dari tempat terkutuk ini. Tapi bagaimana mungkin ia bisa melakukannya dengan peluru yang siap di tembakkan padanya?                                      Ia belum ingin mati. Apalagi mati konyol di tangan wanita asing yang memiliki dendam kesumat padanya.

Dan dalam kesunyian yang melanda itu, tanpa Ji Hye sadari—bunyi letusan pistol datang bersamaan dengan sesuatu yang menembus dagingnya, melubangi tulang di bahu kanannya. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, rasa panas itu menyebar ke seluruh tubuhnya yang saat ini mati rasa. Ji Hye terjungkal dengan punggung menabrak dinding bata sekeras besi di belakangnya. Kemudian ambruk dengan kepala bagian belakang lebih dulu membentur lantai.

Dalam posisi terlentang seperti sekarang, Ji Hye tak kuasa menahan rasa pedih yang mulai berdenyut di bahunya. Bau anyir darah yang bercampur dengan bau lembab di ruangan ini sangat menusuk penciumannya. Ia langsung pening. Kinerja jantungnya-pun melambat. Meski batas kesadarannya nyaris lenyap, tapi telinga Ji Hye masih dapat menangkap suara di sekitarnya. Namun perlahan-lahan suara itu mengecil seolah menjauhinya. Begitupun dengan udara di sekitarnya yang makin menipis. Lehernya serasa di cekik oleh tangan-tangan tak kasat mata.

Wanita itu kesulitan bernapas…  Ia butuh oksigen… 

Tolong aku!!  Ji Hye meneriakkannya di dalam pikiran.

Ketika jarak pandangnya berputar secepat roller coaster , serta kedua kelopak matanya yang memberat, Ji Hye tahu takkan ada siapa-pun yang menolongnya.

***

CHO KYUHYUN melihat arloji yang melingkari pergelangan tangan kanannya. Waktu telah menunjukkan pukul empat pagi lebih tujuh menit. Ia duduk dengan gelisah di kursi penumpang. Tuan Park yang merupakan sekretaris pribadinya di kantor, larut dalam konsentrasi mengemudi. Kini, jalanan di depan sana mulai memasuki kawasan elit yang terdiri dari rumah-rumah besar berhalaman luas di kanan-kiri jalan. Lampu-lampu taman serta lampu jalanan yang kuning temaram menghiasi setiap sudut perumahan. Akhirnya, mobil yang mereka tumpangi sampai di depan salah satu rumah besar berpagar besi yang lebih terkesan kuno ketimbang rumah-rumah lain di sekelilingnya. Rumah Kyuhyun.

Tuan Park menghentikan mobil tepatdi  depan gerbang lalu mematikan mesinnya. ‘’Anda ingin turun di sini, Tuan?’’ Tanyanya sopan seraya melepas sabuk pengamannya.

Kyuhyun masih terdiam. Matanya menatap malas ke jalanan aspal yang lengang. Sedari tadi dirinya merasa tak bersemangat. Walau malam ini, Bradburry jauh lebih ramai dari biasanya, dan sudah dapat di pastikan pundi-pundi uangnya semakin tebal, tetap tak menghilangkan rasa gelisahnya. Kyuhyun enggan untuk bertemu dengan Ji Hye karena ia belum sempat memperbaiki Notebook  yang di rusaknya itu. Ia takut Ji Hye kecewa dan kembali memusuhinya. Kyuhyun tahu bagaimana kerja keras wanita itu dalam menyelesaikan naskah yang di karangnya. Bila Ji Hye bersedia, Kyuhyun sendiri yang akan mempromosikannya kepada relasi penerbitnya.

‘’Ada apa Tuan Cho?’’ Sekretaris Park kembali bertanya.

Kyuhyun menoleh ke arah sekretarisnya dengan sorot tak terbaca.’’Aku membutuhkan sedikit bantuan. Bisakah Tuan Park mencarikan tempat layanan servis untuk Notebook yang rusak? tapi barangnya tertinggal di dalam rumah, karena tadi aku meletakkannya di meja ruang tamu dan lupa membawanya.’’

‘’Saya akan berusaha mencari layanan servis yang terbaik di kota ini, Tuan. Anda tidak usah khawatir. Apakah sekarang Anda ingin masuk ke rumah bersama saya? Kemungkinan setelah ini, saya akan langsung membawa barang itu—’’

Kyuhyun mengangguk setuju. ‘’Ya, Tuan Park. Kurasa lebih cepat akan lebih baik.’’ Pria itu melepas sabuk pengamannya, membuka pintu mobil lalu melangkah keluar setelah membantingnya kembali.

Ia melangkah cepat mendekati gerbang besi yang menjulang kokoh di depannya. Hawa dingin langsung menyambut mereka. Dengan tak sabar, Kyuhyun merogoh saku celananya mencari kunci gerbang. Namun ketika salah satu tangannya tak sengaja mendorong pagar besi, secara mengejutkan pintu gerbang itu mengayun terbuka. Kyuhyun mengernyit heran. Bagaimana bisa Kim ajhumma teledor seperti ini?

Pria itu berjalan melewati pintu gerbang, menyeberangi halaman berumput yang di tumbuhi pepohonan besar berkanopi lebat, hingga sampai di depan undakan teras rumahnya. Tuan Park setengah berlari menyusul di belakangnya. Namun sesampainya Kyuhyun di depan pintu utama, ia tahu pintu itu juga tak di kunci seperti biasanya. Ada yang tidak beres di rumah ini, pikirnya. Kyuhyun langsung menghempas pintu dengan kasar. Ia terburu-buru menyusuri ruang tamu yang lebar. Memasuki lorong yang mengarah ke kamar pribadinya namun tak menemukan Ji Hye di sana. Kyuhyun keluar dari kamar seperti orang kesetanan, memasuki setiap ruangan di rumah itu, tapi tetap tak menemukan Ji Hye di manapun.

Apa mungkin wanita itu kabur lagi? Tanya Kyuhyun dalam hati.

Kini, ia berjalan cepat ke arah dapur sambil berteriak, ‘’Ajhumma! Ajhumma!! Ke mana Ji Hye? Dia tidak ada di kamar—‘’

Tatapan Kyuhyun terhenyak mendapati tetesan darah kering yang menempel di lantai dapur. Darah siapa ini? ia membatin. Bayangan-bayangan mengerikan mulai berkelebatan di benaknya membuatnya menggeram, saat amarah mengusai pikiran dan tubuhnya. Mata Kyuhyun terus mengikuti tetesan darah di lantai sampai berhenti di tempat ceceran darah itu menghilang di depan sebuah lemari kayu besar. Kyuhyun menghancurkan gembok lemari yang terkunci itu dengan kursi makan yang di hantamnya. Sebagian lemari hancur, tapi tubuh seseorang di dalam sana membuatnya sangat terkejut. Ia membuka lemari lebar, serta menarik kuat lengan gemuk Kim ajhumma yang berdarah.

Kyuhyun memapah wanita paruh baya itu menuju kursi makan terdekat lalu mendudukkannya di sana. Kim ajhumma masih hidup. Mulutnya meracau tak jelas. Kyuhyun menatap sedih keadaan asisten rumah tangganya, kemudian berjongkok sambil bertanya pelan. ‘’Apa yang terjadi, ajhumma?’’ Pria itu mengulurkan tangan menyentuh lengan Kim ajhumma yang berdarah. Kemudian bangkit, mengambil lap bersih yang terlipat di meja makan, membebat lengan Kim Ajhumma yang terluka.

‘’T-ttuan, Cho. Mem-mereka membawa Ji Hye-ssi ke bbe-belakang rumah…’’ Ucapan singkat Kim ajhumma yang tersendat-sendat membuat Kyuhyun membeku.

Tiba-tiba, suara letusan senjata mengejutkan mereka. Tuan Park yang baru bergabung di dapur itu, melempar tatapan penuh tanya kepada Kyuhyun. Seolah baru saja tersadar dari rasa syok-nya, Kyuhyun langsung berlari menuju pintu dapur yang mengarah pada halaman belakang rumah. Ia menerjang pintu dan menghilang di baliknya.

Tuan Park merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah ponsel yang langsung di berikannya pada sang asisten rumah tangga. ‘’Tolong hubungi polisi secepatnya! Aku akan menyusul Tuan Cho. Jika polisi belum juga datang, lari-lah ke luar rumah dan minta bantuan, mengerti!’’

Wanita paruh baya itu mengangguk seraya mengambil ponsel dari tangan Tuan Park.

Tuan Park bergegas melepas jas kerjanya, meletakkan begitu saja pada sandaran kursi, kemudian berjalan tergesa-gesa melewati pintu belakang menyusul Kyuhyun.

***

Bulan putih tertutup awan. Langit kehitaman di atas sana, memunculkan semburat merah yang menyilaukan dari ufuk timur. Kyuhyun memacu langkah secepat kilat menembus padang rumput seluas lapangan sepak bola. Tatapannya terus mengarah pada sinar kekuningan yang berasal dari celah-celah ventilasi dari sebuah bangunan di seberang halaman. Gudang tua tak terawat itu, berselimut ilalang tinggi serta lumut tebal. Kyuhyun telah menduga ada sesuatu yang tak beres di dalam sana.

Dari kejauhan, nampak setengah lusin pria bertubuh besar memperhatikan kedatangannya serta bersiap untuk menyerang. Satu di antara mereka mengarahkan senjata pada Kyuhyun, kemudian terdengar letusan pertama. Pria itu sangat terkejut ketika suara mendesing melewati telinga kanannya. Dengan sigap Kyuhyun merunduk, merebahkan tubuhnya di atas rerumputan berembun. Tapi hujan peluru yang bertubi-tubi terus di tujukan padanya. Kyuhyun berlarian ke balik pohon sakura yang berjarak beberapa meter dari gudang, berlindung dari muntahan timah panas. Ia menunggu sampai peluru habis dan tak terdengar suara apa-apa lagi.

Tampaknya para penjahat itu kurang mahir menembak, umpatnya. Namun tak di ragukan lagi, Kyuhyun hampir saja kehilangan telinga kanannya. Nyaris saja dirinya menjadi tuli. Kyuhyun masih menyandarkan punggungnya pada permukaan batang pohon yang kasar. Jantungnya memompa keras hingga menyulitkannya berpikir. Para bandit itu mulai berteriak dari kejauhan, kedengarannya seperti mengatakan ‘’Kemari pengecut!’’ atau ‘’Kau akan mati Cho Kyuhyun!’’ berulang kali.

Kyuhyun menatap ngeri sosok Tuan Park yang berlari menyeberangi halaman dari dalam rumah. Oh Tidak! Mereka akan menembaknya, pikir Kyuhyun. Seharusnya sekretarisnya itu tak menyusulnya. Karena bisa jadi Tuan Park-lah yang menjadi terget timah panas mereka berikutnya.

Kyuhyun menggeram. Kedua tangannya terkepal sampai urat-urat kehijauan timbul di bawah kulit ari-nya. Tubuhnya bergetar menahan amukan marah. Sebelum Tuan Park mendekati gudang, ia harus melakukan sesuatu agar mengalihkan perhatian para bandit.

‘’Cho Kyuhyun, jangan bersembunyi seperti seekor tikus! Keluar!!’’ Suara dari salah satu penjahat itu menyentaknya.

Akhirnya, setelah menghela napas panjang terlebih dahulu, Kyuhyun memilih keluar dari persembunyiannya. Ia melangkah pelan mencoba berdamai dengan amarahnya sendiri, sambil mengangkat kedua tangannya dengan tatapan tajam yang di tujukan pada gerombolan di hadapannya.

‘’Kau keluar juga, huh?’’ Salah satu dari mereka mengatakannya dengan cukup keras sehingga yang lainnya ikut tertawa.

Kyuhyun memperhatikan si pria yang memegang pistol. Ia tahu bahwa gerombolan bajingan ini adalah orang-orang yang sama— yang mengeroyoknya di Sakaiminato. Pria dengan luka berbentuk parut yang membelah bibir adalah ketuanya. Kebetulan sekali, pikir Kyuhyun  menertawakan reuni mereka kali ini. Dengan begitu, ia akan secepatnya membalas dendam pada mereka semua.

Suara letusan pistol kembali mengagetkan Kyuhyun di sertai rasa panas bercampur pedih yang menembus kaki kirinya, membuat pria itu terjerembab di rumput. Kaki Kyuhyun terkena tembakan. Di saat yang bersamaan, Tuan Park berlari ke arahnya, melayangkan tatapan ngeri melihat darah mengalir dari kaki kiri Kyuhyun. ‘’Tuan, Cho… Anda terluka!’’

Belum sempat Tuan Park membantu Kyuhyun berdiri, dua dari enam orang itu menyerangnya dengan pukulan bertubi-tubi. Bahkan empat di antaranya mencoba ikut bergabung. Menyadari jika posisinya terjepit, Tuan Park membela diri. Ia terus mengayunkan kepalan tangan, juga melemparkan tendangannya, menghantam satu persatu tubuh berotot yang mengelilinginya. Perkelahian itu tak seimbang, memang. Tapi jangan remehkan kemampuan sang sekretaris. Tuan Park tentunya telah membekali diri dengan berbagai macam ilmu beladiri yang cukup mumpuni. Karena untuk bergelut di dunia bisnis hitam, seringkali terjadi persaingan yang tak sehat antar para pengusaha, yang mengharuskan mereka melidungi diri sendiri ataupun keluarga dari orang-orang berniat jahat. Dan yang perlu di garis bawahi, Tuan park ternyata seorang Master sekaligus guru beladiri Cho Kyuhyun yang sepak terjangnya sudah tak di ragukan lagi. Bahkan kini beberapa pria garang bertubuh besar mulai kewalahan menghadapinya.

Kyuhyun menggenggam rerumputan kuat-kuat sampai tercabut dari akar. Ia bangkit perlahan dari posisinya memeluk tanah, terkejut mendapati sekretarisnya yang tengah sibuk mengibaskan tendangan kepada dua raksasa yang mengeroyoknya. Satu orang lagi limbung di tanah sambil mendengking layaknya anjing kesakitan.

Adrenalin Kyuhyun terpompa semakin dahsyat. Ia tidak terima dengan keadaannya yang tak berdaya seperti ini. Ia harus melawan mereka semua. Walau kakinya terluka karena tembakan. Meski juga sekujur tubuhnya tercabik oleh rasa perih yang menguliti denyut nadinya, ia harus bertahan. Sepintas Kyuhyun teringat sebuah pesan dari Ayah angkatnya, Tuan Choi Kyung Do yang mengatakan, ‘tak masalah jika orang-orang di luar sana mengejekmu atau menghinamu untuk hal lain. Tapi bila yang di injak-injak adalah harga dirimu, martabat keluargamu, maka kau harus membelanya…’

Tentu saja ia harus membela harga dirinya, ucap Kyuhyun marah. Ini adalah rumahnya. Orang-orang jahat itu berbuat onar sesuka hati tepat di depan hidungnya. Kyuhyun takkan semudah itu menyerah pada mereka. Karena ia sudah pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari ini. Pria itu telah merasakan bagaimana detik-detik kebahagiaannya di renggut, keluarganya, orang-orang yang di kasihinya bahkan hampir nyawanya juga. 

Kini, mata cokelat Kyuhyun menyala-nyala siap menerkam ketiga bajingan yang berdiri di hadapannya. Tanpa menunggu lagi, pria itu berlari secepat cahaya mengabaikan rasa pedih yang menusuk kakinya. Ia telah bertekad untuk menghabisi para pembuat onar ini, hidup atau mati.

Kyuhyun menyerang—melancarkan tinjunya yang beradu keras dengan tangan-tangan berotot di hadapannya. Kedua kaki panjangnya menerjang ke segala arah. Menendang secara brutal para bandit yang mengelilinginya. Salah satu dari penjahat itu bergulingan sejauh beberapa meter setelah terkena tendangan. Dua yang lainnya terus menyerang tanpa memberikan Kyuhyun celah untuk membalas. Salah seorang dari mereka berdua, menendang tulung rusuk Kyuhyun hingga membuatnya mundur beberapa langkah. Lalu ketiga bajingan tadi melangkah maju sambil terbahak-bahak.

Kyuhyun yang kesakitan, mendongak menatap langit terang. Kumpulan awan putih bergerak menuju barat, sementara matahari semakin merangkak ke angkasa. Hawa dingin yang meyelimuti mereka, perlahan di gantikan oleh udara pagi yang menghangat. 

‘’Sebentar lagi, kau akan segera menyusul kekasihmu, Cho Kyuhyun! Karena wanita itu telah menemui ajalnya terlebih dahulu…’’ Ucap si pria yang memiliki luka parut seraya menyeringai licik, mengibas-ngibaskan kedua lengannya. 

Kekasih? Menemui ajal?

Tak perlu menjadi pintar untuk mencerna perkataan si bajingan tadi. Sudah pasti kekasih yang di maksud adalah Ji Hye. Morna -nya. Secara mengejutkan, Iblis yang bersemayam itu kembali menguasai Kyuhyun sepenuhnya. Ia bukan lagi seorang pria yang lemah. Pria itu telah menjelma menjadi seorang Iblis yang haus darah.

Cho Kyuhyun menghadang para penjahat itu dengan keberanian yang tak tergoyahkan sambil melepas sabuk yang melilit pinggang untuk di gunakan sebagai senjata. Ia kembali melancarkan aksi, mengayunkan sabuk panjangnya yang terbuat dari kulit binatang yang tebal dan mahal— mengenai siapapun yang mencoba memukulnya. Beberapa orang yang terkena cambukan sabuknya, terjatuh dan mengaduh, kemudian bangkit lagi melawannya. Para bajingan itu seperti robot yang tak pernah habis tenaganya untuk di lawan. Tapi Kyuhyun tak memperdulikannya. Ia terus melawan orang-orang itu dengan segenap tenaga yang tersisa di sertai kucuran peluh yang membasahi kemejanya. Pria itu bersikeras, memlumpuhkan lawannya dan memasuki gudang untuk menyelamatkan Morna -nya…

Teriakan salah seorang penjahat yang terkena cambukan Kyuhyun, memecah udara pagi yang sejuk. Ia berhasil mengenai wajah si bajingan yang kini berlumuran darah. Masih sisa dua lagi, pikirnya. Kyuhyun tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kecepatan tangannya bagai kibasan pedang. Ujung sabuknya sangat berbahaya, seperti mata pisau yang siap menusuk lawannya. Satu di antara kedua orang itu, kembali terjerembab ke tanah setelah Kyuhyun menebas kedua kakinya. Orang itu meraung kesakitan kemudian tak bergerak.

Tinggal si pemimpin gerombolan, pikirnya. Kyuhyun menarik napas panjang. Orang di hadapannya ini memiliki hutang darah padanya, karena menyebabkan dirinya babak belur di Sakaiminato. Si pria berwajah parut dengan cepat mendaratkan tinju ke dadanya, lalu menendang perutnya. Kyuhyun terhuyung. Ia langsung melilitkan sabuk ke atas kepalan tangannya, balas meninju balik si bajingan di hadapannya, membabi buta. Kepalan tangannya sukses mengenai rahang atas dan dada kiri si penjahat.

‘’Keparat kau! Apa yang kau lakukan pada wanita itu?’’ teriak Kyuhyun sambil terus menghantam ataupun menendang rusuk lawannya hingga bajingan itu lemah, jatuh tersungkur di atas rumput. Wajahnya babak belur. Darah mengucur dari sayatan baju di dadanya akibat terkena ujung sabuk. Persis seperti keadaan Kyuhyun pada malam naas-nya di Sakaiminato.

Sayup-sayup terdengar sirine mobil Polisi dari kejauhan. Mungkinkah ada seseorang yang meminta bantuan? Kyuhyun membatin. Ia lantas memalingkan wajah, melihat Tuan Park yang telah melumpuhkan ketiga bajingan yang sekarang terkapar di tanah.

Kyuhyun memutuskan berlari gontai menuju gudang. Kakinya yang tak terluka mendobrak pintu secara paksa kemudian memasuki ruangan pengap itu. Kyuhyun memasuki satu-satunya kamar yang pintunya terbuka tanpa insting kehati-hatiannya, hingga menyebabkan kakinya terjungkal ke belakang setelah menabrak sesuatu.

Mata cokelatnya membelalak tak percaya, sosok Mako Mori yang cantik dengan wajah ketakutan berdiri di seberang kamar, bersama seorang pria Jepang yang kini bersiap menyerangnya dengan pisau lipat di tangan. Sebisa mungkin, Kyuhyun berdiri menghindari sabetan pisau. Matanya di fokuskan ke setiap gerak-gerik tangan pria yang mengacungkan pisau padanya. Satu lagi taktik yang harus kau pelajari jika ingin menyelamatkan dirimu dari benda tajam yakni baca gerakan musuhmu. Saat si pria menghunus dari arah depan, maka Kyuhyun dengan gesit menghindarinya dari samping, memuntir pergelangan tangannya sekaligus mematahkannya, hingga orang itu kesakitan serta menjatuhkan pisau ke lantai. Suara jeritan pilu terlontar dari mulut si pria. Sepertinya, Kyuhyun berhasil mematahkan pergelangan tangannya kemudian melempar pisau ke atas tumpukan jerami di seberang ruangan. Ia menendang betis si pria yang tak berdaya, sebelum membanting tubuh besar itu ke lantai.

‘’Berhenti di situ, Kyuhyun-chan!!’’ Mako Mori berdiri gemetar dengan pistol yang siap di tembakkan ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun membalikkan badan, mendekati wanita cantik itu sambil melangkah pincang. Mata cokelatnya berapi-api, tanpa menggubris ucapan yang di serukan padanya.

‘’Kubilang, berhenti!!’’

‘’Tembak aku, Mako! Lampiaskan dendammu padaku!’’ Kyuhyun mendebat. ’’Harusnya aku tahu, bahwa kau dalang dari semua ini. Kau menyewa para bajingan itu untuk membunuhku, bukan? Lakukan sesuka hatimu sampai kau puas. Tapi, jangan pernah melibatkan orang lain dalam masalah kita. Aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya, Mako. Kau bukanlah seorang pembunuh berdarah dingin. Kau bahkan tak mahir menggunakan senjata api…’’

Benar… ujar Mako pada dirinya sendiri. Ia memang tak bisa menembak dengan baik. Bidikkannya melesat jauh ketika ia menembak kekasih Kyuhyun, beberapa saat yang lalu. Harusnya ia mengarahkan peluru ke jantung wanita itu, tapi entah kenapa, sasarannya terasa kurang pas. Mungkin juga akibat kegugupannya. Alih-alih bahu kiri wanita itu-lah yang menjadi sasaran pelurunya.

Mako menyeringai senang, ‘’Aku memang belum membunuhmu, Kyuhyun-chan. Tapi aku sudah membunuh wanita simpananmu…’’ Perkataannya sukses membuat ekspresi Kyuhyun tegang.

Tiba-tiba pria itu menerjang Mako begitu saja, membuat keduanya bergulingan di lantai yang dingin berdebu. Mako Mori menjerit kesakitan. Suara lengkingannya membahana memenuhi atmosfer tempat ini. Ia terentang di lantai sementara Kyuhyun terduduk di sampingnya, mengambil paksa pistol perak dari cengkeramannya. Kyuhyun mengikat kedua pergelangan tangan mako dengan seutas tambang yang barusan di temukannya di lantai—tambang yang sama untuk mengikat pergelangan tangan Ji Hye tanpa pria itu ketahui. Umpatan marah maupun makian kasar terus meluncur dari mulut wanita cantik ini, yang secara tak langsung, memaksa Kyuhyun menyumpal mulut Mako dengan sapu tangan yang di ambil dari saku celananya.

‘’Diamlah atau aku yang membunuhmu!! Sebentar lagi Polisi akan menangkapmu!’’ Ancam Kyuhyun.

Wajah cantik Mako langsung pucat pasi. Kedua mata yang berkaca-kaca terlihat ingin sekali menelan Kyuhyun hidup-hidup, tapi ia tak dapat berkutik apapun lagi sekarang.

Kyuhyun berdiri, mengedarkan pandangan. Ia langsung syok menenemukan sesosok wanita terbujur kaku di sudut kamar. Meski langkahnya terseok-seok dengan kesakitan yang mengujam seluruh tubuh, Kyuhyun tetap berjalan mendekati wanita itu. Rambut hitam panjangnya menyebar di lantai layaknya satin hitam yang terbentang, dengan piyama kotor bersimbah darah di bahu kirinya. Wanita itu adalah Lee Ji Hye.

Kyuhyun langsung mengenalinya lantas menjatuhkan kedua lutut di samping tubuh Ji Hye yang tak bergerak. Tatapan pilunya menjelajahi wajah yang selalu menyita pikirannya ini, tubuh yang selalu di dambanya setiap saat. Tidak mungkin Ji Hye mati, ia membatin.Telapak tangannya yang gemetar, menyentuh leher Ji Hye yang masih hangat, merasakan denyutan nadi yang lemah di sana. Lalu telunjuknya beralih ke lubang hidung Ji Hye, tersentak oleh kegembiraan saat tahu wanita ini masih bernapas. Ji Hye masih hidup. 

Kyuhyun meraup punggung Ji Hye dengan kedua lengannya, lalu memeluknya erat di dada. Ia tak kuasa menahan rasa sakit di hatinya yang mulai berdenyut. Melihat keadaan Ji Hye seperti ini, membuatnya di hantui ketakutan. Pria itu takut kehilangan Ji Hye. Ia tidak menginginkan kejadian menyakitkan karena kehilangan orang-orang yang paling di cintainya, terulang kembali. Itu takkan pernah terjadi. Tidak untuk saat ini…

‘’Morna, kumohon bertahanlah! Kau harus hidup untukku… Kau harus hidup untuk anak kita. Kau tidak boleh mati!! Aku tak akan pernah mengijinkanmu pergi meninggalkanku…’’ Kyuhyun berucap sepelan embusan angin di depan wajah Ji Hye yang pucat. Matanya yang berkaca-kaca memandang pedih wanita ini. ‘’Aku mencintaimu.’’ Ia berbisik lembut. ‘’Kau dengar morna? aku sangat mencintaimu melebihi nyawaku sendiri…’’ Kyuhyun mengguncang pelan tubuh Ji Hye dengan tubuhnya yang bergetar karena luapan emosi, hingga setetes air matanya jatuh begitu saja membasahi pipi wanita yang di peluknya.

Cho Kyuhyun menangisi Ji Hye…

Dia yang terkenal kejam tanpa berbelas kasih layaknya sang Iblis, kini terlihat begitu menyedihkan. Ia sangat menderita dengan segala kenyataan pahit yang terjadi di depan mata. Meskipun pria jelmaan Iblis ini takkan pernah bisa menjadi malaikat yang penuh kasih sayang. Meski juga alam semesta mengutuknya, namun Kyuhyun tetap bertekad—ia akan melakukan apa saja, sekalipun menukar jiwanya menembus neraka demi bersama wanita yang menjadi cinta sejatinya.

Cinta sang Iblis…

***

Pagi itu, para polisi mengepung seluruh penjuru rumah Kyuhyun serta menangkap Mako Mori beserta anak buahnya. Kyuhyun langsung membawa Ji Hye ke Rumah Sakit, bersama Kim ajhumma dan Tuan Park yang terluka, menggunakan mobil ambulance. Mereka di masukkan ke dalam ruangan IGD. Dokter terpaksa mengambil tindakan operasi pada Ji Hye dan Kyuhyun yang terkena tembak. Namun sepertinya keadaan wanita itu-lah yang paling parah. Ji Hye kehilangan banyak darah. Bahkan ia masih belum tersadar sejak selesai operasi. Di hari ke tiga, Ji Hye kembali sadar meski kondisi tubuhnya masih sangat lemah. Dokter yang memeriksanya mengatakan, bahwa luka bekas operasinya akan segera sembuh serta janin di dalam kandungannya dalam keadaan sehat, meski sedikit terguncang pada saat Ji Hye terjatuh dengan kuat.

Selama sepuluh hari penuh, Ji Hye di rawat intensif di Rumah Sakit bersama Kyuhyun yang selalu berada di sampingnya. Pria itu sangat setia menungguinya seolah tak ingin beranjak sedetikpun dari wanitanya. Meski sesekali jika ada rapat penting yang harus di hadirinya maupun bertemu relasi kelas kakap— dengan terpaksa Kyuhyun meninggalkan Ji Hye untuk sementara waktu. Tentunya masih dalam pengawasan orang-orang kepercayaannya.

Kyuhyun juga sangat sibuk pulang-pergi ke kantor polisi demi mengurus berkas pengaduannya. Ia tersenyum puas saat melihat Mako Mori dalam balutan baju tahanan polisi bersama rekan-rekannya, meringkuk di balik jeruji besi. Menurut penjelasan polisi yang menangani kasusnya, Mako Mori merupakan otak pelaku. Wanita itu yang memerintahkan orang-orang bayaran untuk menculik serta melakukan percobaan pembunuhan kepada Ji Hye, juga tindak kekerasan pada sang asisten rumah tangga.

Mungkin dulu Mako Mori adalah mantan tunangannya sekaligus wanita yang sangat di cintainya, namun kejadian yang menimpa Ji Hye, telah merubah segalanya. Kyuhyun tidak akan pernah mengampuni Mako Mori seumur hidupnya. Ia tetap melanjutkan kasus ini, sampai para pelaku kejahatan itu mendapatkan hukuman yang setimpal.

***

Setelah ber minggu-minggu sekembalinya dari Rumah Sakit, Ji Hye belum juga bertemu Kyuhyun. Menurut Kim ajhumma, pria itu sedang berada di luar negeri karena urusan pekerjaan. Dan Ji Hye menjalani masa penyembuhan tanpa kehadiran Kyuhyun di sampingnya. Wanita itu makan dan istirahat secara teratur. Beberapa hari sekali, dokter pribadi Kyuhyun, datang memeriksanya sekaligus memberitahukan tentang perkembangan kesehatannya. Ji Hye tak terlalu peduli dengan dirinya sendiri, yang terpenting baginya adalah kondisi nyawa mungil di dalam rahimnya.

Malam ini, Kim ajhumma membujuk Ji Hye agar memakai gaun malam berwarna putih yang nampak masih baru. Serta mengatakan bahwa sebentar lagi seorang supir akan menjemputnya untuk bepergian. Tentu saja Ji Hye sangat antusias mendengarnya. Sudah lama sekali ia tak pernah jalan-jalan menyaksikan keindahan Seoul di malam hari.

Setelah memakai gaun, Ji Hye berdiri di depan cermin memperhatikan penampilannya. Gaun putih yang terbuat dari sutera ini, terasa pas di badannya. Bentuknya sederhana namun elegan dengan bagian bawahnya yang menutupi sepatu, dengan taburan payet di seputaran dada yang terbuka—memamerkan tulang selangkanya yang mulus, dengan bekas luka di bahu kirinya yang seperti tanda lahir berbentuk bulat-kecil. Rambut hitam bergelombangnya-pun telah di gelung di atas tengkuk dengan beberapa jepitan serta sedikit semprotan hairspray. Ia memoles wajah dengan kosmetik seadanya, cukup natural namun tetap terlihat cantik.

Tak lama kemudian, Kim ajhumma menyuruh Ji Hye bergegas keluar dari kamar karena sang supir telah menunggu di halaman. Jantung wanita ini berdegup kencang sambil menebak,   apakah malam ini dirinya akan berkencan dengan Kyuhyun?

Wanita itu tersenyum geli membayangkan Kyuhyun dalam setelan jas formal, duduk menantinya di sebuah meja restoran mewah yang menyajikan banyak makanan lezat, berhiaskan lilin-lilin panjang di tengah meja, sambil menyodorkan sebuket mawar merah padanya, ‘’Kau sangat cantik malam ini, morna. Maukah kau menerima cintaku?’’

Tapi khayalannya mengabur seperti asap yang mengepul di angkasa, ketika mendapati sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir di depan rumah. Ji Hye memandang Kim ajhumma penuh tanya, tapi wanita paruh baya itu hanya tersenyum. Sambil membuka pintu penumpang untuk Ji Hye masuki, sang asisten rumah tangga berkata lembut, ‘’Nikmatilah malam indahmu, Ji Hye-ssi…’’

Ji Hye duduk bersandar di jok belakang setelah membanting pintu. Sang supir langsung menjalankan mobil keluar dari halaman rumah Kyuhyun, meluncur ke jalan raya yang di sesaki pengguna jalan. Wanita itu mengedarkan mata melihat pemandangan komplek perumahan yang mulai tertinggal jauh di belakang, di gantikan dengan gedung-gedung megah bermandikan cahaya lampu yang gemerlap. Sesekali matanya memperhatikan si supir yang sibuk berkonsentrasi mengemudi tanpa mau menyapanya lebih dulu.

Tak tahan dengan kebisuan ini, Ji Hye memutuskan bertanya, ‘’Kita akan ke mana?’’

‘’Ke suatu tempat, Nona.’’ Sang supir menjawab singkat.

Meski jawaban barusan masih meninggalkan rasa penasaran, tapi Ji Hye tak ingin bertanya apa-apa lagi. Baik Kim ajhumma maupun supir yang tengah membawanya entah ke mana—mereka semua kompak tak ingin memberitahukan yang sebenarnya. Rasanya, ia ingin berteriak kesal. Perjalanan ini terasa membosankan, namun ketika mobil yang di tumpanginya mengarah ke sebuah daerah yang di penuhi taman kota, Ji Hye mendadak bersemangat. Gedung-gedung pencakar langit maupun jalanan padat kendaraan telah tergantikan dengan beberapa bangunan sederhana yang mirip asrama. Wanita itu sampai harus menempelkan hidungnya pada kaca mobil, agar bisa melihat lebih jelas pemandangan di luar.

Mobil menikung ke sebuah gerbang bata yang tinggi dengan besi yang melengkung di kedua sisi. Ji Hye menatap penasaran bangunan yang berada di depan sana. Tak terlalu jelas karena gelap. Akan tetapi mobil yang di tumpanginya berhenti di pelatarannya. Sang supir keluar terburu-buru dari kursi kemudi, berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Ji Hye.

Ji Hye yang telah keluar dari mobil, terperangah takjub memandangi sekitarnya. Pelataran ini sangat luas berbentuk persegi, tapi hanya beberapa mobil saja yang terparkir. Menurutnya, tempat ini bukanlah sebuah restoran bintang lima maupun tempat kencan yang romantis. Bangunan di hadapannya menyerupai kastil, berukuran sangat besar dengan atap kerucutnya yang setinggi menara. Warna putih mendominasi setiap dindingnya, berhiaskan kaca-kaca patri bermotif mozaik yang memancarkan warna pelangi di setiap jendelanya. Tiang-tiang lampu berjejeran di sepanjang pelataran yang kanan kirinya di apit pepohonan pinus.

‘’Silakan masuk ke dalam, Nona!’’ Ucap sang supir, mengagetkannya.

Sapuan udara dingin menjalar di kulit dada serta punggung Ji Hye. Ia bergidik kemudian berjalan gugup menaiki anak tangga satu persatu. Sesekali kakinya yang gemetar, membentur ujung undakan. Namun wanita itu terus melangkah hingga mendekati pintu utama yang terbuka lebar.

Ji Hye berhenti di sana—mematung di ambang pintu Gereja. Mata hitamnya mengamati deretan kursi-kursi panjang yang di letakkan berbaris menghadap ke altar di kedua sisi yang berseberangan. Lampu kristalnya menyerupai bunga tulip tergantung indah di tengah langit-langit ruangan. Aroma sejuk angin malam membelai pipinya, menelusup ke dalam paru-parunya, membuncahkan perasaan bahagia yang meletup di dalam dada. Ji Hye membelalak kaget ketika melihat seorang pria dalam balutan setelan jas hitam, berdiri di altar membelakanginya. Ia hanya dapat memasati punggung tegap itu dari kejauhan, menduga-duga siapa gerangan.

Ia hampir berteriak histeris tatkala sebuah nama melintasi benaknya, namun di urungkan niatnya itu, manakala pandangannya menangkap sosok Pastur di tengah altar. Ji Hye berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam Gereja. Bunyi hentakan sepatunya di lantai pualam, langsung bergema. Pria di altar itu menoleh kearahnya melayangkan seulas senyuman, namun Ji Hye yang sibuk menarik sisi gaun sebatas mata kaki, tak memperhatikannya. Ketika wanita itu mengangkat pandangannya lurus ke depan, pria di altar kembali pada posisi semula, tersenyum penuh arti kepada Pastur yang berdiri di hadapannya.

Akhirnya Ji Hye sampai di altar sambil terengah-engah. Ia menghirup oksigen lebih banyak dari biasanya dan tersenyum kikuk pada Pastur yang membalas senyumannya. Wanita ini  mengatur napas serileks mungkin, meskipun jantungnya sedang berdansa di dalam dada. Ia mengumpulkan segenap keberanian, menyampingkan posisi tubuh untuk melihat lebih jelas pria yang berdiri di sisinya. ‘’Bisakah kau jelaskan padaku, Kyuhyun-a, apa yang sebenarnya  terjadi di sini?’’ Ji Hye bertanya pelan meski kedua matanya mendelik tajam.

Kyuhyun menoleh sambil menyeringai puas. Pria itu terlihat luar biasa tampan malam ini dalam balutan Tuxedo yang sangat pantas di kenakannya. Mata cokelatnya berbinar jernih memantulkan sinar lampu sambil menjawab dengan tenang, ‘’Kita akan menikah, morna…’’

Ji Hye ternganga. Haruskah ia pingsan di sini akibat serangan jantung mendadak? Tapi respon tubuhnya berkata lain. Ia menatap Kyuhyun tak percaya. Pria itu mengulurkan tangan kanannya menarik pelan salah satu lengan Ji Hye yang sedingin danau beku. Membisikkan perkataannya agar tak terdengar oleh Pastur. ‘’Ada apa, sayangku?’’

‘’K-kkau—’’Ji Hye tergagap, tak mampu lagi membendung emosinya, ‘’apakah kau bercanda dengan semua ini? kau… tidak pernah melamarku sebelumnya. Kau juga tak pernah mengungkapkan perasaanmu padaku…’’ Ji Hye tahu kedua matanya mulai panas dan sebentar lagi, air mata sialan ini akan membuatnya malu di hadapan Kyuhyun juga Pastur. 

Kyuhyun meremas pelan tangan Ji Hye.‘’Aku merahasiakan semuanya karena ingin memberimu kejutan, morna. Aku siap untuk menikahimu, sekarang. Kalau kau tak bersedia menikah denganku, kau boleh meninggalkan tempat ini?’’ Mata Kyuhyun mengunci Ji Hye dengan keseriusannya. Kini, tak ada lagi senyuman mengejek atau kerlingan nakal yang biasa di layangkannya. Yang tersisa hanya kesungguhan.

Wanita itu tertegun. Rona merah menyebar di kedua pipinya. Dengan napas tersendat, dirinya ingin sekali menjawab ‘iya’, akan tetapi bibirnya kelu. Air mata bahagia jatuh berlinang di kedua pipinya yang tembam. Wanita ini hanya mengangguk setuju sambil menghapus air mata dengan jemarinya. Kyuhyun tersenyum penuh arti, melepas lengan Ji Hye. Mereka berdua kembali menghadap Pastur yang sedari tadi telah menunggu dengan sabar.

‘’Bisakah pernikahannya di mulai, sekarang?’’ Tanya sang Pastur kepada Kyuhyun dan Ji Hye yang di jawab ‘’ya’’ secara bersamaan oleh keduanya.

Dalam beberapa menit berikutnya, sang Pastur mengucapkan kalimat-kalimat suci. Janji pernikahan antara Cho Kyuhyun dan Lee Ji Hye di hadapan Tuhan. Sumpah yang mengikat keduanya sampai akhir hayat sebagai suami istri yang sah.

***

‘’Aku tak percaya tentang kejadian semalam.’’ Ji Hye berkata sambil memperhatikan pepohonan yang berderet rapi layaknya tentara berbaris— di seberang pembatas jalan dari kaca samping mobil. ‘’Rasanya seperti mimpi. Menikah tanpa saksi ataupun persetujuan dari orang tuaku. Statusku langsung berubah dari wanita bebas menjadi seorang istri. Bukan hanya itu, pria yang menjadi suamiku, mengabaikanku di malam pengantin kami. Dia seenaknya saja tidur, setibanya di kamar karena kelelahan. Jadi, bila ada yang bertanya bagaimana malam pengantinku? Aku akan menjawab, pengalamanku sangat buruk. Tidak ada suasana romantis kurasakan.’’ Ji Hye mengomel terus sepanjang sisa perjalanan pagi ini, sambil melirik kesal suaminya.

Kyuhyun yang sedang mengemudi, hanya mengangkat bahu-acuh. Melempar senyum jahil pada istrinya. ‘’Menikah tanpa saksi? Bolehkah aku meralatnya, morna? Aku sangat yakin kalau mendiang orang tua kandungku serta orang tua angkatku menyaksikan pernikahan kita dari surga beserta para malaikat juga. Sepertinya kau benar-benar marah padaku, ya?Apakah karena momennya di malam pengantin, jadi kau ingin kita melakukan sesuatu yang berkesan? Meskipun kita sudah sering melakukannya.’’ Tanyanya sambil menggoda, menatap Ji Hye yang berubah cemberut.

Kini, pasangan pengantin baru itu sedang menempuh perjalanan ke Daegu. Setelah semalam menjalani pemberkatan pernikahan, mereka langsung kembali ke kediaman Kyuhyun. Pria itu mengakui, bahwa ide pernikahan terlintas begitu saja di benaknya, beberapa jam sebelum menaiki pesawat yang membawanya pulang ke Seoul. Kyuhyun tak mau menjelaskan secara rinci saat Ji Hye bertanya apa alasannya menikah, hanya saja pria itu menginginkan sebuah status yang mengikat di antara mereka, walau di dalam hatinya Kyuhyun ingin sekali mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya.

Pria itu bercerita, bahwa ia memilih lokasi pernikahan yang dekat dengan Bandara, menginstruksikan pada sekretaris pribadinya untuk membeli gaun pengantin, agar langsung dikenakan Ji Hye. Pada awalnya, Kyuhyun sempat terkejut tatkala melihat mempelai wanitanya berdiri di depan pintu Gereja dengan mengenakan gaun malam yang mirip gaun pengantin. Ia tertawa di dalam hati. Membayangkan bagaimana sekretarisnya itu, kebingungan dalam memilih busana pengantin, sekalipun membelinya di sebuah butik ternama di kota Seoul. Namun siapa sangka, tatapan Kyuhyun tak beralih sedikitpun dari penampilan calon istrinya. Walaupun Ji Hye hanya mengenakan gaun malam dengan bagian dada yang cukup terbuka—baginya, Ji Hye terlihat lebih memukau dan sangat cantik. Karena belum pernah dirinya melihat wanita itu berdandan secara formal seperti semalam.

Sekarang, mobil mereka tengah melintasi jalanan di sepanjang perbatasan kota Daegu. Perbukitan yang mengapit di kanan-kiri jalan di penuhi barisan pepohonan hijau yang rimbun. Jalanan terjal yang sedari tadi di lalui, menawarkan sensasi menukik tajam serta tanjakan curam. Ji Hye merasakan mual hebat melanda perutnya. Wanita ini memuntahkan semua isi perut ke dalam kantong plastik yang di genggamnya, berkata pedas pada Kyuhyun agar pria itu memperlambat laju mobil.

Jalan raya mulai di sesaki kendaraan roda empat yang berseliweran. Beberapa perkantoran serta pertokoan yang menghiasi setiap sudut kota Daegu, seolah menunjukkan aktifitasnya. Ketika mobil mereka melewati perempatan traffic light , Ji Hye merasakan de javu sesaat. Ia memperhatikan tepi trotoar di luar sana, sebuah taman kecil dengan beberapa bangku panjang. Tempat ini terasa familier menurutnya. Ingatannya kembali pada malam sunyi sewaktu ia di usir dari rumah orang tuanya lalu duduk sendirian di bangku itu. Tak lama kemudian, Kyuhyun menemukannya dan membawanya kembali ke Seoul.

Ji Hye menoleh ke arah Kyuhyun yang kebetulan meliriknya, lalu bertanya, ‘’Apakah kau ingat taman itu? dulu kau menemukanku di sini saat aku kabur dari rumahmu. Tapi anehnya semenjak saat itu, aku masih bertanya-tanya, bagaimana caranya sampai kau mengetahui keberadaanku di Daegu? Apakah kau meletakkan alat pelacak di tasku? Atau kau menyuruh orang menguntitku?’’

Kyuhyun tertawa mendengar pertanyaan konyol Ji Hye. Ia menggelengkan kepala tak habis pikir. ‘’Tentu saja Kim ajhumma yang mengadukannya padaku kalau kau meminta bantuannya untuk kabur ke Daegu.’’ Kyuhyun berujar pelan. ‘’Jujur saja, morna, aku takut tak bisa bertemu lagi denganmu. Daegu adalah salah satu kota metropolitan di negara kita, setelah Seoul. Mencarimu di sini, sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Tapi aku tetap berusaha. Seandainya saja kau mengetahui betapa paniknya aku, malam itu. Aku terpaksa meminta mobilku dari Tuan Park untuk kukendarai. Awalnya sekretarisku terkejut saat aku bilang akan ke Daegu seorang diri, padahal ia tahu medan jalanan ke kota ini seperti kerak neraka. Tuan Park tak ingin aku mengalami kecelakaan lagi. Karena ia tahu aku memiliki dampak trauma saat melihat jurang yang menganga di sekitar pembatas jalan, seolah mereka siap menelanku sekaligus mencabik tubuhku setiap waktu. Namun aku berhasil meyakinkannya, bahwa seagala ketakutanku tak beralasan. Aku hanya takut sesuatu yang buruk menimpamu. ’’

‘’Jadi… itukah alasan mengapa kau tak pernah mengemudikan mobil?’’ Ji Hye bertanya penuh selidik, yang di balas anggukan oleh suaminya.

Mobil mereka memutar arah dari jalan raya yang ramai berbelok ke sebuah jalanan lengang yang tak terlalu lebar. Tempat ini nampak seperti desa modern dengan beberapa rumah sederhana yang berdiri kokoh. Ji Hye tahu sebentar lagi, mereka akan sampai di kediaman orang tuanya, saat tatapan cemasnya menangkap sebuah rumah sederhana yang pagar kayunya terbuka lebar. Tak ada pepohonan di halaman depannya, hanya sebuah mobil yang terparkir—memblokir jalan masuk. Jantung Ji Hye berdebar kencang. Seolah tak sabar menunggu, ia meminta Kyuhyun untuk berhenti tepat di belakang mobil itu.

Keheningan melanda seisi mobil. Ji Hye menatap suaminya yang bergeming. ‘’Ada apa?’’ Wanita itu bertanya lembut.

Kyuhyun menghela napas panjang sambil membuka sabuk pengamannya juga sabuk pengaman istrinya. Sementara jemarinya bekerja, ia malah bertanya, ‘’Apakah kau akan mengenalkanku pada keluargamu, kalau aku adalah suamimu?’’ 

Ji Hye menjangkau lengan suaminya, memberikan remasan lembut yang menenangkan serta tatapan hangat yang meyakinkan pria ini bahwa semuanya akan baik-baik saja, ‘’Tentu, sayangku. Kita harus mengabarkan berita bahagia ini kepada orang tuaku. Aku juga ingin meminta maaf atas kesalahanku pada mereka. Tak ada yang perlu di khawatirkan, sekarang. Kita sudah menikah. Bahkan, sekretarismu pasti sedang sibuk pagi ini untuk mendaftarkan pernikahan kita, ya kan?’’

Kyuhyun tersenyum memandang wajah istrinya. Memang benar, mereka telah menjadi suami istri yang sah. Apalagi yang perlu di takutkan?

Perlahan, pria itu mencondongkan tubuh lebih dekat ke arah Ji Hye. Kedua tangannya memegang rahang wanita itu yang sehalus kelopak mawar, kemudian mencium bibirnya dengan sangat lembut. Menyesap aroma manis yang memabukkan, hingga membuat napas Kyuhyun memburu, terhanyut dalam sensasi yang menggetarkan gairah. Puas menyalurkan hasratnya, Kyuhyun menjauhi wajah Ji Hye, menatapnya intens. ’’Apakah kita akan tetap di sini, melanjutkan malam pengantin yang tertunda? Atau kau ingin mengenalkanku sebagai menantu appa dan eommamu?’’

‘’Ya. Kita harus masuk dalam rumah. Karena hari masih pagi, kemungkinan semua anggota keluargaku masih berada di meja sarapan. Ayo!’’ Ji Hye mengatakannya dengan antusias sambil bergegas keluar dari mobil, di ikuti Kyuhyun.

Mereka bergandengan tangan menyeberangi halaman berumput menuju pintu utama yang masih tertutup, kemudian berhenti di sana. Telapak tangan Kyuhyun meremas jemari Ji Hye lebih kuat. Bukan karena hawa pagi yang terasa menggigil, akan tetapi ia gugup menghadapi reaksi keluarga istrinya. Ji Hye menghirup napas sebentar, memberanikan diri mengetuk daun pintu dengan buku-buku jarinya. Tanpa menunggu lama, terdengarlah suara seseorang menyahut dari dalam rumah, di sertai daun pintu yang bergetar-mengayun terbuka.

Sesosok pemuda berperawakan tinggi, berwajah tampan berdiri dengan tatapan syok melihat kedua tamunya. Tiba-tiba saja, kebisuan melanda mereka bertiga yang berdiri saling berhadapan. Ji Hye mencoba tersenyum, namun hatinya menciut manakala menatap wajah adik lelakinya yang balas menatap tajam padanya. Jonghyun menyiratkan ekspersi ketidaksukaannya secara terang-terangan kepada Nunanya. Seolah-olah Ji Hye merupakan terdakwa yang seharusnya di jatuhi hukuman terlebih dahulu sebelum mendatangi rumah ini.

‘’Jonghyun…’’ Sapa Ji Hye lirih.

Jonghyun mematung. Mata hitamnya bergerak memasati Ji Hye juga Kyuhyun, secara bergantian. Memendam lebih banyak pertanyaan di benaknya. ‘’Untuk apa kau datang lagi ke sini? Bukankah aku sudah mengusirmu?’’ Tanyanya pedas pada Ji Hye, mengabaikan sorot tak terima dari pria yang berdiri di sebelah Nunanya.

Ji Hye berusaha tersenyum lagi, meski tahu bila senyumannya tampak menyedihkan, ‘’Jonghyun-a… apakah appa dan eomma ada di dalam? Aku datang bersama suamiku untuk menemui mereka…’’

Pernyataan Ji Hye barusan membuat Jonghyun terkejut. Pemuda itu meneliti penampilan Kyuhyun dari ujung rambut hingga ujung kaki. Detik berikutnya, Jonghyun membalikkan badan- berjalan memasuki rumah, meninggalkan tamunya di ambang pintu.

‘’Maafkan adikku! Hubungan kami memang sudah tak harmonis lagi.’’Wanita itu melirik Kyuhyun dengan memelas, beralih masuk ke dalam rumah di susul Kyuhyun yang berjalan pelan di belakangnya.

Mereka melewati ruang tamu yang lumayan luas. Mata Kyuhyun menjelajahi setiap sudut rumah. Satu set sofa bercorak kecokelatan di letakkan di tengah ruangan yang mengelilingi meja kaca persegi. Nampak juga beberapa foto keluarga tergantung menghiasi dinding ber nuansa putih itu. Keduanya memasuki sebuah ruangan yang lebih kecil dari ruangan yang tadi di lewati. Aroma seduhan kopi hangat berpadu roti panggang yang lezat tercium di udara. Di sana Kyuhyun serta Ji Hye menghentikan langkah, menatap cemas ketiga orang yang sedang duduk di kursi meja makan.

Seorang pria paruh baya yang duduk paling tengah perlahan menggeser kursinya, berdiri. Rambutnya telah di penuhi uban yang merata, bertubuh gemuk dan tak terlalu tinggi. Ia mengenakan pakaian rapi. Kedua matanya yang mulai berkaca-kaca, menatap sendu Ji Hye. Begitupun dengan wanita paruh baya-gemuk yang masih duduk di sampingnya. Rambut bergelombangnya di potong sebatas telinga dengan beberapa uban yang mulai nampak, mengenakan gaun rumah berwarna lembut yang di padu dengan celemek. Wanita paruh baya itu juga langsung berdiri dengan sepasang mata hitamnya yang memerah, bersama isakan lirih yang parau.

Mereka adalah Tuan dan Nyonya Lee, orang tua kandung Ji Hye. 

Mata Ji Hye terbakar oleh kerinduan yang berapi-api. Dua tahun lamanya mereka tidak berjumpa. Dan, sekarang ia ingin memeluk kedua orang tuanya, serta berlutut memohon maaf. Kaki Ji Hye maju beberapa langkah dengan sangat pelan, seolah menyeret bongkahan batu besar. Dalam benaknya-pun turut meneriakkan kalimat ‘jangan menangis’ berulang kali, agar ia terlihat lebih tegar.

Tuan dan Nyonya Lee berjalan mengitari meja makan, mendatangi Ji Hye yang membeku di tengah-tengah ruangan. Kemudian berhenti di hadapan putri kesayangan mereka tanpa berkata apa-apa.

Air mata Ji Hye tumpah tanpa bisa di cegah, melawan perintah otaknya begitu saja. ‘’Appa… Eomma… aku sangat merindukan kalian.’’ Ia berkata setenang mungkin dalam suasana canggung yang menguasainya, ‘’A-aku datang untuk meminta maaf…’’ Ujarnya gugup, melirik sekilas sosok Kyuhyun yang maju mendekatinya. ‘’…bersama suamiku, Cho Kyuhyun…’’

‘’Kau pasti berbohong?’’ Tanya Tuan Lee sembari menyipitkan mata, sedikit terperangah dengan lelucon putrinya.

‘’Tidak, Appa. Kami memang telah menikah di Gereja dan mendaftarkan pernikahan di Seoul.’’ Ji Hye menjawab tenang.

Namun, peristiwa selanjutnya terjadi di luar prediksi Kyuhyun maupun Ji Hye. Tuan Lee yang berjarak paling dekat dengannya, secara mengejutkan melayangkan tamparan keras yang mendarat di pipi kanan putrinya. Mengakibatkan Ji Hye terhuyung jatuh ke belakang dengan Kyuhyun yang menangkap punggungnya. Ji Hye tak menyangka akan seperti ini reaksi ayahnya yang membuatnya luar biasa sedih. Rasa panas bercampur perih seakan mengelupasi kulit pipinya. Hatinya sangat sakit bagaikan di lilit kawat berduri.  Ia terisak di dalam pelukan Kyuhyun yang membisu sedari tadi.

‘’Akhirnya kau kembali juga setelah dua tahun menghilang—’’ Tuan Lee menaikkan suaranya, sambil berkacak pinggang. Matanya memelototi Ji Hye dan Kyuhyun, bergantian. ‘’Kemana saja kau selama ini, hah? apakah kau masih menganggap kami orang tuamu? Apakah kau masih ingat bagaimana jalan untuk pulang ke rumah? Kemana rasa bhaktimu sebagai seorang anak, Hye-ya? Kau tak tahu betapa khawatirnya kami mencarimu ke mana-mana. Kau… adalah anak perempuanku satu-satunya. Penerus usaha keluarga kita, seandainya aku dan ibumu telah tiada. Aku tak menyangka kau hanya mementingkan keegoisanmu semata. Kau berani menentangku demi naskah sialan itu, lalu memilih kabur dari rumah.’’ Tuan Lee terdiam sesaat. Pria paruh baya itu beralih menatap Kyuhyun,’’ Atau jangan-jangan, ada seseorang yang telah meracuni otakmu?’’

Ji Hye menggeleng lemah.

‘’JAWAB AKU,  JI HYE-YA??’’ Suara Tuan Lee menggelegar-memenuhi udara. Amarah menguasainya, menatap nyalang Ji Hye yang meringkuk terisak di pelukan Kyuhyun.

‘’Abeonim… maaf sa—‘’

‘’Diamlah!’’ Tuan Lee memotong ucapan Kyuhyun. ‘’Kau tidak di terima di rumah ini! berani-beraninya kau menikahi putriku tanpa seizin dariku.’’ Pria paruh baya itu mendelik tajam pada Kyuhyun, lalu pandangannya kembali pada putrinya,’’ Aku tidak akan pernah mengakui pernikahan kalian! Bahkan aku tak sudi lagi menganggapmu sebagai anakku, Hye-ya, jika kau tetap bersikeras memilih dia atau naskah terkutukmu itu. Jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini! Anggap saja kami sudah mati!’’

Ji Hye menatap ayahnya dengan sorot terluka. Bibirnya ternganga tak percaya.

Nyonya Lee menangis tanpa bersuara, dengan Jonghyun yang memapah tubuhnya. Kali ini,  Tuan Lee menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Kemudian berkata jauh lebih tenang, seakan telah menguasai emosinya. ‘’Sejujurnya, aku sangat bahagia melihatmu kembali dalam keadaan sehat, Hye-ya. Kita akan berkumpul lagi seperti dulu…’’

Ji Hye melepas rangkulan Kyuhyun. Ia mengusap air mata dengan punggung tangannya dan kembali menatap ayahnya dengan raut penuh penyesalan. ‘’Aku mohon maaf, Appa! Aku berjanji tak akan membantah lagi. Mulai saat ini, aku akan mematuhi semua nasehat Appa dan Eomma.’’

Tuan Lee menatap sedih putrinya. Ia juga menatap Kyuhyun yang mengatupkan rahang, kuat-kuat. ‘’Apakah kau sungguh-sunggguh dengan ucapanmu, nak?’’Tuan Lee menyanyai Ji Hye, lebih lembut. Dan di balas anggukan mantap oleh putrinya yang seketika membuat hati pria paruh baya itu membuncah bahagia.

‘’Kalau memang benar kau memilih kami, tentu harus ada konsekuensinya anakku.’’Tuan Lee berucap datar. Tangannya menunjuk ke arah Kyuhyun yang menegang di samping putrinya.’’Tinggalkan dia!’’

To be continued…

130 thoughts on “The Devil’s Love Part 11

  1. Gak tau kenapa pas tau kyuhyun itu siapa aku udah bisa nebak alur ceritanya akan seperti apa dan udah aku duga ceritanya akan seperti ini 😊
    Semangat buat ngetiknya authornim ditunggu secepatnya nih next chapternya , ff nya keren ko thor 😊 Cuma ff author yg pas dari part awal dibikin bingung sama dibikin penasaran 😁

    Suka

  2. Deg degan pas jihye ditembak mako mori
    Bahagia pas jihye & kyuhyun menikah
    Eh, sedih pas bapaknya jihye suruh jihye tinggalin kyuhyun

    Akhirnya lanjut juga ff nya..😧
    Semangat author!!💪

    Suka

  3. dohhhh.. niat nunggu ending tapi apa daya.. knpa ga direstuin?aku rada lupa sih sama yg sbelumnya. kalau ga salah kyu nya itu gasuka jihye hamil kan yah. duhlahhh luphaaaa.. harus baca dlu kali nihyah. oklah. cpet dilnjut ka. semangat

    Suka

  4. Nunggu ff ini udh kaya nunggu balsn doi,, lama bngt… tpi suka,,, authornya,,, bisa bikin orng gemes dan penasaran, tentunya bikin kita nunggu² kejadian selanjutnya…. keep spirit thorrrrr 🙂 i know you’ll be better again.

    Suka

  5. Huwaa eonni kenapa part 12nya gak dilanjut2? 😦 padahal udah kangen bagaimana cerita selanjutnya tentang keputusan ji hye tentang meninggalkankyuhyun atau bertahan di sisi kyuhyun 😥 ditunggu banget eonni jebal :-* semangat ❤

    Suka

  6. kangen banget sama ff ini dan umane ini :’)… Akhirnya aku bisa sempat/? balik ke salah satu wp fav aku hehe. jd curhat nih…. Baru aja senang, terharu sama usaha kyuhyun yg bikin melted eh malah appa jihye minta mereka pisah. Gimna kalo mereka tau kalo jihye udh hamil? pasti bakal lebih rumit dari ini. Aku paham kali diposisi jihye, hanya bedanya mungkin gaada tentangan yg kaya jihye lakukan… Sempat kaget sama mako yg jahat tp syukur udh berea deh sama dia… Keep write authornim 🙂

    Suka

  7. Pffftt, lagi seneng senengnya abis married dan udah bebas dari mantan tunangannya kyu, sekarang muncul masalah lagi heuheu 😞
    Banyak amat cobaan buat ji hye sama kyu, i hope happy ending thor not sad ending okay? Kalo sad ending tenggelamkan saja kekasih hayati drawa rawa (?) Wkwk
    Serius kalo sad ending bakalan baper maksimal ini dah, sudah mupon 😣
    Keep writing thor, always can’t wait for this ff ya 😍😘😳😚

    Suka

  8. wayoloh kyuhyun dimarahi kan sama appa nya jihye…lagian sih nikahin ank orang gk izin orang tua nya.tapi ko appa nya jihye jahat sihhh masa baru nikah udah di suruh pisah jahat ihhhhh nyebelin.sabar ya unnie jihye tetep pertahanin kyuhyun jangan lepas dy.fightink unnie….
    ff nya makin keren author nya daeeebak…tapi kenapa update nya lama thorrr bete nunggu nya.tapi aku tingguin next nya jan lama” ya thor..MANGATTTTT

    Suka

  9. Ya ampuunnn.. baru juga nikah udahada masalah lagi.. Appanta jihye kejam amat ya.. apa gak bisa langsung nerima putrinya tanpa ada konsekuensi? Apa ya yang bakal jihye pilih? Apa dia bakal ninggalin kyu?

    Aku paling suka bagian kyu yang ngungkapin perasaannya buat jihye -walaupun jihye gak tau- so sweet😘😍😍😍
    Ditunggu lanjutannya.. Fighthing😊

    Suka

  10. satu masalah selesai datang lagi masalahnya ,
    ayah jihye kejam amat gak kasih kesempatan kyuhyun buat ngomong tp langsung nolak aja padahal mereka udh nikah ,haduhhhhh sabar kyu….

    Suka

  11. Jiaah….napa juga appanya ji hye pake nolak kyuhyun segala, nyuruh ninggalin kyuhyun juga…
    Klo dia tau saat ini Ji hye hamil anak Kyuhyun, apa dia masih nyuruh ji hye buat ninggalin kyuhyun??

    Suka

  12. NB : tanda baca sama dengan (=) itu artinya sebenarnya / seharusnya.

    Seharusnya kata sambung ku, di/ke (selain menunjukkan tempat), nya, mu, kan, dll itu digabung dengan kata inti. Exp : milik(kata inti) nya(kata sambung). Jadi, miliknya. Gitu.

    Di ketuk = diketuk (tidak menunjukkan tempat). Di buka = dibuka. Di putar = diputar. Di sertai = disertai. Di tarik = ditarik. Di kejutkan = dikejutkan. Di duga = diduga. Di acungkan = diacungkan. Di makan = dimakan. Di sesaki = disesaki. Di lakukannya = dilakukannya. Di bawa-bawa = dibawa-bawa. Di bebaskan = dibebaskan. Di terima = diterima. Di lepaskan = dilepaskan. Di mengerti = dimengerti. Di bilang = dibilang. Di lihatnya = dilihatnya. Di yakininya = diyakininya. Di jumpai = dijumpai. Di rasakan = dirasakan. Di landa = dilanda. Di butakan = = dibutakan. Di sembunyikannya = disembunyikannya. Di tunjukkan = ditunjukkan. Di alaminya = dialaminya. Di nyatakan = dinyatakan. Di sadari = disadari. Di ceritakan = diceritakan. Di layangkannya = dilayangkannya. Di pastikan = dipastikan. Di rusaknya = dirusaknya. Di karangnya = dikarangnya. Di tumbuhi = ditumbuhi. Di hantamnya = dihantamnya. Di tujukan = ditujukan. Di ragukan = diragukan. Di renggut = direnggut. Di kasihinya = dikasihinya. Di gantikan = digantikan. Di maksud = dimaksud. Di serukan = diserukan. Di dambanya = didambanya. Di hantui = dihantui. Di cintainya = dicintainya. Di peluknya = dipeluknya. Di masukkan = dimasukkan. Di rawat = dirawat. Di hadirinya = dihadirinya.

    Berdua-lah = berdualah. Ber cat = bercat. Wajahmu-lah = wajahmulah. Cantik-lah = cantiklah. Sex-nya = seksnya. Itu-lah = itulah. Syok-nya = syoknya. Lari-lah = larilah. Ari-nya = arinya. Naas-nya = naasnya. Ber minggu-minggu = berminggu-minggu. Di gelung = digelung. Di sesaki = disesaki. Di gantikan = digantikan. Di apit = diapit. Di urungkan = diurungkan. Di kenakannya = dikenakannya. Di layangkannya = dilayangkannya. Di penuhi = dipenuhi. Di lalui = dilalui. Di balas = dibalas. Di khawatirkan = dikhawatirkan. Di sertai = disertai. Di jatuhi = dijatuhi. Di susul = disusul. Di lewati = dilewati. Di penuhi = dipenuhi. Di potong = dipotong. Di padu = dipadu. Di cegah = dicegah. Di lilit = dililit. Di terima = diterima.

    Barusan = baru saja. Dialeg = dialek. Cuma = hanya. Napsu = nafsu. Mengujam = menghujam. Familier = familiar. Ber nuansa = bernuansa.

    Kalo salah satu nulis nama dengan Kyuhun, misalnya. Berarti nama yang lain juga harus ditulis seperti itu. Exp : Na ra = Nara. Gitu. Pahamkan?

    Setelah tanda baca itu ada spasi ya. Exp : apa? Ya, lalalala. Dst.

    Seharusnya dalam satu paragraf itu ada 3 sampai 7 kalimat. Tanda berakhirnya sebuah kalimat itu ya tanda titik (.). Coba baca ulang salah satu paragraf. Satu tarikan nafas untuk satu kalimat dan nggak boleh tarik nafas lagi kalo belum nemuin tanda baca titik (.).
    Terus lebih perhatikan penggunaan tanda baca lainnya seperti, koma (,), tanda tanya (?), tanda kutip (“), dll. Besar kecilnya huruf juga penting banget.

    Hayoooo udah part 11 tapi kok salahnya masih banyak? Belajar lagi yaaa.
    Typo jangan dipelihara.
    Keep writing!!!

    Suka

  13. pagiii eonni 🙂 eonni masih inget gk sama aku? hhi yg kemarin2 sempat beberapa x balas komentar nanyain wp pribadi hhe oh iya eonni punya email or udah punya wpnya? boleh minta gk? kalo gk keberatan eonni bisa kirim ke email aku aja hhe dianpark781@gmail.com ditunggu dan makasih 🙂

    Suka

  14. apess..
    ujian cinta..
    halah haha it’s been a long time since the last post, isn’t it?
    Kenapa appa ga setuju? jangan jangan udah tau kalo Kyuhyun Raja Dunia Malam dari Mako Mori. Tau kalo Ji Hye sama Kyuhyun yang kejam selama ini dari Mako? Atau ada satu kejadian dulu yang membekas?
    well, find in the next chap.
    terima kasih author untuk ceritanya..

    Suka

  15. Giliran masalah teror menerornya selese muncul lagi masalah keluarganya Ji Hye. Kenapa juga si bapak nyuruh anaknya buat ninggalin Ji Hye? Mereka baru aja menikah terus Ji Hye kan lgi hamil, klo keluarga Ji Hye tau dia hamil mungkin bapanya bsa lebih murka dari ini. Sbnernya penasaran knp bapanya Ji Hye langsung aja ngga suka ama Kyuhyun, apa jangan2 dia tau keburukan Kyuhyun?? Semangat lanjutin authoor 😀

    Suka

  16. Kwkw..
    Hidup ada karma dan berlaku pada siapa aja termasuk kyuhyun 😅
    Saatnya pembuktian cinta seorang cho kyuhyun pada hye ji, ayo semangat tuan cho 😂
    Seorang cho kyuhyun tak berkutik dengan tuan lee suka suka 😍
    Sepertinya next part bakal lebih seru..!!
    Waiting……….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s