Manyeo Part 11 END


picsart_01-17-08-02-13

 

Manyeo part 11 (End)

Author ; shimaeri

Title; MANYEO

Category; Romance , Chapter

Cast; Cho Kyu Hyun  , Shin Yun Na (OC) , other cast.

Art by : jesse

Previous story.

 

 

Kyu Hyun membuka pintu kamarnya dan berjalan masuk. Dia berhenti di tengah tengah kamarnya. Melihat kesekeliling. Apa Kyu Hyun menyadarinya ? Jika beberapa menit yang lalu kamarnya di masuki oleh seorang pria. Kamarnya terlihat rapi dan tak terlihat pria berbaju hitam tadi. Kemana pria itu? Apa dia bersembunyi?

 

Kyu Hyun terdiam merasakan sebuah keganjilan. Ada yang aneh itu yang terpikir oleh Kyu Hyun. Dia menoleh mengamati setiap sudut kamarnya ketika matanya melewati kaca jendela besar penghubung kamarnya dengan balkon dia merasakan ada yang aneh . Kyu Hyun menoleh dengan cepat kearah kaca jendela besar itu.Terlihat sebuah bayangan seseorang disana. Membuat Kyu Hyun memincingkan matanya curiga. Dia berjalan perlahan ke arah kaca itu. Dan dengan cepat membuka kaca jendela itu.

Brakk..

 

 

Manyeo part 11

 

Suara pintu kaca yang terbuka dengan cepat. Dan Kyu Hyun melihat sudut balkon yang dekat kaca. Tempat dimana bayangan seseorang terlihat olehnya. Disana hanya ada jaket baju Kyu Hyun yang tergantung di dahan pohon kecil yang memang diletakkan di pojok balkon. Kyu Hyun terdiam dan bernafas lega. Ternyata firasat nya salah. Kyu Hyun berjalan pelan mengambil jaketnya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.

 

Jika di balkon itu tak ada. Lalu dimana pria berbaju hitam suruhan Hyo Rin tadi. Ternyata dia tengah bergelantungan di balkon Kyu Hyun. Dan dengan gerakkan cepat dia turun ke bawah. Jatuh tepat di balkon kamar yang ada di bawah balkon kamar Kyu Hyun. Dia bernafas lega karena aksi menyusupnya sama sekali tak terungkap. Dan dengan terburu buru dia masuk kedalam apartemen orang lain yang sama sekali dia tidak tau. Dan berjalan keluar.

 

***

 

Kyu Hyun pov.

 

Sebuah pergerakkan di depan dadaku membuat aku tersadar dari tidurku. Aku tersenyum kecil merasakan pergerakan yeoja yang ada di pelukanku. Sejak Yun Na memperbolehkanku untuk tidur di kamarnya sejak itu pula aku selalu tidur di ranjang yang sama dengannya setiap malam. Tidur memeluk erat tubuhnya memberikannya kehangatanku. Dan sejak aku tidur dengannya aku merasa kualitas tidurku meningkat. Aku tak pernah tidur dengan sangat nyenyak. Ya walau terkadang dia membangunkanku dengan gerakkan gelisahnya dimalam hari. Tapi aku selalu senang memeluknya.

 

Aku membuka mataku dan melihat wajah cantiknya yang berada tepat didepan wajahku. Begitu indah dan damai. Rasanya aku rela melakukan apapun dan melawan dunia hanya untuk membuatnya tetap merasa nyaman. Entahlah sejak kapan aku bisa berubah seperti ini. Yun Na mulai berpengaruh dalam hidupku. Tidak, dia malah begitu berarti dalam hidupku. Seakan seluruh hidupku ingin kuhabiskan hanya untuk bersamanya. Menatap wajah cantiknya dan selalu berada disampingnya. Apakah aku sudah jatuh cinta padanya?

 

Tanganku terulur menyingkirkan helaian anak rambut yang menutupi wajahnya. Menatap helaian bulu mata lentiknya yang begitu indah. Jariku terulur pelan menyentuh matanya. Berjalan menyusuri hidung mancungnya dan berhenti tepat di bibir merahnya. Bibir yang sering mengeluarkan kata-kata pedas, yang selalu berteriak marah dan terkadang mendesah untukku. Tapi sejak dia hamil , dia mulai berubah. Dia mulai mengalah, dan mau mendengarkan kalimatku. Dia mulai bisa berekspresi. Tersenyum dan tertawa. Mengingat itu membuat aku pun ikut tersenyum dan ingin selalu melihatnya tersenyum. Tak akan kubiarkan senyumannya menghilang lagi. Tak akan kubiarkan dia disakiti lagi.

 

Aku teringat dengan kecelakaan yang terjadi padanya seminggu yang lalu. Kecelakaan yang disengaja untuk melukai Yun Na dan baby. Untung saja saat itu aku berada disana untuk menjemputnya. Jika sesuatu terjadi pada Yun Na dan anakku, aku tak tau apa yang akan terjadi padaku. Melihat Yun Na mengalami pendarahan saja membuat aku begitu panik dan stress apalagi jika dia dan baby menghilang dari dunia ini, mungkin aku akan gila.

 

Untungnya anakku adalah baby yang kuat. Dia masih selamat dan baik-baik saja didalam rahim ibunya. Aku tak akan melepaskan orang yang sudah melukai Yun Na dan mencoba membunuh anakku. Tak akan pernah.

 

Anakku? Aku termenung menatap wajah lelap Yun Na. Walaupun dia bersikeras mengklaim baby hanya miliknya tapi tetap saja baby adalah anakku. Dan aku tak akan mungkin sejahat itu bisa merelakannya begitu saja. Dia anakku , darah dagingku tak akanku biarkan sesuatu hal yang buruk menimpanya. Untuk itu aku selalu bersifat protektif padanya. Karena aku menyayangi baby dan… juga ibunya.

 

Perlahan tanganku menyentuh perut Yun Na yang mulai membesar. Membelai lembut perut itu , selalu berdoa agar anakku baik-baik saja dan selalu sehat. Kurasakan pergerakan Yun Na. Dan aku melihat matanya yang mulai membuka.

 

“Pagi.” Sapaku dengan senyum yang mengembang diwajahku. Dia hanya terdiam, mengerjapkan matanya berkali-kali. Dan itu terlihat begitu cantik dipenglihatanku.

 

“Jam berapa?”tanyanya dengan suara seraknya.

“Jam tujuh. Bukankah hari ini kau libur.” Ucapku mengingatkannya ketika dia terkejut mendengar jam tujuh namun didetik berikutnya dia kembali tenang.

 

“Tidurlah lagi. Kau pasti masih lelah. Aku akan membuat sarapan.” Yun Na hanya mengangguk pelan dan mulai memejamkan kembali matanya. Kurasa dia memang kelelahan mengingat olahraga malam yang kami lakukan semalam. Ku kecup lama keningnya, menyalaurkan rasa sayangku yang begitu besar untuknya. Aku menarik selimut hingga lehernya, tak ingin udara pagi menusuk kulit polosnya dan membuatnya sakit. Aku bangkit dan berjalan keluar menuju dapur. Bersiap membuat sarapan pagi.

 

Setelah selesai membuat nasi goreng kimchi. Aku beranjak hendak membangunkan Yun Na untuk sarapan. Dan ketika aku berdiri di depan pintu. Aku melihat Yun Na sedang berdiri di depan kaca, berdiri hanya memakai pakaian dalam. Dia terus menatap kaca itu sambil sesekali memutar tubuhnya pelan. Apa yang sedang dilakukannya. Aku berjalan masuk kedalam kamar Yun Na. Dan berdiri tepat dibelakang tubuh Yun Na. Menatap mata Yun Na dari pantulan kaca dihadapan kami.

 

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku sedang mengamati tubuhku.” Jawabnya sambil memiringkan tubuhnya. Membuat ia melihat pantulan tubuhnya dari arah samping. Membuat perutnya yang kini sudah membesar terlihat dengan sangat jelas.

 

“Hihi..” tawa pelannya membuat aku terkejut. Aku masih terkejut ketika mendengar tawanya. Entahlah , seakan itu adalah kejadian langka yang sangat jarang terjadi. Membuat aku selalu terkejut ketika mendengarnya.

 

” mengapa kau tertawa?”

“Lihat Kyu Hyun. Bukankah aku terlihat seperti yeoja yang sedang menderita penyakit busung lapar.” Ucapnya sambil mengelus perut buncitnya dan tersenyum menatapku dari pantulan kaca.

 

“Haha.. nde, kau benar.” Aku tak bisa menutupi tawa dan raut kebahagiaanku. Bukan karena bahagia Yun Na mengatakan dia seperti orang yang mengidap penyakit busung lapar. Tapi aku bahagia karena dia sudah mulai berubah dan bahagia karena anakku tumbuh dengan baik di dalam rahimnya.

 

“Yak! Kau mentertawakanku?” Dengan cepat dia berbalik menghadapku dengan pandangan kesalnya. Oh ya tuhan, aku lupa jika seorang ibu hamil jauh lebih sensitif dan mood mereka bisa berubah begitu cepat.

 

“Tidak, aku tak mentertawakanmu?”

“Lalu apa?” Tuntutnya dengan tatapan menyelidik dan siap mengamuk kapan saja. Oh shit, apa yang harus aku katakan agar dia tak marah.

 

“Bagaimana aku bisa mentertawakan ibu hamil yang sangat sexy ini?” Ucapku sambil memeluk pinggangnya. Dan perlahan sorot matanya mulai berubah. Sudah kukatakan bahwa mood seorang ibu hamil bisa berubah begitu cepat.

 

“Benarkah? Apa aku terlihat sexy? Tapi aku malah terlihat semakin gemuk.” Ucapnya dengan raut wajah yang terlihat sedih. Pandangan matanya mulai sayu.

 

” oh ayolah. Kau wanita hamil yang sangat sexy yang pernah kulihat.” Aku sama sekali tak berbohong atau pun merayunya. Yun Na memang wanita hamil yang sangat sexy yang pernah kulihat karena selama ini aku tak pernah melihat ibu hamil lain selain dirinya.

“Kau pasti hanya berbohong dan mencoba menenangkanku.”

“Aku tidak berbohong. Lihatlah.” Ucapku memutarkan tubuhnya menghadap kearah kaca lagi. Tanganku terulur dari belakang tubuhnya dan menangkup dua payudaranya dengan tanganku.

 

“Lihat, dada ini jauh lebih besar dibandingkan sebelum kau hamil. Dan bokongmu terlihat begitu montok sekali.” Ucapku diakhiri dengan meremas kedua bokong Yun Na dengan gemas.

 

“Dan hal yang paling sexy adalah…’ aku membalik tubuh Yun Na menghadapku. Dan aku berjongkok tepat dihadapannya. Dan mencium perut buncitnya.

 

“Perut buncit yang berisi seorang malaikat kecil didalamnya.” Bisikku pelan di depan perut Yun Na. Ku dongkakkan kepalaku menatap kearah Yun Na. Dia menatapku dengan intens. Aku yakin dia mendengar suaraku. Dan aku menatapnya dengan tatapan teduh dan penuh kasih sayang milikku. Meyakinkannya bahwa dia begitu indah di mataku.

 

Perlahan namun pasti tangan Yun Na mulai merengkuh wajahku. Dan dia mulai menundukkan kepalanya. Mendekati wajahku dengan mata yang terpejam rapat. Aku tak menyangka dia akan menciumku. Aku tersenyum senang dan menutup mataku. Menerima ciuman yang diberikan oleh Yun Na dengan senang hati. Melumat  dan mengulum bibirnya dengan lembut. Setelah beberapa detik Yun Na melepaskan ciuman kami dan kembali berdiri tegak. Aku pun ikut berdiri.

 

“Ayo cepat pakai bajumu. Aku tak mau kau sakit.” Ucapku sambil mendorong pundaknya. Agar dia berjalan ke depan lemarinya.

 

***

 

“Astaga Yun Na! Sudah ku katakan kau tak boleh lagi mengangkat barang-barang yang berat.” Teriakku panik ketika melihat Yun Na berjalan membawa setumpuk map tebal dan juga laptopnya ke ruang tengah. Aku berjalan cepat kearahnya dan merebut semua benda yang di pegangnya.

 

“Ini sama sekali tak berat, Kyu Hyun.” Jawabnya keras kepala. Dari semua sifat buruknya aku paling benci dengan sifatnya yang satu ini, keras kepala.

 

“Sudahlah jangan keras kepala.” Ucapku sambil meletakkan barang-barang Yun Na diatas meja. Dan dia mulai duduk di sofa dan mulai mengerjakan pekerjaan kantor yang dia bawa pulang. Aku menatap Yun Na dengan seksama. Dasar keras kepala sudah berapa kali aku memintanya untuk tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah. Tapi lihat dia tetap saja membawa pekerjaan kantor ke rumah.

 

“Yun Na, mengapa kau selalu saja membawa pulang pekerjaan kantor. Hari ini kau libur, jadi sudah seharusnya kau juga libur mengurus semua pekerjaan kantormu. Aku tak mau kau kelelahan dan jatuh sakit.”

“Aku hanya mengecek beberapa dokumen.” Ucapnya masih terfokus pada laptop dan dokumen kantor.

 

“Kau ingin sesuatu yang buruk terjadi pada baby?” Ucapku mengingatkannya. Dia berhenti mengetik dan menghembuskan nafasnya perlahan. Seakan ia begitu malas untuk mendengarkan ucapanku. Namun dengan patuhnya dia membereskan dokumen dan mematikan laptopnya. Aku tersenyum menatapnya yang mengalah. Aku tau dia sangat mencintai baby lebih dari apapun. Jadi walaupun enggan dan terpaksa dia akhirnya menuruti perkataanku.

Ketika dia hendak membawa laptop dan dokumen kembali ke kamarnya. Aku dengan sigap mengambil alih barang-barang itu dan pergi ke kamar Yun Na.

 

Pipppip…

Aku mendengar kunci apartemen terbuka menandakan ada seorang tamu yang datang. Dan ketika aku kembali ke ruang keluarga, aku melihat Mae Ri sudah duduk di sofa single di sana.

 

“Mae Ri.” Ucapku menyapanya.

“Oh Kyu Hyun.” Ucapnya tersenyum manis kepadaku membuat aku pun ikut tersenyum kearahnya.

“Ehem.” Dehaman Yun Na membuat aku menatap kearahnya.

 

“Mae Ri membawakan buah untukku. Jadi , cepat ambil pisau dan kupaskan buah apel untukku.” Ucap Yun Na dengan nada perintah yang begitu kental. Membuat aku beranjak dan berjalan menuju dapur.

 

“Ah haus sekali. Aku ingin mengambil minum. Kau ingin kuambilkan juga?” Samar-samar kudengar suara Mae Ri. Dan tiba-tiba saja dia sudah berada disampingku. Dia mendorong tubuhku dengan cepat agar segera sampai ke dapur. Dan menarikku ke pojok dapur. Aku melihat tingkahnya yang sangat aneh. Ada apa dengannya?

 

Dia melonggokkan kepala dan mencoba mengintip Yun Na lalu kembali menghadap kearahku. Melihat kearahku yang menatapnya dengan padangan bingung. Alisku bahkan mengerut karena tak mengerti keadaan ini.

 

“Kyu Hyun, apa kau tau jika besok adalah ulang tahun Yun Na?” Ucapnya serius membuat aku terkejut. Besok Yun Na ulang tahun. Ya tuhan. Aku tak tau jika yeoja dingin itu besok berulangtahun

 

“Sepertinya kau tidak tahu. Dan aku ingin membicarakan pesta kecil untuknya tengah malam nanti. Aku ingin memberikannya kejutan. Bagaimana? Kau pasti mau membantuku kan?” Ucapnya antusias mengatakan keinginannya. Memberikan kejutan untuk Yun Na. Hmmm sepertnya menarik.

 

“Baiklah, aku akan membantumu.” Ucapku dengan tersenyum.

“Woaahhh. Gomawo Kyu Hyun.” Pekik Mae Ri senang dan tanpa sadar dia sudah memelukku begitu erat. Membuat aku sangat terkejut dan mengangkat kedua tanganku keatas. Membiarkan Mae Ri memeluk badanku erat.

 

“Akhirnya aku memiliki teman untuk membuat kejutan untuk Yun Na. Kau tau aku selalu membuat kejutan ulang tahun sendirian untuk yeoja itu.” Ucapnya mendongakkan kepala kearahku tanpa melepaskan pelukannya.

 

“Benarkah?” Tanyaku penasaran.

“Nde. Aku sangat senang sekali.” Ucapnya kembali memeluk tubuhku erat. Melihat Mae Ri begitu bahagia membuat aku pun membalas pelukannya.

 

“Ehemm.” Deheman Yun Na menyadarkan kami. Membuat kami menoleh kearah pintu dapur dan melihat Yun Na tengah menatap kami dengan tatapan tajam tak suka. Mae Ri akhirnya melepaskan pelukannya.

 

“Ada apa ini? Apa aku melewatkan sesuatu yang penting?” tanya Yun Na dengan nada tak suka kearah kami. Entahlah, ini hanya perasaanku saja atau Yun Na memang terlihat cemburu dengan kedekatanku dengan Mae Ri. Aku manatap matanya intens mencoba mencari kebenaran itu. Dan membuat aku semakin penasaran dengan hal itu. Aku beralih menatap Mae Ri dan aku melihat dia tengah tersenyum penuh misteri kearahku. Dan perlahan sebelah alisnya naik seakan berbicara bahwa dia memiliki pemikiran yang sama denganku. Dan sepakat untuk membuktikan kecurigaan yang saat ini ada di otak kami.

 

“Ah mengapa kau kemari? Apa kau ingin mengambil sesuatu?” Tanya Mae Ri mencoba mengalihkan pembicaran membuat Yun Na mengerutkan kening merasa tak suka dengan pengalihan topik yang dilakukan oleh Mae Ri. Oh sepertinya memang ada yang cemburu disini. Ucapku sedang dalam hati.

 

“Kau ingin mengambil minum?” Tanyaku dengan cepat sebelum dia kembali membahas acara pelukanku dengan Mae Ri. Bisa gawat jika dia tau alasan sebenarnya dari pelukan itu. Bisa-bisa rencana kejutan ulang tahun Yun Na akan gagal total. Dan aku tak mau itu terjadi.

 

“Nde, aku ingin mengambil air minum.” Ucap Yun Na berjalan kearah kulkas. Namun matanya menatap aku dan Mae Ri dengan pandangan curiga. Ya tuhan, dia cemburu. Dia cemburu kepadaku. Batinku begitu bergembira menyadari kenyataan itu. Dan lihatlah dia. Dia terlihat begitu menggemaskan ketika sedang cemburu seperti ini.

 

“Ah ya , maeri-ah. Bukankah tadi kau juga ingin mengambil minum.” Ucapku mengingatkannya sambil memanggil namanya dengan panggilan yang akrab.

 

“Ah ya aku lupa , oppa.” Ucap Mae Ri dengan mengedipkan sebelah matanya. Setuju untuk bekerja sama membuat Yun Na cemburu. Dia bahkan memanggilku dengan panggilan oppa.

 

“Byuurr…” Yun Na yang sedang minum langsung menyemburkan air didalam mulutnya ketika mendengar Mae Ri memanggilku oppa.

 

“Uhukk…uhukk…” Melihat Yun Na yang terbatuk membuat aku dengan sigap menepuk punggungnya pelan berharap bisa mengurangi batuknya.

 

“Kau tidak apa-apa?” Tanyaku cemas. Tapi bukan jawaban yang kudapat Yun Na malah mendelik menatap tajam Mae Ri.

“Sejak kapan kau memanggil Kyu Hyun dengan panggilan oppa?”

 

Aku tak percaya ini. Yun Na memang cemburu kepada kami.

 

“Memang kenapa? Apa ada masalah?” Tanya Mae Ri balik. Membuat aku tersenyum kearah gadis manis itu.

 

“Ya terserah kau sajalah.” Ucap Yun Na mengalah dan pergi dari dapur dengan wajah cemberut. Aku melihat punggung Yun Na yang menghilang di balik pintu dapur. Dan kini pandanganku beralih kearah Mae Ri. Pandangan kami bertemu dan aku tak bisa menahannya lagi. Aku tersenyum lebar begitu juga dengan Mae Ri. Dan akhirnya aku dan Mae Ri malah tertawa bersama mentertawakan wajah cemburu Yun Na yang sangat lucu.

 

Kyu Hyun pov end.

 

***

 

Sebuah guncangan di pundak Yun Na mengusik tidurnya. Perlahan dia membuka matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata dan mengedip pelan, sebelum membuka matanya lebar. Kyu Hyun berdiri tepat hadapannya. Berdiri dengan sebuah pita besar di lehernya. Yun Na tersenyum kecil melihat wajah tampan Kyu Hyun.

 

Pesta kejutan yang diadakan secara dadakan semalam sukses besar. Yun Na terkejut sekaligus bahagia. Mereka berpesta kecil-kecilan untuk merayakan ulangtahun Yun Na.

 

“Aku menyiapkan kado spesial untuk ulangtahunmu. Yaitu aku.” Kyu Hyun begitu percaya diri mengatakannya. Yun Na masih tak mengerti. Dia mengerutkan keningnya, sepertinya efek bangun tidur membuat dia kesulitan mencerna kalimat Kyu Hyun.

 

“Aku cho Kyu Hyun adalah kado spesial untukmu. Jadi , selama seharian ini kau bisa melakukan apapun dan memerintahkan apapun padaku. Semua permintaan dan keinginanmu akan aku kabulkan.” Jelas Kyu Hyun panjang lebar. Yun Na bangkit duduk menyendar di kepala ranjang.

 

“Bilang saja jika kau tak memiliki uang untuk membelikanku kado. Itu sebabnya kau menjadikan dirimu sebagai kado spesial.” Desis Yun Na sinis. Yeoja itu masih memiliki kata-kata pedas yang kejam dan menyakitkan. Kyu Hyun tersenyum sama sekali tak terpengaruh ataupun sakit hati. Namja itu sudah kebal dengan mulut tajam Yun Na.

 

“Nde, itu benar. Lagipula kau sudah memiliki semua yang kau inginkan. Jadi, apa hal pertama yang kau inginkan? Seharian ini aku milikmu.” Perkataan Kyu Hyun menimbulkan sebuah senyuman misteri di bibir Yun Na. Membuat Kyu Hyun sedikit khawatir dengan keputusannya ini.

 

Yun Na benar-benar memanfaatkan keadaan. Dia meminta Kyu Hyun melakukan banyak hal. Yeoja itu bahkan tak masuk kerja agar dia bisa menghabiskan hari ini bersama Kyu Hyun.

 

Dan disinilah mereka saat ini. Berdiri di dalam kereta gantung yang terhubung ke Namsan tower. Entahlah, alasan apa yang membuat Yun Na ingin pergi ke Namsan tower. Tempat dimana pasangan kekasih menghabiskan waktu. Tempat dimana banyak pasangan mengikat janji cinta dalam gembok cinta.

 

“Hati-hati.” Dengan cepat Kyu Hyun merangkul pingang Yun Na agar yeoja itu tak jatuh ketika turun dari kereta gantung.

 

Mereka pun berjalan. Wajah Yun Na terlihat begitu senang. Saat ini musim gugur kadi menambah cantik suasana disekitar Namsan tower. Daun-daun yang mulai berubah menjadi kuning keemasan.

 

Ini bukan pertama kalinya bagi Yun Na datang ke tempat ini. Dulu dia pernah kesini dengan mantan kekasih brengseknya. Yun Na berjalan kesalah satu pagar pelindung yang sudah dipenuhi oleh gembok-gembok cinta dari berbagai bentuk dan ukuran. Dia berjongkok dan mencari sesuatu.

 

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kyu Hyun penasaean dengan aksi Yun Na.

“Aku mencari gembok brengsek yang dulu aku letakkan disini.” Yun Na terus mencari membaca dan memegang beberapa gembok cinta pasangan lain.

 

“Kau pernah memasang gembok cinta disini?” Kyu Hyun tak percaya. Dia begitu terkejut.

“Nde, cepat bantu aku menemukanmya.”

 

“Sulit dipercaya, manyeo sepertimu melakukan hal manis seperti ini. Deabak.” Decak kagum Kyu Hyun tak percaya akan hal ini. Baginya seorang Yun Na yang terkenal dingin dan kejam tak mungkin melakukan hal manis dan romantis seperti memasang gembok cinta di Namsan tower.

 

“Berhenti menghinaku. Dulu aku tak waras ketika memasangkannya disini dengan pria brengsek yang sangat kubenci.” Ucap Yun Na kesal mengingat manta pacarnya yang dulu mengkhianatinya. Pria yang hanya menginginkan keperawanan Yun Na saja.

 

“Ah ketemu. Cepat Kyu Hyun, buka gembok itu. Aku tak sudi melihat gembok itu menggantung disini.” Perintah Yun Na meminta Kyu Hyun membuka paksa gembok itu dengan tang yang dia bawa dari apartemen. Kyu Hyun berusaha sekuat tenaga membuka gembok itu. Setelah berhasil dia memberikannya kepada Yun Na. Dan dengan sadis Yun Na melempar jauh gembok itu ke jurang yang ada di balik pagar Namsan tower.

 

Yeoja itu mengeluarkan sebuah gembok baru dari tasnya. Menuliskan beberapa kata di gembok itu. Dan Kyu Hyun melihatnya. Membaca pesan singkat yang tertulis disana.

 

Aku mencintai baby lebih dari mencintai diriku sendiri.

 

Sepenggal pesan singkat yang begitu memiliki arti yang mendalam membuat Yun Na menatap Yun Na terharu. Yeoja itu sangat mencintai bayinya. Anak nya, darah daging Kyu Hyun.

 

Yun Na memasangkan gembok itu di sela-sela tumpukan gembok. Dia berdiri menggenggam kunci gembok yang baru saja dia pasang. Memejamkan matanya untuk berdoa sesaat. Disaat Yun Na memejamkan matanya Kyu Hyun mengambil pena Yun Na cepat dan menuliskan sebuah kalimat di sisi kosong yang ada di balik gembok Yun Na. Menulis dengan cepat berharap Yun Na tak menyadari aksi rahasianya itu. Setelah selesai dia dengan cepat melihat Yun Na yang baru saja membuka kedua matanya dan dengan semangat Yun Na  membuang kunci gembok itu jauh-jauh. Jatuh menghilang didasar jurang.

 

Kyu Hyun tersenyum melihat aksi Yun Na itu.

“Hei, apa itu? Apa kau lupa gembok yang dipasang di sini adalah gembok cinta pasangan kekasih?” Tanya Kyu Hyun sambil berdiri disamping Yun Na.

 

“Biar saja. Sesuka hatiku.” Sangkal Yun Na tak perduli dan berjalan pergi meninggalkan Kyu Hyun. Kyu Hyun tersenyum pelan dan berjalan mengikuti Yun Na.

 

Sebenarnya apa yang sudah Kyu Hyun tulis di gembok Yun Na. Sebuah harapan yang sangat Kyu Hyun inginkan.

Semoga Yun Na mencintaiku , bahagia bersama selamanya bersama baby cho. Itulah sepenggal kalimat yang Kyu Hyun tulis.

 

Ketika malam berganti suasana Namsan tower terlihat lebih memukau. Pancaran lampu yang berwarna-warni menyinari setiap sudut Namsan tower. Menciptakan sebuah permainan lampu dan cahaya yang terlihat memukau.

 

Yun Na san Kyu Hyun tengah duduk di salah satu bangku. Mereka menikmati keindahan Namsan towers sambil meminum coklat hangat. Suasana musim gugur yang cukup dingin membuat Kyu Hyun susuk berdekatan dengan Yun Na dan merangkul pundak Yun Na. Menyalurkan kehangatan tubuhnya.

 

“Yun Na, sebelum malam ini berakhir dan selagi aku menjadi kado spesial hari ulang tahunmu. Kau bisa mengucapkan satu permintaan lagi. Aku akan mengabulkannya.” Tatapan intens Kyu Hyun membuat Yun Na mengalihkan pandangannya dari indahnya Namsan tower. Menatap dengan seksama wajah Kyu Hyun yang ada disampingnya.

 

“Kau berjanji akan mengabulkan apapun permintaanku?” Tanya Yun Na memastikannya.

“Selain membunuh dan membelikanmu berlian. Apapun itu aku akan mencoba mengabulkannya.”

 

“Bisakah kau berjanji untuk selalu disampingku dan tak akan pernah meninggalkanku?” Pandangan mata Yun Na begitu intens begitu berharap bahwa Kyu Hyun bisa mengabulkan keinginannya.

Kyu Hyun tersenyum membelai pipi Yun Na yang terasa dingin akibat cuaca malam musim gugur.

 

“Tanpa kau memintanya, aku akan selalu disampingmu dan tak akan meninggalkanmu.” Ucap Kyu Hyun dengan pandangan yang begitu dalam menatap mata Yun Na. Mencoba meyakinkan gadis itu jika apa yang dikatakannya adalah sebuah ketulusan.

 

“Bisakah kau berjanji?” Tuntut Yun Na. Yeoja itu butuh kepastian akan sebuah janji bukan hanya perkataan biasa. Kyu Hyun kembali tersenyum. Dia mengerti kegelisahan yang ada dimata Yun Na. Yeoja itu terlalu sering disakiti pria dan sudah banyak orang yang dia sayangi pergi meninggalkannya.

 

“Aku berjanji Yun Na. Aku berjanji akan selalu disampingmu , menjagamu dan melindungimu. Tak akan pernah aku meninggalkanmu.” Ucapan lembut Kyu Hyun begitu indah dan tulus dimata Yun Na. Membuat Yun Na terpana dan terhanyut dalam kedalaman mata Kyu Hyun. Membuat Yun Na merasakan sebuah perasaan yang sudah sejak lama tak dirasakannya. Rasa disayangi , dikasihi dan begitu berarti bagi orang lain. Dia terharu dan bahagia dengan janji indah yang Kyu Hyun kayakan. Membuat dia tak sanggup lagi menahan rasa bahagianya. Dan dengan segera memeluk tubuh Kyu Hyun. Menyalurkan perasaannya.

 

Drrrttt…drtt…

Sebuah getaran dari dering handphone di saku Yun Na menyadarkan mereka. Melepaskan pelukan erat yang begitu hangat mereka rasakan. Yun Na mengambil handphonenya melirik sekilas nama sang penelpon. Ketua shin. Yun Na mengangkat malas panggilan itu.

 

“Nde, ada apa?” Tanya Yun Na tak suka.

“Datanglah ke rumah besok malam.” Walau samar Kyu Hyun masih bisa mendengar suara sang penelpon.

“Aku sibuk.” Tolak Yun Na dingin.

“Akan ada acara makan malam dan kau harus datang.”

“Akan aku pertimbangkan.” Jawab Yun Na malas.

“Kau harus datang. Hyo Rin ingin mengumumkan sesuatu yang penting.”

“Ya , baiklah.” Jawab Yun Na mengalah dan mematikan sambungan panggilan itu.

“Siapa?” Tanya Kyu Hyun penasaran.

 

“Ketua shin.” Sejak dulu Yun Na tak pernah lagi memanggil ketua shin dengan panggilan appa. Yeoja itu dulu lebih sering memanggil ketua shin dengan panggilan sakiya. Namun karena perkataan Kyu Hyun yang memintanya untuk tidak menyumpah atau berkata kotor agar baby tak mendengarnya membuat yeoja itu berhenti berbicara kasar dan mengumpat lagi.

 

“Ah nde. Ayo pulang. Ini sudah semakin larut. Aku tak ingin kau kedinginan dan jatuh sakit.” Kyu Hyun berdiri diikut oleh Yun Na yang juga berdiri. Mereka mulai berjalan pulang. Baru beberapa langkah Kyu Hyun berhenti. Melepaskan mantel yang dia kenakan dan memasangkannya di pundak Yun Na. Sungguh dia tak ingin yeoja itu kedinginan. Dia rela berjalan dengan hanya memakai kaos saja. Lagipula kaos panjang yang dia kenakan cukup hangat. Dan daya tahan pria jauh lebih kuat dibanding wanita. Yun Na tak bisa menyembunyikan sebuah senyuman kecil dibibirnya. Dia tersenyum senang menerima perhatian Kyu Hyun. Menatap Kyu Hyun yang berjalan santai disampingnya.

 

Mereka berjalan bersisian. Membuat tangan mereka terkadang saling bersentuhan. Dan Kyu Hyun dengan perlahan menggenggam tangan kanan Yun Na. Menimbulkan reaksi tubuh Yun Na yang terkejut pelan. Kyu Hyun sebenarnya khawatir dan takut. Dia takut Yun Na akan marah dan menepis tangannya. Walau kini sikap Yun Na sudah berubah namun tetap saja Kyu Hyun masih khawatir. Namun semuanya terbantahkan ketika Kyu Hyun merasakan genggaman tangan mereka semakin erat. Yun Na membalasnya. Yun Na juga menggenggam tangannya erat. Kyu Hyun tersenyum bahagia. Dan mereka berjalan pulang dengan suasana hati yang senang.

 

***

 

Yun Na langsung mendatangi ruang keluarga begitu dia tiba di mansion keluarga Shin. Sebenarnya dia enggan untuk menginjakkan kaki ke mansion keluarga shin namun mengingat berkali-kali ketia shin menelponnya untuk datang membuat Yun Na dengan terpaksa kemari. Yun Na berdiri di tengah ruangan itu menatap Hyo Rin dan Si Won penuh rasa tak suka. Pasangan yang begitu Yun Na benci itu sedang duduk berdampingan begitu mesra di sofa panjang yang ada di ruangan itu.

 

“Pengumuman penting apa yang ingin kau katakan? Aku sangat sibuk hingga tak memiliki waktu berlama-lama disini.” Tanya Yun Na tanpa basa-basi. Yeoja itu bahkan belum duduk sama sekali. Dia enggan untuk duduk bersama mereka. Di sisi kursi yang lain juga ada ketua shin dan nyonya park- ibu tiri Yun Na.

 

“Baiklah karena keluarga shin sudah berkumpul semua. Maka kami akan mengumumkannya.” Ucap Hyo Rin dengan tersenyum bahagia. Sesekali matanya melirik kearah Yun Na. Menantikan bagaimana reaksi yeoja itu dengan kabar yang akan dikatakannya.

 

“Kami pun tak menyangka akan mendapatkan keberuntungan secepat ini. Sepertinya tuhan sangat menyayangi kami.” Ucap Hyo Rin mulai berpidato. Membuat Yun Na mendengus jengah dengan kalimat Hyo Rin.

 

“Sudahlah jangan berbelit-belit. Katakan saja intinya.” Suara Yun Na terdengar dingin dan kejam.

“Appa , omma, dan Yun Na sebenarnya saat ini Hyo Rin..” Si Won membantu Hyo Rin berbicara. Dia berhenti diakhir kalimatnya dan menatap Hyo Rin dengan pandangan penuh cintanya. Membuat Yun Na serasa ingin muntah saja.

 

“Aku sudah hamil satu bulan , omma ,appa.” Ucap Hyo Rin dengan diakhiri senyum yang begitu lebar.

 

Suasana ruang keluarga langsung hening seketika ketika Hyo Rin mengatakannya. Yun Na pun sama terkejutnya. Namun dia bisa mengatasi raut wajahnya dengan cepat dan kembali berwajah dingin dan kejam. Seakan dia sama sekali tak berpengaruh dengan kabar gembira Hyo Rin dan Si Won itu.

 

“Benarkah?” Jerit nyonya park semangat memecah keheningan. Dia seakan tak percaya. Dari ekspresinya sepertinya Hyo Rin memang baru memberitahukannya.

 

“Nde, kemarin kami baru saja memeriksakannya ke rumah sakit. Dan Hyo Rin dinyatakan positif hamil.” Ucap Si Won sambil mengulurkan sebuah amplop berlogo rumah sakit Seoul.

“Selamat sayang.” Pekik nyonya park sambil memeluk Hyo Rin erat. Membuat Yun Na malas melihat pemandangan antara ibu dan anak yang sangat dibencinya sedang berpelukan karena bahagia.

 

“Woah , ini adalah kabar yang sangat baik, sayang.” Balas ketua Shin ikut bahagia dengan kabar kehamilan putri tirinya itu.

“Selamat, Hyo. Appa senang mendengarnya.” Ucap ketua shin dengan senyuman hangatnya. Membuat Yun Na semakin kesal melihatnya dan sudah tak tahan berlama-lama disana.

 

Omma tak sabar menunggu kelahiran cucu pertama omma. Cucu Omma yang akan  memanggil halmoni.” Ucapan nyonya park seakan menyindir Yun Na dan memprovokator emosi Yun Na. Jangan lupakan jika Yun Na saat ini sedang hamil. Emosinya yang berubah-ubah bisa saja membuat yeoja itu mengamuk karena tak bisa mengontrol emosinya.

 

“Nde, omma. Bisa omma bayangkan betapa imutnya bayi yang akan hadir di dalam keluarga shin.” Perkataan Hyo Rin membuat Yun Na menggertakkan giginya. Emosinya sudah mulai meningkat.

 

“Bayi yang akan menjadi cucu pertama keluarga shin.” Ucapan Si Won semakin memperparah emosi Yun Na. Yeoja itu mulai mengeraskan rahangnya. Dan siap kapan pun akan meledakkan amarahnya.

“Yang akan menjadi penerus dan pewaris keturunan keluarga shin.” Ucap nyonya park menanggapi ucapan Si Won membuat Yun Na sama sekali tak bisa lagi menahan amarahnya.

 

“Ckckckckc.. kau bilang bayimu akan menjadi cucu pertama keluarga Shin. Oh ayolah jangan bermimpi. Anakku yang akan menjadi cucu pertama dan penerus keluarga Shin.” Ucap Yun Na dengan nada kesal dan meremehkan. Dia melipat tangannya dan memandang tak suka dengan semua sandiwara dan kepura-puraan yang ditampilkan di hadapannya ini

“Benarkah? Tapi saat ini akulah yang lebih dulu hamil.” Tantang Hyo Rin.

 

“Oh ya? Maaf , jika aku harus menghancurkan semua mimpimu itu. Karena akulah yang lebih dulu hamil dibanding dirimu.” Dan akhirnya Yun Na tak bisa lagi menutupi semuanya. Dia terlalu emosi hingga dia mengatakan kebenarannya. Kebenaran tentang janin yang mulai membesar dalam rahimnya.

 

“Ka..kau hamil?” Ucap nyonya park terkejut. Matanya membesar tak percaya. Dan sekilas terlihat matanya bergerak gelisah takut akan kekalahan putrinya dari perebutan harta keluarga Shin.

 

“Nde, aku hamil. Bahkan usia kehamilanku sudah menginjak usia lima bulan.” Jawab Yun Na enteng. Yeoja itu tak sadar jika kalimatnya membuat ketua Shin bungkam seribu bahasa. Pria tua yang berumur itu menatap Yun Na penuh selidik dan tatapan yang sulit diartikan.

 

Mwo?! Kau hamil?” Jerit Si Won dan Hyo Rin bersamaan. Mereka begitu terkejut atau yang sebenarnya terjadi adalah berpura-pura terkejut.

“Nde.” Jawab Yun Na pasti.

 

“Apa kau mengerti ucapanmu Yun Na?” Tanya ketua Shin tegas. Dia sudah tak bisa lagi untuk tetap diam mendengar ucapan Yun Na.

“Apa ada yang salah?” Tanya Yun Na enteng dan mulai duduk di sofa. Dia sekarang seakan semakin menantang Hyo Rin dengan kabar itu. Dia bahkan mulai menunjukkan wajah merendahkan dan kemenangannya. Yang terlihat begitu menyebalkan di mata Hyo Rin. Membuat yeoja serakah itu mengeram pelan karena amarah. Terlalu kesal dengan kesombongan Yun Na.

 

“Tentu saja salah besar Yun Na. Kau hamil di luar nikah!” Tone suara ketua shin mulai naik beberapa oktaf. Membuat Yun Na hanya mendengus jengah. Lihatlah, ketika kabar Hyo Rin hamil ketua shin begitu senang, namun ketika Yun Na mengatakan kehamilannya dia berteriak marah. Sebenarnya siapa putri kandung pria itu.

 

“Nde, apa kau tau siapa ayah dari bayi yang kau kandung?” Si Won memperkeruh keadaan dengan pertanyaannya.

“Apakah dia anak dari seorang pria hidung belang atau seorang kriminal atau malah pekerjaan sex?” Tambah Hyo Rin memancing emosi Yun Na.

 

“Jaga ucapanmu Hyo Rin? Berani-beraninya kau menghina ayah dari anak yang kukandung.” Teriak Yun Na marah dan langsung berdiri disaat itu juga. Dia tak suka ketika ada orang lain menghina Kyu Hyun di depannya. Apalagi jika yang menghina adalah jalang serakah seperti Hyo Rin.

 

“Siapa dirimu hingga kau berhak menghinanya? Dia pria baik-baik.” Yun Na tak bisa lagi menahan nada suaranya agar tak tinggi. Dia terlalu emosi.

“Oh ya? jika dia pria baik-baik dia tidak akan mau dipekerjakan olehmu.” Hyo Rin menyeringai devil seakan mengejek Yun Na dan membuat Yun Na terdiam.

 

“Apa maksudmu Hyo Rin?” ketua shin menuntut penjelasan.

“Appa, Yun Na mempekerjakan seorang pria asing yang sama sekali tak dikenalnya untuk menghamilinya.” Jelas Hyo Rin kepada ketua shin semakin memperkeruh keadaan tegang yang terjadi di sana.

 

“Apa? Yun Na, kau!” Teriakan ketua shin menggema diseluruh penjuru ruangan keluarga itu. Matanya memancarkan kemarahan dan kekecewaan. Dan tanpa disadari didalam kedalaman mata itu terlihat sedih dan terluka. Namun Yun Na tak menyadarinya. Dia hanya melihat betapa murkanya ketua shin saat ini.

 

“Lihat ini appa! Ini adalah perjanjian kontrak kerja Yun Na dengan pria itu.” Hyo Rin menyodorkan amplop coklat yang kemarin diberikan oleh anak buah Si Won.

 

Ketua shin merebut paksa amplop coklat itu. Mengeluarkan lembar kertas kontrak Kyu Hyun dan Yun Na. Matanya bergerak cepat membaca setiap kata yang ada di kertas itu. Lalu melirik tajam kearah Yun Na.

 

“Apa-apaan ini Yun Na? Kau mempekerjakan seorang pria asing untuk mengahamilimu? APA KAU SUDAH GILA?!” Bentak ketua shin marah dengan membanting amplop itu. Yun Na hanya terdiam dengan wajah dinginnya. Seakan dia tak perduli jika saat ini ketua shin sedang marah besar.

 

“Yun Na! APA SEMUA ITU BENAR?!” Bentak ketua shin marah menghampiri Yun Na.

 

“Nde, itu benar.” Jawab Yun Na menatap menantang ketua shin yang ada dihadapannya. Dia masih tersulut emosi dengan kata-kata Hyo Rin dan dia pun marah karena appa kandungnya berteriak marah kepadanya ketika mendengar kehamilannya. Berbanding terbalik ketika mendengar kabar kehamilan Hyo Rin.

 

“KAU! Apa kau sudah gila?! Mempekerjakan pria asing untuk menghamilimu? Hamil di luar pernikahan?!”

 

“Bukankah ini kemauanmu?! Kau menginginkan seorang cucu bukan?! Dan aku mengabulkannya, aku hamil.” Yun Na keras kepala dan terus menantang ketua shin. Membuat pria tua itu semakin marah.

 

Plaakk..

Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi kiri Yun Na. Ketua shin tak bisa menahan emosinya. Dia terlalu marah hingga menampar Yun Na. Yun Na menyentuh pipi kirinya sambil menatap ketua shin tak percaya. Seumur hidupnya ini pertama kalinya ketua shin menampar Yun Na. Semarah apapun pria itu, dia tak pernah menampar Yun Na. Membuat Yun Na membenci pria tua itu semakin dalam.

 

“Kau pikir aku akan menerima bayi itu? Dengar shin Yun Na, kau memiliki dua pilihan. Menikah secepatnya atau…. gugurkan bayi itu.”

 

Bagaikan tersambar petir di hari yang begitu cerah, itulah yang saat ini Yun Na alami. Dia menatap ketua shin tak percaya. Mendengar appa kandungnya meminta dia mengugurkan bayinya. Anak kandung Yun Na, darah dagingnya. Pandangan mata Yun Na mulai tak fokus. Mengepalkan kedua tangannya erat. Tubuhnya mulai bergetar. Dia mungkin masih bisa menerima tamparan yang ketua shin lakukan tapi mendengar ketua shin dengan kejam mengatakan mengugurkan bayinya, Yun Na tak bisa menerimanya. Apa Yun Na sama sekali tak berarti dalam kehidupan ketua shin? Yun Na adalah anak kandungnya sendiri, bagaimana bisa ketua shn memintanya menggugurkan bayinya. Sekejam dan setega itukah ketua shin kepada Yun Na. Mengapa ketua shin seakan tak perduli akan dampak perkataannya bagi Yun Na? Apakah dia tak tau jika kalimatnya begitu melukai hati Yun Na?

 

“Sampai kapan pun aku tak akan menikah dan aku tak akan menggugurkan bayi ini.” Nada suara Yun Na terdengar gemetar. Namun dia mengucapkannya begitu tegas tanpa ingin bantahan.Pandangan matanya menyorotkan amarah dan kebencian yang mendalam.

 

“Jadi kau berani menentangku?”

“Sudah aku katakan aku tak akan menikah dan tak akan menggugurkan bayi ini!” Teriak Yun Na di depan ketua shin. Dan langsung berbalik hendak pergi meninggalkan rumah itu. Baru beberapa langkah kakinya berjalan, ketua shin berkata.

 

“Jika kau menentangku maka aku akan menghapus namamu dari daftar ahli waris.”

“Sejak kapan aku menjadi bagian dari keluarga ini.” Gumam Yun Na parau. Dengan mata yang berkaca-kaca. Dia kembali melangkah pergi meninggalkan ruangan keluarga itu. Hyo Rin dan Si Won  tersenyum bahagia melihat kepergian Yun Na. Nyonya park melihat kearah putrinya dan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Tak perduli dengan ketua shin yang menatap kepergian Yun Na dengan pandangan yang sulit diartikan.

 

****

 

Pippip.

Yun Na bergegas masuk ke apartemennya. Dia berdiri mematung di depan pintu yang tertutup. Tubuhnya bergetar hebat. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Matanya berkaca-kaca dengan pandangan lurus kedepan. Melamunkan kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu. Mengulang kembali perkataan menyakitkan ketua shin.

 

Gugurkan bayi itu.

 

Sekejam itukah ketua shin kepadanya. Meminta Yun Na menggugurkan bayinya. Darah daging Yun Na, cucu kandung ketua shin sendiri. Apakah ketua shin tak sadar jika kata-katanya begitu menyakitkan bagi Yun Na. Apakah Yun Na sama sekali tak berarti bagi pria itu? Apakah ketua shin tak memiliki kasih sayang sedikit pun pada Yun Na yang merupakan anak kandungnya sendiri? Ini menyakitkan. Jauh lebih menyakitkan daripada Yun Na menyadari perselingkuhan ketua shin di belakang ommanya. Jauh lebih menyakitkan ketika kau sama sekali tak berarti di mata keluargamu satu-satunya. Seakan hidupmu bagaikan sampah yang tak berarti apapun.

 

Kyu Hyun datang dari ruang tengah menghampiri Yun Na. Dia terdiam beberapa langkah didepan Yun Na. Menatap bingung keadaan Yun Na saat ini. Yeoja itu tak pernah begini. Berdiri bagai patung yang gemetar dan pandangan yang begitu terluka. Bahkan Kyu Hyun menyadari jika mata itu begitu berair dan siap kapan pun juga meneteskan air matanya.

 

“Yun Na.” Panggil Kyu Hyun pelan di hadapan Yun Na. Tangan Kyu Hyun terulur menyentuh pundak Yun Na. Dan saat itu juga airmata Yun Na jatuh tak tertahankan. Yeoja dingin itu menangis sesugukkan di depan Kyu Hyun. Tubuhnya yang bergetar perlahan jatuh lemas terduduk di lantai depan pintu apartemen. Sesekali tangan kanannya memukul pelan dadanya. Berharap aksi itu bisa mengurangi rasa sakit di hatinya.

 

Kyu Hyun berjongkok dihadapan Yun Na. Ini pertama kalinya dia melihat Yun Na serapuh ini. Yeoja dingin nan kuat yang mendapat julukan manyeo kini tengah menangis histeris sambil memukul dadanya. Terlihat begitu terluka dan menderita.

 

Melihat kondisi Yun Na membuat Kyu Hyun ikut bersedih. Dia tak tau apa yang sebenarnya terjadi pada yeoja itu. Dia terluka melihat kesedihan Yun Na yang begitu menyakitkan. Kyu Hyun menarik Yun Na masuk kedalam dekapannya. Memeluk yeoja itu erat. Mengelus punggung Yun Na lembut mencoba memberikan ketenangan pada yeoja itu.

 

Yun Na masih saja menangis histeris dalam pelukan Kyu Hyun. Membasahi baju Kyu Hyun dengan airmatanya.

“Tenanglah.” Bisik Kyu Hyun selembut sutra di telinga Yun Na.

 

“Sa..kit Kyu Hyun..hikss… disini sakit…hikss..” jawab Yun Na di sela tangisnya dan masih memukul dadanya pelan. Memberitahukan pada namja itu jika hatinya saat ini begitu terluka.

 

“Tenanglah. Semua baik-baik saja.” Kyu Hyun terus membisikkan kalimat penenang. Tangannya terus menerus mengusap punggung Yun Na. Dekapannya begitu erat menyelimuti tubuh Yun Na.

 

Perlahan tubuh Yun Na mulai rileks walaupun isakan dan airmatanya masih saja tak berhenti. Kyu Hyun merenggangkan pelukannya. Menatap wajah Yun Na yang sudah dibanjiri airmata. Perlahan menghapus sisa airmata di kedua pipi Yun Na.

 

“Semua akan baik-baik saja.” Bisiknya didepan wajah Yun Na.

“Kau tak akan meninggalkanku?” Suara serak Yun Na terdengar parau.

 

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu.” Sebuah kecupan hangat Kyu Hyun begikan dikening Yun Na. Yun Na memejamkan matanya menerima kecupan itu.

 

“Aku akan selalu di sisimu.” Sebuah kecupan di mata kanan Yun Na.

 

“Menjagamu.” Kembali Kyu Hyun mengecup mata Yun Na sebelah kiri.

 

“Melindungimu.” Sebuah kecupan kembali Kyu Hyun berikan di hidung Yun Na.

 

“Selamanya.” Terakhir sebuah kecupan dibibir Yun Na. Kyu Hyun menjauhkan wajahnya. Membuat sebuah jarak kecil untuk menatap wajah Yun Na. Menatap mata Yun Na begitu intens. Dia menempelkan keningnya dengan kening Yun Na.

 

“Karena aku mencintaimu.” Bisik Kyu Hyun depan bibir Yun Na. Menghantarkan ribuan rasa yang menakjubkan bagi Yun Na. Sebuah kalimat yang dapat membuatnya tenang dan begitu damai.

 

Perlahan tangan Yun Na terulur membelai wajah Kyu Hyun. Sorotan matanya jatuh tenggelam dalam pandangan cinta mata Kyu Hyun. Hingga akhirnya saling mendekat dan menyatukan bibir mereka. Melumat dan mengulum bibir menyalurkan rasa yang saat ini mereka rasakan. Tenggelam dalam ciuman hangat yang memabukkan.

 

~~~end~~~

 

Akhirnya ff ini end juga. Ff ini akan dibuat dalam bentuk cetak. Terimakasih karena selama ini sudah mau membaca ff manyeo ini, memberikan comentar , kritik dan juga saran. Terimakasih juga buat para admin yang mau memposting ff ini. Untuk kedepannya aku akan terus memperbaiki tulisanku. Dan tunggu ff karyaku selanjutnya. See you the next ff. Salam hangat, Mae Ri.

100 thoughts on “Manyeo Part 11 END

  1. Boleh tanya ya thor.. Apa versi novel ada bagian NC? kalau iyya. Aku beli!!
    Bodo amat dibilang muka yadong. Tapi itu daya tarik dr FF NC

    Suka

  2. masih belum jelas deh…
    nasib yunna sama kyuhyun
    gimana nih….. ini belum bisa
    end thor. kisahnya ini kan
    yunna disuruh menggugurkan
    kandungannya. anaknya
    nanti gimana. trus soal harta
    juga belum jelas siapa
    akhirnya yg dapat.
    hub.kyuhyun sama yunna
    juga blum jelas. yunna mau
    nikah sana kyuhyun gk??? klo
    mereka menikah mungkin
    dibuat yunna sama kyuhyun
    lgsg mendaftarkan
    pernikahannya secara diam2
    ato gimana gitu. squel dong.

    Suka

  3. Ngeri author ini, perasaan masih berkecamuk tapi tiba-tiba end’ dengan begitu saja.
    Oh comes on, belum kelar itu. Gimana selepas itu, gimana ketua Shin, gimana kelanjutan hidupnya, apa bener kyu gak ninggalin Yumna

    Sumpah gantung banget Thor, kayak digantungi gebetan rasanya
    Sequel sequel sequel

    Telat sih sebenarnya komennya tapi gak papa kan ya, la wong baru baca

    Suka

  4. Aduh, gantung parah! Yunna belum bales perasaan Kyuhyun. Konflik sama keluarganya belum selesai. Entah kenapa, aku merasa sebenernya permintaan Tuan Shin cuma biar Yunna menikah dan mau membuka hatinya buat cowok lagi. Tapi yah, mau gimana lagi. Kalaupun benar, cara Tuan Shin yg salah. Justru bikin Yunna semakin frustasi. Butuh ending yang pas,hiks T_T

    Suka

  5. Selamat yaaa, karena cerita nya udah sampe ‘end’..
    Meskipun rasanya sii, dan pengen nyaaa agak lebih panjang dan cerita bahagia yunna dengan kyuhyun lebih panjang lagi, tapi ga apa apa laa, setidaknya hyorin dan lain lain ga ganggu yunna dan kyuhyun lagi ..
    Semoga karya berikut nya makin makin bagus lagii ^^

    Suka

    • Udh ttup po,
      Tp Ada versi ebook manyeo di google play book..
      Cri aja disana,, versi ebook sma dgn versi novel..

      Suka

    • Ada versi ebook manyeo di google play book..
      Cri aja disana,, versi ebook sma dgn versi novel..

      Suka

  6. serius ini udh end..knpa gantung..gmna klanjutanny hbngn kyu sma yunna…terus appa yunna knpa kek gitu..???
    butuh squel ini mah

    Suka

  7. Yah udah selesai.. Padahal masih penasaran sama ceritanya..
    Appanya yunna kejam banget.. Wajar sih klo marah karena anaknya hamil di luar nikah, tapi jangan sampe nyuruh ngegugurin juga dong..
    Weeeihh.. Akhirnya kyu bilang cibta juga ke yunna..😘😘😘
    Ditunggu ff lainnya.. Fighthing😊

    Suka

  8. Lanjutan ada d versi cetak hiks… Say goodbye… Cukup puas sm ending’y meskipun gantung… Blom ada penyelesaian bwt keluarga yunna.. Berakhir menikah sm kyu atau tetep jalin hubungan ky gtu… Hiks…..

    Suka

  9. ko udh ebd ajh sih aku berharapnya bisa ngeliat kehidupan kyu sma yunna pas bayi mereka lahir.trs hyorin sama kluarganya menderita n tuan shin ayahnya yuna sdar tpi ini mh gantung banget…need sequel

    Suka

  10. Karna mau dibikin buku ya kak jadi ending nya nge gantung?
    Masih penasaran gimana hubungan Tn Shin ama Yuna. Orang tua ga mungkin setega itu kan ama anak nya?
    Terus hubungan Yuna ama Kyuhyun gimana? Masih kurang greget kak..
    Ish-. – adakah versi pdf nya??? Buku nya kalo ada p.o ke 2 sih boleh 😂😂

    Disukai oleh 1 orang

  11. Klo di novel masih lanjut kan cerita nya?gk gantung ky gini? Wah author..aku sedikit kecewa klo pada akhirnya mau dijadiin novel knp ceritanya dipublish dulu seperti ini?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s