No Reason Part 8


image

Author : Putria Kim

Title : No Reason (Sequel of We Need Love)

Category : NC21, Yadong, Romance, Married Life, Chapter

Cast:
Lee Hayoung │ Lee Chae Lin │Lee Dong Wook

Kim Jaejoong │Cho Kyuhyun │Oh Sehun

And other cast…

                            “No Reason Part 8”

=**=

“Ottohkaji?”

Hayoung berjalan mondar-mandir di dalam kamar sembari mengetukkan ponsel ke dagunya.

“Haruskah aku memberitahu Dong Wook oppa tentang rencana terbang ke Seoul bersama J?”

“Aniya!”

“Aaaaaaarrggghhh!” geramnya kesal.

Ragu-ragu akhirnya Hayoung menempelkan ponselnya ke telinga.

“Hi, J.”

“Ada apa princess? Kau merindukanku?” goda Jaejoong.

Hayoung menggigit bibirnya, ada jeda beberapa detik.

“Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Jaejoong.

“Saat kembali ke asrama tadi tiba-tiba kakak sulungku dan kekasihnya sudah menungguku di lobby asrama.”

“Lalu?”

“Dan oppa ku sudah memesan tiket pesawat, penerbangan siang ini  menuju Seoul. Kami bertiga.”

“I’m so sorry, J. Sepertinya kita tidak dapat kembali ke Seoul bersama untuk kali ini.” Ada penekanan di kata lain kali.

“Dan aku tidak dapat menolaknya, J. Karena oppa pasti akan bertanya banyak hal jika aku tidak menuruti kehendaknya.”

Hening. Tidak ada jawaban dari ujung sana.

“J, kau masih mendengarku?”

“Absolutely, princess. Aku masih disini dan mendengarkanmu.”

“It’s okay. Kita masih dapat bertemu di Seoul.”

“Jadi kau tidak marah padaku?”

“Tentu saja tidak. Aku akan merindukanmu, princess.”

“Me too, handsome. Sampai jumpa di Seoul.”

“Take care… I love you…”

“I love you too…”

Senyum simpul merekah menghiasi paras cantik Hayoung.

                               ***

Hayoung tersenyum lebar begitu sedan mewah yang membawanya dan Lee Dong Wook serta Hwang Nara memasuki pelataran istana keluarga Lee, mansion bergaya eropa klasik berlantai empat.

Rasa sebal yang memayunginya sejak terbang dari Manchester menuju Seoul lenyap tak bersisa. Kedatangannya disambut hangat sang ibu yang sudah menunggunya, Hayoung berhambur ke dalam pelukan sang ibu. Memeluknya erat.

“Eomma… Bogoshipo.” Ungkap Hayoung.

“Na do, Hayoung-ah..”

“Kau tidak merindukanku, Hayoung-ah?”

Seorang wanita berperut buncit muncul dari balik punggung sang ibu.

Hayoung tersenyum cerah melihat kakak perempuannya, Lee Chae Lin.

“Eonnie….” Serunya riang.

“Omo! Perutmu sudah besar sekali.”

“Welcome home, Hayoung-ah.” suara berat seorang pria di samping Chae Lin menarik perhatian Hayoung.

“Annyeong Kyuhyun oppa.” Hayoung tak jerih menebar senyum manisnya.

“Ayo kita masuk. Kau pasti lelah.”

“Eomma! Kau tidak merindukanku? Kau tidak ingin memelukku juga?” rengek seseorang yang sedang menyeret dua koper besar milik kekasihnya.

“Aigoo… Dong Wookie juga ingin pelukan dari eomma huh?”

“Omo! Dong Wookie…”

Chae Lin dan Hayoung terkikik geli mendengar panggilan sayang dari sang ibu untuk putra sulungnya.

Lee Dong Wook berjalan masuk ke dalam rumah dengan memeluk kedua wanita terkasihnya, sang ibu dan kekasihnya, Hwang Nara.

                                  ***

Setelah seharian berdiam diri di kamarnya karena kelelahan dan masih merasakan jet lag. Hayoung meraba ponselnya yang bergetar di atas nakas.

“Good morning, princess…”

Suara berat seorang pria menyapanya. Membuat rasa kantuknya lenyap seketika.

Hayoung mengusap matanya, tanpa sadar kedua ujung bibirnya terangkat.

“Apa aku mengganggu waktu tidurmu?”
Hayoung menguap lebar.

“Tidak.” jawabnya bohong.

“Aku sudah di dalam pesawat, dan akan lepas landas lima menit lagi.”

“See you in Seoul, princess..”

“Miss you…”
Hayoung tersenyum manis mendengar kalimat cinta yang dilontarkan Jaejoong.

“Take care, handsome.”
“See you and miss you too…”
Dan percakapan singkat mereka berakhir.

Jaejoong menon-aktifkan ponselnya. Sementara Hayoung melompat-lompat di atas ranjang besarnya.

                           ***

Suara dering ponsel menggema di sepenjuru ruangan.

Sekali. Dua kali. Dan untuk ketiga kalinya ponsel meraung-raung menandakan panggilan masuk.

Seorang pria bergerak malas dari atas tempat tidurnya sembari menyambar selimut yang membungkus tubuhnya yang tak terbalut pakaian.

“Ne, eomma…” jawab pria itu dengan mata yang masih terpejam.

“Ne, aku mengerti. Sampai jumpa di rumah.”
Klik. Sambungan telepon terputus.
Dilihatnya jarum jam dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi, dan sang ibu sudah menghubunginya hanya untuk mengingatkannya tentang tradisi malam natal keluarganya.

Bahkan tanpa diingatkan pun pria itu akan kembali ke rumah meskipun jarak dari apartement yang menjadi tempat tinggalnya saat ini cukup jauh dari kediaman kedua orangtuanya.

Tiba-tiba seseorang melingkarkan tangannya di perut pria tersebut.

“Kau sudah bangun?” sapa pria itu.

“Hmmm…”

“Nugu?” tanya seorang gadis berambut cokelat gelap pada pria tersebut.

“Ibuku. Aku akan pulang ke rumah hari ini.” Jelasnya memberitahu.

“Jadi aku akan menghabiskan malam natal seorang diri?” lontarnya kecewa.

“Atau bolehkah aku ikut bersamamu?” mata gadis itu berbinar cerah.

“Belum saatnya, Seulgi-yaa.”
Pria itu mengusap lembut puncak kepala gadis di hadapannya.

“Baiklah. Mungkin lain kali.”

                               ***

Awan kelabu memayungi langit kota Seoul pagi ini, kendati demikian tak menyurutkan animo warganya untuk pergi keluar untuk berbelanja kebutuhan natal. Begitu pula dengan seorang gadis yang baru saja keluar dari kamarnya tersenyum cerah menyapa para pekerja di kediaman mewahnya.

Mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mendapati sepasang sejoli tengah memadu kasih di dapur. Seorang pria yang ia sebut sebagai kakak ipar tengah memeluk erat tubuh wanita berperut buncit dari belakang. Tangannya yang kekar mengusap-usap perut kakak perempuannya, Chae Lin.

Hayoung hanya tersenyum simpul melihat pemandangan meneduhkan hati itu. Gadis itu tampak gembira melihat kehidupan rumah tangga kakak perempuannya sekarang. Kehidupan yang jauh dari derita dan air mata bahkan nyaris luluh lantak beberapa bulan silam.

Hayoung berdehem. Sepasang sejoli tersebut serempak menatap ke arah sumber suara.

“Morning…” sapa Hayoung dengan tersenyum manis.

“Morning too…” sahut Kyuhyun balas tersenyum.

“Hot choco, please.” Ucap Hayoung pada salah seorang maidnya.

Tak berapa lama semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan.

Berbagai macam hidangan penggugah selera tersedia di hadapan mereka. Pancake dengan siraman saus maple dan madu serta secangkir cokelat panas menjadi menu sarapan pagi putri sulung keluarga Lee.

Sementara semua orang fokus dengan hidangan masing-masing, Hayoung justru sibuk memainkan jemarinya di atas layar ponsel pintarnya. Sesekali gadis itu terkekeh kecil saat membaca pesan yang dikirimkan salah seorang sahabatnya, Park Soyoung.

“Hayoung…”

Suara lembut sang ibu memanggil putri bungsunya. Diabaikan. Hayoung terlalu fokus dengan ponselnya.

“Hayoung-ah!” panggil sang ibu lagi dengan volume suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Panggilan kedua masih terabaikan.

Beberapa pasang mata yang ada mulai menatap ke arah Hayoung.

“Lee Hayoung!” seru sang ibu dengan nada tinggi.
Perhatian Hayoung teralihkan.

“Ne?” jawabnya polos seraya menatap sang ibunda.

Kedua kakak Hayoung, Chae Lin dan Dong Wook hanya tersenyum tipis saat melihat wajah polos adik bungsunya menghadapi sang ibu yang nyaris memuntahkan amarahnya detik itu juga.

“Apakah tinggal di Manchester beberapa bulan terakhir membuatmu lupa aturan di rumah ini?” tanya sang ibu tegas.

Suasana mulai berubah mencekam. Kyuhyun bahkan berhenti memotong pancake-nya.

Hayoung yang langsung menyadari kesalahannya segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Setelah semua orang menyelesaikan santap paginya, beberapa orang pelayan dengan sigap menuangkan teh hijau ke cangkir masing-masing. Tradisi turun-temurun keluarga Lee, minum teh seraya bercengkrama dengan anggota keluarga.

“Apa kau sudah merasa nyaman tinggal di Manchester, Hayoung-ah?” tanya Chae Lin pada adik bungsunya yang sedang mengduk-aduk teh hijaunya.

Kedua sudut bibir Hayoung terangkat, membentuk lekukan senyum yang mempesona dan jangan lupakan tentang semburat merah yang mulai muncul di pipi tembamnya.

“Tentu saja, eonnie.” Jawabnya singkat.

Hanya dengan melihat gelagat adik kecilnya, Chae Lin menduga bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Hayoung sehingga membuat gadis itu nampak begitu bahagia.

“Apakah dia sedang jatuh cinta?” tanya Chae Lin dalam hati.

“Bagaimana dengan asrama yang kau tempati? Apakah kau masih merasa tidak nyaman? Perlu ibu carikan apartement baru untukmu?” tanya sang ibu.

“Tidak perlu, bu. Sejauh ini aku masih nyaman berada di asrama, meskipun aku harus selalu bangun pagi agar tidak terlambat pergi ke kampus.”

“Antrian kamar mandi, bukan?” sela Hwang Nara.

“Ne, eonnie. Apa kau pernah merasakannya juga?”

“Dangyunhaji! Dan aku selalu mendapat nomor antrian paling akhir. Haha” Nara terkekeh kecil.

Tring!
Suara gelas kristal yang diketuk menggunakan sendok mengalihkan perhatian semua orang.

“Ada yang ingin ibu katakan pada Hayoung.”

“Sesuatu yang cukup penting, jadi dimohon untuk diam sejenak dan dengarkan kata ibu. Everybody understand?”

Layaknya seorang guru yang sedang meminta murid-muridnya untuk diam dan memperhatikan.

“Chae Lin mewarisi kharisma dari ibunya” Kyuhyun membatin.

Seorang wanita berusia paruh baya dengan wajah yang masih terlihat menawan dan gurat-gurat ketegasan nampak jelas disana.

“Untuk Hayoung, ibu sudah membuat janji makan malam untukmu dan putra dari teman ibu.”

“Besok malam, jadi persiapkan dirimu dengan baik. Mengerti?”

Hayoung terkejut setengah mati. Dirinya mematung seketika. Tak tahu harus berkata apa. Dia sudah membuat janji makan malam bersama Jaejoong besok malam, tepat pada malam natal.

“Perjodohan? Lagi?” tanya Dong Wook sedikit bosan mendengar trik sang ibu dalam hal mengatur perjodohan.

“Perkenalan, Dong Wook-ah.” sanggah sang ibu.

Dong Wook tersengih. “Perkenalan dan pada akhirnya berujung pada pernikahan yang diatur. Apa bedanya dengan perjodohan?”

“Kenapa kau terlihat sarkastik seperti itu huh? Atau karena kau merasa iri karena ibu belum pernah mengatur perkenalan dengan salah satu putri dari kenalan ibu?”

“Jangan konyol bu! Apa ibu tidak melihat ada bidadari yang duduk di sampingku?”

Hwang Nara meremas kedua ujung kemejanya erat. Suasana mulai memanas.
“Arra… Ibu tidak akan mencampuri urusanmu jika kau juga tidak mencampuri urusan ibu. Mengerti?”

“Jadi, untuk Hayoung tersayang. Kau sudah mengerti apa yang ibu katakan tadi bukan?”

                                      ***

Butir-butir es tipis turun satu-satu menyambut kedatangan seorang pria bermantel khaki memasuki lobby hotel berbintang lima. Kim Jaejoong menyeret pelan koper mungilnya.

Pria itu tersenyum tipis melihat pemandangan di sekelilingnya. Pria itu begitu merindukan kota ini. Kota sejuta kenangan dan kepedihan.

Pohon natal berukuran raksasa berdiri gagah di tengah lobby hotel dengan berbagai hiasan lampu kecil yang berkedip-kedip. Suasana natal begitu kentara saat semua pegawai hotel memakai topi santa bahkan bellboy yang menawarkan bantuan membawakan kopernya memakai kostum lengkap khas sinterklas.

                                  ***

“Eomma, kapan ayah datang?” tanya seorang bocah perempuan pada ibunya.

“Ayah akan segera datang. Jangan cemas, sayang.” Jawab sang ibu bohong.

“Eomma selalu berkata seperti itu, tapi ayah tidak pernah datang. Bahkan saat Jaehyun sakit pun ayah tidak datang. Apakah ayah sudah tidak sayang padaku dan Jaehyun?”

“Tentu saja ayah sayang padamu dan Jaehyun. Ayah sedang mencari uang yang banyak untuk membeli boneka barbie yang sangat banyak untukmu.” Jawab sang ibu seraya menarik selimut bergambar karakter kartun mickey mouse.
“Selamat tidur, sayang.”

Tak lupa sang ibu memberikan kecupan selamat malam kepada dua buah hatinya, Jaekyung si sulung dan Jaehyun si bungsu.

Han Hyojung menutup rapat pintu kamar buah hatinya sembari mendesahkan napasnya kuat-kuat.

“Maafkan ibu, nak.”

                                           ***

“Ya Tuhan! Bocah besar. Aku sangat merindukanmu.” Seru seorang gadis berambut pirang seraya memeluk erat sahabatnya itu.

“Aku juga merindukanmu, Park Soyoung.” Sahut Hayoung jujur.

Ketiga orang gadis tersebut saling berpelukan melepas rindu.
Park Soyoung si penggila belanja, Yoon Yerin si polos dan Lee Hayoung si bocah besar mempesona.

“Sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga disini.” Celetuk Soyoung saat menangkap basah Hayoung tersenyum lebar menatap ponselnya. Gadis itu sedang sibuk berkirim pesan dengan Kim Jaejoong.

Hayoung mengangkat kepalanya. Lantas tersenyum simpul kepada kedua sahabatnya.

“Tell me right now! Please.” Yerin berseru tak sabar.

“Kau tahu pria yang dulu pernah aku ceritakan padamu?”

“Pria yang memberimu makanan?”

Hayoung mengangguk mantap.

“He’s my boyfriend, now…” ucap Hayoung seraya tersenyum malu-malu.

Yerin dan Soyoung terdiam kaku.

“Yaa! Wae geurae?”

Suara Hayoung mengembalikan kesadaran mereka dari keterkejutan.

“Ya Tuhan! Bocah besar…” seru Soyoung sembari mengguncang-guncang bahu Hayoung.

“I’m happy for you.” Soyoung tersenyum manis di akhir kalimatnya.

Perbincangan ketiga gadis yang sudah bersahabat sejak kecil itu berlanjut. Hayoung mulai menceritakan semuanya kepada Soyoung dan Yerin.

                                        ***

“Kau sudah datang?” suara lembut seorang wanita menggema di sepenjuru ruangan.

Seorang pria berjalan mendekat dan memberikan pelukan singkat.

“Perlu bantuan?” tawarnya pada wanita berusia paruh baya yang terlihat kesulitan memasang hiasan pada pohon natal.

“Kau sudah sangat besar sekarang.” Ucapnya seraya mengusap puncak kepala pria berbadan tinggi tegap yang merupakan putranya.

“Lekas mandi, ayahmu akan segera pulang.”

“Yes, ma’am…” sahutnya patuh.
Wanita tersebut melanjutkan kegiatannya dalam menghias pohon natal dengan beragam pernak-pernik. Perlahan bulir-bulir jernih mulai menggenang di pelupuk matanya saat memori di kepalanya memutar beberapa kenangan di masa lalu, ketika dimana ia dan kedua orang jagoan kecilnya saling berebut menghias pohon natal.

Tiba-tiba seseorang mendekap tubuh mungilnya dari belakang.

“Aku merindukannya…” ucapnya lirih pada seseorang yang memeluknya dari belakang yang wanita itu ketahui sebagai suaminya.

“Berhenti merindukannya yeobo, berhenti merindukan dia yang bahkan tak pernah mengingat kita.”

Tetesan jernih mengalir deras membasahi pipi seiring dengan turunnya salju malam itu.

“Jaejoong-ah…” panggilnya dalam hati.

                               *****

Dengan antusias Hayoung membuka lebar lemarinya, gadis itu sibuk mengeluarkan setengah dari isi lemari pakaiannya, mencoba beberapa potong gaun yang menghuni lemarinya.

Tiba-tiba seorang pelayan di rumahnya datang dan membawakan sebuah gaun berwarna hitam dengan aksen rose di bagian bawahnya. Gaun keluaran terbaru dari Versace.

“Nyonya meminta anda untuk memakainya, nona muda.” Ucap pelayan tersebut sopan.
Hayoung tercengang sekaligus heran.

“Baiklah.”

“Dan nyonya meminta untuk segera turun.”

“Aku akan segera turun dalam dua puluh menit lagi.”

“Apakah ibu tahu jika aku akan pergi makan malam bersama Jaejoong?” gumamnya sendiri.

“Eeeeyy… tidak mungkin!”

“Berhenti berpikir sesuatu yang mustahil, Hayoung-ah!”

Hayoung mematut dirinya di depan cermin. Memoleskan lipstick berwarna merah darah pada bibirnya, mengatur rambutnya yang hitam bergelombang.
Setelah puas dengan penampilannya Hayoung menyambar sepasang pump heels dari Jimmy Choo.

                                             ***

Kim Jaejoong menatap sendu pemandangan di luar jendela kaca kamar hotelnya.
Salju tipis turun satu-satu dari langit. Mengingatkannya akan kenangan dua tahun silam, kenangan terpahit dalam hidupnya.

Suara dering ponsel menarik perhatiannya, sebuah pesan masuk.
‘See you soon, handsome.’

Kim Jaejoong tersenyum manis membaca pesan singkat yang dikirimkan Hayoung padanya.

Pria itu bergegas menyambar mantel tebalnya, menerjang cuaca dingin yang menggigit kulit.

Lobby hotel dipenuhi dengan beragam hiasan dan pernak-pernik natal. Termasuk pohon natal yang berdiri gagah di tengah lobby hotel, dan beberapa anak-anak berlari kecil mengelilingi pohon natal sembari bersenda gurau.

“Jongin-ah! Berhenti mengejar adikmu!”

Deg!

Kim Jaejoong melihat seorang wanita menangkap kedua bocah kecil yang sejak tadi berlarian di sekeliling pohon natal.

Pria itu tersenyum pahit melihat pemandangan tersebut. Kakinya melangkah pelan membawa segala kenangan manis dan getir yang bersemayam di hatinya.

                                               ***

“Omo! Putri ibu cantik sekali!” puji sang ibu begitu melihat sosok Hayoung.

“Terimakasih untuk gaun cantiknya eomma…” ucapnya lembut sembari menggelayut manja ke lengan sang ibu yang sedang duduk santai.

“Everything for you, sayang.”

“Bergegaslah, ibu sudah siapkan segalanya.”

“And good luck!”

“Maksud ibu?”

“Jangan katakan jika kau lupa tentang acara makan malam yang ibu bicarakan tempo hari?”

“Oh come on, sweetheart! Makan malam bersama putra dari salah seorang teman ibu.”

Deg!

Hayoung membeku seketika. Tubuhnya kaku serasa disiram dengan ribuan debit air es.

“Supir pribadi ibu akan mengantarmu sampai di tempat tujuan yang sudah ibu tentukan.”

Dengan langkah lunglai Hayoung masuk ke dalam sebuah sedan mewah yang akan membawanya ke lokasi pertemuannya dengan seorang pria yang konon seorang ahli waris dari sebuah bank swasta nomor wahid di negeri ginseng.

                                       ***

Seorang pria duduk manis di sudut belakang sebuah restoran elit bergaya retro eropa di kawasan Gangnam. Sesekali pria berperawakan tinggi tegap tersebut melihat jarum jam arloji mewah yang melekat di pergelangan tangannya. Nyaris sepuluh menit ia menunggu gadis yang akan menjadi teman kencan butanya malam ini.

Jemarinya sibuk mengetuk-ngetuk permukaan meja maple di hadapannya. Dan gerakannya terhenti saat melihat seorang gadis yang tak asing baginya tiba-tiba menarik kursi kayu di hadapannya.

Keduanya sama-sama terkejut.

“Kau?” seru keduanya serempak.

Tak disangka bahwa gadis yang akan menjadi teman kencan butanya malam ini adalah gadis yang selama ini begitu digilai oleh sahabatnya, Oh Sehun. Dan gadis teman kencan butanya malam ini adalah Lee Hayoung.

“Ya tuhan! Kenapa dunia begitu sempit?”

“Kenapa aku harus menghabiskan malam natalku bersama denganmu?”

Hayoung menatap nanar pria di hadapannya.

“Shut up, Kim Jongin!”

“Memangnya kau pikir aku senang harus menghabiskan waktuku bersamamu di malam natal seperti ini?” Hayoung mendengus sebal.

“Eeeeeyy calm down, honey. Aku hanya bercanda.” goda Jongin pada gadis di hadapannya.

“Dasar playboy!” dengus Hayoung lirih.

Hayoung bersiap bangkit dari kursi, ingin sesegera mungkin lenyap dari hadapan pria bermarga Kim tersebut.
Grep…
Kedua tangan Jongin dengan sigap mencegahnya.

“Setidaknya makan malam terlebih dulu, aku sudah memesan hidangan untukmu.”

Dan benar saja, dua orang pelayan pria datang mengantar hidangan makan malam untuk mereka berdua.

Diliputi suasana hening nan canggung keduanya menyantap menu makan malam masing-masing.

“Kapan kau kembali ke Manchester?” Kim Jongin membuka pembicaraan.

“Darimana kau tahu aku melanjutkan studiku di Manchester?”
“Oh Sehun, kau tahu dia sangat tergila-gila padamu.”

“Dan entah bagaiman reaksinya jika dia tahu bahwa aku makan malam bersamamu malam ini.”

“Mungkin Sehun akan menghajarku habis-habisan.”

“Too much…” sahut Hayoung dingin.

Kim Jongin tersenyum tipis mendengar respon dingin dari Hayoung.

Tanpa gadis itu sadari kedua bola mata Jongin bak sebuah alat scan yang menatap Hayoung dari ujung kepala sampai ujung kaki. Satu hal yang mala mini baru pria itu sadari, Hayoung begitu menawan malam ini.

Dalam balutan black mini dress beraksen rose yang merupakan koleksi terbaru dari Versace terlihat sangat kontras dengan kulit putih susunya. Rambutnya yang hitam panjang bergelombang beberapa kali bergerak lembut mengikuti gerak tubuh Hayoung. Mata cokelat almondnya memancarkan keindahan yang takkan bisa ditolak pria manapun saat bersitatap dengannya. Bibir plumpnya terlihat amat menggoda karena polesan lipstick berwarna merah darah.

Dan hal terakhir yang akan selalu melekat dalam benak Kim Jongin malam itu adalah aroma parfum yang menguar saat Hayoung bergerak, aroma apel dan kayu manis yang begitu memabukkan dirinya.

                                        ***

Lebih dari satu jam pria itu menunggu di dalam sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari Namsan Tower.

“I’m so sorry, J…” ucap Hayoung penuh penyesalan.

“Gwaencana, princess…”

“Aku harus menemani Chae Lin eonnie pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungannya.” Ucapnya bohong.

“Berapa usia kehamilannya?”

“Mmmm… TIga bulan.” Jawab Hayoung asal.
Jaejoong manggut-manggut mengerti.

Semenit kemudian, pelayan datang mengantar menu makan malam yang telah dipesan Jaejoong.

“Aku sudah memesan menu makan malam, semoga kau menyukainya.”
Hayoung hanya tersenyum tipis.

Perutnya sudah penuh dengan spaghetti carbonara, blueberry pudding dan secangkir hot choco saat bertemu dengan Kim Jongin. Dan kali ini ia dihadapkan pada sepiring fettucini bolognese, semangkuk sup krim jamur, serta secangkir cokelat panas.

Jaejoong makan dengan lahap sementara Hayoung hanya mengaduk-aduk makanannya. Perutnya terasa hampir meledak jika ia terus memaksakan diri untuk menyantap semua hidangan di hadapannya.

“Kau tidak menyukainya?” celetuk Jaejoong.

“Aniyo… Aku menyukainya.” Jawab Hayoung sambil menyesap cokelat panasnya.

“Aku hanya sedikit kenyang karena tadi Chae Lin eonnie mengajakku makan sebelum pergi ke dokter kandungannya.” Ujarnya bohong (lagi).

Setelah menandaskan menu makan malam, keduanya berjalan beriringan saling menggenggam tangan menyusuri jalanan kota Seoul.

Hayoung membuka telapak tangannya, membiarkan butir-butir es tipis yang turun dari langit memenuhi permukaan halus kulit tangannya.

“Kau suka salju?”

“Neomu joha…” Hayoung menjawab mantap.

“Jadi kau menyukai salju dan cokelat panas, benar bukan?”
Hayoung menganggukkan kepalanya.

“Dan uri Hayoungie tidak menyukai makanan pedas.”

“Aku akan selalu mengingat semua hal tersebut dengan baik.”

“Kau sudah mengetahui beberapa hal yang aku suka dan tidak suka. Tetapi aku belum mengetahui apapun tentang hal yang kau sukai dan yang tak kau sukai.”

“Kau tahu apa yang paling aku suka?”

“Mmm…Tentu saja!”

“Aku menyukaimu.” Bisik Jaejoong tepat di telinga Hayoung.
Hayoung tersenyum manis, pipinya bersemburat merah jambu.

Jaejoong memanggil sebuah taksi dan seperti biasa dengan sigap membukakan pintu untuk Hayoung.

“Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang.”

“Mwo? Andwae!” tolak Hayoung.

“Waeyo?”

Hayoung menggigit bibir bawahnya. Gadis itu belum sanggup jika salah seorang anggota keluarganya mengetahui hubungan asmaranya dengan Kim Jaejoong yang memiliki perbedaan usia yang cukup jauh dengannya.

“Not for this time, J. Pardon me…” Hayoung mengusap punggung tangan Jaejoong dengan lembut.

“Its’s okay, princess. Mungkin lain kali.”
Jaejoong tersenyum manis di akhir kalimatnya.

                                           ***

“Eomma! Eomma!”

“Eomma….”
“Ada apa, sayang?” tanya sang ibu pada putra kecilnya.

“Igeo…” si bocah kecil berusia dua tahun menunjuk permen lollipop berukuran jumbo yang sedang dikulum oleh anak di sampingnya.

“Jae Kyung-ah, tolong kau ajak adikmu membeli lollipop.” Perintah sang ibu pada putri bungsunya seraya menyerahkan beberapa lembar uang. Sang ibu sedang sibuk memasukkan barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil.

“Kajja, Jae Hyun-ah…” si bungsu menggenggam tangan adik kecilnya.
Keduanya berjalan menuju kedai permen yang berada beberapa meter dari tempat sang ibu berada.

                                             ***

“Kenapa kau tidak pernah membawa sarung tangan di tengah cuaca dingin seperti ini?” ucap seorang pria pada wanita yang berjalan di sampingnya.

“Karena aku lebih suka kehangatan yang diberikan tanganmu.” Sahutnya pelan dan malu-malu.
Kim Jaejoong tersenyum simpul.

“Appa!”

Suara pekikan seorang gadis mungil menarik perhatian Jaejoong dan Hayoung.

Jaejoong memutar tubuhnya ke arah sumber suara.

“Jae Kyung…” gumam Jaejoong lirih saat melihat sosok gadis kecil yang berdiri tak jauh darinya dan Hayoung.

To be continued…

73 thoughts on “No Reason Part 8

  1. Jreng jreng jreng! Mau tau sama reaksi hayoung pas kekasihnya dipanggil appa 😁 Ceritanya makin seru thor, lanjutin secepatnya dong author cantik 😊 Makin penasaran nih sama kelanjutan ceritanya 😊

    Suka

  2. Reader baru disini ;v Maaf banget baru komen disini. .
    Aku pernah baca yang we need love, dulu tapi waktu masih jadi siders ;v Baru tau kalo ada sequelnya, jadi aku baca dulu sampe part ini soalnya penasaran. .
    Baru komen dehh. . Hehe Maafin ya thor, aku udah gak jadi siders ko, calm ;v Jadi, ijinin baca yaaaa

    Suka

  3. FINALLY, di next juga. ^.^
    Eonnie, bingung harus dukung Hayoung sama siapa….
    Tapi klw dipikir pikir, kasihan Sehun ya… Udah cinta sejak lama tapi hayoung malah kepincut sama Namja yg udah bisa disebut ‘Ahjussi’ /Lah apa hubungannya? >_<

    Eonnie, perbanyak Scene Hayoung ya eonnie…
    Kalau bisa sih yg romance2nya dibuat smkin hot.
    Wkwk… :v

    Cayo Eon!!!! Fighting, lanjutnya.

    Suka

  4. Entah knp aku mikir itu cowo yg sma Seulgi si Jongin. Jdi menurut aku Jongin juga ngga ska ama Hayoung krna udh punya sndiri. Makin complecated deh..

    Akhirnya ketemu anaknya juga, tpi aku rada ngga paham itu tmpatnya dimana tau2 udh ketemu aja. Reaksinya Hayoung gimana?? Ahhh kepo deh, dia maklumin klo Jaejoong usianya beda jauh ama dia, lah klo anak?? Next author, cepet yakk!! Semangatt 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s