Intermediate Part 1


wallpaper_polos_putih_ce-2026-1-85

 

Author            : Syafalula (Lula)

Title                 : INTERMEDIATE

Category         : Fantasy, Action, Romance, PG-16, Yadong, Chapter.

Cast                 : Lee Hyukjae, Cho Yeong Eun.

                           Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Jongwoon, Park Chanyeol, Kim Taehyung, Do Kyungsoo.

 

 

Halloo, Lula kembali lagi. Kali ini bersama cerita cinta yang lain. Yang nggak jauh-jauh dari genre action juga. Entah kenapa aku suka liat orang berantem dan gebuk-gebukan, kkkk~

Oh ya, aku kasih penjelasan terlebih dahulu sebelum ada salah pahamnya ya. Aku suka sama Mitologi Yunani. Aku udah baca buku-buku ringan soal mitologi itu sejak SD (fyi, sekarang aku udah kuliah). Jadi, aku udah kenalan sama Zeus, Hercules, dan kawan-kawannya dari kecil, meskipun nggak ngerti detail soal mereka. Suka nonton film-film kartunnya, sampe pas SMA udah nonton film-film baratnya yang dewa-dewa gitu (maklum, filmnya belum lulus sensor kan :v). Dan sejak pertama kali nulis, aku udah kepingin banget bikin cerita yang latarnya tentang Mitologi Yunani. Ide cerita ini bahkan udah kepikiran sebelum aku bikin The Wild Couple. Tapi akhirnya aku putusin untuk bikin TWC dulu. Awalnya kupikir nggak usah jadi aja bikin cerita fantasi tentang mitologi, soalnya kayaknya sulit dan rumit. Tapi keinginanku malah tambah gila karena akhir tahun kemarin aku baru nyelesaikan baca novel Percy Jackson Series. Mau yang PJO dan HoO, karyanya Rick Riordan (ini telat banget karena itu novel udah ada sejak zaman kapan). Asli! Novel itu bagus banget dan semua fantasi dan harapanku soal mitologi terangkum semuanya di sana. Aku suka banget! Itulah kenapa aku bikin cerita ini.

Tapi, aku juga jadi cemas sendiri. Males aja kalau nanti ada yang bilang aneh-aneh. Apalagi plagiat, aku sensitif banget soal itu. Mau itu ceritaku yang diplagiatin, atau aku yang dikira plagiat. Padahal maksudku nggak begitu. Lagian nggak mungkin aku mau memplagiati novel keren mendunia kayak Percy Jackson, memalukan banget kan kalau fan malah jiplak idolanya? Ditambah lagi, konflik ceritaku nggak mungkin bisa sebagus karyanya Om Riordan. Jangan disamain ya, abisnya kan ceritaku cetek banget T.T

Aku nggak tahu gimana cara minta izin ke Om Riordan buat bikin ff yang akhirnya dibikin juga karena terinspirasi dari karyanya. Jadi, aku minta izin kalian dulu aja. Izinkan aku buat menggunakan beberapa latar mitologi yang kemungkinan akan sama dengan novel PJO. Kalian bisa menyebut ini sebagai sisi lain dari Percy Jackson, mungkin. Konflik, alur, dan unsur-unsur lain ceritanya juga hasil pikiranku sendiri. Jadi, kalo kalian ngerasa ada yang mirip yang ini, mirip yang itu, itu karena makhluk mitologi memang makhluk-makhluk itulah. Atau kalau nggak, ya tolong tanyakan dulu ke aku ya. Jangan asal ngomong begini begitu. Nanti malah salah paham ^^ Oke?

Kalau begitu, selamat membaca! ^^

 

 

Cho Yeong Eun merasa dirinya buta. Ia bisa mengenali segala sesuatu dengan baik. Tapi laki-laki itu bagaikan hutan yang gelap tanpa setitik pun cahaya. Bagaikan lautan dalam tanpa seberkas pun sinar matahari. Ia tadinya tidak berniat ingin memusingkan hal itu. Namun tindakannya pupus bahkan sebelum pikiran itu hilang. Segala peristiwa buruk yang terjadi dalam sejarah perjalanan hidupnya malah melibatkan laki-laki itu. Bukan hal yang baik, melainkan malah hal yang sangat berbahaya! Mengingat Lee Hyukjae selalu menatapnya dengan pandangan seolah ingin menerkamnya. Hal yang dikhawatirkannya adalah bahwa ia bisa melemparkan dirinya dengan sukarela pada laki-laki itu.

Gadis itu mengganggu. Sungguh benar-benar amat sangat mengganggu. Sepanjang hidupnya yang lama, Lee Hyukjae tidak pernah merasa terusik separah ini. Cho Yeong Eun, dia pasti bukan perempuan biasa. Tidak. Dia lebih dari seorang bangsa intermediet biasa. Oke, dia memang perempuan yang cantik. Dan juga wangi! Oh, aroma gadis itu adalah hal buruk lainnya. Bagaimana dia bisa memiliki aroma sememikat itu? Eunhyuk tidak berani membayangkan bagaimana dengan bagian terdalam gadis itu. Hidupnya berubah total karena keterikatan takdirnya dengan Yeong Eun. Baiklah, mungkin kehidupannya untuk beberapa tahun ke depan akan terasa menyenangkan. Dan yang jelas, berbahaya. Lagipula, menerjang bahaya bersama gadis itu terdengar begitu menarik.

 

***

 

CLAYTON’S ACADEMY

Dear Ms. Cho

Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Clayton’s Academy. Kami akan senang menerima kedatangan Anda di Perkemahan Intermediet.

Tahun ajaran baru dimulai 1 September. Kapal keberangkatan pekemah akan berangkat pada 1 Agustus.

 

Tertanda,

Kepala Sekolah

Jeffry Archibald Wardell Clayton

(Kelas Tujuh, Ketua Persatuan Klan Intermediet, Sangat Handal, Berbahaya)

Disampaikan Oleh,

Paisley Rosalin

Kepala Komunikasi Akademi

 

Yeong Eun termenung, menatap gumpalan angin yang terus bergerak dan lama-kelamaan menghilang dari hadapannya. Ia mengerutkan dahinya dalam. Belum bisa percaya bahwa benda bergerak itu tadinya berbicara padanya. Diulangi ya, berbicara padanya! Ditambah lagi, ia juga memberikan penjelasan yang, demi Tuhan, benar-benar tidak bisa dimengerti!

 

“Nah, karena kau sudah mendapatkan surat anginmu, besok pagi kita akan mengantarkanmu ke perkemahan.”

 

Tuan Cho, ayahnya, menatapnya dengan pandangan puas dan berseri. Tidak merasa bersalah karena sudah membuat anak perempuannya nyaris gila karena melihat angin yang berbicara.

 

“Appa! Eomma!” Yeong Eun memanggil dengan kesal, menatap bingung pada orangtuanya. “Memangnya kalian tidak merasa harus menjelaskan sesuatu padaku? Apa sebenarnya itu tadi? Kenapa … KENAPA ADA ANGIN YANG BERBICARA MASUK KE RUMAH KITA?”

 

Yeong Eun bangkit dari duduknya. Melangkah bolak-balik di ruang tengah rumahnya. Memijat-mijat kepalanya. Tidak bisa memutuskan bahwa ini adalah sebuah kenyataan. Tidak. Mungkin dia sedang bermimpi sekarang. Benar. Ini pasti mimpi.

 

“Ini pasti tidak nyata. Bisakah seseorang memukulku sekarang?”

 

Ctak!

 

“Auw! Aduh, sakit tahu! Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?”

 

Yeong Eun menatap murka pada Cho Kyuhyun, kakak laki-laki Yeong Eun. Sementara pria itu hanya mengangkat bahunya dengan tak acuh. Masih berusaha menghabiskan keripik kentangnya.

 

“Kau sendiri yang minta dipukul kan? Bersyukurlah aku hanya menyentil dahimu.”

 

“Tapi bukan itu maksudku. Kenapa kalian tidak ada yang terkejut? Kalian seolah sudah biasa melihat udara yang berbicara. Kenapa hanya aku yang tidak mengerti? Jelaskan padaku kenapa bisa jadi seperti ini?!”

 

“Sudahlah. Sudah nyaris tengah malam. Sebaiknya kau tidur sekarang. Besok kita berangkat pagi-pagi sekali. Kapalmu akan berangkat besok.”

 

“Tap—tapi, setidaknya beri tahu aku dulu. Kenapa aku harus pergi ke perkemahan inter—apalah itu tadi. Dan memangnya itu tempat apa? Kalian mau mengusirku?”

 

Yeong Eun masih meneruskan kalimatnya saat tubuhnya sudah ditarik paksa oleh Kyuhyun agar naik ke kamarnya di lantai dua.

 

“Tidak sekarang, Yeong Eun. Besok. Kau akan tahu semuanya besok. Sekarang tidurlah. Ini adalah perintah.”

 

“Tapi, Eomma … tunggu dulu.”

 

Kalimat Yeong Eun tertinggal di tenggorokannya. Kakinya sudah tersandung-sandung menaiki tangga. Sekarang ia sudah berada tepat di depan pintu kamarnya. Dengan tangan Kyuhyun yang masih memegangi bajunya di bagian bahu.

 

“Dan kau! Jelaskan padaku sekarang.”

 

Yeong Eun menatap Kyuhyun dengan tatapan marah dan sarat akan perintah. Tidak peduli bahwa kini orang yang berdiri di depannya adalah kakaknya. Lagipula Kyuhyun juga tidak suka jika ia memanggilnya ‘Oppa’. Dia bilang, sapaan itu terdengar mengerikan saat keluar dari bibirnya. Sebenarnya siapa yang durhaka pada siapa sih sekarang?

 

“Apa yang ingin kau tahu?”

 

Yeong Eun lalu menarik tangan Kyuhyun, masuk ke dalam kamarnya. Dan tanpa disuruh, pria itu sudah merebahkan tubuhnya dengan nyaman di ranjangnya. Yeong Eun duduk di sofa hijaunya di tengah kamar.

 

“Perkemahan intermad—, intermide—ah, apalah itu tadi. Itu tempat apa? Dan kenapa aku harus pergi ke sana?” Yeong Eun memulai. Menyerah karena tidak bisa menyebutkan nama itu dengan benar. Sementara Kyuhyun hanya mengembuskan napas pelan. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Tangannya memutar-mutar sebuah pulpen berwarna perak.

 

“Perkemahan Intermediet. Itu adalah tempat bagi bangsa intermediet. Dan kenapa kau harus di sana? Karena kau sendiri adalah bangsa intermediet.”

 

Setelah kalimat yang tak seberapa itu, keheningan memenuhi kamar. Yeong Eun menunggu Kyuhyun tertawa karena bualannya itu, tapi pria itu masih bergeming.

 

“Bangsa Intermediet itu apa?”

 

Yeong Eun melanjutkan pertanyaannya. Kali ini, Kyuhyun terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “kau yakin ingin aku yang memberitahumu? Kau bisa mengetahuinya secara lengkap saat kau sudah sampai di perkemahan.”

 

“Tidak. Sekarang saja. Aku tidak tahan lagi kalau harus menunggu sampai pagi.” Yeong Eun menjawab tanpa berpikir lama, menolak mentah-mentah penawaran Kyuhyun. Ia duduk menanti penjelasan Kyuhyun dengan mata berbinar.

 

“Kau tahu sesuatu tentang mitologi Yunani?”

 

“Hmm, tidak terlalu banyak. Hanya seputar Zeus, Poseidon, Medusa, dan lain-lain. Ibu dan Ayah sering memberiku buku mengenai mereka. Jadi, sepertinya pengetahuanku tak terlalu mengenaskan. Kenapa?”

 

“Mereka, para dewa-dewi Olympia itu, mereka memang benar-benar ada.”

 

Kali ini Kyuhyun menatap Yeong Eun. Tatapan Kyuhyun begitu lugas. Dan tidak ada kesan menjengkelkan yang biasanya pria itu keluarkan. Hal yang membuat Yeong Eun bungkam.

 

“Tidak mungkin. Mereka … kalau mereka memang ada, dimana mereka sekarang? Di gunung Olympus? Tidak ada gunung Olympus di dunia ini.”

 

“Memang benar. Tidak ada yang tahu keberadaan mereka dengan pasti. Terakhir kali yang kuketahui, mereka berada di New York, berada di langit tepat di atas Empire State Building. Mereka bisa pindah ke mana saja mereka inginkan. Tapi intinya, mereka benar-benar ada.”

 

Yeong Eun memeluk kedua lututnya. Mulai memandang kosong pada kaki ranjangnya.

 

“Dan apa hubungan bangsa intermediet dengan mereka?”

 

“Kita berdua, bangsa intermediet, merupakan kepingan dari para dewa. Bagian dari mereka berada dalam diri kita.”

 

Kyuhyun menatap langit-langit kamar Yeong Eun. Mengerutkan alisnya tanpa sadar.

 

“Jadi, kita adalah anak mereka? Keturunan mereka?”

 

“Kupikir itu bukanlah istilah yang tepat. Kehadiran kita bukanlah sebuah rantai keturunan. Kita adalah ketidaksengajaan yang tercipta.”

 

Alis Yeong Eun ikut berkerut dalam. Ia menatap Kyuhyun lama-lama. Dan mau dipikir sedalam apa pun, ia tetap tidak mengerti.

 

“Maksudmu apa? Ketidaksengajaan bagaimana? Memangnya mereka tidak sengaja telah membuat kita? Begitu?”

 

Kyuhyun melirik jengkel pada Yeong Eun. Bangkit dari tidurnya dengan sekali gerakan.

 

“Sejak kapan ucapanmu bisa sekotor itu? Belajar dari mana kau kosa-kata vulgar itu?”

 

“Hei, ini tidak vulgar! Masih beruntung aku tidak menyebutkan kata seks dan sejenisnya. Nah, jangan mengalihkan pembicaraan. Apa maksudmu tadi?”

 

“Demi dewa-dewi, kenapa kau bisa jadi gadis mesum seperti ini hah? Sudahlah. Penjelasan awalmu sudah cukup. Kau bisa memperoleh informasi sedikit demi sedikit nanti.”

 

“Yaaak, ceritamu itu belum tuntas. Selesaikan dulu penjelasannya. Dasar tidak sopan! Kau mau membuatku mati penasaran? Hei, Cho Kyuhyun!”

 

Blam!

 

Pintu kamar Yeong Eun tertutup. Lengkap dengan sosok Kyuhyun yang sudah menghilang dari kamarnya. Yeong Eun mengentakkan kakinya kesal. Membantingkan dirinya ke ranjangnya. Membiarkan kepalanya penuh karena segala penjelasan Kyuhyun tadi. Mitologi Yunani, sejauh yang ia tahu, semua hal mengenai mereka itu hanya mitos. Tak ada bukti konkret yang menjelaskan keberadaan mereka. Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana bisa dirinya dikaitkan dengan hal itu? Kalau memang ia dan Kyuhyun adalah bagian, kepingan, dan ketidaksengajaan seperti yang Kyuhyun ceritakan tadi, bagaimana mereka bisa memperoleh kehidupan? Dan kalau memang begitu, kenapa tak satu pun dari mereka datang untuk menemuinya selama belasan tahun kehidupannya? Untuk memberi penjelasan, menjenguk, atau sekedar bertamu? Kenapa mereka membiarkan dirinya berpikir bahwa mereka tidak ada? Apakah … bangsa intermediet tidak diinginkan?

 

Setengah jam berlalu, Yeong Eun memutuskan untuk tidur saja. Toh, ia tetap tidak akan mendapatkan apa-apa walaupun terjaga semalaman. Akhirnya, dengan perasaan kalut, Yeong Eun tenggelam dalam selimutnya.

 

***

 

Yeong Eun baru saja berhasil hanyut dalam tidurnya kurang lebih tiga puluh menit. Tapi kini tubuhnya sudah diguncang paksa untuk bangun.

 

“Yeong Eun! Yeong Eun, bangun!”

 

Yeong Eun terduduk. Mendapati Kyuhyun yang tampak terburu-buru dan … panik.

 

“Ada apa?”

 

“Kita harus pergi sekarang. Tidak bisa lagi menunggu sampai besok pagi. Ayo, cepat.”

 

“Hah? Pergi?”

 

Nyawa Yeong Eun bahkan belum kembali ke tubuhnya. Dan dihadapkan dengan kehebohan ini malah membuatnya hanya mampu membeo ucapan Kyuhyun.

 

“Ayah dan Ibu sudah menunggu di bawah. Cepatlah. Tidak ada waktu lagi.”

 

Kyuhyun menariknya bangun. Memberikannya sweater agar tidak kedinginan.

 

“Ada apa? Aku belum bersiap-siap. Aku bahkan belum mengepak barang-barangku.”

 

Yeong Eun masih bertanya. Tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Kyuhyun yang lebar menuruni tangga. Pukul satu dini hari. Suasana malam itu begitu sunyi hingga Yeong Eun bisa mendengar deru napas paniknya sendiri.

 

“Kopermu sudah ada di mobil.”

 

Kyuhyun mendorongnya masuk ke mobil di kursi belakang. Pria itu lalu duduk di sampingnya. Sementara ayah dan ibunya sudah siap di kursi depan.

 

“Kenapa tiba-tiba kita harus pergi? Ada apa?”

 

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Yeong Eun. Ayahnya hanya menatap jalan dengan serius. Sementara ibunya memandang berkeliling dengan was-was. Kyuhyun, pria itu juga tampak tidak tenang. Kepalanya sesekali menoleh ke belakang, memastikan agar tidak ada yang mengikuti mereka. Dan tentu saja, memang tidak ada! Orang gila mana yang akan mengikuti keluarga parno yang bepergian pukul satu dini hari?

 

“Tidak ada yang mau menjawabku? Hallo, aku duduk di sini lho. Ada yang mendengarku tidak?”

 

Kyuhyun membekap mulut Yeong Eun dengan tangannya. Pria itu menatap Yeong Eun dengan penuh peringatan. Tapi itu tidak membuat Yeong Eun takut. Setidaknya seseorang harus memberitahunya kan? Memberi petunjuk, apa yang harus mereka hindari? Takut pada apa? Melindungi diri dari apa? Bukannya dengan seenaknya menariknya pergi ke sana ke mari sesukanya! Dengan sentakan kuat, Yeong Eun menepis tangan Kyuhyun.

 

“Apa? Kau juga tidak mau menjawabku? Kalau begitu biarkan aku turun. Sikap diam kalian itu benar-benar membuatku muak.”

 

Yeong Eun berbalik, berniat membuka pintu mobil yang sedang melaju kencang. Dan tarikan tangan Kyuhyun berhasil membuatnya kembali menghadap pria itu.

 

“Jangan keluar. Jangan bergerak dan diamlah di tempatmu. Tutup mulutmu dan jangan bersuara apa pun. Kita sedang diikuti. Para monster sedang mencarimu.”

 

Kyuhyun menekankan kalimatnya di setiap kata yang diucapkannya. Menatap lurus pada Yeong Eun. Gadis itu diam membatu di tempat. Mulai merasakan keringat yang menuruni punggungnya. Ia otomatis menutup mulutnya rapat-rapat.

 

“Sebentar lagi kita sampai di pelabuhan.”

 

Suara ayahnya memecah keheningan. Tuan Cho tampak begitu waspada. Terlalu waspada hingga membuat Yeong Eun menjadi menciut di tempatnya. Monster? Monster apa yang dimaksud Kyuhyun tadi? Kenapa mereka mencarinya?

 

Tak lama itu, mobil sudah berhenti di sebuah pelabuhan yang luas. Beberapa kapal tertambat di sana, terikat pada tali yang mengikat kencang pada tiang-tiang kokoh. Suasana di sana begitu sunyi. Seolah tidak ada kehidupan.

 

“Kapal yang menuju perkemahan jelas belum tiba. Dan kita tak bisa menunggu hingga pagi.”

 

Nyonya Cho turun dari mobil. Memandang berkeliling.

 

“Serahkan padaku. Aku akan mengantar Yeong Eun sampai ke perkemahan.”

 

Kyuhyun mengeluarkan koper Yeong Eun. Ia menatap ke langit. Menunggu seseorang, sesuatu, atau entahlah apa yang sedang ditunggunya. Yeong Eun tidak tahu, karena ia sama sekali tidak melihat apa-apa selain langit yang hitam tanpa bintang sama sekali. Angin bertiup dingin. Membuat suasana malam semakin terasa mencekam.

 

“Sial! Kenapa mereka lama sekali?!”

 

Kyuhyun mengumpat. Tiba-tiba, dari arah jalan yang tadi mereka lalui terdengar bunyi gesekan kaki yang berat. Yeong Eun menoleh kaget. Begitupun ayah dan ibunya. Kyuhyun masih memandang langit penuh harap. Menantikan entah apa.

 

“Nah! Itu mereka datang!”

 

Dan baru saja Kyuhyun berseru senang, beberapa makhluk tak jauh dari jalan keluar dari kegelapan. Dua Dracaena sedang menatap mereka dengan lapar dan jijik. Dracaena adalah makhluk berwujud wanita setengah ular dan setengah manusia dimana kulit tubuhnya berupa sisik-sisik hijau. Dengan ukuran tubuh yang lebih besar dari manusia dewasa normal. Gigi-gigi taringnya setajam taring ular. Dengan bagian pinggang ke bawah yang berwujud ular raksasa. Kuku-kukunya panjang dan setajam pisau. Dua dracaena itu melata—atau berjalan, apa saja istilah yang tepat—mendekat. Terlihat lapar dan senang karena mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Sesuatu yang sangat disukainya. Apa saja yang menjadi bagian para dewa-dewi adalah musuh monster.

 

“Bangsa terkutuk! Keturunan lemah para dewa!”

 

Satu di antara mereka menggertak. Bergerak mendekati orangtuanya. Yeong Eun membatu. Terlalu terkejut hingga tak bisa mengatakan apa pun. Apa yang harus dilakukannya? Ia tak mungkin bisa melawan monster itu. Memukul seseorang saja tidak pernah—menjambaki rambut Kyuhyun tentu bukanlah sesuatu yang membanggakan kan? Ditambah lagi, orangtuanya sedang bersamanya. Kalau sampai ada hal buruk yang terjadi pada mereka, ia tidak akan bisa hidup lagi.

 

“Ibu! Ayah! Cepat masuk ke mobil dan pergi dari sini!” Yeong Eun berteriak. Menarik tangan ibunya agar mengikutinya ke mobil. Tapi wanita itu malah berdiri siaga. Dan baru saja ia berkedip, ibunya sudah menggenggam sebuah pedang panjang dari perunggu. Tunggu dulu, tidak mungkin, biasanya ibunya baru akan terlihat cocok dengan spatulanya di dapur. Tapi … tapi kenapa sekarang ibunya terlihat seperti prajurit wanita yang tangguh?

 

Yeong Eun lalu menoleh pada ayahnya. Berusaha mencari petunjuk kenapa ibunya tiba-tiba bertranformasi menjadi prajurit wanita. Tapi ayahnya juga sudah menggenggam sebuah lembing panjang di tangan kanannya dan tameng di tangan kirinya. Membuatnya tak kalah kaget. KENAPA SEMUA ORANG TERLIHAT BEGITU GILA SEKARANG?

 

“Yeong Eun, ikuti Kyuhyun. Kau harus sampai ke perkemahan.”

 

Ayahnya berbisik padanya, sementara matanya masih menatap lurus pada Dracaena yang kini berjalan bolak-balik di hadapan mereka. Berusaha terlihat mengintimidasi.

 

“Tidak. Tidak bisa. Aku tidak mau meninggalkan kalian di sini. Ikutlah denganku.”

 

“Kau tidak punya waktu lagi, Sayang. Pergilah secepatnya. Kyuhyun!” ujar Nyonya Cho tetap bersikeras. Ia berpaling pada Kyuhyun, memanggil pria itu agar membawa Yeong Eun pergi. Tapi Yeong Eun tak ingin mendengarkannya.

 

“Tidak! Lepaskan aku! Kalian tidak bisa memaksaku lagi! Eomma, ikutlah denganku. Kita harus pergi bersama! Appa! Kyuhyun, lepaskan aku! Kita harus membantu mereka!”

 

Yeong Eun berteriak, memohon, bahkan memberontak. Tapi Kyuhyun seolah tak mendengar apa pun. Ia masih menarik Yeong Eun menjauh dari ayah dan ibunya. Menuju pada seekor Pegasus yang sejak tadi dinantikan Kyuhyun. Pegasus adalah kuda bersayap berwarna putih. Pegasus itu kini sedang menunggu mereka. Pegasus lain tampak telah siap dengan barang-barang Yeong Eun yang dibebankan padanya. Dan seekor Pegasus lain juga sedang menunggu, Yeong Eun pikir itu adalah kuda yang akan ditunggangi Kyuhyun.

 

“Mau ke mana kalian? Tidak sopan sekali, berpaling dari musuh seperti itu.”

 

“Agh!”

 

Erangan Yeong Eun lolos saat sebuah tangan mencengkeram bahunya kuat. Tangan-tangan itu begitu kasar, dengan kuku panjangnya yang kini pastilah sudah melubangi bahu Yeong Eun. Darah segar merembes dari pakaiannya. Kyuhyun bergerak sigap. Yeong Eun terlalu terkejut atas rasa sakitnya hingga yang ditangkapnya hanyalah saat tangan Kyuhyun memegang sebuah pedang perunggu yang tiba-tiba sudah digenggamnya. Pria itu menerjang ke arah dracaena itu yang terlihat semakin ganas saat Kyuhyun berhasil melukai tubuh ularnya. Yeong Eun menepi, masih memegangi bahunya yang terus mengeluarkan darah. Luka itu sudah berasap, yang kemungkinan besar adalah karena racun monster itu. Di lain sisi, ayah dan ibunya terlihat sedang bekerja sama untuk menghabisi dracaena yang lain. Pakaian ayahnya sudah berlubang di beberapa sisi. Wajah ibunya basah karena keringat. Tapi mereka tak terlihat kelelahan. Bahkan terlihat begitu berpengalaman dan menikmati pertempuran. Seolah merindukan saat-saat itu karena lama tak melakukannya.

 

“Aakh!” Yeong Eun meringis lagi saat lukanya terasa seperti terbakar. Peluh sudah membasahi wajah dan sekujur tubuhnya. Pandangannya bahkan mulai terasa berkunang.

 

“Yeong Eun! Naik ke pegasusnya!”

 

Kyuhyun berteriak. Menghindar dari sabetan ekor monster itu. Kyuhyun berkelit. Melompat ke depan dan menyabet tangannya. Dan bagian di mana seharusnya mengucur darah itu malah menumpahkan pasir-pasir hitam. Kyuhyun bergerak lagi. Melompati monster itu dan satu gerakan penutup berhasil membuyarkan monster itu ke tanah, lenyap tanpa sisa saat Kyuhyun memotong tubuhnya jadi dua bagian.

 

Kyuhyun menghampiri Yeong Eun, berusaha memapahnya menuju pegasusnya. Langkah Yeong Eun terhenti, menoleh lagi pada kedua orangtuanya yang masih melawan monster-monster itu—yang kini malah bertambah menjadi tiga dracaena.

 

“Kyu … Eomma … Appa …”

 

Kyuhyun menaikkannya ke atas Pegasus, dan Yeong Eun refleks merebahkan tubuhnya ke punggung kuda putih itu. Memeluk lehernya erat.

 

“Tidak. Mereka bisa menanganinya dengan baik. Aku yakin itu. Kaulah yang harus diutamakan, Yeong Eun. Aku tidak membawa ambrosia ataupun nektar. Lukamu bisa memburuk.”

 

Yeong Eun tidak tahu apa arti kalimat Kyuhyun. Tapi ia diam saja. Kepalanya memberat. Bahunya terasa melepuh, dengan rasa sakit tersayat yang terus menyebar. Tubuhnya basah karena keringat dingin. Kyuhyun sudah naik ke pegasusnya. Ia menggerakkan kakinya dan menyuarakan sesuatu pada sang kuda. Dan Pegasus itu pun terbang menuju langit.

 

Eomma … Appa …”

 

Yeong Eun bergumam. Merasakan angin membelai tubuhnya. Ia menatap ayah dan ibunya dari ketinggian yang terus menanjak. Merasakan kesedihan luar biasa hingga membuat air matanya menetes begitu saja. Tiba-tiba merasakan firasat buruk bahwa mereka tidak akan bisa bertemu lagi sampai kapan pun.

 

***

 

Mata Yeong Eun terbuka perlahan. Merasakan tubuh Pegasus yang dinaikinya bergerak tak seimbang ke kiri dan ke kanan.

 

“YEONG EUN! BERPEGANGAN YANG KENCANG! JANGAN TERTIDUR!”

 

Teriakan Kyuhyun terdengar tak jauh di depannya. Pria itu membungkukkan tubuhnya lebih dekat ke punggung kuda. Angin malam yang dingin menyibak Yeong Eun keras hingga seolah mampu menerbangkannya dari punggung si Pegasus. Angin yang terlewat kencang hingga Yeong Eun kira malam itu akan ada badai.

 

“Kyuhyun! Ada apa ini? Kenapa—”

 

Whush!

 

Pertanyaan Yeong Eun disapu oleh angin saat sosok besar terbang melintas di depannya dengan kecepatan mengerikan. Pegasusnya berbelok tajam. Membuat Yeong Eun berusaha keras untuk memeluk leher kuda itu jika tidak ingin terjun bebas. Ia berharap semoga bulu-bulu kuda itu tak terlepas dari tempatnya.

 

Yeong Eun melihat ke belakang. Mengamati sosok bergerak tadi. Hewan itu terlihat seperti elang. Seekor elang yang besar. Tapi mata Yeong Eun menyipit saat mengamati bagian belakang hewan itu. Tubuh bagian belakangnya adalah tubuh seekor singa jantan. Meskipun tubuh bagian depannya adalah burung elang besar, lengkap dengan sayap kuatnya.

 

“Kyu, itu makhluk apa?”

 

Yeong Eun bertanya dengan suara keras, berusaha mengalahkan deru angin yang memenuhi telinganya. Kyuhyun yang terbang—dengan menunggangi pegasusnya—di sampingnya menoleh. Ia kembali melirik ke elang besar itu yang terbang dengan tanpa kendali dan berbelok-belok tak tentu arah.

 

“Griffin. Sepertinya yang itu masih liar.”

 

Kyuhyun menoleh lagi dengan cuek. “Bertahanlah, kita hampir sampai.”

 

Whush!

 

Hewan itu kembali terbang, menukik dan nyaris menabrak Kyuhyun. Pria itu spontan mengumpat. Lengkap dengan wajah bukan main kesal.

 

“Hei, Bung. Kendalikan hewan jelek itu dengan benar! Kau mau membuatku mati?”

 

Yeong Eun menoleh bingung. Memangnya Griffin mengerti bahasa manusia? Kenapa Kyuhyun malah bicara pada hewan itu? Setelah Yeong Eun memerhatikan dengan seksama, barulah ia menyadari bahwa seseorang sedang menunggangi hewan itu. Seorang pria bersetelan hitam duduk di lehernya. Dengan tali kekang yang berusaha mengendalikan makhluk itu. Rambut hitamnya mencuat tak tentu arah karena angin.

 

“Kyuhyun, kau tahu kan Griffin tak suka diejek? Kau malah membuatnya tambah marah.”

 

Pria itu berteriak, membalas ucapan Kyuhyun. Dan benar saja, hewan itu menatap Kyuhyun dengan ekspresi marah. Yeong Eun tidak tahu apakah itu benar-benar ekspresi marah. Tapi yang jelas, ia terlihat lebih tidak bersahabat daripada beberapa saat yang lalu yang memang sudah kelihatan tidak ramah. Sang Griffin mengepakkan sayapnya, mengambil ancang-ancang dan terbang lurus menuju Kyuhyun. Membuat Yeong Eun, yang tadinya berada di antara keduanya, harus terbang ke sisi lain jika ingin terhindar dari tabrakan gila itu.

 

“Agh!”

 

Yeong Eun mengerang. Bahunya tersenggol pergerakan itu. Membuat lukanya terasa semakin merobek lebar. Untuk sejenak, ia lupa bahwa ia terluka separah itu. Tapi kini, Yeong Eun benar-benar tidak sanggup lagi. Bulu-bulu Pegasus sudah berwarna merah karena terkena darahnya. Tangannya yang lain, yang kini bersimbah darahnya, gemetar karena lemas. Yeong Eun mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Ia memeluk leher kuda itu dengan sekuat yang ia bisa lakukan dengan satu tangan yang nyaris tak bisa bergerak. Baru saja ia menatap ke depan, ia melihat pergerakan tiba-tiba sang Griffin. Berbelok dan bergerak cepat pada lintasan di depannya menuju arahnya. Sang Pegasus meringkik panik. Berusaha berhenti dan berbelok. Dan ia tahu benar bahwa tidak ada cukup ruang dan waktu untuk menghindar. Yeong Eun menutup matanya rapat. Menanti tabrakan keras itu.

 

Brak!

 

Tubuh pegasusnya menabrak Griffin tepat di bagian dadanya. Sang kuda terpental. Yeong Eun terlempar dari punggung sang kuda. Lepas ke udara tanpa satu pun hal yang bisa dijadikan tumpuan. Ia merasakan tubuhnya jatuh ke udara bebas. Matanya terbuka, menatap pada langit malam yang hitam kelam. Napasnya terputus-putus karena panik. Tangannya terulur. Berusaha menggapai apa pun. Tapi tak ada satu pun yang berhasil ia capai. Suara deru angin memenuhi telinganya. Rasa sakit di bahunya semakin menjadi. Yeong Eun tidak tahu seberapa tinggi ia terbang tadi, tapi ia yakin ia sudah cukup dekat dengan tanah. Untuk sedetik, ia bersedia menyongsong kematian dengan tangan terbuka. Tapi pikiran itu langsung sirna dibawa angin. Tangannya kembali berusaha meraih. Dan di sisa kesadarannya ia bergumam entah pada siapa.

 

“Tolong … Siapa pun … tolong selamatkan aku …”

 

Lalu kesakitan pun menelannya. Matanya menangkap sekelebat benda putih yang melintas dan berkepak. Kemudian ia merasakan sesuatu merengkuh tubuhnya. Lengkap dengan aroma tanah yang terbawa angin dan melesak dalam penciumannya. Yeong Eun hanyut dalam ketidaksadaran.

 

***

 

Yeong Eun membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Hal yang dilihatnya pertama kali adalah langit-langit yang megah. Dengan ukiran-ukiran batu putih yang cantik. Terus melingkar hingga bermuara dalam titik batu permata di tengah lingkarannya. Lambang-lambang hewan terpahat di dinding kamar. Ia mendapati dirinya terbaring di sebuah ranjang yang empuk. Dengan sprei berwarna putih.

 

Yeong Eun bergerak bangun. Refleks ia memegangi bahu kanannya yang tadinya terluka parah. Seketika ia langsung terdiam. Ia memiringkan kepalanya ke satu sisi. Tidak sakit. Bahunya tidak lagi terasa sakit. Yeong Eun membuka sedikit leher bajunya. Dan matanya nyaris keluar saat mendapati bahwa tubuhnya bersih, kulitnya mulus kembali, tanpa sedikit pun bekas luka. Tidak mungkin. Ia yakin sekali sebelumnya ada lubang yang menganga di sana. Dan semua peristiwa semalam jelas bukan mimpi.

 

Yeong Eun menyibak selimut. Memasang kembali sepatunya dan melangkah ke pintu. Koridor itu lengang, terlihat seperti koridor hotel berbintang. Karpet merah terhampar panjang. Yeong Eun berjalan ragu, mengikuti kemana karpet itu akan berujung.

 

“Hei. Kau mau ke mana?”

 

Panggilan seorang pria menghentikan gerakannya. Lee Sungmin, nama itulah yang tersemat ke jubah putih panjangnya. Pria itu berjalan menyusul Yeong Eun, dan entah kenapa itu malah membuat Yeong Eun merasa terancam. Kakinya tiba-tiba saja berlari. Sebisa mungkin berusaha kabur dari orang asing itu.

 

“Hei! Kenapa malah kabur? Tunggu aku! Kau tidak boleh pergi, Nona Cho!”

 

Panggilan itu tak dihiraukannya. Yeong Eun masih sibuk berlari. Matanya menangkap sebuah pintu di ujung koridor. Dengan secepat kilat ia berlari masuk ke sana. Menutup pintu dengan sepelan mungkin. Dan baru saja tubuhnya berbalik, ia sudah berhadapan dengan tubuh tegap yang berdiri menjulang dan aura intimidasi yang tiba-tiba membuatnya sesak. Yeong Eun menengadah dengan gerakan selambat mungkin. Takut jika-jika mendapati monster lain di dalam istana ini.

 

Lee Hyukjae menajamkan matanya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa gadis yang berdiri di depannya adalah Cho Yeong Eun. Seseorang yang ditolongnya semalam. Kabar terakhir yang diterimanya, Yeong Eun masih terbaring tak sadarkan diri. Tapi kini? Gadis itu sedang berlari-lari di paviliun penyembuh. Dan melihat dari keseluruhannya, bisa dipastikan bahwa Yeong Eun pasti sudah pulih. Diam-diam Hyukjae mengembuskan napas lega.

 

“Apa yang—”

 

“Ssshhh.”

 

Tangan Yeong Eun menutup bibir Hyukjae. Menghentikan segala kalimat yang tadinya akan dikatakannya. Hal yang membuat Hyukjae seketika membatu di tempat. Matanya otomatis membesar. Memandang ganas pada Yeong Eun—yang sama sekali tidak sadar dengan tatapan berbahaya itu. Gadis ini … apakah dia baru saja menyentuhnya? MENYENTUHNYA?

 

“Ada pria gila yang sedang mengejar-ngejarku. Jangan bersuara sedikit pun. Kumohon.”

 

Yeong Eun berbisik. Menempelkan satu telunjuknya ke depan bibirnya. Telinganya menajam, bisa mendengar langkah kaki Sungmin yang berlari mendekati tempatnya berada. Ia lalu refleks mendorong Eunhyuk. Terus menggerakkan tubuhnya agar mereka menjauhi pintu. Langkah demi langkah, Eunhyuk membiarkan Yeong Eun mendorongnya berjalan. Gadis itu memutuskan berhenti saat keduanya berdiri di depan jendela yang terbuka. Sinar matahari masuk dari jendela itu. Yeong Eun berdiri tepat di belakang jendela. Membuat Eunhyuk yang berada di hadapannya merasa terusik karena pemandangan itu. Cho Yeong Eun, berdiri dengan latar belakang sinar matahari, membuatnya bagaikan siluet hitam yang berkilau. Dan saat gadis itu menolehkan kepalanya, barulah Eunhyuk bisa melihat jelas wajahnya. Wajah yang ternyata … sial! Apakah semalam gadis itu memang terlihat secantik ini?

 

Matanya berwarna cokelat tua, sewarna dengan rambutnya yang bergelombang. Bulu matanya bergerak indah saat mata itu berkedip. Pipinya merona, sementara bibir merah mudanya digigitnya dengan gerakan gemas. Membuat Eunhyuk tiba-tiba merasa ingin ikut menggigitnya. Tidak. Ini tidak baik. Siapa gadis ini? Kenapa dia bisa mempengaruhinya separah ini?

 

Angin berembus masuk dari jendela. Membuat helaian rambut Yeong Eun ikut bergerak. Dan saat angin itu melewati tubuh gadis itu, menerpa Eunhyuk tanpa ampun, Eunhyuk sontak terdorong mundur dan menabrak kursi di belakangnya tanpa sadar. Ia mengeraskan rahangnya. Menahan napasnya kuat-kuat. Matanya ikut terpejam, seolah berusaha menahan udara itu untuk tidak merasukinya. Sial! Aroma ini … aroma semanis ini … kenapa aromanya bisa senikmat ini? Demi dewa-dewi, SIAPA GADIS INI SEBENARNYA?

 

“Siapa kau?” Eunhyuk tak sempat menahan pertanyaannya. Tidak benar-benar berharap bahwa ia akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya, karena ia yakin Yeong Eun tidak tahu kemana arah pertanyaan itu.

 

“Aku? Cho Yeong Eun. Kau sendiri?” Yeong Eun menjawab dengan santai. Tak terlihat terganggu sedikit pun.

 

Eunhyuk melangkah, berdiri di samping Yeong Eun di depan jendela. Berharap dengan begitu ia tidak terlalu harus merasakan aroma berbahaya itu. Dan jika diingat lagi jawabannya sebelumnya, gadis itu ternyata memang tidak tahu apa-apa.

 

“Lee Hyukjae.” Akhirnya Eunhyuk menjawab.

 

“Lee Hyukjae.” Yeong Eun mengulangi nama itu, berusaha membiarkan mulutnya terbiasa mengucapkannya. Dan mendengar gadis itu memanggil namanya seketika membuat Eunhyuk tersenyum. Tidak. Inin benar-benar aneh. Aura Yeong Eun berbeda. Tunggu, sebaiknya jangan memikirkan hal itu dulu sekarang.

 

“Kau terlihat berbeda saat hidup.” Eunhyuk berkomentar lagi. Lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. Tapi tentu saja kalimat itu didengar oleh Yeong Eun.

 

“Apa?”

 

“Apakah kau mencari Kyuhyun?” Eunhyuk bertanya lagi. Tidak memedulikan pertanyaan Yeong Eun sebelumnya. Ia menoleh. Dan sedetik kemudian malah merasa menyesal. Melihat bagaimana cara Yeong Eun menatapnya malah membuatnya kalang-kabut.

 

“Kau kenal kakakku?”

 

“Tentu saja. Kalian datang bersama semalam. Seluruh perkemahan ini sudah mengenalnya. Dan, kalau kau memang ingin tahu, dia ada di sana.” Eunhyuk mengangkat bahunya tak acuh. Mengakhiri dialognya dengan mengedikkan dagunya pada bangunan megah di sebelah kiri mereka. Posisi mereka di lantai dua yang menghadap ke halaman membuat mereka dapat melihat keadaan di perkemahan. Beberapa orang terlihat sedang berlatih di halaman.

 

“Tunggu, bagaimana kau bisa tahu?” Yeong Eun menatap Eunhyuk dengan tatapan curiga. Sementara pria itu hanya menatapnya intens. Membuat Yeong Eun tiba-tiba merasa merinding.

 

“Kau mau ke sana atau tidak? Oh, kalau kau belum tahu, di luar Sungmin sudah nyaris sampai ke ruangan ini.” Eunhyuk kembali berujar. Melirik pada pintu ruangan itu.

 

“Apa? Oh, tidak. Ini buruk. Kita harus kabur. Ayo, cepat.”

 

“Tidak akan sempat. Mereka sudah dekat. Kita akan tertangkap di koridor.” Eunhyuk menahan tangan Yeong Eun, menghentikan pergerakan gadis itu.

 

“Lalu kita harus bagaimana?”

 

“Kita akan pergi dari sini.”

 

Eunhyuk memajukan tubuhnya. Mendekati Yeong Eun lebih dekat. Membuat Yeong Eun refleks mundur. Merasa terancam.

 

“Mau apa kau?”

 

“Membawamu pergi dari sini, tentu saja. Kita akan keluar lewat jendela.”

 

“Hah? Apa kau sudah gila?” Yeong Eun berteriak tertahan. Memandang Eunhyuk seolah pria itu sudah gila. “Meskipun kita hanya berada di lantai dua, tapi kalau aku jatuh dari sini, aku sudah pasti akan patah tulang. Dan biar kuingatkan lagi, semalam aku sudah merasakan jatuh dari langit itu seperti apa. Aku tidak berniat ingin melakukannya lagi sekarang.”

 

Yeong Eun menggerutu panjang lebar. Masih berusaha menciptakan jarak di antara mereka. Sementara Eunhyuk masih menatapnya dengan intens. Astaga, apa yang salah dengannya? Kenapa pria itu menatapnya seperti itu?

 

“Aku tidak membiarkanmu jatuh semalam. Aku juga tidak akan membiarkanmu jatuh hari ini.” Eunhyuk berujar lagi. Terasa begitu tulus di telinga Yeong Eun. Membuatnya terbuai. Dan sebelum Yeong Eun sempat bereaksi, tubuh pria itu sudah melingkupinya. Mendekapnya dengan erat.

 

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku.”

 

“Sungmin sudah di luar. Kita tidak punya waktu lagi.” Tangan Eunhyuk memeluknya semakin erat. Membuatnya tidak bisa bergerak. Dan sebagai pilihan terakhir, Yeong Eun hanya bisa pasrah.

 

“Tahan napasmu sekarang.”

 

Dan setelah perintah itu, segala sesuatu di sekelilingnya terasa berputar. Yeong Eun sempat merasa tubuhnya terpisah-pisah tapi yang hanya bisa dirasakannya yaitu dekapan hangat Eunhyuk. Keduanya lalu berputar dalam lingkaran angin yang kemudian berembus sepoi dan menghilang. Bersamaan dengan pintu yang terbuka. Menampakkan Lee Sungmin yang terlihat berkeringat karena baru saja berlarian ke sana ke mari. Pria itu mengumpat pelan.

 

“Agh, dasar pasien nakal! Kau tidak seharusnya kabur dari doktermu seperti itu!”

 

Yeong Eun merasa tubuhnya tersedot. Membuatnya berputar dan seketika merasa mual. Oh, mungkin inilah kenapa tadi Eunhyuk menyuruhnya menahan napas. Tapi kenapa aba-aba itu sangat terlambat untuk disuarakan? Memangnya siapa yg bakal langsung paham maksudnya kalau sedetik kemudian sudah disedot udara seperti ini? Dasar pria tidak peka!

 

Yeong Eun masih merasa pusing. Ia merasakan tubuhnya memadat dari sebuah massa udara. Kembali mewujud dalam angin. Dan Yeong Eun tersedak oleh napasnya sendiri saat tubuh mereka sudah berdiri utuh di sana. Gadis itu terbatuk-batuk. membuat Eunhyuk harus melepaskan pelukannya. Ia membiarkan Yeong Eun memulihkan dirinya. Terbungkuk sambil sibuk memegangi dada dan perutnya. Sementara pria itu hanya mengusap pelan punggungnya.

 

“Bukankah sudah kubilang untuk menahan napasmu?” Eunhyuk menasihati. Dan jika Yeong Eun memang benar, pria itu seolah sedang memberikan nada mengejek seolah mengatakan ‘kau ini mengerti bahasa tidak? Dasar bodoh.’

 

“Peringatanmu itu sama sekali tidak membantu. Kau tidak bilang kalau kita bakalan ditelan angin seperti itu. Kenapa kau melakukan itu? Kau mau membunuhku?”

 

Eunhyuk menghentikan usapannya. Ia berbalik, berjalan menghampiri sebuah kursi mewah bersandar yang dihiasi ukiran dengan nuansa emas.

 

“Jangan berlebihan. Belum pernah ada yang mati karena melakukan lompat angin pertamanya.”

 

Eunhyuk menjawab dengan datar. Ia menyilangkan kakinya, mengambil sebuah belati di atas meja di hadapannya. Terlihat seperti seorang raja kegelapan karena setelan hitam yang selalu dikenakannya. Membuat Yeong Eun mau tidak mau lagi-lagi terpana karena pemandangan itu.

 

Ruangan itu megah. Yeong Eun tidak tahu di mana ia berada sekarang. Lemari dan rak-rak buku terlihat menutupi dinding. Penuh dengan buku-buku tebal. Langit-langit ruangan itu tinggi. Dengan sebuah lampu gantung mewah yang berkilau dan terlihat mahal. Sebuah meja terletak di tengah ruangan. Dikelilingi oleh beberapa sofa empuk yang berwarna merah. Meninggalkan kesan mewah yang mencolok. Di sisi di belakang satu set sofa santai itu terdapat sebuah meja yang terbuat dari batu. Di belakang meja itu, berdirilah sebuah kursi kebesaran dengan ukiran khusus seolah diperuntukkan untuk seorang raja. Sementara Eunhyuk, pria itu duduk di sisi meja yang lain. Di atas sebuah kursi yang nampaknya diperuntukkan bagi tamu sang raja. Yeong Eun pikir kursi itu akan terlalu kaku dan berat untuk dipindahkan. Tapi nyatanya benda itu bisa berputar bagaikan kursi ayahnya di kantor.

 

“Di mana kita?”

 

Yeong Eun akhirnya bertanya. Memutuskan untuk duduk di salah satu sofa, menghadap pada Eunhyuk.

 

“Ruang santai anggota kerajaan.” Eunhyuk menjawab singkat. Masih menekuni belatinya. Yeong Eun baru menyadari bahwa kelopak mata Eunhyuk terlihat menghitam. Seperti seorang mayat. Mayat tampan yang memabukkan.

 

“Kau bilang kita akan menemui Kyuhyun.” Yeong Eun bertanya seolah menyalahkan Eunhyuk kenapa tiba-tiba mereka berada di ruang santai yang mewah ini.

 

“Tunggu saja. Dia akan datang. Hitung sampai tiga.” Eunhyuk menjawab santai. Masih dengan perintah bodohnya. Dan si bodoh Yeong Eun juga malah menurutinya.

 

“Satu … ”

 

“Tiga.”

 

Eunhyuk memotong hitungan Yeong Eun. Tidak merasa bersalah karena melompati hitungannya. Sejak kapan setelah satu langsung tiga?

 

Saat itulah dua daun pintu itu terbuka, membuat Yeong Eun menoleh. Sementara Eunhyuk hanya mengangkat matanya dari belati. Tidak terlihat tertarik.

 

Lima orang pria masuk. Dan dari kelimanya itu Yeong Eun hanya mengenali satu orang, Cho Kyuhyun. Kakak laki-lakinya. Semua orang itu terlihat sedang mengobrolkan sesuatu. Seorang pria tinggi dan berwibawa berjalan penuh aura kepemimpinan. Melewati Eunhyuk dan duduk di kursi kebesaran yang tadi Yeong Eun sebut sebagai kursi raja.

 

“Oh? Yeong Eun? Kau sudah sadar? Aku khawatir karena kau sudah pingsan selama lebih dari dua belas jam. Bagaimana kau bisa sampai ke sini?” Cho Kyuhyun kaget, menghampiri Yeong Eun dan ikut duduk di sampingnya. Tiga pria lain mengambil tempat di sofa. Dua di antaranya memiliki rambut yang sama-sama berwarna cokelat kemerahan, sementara yang satunya hitam.

 

“Aku baru saja sadar sekitar satu jam yang lalu. Dan masalah itu, tanyakan pada pria itu. Kami tadi seperti disedot udara dan hap! Aku sudah langsung berada di sini.”

 

Kedua pria berambut merah itu tergelak menatap Yeong Eun.

 

Nuna, apa katamu tadi? Disedot udara?” Seorang di antara mereka bertanya. Kelihatan jelas sedang mengejek Yeong Eun.

 

“Apakah kau baik-baik saja? Tidak muntah? Atau malah sudah muntah? Eunhyuk Hyeong kelihatannya tidak akan melakukannya dengan perlahan denganmu.” Pria berambut merah yang satunya ikut menimpali. Dengan cengiran yang jelas-jelas terlihat lucu baginya. Tapi membuat Yeong Eun terasa dibakar karena malu dan marah. Dan Eunhyuk, pria itu hanya mengulum senyumnya. Bahkan tanpa sepatah kata pun pria itu sudah bisa membuat Yeong Eun ingin melempar wajah datarnya itu dengan sesuatu.

 

“Park Chanyeol, tidak sopan menjahili tamu kita seperti itu. Terlebih lagi, dia keluarga kita juga.” Pria yang duduk di kursi raja itu berkata. Suaranya terdengar datar, tapi penuh dengan aura pemimpin yang bisa membuat Yeong Eun mengangguk patuh jika tadinya nasihat itu diberikan padanya. Mengangguk tanpa pikir panjang meskipun nyatanya bukan dia yang salah. Wibawa pria itu tiba-tiba membuatnya merinding.

 

“Maafkan aku, Baginda. Aku hanya penasaran saja. Dia terlihat tidak memiliki masalah dengan perjalanan pertamanya.”

 

“Dia tidak muntah atau pingsan, hanya tersedak.” Eunhyuk bersuara, masih menekuni belatinya. Apakah mata Yeong Eun yang salah, tapi ia melihat warna-warna hitam yang menguar dari tubuh Eunhyuk. Jejak-jejak hitam yg tertinggal pada bekas kursi yang didudukinya. Yeong Eun mengira itu hanyalah awan ataupun kabut hitam yang tipis. Dan melihat hal itu melingkupi Eunhyuk malah membuat karisma hitamnya semakin meningkat. Ya ampun, apa sih yang salah dengan otaknya? Memangnya aura hitam yang seram itu bisa dibilang berkarisma?

 

“Wah! Kau hebat sekali, Nuna. Aku berubah menjadi hijau karena mual saat percobaan pertamaku.” Pria berambut merah yang lain menimpali. Membuat Yeong Eun sadar, dua pria ini sepertinya benar-benar anak yang berisik.

 

“Sejak tadi kalian menyebut-nyebut perjalanan, percobaan, pendaratan, apa lah. Memangnya itu apa?”

 

Yeong Eun akhirnya bertanya. Tidak tahan dengan penderitaannya karena tidak mengerti pembicaraan itu sama sekali.

 

“Lompat angin. Tadi Eunhyuk Hyeong membawamu melakukan lompat angin. Lenyap di satu tempat dan muncul di tempat lain. Boom! Seperti sihir.” Lagi-lagi pria berambut merah yang satunya menjelaskan dengan nada menyebalkan. Seolah Yeong Eun adalah anak sekolah dasar yang tidak tahu apa fungsi sebuah pulpen.

 

“Itu bukan sihir. Tapi memang kemampuan anggota kerajaan bangsa intermediet.” Pria lain yang sejak tadi diam menambahkan. Membuka lagi halaman buku yang sedang dibaca. Melihat ketebalan buku itu saja sudah membuat Yeong Eun sakit kepala. Ia tidak ingin melihat apa yang akan terjadi padanya saat ia harus membaca keseluruhan buku itu tanpa disuruh.

 

“Iya, DO~ya. Aku tahu. Aku hanya menambahkan pendapatku yang sepertinya memang benar.”

 

“Jangan menambahkan pendapat seenak hatimu pada tamu baru kita. Kau bisa menyesatkan pemahamannya.” Pria yang dipanggil DO itu kembali menjawab datar.

 

“Baiklah baik, Profesor Kyungsoo. Memangnya separah apa sih pendapatku soal itu sampai bisa menyesatkan Yeong Eun Nuna.” Pria berambut merah itu menggerutu sebal.

 

“Tunggu, sebelum memulai segala penjelasan itu, bisakah kalian memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kalian sepertinya mengenalku, tapi aku sama sekali tidak tahu tentang apa, siapa, dimana, dan segala sesuatu tentang … semua ini.” Yeong Eun terdiam lama sebelum mengakhiri permintaan itu. Memandangi mereka satu per satu.

 

“Oh, benar. Mari kita mulai perkenalannya,” ujar pria berambut merah itu dengan girang.

 

“Aku Park Chanyeol. Pangeran dari Klan Intermediet Utara.” Pria berambut merah itu melanjutkan kembali. Mengakhiri perkenalannya dengan senyum tampan yang kekanakan.

 

“Aku Kim Taehyung. Pangeran dari Klan Intermediet Utara.” Pria berambut merah satunya melanjutkan. Melambaikan tangannya dan membungkukkan tubuhnya penuh gaya khas pangeran dalam negeri dongeng.

 

“Aku Do Kyungsoo. Pangeran Klan Intermediet Barat.” Pria yang sejak tadi memegang buku itu melanjutkan dengan nada datarnya yang sebelum-sebelumnya telah digunakannya.

 

Yeong Eun mengangguk paham. Matanya lalu otomatis beralih pada Kyuhyun. Pria itu hanya menaikkan alisnya.

 

“Apa? Kau kan sudah mengenalku. Aku kakakmu.”

 

Yeong Eun memutar bola matanya. Ia lalu beralih pada Eunhyuk. Pria itu hanya mengangkat matanya sebentar untuk menatap Yeong Eun. Dan kembali pada belatinya lagi.

 

“Kau juga sudah mengenalku.”

 

Yeong Eun mendengus. “Memangnya siapa yang bertanya tentangmu?”

 

Yeong Eun menjawab ketus. Membuat ketiga orang itu menatap Yeong Eun dengan mata melebar. Merasa benar-benar heran.

 

Apa dia baru saja membentak Eunhyuk?

 

Bagaimana bisa gadis itu bersikap begitu pada Eunhyuk? Apakah dia cari mati? Dia polos atau bodoh sih?

 

Chanyeol, Taehyung, dan Kyungsoo saling tanya melalui pikiran mereka masing-masing. Tidak menutupi rasa kagumnya pada cewek yang polos sekaligus berani itu.

 

Yeong Eun mengalihkan pandangannya. Memandang pada pria yang duduk di kursi raja. Menagih penjelasan darinya.

 

“Kalau kau siapa?” Yeong Eun bertanya langsung. Melipat tangannya di dadanya.

 

“Apakah kau pangeran juga? Sama seperti orang-orang ini?” Yeong Eun kembali bertanya. Memandang lurus pada Jongwoon yang kini menyatukan tangannya di atas meja. Terlihat sama bijaksananya. Matanya berkilat geli. Sementara bibirnya menahan senyum.

 

“Hmm … Nuna,” Chanyeol menginterupsi pertanyaan Yeong Eun. Melirik tidak enak pada Jongwoon di kursinya,kau tidak seharusnya ber—”

 

“Aku? Aku Kim Jongwoon, kau boleh panggil aku Yesung. Itu terdengar lebih santai.” Pria itu menjawab dengan nada senang. Memotong perkataan Chanyeol. Membuat Eunhyuk ikut-ikutan tersenyum geli.

 

“Kau pangeran juga? Pangeran dari Selatan, mungkin?” Yeong Eun kembali melanjutkan. Menatap dengan penasaran pada Yesung.

 

“Hei, Nuna~ya. Dia itu bukan pangeran. Kau benar-benar dalam masalah.” Kali ini Taehyung yang mengingatkan. Mulai terlihat khawatir.

 

“Apa? Kalau begitu dari Timur?” Yeong Eun bertanya lagi. Di tempatnya, Kyungsoo memijat dahinya, merasa prihatin.

 

“Astaga, Yeong Eun. Kau benar-benar memermalukan aku.” Kali ini Kyuhyun yang menggerutu. Ia akhirnya memilih membaringkan kepalanya ke lengan sofa. Tak menghiraukan Yeong Eun. Dan saat itulah Yesung tergelak. Pria itu tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Membuat Yeong Eun makin tak mengerti. Tapi tak ada yang terlihat ingin memberinya penjelasan. Membuatnya tiba-tiba merasa geram. Memangnya dia ini orang bodoh?

 

“Ada apa sih? Memangnya aku salah? Lalu kau itu apa?” Yeong Eun melanjutkan dengan sangsi. Menatap sebal pada Yesung.

 

“Biar aku saja yang berikan penjelasan dasar dan menemani Yeong Eun Nuna berkeliling, Baginda. Kupikir akan lebih baik kalau dia diberi penjelasan. Dia kelihatan kesal.” Chanyeol menawarkan diri. Di tempatnya, Yesung berusaha meredakan tawanya.

 

“Jelas saja kesal! Kalian menertawaiku karena aku tidak tahu apa-apa. Lagipula ini kan hanya soal identitas Yesung~ssi. Memangnya seberapa penting sih?” Yeong Eun menggerutu. Dan mendengarnya malah membuat Yesung makin terbahak.

 

“Wah, kau kelihatannya senang sekali.” Eunhyuk mencibir. Menyindir Yesung tapi pria itu masih tertawa senang. Tak merasa tersinggung sama sekali.

 

“Benar. Sepertinya Yeong Eun memang sudah kesal.” Akhirnya Yesung berkata setelah tawanya berhenti. “Baiklah. Mari beri pelajaran dasar untuk Nona Cho Yeong Eun.” Yesung mengangguk. Menyetujui ide Chanyeol.

 

“Kalau begitu kami akan membawanya berkeliling.” Taehyung berkata kemudian. Ia dan Chanyeol bergerak untuk bangkit dari duduk.

 

“Tunggu. Kupikir biar Eunhyuk saja yang memberikan pelajarannya kali ini. Lagipula ia dan Yeong Eun sepertinya sudah cukup dekat.”

 

Yesung berkata dengan tenang. Membuat kedua anak berambut merah itu tidak jadi bangkit berdiri. Yesung menatap Eunhyuk sambil tersenyum. Eunhyuk meletakkan belati itu kembali ke meja. Ia menoleh pada Yesung. Tampak tak senang.

 

“Kau memerintahku?” Eunhyuk bertanya lagi. Terlihat semakin menyeramkan melihat bagaimana cara pria itu menatap Yesung, lengkap dengan suara dinginnya. Seolah menyuruh Yesung untuk mengubah perintahnya.

 

“Benar sekali. Ini perintah langsung dariku.” Yesung mengangguk yakin. Masih tersenyum.

 

“Aku tidak mau.” Eunhyuk menjawab singkat dan lugas. Tidak terlihat menyesal karena sudah membuat Yeong Eun sakit hati karena ditolak. Memangnya pria itu memikirkan apa? Cukup menjelaskan padanya saja tidak mau? Hanya menjelaskan kan? Kenapa permintaan semudah itu saja harus menolak?

 

“Kubilang ini perintah langsung dariku, Lee Hyukjae.”

 

“Aku tetap tidak mau.” Eunhyuk masih mengeraskan jawabannya. Dan mendengar itu semua benar-benar membuat amarah Yeong Eun memuncak.

 

“Ya sudah!” Yeong Eun bangkit dari duduknya, menatap bergantian pada Eunhyuk dan Yesung. “Kalau memang tidak ada yang berniat menjelaskan, aku akan pergi sendiri dan mencari jawabannya sendiri. Aku tidak butuh siapa pun untuk menjelaskan kenapa aku mendapati angin yang berbicara soal diriku, atau kenapa orangtuaku membuangku ke perkemahan jelek ini, atau kenapa aku harus meninggalkan mereka yang harus melawan monster wanita-ular jelek yang nyaris membuatku mati, dan kenapa aku bisa berpindah tempat dalam hitungan detik. Aku tidak butuh! Permisi!”

 

Yeong Eun melangkah cepat, berjalan meninggalkan tempat itu. Membuka pintu dengan kasar dan menutupnya dengan keras. Dan debuman itu sontak membuat suasana itu menjadi hening. DO menghentikan kegiatan membacanya, Chanyeol dan Taehyung berpandangan, tampak merana karena tidak tahu harus melakukan apa. Kyuhyun bangun dari posisi berbaringnya. Sementara Eunhyuk kembali menekuni pedang perunggunya yang sejak tadi digenggamnya. Yesung menghela napas pelan. Tidak merasa terganggu karena kepergian Yeong Eun.

 

“Hmm … apakah sebaiknya kami menyusulnya?” Taehyung bertanya setelah beberapa saat hanya ada keheningan.

 

“Benar. Dia bisa tersesat. Lebih buruk lagi kalau dia masuk ke kandang hewan sendirian.” Yesung akhirnya menyetujui. Melirik Eunhyuk sekilas.

 

“Kami pergi dulu.” Chanyeol dan Taehyung bangkit. Tapi Eunhyuk juga ikut bangkit. Membuat semua orang refleks menatapnya.

 

“Biar aku saja.” Eunhyuk kemudian berkata. Ia lalu berjalan lurus ke pintu dan menghilang di baliknya. Membuat semua orang lagi-lagi heran. Yesung hanya tersenyum di tempatnya.

 

***

 

Yeong Eun keluar dari ruangan itu dengan amarah masih di ubun-ubun. Ia bahkan membentak seorang anak yang ditemuinya di lorong karena bocah itu memandanginya seolah baru melihat hantu.

 

Yeong Eun terus menyusuri lorong. Hingga akhirnya ia sampai di ruang tamu paviliun ini. Ia tidak tahu apa guna ruang tamu di sini, tapi pasti sofa-sofa itu digunakan untuk orang-orang berkumpul kan? Beberapa orang berjalan keluar masuk, tapi suasana di sana bisa dikatakan begitu sepi. Yeong Eun berjalan menuju pintu besar yang memiliki dua daun pintu itu. Ia membukanya, dan seketika langsung merapatkan matanya. Cahaya matahari menyorotnya hingga membuatnya merasa silau.

 

Yeong Eun kini sampai di sebuah aula besar terbuka. Ruangan itu besar sekali. Dengan pilar-pilar di sekelilingnya yang juga besar—tanpa dinding, itulah yang membuatnya terbuka ke udara luar dan membuat sinar matahari dapat meneranginya. Langit-langit terletak tinggi di atas. Mungkin sepuluh meter tingginya. Lampu gantung berjajar di atas sebuah meja panjang. Tapi tidak ada cahaya yang keluar dari lampu. Memang tidak dibutuhkan karena kini ruangan itu sudah terang benderang karena sinar matahari sore. Di luar sana, terhampar lapangan berumput dengan peralatan latihan yang lengkap. Beberapa orang berlatih memanah dengan sasaran tembak yang berjajar. Tali temali terjalin memanjat sebuah menara sepuluh meter. Titian dari tali dan kayu setinggi lima meter dari permukaan tanah juga membentang dari ujung ke ujung. Beberapa sisi dipenuhi oleh orang-orang yang berlatih pedang. Suasana begitu ramai, dengan para anggota perkemahan dengan rentang usia belasan hingga dua puluhan.

 

“Ini aula besar. Semua orang akan makan bersama di sini setiap waktu makan tiba.”

 

Yeong Eun tersentak. Menoleh cepat ke sampingnya dan mendapati Eunhyuk berdiri di sampingnya. Pria itu lalu menuruni tangga, mendekati meja panjang dan bangku yang berdiri di sana. Tidak ada apa-apa di meja. Mungkin karena sekarang sudah hampir pukul lima sore.

 

“Kenapa kau mengikutiku?” Yeong Eun bergerak, mengekor di belakang Eunhyuk.

 

“Kupikir kasar sekali kalau aku membiarkan orang yang tidak tahu apa-apa sepertimu keliaran sendirian. Anggota perkemahan belum semuanya mengenalimu. Kau bisa dianggap penyusup.”

 

Eunhyuk memasukkan tangannya ke saku celananya. Melangkah melewati aula. Setelah keluar dari ruang makan besar itu, ia berbalik. Memandangi pintu megah yang mengarah pada tempat yang tadi mereka singgahi sebelumnya.

 

“Ini adalah paviliun kerajaan. Ditempati oleh para anggota kerajaan dan penerusnya.” Eunhyuk menjelaskan lagi. Membuat Yeong Eun ikut memerhatikannya.

 

“Pantas saja isinya pangeran semua.” Yeong Eun menyahut, mengingat kembali percakapan mereka sebelumnya. Membuatnya tiba-tiba mengingat sesuatu. “Kalau begitu, Yesung~ssi itu siapa? Dia pangeran dari mana?” Yeong Eun kembali melanjutkan pertanyaannya yang sejak tadi tidak mendapatkan jawaban.

 

“Oh, dia itu Raja Klan Intermediet sekarang.” Eunhyuk menjawab tak acuh dan berbalik, memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

 

Yeong Eun mengekor lagi, hanyut dalam pikirannya. Baru dua langkah berjalan, ia menjerit.

 

“APA? APA KATAMU? RAJA?” Yeong Eun menarik lengan Eunhyuk, memintanya mengulangi kalimatnya. Meskipun ia tahu bahwa begitu diulangi ia tidak akan merasa lebih baik, malah justru ingin mati saja.

 

“Aku juga tidak tahu kenapa manusia bodoh satu itu bisa jadi raja. Sejak dulu dia menolak tahta itu berkali-kali.” Eunhyuk menjawab datar. Dan penjelasannya sama sekali tidak membuat Yeong Eun merasa tenang.

 

Pria itu raja? Hah? Apa ini artinya tadi dia baru saja membentak raja? Astaga, kenapa dia bodoh sekali sih? Nanti kalau dia dikutuk bagaimana? Tunggu, apa bangsa intermediet juga bisa mengutuk? Atau mengubahnya jadi tikus? Aduuuuh, dasar bodoh!

 

“Ini keterlaluan. Apa yang telah kulakukan?” Yeong Eun bergumam sendiri. Menundukkan kepala dan mengacak rambutnya, merasa frustrasi.

 

“Lupakan saja. Dia bukan orang yang akan membakarmu jadi abu hanya karena tidak sopan karena dia raja. Lebih mungkin kalau dia senang sekali bisa berbicara padamu seperti tadi.” Eunhyuk menenangkan, tapi wajah pria itu seolah tidak berniat untuk menghibur. Dasar muka rata!

 

Mereka berbelok ke kanan di ujung lorong.

 

“Ini dapur kerajaan. Diletakkan lebih dekat dengan aula.” Eunhyuk kembali menjelaskan saat mereka berada di sebuah bangunan yang tersusun dari batu putih. Saat mereka masuk ke dalam, aroma berbagai bahan makanan memenuhi hidung Yeong Eun. Ada banyak rak dan segala macam peralatan memasak yang menggantung.

 

“Siapa yang memasak? Apakah para pekemah?”

 

Yeong Eun bertanya saat mereka sudah keluar dari dapur. Kembali melangkah menyusuri koridor terbuka itu. Lagi-lagi tak menjawab pertanyaannya. Suara para pekemah yang berlatih memenuhi udara. Beberapa orang bahkan melihat terang-terangan pada mereka dengan ekspresi aneh. Memangnya ada yang salah dengannya?

 

“Ini paviliun pemerintahan. Para anggota dewan dan penasihat-penasihat perkemahan tinggal di sini. Biasanya ditempati oleh para Intermediet Dewi Athena, Dewa Zeus, dan Dewa Poseidon.”

 

Eunhyuk menunjuk pintu besar yang terbuka di depannya. Ruangan itu tertata rapi, terlihat mirip dengan ruang tamu paviliun kerajaan. Tapi ada banyak buku yang tersusun di rak yang merapat ke dinding. Peta besar terbuka di sisi dinding yang lain. Sebuah koridor mengarah ke bagian paviliun yang lebih dalam.

 

“Apakah yang bukan anggota paviliun ini boleh masuk ke sini?” Yeong Eun bertanya lagi.

 

“Tentu saja boleh. Selama tidak membuat keributan. Pada awalnya, kami berniat membagi tempat tinggal di perkemahan berdasarkan ‘asal’ pekemah. Bagian dari Dewa Zeus akan ditempatkan dengan kepingan Dewa Zeus yang lain. Begitupun dengan Dewa lain, intermediet dari Apollo akan ditempatkan dengan sesama intermediet Apollo. Tapi Mr. Clayton bilang itu tidak terlalu baik. Jadi kami mengatur ulang sistemnya.”

 

Mereka melanjutkan kembali perjalanan. Keduanya menaiki tangga berbatu. Yeong Eun membaca tulisan yang tertulis di atas gapura yang membatasi koridor dengan bangunan lain di depannya. Clayton’s Academy. Tulisan itu dipahat dengan baik di batu gapura dengan tulisan Yunani kuno. Jangan tanya bagaimana Yeong Eun bisa membacanya, karena ia bahkan tidak tahu.

 

“Ini Akademi Clayton. Bahasa yang lebih mudah adalah, ini sekolah kita. Para pekemah mempelajari semuanya di sini. Kalau mengenai praktik dan latihan, kau tentu sudah tahu. Itu lahan latihannya.”

 

Eunhyuk mengedikkan dagunya ke lapangan. Yeong Eun bisa melihat orang-orang yang masih sibuk berlatih. Dan ia harus berjalan cepat menyusul Eunhyuk yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

 

“Kita tidak lihat-lihat ke dalam akademi?”

 

“Tidak usah. Bisa memakan banyak waktu. Besok kau juga akan masuk ke sana.”

 

“Kau sendiri? Memangnya kau tidak sekolah?”

 

“Aku sudah lulus.”

 

Eunhyuk menjawab tak acuh. Mereka berjalan mengitari arena latihan. Di depan sana, gerbang besar perkemahan berdiri. Dari sinilah Yeong Eun bisa melihat bahwa susunan bangunan perkemahan membentuk persegi yang mengelilingi aula besar dan arena latihan yang berada di tengah.

 

“Ini paviliun ksatria. Ditempati oleh nyaris semua Intermediet Dewa Ares, Dewa Perang. Beberapa Intermediet Dewi Athena juga ada yang menempatinya.” Eunhyuk menjelaskan saat mereka sampai di paviliun selanjutnya. Segala macam senjata tersusun rapi di halaman. Sebuah lambang pedang dan perisai terpasang di atas pintu besar.

 

Eunhyuk kembali melanjutkan perjalanan.

 

“Aduh!” Yeong Eun mengaduh saat kepalanya menabrak bahu keras Eunhyuk.

 

“Kenapa kau menabrakku?”

 

“Kau yang berhenti tiba-tiba.”

 

“Seharusnya kau memasang penglihatanmu dengan baik. Kalau aku tadi monster, sekarang kau pasti sudah lewat.

 

“Aku kan tidak tahu! Kenapa kau malah marah-marah sih?”

 

“Menjadi bagian dari Dewa-Dewi membuatmu harus tetap siaga. Nyawamu bisa melayang kapan saja. Monster akan menghabisimu dengan mudah kalau kau bahkan tidak bisa menggunakan matamu dengan benar.”

 

“Berhentilah memarahiku dan jelaskan saja ini bangunan apa!”

 

Yeong Eun menjawab dengan kasar. Menatap Eunhyuk dengan emosi. Telunjuknya mengacung lurus pada pintu besar di samping mereka. Ah, tidak. Jari itu kini malah mengarah lurus pada wajah pria yang kini melebarkan matanya. Merasa kaget sekaligus kesal karena wajahnya ditunjuk-tunjuk oleh seorang gadis yang lebih pendek darinya.

 

“Kupikir sebaiknya kau menurunkan tanganmu.” Eunhyuk mengatakannya dengan datar. Ia melangkah menjauh dari Yeong Eun dan Sungmin, menyandar di sebuah tiang. Kabut hitam ikut bergerak mengikuti pergerakannya.

 

“Memangnya kenapa?” Yeong Eun masih membalas dengan sangsi. Makin kesal karena Eunhyuk hanya mengembuskan napas malas.

 

“Ehem, maaf, Nona Cho. Apa ada yang salah dengan wajahku?” Sungmin bersuara. Menampilkan senyum ramahnya.

 

Kepala Yeong Eun berputar cepat. Tangannya langsung ditarik mundur. Ia melihat Sungmin seolah baru saja melihat hantu. Tunggu, dia kan pria yang kemarin.

 

“Kau … ”

 

“Aku Lee Sungmin. Kepala paviliun penyembuh.”

 

“Dia dokter terbaik di perkemahan. Intermediet Dewa Apollo.”

 

“Jangan berkata begitu, Hyuk. Kau membuatku malu.”

 

“Menjijikkan.” Eunhyuk menggerutu. Membuang pandangan dari Sungmin yang terkekeh. Pria itu kembali menatap Yeong Eun.

 

“Kau sudah sehat rupanya.”

 

“Kau mengenaliku?” Yeong Eun bertanya, memastikan.

 

“Dia yang merawatmu sejak kau tiba di perkemahan.” Eunhyuk menjelaskan. Penjelasan yang membuat Yeong Eun seperti disiram air dingin.

 

“Oh. Kau … kau yang merawatku ya? Ma-maaf. Hari itu … aku kabur darimu. Kupikir kau orang jahat yang mau menangkapku untuk dijadikan sebagai … ah, lupakan saja.”

 

Sungmin tertawa. Ia lalu mengangguk.

 

“Tidak apa-apa. Aku tahu kau mungkin bingung sekali.”

 

“Memang. Sampai sekarang saja aku masih bingung. Tapi ini terlalu nyata untuk jadi delusiku. Tidak mungkin bahuku bisa bolong kalau hanya khayalan.” Yeong Eun menggerutu. Di tempatnya, Eunhyuk berusaha keras untuk tak tersenyum sementara Sungmin sudah tergelak.

 

“Baiklah. Selamat datang di perkemahan. Kupikir kau belum ditandai.”

 

“Apa?”

 

“Kalau begitu aku permisi dulu. Ada yang harus kulakukan.” Sungmin masuk ke paviliun penyembuh. Bangunan yang berisi rumah sakit tempat Yeong Eun dirawat sebelumnya. Pria itu tidak menjawab pertanyaannya. Sama seperti manusia-manusia sebelumnya. Ada apa sih dengan semua orang di sini? Kenapa semuanya menyebalkan seperti itu?

 

Yeong Eun benar-benar ingin memukul sesuatu. Tapi Eunhyuk sudah berjalan lebih dulu, meninggalkannya. Baru saja ia ingin bertanya, pria itu sudah melanjutkan penjelasannya.

 

“Ini paviliun perlengkapan. Beberapa unsur kelengkapan perkemahan ada di sini. Penempaan senjata, ramalan dan sihir, dan lain-lain. Ditempati semua intermediet Hephaestus dan Hermes. Beberapa intermediet Aphrodite juga tinggal di sini.”

 

Bangunan itu besar dan rapi. Terasa tegas tapi juga anggun. Beberapa tanaman hias tumbuh subur di pekarangan. Beragam senjata juga tersusun rapi di halaman. Pintu paviliun terbuka, menampakkan ruang duduk yang tertata rapi dengan nuansa hitam dan merah muda. Terdapat beberapa perlengkapan rumah yang berkeriat-keriut karena bergerak sendiri. Yeong Eun bahkan bisa melihat sebuah robot kucing yang menyapu debu di lantai.

 

Paviliun kerajaan terlihat di sebelah kanan. Mereka sudah berkeliling sepenuhnya. Keduanya turun ke rerumputan. Yeong Eun berjalan lebih dulu, mendudukkan dirinya di sebuah batang pohon besar yang direbahkan. Sementara Eunhyuk, pria itu berjalan menghampirinya. Lebih memilih menyandar di sebuah pohon di tepi lapangan yang berada di depan Yeong Eun. Rerumputan seketika mati tepat dimana pria itu melewatinya. Meninggalkan tanah yang hitam. Rumput-rumput di sekeliling kaki Eunhyuk pun juga mati. Seolah-olah Eunhyuk sudah menghabisinya hanya dengan mendekatinya.

 

“Eunhyuk~ah, kau … rumputnya …”

 

Eunhyuk melihat ke bawah kakinya. Tidak merasa terkejut dengan pemandangan tumbuhan itu yang sudah berubah warna.

 

“Aura kematianku. Itu mengisap daya hidup makhluk lain.”

 

Eunhyuk menjawab datar. Bergeser untuk berlindung dari sinar matahari yang menyorot dari sela-sela daun. Yeong Eun terpekur di tempatnya. Aura orang mati? Apakah maksudnya …

 

“Jadi? Ada berapa jenis intermediet yang ada di sini? Kau tahu, maksudku bagian dari dewa apa saja?” Yeong Eun bertanya. Berusaha mengalihkan dari pembicaraan seputar aura kematian.

 

“Ada dua belas Dewa-Dewi Olympus utama. Zeus, Poseidon, Hades, Athena, Ares, Aphrodite, Hephaestus, Demeter, Dionysus, Hermes, Apollo, dan Artemis. Kepingan jiwa mereka ada di sini. Tapi masih banyak kepingan dewa-dewi minor lain yang juga tinggal di sini. Seperti Dewi Hecate (Dewi Pembalasan), Dewa Morpheus (Dewa Mimpi) dan masih banyak lagi.”

 

Yeong Eun mengangguk-angguk. Ia mengenali nama-nama itu. Ayah dan ibunya sering menceritakan dan memberinya buku-buku mengenai mitologi. Kyuhyun juga begitu. Tapi mereka tidak sedikit pun menyinggung bahwa ia sendiri adalah bagian dari mereka. Dasar jahat!

 

“Lalu? Aku ini apa? Aku bagian dari siapa?” Yeong Eun bertanya, memandang penuh harap pada Eunhyuk. Tiba-tiba menyadari bahwa ia sama sekali tak punya gambaran tentang asal usulnya.

 

Eunhyuk memandang Yeong Eun dengan tatapan sebal. Merasa geram.

 

“Kalau kau sendiri bahkan tidak mengetahuinya, kenapa kau pikir aku bisa tahu mengenai hal itu? Otakmu benar-benar sering menganggur ya?”

 

Yeong Eun merengut kesal. Kalau tidak tahu ya bilang saja tidak tahu. Kenapa harus mengatainya bodoh segala?

 

“Kupikir sebentar lagi akan malam. Aku tidak tahu apalagi yang harus dilakukan saat perkenalan. Ini seharusnya tugas si kembar.”

 

Eunhyuk memberitahu. Memerhatikan orang-orang yang kini beristirahat dari latihan.

 

“Si kembar?” Yeong Eun membeo. Tidak mengerti siapa yang dimaksud.

 

“Iya. Chanyeol dan V, maksudku Taehyung.” Eunhyuk menjawab sambil lalu. Kalau Yeong Eun memang tidak salah lihat, pria itu baru saja mengeluarkan tulang anjing dari tanah. Tapi tulang itu sudah lenyap kembali ke dalam bumi.

 

“Apa? Mereka kembar?” Yeong Eun menjerit—lagi. Ya ampun, sudah berapa kali sih dia jerat-jerit dari tadi?

 

“Yah, aku tidak tahu istilah apa yang tepat. Tapi mereka berasal dari ayah dan jejak yang sama, Dewa Hermes. Biasanya jejak hanya menciptakan satu wujud dan jiwa, tapi mereka malah ada dua. Bukankah kalau begitu namanya kembar?” Eunhyuk melihat Yeong Eun, meminta persetujuan. Tapi gadis itu terlihat begitu sibuk dengan pikirannya.

 

“Tapi mereka tidak terlihat kembar sama sekali. Tidak … tidak mirip. Wajahnya berbeda, hanya rambutnya yang sama.”

 

“Memang. Tinggi badan mereka juga sama, dan kelakuannya juga sama. Dua manusia itu terlalu berisik dan tidak bisa diam.” Eunhyuk mengakhiri kalimatnya dengan setengah mendumel. Menusuk-nusuk tanah dengan pedang yang selalu dibawanya.

 

“Hmm … kau mungkin akan berpikiran kalau ini pertanyaan bodoh,” Yeong Eun memulai lagi, menggaruk lehernya karena gugup.

 

“Kau sudah beberapa kali memamerkan kebodohanmu. Memangnya apa bedanya untuk terlihat bodoh sekali lagi?” Eunhyuk berkata tak acuh. Memilin-milin permata hitam di tangannya yang tidak memegang pedang.

 

Yeong Eun menarik napas. Meredakan kekesalannya. Ia memilih mengabaikan ejekan itu.

 

“Sebenarnya, bagaimana kita bisa tercipta? Kyuhyun bilang kalau kita tidak bisa disebut sebagai anak dewa-dewi itu.”

 

“Memang bukan. Kita bukan anak biologis seperti manusia pada umumnya. Seperti yang kita ketahui, dewa-dewi itu tinggal di Olympus. Kabar terakhir, Olympus berada di langit di atas Empire State Building di New York, tepatnya lantai ke enam ratus. Beberapa kali, mereka turun ke bumi. Mengunjunginya. Untuk beberapa urusan dan keperluan, ataupun keinginan mereka sendiri. Setiap mereka melakukannya, maka itu akan meninggalkan jejak. Terbentuknya jejak itu, dewa-dewi tersebut secara tak sengaja juga akan melepas sebagian jiwa mereka. Bukan berarti bahwa jiwa mereka sendiri akan berkurang. Mereka hanya … menciptakannya begitu saja. Para dewa-dewi melakukannya dalam wujud manusia mereka, dan kita—kepingan jiwa mereka—jugamengambil bentuk sebagai manusia yaitu seorang bayi. Kita tidak abadi seperti mereka, tapi kita mendapat sebagian dari keabadian itu. Hal itulah yang menyebabkan umur kita tak sama dengan manusia biasa.”

 

Yeong Eun menyerap semua kalimat itu baik-baik. Tidak ingin melewatkan satu kata pun.

 

“Apakah mereka tahu kalau kita ada?”

 

“Tentu saja tahu. Mereka membantu melindungi tempat ini. Dari … kau tahu, monster. Monster selalu suka membunuh apa saja yang berhubungan dengan para dewa.”

 

“Lalu bagaimana kalian menyusun silsilah kerajaan? Siapa yang akan jadi raja, pangeran, dan lain-lain?”

 

“Awalnya, bangsa intermediet terbagi dalam lima klan. Klan intermediet utara, timur, selatan, barat, dan center–pusat. Kelimanya didirikan oleh seorang intermediet. Lalu, saat sang raja menikah, biasanya mereka akan melakukan pemberkatan dan diberkati oleh seorang Dewa. Saat itulah akan lahir penerus kerajaan yang selanjutnya. Kau tahu, seperti si kembar, mereka dari klan intermediet utara. DO dari barat. Aku dari timur. Ada lagi Heechul Hyeong dan Henry, mereka dari selatan. Sementara Kyuhyun, dia dari klan intermediet center. Kupikir seharusnya kau juga putri dari klan center. Tapi untuk pangeran dan putri selanjutnya, Mr. Clayton beranggapan hal itu dapat diturunkan melalui silsilah perkawaninan saja. Anak dari raja klan tersebut akan menjadi pangeran dan penerusnya.”

 

Yeong Eun memainkan rumput liar di tangannya. Tiba-tiba tersenyum geli. Tidak bisa membayangkan bahwa Kyuhyun, kakaknya yang terkadang bodoh itu adalah seorang pangeran.

 

“Aku penasaran, jiwa siapa yang berada dalam tubuhku.” Yeong Eun berkata sendiri. Memandang jauh pada orang-orang yang sedang membereskan perlatan latihan mereka.

 

“Aku sudah punya gambaran soal itu. Kita lihat saja saat kau sudah ditandai nanti. Upacaranya nanti malam.” Eunhyuk berkata lagi. Meskipun Yeong Eun memandangnya dengan tatapan menuntut, tapi pria itu tidak terlihat ingin menjelaskan lebih jauh. Dasar menyebalkan!

 

“Kau sendiri? Kau bagian jiwa dari siapa?”

 

Yeong Eun bertanya dengan hati-hati. Tidak ingin melihat pria itu marah. Ia tidak berpikir bahwa Eunhyuk akan terlihat imut saat marah. Saat diam saja pria itu terlihat mengerikan. Eunhyuk terdiam lama. Menatap dalam ke mata Yeong Eun. Bola matanya hitam. Dengan kulit yang juga gelap di sekeliling matanya. Kontras dengan kulitnya yang putih.

 

“Kupikir hanya dengan melihatnya kau sudah bisa menyimpulkan.”

 

Eunhyuk melihat pada rumput di bawahnya. Lengkap dengan awan hitam tipis yang melingkupi tubuhnya. Membuat Yeong Eun juga turut memerhatikannya. Benar. Tidak ada penjelasan lain mengenai hal itu. Lee Hyukjae adalah Intermediet Dewa Hades. Dewa kematian dan Dunia Bawah.

 

Yeong Eun mengangkat tatapannya. Membalas tatapan Eunhyuk dengan lekat. Ia lalu tersenyum. Dan senyum itu sama sekali tidak baik untuk Eunhyuk. Pengaruhnya terlampau besar.

 

“Apakah ada yang aneh denganku? Kenapa aku merasa orang-orang sedang memerhatikan kita?”

 

Eunhyuk tersadar. Melihat ke arah yang sedang dilihat Yeong Eun. Menampakkan para pekemah yang sedang menatap mereka diam-diam. Ia sudah terbiasa dengan segala tatapan itu. Memilih untuk tidak memgambil pusing meskipun terasa sangat mengganggunya.

 

“Tentu saja. Tidak ada orang yang senang berdekatan lama-lama dengan orang yang menguarkan aura kematian, Yeong Eun.”

 

Yeong Eun menatap Eunhyuk lama. Tak sadar sudah melakukannya. Pria itu terlihat begitu kaku. Ia juga sadar betapa Eunhyuk berusaha untuk tak begitu dekat dengannya. Seolah berdekatan dengannya akan membuat pria itu sesak napas.

 

“Aku tidak keberatan dengan orang mati. Kupikir orang hidup terasa agak merepotkan.” Yeong Eun berkata lagi. Mengangkat bahunya tak acuh. Matanya menyipit saat melihat matahari yang akan tenggelam. Di tempatnya, Eunhyuk memandanginya lekat. Ia sudah menyerah untuk berusaha mengenyahkan aroma itu. Seberapapun kuatnya ia menahan napas, wangi itu tetap melesak masuk ke hidungnya. Dan gadis yang di sana itu malah tidak menyadarinya. Terbukti dengan sikapnya yang beberapa kali tak keberatan untuk dekat dengannya. Di saat yang lain menghindarinya karena auranya yang terlalu gelap. Kejutan ini tak membuat Eunhyuk tenang. Karena ia malah merasa … terancam.

 

***

 

Yeong Eun memegangi tangannya. Ia sedang duduk di aula besar dengan seluruh pekemah yang baru saja selesai menikmati makan malam. Pertanyaannya sore tadi baru terjawab sekarang. Siapa yang memasak? Para pekemah? Bukan! Karena yang memasak adalah hantu dan banshee! Makhluk transparan itu melayang ke sana ke mari membereskan meja karena makan malam telah selesai. Yeong Eun tidak tahu bagaimana orang, benda, atau sebut saja si hantu itu bisa memegang nampan. Karena nyatanya mereka bisa melewati tubuh pekemah tanpa menabraknya. Alias menembusnya! Tubuh Yeong Eun terasa dingin saat hantu itu melewatinya. Dan kembali seperti biasa saat material putih bercahaya itu menembusnya. Kyuhyun terus menyuruhnya tenang. Tenang, tenang, apanya yang bisa tenang! Ia sama sekali belum terbiasa melihat makhluk melayang yang berpendar putih dan bergerak tanpa menginjak lantai. Matanya berkeliling, mencari sosok Hyukjae tapi pria itu tak terlihat di mana pun. Apakah dia tidak makan?

 

“Selamat malam, Para Intermediet. Setelah makan malam kali ini, kita akan melakukan upacara seperti biasa. Karena hari ini, kita mendapatkan satu anggota intermediet baru.” Yesung berdiri di pangkal meja panjang. Tersenyum penuh wibawa. Yeong Eun bisa merasakan beberapa orang sedang menatapnya terang-terangan. Membuatnya lebih memilih untuk memandangi meja makan.

 

“Cho Yeong Eun, kemarilah.” Yesung kembali bertitah.

 

Yeong Eun mengangkat kepalanya, memandang Yesung penuh tanya. Ia lalu berdiri, menghampiri Yesung yang berada jauh di depan dengan langkah tidak yakin. Yeong Eun lupa kapan terakhir kali ia diperhatikan oleh orang sebanyak ini. Mungkin saat perkenalan diri saat di sekolah menengah.

 

Yeong Eun berdiri di samping Yesung, memandang ke semua orang yang sedang duduk di bangku panjang. Di pangkal meja, terdapat pancuran air mancur berukuran sedang. Yeong Eun tidak memerhatikan hal itu sebelumnya. Air mancur yang harusnya berisi air jernih itu kini terisi dengan air berwarna merah yang berbau manis. Yeong Eun mengira itu adalah anggur yang sangat lezat.

 

“Silakan diminum.” Yesung kembali berujar. Memberikan sebuah gelas piala padanya. Yeong Eun mengambilnya dengan ragu. Ia lalu berjalan mendekati pancuran.

 

“Apakah kalian semua harus minum ini dulu setelah sampai di sini?” Yeong Eun tak sadar sudah bertanya. Memandang pada para pekemah. Sebagian besar orang-orang itu mengangguk. Terlihat penasaran.

 

“Aku masih ingat rasanya. Mengerikan.”

 

“Untung aku tidak mati saat itu.”

 

“Tidak mau dua kali deh.”

 

Beberapa orang berceletuk. Yang malah membuat Yeong Eun memucat. Sebagiannya tertawa geli.

 

“Berhentilah menakuti anak baru seperti itu.” Seorang lelaki dari paviliun penyembuh berkata. Memandang kesal pada orang-orang yang terkekeh.

 

“Baiklah, Bu Dokter.” Kata sekelompok anak perempuan dari paviliun perlengkapan.

 

“Aku bukan ibu-ibu.” Si laki-laki membalas dengan jengkel.

 

Suara-suara itu tumpang tindih. Sementara Yeong Eun hanya memandangi cairan merah dalam gelas pialanya.

 

“Satu teguk saja sudah cukup.” Yesung memberitahu. Pria itu menunggu dengan sabar.

 

Yeong Eun menarik napas. Mengangkat gelas pialanya. Ia menempelkan bibirnya ke tepian gelas, memejamkan matanya dan menaikkan gelasnya. Merasakan bagaimana cairan itu melewati bibirnya. Masuk ke mulutnya dan membasahi lidahnya. Rasanya … manis! Manis yang tidak akan membuatmu muak. Tapi manis yang … benar-benar enak. Kelezatan minuman itu nyaris membuat Yeong Eun melayang. Merasakan bagaimana ia menuruni kerongkongannya. Yeong Eun meneguknya hingga habis. Menurunkan gelasnya dan menatap pada semua orang. Ia menggigit bibirnya, masih merasakan sisa kemanisan itu. Tapi kini ia malah bingung. Hening. Tidak ada apa pun yang terjadi.

 

“Kenapa tidak ada yang terjadi?” Seorang perempuan bertanya. Lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri. Yeong Eun mengangkat alisnya. Menolehkan kepalanya pada Yesung yang memandanginya tajam. Yeong Eun memalingkan wajahnya lagi. Mendapati Eunhyuk yang berdiri di luar ruang makan, menyandar pada pilar aula.

 

“Tunggu, mungkin belum bekerja.” Seseorang dari paviliun ksatria menjawab.

 

“Kenapa lama ya?” Yang lain ikut merasa bingung.

 

Yeong Eun melangkah ke tengah, menatap semua orang dengan wajah yang lebih bingung lagi. Memangnya apa yang orang-orang ini harapkan akan terjadi?

 

“Tunggu, memangnya apa yang—”

 

Kalimatnya terhenti. Ia merasakan tubuhnya bercahaya. Secara harfiah, karena kini cahaya putih memang menyelubunginya. Yeong Eun memicingkan matanya. Ia merasakan embusan angin yang menerpa tubuhnya dengan lembut. Dari berbagai sudut. Beberapa detik setelahnya, cahaya itu memudar. Dimulai dari ujung kakinya hingga kepalanya. Setelahnya, ia bisa melihat semuanya dengan jelas saat Yeong Eun membuka matanya. Semua orang menatapnya dengan … kaget?

 

Yeong Eun melihat Eunhyuk, dan pria itu tidak terlihat lebih baik. Mata Eunhyuk menatapnya dengan terlalu … intens. Membuatnya malu dan merasa ingin kabur saja. Ia tidak mengerti kenapa semua orang tiba-tiba tercengang hanya dengan melihatnya. Matanya lalu menunduk, menatap tubuhnya sendiri. Dan saat itulah ia mengumpat.

 

What the …” Kalimatnya menguap. Matanya melebar kaget.

 

Sejak kapan ia mengenakan gaun? Ia yakin ia tadi sedang memakai kemeja dan celana jeans biru mudanya. Tapi … tiba-tiba sekarang ia memakai gaun berwarna putih yang bagian belakangnya menjuntai hingga ke lantai. Bagian depan gaun itu terbelah setinggi pahanya. Sebuah pin bunga mawar dan angsa keemasan tersemat di kedua bahunya. Membuatnya terlihat seperti dewi yunani. Kakinya berdiri di atas sepatu tinggi putih bertali. Rambutnya terjalin di sebelah kanannya. Sebuah mahkota dari kerang-kerang putih berada di kepalanya. Dengan mutiara berkilau tepat di tengah. Jari tengah kirinya dihiasi cincin perak. Yeong Eun tak bisa berkata-kata. Apa-apaan. Kenapa dia bisa berubah seperti ini dalam sekejap?

 

“Nah, selamat datang kepada teman baru kita. Cho Yeong Eun, Intermediet Dewi Aphrodite, Putri dari Klan Intermediet Center.” Pemberitahuan Yesung disambut oleh tepuk tangan pekemah lain. Tidak mengindahkan Yeong Eun yang kebingungan. Sementara Eunhyuk, pria itu seolah baru sadar dari kekagetannya. Ikut bertepuk tangan dengan mata yang masih menatap Yeong Eun dengan dalam.

 

To be continued …

 

 

Nah, mungkin kalian udah paham kategori fantasinya ya. Yap! Tentang dewa-dewi Yunani. Dari sini, kalian bakal menemukan kemiripan dengan Novel Percy Jackson. Tapi aku berusaha untuk membuatnya seberbeda dan senyambung mungkin. Misalnya, tata letak perkemahan, di sini aku juga ambil latar perkemahan. Karena menurutku itu yg paling cocok. Nah, kalo di Percy Jackson kan pembagian kabinnya menurut orangtua dewa mereka. Aku nggak mau nyamain hal itu. Jadi ya, kumodifikasi sebisaku. Biar beda. Terus masalah penandaan anak Aphrodite, itu juga mirip sama di novel. Terinspirasi dari Piper McLean, Daughter of Aphrodite. Tapi hanya itu saja, soal kemampuan anak Aphrodite mungkin memang bisa tapi kupastikan itu berbeda. Watak Yeong Eun juga beda banget sama dia. Jati diri dan kemampuan juga nggak sama. Kesamaannya hanyalah dia juga ‘anak’ Aphrodite. Itu saja. Karakteristik Eunhyuk, sang intermediet Hades, tokohnya terinspirasi dari Nico di Angelo, Son of Hades. Aku ngefans banget sama Nico, cinta mati :3sama seperti Yeong Eun, watak Eunhyuk juga beda banget sama Nico, apalagi masalah ‘kesukaan’ (pembaca HoO pasti paham) dan kemampuan, beda jauh. Kesamaannya hanyalah sama-sama ‘anak’ Hades. Itu saja. Lagipula, dari SD aku juga udah naksir sama Hades, meskipun banyak yang bilang jahat tapi entah kenapa kupikir auranya keren, ngalahin Zeus.

Sebenarnya ini lebih cocok buat jadi fanfiction Percy Jackson, niatku awalnya juga begitu. Tapi aku masih cinta dengan fanfic K-Pop dan belum rela lepas mereka :’ Jadi kupikir kenapa nggak kugabungin aja itu berdua, mudah-mudahan menghasilkan spesies hibrida yang bagus alih-alih mutan X3

Yah, jadi begitulah. Semoga memuaskan ya. Tambahan, ini ada 11ribu word lebih lho, kuharap nggak bikin muntah XD Makasih ya^^

Salam sayang,

 

Lula

66 thoughts on “Intermediate Part 1

  1. Baca ff ini imajinasinya kudu digali lebih dalam lagi 😤 tapi kagak papa ceritanya keren abis 👍 belum pernah baca yang ceritanya seribet ini hehehe 😆 lanjutkan thor 😄

    Suka

  2. ini keren banget jalan ceritanya bener2 beda dari yg lainnya walapun harus lebh keras berimajinasi haha
    si young ini lucu banget si polos gtu gemess

    Suka

  3. roman roman nya si cabtik dan si hitam misterius akan falling deeper in love 😅😅😅
    .
    ga sabaaar… mereka gimana kelanjutannya..
    apa aja yg akan dilalui, apa aja yg akan terjadi dan gimana endingnya..
    pasti cerita mereka sweet sweet sour gimana gitu haha
    .
    fighting thor

    Suka

  4. suka deh sama karakternya hyukjae disini. ceritanya juga baguss, emang kebetulan suka dengan hal2 yang berbau fantasi. keren thorr! sukaaa😁

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s