Anta & Prota Part 16


image

Anta & Prota Chapter.16

Author : Intan98

Tittle : Different

Category : NC17, Yadong, Romance, Continue

Cast :Cho Kyuhyun,Lee Eunji (OC), other support cast.

Summary: Cerita si antagonis mulai menemukkan titik terangnya.

Setiap keluarga pasti memiliki masa lalu yang kelam bukan? Setidaknya satu masa lalu kelam. Seperti halnya Han Chaerin dengan keluarga bertopeng kebahagiaanya atau Albert sebagai korban dari kasus bunuh diri ibunya. Begitu pula dengan keluarga Eunji.

Tak banyak yang tahu bahwa kedua orangtua Eunji yang meninggal ketika gadis itu masih dalam umur belianya-sekitar 10 tahun punya sebuah permasalahan besar. Lee Jaesuk, mendiang ayahnya pernah terlibat skandal palsu mengenai hubungan gelapnya dengan seorang wanita desa yang pada waktu itu tengah hamil anaknya bertepatan dengan kandungan Edelyn menginjak 1 bulan.Keluarga Lee kala itu heboh karena masalah ini, Edelyn hampir menggugat suaminya jika wanita desa tersebut tak mengakui kebenaran bahwa ia disuruh oleh lawan perusahaan keluarga Jaesuk.

Wanita desa itu pergi merantau ke kota lain, ia hidup sebatang kara sampai melahirkan pun ia melakukan persalinan sendiri akibat biaya. Pria yang menghamilinya adalah seorang pemabuk sehingga wanita itu memilih menghindari kenyataan, orang yang menyuruhnya mengacaukan rumah tangga keluarga Lee pun diam saja karena wanita itu tidak melakukan pekerjaannya dengan baik.

Selama melahirkan yang ia pikirkan hanya janji seorang Jaesuk padanya sebelum wanita itu beberapa hari tinggal di rumah mereka sebab skandal palsu tersebut. ‘Bayimu, akan kuanggap ia sebagai anakku sendiri kelak.’ beberapa tahun pun terlewatkan, ia pulang ke Seoul dengan membawa bocah kecil yang amat tampan namun kenyataan pahit  wanita itu dapatkan saat ia sampai di rumah megah keluarga Lee. Jaesuk berpura-pura tidak mengenalinya lataran sang istri tidak menyukai wanita yang menghancurkan rumah tangga mereka dahulunya, ia diseret keluar dari pekarangan rumah keluarga Lee- ia merasa dikhianti janji pria itu.

Mereka hidup serba kekurangan, wanita itu kerja serabuttan untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua. Tak lupa ia kerap menceritakan pahit hidupnya kepada putra nya supaya suatu hari dapat menjadi pria nan tangguh dan tidak mengingkari janjinya. Hingga belasan tahun terlewatkan wanita itu sakit-sakittan di usia keemasannya ia pun mendapat kabar beberapa waktu sebelumnya kalau Jaesuk dan Edelyn meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun—Hidupnya tetap dalam keadaan miskin walau putranya sudah menorehkan prestasi lalu menggantikannya bekerja. Perasaan dendamnya terhadap keluarga Lee terus berlanjut.

Dendam tersebut ia titip pada anaknya.

Berlebihan? Itulah kenyataanya.

Pertanyaan dalam benak siapapun, anak itu siapa?

                                _Story Begin_

Perut gadis itu kembali bergejolak pagi ini, ia cuma mengeluarkan cairan bening dari mulutnya. Lagi-lagi seperti ini, padahal malam tadi ia hanya menegak segelas wine ia pun tidak tertekan akan insiden penangkapan keluarga Han. Baginya kejahatan terhadap Kyuhyun dan pengawalnya di Jeju masih terus berlanjut, mulai kemarin biarkan Henry Lau bahkan adik sepupu penuh misterinya meengambil alih masalah bercabang itu.

Selepas mandi dan memuntahkan cairan bening dari perutnya, Eunji keluar dari kamar mandi bak seorang putrinya. Dengan kimono putih berbulu serta rambut yang tergulung handuk Eunji melangkah perlahan ke pintu kaca kamarnya, membuka tirai perlahan kemudian menatap rumah yang bersebrangan dengannya.
Cukup lama ia pandangi balkon kamar lantai duanya—Kamar Cho Kyuhyun. Memikirkan segala hal mengenai pengakuan cinta pria itu kepadanya, ia bertanya-tanya apakah waktunya tepat untuk menerima atau menolak? Saat ini situasi cukup pelik untuk sekadar memikirkan perasaan satu sama lain. Lalu…

Eunji memandang perut ratanya dengan ekspresi sendu. “ Apa ini tanda kehadiranmu? Kenapa kau hadir disaat tersulit bagi hidupku?? Aku punya firasat buruk tentang kehadiranmu, jikaa memang ini adalah awal dari segalanya.” Ia meletakkan jemari lentiknya diatas permukaan datar perutnya, setelah itu memandang kalender yang tak jauh dari balkon.  Yah, sepertinya ia harus memastikannya sendiri ke dokter hari ini.

Tak seperti biasanya bila mereka bertiga duduk menghadap meja makan yang sama, kali ini suasana hening meliputi meja makan yang begitu luas serta menghabiskan hampir seluruh ruang apartemen seorang pengangguran jika dibandingkan. Eunji melahap roti manis sarapan kesukaanya sembari berpikir keras serta mendelik tajam kearah Hyun Ra, Heechul mencelupkan lady finger kesukaanya ke dalam kopi hitam  tanpa minat karena mengingat ucapan Hyun Ra malam tadi bahwa Rin Rin belum juga ditemukan, sedangkan Hyun Ra sendiri menghindari tatapan kakak sepupunya dan memakan sarapannya dengan kecepatan cahaya.

“Jelaskan kepadaku Hyun Ra… Semuanya.” Baru Eunji yang memulai obrolan pagi ini. Mereka berdua menatap Eunji bersamaan, mata gadis itu menampakkan kilat marah dan menyembunyikkan kilat resahnya mengenai ‘kehadiran’ sesuatu. Hyun Ra tidak menjawab, ia justru mempercepat kunyahannya terhadap roti kering bertabur gula lalu membereskan piringnya.

“Aku sudah selesaiii…” Ajaibnya ucap mereka hampir bersamaan. Heechul dan Hyun Ra kali ini saling bertatapan kemudian memilih pergi tanpa ingat bahwa ada seorang yang menahan geramnya sendirian di depan meja makan.

Hal heboh pertama yang Eunji rasakan waktu masuk kuliah hari kedua adalah… Suara bisik-bisik juniornya mengenai insiden penangkapan orangtua tunangan Kyuhyun malam tadi, ia pun dapat mendengar kalau beritanya telah disebarkan lewat koran pagi ini seketika  menjadi headline di pusat kota. Bukan itu saja, Eunji juga mendengar mahasiswa yang ia lewati mengutip pembicaraan calon utama pewaris Cho Corporation tersebut saat ia membatalkan pertunangan mengenai wanita lain.

Eunji bukannya tak mengubris bisikkan mahasiswa-mahasiswa yang ia lewati, melainkan rasa sebagai singa betinanya belumlah keluar sepagi ini ditambah perutnya kembali bergejolak dan membuatnya lemas. ‘DORR!!’ Eunji berbalik ke belakang dan ia mendapati Kangsil disana dengan senyum cerianya. Sungguh membuat mood Eunji turun ke dasar.

“Oh, hai Kangsil.” Sapa Eunji tanpa minat. Kangsil mencebik mendengar jawaban sahabatnya, ia merangkul kuat lengan Eunji.

“Yo! Sebentar lagi kita wisuda wuhuuu~ Akhirnya skripsiku selesai dan diterima dalam sekejap mata.” Kata gadis tomboy itu begitu senang. Eunji tersenyum simpul, matanya tak sengaja menatap jari manis tangan kanan Kangsil… Ada cincin?

“Cincin? Sejak kapan kau menggunakan cincin Kangsil? Apalagi cincin itu sedikit feminim dan kuno??” Tanya Eunji penasaran, namun beberapa detik kemudian ia menepuk tangannya keras. Mereka hampir sampai di kelas mereka.

“Jangan bilang kalau…” Kangsil salah tingkah.

“Hei,hei… Bukan begitu, malam tadi Yesung mengajakku taruhan main game online. Kalau aku yang menang, Yesung harus mau jadi budakku tapi kalau dia yang menang… Kau lihat ini, dia menyuruhku pakai cincin neneknya seminggu penuh, aisshh… Berarti cincin ini tidak akan lepas waktu wisuda!! Aisshhh, pria itu.” Eunji berdecak tak percaya.

“Setelah menciummu di air terjun kau pikir dia membuat taruhan itu untuk apa? Pasti ia menyukaimu  Kangsil.” Wajah gadis tomboy itu memerah.

“Ap..Apa? Iya sih akhir-akhir ini Yesung selalu merecoki hidupku tapi… Dia selamanya akan jadi musuhku!! Cincin ini tidak berarti apapun aishh… Oh iya, sungguh keluarga Han terlibat kasus percobaan pembunuhan terhadap Kyuhyun di pulau Jeju waktu itu Eunji?” Kangsil dengan cepat mengalihkan pembicaraan. Eunji menggeleng tak percaya, mereka duduk di salah satu kursi yang tersedia untuk mendengar nasihat dari salah satu professor pagi ini.

“Eumm , kita lihat saja nanti. Aku pun belum begitu paham situasi rumit ini.” Tiba-tiba ponsel Eunji bergetar. Ia tersenyum pelan kemudian meyimpannya lagi.

**

Kim Ah Ra? Kalian masih ingat Kim Ah Ra? Gadis itu kini tak ayalnya mayat hidup yang menjadikan tv sebagai dan es krim sebagai sumber kehidupan pertamanya. Tangannya memegang erat sekotak besar es krim rasa coklat, tumpukkan sampah coklat batangan berada tepat dibawah kaki mungilnya, dandanannya awut-awuttan dan LCD tv sebagian warnanya agak biru keunguan akibat terlalu lama dihidupkan. Terhitung empat hari ia duduk seperti ini, tidak tidur apalagi pergi barang selangkah dari sofa depan ruang tamu keluarga Kim.

Lalu siapa yang mengambil air putih, coklat serta es krimnya? Tentu adiknya Kim Yesung. Baru disebutkan, orangnya sudah turun ke lantai pertama cukup tergesa-gesa.

“Noona! Kumohon jangan seperti ini. Pria baik diluar sana begitu banyak, dia itu tidak normal noona! Sadarlah, akan kucarikan pria yang jauh lebih imut dan mapan dari Henry… Astaga, maaf.” Yesung menatap takut delikkan tajam dari Ah Ra. Setelah mendapat bentakkan dari Henry waktu ia menghubungi pria itu sebab cemas Henry tidak menyusul mereka pulang karena suatu masalah pribadi, Ah Ra memperingati adiknya supaya tidak menyebutkan nama Henry lagi.

Tak sampai semenit air matanya tiba-tiba keluar. Yah, adiknya benar soal hal ini. Ia akan berhenti menangisi seorang gay yang menipunya supaya menjadi pria sejati, sejati apanya? Henry di telepon menyuruh gadis itu tak usah mengganggunya lagi. Baiklah, Ah Ra akan mengabulkan permintaan Henry.

“Kau benar adikku, sudah waktunya aku menyerah.” Ah Ra berdiri dari duduknya, mengendus-endus tubuh tak mandi empat harinya lalu beranjak ke kamar mandi lantai pertama.

Nyatanya pria melenceng tidak akan pernah berubah hanya karena sebuah edukasi apalagi praktek bodoh yang Henry pertanyakan.

Nyatanya Ah Ra-lah yang dibodohi pria melenceng seperti Henry.

Sekiranya begitulah pikiran Ah Ra ketika ia mengguyur tubuh mungilnya dengan air hangat di pagi itu.

**

Mobil polisi pagi usai Eunji datang menghebohkan seisi fakultas bisnis internasional. Bukan hanya satu mobil polisi resmi, ada tiga mobil yang terparkir secara mendadak di lapangan utama fakultas bisnis.

Mereka keluar dari dalam mobil, beberapa menggunakan seragam dan beberapa lagi dengan pakaian lapangan. Mahasiswa yang berada di luar fakultas berbisik gaduh. Dua diantara mereka adalah Hyun Ra juga Henry.

Hyun Ra dan Henry mendekati salah satu gerombolan mahasiswa lalu memperlihatkan lencana kepolisian mereka.

“ Kami perwakilan kantor kepolisian Seoul, dimana pria dengan nama Lee Eunhyuk?”

“Yakh! Bodoh!! Bukan seperti itu, kenapa kau harus jadi saudaraku dari klub badminton? Lee Brother demi nirwana yang didalamnya terdapat banyak gadis se-seksi Angelina Jolie dan secantik Song Hye Kyo tidakkah tanganmu terlalu kebawah untuk service semudah itu????” Eunhyuk kembali menceramahi gaya service seorang Lee Donghae pagi ini.

Sedangkan pria dengan kadar santai tingkat dewa itu hanya menguap malas sembari memberikan pemukulnya kepada salah satu junior-nya di klub.

“Tidakkah kau yang selalu membesar-besarkan masalah Eunhyuk?…” Donghae berjalan mendekati net yang berlawanan dengan Eunhyuk kemudian mendekatkan kepalanya.

“Kau sungguh membuatku malu didepan adik tingkat kita, dasar monyet.” Eunhyuk tersenyum gusi, ia hendak menjawab pertanyaan Donghae namun suara riuh mahasiswa kian dekat sehingga mereka menghentikkan pertengkaran.

Dari jarak 70 meter beberapa pria dengan seragam polisi mendekati lapangan badminton diikuti dengan dua orang paling depan yaitu Henry juga Hyun Ra.

“Ehh? Mereka kesini?” Gumam Eunhyuk bingung.

“Sepertinya begitu, tunggu.. Bukankah pria bermata sipit itu drummer band Clouds?” Tanya Donghae bingung. Manusia ikan itu kembali menyimpulkan sendiri, Henry itu seorang model katanya di Inggris jadi kemungkinan besar ia datang ke Korea pastilah bukan hanya mengejar pendidikan saja. Mungkin ia sedang proses syuting sekarang, tapi dimana kameranya?  Light nya juga??

Dari batas net, Eunhyuk menyingkut lengan Donghae kuat. “Mereka kearah kita bodoh, perhatikan.” Desis Eunhyuk cukup kuat.

Anggota kepolisian itu berhenti. Seperti mulanya mereka datang ke fakultas, Hyun Ra terlebih dahulu menunjukkan identitasnya.

“Kami perwakilan dari kepolisian Seoul, siapa pemilik nama Lee Eunhyuk di klub ini?” Tanya Hyun Ra, Henry berbisik pelan.

“Kau kah?” Lanjutnya sembari menunjuk Eunhyuk.

“Iya, aku Lee Eunhyuk.” Apa pesta minum-minumnya dua hari lalu termasuk kedalam kasus kriminal? Seingatnya terakhir melakukan tindak kriminal adalah mencuri uang pamannya yang pelit dan mengasuhnya sejak diadopsi dari panti asuhan.  Itupun termasuk kriminal ringan dan sudah berlalu belasan tahun lamanya.

“Anda harus ikut kami ke kantor polisi sebagai pemberi informasi dalam kasus pembunuhan yang terjadi di Jeju akhir minggu kemarin.” Semua orang yang menyaksikkan menutup mulut mereka terkejut. Eunhyuk pun tak kalah terkejutnya, kali ini Donghae menyenggol keras lengan sahabatnya.

“Pembunuhan? Maksudmu pembunuhan pengawal keluarga Lee saat kami liburan di Jeju itu??” Tanya Donghae memastikan. Ia sebenarnya raja gosip di fakultas, nyaris seluruh informasi rahasia fakultas ia tahu.

“Benar sekali, tenang saja Eunhyuk-ssi kau bukan tersangka dalam kasus ini. Kami hanya ingin beberapa informasi penting darimu terkait pembunuhan di Jeju.” Eunhyuk menggigit bibirn. Tiba-tiba perasaan itu mengarah kepada satu orang.

**

Saat fakultas bisnis internasional heboh dengan kedatangan beberapa polisi, Eunji dan Kyuhyun tak sengaja berjalan kearah yang bersamaan. Eunji ditemani Kangsil sedangkan Kyuhyun baru tiba di fakultas. Mereka mencari jendela kaca di lorong utama fakultas, jendela raksasa yang menghubungkan pandangan mahasiswa sejauh 100 meter dengan lapangan badminton serta lapangan basket.

Suara ribut itu cukup mengganggu Eunji serta Kangsil yang sibuk bertukar pendapat mereka tentang insiden malam kemarin.

Bukan cuma Kyuhyun, Eunji, juga Kangsil tapi beberapa mahasiswa ikut menoleh kearah jendela raksasa. “ Eo? Eunji  bukankah dia adik sepupumu?” Teriak Kangsil cukup keras karena di lorong pun mahasiswa berdesak-desakkan hendak melihat. Mendengar nama Eunji dipanggil Kyuhyun menoleh ke sumber suara cempreng seorang Kangsil.

Cukup sesak jendela lorong ini sehingga Kyuhyun tak sadar bahwa diantara sekian belas mahasiswa ada Eunji disana. Gadis yang membuatnya bingung malam tadi karena tetap keukeh pada penolakannya. Pria itu tak akan menyerah, meski sekarang posisinya terbalik dari semula—Yang dulu Eunji mengejar habis-habissan Kyuhyun.

Ucapan sang kakak ketika Eunji memilih pergi dari hadapan Kyuhyun malam tadi cukup mencengangkan. Mengapa? Ahra dengan gamblang berkata kalau Eunji mungkin sedang hamil. Itu hanya dugaan, tapi siapa yang tahu kebenaran sebelum diungkapkan bukan?

Kyuhyun membelah kerumunan, ia mencari-cari keberadaan Eunji. Dan ketemu! Gadis itu diujung lorong bersama sahabat tomboynya yang kerap berbicara tanpa kehilangan jeda barang sedetik saja, “Eunji..” Panggil Kyuhyun cukup keras. Eunji menoleh, mata mereka saling beradu. Gadis itu membeku sejenak kemudian memilih pergi dari jendela raksasa.

“Eunji tunggu.” Panggil Kyuhyun, ia ikut berjalan ingin menyusul kepergian Eunji tapi Kangsil mencegatnya.

“Aku mau berbicara denganmu Kyu, sebagai sahabat Eunji.” Kyuhyun mua tak mau membiarkan Eunji pergi. Ia tak mengerti kenapa setelah ia mengungkapkan perasaanya serta membatalkan pertunangan demi Lee Eunji, ia malah dijauhi sekali lagi.

**

Eunji menoleh kebelakang, Kyuhyun tidak memanggil namanya lagi bahkan Kangsil pergi entah kemana.

“Haruskah kupastikan kehadiranmu sekarang?” Tanya Eunji pelan. Yah idenya tak terlalu buruk. Kalau didalam rahimnya sungguh ada kedatangan jagoan hasil hubungan belum pastinya dengan Kyuhyun. Ia hanya punya satu jalan ‘ Memaksa Kyuhyun agar segera menikahinya.’

Jalanan Seoul pagi ini ramai terkendali, didepan rumah sakit pusat tepatnya Eunji sekarang. Sebenarnya ia tak perlu pergi ke rumah sakit pusat kalau dirinya punya rumah sakit swasta tak jauh dari rumahnya di daerah Gangnam. Namun ia tak mau paman Baro nya yang sudah pulang dari Jeju sebelum dirinya menangkap gadis itu sedang mengecek kesehatannya di bagian kandungan. Jikapun ia hamil, ia harus menyembunyikannya terlebih dahulu. Itu pasti.

Eunji menatap depan rumah sakit terlebih dahulu, kemudian melangkah pelan memasukinya dan menyuruh sopir pribadinya menunggu di luar.

2 jam berlalu, Eunji sudah tahu bahwa dirinya hamil lewat alat cek kehamilan ketika dokter menyuruhnya ke wc. Namun dua jam berlalu ia lewatkan demi melihat usia kandungannya dan bagaimana perkembangan gumpalan kecil itu berkembang.

“Selamat nona Lee, umur kandungan anda sudah 6 minggu lamanya.” Ujar sang dokter mengawali pembicaraanya, Eunji tersenyum kecut saat dokter wanita itu melanjutkan ucapannya. Ia keliru terhadap satu hal, nyatanya mereka bercinta ketika Eunji dalam masa suburnya saat di perpustakaan.

“…. Kesimpulannya, anda harus menjaga kesehatan anda. Hmm? Nona Lee, anda menangis??” Dokter itu mengakhiri nasihatnya seputar kehamilan di usia muda, air mata Eunji tak kuasa turun dari pipi halusnya hanya sedikit namun begitu menyakitkan mata.

“Aku akan menjadi seorang ibu dokter?” Tanya Eunji serak, air liurnya seolah mengental waktu tetesan kedua membasahi wajahnya kembali. Dokter itu mengubah wajah kerasnya, ia tersenyum lembut untuk kesekian kalinya.

“Eumm, suami anda harus mendengar hal membahagiakan ini secepatnya.” Lanjut dokter berumur 40-akhir tersebut. Eunji mengangguk keras.

Gadis itu keluar dari ruangan khusus dokter kandungan, sedari tadi ia selalu menatap tak percaya pada testpack ditangannya. Ia masih belum percaya bahwa dirinya mengandung, kalau begitu secepatnya pula ia harus mengatakan pada Baro jika dirinya belum bisa beberapa tahun kedepan menjadi penerus utama Giant Company. Baru seperempat jalan ponsel gadis itu mengganggu rasa tak percayanya.

“Eumm? Halo.”

‘Teh nya keburu dingin Eunji, cepat datanglah. Ada yang ingin kutunjukkan padamu.’

“Iya, alamatnya di Gangwon-do kan? Aku segera datang.” Senyum Eunji sumringah, ia menutup teleponnya lalu melangkah perlahan sembari melihat dua garis merah di testpacknya.

Mungkinkah seseorang di telepon juga..

seseorang yang memberinya pesan saat di kampus?

**

“Eunji hamil? Kau tidak sedang bercanda kan??” Tanya Kyuhyun cukup keras disertai kuluman senyuman lebarnya, Kangsil mengembungkan pipinya menahan tawa. Ia tak langsung menjawab malah mengambil satu ceker pedas diatas meja lalu melahapnya dalam sekali suap.

“Dua hari terakhir Eunji selalu mual-mual dihadapanku, denyut jantungnya pun terasa aneh. Terus yah, kemarin ia membeli kue beras teh hijau dan segelas Americano full sugar.. Padahal selama ini ia tak suka dua hal itu.”  Kangsil mencomot ceker ketiganya, bibir gadis itu membengkak akibat kepedasan.

“Kuharap tanda-tanda yang kau katakana itu menjadi kenyataan.” Gumam Kyuhyun penuh harap.

“Huuuhuuu, Eunji biasanya jam segini berkeliling fakultas.” Lanjut Kangsil, sudah 6 ceker bersaus cabai kental yang ia lahap. Ia cukup kepedasan.

“Terimakasih Kangsil, Yesung! Aku sudah selesai dengan kekasihmu!!” Teriak Kyuhyun dari dalam restoran dekat fakultas. Kangsil nyaris tersedak, ia menoleh kearah pintu Yesung keluar dari persembunyian dengan wajah ketahuan bersembunyinya. Apa? Yesung ada disini??

Dari jauh Kyuhyun menepuk keras pundak pria bermata bak bulan sabit tersebut sangat kuat, “Ungkapkan, jangan selalu jadi pengecut bagi orang yang kau cintai. Aku pergi dulu eo? Eumm mencari Eunji lalu bertanya pada mahasiswa yang melihat Eunhyuk dibawa pergi, ide yang bagus. Semoga berhasil Yesung!?” Beberapa kalimat Kyuhyun bicara pada dirinya sendiri, sebagian lagi seakan mengolok-olok sifat pengecut milik Yesung.

Yesung menggaruk tengkuknya tak gatal saat Kangsil menatapnya penuh dengan pertanyaan mematikan mengapa pria itu bisa memata-matai dirinya dan Kyuhyun sampai ke restoran pinggir jalan ini.

Apa sekarang waktu yang tepat baginya… Untuk mengungkapkan perasaan dalam hatinya?

Sial, ia benar-benar terperangkap pesona seorang perempuan setengah.. Setengah.

**

“Hei, sudah lama menunggu?” Senyum Eunji pada seseorang didepan rumah bergaya eropa klasik daerah ujung Seoul. Seseorang itu tersenyum lebar.

“Eumm, cukup lama sampai aku tertidur agaknya satu jam.” Jelas seseorang itu, dan ternyata seseorang itu adalah Park Bo Gum, ia mengajak Eunji pagi ini untuk datang ke rumahnya karena selama di pulau Jeju gadis itu selalu memberi sindiran mengenai Bo Gum yang pelit karena tak ingin menunjukkan dimana rumahnya.

“Masuklah,” Bo Gum membuka lebar pintu rumahnya. Sekali lagi Eunji memandang rumah cukup besar milik Bo Gum dan terkesan begitu mewah daripada rumahnya tak jauh dari daerah Myeong-dong, kemudian ia mengikuti Bo Gum masuk kedalam rumah baru pria itu setelah ia pulang dari Afrika.

Pemandangan pertama yang Eunji dapatkan ketika ia menginjakkan kakinya didalam rumah Bo Gum adalah deretan kepala rusa serta beruang yang tergantung sempurna pada dinding berlapis cat semerah darah. Pantulan sinar mentari sedikit malu menelusup di jendela-jendela tinggi yang bentuk serta letaknya kontras dengan tema ruangan yang bernuansa gothic berani.

Eunji terus mengikuti Bo Gum, bahkan saking fokus memandangi gaya rumah Bo Gum yang didalmanya terlampau berbeda dari rumah penduduk Korea biasanya ia tak sadar mereka sudah sampai di ruang tamu rumah pria itu. “Kenapa? Apa rumahku terlalu unik untukmu nona Lee?” Bo Gum menampilkan sederet gigi nan rapihnya waktu ia mempersilahkan Eunji duduk diatas salah satu sofa berlengan dan memanjang di ruang tamu.

“Begitulah, apa selama di Afrika kau senang berburu?”

“Kepala binatang di ruang depan adalah pemberian sahabatku dari Afrika yang kebetulan berlibur di Korea beberapa minggu terakhir. Apa terlalu menyeramkan?” Tanya Bo Gum kurang enak, Eunji menggeleng keras.

“Tidak, bukan begitu… Bo Gum apa ibumu sehat?” Bo Gum masih berdiri tak jauh dari tubuh Eunji yang duduk.

“Ibuku sehat,” Sahut pria itu cukup kuat. Eunji mengerutkan dahinya bingung.

“Oh, begitukah? Tunggu… Sedari kita berbicara aku belum melihat satu gelas air dan cemilan didepanku. Mungkinkah kau tidak berniat mengundang diriku pagi ini, lalu kenapa aku tidak boleh mengajak Kangsil ke rumahmu?” Bo Gum tertawa pelan sembari menepuk kepalanya lupa.

“Astaga, menunggumu datang terlalu lama membuatku lupa caranya bersopan santun terhadap tamu. Lain kali kau boleh mengajak Kangsil bersama tapi sekarang..Jangan!? Aku harus menunjukanmu sesuatu nanti. Berkelilinglah, anggap saja ini rumahmu sendiri saat aku  membuatkan cemilan special dan teh dengan madu kesukaanmu, kau masih menyukai teh dengan madu kan?” Tanya Bo Gum sambil tersenyum lebar dan berjalan ke arah pintu dapur.

Gadis itu berdiri dari duduknya, “Tentu saja, itu minuman favoritku sejak kecil. Aku mau lihat keliling rumahmu dulu ya?” Bo Gum mengangguk lalu menghilang dibalik pintu dapur.

Pertama, Lee Eunji berkeliling luar rumah terlebih dahulu. Di belakang rumah lumayan besar itu ia menemukkan tumpukkan benda hitam yang menyisakkan abu-nya sebagian dapat Eunji cium aroma busuk juga amis. Ia terus berkeliling hingga gadis itu menemukkan tangga kecil,seolah tangga itu penghubung sebuah ruang rahasia atau dapat kita katakan ruang bawah tanah.

Penasaran, Eunji mulai berjalan menuruni tangga. Tak seperti ruang bawah tanah umumnya, ruang bawah tanah itu cukup sempit. Ada sebuah labirin mempersempit jalan masuk bagi siapapun, lantai semen kasarnya berair namun begitu kuat aroma besi dari genangan air yang tak terlalu gadis itu lihat dengan jelas akibat kurangnya pencahayaan—yang pasti genangan demi genangan yang ia pijak cukup kental untuk seukuran air dari tetesan hujan, mungkin saja air itu tercampur bersama sejenis tiner atau sebagainya.

“Ha….Ha….” Eunji berhenti melangkah, ketika telinganya dapat mendengar dengan jelas suara nafas kuat seseorang diujung labirin. Begitu keras seolah suara itu hendak mengatakkan sesuatu, gadis itu menahan nafasnya susah.

Belum lepas rasa terkejutnya, Eunji kembali harus mengatur ritme jantungnya kala itu ketika ada sepasang mata kecil tapi tajam diujung lorong menatapnya tak suka kemudian suara bass seorang pria dari ujung lorong labirin menyentak kinerja jantung gadis itu untuk kedua kalinya. “Siapa kau.” Tak menghitung angka, gadis itu berjalan mundur dengan langkah bergetarnya.

Sampailah ia berjalan mundur dibagian tangga, gadis itu barulah membalikkan badannya kemudian berlari ke dunia luar. Sinar mentari menusuk indera penglihatannya yang seakan dibutakan sebelumnya. Eunji menoleh kebagian tangga, pria misterius itu tidak mengejarnya.

Apa ini hanya khayalannya semata? Nafasnya memburu kesusahan. “Eunji!!” Panggil Bo Gum dari dalam rumah.

“I…Iya..” Sahut Eunji masih bergetar tapi ia usahakan sebaik mungkin supaya tidak bergetar agar Bo Gum tidak mencuriga kekurangajarannya masuk ke ruang mengerikan itu tanpa izin terlebih dahulu padahal Bo Gum hanya menyuruhnya berkeliling saja.

“Cemilannya sudah jadi!! Kau dimana!!” Teriak Bo Gum sebab rumahnya terlalu besar untuk sekadar bertanya seperti biasanya. Eunji hendak menatap langit yang begitu cerah agar perasaan ketakutan yang ia kira adalah delusi semata dapat hilang waktu nanti ia masuk kedalam rumah Bo Gum kembali. Akan tetapi matanya membola kaget waktu ia melihat seseorang dari lantai dua menatapnya datar.

Ia adalah seorang wanita, yang duduk diantara gorden krem tanpa wajah ingin hidup. Rambutnya terurai acak-acakkan cukup klimis hingga sanggup menjatuhkan jepittan rambut anak berumur lima tahun, wajahnya begitu keriput, sesekali hinggap beberapa lalat diantara kedua bola mata nyaris kedalam itu. Eunji kian merasa takut.

Wanita tua itu tak berhenti menatap wajah Eunji walau pun Eunji sudah mencubit tangannya dan menganggap ia kembali berdelusi. Apakah wanita itu adalah ibu Bo Gum? Bibi Park yang kerap memberinya sekotak bola nasi saat gadis itu  masih satu sekolah dengan Bo Gum?

“Bi…  Bibi Park, kau… Kaukah itu?” Eunji memastikkan. Wanita itu tidak bergeming.
‘BRUKK’

“Eunji?? Ternyata kau disini?” Gadis itu menolehkan kepalanya kesamping, Bo Gum berjalan menemuinya.

“Itu, apa ibumu tinggal di kamar itu?” Tunjuk Eunji pada balkon yang besi penghalangnya berkarat. Bo Gum ikut menolehkan kepalanya kearah sana.

“Ibuku masih di Afrika, itu kamar tamu Eunji dan ruangannya kosong.” Senyum Bo Gum sambil menjelaskan. Eunji mengerutkan dahinya bingung.

“Tapi, bibi Par..” Eunji kembali mendongakkan kepalanya dan ingin menunjukkan kepada Bo Gum bahwa ucapannya benar. Akan tetapi ia tak melihat apapun kecuali jendela bergorden krim tersebut mendadak terbuka lebar.

“Heumm, tampaknya kau harus mencicipi kue buatanku agar pikiranmu tidak kemana-mana Eunji. Ayo masuk.” Tawa Bo Gum pelan, ia mendorong punggung gadis itu kedalam rumahnya.

**

Lain halnya di universitas Kyunghee, Kyuhyun kelimpungan mencari keberadaan Eunji. Di tempat yang Kangsil katakan gadis itu tidak ada, bahkan Eunji pun tidak menjawab teleponnya.
Dua hal yang membuatnya menggila hari ini adalah, keberadaan Eunji kemudian Eunhyuk yang ternyata menjadi pemberi informasi penting terkait pembunuhan pengawal dari keluarga gadis tersebut.

“Kyu, apa Eunji mengangkat teleponnya?” Tanya Kangsil waktu mereka bertemu kembali di lobi utama fakultas. Kyuhyun menggeleng keras.

“Aku dan Yesung sudah mencari keberadaan Eunji di rumahnya tapi pelayannya bilang bahwa Eunji tidak pulang setelah berpamitan untuk ke tempat kuliah. Heechul oppa pun tidak ada di rumah.” Kyuhyun mendesisi kesal. Apa segitu tidak ingin Eunji berbicara dengannya? Sekarang bukan saat nya Kyuhyun berpikir seperti itu.

“Tapi, kami dapat nomor telepon sopir yang membawa Eunji pergi pagi ini. Mungkin sedikit membantu.” Kali ini Yesung yang berbicara lalu memberikan ponselnya kepada Kyuhyun. Kyuhyun pun mengambilnya.

“Terimakasih Yesung.” Kyuhyun mengetik nomor ponsel sopir keluarga Lee kemudian ia meneleponnya.

‘Tutt… Tutt.”

‘Halo.’

“Halo ahjusshi, ini Cho Kyuhyun. Apakah Eunji ada bersamamu?”

‘Iya, nona Lee sedang bertemu dengan temannya.’ Teman? Kangsil dan Yesung menunggu lanjutan pertanyaan Kyuhyun.

“Dimana lokasi anda sekarang.”

‘Oh, alamat rumah teman nona Lee. Dekat perbatasan Seoul daerah selatan tuan Cho, …Eumm!! SIAPA KAU ..TAKKK…Tutt…tut.tutt…’ Mendadak panggilan dari seberang terputus.

“Halo…. Halo…Ahjushhi!? Kau kenapa…Halo??”  Wajah Kyuhyun berubah khawatir, ia jauhkan ponsel dari telinganya. Panggilan sungguh diputuskan secara sepihak. Kangsil serta Yesung menunggu penjelasan dari Kyuhyun.

“Firasatku tidak enak, bisakah kalian membantuku?” Tanya Kyuhyun khawatir. Beberapa mahasiswa berlalu lalang di dekat mereka, menunjuk-nunjuk Kyuhyun sebagai headline pagi ini.

“Eunji dalam bahaya?” Tanya Kangsil khawatir. Raut wajah pria itu begitu masam.

“Sepertinya begitu, aku harus bergerak cepat. Dan kumohon pada kalian berdua untuk membantuku.”

Yesung juga Kangsil mengangguk paham.

**

Bo Gum menutup mata Eunji dengan tangannya, menuntun gadis itu dibelakangnya menaikki satu persatu anak tangga di rumah cukup besar tersebut.

Naik, naik dan naik hingga Eunji tersenyum penasaran. “Sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan Bo Gum?”

“Sudah kubilang, rahasia.” Bo Gum mengulum senyumnya. Sejenak ia berhenti, tepat didepannya ada sebuah jendela besar yang mengarah pada matahari cukup terik siang pukul 12 lewat. Lalu mata tajamnya menatap kearah deretan pintu warna putih berjumlah 2 di setiap kiri-kanan jendela kaca nan besar itu, air muka ramahnya berubah dingin ketika menatap salah satu pintu dari arah kiri.

“Bo Gum?” Panggil Eunji pelan, ia hendak melepas dua tangan Bo Gum pada indera penglihatannya tapi Bo Gum segera tersadar karena ia terlalu lama diam di tempat yang tidak strategis-Kini tepat tubuh mereka berdua terkena pantulan sinar matahari siang.

“Jangan dibuka dulu, kita hampir sampai.” Ujar Bo Gum penuh semangat. Eunji menghela nafas keras kemudian ia menarik tangannya dari kedua tangan pria itu yang sedang menutup matanya.

“Baiklah.” Sahut Eunji malas. Bo Gum terkekeh pelan, tak seperti dugaan ia tidak berjalan menuntun Eunji dari belakang kearah pintu dari arah kiri melainkan ia berjalan menuju salah satu pintu di bagian kanan.

‘CKLEK’

Pintu pun terbuka. Eunji mengerutkan dahinya, sinar mentari tidak lagi seterang tadi. Sinar mentari seolah menghilang ketika bunyi pintu terbuka pertanda Bo Gum membawanya ke sebuah ruangan, dari balik kelopak matanya Eunji dapat merasakkan bias cahaya yang masuk ke retinanya adalah warna hitam bercampur merah.

Udara di sekeliling tempat itu bukanlah udara pengap ruang penyimpanan maupun udara segar bercampur aroma pakaian dengan debu cukup banyak tapi udara yang ia hirup adalah udara sesak. Sesak akibat ruangan itu terlalu sempit, tapi ia tetap bisa bernafas dengan baik.

Telinganya pun dapat mendengar suara tetes bervolume rendah yang jumlahnya lebih dari satu, sepersekon detik akan bergiliran terjatuh ke atas sebuah wadah dengan pantulan kecil. Bo Gum melepaskan tangannya dari kedua pandangan Eunji, sekarang gadis itu bisa menyimpulkan tempat seperti apa yang akan sahabat masa kecilnya tunjukkan.

Ruang pencucian foto tahap pertama. Ruangan itu sesuai tebakannya, bernuansa hitam bercampur merah yang cukup menyakitkan mata. Beberapa foto yang belum kering terjepit pada sebuah tali yang diikatkan dari ujung ke ujung ruangan secara vertikal. Sederet wadah besi menampung sisa air pencucian foto yang jumlahnya mencapai 15 buah dengan jarak 10 cm perfoto.

Dibelakang foto-foto belum jelas dan tergantung itu terdapat koleksi foto yang tertempel secara acak hingga sebagiannya menumpuk karena terlalu banyak. “Ini…”

“Koleksi foto pribadiku selama di Afrika dan selama tinggal di Korea. Kesini, akan kutunjukkan foto-foto yang akan membuatmu terkejut.” Bo Gum  tiba-tiba menarik pergelangan tangan Eunji mengitari meja untuk meletakkan wadah memanjang yang terbuat dari besi.

‘Srak’ Bo Gum membuka tabir tempat koleksi foto lainnya. Eunji membekap mulutnya tak percaya. Disana, koleksi fotonya yang ia tak sadari terpotret oleh kamera pria itu.

Eunji ketika melahap ice cream di kafe dekat kampus.

Eunji ketika merangkul erat lengan Kyuhyun ketika di  sekolah menengah atas.

Bahkan Eunji ketika menguap sebab terbangun di acara kemah sekolah menengah pertamanya.

“Kau.. Bagaimana kau bisa…” Bo Gum tersenyum lebar.

“Aku tahu kau baik-baik saja lewat foto ini.” Sahut pria itu.

“Tapi, bukankah kau sudah pindah ke Afrika setelah kita lulus sekolah dasar?”

Bo Gum tertawa pelan. “ ahahaha… Yah, aku punya adik sepupu yang bisa kuandalkan untuk diam-diam mengambil fotomu.”  Eunji memukul lengan Bo Gum kuat.

“Ternyata kau adalah satu fans beratku.”

“Ahahahahahahhahha…. Begitulah.”

“Akh!!!!!!!! Keluarkan aku… Kumohonnnnn.” Suara parau seorang wanita dari bawah lantai dua sayup-sayup dapat mereka dengar, wajah Bo Gum menegang sedangkan Eunji membelalak terkejut.

“Siapa Bo Gu..”

“Sepertinya salah satu pelayanku yang sakit jiwa sedang episode. Aku kebawah dulu hm?” Kata Bo Gum, Eunji tak dapat berkata apapun sebab pria itu langsung menghilang dibalik pintu ruangan.

Cukup ganjil. Seharusnya saat tiba di Korea beberapa waktu sebelumnya ia bisa memperkerjakan seorang pelayan yang sehat batin maupun fisiknya, apa Bo Gum punya pembantu asal Korea di Afrika sana yang ia bawa ke Korea kembali lantaran menganggap pelayan gila itu sebagai keluarga? Bahkan sejak ia datang tak seorangpun pelayan menyapanya. Ha… Mari tidak merasa janggal Eunji, mungkin pelayan yang Bo Gum katakan sudah ia anggap keluarga sendiri.

Ia terdiam sebentar, meyakinkan dirinya sebelum berkeliling. Melihat-lihat dinding yang tertutup kain lainnya. Penasaran Eunji membuka salah satunya, gadis itu nyaris terjengkang kebelakang.

Disana tampak jelas foto-foto seseorang yang berbaring bersama darah pada bagian tertentu di tubuh mereka. Belasan, bahkan puluhan. Eunji awalnya takut untuk mendekat namun ia putuskan untuk berjalan pelan. Mendekat ke arah kain penutup dinding berisi koleksi foto-foto pembunuhan itu.

Bukan hanya menyukai alam sebagai target foto utamanya, Bo Gum juga suka mengambil foto sesadis ini? Mata Eunji terhenti pada satu foto. Foto cukup kurang pencahayaan karena latar belakang foto sadis lain koleksi Bo Gum tersebut waktu malam hari dan hanya bulan sebagai cahaya bantuan.

Seorang pria dengan jas yang berlumuran darah bersandar pada tumpukkan jerami, perutnya terkoyak tidak beraturan dari bagian leher sampai bagian bawah pusarnya. Wajah pria itu lain dari wajah dari koleksi foto orang mati di dinding koleksi tersebut.

Bukan orang negro maupun kulit putih seperti yang lainnya, hanya pria yang mati secara tragis itulah pemilik wajah asia.. Atau mungkin Korea? Siapa yang membunuhnya.

Wajah pria malang tersebut cukup Eunji kenal. Bo Gum seorang wartawan atau…

Ia yang membunuhnya?

‘Cklek’ Buru-buru Eunji tutup lagi kain putih yang tergantung pada koleksi foto pembunuhan tersebut. Bo Gum masuk, wajahnya tidak menyiratkan bahwa ia kerepotan maupun marah. Ia hanya tetap menjadi Park Bo Gum seperti biasanya.

Terlewat ramah, namun entah kenapa Eunji jauh lebih waspada setelah melihat koleksi foto manusia tak bernyawa pada dinding lain di ruangan pencucian foto seorang fotographer handal tersebut.

“Apa pelayanmu itu masih mengamuk?”

“Eumm, sudah kuberi obat penenang Eunji.” Bo Gum mendekatinya, gadis itu merogoh saku celananya cukup terburu-buru. Ia menekan tombol panggilan palsu yang akan muncul 3 detik lagi.

“Sampai dimana kita tadi.” Tangan lainnya mengelus berulang kali perut ratanya.

“Ah sampai…”

‘Drrtt…drrrt.’ Eunji segera mengangkat panggilan palsu itu.

“Halo, iya paman. Apa? Ke perusahaan?? Kenapa sekarang.. Aku ada urusan.” Eunji memandang sekilas wajah penasaran Bo Gum.

“Baiklah.” Ia mematikkan panggilan palsu itu.

“Bo Gum sepertinya aku harus..”

“Tidak apa-apa, lain kali datanglah kembali ke rumah ini. Banyak hal yang harus kubagi denganmu.” Bo Gum memotong ucapan Eunji, ia cukup mengerti situasi gadis itu sebagai penerus utama perusahaannya.

“Ah, ba. Baikah, aku pulang dulu eo?” Bo Gum mengangguk disampingnya.

“Iya, maaf tidak bisa mengantarmu kebawah. Sebab ada beberapa koleksi album fakultas lain yang harus kuselesaikan. Apakah itu baik-baik saja?” Tanya Bo Gum tak enak. Eunji mengangguk pelan.

“Tentu saja, tak perlu mengantarku kebawah. Terimakasih sudah mengundangku ke rumahmu, nanti kalau ada waktu aku akan mengundangmu ke rumahku juga. Aku pulang dulu.”

Eunji melangkah cukup lebar sebelum ia menghilang dibalik pintu ruang penyelesain ratusan foto milik sahabatnya.

Bo Gum menghilangkan wajah ramahnya sedetik pintu tertutup. Pria itu kembali berbalik ke dinding koleksi fotonya, ia melangkah ke dinding yang terhalang kain putih. Menarik kain itu kuat sampai terbuang ke lantai ubin.

Dinding lain yang menyimpan ratusan foto orang mati—Dinding yang Eunji buka sebelumnya. Ia mengarahkan pandangannya kebagian bawah lalu senyum mengerikan yang tak pernah kita lihat dari seorang Park Bo Gum tersungging jelas pada wajah tampannya. “Ia menyadarinya.”

**

Eunji terus berjalan ketakuttan.

Ruang bawah tanah beraroma zat besi,

Seorang wanita tua atau sejenis makhluk halus yang menatapnya cukup lama dari sebuah jendela di rumah Bo Gum.

Pelayan sakit jiwa.

Fakta bahwa Park Bo Gum yang suka mengoleksi foto-foto mengerikan.

Lalu apalagi? Eunji menyentuh kepalanya sakit. Ini tak masuk akal, begitukah kehidupan Bo Gum setelah belasan tahun mereka tak pernah bertemu? Gadis itu bahkan Kangsil tak tahu pasti masa kini seorang Bo Gum.

Gadis itu menyimpan lagi ponselnya, lebih baik sekarang pulang ke rumah dan beristirahat. Tidak sengaja gadis itu menemukkan testpack  di kantong yang sama. Mengeluarkannya lalu ia dapat merasa tenang untuk sesaat.

Eunji masuk kedalam mobil. “Ahjusshi ayo pulang.” Separuh rasa khawatirnya hilang.

“…”  Tidak ada sahutan dari bagian depan.

“Ahjusshi.” Panggil Eunji sekali lagi. Belum juga ada sahutan.

“Ahjusshi, kau tid… Astaga!?” Gadis itu merapatkan bibirnya ketika ia melihat sopirnya tak sadarkan diri dengan kepala yang terus mengeluarkan darah. Siapa yang melakukannya.

‘TUK..TUKKK!!!’ Seseorang mengetuk pintu kaca kuat. Eunji tersadar, ia menoleh kesampingnya. Seorang dengan pakaian serba hitam, topi dan sebuah masker menunduk.

“Siapa kau?” Tanya Eunji takut.

“BUKA PINTUNYA SIALAN!!!”  ia kembali mengetuknya kuat. Eunji semakin panik, gadis itu hendak menggantikan posisi si sopir yang tak sadarkan diri tapi kaca mobil bagian belakang pecah sebab pria misterius itu mengetuknya dengan bagian tumpul pisau tajam.

Menarik tubuh Eunji dari sela-sela pintu kaca yang cukup lebar tersebut lalu mengeluarkannya sedikit kesusahan. “Akhhh!!! Apa yang kau!!! Sakit!! Siapapun tolong aku!!!!!!!!!!!!!!!!!”

‘BRUKKKK’ Eunji dijatuhkan kearah rerumputtan dekat pagar rumah Bo Gum, kepala gadis itu terbentur bagian bawah pagar kayu itu ia meringis pelan. Masih memiliki tenaga lebih, Eunji ingin berdiri dan lari dari orang jahat diatasnya tapi pria misterius itu menarik rambutnya kuat.

“Akkh!!!”

“Ia berkata nanti akan melenyapkanmu, aku tak sabar. Sekarang, aku sungguh ingin melenyapkanmu. MATI SAJA KAU JALANG!!!” Pria misterius itu menusuk area perut Eunji kuat, tak bisa dihindari oleh gadis itu. Pisau berhasil tertancap disana.

“Sa…Sakit…Siap..Siapa kau.” Eunji terjatuh diatas rerumputtan kesakitan.

“Belum mati juga? Rasakan in…” Mendadak 5 mobil polisi mendekati tempat kejadian dari arah kanan dan arah kiri jalanan ujung daerah Seoul.

Salah seorang polisi keluar terlebih dahulu. “Angkat tangan anda!? Sekarang anda tidak bisa lari lagi!!”

“Sial.” Desis pria misterius itu. Polisi lain pun ikut keluar.

Pandangan Eunji kian buram. Sayup-sayup ia dapat mendengar suara Kyuhyun memanggil namanya.

Gadis itu tersenyum lemah sembari menahan sakit pada rambut, tubuh juga perutnya yang tertusuk.

“Kyu…”

Tangan kirinya menjatuhkan testpack bergaris duanya sebelum gadis itu benar-benar kehilangan kesadarannya.

TBC

Kalimatnya semakin hancur. Hadehhh… Hayo satu atau dua chapter lagi, masih kuat nunggu? Makasih lagi untuk pembaca yang tetap setiap menunggu ff ini berlanjut. Terimakasih, alur ceritanya memang tak sebagus author professional lainnya … Terimakasih #KecupReaders

106 thoughts on “Anta & Prota Part 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s