Devotion Part 1


devotion

 

Devotion by. Keiko Sine

Marriage Life – Crime – Yadong ||  NC17+!

Chaptered

Casts:

Oh Sehun (EXO), Choi Dahye (OC)

Kim Kai, Kris Wu, Huang Zi Tao, Others.

Cause you feed me fables from your hand. With violent words and empty threats.“

***

[Chapter 1]

Bukankah ini sebuah fakta yang lucu, mengingat Oh Sehun dan Choi Dahye yang sekarang berganti marga menjadi Oh Dahye  adalah dua pribadi yang sangat bertolak belakang. Orang-orang melihatnya bagai dua kutub magnet yang sangat berlawanan, dimana Sehun adalah seorang ketua geng mafia kelas atas, dan Dahye adalah seorang dosen, orang yang berwibawa. Seolah sosok malaikat tak bersayap  bagi mereka yang menuntut ilmu.

Keputusan kasual dibuat dengan cara yang sangat sulit. Seperti hubungan keduanya. Bagaimana pertentangan, emosi, sama-sama merasa jatuh dan terluka. Namun itulah hal-hal yang dibutuhkan cinta.

Angin sore yang berhembus di kota Seoul menggoyangkan dedaunan, semilirnya mampu menerbangkan gaun tidur tipis yang dikenakan Dahye saat wanita itu membuka pintu menuju balcon apartmentnya.

Ia mendesah pelan, pekerjaannya sebagai seorang dosen Bahasa Inggris di salah satu Universitas ternama sangat menyita tenaga, ditambah lagi dengan tanpa kehadiran sang suami yang telah pergi meninggalkannya selama seminggu ini.

Dahye merindukan tatapan mata elang yang selalu menunggunya untuk terbuka di ranjang mereka, ataupun suara husky khas sang suami saat menyuruhnya ini dan itu.

Wanita itu menoleh saat mendengar bell apartmentnya berbunyi. Suara nyaring yang mengisi kekosongan itu berhenti setelah berdering tiga kali. Wanita itu berjinjit saat melihat layar intercorm. Dan senyum tipis terukir di wajahnya saat melihat seorang lelaki yang berdiri di depan pintu dengan jaket tebal dan syal tergantung di perputaran lehernya.

“Kai,” ujar wanita tersebut, membuka pintu yang mengeluarkan bunyi khas saat Dahye menariknya, “Apakah Sehun sudah pulang?”

“Hm, aku disini untuk menemanimu menjemputnya ke Bandara.”

“Tunggu aku.”

Ucap Dahye senang. Dan Kai— pria itu sudah berjanji pada istri sahabatnya ini akan mengantarkannya ke Bandara di hari kepulangan Sehun dari Jepang. Pertanyaannya, apakah Sehun pergi untuk sebuah perjalanan bisnis, huh? Yeah, bisnis penyelundukan narkoba dan kapal selam ke Negara Rusia. Bukan hal yang mudah, bukan? Dan Sehun yang mempimpin perusahaan mereka.

Bukan perusahaan besar yang resmi lebih tepatnya, namun Rinchkalsen adalah sebuah nama untuk bandar mafia yang merupakan kerja sama antara Korea Selatandan Jepang.

Kai duduk di sofa, memandang sebuah jam dinding tua yang terpasang disana. Setidaknya jadwal kepulangan pesawat yang ditumpangi Sehun masih tiba kurang dari dua jam lagi. Dan menunggu Dahye berdandan sambil menonton acara televisie bukanlah hal yang buruk, bukan?

Memindah siaran channel tanpa minat, Kai tetap mempertahankan wajah datarnya sebelm—

“Hari ini, tanggal dua Mei tersangka pencucian uang yang melibatkan Kris Wu dua tahun lalu secara resmi dibebaskan oleh kepolisian Seoul setempat. Pria berkewarganegaraan China dan Canada itu telah terbukti tak bersalah atas tuduhannya, dan hukuman penjara selama 15 tahun secara resmi di batalkan.—

Apakah ini nyata? Kai masih berpikir, menajamkan pendengarannya. Namun ia yakin, ini adalah Kris yangs sama dengan yang ia pikirkan. Tidak mungkin.

“Pada pukul 11 siang waktu setempat, Kris Wu di bantu oleh kuasa hukumnya meninggalkan tahanan kantor polisi dan menjelaskan bahwa kesaksiannya dua tahun lalu yang mengatakan bahwa dirinya tak bersalah adalah benar. Saya, Yoon Jinah dari MNC News, terima kasih.”

Seketika jantung Kai melemas, lelaki itu menekan tombol off  pada remote control dan—

 

#bip

Televisie telah ia matikan.

Ia harus segera memberi tahu hal ini pada Sehun, pada rekan-rekannya— dan  pada Dahye.

Bahwa ketika Kris telah benar-benar kembali, ia tak yakin dapat pergi tidur dengan nyaman pada malam hari. Tak dapat makan dengan perasaan tanpa dimata-matai. Karena yang Kai tahu— Kris masihlah pria tinggi berbahaya yang ia kenal sejak dulu.

Lelaki tan itu menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, dan melihat sosok wanita dengan balutan jaket cream dan syal maroon tergantung di lehernya.

“Kau sudah siap?” tanya Kai berbasa-basi pada Dahye.

“Hm.”

“Kau terlihat cantik.” Ucap Kai lalu memperhatikan Dahye dari ujung kaki sampai kepala.

Mengibaskan rambutnya, Dahye bergumam, “Dan kau baru menyadarinya?”

“Kalau saja kau bukan isrti dari sahabatku—

“Apa? Makanya kau harus cepat cari pendamping. Aku jadi kasihan padamu karena terus menjomblo.”

Dahye terkekeh atas perkataannya sendiri sedangkan Kai memutar bola matanya jengah, lalu memimpin jalan keluar apartment dan segera menuju lift. Bukankah memiliki pasangan atau tidak adalah sebuah pilihan dari masing-masing individu? Kai hanya belum memikirkan hal itu lebih jauh asal kau tahu saja.

Dan sontak Kai berpikir bahwa sahabatnya ini sangat beruntung dapat menikah dengan wanita sebaik Dahye.

Bukankah pria yang menjadi geng mafia biasanya tak mempunyai hubungan yang terikat pada wanita manapun? Biasanya mereka akan lebih suka bergonta-ganti pasangan setiap minggunya dan menjejali para wanita murahan itu dengan uang jutaan Won. Namun sepertinya nasib baik masih berpihak pada Sehun.

Keduanya keluar dari lift saat pintu otomatis terbuka. Melangkahkan kaki mereka keluar dari pintu ganda utama dan angin musim gugur menyambut mereka, menerbangkan surai hitam Dahye tak karuan seolah mengatakan selamat petang.

“Aku akan mengambil mobilku dulu, kau tunggu disini.”

Dahye mengangguk dan mengangkat jempol kanannya pertanda mengerti. Bot sepatunya berdesis saat berbenturan dengan aspal jalanan yang licin. Hingga tak beberapa lama kemudian Kai datang dengan mobil Masserati hitamnya.

“Naiklah.” Ucap Kai dari balik kaca jendela mobil.

Dahye memutari mobil dan duduk di kursi sebelah kemudi Kai. Diam-diam Kai selalu melirik Dahye yang sedari tadi tak dapat menahan senyumnya.

“Berhentilah tersenyum, kau seperti orang bodoh.” Ucap Kai sambil terkekeh pelan.

“Apa kau bilang?” Dahye mendelik, tangannya ia lipat diatas dada, “Sehun akan mendengar ini.” Gertaknya.

“Yak…aku hanya bercanda.” Kai memutar setir mobilnya saat melewati pertigaan. Ini tidak akan lucu bahwa Sehun akan meninjunya ketika ia sampai di Bandara karena Dahye mengadu telah mengatainya bodoh.

“Hahh… kau harus cepat mendapatkan pendamping, Tuan Kim.” Ujar Dahye pelan.

“Aku akan mencari satu— nanti.”

Wanita itu menggeleng, “Bukankah kau terlalu keras pada dirimu sendiri? Jangan terlalu fanatik pada pekerjaan, apakah di kantormu tak ada wanita yang menarik, huh?”

“Tidak ada.” Jawab Kai, sebuah penyangkalan yang cepat.

“Apakah tidak ada satupun yang menarik perhatianmu? Atau—

Dahye menahan suaranya sendiri, dan Kai harus mati-matian menahan penasarannya karena wanita di sebelahnya tak langsung mengatakan kelanjutan dari kalimat tadi.

“Apa?”

“Kai— apakah kau gay?”

#ckiitt

Dengan cepat Kai menginjak pedal rem di kakinya. Apa wanita ini bilang tadi? Gay?

“Yak! Demi Tuhan, kau hampir membunuh kita berdua, Kai.”

Memasang wajah sebal, Kai menimpali, “Dengarkan aku, Nyonya Oh… aku ini masih normal asal kau tahu.!”

“Baiklah, baiklah, aku minta maaf.”

Dan dengan pertengkaran kecil mereka, Kai segera melajukan kembali mobilnya menuju Bandara.

.

.

-oOo-

“Apakah benar Sehun akan keluar dari Gate yang ini?”

“Berhentilah bertingkah seperti burung beo. Kau sudah menanyakan hal itu lima kali ini.” Kai meneguk kembali sebuah soda yang berada di tangannya. Dan yang benar saja— ia sudah lemas karena sedari tadi harus beradu mulut dengan Oh Dahye.

Dan saat beberapa orang telah mulai bermunculan dari Gate yang sama, Dahye dengan bersemangat berdiri dari tempat duduknya. Mencoba mencari sang suami dari kerumunan. Wanita itu sampai harus berjinjit-jinjit untuk melihat ke sekitar.

Dan ketika iris matanya menangkap sosok yang salama ini ia cari, bibirnya merekah menjadi sebah senyuman. Tatapan hangat miliknya bertemu dengan tataan tajam nan dingin milik Sehun. Dahye melambaikan tangannya dan Sehun tersenyum samar dibalik tudung jaket yang menindungi kepalanya.

“Sehun-ah.”

“Kau sudah lama menungguku?”

Sehun membawa Dahye ke dalam rangkulannya. Dan Dahye menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Meresapi aroma masculin yang sudah seminggu ini rindukan.

“Eung… tidak terlalu lama. Karena Kai menemaniku jadi aku tidak bosan.”

“Kau berhutang padaku.” Ujar Kai yang berada di belakang mereka berdua.

..

..

..

 

Menatap pantulan diri Sehun pada cermin rias, Dahye merasa bahwa dirinya telah tergila-gila pada pria ini. Bagaimana wajah suaminya yang terus terlihat tampan meskipun dengan wajah datar nan dingin itu. Dan mata elangnya, seolah Dahye tak dapat bernapas hanya dengan memandangnya.

“Bagaimana bisnismu?” tanya Dahye, mungkin ini topik yang masih tabu untuk dibicarakan keduanya meskipun setelah empat bulan mereka resmi menikah.

Dahye yang mengetahui pekerjaan suaminya tidak bisa dibilang mainstream, hanya bisa tersenyum dan memahami. Ini adalah kesepakatan mereka untuk saling menerima dan menghormati satu sama lain sebagai pasangan.

“Baik, kami berhasil. Dan Rinchkalsen mendapat keuntungan besar seperti biasa.” Sehun mendekat ke arah Dahye. Memeluk istrinya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher wanita yang sangat dicintainya itu.

Melihat pantulan mereka di cermin, Dahye tersenyum, “Kau lelah?”

“Sedikit.” Gumam Sehun yang suaranya tersdengar samar dari posisinya saat ini.

“Hmm… Aku merindukanmu.” Ucapnya langsung meraup bibir ranum Dahye. Rasa cherry yang selama seminggu ini tak ia jamah.sehun meraupnya kasar dan terkesan menuntut.

Melumat dan menggigit bibir istrinya, tak pernah merasa puas dan malah seperti candu bagi Sehun.dihisapnya bibir atas dan bawah Dahye bergantian, hingga  dapat ia dengar desahan halus mulai keluar dari bibir Dahye. Dan saat Sehun berniat untuk melesatkan lidahnya, wanita itu meronta untuk segera dilepaskan. Napasnya tersengal dan wajahnya merah.

Dada Dahye bergerak naik turun. Matanya terlihat sayu. Namun tak lama berselang senyum terukir di wajahnya.

“Aku butuh bernapas,” ujarnya dengan nada malu, “Lanjutkan.”

“Kau yakin?”

“Hm.”

Dan dengan tanpa aba-aba, Sehun mengangkat tubuh kecil istrinya, menjatuhkannya dengan sedikit kasar di atas ranjang. Mata Sehun berkilat, seolah ingin menelanjangi Dahye saat itu juga.

Sehun menaiki tubuh Dahye, mengungkung wanita itu di bawahnya. Dengan siku dan lutut sebagai tumpuhan, Sehun mencumbu Dahye, menciumnya mulai dari kening, kedua mata, turun ke hidung, dan Sehun memberikan sebuah jeda beberapa detik untuk mendaratkan bibirnya diatas bibir ranum Dahye lagi. Melumatnya, berlama lama di sana.

Sedangkan kini tangan Sehun mulai bergerilnya membuka satu per satu kancing piyama tidur Dahye. Sehun melenguh disela kegiatan tersebut, lalu memundurkan wajahnya dan Sehun menatap  bagian tubuh atas Dahye yang kini polos dan hanya terdapat bra menutupi bagian yang sangat ia sukai.

“Kau seksi.” Bisik Sehun pelan dengan suara rendahnya.

“Jangan dilihat.” Ucap Dahye masih dengan menutup matanya karena malu.

“Aku suka ini.”

Dan dengan kalimat tersebut, Sehun langsung mendaratkan kedua tangannya ke dada sintal Dahye yang bergoyang-goyang karena napas yang memburu. Sehun menurunkan wajahnya dan kini tepat berhadapan dengan perut putih Dahye. Sehun menjilat, menggigit kecil, hingga terdapat bekas kemerahan.

Membuat Dahye harus berusaha mati-matian untuk menahan desahannya. Tangan Sehun yang berada di dadanya pun semakin kuat dan keras meremas dan mengguncang. Dahye merasa bahwa ada puluhan kupu-kupu yang terbang di dalam perut saat Sehun menjilat sekitar pusarnya.

Ini gila.

“Aahh…” dan desahan itu tak dapat Dahye tahan lagi. Keluar dengan sensual ketika Sehun kembali meraup bibirnya.

Dan dengan sebuah kecupan singkat, Sehun memundurkan wajah, menatap lekat wajah istrinya yang telah memerah dan bibir sedikit terbuka karena rangsangan yang ia berikan.

“Tidurlah, cukup untuk malam ini.”

Sehun turun dari atas tubuh Dahye dan mengambil posisi di sebelah, masih memilih untuk memiringkan badan, menatap wajah yang sangat ia rindukan seminggu ini.

“Kau benar-benar kelelahan ternyata.” Dahye terkekeh menyadari sang suami sedang tak ada tenaga untuk meladeni nafsu birahinya. Karena jika Oh Sehun sedang turn, mereka pasti tak akan bias pergi tidur sampai jam tiga pagi.

Tersenyum samar, Sehun membawa Dahye ke dalam pelukannya. Memejamkan mata.

 

.

.

-oOo-

Di sebuah ruangan bercat putih, seorang pria menatap layar computer dengan pandangan dingin. Beberapa kali jarinya bergerak lincah di atas keyboard hitam di hadapannya. Sebuah alamat situs yang di rekomendasikan Kai, pria itu sempat menahan napasnya agar tidak meledak saat itu juga.

“Kris sudah bebas, eh?”

Khawatir menyerang pikirannya. Oh Sehun memang sudah tidak memiliki keluarga atau sesuatu yang berharga untuk ia lindungi, namun Oh Dahye— yang telah bertransformasi menjadi istrinya. Sehun hanya mengkhawatirkan wanita itu.

Penjagaan ekstra harus di kerahkan, jam malam, kalau bisa— ia akan menyewa bodyguard untuk mengantar Dahye kemanapun dan kapanpun.

#tok.. tok.. tok..

Seorang wanita menyembul dari balik pintu, kakinya yang kecil melangkah dengan sangat hati-hati, ekspresi ketakutan terpatri di wajah pucatnya, “CEO Oh, ada seseorang yang ingin bertemu anda.”

“Siapa?”

“Tuan Kim Kai, saya sudah bilang kalau anda sedang sibuk tapi beliau—

“Biarkan dia masuk.”

Ne?” wanita itu mengangkat wajahnya. Bukankah tadi bosnya yang super dingin ini yang bilang sendiri bahwa ia tak mau diganggu. Wanita itu memprotes dalam hati, namun sedetik kemudian mengangguk paham, “Y-ya Sanjang-nim.”

CEO plin plan, batinnya.

Jika saja ia tak diberi gaji besar di perusahaan ini, pasti ia akan mencari pekerjaan lain yang sekiranya tak menguras batin. Karena kadang emosi bosnya yang naik turun seperti remaja labil itu sedikit –atau banyak- merepotkan.

Sektretaris pribadi Oh Sehun itu melangkah keluar dan menutup pintu. Disambung dengan kedatangan sosok tan Kim Kai yang kini berdiri dengan memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana.

“Kau sudah dapat pesanku?” tanya Kai setelah ia menutup pintu, berjalan mendekati sahabatnya yang sedang duduk di kursi dan berkutat dengan pekerjaannya.

“Hm.” Jawab Sehun hanya dengan sebuah gumaman.

“Kau sudah mencari beritanya?” kepanikan jelas berada di ekspresi wajah Kai, namun Sehun sebisa mungkin masih mempertahankan wajah datarnya. Bagaimana bisa seseorang melakukan hal itu.

“Ya, aku sudah. Dan hal ini membuatku gila.” Melepaskan pandangannya dari layar laptop, Sehun mengusap wajahnya frustasi. Tidakkah kaulihat jika Oh Sehun juga terluka?

Masa lalu seperti iblis yang kejam, menghantui mereka. Mengganggu waktu tidur, layaknya sebuah lullaby di film horror. Mereka tak dapat berbuat apa-apa untuk sekarang. Hanya waspada. Yeah, pada siapapun, karena siapapun orangnya dapat menadi anak buah Kris.

Kris mengincar Oh Sehun. Dan Sehun tahu itu. Beberapa masalah diantara mereka belum terselelsaikan.

“Apa yang akan kau lakukan?” mengambil tempat duduk di hadapan Sehun, dahi pria itu mengkerut. Berpikir keras. Meskipun Kai tidak ada masalah serius yang menyangkut keberadaan Kris, tapi— Kai adalah termasuk orang terdekat Sehun. Dan yang ia tahu, Kris akan menghancurkan siapapun yang berhubungan dengan Oh Sehun.

“Entahlah, bayangkan sekarang setelah Kris dinyatakan bebas dari penjara, dua investor perusahaanku meminta untuk membatalkan kontrak. Apa ini tidak keterlaluan?” ujar Sehun disela deru napasnya yang memburu, “Dan Dahye— aku harus melindunginya.”

“Ini sangat tidak masuk akal ketika satu orang dapat membuat kita semua menjadi takut.”

“Hm, aku tahu. Tapi inilah faktanya, seorang Kris Wu yang akan kembali mendapatkan kekuatannya. Seseorang yang memilin diri menjadi benih perusak akal sehat.”

Kai menggelengkan kepalanya pelan, tertawa akan kalimat yang baru saja dilontarkan sahabatnya. “Kau sibuk hari ini?”

“Tidak, kenapa?”

“Ingin menemaniku minum?”

 

..

..

..

Suara dentuman musik yang keras tak lagi terdengar memekakkan telinga karena mereka tengah berada di VIP room yang sengaja Kai sewa. Pemilik club ini adalah Kim Suho, yakni sepupu Kai sendiri.

Sebotol champagne terletak di tengah meja, dan kini ketiga pria yang sedang menikmati minuman masing-masing mendesah pelan. Merasakan cairan panas yang mengalir ketika melewati kerongkongan.

“Kudengar Kris sudah kembali, hm?”

Ini lucu ketika semua orang mengenal Kris yang nyatanya bukan publik figur yang ternama. Dia hanyalah sosok yang kejam dan ditakuti. Namun semua orang seperti menganggapnya dewa.

“Begitulah.” Ucap Sehun tak bersemangat. Wajahnya telah berwarna kemerahan karena pria itu meminum champagne lebih banyak dari dua pria lainnya.

“Jika kau butuh orang suruhan, datang saja padaku. Aku mempunyai banyak orang-orang yang bahkan mantan atlete judo.” Suho menuangkan cairan lagi pada gelasnya yang kosong lalu meminumnya dengan sekali teguk, “Sshhh… aku akan memberimu potongan harga, tak perlu khawatir.” Sambungnya.

Sehun terkekeh, terlihat sedikit menyedihkan memang. Karena wajah datar tertekuk itu masih terus dipaksakan untuk tersenyum, “Tidakkah kau bisa sekali saja tidak membawa-bawa uang dalam percakapan kita. Bukankah kau sudah kaya?”

Kai yang berada di antara dua manusia itu pun hanya menggeleng pelan.

Suho tersenyum, “Kaya itu relatif.”

“Tidak bisakah kita singkirkan percakapan tak penting ini? Aku hanya ingin minum dengan tenang.” Ujar Kai yang sedari tadi terdiam.

.

.

-oOo-

Sedangkan di sisi lain, Dahye keluar dari ruangan dosen. Menenteng tas jinjinnya lalu berjalan ke arah dimana mobilnya terparkirkan.

#pip pip

Dahye melepas kunci pintu otomatis, lalu membuka pintu. Tangannya hendak menutup pintu tersebut sebelum—

#srett

Sebuah lengan kekar menahan tangan Dahye. Wanita itu sontak mendongak, mencari tahu siapa orang yang menahan pergerakannya. Dan ketika mata mereka bertemu, Dahye merasa dirinya melemas, “Kau—

“Bisa ikut aku sebentar?” ucap orang itu, tatapannya tajam tertuju pada Dahye.

Dan di sinilah mereka. Di sebuah café yang terletak tak jauh dari kampus Dahye mengajar. Duduk di kursi masing-masing, saling berhadapan. Kebisuan menghiasi pertemuan mereka.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” ucap Dahye memecah keheningan.

“Aku hanya ingin bilang… “ lelaki itumenundukkan kepalanya, “Aku tahu ini sulit, tapi— pergilah ke luar negeri bersama suamimu, Dahye.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kau tahu, Kris sudah bebas. Dan kemungkinan besar—

“Apa?— Kris…. Bebas?”

“Kau belum mendengar berita ini?”

Menggelengkan kepalanya pelan, “Belum, aku baru mendengar ini darimu, Tao.”

“Ikuti saranku. Pergilah ke luar negeri, sembunyikan identitas kalian, aku melakukan ini juga demi sepupuku.” Tao mengacak rambutnya, menggigit bibir, “Aku tidak bisa membiarkan Kris kembali dengan pekerjaan gelapnya, lalu dipenjara lagi.” Ada sebuah nada memelas pada suara Tao yang tegas.

“Aku— aku tidak bisa melakukannya. Semakin aku menjauh pada masalah, maka semakin panjang dan tak terselesaikan pula masalah itu. Aku akan tetap di sini, Tao. Akan lebih baik jika aku bertemu langsung dengan Kris, berbicara padanya, dan menyelesaikan masalah kami.”

“Kau tahu jika Kris tak suka berdiskusi.” Desis Tao.

“Aku pulang.”

Tak mengindahkan ucapan Tao, Dahye segera berdiri dan berjalan meninggalkan café tersebut.

***

Dahye tahuSehun akan khawatir jika ia pulang terlambat. Bisa-bisa suaminya itu akan memintanya untuk menjalani pekerjaan sebagai dosen, mengurungnya di rumah berhar-hari dengan maksud untuk ‘perlindungan diri’.

Ini konyol, namun beginilah Oh Sehun. Yang menganggap sesuatu yang menjadi miliknya adalah hal mutlak. Dahye keluar dari mobil, menyusuri basement. Berlari pun takkan merubah keadaan bahwa ia telah telat pulang 30 menit dari biasanya.

Memasuki lift yang kebetulan kosong, hingga tak membutuhkan waktu lama bagi Dahye untuk sampai ke lantai 15 apartment ini.  Menggulung kemeja hingga batas siku, Dahye mempercepat langkah saat pintu apartmentnya mulai terlihat.

#Srett

Sepi? Apakah Sehun belum pulang?

Dahye melepas blazer, menyisakan hanya kemeja dan celana panjangnya. Ini menjengkelkan, kalau tahu Sehun sedangtak ada di rumah, ia bisa sedikit bersantai saat mengemudikan mobil tadi—

“Kau baru pulang?”

Hampir melompat dari tempatnya berdiri, Dahye memegangi dada. Benar saja—

“Aku bertanya, Dahye.” Ujar Sehun pelan, namun lelaki itu tidak dapat mempertahankan nada dinginnya. Lelaki itu berdiri sambil bersandar tembok, kedua tangan terlipat di depan dada.

“A-aku… baru saja bertemu seseorang.” Ujarnya gugup. Dahye menunduk, menyembunyikan wajahnya pada helaian rambut panjang.

Detik-detik terasa lebih lama. Sontak Dahye berpikir, siapapun tolong tarik dirinya menjauh dari suasana tak mengenakkan ini. Menyatukan tangan, Dahye menatap Sehun takut – takut dari ekor matanya. Wajah lelaki itu mengeras dan bibirnya terkatup rapat sebelum berujar, “Dengan siapa? Komite dosen?” tanya Sehun masih berusaha untuk sabar.

“Tidak…” Dahye menggelengkan kepalanya ragu, haruskan ia berbohong, “A-aku bertemu dengan, Tao.”

Seketika Sehun membeku. Matanya terbelak, tak habis pikir akan wanita yang telah sah menjadi istrinya ini. “Apa?”

“S-sehun…”

“Kau bisa saja celaka, mengerti? Apa yang kau lakukan? Bertemu dengan orang berbahaya seperti itu… Dahye—

“Aku sudah mendengar tentang Kris… Sehun, asal kau tahu, Tao membantuku. Dia memperingatkanku dan dirimu karena Kris sudah bebas.”

Menutup matanya rapat, Sehun mendesah pelan, “Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa… aku hanya khawatir padamu.”

“Aku tahu.” Dan dengan kalimat itu, Dahye memeluk tubuh suaminya. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sehun. Seolah di sana adalah tempat paling aman baginya untuk berlindung.

Seperti apa masa depan yang menanti mereka, keduanya menjawab tidak tahu. Hanya siapkan diri dan lakukan yang terbaik.

.

.

-To Be Continue-

Author Note:

Haloo… Sine disini~ sebelumnya aku mau ngucapin makasih buat admin yg udah ngepost FFku ini. Dan jujur ini adalah kali pertamaku mengirim FF ke flyingnc heheh… so I’m new here, guys. Please go easy with me. Hope you like my first chapter of  Devotion.

Mind to review? \tapi yg sopan ya.. jangan galak-galak sm pendatang baru heheh/

Regard.

-Keiko Sine

85 thoughts on “Devotion Part 1

  1. Speechles aku bacanya. Ini bneran deh, menarik bgt. Si Sehun ko kriminal gitu yakk, bner sih. Ekstream bgt jdi istrinya Sehun disini. Tpi ko bsa dapetin Dahye yg guru baik2 yakk…

    Suka

  2. Aku sukaa ceritanyaa😀
    Kira kira knp ya kris bisa ditakutin gitu?? Ak
    Oiyaa aku kira mereka itu dijodohin ternyata emg saling suka toh😂

    Suka

  3. Halo authornim, aku reader baru hehe. Lagi search ff sehun di google, nongol ff devotionnya author lgsg aja aku baca. Omg, demi apapun baru chap 1 aja seru bgt yakkkk *scream. Kemana aja aing baru nemu ffnya author skrg :”)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s