Anta and Prota Part 17


image

Anta & Prota Chapter.17

Author : Intan98

Tittle : Know

Category : NC17, Yadong, Romance, Continue

Cast :Cho Kyuhyun,Lee Eunji (OC), other support cast.

Summary: Cerita si antagonis mulai menemukkan titik terangnya.

WARNING! INI CHAPTER TERPANJANG YANG PERNAH AKU BUAT UNTUK ANTA & PROTA. KALAU PEMBACA SEDIKIT ‘MUAL’ BACANYA BERTAHAP YAH. MAKASIH, hehehehe ampunnn… Happy reading

Africa, beberapa tahun lalu

Seorang anak berumur 12 tahun nyaris tertidur di atas pangkuan ibunya. Sore menjelang, beberapa nyamuk raksasa khas daerah sekitar Afrika mulai berdegung kuat di beberapa tempat sekitar balkon rumah kecil yang ia tempati bersama sang ibu setahun sebelumnya.

“Gum-mi… Berjanjilah kepada ibu.” Anak kecil berkacamat itu mengernyit heran.
“Berjanji?” Gumam anak itu.

“Kau harus jadi dewa Poine  untuk orang yang memperburuk hidup kita  sejak dulu.”

“Hm?” Anak laki-laki itu langsung berdiri, dari luar serambi rumah mereka angin ringan  menerbangkan helaian rambut selehernya. Anak laki-laki itu memperbaiki kacamatanya sebelum bangun dengan normal.

“Dewa pembalasan dendam, untuk ibumu… Pertama ayah kandungmu, kedua hancurkan keluarga tuan Lee.” Anak laki-laki itu terdiam, ia belum terlalu tahu maksud ibunya.

“Bencilah sebenci-bencinya anakku, kau akan tahu rasa balas dendam itu ketika kau beranjak dewasa.” Senyum sang ibu, tangan kirinya menurunkan punggung anak semata wayangnya untuk kembali bebaring di atas kedua pahanya.

Kemudian mereka menikmati angin sore disertai bunyi dari kejauhan suara cheetah mengejar mangsa.
Anak berkacamata itu memikirkan ucapan ibunya, begitu keras. Keluarga Lee? Ayah kandungnya?? ia jelas mengenal siapa yang sang ibu maksud namun ia begitu penasaran dengan  pembalasan dendam. Dua kalimat seperti apa itu jika ia terapkan??

                                        *NOW*

Cho Kyuhyun, menggenggam tangan Eunji kuat saat dokter memberitahukan bahwa hanya dirinya yang dapat masuk sedangkan para wartawan dan pihak kepolisian tidak diperbolehkan masuk.

Pria itu menarik pandangannya kearah perut datar milik Eunji. Ia tengah mengandung, mengingat kejadian beberapa jam lalu membuat Kyuhyun mengeratkan pegangannya pada sebuah benda kecil di tangan kirinya.

Sebuah alat kehamilan yang Eunji tinggalkan di tempat kejadian perkara dan pria itu pungut. Awalnya ia mengira bahwa itu hanyalah sampah di sekitar rumah Bo Gum namun setelah ia melihat benda tersebut jatuh tak jauh dari tempat Eunji terjatuh, Kyuhyun pun langsung mengambilnya.

Ukiran senyum pedih mengembang di atas bibir merah berisinya. Suasana kamar jauh lebih temaram daripada 1 jam ia masuk tadi. Hanya penerangan lampu tidur yang dapat memperlihatkan raut cemas dari wajah seorang Kyuhyun.

Tangan halus Eunji bergerak dalam genggaman pria itu, Kyuhyun tertegun sejenak kemudian menenggadahkan kepalanya lalu menggeser kursi penunggu pasien mendekati wajah kekasihnya.. Baiklah kekasihnya. Pria itu tak mau bertele-tele lagi, Eunji sudah menjadi miliknya penuh jadi ia berpikir bahwa perasaan gadis itu telah jadi miliknya juga—Cukup aneh.

“Eunji..” Panggilnya pelan, Bola mata gadis itu bergerak dalam kelopaknya, setelah itu membuka secara perlahan. Ia tidak meringis kesakitan karena lampu utama ruang pasien kelas 1 tersebut tidak dinyalakan. Cuma pandangan mengabur yang sulit ia deskripsikan ketika matanya mengedar secara liar.

“K..Kyu.” Sahutnya lemah dan serak seperti desahan. Kyuhyun meringis mendengarnya, sekarang bukan saatnya memikirkan hal-hal negatif.

Sesaat berlalu, Eunji merubah air mukanya menjadi cemas. Tangan tanpa infusnya melepas genggaman Kyuhyun dan mengelus perut ratanya berulang kali, ada ganjalan pada kiri perutnya.

Sebuah perban serta kapas setinggi 2cm dari ukuran perut langsingnya. Wajahnya kian cemas namun ia tak bisa mengungkap kecemasannya. “Bayi kita… Selamat.” Kyuhyun coba menenangkan Eunji dengan cara menaikkan tubuhnya ke atas ranjang istirahat gadis itu lalu meletakkan tangannya disamping perut Eunji.

Gadis itu menatapnya terkejut. Kyuhyun sudah tahu. Bayi kita? Pipinya kontan memerah tanpa bisa dihentikkan. Kyuhyun menerima bayi nya kah? Namun sebersit rasa curiga masih menghantui pikirannya. “Kau mengakui ini bayimu?” Tanya Eunji lemah.

“Tentu itu bayiku.”

“Kau tidak berpikir aku punya laki-laki lain di belakangmu? Maksudku yang tidur denganku??” Mendengar pertanyaan Eunji yang begitu datar sontak membuat Kyuhyun berkerut heran.

“Bagaimana mungkin seorang Eunji melakukan hal itu? Kurasa ia tidak sempat melakukannya. Cho Kyuhyun telah mengambil keperawanan gadis itu, menidurinya dua kali belum genap sebulan lalu,  bahkan tak kurang dua hari lalu Cho Kyuhyun melihat Eunji tersenyum miris ketika pria nya bergandengan tangan dengan wanita lain. Ahh.. Juga, semakin besar pikirannya kalau Eunji tak mungkin menghianatinya dikarenakan masalah pelik yang menimpa gadis itu. Eumm bagaimana penggambaranku tentang Lee Eunji yang tak mungkin bermain api?? Apa itu cukup menganggumkan??”

Kyuhyun kian mendekati ‘calon istrinya’ pipi gadis itu memerah padam dibuatnya. Ia benar-benar suka cara gadis antagonis nya malu. Pada dasarnya Eunji bukanlah singa betina yang kehausan daging buruan namun ia hanyalah seekor singa betina muda—Polos, juga menggemaskan.

“Kenapa kau menghindariku?” Tanyanya, pria itu belum ingin memperberat pikiran Eunji jika ia harus menanyakan  perihal insiden  beberapa jam yang lalu.

Sebenarnya mempertanyakan alasan Eunji menjauhinya jauh lebih penting daripada memikirkan kasus kejahatan gadis itu saat ini.

Eunji menggigit bibir dalamnya kuat, sedetik kemudian ia memberanikan diri untuk menatap Kyuhyun lebih ke arah iris mata cokelat bercampur kelamnya. “ Aku ingin memikirkan pernyataanmu di pulau Jeju waktu itu tapi setiap kali aku hendak membulatkan tekadku entah itu menolakmu atau menerimamu dalam hidupku seutuhnya… Kau selalu datang dan menghancurkan tekad bulatku mengenai sesuatu hingga nyaris melupakan keputusanku tentang dirimu Kyu. Dan juga…”

“Dan juga?” Kyuhyun penasaran, ia mem-beo dua kalimat menggantung dari Eunji. Wajah gadis itu masih bersemu merah. Gemas sendiri sebab 5 detik lamanya ia mengatakan ‘aaa…’ Kyuhyun mencubit gemas pipi chubby gadis itu, Eunji hanya bisa meringis kesakitan.

“Dan juga… Aku benci wajahmu, entahlah tiap memikirkan atau memandang wajahmu sedekat ini rasanya kuku-kuku bernail-ku ingin mencakarnya.” Glek.. Kyuhyun menelan ludah sukar. Ia akan mundur tapi pikiran sejatinya sebagai laki-laki yang akan mendampingi Eunji nanti membuat laki-laki itu dengan ciut tetap berada di tempatnya.

Walau mungkin nantinya ia bakal di cakar habis-habissan oleh Eunji. “Karena dia kah?” Tanya pria itu penasaran. Eunji mengangguk pelan.

“Jadi.. Menjauhlah.” Eunji menarik kesimpulan sendiri. Tangan tak berinfusnya seolah siap mencakar wajah bak pualam milik Kyuhyun.

“Aku rela dicakar, asal jangan wajah tampanku Eunji.” Kekeh Kyuhyun, Eunji berdecak keras disertai tawa lemahnya.

Senyuman gadis itu pudar kala ia mengingat kembali rentetan peristiwa yang ia alami didepan rumah Bo Gum tadi. Kyuhyun menatap lekat raut wajah gadis itu. Ia kembali risau kelihatannya. Pria itu meraih salah satu tangan Eunji. “Tenanglah, pria yang melakukan percobaan pembunuhan padamu sudah di tangkap dan sopir pribadimu di rawat tak jauh dari kamar rawatmu ini. Semuanya akan baik-baik saja.”

Kyuhyun memberikan separuh rasa tenang pada jiwa gadis yang terguncang itu. Terguncang seperti apa yang ia rasakkan? Jelas begitu besar terlihat dari wajah indahnya, Eunji bukan hanya terguncang akan penyerangan yang baru pertama kali ia rasakkan dalam hidup serba dikawalnya. Namun ia juga terguncang akan beberapa hal ganjal lainnya.

Gadis itu mulai mengingat rentetan memori tanpa celah dalam otaknya sebelum pria dengan masker dan pakaian serba hitam tersebut memukul kepalanya, menarik rambut panjangnya hingga lepas puluhan helai sekaligus kemudian terakhir menusuk bagian lain perutnya dan nyaris membunuh calon bayi yang ia kandung.

“Bo Gum… Kurasa ia ada sangkut pautnya terhadap pembunuhan keji pada paman Woo Tak.” Bisiknya pelan. Kyuhyun yang semulanya sibuk menganggumi wajah titisan dewi Hera itu kini mengerutkan alisnya.

“Bo Gum? Rumah besar itu milik Bo Gum?  Dan apa tadi? Kenapa kau berkata seperti itu Eunji?” Tanya Kyuhyun bingung. Bo Gum ada sangkut pautnya dengan pembunuhan keji di Jeju? Baiklah, ini tidak masuk akal. Bo Gum selalu bersama mereka, kenapa bisa pria yang jauh dari kecurigaan polisi itu dituduh sebagai oknum juga??

“Iya, Bo Gum mengundangku ke rumahnya. Kemudian dia menunjukkanku hasil jepretannya tentang diriku, Kemudian aku melihat koleksi foto lain dalam studio foto pribadinya Bo Gum menyimpan puluhan foto sadis orang-orang asing yang di bunuh, aku tak tahu siapa yang membunuhnya. Semula kukira ia seorang tukang foto yang bekerjasama dengan pihak kepolisian di Afrika namun dari tiap fotonya aku hanya melihat pria itu sedang memoto ‘model’ nya. Tanpa police line di TKP, tanpa orang lain dalam foto itu. Hanya orang-orang yang mati dengan cara berbeda,”

Kyuhyun belum bisa menghentikkan Eunji agar gadis itu tidak berpikiran berat lagi. Ia pun penasaran dengan lanjutan ceritanya, ia juga belum bisa berkomentar apapun di pertengahan gadis tersebut mengambil nafasnya bercampur ngeri juga jijik.

“Sampai kutemukkan foto terakhir, kalau tidak salah ia menempelnya tak jauh dari tumpukkan foto sadis tersebut. Aku ingin berhenti membuka tabir koleksi foto gilanya namun mataku tak sengaja menatap foto itu. Foto paman Woo, aku tak salah lihat. Itu sungguh foto paman Woo. Dengan latar belakang gelap, jas hitam juga luka tusukan yang merobek bagian leher..Eungh.” Kyuhyun ikut menyentuh kepala Eunji yang pening.

Pria itu cukup mengerti sekarang. “Istirahatlah, cukup bicaranya. Kau jelaskan ketika agak baikkan eo?” Perintah pria tersebut. Air mukanya belum juga hilang bentuk resahnya, mata gadis itu menatap kemanapun dengan waspada.

“Kyu…” Matanya makin sayu. Kyuhyun berusaha tersenyum walau pikiran lainnya pergi entah kemana.

“Tidurlah. Untuk sementara lupakan dulu  segala hal yang membuatmu berat. Kasihan bayi kita eum?” Senyum Kyuhyun lembut, ia menyampingkan poni panjang Eunji kesamping. Dalam temaram lampu tidur Eunji ikut tersenyum tipis, ia belum mau berdebat dengan Kyuhyun mengenai kalimat ‘bayi kita’ saat ini.

“Kenapa semua orang memusuhiku? Bahkan sahabatku sendiri mulai kucurigai padahal ia telah lama tidak kulihat. Apakah sebegini kuatnya takdirku sebagai pewaris tunggal? Lebih baik jadi orang biasa dan hidup bahagia tanpa bahaya daripada seperti ini. Satu persatu dari mereka tidak menjadikanku sebagai temannya. Kenapa Kyu?” Tanya Eunji serak, ia sengaja menyembunyikan air mata nya dan berusaha bertanya dalam pengaruh obat biusnya.

Tanpa ia sadari juga, Kyuhyun ikut merasakkan sakitnya. Dada pria itu sesak menatap orang yang selama ini ia anggap hanya bersenang-senang dalam hidupnya malah terlihat lemah dan tak berdaya dihadapannya, apalagi gadis ini adalah gadis yang ia cintai. Kyuhyun  bersumpah untuk satu hal.

Eunji…

Adalah gadis yang harus ia lindungi, bukan lagi Eunji yang menjadi ‘guardian angel’ nya.

Kyuhyun bersumpah.  Perlahan pria itu menaikkan seluruh tubuhnya ke atas ranjang lumayan besar kamar kelas satu tersebut. Ia menggeser tubuh Eunji perlahan karena gadis itu kelihatan lemah untuk menarik tubuhnya dari tempat semula. Lalu dengan sekali dekap, tubuh Eunji dapat masuk dalam lingkaran hangat seorang Cho Kyuhyun.

Ini ketiga kalinya ia berada dalam pelukan pria itu. Dua kali dalam kesakittan dan yang ketiga dalam kasih sayang serta kehangatan ikhlas milik pria itu yang ia salurkan begitu intim nyaris menghangatkan seluruh organ tubuhnya.

Eunji tanpa diperintah mengeluarkan air mata lelahnya dalam dekapan pria itu.

Ia berdoa dalam hati. Semoga dekapan hangat ini bukanlah hal yang dapat dihitung dengan jari lagi. Ketiga, keempat sampai mereka masuk ke liang kubur. Ia berharap Kyuhyun dapat mendekapnya seperti ini.

Ia mencintai pria itu, sedalam palung laut yang tersembunyi dari permukaan air.

**

Kim Ah Ra, susu vanilla dengan remahan roti adalah hal terakhir yang ia tegak sebelum mematikkan televisi dan kembali tidur di tempat barunya. Sofa berbulu depan tv, teritori barunya setelah pindah dari kamar bak princess nya.

Alasan klasik ia utarakan pada adiknya sejak minggu lalu. Ah Ra tak ingin melihat kamarnya, karena kamar gadis itu sejak mengagumi pria berbelok dengan nama Henry Lau sudah ia penuhi dengan koleksi ratusan foto pria itu. Bahkan Yesung sang adik harus rela naik-turun tangga ketika pagi datang untuk mengambilkan beberapa potong pakaian kakaknya.

Bulan depan orangtua mereka pulang dari perjalanan luar negeri mereka . Perjalanan luar biasa yang terkadang berbeda negara mereka lewati, sang ibu dengan merk terkenalnya dan sang ayah dengan promosi perusahaan berkembangnya yang sekarang sudah menyepakati kerja sama bersama 6-7 negara maju di benua Eropa.

Mereka terlalu sibuk tapi bagi Ah Ra dan Yesung pikir kalau mereka bukanlah orangtua kejam yang sering digambarkan dalam kehidupan sehari-hari, melainkan sedang mencari tabungan untuk masa depan kedua anaknya.

Namun tabungan masa depan ini dalam investasi yang jauh lebih besar. Memang bosan serta pegal pinggangnya selalu bebaring kemudian hanya melangkah jauh ke kamar mandi untuk beberapa hari ini. Tapi mengingat bagaimana Henry mengabaikannya kemudian ucapan kasar pria itu sebelum Ah Ra naik ke atas kapal ferri.

‘Henry-ssi. Kau tidak pulang bersama kami?’ Ia menatap Ah Ra datang.

‘Hm. Sebentar lagi kapal akan di tutup.’

‘Ani, waeyo? Kenapa kau tidak naik bersama kami?? Apa karena waktu itu? Maafkan adikku dia..’ Pria itu melepas kuat pegangan Ah Ra pada lengannya. Gadis itu terkesiap mendapat perlakuan kasar Henry, selama ini ia hanya diam dan sekarang Ah Ra begitu terkejut dengan kekuatan kasarnya yang nyaris membuat gadis berwajah menggemaskan itu jatuh ke atas jalan kayu menuju kapal ferri.

‘Dengar nona, aku memang menyuruhmu untuk mengajariku. Tapi tidak dengan menyentuhku tanpa seizinmu. Ohh yah, kau mengejarku bukan?? Kau menyukaiku? Apa karena itu?? Masalah Yesung bisa kuatasi jadi pergilah…’ Apa yang terjadi pada Henry.

Cukup lama Ah Ra terkesima akan ucapan panjang dan biasanya hanya ia dengar ucapan irit dari seorang Henry Lau. Sekalinya Henry berkicau, kicauannya begitu menusuk dan menyesakkan dada.

“Aku tidak membahas masalah it…”

‘Boommm Booommmmm..’ Suara kapal ferri menghentikkan ucapan terkejut Ah Ra. Ia menahan air matanya sebelum berbalik menuju kapal ferri tanpa menoleh kebelakang sekalipun.

Karena tak nyenyak, beberapa waktu kemudian ia menghubungi Henry. Tapi nihil, Henry dengan kejamnya menolak teleponnya.

Mengingat hal itu rasanya Ah Ra ingin menangis lagi. Padahal matanya serasa 5 watt, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan anehnya ia sudah ngantuk. Saat menjadikan ruang tamu sebagai teritori permanen selama orangtuanya di luar negeri, Ah Ra kerap lelah akan tontonan belasan jam yang sering menghantui pikirannya.

Pekerjaanya? Hei, jangan tanyakan. Dia pemilik usaha itu jadi dia boleh datang kapanpun?? Kalaupun bisa libur, sebulan pun ia juga dapat melakukannya.

‘Ting..Tong.’ Ah Ra merasa bel rumah mereka berbunyi. 5 detik tidak ada lanjutan, gadis itu memilih masuk kedalam selimutnya sedangkan kipas angin raksasa menerbangkan rambut coklat terangnya cukup kuat.

‘Ting tong..’

‘ting tong ting tong…’ Kali ini memang kenyataan, Ah Ra menyingkap selimutnya sampai ke pinggul. Siapa manusia dengan tangan panas yang memencet bel pintu keluarga Kim sekuat itu?? Apa pengawal rumah mereka mati??

Baiklah itu pikiran mengerikan dari pikiran terjauh milik Kim Ah Ra.

“Ahjumma!! Ahjushhi!! Bukak pintunya..”

‘…’ Hening,

‘Ting tong… Ting tong!!’ Sial, pikir Ah Ra kesal. Pantatnya begitu berat hanya untuk berdiri saja, matanya apalagi.

“Ahjumm…”

‘Tettt…Tettt.” Double sialan, belnya terdengar rusak karena orang asing itu. Siapa dia?! Ah Ra mengarahkan pandangannya ke atas—Tepatnya kearah lantai dua tempat kamar Yesung yang bersebelahan dengan kamarnya.

Pria itu pasti sudah tidur. Yesung boleh saja begitu sok berkuasa di tempat kuliah namun  dalam masalah tidur ia jauh lebih manja ketimbang bayi umur 9 bulan—Ia tak pernah merusak jadwal tidurnya. Jika ia menetapkan tidur jam 9 malam, bertahun-tahun pun akan seperti itu.

Terpaksa Ah Ra mengangkat pantatnya, menghidupkan saklar lampu ruang tamu, memasang sandal rumahannya kemudian memutar kenop pintu rumahnya.

Betapa terkejutnya gadis itu ketika didepannya Henry berdiri setengah bertumpu pada dinding samping kanannya dan tangan kiri pria itu menyentuh perutnya yang ada bekas debu seperti cetakkan sepatu ukuran cukup besar.

Ah Ra menampakkan raut kagetnya. Ingin rasanya ia mengkhawatirkan pria itu tapi sejenak kemudian otaknya malah memperingati gadis itu supaya tidak mengatakan apapun yang sifatnya khawatir pada pria tersebut. Bisa-bisa acara move on nya gagal total. Seminggu adalah waktu rawan baginya untuk melupakan pria setengah berbelok dengan marga Lau itu.

Cara satu-satunya adalah.. Bersikap biasa-biasa saja.

Aroma mask keluar dari tubuh Henry, untuk 1 menit lamanya pria itu menatap mata gusar Ah Ra yang tidak mengungkapkan rasa khawatir besarnya. “Oh? Henry-ssi, A pa pa yang kau lakukan disini?? Ah kau mau bertemu adikku?”  Ah Ra berusaha menarik bibirnya membentuk irisan semangka.

“Aku menginginkanmu..”

Pria itu terjatuh diatas bahu kecil Ah Ra, awalnya Ah Ra hampir terjatuh kebelakang namun ia langsung sigap memeluk Henry.

“Henry-ssi, Henry-ssi. Kau tidak apa-apa.” Jantungnya berdetak kencang saat Henry mengatakan dua kalimat bak sihir itu.  Aku menginginkanmu, Ah Ra ingin berkhayal lebih tapi ia sadar Henry tiba-tiba terjatuh di pundaknya bukan tanpa alasan. Ia harus menelepon dokter pribadi mereka atau kalau perlu ia harus menelepon rumah sakit sekarang.

Ah Ra menggigit bibirnya kuat, nomor dokter pribadinya dari tadi dihubungi namun hasilnya nihil. Dokter pribadi keluarga Kim tidak menjawabnya, apa ini terlalu larut? Ketika ia hendak menelepon panggilan darurat ke rumah sakit, sebuah tangan seolah mencekal perbuatannya.

Pria yang terbaring itu sudah sadar. “Apa sekejam itu dirimu?” Sindir Henry serak, ia masih menyentuh bagian perutnya kesakitan.

“Apa?”

“Kau tidak melakukan pertolongan pertama padaku dan malah menelepon seseorang? Kau punya otak??” Ternyata dibalik tampang imut dan sifat tak terjamahnya Henry adalah jelmaan diktaktor dengan mulut setajam pisau dapur. Ah Ra menelan ludahnya sukar.

Gadis itu bingung harus bagaimana, selama ini ia tak pernah melakukan pertolongan pertama. Bila pun ia mengenyam pendidikan pastilah pengawal keluarganya akan selalu mengawalnya kemanapun dan tidak memperbolehkannya ikut latihan pertolongan pertama bahkan untuk berkemah sekalipun.

Tapi ia jelas tahu apa itu pertolongan pertama karena Ah Ra adalah penggemar berat drama-drama bergenre hospital life . Namun ia tidak mengerti cara menerapkannya padahal kota P3K selalu ada di dapur bagian kanan lemari-lemari bumbu.

“Eumm itu, kau kenapa?” Tanpa sadar tangannya akan pergi ke arah perut dengan bekas debu berbentuk sepatu milik Henry. Dengar nona, aku memang menyuruhmu untuk mengajariku. Tapi tidak dengan menyentuhku tanpa seizinmu. Ohh yah, kau mengejarku bukan?? Kau menyukaiku? Apa karena itu?? Masalah Yesung bisa kuatasi jadi pergilah… Ia ingat betul ucapan Henry sehingga tangannya membatalkan niat hendak menyentuh bagian perut pria itu.

Henry tahu lagat Ah Ra, ia hanya berdehem pelan lalu bangun dari salah satu sofa berlengan di ruang tamu. Pandangannya tertuju kearah sofa berlengan yang tepat mengarah ke tv. Sofa itu beralas sprei dan selimut tebal juga kusut diatasnya. Sampah cemilan pun belum gadis itu bersihkan dan berserak di bawah kolong meja kaca didepan tv ruang tamu.

“Ambilkan aku cube es dan masukkan kedalam wadah kompres.” Perintah Henry.

Ah Ra mengikuti ucapannya, ia berjalan cepat ke dapur.

Setelah Ah Ra melihat langsung bagian perut dengan cetak alas sepatu cukup besar itu, Ah Ra tak bisa membendung rasa kagetnya. Gadis itu menutup rapat bibirnya, luka lebam keunguan  melingkar 6cm pada perut pucatnya.

“Apa yang kau lakukan sehingga..” Ah Ra tak dapat berkata-kata lagi. Pria itu mengabaikan rasa terkejutnya dan malah mengompres luka lebamnya, membiarkan dingin menyebar ke permukaan keunguan itu.

“Jika aku jujur, apa kau ingin menjadi temanku… Kita mulai dari sana.”

“Apa?”

“Ya atau tidak.”

“Selama itu tidak merugikanku, meski aku kurang mengerti. Yah.” Jawab Ah Ra gugup, wajah gadis itu merona merah. Padahal ia lebih muda daripada Henry namun pikirannya masih terlalu polos.

“Ternyata kau masih sangat menyukaiku.” Kata Henry datar, ia kembali mengangkat kompres kemudian membiarkannya lagi diatas perut kotak enamnya.

“Ha? Itu tidak benar!? Setelah kau menyuruhku pergi ak..”

“Aku bukan gay, aku sengaja menutup identitasku selama ini agar siapapun tidak mendekatiku karena rasa curiga mereka. Lalu… Perlu kau ingat aku seorang agen rahasia negara dan agen pribadi keluarga Lee sejak tahun lalu.”

“Nde??” Seperti dimasukki ratusan kalimat tak terjamah oleh Ah Ra sendiri, gadis itu mencoba menyatukan seluruh kata menjadi satu.

“Jadi , aku ingin menguji rasa sukamu padaku. Kalau kita berteman dan aku tak akan minta maaf karena kebohonganku selama ini.” Terbit sebersit senyuman tulus dari wajah kaku milik Henry, seketika itu juga Ah Ra bak meleleh.

Ini mulai bagi mereka? Iyakah??

**

Ah Ra tak sadar bahwa Yesung keluar dari rumah pukul 8 malam tadi. Saking fokusnya gadis itu dengan film mengharukan yang ia masukkan ke dalam USB lalu di tonton lewat tv plasma keluarga ia tak mempedulikan sekitarnya.

Yesung menjatuhkan bunga matahari kesukaan Kangsil—Kiranya begitulah ucapan gadis itu saat Yesung merecoki hidupnya dengan pertanyaan beruntun selama gadis tomboy itu kuliah. Ia menjatuhkan karangan bunga itu karena Kangsil tidak menunggu kedatangannya sendiri.

Yah, setelah mendengar ceramah singkat Kyuhyun tentang keberaniannya sebagai pria sejati, pria berkepala menggemaskan tersebut nekat mengajak Kangsil janjian di  sebuah café dengan alasan akan mengembalikan akun game yang Yesung si hacker pemula bekukan karena kekesalannya dulu terhadap sifat sombong rivalnya tersebut.

Namun kenyataanya beda, Kangsil malah duduk berhadapan dengan seorang laki-laki yang tersenyum padanya lalu mengacak rambutnya kesal. Bagaimana Kangsil? Gadis tomboy itu tertawa begitu menyenangkan terlihat. Jika Kangsil didekatnya tidak ada kata umpatan yang tidak keluar dari bibir tipis gadis tersebut.

Yesung perlahan melangkah mundur, katakanlah baru kali ini ia bersikap selemah ini tapi… Ia terlanjur sakit.

Tak harus menabrak mereka, Yesung pun juga tahu diri.

Kangsil secara tak langsung menyuruhnya mundur dari harapan semu tersebut.

**

Dendam tak akan selamanya dipendam sendiri. Kibum pun tahu itu tapi lain halnya kalau dendam itu tentang masa lalu Heechan.

Kenyataan memang dirinya yang menghamili Heechan.

Memperkosa gadis itu sebab cinta butanya pada Heechan adik belianya dan berakhir membiarkan gadis mungil itu pingsan oleh pengaruh alkohol di tempat sampah samping klub dengan jutaan sperma yang mengalir sebab ia tak melakukannya sekali saja.

Ia  manusia sampah, katakanlah umpatan itu padanya sepuas hati kalian. Kibum iblis, dan tidak berkeprimanusiaan.

Ia hilang selama ini karena terpaksa menuruti keinginan ayahnya yang murka ke luar negeri dan melanjutkan sebuah perusahaan kecil yang kini mulai sukses di tanah lain di bagian barat negara asia. Tak hentinya ia ke gereja dan berdoa pada tuhan agar melindungi Hee Chan.

Waktu pun berlalu, ibunya menelepon dari Korea memberitahukan Kibum bahwa Heechan hamil. Sudah pasti ia tahu Heechan mengandung anak siapa, ia pun memutuskan pulang sebentar ke kampung halamannya. Namun na’as Heechan dikabarkan menggugurkan kandungannya sendiri akibat frustasi.

Kibum yang kecewa sekaligus sebelumnya berencana mempersunting gadis itu akhirnya kembali dipukul ayahnya dan tuan Kim memutuskan melempar lagi Kibum keluar negeri dan Heechan dapat pria itu serahkan pada keluarga mereka.

Tak tahu kabarnya,

Merindukan ekspresi tegang gadis itu saat Kibum menggodanya,

Segala hal tentang adik angkatnya terngiang dalam benak putra semata wayang tersebut.

Hingga akhirnya ia sampai disini, Korea Selatan. Kali ini dengan kemantapan hati ia mencari keberadaan Heechan dan miris keluarganya tidak lagi menanggung biaya Heechan dan malah membiarkan gadis itu membusuk dalam rumah sakit jiwa.

Kedua orangtuanya mengelak bahwa mereka tidak tahu siapa yang membawa gadis itu ke rumah sakit jiwa namun Kibum memaafkannya.  Ia memberitahu orangtuanya bahwa Heechan harus dicoret dari nama keluarga Kim dan punya kartu identitas keluarga sendiri. Ia bertekad bulat kali ini untuk berada disamping Heechan.

Sebagai pendampingnya, bukan kakak. Walau harus ia hadapi cobaan lain dalam hidup penuh permainnya. Heechan kurang waras—Semua itu pun ulahnya.

Senyum Kibum perlahan menghangat. Shin Heechan tidak lagi berontak bila Kibum mendekatinya, ia mendengar dari dokter yang merawat gadis berwajah seperti anak smp itu bahwa Heechan menangis setelah hari dimana gadis tersebut melukai tangan Kibum.

Heechan membuka mulutnya lagi ketika Kibum menyodorkan sesuap bubur kedelai dari rumah sakit. “Oppa mencintaimu Heechan, mari lupakan masa lalu. Dan sembuhlah untuk oppa.” Setengah bubur masih tersisa diantara kerongkongan dan langit-langit rongga mulutnya. Heechan menatap pria itu datar.

Hembusan angin daerah taman mengenai helaian rambut berantakannya. Tak kuasa, air mata menghangat di pelupuk pria tersebut. “Maafkan oppa, oppa salah untuk segala hal. Maaf.”  Kedua bulir air mata pria itu keluar.

Dinginnya musim gugur tak ia pedulikan. ‘Puk’ Secara mengejutkan tangan Heechan mendarat diatas punggung Kibum. Mengelus kaku punggungnya seolah saraf-saraf pada tangannya baru merespon pergerakkan kembali.

Kibum terkesiap, ia menatap Heechan takjub.

Pertama kalinya Heechan merespon kalimat dari kakak angkatnya. Kibum tertawa pelan sedangkan gadis itu masih dengan wajah datarnya.

Jutaan gadis cantik dan punya fisik maupun batin normal diluar sana.

Ia jauh lebih memilih seorang Shin Heechan.

Karena cinta, tidak ada yang tahu kebenarannya.

**

Malam kantor polisi distrik Gangnam

“Kau boleh pulang.”

“Apa?” Tanya Eunhyuk bingung, ia menolehkan kepalanya ke samping. Donghae tidur ayam di kursi sebelahnya. Berulang kali para detektif maupun  polisi penjaga mengusir pria itu agar menunggu di ruang jenguk tapi Donghae dengan keras kepalanya tetap duduk di salah satu kursi yang seharusnya milik salah seorang pelaku kejahatan seksual—Kini pria itu sedang duduk di lantai sembari di interogasi oleh detektif lain.

Eunhyuk mengakui betapa setianya Donghae padanya sebagai sahabat. Syukurlah sejauh ini para detektif hanya menanyakan perihal DNA pria tersebut yang nyaris mirip dengan pelaku pembunuhan sadis di pulau Jeju.

Hanya satu bentuk pembahasan dan kalian perlu tahu berjam-jam mereka lewati untuk mendengarkan ceramah para detektif. Suara langkah kaki lebih dari 5 orang menyadarkan Eunhyuk yang lupa akan pertanyaan mengapa ia diperbolehkan pulang tanpa persyaratan apapun. Pria bergusi merah muda itu menoleh ke sumber suara.

Mungkin sekitar 10 detektif mengawal seorang pria berpakaian serba hitam serta wajah ia tekuk sangat dalam. Salah satu detektif.. Mungkin, karena Eunhyuk pikir mungkin saja kini ada syuting drama-drama populer saat ini yang mengedepankan seorang wanita sebagai pemeran utama dalam penyelidikan berbahaya—Yah, yang Eunhyuk lihat seorang wanita. Dia muda, dan sepertinya belum menikah?

Untuk sesaat Eunhyuk terkesima, ia takjub akan wajah natural serta tatapan teduh gadis itu. Tangan kiri mungilnya merangkul sedikit kasar bahu pria pengguna pakaian serba hitam. Oh, benar! Ini bukan sedang syuting, wanita itu pernah datang ke tempat kuliahnya dan mengaku sebagai salah satu detektif. Haa… Kali ini ia harus mengingat wajahnya.

Kemudian mereka beradu pandang. Dengan hidung kembang kepis secara berlebihan serta jantung tiba-tiba berdetak kencang Eunhyuk menatap lama wajah Hyunra. Gadis itu mengerutkan dahi aneh lalu ia bersuara. “Detektif Kang, saudara Lee Eunhyuk jangan dilepaskan terlebih dahulu. Kita masih harus meminta kesaksiannya, kalau perlu semalaman ia harus memberi penjelasan rinci pada anda.” Apa? Suara kekanakkan detektif bermarga Kim itu nyaris membekukan pernafasannya.

Namun maksud dari ucapan Hyunra bahwa ia batal keluar dari kantor sesak akan pelaku kejahatan yang ribut mengaku diri mereka tidak bersalah membuat Eunhyuk menoleh tajam pada detektif Kang yang menulis laporang pada laptopnya kemudian beralih pada Donghae yang masih tertidur ayam dan sesekali mendengkur kecil.

Pria yang masih dipegang kuat oleh Hyunra disebelah kiri kemudian seorang detektif bertubuh gempal disebelah kanan mendongakkan kepalanya cepat. “Eun..Hyuk.” Panggilnya parau, telinga Eunhyuk bergerak dua kali dan menoleh kearah suara parau yang bertahun-tahun tak ia dengar. Matanya membelalak kaget.

“Hy..Hyung?” Mereka saling menatap untuk waktu cukup lama. Ada rasa rindu bercampur kaget luar biasa dari tatapan kedua orang itu.

Perbedaan mereka cukup signifikan. Eunhyuk berwajah sedikit berisi tapi lonjong sedangkan Hyukjae berwajah tirus namun oval telur. Seolah mendukung suasana menyesakkan hati ini, semua orang hening.

Yang tadi mengetik kasus-kasus kejahatan pelanggar hukum didepan mereka, yang tadi sibuk membela diri tapi sia-sia saja. Mereka semua tak bersuara, mereka menatap dua pusat dramatis dalam ruangan besar akan tetapi begitu sesak juga ramai itu.

Eunhyuk dan Hyukjae kembar identik yang terpisah beberapa tahun lamanya. Itu kenyataanya.

Bahkan Donghae pun terbangun. Ia menyentuh pundak Eunhyuk memberi kekuatan. Mereka bersahabat sejak dahulu, sudah jelas Donghae tahu Eunhyuk punya masa lalu buruknya sendiri. Dibalik sifat jenaka serta berbicara seenaknya, Eunhyuk bukanlah manusia sekuat karang raksasa di lautan yang sewaktu-waktu dapat terkikis oleh ombak.

“Eunhyuk, aku pulang.” Donghae menepuk punggung pria itu pelan, lampu-lampu kantor polisi Seoul satu persatu dimatikan hanya beberapa yang dibiarkan hidup. Setelah 2 jam tambahan menemani Eunhyuk di interogasi akhirnya Hyunra menyuruh Donghae pulang terlebih dahulu dan membiarkan Eunhyuk berbicara dengan kakak kandungnya lewat perbatasan jeruji besi.

Eunhyuk mengangguk paham, ia perlahan berjalan menuju sel-sel tahanan sementara yang entah akan di pindahkan ke rumah tahanan tak jauh dari pusat kota atau mereka dibebaskan karena tidak bersalah maupun membayar denda—Yang terakhir apabila kelalaian pengemudi mabuk. Hyukjae disana, temaram lampu meja-meja detektif utama membiaskan ke arah pria itu.

Belasan pelanggar hukum lainnya sudah tertidur. Hyukjae di khususkan penjara sementaranya, karena pria itu pernah jadi buronan penembak maut terhadap presiden direktur perusahaan elektronik 4 tahun lalu dalam usia remaja menuju dewasanya.

Pihak kepolisian cukup khawatir apabila Hyukjae berulah pada tahanan lainnya walau besok keputusan ia terbebas ah tidak mungkin.. Atau pergi ke rumah tahanan. Rumah pertamanya di dunia, cukup lucu mengingat hal itu.

Hyukjae mendongakkan kepalanya, menatap wajah begitu bugar serta sehat milik adiknya. Sesaat kemudian ia tertunduk lagi, rasa malu merayapi kuduk hingga telinganya.

Eunhyuk hidup normal sedangkan dirinya harus hidup dalam gelimang kegelapan dan ketakutan seumur waktunya di dunia.

Mereka lahir dalam rahim yang salah. Ibunya dengan kejam membuang bayi kembar tak berdosa itu kedalam tong sampah jauh dari rumah penduduk juga keramaian. Hingga akhirnya tangan Tuhan lebih tahu harus diperhitungkan kah dua bayi tak berdosa itu oleh kedatangan seorang ibu berumur 30 akhir yang tak sengaja hendak membuang sampahnya.

Ternyata wanita setengah baya itu seorang pemilik panti asuhan kecil.  Sang ibu panti baru menemukkan secarik kertas yang sudah menyatu dengan keranjang bayi dari lilitan kayu lembut itu setelah 15 tahun lamanya. Seseorang yang diduga ibu kedua bayi malang tersebut sudah memberi mereka nama. Lee Hyukjae, Lee Eunhyuk. Hyukjae bayi dengan tahi lalat di bibir sedangkan Eunhyuk bayi dengan wajah seterang bintang subuh.

Bahkan secara gamblang penulis surat memberitahukan bahwa namanya adalah Hwang Sun Hee. Pastilah ada suatu masalah yang membuat wanita itu membuang anaknya tapi kenapa harus di tempat pembuang sampah? Bahkan jauh dari khalayak ramai. Seharusnya jika ia menyayangi anak-anaknya sang penulis pasti akan menaruh keranjang bayi kembar tersebut ke sebuah panti asuhan atau rumah penduduk.

Hyukjae diam-diam mengintip apa yang dilakukan ibu panti asuhannya. Ia membenci wanita tua itu, salah satu alasannya selain  di kucilkan temannya kecuali sang kembarannya Eunhyuk kalau ia tak menganggap panti asuhan sebagai rumahnya.

Diam-diam Hyukjae membaca surat tersebut. Hwang Sun Hee, entah kenapa sifatnya begitu pendendam di usia 15 tahunnya.

Hingga bocah laki-laki itu seolah bertransformasi menjadi seorang pembunuh berdarah dingin lewat serangkaian cara membunuh yang ia lihat diam-diam sepulang sekolah menengah atasnya di sebuah tempat penyedia internet .

Ia dendam pada Hwang Sun Hee, bukan itu saja… Ia juga tahu segala hal mengenai siapa itu Hwang Sun Hee dan bagaimana keluarganya. Hwang Sun Hee seorang putri pewaris tunggal perusahaan kosmetik tersohor di korea selatan.

Rasa geramnya begitu meletup, tidak seperti Eunhyuk. Ia tak menikmati masa sekolah menengah atasnya sebagai siswa baik maupun nakal sedikit diluar batas. Ia penyendiri di kelasnya, ketika Eunhyuk mengajak sang kakak makan bersama Hyukjae menurutinya tapi syarat dari pria itu hanyalah makan berdua saja. Tidak boleh Eunhyuk membawa teman-temannya yang lain, bagi Hyukjae Eunhyuklah manusia yang dapat ia percaya di dunia ini.

Hingga akhirnya Hyukjae putus sekolah, laki-laki itu berhenti setengah tahun sebelum acara kelulusan dimulai. Eunhyuk selalu menolak keputusan berdasarkan pembalasan dendam kakaknya tapi Hyukjae ikut melawan balik. Mengambil pemikiran bahwa hidup mereka bahagia setelah ini.

Hyukjae akhirnya keluar dari panti asuhan pula, pria itu mulanya bekerja di klub. Memukul pria hidung belang yang mengejek tubuh kurus serta ia pantas jadi seorang gigolo dengan bayaran tinggi sampai pria itu ditawari seorang ketua mafia kuat di daerah Seoul.

Menjadi anak buah sampai pembunuh bayaran ia lakukan dari umur 18 tahun. Keahlian tanpa belas kasihannya sangat tersohor di kalangan mafia se-Korea selatan tanpa mereka ketahui identitas asli Lee Hyukjae.

Hyukjae pun diam-diam mengirim uang ke rekening adiknya yang sedang menjalani hidup bak manusia normal. Ia masih teramat sayang dengan Eunhyuk, ia peduli karena mereka dalam satu aliran darah yang sama.

Di umur 20 tahun Hyukjae berhasil melakukan balas dendam. Dengan terbunuhnya presiden direktur perusahaan elektronik yaitu suami baru Hwang Sun Hee. Kemana ayah mereka? Dengan kejamnya Hwang Sun Hee menceraikan ayah mereka hanya karena pria itu tidak punya harta. Tidak, tidak karena alasan dramatis akibat tak direstui. Ini kenyataan, ia mendengar langsung dari Hwang Sun Hee sendiri sebelum melakukan pembunuhan berencana terhadap mobil mewah wanita itu yang di potong kabel rem nya.

Hwang Sun Hee bukan seperti dogma kebaikan yang ibu panti asuhan serukan pada mereka berdua tiap minggu siang. Hwang Sun Hee seorang sosialita sombong, sebab itu pula Hyukjae mengatakan bahwa mereka lahir di rahim yang salah.
Rahim yang salah.

Ia menghirup udara bebas setahun lalu karena terlalu banyak orang dalam yang mengenalnya begitu pula koneksi luas ketua geng yang menyayanginya sebagai ‘praying mantis’ seperti drama ‘Last’ yang setia melakukan perintah ketua geng tua Bangka tersebut dalam hal apapun bahkan tak segan membunuh 5 anggota keluarga lalu mencabik tubuh mereka tanpa jejak.

Ia tak mau kembali masuk dunia normal. Biasanya seseorang setelah masuk penjara pastilah ingin bertobat atau membayar kesalahan mereka. Namun ia masih ingin bermain dengan kegelapan. Dan saat itu juga ia bertemu dengan pengurus klub illegal, mr.Han.

“Lama tak bertemu hyung.” Eunhyuk memulai percakapan.

“Hm, kita bertemu natal tahun lalu.” Jawab Hyukjae serak, ia mendongakkan kepalanya.

“Kupikir kau tidak berurusan lagi dengan dunia kotor itu hyung. Bagaimana dengan uang yang selama ini kupakai apa..”

“Yah, itu hasil pembunuhanku selama ini.” Eunhyuk tercekat mendengarnya.

“Aku tak butuh uangmu, aku butuh dirimu sebagai kakakku dan kita hidup normal berdua. Kenapa kau tidak pernah bisa mengabulkan permintaanku hyung?” Tanya pria bergusi merah itu tak sanggup, ia memegang kencang jeruji besi yang dari bantuan sinar lampu-lampu di meja kerja para detektif tampak mengkilap.

“Aku ingin kau hidup bahagia dan aku sebagai bayanganmu.” Eunhyuk menatap kakak beda beberapa menitnya perih.

“Kau bukan bayanganku hyung.. Kita saudara.” Suara tawa miris memenuhi jeruji besi itu, Hyukjae yang terduduk di pojok ruang nan dingin mulai menyenderkan tubuh jangkungnya pada dinding terkelupas suram.

“Seseorang yang sudah terhisap dendam tak akan pernah kembali dengan rasa kepuasan tinggi pada dunia penuh masyarakat. Fakta itu perlu kau ketahui Eunhyuk, aku sudah diliut dendam sejak masih remaja. Hwang Sun Hee memang pantas menerimanya, kau begitu tahu dendamku. Perlahan rasa amarah itu kusalurkan pada hobi menyimpangku yaitu membunuh.

Aku memang tak pernah melecehkan perempuan, tapi dapat menghancurkan hidup orang-orang tak bersalah dengan hobi gilaku itu. Kau juga paham bagaimana rasa senang manusia kurang waras sepertiku jika berhadapan dengan orang lemah bahkan terlampau kuat bagi tubuhku. Aku sakit hyuk, aku tidak bisa masuk kedalam masyrakat lagi, “

Entah mengapa ucapan pria itu menimbulkan hal dalam kedua mata Eunhyuk. Pria itu menahan air matanya keluar. “Kumohon katakan padaku. Bukan dirimu kan yang membunuh pengawal Kang, atau menusuk sopir pribadi Lee Eunji apalagi melukai Eunji tadi? Eo?? Kumohon itulah kebenarannya kan???” Desak Eunhyuk.

Ia berharap dunia paradoks benar adanya di dalam kenyataan. Ia berharap Hyukjae akan mengatakan ‘bukan’ walau fakta menyatakan ‘benar’.

“Itu diriku, kau jelas tahu Eunhyuk. Rasa sakit kita pada wanita sialan itu serta keluarganya yang berbahagia diatas penderitaan kita telah lama selesai, sekarang aku harus menebus dosaku. Meski nantinya hobi gilaku akan tubuh kaku di bawah kendaliku akan timbul lagi,  kupastikan pulang merangkulmu sebagai konteks ‘seorang kakak’ yang sebenarnya. Jadi sekarang pergilah, kau sudah mendengar pengakuanku.”

“Hyung,” Sial, air matanya keluar.

“Pembunuhnya adalah diriku.”

“Kau bohong, pasti ada yang menyuruhmu.”

“Yah, dan itu mr.Han. Hanya dia yang bisa memerintahku,”

“Ah satu lagi, ada satu korban lagi di hutan. Kubuang gadis malang itu di semak-semak sekitaran perbatasan Seoul. Aku terlalu kasihan dengan pekikkan tak bersuaranya, selamatkanlah jika ia tidak terlindas tronton atau mobil minyak bumi.” Eunhyuk membelalak kaget. Seorang gadis? Siapa??

Pria itu segera menelepon nomor Kyuhyun.

**

Cho Kyuhyun, mungkin adalah pria kesekian kalinya yang tertidur lebih dulu daripada wanita yang sebenarnya harus ia jaga semalaman disamping pria itu. Yah faktanya kini malah Eunji memberikan lengan mungilnya untuk dijadikan bantal pada kepala pria tersebut.

Kyuhyun tertidur seperti bayi 5 bulan sebelumnya. Pria itu tidak bergeming sama sekali ketika suara deringan ponsel yang bahkan membuat Eunji terkesiap dan mengangkat jemari tangannya dari helaian rambut pria itu—Sedikit keriting tapi begitu lembut untuk disisir.

Eunji menoleh kearah ponsel Kyuhyun. Ponsel warna gold berbahan metallic itu tepat bergetar di samping ponsel warna senada miliknya tapi berbeda merk raksasa tersebut. Gadis itu pernah berkhayal hal kekanakkan sebelum ia mengetahui perasaan Kyuhyun yang telah berubah padanya.

Hal kekanakkan itu berupa ‘tanda jodoh’ lewat barang yang mereka gunakan. Benar-benar seperti anak kecil bukan?

Contohnya saja pakaian yang mereka gunakan. Kejadian itu bermula tahun lalu, ketika musim panas. Eunji diam-diam memperhatikkan Kyuhyun dari kejauhan bukan lelah akibat usiran pria itu melainkan ia untuk  hari tersebut hanya ingin menatap ‘pria’ nya dari jauh saja. Ia melihat setelan santai warna ungu yang Kyuhyun gunakan begitu pula jeans yang ia lekatkan pada tubuh agak berisinya, kemudian menoleh lagi kearah pakaiannya. Warna baju dan celana mereka sama. Mungkinkah mereka berjodoh?

Kemudian ia tak pernah menyangkal bahwa apa yang mereka gunakan jika itu sama, berarti mereka jodoh. Kejadian kedua adalah saat ini. Ia tak banyak berharap lagi, karena ia tahu Kyuhyun sama menyukai gadis itu. Ponsel mereka sama warna tapi berbeda merk—Ini jodoh. Lee Eunji dan Kyuhyun sungguh berjodoh—Diluar ekspetasinya hal kana-kanak itu kembali merayapi pikirannya untuk sekadar berpikir lagi. Ia pikir hanya karena sebuah barang yang sama, mereka dapat dikatakan berjodoh.

Eunji berhasil mengambilnya, mula-mula ia melihat siapa yang menelepon Kyuhyun pada pukul 10.30 malam tersebut. Bukan seorang wanita, ia adalah Lee Eunhyuk dengan nama ejekkan dibelakangnya ‘Eunhyuk si ekor monyet’ Eunji berdecak tak percaya. Sudah jelas Eunhyuk sahabat karib pria itu sejak masuk kuliah tapi kenapa ia harus mengejeknya seperti itu?

Lagipula evolusi manusia sudah melewati ‘kata’ monyet di abad menuju akhir ini. Eunji menggeser ikon warna hijau ke kanan. “Halo.”

‘Ha? Ohh sepertinya ini Lee Eunji. Bisakah kau menyampaikan ucapan pentingku ini pada Kyuhyun? Ahh, kenapa aku harus menelepon Kyuhyun dulu!! Seharusnya aku panggil saja polisi di luar. Polisi!! Polisiii!!!!!’ Eunhyuk sangat panik hingga gadis itu mengerutkan dahinya bingung. Rasa pusing lagi-lagi merayapi otaknya karena pria tersebut berteriak. Ia memang seperti seekor monyet.

‘Pak ada satu korban lagi dan mungkin masih hidup di daerah perbatasan Seoul. Dia seorang wanita dan tubuhnya di buang ke semak-semak oleh tersangka utama pembunuhan sadis di pulau Jeju itu… KLIK!’ Seorang wanita? Ada korban lagi?? Eunji langsung menutup sambungan telepon.

Ia sudah menduga-duga dari tadi. Gadis itu menatap Kyuhyun sekilas, ada rasa tak enak membangunkan Kyuhyun yang baru tertidur 15 menit lalu. Namun hal ini jauh lebih penting sekarang. “Kyu.. Kyu!” Eunji mengguncang tubuh Kyuhyun perlahan. Awalnya pria itu cuma melenguh panjang,sedetik berlalu ia pun tersadar sendiri.

“Hm? Kenapa Eunji?? Kau butuh sesuatu?? Apa si kecil ingin sesuatu??” Tak seharusnya ia meras tersanjung bahkan pipinya merona kala ini. Tapi respon tubuhnya mengatakan keterbalikan, sampai ia nyaris lupa akan sesuatu yang ia harus sampaikan pada Kyuhyun.

“Kyu,  Eunhyuk baru meneleponmu dan maaf sudah mengangkatnya tanpa izin. Temanmu bilang ada seorang korban lagi, juga sepertinya ia masih hidup sekarang.” Mata sipit pria itu berangsur besar layaknya bola pingpong saat Eunji mengucapkan kalimat buruk dalam kasus pengincaran harta ini ‘korban’ bahkan lagi.

“Apa? Kenapa kau tidak menghubungi Hyunra.. Eumm kau jelas tahu kan Hyunra seorang detektif??” Tanya Kyuhyun tetap dalam nada khawatir sekaligus resahnya.

“Iya, aku tahu. Tapi ponselku mati sejak pria berpakaian hitam itu mendorong tubuhku ke aspal Kyu.” Gumam Eunji pelan. Kyuhyun menggerutu karena bibir cerewetnya. Bagaimana ia dapat melupakan kenyataan ukuran kecil itu??

“Mian, eum?? Yasudah, biar aku yang menelepon adik sepupumu.” Kyuhyun menenggadahkan tangannya, Eunji mengerti ia meletakkan ponsel pria itu ke atas tangan hangatnya.

Kyuhyun pun mencari kontak Hyunra yang gadis itu berikan padanya ketika pria Cho Kyuhyun serta Han Chaerin diberi sebuah misi untuk menjebak tuan juga nyonya Han. Misi kecil beberapa waktu lalu.

**

Hyunra menghidupkan saklar lampu ruang tamu rumah Eunji. Ruangan begitu gelap, yang ia dapat baui hanya aroma tajam alkohol serta kulit kacang panggang menguar di seluruh tempat remang-remang didepannya. Saat saklar seluruh lampu ruang tamu rumah Eunji hidup. Hyunra tahu asal aroma itu darimana. 5 meter dari tempatnya melepas sepatu, Heechul duduk diatas meja ruang makan besar.

Degan berbotol wine, tequiella, bahkan arak tradisional yang warnanya putih kecoklatan. Lalu belasan batang puntung rokok tinggal setengah sudah tertata dalam keadaan terbalik diatas asbak kaca ukuran besar.

Gadis berwajah manis itu tahu penyebabnya, Hyunra segera mengambil botol yang hendak Heechul tegak cairan didalamnya entah untuk kesekian kalinya.

Pria itu menatap wajahnya bersama dua iris mata coklat lumayan terangnya memerah di area putih. “Haa.. Kau kembali Hyunra?? Bagaimana~~ Apa Rin Rin ditemukan~~~” Tanyanya sedikit bernada aneh. Hyunra menghela nafas pelan.

“Jangan campuri urusan pihak kepolisian oppa, biarkan kami yang mengatasi semuanya.” Hyunra mengambil kantung plastik di salah satu tempat. Pasti cemilan ini tak ia dapatkan didalam rumah Eunji, lalu Hyunra memasukkan seluruh sampah bahkan botol-botol tequila yang Heechul mungkin dapatkan dari gudang anggur keluarga Lee.

“Seharusnya aku pulang ke London sebelum mengenal Rin Rin~ Ah tidak, tidak… Seharusnya aku tidak bertanya waktu it~~U tentang~~ Tentang siapa gadis pendiam~ di sebelah rumah~ Aku juga tak perlu mengerti rahasiamu sebagai~ Sebagai orang kepercayaan negara iniiiii~~ Kenapa… Kenapa aku harus tersiksa begini Hyunra!! Atau shht… Jangan-jangan karena Rin Rin orang yang berhasil menangkap hatiku!?? Ahah~~ Haaa..”

Kim Hyunra baru akan menjawab tapi dering ponselnya berbunyi. Ia angkat plastik ukuran medium itu turun dari meja kaca. Meja cukup bersih saat ini. Setelah itu tangan kirinya merogoh saku celana bertugasnya.

Cho Kyuhyun? Oh Tuhan, ia hampir lupa bahwa ia harus menyeret Heechul yang tidak tahu apa-apa ke rumah sakit karena Eunji diserang langsung oleh seorang pria misterius dan ternyata dugaan Hyunra benar kalau pria misterius adalah kembaran Lee Eunhyuk. Seorang pembunuh bayaran tanpa jejak dari kelompok sesat bernama burung hantu malam.

“Halo Kyuhyun-ssi.”

‘Kau dimana sekarang Hyun? Kumohon jangan bersikap formal di luar kerja luar biasamu itu. Ini berita penting. Eunhyuk meneleponku dari kantor pusat.’ Kenapa? Mungkinkah kebaikannya untuk membiarkan Eunhyuk berbicara dengan Hyukjae malah menjadi petaka dan Hyukjae lolos kemudian saat di persidangan ternyata Eunhyuk yang menggantikannya? Pikiran Hyunra akan melayang kesana tapi ia menggelengkan kepala keras.

“Di rumah oppa.” Sesuai permintaan Kyuhyun, pikirnya.

‘Dapatkah kuganggu waktu istirahatmu lagi Hyunra?? Ada korban lagi, dia seorang wanita dan sang pelaku membuang tubuhnya ke ujung perbatasan Seoul arah jembatan Banpo. Ia juga bilang gadis itu masih hidup. ‘ Mungkinkah…

“Baik oppa, aku mengerti.”  Hyunra hendak mematikkan telepon namun suara ejekkan Eunji membuatnya tersenyum.

“Aku pasti membayar penjelasan panjang padamu eonnie dan aku berjanji akan membayarnya setelah kisah rumit ini berakhir.” KLIK. Hyunra mematikkan teleponnya, ia menjatuhkan begitu saja bungku plastik yang nyaris penuh itu ke lantai sehingga beberapa botol tipis pecah begitu saja.

“Yakh! Kau mau kemana~~”

“Oppa, cuci mukamu sekarang. Dalam waktu 30 detik kau harus menyusulku ke depan jika kau ingin tahu keberadaan Rin Rin.” DEG! Mata sayunya seakan dapat energi kafein dari dunia lain. Pria itu membesarkan matanya kaget.

“Rin! Rin Rin sudah ditemukan!!”

“Cepat! Halo.. Kantor pusat aku butuh bantuan kalian mala mini, masukkan juga divisi orang hilang untuk melacak ponsel atau identitas wanita dengan nama Lee Rin Rin.” Usai menyuruh Heechul ke kamar mandi sejenak, ia segera menelepon nomor praktis kantor kepolisian Seoul dan menghubungi salah seorang petinggi disana.

Apakah ini kasus penutup tahun bagi mereka?

**

Ada 3 mobil SUV hitam dan 2 mobil polisi bergerak cepat dari pusat kota Seoul menuju perbatasan bagian lain ibukota negara ginseng tersebut. Mereka nyaris sampai, dengan sirine memekakkan serta kecepatan mobil rata-rata tinggi yang membuat beberapa mobil biasa harus menepi dan menunggu kejadian apa yang hendak ditayangkan keesokan harinya pada salah satu atau lebih stasius swasta tv se-bagian selatan Korea.

Ke-5 mobil menggunakan sirine nya masing-masing. 2 mobil polisi dengan sirine memekakkannya terlebih dahulu melaju sedangkan ketiga mobil SUV hitam dengan sirine warna oranye kemerahannya seolah dikawal dari belakang.

Deretan pohon-pohon maple mulai menguning dibagian sisi-sisi jalan aspal besar. Ratusan daunnya kian mempersuram kesan perbatasan Seoul sebagai tempat mengerikan apabila terlewati turis maupun penduduk ibukota menuju ke tempat lain.

Gelap tanpa satupun bantuan penerangan lampu jalan seluruh anggota polisi termasuk Heechul rasakkan. Siapa yang mau tinggal di tempat seperti ini? Tanyanya ngeri. Dapat dipastikan ‘orang hilang’ di Korea terlalu banyak ditemukan jika pemerintah lebih tegas lagi dalam hal pencarian, disini.

Mobil polisi paling depan berhenti, salah seorang petugas keluar dan memberi hormat pada Hyunra, Hyunra mengangguk. Lalu mobil lainnya terus berjalan.

30 meter kemudian, mobil polisi lainnya berhenti di pinggir jalan. Dan seterusnya hingga semua mobil menyusuri tiap jalanan berkilo-kilo meter itu hanya dengan sebuah alat penerangan pada masing-masing pihak pencari korban.

Heechul keluar setelah mobil yang ia tumpangi bersama Hyunra berhenti. Ia tak takut akan dingin juga bagaimana menyeramkannya hutan tempatnya berdiri.

Tatapan liarnya mengarah kearah manapun, tanpa Hyunra perintah pria berwajah menawan tersebut berlari kencang kea rah semak belukar yang berbatasan dengan pagar kawat pemilik tanah. Ia tidak mempedulikan celana jeans belel pemberian guru bidang modelnya di London tersobek hingga lutut kirinya berdarah—Ia cuma ingin kepastian penuh  fantasi kalau Rin Rin masih bernafas dimanapun itu.

Gadis yang hanya sendirian diantara seluruh petugas laki-laki itu berkacak pinggang, membiarkan kakak sepupunya menggila sesaat. Apabila ia lelah, Heechul pasti berhenti. Bahkan mendengar saran bawahannya tidaklah membuat Hyunra berlunak hati untuk menghentikan Kim Heechul.

Karena pikiran mereka sama, mereka ingin Rin Rin hidup dimanapun itu.

Heechul terus mencari.. Mencari.. Mencari

Hingga nafasnya tercekat di semak-semak bagian kiri yang mulai didekati petugas lainnya. Suara gumam ‘tolong’ 3x lebih menaik-turunkan kedua daun telinganya. Awalnya ia ragu, mungkin saja orang gila bersembunyi di tempat semengerikan ini atau lebih gilanya itu adalah seorang arwah gentayangan dan meminta tumbal seorang pria lajang sepertinya.

Namun kakinya tak sejalan, ia malah terus melangkah. Kedua tangannya ikut berkhianat, tangan  putihnya mendapat inisiatif dari hatinya untuk menyingkap semak berduri walau resiko terkena amukkan manajernya nanti begitu besar ketika ia memutuskan pulang ke London—Ia jelas akan hilang kesempurnaanya. Bahkan bibirnya keluh mengucapkan kata ‘Hei! Disini ada orang!!’ begitu susah.

DEG!! Heechul menaikkan tingkat terang lampu senternya. Seorang wanita terbaring lemah pada bulatan semak, tubuhnya seakan terbalut oleh semak-semak penuh diri sehingga dedaunan menempel di wool krimnya dan satu yang membuat Heechul nyaris terjatuh shock wajah gadis tersebut berlumuran darah sampai Heechul tak mengenali wajahnya tapi ia tahu gadis itu siapa.

Dia Lee Rin Rin, Heechul tak berpikir apapun lagi. Ia memperlebar jalan masuk setengah tubuhnya kedalam semak-semak yang entah kenapa begitu pas bagi tubuh kecil gadis itu, ia menariknya sembari menahan pekikkan sekaligus tangisannya.

“Rin-ah, kumohon bertahanlah hm?” Sinar rembulan menyertai penerangan lampu pegang itu, ia mulai nampak jelas wajah gadis malang tersebut.

“Hei!! Heechul-ssi menemukkan gadis itu!!” Seluruh petugas termasuk Hyunra segera berkumpul kearah Heechul yang memegang lembut kepala Rin Rin menggunakan kedua tangan hangatnya.

Penerangan berkali-kali lipat bertambah. Hyunra membekap bibirnya tak percaya.

“Op..Pa.. ka..u kah.. Shhh…saki…t.” Heechul perih mendengar panggilan lemah Rin Rin. Ia memang gadis pemalu, tapi tak serendah ini suaranya.

“Shhtt.. Kumohon jangan bicara eo? Ayo kita ke rumah sakit. Orang itu harus mendapat ganjarannya.” Heechul menitikkan air mata pertamanya setelah belasan tahun lamanya ia belum pernah se -mellow ini. Memeluk gadis itu sejenak lalu membopongnya pergi diikuti petugas lainnya.

Hyunra menyusul bertepatan dengan getaran pada ponselnya. Ia merogoh saku pakaian sore tadi. Membuka pesannya.

‘Selamat malam detektif Kim Hyunra, maaf mengganggu waktu istirahatmu karena kami tidak bisa menghubungi detektif Henry Lau sejak pukul 9. Kami akan menyampaikan hasil penyelidikan di sekitar tempat kejadian perkara yaitu di perbatasan Seoul. Kami telah mengecek bagian gudang bawah tanah, seluruh kamar kosong bahkan studio foto pribadi tuan Park di lantai 2. Kami tidak menemukkan hal janggal sama sekali. Sebaliknya tuan Park memberi tahu kami bahwa pembantu satu-satunya tuan Park menjadi saksi utama kejahatan yang dilakukan tuan Lee Hyukjae.’

“Hyunra! Kau menunggu apa lagi?” Teriak Heechul frustasi. Hyunra tidak bisa menerima kenyataan ini begitu saja, ia begitu mencurigai Bo Gum karena pria itu mengundang Eunji tanpa mengundang Kangsil yang notabene-nya sahabat pria itu juga.

“Oppa, aku akan naik mobil terakhir. Kalian duluan saja.”

**

Hyunra masuk kedalam rumah besar milik Bo Gum. Ia memang tidak satu sekolah dasar dengan Bo Gum atau Eunji tapi ia tahu jelas pria ini menyimpan rahasia dalam bola mata ramahnya. Ia melihat Bo Gum sekali waktu itu, Bo Gum mengantar Eunji ke rumah.

Di ruang tamu pemandangan yang ia lihat malah seluruh petugas duduk nyaman sembari menyeruput teh hangat dengan cangkir era klasik yang begitu mahal harganya dan sesekali pemilik rumah mengajak petugas-petugas itu tertawa.

“Eo? Detektif Kim, selamat ma…”

“Jangan berbasa-basi. Aku akan melihat ruang lantai duamu atas nama detektif pusat.” Hyunra berjalan cepat kearah tangga spiral rumah unik pria itu.

Bo Gum mengikutinya dari belakang, petugas-petugas juga berhenti mengunyah kue yang ‘tuan Park’ sediakan.

Hyunra membuka satu persatu pintu berjejer.
“Silahkan detektif Kim.” Hyunra tak sadar Bo Gum sudah dibelakangnya. Hyunra berhenti sejenak dari kelakuan tangan beringasnya memutar kenop mahal milik kamar ketiga yang ia lihat.

Kosong, tapi Hyunra mencium aroma pengawet mayat yang begitu kuat dari sana.

“Kenapa aroma formalin begitu menusuk didalam tempat ini?” Bo Gum tidak menampakkan tanda kegugupan seorang pembohong bodoh. Ia jelas pembohong ulung, pikir Hyunra.

“ah, itu bukan formalin nona detektif. Pembantuku hari ini mulai membersihkan ruang-ruang kosong menggunakan pembersih lantai tanpa aroma tambahan.” Senyum Bo Gum tanpa dosa maupun beban.

“Nona Kim kami bersungguh-sungguh, tidak ada apapun di rumah tuan Park…” Akhirnya para petugas sampai ke lantai dua. Sudah tiga pintu yang ia lihat dalamnya, lalu mereka baru sampai? Oh, perut mereka terisi penuh oleh kelicikkan seorang ‘tuan Park’

“Kenapa ia harus membersihkan daerah ketiga lantai dua? Sedangkan dari tangga spiral lebih mudah membersihkan kamar bagian kiri ruangan? Aku benar kan??” Tanya Hyunra berusaha memojokkan Bo Gum.

“Yah kau benar, tapi tugas pembersihan itu terserah pada pembantuku.”

“Dan seharusnya pula kamarmu lah yang ia bersihkan terlebih dahulu.” Bo Gum kian lebar senyumnya.

“Aku tidak suka aroma pembersih itu jadi ia akan membersihkannya di akhir minggu karena aku akan pergi ke studio pusat seharian penuh.”

“Benarkah?” Hyunra masuk cepat, ruangan itu sungguh kosong. Hanya sebuah ranjang rendah menggunakan atap rendah warna hijau zamrud, dari depan jendela gorden krim menyambut kedatangannya. Bo Gum menyembunyikkan sesuatu, entah itu binatang illegal atau gilanya lagi jasad manusia yang membusuk sehingga ia harus mati-matian membersihkan seluruh ruangan agar pihak kepolisian tidak mencium aroma busuk sebuah jasad.

Pasti… Hyunra menghela nafas pelan. Ia melangkah berat keluar, terakhir ruang paling ujung yaitu ruangan pribadi Park Bo Gum. Ada bagian menojol selain kamar mandi disana. Ia membukanya.

Membuka studio pribadi nuansa merah itu pelan, membuang kain penutup tiap foto. Tidak ada.. Tidak ada hal janggal apapun.

Bo Gum sekali lagi tersenyum, mempesona namun tidak membuat Hyunra terkesima.

“Bagaimana nona detektif? Tidak ada apapun kan?? Kalian boleh menginterogasi pembantuku ini sebagai saksi utama kejadian itu.”

“Dimana kau saat Eunji terluka?” air wajah Bo Gum datar. Tidak terkejut atau seakan ketahuan.

“Aku sudah beranjak ke kamar mandi lantai dua.”

“Kamar mandimu punya jendela yang menghadap langsung ke jalanan depan rumahmu bahkan menghadap langsung kea rah kejadian itu sedang terjadi. Bagaimana kau tidak melihatnya? Atau jangan-jangan kau sengaja membiarkan sahabat masa kecilmu disiksa oleh tuan LHJ hingga perutnya ditusuk?”

Bo Gum tertawa pelan, semua orang menunggu jawabannya sedangkan Hyunra mulai bangga akan diri sendiri. “ Pada detik Eunji pergi, aku langsung beranjak ke dalam rumahku. Dari ruang mengganti sepatu sampai ke kamarku membutuhkan waktu 5 menit lamanya kemudian aku akan ke kamar mandi 2 menit kemudian, sedangkan Eunji dari pintu rumahku menuju mobilnya 3 menit membutuhkan waktu dan 1 menit ke luar pagarku. Kau pasti bertanya apa yang kulakukan 3 menit setelahnya? Kau juga pasti berpikir dalam waktu 3 menit itu aku akan melihat kejadian tanpa berniat menolongnya,

Dengar nona detektif, kamar mandiku terbagi atas dua jalur. Yang menghadap jendela adalah tempat bak mandiku sedangkan bagian yang menempeli dinding ujung adalah pintu kaca tebal showerku. Tapi aku memilih kamar mandi dengan shower waktu itu, Semenit  masuk kamar mandi 2 menit lainnya  kulepaskan bajuku. Kau pikir, aku dapat mendengar teriakkan sahabatku sendiri? Jika kudengar, lalu dengan tidak manusiawinya kau pikir aku akan membiarkannya terluka???”

Semua orang dibelakang gadis itu mengangguk setuju, Hyunra tertawa pelan.

“Tuan Park apa kau sedang..”

“Dan juga, apakah kau berhak menayaiku hal itu untuk saat ini tanpa sebuah bukti?? Kuharap kau terima rasa bersalahku terhadap apa yang terjadi pada Eunji. Besok akan kujenguk dia di rumah sakit, kalian boleh pergi sekarang.” Hyunra membuang nafasnya sangat kuat. Ia melenggang tanpa permisi ke tangga, petugas lain mengekori dari belakang.

Satu hal yang membuatnya kian yakin akan Park Bo Gum dalang dari semuanya.

Gadis itu tak sengaja melihat raut wajah takut dari pembantu  pria tersebut.

Sepertinya ia menemukkan kejanggalan.

**

Beberapa orang berpendapat bahwa cinta tak seharusnya memiliki jika ia tak ditakdirkan untuk selalu bertemu denganmu baik itu secara kebetulan atau disengaja.

Kyuhyun menutup ebook pemberian Eunhyuk hari-hari sebelumnya. Pria itu terlalu puitis dengan wajah girang anehnya dan ia terlalu kaget akan kenyataan lain bahwa Eunhyuk memiliki kembaran. Pria itu tidak pernah mengungkit masalah keluarga karena ia hanya bercerita sebatas pengalamannya hidup di panti asuhan hingga memulai usaha kafe sendiri dari tabungan beasiswa.

Pagi telah datang. Tak terasa berjaga semalaman untuk kedua kalinya akan secepat ini.

‘Cklek’ Bunyi kenop pintu kamar mandi sebanyak dua kali. Kyuhyun menolehkan kepalanya dari tangan kiri yang baru memencet tombol off pada ponselnya. Eunji tampak segar bersama balutan pakaian pasiennya. Dokter memberitahukan pria itu sebelumnya kalau Eunji tidak diperbolehkan pulang dahulu.

“Eo? Kau belum juga pergi? Bukankah biasanya kau pergi kuliah jam segini??” Tanya Eunji bingung.

“Untuk apa rajin-rajin ke tempat kuliah  ? 4 hari lagi kita wisuda dan perlu kau ingat kalau kedatanganku membuang waktu saja apalagi sejak kedatangan mahasiswa semester 1 bernama Oh Sehun, Ji Sung .. Mereka membuatku seperti cumi kering.” Gerutu Kyuhyun. Eunji tertawa pelan.

“Apakah tuan Cho Kyuhyun merasa terancam?” Senyumnya mengembang, Kyuhyun terpana cukup lama. Dalam pikirannya sungguh bersyukur karena dapat menghilangkan secara perlahan sifat pengecutnya.Mulai kini,  ia sudah mengatur masa depannya dengan orang itu.

Dia Lee Eunji.

Walau nanti harus dibilang menikah muda, namun ia tak ingin cuma dicap sebagai pria hilang masa depan.

Eunji gadis yang ia cintai.

“Oh iya Kyu, kau tadi mengatakan acara kelulusan kita 4 hari lagi? Kira-kira bagaimana bayiku?? Mungkinkah nanti ia seperti bayi dalam kandungan Belle?? Ia membesar begitu cepat??? Bagaimana pakaianku nanti??” Tanya Eunji, ia tidak sedang bercanda. Matanya sudah bergerak gelisah kearah manapun, handuk kecil pada tangannya terlempar nyaris kearah wajah segar Cho Kyuhyun usai membersihkan tubuh sebelum gadis itu.

“Jangan membandingkan kehidupan nyata dengan novel fiksi Eunji, Umur kandunganmu baru beberapa minggu, tidak akan sebesar dugaanmu sayang.” Eunji berhenti resah sendiri. Pipinya bersemu merah, ucapan Kyuhyun lagi-lagi membuatnya melayang.

“Hei, hari ini kau keluar dari rumah sakit? Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Keliling kota atau ke istana utama misalnya?? Atau kalau perlu kita berlayar ke pulau Nami??” Pertanyaan Kyuhyun sangat banyak, membuat Eunji meringis sejenak.

Hatinya kian menghangat, bagai mimpi Cho Kyuhyun didepannya bukanlah Kyuhyun yang belasan tahun lamanya mempermainkan perasaanya ah tidak, Kyuhyun tidak mempermainkan perasaanya.

Jelas pria itu menolak kedatangannya namun dengan tak tahu malunya seolah Eunji melawan takdir yang sudah dibuat untuknya sejak dalam kandungan—Seolah takdir bagi jodohnya dimasa depan bukanlah menunjuk kearah seorang pria bernama Kyuhyun.

Ia seakan-akan menentang takdir. Akan tetapi, ia tahu sekarang bahwasanya yang ia lakukan bukanlah menentang takdir melainkan inilah caranya untuk mencapai takdir klimaks itu.

Berjuang mati-matian walau resiko, julukkan berbau hal buruk menimpanya. Cintanya bagi  Kyuhyun tidak berpaling kemanapun, meski selama ini pengusaha kaya dengan daya tarik melebihi calon penerus perusahaan keluarga Cho itu sangat banyak mengantri agar bisa bersatu dengannya dalam segala urusan.

Namun Eunji menolak semuanya.

Mendengar  ajakkan Kyuhyun, Eunji mengiyakan.

Tunggu, tangannya mendadak mengepal erat. Air matanya tertahan di pelupuk. Hei, kenapa Eunji tiba-tiba seperti ini?

“Eunji, kau kenapa..”

“Calon pewaris Cho Corporation hanya mengajakku keliling Seoul? Apa kau sedang bercanda?? Hiks, jahat.” Gadis itu benar-benar menangis. Kyuhyun bingung sendiri, Eunji menangis karena ajakkannya.

“Bukan begitu Eunji, kau sedang hamil sekarang jadi…” Kyuhyun berhenti melanjutkan perkataanya sebab Eunji malah berjalan cukup repot kearah nakas kamar pasiennya, mengambil ponselnya kemudian mengabaikan alasannya.

“Akhir-akhir ini entah kenapa tanganku ingin memukul kepalamu Kyu, entah kenapa.”

Kyuhyun mundur teratur sembari menegak ludahnya keras.

“Tapi, kapan kita menjenguk  Rin Rin? Kenapa rumah sakitnya jau…”

Sedangkan Eunji terus mengoceh selepas marah labil ‘ala ibu hamilnya’ Kyuhyun menyentuh dahinya pusing.

Wanita hamil ternyata memang mengerikan. Seperti perkataan ibunya.

**

Seorang wanita paruhbaya berlari cepat menuju ruang utama kantor polisi. Kondisi tubuhnya mengenaskan, sebagian kepalanya terkelupas dan terus mengeluarkan darah sedangkan pakaiannya kotor diseluruh tempat.

Hyunra kebetulan disana, ia tengah memeriksa hasil perkembangan jawaban dari pelaku pembunuhan sadis di Jeju dan keterangan saksi yaitu Eunji lewat skypee karena gadis itu tak bisa datang ke kantor polisi.

Matanya membelalak kaget ketika wanita paruhbaya itu mendatangi meja salah seorang detektif. Ia mengenal wanita paruhbaya ini, cukup familiar beberapa hari ini.

“Detektif aku ingin mengakui sesuatu… Kumohon, Kumohon selamatkan aku.”

“Oh Tuhan, panggil ambulan sekarang. Ahjumma tenanglah eo? Kau sekarang aman di kantor polisi, siapa yang mengancam anda?” Tanya Hyunra merasa tak takut menenangkan wanita yang sebentar lagi akan pingsan disebabkan darahnya mengucur keras dari kepala.

“Tuan Park, Tuan Park adalah pria gila… Dia nyaris membunuh nona Lee lewat Hyukjae… Kumohon, lindungi akuuu…”

Mungkinkah tuan Park adalah Park Bo Gum?

**

Sore menjemput, Heechul sudah menjaga Rin Rin didalam kamar pasiennya hampir 24 jam lamanya sehingga ia ketiduran akibat lelah.

Tubuh gadis malang itu tidak sekumal sebelumnya. Dan 2 jam sebelumnya orangtua Rin Rin menjenguknya dan berencana menggantikan posisi Heechul tapi dengan posesifnya pria itu tidak memperbolehkan kedua orangtuanya yang sibuk menjaga Rin Rin akibat kelalaian mereka.

Heechul sangat berani, ia tahu apa yang ia lakukan benar. Orangtua Rin Rin meminta maaf dan membantu penyelidikkan dengan cara mengerahkan pengawal mereka.

“Eunggh…” Rin Rin barulah bangun, membuat Heechul ikut bangun waspada.

“Rin kau sudah bangun? Syukurlah.”

“Heechul oppa?”

“Eumm ini aku.”Rin Rin mengerutkan dahinya bingung, ia menatap pergerakkan bibir Heechul cukup kesusahan mencerna perkataan laki-laki itu.

“Kau bicara apa oppa?” Heechul menutup mulutnya cepat, ia bodoh. Kenapa sampai lupa? Kondisi telinga gadis itu sedang tidak baik sekarang. Gendang telinganya berlubang akibat…

Heechul menatap sekilas kearah tangan kirinya. Tangan kirinya terdapat sebuah benang kesat serta tajam. Benang yang ia minta dari ruang operasi.

Benang yang nyaris me-nulikan seluruh pendengaran gadis itu. Pria itu tersenyum miris.

“Oppa…”

Heechul menggeleng pelan.

“Pria gila itu mengurungku, di tempat penuh foto mengerikkan. Ruangan itu menjijikkan dan tiap hari telingaku mengeluarkan darah… Apa kau nyata op…Pa?” Tanyanya pelan sembari bangun dari baring tak berdayanya.

Pria itu langsung menangkap tubuh ringkihnya. “Aku disini Rin, kau masih hidup. Shht, kau aman disini.”

Rin Rin menyentuh salah satu tangan Heechul yang menangkup pipi bulat telurnya.

“Aku bahkan tidak mendengar suaramu, apakah kemampuan khususku hilang? Aku tidak sekeren dulu lagi..Oppa?” Senyum gadis itu lemah.

Heechul menahan tangis. Dipeluknya tubuh ringkih itu dan mengelus puncak kepalanya berulang kali.

“Aku disini, untukmu meski kau tak bisa mendengar suaraku. Aku berjanji.”

Selantang apapun suaranya, Rin Rin tak bisa mendengarnya.

Dan Heechul bersumpah pria itu harus membusuk di penjara.

TBC

Haa.. kemarin ada yang bilang. ‘Masa iya, end nya si Yesung atau Kangsil? Kan nggak seru thor. Tambahin momen Kyu-ji’ hahaha… rencananya di chapter ini end tapi karena tanganku masih terus lanjut ujung-ujungnya malah TBC lagi. Inilah kebiasaanku kalau lagi stuck ff gaje sebelumnya juga begini xD janjinya di chap ini ehhh tetiba di chapter selanjutnya baru end. Hahahaahaaa… Aku labil yah (ecieee daku labil)

Aku nggak pernah janjiin lagi sama kalian buat Kyu-Ji couplenya yah? Aduh, mungkin di chapter selanjutnya baru puncaknya habis dan kalian bacanya lebih santai ketimbang sekarang.

Oke… Di bagian terakhir jangan tanyain actionnya lagi yah? Mungkin… Eumm  aku nggak bakalan spoiler heheee annyeong.

82 thoughts on “Anta and Prota Part 17

  1. Udah jelas, Bogum dalang dari semua ini. Walapun, dia udah penuh dengan dendam, tapi apa iya dia gak ingat sama persahabatan mereka? Ternyata beneran, Hyukjae kembaan Eunhyuk. Duh, siapa yg mirip ini anak biar bisa bayangin? Wkwkwk… Oke, Kyuhyun sama Eunji mulai baikan kayaknya. Henry astaga, biasanya dia pecicilan tapi di sini gak terduga banget! Berarti sebenernya dia mati2an nahan tuh waktu sama Ahra? I think, ini chapter terpanjang dari ff ini ya?

    Suka

  2. Sumpah licik bgt bogum! Pinter berkilah! Nappeun! Harus dipenjara! Enga enga. Harus mati!!!!!
    Kasian rinrin😭 semoga bisa keren lg ya rin😉
    Semoga semuanya berkahir bahagia😊

    Suka

  3. Kak… Aku mau bilang kalau aku jatuh Cinta sama tulisan kakak. Seriuss ini ff dengan konflik berat keterlaluan. Dan juga dengan masing” cast yg saling berhubungan.
    Diantara couple kyuji-ahra henry-yeaung kangsil-heechul rin rin. Couple yang auksea bkin mewek kali ini adalah heechul rin rin. Serius nangis ini. Liat rin rin yang harus kehilangan pendengarannya dan heechul yg bilang akan tetap disisi rin, itu mengharukan.

    Dan aku berharap Bo gum membusuk dipenjara

    Suka

  4. Tuh kan feelling aku bener, cewe yg di siksa itu si rin rin. Kasian dia jadi ga bisa denger :(, jahat banget si nyiksanya, keterlaluan 😥 . Ihhh itu Park bogum juga pinter banget alesanya. Kesel gua :3 . Tapi jangan harap hyunra bakal percaya gitu aja sama kamu ya,, ga bakalan pokoknya :3 .

    Aku masih bingung sama peranya kibum+heechan. Mereka sebenernya buat apa?? Soalnya aku liat selama ini mereka ga ada hubunganya sama kisahnya kyu-ji, selain fakta klo heechan itu sahabatnya eunji. Tapi apapun peranya dia, semoga si heechan cepet normal lagi 🙂 .

    Authornya cepet di lanjut ya jan lama” 😀

    Suka

  5. Tuh kan bener.. Udh curiga sm bo gum dr awal.. Huhhh smoga next partnya ga ad darah drahan lagi ya. Dn bo gum segera terungkap. Please untuk kyuji moment agak dibanyakin yaaa.. Ditunggu next partnya yaaa..

    Suka

  6. Sorry thor…
    Gua dulu suka banget ama ff ini,, tapi pas chapter2 selanjutnya, gua jadu kehilangan feel. Soalnya tiba2 genre yang awalnya penuh hurt, tiba2 jadi thiller,, nah dari situ gua rada kecewa. Maaf bgt thor, gua komen begini.

    Suka

  7. Ceritanya benar2 rumit sekali
    Akhirnya eunji dan kyuhyun menemukan kejelasan di hubungan mereka
    Berharap di next part moment kyu-ji nya lebih banyak lagi
    Penasaran juga sama kisah henry dan ah ra, ternyata ah ra ngga dapet zonk

    Suka

  8. part ini banyak senyum2 gaje liat kyuji moment tapi ada kasihan juga sm rin rin dan korban lainnya 😭…
    aq pencinta action loh thor, tuk d ff ini sudah cukup keren loh actionya pasti mikir keras neh salut loh buat authornya ini ^^
    gak masalah sih kl autornya mau di end part selanjutnya atau tetap lanjut kya sinetron ala2 indo jugaa gpp kok, slalu d nanti ^^
    ttp semangaatt yaaw 😘

    Suka

  9. sumpah kesel bener sama bo gum yahh.. cepat lah ketangkap kau bogum!!!! kasian rinrin smpe khilangan pendengaran nya, kasian juga eunji malah dia yg nanggung akibat masalalu ortunya, dan seneng akhirnya kyuhyun mengakui juga klo dia mencintai eunji.

    Suka

  10. akhirnya Kyu memang mencintai Eunji untung baby g kenapa-napa. jadi Hyukjae pembunuh berdarah dingin nya. jadi emang Bo gum punya dendam sama keluarga Eunji. kasihan Eunji harus menanggung kesalahan masa lali orang tuanya. 😭😭😭😭

    Suka

  11. Yesung tak jadi dengàn kangsil??? Terus pendekatn beberapa part jadi sia-sia dong kalo mereka gak jadian T.T
    Bogum kejam sekejamnya manusia karena dendam segera tangkàp dia hyunra!!! Syukurlah sedikit demi sedikit setiap masalah sègera selesai

    Suka

  12. Aaaaaaaaaaa…. Gw ga nyangka, ini lebih cepet dari biasanya… Anyway, plis, buat end konflik nyaaa.. Gw pengen banget throwback ke masa masa kyuji :v

    Suka

  13. Udah fix pasti itu park bo gum yg ibunya di hianati sama janji ayah lee eunji, tapi buat apa dia balas dendam sama keluarga lee? Harusnya sadar kan keluarga lee udah berbaik hati atas apa yg dilakuinnya memfitnah tuan lee menghamilinya.
    Semoga di part selanjutnya semakin terjawab semuanya teka teki nya membuat pusssing 😂

    Suka

  14. Gila gila gila!! Makin keren aja jalan ceritanya.. ada cast baru dan mulai keungkap pelan2.. bogum sadis parah, dan well kisah henry dan kisah yesung rada2 kasian (moga aja mrka bs brsatu).. dan juga kisah kyu sma eunji (makin sweet aja).. moga happy ending dan gk ngegantung. amin. hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s