B.A.D Part 7


B.A.D

 

Author : .DancingChen (whitechokyulate©2017)

Title : B.A.D #7

Category : NC-21, Yadong, Romance, Drama, Hurt, Medical

Cast :

  • Super Junior Kyuhyun as Cho Kyu Hyun
  • OC – Han Yoon Ha
  • OC – Baek Mi Yoo
  • Super Junior M Zhou Mi as Zhou Mi
  • OC – Lu Yin
  • BTS Jungkook as Jeon Jung Kook
  • Super Junior Yesung as Kim Jong Woon
  • and another casts.

Warn! : Original Chara. Out Of Chara. Alternate Universe. Alternate Timeline. Typo(s). Bashing Chara. Adults. Slash. Squick. Disgusting. Psychopath. Pedofilia. Bahasa kaku. Alur bertele-tele. Ga nyambung. Membingungkan. Bikin muntah dan diare disaat yang bersamaan.

Happy Reading!

.

.

.

Cuaca di luar rumah memang tidak sedang dalam keadaan bersahabat. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, waktu dimana orang-orang berada dalam keadaan tidur yang begitu nyenyak. Tetes-tetes air hujan tampak membasahi daerah di sekitar rumah milik Kyu Hyun, begitu pula dengan suara gemuruh guntur yang menggelegar, yang diikuti oleh kilatan cahaya petir.

 

Yoon Ha melangkahkan tungkainya menuruni tangga berkarpet merah maroon itu. Ia masih terjaga, dan—memutuskan untuk meninggalkan Kyu Hyun yang masih tertidur nyenyak di kamarnya. Sebenarnya saat ini Yoon Ha mempunyai kesempatan yang baik untuk melarikan diri. Namun, sekarang ia juga telah kehilangan ponselnya, satu-satunya alat komunikasi yang dapat menyelamatkannya untuk sampai di rumah. Entah bagaimana, ponsel Yoon Ha sudah berada di lubang pembuangan toilet. Sialnya, ponsel Yoon Ha tidak anti air, sehingga benda itu sudah dalam keadaan mati total. Lebih sial lagi karena ia tak dapat menemukan satupun alat komunikasi untuk menghubungi Lu Yin ataupun Jung Kook.

 

Yoon Ha mengusap-ngusap tangannya dengan posisi menyilang. Cukup dingin memang, karena ia hanya menggunakan tanktop tipis dengan bawahan hot pants.

 

Yoon Ha menuju ke sofa di dekat perapian. Ia memutuskan untuk menyalakan penghangat ruangan dan duduk di sofa sembari memandangi lukisan keluarga Kyu Hyun yang berada di atas perapian. Keempat pasang mata di dalam lukisan memandang ke arah Yoon Ha dengan agak tajam. Bukannya takut, ia malah bertanya-tanya, apa yang telah menimpa keluarga ini, sampai berefek pada kelainan Kyu Hyun yang tak bisa dikatakan biasa.

 

Yoon Ha kemudian bangkit, melangkah semakin mendekati perapian. Semakin lama, ia semakin tertarik untuk memandang lukisan tersebut, meskipun tak satupun petunjuk yang muncul. Yoon Ha pikir, ini tidaklah seperti pada film-film sci-fi, misteri ataupun detektif, dimana pada umumnya lukisan akan menyimpan rahasia untuk mengungkap sebuah kebenaran.

 

“Apa yang sedang kau perhatikan hum?”

 

Yoon Ha cukup terkejut ketika sepasang tangan melingkar di pinggangnya, serta suara berat yang memergokinya sedang memandang lukisan keluarga biasa itu.

 

“Tidak ada, Kyu. Aku hanya menghangatkan tubuhku saja disini,” sahut Yoon Ha tanpa canggung.

 

Kyu Hyun memiringkan kepalanya, lalu menciumi leher Yoon Ha dan menghisapnya beberapa kali sampai membuat gadis itu menegang. Tanda kemerahan pun tampak.

 

“Kau tahu? Sebenarnya kami tidak pernah berdiri di belakang kanvas untuk membuat lukisan itu.”

 

“Mak–maksudmu?”

 

“Lukisan itu hanya rekayasa,” sahut Kyu Hyun. “Aku cukup bekerja keras untuk mencari foto-foto mereka dan meminta pelukis untuk membuat gambaran seperti itu. Kami terlihat bahagia, bukan?”

 

Yoon Ha mengangguk ragu. Dari pernyataan Kyu Hyun, kedengarannya keadaan di dalam lukisan berbanding terbalik dengan kenyataan yang dialami olehnya.

 

“Apa kau benar-benar bahagia, Kyu?” tanya Yoon Ha kemudian berbalik sampai menghadap Kyu Hyun.

 

“Menurutmu, apa aku terlihat bahagia, Han Yoon Ha?”

 

“Karena kau lebih banyak bersikap baik padaku, kupikir seperti itu.” Yoon Ha tersenyum.

 

Kyu Hyun makin menarik Yoon Ha sampai tubuh bagian depannya menempel pada Kyu Hyun. Wajah Kyu Hyun begitu dekat dengan wajahnya. Yoon Ha mengangkat tangannya, kemudian melingkarkan keduanya pada leher Kyu Hyun. Ia mendekatkan bibirnya tepat di telinga Kyu Hyun, lalu menjilatnya pelan.

 

“Haruskah aku mengetahui seluruh masa lalumu, Cho Kyu Hyun? Kau tidak keberatan, kan, jika menceritakannya padaku?” bisiknya dengan nada yang begitu menggoda.

 

****

 

-FlashBack-

 

Tangannya bergetar. Tenggorokannya terasa tercekat. Lidah pun turut kelu. Dari balik pintu di ruangan redup, Cho Kyu Hyun dapat melihat hal yang seharusnya tidak disaksikan oleh bocah berusia 7 tahun. Sesosok tubuh yang tergeletak di atas ranjang menatap iris mata kecilnya. Sesuatu mirip air tampak menetes, namun warnanya begitu pekat.

 

Sesaat kemudian, sesuatu menutup kedua mata Kyu Hyun. Kakinya yang semula menyentuh lantai terasa melayang begitu saja. Kyu Hyun sama sekali tak melakukan perlawanan. Bocah itu terlihat pasrah saja ketika seseorang mengangkat tubuhnya dan membawanya menjauhi rumah. Kyu Hyun mengenal aroma tubuh itu, Cho Se Hyun, kakak perempuannya.

 

Setelah berada cukup jauh dari rumah, kakinya terasa kembali menyentuh lantai. Kyu Hyun mengadah, memandangi wajah kakak perempuannya yang tampak cemas.

 

“Apa yang kau lakukan huh?” tanya Se Hyun kemudian berjongkok. Kedua tangannya menangkup pipi Kyu Hyun layaknya buah apel.

 

Noona…,” Kyu Hyun melirih.

 

“Kau harus melupakan apa yang kau lihat barusan, mengerti?”

 

Kyu Hyun mengangguk patuh, meskipun apa yang disaksikannya barusan masih melintas dengan jelas di dalam benaknya.

 

Se Hyun kembali menggendong Kyu Hyun.

 

“Kita mau kemana, Noona?” tanya Kyu Hyun menatap Se Hyun.

 

“Ke tempat yang jauh dari rumah. Aku tidak akan membiarkanmu mengingat apa yang kau lihat barusan, Kyu,” sahut Se Hyun kemudian beranjak.

 

Kyu Hyun melingkarkan kedua tangan kecilnya pada leher Se Hyun. Ia menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher gadis tersebut. Netranya melihat ke arah belakang, menyaksikan rumahnya yang lambat laun terlihat makin mengecil saat semakin jauh Se Hyun melangkah. Di rumah yang gelap tersebut, Kyu Hyun hanya dapat melihat cahaya redup yang berasal dari kamar tidur bekas ayah dan ibunya.

 

***

 

Malam tak secepat itu berlalu. Angin yang berdesir dingin pun terasa menusuk sampai ke tulang.

 

Kyu Hyun dan Se Hyun sudah berada sangat jauh dari rumah. Tanpa berbekal apapun, mereka menyusuri jalan tanpa tahu arah tujuan. Sejak beberapa saat lalu, Kyu Hyun terlelap di dalam gendongan Se Hyun, sedangkan gadis tersebut masih terus melangkahkan kedua kakinya, selama hal itu masih mampu ia lakukan.

 

Noona…,” Kyu Hyun terdengar melirih.

 

“Kyu, kau terjaga?” tanya Se Hyun menyadari lirihan Kyu Hyun. “Tidurlah.”

 

“Kenapa kita tidak pulang saja?” tanya Kyu Hyun.

 

“Aku tidak ingin membawamu pulang, Kyu,” sahut Se Hyun. “Kau juga harus tetap mengingat kata-kataku agar tidak pernah mengingat apa yang barusan kau lihat di rumah.”

 

Kyu Hyun mengangguk. Kedua tangannya makin kuat mencengkram coat yang dikenakan oleh Se Hyun. Sementara Se Hyun, tanpa diketahui oleh Kyu Hyun, gadis itu sedang menangis dalam diamnya.

 

Noona, aku takut,” gumam Kyu Hyun. Se Hyun dapat merasakan bibir mungil adik laki-lakinya tersebut menyentuh lehernya.

 

“Kau tidak usah takut, Kyu. Noona akan melindungimu,” kata Se Hyun mengelus kepala Kyu Hyun bermaksud untuk menenangkannya.

 

“Seseorang sedang mengikuti kita, Noona,” kata Kyu Hyun setengah berbisik.

 

“Apa? Benarkah?” tanya Se Hyun. Ia mengusap cepat air mata yang sempat menetes.

 

Se Hyun menoleh beberapa kali ke belakang, memastikan apakah yang dikatakan oleh Kyu Hyun benar adanya atau malah sebaliknya. Meskipun kini perasaannya benar-benar merasa tidak enak, tetapi Se Hyun berusaha untuk tetap tenang.

 

Kedua kakinya melangkah semakin cepat. Arloji yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul 3 dinihari. Di gang yang diapit belasan ruko itu masih tampak lengang tanpa aktifitas. Se Hyun hanya berharap dapat menemukan—mungkin—sebuah motel yang dapat digunakan sebagai tempat menghindar.

 

Semakin cepat Se Hyun melangkah, suara derap kaki makin jelas terdengar di kedua telinganya. Cengkeraman tangan Kyu Hyun pada coatnya pun terasa makin kencang.

 

Noona, kita harus pulang,” gumam Kyu Hyun.

 

“Tidak, Kyu. Aku tidak bisa membawamu ke tempat itu lagi,” sahut Se Hyun. “Aku akan segera mendapatkan tempat—akhhh!”

 

Se Hyun tiba-tiba memekik. Ia terjatuh ke jalanan bersamaan dengan Kyu Hyun yang berada di dalam gendongannya.

 

Noona, kau berdarah!” Kyu Hyun menghampiri Se Hyun dan tampak panik. Dari pelipis kanan  Se Hyun, darah segar mengucur deras. Tak jauh dari tempat keduanya tergeletak tak berdaya, tampak sebuah batu dengan bekas darah milik Se Hyun.

 

Se Hyun berusaha bangkit dengan kesadaran yang masih dimiliki olehnya. Kepalanya terasa pusing sekali. Belum lagi dengan penglihatannya yang agak mengabur.

 

“Wow! Ternyata kau masih bisa bangkit gadis cantik,” ujar seseorang yang suaranya terdengar dari kejauhan.

 

Secara bersamaan, Kyu Hyun dan Se Hyun menoleh ke arah sumber suara.

 

“Siapa disana?” tanya Se Hyun berusaha tetap tenang.

 

Dari balik gelapnya gang sempit itu, sesosok laki-laki muncul. Perawakannya tinggi dan besar berotot. Kedua lengan serta kakinya tampak dipenuhi oleh tattoo. Melihat sosok pria itu, spontan Kyu Hyun memeluk Se Hyun yang masih terduduk di atas jalanan beraspal.

 

“Maaf karena aku melemparimu dengan batu ini.”  Dari sisi lain, seseorang berkata setelah memungut batu dengan bekas darah Se Hyun.

 

Kyu Hyun dan Se Hyun lagi-lagi menoleh ke arah suara. Kali ini, seeorang pria berperawakan kurus tinggi berdiri di dekat mereka.

 

“Siapa kalian huh?” pekik Se Hyun ketakutan. Dengan erat ia memeluk Kyu Hyun yang tampak menangis.

 

Pria kurus itu berjongkok, sementara pria dengan perawakan yang besar melangkah mendekati mereka bertiga. Tangan si pria kurus mengelus pelan rambut panjang sepinggang milik Se Hyun. Dengan kasar, tangan Se Hyun pun menepis tangannya.

 

“Jangan menyentuhku!” hardik Se Hyun.

 

Pria dengan perawakan yang lebih besar berjongkok. Tangannya pun menarik kasar rambut Se Hyun hingga gadis itu memekik. “Kau pikir, kau siapa huh?!”

 

Pria berbadan besar memberi isyarat pada pria kurus agar merebut paksa bocah laki-laki yang berada di dalam pelukan Se Hyun, dan segera memisahkan mereka berdua. Kyu Hyun berteriak berkali-kali, memanggil “Noona”. Tangan kecilnya berusaha menggapai tangan Se Hyun, walaupun sebenarnya tak sampai. Pria kurus itu membawanya menjauh dari Se Hyun.

 

Begitu halnya dengan Se Hyun, gadis itu berkali-kali memanggil nama Kyu Hyun. Namun, pria berbadan besar itu mengbungkam mulut Se Hyun menggunakan tangannya. Dia menyeret Se Hyun agak menjauh dan memebawanya ke sisi yang lebih gelap.

 

Samar-samar Kyu Hyun dapat melihat Se Hyun yang dipaksa melepas pakaiannya. Ia juga dapat melihat perlawanan sengit Se Hyun agar dapat melepaskan diri.

 

Noona!” teriak Kyu Hyun sekali lagi. Semakin lama, ia semakin menjauh. Namun, teriakan Se Hyun semakin kencang terdengar.

 

“Tidak ada gunanya berteriak. Kau akan kehilangan noonamu yang cantik itu nanti,” ujar si lelaki kurus pada Kyu Hyun.

 

“Tidak! Aku tidak akan pernah kehilangan noona!” pekik Kyu Hyun geram.

 

Sesaat kemudian, pria kurus itu memekik dan otomatis melepas Kyu Hyun yang berada dalam gendongannya. Tangannya memegangi lehernya yang barusan digigit. Memang tidak meninggalkan luka yang parah, tetapi cukup membuatnya menahan nyeri.

 

Kyu Hyun segera memanfaatkan kesempatan. Dia berlari menuju ke arah Se Hyun.

 

“Pria jelek! Berhenti menyentuh noonaku!” teriak Kyu Hyun sambil memukul punggung pria berbadan besar itu menggunakan sebuah batu.

 

Dengan gerakan spontan, pria berbadan besar itu menghempaskan tubuh Kyu Hyun menggunakan tangannya, hingga terlempar beberapa meter jauhnya.

 

“Beraninya kau memukulku huh?!” teriak si pria besar menghampiri Kyu Hyun yang tak berdaya. Matanya terlihat membesar dan berkilat marah.

 

Dengan terseok-seok, Se Hyun melangkah menuju si pria besar. Dia bersimpuh dengan memegang kaki si pria besar menggunakan kedua tangannya.

 

“Aku mohon, Tuan, biarkan adikku pergi. Aku akan melakukan apapun yang kau minta. Aku mohon,” ujar Se Hyun yang menangis dalam diamnya.

 

Kyu Hyun melirik Se Hyun setelah berkata seperti itu. Gadis itu tampak menunduk, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata. Dalam hati, Kyu Hyun sangatlah marah. Apalagi melihat penampilan Se Hyun yang berantakan. Coatnya tak tampak membalut tubuh kurusnya lagi. Ia hanya mengenakan bra saja, yang menutupi bagian sensitifnya. Rambutnya pun turut berantakan. Tetapi, apa yang dapat dilakukan Kyu Hyun untuk melindungi Se Hyun? Dia hanya seorang bocah yang pastinya tidak akan mampu melawan kedua pria yang memiliki ukuran tubuh lima kali lebih besar dari tubuhnya.

 

Se Hyun mengangkat wajahnya. Dia kemudian menghampiri Kyu Hyun yang tetap tergeletak tak berdaya. Ia membantu adiknya tersebut untuk bangun, lalu memeluknya erat. “Kyu Hyun, pergilah. Jangan hiks pikirkan noona, arraseo?”

 

“Tidak, aku tidak akan meninggalkan noona sendirian,” sahutnya membalas pelukan  Se Hyun.

 

“Tidak, Kyu. Kau harus pergi dan jangan pernah kembali ke rumah itu. Eomma sudah meninggalkan kita, dan aku tidak dapat membiarkanmu tinggal bersama pria itu,” kata Se Hyun meyakinkan. Gadis itu melepaskan pelukan terhadap Kyu Hyun, kemudian menangkup kedua pipi bocah itu, “Kau harus menemukan keluarga yang lebih baik, Cho Kyu Hyun.” Se Hyun tampak tersenyum getir.

 

Pria berbadan besar memutar bola matanya malas, mendengar penjelasan Se Hyun terhadap Kyu Hyun. Dengan cengkeraman kasar, lagi-lagi ia menarik rambut Se Hyun sampai gadis itu memekik kesakitan.

 

“Akhh…. Pergi, Kyu! Cepat! Akhh! Pergi!”

 

Kyu Hyun mengangguk ragu. Sebenarnya ia tak yakin dapat meninggalkan Se Hyun sendirian. Kedua pria itu pasti akan menyakitinya. Tetapi, di sisi lain, Se Hyun sangat mengharapkan dirinya selamat.

 

Kyu Hyun berusaha berdiri. Bocah itu menangis sejadi-jadinya. Ia berlari sekuat mungkin, meninggalkan kakaknya sendirian. Tetapi, sepertinya kesalahan dibuat oleh Kyu Hyun. Ia berlari ke arah pria kurus yang berdiri menyaksikan pemandangan pilu itu.

 

“Kau pikir, akan semudah itu melarikan diri huh?” gumamnya tersenyum miring ketika melihat Kyu Hyun yang semakin mendekat ke arahnya.

 

Si pria kurus merentangkan salah satu kakinya. Sementara Kyu Hyun yang berlari di kegelapan terus melihat ke arah belakang, dimana ia mendengar beberapa kali pekikkan Se Hyun karena dipaksa.

 

Bruk!

 

Kyu Hyun terjatuh dengan keras, beberapa kali berguling, dan jduk… gulingannya berhenti saat kepalanya membentur sebuah batu. Darah segar mengucur deras dari keningnya. Kepalanya tiba-tiba terasa berat dan pusing, pandangannya mengabur. Namun, jauh di gelapnya ujung jalan tersebut, dia dapat mendengar tangis pilu Se Hyun, dan melihatnya yang dipukul beberapa kali oleh kedua pria itu karena melakukan perlawanan. Kemudian, semuanya menjadi gelap.

 

***

 

Se Hyun berusaha bangkit dengan tenaga yang masih tersisa di dalam raganya. Coatnya terlempar cukup jauh dari tempatnya terduduk. Setelah dapat meraih pakaian tebal itu, Se Hyun segera menyampirkannya pada tubuh atasnya yang polos. Dia menghampiri Kyu Hyun yang tergeletak jauh disana. Di kejauhan, Se Hyun masih dapat mendengar kedua laki-laki itu bersenda gurau, diselingi dengan bunyi khas seseorang yang membenarkan ikat pinggangnya.

 

“Kyu? Kau mendengar noona?” tanya Se Hyun, berusaha selembut mungkin. Tangannya menepuk pelan pipi adik laki-lakinya itu, bermaksud untuk menyadarkannya.

 

Se Hyun tahu, Kyu Hyun hanya pingsan saat itu.“Aku akan membawamu ke tempat yang lebih aman, Kyu,” ujarnya, kemudian mengangkat tubuh mungil Kyu Hyun, dan membawanya ke dalam gendongannya yang hangat.

 

***

 

“Kasus pembunuhan telah terjadi di sebuah rumah, di kawasan komplek perumahan elit, Gangnam. Pembunuhan diduga berlangsung pada dini hari ini. Korban yang merupakan seorang wanita setengah baya tersebut adalah salah satu orang berpengaruh bagi laju perkembangan ekonomi Korea Selatan. Kasus ini cukup menarik perhatian dari berbagai pihak,” kata seorang reporter yang mengenakan mantel musim dingin hitam dengan strip warna biru tua pada bagian lengannya.

 

“Satu-satunya tersangka yang tertangkap adalah pria setengah baya yang baru dinikahinya beberapa bulan lalu. Tersangka kedapatan tengah berhubungan badan dengan Nyonya C yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Tuan A, yang merupakan sekretaris perusahan adalah saksi utama yang menyaksikan kejadian tersebut, saat mengunjungi rumah Nyonya C di pagi hari.” Reporter yang mengenakan mantel abu-abu itu membenarkan posisi mikrofonnya.

 

“Motif pembunuhan diduga karena Nyonya C menolak untuk memberikan setengah dari saham perusahan kepada tersangka dan mengatakan akan memberikan hak waris sepenuhnya kepada putera dari suami pertamanya yang sudah meninggal.”

 

Bayangannya kemudian berganti.

 

“Sampai saat ini, kedua anak Nyonya C belum ditemukan. Mereka diduga melarikan diri saat mengetahui keadaan Nyonya C. Saat ini, rumah tersebut sudah diberi garis polisi untuk memudahkan penyelidikan lebih lanjut.”

 

Sekali lagi, bayangannya berganti.

 

“Kabar terbaru. Putera dari Nyonya C dilaporkan ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di dekat mobil polisi, di salah satu kantor polisi cabang Seoul. Sampai saat ini, anak tersebut masih mendapatkan perawatan intensif di salah satu rumah sakit swasta Seoul. Sedangkan puteri Nyonya C masih dalam masa pencarian.”

 

Kyu Hyun terbangun dalam keadaan dingin dan menggigil. Tetesan keringat menuruni pelipisnya. Mimpi buruk, lagi.

 

Kyu Hyun pun berusaha bangkit dari posisi merebahnya di kursi ruang loker. Kepalanya terasa berat dan pening ketika mimpi buruk itu datang lagi, ditambah lagi ia tidur tanpa menggunakan bantal. Rasanya, suara-suara itu masih berdengung di dalam kepalanya. Seberapa kuat pun Kyu Hyun mencoba untuk melupakan dan menyingkirkan bayangan itu, tetap saja ia tidak mampu.

 

Kyu Hyun membuka pintu loker pribadinya, kemudian mengambil sebuah amplop coklat yang berukuran besar.

 

Setahun yang lalu, sebelum Kyu Hyun menginjakkan kakinya di Korea lagi, ibu pengasuh memberinya seperangkat dokumen yang katanya penting bagi kelangsungan hidup Kyu Hyun di tanah kelahirannya.

 

Hari itu adalah hari kelulusan Kyu Hyun di salah satu universitas medis terbaik di Amerika. Selama itu, ia memang tinggal di sebuah panti asuhan yang dikelola oleh seorang wanita Korea. Kyu Hyun biasa memanggilnya dengan sebutan Ibu Yoon. Dan, selama itu pula Ibu Yoon tidak pernah menceritakan asal-usul Kyu Hyun, sesuatu yang tidak dapat diingat oleh pemuda bermarga Cho tersebut.

 

Ibu Yoon pernah berkata, “Kau hanya cukup mengetahui dirimu yang sekarang ini, Kyu, hingga saatnya kau akan mengetahui dirimu sebenarnya, disaat kau mampu menerima kenyataan yang menantimu.”

 

Hari itulah saatnya Kyu Hyun harus menerima kenyataan pahit.

 

Di dalam amplop coklat yang diberikan Ibu Yoon, terdapat beberapa dokumen percobaan pengadopsian Kyu Hyun yang kemudian ditolak oleh pihak panti, beberapa keping CD yang diberi judul berdasarkan tanggal dan nama stasiun TV, beberapa helai rambut panjang di dalam sebuah plastik klip, serta sebuah dokumen tes DNA.

 

Kyu Hyun menatap Ibu Yoon dengan tatapan tidak mengerti; kenapa Ibu Yoon memberikan berkas yang ia pikir tidak penting?

 

“Beberapa orang yang tahu kau adalah putera dari perusahaan itu berbondong-bondong datang kemari hanya untuk mengadopsimu, Kyu,” kata Ibu Yoon dengan nada lembut, namun terkesan datar dan dingin.

 

“Dan mereka ditolak?” tanya Kyu Hyun setelah membaca judul utama dari berkas penolakan hak asuh terhadapnya, “Kenapa?”

 

“Mereka hanya akan mengejar apa yang kau miliki. Mereka yang datang adalah orang-orang yang akan memanfaatkanmu, yang notabene adalah orang-orang yang ingin menguntungkan diri-sendiri.”

 

“Apa itu artinya setelah aku kembali ke Korea, aku hanya akan menjadi seorang pemimpin perusahaan?” tanya Kyu Hyun lagi, “Lalu apa gunanya aku menempuh pendidikan kedokteran?”

 

Ibu Yoon terdiam sesaat. Dari dalam laci kerjanya, ia mengambil sebuah amplop lagi, kali ini dengan ukuran yang lebih kecil.

 

“Dokumen ini berisi pernyataan kau akan melimpahkan kepemimpinan atas nama dirimu pada sekretaris kepercayaan appamu, Tuan Ahn Nam Gil. Kau pasti ingat saat menandatangani surat pernyataan pemeriksaan gigi beberapa tahun yang lalu kan? Sebenarnya, ini adalah pernyataan aslinya.”

 

Kyu Hyun terdiam. Ia masih bertanya-tanya apa alasan Ibu Yoon mengungkapkan semuanya sekarang. Apa orang-orang ini sama dengan orang-orang yang berniat mengadopsi Kyu Hyun demi kepentingan pribadi? Entahlah.

 

“Apa kau ingin keuntungan dariku?” tanya Kyu Hyun agak ketus. Ini adalah kali pertama ia berbicara dengan nada seperti itu pada Ibu Yoon.

 

Ibu Yoon tersenyum simpul. “Aku, Tuan Ahn, dan pengacara perusahaanmu hanya berusaha melindungimu. Keuntungan? Aku sudah mendapatkan lebih dari cukup dengan mengelola panti asuhan ini.”

 

Kyu Hyun menatap Ibu Yoon dalam-dalam. Ia mencermati gelagat wanita tua yang terkesan lembut itu. Dari tatapan matanya, sepertinya ia mengatakan hal yang sebenarnya.

 

“Jadi, apa yang harus aku lakukan?”

 

“Kau tinggal memilih, Kyu. Jika kau ingin memimpin perusahaan dengan tanganmu sendiri, maka lakukan hal itu. Tetapi, jika kau ingin menggunakan Tuan Ahn sebagai bonekamu, maka ia bersedia melakukannya untukmu.”

 

Semenjak itu, perlahan Kyu Hyun dapat mengingat kembali apa yang terjadi di masa lalunya. Ia mencermati semua yang tercantum di dalam dokumen-dokumen itu, sampai menonton semua rekaman video repoter yang membawakan berita tentang kasus pembunuhan ibunya dan hilangnya Cho Se Hyun. Dan hal itu menimbulkan efek mimpi buruk berkepanjangan bagi dirinya.

 

***

 

Sebuah ketukan pada pintu lokernya mengejutkan Kyu Hyun. Buru-buru ia menutup pintu loker pribadinya itu, hingga menampakkan seorang gadis berpakaian setelan operasi biru berdiri di belakangnya.

 

“Apa yang kau kerjakan?” tanya Mi Yoo penuh selidik. Kentara sekali dari sikapnya yang melipat kedua tangan di depan dada, dan posisi badan yang condong beberapa derajat ke kiri hingga pundaknya menempel pada pintu loker. Matanya memicing, mencari celah apa yang salah dalam diri Kyu Hyun.

 

Kyu Hyun hanya diam. Tidak ada alasan untuk menjawab pernyataan Mi Yoo. Tidak mungkin untuk jujur sekarang ini.

 

“Kau sakit?”

 

Kyu Hyun terdiam sejenak, memandang Mi Yoo dengan kedua mata obsidiannya. “Tidak, aku tidak apa-apa,” kilahnya. Seulas senyum terukir di bibir pria itu, seolah memang menunjukkan bahwa hal ini bukan sesuatu yang berarti. Kyu Hyun meletakkan kembali amplop coklat besar itu di dalam lokernya, kemudian menguncinya dengan tenang.

 

“Kau menyembunyikan sesuatu?” tanya Mi Yoo sekali lagi. Kali ini ia bertanya dengan nada manja dan bibir yang dibuat mengerucut imut. Kedua tangannya diturunkan dan badannya ditegakkan kembali.

 

Kyu Hyun menggeleng, “Tidak.”

 

“Bohong.”

 

“Kapan aku pernah membohongimu, Baek Mi Yoo?” tanya Kyu Hyun tersenyum. Ia melangkah mendekati gadis itu, kemudian meraih salah satu tangannya. Ekspresinya begitu meyakinkan Mi Yoo jika ia memang tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Kyu Hyun hanya tidak ingin gadis yang disukainya itu merasa mengkhawatirkan dirinya.

 

Sejauh ini mungkin Baek Mi Yoo adalah satu-satunya orang yang dekat dengan Kyu Hyun, meskipun Kyu Hyun tidak membeberkan keseluruhan tentang dirinya pada gadis tersebut. Sesaat setelah Kyu Hyun menginjakkan kakinya di Korea dan bekerja sebagai asisten dokter bedah ortopedi di rumah sakit yang dipimpin oleh ayah Mi Yoo, gadis itu memang cukup banyak menghiburnya.

 

Seperti malam itu, tepat seminggu setelah ia bekerja di sana.

 

Kala itu, Kyu Hyun sedang berdiri di atas jembatan yang menghubungkan halaman depan dengan taman rumah sakit. Kedua tangannya bertumpu pada pagar pembatas jembatan. Mata obsidiannya menatap penuh pada langit berbintang, namun tatapannya terkesan kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian, Kyu Hyun menunduk, menatap air sungai yang mengalir tenang di bawahnya. Seulas senyum kecut terukir pada bibirnya.

 

“Sendirian?” tanya seseorang membuat Kyu Hyun terhenyak dan praktis melihat ke arahnya.

 

“Eung? Eumh…,” desahnya pelan.

 

“Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya sekali lagi.

 

“Tidak. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri,” gumam Kyu Hyun pelan. Perhatiannya kembali pada air sungai yang mengalir.

 

“Benarkah? Setelah seminggu kuperhatikan, kau seperti tidak kerasan berada disini.”

 

“Itu hanya perasaanmu saja, dr. Baek.” Kyu Hyun mengulas senyum tanpa melihat ke arah Mi Yoo.

 

“Apa aliran sungai membuatmu lebih tenang?” tanya Mi Yoo.

 

“Entahlah, sepertinya begitu.”

 

Mi Yoo memiringkan kepalanya. Meskipun untuk sebagian orang aliran air dan suaranya dapat menenangkan pikiran, tetapi sepertinya tidak untuk Kyu Hyun. Pemuda itu tampak tertekan. Tidak hanya sekali Mi Yoo memergoki Kyu Hyun berada di jembatan ini ketika malam hari, namun sudah berturut-turut sejak seminggu terakhir. Dan hari ini, Mi Yoo memutuskan untuk menghampirinya.

 

“Apa aliran yang terlihat tenang itu dapat membunuh?” gumam Kyu Hyun bertanya.

 

Mi Yoo terdiam.

 

“Aku seharusnya tahu hal itu sejak lama.” Lagi-lagi Kyu Hyun bergumam.

 

“Cho Kyu Hyun–ssi…. Kau baik-baik saja?”

 

Bibir Kyu Hyun terkatup diam. Sebenarnya dia sedang membutuhkan teman untuk berbagi apa yang dirasakannya sekarang. Jika saat di Amerika ada Ibu Yoon, namun sekarang Kyu Hyun belum menemukan seseorang yang serupa seperti wanita itu. Teman satu jawatan yang sedang berada disampingnya itu pun memang tampak baik. Air wajahnya seolah berkata: “Aku siap mendengarkan apapun yang mengganjal di dalam dirimu, dan aku akan senantiasa menghiburmu. Ceritakanlah!”

 

“Kau tidak ingin menceritakannya?” tanya Mi Yoo seolah membenarkan prediksi Kyu Hyun mengenai ekspresinya. Sejak tadi Mi Yoo memperhatikan gerik Kyu Hyun yang tampak agak gelisah.

 

“Beberapa tahun yang lalu, aku kehilangan noonaku,” gumam Kyu Hyun pelan.

 

Mi Yoo mengerutkan dahinya. Dalam hati, ia sedang bertanya-tanya. Ternyata Kyu Hyun mempunyai seorang kakak. Karena setahu Mi Yoo, Kyu Hyun adalah seorang anak tunggal dan juga seorang anak adopsi dengan orang tua yang sekarang tinggal di Amerika.

 

“Apa terjadi sesuatu padanya? Apa kau sempat bertemu dengannya?”

 

Kyu Hyun menggeleng. “Belum lama ini aku menerima informasi kalau dia sudah meninggal setelah aku mengalami sebuah kecelakaan beberapa tahun lalu.”

 

“Kecelakaan?”

 

Bibir Kyu Hyun bergetar. Sepertinya ia bercerita terlalu jauh. Ia tidak mungkin menceritakan tentang pemerkosaan Se Hyun, pembunuhan ibunya yang tragis serta insiden lupa ingatannya pada Mi Yoo, yang notabene adalah seseorang yang baru dikenalnya dalam kurun waktu harian.

 

Kyu Hyun mengulas senyum canggung, “Ya, kami sempat mengalami kecelakaan mobil kala itu,” katanya berdusta.

 

“Apa noonamu meninggal saat kecelakaan itu?”

 

Kyu Hyun menggeleng. “Tidak, dia bunuh diri ketika aku sedang dirawat.”

 

Mi Yoo memiringkan kepalanya, “Kenapa? Kenapa dia melakukan hal itu?”

 

“Ada alasan yang tidak bisa kuberitahukan ke siapapun.” Kyu Hyun menunduk. “Setiap aku melihat sungai, aku teringat padanya. Aku baru mengetahuinya belum lama ini. Dia ditemukan beberapa hari setelah aku pergi ke Amerika di pinggir sungai dekat rumahku.”

 

Mi Yoo menekuk wajahnya sedih. Apa yang dialami Kyu Hyun saat itu pasti terasa sangat berat. Meskipun ia masih bertanya-tanya apa alasan kakak Kyu Hyun melakukan bunuh diri, alih-alih ia masih selamat dalam kecelakaan mobil seperti yang diceritakan Kyu Hyun. Begitu pula dengan Kyu Hyun yang hanya menjalani perawatan.

 

“Aku turut berduka,” gumam Mi Yoo.

 

“Ya, terima kasih.”

 

“Ah, aku membawa dua bir lemon, kau mau?” tanya Mi Yoo sembari merogoh saku jas dokternya yang berisi satu botol bir lemon dan satunya lagi yang ia simpan di saku celana pakaian operasinya. Ia mengulurkan tangan kanannya dan memberikan Kyu Hyun salah satu dari kedua botol tersebut.

 

“Terima kasih,” kata Kyu Hyun tersenyum. “Tapi, kita tidak memiliki alat pembuka botol.”

 

“Tenang saja. Aku sudah terbiasa dengan perkara ini.” Mi Yoo tersenyum lebar, sampai menampilkan keseluruhan gigi depannya.

 

Mi Yoo meletakkan perpotongan antara tutup botol dengan botolnya di bagian menyiku pada pembatas jembatan. Dengan sebuah dorongan bertenaga, ia menekan bagian atas tutup botol sampai tutupnya terlepas dari botolnya.

 

“Selesai. Cobalah!”

 

Kyu Hyun mengangguk, kemudian melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Mi Yoo barusan. Tutup botol bir milik Kyu Hyun pun akhirnya terbuka.

 

“Wah, berhasil!”

 

“Kau biasa melakukannya?”

 

Mi Yoo mengangguk. “Sejak tamat dari SMA, aku sangat menyukai bir lemon. Karena aku tidak pernah membawa ataupun berniat membeli alat pembuka botol, aku memanfaatkan apapun yang ada di sekitarku. Ponsel, pinggiran meja, bahkan gigiku. Hahahaha.”

 

Kyu Hyun tersenyum ketika melihat Mi Yoo tertawa seperti itu. Bahkan, ia tampak sangat cantik. Tidak seperti yang dipikirkan pada awalnya, gadis itu memang baik. Malah, Kyu Hyun merasa cukup terhibur. Barusan ia juga membayangkan bagaimana ekspresi Mi Yoo ketika membuka botol bir lemon menggunakan giginya. Rahang gadis itu pastilah sangat kuat.

 

Mi Yoo mendekatkan bibir botol ke bibirnya, lalu meneguk isinya. Dia menghela napas sesekali, lalu meneguk bir itu lagi, hingga akhirnya habis.

 

“Ah…, segar sekali.”

 

Kyu Hyun menunduk dan lagi-lagi mengulas senyum. Entah kenapa ia merasa senang ketika melihat Mi Yoo. Rasanya hampir sama seperti melihat Se Hyun ketika tertawa saat mengajaknya bermain dulu.

 

“Kau akan membiarkan sodanya menguap? Lebih baik kau minum jus lemon saja,” ujar Mi Yoo sembari menepuk pelan pundak Kyu Hyun. “Hei, kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu? Apa kau sedang terpesona melihatku? Eung? Eung?” Mi Yoo mendekat ke arah Kyu Hyun.

 

Kyu Hyun tiba-tiba terlihat kikuk. “Ah? Terpesona? Tidak, aku hanya merasa senang karena seseorang sedang berusaha menghiburku.”

 

“Hahahahaha. Kau terlihat polos sekali, dr. Cho.”

 

Kyu Hyun menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sambil tertawa kecil. “Omong-omong, terima kasih karena sudah membuatku tertawa.”

 

“Tidak apa-apa. Bukankah seorang teman seharusnya melakukan hal itu? Sekarang kau bisa melupakan masalahmu. Di tempat ini akan ada banyak teman yang dapat menghiburmu, Cho Kyu Hyun.”

 

Semenjak hari itu, setiap melihat Mi Yoo, Kyu Hyun merasa begitu bahagia. Ia seperti melihat Cho Se Hyun yang hidup kembali dan mampu menghiburnya sepanjang waktu, meskipun hanya melihatnya saja tanpa melakukan interaksi.

 

Mi Yoo juga pernah berkata sembari mengulas senyum, “Sepertinya Appa sedang mempertimbangkan untuk menjadikanmu sebagai kepala bedah ortopedi di rumah sakit ini. Prestasimu sangat bagus, Cho Kyu Hyun. Beliau benar-benar kagum.”

 

Kyu Hyun memang memiliki kualifikasi yang baik, sama halnya dengan Mi Yoo. Bahkan orang-orang di sekitar mereka sering menjodohkan keduanya hanya karena hal sama-sama pandai dalam bidang tersebut. Kyu Hyun pun  berniat untuk menjadi semakin baik lagi setiap harinya. Ia tidak hanya ingin mengambil hati ayah Mi Yoo untuk mendapatkan jabatan tersebut, tetapi juga untuk mendapatkan hati Mi Yoo beserta izin dari ayahnya kalau-kalau Kyu Hyun ingin mempersunting Mi Yoo suatu saat nanti.

 

“Bukankah hari ini ulang tahun Komisaris?” tanya Kyu Hyun yang merujuk pada ulang tahun ayah Mi Yoo.

 

Mi Yoo mengangguk. “Bukankah kau diundang ke pestanya?”

 

“Aku akan ke rumahmu nanti.”

 

“Baiklah. Appa pasti akan senang jika kau bisa datang nanti.”

 

“Dan beliau pasti akan senang karena aku akan melamar puterinya malam ini,” batin Kyu Hyun, tersenyum.

 

***

 

Satu-satunya alasan kenapa Kyu Hyun masih bertahan tinggal di Korea meskipun berkali-kali dihantui mimpi buruk adalah Baek Mi Yoo. Memang sampai detik itu mereka tak memiliki hubungan apapun selain sebatas teman satu jawatan dan berbagi keluh kesah. Namun tidak dengan pandangan dari sisi Kyu Hyun. Seringkali ia menganggap Mi Yoo adalah pacarnya. Tak jarang ia mengungkapkan hal itu meskipun seringkali Mi Yoo tak menyadarinya atau menganggap lontaran ungkapan Kyu Hyun hanya gurauan semata.

 

Mungkin nantinya Mi Yoo akan sangat terkejut mengetahui apa yang dipersiapkan Kyu Hyun sejak lama. Dan di hari ulang tahun ayahnya, Kyu Hyun berencana mengungkapkan semua itu, mengungkapkan apa yang dikatakannya selama ini bukan hanya sekedar gurauan.

 

Kyu Hyun memasuki lift kemudian menekan tombol yang bertuliskan B1 pada permukaannya. Hari itu ia memang pulang lebih awal untuk menghadiri pesta ulang tahun komisaris rumah sakit yang notabene adalah ayah Baek Mi Yoo.

 

Kyu Hyun merogoh saku celananya. Sesaat ia tersenyum ketika melihat penampakan benda berbentuk kubus merah beludru yang baru saja ia ambil. Tangan satunya terangkat membuka bagian tutupnya, dan tampaklah sebuah benda berbentuk lingkaran mengkilat yang sebagian terbenam di bagian empuk dari kotak itu.

 

“Aku harap kau akan menyukai ini, Mi Yoo–ya,” gumam Kyu Hyun.

 

Pintu lift terbuka, Kyu Hyun melangkah keluar sembari menyimpan kembali kotak tersebut ke dalam saku celananya.

 

Beberapa langkah dari lift, mobil Kyu Hyun terparkir. Namun langkahnya terhenti saat ia akan menekan tombol alarm mobilnya. Hal tersebut sangat menarik perhatiannya sampai-sampai membuat Kyu Hyun mematung untuk beberapa saat.

 

Tak jauh dari sana, Kyu Hyun melihat Mi Yoo sedang masuk ke dalam mobil seorang pria. Bahkan pria itu membukakan pintu untuk Mi Yoo. Mereka saling melempar senyum satu sama lain. Kyu Hyun pikir, pria itu bukanlah sopir Mi Yoo, karena setahunya gadis itu tidak pernah menggunakan sopir dan lagipula Mi Yoo duduk di jok penumpang depan.

 

Ketika mobil itu mulai melaju, Kyu Hyun segera membuang pemikiran negatifnya. Bisa saja kan pria itu adalah sepupu Baek Mi Yoo?

 

***

 

Kyu Hyun memindahkan persneling ke posisi parkir. Ekor matanya melirik rumah yang berada di sebelah kirinya sekarang. Malam semakin larut, para tamu undangan yang datang ke pesta ulang tahun ayah Mi Yoo semakin ramai saja. Kyu Hyun berdiam sebentar di dalam mobil. Ia kembali merogoh saku celananya dan mengambil kotak merah bludru tadi. Kyu Hyun tiba-tiba menjadi ragu setelah melihat pria yang bersama Mi Yoo itu. Meskipun awalnya ia mencoba meyakinkan dirinya jika pria itu adalah salah satu saudara Mi Yoo, tetapi tidak dengan sekarang.

 

Kyu Hyun kemudian menoleh ketika mendengar sebuah ketukan pada kaca mobilnya. Ia melihat Mi Yoo yang melambaikan tangannya sesekali sembari berbisik memintanya untuk keluar dari mobil. Buru-buru Kyu Hyun menyimpan kotak merah bludru tersebut ke dalam dashboard.

 

“Kenapa kau tidak masuk ke dalam?” tanya Mi Yoo ketika Kyu Hyun membuka pintu mobilnya.

 

“Aku sedang menerima panggilan telpon barusan,” kilahnya.

 

“Ayo masuk!” Mi Yoo menarik tangan Kyu Hyun, membawanya masuk ke halaman rumah yang dipenuhi oleh ratusan tamu.

 

Di dekat panggung, ayah Mi Yoo berdiri sembari menyambut beberapa tamu yang datang, terkadang mengajak mereka bercakap-cakap untuk beberapa menit.

 

“Aku akan duduk disini saja,” kata Kyu Hyun menahan Mi Yoo. Tangan yang satunya menunjuk sebuah kursi kosong yang berada di dekatnya.

 

“Kau tidak ingin menyapa appaku?”

 

Anniya, bukan begitu Mi Yoo–ssi. Aku sudah memberikan ucapan selamat pagi tadi. Lagipula acaranya akan dimulai sekarang kan?” Mata Kyu Hyun melihat ke arah panggung.

 

Mi Yoo melepas tautan tangannya, kemudian mengulas senyum. “Baiklah. Kalau begitu, silahkan menikmati acaranya, Cho Kyu Hyun–ssi.”

 

Kyu Hyun menangguk pelan dan Mi Yoo yang melenggang pergi mendekati panggung. Kyu Hyun duduk di salah satu kursi sembari menyesap winenya. Ayah Mi Yoo memberikan beberapa sambutan diiringi suara riuh tepuk tangan para undangan. Hingga….

 

“Karena hari ini adalah hari ulang tahunku, dimana semua orang bisa berkumpul dan berbahagia bersamaku, maka hari ini pula aku ingin berbagi kebahagiaan puteriku bersama kalian,” ujar ayah Mi Yoo mengulas senyum saat melirik puterinya yang duduk di salah meja yang dekat dengan panggung.

 

Kyu Hyun terdiam. Dia menunggu kalimat apa yang akan terlontar dari pria tua yang berdiri di belakang mikrofon tersebut. Kebahagiaan puterinya? Memangnya apa yang dimaksud itu?

 

“Minggu depan, aku akan mengundang kalian lagi untuk berkumpul di rumah ini dan menyaksikan acara pertunangan puteriku.”

 

Kyu Hyun membulatkan matanya saat mendengar kalimat di bagian akhir. Ia yakin, pendengarannya masih sangat bagus dan itu artinya; dia tidak salah dengar.

 

Mi Yoo tampak berdiri di belakang mejanya, melempar ulasan senyum pada tamu undangan yang berada di belakang. Tak jauh dari meja itu, seorang pria juga ikut berdiri. Pria itu menatap Mi Yoo sambil tersenyum, bergantian menatap ayah gadis itu yang masih berdiri di atas panggung.

 

Dan, Kyu Hyun sangat mengenali pria itu. Dia adalah pria yang bersama Mi Yoo di parkiran tadi.

 

“Perkenalkan, dia bernama Kim Jong Woon, seorang direktur di salah satu perusahaan distribusi di China. Yang lebih tepatnya sekarang dia adalah calon menantuku, calon suami dari puteriku, Baek Mi Yoo.”

 

Pria yang berdiri itu membungkuk disambut oleh riuh tepuk tangan para tamu undangan yang hadir. Tak sedikit dari mereka yang berbisik mengatakan kalau pria bernama Kim Jong Woon itu sangatlah tampan, bahkan kebanyakan dari wanita yang hadir berekspresi kagum.

 

Kyu Hyun memicingkan matanya. Tangannya mengepal di bawah meja. Dia sangat ingin menghampiri Mi Yoo dan pria itu kemudian menumpahkan seluruh amarahnya. Secara bergantian ia melirik Mi Yoo kemudian ayah Mi Yoo dan Jong Woon. Kyu Hyun merasa begitu dikhianati. Mungkin seharusnya ia tidak mengharapkan gadis itu terlalu banyak.

 

Kyu Hyun bangkit dari posisi duduknya, kemudian meninggalkan tempat yang dilingkupi kebahagiaan itu.

 

***

 

Mi Yoo tampak kebingungan mencari sosok Kyu Hyun. Seingatnya pria itu memang duduk di salah satu kursi yang berada tak jauh dari panggung. Alih-alih Mi Yoo sudah mencarinya ke seluruh sudut tempat pesta, namun hasilnya nihil. Kyu Hyun benar-benar lenyap dari pandangan mata.

 

“Kau bilang ingin mengenalkanku pada sahabatmu kan? Cho… Kyu Hyun?” tanya Jong Woon, yang tiba-tiba berdiri tepat di belakang Mi Yoo.

 

Mi Yoo mengangguk. “Dia barusan ada disini, tapi sekarang malah menghilang.”

 

“Apa dia sudah pulang?”

 

“Pulang? Tapi kan acaranya belum selesai. Lagipula dia tidak mengatakan apapun padaku.”

 

“Mungkin ada sesuatu yang mendesak. Kau bisa menghubunginya nanti dan menanyakan alasannya.”

 

“Hmm.” sahut Mi Yoo seraya mengangguk.

 

***

 

Kyu Hyun menginjak pedal rem ketika ia melihat seorang gadis yang sepertinya meninggalkan tempat pesta sebelum acaranya usai. Gadis bergaun soft gold ukuran selutut itu praktis berhenti melangkah saat menyadari mobil Kyu Hyun yang terparkir di dekatnya. Kepalanya miring beberapa derajat. Ia tampak agak kebingungan.

 

Kyu Hyun menurunkan kaca mobilnya, “Kau butuh tumpangan, Nona?” tanyanya.

 

“Apa aku mengenalmu?” tanya gadis itu balik, terdengar agak ketus. Ia memutuskan untuk mengabaikan Kyu Hyun dengan kembali melangkahkan tungkainya.

 

Mobil Kyu Hyun melaju beberapa inchi kemudian berhenti lagi. “Ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

 

Gadis itu membuang napas panjang. Tangannya terulur meraih pegangan pintu mobil Kyu Hyun dan memutuskan untuk masuk ke dalam mobil itu.

 

“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya gadis itu.

 

Kyu Hyun mengabaikan gadis itu sesaat. Ia memindahkan persneling. Mobilnya kembali melaju dengan kecepatan sedang.

 

“Namamu siapa?”

 

“Na Mi. Ha Na Mi.”

 

“Kenapa kau keluar dari pesta itu?”

 

“Cih,” Na Mi berdecih. “Memang apa pedulimu huh?”

 

“Aku pikir, aku bukan satu-satunya orang yang pulang sebelum acaranya usai. Maka dari itu, aku ingin bertanya padamu. Emh… apa kau memiliki hubungan dengan Kim Jong Woon?” tanya Kyu Hyun.

 

Na Mi menunduk. Ia tertawa kecil dan menutupi mulutnya menggunakan salah satu tangannya. Pandangannya ia alihkan ke arah luar jendela. Setelah beberapa saat, kepalanya kembali melihat ke arah Kyu Hyun. “Kau sangat to the point… eumhh—”

 

“Cho Kyu Hyun.”

 

“Ah… Cho Kyu Hyun–ssi.” Na Mi tersenyum dengan ekspresi menahan tawanya. “Haruskah kita pergi ke suatu tempat untuk mengobrol hum?”

 

***

 

Na Mi menuang soju satu sloki penuh lalu meminumnya. Ia juga menyumpit sepotong sundae dan memakannya. Sedangkan Kyu Hyun, ia hanya terdiam melihat Na Mi yang begitu lahap memakan makanannya. Awalnya ia mengira akan berada di tempat dimana ia akan dilayani oleh bartender, namun semuanya diluar dugaan. Sepertinya Na Mi lebih terbiasa melepaskan stress dengan meminum soju di kedai pinggir jalan.

 

“Ah rasanya enak sekali. Ini pertama kalinya aku merasakan suasana seperti ini setelah 5 tahun berlalu. Sungguh, aku sangat merindukan rasa dari soju dan makanan-makanan ini,” ujar Na Mi. Matanya berbinar ketika menatap soju, tteokbokki, sundae serta beberapa potong sosis yang tersaji di atas meja.

 

“5 tahun?” tanya Kyu Hyun.

 

Na Mi mengangguk. “Beberapa tahun belakangan ini aku tinggal di China. Aku bekerja disana.”

 

“Apa itu ada hubungannya dengan Kim Jong Woon?”

 

“Sepertinya kau sangat tertarik pada Kim Jong Woon. Apa gadis bernama Baek Mi Yoo itu kekasihmu huh?”

 

Kyu Hyun menggeleng cepat.

 

“Hei! Kau tidak bisa membohongiku.” Na Mi tiba-tiba berbicara dengan tidak formal. Kemudian, ia mengangguk beberapa kali. “Benar, aku ini tidak secantik Baek Mi Yoo. Dia cantik, pintar, seorang dokter, bahkan mungkin dia adalah pewaris rumah sakit yang besar itu.” Na Mi lagi-lagi menuang soju ke dalam slokinya dan meminumnya. Ia melakukan hal itu beberapa kali sampai sebotol soju habis terminum.

 

“Hentikan,” ujar Kyu Hyun saat Na Mi akan menuang kembali sojunya. Ia mencengkeram tangan gadis tersebut.

 

Namun, Na Mi menepis tangannya. “Ya, aku menyukai Kim Jong Woon. Aku mengejarnya sampai ke China. Dan sekarang, aku merasa seperti orang bodoh karena melakukan hal itu.” Gadis itu kembali menuang soju ke dalam slokinya.

 

“Hentikan, Na Mi–ssi.”

 

Na Mi menepis tangan Kyu Hyun, lagi. “Mwoya?! Aku sudah menjawab pertanyaanmu kan, Cho Kyu Hyun? Kau bisa pergi sekarang.”

 

“Kau mabuk, Na Mi–ssi.”

 

“Lalu apa pedulimu huh?!”

 

Kyu Hyun melirik botol-botol soju yang tergeletak di bawah dekat meja mereka. Gadis itu sudah menghabiskan lima botol soju. Sepertinya ia benar-benar mabuk.

 

“Aku akan mengantarmu pulang,” kata Kyu Hyun seraya berdiri. Ia berniat membantu Na Mi untuk berdiri kemudian kembali ke mobilnya.

 

“Pulang? Hahaha. Rumahku ada di China. Kau akan mengantarku ke China?” tanya Na Mi, tertawa. Gadis itu lagi-lagi menepis tangan Kyu Hyun. Na Mi berusaha untuk berdiri. Kepalanya terasa agak pusing hingga ia hampir kehilangan seluruh keseimbangan tubuhnya. Saat akan melangkah, Na Mi terjatuh dan pingsan.

 

***

 

Kyu Hyun tak memiliki pilihan lain selain membawa Na Mi ke apartmentnya. Gadis itu tertidur pulas sejak insiden jatuh pingsan setelah beberapa kali menepis Kyu Hyun dengan agak kasar. Kyu Hyun juga memeriksa isi tas Na Mi. Sepertinya gadis itu memang tak memiliki alamat rumah di Korea. Ponselnya pun dikunci sandi hingga menyulitkan Kyu Hyun untuk menghubungi salah satu sanak saudaranya.

 

Kyu Hyun merebahkan Na Mi di atas sofa. Ia melenggang ke dapur untuk mengambil segelas air. Hari itu terasa begitu panjang baginya. Alih-alih ia sudah menyiapkan dirinya untuk melamar Mi Yoo jauh-jauh hari tetapi, kenyataan tak berkata demikian. Mungkin sejauh ini Mi Yoo hanya menganggapnya teman, tak lebih dari itu.

 

Kyu Hyun kembali ke ruang tengah. Ia duduk di salah satu sofa kosong kemudian menyalakan tv. Ia melirik Na Mi beberapa kali yang masih tertidur pulas. Sebenarnya Na Mi tak terlalu buruk jika dibandingkan dengan Mi Yoo. Jika diperhatikan, gadis itu cukup menarik. Kulitnya pun tampak bersih dan bagus. Sepertinya ia memang merawat diri hanya karena menyukai Kim Jong Woon.

 

Kyu Hyun berpindah menuju ke sofa yang menjadi alas tidur Na Mi. Lelaki itu duduk di bagian yang dekat dengan kaki Na Mi. Gaun Na Mi yang tersingkap pun menampilkan sebagian pahanya yang mulus. Tangan Kyu Hyun pun terangkat naik, mengelus lembut bagian kaki itu. Mungkin jika Na Mi dalam keadaan sadar, ia akan merasa geli.

 

Na Mi melenguh kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Mungkin agak aneh, tapi menurut Kyu Hyun gadis itu jauh lebih cantik dalam keadaan tertidur. Tidak bergerak, sunyi, bahkan hembusan napasnya pun hampir tak terdengar.

 

Kyu Hyun meletakkan tangannya di bagian kanan-kiri Na Mi. Tubuhnya condong ke depan sampai berposisi tepat di atas gadis itu. Tangan satunya menyibak surai ikal yang menutupi dahi Na Mi. Gadis itu bergerak sebentar karena merasa terusik. Matanya pun terbuka sedikit.  Dalam keadaan pusing karena mabuk, Na Mi tersadar sepenuhnya saat mengetahui Kyu Hyun berada di atasnya sambil menatapnya. Dengan gerakan spontan, Na Mi mendorong Kyu Hyun.

 

“Apa yang kau lakukan huh?” tanyanya begitu terkejut. Ia segera berdiri menjauhi sofa. Tangannya pun praktis memunguti sepatu serta tasnya.

 

Kyu Hyun terdiam. Ia tak tahu apa yang mendorongnya melakukan hal semacam itu.

 

Dengan panik, Na Mi berlari menuju ke pintu. Tangannya sibuk merogoh tas miliknya untuk mengambil ponsel.

 

“Polisi,” katanya saat tangannya terulur untuk meraih kenop pintu.

 

Dalam sekejap mata, suara pecahan terdengar menggema dalam apartment Kyu Hyun. Tenggorokkan Na Mi terasa tercekat saat melihat ponselnya telah hancur membentur dinding. Kyu Hyun berdiri di depannya sambil menatapnya kosong, berhasil membuat gadis itu takut. Dari penilaiannya, pria ini sepertinya tidak beres.

 

“Kau harusnya tak usah melakukan hal itu,” ujar Kyu Hyun, merujuk pada saat Na Mi menghubungi polisi.

 

“A… apa yang kau lakukan huh? Kenapa kau menghancurkan ponselku?”

 

“Karena kau tidak tenang Na Mi. Aku akan membiarkanmu pergi jika kau bisa bersikap tenang.”

 

Mwo?! Hei! Kau gila Cho Kyu Hyun!”

 

“M… mwo?”

 

Wae? Kenapa kau berada di atasku saat aku tertidur huh? Bukankah kau ingin melakukan hal yang tidak-tidak padaku? Huh?!”

 

Kyu Hyun tiba-tiba merasa pusing. Bayangan masa lalunya saat bersama Se Hyun begitu saja berputar dalam memori otaknya. Ia teringat bagaiamana saat Se Hyun berteriak pada kedua pria yang mendekatinya, ia juga teringat bagaimana kedua pria itu melepas pakaian yang membalut tubuh Se Hyun. Kyu Hyun mengingat semuanya.

 

Brak. Dengan hentakan yang keras, Na Mi memukul Kyu Hyun yang tampak linglung. Kyu Hyun pun terjatuh. Na Mi memanfaatkan kesempatan dengan segera membuka pintu apartment. Namun tindakannya tersebut berhasil dicegah oleh Kyu Hyun. Kyu Hyun kemudian menarik tangannya dan melemparnya ke sofa. Pria itu merangkak di atas tubuh Na Mi yang meronta serta berteriak.

 

Plak! Kyu Hyun menamparnya sekali. Tangan Na Mi dikunci di atas kepalanya.

 

Kyu Hyun mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. “Kenapa? Kenapa kau berteriak seperti huh? Padahal aku tidak menyakitimu sebelumnya,” bisik Kyu Hyun dnegan nada terkesan datar dan menakutkan.

 

“Ku mohon, lepaskan aku. Aku akan pergi dengan tenang dan melupakan semuanya. Aku… aku tidak akan melapor polisi.” Air mata Na Mi tampak deras membasahi wajahnya.

 

Plak! Kyu Hyun menamparnya sekali lagi.

 

Ia semakin merasa pusing. Kyu Hyun menggoyangkan kepalanya beberapa kali. Kali ini, ia mengingat bagaimana saat ibunya ditampar, dibunuh, hingga diperkosa oleh lelaki yang tidak dapat ia ingat lagi bagaimana rupanya. Bahkan tatapan mata ibunya di ruangan redup itu terasa menatapnya sekarang.

 

Menyadari Kyu Hyun yang semakin terlihat linglung, Na Mi lagi-lagi mendorongnya. Ia berlari mendekati pintu lagi. Namun keadaan Kyu Hyun tidak seperti yang ia bayangkan. Pria itu kembali bangkit dan meraih tangannya. Kali ini Kyu Hyun membawanya mendekati dinding, membenturkan kepalanya sampai berdarah. Saat pertama, Na Mi masih tersadar namun ia merasakan pusing dan nyeri yang luar biasa. Tetapi, Kyu Hyun tak melakukan hal itu hanya sekali, ia melakukannya berkali-kali sampai Na Mi tak sadarkan diri.

 

Kyu Hyun melemparkan Na Mi hingga jatuh di lantai. Gadis itu sama sekali tak bergerak. Kyu Hyun tiba-tiba berubah khawatir. Ia mengacak rambutnya kebingungan kemudian memutuskan untuk memeriksa Na Mi.

 

Gadis itu tak bernapas.

 

Darah mengalir dari kepalanya sampai ke lantai. Kyu Hyun menuju ke dapur, mengambil kain putih dan membersihkan darah di kepala Na Mi. Ia memindahkan gadis itu ke atas sofa. Kyu Hyun kembali duduk di sofa yang kosong dan melihat ke arah tv yang sejak tadi masih menyala.

 

Keadaan memang tampak kembali seperti semula, disaat Na Mi belum tersadar dari mabuknya.

 

Namun tidak dengan keadaan Kyu Hyun. Ia menggigit jarinya dan seperti dilanda kecemasan yang teramat sangat. Entah kenapa ingatan-ingatan masa lalunya begitu saja kembali menghantuinya, bahkan saat dalam keadaan sadar seperti sekarang. Bayangannya semakin lama semakin tampak jelas.

 

“Ha… Ha Na Mi–ssi,” gumam Kyu Hyun pelan.

 

“Ha Na Mi–ssi,” ulangnya.

 

“Ha Na Mi–ssi….”

 

Namun gadis itu sama sekali tak menyahut.

 

Kyu Hyun berpindah ke sofa yang ditempati Na Mi dan duduk di dekat kaki gadis itu. Bayangan-bayangan masa lalu Kyu Hyun tiba-tiba menghilang, digantikan ingatan yang terjadi beberapa saat yang lalu, disaat bagaimana Na Mi melenguh hingga bagian gaun Na Mi yang tersingkap. Ia seperti merasakan dejavu.

 

Jika diperhatikan sekarang, Na Mi memang cantik. Apalagi dalam keadaan tidak bergerak, sunyi, bahkan hembusan napasnya pun memang sudah tak terdengar.

 

Kyu Hyun merangkak naik di atas gadis itu. Tanpa ragu ia mencium bibir Na Mi yang masih tampak merah.

 

-FlashBack END-

 

***

 

Ruangan terasa menghangat.

 

Napas Kyu Hyun terdengar teratur saat terlelap. Lelaki itu juga tampak bergerak beberapa kali untuk membenarkan selimutnya.

 

Yoon Ha duduk di dekat kaki Kyu Hyun dan memandangnya iba.

 

Kyu Hyun memang tampak baik jika dilihat dari luar. Ringan, bebas, tanpa masalah. Namun, Yoon Ha sama sekali tak menyangka jika dokter tampan itu memiliki detail masa lalu yang begitu kelam. Bahkan dapat dikatakan hal yang berkaitan dengannya memang tak biasa dan menakutkan.

 

Sekeluarnya dari tempat ini, Yoon Ha berharap bisa meloloskan diri dari Kyu Hyun. Ia pikir, ia tak ingin bernasib serupa dengan Ha Na Mi yang tewas di tangan pria yang sedang terlelap itu. Bila perlu, Yoon Ha akan menarik kembali kata-katanya jika ia mencintai Kyu Hyun.

 

Tetapi, tidak dengan apa yang dikatakan hati kecil Yoon Ha.

 

Entah kenapa Yoon Ha sangat ingin melihat Kyu Hyun sembuh dari trauma ataupun hubungannya dengan makhluk tak bernyawa. Ia sangat ingin melihat Kyu Hyun menjalani kehidupannya di Korea seperti di Amerika dulu, saat dimana ia sama sekali tak mengingat masa lalunya yang kelam.

 

***

 

Zhou Mi dan Lu Yin saling menatap satu sama lain setelah mendengar cerita Mi Yoo bagaimana ia mengenal Kyu Hyun.

 

Raut wajah wanita itu tampak menekuk jika mengingat apa yang dilakukan Kyu Hyun pada pasiennya yang tidak bernyawa. Mi Yoo pikir, apa yang terjadi pada Kyu Hyun merupakan kesalahannya. Dulu, ia seharusnya menceritakan pada Kyu Hyun jika dirinya memiliki hubungan dengan pria lain. Mungkin itu bisa mengurangi rasa kecewa Kyu Hyun terhadapnya dan pastinya tidak akan berakhir seperti itu.

 

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” tanya Jung Kook yang tiba-tiba hadir di antara mereka bertiga.

 

“Jung… Jung Kook–ah. Bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Lu Yin terheran.

 

“Aku mendengar semuanya,” kata Jung Kook.

 

“Jung Kook–ah, apa maksudmu?” tanya Mi Yoo.

 

“Maafkan aku. Tetapi dokter tidak beres yang kalian bicarakan membawa noonaku pergi. Sampai sekarang Yoon Ha Noona belum kembali.”

 

“Apa mungkin Yoon Ha….”

 

“Lu Yin,” gumam Zhou Mi. “Berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak.”

 

Lu Yin mengangguk patuh dengan wajah cemasnya.

 

“Sekarang kita harus memikirkan bagaimana cara menemukan Yoon Ha. Aku yakin, Kyu Hyun tidak membawa Yoon Ha ke apartment miliknya. Mereka pasti ke tempat lain yang tak seorang pun yang tahu.”

 

T.B.C

73 thoughts on “B.A.D Part 7

  1. Idihhh kok jadi merinding begini ya…
    Kaya nonton film tentang psikopat aja…
    Hemm jadi penasaran sama endingnya…
    Next Part…

    Suka

  2. Awal dri rasa kecewa yg mmbuat Kyuhyun jdi kelainan dan ditambah dgn trauma masalalunya hingga ya jdilah sprti itu… Psti Kyu bsa di sembuhkan kan??

    Suka

  3. Kayaknyanini menjadi suatu yg menyenangkan kedepannya semoga setelah kyu nyeritain masa lalunya ama si yoon ha dia bisa sembuh dri sikapnya yg psychopath

    Suka

  4. Ini part terpanjang kayaknya ya. Yah, pasti Kyuhyun punya sebab kenapa dia jadi seperti itu. Ternyata karna masa lalunya. Wah, gak nyangka kalo masa lalunya gitu amat. Lihat ibunya dibunuh, kakaknya diperkosa, dikhianati juga. Yah, kalo dilihat dari sisi Kyuhyun. Gak sepenuhnya salah dia. Kalo dia gak merasa kecewa sama Nona Baek, pasti dia juga gak akan ketemu Nami, inget masa lalunya, sampe akhirnya dia ngelakuin itu walaupun antara sadar dan gak sadar. Seharusnya, dia bisa ke Zhoumi dulu sih untuk konsultasi atau gimana biar gak sampe kayak sekarang. Apalagi sampe membunuh. Semoga Yoonha bisa nyembuhin dia deh.

    Suka

  5. Oooooh jadi kejadian masa lalu kelam ini yg membuat kyuhyun menjadi seperti sekarang. Kasian banget kyuhyun😢 karena kejadian yg menimpa ibu & kakanya lah yg membuat kyuhyun seperti ini. Memperkosa wanita yg dalam keadaan tidak sadar. Karena penolakan tidak langsung juga sih. Ya ampuuun ternyata kasian juga ya kyuhyun. Semoga yoon ha bisa membuat sembuh & kembali jadi pria normal ya.

    Suka

  6. Ada kemungkinan happy ending gak ya 😆 Jadi penasaran sama endingnya, yoon ha pengertian banget, tetap sama kyuhyun aja, aku doa in yoon ha berhasil nyembuhin kyuhyun amiin, fighting yoon ha ☺️ #autornya? 😆

    Suka

  7. Ohhhh, jadi itu penyebabnya kenapa kyu suka mayat? Tapi bukankah kyu tidak melihat kejadian itu secara jelas? Kenapa dia bisa melakukan hal yg sama sprti apa yg di lakukan kpd ibunya dlu?

    Suka

  8. Aaaaawawwwwwwwwwaaa… akhirny di buka juga.. senenggnya aku…
    Parah bangt traumany mas kyu, sebenernya mas kyu itu korban pan
    si nami jg… kenp langsung nelpon polisii… hadeuh…
    Si kyu terlalu banyak masalahhh… ditolak lagiii…
    Gak bsa bayangin gmn keadaan kyuuuu stelah ngiget semuaanyaa..
    Kerenn pokoknya ffnaa..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s