Sun Flower Part 10


image

Title : SUN Flower (Painting Of Rose)

Author : DEVITA

Gendre : Colosal, Angst, Romence, Drama, Thrailer, NC

Ranting : 17+

Cast :

Kim Taehyung

Choi Min Gi

Park Jong Soo

Han Ahn Rin

Kim Seokjin

Park Ji Soo

BTS member & Super Junior Member & SNSD member & EXO Member

Author Note :

Huuuh PI author udah selesai permisah sekarang lagi ujian akhir semester jadi makin jarang update tapi author tetep usahain ini cerita sebisa mungkin author update cepet. Oh iya ngemeng-ngemeng nih yah, ini author otaknya udah kebalik kali yah biasanya kan kalo tokoh utama cowok di ff itu biasanya dari jahat berubah jadi baik. nah ini author malah kebalik banget bikinya, dari baik jadi jahat wkwkwkwk maaf yah jangan kecewa karena tokohnya kebalik-balik.

                                            Part 10

                                  (Painting Of Rose)

“Aku mendapatkan surat dari Pangeran Tae Hyung, dia akan datang berkunjung sebentar lagi.” Kata Ahn Rin setelah membuka pintu.

“Pangeran Tae Hyung akan berkunjung?” tanya seorang lelaki tampan yang tengah menatap seksama kanvas yang berada di hadapanya.

“Tentu saja.” Jawab Ahn Rin dingin.

“Bagaimana pertemuan pertamamu dengan Pangeran Tae Hyung beberapa saat yang lalu?”

“Kau baru bertanya sekarang?”

Ahn Rin berhenti melangkah mendengar pertanyaan itu keluar dari sesosok lelaki idiot yang sedang melukis di samping jendela. Gadis itu menatap Seok Jin beberapa saat dengan tatapan tidak suka sebelum menghela nafas dan kembali melanjutkan langkahnya menuju sebuah kursi yang berada di sudut ruangan.

“Dia lelaki yang tampan, pemberani, dan yah  -mempesona seperti yang aku bayangkan.”

Seok Jin tersenyum tipis sambil menorehkan cat berwarna kuning ke kanvas yang ada di hadapanya. Seok Jin tau gadis itu tengah menatapnya tidak suka, itu adalah hal biasa yang ia dapatkan ketika Tuan Putrinya sedang dalam keadaan tidak senang. Matanya melirik ke samping menatap sejenak pohon oak yang tumbuh lebat di halaman samping lalu kembali melanjutkan goresan kanvasnya.

“Lalu apa masalahnya?” Tanyanya lagi dengan nada yang halus dan bersahabat.

“Dia sedikit ambisisus…” sahut Ahn Rin pendek.

“Kau tidak menyukainya?”

“Tidak justru aku sangat menyukainya, dengan menatap matanya aku langsung bisa menebak apa yang dia inginkan. Dan lebih mudahnya lagi, dia tidak akan pernah mengingkari itu.”

“Itu bagus…”

“Yah, dia mengingatkan aku pada seseorang yang sangat jauh berbeda, yang sebenarnya dia memiliki semua kesempatan dan semua kelebihan.” Ahn Rin menegakan tubuhnya sambil mengangguk-angguk pelan dan menatap Seok Jin sinis.

Lelaki itu menghentikan kegiatan kesukaanya sejenak untuk meresapi apa dari kata-kata yang di ucapkan Ahn Rin. Menggerakan kepalanya sedikit sambil menatap lukisanya yang hampir jadi. Mungkin beberapa orang berfikir lelaki itu sedang berfikir atau mengamati sesuatu tentang lukisanya, tapi Ahn Rin tau ucapanya tadi sepertinya sedikit mengenai Seok Jin.

Ia sangat mengenal lelaki yang memiliki sifat kalem itu, sangat mengerti saking mengertinya hingga hafal dan membuatnya semakin bernafsu untuk merubah lelaki itu. Seok Jin adalah tipe burung dalam sangkar, lelaki itu seperti tidak pernah ingin atau suka keluar dari zona nyamanya. Entah seberapa orang di sekitarnya telah berteriak untuk keluar kalau mereka membutuhkanya. Seperti Ahn Ri yang sepertinya sudah pada tahap membutuhkan Seok Jin.

“Setiap orang berbeda, kau tidak bisa menyamakan isi kepala satu orang dan orang lain…”

“Aku tidak mencoba menyamakanya, aku tau itu adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang. Aku tidak mengerti kenapa ada seorang seniman puas hanya dengan melihat tembok kamarnya?”

“Dalam seni yang terpenting adalah ketenangan fikiran, jika hanya dengan menatap tembok bisa membuat dirimu tenang maka seorang seniman tidak membutuhkan apa pun lagi untuk menciptakan sebuah karya. Bahkan sebuah karya terkenal diciptakan oleh seorang narapidana, yang terpenting adalah buatlah dirimu tenang maka kau akan mampu berfikir jernih.” Kata Seok Jin melanjutkan lukisanya.

Ahn Rin tertawa remeh mendengar itu, lelaki itu seperti secara tidak langsung menyinggungnya balik. Kenapa tidak langsung berbicara ‘Tenangkanlah fikiranmu terlebih dahulu baru berbicara padaku’.

“Aku penasaran, seseorang yang bericara seolah itu sangat mudah. Pernahkah kau sekali saja merasa marah? Bahwa sesuatu tidak berajalan sesuai keinginan karena seseorang? Lalu seseorang itu bersikap tenang seolah tidak terjadi apa pun padahal jelas-jelas dia menyembunyikan sesuatu.”

“Dia pasti memiliki alasan untuk menyembunyikanya…”

“Benarkah? Lalu apa alasanya?”

“Dia menyembunyikannya karena tidak ingin seseorang tau alasanya, kenapa kau malah bertanya?” Seok Jin tersenyum lagi, seolah semua yang mereka bicarakan hanya lelucon atau sejenisnya.

Saat itu juga kesabaran Ahn Rin hilang. Gadis itu berdiri cepat menampar tatakan chat yang disangga Seok Jin cukup keras hingga menabrak papan kanvas dan membuat penyangga lukisan Seok Jin ambruk. Lukisan yang di kerjakan Seok Jin selama Tujuh hari menjadi lukisan abstrak karena lukisan itu terjatuh dan tatakan cat juga terjatuh di atasnnya. Seok Jin yang terkejut hanya mampu terdiam sejenak memandang lukisanya yang hancur lalu menatap bajunya yang kotor terkena cat. Bahkan wajah dan lehernya juga tidak luput dari cipratan cat.

Lelaki itu mendongak menatap Ahn Rin. Terlihat sekali kemarahan yang meluap di wajah gadis itu, tapi Seok Jin tau ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Bagaimana?” tanya Ahn Rin dengan nafas memburu, “Aku menghancurkan pekerjaanmu yang sudah susah payah kau kerjakan, apa kau tidak marah padaku?”

“Tuan Putri apa Anda terluka?” tanya Seok Jin mendapati kedaan Ahn Rin yang tidak jauh darinya.

Gadis itu juga terkena cat terutama di baju dan tanganya, dan jika meningat betapa kerasnya gadis itu menampar tatakan cat tadi Seok Jin yakin mungkin besok tangan gadis itu akan bengkak. Tatakan cat tebuat dari kayu tebal dan berat dan Min Gi menamparnya dengan satu punggung tangan hingga benda itu terlempar.

Mendengar pertanyaan itu seperti seseuatu menusuk paru-parunya. Setelah apa yang ia lakukan, bahkan Ahn Rin yakin Seok Jin hampir menyelesaikan lukisanya. Mungkin lelaki itu sudah membuatnya selama satu minggu dan ia menghancurkanya lalu ketimbang marah lelaki itu malah menanyakan keadaanya?

“Biar aku lihat…” Seok Jin memeriksa tangan kanan Min Gi namun gadis itu menarik tanganya dari genggaman lelaki itu.

“Untuk apa kau perduli padaku Tuan Muda Kim?” Ahn Rin merunduk menatap Seok Jin dingin.

Seok Jin terdiam sejenak tetap mendongak menatap Ahn Rin yang menatapnya dingin. Lelaki itu lalu menghela nafas dan berdiri memberikan kursinya untuk Ahn Rin. Mempersilahkan gadis itu duduk, dan ia siap untuk berlutut di hadapan gadis itu.

“Duduklah…” ucapnya pelan tanpa menatap Ahn Rin.

“Untuk apa?”

“Aku harus memeriksa tanganmu!”

“Aku rasa itu sama sekali tidak perlu.”

“Ini perlu, duduklah dengan tenang…” Seok Jin mulia meraih tangan Ahn Rin namun gadis itu lagi-lagi menghindar.

“Aku rasa tabib lebih mengerti masalah seperti ini…”

“Aku hanya ingin melihatnya sebentar, jika hanya luka ringan aku bisa mengobatinya…”

Menanggapi ucapan Seok Jin dengan tersenym pait, “Kenapa kau seolah sangat perduli padaku? Kenapa kau munafik sekali Tuan Kim?”

“Jin…” lanjut lelaki itu penuh penekanan sebagai penekanan juga bahwa dia tidak suka di panggil Tuan Kim oleh Ahn Rin.

Ahn Rin mengabaikan itu berniat untuk pergi dari Seok Jin, ia benar-benar sudah tidak tahan berada dalam satu ruangan dengan orang yang paling idiot dan munafik sedunia. Tapi Seok Jin dengan cepat menarik Ahn Rin kembali kemudian menekan pundak gadis itu membuat Ahn Rin duduk manis di kursi lalu Seok Jin berlutut di hadapanya.

“Kenapa kau keras kepala sekali huh?” Seok Jin kali ini dengan paksa menarik pergelangan tangan kanan Ahn Rin membuat gadis itu sedikit mendesis sakit, menatap buku jari Ahn Rin yang mulai terlihat memerah membuat lelaki itu menghela nafas lagi.

“Tunggu disini akan aku ambilkan air hangat…”

“Tidak perlu!” sahut Ahn Rin cepat dan dingin.

“Dengarkan aku…”

“Kau yang dengarkan aku! Aku benci ketika kau berpura-pura baik, berpura-pura kau perduli atau tidak perduli padaku, aku benci melihat semua kepura-puraanmu itu Tuan Kim. Berpura-pura kau tidak perduli pada perasaanku, atau berpura-pura tidak memiliki perasaan apa pun padaku. Berpura-pura kau sangat perduli padaku padahal kau sama sekali tidak perduli apa yang terjadi padaku karena sikap munafikmu itu! kau adalah orang paling munafik dan pengecut yang pernah aku kenal!”

Gadis itu menarik tanganya dari genggaman Seok Jin berdiri dengan cepat meninggalkan ruangan itu. Sementara Seok Jin hanya terdiam, menatap kosong pada tanganya sendiri tanpa bergerak sedikitpun bahkan ketika Ahn Ri membanting pintu. Hingga beberapa saat baru lelaki itu memalingkan wajahnya ke samping menatap betapa hancurnya lukisannya lalu mendenus seperti orang tertawa.

“Seandainya kau bukan Putri Mahkota, Ahn Rin pasti tidak akan sesulit ini.”

*****

Tae Hyung menatap sepasang manusia yang berada di depanya dengan tatapan nanar, apa lagi melihat betapa manisnya Min Gi dihadapan Jung Soo. Perutnya terasa seperti di putar balik dan kepalanya terasa panas ia ingin sekali menghancurkan sesuatu sekarang, sesuatu seperti kepala Jung Soo. Matanya melirik ke samping melihat punggung mungil Min Gi yang bersandar di dada Jung Soo, sialan siapa anggota penasehat istana yang menyarankan mereka hanya membawa satu kereta kuda Tae Hyung ingin menyeretnya sekarang juga.

Mengalihkan pandanganya ke samping tapi sialnya tidak membuatnya mendapat panorama yang lebih baik. Melihat wajah tenang Dong Hae yang berkuda tepat di sampingnya membuat kepalanya hampir mendidih. Semua ini di luar rencananya, seharusnya Dong Hae tinggal di istana untuk menjalankan tugas lain membiarkan Min Yong Han serta para pengikutnya membersekan kepala lelaki itu. Jendral besar itu seharusnya sudah mencium kaki Min Gi berkali-kali karena berkat wanita itu dia bisa selamat dari rencana Tae Hyung atau setidaknya kepalanya tidak menggelinding saat ini.

Informasi yang diberikan Chang Min kemarin bilang bahwa Dong Hae sekarang sudah menjadi pengawal pribadi Min Gi, wanita itu yang memintanya sendiri dari Jung Soo. Entah lelaki setengah mati itu tergila-gila pada Min Gi atau memang isi kepalanya sudah terlalu encer karena terus digunakan untuk berfikir keras bagaimana cara membunuh Tae Hyung, lelaki tua itu dengan mudahnya setuju. Banyakan bagian mana yang masuk akal dari seorang Jendral Besar yang sudah dicalonkan menjadi Mentri Pertahanan tiba-tiba berubah menjadi kacung Min Gi?!

Tae Hyung menghela nafasnya kasar, raut wajahnya muram dan suasana hatinya benar-benar buruk. Bisa dipastikan Min Gi tidak serta merta meminta Dong Hae menjadi pengawalnya, wanita itu sudah tau separuh dari rencana Tae Hyung dari Jimin dan bisa dipastikan ini akan menjadi benar-benar menyusahkan.

“Pangeran, apa kau baik-baik saja?” telinga Tae Hyung langsung memerah mendengar suara itu. Meluruskan kepalanya ke arah Min Gi melihat dengan jelas seringaian tipis wanita itu.

“Ya Ibu Permaisuri…” dan untuk apa wanita itu bertanya? Apakah untuk mengejeknya? Min Gi pastinya tau apa yang terjadi di balik raut wajah Tae Hyung.

“Sebentar lagi kita akan sampai Yang Mulia.” Kata kusir pengendali kereta membuat Min Gi kembali meluruskan kepalanya ke depan mendapati pintu masuk perbatasan Tamna sudah berada di depan mata.

Tae Hyung menghela nafas lega, bersyukur karena sebentar lagi dia bisa menghirup angin segar setela rasanya hampir seperti direbus satu hari satu malam karena Jung Soo dan Min Gi. Tamna bukanlah negara yang besar, jadi jarak antara perbatasan dan istana tidak akan jauh. Kepala Tae Hyung menoleh ke arah jendela menatap beberapa pejalan kaki yang berdiri di pinggir jalan mempersilahkan rombonganya lewat, atau para rumah-rumah kecil yang berderet sepanjang pinggir jalan.

Masyarakat Tamna tidak semakmur Silla, dalam sekejap Tae Hyung bisa menyimpulkanya melihat bagaimana rumah dan keadaan mereka, tapi mereka juga tidak bisa dibilang menyedihkan. Mungkin kata sederhana cukup bagus. Lalu pikiranya beralih ke hal lain, entah kenapa ia menjadi begitu penasaran dengan sosok lelaki yang pernah di ceritakan Ahn Rin sebagai seorang lelaki yang disukainya. Kim Seok Jin, Tae Hyung akan memastikannya sendiri apakah lelaki itu cukup pantas untuk menjadi Kaisar Tamna.

Kereta kuda dan gerombolan mereka mulai memasuki gerbang istana, hampir sama seperti Silla saat menyambut kedatangan Tamna, Tamna Juga menyambut mereka dengan begitu meriah. Gerombolan Silla berhenti di depan halaman aula istana utama dua orang prajurit membantu Min Gi turun dari kereta, di depan Aula Istana sudah menunggu keluarga kerajaan Tamna yang menyambut mereka dengan senyuman secerah siang ini.

“Selamat datang di Istanaku Besan, bagaimana perjalananmu?” kata Shin Dong sambil memeluk Jung Soo.

“Cukup melelahkan, tapi ketika aku melihat sambutan darimu aku merasa lelahku hilang.” Keduanya terkekeh kecil.

“Aku membawakan sutra untukmu Permaisuri Yoon Joo.” Min Gi tersenyum tipis saat Yoon Joo mengamit kedua tanganya karena saking senangnya.

“Benarkah?” tanya wanita itu begitu antusias.

“Pelayan, bawakan bingkisan untuk Permaisuri Yoon Joo!” Min Gi memerintahkan seorang pelayan yang berdiri di belakangnya. Pelayan itu langsung membungkuk dan pergi ke kereta barang.

“Sutra Silla adalah yang terbaik, beberapa pedagang dari Silla atau pedagang perantau sering membawanya dari Silla aku pernah mendapatkanya sekali dan menemukan diriku begitu terpesona karena kehalusanya.” Yoong Joo mulai menuntun Min Gi memasuki Istana.

“Aku rasa kalian perlu beristirahat sebentar, kita bisa berbicara nanti sore.” kata Shin Dong menimpali.

“Benar kalian pasti lelah.” Yoon Joo mengangguk setuju. “Dan Putriku sayang….” kepalanya menoleh pada Ahn Rin dan Tae Hyung yang masih menjadi patung di samping mereka. “Ajaklah Pangeran berjalan-jalan di sekitar sini, ajaklah dia melihat-lihat istana Tamna karena dia juga akan menjadi Kaisar disini.”

“Baik Ibu…” Jawab Ahn Rin singkat lalu dua pasang manusia itu meninggalkan mereka sambil sibuk berbincang satu sama lain.

“Jadi, kau tidak menyambutku? Calon istri….” Tae Hyung menaik turunkan alisnya menggoda Ahn Rin.

Ahn Rin memutar bola matanya jengah. “Kau menyebutku ‘calon istri’ tapi jika itu benar-benar terjadi kau akan menghancurkan Tamna lalu menjadi orang sinting.” Lalu berbalik tanpa memperdulikan Tae Hyung lagi. “Dan yah, memang sejak kapan kau waras?”

“Wow aku terkesan dengan sambutanmu, aku tidak tau kalau lidah Tuan Putri Ahn Rin begitu manis dan menggoda…” jawab Tae Hyung enteng sambil mengikuti Ahn Rin dari belakang.

“Terimakasih atas pujianya Wang Seja. ..” kata Ahn Rin sambil tersenyum tipis, bukan senyum yang manis. Senyum itu seperti mengatakan buka mulutmu sekali lagi dan kepalamu akan menjadi pajangan tembok istana besok.

“Itu hanya lelucon, aku bersumpah hanya lelucon.” Tae Hyung memegang lehernya sendiri, seperti lehernya hapir putus karena tatapan Ahn Rin.

“Tentu saja, dan aku harap leluconmu bisa lebih lucu karena moodku sedang benar-benar buruk hari ini. Jadi mungkin kau bisa mengiburku dengan membiarkan aku menggorok lehermu.” Ahn Rin kembali berjalan dengan wajah tertekuk-tekuk membuat Tae Hyung terkekeh lucu.

“Tuan Putri bibirmu hampir jatuh…” katanya sambil mengadahkan tanganya di bawah dagu Ahn Rin seolah berisap menangkap bibir Ahn Rin jika benar-benar jatuh sambil terkekeh lagi.

“Sialan tutup mulutmu!!”

“ARGH!!” Tae Hyung berteriak terkejut sekaligus kesakitan karena Ahn Rin yang tiba-tiba menggigit telapak tangannya. “Ya Tuhan, sekarang aku tau kenapa Seok Jin tidak mau denganmu.” Gerutu Tae Hyung sambil megelus tanganya sendiri.

“Kau bosan hidup rupanya Pangeran…” dan nada bicara itu terdengar begitu mengancam.

“Baiklah-baiklah aku tidak akan bercanda lagi.”

“Sebaiknya begitu.” Kata Ahn Rin pendeng sambil memasang tatapan mematikan untuk Tae Hyung sebelum berjalan lagi.

“Biar aku tebak! Moodmu buruk hari karena Seok Jin, aku benar kan?” Ahn Rin mengabaikanya dan terus berjalan masuk istana. “Moodku juga sedang buruk, apakah aku boleh menghajarnya?”

Kata-kata itu membuat Ahn Rin kembali berhenti lalu menoleh ke arah Tae Hyung. “Kau ingin menghajarnya?”

Tae Hyung mengangguk antusias. “Moodku sedang buruk karena wanita itu, dan moodmu sedang buruk karena Seok Jin. Kau tau rasanya aku sepeti dipanggang satu hari satu malam bersama sepasang suami istri beda generasi itu, setiap aku melirik mereka rasanya jika aku bisa aku ingin membakar kereta kudanya.”

“Lalu apa hubungannya dengan Seok Jin?” tanya Ahn Rin sambil melipat tangannya di depan dan memiringkan sedikit kepalanya.

“Seok Jin membuatmu marah, dan aku akan menghajarnya untuk mu. Bukankah kita teman yang saling membantu? Aku membantumu membalas Seok Jin dan kau membiarkan aku melampyaskan kemarahanku, bagaimana?”

“Kau tau, Tamna punya sesuatu yang menarik di penjara bawah tanah. Kau mau lihat?” tanya Ahn Rin sambil tersenyum tipis.

“Tidak terimakasih, karena aku yakin Silla juga memilikinya. Lagi pula aku kesini untuk melihat calon mertua dan calon suami dari temanku jadi mari kita kunjungi mereka.” Tae Hyung membalas senyum Ahn Rin dengan senyum lebarnya.

Alis Ahn Rin berkerut tipis. “Temanmu yang mana?”

“Ehm, Temanku yang seperti kucing liar…”

“Kucing liar?”

“Ya, jika kau tidak percaya lihat apa yang dia lakukan padaku!” Tae Hyung menunjukan bekas gigitan Ahn Rin di telapak tanganya.

“Mungkin karena kau seperti buaya darat jadi dia berubah menjadi kucing liar.”

“Aaah itu manis sekali.”

“Kim Tae Hyung!”

“Aku hanya bercanda, kenapa kau sensitive sekali huh? Apa yang dilakukan Seok Jin padamu? apakah sama menyebalkanya dengan ibu tiriku?”

“Memang apa yang Eonie lakukan padamu huh?”

“Eonie?” Ahn Rin memanggil Min Gi Eonie? apakah kupingnya terlalu kotor untuk mendengarkan sekarang? Coba Tae Hyung ingat kapan terakhir kali ia membersihkan telinganya.

“Apa? Apa kau ingin aku memanggilnya Ibu Mertua?” oh Tae Hyung ingin muntah sekarang.

“Baiklah, eonie..”

“Jadi…?” gadis itu menunggu jawaban dari Tae Hyung.

“Dia menggagalkan rencana pertamaku.” Jawab Tae Hyung pendek.

“Dia tau rencanamu? Bagaimana bisa?”

“Dengar, walaupun wajahnya terlihat baik dan kalem kau tidak tau bagaimana dia, dia cukup licin Rin-ah.”

“Yah sebanding dengamu. Lalu apa rencanamu selanjutnya?”

“Selanjutnya? Bagaimana jika kita membicarakan rencana kita sekarang? Dimana Perdana Mentri Kim?”

“Disana.” Kata Ahn Rin sambil menunjuk pintu di belakang Tae Hyung.

“Kita akan menemuinya sekarang?” tanya Tae Hyung tercengang.

“Kau sendiri yang bilang ingin menemui calon mertuaku kan?”

“Tapi aku tidak bilang saat ini juga Shin Ahn Rin.” Tae Hyung menghela nafasnya kasar. “Baiklah, bisakah kau menyuruh seorang pelayang untuk memanggil Jendral Chang Min?”

“Baiklah.” Jawab Ahn Rin singkat lalu pergi mencari pelayan.

Tae Hyung berbalik menghadap pintu yang berada di belakangnya, menarik nafasnya dalam lalu menghembuskanya perlahan. Lelaki yang berada di dalam sana adalah calon mertua Ahn Rin kenapa ia yang gugup? Lagi pula bukanya lebih cepat lebih baik? kepalanya menggeleng pelan lalu mengetuk pintu itu tiga kali.

“Siapa?” suara berat khas lelaki berumur terdengar di balik pintu.

“Ini Pangeran Tae Hyung, Tuan Perdana Mentri Kim.” Sahutnya begitu halus dan sopan, tiga detik setelah jawabanya pintu itu langsung terbuka lebar menampakan seorang lelaki paruh baya yang sedikit kurus.

“Sebuah kehormatan Yang Mulia Wang Seja mengunjungi saya.” Kim Nam Jin membungkuk hormat di hadapan Tae Hyung.

“Tidak perlu se-formal itu Perdana Mentri.” Tae Hyung ikut membungkuk lalu menyetuh kedua pundak Nam Jin agar kembali berdiri tegak.

“Silahkan masuk Yang Mulia.” Nam Jin memiringkan tubuhnya di samping pintu mempersilahkan Tae Hyung masuk.

“Apa ini ruanganmu Tuan Kim?”

“Ya Yang Mulia.”

Setelah tiga langkah masuk ke dalam ruangan itu Tae Hyung sedikit terpukau, ruangan kerja yang benar-benar unik. Tidak seperti ruangan kerja pada umumnya yang dipenuhi gulungan kertas, tinta dan lemari-lemari penuh dengan buku tebal ruangan kerja Nam Jin begitu berwarna. Ada beberapa lampion hias yang digantung di langit-langit, lalu sebuah sakura berukuran setinggi orang dewasa yang di tanam di dalam pot besar di sudut ruangan. Lukisan-lukisan cantik yang terpajang di sepanjang dinding.

“Ruanganmu benar-benar menyenangkan Perdana Mentri.”

Lelaki tua itu tersenyum lebar dengan mata yang berbinar bangga dan bahagia atas pujian Tae Hyung. “Semua ini adalah buatan Putra bungsu saya Yang Mulia, lampion-lampion itu dia suka sekali lampion semasa kecilnya jadi dia belajar membuatnya. Dan lukisan itu, dia juga yang melukisnya.”

“Benarkah?” Tae Hyung berbalik melirik Nam Jin dengan seringaian yang sangat tipis. “Aku juga suka melukis…”

“Apa yang paling suka Anda lukis Yang Mulia?” kata Nam Jin sambil mempersilahkan Tae Hyung duduk di kursinya.

“Aku suka melukis bunga, setiap bunga memliki arti sendiri, dan sesuatu yang tersembunyi dibaliknya.” Mata Tae Hyung kembali menelusuri lukisan-lukisan Seok Jin. “Benar apa yang Ahn Rin katakan, Seok Jin adalah pelukis yang hebat.”

“Anda menyukai sesuatu yang misterius Yang Mulia? Kebanyakan lelaki memang suka dengan sesuatu yang bisa membuat penasaran.” Nam Jin duduk di hadapan Tae Hyung, “Tuan Putri dan Putraku sudah berteman sepanjang umur mereka, apakah Tuan Putri menceritakan banyak hal mengenai Putra saya?”

“Tidak, tidak terlalu banyak tapi ketika ia menceritakan semua hal tetntang Seok Jin dia menjadi begitu bersemangat. Rona di wajahnya semakin terlihat cerah dan cantik.” Ucapan Tae Hyung membuat Nam Jin terdiam menatap lelaki muda itu sedikit terkejut.

Tae Hyung masih terus menatapi lukisan Seok Jin satu persatu lalu tatapanya berhenti pada satu sosok lukisan seorang lelaki berseragam ungu yang sedang tersenyum sambil menulis sesuatu. “Apa itu kau Perdana Mentri?”

Kepala Nam Jin mengikuti arah pandang Tae Hyung lalu tersenyum tipis. “Benar Yang Mulia. Lalu lukisan perempuan yang berada di sebelahnya adalah lukisan mendiang Ibunya.”

“Dia pasti anak yang baik kan?” Tanya Tae Hyung menoleh ke arah Nam Jin lelaki itu terdiam beberapa saat lalu merunduk sambil tersenyum.

“Ya, dia anak yang sangat baik. Dia tidak pernah mengeluh, melawan bahkan protes, ketika saya bertanya apa yang dia inginkan dia hanya akan menjawab aku sudah punya semuanya apa lagi yang aku inginkan? Terkadang saya berfikir apakah saya sudah menjadi ayah yang baik? semenjak ibunya meninggal dia menjadi begitu pendiam dan tertutup. Hanya Tuan Putri yang sering bergaul denganya, Tuan Putri Ahn Rin adalah satu-satunya orang yang memahaminya mungkin lebih dari saya.”

“Ahn Rin adalah satu-satunya orang yang memahaminya, tapi gadis itu akan menikah denganku sebentar lagi dan itu berarti putramu akan kehilangan satu-satunya teman dalam hidupnya. Perdana Mentri aku merasa sedih untuk putramu apakah kau tidak merasakanya?”

“Tuan Putri Ahn Rin adalah milik Tamna, kebijakan Yang Mulia Kaisar pasti yang terbaik untuk Tamna. Pernikahan ini demi kemakmuran semua masyarakat Tamna Yang Mulia, Anda tidak bisa mengorbankan kesejahteraan rakyat hanya untuk kepentingan pribadi.” Tatapan Nam Jin berubah menjadi serius membuat Tae Hyung menyeringai.

“Demi kemakmuran Tamna, apa kau yakin Perdana Mentri?” Nam Jin merasakan bulu kuduknya meremang saat ia menatap langsung ke mata Tae Hyung. Seolah lelaki itu bukanlah manusia, lelaki itu memiliki aura gelap yang begitu tajam dan panas seperti api neraka.

“Apa maksud Anda Yang Mulia?” tanya Nam Jin sambil menelan ludahnya.

“Menurutmu mana yang lebih menyenangkan untuk di dengar?” Kata Tae Hyung sambil berdiri di depan meja lalu mendekat ke Nam Jin perlahan. “Yang Mulia Kaisar Kim Tae Hyung? Atau…” ketika ia sampai di samping Nam Jin, Tae Hyung membungkuk dan wajahnya tepat di samping wajah Nam Jin.

“Yang Mulia Kaisar Kim Seok Jin…” bisiknya tepat di samping telinga Nam Jin sambil menyeringai lebar seperti seorang iblis yang sedang berusaha menjerumuskan manusia ke dalam neraka. “Pikirkan baik-baik Perdana Mentri, Putra bungsumu akan mendapatkan kebahagiaanya dan menjadi Kaisar jika kau mau.” Kemudian berdiri tegak kembali dan berjalan menuju sebuah lukisan bunga anggrek bulan yang terpajang di sudut ruangan sementara Nam Jin masih mematung di posisinya.

“Setiap bunga memiliki filosofinya masing-masing, setiap filosofi memiliki cerita.” Tae Hyung terdiam sejenak mendengar pergerakan kaki kursi, tanpa melihat pun Tae Hyung tau kalau Nam Jin sedang menatapnya saat ini. “Setiap bunga memiliki cerita, dan setiap lukisan pun juga menggambarkan sebuah cerita. Perdana Mentri, selain melukis aku juga suka bercerita. Aku punya sebuah cerita yang bagus tentang pelukis, lukisan dan bunga kau ingin tau?” kemudian menoleh menatap Nam Jin yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang penuh waspada.

“Apa itu Yang Mulia?”

Tae Hyung tersenyum tipis “Cerita tentang seorang pelukis tampan yang tidak pernah bisa melukis mawar.” Lalu kembali menatap lukisan bunga anggrek di hadapanya.

“Itu terdengar menyedihkan…”

“Benar, cerita yang sangat menyedihkan.” Kata Tae Hyung tanpa menatap Nam Jin. “Dan kau tau arti dari judul cerita itu?”

“Mawar adalah lambang dari cinta dan keindahan, apakah itu cerita tentang seorang lelaki yang tidak pernah mendapatkan cintanya dan kebahagiaanya?”

Tae Hyung menyeringai pada lukisan anggrek di hadapanya. “Kau tepat Perdana Mentri, dan itu akan menjadi kisah yang benar-benar nyata untuk putramu jika kau menolakku.”

“Kenapa Anda melakukan ini Yang Mulia? Apa Anda tidak ingin menjadi Kaisar?” Nam Jin terus menatap punggung Tae Hyung.

Mendengar pertanyaan itu membuat Tae Hyung terkekeh pelan. “Tidak ada orang tolol di dunia ini Perdana Mentri. Tentu saja aku ingin menjadi Kaisar, tapi bukan Kaisar Tamna.” Kemudian berbalik, meluruskan tubuhnya ke arah Nam Jin. “Aku ingin menjadi Kaisar Silla.” Kemudian keduanya terdiam saling menatap satu sama lain.

“Bantu aku menjadi Kaisar Silla dan aku akan menjadikan Putramu Kaisar Tamna.” Mendengar ucapan Tae Hyung mata Nam Jin membulat dengan pupil yang mengecil. Lelaki ini mengajaknya bekerja sama dalam sebuah konspirasi untuk Silla dan sebagai imbalanya Seok Jin akan menjadi Kaisar begitu?

“Yang Mulia apa yang Anda pikirkan?” tanya Nam Jin tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan Tae Hyung.

“Kenapa Perdana Mentri? Kau meragukanku? Jika kau meragukanku karena kemungkinan kita akan kalah maka biar aku beri tau satu hal padamu. Baekje sudah ada bersamaku, Jendral Chang Min akan kemari menunjukan bukti surat perjanjian kami jika kau mau.” Kata Tae Hyung sambil berjalan kembali ke kursinya. “Lagi pula aku rasa kau tidak sedang berada di posisi dimana kau bisa memilih Perdana Mentri. Katakan padaku, kau ingin melihat Putramu bahagia bukan?”

Tubuh Nam Jin bergetar, tatapan Tae Hyung menjadi begitu mematikan terutama di saraf pusatnya. Ucapan terselubung Tae Hyung mengenai pelukis yang tidak bisa melukis mawar tentu saja Nam Jin mengerti. Bunga mawar melambangkan cinta dan keindahan, jadi itu berarti dia akan membuat hidup putranya tidak memiliki cinta dan tidak bisa melihat dunia yang indah. Tae Hyung akan menghancurkan Ahn Rin sebagai cinta dari Seok Jin dan menghancurkan Tamna sebagai dunianya.

“Jangan memasang wajah tertekan seperti itu Perdana Mentri, aku tidak sejahat itu. aku hanya bilang aku bisa membuat Putramu mendapatkan semua yang dia inginkan atau kehilangan semua yang dia miliki.”

“Apa yang Anda Inginkan?”

“Dukunganmu tentu saja, dan dukungan dari semua pendukungmu.”

“Benar Yang Mulia sebagai seorang ayah aku menginginkan apa pun yang terbaik untuk Putraku, demi kebahagiaan Putraku aku akan melakukan segalanya. Tapi, sekalipun aku berfikir bahwa menjadikanya Kaisar adalah pilihan yang terbaik untuknya tapi belum tentu dia menginginkanya juga bukan? Jadi keputusan terakhir ada di tangan Putraku karena dialah yang akan menjalaninya, jika putraku mendukungmu maka aku juga akan mendukungmu.”

“Bukankan kau sendiri yang bilang bahwa dia adalah anak yang sangat baik, tidak pernah mengeluh, membantah bahkan protes? Aku yakin jika dia tidak akan mengecewakanmu bukan Perdana Mentri?” kata Tae Hyung sambil mengangkat sedikit rahangnya, matanya menatap pohon sakura di sudut ruangan sambil tersenyum tipis.

“Yang Mulia…” terdengar suara Chang Min di balik pintu ruangan.

“Masuk Jendral.” Kata Tae Hyung tanpa menoleh sama sekali.

Pintu masuk bergeser perlahan menampakan Chang Min dengan gulungan kertas di tangan kananya. Chang Min menyerahkan gulungan kertas itu pada Tae Hyung dan Tae Hyung menyerahkanya pada Nam Jin. Lelaki itu menatap gulungan kertas itu beberapa saat sebelum membukanya, Nam Jin membaca setiap kata dalam perjanjian itu dengan seksama lalu matanya beralih menatap Tae Hyung yang juga sedang menatapnya.

“Bagaimana Perdana Mentri Kim?” Tae Hyung menyeringai “Apa kau yakin kau tidak ingin melihat Putramu duduk di Singgahsana Kaisar?”

Nam Jin menelan ludahnya susah payah melihat tawaran yang begitu menggiurkan sekaligus seringaian menggoda Tae Hyung. Seringaian itu seolah menawarkan surga yang di bungkus di dalam neraka, kesenangan dalam dosa. Benar tidak ada orang tolol di dunia ini, begitupun dengan Nam Jin tentu saja dia ingin melihat Seok Jin putra bungsunya menjadi seorang Kaisar yang di junjung tinggi, dan dimuliakan setiap detiknya. Namun Seok Jin bukanlah tipe lelaki yang tergiur dengan hal seperti itu, sepanjang ia mengenal putranya Seok Jin adalah lelaki berhati sehalus beledu.

“Aku akan meyakinkanya…” ucapnya kemudian mengalihkan tatapannya kebawah.

Seringaian Tae Hyung semakin lebar. “Itu jawaban yang aku inginkan Perdana Mentri.” Kemudian berdiri berbalik ke arah pintu keluar diikuti dengan Chang Min namun tepat tiga langkah sebelum sampai di depan pintu keluar Tae Hyung berhenti kemudian menoleh kembali melirik Nam Jin yang sedang menatap punggungnya.

“Dan akan aku pastikan aku mendapatkan jawaban yang benar-benar aku inginkan nanti.” Katanya sebelum kembali melangkah keluar ruangan Nam Jin.

Tae Hyung terdiam sesaat setelah Chang Min pamit kembali ke tempatnya, lelaki itu menatap punggung Chang Min yang menghilang di balik lorong istana. Tubuhnya berbalik ke arah yang berlawanan sebelum berasakan sesuatu yang menabrak dadanya, Tae Hyung merunduk mendapati wajah Ahn Rin menempel di dadanya.

“Hay gadis apa yang kau lakukan?” tanya Tae Hyung dengan wajah sedatar tembok.

“Bagaimana? Perdana Mentri bilang apa?” Ahn Rin mengangkat kepalanya lalu menatap Tae Hyung dengan penuh antusias matanya membulat seperti kucing yang sedang minta diberi makan.

Tae Hyung menghela nafas lalu mendorong kening Ahn Rin dengan telunjuknya agar gadis itu menjauh. “Tidak ada yang tidak bisa dilakukan si tampan Kim Tae Hyung.”

“Aku tidak bertanya apa yang kau lakukan di dalam aku bertanya apa yang di katakan Perdana Mentri!” sungut Ahn Rin kesal.

Alis Tae Hyung berkerut. “Aku rasa jawaban yang tadi itu sudah menjawab pertanyaamu.” Lalu mulai melangkah ke mana kakinya melangkah, sebenarnya dia juga bingung mau kemana karena ia tidak tau tata letak istana Tamna.

“Jadi apakah dia setuju?” Ahn Rin dengan sigap ikut mengikutinya bena-benar seperti kucing kelaparan.

“Tidak sepenuhnya…”

“Huh? Maksudmu?” tanya Ahn Rin lalu menghentikan langkahnya.
“Maksudku-” Tae Hyung juga ikut menghentikan langkahnya. “Kenapa kau tidak pergi menemui Seok Jin lalu merayunya atau menggodanya? Karena keputusan akhir tetap di tangan Seok Jin.”

Kali ini Ahn Rin yang menghela nafas. “Aku sudah melakukan itu seumur hidupku, jika aku bisa aku tidak akan berakhir menjadi tunanganmu.” Lalu keduanya terdiam saling menatap satu sama lain dengan pikiran yang menerawang jauh.

“Ahn Rin-ah sekarang aku mulai berfikir Seok Jin itu…”

“Apa?!” sentak Ahn Rin seperti hampir bisa menebak apa yang ada di kepala Tae Hyung.

“Dia menyukai perempuan kan?” lalu detik berikutnya sebuah tendangan cantik Han Rin mendarat di tulang kering Tae Hyung membuat Tae Hyung meringis mengaduh sambil memegangi kakinya.

“Sialan apa yang kau katakan tentu saja dia i-.”

“Tuan Putri Ahn Rin, Yang Mulia Pangeran Tae Hyung…” suara seorang pelayan menghentikan petengkaran kecil mereka, pelayan perempuan merunduk sekilas tidak jauh dari mereka lalu kembali berdiri tegak sambil merundukan kepalanya. “Tuan Purti dan Yang Mulia Pangeran sudah ditunggu di balai Istana.”

“Baiklah kami akan segera kesana…” Jawab Ahn Rin singkat lalu menarik tangan Tae Hyung menuju balai istana.

“Kenapa tiba-tiba kita disuruh ke balai istana?” tanya Tae Hyung menatap Ahn Rin bingung.

“Kau tau? Saat mandapat surat dari Silla bahwa kalian akan berkunjung kemari ayahku sangat senang lalu dia menyiapkan sebuah pertunjukan untuk kalian.”

“Benarkah? Pertunjukan apa?”

“Kau liat saja sendiri nanti.” Kata Ahn Rin tanpa menoleh ke arah Tae Hyung dan juga tanpa melepaskan tanganya.

Setibanya di balai istana Tae Hyung begitu terpesona melihat para prajurit yang berbaris begitu rapih di halaman balai istana, mereka berdiri terdiam menggengam pedang mereka. Ahn Rin menyeretnya ke puncak balai istana disana sudah menunggu Jung Soo, Min Gi, Shin Dong dan Yoon Joo yang duduk di singgahsana mereka masing-masing.

“Apa kalian menikmati waktu kalian?” Tanya Yoon Joo sambil tersenyum melihat sepasang pemuda yang sedang bergandengan tangan tiba di hadapan mereka.

“Ya Terima Kasih Yang Mulia…” sahut Tae Hyung cepat sambil memperhatikan senyum kotaknya pada Yoon Joo membuat wanita paruh baya itu terkekeh, pangeran yang benar-benar manis.
“Sungguh kau tidak perlu menyambut kami semeriah ini besan…” Jung Soo berkata sambil mencondongkan duduknya miring ke arah Shindong.

“Apa maksudmu? Ini hanya tarian sederhana yang sering ditarikan di kerajaanku.” Shindong menepuk pundak Jung Soo pelan sambil tersenyum.

Mereka mulai menatap para prajurit yang mulai mengayunkan pedang mereka sesuai musik yang di mainkan oleh pemusik. Pertunjukan tari pedang yang memukau menyedot seluruh perhatian Min Gi hingga wanita itu tidak sadar bahwa mata Tae Hyung terus mengamatinya sejak tadi. Sunglet sosok Min Gi yang begitu menakjubkan jika di lihat dari samping, lebih menarik berkilau dari pedang para prajurit itu jika terkena matahari.

Min Gi tersenyum tipis lalu bertepuk tangan saat para prajurit selesai memainkan pedangnya lalu mengedarkan pandanganya ke segala arah. Dan disana, matanya bertemu dengan mata Tae Hyung yang menatapnya dengan tatapan yang sama tajamnya dengan ujung pedang para prajurit itu, lalu beberapa saat kemudian lelaki itu menyeringai membuat Min Gi merasakan dengan jelas bahwa mata tajam itu telah menembus jantungnya.

Min Gi menahan nafasnya beberapa saat karena efek yang diberikan dari raut wajah Tae Hyung kepadanya kepalanya dengan cepat kembali lurus menghadap ke depan membuat seringaian Tae Hyung semakin melebar. Lihatlah betapa lucunya Permaisuri Silla saat sedang gugup karena di pandangi oleh Tae Hyung, Tae Hyung pun meluruskan tatapanya kembali ke depan sambil tersenyum lebar dan bertepuk tangan.

Bukan, ia tersenyum lebar bukan karena senang melihat pertunjukan tari pedang itu tapi karena melihat pertunjukan dari Min Gi tadi.

“Bukankah pertunjukan yang sangat menarik Pangeran?” suara Jung Soo membuatnya berhenti.

Tae Hyung menoleh manatap Jung Soo yang sedang menatapya dengan tatapan yang mengancam, ah sepertinya dia ketahuan menggoda Min Gi tadi. “Tentu saja Yang Mulia.” Katanya sambil tersenyum simpul pada Jung Soo

“Kau menyukai apa yang kau lihat?”

“Ya.” Jawab Tae Hyung masih dengan senyuman simpul di wajahnya.
“Ada apa besan?” Shindong menyela di samping Jung Soo membuat Jung Soo menoleh ke arahnya sambil tersenyum simpul.

“Bukan apa-apa aku hanya bertanya pada Tae Hyung apakah dia menyukai pertunjukanya karena setauku dia sangat suka bermain pedang.”

“Benar kah?” Shindong terlihat begitu antusias.

“Ya, dia adalah pemain pedang dan petarung paling handal di Silla.”

“Terdengar menakjubkan.” Sahut Yoon Joo “Aku harap aku bisa melihatmu bermain pedang Pangeran tapi sayang sekali tidak ada prajurit seumuranmu yang menakjubkan disini. Kebanyakan panglima berusia diatas tiga puluh tahun dan para prajurit yang seumuran denganmu masih berada di kelas bawah.”

“Sayang sekali Permaisuri Yoon Joo.” Sahut Min Gi sambil tersenyum.

“Saya sama sekali tidak keberatan untuk memberi sedikit pertunjukan tambahan disini.”

“Yah, tapi kami tidak punya tandingan untukmu Pangeran. Kami tidak punya Pangeran…” Sahut Shindong.

“Jangan bekercil hati Yang Mulia, saya dengar putra bungsu Perdana Mentri adalah lelaki yang hebat.” Lalu detik berikutnya Tae Hyung menahan ringisan karena Ahn Rin mencubit pinggangnya.

“Ah Seok Jin…” Shindong menghela nafas lalu menyenderkan punggungnya ke kursi.

“Ada apa Yang Mulia?” tanya Tae Hyung.

“Tidak apa-apa Pangeran, hanya saja aku tidak yakin Seok Jin sebanding denganmu, karena aku jarang sekali melihatnya memegang pedang.”

“Anda tidak akan tau sebelum anda mencobanya Yang Mulia…”

Shindong menatap Tae Hyung beberapa saat lalu menoleh menatap Nam Jin yang berdiri tidak jauh dari sana, lelaki itu langsung merunduk menyadari mata Shindong tertuju padanya. “Panggilkan putramu menghadapku Perdana Mentri.”

“Baik Yang Mulia…” katanya merunduk lalu pergi ke istana dalam untuk memanggil Seok Jin.
Tae Hyung melirik Ahn Rin yang mendelik ke arahnya sambil menaikan sebelah alisnya, ia terkekeh pelan lalu berbisik pada Ahn Rin. “Aku ingin melihat calon suamimu kenapa?” Ahn Rin menghela nafas lalu memutar bola matanya.

Mereka menunggu beberapa saat sampai Perdana Mentri kembali bersama seorang lelaki muda yang tinggi di belakangnya. Tae Hyung menolehkan kepalanya ke arah lelaki itu, apakah dia yang bernama Kim Seok Jin? Tidak heran Ahn Rin menyukainya. Lelaki itu memiliki ketampanan lebih dari pada yang Tae Hyung bayangkan. Tae Hyung tersenyum tipis saat tanpa sengaja Seok Jin menatapnya, lelaki itu merundukan kepalanya seklias lalu menghadap Shindong.

“Ada keperluan apa Yang Mulia Kaisar memanggil saya?” suaranya cukup berat namun terdengar sangat ramah dan halus.

“Seok Jin-ah bisakah kau menemani Tae Hyung bermain pedang?”

Seok Jin terdiam sejenak melirik Ahn Rin yang sedang mengacuhkanya karena sepertinya gadis itu masih marah padanya, lalu melirik Tae Hyung yang lagi-lagi tersenyum kepadanya dan melirik ayahnya yang memberikan anggukan kecil sekali.

“Dengan senang hati Yang Mulia…” jawabnya kemudian.

“Kau bisa mempersiapkan dirimu, dan pelayan tolong antarkan Pangeran untuk mempersiapkan dirinya juga.”

“Baik Yang Mulia.” Seorang pelayan membungkuk lalu mempersilahkan Tae Hyung. Keduanya membungkuk hormat sebelum pergi ke bawah untuk mengganti pakaian mereka.

Tae Hyung dan Seok Jin berdiri berhadapan di tengah lapangan balai istana, kedua lelaki itu saling mengamati satu sama lain. Tae Hyung menilai Seok Jin dengan seksama dan menyadari tidak ada yang cacat dari Seok Jin, lelaki itu memiliki gestur yang sempurna. Tinggi badanya hampir sama sedikit lebih tinggi dari Tae Hyung, pundak yang lebar dan terlihat sangat kokoh. Tae Hyung bertaruh wanita akan jatuh melemparkan dirinya ke dalam pelukan Kim Seok Jin hanya dengan melihat punggung lelaki itu menakjubkan sekali bukan?

Dan salah satu yang sangat tidak bisa di abaikan dari wajah Kim Seok Jin adalah bibir lelaki itu, wah itu terlihat sepertu apel merah yang hampir jatuh dari pohonya. Jika dengan melihat punggung Seok Jin para gadis akan melemparkan diriya pada lelaki itu, maka saat para gadis melihat bibir Seok Jin mungkin mereka akan gila dan mengemis untuk disentuh oleh lelaki itu.

“Kau sangat tampan Hyung…”  kata Tae Hyung dengan berat hati mengakuinya.

“Anda juga Yang Mulia…” sahut Seok Jin sambil tersenyum.

“Aku tidak suka orang-orang seumuranku memanggilku seperti itu, panggil saja dengan nama.” Kata Tae Hyung sambil menerima pedang dari seorang pelayan.

“Anda harus terbiasa Yang Mulia…” jawab Seok Jin bersikukuh membuat Tae Hyung menghela nafasnya.

“Ahn Rin sering bercerita tentangmu.” Menghadap ke Seok Jin lagi. “Dia bilang kau tampan dan aku rasa itu berarti sungguhan.” Mendengar itu Seok Jin terdiam beberapa saat sambil memandang pedangnya membuat Tae Hyung menyeringai tipis.

“Kami teman sejak kecil.” Sahut Seok Jin kemudian dengan wajah yang datar, raut ramah yang ia tunjukan tadi memudar.

“Aku tau, dia juga menceritakanya. Hyung apa kau mempunyai kekasih?”

Seok Jin menoleh ke arah Tae Hyung dan tersenyum tipis. “Tidak.”

“Pernah memiliki seorang kekasih?” lelaki itu menjawabnya dengan senyuman yang semakin lebar lalu menggelengkan kepalanya. “Wah, sulit dipercaya lelaki setampan dirimu tidak pernah memiliki kekasih…”

Seok Jin terkekeh pelan lalu menegakan tubuhnya berhadapan dengan Tae Hyung. “Lalu bagaimana dengan Anda Yang Mulia?”

“Aku?” Tae Hyung mengangkat pedangnya diikuti dengan Seok Jin kedua pedang lelaki tampan itu menyilang seperti huruf X di tengah-tengahnya berdiri seorang panglima yang sekaligus menjadi wasit dalam pertarungan kecil ini.

Tae Hyung tersenyum lalu merunduk menatap tanganya yang terkepal erat memegang pedang. “Aku juga tidak penah punya kekasih.” Lalu menaikan bola matanya menatap Seok Jin dengan tatapan yang menusuk dan seringaian yang hampir tidak ketara. “Tapi aku mempunyai banyak mainan…”

Seok Jin merasakan sesuatu masuk ke tenggorokanya saat Tae Hyung menatapnya tajam melewati selah pedang mereka. Lalu kata yang terakhir itu membuat paru-paru Seok Jin menyempit, mainan? Apa maksud dari lelaki muda ini adalah wanita jalang atau lelaki itu memang suka mempermainkan wanita.

“Sepertinya mulai sekarang Anda harus menghentikan kebiasaan buruk itu Yang Mulia, Anda akan menjadi Kaisar sebentar lagi.” Kata Seok Jin dengan nada yang ramah, sementara Tae Hyung hanya mengangkat bahunya.

“Sulit untuk menghilangkan kebiasaan buruk, kau tau itu kan hyung? Lagi pula bukankah saat aku menjadi Kaisar nanti aku berhak memiliki selir sebanyak yang aku mau?”

“Boleh bukan berarti bisa seenaknya Yang Mulia…” raut wajah ramah Seok Jin perlahan memudar kembali.

“Aku rasa Ahn Rin akan mengerti, aku hanya perlu sedikit membujuknya?”

“Menurutmu Tuan Putri gadis yang seperti apa?” keduanya berjalan mundur lima langkah lalu mulai memasang kuda-kuda.

Tae Hyung tersenyum menatap Seok Jin yang sedang berfikir bagaimana cara yang jitu untuk melumpuhkanya, begitu pun dengan Tae Hyung. Di tengah lapangan sana, kedua lelaki dengan umur yang hampir setara, kedudukan dan juga ketampanan yang hampir setara tengah bertarung. Walaupun mereka sama-sama tampan namun aura yang keluar dari keduanya benar-benar seperti bumi dan langit.

Jika Tae Hyung memiliki ketampanan yang tajam dan aura maskulin yang pekat seseorang yang terlihat begitu dominan seperti sinar matahari yang menyengat di musim panas. Seok Jin memiliki ketampanan yang lembut, hangat dan menghanyutkan seperti kelopak sakura yang hanyut di musim semi. Dan kedua lelaki itu terlihat menatap tajam satu sama lain dengan aura membunuh di tengah-tengah mereka seolah mereka sedang memperebutkan Putri Tunggal Kerajaan Tamna.

Seok Jin mengambil langkah terlebih dahulu menyerang Tae Hyung dengan berlari mengayunkan pedangnya sejajar dengan leher Tae Hyung. Lelaki itu menghindar dengan posisi setengah kayang lalu mengambil kesempatan menendang perut Seok Jin membuat lelaki itu mundur beberapa langkah.

“Menurutku, Ahn Rin seperti layaknya wanita biasa yang menyukai lelaki yang tampan dan pemberani.” Berdiri tegak kembali lalu menyeringai tipis. “Selayaknya seorang lelaki yang menyukai tantangan.”

Seok Jin kembali berdiri tegak menatap Tae Hyung dengan tatapan tajam sebelum Tae Hyung datang menyerangnya. Tae Hyung mengarahkan pedangnya ke dada Seok Jin dan tetu saja lelaki itu menangkisnya dengan pedangnya, keduanya saling beradu pedang beberapa kali bunyi dentingan dan gesekan pedang beradu di tengah lapangan tersebut. Tae Hyung melompat lalu mengarahkan pedangnya ke pundak Seok Jin tapi kaki panjang Seok Jin menendang kaki Tae Hyung membuat Tae Hyung jatuh tersungkur di hadapan lelaki itu

“Aku harap Yang Mulia Kaisar Shindong panjang umur.” Ucapnya dengan bola mata yang merendah ke arah Tae Hyung membuat Tae Hyung terkekeh kecil sambil berusaha berdiri. Sialan tendangan yang tadi itu cukup keras dan tepat di lututnya sekarang Tae Hyung rasa ia akan berjalan pincang selama beberapa hari.

“Kenapa?”

“Karena Putra Mahkota penerusnya belum cukup dewasa untuk menjadi seorang kaisar.”

Tae Hyung mengayunkan pedangnya lagi karena keadaan kakinya ia menjadi lebih sulit bergerak jadilah beberapa kali saat ia hampir berhasil melayangkan seranganya ia terjatuh dan itu membuatnya marah. Ia harus menyelesaikan ini secepat mungkin sebelum kakinya menjadi lumpuh, Tae Hyung mengicar perut Seok Jin namun kali ini lelaki itu pun mampu menangkisnya dengan pedang. Sayangnya kali ini Tae Hyung tidak mau kalah, ia menekan pedangnya sekuat tenaga akibatnya pedang mereka terpelitir sampai meyilang di depan leher Seok Jin.

“Semoga doa-mu terkabul Hyung, tapi sayangnya itu adalah takdirku, takdir Ahn Rin…” Tae Hyung mendekatkan wajahnya ke arah Seok Jin sambil menyeringai lebar, “Dan Takdir Tamna…”

Detik berikutnya entah kekuatan dari mana Seok Jin bisa mendorong pedang itu menjauh dari lehernya lalu menendang dada Tae Hyung dengan kuat hingga lelaki itu terjengkang. “Kau fikir ini adalah permaninan bocah? Seperti wanita-wanita mainanmu?” kata Seok Jin meniju rahang Tae Hyung. “Biar aku tunjukan permaninan yang sebenarnya…” melayangkan tinjunya lagi kali ini ke pipi kanan Tae Hyung.

“Jika kau bisa selamat sekarang maka aku akan meladenimu…”

Mata Tae Hyung membulat melihat Seok Jin yang datang menduduki perutnya, lalu menaikan pedangnya ke atas bersiap untuk menusuk kepala Tae Hyung seperti menusuk kelapa. Seok Jin menurunkan pedangnya dengan  sepenuh tenaganya ke arah kepala Tae Hyung.

“Tae Hyung!”

Suara teriakan Min Gi segera menyadarkan Seok Jin dari amarahnya lelaki itu berhenti tepat disaat ujung pedangnya hampir menyetuh hidung Tae Hyung. Semua yang ada disana mulai terlihat panik, kelengahan itu digunakan Tae Hyung dengan sebaik mungkin. Lelaki itu menendang dada Seok Jin lalu berguling berbalik menduduki perut Seok Jin.

“Terima kenyataan Hyung, inilah kenyataan dunia yang sebenarnya!” kemudia melayangkan pukulan ke rahang Seok Jin. “Sepertinya kau terlalu nyaman bersembunyi di kamarmu bukan? Sekarang waktunya bangun sialan!” satu lagi pukulan keras untuk Seok Jin.

“Kau tau apa?!” teriak Seok Jin tidak terima sambil berusaha melawan Tae Hyung. “Tau apa kau tentang Ahn Rin dan Tamna?!”

Satu pukulan di pipi kiri Seok Jin membuat lelaki itu terbatuk dengan darah yang memenuhi mulutnya. Tae Hyung mendekatkan wajahnya pada Seok Jin dan menyeringai. “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, tau apa kau? Seseorang yang selalu sibuk menghayal di dalam kamarnya memang tau apa?! Kau tidak tau apa-apa dan kau tidak bisa berbuat apa-apa bahkan hanya untuk menatap mata Ahn Rin.”

Tanpa aba-aba sebuah pukulan mendarat keras di pipi Tae Hyung, Seok Jin mengambil kesempatan saat Tae Hyung berbicara untuk mengumpulkan tenaganya. Posisi mereka berbalik lagi seperti semula namun kali ini mereka bertengkar dengan sungguh-sungguh dan dengan tangan kosong.

“Jika kau tidak tau permasalahnya lebih baik tutup mulutmu.” Satu pukulan mendarat di hidung mancung Tae Hyung. Bukanya kesakitan Kim Tae Hyung malah terkekeh senang seperti melihat sesuatu yang lucu di hadapanya.

“Hahaha memang apa yang tidak aku ketahui, Ahn Rin sudah menceritakan semuanya padaku. Dan satu hal yang bisa aku simpulkan darimu adalah…” Tae Hyung mengangkat wajahnya agar mendekat ke arah Seok Jin yang sudah merah padam karena terpancing oleh Tae Hyung sejak tadi.

“Pecundang….”

Amarah Seok Jin sudah sampai di ubun-ubun lelaki itu mengepalkan tanganya erat dan mengangkatnya tinggi siap untuk menghancurkan mulut kotor Kim Tae Hyung namun seseorang menghalanginya.

“Sudah cukup! Apa kau gila hah?!” Seok Jin mengangkat kepalanya dan menatap Ahn Rin dengan mata yang merah seperti ingin memakan manusia. Tanpa aba-aba lelaki itu berdiri dari tubuh Tae Hyung lalu menarik Ahn Rin keluar dari arena begitu saja mauk ke dalam istana.

“Jin!” gadis itu meringis sakit saat Seok Jin secara paksa menyeretnya keluar dari arena itu. “Kau sudah gila hah?! Apa yang kau lakukan?! Jin! Kim Seok Jin!” lelaki itu tidak memperdulikanya sama sekali Seok Jin terus menyeretnya melewai lorong-lorong istana menuju sebuah gudang kain.

Ahn Rin terus saja meronta minta di dalam genggaman Seok Jin sampai lelaki itu berbalik dan menyudutkanya di salah satu tembok gudang. Ahn Rin berteriak kecil karena terkejut Seok Jin mendorongnya begitu saja hingga tulang punggungnya terkentuk tembok cukup kuat kemudian lelaki itu memenjarakanya disana. Ia ingin berteriak marah pada Seok Jin namun saat menyadari bagaimana Kim Seok Jin saat ini nyalinya seketika menciut dan hilang.

Seok Jin tidak pernah semarah ini sebelumnya, bahkan jika lelaki itu marah dia hanya akan diam dan mengacuhkanya tapi kali ini berbeda. Ahn Rin mengutuk Tae Hyung setengah mati dalam benaknya, apa yang ia lakukan pada Seok Jin hingga membuat lelaki itu seperti harimau yang baru saja memangsa manusia? Seok Jin menatapnya dengan tatapan yang hampir membuat leher Ahn Rin putus dengan darah yang memenuhi mulutnya dan berceceran di sekitar bibir dan bajunya. Kaki Ahn Rin begetar saking takutnya, matanya merunduk ke bawah menatap perut Seok Jin.

“J- Jin…” cicitnya pelan karena Seok Jin hanya diam menatapnya seperti itu membuatnya semakin ketakutan, ah rasanya Ahn Ring ingin menangis saking takutnya. Lelaki yang tidak pernah marah memang sangat menakutkan jika sedang marah, sekarang ia menyesal karena berusaha memancing amarah Seok Jin belakangan ini.

“Jangan menikah denganya…”

51 thoughts on “Sun Flower Part 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s