Too Much Tears Part 2 END


too-much-tears-by-shinri_ssnest

 

Author : Shinri_ssnest

Title : Too Much Tears

Category : NC 17 – Yadong, Tragic – Sad – Romance, Two Shoot

Cast : Choi Siwon (Super Junior) — Jung Shinri (OC’s)

Other Cast : Park Hyein (OC’s) —Cho Kyuhyun (Super Junior)

Artwork by : Shinri_ssnest

Author’s Note : Halo … Perkenalkan aku author baru disini. Aku udah sering bikin ff tapi ini pengalaman pertama dengan cast abang Won dan dengan rating yang lebih ‘Wow—menantang’ wkwkkk. Walaupun ini cuma cerita picisan, semuanya murni hasil pemikiran aku sendiri. Don’t copast and leave ur comment, ok! Komentar kalian adalah semangat buat aku. Thanks buat admin yang sudah post ff ini^^ Hati-hati Typo and it’s a long shoot! Siapkan cemilan sebanyak-banyaknya 😀

Happy reading !!

 

 

 

 

 

*  *

 

Katakan padaku, meskipun itu bohong

Bahwa aku hanya perlu menunggu sebentar lagi

Bahwa ketika hari berlalu dan besok datang

Kau akan kembali padaku

Karena kau akan mencintaiku sepanjang usia Tuhan

 

 

 

 

— 0 0 0 —

Hujan deras kembali mengguyur Seoul di malam yang kelam itu. Siwon dihinggapi perasaan bersalah saat ia tidak mendapati Shinri berada di apartemennya. Sialnya lagi ponsel dan tasnya tertinggal dalam mobil Siwon. Pria itu menggeram kesal. Rasa khawatir memenuhi relung hatinya. Apalagi jika mengingat gadis itu pergi setelah ia yang menyakitinya.

 

Brengsek! Siwon tak henti-hentinya mengumpati dirinya sendiri. Pria itu membuka simpulan dasinya menyisakan kemeja hitamnya yang sudah tampak kusut. Siwon mencengkeram erat stir mobilnya dan membawa dirinya yang entah sudah berapa kali ia mengelilingi Seoul malam itu.

 

Siwon memberhentikan mobilnya sedikit jauh di depan gerai apotek yang sudah tutup. Pria itu menatap ponselnya dengan perasaan gelisah. Jika saja ia tahu nomor ponsel Kyuhyun, mungkin sudah lama Siwon menghubunginya dan menanyakan keberadaan Shinri. Bisa saja kan jika Shinri ada bersamanya? Ah… Siwon tak rela jika itu benar-benar terjadi.

 

“Argh!” Siwon tertegun. Ia kenal suara rintihan itu. Maka Siwon menyapukan pandangannya ke sekeliling tempat yang gelap itu. Siwon memicingkan matanya saat melihat Shinri nyatanya berada di sekitaran apotek itu. Namun emosi Siwon langsung naik ketika Shinri di ganggu oleh beberapa pria tak dikenal.

 

“Ayolah, gadis manis. Jangan sok jual mahal! Kekasihmu toh nyatanya tak akan menolongmu karena tempat ini sangat sepi. Jadi bermain saja dengan kami.” Shinri ketakutan. Wajahnya bercucuran keringat. Ia berusaha melepaskan diri dari pria-pria kurang ajar itu namun dimana-mana kekuatan seorang wanita tidak akan pernah sebanding.

 

Shinri tak dapat berkutik saat tubuh lelahnya diseret paksa oleh dua pria itu. Bau keras alkohol tercium dari mulutnya. Shinri memejamkan matanya dengan erat dan berharap jika Tuhan akan menolongnya. Gadis itu terisak keras saat pakaiannya robek ketika pria-pria itu menariknya.

 

“MENJAUH DARINYA, BRENGSEK!” Siwon melesat dengan cepat dan tanpa ampun menendang keras dua orang pria mabuk itu bahkan tanpa memberikan kesempatan baginya untuk berkata-kata. Siwon tak dapat berbasa-basi ketika ia benar-benar marah melihat Shinri yang tampak ketakutan. Pria itu terus saja menghadiahkan tinju mautnya tanpa peduli tubuhnya yang sudah basah kuyup karena air hujan.

 

Dua pria itu tersungkur dengan wajah yang membiru dan darah segar yang mengalir dari hidung dan bibirnya. Keduanya lalu segera mengambil langkah seribu sebelum mereka harus meregang nyawa sia-sia di tangan Siwon. Siwon tampak kelelahan setelah memberikan sedikit pelajaran pada pria mesum itu. Lalu pandangannya beralih pada Shinri yang makin terisak dengan keras dan wajah yang memucat. Gadis itu menutupi bagian tubuhnya yang terekpos karena bajunya yang robek.

 

Siwon mengusap wajahnya yang basah. Ia lalu berjalan menuju mobilnya dan mengambil jasnya. Dengan langkah pelan tapi pasti, pria itu menyelimuti tubuh Shinri dengan jas besarnya. Siwon menatap gadis itu dengan helaan nafas panjang. Ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil itu namun Siwon terlalu takut jika Shinri akan menolaknya. Atau gadis itu akan membencinya lagi karena menyentuhnya tanpa izin.

 

Namun lamunan Siwon buyar manakala Shinri lah yang nyatanya mendekap tubuhnya lebih dulu. Shinri menangis di dada Siwon dan memeluk erat pria itu dengan tubuh yang bergetar. Siwon tertegun namun ia segera membalas pelukan Shinri dengan tak kalah eratnya. Mereka berbagi dekapan di bawah rintik hujan dan tak mempermasalahkan hal itu.

 

“A—aku takut, oppa. Hiks…” ujar Shinri dengan suara paraunya. Ia menangis dengan pilu dan itu membuat Siwon merasa sesak. Ia mengelus sayang rambut Shinri yang basah dan mendaratkan kecupannya pada puncak kepala gadis itu. “Sst, jangan takut. Aku ada disini sekarang. Aku akan menjagamu.” Siwon merasakan Shinri yang mengangguk dengan ucapannya. Ia berniat melepaskan pelukan Shinri namun gadis itu menahannya.

 

“Biarkan tetap seperti ini, oppa. Jeball.” mohon Shinri lirih. Siwon tak menyahut dan hanya mengangguk kecil. Ia kembali mendekap hangat tubuh Shinri yang terasa sangat pas untuknya. Hati Siwon berdesir ketika Shinri membenamkan wajah pada dada bidangnya. Pria itu mendongak membiarkan rintik air jatuh mengenai wajah tampannya. Secercah senyuman tipis terlukis di wajahnya.

 

— 0 0 0 —

Shinri tak pernah membayangkan hal ini bisa ia alami seumur hidupnya. Di ganggu oleh lelaki berandal dan ia masih di berikan mukjizat oleh Tuhan dengan mengirimkan malaikat penolong padanya. Setelah meminta untuk bisa memeluk Siwon lebih lama, akhirnya disinilah Shinri berakhir dari mimpi buruknya malam itu.

 

Di kamar mandi, Shinri menatap pantulan tubuhnya pada kaca besar yang ada disana. Gadis itu tersenyum lembut mengingat kini ia tengah memakai baju kaos kebesaran milik pria itu dan celana kainnya yang lembut di pakai. Aroma tubuh Siwon tercium jelas dari sana dan tentu saja Shinri menyukainya. Bajunya yang sudah basah kuyup segera Siwon bawa ke tempat laundry terdekat dan memaksa Shinri untuk memakai pakaiannya. Dan untuk pakaian dalam? Tentang itu, Siwon telah menghubungi seorang asisten—yang tentunya pasti perempuan—untuk membelikannya pada Shinri yang waktu itu harus menahan malu ketika asisten Siwon datang dengan berbagai ukuran yang tentu saja itu adalah perintah Siwon.

 

Gadis itu keluar dari kamar tamu dengan rambutnya yang masih setengah basah. Ia menyapukan pandangannya ke segala arah dan tidak menemukan Siwon disana. Shinri menggigit bibirnya sembari mengelus perutnya yang lapar karena memang dari siang tadi Shinri tak mood mengusik makanan usai pertengkaran kecilnya dengan Siwon.

 

“Apa kau lapar?” Shinri terlonjak saat tiba-tiba Siwon ada di belakangnya. Hampir saja ia terpeleset jika saja Siwon tak tanggap menahan pinggangnya hingga kini Shinri justru berlabuh pada pelukannya. Keduanya saling berpandangan untuk beberapa sekon dan Siwon segera melepaskan Shinri. Bagaikan remaja yang baru menginjak masa pubertas, Siwon terlihat gugup dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat ia bisa menghirup aroma wangi shampoo yang Shinri gunakan. Gadis itu juga terlihat cute saat tubuhnya sedikit tenggelam pada bajunya.

 

“Ne. Bisakah aku memasak sesuatu?” tanya Shinri. Walaupun ia tahu jika lemari pendingin Siwon pasti akan kosong tanpa ada satu bahan makanan pun—terkecuali Ramen tentu saja. “Silahkan. Buat apapun yang kau mau. Aku juga sedikit lapar.” Siwon terkekeh kecil. “Kebetulan eomma ku baru berkunjung kemarin membawakan makanan mentah. Jadi kulkasku terisi penuh.” Siwon menunjukkan isi kulkasnya.

 

“Eommoni?” tanya Shinri. Matanya menatap Siwon dengan berbinar lalu sedetik kemudian ia merutuki bibirnya. “Kau mengenal ibuku?” itu pertanyaan yang Siwon tanyakan padanya saat mendengar panggilan Shinri terhadap Ny Choi. Shinri hanya mengangguk kikuk. “Tentu. Dia ibu dari bosku. Bagaimana mungkin aku tidak tahu.” jawab Shinri yang diakhiri dengan kekehan kecil dari bibirnya .

 

“Bagaimana dengan bajuku? Apa itu nyaman?” Siwon memperhatikan penampilan Shinri dengan seksama. “Ne. Aku menyukainya. Sangat nyaman. Terima kasih, oppa.”

 

“Lalu, pakaian yang di bawakan asistenku, apakah juga cocok?” tanya Siwon lagi. Shinri menunduk malu dengan wajahnya yang memerah bak kepiting rebus. Ia jelas tahu apa maksud dan tujuan pertanyaan Siwon. “Ne. Terima kasih juga untuk itu.” Shinri menggaruk kepalanya dengan malu-malu. Siwon mengulum senyuman gelinya melihat reaksi gadis itu. Lantas senyum Siwon memudar tatkala tatapannya mengarah pada sudut bibir Shinri yang memerah. “Tentang ciuman itu… Aku benar-benar minta maaf. Maaf karena membuat bibirmu terluka.” ucap Siwon tulus.

 

Shinri menatap Siwon dan memberikan senyuman terbaiknya pada pria itu. “Gwenchanayo. Aku juga minta maaf.” Siwon tersenyum lega mendengarnya. Ia menatap gadis itu lama dengan tatapan intens.

 

 

— 0 0 0 —

Hujan makin deras saja saat malam yang makin larut. Shinri berdiri sambil memeluk tubuhnya di depan kaca besar di ruang tamu apartemen Siwon. Pria itu tak mengizinkannya pulang dan memaksa Shinri agar menginap di tempatnya. Jari-jemari Shinri bergerak di atas kaca jendela membentuk pola-pola abstrak. Saat mengingat hujan, saat itu juga memori Shinri memutar kejadian yang tak ingin ia ingat lagi sebenarnya. Malam dimana Siwon kecelakaan, malam dimana hujan juga turun dengan lebat, malam dimana Shinri merasa hidupnya serasa akan benar-benar berakhir.

 

“Kenapa belum tidur?” Shinri mengulum senyumnya saat mendengar suara yang sangat ia kenali. Gadis itu membalikkan badannya dan menemukan Siwon disana. “Aniya. Hanya belum ingin tidur.” Siwon menatap punggung gadis itu sebelum ia mengikuti apa yang Shinri lakukan. Berdiri berdampingan dan ikut menatap rintik hujan yang turun lebat.

 

“Apa kau menyukai hujan?” Siwon bertanya dengan lirih. Ia dapat menatap pantulan wajah Shinri dari kaca besar di hadapannya. “Aniya. Saat aku melihat hujan, hal yang tidak ingin aku ingat kembali datang saat itu. Karena saat malam itu datang dan kejadian itu terjadi, hujan juga turun dengan lebat.” Shinri tersenyum pilu. “Dan itu membuatnya melupakanku.” Siwon terpaku ketika Shinri menatapnya. Perasaannya kembali membuncah hebat begitu tatapan penuh makna Shinri terhunus menuju retina matanya.

 

“Apa… Apa ini tentang kekasihmu?” sebenarnya Siwon ragu menanyakan hal itu. Karena terselip rasa cemburu di hatinya. Tunggu… Apa? Cemburu? Apa benar itu?!

 

“Ya. Ini tentangnya. Di malam yang aku kira akan begitu indah, nyatanya dalam sekejap merusak ekspektasiku. Aku bahkan hampir tak bisa bernafas saat itu. Rasanya sangat sakit melihat dia terbaring lemah dan bodohnya aku tak bisa melakukan apa-apa.” Tangannya bergerak pelan mengusap air matanya yang jatuh. Shinri tak ingin melihat Siwon melihatnya menangis.

 

Siwon terhenyak. Lagi-lagi ia merasakan de javu  yang sama. Kepalanya sakit dan itu membuat Siwon meringis pelan. Pria itu melihat bayangan yang sama. Bayangan wajah seorang gadis yang sama. Gadis itu memeluknya, menciumnya, dan gadis itu tersenyum cerah ke arahnya. Semua itu terasa familiar baginya.

 

“Oppa, gwenchanayo?” Shinri menatap Siwon dengan khawatir. Gadis itu menitikkan air matanya saat melihat wajah Siwon yang kesakitan. Pria itu mencengkeram kepalanya yang berdenyut tanpa ampun. Perasaan bersalah langsung menyergap ulu hati Shinri saat Siwon merintih sakit pada kepalanya. Apa ini karenanya? Apa Siwon menangkap maksud yang ia katakan sehingga pria itu sakit?

 

“Argggh!” Siwon mengerang saat kepalanya benar-benar berkontraksi. Pening. Pandangannya seolah-olah berputar tak tentu arah ketika bayangan itu enggan enyah dari memorinya. Perlahan namun pasti, bayangan samar gadis itu akhirnya terkumpul menjadi sebuah siluet yang nyata. Siwon dapat merasakannya. Wajah itu familiar. Wajah itu selalu ia lihat. Siwon membuka matanya. Ia mendapati wajah Shinri tepat di hadapannya. Kenapa gadis dalam ingatannya persis seperti Shinri? Atau memang… Gadis itu Shinri?

 

“Apa masih sakit, oppa? Aku akan mengambilkan obat untukmu.” Shinri hendak mengambilkan paracetamol guna meringankan sakit kepala Siwon. Saat gadis itu akan berjalan, namun Siwon berhasil menggapai tangannya dan beralih menyudutkan tubuh Shinri sehingga punggung gadis itu membentur jendela kaca di belakangnya. Shinri terkejut. Siwon berhasil memenjarakan tubuhnya dalam kukungan lengan kekarnya. Pria itu menundukkan kepalanya dan deru nafasnya yang naik turun dapat dengan jelas Shinri dengar.

 

“Siapa kau, Shinri? Kenapa kau ada di dalam bayanganku? Kenapa aku selalu merasakan de javu saat bersamamu?” nafas Siwon yang hangat menerpa permukaan wajah Shinri. Jantungnya berdetak kencang seolah akan meloncat keluar ketika mendengar pertanyaan pria itu. Shinri mencengkeram erat ujung bajunya dan menggigit bibir.

 

“Huh? Siapa kau sebenarnya?” tanya Siwon lirih. Ia menatap lekat gadis itu lalu pandangannya jatuh pada bibir Shinri. Insting membimbing jemarinya melakukan ini. Mengusap wajah putih Shinri dengan lembut dan membuat gadis itu memejamkan matanya menerima perlakuan Siwon. Perasaan yang tak terjabarkan itu kembali hadir dan membuat Siwon seolah melupakan segalanya. Ia mendekatkan wajahnya berniat mengecup bibir itu lagi untuk kedua kalinya. Hingga saat masih tersisa jarak yang minim, Siwon menghentikan pergerakannya.

 

“Jika aku menciummu sekarang, apa kau memberiku izin?” tanya Siwon parau. Shinri yang semula memejamkan matanya kembali membuka matanya dan saat itu juga ia dapat menatap wajah Siwon dengan jarak kurang dari lima senti darinya. Gadis itu bahkan tak menyangka jika Siwon akan meminta izin darinya. Perasaan bahagia menyergap hatinya. Senyum tipis terlukis indah pada bibir mungilnya.

 

“Jika aku mengatakan ya, apa kau akan melakukannya?” tanya Shinri balik. Siwon tersenyum tipis. Ia tak menjawabnya lewat ucapan, melainkan melalui tindakannya. Ia mempertemukan bibirnya dengan bibir Shinri. Shinri memejamkan matanya seraya tangannya yang kini singgah pada dada bidang Siwon. Pria itu melumat bibirnya dengan lembut, kontras dengan ciuman kasarnya siang tadi. Shinri menyukai ini. Shinri menyukai Siwon yang memperlakukannya dengan hati-hati. Ia membalas ciuman Siwon sama banyaknya dan tanpa ragu melingkarkan tangannya pada bahu pria itu.

 

Perasaan bahagia menyertai tindakan Siwon. Ia merasakan hatinya yang berdesir damai ketika ia mencium Shinri. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan untuk menghirup oksigen di sekitarnya. Ia menarik pinggang ramping Shinri agar semakin mendekat padanya sementara sebelah tangannya menekan lembut kepala Shinri untuk memperdalam pagutan bibir mereka.

 

Shinri mendesah dan berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya begitu Siwon melepaskan ciumannya. Gadis itu membuka matanya dan menemukan tatapan intens Siwon padanya. Masih enggan meminimalkan jarak wajah mereka, Siwon menerpakan nafas hangatnya dan mengusap bibir Shinri yang basah. “Apa kau akan membenciku setelah ini?” tanya Siwon dengan suara paraunya.

 

“Tidak ada alasan aku akan membencimu, oppa. Bahkan setelah semua yang terjadi.” balas Shinri lirih. Hingga ciuman kedua itu kembali terjadi tanpa tahu siapa yang dulu memulainya. Entahlah. Malam itu Siwon merasakan seluruh perasaannya tercurah tanpa bekas. Ia tak mempedulikan apapun yang menunggunya. Karena sekarang yang ia tahu hanya Shinri. Mendekap tubuh mungil Shinri dengan hangat dan melumat dalam bibir Shinri dengan mesra. Di temani background rintik hujan yang membasahi kaca besar itu, keduanya berciuman dengan intim dan saling membalas sama banyak.

 

— 0 0 0 —

Matahari menyentakkan kehangatan menggantikan bulan yang menjaga malam. Cahaya hangatnya yang garang menelisik jendela kamar dengan tirai putih itu. Shinri menggeliat malas lalu sebuah senyuman hangat terpatri pada wajah cantiknya kala ia mengingat kejadian yang terjadi. Dengan tak sabar, Shinri segera menuju kamar mandi guna membasuh wajahnya namun tak ada air yang keluar dari keran yang ia putar. Shinri mengerucutkan bibirnya.

 

“Ini rusak lagi. Padahal semalam masih berfungsi. Apa oppa belum memanggil tukang?” gumam Shinri. Ia menggulung rambutnya keatas dengan asal dan keluar dari kamarnya. Apartemen Siwon masih sepi. Shinri melangkah menuju kamar Siwon dan sedikit menyembulkan kepalanya menelisik kamar Siwon yang tidak terkunci. Shinri memasuki kamar Siwon tanpa ragu. Warna biru muda yang mendominasi cat dindingnya langsung menjadi pemandangan pertama yang Shinri lihat. Senyum cantik tersungging di bibirnya dan berjalan menuju kamar mandi Siwon.

 

“Jika aku masuk begitu saja, aku akan dianggap wanita mesum olehnya.” gumam Shinri. Padahal saat mereka masih berkencan, Shinri sesuka hati menyerobot kamar mandi Siwon dan benar-benar membiasakan diri layaknya rumah sendiri disana. Siwon juga tak pernah mengajukan protes dan memang sering mengajak Shinri menginap. Namun sepertinya Shinri harus sedikit wanti-wanti akan kebiasaannya hari itu. Bukankah ini adalah awal? Jadi Shinri harus bisa menarik hati Siwon kembali.

 

Tok. Tok.

 

Shinri mengetuk pintu kamar mandi Siwon yang terbuka. Siwon menoleh dengan wajahnya yang dipenuhi krim washing foam. Siwon menatap Shinri dan tersenyum lembut pada gadis itu kemudian. “Selamat pagi.” sapanya tanpa menghilangkan senyum tampannya. Shinri mengulum senyum malunya saat Siwon menyapanya dengan manis. Padahal ini bukan pertama kalinya, tapi kenapa ia merasa sangat senang seperti remaja yang kasmaran?

 

“Selamat pagi, oppa.” Shinri memandang Siwon dengan wajah merona. Ini masih pagi namun jantungnya sudah harus berolahraga ekstra. Ah, ini keterlaluan. Bahkan saat wajah Siwon belepotan krim washing foam saja pria itu bertambah lipat ketampannya. Dengan rambut yang acak-acakkan, baju kaos putih tipis tanpa lengan, pria itu benar-benar terlihat sexy dimata Shinri. Jika wanita lain yang melihatnya, Shinri yakin jika pendapatnya benar-benar disetujui. Tapi, sayangnya Shinri tidak akan membiarkan itu terjadi. Hanya ia dan cuma dirinya yang boleh melihat Siwon dalam keadaan tersebut. Egois? Tentu saja Tidak! Shinri hanya mengklaim apa yang menjadi miliknya harus ia protektifkan.

 

“Ehm… Keran di kamar mandiku rusak, makanya aku kesini.” jelas Shinri ragu-ragu. Ia hanya takut Siwon akan mengasumsikan ia gadis maniak yang bertindak nekat. Shinri menatap Siwon dan menemukan pria itu tersenyum lembut padanya. Lagi. Shinri melayang. Kupu-kupu dalam perutnya beterbangan.

 

“Jinjjayo? Arraseo. Kau bisa menggunakan kamar mandiku. Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat.” Siwon mengambil pisau cukurnya dan mengaplikasikan benda itu di sekitaran wajahnya. Shinri memandang Siwon lewat pantulan kaca besar dihadapannya. Dengan langkah pelan, Shinri menghampiri Siwon yang tengah mencukuplr wajahnya dengan tangan yang masih terbalutkan perban.

 

“Oppa, kemarikan.” Shinri menengahkan tangannya saat ia kini sudah berdiri di samping Siwon. “Apa?” hanya itu yang mampu Siwon tanyakan saat Shinri menengadahkan tangannya. Siwon menatap Shinri ketika gadis itu mengambil pisau cukur dari tangannya. “Aku akan membantu oppa. Bukannya tangan oppa terluka?”

 

Shinri meletakkan satu tangannya pada bahu Siwon sementara tangan kanannya mulai bekerja untuk mencukur bulu-bulu halus di permukaan wajah Siwon yang dipenuhi dengan krim washing foam. Siwon berdebar tak karuan. Ia menatap Shinri dengan intens dan tatapannya bertemu dengan Shinri disela-sela kegiatan gadis itu. Shinri tersenyum lembut padanya dan kembali membersihkan wajah Siwon seperti apa yang ia katakan. Shinri memiringkan wajahnya dan sedikit menjinjitkan kakinya untuk membersihkan wajah Siwon di area pipi kanan pria itu. Siwon mengerti. Ia sedikit merendahkan tubuhnya agar Shinri tak perlu berjinjit. Tangan Siwon yang sebelumnya terjuntai ke bawah, perlahan naik dan singgah pada pinggang ramping Shinri untuk menahan gadis itu. Hatinya bergemuruh ketika pandangannya jatuh tepat pada bibir mungil gadis itu. Memorinya mengulang kejadian semalam, saat mereka berbagi ciuman manis nan panjang yang sanggup membuat Siwon melayang karenanya.

 

“Cha, selesai.” ujar Shinri sembari tersenyum cerah pada Siwon. Pria itu tersenyum lebar dan menatap Shinri dengan intens. Ia belum melepaskan tangannya pada pinggang Shinri malah sibuk menatap manik mata bulat Shinri. Gadis itu berdebar ketika melihat Siwon yang menatapnya dengan intens dan sedetik kemudian, ia memejamkan matanya ketika kepala Siwon menunduk dan hendak mengulang apa yang mereka lakukan tadi malam.

 

Siwon memeluk erat pinggang Shinri dan melumat bibirnya dengan penuh minat. Ia memejamkan matanya dan menindih kembali kecupannya semalam. Ia tidak tahu apa yang membuatnya begitu terpaku untuk menyentuh Shinri, tapi satu hal yang membuatnya tak bisa mengerti. Hatinya. Hatinya selalu damai ketika ia bisa memeluk dan mencium gadis itu. Seolah ia ingin merengkuh gadis itu selamanya. Di sisinya.

 

Shinri mengalungkan lengannya pada bahu tegap Siwon dan dengan senang hati ia membalas lumatan Siwon dengan kepala yang ia miringkan. Siwon mendekap dan membuatnya harus mati-matian menahan desahan suaranya ketika pria itu begitu ahli memainkan bibirnya dengan lembut namun penuh dengan gelora. Wajah mereka yang begitu dekat tanpa penghalang apapun, membuat noda-noda krim pada wajah Siwon yang belum ia bersihkan membuatnya juga menempel pada pipi Shinri. Tapi toh Shinri tak mempermasalahkan itu semua. Yang ia tahu dan pedulikan adalah Siwon, dan tetap saja masih Siwon. Ia begitu bahagia saat Siwon menyentuhnya lagi, dan lagi.

 

Tangan Siwon sampai pada punggung Shinri dan membuat gerakan mengusap yang abstrak. Ciumannya makin menjadi dan ia tak bisa menghentikan itu semua. Ia jatuh dan lagi-lagi terjatuh pada pesona Shinri dan bibir itu sialnya begitu manis bagaikan permen kapas yang selalu ingin ia nikmati. Siwon menggigit pelan bibir Shinri dan memainkan bibir itu ketika saliva mereka saling bertukar. Siwon mengeluh ketika mendengar bunyi kecupan basah bibir mereka yang menggema dalam kamar mandinya. Membangkitkan gelora mereka, tentu saja.

 

Ting-tong!

 

Ting-tong!

 

Baik Siwon dan Shinri segera membuka paksa mata mereka. Siwon bahkan dengan tak rela melepaskan tautan bibirnya dan menatap Shinri yang juga tengah menatapnya dengan sendu. Tatapan yang membuatnya ingin sekali menarik gadis itu di ranjangnya. Siwon mendesah panjang merutuki siapa dalang yang merusak kegiatannya. Siwon menggertakkan giginya melihat bibir Shinri yang membengkak dan mengundangnya untuk membungkam lagi bibir itu dengan lumatannya.

 

“Oppa, bukalah pintunya.” Shinri mendorong pelan dada Siwon. Pria itu menatapnya dengan intens dan Shinri tahu jika Siwon sudah cukup bergairah padanya. Siwon mengangguk pelan dan mengusap wajah dan bibir Shinri yang basah karenanya. Shinri merasa kehilangan ketika Siwon melepaskan kontak mereka. Siwon mencuci wajahnya dari sisa-sisa krim washing foam. Mengusap wajahnya dengan sebuah handuk, Siwon lalu mengusap pelan puncak kepala Shinri dan tersenyum manis pada gadis itu. “Bersihkan wajahmu.” ujar Siwon pelan.

 

“Ne, oppa.” Shinri mengangguk kecil. Setelahnya Siwon meninggalkannya,  Shinri memegang bibirnya yang memerah pada pantulan kaca didepannya. Senyuman cerah terlukis disana.

 

— 0 0 0 —

Gadis itu mendesis sebal saat lagi-lagi ia tidak dapat mendengar suara pria itu menyapanya. Sudah bosan ia mendengar suara layanan operator menyambutnya ketika ia mendial nomor yang sama. Membuat Hyein bosan dan mau tak mau, gadis dengan tinggi badan 168 cm itu melempar asal ponselnya ke atas kasur empuknya.

 

“Kemana sebenarnya, dia?” itulah pertanyaan yang sama yang selalu Hyein tanyakan pada dirinya sendiri. Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian santai , gadis itu kini tengah mengendarai audi merahnya menuju apartemen Siwon.

 

Lagi. Hyein harus menahan kesal ketika ia tak juga mendapatkan pintu terbuka ketika sudah berkali-kali ia memencet bel. Ada apa dengan Siwon? Apa pria itu pergi dengan Shinri seperti apa yang ia dengar dari beberapa karyawan yang kemarin melihat Siwon mengajak Shinri menaiki mobilnya?

 

Tidak! Itu tidak mungkin! Siwon tidak lagi mengingat Shinri sebagai orang yang spesiap baginya jadi itu tidak akan ia biarkan. Siwon kini harus hanya melihatnya. Karena sekarang hanya ia yang Siwon butuhkan. Hyein menggeram tertahan menahan kesal saat wajah Shinri mengitari kepalanya. Hyein ingin egois untuk kebahagiaannya.

 

“Hyein-ah?” Siwon terlihat terkejut saat melihat gadis itu sudah rapi dan pagi-pagi sudah ada didepan pintu rumahnya. Siwon menghela nafas kecil. Kini, saat melihat Hyein, kembali hatinya bercabang.

 

“Kenapa? Oppa tidak suka denganku karena datang pagi-pagi?” tanya Hyein dengan sebal. Siwon menggeleng pelan lalu tersenyum tipis pada gadis itu. Sangat tipis. Yang bahkan Hyein sangsi melihat senyum itu tulus tidaknya. “Aniya, bukan begitu. Seharusnya kau bilang jika ingin datang. Aku biaa bersiap-siap.” Siwon menggaruk tengkuknya. Hyein memicingkan matanya menatap wajah Siwon yang memang terlihat segar karena mencuci mukanya, namun ada sebuah ekspresi tertahan yang Hyein bingungkan. Juga rambut pria itu acak-acakkan dan bibirnya yang memerah.

 

“Jika aku bisa menghubungi oppa, sudah pasti aku tidak akan datang pagi-pagi begini. Ponsel oppa mati dan tak bisa aku hubungi.” jelas Hyein kesal. Siwon menepuk dahinya sendiri menyadari kebodohannya malam itu. Ia melemparkan ponselnya ke kursi belakang mobilnya dan Siwon bahkan belum melihatnya hari ini. “Maaf. Ponselku tertinggal di mobil rupanya.” Siwon lalu terkekeh.

 

Hyein mengerucutkan bibir dengan sebal. Matanya membesar tatkala ia melihat sepasang heels wanita yang berada di beranda. Hyein merasakan hatinya yang terbakar dan tepat saat itu, siluet tubuh seorang wanita membuat batinnya tertohok. Tangannya terkepal keras saat melihat Shinri keluar dari kamar Siwon dengan sebuah handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan wajahnya. Hyein bahkan berdecak melihat kaos kebesaran yang Shinri gunakan. Hyein yakin jika pakaian itu milik Siwon, dan sebenarnya apa yang terjadi? Apakah mereka sudah kembali dan tidur bersama?

 

“Hyein, ini tidak seperti yang kau lihat. Shinri menginap disini saat hujan lebat dan aku melarangnya pulang karena akan berbahaya.” Siwon menjelaskan. Hyein menganggukkan kepalanya dengan senyuman sinis tersungging. “Ne. Aku percaya padamu, oppa.” ujar Hyein yang tiba-tiba langsung menggandeng Siwon. Hyein menatap Shinri tajam dan kedua wanita itu saling bertukar tatapan dengan aura yang mencekam.

 

— 0 0 0 —

Hyein meleganggkan langkahnya dengan percaya diri memasuki ruang kerja Siwon. Ekor matanya melirik meja Shinri yang kosong dan senyuman sinis langsung tercetak dibibir merah mudanya. Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, gadis itu masuk kedalam dan menemukan Shinri yang tengah memandang wajah tampan Siwon yang sibuk menealah dokumen penting. “Serius sekali menatap tunanganku, sekretasris Jung.”

 

Baik Shinri dan Siwon sama-sama menolehkan kepala. Siwon lalu menatap Shinri dan gadis itu tampak salah tingkah. Ia sadar ada kata yang janggal pada kalimat Hyein yang membuatnya terkejut. Gadis itu membelalakkan matanya ketika tanpa aba-aba, Hyein duduk di pangkuan Siwon dengan tidak tahu malu. “Benarkan, oppa? Apa oppa tidak terganggu dengannya?” Hyein mengelus wajah Siwon.

 

“Hyein-ah, turunlah. Ini di kantor.” Siwon merasa tidak nyaman dengan kelakuan Hyein. Gadis itu mengindahkan ucapan Siwon dan kini malah bersandar manja di dada bidang pria itu. “Wae? Memangnya aku tidak boleh bermanja dengan calon tunanganku sendiri, hm?”

 

Shinri memanas. Tangannya terkepal kuat menahan marah. Gadis itu benar-benar membuat Shinri marah. Apa maunya? Lalu, apa maksud ‘calon tunangan’ yang ia kelakarkan?

 

“Yya, turunlah.” Hyein mendesah kesal saat Siwon menyentak tangannya dan berdiri dari duduknya. Pria itu menatap Shinri sekilas sebelum kembali menatap Hyein. “Apa maksudnya?”

 

“Kenapa oppa bertanya? Memangnya oppa tidak ingin bertunangan denganku? Dan setelah bertunangan kita akan segera menikah. Aku mencintai oppa, dan aku tidak ingin kehilanganmu.” Hyein bersandar pada bahu Siwon sembari menggandengnya. Menatap Shinri dengan dingin tanpa sepengetahuan Siwon tentu saja. “Ah, kebetulan sekali disini ada Shinri-ssi. Aku mengundangmu secara khusus untuk datang ke acara pertunangan kami nanti. Kau tamu pertama yang aku undang.” Hyein menyelipkan senyum tipis yang bagaikan sebuah kilatan pisau dimata Shinri. Ucapan gadis itu sukses membuat hatinya remuk redam.

 

Bodohnya Siwon yang hanya bagai manekin hidup disana. Ia bahkan dapat menangkap ekspresi kecewa diwajah Shinri namun ia tak dapat melakukan apa-apa. Bahkan saat Hyein mendaratkan bibirnya di bibir Siwon, pria itu membeku di tempatnya. Sementara Shinri yang melihat itu, dengan segera membalikkan badannya yang gemetar. Bibirnya pucat dan Shinri merasa sangat terluka. Sebulir air mata jatuh tepat pada ujung heelsnya.

 

‘Jangan! Jangan berbalik! Jangan pernah melihatnya!’

 

Shinri membatin seraya menggigit bibirnya menahan isakan. Dengan tertatih, ia berjalan keluar tanpa tenaga. Hyein tersenyum puas ketika mendengar ketukan heels Shinri yang semakin pelan. Ia tersenyum disela ciumannya. Ia memiringkan kepalanya hendak menggerakkan bibirnya namun Siwon lebih dulu mendorong gadis itu.

 

“Apa yang kau lakukan, Hyein?” tanya Siwon yang terlihat menahan kesal. Rahangnya bahkan mengeras. Hyein menciut melihat itu. “Apa oppa tidak menyukai sentuhanku?” tanya Hyein dengan wajah memerah. “Bahkan semalam saja saat ada gadis asing yang menginap di apartemenmu, aku tidak marah. Karena apa? Karena aku percaya pada oppa. Tapi, saat aku menciummu, oppa tidak suka dan malah marah padaku, huh? Apa oppa masih mencintaiku?” Hyein berkata dengan kesal dengan air mata yang meleleh di wajahnya. Melihat itu, tentu saja Siwon terenyuh.

 

“Aniya. Bukan maksudku begitu. Maafkan aku.” Siwon memeluk Hyein dan mengelus lembut rambut panjang gadis itu. Ia tidak tahu bahwa Hyein menyeringai dalam pelukannya. Gadis itu lalu membalas pelukan Siwon dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidangnya. Ia berhasil. Ia sudah berhasil memastikan jika Shinri akan sakit hati dan Siwon yang sudah jelas lebih memilihnya.

 

— 0 0 0 —

Shinri termenung sambil menatap hamparan bunga warna-warni di taman Han Gang. Ia bahkan tak peduli jika Siwon mencarinya karena melalaikan tugasnya. Moodnya hancur berantakan dan yang ia butuhkan hanyalah kesendirian. Ia butuh menghirup udara lepas guna menenangkan hatinya yang kalang-kabut mendengar Hyein yang berkoar-koar tentang pertunangannya.

 

“Halo, aghassi. Bolehkah aku duduk disini?” Shinri mendongak dan menatap orang itu. Gadis itu hanya memberikan anggukan tipis. “Kenapa oppa ada disini? Apa oppa seorang stalker, huh ?” Kyuhyun terkekeh mendengar pertanyaan Shinri. Ia mengacak rambut gadis itu. “Jika kau mau, aku bisa berubah profesi sekarang, nona Jung.”

 

“Aku sedang melakukan tinjauan lapangan di sekitaran sini. Aku baru saja akan pulang jika tidak melihat gadis cantik ini duduk seorang diri dengan wajah kusut.” Kyuhyun lantas menatap Shinri. “Kau sendiri? Apa tidak bekerja?”

 

“Aku bolos kerja, oppa.” celetuk Shinri pelan. Kyuhyun menatap Shinri penuh tanya. “Kau… Ada masalah dengan Choi Siwon?” tanya Kyuhyun yang seolah bisa membaca gestur wajah Shinri. Gadis itu hanya menghela nafas dan perlahan mulai menceritakan kisahnya pada Kyuhyun. Semilir angin yang sejuk bahkan tak mampu membuat senyum Shinri terkembang. Gadis itu hanya menatap kosong dengan jantung yang terus berdebar. Ia hanya takut jika apa yang ia takutkan akan benar-benar terjadi.

 

“Shinri, jika Siwon tidak bisa mengingatmu, kau akan bagaimana dengan itu? Bisakah kau melepaskannya?”

 

“Melepaskannya?” Shinri membeo. Kyuhyun menatapnya dalam dan tersirat kesedihan saat rona merah di pipi Shinri tak terlihat. Ia tidak biasa melihat Shinri bersedih. Karena Shinri yang ia kenal selalu tersenyum dan melalui senyuman itu, Kyuhyun merasa damai.

 

“Bisakah aku melakukan itu? Aku sangat mencintainya, begitu juga dia. Ini hanya masalah waktu dan mukjizat. Jika aku melepaskannya, mungkin aku tidak akan bisa menata hidupku lagi.” jawaban Shinri berhasil membuat semangat Kyuhyun menciut. Tampak kekecewaan yang besar yang tergambar diwajah itu. Kyuhyun membuang pandangannya ke arah lain gunan menyembunyikan ekspresi wajahnya yang menyedihkan.

 

“Ne. Tentu saja kau tidak boleh melakukannya. Kau tidak boleh menyerah. Kita percaya bahwa mukjizat itu nyata.” Shinri tersenyum manis. Kyuhyun menggenggam hangat tangannya dan menyeka air mata diwajah gadis itu. “Dan saat kau butuh seseorang, jangan segan memintaku untuk datang, Shinri-ah. Kapanpun dan dimanapun itu. Selagi aku masih mampu bergerak, aku akan datang untuk menyeka air matamu.” Kyuhyun menatap Shinri dengan tatapan hangatnya. Ada secercah harapan di kilau matanya , berharap jika Shinri bisa melihat ketulusannya.

 

“Terima kasih, oppa. Kau benar-benar sahabat yang paling setia padaku.” Kyuhyun membeku saat Shinri memeluknya. Ia tahu jika mungkin rasanya hanya sepihak. Cintanya bertepuk sebelah tangan dan Kyuhyun tahu bahwa itu begitu menyakitkan.

 

— 0 0 0 —

Amarah Shinri berangsur naik ketika ia mendapati Hyein yang berdiri tak jauh darinya. Setelah tadi menceritakan masalahnya, seperti biasa Kyuhyun akan  mengajaknya keluar menikmati hiruk-pikuk jalanan Dongdaemun yang kian ramai saat jam makin merangkak larut.

 

Hyein, gadis itu tengah asyik memilih beberapa pakaian santai pria yang Shinri yakini akan ia berikan pada Siwon. Shinri mengepalkan tangannya mengingat perbuatan Hyein siang tadi yang sangat menjengkelkan. “Shinri, mau kemana?” Kyuhyun mencegah tangan Shinri yang tiba-tiba saja beranjak dari kursinya. Bahkan makanan ringan didepannya belum terusik sama sekali. Kyuhyun mengikuti pandangan Shinri dan mendapati Hyein disana. Gadis itu terlihat sendirian. Mungkin ia keluar tanpa Siwon.

 

“Aku harus mendengar penjelasan darinya, oppa.” Shinri menepis tangan Kyuhyun dan melangkah mendekati Hyein. Kyuhyun menghela nafas dan segera menyusul Shinri. Ia hanya takut akan ada perseturuan disana.

 

“Park Hyein-ssi.” Hyein menghentikan kegiatannya. Senyum sinis langsung tercetak pada bibirnya saat melihat Shinri. “Kebetulan sekali kita bertemu disini. Atau mungkin kau mengikuti kami karena takut aku melakukan hal yang lebih pada oppa?” tanya Hyein. Lalu ia beralih pada Kyuhyun dan membuang pandangannya kemudian.

 

Shinri tersenyum tak percaya. Ia bahkan sangsi jika gadis ini adalah gadis yang ia mintai bantuan saat Siwon koma. Gadis ini nyatanya berubah 180 derajat setelah hari itu. “Apa maksudmu dengan pertunangan? Jangan bilang jika itu akan benar-benar terjadi, huh?”

 

Hyein menipiskan bibirnya. Lalu menyibak rambut panjangnya dengan gaya yang angkuh. “Jika memang benar, lalu kenapa? Siwon oppa bahkan sudah setuju dan akan memberitahukan dengan orangtuanya malam ini.” jawaban Hyein berhasil membuat mata Shinri berair. Begitu juga dengan Kyuhyun yang tak dapat menutupi keterkejutannya. Shinri mencengkeram erat tangan Hyein membuat gadis itu meringis sakit.

 

“Yya, apa-apaan kau? Kau pikir bisa melakukan hal ini semaumu, huh? Bagaimana dengan janjimu? Apa kau juga mengalami amnesia dengan apa yang kau katakan dulu padaku? Kau bilang kau tidak akan menyakitiku karena kau paham karena kita sama-sama perempuan!” Shinri memekik marah. Air matanya jatuh. Kyuhyun berusaha melerai Shinri namun gadis itu menepisnya. Sontak saja pekikan Shinri mengundang perhatian khalayak ramai.

 

Hyein menghempaskan tangan Shinri dengan kuat. Ia juga marah. Terlihat dari wajahnya yang terlihat tegang. “Persetan dengan janji itu! Aku benar-benar tak peduli!” desis Hyein sarkastik. Ia menatap Shinri dengan bola mata yang membulat marah. “Sial, kau melukai tanganku.” Hyein murka saat tangannya lecet karena cengkeraman Shinri yang keras. Hyein mendorong Shinri dengan kesal hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Beruntung Kyuhyun menahannya.

 

“Yya! Kau gadis licik!” Kyuhyun menatap Hyein tajam. Ia marah dan jika saja Hyein adalah laki-laki, maka sudah lama ia meninju wajahnya. “Benar! Aku gadis licik. Lalu kenapa?” tantang Hyein. Ia bahkan menatap dan membalas Kyuhyun. Pria itu menggeram.

 

“Jangan lakukan itu. Aku mohon. Jangan lakukan itu. Aku mencintai Siwon oppa dan aku ingin dia kembali padaku. Jeball, Hyein-ssi.” Kyuhyun terkejut saat mendengar Shinri yang memohon pada gadis itu. Ia menatap Shinri yang sudah berlinang akan air mata. Kyuhyun menghela nafasnya. “Shinri, jangan lakukan itu. Jangan pernah memohon pada gadis sepertinya. Kau tidak pantas melakukan itu, Shinri-ah.” Kyuhyun menatap Shinri dengan sangat tapi gadis itu mengindahkannya.

 

“Jeball, bisakah kau lakukan ini untukku?” sekali lagi Shinri memohon dengan sangat pada Hyein yang menatapnya dengan sarkastik. Hati kecilnya terenyuh namun ia menepis semua itu. Karena apa? Karena ia ingin egois dan ia tentu ingin bahagia.

 

“Aku tidak mau.” Hyein menyentakkan tangan Shinri darinya. “Kau harus sadar dengan semua ini, Shinri-ssi. Semuanya tidak lagi sama dan Siwon oppa hanya membutuhkanku sekarang. Dia tidak ingat padamu dan dia mencintaiku sekarang. Hentikan mimpimu untuk membuatnya kembali padamu. Kau lihat jika selama ini tidak ada yang berubah, bukan? Oppa tidak akan lagi mengingatmu sebagai pengisi hatinya. Tolong sadar dan cukup terima kenyataan.”

 

Shinri terpaku mendengar rentetan kalimat gadis itu. Sesak. Sangat sesak hingga ia lupa bagaimana caranya bernafas. “Sekalipun kau merayunya dengan tubuhmu, jangan pernah berharap semuanya akan kembali. Kau menjijikkan karena dengan tidak tahu malu menginap di apartemennya.” Hyein mencibir. Kyuhyun menatap tajam gadis itu dan ingin memberikan pelajaran padanya jika saja sebuah tamparan pedas lebih dulu menyapa wajahnya.

 

Kyuhyun bahkan tak terkejut ketika Shinri menamparnya. Ia pantas mendapatkannya dari Shinri karena Kyuhyun yakin gadis itu sangat tersakiti dengan ucapan pedasnya. “Jaga ucapannmu, Hyein-ssi. Aku bukan gadis yang tidak tahu malu sepertimu. Pikirkan baik-baik sebelum berkoar.” tegas Shinri dengan mata yang memerah. Hyein menganga. Ia merasakan pipinya yang benar-benar pedas karena tamparan Shinri.

 

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Siwon datang dari balik kerumunan orang-orang yang mengerubungi mereka. Shinri tertegun, begitu juga dengan Kyuhyun. Sementara Hyein hanya terdiam sembari memegangi pipinya. “Aku tanya apa yang kau lakukan, Jung Shinri?!” Siwon menatap Shinri dengan tajam dan membentak gadis itu.

 

“Yya, jangan membentaknya, brengsek!” Kyuhyun maju untuk melindungi Shinri dari kemurkaan Siwon yang salah paham akan keadaan. “Minggir kau. Aku tidak punya urusan denganmu.” desis Siwon dingin. Kyuhyun tidak mengindahkan ucapan Siwon membuat Siwon menggeram. Ia menahan tangannya untuk tidak memberikan bogeman pada Kyuhyun yang selalu ikut campur.

 

“O-oppa…” Shinri tergagap. Bukan karena ia merasa menjadi pihak yang bersalah, namun karena tatapan Siwon yang mengerikan. Shinri menangis. Tubuhnya bergetar. “Aku tidak percaya ternyata kau gadis yang kasar. Pemikiranku ternyata salah besar terhadapmu. Aku pikir kau berbeda dengan gadis yang lain, tapi aku melihat tampangmu yang sebenarnya saat kau melepaskan topengmu.”

 

“A-aku bisa jelaskan, ini—”

 

Bugh!

 

Siwon tersungkur saat Kyuhyun memberinya tinjuan tepat di wajah. Shinri dan Hyein bahkan memekik kaget begitu juga dengan orang-orang disekitar. Siwon bangkit dan tersenyum sinis pada Kyuhyun. “Hati-hati dengan ucapanmu, Choi Siwon yang terhormat. Kau bahkan tidak tahu siapa yang melepaskan topengnya disini.” Kyuhyun berkata sambil melirik Hyein. Gadis itu menggigit bibirnya.

 

“Jangan pernah ikut campur, kau brengsek!” Siwon nyatanya tak tinggal diam. Ia membalas tinjuam Kyuhyun dan keduanya sama-sama terluka pada sudut bibirnya. “Kau yang lebih brengsek, Choi Siwon! Kau bahkan hanya mempercayai apa yang belum tentu benar. Gadis itu, dia licik! Kau akan menyesal!” lagi. Kyuhyun memberinya pukulan dan tepat mengenai hidung Siwon. Darah segar keluar dari sana.

 

“Yya, hentikan!”

 

Siwon terkekeh. Baru saja ia akan mengangkat kepalan tangannya, Shinri menahannya. Pria itu menyeringai begitu Shinri melindungi Kyuhyun dari hantamannya. Siwon menepis tangan Shinri darinya membuat Shinri begitu tersakiti. “Ayo lupakan semua yang terjadi. Mulai sekarang, jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku. Enyahlah. Maka semuanya akan lebih baik.” Shinri tertegun. Siwon menarik Hyein menjauh dari kerumunan dan benar-benar meninggalkan tempat itu.

 

Kyuhyun dengan tertatih berdiri sambil menyeka dari bibirnya. Ia mendekati Shinri yang terpaku layaknya orang bodoh mendengar penuturan Siwon. “Shinri-ah, gwenchanayo?”

 

Shinri menoleh dengan air matanya yang terus berdesakan keluar. Kyuhyun merasakan pedih ketika Shinri menyentuh lukanya. “A—aku yang seharusnya menanyakan itu. Hiks. Oppa terluka karena aku. Mianhae.” Shinri bahkan terisak. Entah karena sedih melihat Kyuhyun, atau karena ia terluka mendengar ucapan Siwon. Entahlah.

 

— 0 0 0 —

Apakah sudah berakhir? Entahlah. Gadis itu terperuk duduk di atas kasur empuknya dengan tatapan kosong. Tiga hari berlalu semenjak hari itu. Tiga hari itu juga Shinri tinggal dengan Kyuhyun disampingnya. Pria itu bahkan membatalkan kontrak kerja sama perusahannya dengan Siwon dan memutuskan menginap di apartemen Shinri untuk menjaga gadis itu seperti janjinya.

 

Nafsu makan Shinri menguap entah kemana. Terhitung hanya beberapa butir nasi yang lolos ke perutnya, sedangkan yang sisanya dengan naas berakhir di tempat yang sama—tempat sampah. Shinri banyak kehilangan berat badan. Namun ia tak peduli. Ia bahkan tak tahu apa yang terjadi dengan Siwon. Ah… Apa sekarang pria itu bahkan sudah membuat tanggal pasti untuk pertunangannya? Molla.

 

“Shinri, ayo makan. Aku membuatkanmu bubur dengan daging. Kau suka, kan?” Kyuhyun seperti biasa menghampiri Shinri di ranjangnya. Gadis itu tak menatapnya. Kyuhyun hanya menghela nafas. Tiga hari ini cukup untuk membuat Kyuhyun sabar-sesabar-sabarnya. Ia bahkan absen ke perusahaan selama tiga hari karena enggan meninggalkan Shinri.

 

“Oppa…”

 

“Ne?” Kyuhyun mengangkat cepat wajahnya. Wajah cantik itu berubah sayu. Tidak ada lagi binar kebahagiaan disana. “Pergilah. Kau tidak perlu terus menjagaku. Aku tidak akan mati atau bunuh diri karena frustasi. Aku tidak sebodoh itu, oppa. Aku terlalu takut melakukan itu semua. Jadi, pergilah. Cukup percaya bahwa aku akan baik-baik saja.”

 

Shinri menatap Kyuhyun dengan senyuman. Ia menganggukkan kepalanya dengan yakin pada Kyuhyun. Pria itu mendesah panjang.

 

— 0 0 0 —

“Omong kosong macam apa ini, Siwon?!” teriak Tn Choi dengan nada tinggi. Pria paruh baya itu terlihat emosi. Ia menatap tajam putra tunggalnya itu dengan tangan terkepal. Sementara Ny Choi tampak duduk dengan lemas di sofa. Ia memegang dadanya.

 

“Kenapa? Kenapa kalian tidak menyukai rencanaku? Apa yang kurang dari Hyein? Apa yang salah dengannya? Apa aku salah jika ingin bertunangan dengannya? Kalian tidak ingin melihat ku bahagia?” tanya Siwon yang ikut marah. Ia menatap kedua orangtuanya dengan penuh tanya. “Siwon-ah, dia bukan pilihanmu. Jangan lakukan ini, sayang. Kau akan menyesalinya.” nasihat Ny Choi bijak. Ia menatap Siwon dengan lembut berharap dapat meruntuhkan emosinya.

 

“Eomma selalu bilang begitu. Lalu, dimana pilihanku? Dimana kebahagianku yang kalian maksudkan?” tanya Siwon. Ia menatap kedua orangtuanya yang hanya terdiam dan saling memandang. Pria itu memijat keningnya yang pening. “Lihat? Bahkan kalian tidak mengatakannya padaku. Cukup. Aku tak peduli. Aku akan tetap melanjutkan pertunanganku dengan Hyein.” Siwon menyampirkan jaketnya dan berjalan hendak meninggalkam ruang tamu.

 

“Shinri! Shinri adalah kekasihmu, Siwon! Shinri lah wanita yang kau cintai! Shinri adalah wanita yang akan kau lamar. Dan itu bukan Hyein. Wanita itu hanya masa lalumu!” bentak Ny Choi dengan nada suara yang tinggi. Siwon tertegun dan menghentikan langkah. Ia lalu berbalik dan menatap ibunya yang terisak di pelukan Tn Choi.

 

“Shinri? Jung Shinri?” Siwon bergumam. Lantas ia membuang pandangannya. “Jangan bercanda, eomma. Aku bahkan tak mengenalnya. Dia hanya sekretarisku, dan tidak lebih.” Siwon lalu pergi. Benar-benar pergi dari sana. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan pikiran yang berkecamuk. Sebenarnya ia sangsi dengan apa yang ia ucapkan. Hatinya memberontak namun bibirnya secara spontan mengatakan rangkaian kata itu. Ia tak mengerti apa yang harus ia perbuat.

 

Siwon sampai di perusahaan dengan emosi. Wajahnya mengeras dan bahkan ia tak mempedulikan sapaan karyawan yang memanggilnya. Ketika sampai di meja Shinri, Siwon memberhentikan langkah. Tiga hari sudah ia tak lagi melihat Shinri. Gadis itu benar-benar patuh menuruti keinginannya dan Siwon benci itu.

 

Ia… Merindukannya.

 

Siwon tersenyum tak percaya. Ia mengepalkan tangannya dan membanting pintu dengan keras.

 

 

— 0 0 0 —

Senyum cantik Shinri terbit manakala ia mendapati sebuket bunga mawar putih yang Kyuhyun berikan untuknya. Melihat wajah Shinri yang berbinar, tak pelik ikut membuat Kyuhyun tertular dengan kebahagiaan. Usahanya untuk membuat Shinri bisa tersenyum nyatanya tidak sia-sia. “Kau suka?”

 

“Tentu. Gomawo, oppa.” kini keduanya duduk di ruang tamu. Shinri mencium semerbak harum bunga mawarnya dengan penuh minat. “Ngomong-ngomong, ada angin apa oppa memberikan ini untukku, hm?” Kyuhyun hanya memberikan kekehan kecil pada gadis itu. “Aku hanya ingin memberikannya. Kau tidak mau? Ya sudah, kembalikan.” Kyuhyun pura-pura merajuk.

 

“Eish, enak saja! Tidak baik meminta barang yang sudah kau berikan pada orang lain.” celetuk Shinri. Kyuhyun tertawa mendengarnya. Ia menatap wajah Shinri yang sudah tak sepucat kemarin. “Apa kau sudah lebih baik? Apa kau sudah makan?”

 

“Ne. Gomawo, oppa. Kau sudah menemaniku menjalani hari-hari yang begitu sulit dan mencekik ini.” Shinri menatap Kyuhyun tulus. Pria itu balas menggenggam tangan Shinri dengan hangat. “Setelah ini, apa yang akan kau lakukan?”

 

Gadis itu membisu. Jujur, pikirannya kosong. Ia menjadi bodoh hanya untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk Siwon. “Molla, oppa. Haruskah aku menyerah?” tanya Shinri ragu. Kyuhyun mendesah. “Jangan lakukan itu. Meskipun sulit, jangan menyerah, Shinri-ah. Aku yakin kau akan bisa kembali bersamanya.”

 

“Aku hanya berharap jika ini akan cepat berakhir.” Shinri menghelakan nafas panjang. Tampak gurat kelelahan diwajah gadis itu. “Oh ya, besok temanku akan menikah. Apa kau mau menemaniku sebagai partner malam nanti?” tanya Kyuhyun sembari menatap Shinri penuh harap. “Yya, ini balasanmu atas bunga yang aku bawakan? Jeball, hm?” Kyuhyun bersikap layaknya anak kecil pada Shinri yang terlihat menimbang-nimbang keputusannya.

 

“Arraseo, oppa. Jangan merengek seperti itu. Kau sangat jelek!”

 

 

— 0 0 0 —

 

Ada secercah kerinduan di lubuk hati Siwon ketika matanya menangkap siluet tubuh Shinri yang dalam gandengan Kyuhyun. Gadis itu begitu memukau dengan gaun terusan berwarna merah maroon off-shoulder. Rambut hitam lurusnya yang sengaja di geraikan membuat kecantikan natural Shinri benar-benar terpancarkan. Dan tampaknya bukan hanya Siwon seorang yang terpana dengan penampilan Shinri. Kyuhyun juga sama. Bahkan ia menelan susah payah ludahnya saat menjemput Shinri malam itu.

 

“Kenapa kau gelisah? Tidak enak badan?” Kyuhyun menyadari kegelisahan Shinri yang duduk di sampingnya. Gadis itu bahkan sesekali menggigit bibirnya seolah ada yang menggangu konsentrasinya. “Ani. Gwenchanayo.” Shinri tersenyum tipis pada Kyuhyun. Pria itu membuka jasnya dan memberikannya pada Shinri yang mengenakan gaun terbuka.

 

“Pakailah. Kau pasti kedinginan dengan gaun itu.” ujar Kyuhyun. Shinri tersenyum seraya memegang erat jas milik Kyuhyun yang tersampir pada tubuhnya. Lantas ia kembali menyapukan pandangannya ke samping dan ia tetap melihat Siwon menatap tajam ke arahnya. Shinri mendesah karena merasa benar-benar tidak nyaman.

 

“Aku ke kamar kecil sebentar, oppa.” Shinri akhirnya melangkahkan kakinya meninggalkan aula hotel tempat dimana diselenggarakannya acara utama. Kyuhyun menatap Shinri dengan heran dan berharap jika gadis itu akan baik-baik saja. Siwon yang melihat Shinri meninggalkan tempat itu, ikut melangkahkan kakinya dan dengan sedikit terburu ia mengikuti Shinri. Saat melihat Shinri yang akan memasuki kamar mandi, Siwon segera mencekal tangannya sebelum Shinri sempat mengunci pintu.

 

“Oppa, wae?” Shinri bergumam. Tidak percaya bahwa Siwon akan mengikutinya sampai kesana. Gadis itu meringis saat Siwon memegangnya dengan keras. “Apa yang kau lakukan disini, huh? Dan apa ini? Kenapa kau suka sekali memakai jasnya?” Shinri tersentak. Siwon membuang jas Kyuhyun dengan serta merta dihadapannya.

 

“Kenapa kau lakukan ini, huh? Bukankah aku sudah bilang jangan lagi muncul di depanku?” tanya Siwon dingin. Ucapannya membuat Shinri menggigit bibir. Hatinya terluka seolah ucapan Siwon adalah bilah pisau yang menikam jantungnya. Panas. Matanya memanas.

 

“Waeyo? Apa aku begitu memuakkan sampai kau tidak mau melihatku?” Shinri menumpahkan air matanya tanpa bisa ia cegah. Ia mencengkeram kuat gaunnya. Siwon tertegun. Hatinya terluka namun sekali lagi, ia tidak dapat melakukan apapun untuk membuat tangis Shinri berhenti. Ya, karena ia adalah pelaku utama yang membuat gadis itu menangis. Jakun Siwon bergerak naik turun menelan ludah. Tenggorokannya sakit bagaikan ada duri ikan yang tersangkut disana.

 

Shinri tersenyum tak percaya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan air mata yang terus mengalir. Ia bahkan berharap detik ini air matanya habis sehingga ia tidak akan lagi terlihat menyedihkan disini. “Ah… Aku benar-benar terluka. Aku terus menanamkan tekad dan mengatakan jika ini tidak apa-apa. Tapi, semakin aku bertahan, semakin juga aku merasakan sakit. Oppa, apa kau bahkan mengingatku? Aku Shinri. Aku Jung Shinri, oppa.” Shinri menggenggam hangat tangan Siwon dan menatapnya dengan memelas. Berharap jika mukjizat yang selalu ia tunggu akan datang detik ini juga.

 

“Apa yang kau bicarakan, huh?” Siwon melepaskan tangan Shinri darinya. Gadis itu menelan ludahnya melihat reaksi Siwon yang jauh dari ekspektasinya. Sesak itu makin mencekam menekan dadanya. Shinri menghela nafas panjang.

 

‘Baiklah. Ini tidak akan berhasil.’

 

“Aniya. Hanya lupakan itu.” Shinri membalikkan badannya setelah ia menyeka air matanya dan memungut jas Kyuhyun yang tergeletak di lantai. Siwon merasakan tubuhnya ditimpa berton-ton batu saat Shinri pergi darinya. Dirinya merasakan kehilangan yang besar. Dan bodohnya ia hanya berdiri terpaku disana tanpa mampu mencegah Shinri.

 

“Oppa.”

 

“Ne?” dengan cepat Siwon membalikkan badannya dan senyum tipis langsung tersemat pada wajahnya. Namun, di detik berikutnya senyuman itu pudar seiring ia sadar ternyata bukan dirinya yang Shinri panggil dengan sebutan ‘oppa’. Siwon terhenyak dengan kedua tangan terkepal.

 

“Apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali eoh?” Kyuhyun tampak khawatir saat mendapati wajah Shinri yang memerah dan sayu. Saat itulah tatapan Kyuhyun tertuju pada Siwon. Pria itu menggeram marah sekaligus terkejut saat Siwon ternyata juga ada di pesta itu. Kyuhyun akan menghampiri Siwon yang ia percayai membuat Shinri menangis namun Shinri kembali menahannya.

 

“Ayo kita pulang.” ajak Shinri. Kyuhyun terlihat tak setuju namun ia hanya mampu mengangguk dan dengan tatapan tajam yang ia berikan pada Siwon, Kyuhyun merangkul Shinri dengan hangat. Meninggalkan Siwon seorang diri dengan perasaannya yang kalut dan terombang-ambing.

 

 

— 0 0 0 —

Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Sepekan lagi berlalu tanpa terasa. Salju pertama di bulan Desember turun deras hari itu. Shinri menengadahkan tangannya menampung beberapa butir halus salju yang putih. Ia tersenyum. Senyuman tipis yang sarat akan luka dan kepiluan. Ia membiarkan wajahnya bermandikan halus salju yang dingin. Sedingin hatinya kini.

 

“Shinri-ah.”

 

Shinri menengok ke sumber suara. Wanita paruh baya itu menyambutnya dengan sebuah senyuman lembut yang lagi-lagi membuat hati Shinri tersayat. Ia segera berhambur ke pelukan wanita yang sudah sangat ia rindukan itu. “Eommoni.”

 

Keduanya berpelukan di tengah kedinginan yang menyelimuti Seoul. Tangis Shinri tumpah dengan deras di pelukan Ny Choi. Sama halnya dengan Ny Choi yang terisak sembari memeluk Shinri. Ia sangat menyayangi Shinri seperti anak kandungnya sendiri. “Ri-ah, gwenchana?”

 

“Ani. Aku tidak baik-baik saja, Eommoni. Rasanya sangat sakit sampai rasanya aku mau mati. Eotthoke?” tanya Shinri putus asa. Ny Choi menggelenggkan kepalanya seraya mengelus punggung Shinri dengan lembut. Tak banyak yang bisa ia lakukan namun ia berharap jika Shinri tak akan menyerah. Ia takut jika itu terjadi. “Eommoni harap kau jangan menyerah, sayang. Percayalah jika semua ini akan berakhir.”

 

“Aku pun berharap hal yang sama, Eommoni. Tapi, aku tidak bisa memikirkan apapun mengingat jika besok semuanya akan berakhir. Oppa … Oppa akan benar-benar meninggalkanku sendirian.” isak Shinri. Wajahnya basah dan matanya memerah. Hatinya sakit setiap kali mengingat jika besok akan menjadi hari yang menyakitkan baginya. Besok. Ya, besok adalah hari pertunangan Siwon dan Hyein.

 

Kedua orangtua Siwon nyatanya tak dapat melakukan apapun untuk mencegah semuanya agar tidak terjadi. Siwon bersikukuh akan bertunangan dengan Hyein dan memilih mengabaikan rintihan pilu dari lubuk hati terdalamnya. Pria itu sebenarnya juga tak mengerti kenapa ada sisi lain di hatinya yang memberontak niatannya. Ia hanya memilih diam dan mengindahkan itu semua.

 

“Tidak. Itu tidak akan terjadi, sayang. Eommoni percaya itu tidak akan terjadi. Siwon akan kembali padamu. Walaupun Siwon bertunangan dengan gadis itu, tapi Eommoni yakin hatinya akan gundah. Karena apa? Karena dia mencintaimu. Otaknya boleh saja melupakanmu, tapi hatinya tidak. Hatinya akan tetap tearah menuju hatimu, Shinri.”

 

Ny Choi merapikan anak rambut Shinri dengan jari-jemarinya yang bergerak lembut didahi gadis itu. “Jangan menangis lagi, eoh? Besok kau harus datang dan bernyanyi disana. Berdandanlah yang cantik dan buat semua mata menatap padamu. Eommoni akan selalu memelukmu.” ujar Ny Choi lembut dan terselip ketegasan dalam kata-katanya yang tak mampu membuat Shinri menolak.

 

 

— 0 0 0 —

Hyein menyeruput lemon tea miliknya dengan nikmat. Kontras dengan Kyuhyun yang menatap tanpa minat segelas Americano yang hanya ia tatap dengan datar. Melihat itu, Hyein tersenyum ketus. Ia menatap pria dengan kulit putih pucat itu dengan sinis. Sejam yang lalu, sebuah nomor tak dikenal menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Hyein awalnya heran lalu saat mendengar suara Kyuhyun, gadis itu hanya terkekeh tak percaya dan sekarang disinilah ia berada.

 

“Kau puas menatap wajahku, tuan Cho? Apa kau mengajakku bertemu hanya untuk menatapku?” decak Hyein. Kyuhyun diam tanpa niat menjawabnya. ‘Pria menyebalkan!’  Batin Hyein.

 

“Yya, jika kau tidak berbicara juga, aku akan pergi. Percuma menghabiskan waktu satu jam berhargaku untuk berdiam diri tidak jelas bersama pria menyebalkan sepertimu!” Hyein menghentakkan kaki lalu meraih tas selempangnya dan melangkah keluar jika saja lengan kokoh Kyuhyun tidak menahannya. Hyein lagi-lagi terjengit saat Kyuhyun menghentak tubuhnya sehingga gadis itu kini terduduk di meja. Kyuhyun menatapnya tajam. “Gadis jahat.”

 

Bola mata Hyein rasa-rasanya akan keluar mendengar dua kata dari mulut Kyuhyun. “Oh ya? Jika aku gadis jahat, dan kau pria pengecut. Bukankah begitu?” balasnya sengit. “Kau pura-pura bodoh, tuan Cho? Oh… Sepertinya kau lupa jika aku ini terlalu pintar mengartikan perasaanmu pada Shinri. Kau menyukai, ani… Kau mencintainya. Aku benar, kan?” tawa Hyein puas melihat wajah Kyuhyun yang kikuk.

 

Pria itu menggeram kesal menatap gadis di depannya. Kyuhyun mendekatkan wajah mereka masih dengan sorot tajam yang sarat akan emosi. “Kau terlalu pengecut sebagai lelaki, Kyuhyun-ssi. Aku berani bertaruh bahkan kau tidak mengungkapkan perasaanmu pada Shinri. Apa aku salah, heum?” Hyein menyeringai sembari memilih membalas tatapan Kyuhyun tanpa rasa takut sedikitpun.

 

Kyuhyun berdecak sebal. Kenapa malah ia disini yang di pojokkan? Bukankah ia yang harusnya lebih hyperaktif mengingat Kyuhyun yang harusnya memiliki niatan untuk memojokkan dan mencuci otak gadis itu?

 

“Terserah apa pandanganmu terhadapku, Hyein-ssi. Yang jelas, mau aku mengungkapkan rasaku atau tidak pada Shinri, itu hakku. Toh aku mencintainya dengan cara yang benar tanpa harus membuat ada pihak lain yang terluka. Berbeda denganmu yang terlalu egois demi merebut kebahagiaan yang bahkan hanya bertahan sedetik itu.” Kyuhyun lantas menyeringai. Hyein mengepalkan tangannya dengan emosi. “Hati-hati dengan ucapanmu, Cho Kyuhyun!” geramnya.

 

“Wae? Apa aku salah? Aku pikir apa yang aku katakan adalah fakta. Cobalah berpikir, nona.” Kyuhyun menganggkat bahunya acuh. “Kau tidak tahu apa-apa jadi sebaiknya kau diam. Apa aku tidak bisa bahagia? Apa aku tidak bisa meraih apa yang membuatku tersenyum, huh?” sorot mata Hyein mengkilat marah dan sedikit berkaca-kaca. Gadis itu menahan dirinya agar tidak mendorong pria ini.

 

“Hyein-ssi, kau tidak salah jika bahagia. Tapi caramu meraihnya yang salah. Aku yakin kau adalah gadis yang lembut, hanya saja sisi keegoisan dalam hatimu lebih mendominasi saat ini. Kau harus persiapkan dirimu jika suatu saat Siwon mengingat semuanya, maka saat itu juga kau akan di depak. Lalu kau akan di benci semua orang.” peringat Kyuhyun sungguh-sungguh. Air muka Hyein berubah panik dan sendu. “Aniya. Itu tidak mungkin. Siwon oppa tidak akan mengingatnya.”

 

Kyuhyun menghela nafasnya melihat kekeras-kepalaan gadis ini. Ia kemudian menyentuh dagu Hyein dan membuat gadis itu menengadah menatapnya. “Dengar baik-baik, Hyein-ssi. Kau bukan Tuhan. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka semuanya akan menjadi apa yang tidak pernah kau bayangkan.” Hyein menatap Kyuhyun dengan garang. Ia marah dengan semua yang Kyuhyun katakan. Ia membenci pria ini.

 

“Sudah selesai? Sekarang menjauh dariku.” geram Hyein. Kyuhyun terkekeh. Bukannya menjauh, ia malah semakin mendekatkan wajahnya. Kontan Hyein menahan pria itu dengan tangannya yang ia tekan di dada bidang Kyuhyun. “Shinri pernah bilang padaku jika kau akan memahami perasaannya karena kalian sama-sama seorang wanita. Tapi, jika kau melakukan ini, bukankah itu artinya kau menjilat ludahmu sendiri karena kau sudah banyak menyakitinya?”

 

“Terserah. Terserah dengan apa yang kau katakan. Karena aku memang egois, karena aku memang jahat dan licik! Terserah! Karena aku juga ingin bahagia, meskipun aku berlakon sebagai wanita licik.” ujar Hyein dengan mata berkaca-kaca. Ia kesal dan terluka dengan segala judge yang Kyuhyun ucapkan. Pria itu begitu pintar bersilat lidah dengannya.

 

Kyuhyun tersenyum tipis melihat reaksi Hyein. Pandangannya beralih pada bibir tipisnya. Pria itu mendekatkan wajahnya dan menempelkan material lembut itu. Hyein tercekat dengan tindakan Kyuhyun yang membuat denyut jantungnya berpacu berkali-kali sangat cepat. Matanya terbelalak dan begitu ia berhasil mendapatkan kekuatan, gadis itu dengan cepat mendorong Kyuhyun darinya. Dilihatnya pria itu menyeringai.

 

“Kenapa terkejut? Aku yakin bahwa ini bukan pertama buatmu, Hyein-ssi.” nafas Hyein tercekat di dasar. Ia mengepalkan tangannya dan benar-benar murka. “Apa yang kau rasakan? Kesal? Marah? Ya… Kalau kau merasakannya, seperti itu juga apa yang Shinri rasakan saat ini. Selamat atas pertunanganmu, Park Hyein.”

 

Kyuhyun menjulurkan tangannya memberikan selamat pada Hyein dengan senyuman meremehkan. Namun, bukannya ia mendapatkan balasan, justru wajah tampannya yang mendapatkan tamparan pedas dari layangan Hyein yang berhasil mendarat dengan mulus disana. “Brengsek. Brengsek kau, Cho Kyuhyun!” umpat Hyein dengan sebulir air mata yang jatuh dari matanya yang basah. Kyuhyun memegang wajahnya yang panas dan ia hanya terkekeh mendapatkan ‘hadiah perpisahan’ dari Hyein.

 

Gadis itu keluar dari cafe dengan wajah yang basah. Hyein mengusap kasar air matanya saat beberapa pejalan kaki yang lewat menatapnya dengan bingung. “Kau puas, Cho Kyuhyun? Kau berhasil menyakitiku. Keterlaluan.” gumam Hyein. Ia menyandang tas selempangnya dan melangkahkan kakinya menjauh dari tempat tersebut. Ekor mata Hyein jatuh pada sebuah mobil audi putih gading yang terparkir di depan cafe. Dilihat dari plat nomornya, jelas sekali jika itu adalah mobil milik Kyuhyun dengan inisial ‘Cho KH’ yang tertera disana.

 

Senyum sinis tersungging diwajah gadis berusia 24 tahun itu. Hyein lantas mengorek tasnya dan ia berhasil menemukan lipstick merahnya. Hyein mendekat dan dengan seringaian yang tercetak di bibirnya, tangannya dengan lincah mengulaskan beberapa tulisan tangannya di kap mobil Kyuhyun dengan lipsticknya. Tidak cukup hanya disana, namun Hyein juga mencorat-coret kaca jendela mobilnya. Aksinya menarik perhatian dari orang-orang yang berlalu lalang.

 

“Yya! Apa yang kau lakukan, huh?” suara berat Kyuhyun yang berteriak marah padanya barulah membuat Hyein menghentikan ulahnya. Gadis itu hanya menatapnya dengan acuh dan sekali lagi, ia menendang ban mobil Kyuhyun tepat di hadapan pria itu. Kyuhyun melongo melihat mobil mahalnya yang sudah coreng-bareng dengan lipstick merah. Pria itu meninju udara sebagai lampiasan emosinya ketika Hyein yang sudah enyah dari pandangan. Ia menutup wajahnya saat terdengar cekikikan dari orang-orang yang melihatnya.

 

 

— 0 0 0 —

Tidak ada hal yang lebih menyakitkan bagi Shinri selain melihat orang yang disayanginya menyematkan cincin berlian di jari manis gadis lain. Matanya sudah lelah mengeluarkan air mata yang sialnya tidak juga kering dan selalu membuatnya terluka lagi, dan lagi. Dadanya sesak dan ia hampir lupa bagaimana rasanya untuk bernafas saat Siwon memamerkan senyum manisnya pada Hyein. Shinri mencengkeram erat gaun black long dress miliknya sambil memalingkan muka. Enggan menatap view romantis yang membuat matanya sakit.

 

Di sisinya, berdiri Ny Choi dan Kyuhyun yang menatap Shinri dengan iba. Kyuhyun menggenggam erat tangan Shinri yang dingin. Ia ingin Shinri tahu bahwa ia tidak akan sendirian menghadapi kesulitannya. Ny Choi menatap Siwon dengan terluka. Jujur saja ia bahkan tak pernah menginginkan hal ini terjadi namun ia tahu bahwa tak banyak yang bisa ia lakukan untuk mencegah terjadinya malam ini. Memeluk Shinri dengan lembut, Ny Choi menepuk kulit punggung putih Shinri yang sedikit terekspos. “Bernyanyilah, sayang. Mainkan nada-nada indah untuk kami.” ujar Ny Choi. Shinri menatapnya lama dan kemudian mengangguk.

 

Shinri maju dan naik ke atas panggung yang terdapat dalam ballroom hotel bintang lima itu. Gadis itu mengambil sebuah microphone dari MC dan membuka mulutnya dengan susah payah. “Choi Siwon-ssi dan Park Hyein-ssi. Selamat atas pertunangan kalian. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberikan kebahagian yang senantiasa menyertai langkahmu. Aku akan memberikan sebuah lagu sebagai hadiahku untuk malam yang indah ini.” Shinri menggigit bibirnya berusaha menahan tangis saat Siwon menatapnya dengan lekat. Ia tersenyum tipis. Senyum palsu yang penuh dengan luka.

 

Shinri menuju grand piano putih gading yang tersedia. Jari-jemari tangannya mulai bermain dan menekan tuts-tuts piano dengan lembut. Menciptakan nada-nada harmonisasi yang indah. Shinri memejamkan matanya saat suara indahnya mengalun.

 

ireon ge sarangin geongayo

geudaeran saram naege

dugeungeorige han juldo moreugo

geujeo gamgie geollyeo ireohge yeori nago

apaseo bamsae dwicheogin jul arattjyo

 

na geudaega olmgin sarang ttaemune

jam mot deulgo ittjyo eotteoghajyo

 

geojitmarirado haejwoyo

geudaedo nareul saranghandago

simjangi ttwineun ge ireoda keunil najyo

eotteohgedeun haejuseyo

 

na geudaega eobtneun haru ttaemune

mollae ulgo ittjyo eotteoghajyo

 

geojitmarirado haejwoyo

jogeumman gidarimyeon doendago

oneuri jinago naeirimyeon nae gyeote

dasi dorawa jundago

 

uri gateun goseul bomyeonseo

midji mot hal sarangeul haebwayo

 

itorok nae gyeote isseoyo

geudaedo na eobseumyeon andoejyo

jamsi meoreojyeodo hanbal deo meoreojyeodo

urineun mannal subakke

geudaeneun tto dareun naraseo

 

Song by : Park Boram – Please Say Something, Even Though It Is a Lie

 

 

Shinri menyudahi lagunya dengan tepuk tangan yang meriah. Semua tamu undangan bersorak untuk gadis itu. Namun tidak bagi Siwon dan orang-orang yang mengerti dengan lukanya. Ny Choi bahkan menangis dan menyeka air matanya dengan sapu tangan milik Tn Choi yang setia berada di sampingnya. Begitu juga dengan Kyuhyun yang ikut berkaca-kaca. Hyein hanya menggigit bibirnya dengan tangan yang mencengkeram erat ujung gaunnya. Ia memandang Siwon dan pria itu tampak tak sedikit pun beralih dari Shinri yang wajahnya basah di banjiri air mata.

 

‘Berbeda denganmu yang terlalu egois demi merebut kebahagiaan yang bahkan hanya bertahan sedetik itu’

 

‘Hyein-ssi, kau tidak salah jika bahagia. Tapi caramu meraihnya yang salah’

 

‘Shinri pernah bilang padaku jika kau akan memahami perasaannya karena kalian sama-sama seorang wanita’

 

‘Tapi, jika kau melakukan ini, bukankah itu artinya kau menjilat ludahmu sendiri karena kau sudah banyak menyakitinya?’

 

Hyein meneguk ludahnya susah payah saat ucapan demi ucapan Kyuhyun terngiang di kepalanya. Benarkah jika ia sudah berubah menjadi monster yang egois dan menyakiti orang banyak? Gadis itu menunduk saat rasa sesak itu menghimpit paru-parunya. Ia menatap kosong ujung heels lancipnya.

 

“Selamat.” Shinri menghampiri Siwon dan Hyein ketika ia turun dari panggung. Siwon menatap gadis itu dengan lekat seolah-olah ia akan merindukan gadis ini kelak. Siwon mendesah dan mengabaikan ucapan selamat Shinri padanya. Entah kenapa, ia tidak suka itu. “Aku harap oppa bahagia dengan Hyein-ssi. Aku juga akan pergi sekarang. Selamat tinggal.” Shinri menatap Siwon dengan pandangan terluka. Ia mengamati wajah itu lamat-lamat karena mungkin ini akan jadi yang terakhir baginya.

 

Dan Shinri berlalu dari hadapan Siwon. Pria itu menatap punggungnya dengan tatapan kosong. Jiwanya serasa terhempas ke dasar jurang saat kata ‘selamat tinggal’ terucap dari bibirnya. Siwon kembali merasakan de javu yang sama. Ia memegang kepalanya yang pening dan merintih. Hyein menatapnya dengan panik dan pucat. Ia memanggil Siwon berkali-kali namun pria itu tampak begitu kesakitan. Dan yang terjadi selanjutnya adalah ia jatuh. Tubuhnya ambruk bersamaan dengan pandangannya yang di renggut paksa oleh kegelapan.

 

 

— 0 0 0 —

Siwon terbangun dari pingsannya dengan kepalanya yang masih sakit. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjangnya dan merasakan bahwa ada sedikit suara bising dari luar kamarnya. Pria itu mendesah dan mengingat jika pasti keluarganya khawatir karena ia pingsan tiba-tiba setelah acara tunangannya dengan Hyein. Ia juga tak paham hal apa yang membuatnya pingsan saat sebuah kenangan lama berputar-putar di kepalanya. De javu .

 

“Kau puas dengan segalanya, bukan? Kau puas sudah membuat Shinri akhirnya pergi?” sayup-sayup Siwon mendengar bentakan dari suara ibunya. Siwon bangkit dan keluar kamar karena penasaran. Dilihatnya Hyein yang tengah menangis juga Ny Choi yang terduduk lemas di sofa di ruang keluarga.

 

“Apa salah Shinri padamu, huh? Kenapa kau menyakitinya sampai membuatnya pergi? Apa kau tahu bagaimana dia membujuk kami agar menerimamu bersama Siwon saat itu? Dia berharap bahwa kau lah yang bisa membantu karena Siwon hanya mengingatmu selain kami. Dan sekarang sudah selesai. Shinri sudah pergi dengan membawa lukanya.” Ny Choi mendesah sambil mengusap air matanya yang tak kunjung berhenti.

 

“Maaf. Maafkan aku Ahjumma. Aku mengaku salah. Aku menjadi egois karena aku mencintai oppa. Tolong maafkan aku.” Hyein jatuh dan tersungkur dengan wajahnya yang basah. Ia merasa bersalah sekarang. Ucapan Kyuhyun nyatanya memang benar. Ia jahat. Ia seorang monster.

 

Ny Choi mendesahkan nafas panjang. Ia tidak sadar jika sedari tadi Siwon mendengar percakapan mereka. Pria itu memegang kepalanya yang kembali berkontraksi. “Sudahlah. Penyesalan itu selalu datang di akhir. Dengan kau meminta maaf atau tidak, semuanya tidak akan lagi sama. Toh, Shinri sudah pergi sekarang.”

 

Siwon terhenyak. Matanya berkunang-kunang dan jantungnya bertalu cepat ketika mendengar kalimat terakhir Ny Choi. Nafasnya tercekat ketika memorinya memutar kejadian yang tak pernah ia ingat. Kecelakaan. Kecelakaan yang membuat mobilnya menabrak trotoar jalan dan tiang pembatas. Ia terluka banyak dan kepalanya mengeluarkan cairan merah pekat.

 

Kini, kejadian itu berputar bagaikan roll film yang membuatnya tertampar. Siwon mulai mengingat rincian kejadian malam dimana malapetaka itu menimpanya. Masih segar di ingatannya saat ia mendengar Shinri mengucapkan ‘saranghae’ dengan penuh cinta padanya via telpon malam itu. Ia tersenyum begitu senang dan memandang sepasang cincin yang berkilauan itu dan tak sabar ingin segera menyematkan benda itu di jari manis kekasihnya. Siwon hendak menyimpan kembali kotak perhiasan itu dalam sakunya dan saat ia kehilangan fokus sedetik, saat itulah naas baginya.

 

“Arrggh!!!” Siwon mencengkeram kasar rambutnya dan merintih. Kepala dan hatinya kini seolah di timpuk oleh ribuan ton batu. Kedua orangtuanya dan Hyein terkejut melihat Siwon. Mereka mengerubungi putranya dan ikut sakit saat Siwon merintih sembari memukul dadanya. Terlebih, pria itu kini menangis. “Appa… Eomma…”

 

“Siwon-ah, ada apa, nak? Apa kepalamu sakit, eoh?” tanya Tn Choi. “Shinri… Dimana dia, appa?” balas Siwon dengan parau. Orangtuanya tampak terkejut dengan pertanyaan Siwon. Sama halnya dengan Hyein. Gadis itu menggigit bibir dan kontan memundurkan langkahnya. ‘Siwon sudah mengingat semuanya.’

 

“Aku ingat semuanya. Aku baru mengingat semuanya detik ini. Apa aku terlambat untuk ini? Apa aku benar-benar sudah melukai Shinri?” Siwon terisak. Ny Choi segera memeluknya dengan haru sekaligus lega. “Syukurlah kau sudah mengingat semuanya. Tuhan masih sayang dengan kalian dan menyudahi ujian ini. Tidak. Tidak ada kata terlambat untuk kembali memulai segalanya, Siwon-ah. Shinri pasti akan menunggumu.”

 

“Dimana dia, eomma?” Ny Choi melepaskan pelukannya dan menatap Siwon yang terlihat begitu rapuh dan kehilangan. Wanita paruh baya itu hanya menghela nafas panjang. “Mollaseo. Dia langsung pergi setelah acara pertunangan malam itu dan tidak dapat di hubungi.” Siwon melemas. Tubuhnya hampir jatuh tapi ia harus optimis untuk tidak boleh lemah. ‘Shinri menungguku.’ batinnya.

 

Siwon hendak melangkah namun pandangannya bertemu dengan Hyein. Gadis itu menangis. “Oppa, tolong maafkan aku. Aku mengaku salah. Aku benar-benar egois.” Hyein menatap Siwon dengan sendu. Siwon mendesah. “Seharusnya kau meminta maaf pada Shinri, Hyein-ssi.”

 

Lalu Siwon berlalu. Meninggalkan Hyein yang terpaku dengan hantaman besar pada rongga hatinya. Menangis pun rasanya percuma.

 

 

— 0 0 0 —

Kyuhyun menatap Siwon dengan tajam. Pria itu datang ke tempat tinggalnya dengan wajah yang sedikit berantakan tapi tak sedikitpun menyurutkan ketampanannya. Ia masih mengenakan kemeja putih yang ia gunakan di pesta pertunangannya. “Kenapa kau kemari?”

 

“Dimana Shinri? Tolong katakan padaku.” Kyuhyun tampak terkejut namun ia tak menampilkan ekspresi itu. Ia menyilangkan tangannya di dadanya. “Kenapa kau peduli dengannya sekarang?” ia tertawa sinis.

 

“Karena dia gadisku! Aku ingin melindunginya, kapanpun itu. Apa ada alasan lain lagi bagiku untuk peduli, eoh?” balas Siwon yang mulai naik pitam mendengar pertanyaan menyebalkan dari Kyuhyun. Pria di hadapannya kini tertegun dengan kalimatnya. “Aku sudah ingat semuanya, Kyuhyun-ssi. Aku ingat bahwa seharusnya saat ini aku harus menjaganya.”

 

Kyuhyun membuang pandangannya ke arah lain. Terselip sedikit rasa tak rela di hatinya namun dengan keras ia menepis itu. Ia menepuk pundak Siwon. “Dengar, Siwon-ssi. Jika pun aku tahu dimana Shinri, apa kau pikir aku hanya akan berdiam diri disini, heum? Sudah pasti aku akan menemaninya jika aku bersamanya saat ini.”

 

“Sayangnya aku juga tak tahu dimana Shinri. Ponselnya tidak bisa di hubungi.” Kyuhyun mendesah. Siwon menatap kosong pria itu.

 

— 0 0 0 —

Tubuh Siwon sudah lelah berlari kesana kemari guna mencari keberadaan Shinri yang lenyap bagaikan buih yang pecah. Tak henti-hentinya ia mengumpati diri. Wajahnya kian kusut saat matahari mulai akan tenggelam di gantikan oleh bulan. Tertatih, kini Siwon hanya menuju apartemen Shinri yang senyap. Pria itu menangis ketika melihat apartemen itu kini kosong dengan perabotan yang kini ditutupi helaian kain putih. Siwon melangkahkan kakinya menuju kamar Shinri yang juga kosong. Pria itu duduk di atas ranjangnya dan ketika retina matanya jatuh pada sebuah kotak perhiasan yang ia kenali, air matanya jatuh.

 

Siwon meraihnya. Terpampanglah sepasang cincin di dalamnya. Cincin yang akan ia berikan pada Shinri. Cincin lamarannya pada gadis itu. Cincin yang ingin ia sematkan dijari manisnya namun sayangnya itu mungkin tidak akan terjadi lagi.

 

Tubuh Siwon terguncang. Ia memukul-mukul dadanya sembari menyesali kebodohannya. Kebodohan yang membuat orang terkasihnya kini pergi. “Ri-ah, Maafkan aku. Aku memang bodoh. Kembalilah padaku, sayang. Kumohon kembali dan jangan membuatku ingin mati disini. Jeball.”

 

Selanjutnya, hanya terdengar isak tangis memilukan dari bibirnya. Ini ia dengan sisi terlemahnya. Kerapuhan akan kehilangan orang yang dicintainya membuatnya menumpahkan air matanya dengan bebas.

 

— 0 0 0 —

Enggan rasanya Siwon membuka matanya pagi itu. Ia menatap sekeliling tempatnya yang masih sama seperti kemarin. Ia menghabiskan malamnya di apartemen Shinri tanpa kehadiran si empunya. Siwon bangkit dengan malas dengan wajah yang kusut. Lantas mencuci wajahnya di wastafel dan ia dapat melihat kantung matanya menghitam karena kebanyakan menangis semalaman.

 

Ceklek!

 

Bunyi suara pintu yang tertutup membuat Siwon menghentikan aktivitasnya. Pria itu lantas berpikir apakah ia lupa menutup pintu semalam sehingga kini ada seorang pencuri yang akan memasuki apartemen ini? Memikirkan itu, membuat Siwon cepat-cepat keluar dari dalam kamar Shinri dan betapa tampannya ia tersenyum saat kini melihat seorang yang di rindukannya.

 

“Shinri.”

 

Gadis itu terhenyak memandang Siwon di hadapannya. Shinri menggelengkan kepala dan berusaha bangkit dari fantasinya jika-jika ia berkhayal. Tapi panggilan itu terasa nyata baginya. Shinri kembali menatap Siwon yang berada dalam radius satu meter darinya. Perasaannya membuncah ketika panggilan sayang itu kembali ia dengar dari orang yang ia rindukan.

 

“Ri-ah, Sayang.” Siwon tersenyum di iringi air matanya yang berjatuhan. Betapa leganya ia melihat gadisnya kembali. Tak menyia-nyiakan waktu, Siwon berjalan cepat menghampiri Shinri dan tak sampai lima sekon, ia sudah dapat mendekap tubuh mungil itu. “Shinri, ini benar kau kan?”

 

Air mata Shinri tumpah saat Siwon menatapnya dengan cinta. Dengan perasaannya yang dulu. Shinri dapat melihat jika tatapan kasih Siwon yang dulu sudah kembali padanya. Maka Shinri tak dapat mengelak saat air mata bahagia itu berjatuhan dengan derasnya. “Oppa, kenapa? Kenapa bisa disini?”

 

“Aku menunggumu. Aku hampir ingin mati saat tahu kau pergi meninggalkanku.” jawab Siwon sungguh-sungguh. Matanya menyiratkan kelelahan yang sangat dan Shinri tahu itu. Ia menyentuh wajah Siwon dengan tangannya dan tersenyum haru. “Kau sudah ingat padaku?”

 

“Ne. Maaf aku baru sadar selambat ini. Bukankah aku bodoh? Apa aku terlalu banyak menyakitimu, heum?” Siwon menghapus linangan basah di wajah Shinri dengan lembut. Hatinya yang tadinya gundah sudah tenang saat ia bisa menyentuh gadisnya. Shinri terisak di dadanya mendengar pertanyaan dari pria itu. Ia memukul dada Siwon sebagai lampiasan kesakitannya selama ini. Siwon menegakkan dadanya dan tersenyum menerima pukulan gadis itu tanpa menjauhi tubuhnya.

 

“Terlau banyak kau menyakitiku, oppa. Sangat banyak sampai rasanya aku ingin membunuhmu saat ini. Rasanya sangat sakit. Hiks.” ujar Shinri dan kembali menangis. “Maafkan aku. Pukul aku sampai kau puas tapi jangan membunuhku karena kau akan lebih menangis karena itu, sayang.” balas Siwon dengan kekehan kecil dari bibirnya. Pria itu merintih kecil ketika Shinri mencubit perutnya.

 

Mereka berpelukan. Erat dan hangat. Keduanya sama-sama menitikkan air mata lalu sedetik kemudian mereka berbagi senyuman yang manis. Menyalurkan perasaan rindu yang membuncah di hati. Shinri bersandar pada dada bidang Siwon dengan nyaman. Bagian tubuh favoritnya dari prianya itu. Wangi khas tubuh Siwon yang disukainya membuat hatinya damai. “Oppa, apa sekarang semuanya sudah selesai? Kau sudah kembali padaku ‘kan untuk selamanya?”

 

“Ne. Aku akan bersamamu selamanya, sayang. Selamanya. Tidak akan ada lagi ujian bagi kita.” Siwon mengecup mesra puncak kepala Shinri. Di tatapnya intens hazel mata bulat milik Shinri dengan perasaan bahagia. “Aku merindukanmu, oppa.” lirih Shinri yang membuat senyum manis Siwon terkembang sempurna. Shinri menyentuh tengkuk Siwon dan mencium bibirnya dengan mata terpejam. Siwon membalas dengan senang hati. Ia menekan pinggang Shinri merapat padanya dan membalas lumatan bibir gadisnya. Shinri mengalungkan tangannya pada bahu tegap Siwon dan tersenyum disela ciuman mereka.

 

Siwon menyudahi ciuman manis mereka dan menempelkan dahi mereka sehingga ia dapat melihat wajah Shinri dari jarak yang minim. “Kemana kau seharian kemarin? Apa kau tahu aku seperti orang gila yang mencarimu keliling, huh?” tanya Siwon. Shinri terkekeh mendengar ucapannya. “Aku mengurus kepindahanku ke Jepang.”

 

“Mwo?” Siwon tersentak kaget. Ia segera menjauhkan dirinya dari Shinri. Gadis itu hanya mengangkat bahu tanda acuh. “Kau benar-benar serius akan meninggalkanku?” protes Siwon yang sedikit berteriak karena tak dapat menutupi keterkejutannya. “Lalu apa yang harus aku lakukan jika kau belum mengingatku? Oppa senang melihatku menderita melihatmu bersama Hyein, eoh? Lebih baik aku tinggal dengan haelmoni di Jepang.”

 

“Lalu kenapa kau kembali?” tanya Siwon lagi. “Aku baru ingat jika aku meninggalkan cincin kita di kamar. Aku kembali untuk mengambilnya dan berencana mengembalikannya pada Eommoni lagi.” Siwon terdiam. Kepergian Shinri tentu saja bukan sepenuhnya kemauan hatinya. Pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan cincin lamarannya yang tertunda. Shinri menutup mulutnya melihat itu.

 

“Aku melihat ini di kamarmu dan aku benar-benar merasa hancur Saat tak melihat cincin ini bersama denganmu. Bersyukur ternyata semuanya tak seburuk bayanganku. Terima kasih sudah kembali, sayang.” ujar Siwon tulus. Ia lalu berlutut di hadapan gadisnya. Berdehem pelan sebelum ia mulai membuka kembali mulutnya.

 

“Ini mungkin sudah benar-benar terlambat. Tapi, aku akan tetap melakukan ini di depanmu, bersamamu.” Siwon menatap lekat manik mata Shinri yang mulai berair. “Menikahlah denganku, Ri-ah. Aku tak mau lagi kehilanganmu untuk kedua kalinya. Cukup untuk hari kemarin dimana aku hampir gila mencarimu tanpa arah. Bersama denganku, dan temani aku sepanjang usia Tuhan. Ku mohon, jadilah milikku.”

 

Shinri menutup mulutnya dengan haru. Perasaannya meluap-luap bagaikan air bah. Ia terlalu bahagia hingga di rasanya air matanya tak mau berhenti mengalir. “Ne. Ayo kita bersama hingga akhir. Ayo kita tetap bersama dan saling mengasihi sepanjang usia Tuhan, oppa.” ujar Shinri. Siwon tersenyum begitu lebar sehingga menampilkan kedua lesung pipinya. Ia bangkit lalu menyematkan cincinnya pada Shinri. Ia lalu tersenyum, begitu juga dengan Shinri.

 

“Aku sudah sangat menantikan saat-saat ini. Terima kasih, sayang. Love you. Love you soo much.” Siwon mencium lama jemari dan dahi Shinri bergantian. “Love you more, oppa.” balasnya. Pria itu tersenyum senang dan mendaratkan kembali bibir mereka. Tidak ada penekanan dan nafsu yang mendasari persatuan material lembut itu. Hanya ada perasaan cinta dan kasih yang menyertai bagaimana kedua sejoli itu menumpahkan kebahagian mereka melalui sentuhan. Sentuhan yang lembut berdasarkan cinta.

 

 

— 0 0 0 —

Hari bahagia itu datang juga. Di hadapan pendeta, kedua sejoli itu saling mengikat janji hidup semati yang akan mereka ucapkan pada Tuhan. Dengan di hadiri banyak saksi yang hanya mampu tersenyum bahagia ketika keduanya sukses saling bertukar cincin dan menyelesaikan sumpah sakral mereka. Dan saat pendeta mengizinkan sang mempelai untuk saling memberikan ciuman tanda sah-nya hubungan kudus mereka, tepuk tangan yang riuh langsung menggema di tempat yang di selenggarakan secara outdoor tersebut.

 

Siwon perlahan membuka kain penutup wajah mempelai wanitanya. Wajah cantik Shinri yang merona menyambut indra penghilatannya. Siwon tersenyum, begitu juga Shinri. “You’re like an angel, honey.” wajah Shinri tersipu mendengar ucapan Siwon. Ia memejamkan matanya ketika Siwon menciumnya di dahi, lalu berlanjut pada bibirnya. Pria itu memberikan kecupan ringan yang sarat akan cinta dan lalu melepaskannya. Siwon menunjukkan senyum tampannya pada Shinri dan menggenggam hangat tangan wanitanya itu. Ya, Shinri adalah wanitanya mulai hari ini. Miliknya.

 

Ny Choi menangis haru melihat pancaran kebahagiaan dari wajah putra dan putrinya. Ini hari yang ia tunggu-tunggu sepanjang hidupnya sebagai seorang orangtua. Tn Choi menepuk tangannya dan tersenyum bahagia ke arah sepasang pengantin itu dengan wajah yang tak kalah cerahnya.

 

Kyuhyun duduk di kursi yang lain. Pria tampan itu tersenyum dan menunjukkan ibu jarinya pada Shinri yang sedang menatapnya. Tidak ada rasa sedih ataupun kecewa di hatinya. Yang ada hanya rasa bahagia yang tak mampu terjabarkan. Ia bahagia karena ia bisa melihat orang yang disayanginya berbahagia dengan cara yang benar.

 

 

— 0 0 0 —

Siwon menggandeng Shinri dengan erat setelah mereka menyelesaikan acara utama. Mereka menyapa para tamu yang hadir dan menerima banyak ucapan selamat dan doa-doa tulus yang senantiasa menyertai kehidupan mereka yang baru. Shinri menarik Siwon menghampiri Kyuhyun yang tengah bermain dengan gadgetnya. Pria itu menjabat tangan Shinri dan Siwon bergantian seraya tersenyum tulus memberikan ucapan selamat.

 

“Oppa sendirian? Kenapa tidak mengajak gadis cantik eoh? Padahal aku berharap seperti itu.” Shinri mendesah. Kyuhyun terkekeh geli dengan ekspresi wajah gadis itu. “Aku akan membawa gadisku secepatnya. Setelah itu, kita bisa double date. Bukankah itu seru?” tanggap Kyuhyun dengan asal. Shinri mencibir mendengarnya. Gadis itu menepuk-nepuk asal bahu Kyuhyun yang membuat pria itu tertawa. Siwon lalu menahan tangan Shinri dan berdehem.

 

“Dia bisa terluka karena pukulannu nanti.” ujarnya. Kyuhyun berdecak melihat sikap Siwon. “Bilang saja kau cemburu istrimu menyentuh pria lain, Siwon-ssi.” timpal Kyuhyun yang berhasil membuat Siwon diam tak bisa mengelak. Shinri hanya tersenyum kecil.

 

“Maaf. Aku benar-benar terlambat sepertinya.” ketiga orang itu segera menoleh dan mendapati seorang gadis cantik tinggi berada tak jauh dari sana. Shinri tersenyum melihat gadis itu. “Hyein-ssi.”

 

“Maaf. Aku harus mengejar penerbanganku. Dan entah kenapa Seoul begitu macet hari ini padahal baru juga satu bulan aku meninggalkan Seoul.” Hyein terkekeh kecil menatap sepasang pengantin di depannya. Ia tersenyum manis pada Kyuhyun yang juga ada disana. “Selamat atas pernikahan kalian. Aku turut bahagia.” ujar Hyein tulus. “Kau sangat cantik, nyonya Choi.” lanjutnya.

 

“Gomapta, Hyein-ssi.” balas Shinri tersenyum lebar. Ia menyikut lengan Siwon yang hanya berdiam diri. Siwon menatapnya seolah menanyakan bagaimana Hyein bisa hadir di hari bahagia mereka. “Aku yang mengundangnya, oppa. Dia sangat sibuk dengan bisnisnya di New York tapi Hyein-ssi ternyata bisa meluangkan waktunya untuk hadir.” jelas Shinri.

 

“Ah, Begitu rupanya. Gomawo, Hyein.” ucap Siwon menatap gadis itu dengan senyuman tipis. Hyein membalas senyuman Siwon dengan manis. Tidak ada lagi perasaan kasih yang tertinggal disana dan Hyein hanya bisa memberikan doa dan harapan yang besar pada pasangan di depannya. Lantas Hyein beralih pada Kyuhyun di sampingnya. Pria itu makin terlihat tampan dengan setelan jas formal dan rambutnya yang di tata rapi.

 

“Annyeong, Kyuhyun-ssi. Long time no see.” sapa Hyein dengan senyuman manisnya. Kyuhyun ikut membalas senyuman gadis itu dan tidak munafik jika hatinya sedikit bergemuruh ketika melihat gadis itu tersenyum begitu cantik. Senyuman lembut yang baru pertama kalinya Kyuhyun lihat dari sisi Hyein yang berbeda dari yang ia lihat selama ini.

 

Shinri mengulum senyumnya melihat kedua orang di depannya. Ia lalu buka suara. “Kami akan menemui tamu yang lain. Silahkan kalian nikmati hidangan makanannya. Ah, dan juga sebelum acaranya selesai, aku tidak mengizinkan kalian untuk pulang, arra?” Shinri memperingati kedua tamu spesialnya itu. Kyuhyun dan Hyein kompak menganggukkan kepala. Shinri lalu menarik Siwon meninggalkan kedua sejoli yang tampak sedikit canggung sepeninggalan mereka.

 

Kyuhyun dan Hyein saling bertukar senyum canggung saat mereka di tinggal berdua. “Aku dengar kau pergi ke New York untuk bisnis barumu. Bagaimana disana?” Kyuhyun akhirnya buka suara setelah sekian lama terdiam. Dilihatnya Hyein yang meneguk minumannya dengan tatapan yang sulit di artikan. “Ya. Bisnisku berjalan lancar. Disana juga menyenangkan karena aku bisa sendiri dan mulai perlahan-lahan menata kembali hatiku. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah menemukan gadis yang tepat?”

 

Kyuhyun terkekeh kecil. “Sayangnya belum. Untuk menemukan seseorang yang membuat kita nyaman nyatanya tidak mudah. Suatu hari. Mungkin suatu hari nanti aku akan menemukannya.” Kyuhyun menatap Hyein dengan pandangan lembutnya. Hyein sedikit salah tingkah akan itu. Jantungnya berdebar lebih cepat dari detakan normal. “Oh ya, untuk hal yang terakhir kali aku lakukan padamu, maafkan aku.”

 

“Justru aku yang meminta maaf atas perbuatan kekanak-kanakkanku waktu itu.” lantas keduanya tergelak akan tawa mengingat pertemuan terakhir mereka yang sangat tidak etis. Hyein benar-benar malu akan hal itu. “Bisakah aku menembusnya kelak? Dengan sebuah makan malam yang mewah, tuan Cho?”

 

Kyuhyun berbinar. Bukan karena tawaran dinner mewah seperti yang Hyein tawarkan tapi karena akan ada pertemuan yang lain antara mereka setelah ini. Entah mengapa, Kyuhyun gembira. “Ya. Tentu saja kau harus membayarnya. Bahkan makan malam saja tidak cukup bagiku.” Kyuhyun memberi penekanan agar pertemuan mereka tak putus sampai disitu. ‘Ouch, ada apa denganku? Apa aku menyukainya?’ batin Kyuhyun. Ia menatap lekat Hyein untuk melihat ekspresinya.

 

“Arraseo. Kau bisa menyewaku sebagai partner-mu kapanpun kalau kau mau. Bagaimana? Apa itu belum cukup juga?” Hyein bahkan yakin jika wajahnya kini merona akan ucapan konyol yang ia katakan. Kyuhyun tertawa menatapnya. “Call!”  Kyuhyun menjabat tangan Hyein kemudian sebagai tanda persetujuan. Gadis itu mengulum senyumnya dengan pipi merona.

 

— 0 0 0 —

Semilir udara dingin di penghujung tahun terasa menusuk tulang. Namun Shinri tak berniat menutup jendelanya sama sekali. Ia menatap takjub temaram bola-bola lampu kota Seoul yang terlihat bak hamparan bintang yang berjatuhan. Gadis itu menoleh ketika Siwon memeluknya dari belakang setelah ia selesai membersihkan diri. Siwon menyandarkan dagunya pada bahu Shinri dan ikut menatap objek yang tengah di perhatikan oleh istrinya. “Kau tidak kedinginan dengan piyama tipis ini? Kenapa tidak masuk, heum?”

 

“Aniya. Kan oppa sudah menghangatkanku.” ucap Shinri dengan kekehan kecilnya. Siwon mengecup pipinya dengan gemas. “Sejak kapan kau bisa menggombaliku?” tanya Siwon tersenyum tipis. “Waeyo? Oppa tidak suka jika aku berbicara dengan manis?” Shinri lantas membalikkan tubuhnya hingga kini ia persis menghadap Siwon.

 

“Aku hanya takut jika aku diabetes jika mendengarnya dari bibir istriku ini.” jawab Siwon yang berhasil membuat Shinri tergelak geli. “Baiklah. Aku tidak akan pernah membuat suamiku diabetes.” Siwon mengembangkan senyuman tampannya mendengar kata ‘suamiku’ dari bibir Shinri. Dadanya bergemuruh akan itu.

 

Siwon menganggkat tubuh Shinri di bibir jendela dan tak lupa memeluknya agar wanitanya tidak jatuh. “Apa kau bahagia?” Shinri mengangguk sembari mengalungkan lengannya pada bahu Siwon. “Tidak pernah aku sebahagia ini, oppa. Terima kasih sudah mengingatku.” Shinri mencium dahi Siwon dengan lembut. “Dan terima kasih karena telah menunggu dan kembali padaku.”

 

Siwon lantas memiringkan kepalanya untuk bisa mengecup bibir mungil istrinya. Tak perlu waktu bagi Shinri untuk membalasnya dengan matanya yang terpejam. Siwon melumat habis bibir atas dan bawah Shinri dengan perasaan lepas mengingat jika ia tidak perlu lagi menahan dirinya untuk menyentuh Shinri. Ia Menghisap bibir merah muda itu seolah bibir Shinri adalah permen yang sangat manis. Ketika Shinri sedikit membuka mulutnya guna mencari sedikit oksigen, dengan cepat lidah Siwon mendesak masuk dan mengajak Shinri beradu didalam sana.

 

Shinri mencengkram lengan Siwon saat ciuman manis itu semakin dalam dan membuai dirinya. Ia mengerang karena Siwon melumat lidahnya dengan perlahan. “Eungghh…” Lenguhan pertama Shinri terdengar ketika bibir Siwon menciumi dagu dan merambat pada lehernya, meninggalkan jejak-jejak tanda kepemilikan disana. Siwon tersenyum ketika melihat wajah Shinri yang memerah.

 

Shinri memeluk erat Siwon dan mengacak rambut kecokelatannya karena aksi Siwon yang terus mengeksplor setiap inci leher jenjangnya semakin dalam. Tangan Siwon tidak bisa diam ditempat, jari-jari besar itu mulai bergerilya dengan menyusup kedalam piyama yang Shinri kenakan. Satu tangannya mengelus punggung halusnya, sementara satunya tetap memegang erat tubuh Shinri agar ia tidak jatuh mengingat Shinri yang ia dudukkan di bibir jendela.

 

“I want you.” Bisik Siwon setelah ia melepaskan kontaknya dengan Shinri. Sekalipun mereka sudah sah sebagai pasangan, tetap ia ingin meminta izin dari gadisnya. Ini malam pertama mereka dan Siwon ingin menciptakan kesan yang tak akan mereka lupakan sepanjang usianya.

 

“Do it.”  balas Shinri dengan suara gumamannya. Siwon tersenyum dan mengecup lama keningnya dengan hangat. Ia lalu menganggkat tubuh Shinri dan dengan perlahan membaringkan tubuh istrinya di ranjangnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Siwon kembali membenamkan bibirnya pada  bibir Shinri. Ia sudah tidak sabar untuk berada dalam diri Shinri. Satu hal yang selama ini ia inginkan. Yaitu menjadikan Shinri miliknya. Miliknya seorang.

 

Pandangan Siwon menggelap karena hasratnya benar-benar terpancing hingga ke dasar. Seluruh tubuh Siwon sangat panas karena terbakar gairah besar saat tangan mungil itu mengusap pelan dirinya. Dengan lembut dan hati-hati,  Siwon berhasil melepas ikatan tali piyama Shinri hingga menampilkan pemandangan luar biasa didepan mata Siwon.

 

Tangan Shinri terulur menarik wajah Siwon hingga ia bisa merasakan sentuhan lembut di keningnya, kedua kelopak matanya, hidung mancungnya serta pipi dan terakhir bermuara di bibirnya. Shinri sebenarnya begitu malu ketika Siwon melihat tubuhnya untuk pertama kalinya.

 

Siwon menyentuh tubuh Shinri dengan sentuhan lembutnya. Gadis itu menggeliat gusar tak menentu, tubuhnya menggelinjang  dengan semua sentuhan lembut yang Siwon berikan. Shinri mencengkeram punggung polos Siwon yang kini membenamkan kepalanya pada belahan dada gadis itu.

 

“Aku mencintaimu.” Siwon mengusap lembut keringat yang mengucur dari dahi Shinri. Ia kembali memberikan ciuman lembut pada bibirnya setelah cukup memuja betapa indahnya Shinri dimatanya. “Jika aku menyakitimu, tolong hentikan aku.” ujar Siwon pelan.

 

Mata Shinri terpejam sembari mencengkeram keras punggung Siwon untuk menyampaikan bagaimana rasa sakit itu ia rasakan ketika Siwon menyatukan raga mereka. “Apa aku menyakitimu?” Siwon terlihat panik dengan air mata yang meleleh disudut mata Shinri. Hatinya berdenyut melihat betapa perihnya rasa sakit yang Shinri rasakan. Seperti apa yang gadis itu lakukan pada punggungnya yang berdenyut-denyut karena kukunya yang menggores kulit. Tapi Siwon sama sekali tidak masalah dengan itu. Wanitanya bahkan lebih sakit untuk ini.

 

Shinri hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. Ia menarik wajah Siwon dan mencium bibirnya dengan lembut berusaha menyampaikan jika ia akan baik-baik saja setelah ini. “Terima kasih, sayang.” bisik Siwon di telinganya.

 

Dibawah langit penghujung tahun di Seoul malam itu, dengan udara yang dingin itu adalah kunci saksi bisu bagaimana pasangan manusia ini menikmati malam panjang pertama mereka yang luar biasa dan tidak akan terlupakan. Malam dimana keduanya benar-benar menjadi saling memiliki. Dan sampai maut pun,  Siwon bersumpah tidak akan pernah melepaskan wanitanya.

 

— 0 0 0 —

Cahaya silau matahari membuat tidur Siwon terganggu. Pria itu menggeliat malas dan masih dengan matanya yang terpejam ia tersenyum mengingat malam pertamanya dengan Shinri semalam. Siwon melenguh dan berbalik hendak memeluk Shinri namun saat melihat sampingnya kosong, kesadaran Siwon langsung terkumpul. Ia berusaha mengucek matanya yang masih kabur demi memastikan jika benar-benar Shinri tak ada di ranjangnya. Siwon bangkit dengan tubuhnya yang polos membuat otot-otot perutnya tercetak jelas. Ia mengambil baju kaosnya dan membuka pintu kamar mandi yang sialnya juga kosong.

 

Siwon keluar dari kamarnya dan menuju dapur namun lagi-lagi Shinri tak ada disana. Pria itu mulai gelisah saat ia tak menemukan Shinri di seluruh penjuru apartemennya. Jantungnya berdebar kencang dan ia merasa dunianya hampa ketika tak menemukan Shinri di manapun. Berkali-kali ia memanggil Shinri namun juga tak kunjung baginya mendapat balasan. Siwon terduduk lemas di sofa sambil mengusap wajahnya dengan frustasi. Pria itu menghela nafas sembari mengusap kasar air matanya yang saat itu jatuh.

 

Pintu apartemennya yang terbuka membuat perhatian Siwon cepat-cepat teralihkan. Wanitanya disana. Dengan beberapa kresek yang di jinjingnya, Shinri sedikit bingung saat melihat wajah gelisah Siwon. “Oppa, kau sudah bangun?”

 

Siwon tersenyum lega ketika melihat Shinri. Mengindahkan pertanyaan Shinri, ia segera melangkah menuju gadisnya dan memeluk Shinri dengan erat sehingga membuat bawaannya terjatuh ke lantai. Siwon tak dapat menyembunyikan kegelisahannya dan membuat Shinri menatapnya heran. “Kau kemana huh? Membuatku takut saja.” Siwon menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanitanya. Menghirup wangi tubuh Shinri yang ia sukai.

 

“Aku ke supermarket di depan untuk membeli bahan makanan saat melihat kulkasmu kosong. Oppa kenapa?” Shinri melepaskan pelukan Siwon dan mendapati suaminya menitikkan setitik air mata. Shinri terkejut. “Aku takut kau pergi lagi dariku. Aku takut kau meninggalkanku sendirian lagi.” aku Siwon jujur. Shinri mengusap wajahnya dengan lembut dan mengecup penuh kasih bibirnya.

 

“Aku tidak akan melakukan itu, oppa. Bukankah aku sudah berjanji pada Tuhan bahwa aku akan tetap mencintaimu hingga ujung usiaku, heum?” Shinri mengulum senyumnya. Ia menyeka air mata Siwon dan menatapnya dengan lembut. “Stay by my side, Ok?”

 

“Of course, honey.” balas Shinri penuh keyakinan. Siwon tersenyum cerah. Ia mengecup bibir Shinri dengan penuh minat yang segera dibalas Shinri dengan senang hati. Ciuman manis yang panjang di awal pagi hari kehidupan baru mereka.

 

“Jangan pernah ulangi lagi, eoh. Aku ingin melihat wajahmu sebagai pemandangan pertama saat aku membuka mata.” Siwon menyentil kening Shinri yang di respon kekehan kecil dari wanitanya itu. “Jika aku tidak mau, bagaimana?” Shinri menjulurkan lidahnya dengan pandangan mengejek. Ia bersandar dengan manja di dada bidang suaminya.

 

Siwon tertawa geli melihat sikap Shinri yang sangat menggemaskan baginya. “Kau akan dapat hukuman dariku jika berani melanggarnya.” ucap Siwon seraya memeluk erat tubuh mungil Shinri. “Jinjjayo? Aku ingin tahu hukumannya seperti apa.” ujar Shinri dengan wajah polos yang dibuat-buat. Ia menatap Siwon dengan berbinar-binar. Pria berlesung pipi itu mencubit gemas kedua pipi istrinya.

 

“Aigo, kau mau memancingku, heum?” tanya Siwon yang gemas dengan kelakuan Shinri yang begitu mengundang sisi primitif lelakinya. Shinri hanya mengulum senyum manisnya dengan wajahnya yang merona bak mawar yang tengah mekar. Ia tak menjawab pertanyaan Siwon dan malah memeluk erat tubuh atletis Siwon seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Suaminya.

 

“Love you, oppa.”

 

“Love you more, honey.”

 

 

 

 

—END—

 

Hiks. Rasanya gak rela ff ini tamat. Walaupun cuma dua part, jujur ff ini berkesan banget buat aku. Mungkin karena aku benar-benar nge-feel, terus pokoknya tiap hari terus aja mikirin lanjutan cerita ff ini. Makasih banyak buat author yang sudah posting^^ makasih juga buat readersnim yang udah baca dan komentar di ff perdanaku disini. Jika ada ide dan kesempatan, aku bakal singgah lagi kok.

 

Gamsahamnida, yeorobun !!!

51 thoughts on “Too Much Tears Part 2 END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s