New Time (Sequel of Time) Part 1


newtime1234

 

Author : Mrs. Bi_Bi

Tittle: New Time

Category: NC21, Yadong, Marriage Life, Chapter

Cast : Cho Kyuhyun, Dennis Oh, Oh Joon Ae (OC)

Other Cast:  Cho Joon Hyun Choi Siwon, Cho Ah Ra

 

 

Video Trailer

https://www.youtube.com/watch?v=HAFEE5Vwkv4

 

New Time, Opening Story

***

1 September 2016, Singapura

Bunyi ketukan seirama detik jarum jam terdengar dari salah satu sudut rumah bergaya kastil tua itu.  Sebuah meja makan berbahan kayu langka yang berbentuk memanjang, menampakkan dua sosok pria dewasa yang saling berhadapan pada salah satu sudutnya.  Salah satu dari sosok dewasa itu, berpenampilan formal layaknya seorang yang tengah bekerja atau menghadiri pertemua penting.  Raut wajahnya-pun, nampak begitu serius.  Sementara pria dihadapannya, nampak begitu santai.  Hanya mengenakan atasan longgar tipis tanpa lengan, celana bahan selutut yang dikenakannya menambah kesan santai yang tentu berbanding terbalik dengan tampilan ataupun raut wajah lawan bicaranya.

 

Pria dengan raut serius itu, Choi Siwon.  Sementara pria dihadapannya yang nampak begitu santai, Dennis Oh.

 

“Aku takut meja makan kita akan berlubang jika tanganmu terus menusuknya menggunakan sumpit.”

 

“Jangan bercanda.”  Siwon mendengus.  Sumpit yang sejak tadi diketukkannya, bukan di tusukkannya pada meja seperti ucapan Dennis, ia jadikan pengalih perhatian.

 

Lama, mereka masih saling terdiam hingga ketika Siwon merasa tidak bisa menahannya lagi, kerut pada keningnya bertambah dan ketukan sumpitnya terhenti.  Digantikan oleh pandangan seriusnya lagi pada Dennis.

 

Hyung, serius?  Korea?  Seoul?”  Pria itu memisah satu kalimat utuh mejadi beberapa kata.  “Isabelle punya kenangan buruk disana. Hyung tahu itu, bukan?”

 

“Isabelle sudah menjadi istriku, Siwon-ah.  Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”

 

“Ya.  Aku tahu.”  Siwon mengangguk paham.  Tidak perlu dirinya dijelaskan mengenai status pria dihadapannya ini atas adik satu-satunya itu, dan tidak perlu pula dijelaskan bahwa selama bersama Dennis maka adiknya akan baik-baik saja.  “Tapi tetap saja, tidak bisakah, Isabelle, disini saja?”  siwon kembali menjeda kalimatnya beberapa kali. Nampak begitu ragu.  Mengekang adiknya bukanlah sesuatu yang bisa ia lakukan lagi saat ini.  Adiknya telah bersuami, terlebih—suaminya adalah seorang yang begitu sempurna menurutnya.  Sungkan, adalah hal pertama yang ada dalam kepala Siwon jika menolak keinginan dari pria bermarga sama dengan eomma-nya itu.  Tapi setuju, jelas tidak mungkin.

 

“Kau tidak percaya bahwa aku bisa menjaga istriku sendiri?”

 

“Bukan begitu.”  Siwon membantah cepat.  “Aku hanya khawatir, hyung.

 

“Tidak akan terjadi sesuatu hal buruk.  Percayalah padaku.”

 

“Aku percaya padamu.”  Siwon menjawab penuh keyakinan.  Sekali lihat atau dengar-pun tentang bagaimana Siwon menatap dan berucap pada Dennis, sangat mudah untuk diketahui bahwa pria ber-marga Choi itu tidak memiliki keraguan sedikitpun pada suami adiknya.  “Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi satu menit dari sekarang.”  Sambungnya.  “Begini saja—”.  Siwon mencondongkan tubuhnya, menatap Dennis mantap untuk sebuah tawaran.  “Aku bisa meminta atasanmu untuk tidak memindahkanmu kesana.  Aku mengenal direktur rumah sakit tempatmu bekerja.  Aku akan memintanya untuk tidak menugaskanmu di Korea.  Atau jika tidak, aku bisa mendirikan sebuah rumah sakit disini untukmu.  Atau kau ingin langsung menangani rumah sakit besar?  Aku bisa menurunkan direktur rumah sakitmu atau rumah sakit lain dan menjadikanmu pemimpinnya saat ini juga.”

 

“Ayolah… Choi Siwon.”  Dennis menyandarkan tubuhnya santai, pun… dengan pandangan yang masih tertuju pada Siwon.  “Ini hanya 2 tahun, tidak akan ada hal buruk apapun yang terjadi pada Isabelle selama waktu itu.”

 

Siwon membuang muka dari Dennis.  Sepasang sumpit yang sejak tadi dipegangnya mulai ia letakkan perlahan hingga tidak ada bunyi apapun lagi diantara mereka, kecuali bunyi yang muncul sesekali dari arah dapur.

 

Menghembuskan nafas panjang, Siwon kembali menatap Dennis.  Kedua tangannya saling berpautan di atas meja.  “Sekalipun aku menolak, hyung akan tetap pergi, bukan?  Karena hyung adalah suami adikku, maka hidupnya bukan padaku lagi.  Aku berterimakasih padamu karena memberitahuku, dan bahkan meminta ijin dariku meski tanpa itu hyung bisa membawanya kemanapun yang hyung mau.  Tapi jika hyung benar-benar membutuhkan ijin dariku, maaf, aku tidak bisa.  Aku tidak bisa memberi hyung ijin untuk membawa Isabelle kesana.  Tapi seperti kataku sebelumnya, karena hyung adalah suaminya, hyung tahu bahwa ijinku adalah tidak penting.”

 

“Bukan begitu maksudku.”

 

“Lalu?”

 

“Aku tahu bagaimana peran dan arti Isabelle untukmu.  Meskipun aku bisa membawanya tanpa ijinmu, aku akan tetap meminta ijinmu dan akan pergi jika sudah mendapatkannya.”

 

“Jawabanku adalah tidak.”

 

“Maka aku akan membujukmu untuk berkata iya.”

 

“Caranya?”  Siwon mengernyit, melempar pandangan enggan untuk pertama kalinya pada pria yang ia kagumi itu.

 

“Caranya adalah aku berjanji padamu bahwa semuanya akan baik-baik saja seperti hari ini dan apa yang kau takutkan tidak akan pernah terjadi.”

 

“Bagaimana aku bisa tahu?”

 

“Bahkan jika kita ditakdirkan mati saat ini, kita akan langsung mati saat ini.  Ketakutanmu akan menjadi kenyataan jika memang itu sudah ditakdirkan.  Bahkan, jika takdirnya adalah saat ini meskipun kita berada dalam rumah maka hal itu akan terjadi bagaimanapun caranya.  Seperti katamu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi satu menit kedepan.”

 

Hyung—.”

 

“Menghindar tidak akan membuat semuanya nyaman, Siwon-ah.”

 

“Tapi—.”

 

“Apa yang sebenarnya kau takutkan?”  Tanya Dennis.  Duduk dengan tegak, pria itu mulai mengimbangi segala keseriusan Siwon yang biasanya hanya ia tampakkan ketika berada dalam ruang operasi.  “Berapa kalipun aku berpikir tentang ini, aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau sampai sebegitu enggannya untuk kembali ke Korea.  Kau bahkan memilih untuk memperingati hari kematian eomma-mu disini, bukan disana.  Apa yang sangat kau khawatirkan, Siwon-ah?”

 

“Mantan suami Isabelle.”

 

Dennis menghela panjang, nampak begitu jengah dengan jawaban yang Siwon berikan.  Rengutan disekitar alisnya yang tadi muncul, mulai pudar dan tenang yang selalu melekat padanya, kembali.

 

“Aku takut dia mengganggu Isabelle lagi.”

 

“Ini sudah 6 tahun.  Tidak mungkin pria itu masih menginginkan Isabelle.  Jikapun dia masih mencintai dan menginginkan Isabelle, dia tidak akan setenang 6 tahun ini.”

 

“Kau tidak mengerti, hyung.”  Siwon menggumam pelan.  Sorot tajamnya pada Dennis melemah dan kedua tangannya saling terkepal di atas meja.  “Dia gila.  Pria itu, gila.”

 

“Aku tahu dia gila.”  Anggukan kepala Dennis nampak beberapa kali.  “Jika dia waras, dia tidak mungkin mencelakai anak dan wanita yang dia katakan bahwa dia mencintainya.”

 

“Ya.”  Siwon menggigit bibir bawahnya.  Pandangannya yang kosong, nampak menyedihkan.  “Karena dia tidak pernah mencintai adikku, mungkin karena itu dia melakukannya.”

 

Dennis merengut, tapi toh—pria itu diam saja.  Tidak bertanya lebih lanjut tentang ucapan Siwon.

 

“Ingatan Isabelle, tidak akan pernah kembali, bukan?”  Siwon bertanya lebih lanjut.  Area dapur yang hanya dibatasi oleh sebuah pembatas berbahan kayu dengan ukiran klasik dan beberapa diantaranya membuat kayu tersebut berlubang, menampakkan sosok Isabelle disana yang tengah menyiapkan masakan untuk makan malam mereka seperti biasa.

 

Mengikuti arah pandang Siwon pada area dapur dimana ada istrinya disana, Dennis tersenyum tipis.  “Apa yang kau takutkan dari kembalinya ingatan Isabelle?”

 

“Dia pernah meninggalkanku untuk pria itu.  Aku takut jika mereka bertemu, dan Isabelle kembali mencintainya, atau bahkan mengingat semuanya, mereka akan kembali bersama.”

 

Dennis terdiam, menatap sosok istrinya dalam dengan ucapan Siwon yang mulai mengusiknya.  “Isabelle meninggalkanmu karena pria itu?”

 

“Ya.  Dia, sangat mencintai pria itu.  Andai pria itu melihat Isabelle sebagaimana Isabelle melihatnya, aku akan senang.  Tapi jangankan melihat, memikirkannya saja tidak.”

 

“Tapi akhirnya mereka menikah, bukan?  Mana ada seseorang yang menikah jika tidak mencintai?”

 

“Karena kecelakaan, dan untuk melindungi dirinya sendiri.”

 

“Kecelakaan?  Kecelakaan apa?”

 

Siwon kembali menoleh pada Dennis dan menggeleng.  “Membicarakannya membuatku ingin muntah.  Jadi, bisakah hyung pastikan saja bahwa ingatan Isabelle tidak akan kembali?”

 

“Aku hanya berani jamin bahwa tidak akan ada hal buruk yang menimpa Isabelle lagi.  Dia adalah istriku sekarang, tidak akan aku biarkan siapapun menyakitinya atau merusak kehidupannya saat ini.  Percayalah padaku, bukankah aku tidak pernah membohongimu?  Saat aku berkata bahwa Isabelle pasti sembuh dia sembuh, saat aku berkata bahwa Isabelle akan kembali menjadi adikmu yang dulu, dia benar-benar kembali seperti yang kau inginkan.  Percayalah padaku sekali lagi, percayalah padaku seperti yang kau lakukan selama ini.  Aku bertanggung jawab untuk semua ucapanku, Siwon-ah.”

 

Memejamkan matanya perlahan dengan tarikan nafas teratur yang bisa Dennis dengar, Siwon nampak benar-benar tengah berpikir.  “Baik.”  Ucapnya dengan pandangan sayu dan khawatir yang kembali tampak.  “Aku percaya padamu, hyung.  Bawalah Isabelle, aku percaya padamu.”

 

Good choice.”  Dennis meyunggingkan senyum leganya dengan tangan menepuk pundak menurun Siwon beberapa kali seolah ingin agar Siwon tidak terlalu berpikir aneh-aneh tentang hal ini.

 

 

***

Seoul, Korea Selatan

Segera keluar begitu mobil yang membawanya memasuki pelataran rumah keluarga Cho baru saja berhenti, Kyuhyun yang bahkan tidak peduli tentang lelah ditubuhnya langsung lari dan sambutan Ah Ra lengkap dengan pandangan datar juga gelengan kepala pelannya, adalah apa yang Kyuhyun terima dan itu bukanlah apa yang ia bayangkan ataupun inginkan.

 

“Kemana saja?”  Tanya Ah Ra begitu datar bagai ia tidak terlalu tertarik untuk menanyakannya.  Melirik jam dinding besar yang terpasang di salah satu sudut ruang utama keluarga Cho, Kyuhyun yang mengikuti arah pandang kakaknya membuang nafas lelah dengan kedua pundaknya yang turun.

 

“Joon Hyun sudah tidur?”  Tanyanya mendekat dengan langkah perlahan dan kepala tertunduk.  Sebelah tangannya yang kosong, mulai Kyuhyun gerakkan untuk memijat salah satu pundaknya yang terasa pegal.

 

“Kau pikir bocah 6 tahun macam apa yang belum tidur saat hampir tengah malam begini?”  Sindir Ah Ra tidak peduli pada bagaimana usaha adiknya untuk bisa segera pulang dan memenuhi janjinya.

 

“Dia menungguku?”

 

“Seharian.”  Timpal Ah Ra cepat masih dengan raut kesalnya hingga Kyuhyun makin merasa bersalah.

 

Membanting tubuhnya pada sofa ruang utama kediamannya, Kyuhyun mengistirahatkan tubuhnya.  Menutup matanya yang memang ingin tertutup sejak siang tadi, Kyuhyun mulai beralih memijit keningnya.

 

“Lain kali, jika tidak bisa menepati janji tidak usah berjanji.  Kau bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun.”  Ah Ra mulai mengomel dan ikut duduk disebelah adiknya yang masih bertahan sebagaimana posisinya tadi.

 

“Aku sudah berusaha untuk pulang cepat.”

 

“Ya, aku sudah melihatnya.”

 

“Bisakah noona tidak menambah bebanku?”  Kesal Kyuhyun.  Melirik Ah Ra disampingnya, kesal pada wajah noona-nya itu bahkan sudah tidak lagi nampak, hilang entah kemana dengan begitu cepatnya.  Tapi sebagai gantinya, pandangan sedih dan iba yang tidak Kyuhyun suka, kembali muncul.  “Apa?  Kenapa melihatku seperti itu?”

 

“Kau lelah, bukan?”

 

“Apa sih?!”  Kaget Kyuhyun hingga hampir berteriak saat Ah Ra memijat pundaknya.  “Noona aneh.  Ada apa?”  Lanjutnya menolak mentah-mentah niat Ah Ra untuk memijatnya.  “Katakan saja apa yang ingin noona katakan.”

 

“Kau sudah memikirkan ucapanku seminggu lalu?  Sebelum kau menuju Hong Kong, tentang—.”

 

“Stop.  Aku tidak mau mendengarnya.”  Potong Kyuhyun.  Berdiri dan menghindar secepat yang dirinya mampu, Kyuhyun menarik nafas dalam sebelum membuka kembali mulutnya.  “Aku tidak akan menikah lagi.”

 

“Ini sudah 6 tahun, Kyu.”

 

“Lalu kenapa jika ini sudah 6 tahun?”

 

“Jika kau berpikir tidak butuh istri dan bisa mengurus dirimu sendiri, maka baiklah aku tidak akan mengungkit tentang itu lagi.  Tapi setidaknya pikirkan anakmu.  Dia butuh seorang eomma.”  Jelas Ah Ra sembari berdiri dan Kyuhyun sudah memutar matanya malas dengan nama Joon Hyun yang mulai dibawa-bawa dalam pembicaraan macam ini.

 

“Joon Hyun baik-baik saja.  Tidak ada hal salah pada anakku.”

 

“Baiklah hingga saat ini memang tidak ada hal salah pada Joon Hyun.  Tapi coba bayangkan jika kau bepergian seperti yang selama ini terjadi, dan bagaimana seminggu menjelang ulang tahun anakmu kau tidak bisa dihubungi sama sekali, atau… bagaimana  jika terjadi hal buruk?  Bayangkan jika eomma sakit dan tidak bisa menjaganya seperti sekarang.  Bayangkan jika aku tidak ada, lalu siapa yang akan menjaga anakmu?  Siapa yang akan menemani anakmu?  Siapa yang akan bersamanya?  Coba pikirkan itu.”

 

Noona….”

 

“Kau sering bepergian dan Joon Hyun sendirian di rumah.  Bahkan meskipun kau tidak bepergian ke luar negeri untuk pekerjaan, seharian kau berada di kantor.  Setidaknya, jika kau memiliki istri maka akan ada yang menjaga Joon Hyun tanpa kau perlu kebingungan tentang siapa yang akan menjaganya.  Akan ada yang menemani Joon Hyun dan merawatnya.  Akan lebih baik lagi jika setelah menikah kau memiliki seorang anak, Joon Hyun akan memiliki teman.”

 

“Ah Ra noona.”  Kyuhyun memanggil wanita dihadapannya lebih pelan dengan kedua tangan yang ia letakkan pada pundak Ah Ra hingga segala ucapannya tentang hal macam tadi terhenti.  “Aku dan Joon Hyun baik-baik saja, percayalah.”

 

“Dewasalah!”  Sungut Ah Ra hingga melepas paksa tangan adiknya yang berada dikedua pundaknya.  “Kau dan Joon Hyun tidak baik-baik saja.  Kalian butuh wanita dalam hubungan kalian.  Kau butuh istri, dan Joon Hyun butuh eomma.  Lebih dari itu, anakmu juga butuh teman yang membuatnya tidak kesepian seperti sekarang.”

 

“Joon Hyun memilikiku sebagai appa-nya.  Kau sebagai pengganti Joon Ae yang bisa menyayanginya layaknya eomma menyayangi anaknya.  Juga Rae Mi putrimu yang menjadi temannya.  Bahkan ada appa dan eomma yang menemaninya selama aku pergi.  Lalu apa lagi?  Dia sama sekali tidak kesepian.”

 

“Lupakan Joon Ae dan mulailah kehidupan barumu dengan wanita lain.  Lupakan dia, dan bangun hubungan dengan wanita lain yang membuatmu menjadi seorang pria sempurna.”

 

“Tidak akan pernah ada yang menggantikan posisi Joon Ae, noona.  Istriku hanya Joon Ae.  Eomma Joon Hyun hanya Joon Ae.  Selain itu tidak ada dan aku tidak akan pernah menghianatinya lagi.”

 

“Bukan menghianati namanya jika istrimu sudah meninggal.”

 

Noona kumohon.”

 

“Dia sudah meninggal Kyu!  Sadarlah!”  Ah Ra menekan—geram.  Menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya berharap bahwa pandangan lurus yang kini tengah terjadi diantara mereka bisa membuat adiknya itu sadar dan paham juga menuruti perkataannya yang juga merupakan keinginan dari kedua orang tuanya, semburat merah pada kedua mata Ah Ra hingga Kyuhyun bisa berkaca disana—sedikit banyak mengejutkannya.  “Wanita yang sedang kau bicarakan itu sudah meninggal dan tidak seharusnya kau menjalani hidupmu bagai dia masih hidup hingga kau selalu membawa namanya atau tampak seperti suami yang tengah menunggu kepulangan istrinya.  Pikirkan anakmu.  Pikirkan Joon Hyun dan tanya padanya, apakah dia tidak iri pada teman-temannya yang memiliki eomma?  Apakah dia tidak iri saat teman-temannya menceritakan tentang eomma-nya?  Apakah dia tidak iri ketika teman-temannya membawa bekal buatan eomma-nya?  Tidakkah kau ingin membuat Joon Hyun merasakan hal yang dirasakan oleh teman-temannya?”

 

“Tidak.”  Geleng Kyuhyun.  “Joon Hyun tidak perlu iri, kenapa harus iri?  Dia punya semua yang dia inginkan.”

 

Eomma.  Dia tidak punya eomma.”

 

“Dia punya Joon Ae.”

 

“Tidak.  Dia tidak punya.”

 

“Hentikan noona.  Cukup.  Aku sangat lelah.”

 

“Kau pikir kami tidak lelah?”

 

“Maka hentikan semua omong kosong ini!  Aku tidak akan pernah menikah lagi!”

 

“Apa kau sangat mencintainya?  Atau ini hanya bentuk rasa bersalahmu karena apa yang kau lakukan sebelum dia meninggal?”

 

“Hentikan kubilang!”  Geram Kyuhyun mulai kehilangan sabarnya.  Memundurkan langkahnya bersama pandangan menusuknya pada Ah Ra, Kyuhyun menggeleng.  “Jangan minta aku melakukan sesuatu yang membuatku begitu buruk seperti dulu.”

 

Arasseo…”  Ah Ra mengangguk kesal seolah rasa kasihannya tadi telap lenyap.  “Anggap aku tidak pernah mengucapkan hal macam tadi.  Anggap Joon Ae masih hidup hingga kau tidak perlu menikah dengan siapapun lagi.  Anggap juga Joon Hyun memiliki kehidupan sempurna dengan appa juga eomma yang ia miliki padahal kenyataannya tidak!”

 

“Kenapa kau jadi bicara begitu?”

 

“Kenapa?  Bukankah hal macam itu yang memenuhi kepalamu hingga tidak melihat bagaimana anakmu memandang setiap eomma temannya dengan raut sedih bahkan kadang menangis?  Bukankah hal macam itu juga yang selalu kau pikirkan hingga tidak peduli bagaimana kesepian dan inginnya anakmu memiliki eomma seperti temannya, kau tetap bertahan dengan bayangan Joon Ae yang kau buat nyata.”

 

Noona!”

 

“Apa?  Apa lagi memanggilku?  Hidup saja sana dengan bayangan Joon Ae.  Lagipula kau pikir, jika Joon Ae masih hidup maka dia akan mau kembali padamu?  Setelah semua yang kau lakukan kau pikir dia mau kembali?  Setelah apa yang kau lakukan pada anak kalian, juga apa yang kau lakukan padanya, kau pikir dia akan mau untuk kembali?!  Kau hampir membunuhnya, gila jika dia mau kembali!”

 

“Mem—bun—nuh?  A—aku apa?  Aku hampir membunuh Joon Ae?  Apa yang sedang noona katakan?  Kapan aku lakukan itu?”

 

“Membunuhnya dengan penghianatanmu.”  Ucapnya cepat dan segera saja ia berjalan memasuki salah satu kamar rumah itu.  Keluar beberapa menit setelahnya dengan seorang gadis kecil yang tertidur dalam gendongannya—Ah Ra menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada Kyuhyun.  “Joon Hyun berniat membuat kue ulang tahunnya bersamamu seperti biasa.  Tapi karena kau tidak juga datang dan bahkan tidak bisa dihubungi, aku dan Rae Mi juga abeoji yang membantunya membuat kue ulang tahunnya hari ini.  Mungkin kau ingin memperbaiki atau sedikit menggoreskan hasil tanganmu untuk meminta maaf atas hari ini, aku letakkan di kulkas kuenya.”  Kata Ah Ra cepat dan segera pergi dari jangkauan Kyuhyun, tidak ingin lagi berbincang dengan adiknya dalam keadaan emosi seperti tadi.

 

Sementara Kyuhyun, pria yang masih mematung bagai terkejut atas kalimat-kalimat terakhir noona-nya, mulai melirik celah pintu kamar Joon Hyun yang tidak Ah Ra tutup rapat.

 

Berjalan sepelan tadi ketika mendapat sambutan kakaknya, Kyuhyun memasuki kamar putranya dan baru berhenti saat ujung sepatunya menyentuh kaki ranjang Joon Hyun.  Memperhatikan leka-lekat putranya yang tidur dengan boneka dalam pelukannya, Kyuhyun hanya bisa membuang nafas penuh sesal.  Sesal atas apa yang terjadi pada hari ini, pada masa lalu, atau bahkan pada masa depan.

 

“Selamat ulang tahun, Cho Joon Hyun.”  Bisik Kyuhyun pelan tidak ingin mengganggu tidur putranya.  Menarik selimut yang sedikit turun hingga kini menutupi seluruh tubuh putranya, Kyuhyun mengusap pelan rambut anaknya dan baru setelah itu ia keluar dari kamar yang seminggu ini tidak dimasukinya.

 

 

***

9 September 2016

“Akhirnya kita sampai.”  Lega Joon Ae saat mobil yang menjemputnya berbelok pada satu halaman rumah yang baru saja sopir hadapannya katakan bahwa rumah itu adalah rumah yang akan ia tinggali bersama Dennis selama berada di Korea.  “Aku sangat lelah dan ingin tidur, Den.”  Lanjutnya memejamkan mata sembari mengeratkan rangkulan tangannya pada pria yang sejak tadi sibuk dengan lembar kertas berwarna putih ditangannya.  Merebahkan kepalanya pada pundak lebar yang begitu hangat seperti milik Siwon, Joon Ae tersenyum.  “Dan sangat merindukan Siwon oppa.”

 

“Kalian baru berpisah selama beberapa jam dan kau sudah merindukannya?”

 

Tersenyum dengan ucapannya sendiri dan tanggapan Dennis, Joon Ae meluruskan kembali tubuhnya.  “Kenapa?  Kau cemburu pada kakak iparmu sendiri, Dokter Oh?”

 

“Jika iya, bagaimana?”  Tanya balik Dennis sembari meletakkan tumpukan kertas yang sejak tadi ada dalam genggamannya pada pangkuannya.  Sedikit mengubah posisi duduknya hingga berhadapan dengan Joon Ae, mobil yang baru saja berhenti juga sopir yang hampir membalik tubuhnya untuk memberitahukan tentang sudah sampainya mereka agar kemudian turun dan bisa beristirahat seperti yang Joon Ae katakan tadi—didahului oleh Dennis.  “Kami akan berada disini untuk beberapa saat.  Kau boleh pergi.”

 

Joon Ae tersenyum penuh arti pada suaminya yang juga mulai tersenyum tipis.  Sopir didepan mereka yang segera mengangguk dan keluar tanpa bantahan atas ucapan Dennis sebelumnya, membuat Joon Ae makin menarik ujung bibirnya bersama tangan yang mulai memainkan ujung rambut panjangnya.

 

“Jadi, Dokter Oh?  Apa yang akan lakukan dengan cemburumu pada iparmu sendiri itu?”

 

“Kau bertanya untuk jawaban, atau untuk hal lain?”  Tanya Dennis sambil menarik mudah tubuh Joon Ae hingga berada dalam pangkuannya, melupakan berkas penting yang sudah menjadi alas duduk Joon Ae.

 

“Jika jawaban?”  Joon Ae mengalungkan kedua tangannya pada leher Dennis, menatap lekat-lekat suaminya dengan kecupan singkat yang mulai ia berikan pada sekitar wajah suaminya.  “Apa jawabanmu?”

 

“Aku sama sekali tidak cemburu.  Kau tahu kenapa?”

 

Dan Joon Ae menggeleng—tentu saja.  Hanya suaminya yang tahu kenapa ia sama sekali tidak cemburu pada Siwon setelah ucapan dan sikapnya tadi.  “Karena Siwon tidak bisa melakukan ini padamu.”  Dennis berbisik tepat ditelinga Joon Ae kala wanita itu sibuk menyesap lehernya.  Kedua tangannya yang memang berada pada pantat Joon Ae, meremasnya kuat hingga wanita itu memekik dan sesapannya terhenti.

 

“Oh.  Kau?”

 

“Kita belum pernah melakukannya di mobil, bukan?  Ingin mencoba?”  Dennis menggoda.

 

“Kupikir kita akan berciuman disini dan kemudian kau menggendongku masuk ke dalam rumah ala-ala malam pertama di film ataupun drama TV.”

 

Dennis tergelak.  “Aku tidak tahu bahwa kau se-drama itu dan ingin kehidupan se-drama itu.”  Dennis menggunakan kedua telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan untuk membuat kutipan tiap kali menyebut kalimat se-drama itu.  “Tapi mungkin kita bisa melakukan drama yang kau inginkan setelah kita mencobanya disini.  Kau tertarik?”

 

Sebelah alis Joon Ae terangkat dengan senyum tipis bagai mengejek yang mulai membuat tangan Dennis gatal.  “Wajahmu menggodaku, Nyonya.”

 

Pria itu menarik tengkuk istrinya sesaat setelah memberikan senyum terbaiknya.  Selalu mengawali sesuatu hal perlahan, toh pada akhirnya sesapan lembut dan perlahan diantara mereka berubah menjadi suatu kerakusan.  Saling meraup bibir lawannya satu sama lain, menghisap bibir bagian atas dan bagian bawah bergantian, decapan khas mulai terdengar memenuhi mobil berwarna hitam pekat itu dengan dua orang didalamnya yang makin intim.

 

“Enghh…..”  Joon Ae melenguh saat tangan Dennis kembali meremas pantatnya bagai gemas.

 

Sedikit merengut hingga garis pada keningnya nampak, wanita itu makin menekan kepala Dennis untuk memperdalam ciuman diantara mereka yang sempat terjeda sebab lenguhannya.  Saling memainkan lidah, tangan Dennis yang tadi hanya sekedar meremas pantat istrinya—mulai bergerak memasuki pusat tubuh istrinya melalui celah dress longgar  yang Joon Ae kenakan dengan mudahnya.

 

“Oh….”  Joon Ae tersentak seketika itu juga dengan kedua mata yang membulat sempurna.  Pagutannya bersama Dennis terhenti sebab kepalanya yang terkulai pada bahu Dennis sementara kedua tangannya meremas kemeja biru yang suaminya kenakan kuat.  “Den, oo—oooh…”

 

Wanita itu merintih nikmat dengan kedua mata terpejam.

 

“Turunlah.”  Dennis menurunkan tubuh Joon Ae dari pangkuannya.  Masih belum mengerti dengan apa yang suaminya maksudkan, wanita itu menurut-menurut saja ketika Dennis mendudukkannya pada tempatnya semula.

 

“Apa yang, —oh….”

 

Joon Ae kembali memekik dengan tangan meremas rambutnya sendiri ketika pertanyaannya tentang apa yang akan Dennis lakukan belum benar-benar terucap sementara pria itu sudah menurunkan cd-nya dan membuka kedua kakinya lebar-lebar yang kemudian mencicipi pusat tubuhnya dengan lihainya.

 

Joon Ae hanya bisa merintih nikmat tanpa melakukan apapun.  Keningnya berkerut dengan mata terpejam sebab Dennis yang tidak henti-hentinya membuat ia merasa kenikmatan atas perlakuannya dibawah sana.  Beberapa kali, wanita itu menggelinjang bagai hilang kontrol atas dirinya, matanya yang terbuka dan tertutup bersama desah nafas-nya… harusnya menjadi tontonan yang menarik untuk Dennis.

 

“Hei, hei Den….  Den…..”  Panggilnya serak berusaha menggapai kepala suaminya.  “Sudah…”  Katanya menarik Dennis untuk kembali duduk seperti semula, begitupun ia yang beringsut duduk dengan nafas tersengal.

 

Sudah, tentu bukan usai maksud Joon Ae.  Melepas sabuk yang mengikat celana suaminya, wanita itu menurunkan retsleting celana berikut celana dalam suaminya hingga apa yang hanya boleh ia seorang lihat dan miliki, tampak menyembul keluar.

 

“Aku juga ingin melakukannya.”  Katanya dan mulai menundukkan dirinya diantara pangkal paha Dennis.  Ganti, kini pria itu yang melenguh nikmat saat Joon Ae mulai memperlakukan miliknya sebagaimana ia yang memperlakukan milik Joon Ae tadi.

 

“Kita lakukan saja.”  Dennis berucap tidak sabar.  Kembali membawa Joon Ae dalam pangkuannya, dress berwarna pink yang Joon Ae kenakan bahkan sudah tidak nampak lagi keindahannya.

 

Memposisikan dirinya diantara milik Dennis, kedua tangannya berada pada pundak Dennis, dan salah satu tangan Dennis memegang pinggangnya sementara tangan Dennis yang lain memposisikan miliknya agar menyatu pada milik Joon Ae.  Perlahan…. sembari berpandangan dalam Joon Ae mulai menurunkan tubuhnya dan desah nafas keduanya terdengar bersamaan.

 

Masih mengatur nafas tersengal, keduanya tidak mengalihkan pandangannya dari satu sama lain.  Mendekatkan kembali wajahnya dengan pagutan bibir serakah yang kembali tampak, Dennis mulai menggerakkan tubuh bagian bawahnya.

 

“Enghhh—.”

 

“Ah—Ah….”

 

“Den!  Oh!”  Joon Ae tidak tahan untuk tidak sekedar melenguh.  Pautan bibirnya dan Dennis sekali lagi terlepas dengan ia yang mengikuti ritme gerakan suaminya sementara kedua tangannya makin mengalung erat pada leher suaminya.

 

Suhu di dalam mobil nampak panas dengan suara mereka berdua yang seolah beradu.  Masih melenguh tanpa jeda, Joon Ae yang berada dalam pangkuannya kembali Dennis dudukkan pada kursi mobil dengan posisi miring, membuka sekali lagi kedua paha istrinya dengan salah satunya kakinya yang ia pegang, pria itu kembali memasukkan miliknya dan pekikan Joon Ae kembali terdengar dalam indra pendengaranya.

 

“Aku mencintaimu.”  Seru Dennis diantara nafas tersengalnya.  Mengusap keringat pada kening istrinya menggunakan sebelah tangan bebasnya, pria itu tersenyum dengan wajahnya yang mulai memerah.

 

“Aku tahu.”  Joon Ae menjawab.  Menarik kerah baju Dennis, bibir merah pria itu adalah apa yang diinginkannya bersama gerakan-gerakan cepat Dennis atas miliknya  yang berada pada milik Joon Ae.

 

Meremas gundukan pada dada istrinya seolah tidak ingin satu hal apapun terlewat, desahan Joon Ae yang membuat pagutan mereka telepas menjadikan leher jenjang wanita itu sebagai tempat lain bibir Dennis.

 

“Kupikir aku akan gila.”  Ucap Joon Ae meremas lengan suaminya erat hingga koyakan itu bagai akan tersobek.

 

Makin menggerakkan pinggulnya cepat, baik lenguhannya dan Joon Ae-pun semakin kencang hingga jika ada orang yang berada di sekitar mobil pasti akan mendengarnya.

 

“Oh—Oh….”

 

Dennis menghentakkan keras pinggulnya setelah tempo cepat yang ia lakukan beberapa waktu sebelumnya dan membawanya pada akhir kenikmatan, sementara Joon Ae makin melenguh kencang dengan remasan tangan makin kuat pada lengan suaminya.

 

Mendiamkan miliknya selama beberapa saat pada milik Joon Ae bagai memastikan bahwa benih yang berusaha ia tanamkan pada rahim Joon Ae benar-benar akan menghadirkan seorang bayi mungil, pria itu menusukkan miliknya lebih dalam lagi dan memastikan bahwa tidak ada satupun yang terbuang sia-sia.

 

“Memastikan tidak ada yang terlewat, huh?”  Senyum Joon Ae nampak bersama deru nafas tersengalnya sementara tubuhnya dan Dennis masih menyatu.

 

Oppa-mu, ingin seorang keponakan katanya.  Dan orang tuaku, juga menginginkan seorang cucu.  Lagipula, tubuhmu sudah baik-baik saja.  Kecuali jika kau keberatan, aku tidak masalah menunggu lebih lama.”

 

Joon Ae terkekeh.  Menyisir lembut rambut pendek suaminya yang basah karena keringat, wanita itu mengeratkan pelukannya seolah bagaimana menyatunya tubuh mereka masih kurang dekat.  “Ya, kita memang perlu menghadirkan seorang bayi untuk menghentikan pertanyaan-pertanyaan mereka yang seperti mencekikku.”

 

Dennis memundurkan tubuhnya, dan melepaskan miliknya perlahan.  Kembali duduk bersisihan dengan pandangan yang tidak teralihkan, pakaian terkoyak Joon Ae, Dennis betulkan.  Kancing kecil pada bagian dada istrinya yang sempat terbuka, ia pasangkan.  Begitupun Joon Ae yang membetulkan celana suaminya.

 

Oppa tidak ingin aku kembali kemari.  Apa yang sudah kau katakan?”

 

“Aku berjanji padanya bahwa tidak akan ada hal buruk apapun yang terjadi padamu.”

 

“Pasti oppa trauma dengan kecelakaan saat itu.”

 

“Isabelle,”  Panggil Dennis.

 

“Ya?”

 

“Masa lalumu, apakah ada yang kau ingat?”

 

Joon Ae menarik nafas dalam dan menggeleng.  “Aku tidak mengingat apapun.  Satu hal-pun, aku tidak ingat.  Kenapa memangnya?”

 

“Itu yang Siwon khawatirkan tentangmu.  Kenapa Siwon tidak ingin kau kemari, adalah karena masa lalumu.”

 

“Memangnya ada apa dengan masa laluku?  Apa aku melakukan dosa besar pada oppa?  Apa aku melakukan hal buruk?  Apakah kecelakaan itu adalah alasan lain dari oppa yang tidak ingin aku kemari?”

 

“Ya.”  Dennis mengangguk.  “Kecelakaan itu, meski ada hubungannya tapi ada alasan lain.”  Joon Ae yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali bagai paham.  “Kau, tidak ingin tahu?”

 

“Tidak.”  Gelengnya.  “Jika itu buruk, untuk apa aku tahu dan mengingatnya.  Lagipula jika aku memang harus tahu, maka oppa akan menceritakannya sejak dulu padaku.  Tapi oppa tidak menceritakannya, bukankah itu artinya bahwa masa laluku tidak penting?  Lagipula kita hidup bukan untuk masa lalu, bukan?  Melupakan masa laluku, aku anggap itu sebagai berkah dan aku juga tidak berniat untuk mencari tahu ataupun mengingatnya kecuali dari apa yang oppa katakan padaku.  Yang terpenting, saat ini aku menjalani hidupku dengan baik.”  Tutur Joon Ae lancar dan mengakhirinya dengan sebuah senyuman lebar.

 

 

Perhatikan keterangan waktu.  Alur maju-mundur.

***

Chapter 1

2008

Menekan tuts piano dalam jangkauannya hingga suara merdu dalam ruang yang cukup pribadi itu terdengar, entah maksud Kyuhyun adalah untuk membuat gadis disampingnya merasa terpesona atau dia lakukan itu hanya untuk mengasah keterampilan bermusiknya… tapi yang jelas, gadis bermata biru dengan rambut berwarna light brown yang panjangnya hampir mencapai pinggang itu berhasil dibuatnya tidak berkedip.

 

“Lagu apa yang kau suka?”  Kyuhyun menoleh dengan wajah datarnya tanpa menunjukkan satupun tanda-tanda suka ataupun tertarik dengan apa yang dilakukannya saat ini, begitu berbeda dengan pertanyaannya.  “Joon Ae-ya?”  Sebelah tangan Kyuhyun melambai dihadapan Joon Ae, mencoba sadarkan gadis itu andai tengah melamun.

 

“Ya?”  Nyatanya benar, gadis itu sejak tadi melamun.

 

Langsung menegakkan tubuhnya, menatap Kyuhyun dengan kedua mata terbuka lebar dan senyum tolol, gadis itu menunggu jawaban kekasih dihadapannya—atau sebenarnya menunggu Kyuhyun mengulang kembali pertanyaannya.

 

Menghela nafas pelan, Kyuhyun akhirnya mengulang pertanyaannya dengan sedikit tambahan kata-kata manis—menurutnya.  “Lagu apa yang kau suka?  Aku akan menyanyikannya untukmu.”

 

Joon Ae makin melebarkan senyumnya.  “Terserah.  Apapun yang kau nyanyikan aku suka.”  Gadis itu memangku wajahnya dengan sebelah tangannya.  Tatapannya pada Kyuhyun tidak teralihkan, begitu jelas bagaimana ia memuja pemuda itu.

 

“Yakin?”

 

Joon Ae mengangguk cepat.  “Sure, your voice is my favorite sound.  Apapun yang kau nyanyikan aku akan suka.”

 

“Baiklah.”  Kyuhyun kembali fokus pada piano dihadapannya, menekan kembali tuts yang akan mengiringinya menyanyikan sebuah lagu… pria itu tiba-tiba saja berhenti sesaat sebelum bibirnya terbuka.

 

“Kenapa berhenti?”  Kaget Joon Ae cepat saat kesemua jari Kyuhyun terangkat dari pianonya.

 

Terkekeh pelan, pria itu melirik Joon Ae bagai sinis.  “Berhentilah menatapku dengan senyum idiot.”

 

Kyuhyun menyindir, begitu jelas.  Sayangnya dalam cinta, semakin kau mencinta maka kau akan semakin gila dan Joon Ae menganut paham itu.

 

“Mau bagaimana lagi? Smile like idiot when i think about you is normal, i love you and love is crazy.  Seperti yang orang-orang Spanyol katakan, amor cuerdo, no es amor.  Jika kau tidak cukup gila untuk mencintai seseorang, maka kau tidak mencintainya, remember that.”  Gadis itu mengangkat kedua bahunya dengan tampang polos dan Kyuhyun hanya bisa menggeleng.

 

“Jika lagunya tidak cocok dan tidak sempurna jangan marah, oke?  Aku sudah tanyakan lagu apa yang ingin kau dengar.”

 

“Tidak masalah, you’re my definition of perfect.”

 

Oh.  Kyuhyun memutar kedua matanya kemudian tergelak, rasa-rasanya ia akan selalu merasa melayang sebab Joon Ae melihatnya bagai pangeran.

 

Kembali fokus pada piano juga pilihan lagu dalam kepalanya, Kyuhyun mulai bernyanyi dan Joon Ae yang mendengarkannya dengan senang hati tidak henti-hentinya tersenyum.

 

 

Just a smile and the rain is gone

Can hardly believe it

There’s an angel standing next to me

Reaching for my heart 

 

Just a smile and there’s no way back

Can hardly believe it

But there’s an angel, she’s calling me

Reaching for my heart 

 

I know, that I’ll be ok now

This time it’s real 

 

I lay my love on you

It’s all I wanna do

Everytime I breathe I feel brand new

You open up my heart

Show me all your love, and walk right through

As I lay my love on you 

 

I was lost in a lonely place

Could hardly even believe it

Holding on to yesterdays

Far, far too long 

 

Now I believe it’s ok

Cause this time it’s real 

 

I never knew that love could fell soo good

Like once in a lifetime

As I lay my love on you

 

 

“Oh Kyu—.”  Joon Ae menangkup pipinya sendiri dengan kedua tangannya dan senyum lebarnya nampak lebih jelas.  Menatap kekasihnya tanpa satupun hal lain yang ingin ia perhatikan, senyum lebar yang tadi Kyuhyun katakan tolol berganti menjadi senyum anggun dengan tatapan memuja lebih dari sebelumnya.  “Bagaimana bisa kau sesempurna ini?”

 

Kyuhyun hanya menarik sedikit ujung bibirnya mendengar apa yang baru saja Joon Ae katakan.  Mengulurkan tangannya dihadapan Joon Ae, tidak butuh waktu lebih lama bagi pria itu untuk mendapat sambutan yang diinginkannya.  Joon Ae membalas uluran tangan Kyuhyun, senyum masih tidak hilang dari wajahnya begitupun ketika Kyuhyun mendudukkanya dalam pangkuannya.

 

Melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping Joon Ae, Kyuhyun sedikit mendongak dan senyumnya mulai nampak ketika matanya dan Joon Ae saling terhubung.

 

“Jika aku melakukan ini, apakah Siwon oppa-mu akan marah?”

 

Joon Ae mengangguk.  “Dia akan mengataimu pria tanpa tata krama karena membawaku dalam pangkuanmu dan memelukku.”

 

Kyuhyun tersenyum tipis, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan, pria itu kembali membuka bibirnya dengan fokus pada bibir Joon Ae.  “Jika aku menciummu, apakah Siwon oppa-mu juga akan marah?”

 

Joon Ae kembali mengangguk.  “Kata oppa, aku hanya boleh lakukan itu bersama suamiku.”

 

“Jika aku yang menjadi suamimu?”  Bisik Kyuhyun dan Joon Ae tersenyum lebar, membayangkannya saja ia tidak berani dan kini Kyuhyun mengucapkan itu dengan suka rela.  Sebelah tangan Kyuhyun menyisir rambut halus Joon Ae yang kemudian beralih pada wajahnya.  “Pejamkan matamu.”  Ucapnya menutup kedua mata Joon Ae dengan sebelah tangannya tadi dan wanita yang bahkan tidak tahu apa keinginan Kyuhyun sebenarnya itu menurut.

 

Makin mencondongkan wajahnya, Kyuhyun ikut memejamkan matanya hingga hal yang sudah lama ingin ia ketahui bagaimana rasanya berhasil ia rasakan.  Menyentuh bibir Joon Ae dengan bibirnya, sejak pertama kali dirinya melihat Joon Ae beberapa bulan lalu—sejak itu dirinya sudah tidak sabar ingin merasakan bibirnya.  Beruntungnya ia, Joon Ae membalas apapun yang dirinya lakukan hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih dan langkahnya untuk mendapatkan apapun yang diinginkan tentu makin mudah.

 

Berbeda dengan Kyuhyun yang tentu girang, Joon Ae yang jelas terkejut bahkan tidak tahu harus apa dan melakukan apa dengan perlakuan Kyuhyun, diam saja dengan keraguan dan ketakutan yang melingkupinya.

 

“Joon Ae?”  Kyuhyun memundurkan wajahnya, menatap heran gadis dalam pangkuannya yang sudah kaku itu.  “Hei, lihat aku.”

 

“Aku takut.”  Joon Ae berujar, masih dengan mata yang ia pejamkan paksa hingga kerutannya nampak.

 

“Apa yang kau takutkan?”

 

“Aku tidak pernah membantah apa yang oppa katakan.”

 

Kyuhyun menarik kedua ujung bibirnya dan mengecup bergantian mata Joon Ae hingga warna biru itu kembali muncul dalam penglihatannya.  “Kau tidak pernah berciuman?”

 

Joon Ae menggeleng dan tololnya Kyuhyun bertanya.  Melihat bagaimana reaksinya, harusnya pria itu sudah sadar bahwa gadis dalam pangkuannya itu belum pernah sekalipun berciuman.  Namun dibanding malu terhadap pertanyaannya sendiri, Kyuhyun justru senang telah menanyakannya.

 

“Jadi aku yang pertama?”

 

“Begitulah…”  Joon Ae merengut.  Kedua tangannya mendorong dada Kyuhyun saat pria itu akan kembali menciumnya.  Menghindar, Joon Ae bahkan hendak bangkit sebelum akhirnya Kyuhyun lebih mengeratkan pelukannya dan gadis itu kembali terduduk dalam pangkuannya.

 

“Kau bilang bahwa kau mencintaiku, bukan?”

 

“Tapi bukan berarti aku akan lakukan apapun yang merugikanku, bukan?”

 

“Kau anggap sebuah ciuman ini merugikanmu?”

 

“Siwon oppa bilang aku tidak boleh percaya pada pria manapun selain dia dan Albert.”

 

“Siapa Albert?”  Kyuhyun merengut tidak suka.

 

“Pelayan rumah yang sudah bekerja pada keluarga kami bahkan sebelum kedua orang tuaku menikah.”  Jelas Joon Ae dan Kyuhyun bernafas lega.  Bayangan seorang pria tua dengan perut tambun sudah ada dalam kepalanya.

 

“Lalu tidak bisakah kau mempercayaiku?”

 

“Aku tentu mempercayaimu, Kyu.  Aku mencintaimu.”

 

“Maka jangan anggap sebuah ciuman adalah hal buruk.  Ini adalah hal indah yang hanya boleh kau lakukan bersamaku, pria yang kau cintai.”  Joon Ae menunduk, kedua alisnya nampak menyatu, seolah tengah memikirkan ucapan Kyuhyun.  “Cium aku.”

 

“Hm?”  Joon Ae langsung mengangkat wajahnya menatap Kyuhyun tidak mengerti.

 

“Jika aku menciummu kau katakan sebuah kesalahan, maka ciumlah aku.”  Kyuhyun memejamkan kedua matanya, menunggu apakah Joon Ae akan jatuh dalam kalimatnya ataukah tetap pada pendiriannya sebab Siwon.

 

“Jika aku tidak menciummu, apa artinya?”

 

“Bahkan sejak bayi seorang anak mendapatkan kasih sayang melalui ciuman.”

 

“Kau katakan ini sebagai bukti cintaku?”

 

“Bukankah jika kau mencintaiku maka kau akan lakukan apapun yang membuatku bahagia?”

 

“Tapi jika begini bukankah kau tidak mencintaiku?  Tidak menghargai dan menghormati keinginanku.”

 

Kyuhyun menghela panjang.  Membuka kelopak matanya perlahan, raut serius Joon Ae sudah pasti ada dihadapannya.

 

“Kau hanya perlu mengatakan bahwa kau tidak ingin menciumku.”

 

“Tidak bukan begitu.”  Joon Ae mengelak dan kali ini gadis itu yang menahan Kyuhyun saat akan beranjak serta mendorongnya.  “Aku hanya bertanya dan ingin tahu sesuatu.”

 

Kyuhyun menyipitkan matanya.  “Apa itu?”

 

“Apa kau akan mencium gadis lain jika aku tidak melakukan ini.”

 

Mendapatkan celah, Kyuhyun tersenyum tipis.  “Tentu.”

 

“Aku pikir kau mencintaiku.”  Joon Ae tertunduk dengan suaranya yang bergetar.  “Bukankah jika kau mencintaiku kau tidak akan bersama gadis lain?”

 

“Bukankah jika kau mencintaiku kau akan lakukan apapun untuk bahagiaku?”

 

Sekali lagi Joon Ae merengut.  Menaikkan wajahnya perlahan, gadis itu melihat Kyuhyun hati-hati.  “Maka pejamkan matamu.”

 

Tanpa menunggu lagi, Kyuhyun memejamkan matanya.  Berteriak girang dalam hatinya serta bersiap merasakan kembali bibir yang ingin disesapnya bagai permen hingga puas.

 

 

Joon Ae menarik nafas panjang sebelum kedua tangannya menangkup wajah Kyuhyun.  Menelusuri wajah pria dihadapannya, Joon Ae kembali memejamkan matanya.  Lebih santai kali ini.

 

Dimulai dari kening, pipi, hingga bibir yang sudah Kyuhyun nantikan untuk bersentuhan dengan milik Joon Ae lagi, bagai mencoba—Joon Ae mengecup bibir Kyuhyun sesekali dengan jeda yang menurut Kyuhyun lumayan panjang hingga akhirnya pria yang tidak sabaran itu menekan pinggang dan tengkuk Joon Ae, melumat bibir Joon Ae dihadapannya serakah, memaksa katupan kaku dan rapat yang Joon Ae lakukan agar terbuka hingga ia bisa menyesapnya sesuai dengan yang ia mau tanpa peduli pada pukulan kedua tangan Joon Ae pada dadanya juga keinginan gadis itu menghentikan semuanya.

 

“Hent—mh..tikkan!”  Joon Ae berteriak.  Mendorong tubuh Kyuhyun keras dan menyumpal mulutnya sendiri.

 

Menatap Kyuhyun dengan kedua mata memerah, hal pertama yang dilihatnya justru kekehaan pelan Kyuhyun dengan sebelah tangan mengusap sudut bibirnya.  “Kenapa?  Aku kekasihmu, apa tidak boleh?”

 

Joon Ae hanya diam seraya menormalkan nafasnya.  Gadis itu jelas sedang kesal dan menahan tangisnya.  “Apa seperti ini perlakuanmu pada seseorang yang kau cintai?”

 

“Lalu aku harus bagaimana?”

 

“Memperlakukannya sebagai seorang yang terhormat.  Perlakuanmu jelas melecehkan, Kyu!”  Joon Ae berdiri, melepas paksa tangan Kyuhyun dan mundur beberapa langkah.  “Hanya karena aku mau menuruti keinginanmu, bukan berarti kau bisa berlaku seenaknya.  Hanya karena aku mencintaimu, bukan berarti kau bisa melecehkanku.  Apa itu yang keluargamu ajarkan?  Apa begitu caramu tumbuh?”

 

Kyuhyun merengut.  Berdiri menyusul Joon Ae, pria itu mengangguk.  “Aku salah, maafkan aku.”  Santainya tanpa menampakkan sedikitpun raut salah dan Joon Ae bukan tidak tahu tentang hal itu.  Namun bagaimanapun, Siwon oppa-nya juga selalu berkata bahwa adalah mulia memaafkan seseorang yang meminta maaf.

 

“Tapi jangan lakukan ini lagi, oke?”

 

Kyuhyun tersenyum dan mengangguk.  “Iya.”  Janjinya dan mendekat, menghapus sisa air mata Joon Ae.  “Jangan menangis, oke?”

 

Joon Ae mengangguk, mengiyakan ucapan terakhir Kyuhyun dan membiarkan pria itu menghapus air matanya.

 

 

PING!!

 

Oppa!”  Joon Ae memekik seketika itu juga saat mendengar suara khas yang selalu membuatnya merasa aman.  Dilepasnya segera tangan Kyuhyun dan berlari ia mengambil tasnya yang berada di sofa tempatnya tadi duduk.  Mengeluarkan benda eletronik persegi panjang berwarna pink, kedua mata Joon Ae yang langsung terbuka lebar, nampak berbinar ketika menatap layar ponselnya seolah tidak ada hal buruk apapun yang terjadi sebelumnya.

“Apa kau harus seperti itu jika mendapat pesan dari oppa-mu?  Lagipula darimana kau tahu bahwa itu oppa-mu?”

“Aku hanya memiliki dua kontak di ponselku.  Kau dan oppa.  Karena kau ada disini bersamaku, tidak mungkin ini darimu, bukan?”

Well… Kyuhyun menghela panjang diikuti kedua mata memutar untuk penjelasan Joon Ae itu.  Beranjak dari tempatnya, Kyuhyun ikut duduk disamping Joon Ae dan mengintip pesan dari oppa gadisnya.

 

—Siwon Oppa—

Lihatlah.  Selama setahun aku menyimpannya untuk hari ini, dan aku sudah tidak sabar untuk meminumnya sampai habis

 

“Oh astaga.  Dom Pérignon Rose Gold.”  Joon Ae membulatkan matanya dengan bibir menganga yang ia tutup menggunakan sebelah tangannya sesaat setelah menyebut nama champagne yang fotonya baru saja Siwon kirimkan.  Champagne dengan botol yang dikemas begitu elegan bersama emas yang melingkari tubuhnya hingga hampir menutup keseluruhan tubuh botol itu, bagaimana rasa dari isi di dalamnya sudah membuat Joon Ae harus menahan air liurnya.

 

Lalu ini?  Bersyukurlah oppa-mu ini mampu membeli parfum yang besarnya tidak melebihi apel di dapur namun harganya bersaing dengan rumah kita

 

 

“Gila.”  Mata Joon Ae mulai berkaca-kaca dengan parfum DKNY Golden Delicious pada layar ponselnya.

 

 

Aku bertengkar dengan ibu-ibu gendut, mengantri dan bahkan mengambilnya langsung dengan modal wajah tampan yang aku percaya akan berguna, oh jangan lupakan tentang aku yang hampir gagalkan pernikahan seseorang pagi tadi hanya untuk bunga aneh ini.

Jadi cepatlah pulang dan jangan buat aku menunggu lebih lama lagi untuk merayakan ulang tahunmu bersama tiga benda aneh yang sangat kau sukai ini atau aku akan habiskan champagne itu seorang diri, dan menjual kembali parfum yang bahkan tidak akan kau pakai seumur hidup itu, juga mengganti Juliet Rose itu dengan mawar biasa sebab sudah layu. Cepat pulang!  Kau pikir ini sudah jam berapa, adikku?!

 

 

“Oh astaga!  Kyu!”  Joon Ae tertawa girang dengan kedua tangan membungkam bibir menganganya tidak percaya sebelum akhirnya ia bertepuk tangan cepat.  “Aku harus pulang, besok kita akan bertemu lagi, oke?”

 

“Apa?  Tunggu!”  Kyuhyun mencekal tangan Joon Ae saat gadis itu akan pergi.  “Hari ini kau ulang tahun?  Kau tidak mengatakannya padaku.”

 

“Oh aku tidak ada waktu untuk itu, aku sendiri bahkan lupa.”  Joon Ae melepas segera tangan Kyuhyun.  “Aku harus pergi.  Aku mencintaimu. Sampai jumpa besok.”  Kata Joon Ae cepat dengan kecupan singkat pada pipi Kyuhyun, pergi tanpa bisa dicegah lagi sebab langkah lebar dan cepatnya.

 

 

Kyuhyun menghela nafas panjang, pria itu menggerutu, hingga kedua alisnya hampir menyatu.  Baru saja ia akan bangkit, ponsel di saku celananya berbunyi.

 

 

—Hye Rin—

Aku harap kau tidak lupa bahwa malam ini kita harus bertemu untuk membicarakan mengenai konsep pertunangan kita.

 

 

“Oh!  Sial!”  Kyuhyun mengumpat.  Coat berwarna coklat yang tadi ia sampirkan pada punggung sofa segera diambilnya dan berlari secepat ketika Joon Ae pergi beberapa menit lalu.

 

 

***

18 September 2016

Dikatakan bahwa, waktu tidak berteman dengan siapapun.  Waktu selalu sendiri, dan selalu sendiri.  Tapi coba bayangkan, andai waktu berteman dengan masa lalu—maka mungkin keadaan akan sedikit berubah.  Andai waktu berteman dengan masa lalu, maka mungkin hal buruk yang saat ini didapat bisa dirubah meskipun sedikit.  Sayangnya waktu tidak berteman dengan siapapun, entah masa lalu ataupun masa depan.  Waktu tidak memiliki belas kasih, tidak pernah memberi kesempatan, dan tidak ijinkan detik jam berjalan mundur.

 

Tapi dari semua hal itu, haruslah sadar bahwa waktu lebih belas kasih dibanding apapun dan lebih banyak memberikan kesempatan dibanding siapapun atau apapun.  Waktu mengajarkan tentang masa yang tidak akan pernah terulang dan karenanya, setiap detik yang berjalan haruslah dimanfaatkan dengan baik hingga tidak ada penyesalan atau keinginan untuk kembali pada masa lalu.

 

Time gives before it takes.  Every minute, every hour is a gift

—Alice Through the Looking Glass—

 

 

 

 

 

Berbicara tentang waktu, ada yang berkata bahwa 6 tahun adalah masa yang sangat panjang, namun sebagian lagi berkata bahwa 6 tahun adalah masa yang sangat singkat.  Bagi mereka yang merasakan bahagia hingga tidak menyangka bahwa 6 tahun telah berlalu begitu saja, pastilah jawabannya adalah 6 tahun merupakan waktu yang sangat singkat sebab tiap waktunya mereka isi dengan tawa hingga tidak sadar bahwa detik telah berubah menjadi menit.  Namun bagi mereka yang menjalani masa 6 tahun penuh dengan luka, tentu akan berkata bahwa 6 tahun merupakan masa yang sangat panjang sebab tiap detiknya terasa begitu menyiksa hingga untuk terpejam saja rasanya sulit.

 

Kyuhyun sendiri, pria yang kini mengenakan setelan rapi berwarna hitam itu memilih jawaban bahwa 6 tahun adalah masa yang sangat panjang dan sulit.  Tidak ada seharipun dalam kurun waktu 6 tahun yang dilewatinya dengan tenang.  Tidak ketika tidur, tidak pula ketika terjaga.

 

Tidur hanya membuatnya memimpikan kenangan buruk, dan terjaga hanya membuatnya makin bersalah sebab apa yang telah dilakukannya pada masa lalu, juga masa ini.  Joon Hyun, putranya yang baru saja berulang tahun ke-6, yang Kyuhyun pikir adalah obatnya atas sakit hatinya di masa lalu, penebus dosanya akan apa yang dilakukannya pada masa lalu, justru membuatnya makin terbebani.  Anak itu begitu mirip dengan Joon Ae, kata Kyuhyun ketika beberapa orang bertanya tentang alasan kenapa ia tampak menghindari putranya sendiri, atau saat beberapa orang bertanya kenapa tidak menghabiskan lebih banyak waktu dengan putra satu-satunya itu.

 

Alasan konyol sekaligus gila, kata mereka yang mendengarnya.

 

Tapi toh—Kyuhyun tidak peduli.  Entah ketika eomma-nya membujuk ia agar segera pulang demi putranya, entah ketika appa-nya mulai mengamuk padanya atas perilaku pengecutnya, atau ketika noona dan beberapa orang yang mengetahui keadaan ini melihatnya nyinyir.

 

Namun meski begitu, setidaknya Kyuhyun cukup berani untuk menampakkan batang hidungnya seminggu sekali.  Menampakkan wajahnya untuk mengingatkan semua orang bahwa ia masih hidup meskipun tidak ingin, menunjukkan pada Joon Hyun bahwa appa-nya masih hidup.

 

Seperti pagi pertamanya ketika menginjakkan kaki di Korea, makam Joon Ae adalah yang pertama kali pria itu kunjungi.  Menyapa tanpa dibalas, menemui tanpa melihat, dan menyentuh tanpa bisa tersentuh.  Jika itu hukumannya, Kyuhyun tidak masalah.

 

Melihat makam disekelilingnya, sebenarnya Kyuhyun ingin bergabung.  Namun jika ia lakukan itu dan bertemu Joon Ae, wanita itu pasti akan mencacinya setelah apa yang dilakukannya sebelum meninggal.  Menelantarkan anak mereka adalah hal pertama yang sudah pasti akan Joon Ae permasalahkan.

 

Tidak.  Kyuhyun masih belum cukup berani untuk menerima kemarahan lain Joon Ae.  Maka sembari menunggu putranya tumbuh dewasa dan hidup lebih baik, ia akan terus bernafas.

 

Kompleks pemakaman tengah kota yang selalu Kyuhyun kunjungi layaknya rumah kedua baginya itu, pagi inipun menunjukkan posisinya lagi sebagai bagian berharga dari pria itu.  Seperti yang dikatakan sebelumnya, Kyuhyun akan berkunjung setiap waktunya jika ia berada di Korea.  Entah itu pagi seperti hari ini, siang dengan mengambil waktu makan siangnya, atau bahkan sore hingga menjelang malam.

 

Memegang sebuket Juliet Rose berwarna lembut yang sudah dipesannya seminggu lalu ketika masih berada di Taiwan, menyusuri jalan setapak yang begitu rapi dan indah namun tidak membuat siapapun bahagia dengan berada disana—segontai biasanya, Kyuhyun melangkah menuju makam Joon Ae.  Sampai pada nisan dengan warna lebih pucat dibanding batu nisan lainnya, Kyuhyun maju perlahan dengan tangan terulur guna meletakkan bunga favorite Joon Ae disana.

 

Tersenyum tiba-tiba saat mengingat kalimat Joon Ae yang membuat mereka menikah, batu marmer yang telah dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai kursi dan diletakkan rapi disetiap sisi makam—Kyuhyun duduki.  “Jika dengan setangkai Juliet Rose aku bisa menikahimu, hari ini aku membawa lebih dari satu tangkai dan bisakah kau hidup kembali?  Memberiku kesempatan untuk memperbaiki salahku padamu, dan pada anak kita.”  Ucapnya.

 

Tangan bebas Kyuhyun terulur, menyentuh mudah rumput hijau yang tumbuh diatas makam Joon Ae.  Menggerakkan tangannya pada ujung rumput dengan hati-hati, menganggapnya rambut halus Joon Ae yang dulu selalu membelai wajahnya—kedua mata Kyuhyun menurun, makin sayu.

 

“Apakah aku sudah katakan mengenai ulang tahun putra kita yang ke-6? Saat itu aku janji padanya akan pulang cepat hingga bisa membuat kue ulang tahun bersama seperti biasa.  Tapi kenyataannya aku tidak bisa menepati janjiku.  Esoknya aku bahkan harus segera menuju Canada dan berlanjut ke negara lain tanpa bisa berpamitan atau sekedar meminta maaf padanya.  Apa dia akan memaafkanku, Joon Ae-ya?”  Kisahnya seolah yang di ajaknya bicara bisa mendengar dan menjawab.  “Noona terus memaksaku untuk menikah, tapi jika mengingat apa yang terjadi diantara kita, bagaimana aku bisa menikah?  Bagaimana mungkin aku bahagia sementara dirimu tidak bisa merasakannya?  Dan bagaimana bisa aku membuat Joon Hyun melupakanmu?  Aku tidak ingin semua itu terjadi.”  Kata Kyuhyun dengan mata berkaca-kaca dan gerakan tangannya di atas rerumputan hijau makin memelan.  “Apa yang harus aku lakukan?”  Kyuhyun bertanya, bagai orang bodoh karena melakukan hal sia-sia.

 

Sebanyak apapun dirinya bertanya, tidak akan pernah ada jawaban yang terdengar.  Sebanyak apapun dirinya bercerita, tidak akan ada yang menanggapinya.

 

Tapi biarlah, biarlah Kyuhyun lakukan itu jika memang dengan begitu beban hatinya akan sedikit ringan.

 

Lama Kyuhyun menghabiskan waktunya dengan bebicara sendiri, dering ponsel pria itu terdengar dan menghentikan obrolan sepihaknya.  Merogoh saku celana bahannya, nama Ah Ra noona sudah menghiasi layar ponselnya.

 

“Aku rasa kau tidak perlu lama-lama berada di makan Joon Ae hari ini.  Cepat pulang!  Kita akan bersama-sama menuju rumah sakit.  Kau tidak ingin sakit eomma semakin parah, bukan?!”

 

 

***

Menuruni anak tangga rumahnya terburu sembari mengikat rambut kusutnya asal, Joon Ae yang hanya mengenakan kemeja putih milik Dennis sebagai penutup tubuhnya—melihat kembali jam di dinding rumah untuk memastikan waktu saat ini dan tidak salah lagi, dirinya terlambat—bangun.

“Dennis!”  Teriakan Joon Ae menggema.  Pandangannya tertuju pada jam, kulkas besar disudut dapur, dan lantai 2 rumah yang sudah ditinggalinya lebih dari sebulan ini bergantian.  Membuka cepat kulkas setinggi tubuh Dennis, mata wanita itu membulat.  “Bodoh.”  Kesal Joon Ae sembari memukul keningnya sendiri saat ingat bahwa dirinya belum membeli bahan masakan apapun dan kini hanya tersisa bahan tidak masuk akal yang entah bisa diolah bersamaan atau tidak.  Alpukat, kentang, telur, dan krim.  “Oh Sial!”

 

Joon Ae mulai merutuk dalam hati, bahkan tidak ada roti.

 

Tidak berpikir akan ia apakan 3 bahan makanan yang belum pernah dibuatnya menjadi satu itu, dikeluarkannya saja ketiga makanan itu dengan kepala yang kembali mendongak pada lantai dua, atau lebih tepatnya kamar dimana suaminya berada.  “Dennis…..!”

 

Teriak Joon Ae lagi.  Menjinjitkan kedua kakinya untuk melihat apakah Dennis sudah bangun atau belum—Joon Ae yang repot memikirkan tentang sarapan Dennis dengan bahan makanan yang berapa kalipun dipikir tidak cocok itu—terpaksa kembali menaiki anak tangga saat tidak melihat tanda-tanda bahwa suaminya sudah bangun, berlari cepat memasuki kembali kamarnya dan benar saja, suaminya masih dengan santainya tidur dengan selimut tebal yang melilit tubuhnya.

 

“Dennis bangun……”  Sekali tarikan, selimut yang membelit tubuh Dennis terlepas.  “Kau terlambat, Dokter Oh!  Ayo cepat bangun!”

 

“Satu menit lagi.”  Melas Dennis dengan kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri kedinginan.  “Dan tolong, selimutnya…”  Pria itu memelas tanpa membuka matanya.

 

“Ini sudah benar-benar terlambat.  Bangun kubilang!”  Joon Ae berteriak kencang, cukup untuk membuat nafasnya habis sebab terlalu kesal, juga cukup untuk membuat pria di atas ranjang yang memeluk tubuh polosnya itu tertawa lucu dan bangun.

 

“Iya-iya.  Cerewet.”  Dennis menggaruk kepalanya sambil menguap sesekali, turun dari ranjangnya, pria itu mengecup singkat kening istrinya sebelum menghilang dari balik pintu kamar mandi.

 

Mendengus kesal, Joon Ae melangkah menuju ruang ganti di sisi lain kamar.  Memilih apa yang akan suaminya kenakan untuk bekerja, Joon Ae melakukan apa yang istri lainnya lakukan.  Selesai memilih baju apa yang hendak Dennis kenakan, barulah Joon Ae membereskan ranjangnya dan setelah semua hal di dalam kamar beres— buru-buru ia keluar dari kamar, melanjutkan kebingungannya tentang bagaimana menjadikan bahan makanan tidak masuk akal menjadi masuk akal.

 

 

 

 

Entah enak atau tidak, cocok atau tidak… Joon Ae lakukan apapun yang bisa ia lakukan hingga kentang dan telur ia panggang menjadi satu, sementara alpukat dan krim, ia letakkan sebagai pemanis.

 

“Dan—apakah ini?”  Kaget Dennis melihat sarapan paginya yang berbeda dibanding sebelum-sebelumnya.

 

Meletakkan tas kerjanya dengan pandangan heran pada makanan di meja makan, dasi menggantungnya segera menjadi perhatian Joon Ae.  Sambil membuat simpul rapi seperti biasa, Joon Ae menjawab.  “Hanya ini yang tersisa di kulkas.”

 

Dennis merengut dengan bayangan aneh melihat sarapan paginya.  Mengalihkan pandangannya dari makanan di atas meja, wajah Joon Ae yang hanya beberapa inci darinya nampak begitu serius ketika membuat simpul dasinya.  Melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya, Dennis tidak membuang kesempatan untuk mencium Joon Ae sebanyak yang dirinya mau.

 

“Oh hentikan!  Kita tidak punya waktu untuk ini, kau sudah sangat terlambat.”  Joon Ae memukul pundak Dennis dan berjalan menjauh, menuju dapur kembali.

 

Tersenyum geli, Dennis duduk pada kursi meja makan tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Joon Ae.

 

“Dan apa pula yang kau kenakan itu?”  Tanya Dennis ketika Joon Ae kembali mendekat dengan dua gelas penuh air ditangannya.  Duduk disamping suaminya, Joon Ae hanya mengangkat alisnya.

 

“Jika semalam kau tidak—.”

 

“Maka tiap malam aku akan melakukannya agar setiap pagi kau berakhir begini.”  Potong Dennis sembari menahan tawanya melihat tampilan kacau istrinya dari atas hingga bawah.

 

“Hei!”  Joon Ae memukul lengan Dennis.  “Jangan berkomentar apapun.  Ini pagi yang buruk.”  Kesalnya dan mulai mencicipi kentang dan telur panggang yang baru kali ini dibuatnya menjadi satu.

 

“Enak?”  Dennis melirik dengan mata menyipit melihat reaksi Joon Ae saat mulai mengunyah.

 

“Ya, tidak buruk.  Cobalah.”  Joon Ae mendorong lebih dekat piring Dennis dan mengangguk untuk meyakinkan pria itu bahwa kentang yang dipanggang bersama telur bukanlah sesuatu yang buruk.

 

 

 

***

“Kupikir kau sudah lupa jalan menuju rumah.”  Tuan Cho memperbaiki letak kaca mata tua-nya.  Pria dengan sebagian rambut berwarna putih itu melipat rapi koran yang sejak tadi dibacanya, sebagai gantinya—dilihatnya Kyuhyun serius.  “Kau tidak lupa tentang anakmu, bukan?”

 

Appa…”  Ah Ra menyenggol lengan appa-nya, tanda untuk Tuan Cho menghentikan perkataannya.

 

Berdiri dan melangkah mendekati Kyuhyun, Ah Ra membuka bibirnya.  “Kau pergi bersama Joon Hyun.  Aku bersama appa dan Rae Mi.”

 

Hanya menanggapi semua itu dengan tarikan nafas panjang, mengangguk pelan tanpa niat untuk menolak—Kyuhyun melangkah pelan menuju kamar dimana Joon Hyun berada sementara noona dan appa-nya segera keluar, begitupun keponakannya.

 

 

“Joon Hyun-ah…”  Panggil Kyuhyun dan seketika itu juga perhatian Joon Hyun teralihkan dari buku yang tengah di bacanya.

 

Appa…..”  Bocah itu langsung menampakkan tawanya begitu mendengar suara Kyuhyun.  Menutup bukunya cepat, buru-buru Joon Hyun turun dari ranjangnya.  “Appa…..”

 

 

Dan lihatlah betapa bahagianya dia meski sering aku telantarkan.  Kyuhyun menghela nafas panjang.  Berjongkok ketika Joon Hyun sudah berada dihadapannya, usapan lembutnya pada kepala putranya nampak.  “Kau sudah siap?”  Tanyanya.

 

“Ya.”  Joon Hyun mengangguk riang, mantel hangat yang dipegangnya segera ia kenakan dan Kyuhyun membantunya.

 

“Ayo.”

 

Appa…”  Joon Hyun menarik ujung jas yang Kyuhyun kenakan hingga pria itu menghentikan langkahnya sejenak.  Menoleh, tampak Joon Hyun mendongak padanya.

 

“Ada apa?”

 

“Bolehkah aku menggandeng tanganmu, appa?”

 

Oh berdosanya ia.  Kyuhyun tidak menyangka bahwa ia seburuk ini hingga untuk menggandeng tangannya…. Joon Hyun perlu meminta ijin.  “Ya.”

 

Mengambil sebelah tangan Joon Hyun, keduanya mulai berjalan beriringan dengan tawa lebar Joon Hyun yang tercetak begitu jelas hingga Kyuhyun ikut tersenyum tipis.

 

Membukakan pintu mobil untuk Joon Hyun menggantikan sopirnya, Kyuhyun baru saja menampakkan dirinya sebagai seorang appa yang sesungguhnya.  Duduk beriringan, tawa jelas Joon Hyun sudah pasti Kyuhyun tangkap dengan mudah.

 

Appa….”  Anak itu memanggil, dengan riangnya.  Tanpa satupun kemarahan atas bagaimana perlakuan Kyuhyun selama ini padanya.

 

“Ada apa?”

 

“Besok appa akan pergi kemana?”

 

“Hm?  Bagaimana maksudmu?”  Kyuhyun menoleh, mendapati mata jernih Joon Hyun yang menatapnya antusias.

 

“Bukankah appa selalu pergi?  Besok appa akan kemana?  Bisakah hari ini kita menghabiskan waktu bersama?”

 

Sebelah alis Kyuhyun terangkat, menggaruk pelipisnya pelan—Kyuhyun melirik sopir didepannya yang tersenyum tipis.  Kembali pada Joon Hyun, dalam hati Kyuhyun bertanya dalam hati ada apa dengan anak ini?  Sejak kapan menjadi begitu cewet dan bersikap sedekat ini?

 

“Kau kenapa jadi cewet sekali?”  Kyuhyun justru bertanya dengan raut sinisnya yang belakangan ia sesali sebab menghilangkan ceria dalam diri Joon Hyun seketika itu juga.

 

“Tidak apa.”  Joon Hyun merengut, menundukkan kepalanya dalam tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi pada Kyuhyun yang juga terdiam.

 

Membiarkan suasana dalam mobil menjadi dingin, suasana yang harusnya tidak terjadi antara hubungan appa dan anak… Kyuhyun membuang muka tanpa niat untuk memperbaiki semua itu meski dalam hatinya ia merasa bersalah.

 

 

Sesampainya di rumah sakit, Joon Hyun segera turun tanpa menunggu Kyuhyun.  Berlari dengan kaki kecil dan pendeknya, sosok Tuan Cho juga Ah Ra menjadi tujuannya.  Memeluk kaki harabeoji-nya, entah apa yang terjadi namun lirikan tajam Tuan Cho pada Kyuhyun yang masih ada di dalam mobil jelas terasa.  Menggendong Joon Hyun, Tuan Cho segera melangkah masuk tanpa niat untuk menunggu Kyuhyun yang masih bertahan dengan wajah bodohnya di dalam mobil.

 

“Tuan.”

 

Sopir didepan Kyuhyun bersuara, menolehkan perhatian pria itu dari keluarganya yang sudah tidak tampak.  “Ada apa?”

 

“Saya rasa tidak seharusnya anda memperlakukan Tuan Muda seperti itu.”

 

Tidak suka dengan apa yang sopirnya katakan, Kyuhyun menatapnya tajam melalui kaca depan mobil.  “Tahu apa kau?”  Sinisnya.  Membuka segera pintu mobil, pria itu sengaja menutupnya kencang dan melangkah kesal memasuki rumah sakit tempat eomma-nya di rawat.

 

 

***

Menunggu dokter memeriksa Nyonya Cho, Tuan Cho dan Ah Ra serta dua anak kecil dalam pangkuan mereka duduk persis didepan kamar Nyonya Cho.  Perhatian dua orang dewasa itu, jelas tertuju seutuhnya pada Joon Hyun.  Mengusap puncuk kepala cucunya beberapa kali, raut menyesal jelas nampak dari mata tua Tuan Cho.

 

Harabeoji.”  Panggil Joon Hyun sambil mendongak.

 

“Ada apa?”

 

“Aku mau ke toilet.”  Ucapnya segera turun dari pangkuan Tuan Cho.

 

Harabeoji akan mengantarmu.  Ayo.”

 

“Tidak perlu.”  Joon Hyun menolak, lengkap dengan gelengan kepalanya.  “Aku hanya sebentar.”  Ucapnya pelan dan segera ia melangkah, tanpa satupun orang dewasa yang mengikutinya setelah kalimat sebelumnya.

 

“Jika tahu begini aku menyesal membawa Joon Hyun pada Kyuhyun.”  Ah Ra menatap Joon Hyun yang sosoknya mulai hilang dari pandangannya miris.  Menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi sembari menyisir rambut putrinya, tatapannya mulai tertuju pada appa-nya yang juga nampak sedih atas apa yang Joon Hyun terima.

 

 

***

Sembari melangkah, Joon Hyun menghapus air matanya yang menggenang.  Guru di sekolahnya berkata bahwa jika orang tua kita tidak mau bicara maka kita yang harus bicara.  Jika orang tua kita tidak mau bercanda, maka kita yang harus membuat lelucon.  Guru di sekolah Joon Hyun pagi tadi berkata bahwa semua orang tua sangat mencintai anaknya.  Tapi tampaknya itu tidak berlaku untuknya.

 

Melangkah pelan menuju kamar mandi, entah apa yang akan dilakukannya disana Joon Hyun sendiri tidak tahu sebenarnya.  Tapi dulu setiap kali akan menangis, halmeoni-nya selalu masuk kedalam kamar mandi dan setelah itu akan keluar dengan wajah segar lagi.  Begitu juga teman sekelasnya yang menangis karena tangannya terluka, seorang guru akan membawanya masuk ke dalam kamar mandi dan setelah itu tangisnya reda, lukanya juga tertutupi.  Bahkan ketika suatu waktu gurunya, Sim Songsaengnim menangis entah karena apa di ruang guru… wanita gendut dengan suara nyaring itu langsung berlari menuju kamar mandi dan saat keluar matanya tidak berair lagi.

 

Maka Joon Hyun juga ingin hal macam itu.  Masuk ke dalam kamar mandi dan mendapatkan hal menyenangkan hingga sedihnya hilang.

 

Kosong, tidak ada apapun bahkan siapapun ketika dirinya masuk.  Warna putih bersih yang  memenuhi tiap sudut kamar mandi, sama sekali tidak menarik hingga dirinya bisa bahagia.

 

Namun, warna hitam pada wastafel yang begitu mencolok mencuri perhatian Joon Hyun.  Mendekat ragu, nyatanya benda itu adalah dompet.

 

Joon Hyun merengut, apa yang bisa membuat sebuah dompet menghilangkan sedihnya?  Menoleh ke kanan dan ke kiri, memeriksa apakah ada hal selain dompet itu yang merupakan hiburannya… Joon Hyun kembali menampakkan wajah memelas karena tidak ada satupun hal menarik kecuali dompet yang kini sudah berada di tangannya.

 

Maka dengan hati-hati dan perlahan, Joon Hyun membukanya meski belum tahu kejutan apa yang ada di dalam dompet sebab setahunya hanya akan ada uang di dalam benda itu.

 

Eomma?”  Anak itu memekik terkejut mendapati foto Joon Ae, eomma-nya, yang sosoknya tidak asing sebab di rumahnya, ada banyak foto Joon Ae yang ia miliki.

 

Membuka matanya lebar-lebar, menyentuh pelan foto yang ada di dalam dompet hitam ditangannya dan Joon Hyun tidak salah, itu adalah foto eomma-nya.  Foto eomma-nya yang tidak appa-nya miliki, dan foto eomma-nya yang sedikit berbeda dengan milik appa-nya di rumah.

 

Oh, thank God.  Aku pikir aku kehilangan dompetku dimana.  Hei adik kecil, itu istriku.  Cantik bukan?”

 

Joon Hyun mendongak dengan kedua alis saling terpaut.  Tangan besar yang terulur dihadapannya, berikut senyum menenangkan dari sosok tinggi yang kini berada dihadapannya… mengusik hatinya.  “Ini eomma-ku.  Istri appa-ku, bukan istri Tuan.”

85 thoughts on “New Time (Sequel of Time) Part 1

  1. Jdi Kyu mrasa trbebani dgn adanya Joon Hyun yg wajahnya mirip Joon Ae???
    Mgkin rasa brsalahnya smkin brtambah dgn mlihat Joon Hyun,,
    gk disangka msuk wc,, dpt hdiah trindah buat Joon Hyun melihat foto Ibunya..

    Suka

  2. Wah wah… permulaan sequel yg tdk disangka2… joon ae ternyata amnesia…

    Trs kasian si joon hyun… dia kekurangan ksh sayang. Knp kyu bodoh bgt sih, apa dia mau ngalamin lg yg nama nya menyesal gara2 telantarin anaknya gt…

    Suka

  3. Kyu sikapnya jangan sinis gitu dong ke joohyun..
    Kerasa sedih waktu joohyun ke kamar mandi buat nangis😭
    Kyu katanya ngerasa bersalah, tapi sikapnya malah kayak gitu..
    Kyu di masa lalu juga kayak kurang cinta sama joon ae..
    Itu joohyun ketemu sama dennis ya? Gimana reaksi dennis waktu joohyun bilang kayak gitu? Keep writing😊

    Suka

  4. Lupa ???
    Part ini udah baca atau belum ya ??? ^m^

    Pas liat post lanjutan agak aneh soalnya ceritanya, berasa kaga tau alur 😀
    Jadi baca ulang dari akhir cerita awal pas end sama yang ini dehhh 😀

    Suka

  5. Annyeong.. joneun Chon imnida..
    Jujur, sy bru ketemu story yang porsinya Pas bangiiit..semuanya rapi,padat,cerita.y ngalir seperti air… neomu johaeyo~ 💞

    Oiya,, maaf cz sy langsung coment di sequel.y bkn di part 1 padahalkan seharus.y ninggalin coment awalnya harus di part 1 nya 😒 #debat dengan myself 😁..

    Oiya… gomawo thor sdh buat story yang keceee badai ini..walaupun sy blm baca part2 sebelumnya tp alur cerita.y bs lgsg ditangkap soal.y dibantu pke video trailer di youtube jd sangaaaaat membantu 😘😊😀

    kyuhyun,Joo Hyun + cho family pasti akan kaget klo tw joon ae msh hidup apalagi klo tw joon ae sdh nikah “lagi”!!!

    Tdk sabar lht reaksi kyu nanti gimana, apakah dy akan marah atau mengikhlaskan joon ae u/mendapatkan kebahagiaan yg tdk pernah dirasakannya sewaktu bersama kyu #soktahuluChoN😁

    Ditunggu next partnya~ Fighting!!!

    (Mau lanjut baca part1&2dulu..annyeong~^^)

    Suka

  6. Annyeong.. joneun Chon imnida..
    Jujur, sy bru ketemu story yang porsinya Pas bangkit..semuanya rapi,padat,ncerita.y ngalir seperti air… neomu johaeyo~ 💞

    Oiya,, maaf cz sy langsung coment di sequel.y bkn di part 1 padahalkan seharus.y ninggalin coment awalnya harus di part 1 nya 😒 #dekat dengan myself 😁..

    Oiya… gomawo thor sdh buat story yang keceee badai ini..walaupun sy blm baca part2 sebelumnya tp alur cerita.y bs ditanggal soal.y dibantu pke video trailer di youtube jd sangaaaaat membantu 😘😊😀

    kyuhyun,Joo Hyun + cho family pasti akan kaget klo tw joon ae msh hidup apalagi klo tw joon ae sdh nikah “lagi”!!!

    Tdk sabar lht reaksi kyu nanti gimana, apakah dy akan marah atau mengikhlaskan joon ae u/mendapatkan kebahagiaan yg tdk pernah dirasakannya sewaktu bersama kyu #soktahuluChoN😁

    Ditunggu next partnya~ Fighting!!!

    (Mau lanjut baca part1&2dulu..annyeong~^^)

    Suka

  7. Sumpah demi apapun hati gue hancur bacanya kenapa konfliknya harus kek gini banget kan kasian juga sama anaknya aaa author ini seru banget sumpah

    Suka

  8. jangan buat mereka balikan plis apapun caranya jangan, gasemua masalah terselesaikan karna balikan, gada jg namanya kesempatan kedua mau senyesel apapun dia. plis jangan yha thour. aku gamau😭😭😭
    biarrin aja kyu merasakan mederita liat isabelle udh sama yg lain. kalo masalah joon hyun kan isabelle ttp ibunya mau dia udh nikah lg apa blm, mereka pasti bisa sama2 joon hyun jg bisa ngerasaiin kasi syg ibunya tp ga dengan cara dia rujuk yaaa.

    AKU NENTANG KERAS KALO MEREKA BALIKAN SUMPAHHHH

    Suka

  9. kasian bgt joohyun harus udah dewasa sebelum waktu nya
    masa kecilnya bukan diisi dengan tawa suka cita tp harus banyak mengerti prilaku orang dewasa sedih jadinya

    gue berharap joohyun pembuka jalan bertemunya joon ae n kyuhyun

    Suka

  10. sedih banget sama perlakuan Kyu ke anaknya.. ngerasa bersalah sih bersalah.. tapi itu keterlaluan.. Joonhyun kan cm anak kecil ga tau apa2.. kalo kena emosi mental gmana.. Kyu jahaaaatt huhu
    .
    aku penasaran banget sama kelanjutanya.. dan mau tau bgt gmana endingnya.. haha

    smangat thor

    Suka

  11. suka banget sama alur ceritanya, konfliknya buat penasaran, feellnya juga dapat. Alur Maju mundurnya juga jelas.
    Yah Penyesalan memang selalu menyapa dibelakangkan? Kyu Hyun setidaknya tampakkan sedikit rasa kasihnya pada JoonHyun bisa, kasihankan anak umur 6 tahun harus selalu mencoba memaklumi sikap dan perilaku ayahnya.
    Yah ampun Dennis Joon Ae HOT banget 😅
    Siwon terlalu sayang sama Joon Ae sampai overprotective gitu, tapi suka sih jarangkan ada kakak cowok yang sebegitunya sama adik sendiri.

    Suka

  12. Sedih banget jadi joon hyun
    Hrus nyas kyu memperlakukan anak nya dengan baik v dia malah kebalikan nya,,
    Kira” apa yg akan terjadi pda joon ae setelah ini,,
    Smga semua nya baik” saja

    Suka

  13. kasian bnget sma joonhyun,,,kyuhyun sniss bngeet diihh!! sking depresiny ngelampiasin k anakny sndrii jhaattny!!😑
    pas prtama bca agk pusing siihh siapa itu isabelle,,ehh trnyta isabelle itu joon ae duuhh ga kpikiran hahhaha😀

    Suka

  14. Ya ampun, di satu sisi aku sebel sma kyuhyyn karna dia egois tapi di lain sisi kasian sma kyuhyun karna dia nanggung beban yg berat. Tapi kasian juga sma joon hyun dia jadi mendem rasa sedihnya sendiri bacanya aja sampe nangis pasti berat bgt buat joon hyun udh jarang ketemu ayahnya sekalinya ketemu malah di gituin😩😭😭

    Suka

  15. Aduh joon hyun polos amat terus kok kyuhyun cuek gitu sih sama anaknya,,
    kasihan kyuhyun juga sih, dia tahunya joon ae ufmdah gak ada padahakn masih hidup 😦
    penasaran banget ama lanjutannya ditunggu nextnya thor fighting 😀

    Suka

  16. awal baca lupa sama alur cerita yang sbelumnya terus aku baca sampe abis eh ttep lupa juga hehe 😂 seharusnya kyuhyun ngga gitu ama joon hyun kasihan masih kecil yang lagi butuh² nya kasih sayang malah disakiti, kasihan+kesel ama kyuhyun kasihan karna penyesalannya dan kesel karna bersikap ngga peduli ama joon hyun.. ditunggu part selanjutnya authornim..

    Suka

  17. Itu kecelakaan terjadi dimana? Soalnya di part sebelumnya(time part 2 end) ga ada. Trs kenapa joon hyun dikasih ke kyuhyun, bukan diambil siwon… Apa krn join ae amnesia? Trs gimana ceritanya joon ae jadi nikah ama Dennis??
    Penasaran saya…. Penasaran!!”””!”!!”

    Suka

  18. sumpah kesel bener sama kyuhyun bisa2 nya bersikap sinis gitu ke joonhyun.. nangis thor bacanya pas joonhyun jln kkamr mandi sambil nangis hikshiks.. aghh lega sih joon hyun masih ngenalin foto eomma nya semoga mereka bisa ketemu dan inggatan joon ae kembali..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s