But, I Love You Part 12


cover-bily-12

 

Tittle : But, I Love You [Chapter 12]

Main Cast :

Shin Yoora

Cho Kyuhyun

Categori : NC18+, Hurt, Romance, Sad.

Author: Jeje

 

-=JJ=-

 

Before :

 

“Eiy pria itu benar-benar tidak bisa diharapkan. Seharusnya kau tidak menikah dengannya Yoora-ya” Ara menatapku prihatin sebelum terbahak-bahak, wanita ini memang terkadang tidak bisa menjaga kelakuannya. Sudah terlihat cantik dan glamour tapi tetap saja tertawanya tidak dapat terkontrol.

 

Berbeda dengannya yang terbahak-bahak, aku justru tertawa kecil saat mendengar ucapannya. Kenapa menikah dengannya ya? Jika difikirkan lagi, alasannya terdengar konyol. Apapun itu, sekarang aku tak pernah menyesali apapun. Aku mencintainya, tidakkah itu cukup?

 

-=JJ=-

 

Seoul, 2001

 

Langit Seoul begitu cerah di akhir bulan desember ini. Begitulah yang ada di fikiran Kyuhyun saat ia memutuskan menyudahi pekerjaannya dan berbalik menatap langit. Sebetulnya, pekerjaan itu menuntut untuk diselesaikan secepat mungkin, namun sayangnya Kyuhyun lebih terlena dengan rayuan langit saat ini.

 

Melihat langit yang begitu cerah membuat Kyuhyun tiba-tiba terkekeh. Mengapa langit bisa secerah itu? Apakah mereka sedang mengejek dirinya yang saat ini begitu suram? Ada secercah rasa cemburu dalam hati Kyuhyun, bagaimana bisa langit begitu cerah sementara ia sedang mencoba menghadapi badai di dalam dirinya? Memang terdengar konyol, tapi itu yang sedang Kyuhyun rasakan saat ini.

 

Hatinya tak tenang sementara fikirannya sedang menerka-nerka keputusan apa yang akan Shin Yoora buat. Apakah wanita itu akan tetap pada keinginannya? Ataukan wanita itu memilih menyerah dan membunuh anaknya? Sebetulnya, dari kedua pilihan itu, Kyuhyun sendiri tidak yakin apa yang harus ia lakukan. Jika Yoora memilih yang pertama, apakah ia harus benar-benar membunuh anaknya sendiri? Tapi bagaimana jika Yoora memilih yang kedua? Kyuhyun…

 

Tiba-tiba suara ponsel berdering, memecah seluruh konsentrasi Kyuhyun yang sedang berfikir keras tentang pilihan Shin Yoora. “Ah sial!” gerutunya. Dengan sedikit kesal, Kyuhyun mengambil ponselnya dan menjawab panggilan yang ternyata dari Shim Changmin itu.

 

Yah, akhirnya kau menjawab panggilanku! Oh Kyuhyun, kemana saja kau ini?” Kyuhyun bahkan belum sempat mengucapkan kata ‘halo’, namun dari ujung sana Shim Changmin sudah berbicara dengan cepat.

 

“Aku sibuk, tidak seperti dirimu yang memiliki banyak waktu luang.” Jawab Kyuhyun datar, kekesalannya sudah sedikit hilang saat kembali melihat awan berarak di langit sana. “Ada apa?” Tanya Kyuhyun lagi saat tak ada jawaban di ujung sana, mungkin Changmin sedang sibuk merutuki bagaimana mulut Kyuhyun yang sangat tajam itu.

 

“Ah iya, kau mengirimiku banyak pesan semalam. Adakah sesuatu yang terjadi?” Kyuhyun terdiam, berfikir apakah semalam ia benar-benar mengirimi Changmin banyak pesan? Otaknya tidak mengingat itu, yang ia ingat semalam ia mengurung diri di ruang kerjanya sebelum memberikan Yoora pilihan konyol itu. Namun dari pada mengundang banyak pertanyaan untuk Shim Changmin, akhirnya Kyuhyun hanya menjawab, “Tidak”.

 

“Kau yakin?” Kyuhyun dapat mendengar dari nada suara Changmin bahwa pria itu tidak percaya dan Kyuhyun tahu sekali bahwa ini adalah kebohongan tertolol yang pernah ia buat. Maka dari itu ia menghela nafas dan dengan cepat menjawab, “Aku tidak ingin membahasnya, Tuan Shim. Jadi bisakah kau tutup telepon ini? Semuanya masih bisa ku kendalikan, jadi kau tidak perlu sekhawatir itu.”

 

Terdengar helaan nafas dari ujung sana, “Aku tahu kau pasti akan mengatakan itu, jujur saja, aku tidak terlalu mengkhawatirkan Shin Yoora. Wanita itu terlalu kuat, kau tau? Yang justru ku khawatirkan adalah dirimu. Kau bisa saja tenggelam oleh rasa penyesalan setelah ini semua berakhir. Kau harus melepaskan itu semua Kyuhyun, sebelum ini terlalu jauh.”

 

“Tidak akan Shim Changmin, aku sudah sejauh ini. Aku tidak ingin menghentikannya. Katakan ini adalah yang terakhir, setelah ini aku tidak ingin apa-apa lagi.” Ucapan Kyuhyun membuat sambungan telepon itu sempat hening sesaat sebelum tiba-tiba Changmin berkata, “Ku harap kau bisa memaafkan mereka dan dirimu sendiri Kyuhyun.” Lalu telepon itu terputus.

 

Kyuhyun mencengram ponselnya dengan erat, sebelum ia membantingnya ke lantai. Ucapan Shim Changmin benar-benar telah memprovokasi dirinya. Bagaimana bisa Changmin justru menyuruhnya berhenti sementara pria itu tahu bahwa Kyuhyun terlalu sakit jika ini semua tak terbalaskan? Kyuhyun bahkan rela mengubur semua hal yang ia inginkan untuk melakukan itu semua. Jadi, bisakah Kyuhyun menyelesaikannya sampai akhir?

 

-=JJ=-

 

Menurut Yoora, waktu 3 bulan itu ternyata cukup cepat. Pertemuan pertamanya dengan Kyuhyun setelah bertahun-tahun di sini tak terasa sudah berlalu. Lalu mereka menghabiskan malam bersama, setelah itu menikah, dan kini mereka akan memiliki seorang anak. Jika dilihat dari luar memang sangat indah bukan? Sayangnya orang-orang itu tidak tahu saja bagaimana Yoora bisa bertahan hingga sejauh ini.

 

“Shin Yoora…” seketika suara Hyukjae memecah lamunannya. Mereka baru saja sampai di restoran bahkan mereka masih berdiri di luar. “Kau akan menunggu di ruanganku, atau—” Yoora dengan cepat memotong pertanyaan Hyukjae, “Ah aku akan berkeliling, jika kau memperbolehkan, mungkin aku bisa membantu sedikit.”

 

Hyukjae terlihat tidak senang, maka dari itu Yoora kembali berkata dengan cepat, “Ah, jika kau tidak suka tidak ap-” Yoora bahkan belum menyelesaikan kata-katanya, namun Hyukjae justru segera menyela, “Bukannya begitu, kau ini kan istrinya pemilik di sini. Bagaimana bisa kau bekerja?”

 

“Ah tidak apa-apa—”

 

“Tidak. Kau boleh lakukan apapun, asalkan tidak bekerja. Kau bukan pegawaiku lagi sekarang, Shin Yoora.” Hyukjae mengatakannya dengan tegas lalu segera masuk ke dalam sehingga Yoora tidak dapat membantah apapun lagi. Antar sepupu benar-benar tak ada bedanya, sama-sama tidak bisa dibantah, gerutu Yoora dalam hati.

 

-=JJ=-

 

Ya! Ryeowook-ah, bukankah yang sedang bersama bos itu Shin Yoora?” Ryeowook yang tadinya masih asik membersihkan meja, langsung menoleh saat Junhyuk—rekannya—berkata seperti itu. Matanya mengikuti arah mata Junhyuk yang sedang menatap keluar jendela.

 

Ye, matjayo itu Shin Yoora.” Ucap Kim Ryeowook membenarkan.

 

“Nah, lalu mengapa ia kesini bersama bos? Apakah ia akan kembali bekerja?”Junhyuk menatap Ryeowook penasaran namun Ryeowook justru membalasnya dengan memutar bola matanya malas.

 

“Kau ini memang tak tahu apa-apa ya.” Ucap Ryeowook dengan tatapan prihatin, “Kau benar-benar tidak tahu bahwa Yoora memiliki hubungan dengan sanjangnim? Jadi mana mungkin ia bekerja lagi disini bodoh!” Lanjut Ryeowook.

 

Mata Junhyuk melebar, “Y-ye? Sejak kapan Yoora memiliki hubungan dengan Hyukjae sanjangnim?” Tanyanya heran.

 

Aish, sudah ku bilang untuk datang ke acara semalam. Makanya kau jadi tidak update seperti itu!” Ryeowook benar-benar merutuki temannya. Bagaimana bisa pria itu selalu sakit disaat acara penting seperti itu?

 

“Bukan dengan Hyukjae sanjangnim, tapi dengan Kyuhyun sanjangnim. Semalam mereka datang bersama ke acara itu.Setidaknya jika kau tidak datang semalam, kau bisa menonton berita!”Lanjut Ryeowook.

 

“Mana bisa! Aku sibuk. Rumah ku jauh, tidak seperti dirimu yang sempat-sempatnya menonton berita di pagi hari.” Balas Junhyuk. Kemudian ia kembali menatap ke luar, menatap Hyukjae dan Yoora yang entah sedang berbicara apa disana, “Jadi apa hubungan antara Kyuhyun sanjangnim dan Yoora?” Tanyanya lagi dengan rasa penasaran yang sama.

 

“Ada yang bilang mereka sepasang kekasih bahkan ada yang bilang juga mereka menikah. Aku tidak tahu mana yang benar, tapi ku rasa ada hubungannya dengan pemecatan Yoora tiga bulan yang lalu.” Jawab Ryeowook sambil kembali membersihkan meja.

 

“Kau tidak curiga Ryeowook-ah? Melihat Yoora kemari dan berbicara seperti itu dengan Hyukjae sanjangnim membuatku berfikir bahwa bisa saja restoran ini akan dipindah tangankan pada Yoora. Bisa sajakan, lagipula Hyukjae sanjangnim sudah terlalu sibuk dengan perusahaannya.” Ucap Junhyuk dengan mata menerawang.

 

“Apapun itu, asalkan aku masih bisa bekerja disini, aku tak masalah.” Jawab Ryeowook enteng. “Yah, yah! Mereka masuk! Aku baru ingat bahwa Shin Donghee belum datang. Aku harus menelepon Shindong dulu—”

 

“Choi Junhyuk!” Namun sayangnya belum sempat Junhyuk menelepon Shindong, keberadaan dirinya sudah lebih dulu diketahui oleh Hyukjae. Dengan gerakan lambat ia berbalik dan tersenyum menyapa kedatangan Hyukjae, “Selamat pagi bos” Ryeowook yang sedari tadi sudah dalam posisi siap hanya bisa menunduk dan terkekeh, menertawakan rekannya itu.

 

“Bilang pada Shindong jika ia tidak datang dalam waktu 15 menit, aku rasa aku akan memikirkan surat pemecatan untuknya.” Ucap Hyukjae lalu segera berbalik untuk menuju ke lantai dua dimana ruangannya berada, namun baru beberapa langkah, ia berhenti dan kembali menatap Junhyuk, “Ah, kau kenal Yoora kan? Temani dia dan jangan biarkan ia bekerja sedikitpun!” Perintah Hyukjae yang langsung diiyakan oleh Junhyuk, lalu pria itu kembali melanjutkan langkahnya setelah ia sedikit tersenyum pada Yoora.

 

“Hai…” Yoora tersenyum canggung saat menyapa mantan atasannya itu. Bagaimana tidak? Dulu ia adalah pegawai baru yang selalu ditindas meski hanya bekerja beberapa bulan karena Kyuhyunlah yang memecatnya. Dan kini ia kembali datang bukan sebagai pegawai lagi, rasanya sedikit aneh, apalagi dulu ia tidak banyak bertegur sapa dengan mereka semua.

 

Annyeong haseyo, nona.” Junhyuk membungkukkan tubuhnya dan ia memastikan dirinya sendiri telah menyapa Yoora dengan benar.

 

Inilah yang Yoora tidak suka, ia hanya menikah dengan Kyuhyun, namun mengapa mereka memperlakukannya berbeda? Mereka mulai sangat baik padanya, padahal dulu tidak sama sekali. Ini semua memang terbalik sejak ia menikah dengan Kyuhyun. Mereka yang terlihat menindasnya dulu sekarang berubah menjadi cukup baik, sementara Kyuhyun yang dulu sangat baik sekarang justru berubah menindasnya. Kejam sekali.

 

A-animnida, jangan seperti itu. Perlakukan aku seperti biasanya saja.” Tolak Yoora dengan halus, namun justru Junhyuk tidak mengindahkannya, “Animnida, nona. Sekarang sudah berbeda, bisa dibilang, sekarang Anda adalah atasan kami.” Dan meski Yoora telah menolaknya beberapa kali, Junhyuk tetap melakukan hal yang sama.

 

-=JJ=-

 

Dapur ini sudah terlihat lenggang, berbeda dengan beberapa jam yang lalu. Mereka baru saja melewati jam makan siang yang cukup ramai. Biasanya, dulu saat Yoora masih bekerja disini, Yoora akan mencuci piring yang jumlahnya tak terhitung lagi. Lalu setelah semua selesai, ia akan menyelundup sebentar ke luar bangunan untuk setidaknya merenggangkan badan. Berbeda dengan pegawai lain yang justru berkumpul dan menikmati makan siang hasil buatan Kim Ryeowook—salah satu chef andalan disini. Hyukjae terlalu baik untuk membiarkan mereka menghabiskan bahan makanan restoran ini.

 

“Kau menyiapkan makan siang?” Tanya Yoora saat melihat Ryeowook yang masih sibuk memasak bahkan setelah jam makan siang berlalu.

 

Ryeowook menatap Yoora sekilas sebelum kembali fokus pada masakannya, “Begitulah.” Jawab Ryeowook seadanya sementara Yoora hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka terdiam, menyisakan suara spatula dengan pan yang Ryeowook buat.

 

“Kau terlihat lebih…cerah?” Ucap Ryeowook tiba-tiba, tentu saja membuat Yoora mengernyit heran. “Memangnya dulu aku sangat suram ya?” Tanya Yoora.

 

“Tidak, bukannya seperti itu.” Sanggahnya, lalu kembali melanjutkan, “Hanya saja, kau terlihat…hidup. Dulu kau selalu diam dan menjauhkan diri, sekarang kau terlihat banyak berbicara dan tertawa.”

 

“Wow, aku tidak tahu kau memperhatikanku sebanyak itu, Ryeowook-ssi.” Balas Yoora dengan sedikit kekehan.

 

Jika dilihat dari jauh, mereka memang terlihat dekat satu sama lain. Sayangnya mata bisa menipu siapapun. Mereka tidak dekat, hanya beberapa kali terlibat obrolan tanpa arah. Lagi pula, Yoora terlalu sibuk mengasihani dirinya sendiri saat itu, hingga ia tak sempat mencari teman seorang pun.

 

“Aku memang suka memperhatikan banyak orang, ibaratnya aku dan dirimu yang dulu itu berbanding 180 derajat.” Jawab Ryeowook yang seakan menyanggah kata-kata Yoora sebelumnya. Yoora tertawa, sepertinya Ryeowook masih memiliki mulut yang berbisa.

 

“Ku dengar kau dekat dengan Kyuhyun sanjangnim, benar?” Tanya Ryeowook. Sejujurnya mencampuri kehidupan orang lain adalah hal yang dilarang dalam hidupnya, namun ia sudah terlalu penasaran.”Kalian..sepasang kekasih?” Tanya Ryeowook lagi.

 

Yoora terkekeh mendengar itu, “Kami menikah.” Jawabnya enteng berbeda dengan hatinya yang justru miris mendengar itu. Menikah? Omong kosong dari mana itu? Ia tak pernah merasakan kehidupan pernikahan bahkan setelah Kyuhyun mengucapkan janji sehidup semati dihadapan Tuhan.

 

“Wow, harusnya aku lebih berhati-hati dengan ucapanku…nyonya” sindir Ryeowook namun Yoora justru terkekeh mendengarnya. Kejadian ini tiba-tiba membuat Yoora berfikir, mungkin memiliki seorang teman ada baiknya juga. Kenapa dulu ia tidak meminta Ryeowook untuk menjadi temannya? Padahal Ryeowook termasuk seorang yang bisa diajak berdiskusi.

 

“Hey, apa yang kau masak? Ajari aku!”

 

-=JJ=-

 

Matahari belum lama tenggelam, namun Kyuhyun sudah terlihat berjalan disepanjang lorong menuju penthouse-nya. Entah apa yang sedang pria itu fikirkan hingga membuatnya memutuskan untuk pulang lebih cepat. Lelah? Itu adalah alasan konyol. Kita semua tahu bahwa sebenarnya pria itu hanya ingin secepat mungkin mengetahui jawaban Yoora. Semakin cepat ia pulang, semakin Yoora terdesak. Tidakkah itu terdengar menyenangkan?

 

Sayangnya, keinginan itu harus tertahan.Saat Kyuhyun sampai di rumahnya, ia tak menemukan seorang pun berada disana. Rumah itu terlihat lenggang dan sepi, seakan tak ada jiwa yang menghuninya selama beberapa jam. Bahkan, kamar mereka masih terlihat rapih saat Kyuhyun ke atas bermaksud mencari Yoora.

 

Hatinya bergemuruh, otaknya menerka-nerka apakah Shin Yoora melarikan diri atau tidak. Dengan cepat ia membuka lemari pakaian yang ada disana dan dilihatnya pakaian Yoora masih tertata rapih. Berarti ada kemungkinan wanita itu tidak melarikan diri. Tapi kemana? Yoora tidak memiliki siapapun yang bisa menjadi tempatnya bersembunyi.

 

Kyuhyun mengerang, Shin Yoora dan kelakuannya memang benar-benar merepotkan. Tanpa fikir panjang lagi, ia mengambil kunci mobilnya. Mungkin wanita itu pergi tidak terlalu jauh, mungkin saja ia hanya pergi ke minimarket. Ya, apapun itu, setidaknya Kyuhyun harus memastikan terlebih dahulu keberadaannya.

 

Namun suara ketikan password membuat Kyuhyun menghentikan langkahnya. Wanita itu sudah kembali. Dan tidak sampai dua menit, wajah Yoora terlihat oleh jarak pandangnya. Shin Yoora. Wanita yang mampu memporak-porandakan kehidupannya.

 

-=JJ=-

 

Berada di luar seharian ini mungkin menjadi pilihan terbaik Yoora saat itu. Ia bisa berbicara dengan banyak orang, tertawa dengan bebas, belajar banyak hal. Namun sayangnya, beberapa menit yang lalu presepsi itu berubah seiring dengan matanya yang menangkap wajah Kyuhyun di rumah malam ini. Kyuhyun pulang lebih cepat, bukankah itu disebut bencana?

 

Jantung Yoora berdegub dengan sangat cepat, bahkan tanpa Kyuhyun mengeluarkan kata-kata apapun. Ingat, keterdiaman Kyuhyun seperti itu memiliki arti yang jauh lebih menyeramkan dari pada pria itu membuka mulutnya. Maka dengan itu, Yoora memberanikan diri untuk memacahkan suasana ini, “K-kau akan…pergi?” Matanya melirik kunci mobil yang ada di tangan Kyuhyun lalu beralih kembali menatap pria itu.

 

Kyuhyun masih diam, sepertinya tidak memiliki niat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan Yoora. Sungguh, bisakah seseorang membuat Yoora tenggelam ke dalam tanah sekarang juga? Yah, tentu saja itu pemikiran konyol mengingat mereka berada di lantai 16 saat ini, tapi Yoora benar-benar mengharapkannya.

 

“Darimana saja kau?” Selama beberapa menit berlalu dengan keheningan, akhirnya Kyuhyun membuka mulutnya.

 

“A…aku…” Yoora menelan ludahnya, mengapa mengatakan pergi ke restoran begitu sulit?

 

Menolak mendengar jawaban Yoora, Kyuhyun menyela ucapan Yoora dengan cepat, “Apa pernah ku katakan kau bisa pergi seenaknya?” Tanya Kyuhyun sarkas. Pria itu melempar kunci mobilnya ke meja kaca depan TV sebelum terdengar bunyi retakan dari arah sana. Sial. Yoora hampir membayangkan, bagaimana jika kunci mobil itu terlempar ke kepalanya?

 

“Shin Yoora.” Kyuhyun berjalan perlahan mengampiri Yoora dan entah kenapa wanita itu justru merasa yang menghampirinya bukanlah seseorang yang sangat ia cintai, melainkan seorang malaikat pencabut nyawa. “Kau fikir, kau bisa melarikan diri dariku?” Alis Kyuhyun menaik satu, wajahnya mengejek Yoora habis-habisan. Seakan disana tercetak jelas bahwa ‘Aku menang dan kau tak bisa lakukan apapun’.

 

Semakin Kyuhyun maju melangkah, semakin tubuh Yoora bergetar. Hidup bersama Kyuhyun selama dua bulan, kembali mengajarkan Yoora apa itu rasa takut, rasa sakit, dan rasa pedih. Maka dari itu, tanpa sadar, Yoora melangkah mundur. Siapa tahu Tuhan berpihak padanya.

 

“Shin Yoora, kau mulai melunjak semenjak aku melunak.”Kyuhyun mendesis, hatinya terlalu panas saat ini. Matanya menggelap dengan kilasan balik masa kelamnya, menutup mata Kyuhyun untuk melihat bahwa ini bukan sepatutnya yang harus ia lakukan.

 

Sialnya disaat Kyuhyun semakin menggila seperti itu, langkah Yoora justru terhalangi oleh dinding sialan. Mengapa Tuhan tak pernah berpihak padanya?

 

“Kenapa kau menjadi semena-mena, Yoo? Apa aku kelihatan mulai terlalu baik?” Jarak mereka semakin dekatbahkan jika Kyuhyun melangkah sedikit lagi, ia bisa menggapai wajah Yoora. Peluh menetes di permukaan kulit Yoora, wajah Yoora bahkan terlalu pias untuk dikatakan bahwa ia masih hidup. Namun Kyuhyun seakan tak peduli, matanya telah buta oleh pesakitan yang dipendamnya.

 

Tangan Kyuhyun terulur meraih wajah Yoora, “Sayang, apa aku mulai terlalu baik sehingga kau bisa seenaknya seperti ini?” Tanya Kyuhyun pelan namun tidak membuat Yoora menjadi tenang. Wanita itu justru semakin ketakutan. Kyuhyun yang seperti ini bukanlah hal yang bisa ia hadapi sendirian. Meski ia sudah terbiasa selama ini dengan cacian dan makian Kyuhyun, tapi tetap saja itu hal yang berbeda.

 

“A…aku—” Yoora membuka suara namun sepertinya itu pilihan yang salah karena tangan Kyuhyun yang awalnya hanya mengelus pipinya kini berubah mencengkram pipinya dengan kencang. “Aku tidak menyuruhmu bicara Shin Yoora!” Bentak Kyuhyun sebelum ia menghempaskan Yoora dengan sangat kencang ke lantai.

 

Wanita itu mengerang. Dihempaskan di atas ranjang seperti kemarin saja sudah sangat menyakitkan, bagaimana jika ke lantai? Beruntung, perut Yoora tidak sampai menghantam lantai. Biarlah lengan Yoora memar atau bahkan patah sekalipun, yang penting anaknya baik-baik saja.

 

Kyuhyun berjongkok, kembali meraih wajah Shin Yoora. “Jadi, sayang, apa pilihanmu?” Ia mengelus wajah Yoora dengan sangat halus. Namun Yoora justru semakin menjatuhkan air matanya.”Aku tidak menyuruhmu menangis, Yoo. Aku hanya bertanya apa pilihanmu.” Katanya lagi sambil menghapus air mata Yoora pelan.

 

“A…aku—”

 

“A…aku—tidak akan menggugurkannya Kyuhyun-ah.” Jawab Yoora dengan sorot mata yakin menatap Kyuhyun. Kemudian keduanya terdiam menyisakan hening yang menakutkan untuk Yoora. Yoora bahkan lebih memilih berada di roller coaster dibanding harus menanti-nanti jawaban Kyuhyun atas keputusannya.

 

Hingga di detik selanjutnya, Kyuhyun menyunggingkan senyum miringnya. “Jadi…” Kyuhyun menggantungkan ucapannya membuat jantung Yoora berdegub semakin kencang.

 

“Haruskah aku sendiri yang membunuhnya?”

 

-=JJ=-

 

Hyukjae baru saja sampai di rumahnya saat ia melihat sebuah paperbag di jok belakang mobilnya. Ia mengerang, “Ah makanan Yoora” ucapnya kesal. Mengapa ia dan Yoora sampai lupa tentang paperbag itu?

 

Saat di restoran tadi, Yoora belajar memasak bersama Ryeowook. Dan sepertinya yang berada di dalam paperbag itu untuk Kyuhyun karena Yoora menghiasnya dengan sangat cantik. Ah, mengapa mereka bisa melupakan hal yang penting seperti itu? Padahal Yoora sudah mengatakan pada Hyukjae untuk mengingatkan tentang paperbag itu.

 

“Yah, sepertinya aku memang harus kembali lagi.” Meski sedikit malas harus kembali lagi, namun jika diingatkan bahwa ia akan segera bertemu Yoora lagi membuat hatinya bersorak-sorai.

 

Akhirnya, tanpa banyak pertimbangan lagi, ia memutar stir mobilnya dan kembali menuju apartement Kyuhyun. Mungkin ini memang takdir baik untuk Lee Hyukjae atau memang…ini sebetulnya takdir baik untuk Shin Yoora?

 

-=JJ=-

 

“Haruskah aku sendiri yang membunuhnya?”

 

Kyuhyun menarik Yoora berdiri dengan sangat kasar. Pria itu langsung menarik wajah Yoora dan menciumnya habis-habisan bahkan sebelum Yoora sempat berdiri dengan benar. Tangannya yang berada bahu Yoora mendorong gadis itu hingga menabrak hiasan kaca hingga pecah. Yoora mengerang kesakitan, namun Kyuhyun justru memanfaatkan hal itu untuk membelit lidah Yoora.

 

Pria itu menjauhkan bibirnya dari bibir Yoora, bermaksud beralih pada telinga gadis itu. Bibir Yoora membengkak merah dengan sedikit darah di ujungnya. Kyuhyun benar-benar marah kali ini, bahkan ini terasa berbeda seperti sebulan yang lalu.

 

Tangan Kyuhyun menjangkau apapun yang ia bisa. Tidak lembut sama sekali. Bahkan jika Kyuhyun mencumbu Yoora sebanyak apapun, Yoora tetap tidak bisa merasakan apa-apa selain rasa sakit.

 

Jari Kyuhyun mengoyak vaginanya, membuatnya terasa robek menjadi dua bagian. Ini sakit, namun mulut Yoora terlalu kelu untuk mengatakannya.Dan ia yakin sekali, jika ia berteriak kesakitanpun, Kyuhyun tak mungkin segera menghentikannya.

 

“Dengar Yoo, kau tidak boleh dan tak akan pernah bisa melahirkan anak itu” desis Kyuhyun di telinganya. Lalu kemudian Kyuhyun mendorong Yoora dengan kencang ke sebuah meja.

 

Kepala Yoora menghantamnya dengan cukup keras namun hantaman itu belum merenggut kesadaran Yoora. Gadis itu bahkan masih mampu menatap mata Kyuhyun dengan lemah. “Kenapa? Apa salahnya? Kenapa…kau seperti ini? Dia tak bersalah.” Ucap Yoora dengan lemah.

 

“Jika…jika kau tidak menginginkannya…jangan membunuhnya! Jika kau tidak menginginkannya, setidaknya biarkan aku saja yang membesarkannya!” Tambahnya lagi. Yoora sudah memikirkannya. Jika memang alasannya seperti itu, lebih baik Kyuhyun melepaskan Yoora dan membiarkan Yoora tetap membesarkan anaknya.

 

 

Kyuhyun terkekeh, ucapan Yoora terdengar sangat konyol di telinganya. “Kau ingin membesarkannya?” Kyuhyun menyibak rambutnya sebelum kembali menatap Yoora, “Justru itu yang tidak ku inginkan Shin Yoora!” Kata Kyuhyun.

 

“Jangankan membesarkannya, anakku berada di perutmu saja aku sudah tidak sudi.” Lanjut Kyuhyun di telinga Yoora.

 

Kyuhyun fikir ia sempat berhalusinasi saat melihat Yoora menyunggingkan senyum miringnya, “Bisakah…memang bisakah ia memilih berada dimana?” Wanita itu menghela nafas sambil mengusap perutnya, “Mungkin jika…jika ia tahu bahwa ayahnya…seperti ini, mungkin ia juga akan menolak lahir ke dunia ini.”

 

“Jadi…tidakkah lebih baik kau membunuhnya dan membunuhku sekaligus?” Lanjut Yoora dengan tatapan yang menantang. Kyuhyun seperti minyak dan kata-kata Yoora seperti api. Kyuhyun tersulut dan terbakarlah jiwanya mendengar kata-kata Yoora.

 

“Hah, kau benar-benar ingin mati ya?”

 

-=JJ=-

 

Hyukjae menghabiskan waktu 30 menit berkendara untuk sampai kembali ke apatemen Kyuhyun. Melelahkan, namun Hyukjae tetap melakukannya. Berhubung ini kesempatan langka bisa melihat wajah Yoora lagi. Lagi pula, firasatnya entah mengapa terasa aneh malam ini.

 

Beruntung ia memiliki kaki yang lumayan panjang, sehingga tak perlu waktu lama baginya untuk sampai di apartemen nomor 607 ini. Tanpa ragu, ia menekan bel disana sekali.

 

Tak ada jawaban.

 

Untuk yang kedua kalinya ia menekan bel. Di fikirannya mungkin Shin Yoora sedang berada di kamar sehingga tak mendengar suara bel.

 

Masih tak ada jawaban.

 

Hyukjae kembali menekan bel untuk yang ketiga kalinya. Firasatnya semakin buruk, maka dengan itu tanpa peduli ini sudah malam, ia menekan bel terus-menerus dengan frekuensi waktu yang cukup cepat.

 

Hingga 10 menit berikutnya, masih tetap tak ada jawaban. Apa Shin Yoora pergi?Apa ada sesuatu yang terjadi pada Yoora? Hatinya bertanya-tanya.

 

Dengan cepat ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Kyuhyun. Namun hanya terdengar suara wanita yang mengoceh di ujung sana. Sial. Kenapa juga ia harus tak memiliki nomor Yoora?

 

Satu nama terlintas dalam fikiran Hyukjae. Shim Changmin. Pria itu pasti tau.Beruntung panggilan tersebut langsung dijawab didering pertama.

 

“Halo Shim Changmin. Kau tau password apartemen Kyuhyun?”Tanya Hyukjae tanpa basa-basi.

 

Changmin tentu saja terkejut mendengar pertanyaan itu, aneh sekali. “Mana ku tahu, memang aku istrinya?” Jawab Changmin sekenanya.“Memangnya ada apa?” Tanya Changmin.

 

“Ah aku ingin mengantarkan makanan yang dibuat Yoora di restoran tadi. Tapi…” Hyukjae menghentikan ucapannya, berfikir apakah ia harus mengungkapkan kekhawatiran konyolnya atau tidak.

 

“Tapi…?” Changmin mengulang kata terakhir yang digantung oleh Hyukjae.

 

“Ia tidak membuka pintunya bahkan setelah aku menekan bel beratus-ratus kali. Aku hanya…khawatir ada sesuatu yang terjadi di dalam.”Hyukjae akhirnya mengutarakan kekhawatirannya. Biarlah ia dikatakan paranoid, toh ia hanya takut terjadi apa-apa.

 

“Aneh, yang ku tahu Yoora memang selalu disana. Ia bahkan jangan sekali meninggalkan apartemen, apalagi saat malam seperti…”Changmin tiba-tiba menghentikan ucapannya. Memorinya tiba-tiba memproses kata-kata Kyuhyun pagi ini padanya.

 

Katakan ini adalah yang terakhir, setelah ini aku tidak ingin apa-apa lagi.

 

“Hyukjae, sekarang lebih baik kau ke bagian keamanan. Bilang alasan apapun agar mereka mau mendobrak pintu itu untukmu. Cepat!” Hyukjae terkejut mendengar suara lantang Changmin yang sangat cepat di telinganya. Namun ia segera menyadarkan dirinya dan berlari menuju ruang keamanan secepat kilat.

 

-=JJ=-

 

“Kau yakin?” Tanya seorang pria berusia awal 40 tahunan itu entah untuk yang keberapa kali. Ia masih tetap saja menatap Hyukjae curiga meski Hyukjae telah menjelaskan beribu-ribu kali. Entah apa yang harus Hyukjae katakan lagi agar pria itu percaya.

 

“Benar, tadi aku meneleponnya dan tiba-tiba panggilan terputus. Aku takut sesuatu hal terjadi padanya karena ia berteriak sebelum sambungan telepon itu benar-benar terputus.” Tentu saja ini karangan karena Hyukjae sudah beberapa kali mengecek daftar kontaknya dan tidak ada sama sekali nomor Yoora disana.

 

“Baiklah, tunggu sebentar.” Pria itu mengeluarkan sebuah alat yang entah apa itu. Lalu mengotak-atik alat itu dan password-nya sebelum terdengar bunyi yang menandakan bahwa pintu sudah tidak terkunci.

 

Tanpa banyak kata lagi, Hyukjae sudah melesat masuk ke dalam. Namun langkah Hyukjae terhenti di ujung lorong masuk. Matanya melebar dengan tak percaya.

 

“Bagaimana? Apa terjadi sesuatu?”Suara Changmin dari earphone yang ia pakai menghentaknya dari lamunan.

 

“Changmin-ah. Sepertinya telah terjadi badai di rumah Kyuhyun.” Ucap Hyukjae pelan. Matanya mengedar melihat seluruh ruangan yang sangat…sangat berantakan. Barang tidak berada pada tempatnya, beberapa porselen dan kaca pecah, dan bahkan TV LCD itu layarnya retak memanjang. Hyukjae tak tahu apa yang sebetulnya terjadi, tapi Hyukjae yakin satu hal bahwa Yoora tidak baik-baik saja.

 

Hyukjae berlari mengelilingi rumah itu namun tidak menemukan siapapun. Tidak Yoora bahkan Kyuhun sekalipun. Namun pandangan matanya akhirnya berhenti pada tangga yang terdapat banyak bercak darah.

 

Tanpa fikir panjang Hyukjae segera berlari ke lantai atas. Ia masuk ke dalam kamar Kyuhyun dan hanya menemukan keadaan yang sama seperti di bawah. Kemudian matanya beralih ke arah kamar mandi yang lampunya menyala.

 

Dengan langkah ragu ia berjalan kesana. Bukan apa-apa, ia hanya takut bahwa hal mengerikanlah yang akan ia lihat di dalam sana. Tapi ia tetap melangkah, entah mengapa hatinya yakin bahwa Yoora berada disana. Menunggu pertolongan.

 

Hyukjae berdiri di depan kamar mandi, namun ia tidak melihat apa-apa. Dengan sedikit keberanian lagi, Hyukjae memilih melongokkan kepalanya ke dalam. Dan benar apa yang di duganya. Hal mengerikan itu benar-benar ada disana.

 

Shin Yoora. Dengan tubuh telanjangnya terbaring dengan darah yang cukup banyak di dalam bath up.

 

-=JJ=-

 

“Aku sudah membawanya ke rumah sakit Shim Changmin. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, tapi ku yakin itu sangat buruk”

 

“Baik kau urus itu dulu, masih ada yang harus aku lakukan. Nanti aku akan kesana.” Ucap Changmin terakhir sebelum memutuskan panggilan tersebut.

 

Mata dokter muda itu kini beralih menatap seorang pria yang datang padanya beberapa saat yang lalu dalam keadaan hampir sekarat. Pria itu terbaring lemah dengan bantuan alat pernafasan di hidungnya dan infus di tangannya, hanya itu yang dapat Changmin berikan pada pria yang baru saja hampir membunuh dua orang sekaligus itu. Pria yang baru saja hampir membunuh anak dan istrinya sendiri. Cho Kyuhyun.

 

Mungkin hanya berbeda 10 menit setelah Hyukjae berhasil masuk ke dalam apartemen Kyuhyun, sang pemilik justru datang ke rumahnya dengan keadaan yang cukup…kacau. Bajunya berantakan bahkan mantelnya pun tak mampu menutupi darah yang berbekas di pakaiannya. Dia datang dengan nafas yang kelihatannya akan habis jika Changmin tidak segera membawanya ke dalam dan memberikan alat bantu pernafasan itu.

 

Bisa dibilang, Kyuhyun hampir mati setelah hampir membunuh kedua orang yang tanpa dia sadari sangat berarti dalam hidupnya. Entah bagaimana Changmin harus mengatakannya. Dalam sisi kemanusiaan tentu ini salah besar, namun dalam sisi kesehatan Kyuhyun, pria itu tidak sepenuhnya salah. Pria itu hanya telalu tenggelam dalam pesakitannya hingga melakukan kesalahan besar.

 

Tanpa banyak yang tahu, kejadian 16 tahun yang lalu membuatnya berubah menjadi sosok yang kejam. Matanya menyaksikan sendiri kejahatan ayah tirinya, kematian ibu dan adiknya, lalu harus menerima kenyataan di usianya yang ke 6 ia harus hidup sebatang kara. Tanpa mereka sadari, sosoknya berubah perlahan menjadi monster, terlebih saat seorang pria yang mengaku teman ibunya datang.

 

Pria itu memperkeruh keadaan, mempengaruhi Kyuhyun dengan kata-kata manis sampai pahit hingga membuat Kyuhyun seakan terlahir kembali menjadi manusia tak berperasaan. Ia mendekati Yoora, bukan bermaksud untuk berteman atau bahkan menyukai gadis itu, tapi untuk membuat Yoora juga merasakan penderitaannya.

 

Dendam itu semakin tumbuh setiap kali ia melihat tawa Yoora. Bahkan Kyuhyun menahan mati-matian untuk tidak segera mendorong Yoora dari atap sekolah saat itu. Namun sayangnya, seiring intensitas pertemuannya dengan Yoora, Kyuhyun menyadari, bahwa Yoora tidak sebahagia itu.

 

Yoora kesakitan, sama sepertinya. Sama sakitnya seperti yang Kyuhyun rasakan. Hati Kyuhyun sedikit demi sedikit mulai meluluh. Maka dari itu pria bermarga Lee itu tidak tinggal diam. Akhirnya ia membawa Kyuhyun, memisahkannya dengan Yoora dan mendidik laki-laki itu untuk tidak pernah gentar sedikitpun.

 

Pada akhirnya, pria bermarga Lee itu berhasil membuat Kyuhyun berubah menjadi monster yang sebenarnya. Psikopat gila yang mencari kepuasan dengan membunuh seseorang yang dibencinya. Dia berhasil membuat Kyuhyun membunuh ayah tirinya, ayah Shin Yoora.

 

Belum sampai di situ. Pria bermarga Lee itu juga mempengaruhi Kyuhyun bahwa ia telah ditipu oleh Yoora. Dia mengatakan bahwa Yoora sangat bahagia, bahkan terlalu bahagia sementara Kyuhyun mengerang kesakitan. Lalu timbullah rasa untuk menyiksa Yoora dalam diri Kyuhyun. Namun nyatanya ada dalam sisi Kyuhyun yang menentangnya. Jadi katakanlah, Kyuhyun memiliki dua sisi yang berbeda, yang bisa mengubahnya menjadi sosok yang berbeda pula.

 

Itulah awalnya dia datang pada Changmin. Pria itu mulai kesakitan setiap memikirkan bahwa Yoora harus mati ditangannya, setiap memikirkan bahwa ia harus membuat Yoora menangis darah tiap harinya. Pria itu mengalami sesak nafas dan terkadang tak mendengar siapapun saat mengalami serangan.

 

Namun sembuh bukanlah hal yang diinginkan Kyuhyun, pria itu datang pada Changmin untuk mendapatkan obat pereda sakitnya. Dan sialnya pria itu telah mengonsumsinya bertahun-tahun tanpa kira-kira. Dia terlalu sering mengonsumsi obat itu dan berefek melemahkan jantungnya sendiri.

 

Meski tak terlalu parah awalnya, namun ini semua bertahap. Semakin lama, semakin membuat jantung Kyuhyun lemah. Tapi pria itu sama sekali tak menghiraukannya. Mungkin tidak mematikan sekarang, namun jika Kyuhyun mengonsumsinya terus menerus, Changmin yakin dalam beberapa tahun pria itu akan meninggal karena jantungnya yang tiba-tiba berhenti.

 

“Pria bodoh. Inilah yang ku khawatirkan disaat kau tak ingin menghentikannya.” Desis Changmin dengan mata yang berkaca-kaca. Meski Kyuhyun sangat menyebalkan, namun Changmin sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Changmin menyayanginya bahkan meski Kyuhyun selalu mencacinya setiap hari.

 

Di detik selanjutnya, mata Changmin menangkap pergerakan tangan Kyuhyun. Detik selanjutnya, mata Changmin menangkap mata Kyuhyun yang mulai bergerak. Detik selanjutnya, akhirnya mata Kyuhyun terbuka.

 

“Kau sadar? Bisa melihatku? Mendengar suara ku?” Tanya Changmin bertubi-tubi namun Kyuhyun hanya menanggapinya dengan anggukan.

 

“Kita ke rumah sakit, sekarang.” Ucap Changmin tanpa fikir lagi, namun tiba-tiba tangan Kyuhyun menghentikan langkahnya.

 

-=JJ=-

 

Hyukjae menunggu dengan was-was didepan ruang UGD. Bahkan ia tak tenang hanya untuk duduk saja, ini sudah hampir 1 jam namun tak ada seorangpun yang keluar dari dalam sana. Hatinya juga menggerutu dengan kesal karena Changmin juga tak kunjung datang sejak ia memutuskan teleponnya sejam yang lalu. Sial.

 

Hyukjae mengacak rambutnya saat ingatan beberapa saat lalu kembali menghampiri otaknya. Keadaan Yoora yang begitu mengenaskan. Banyak luka sayatan ditubuhnya, kepalanya terluka parah, Hyukjae benar-benar takut bahwa saat itu ia justru menemukan mayat Yoora. Namun untunglah wanita itu masih bernafas, meski lemah Hyukjae masih bisa merasakannya.

 

Dan juga ada satu hal yang baru saja Hyukjae tahu. Wanita itu… Hyukjae baru tahu bahwa Yoora sedang mengandung. Meski belum terlalu besar, Hyukjae masih bisa menangkap bahwa perut wanita itu cukup bulat. Tuhan, hatinya sibuk merutuki siapapun yang begitu tega melakukan ini pada Yoora. Orang itu pintar sekali menemukan waktu yang tepat, disaat Kyuhyun sedang tidak ada. Benar-benar.

 

Suara pintu yang terbuka membuat Hyukjae segera berbalik dan menemukan seorang dokter wanita disana. “Bagaimana keadaannya?” Tanya Hyukjae cepat.

 

Wanita itu menghela nafas, “Bersyukur bahwa kau mengantarnya dengan cepat. Dia kehabisan darah namun kami masih bisa mengatasinya. Tubuhnya terluka banyak apalagi kepalanya, namun tidak membahayakan. Dan yang paling ku syukuri bahwa bayinya masih tetap aman didalam perut ibunya. Bayi yang sungguh kuat. Meski sempat shock dan lemah namun itu tidak terlalu berpengaruh selama ibunya terus membaik. Tapi…”

 

Ucapan dokter yang menggantung itu membuat Hyukjae yang baru saja menghela nafas lega, kembali terasa sesak lagi. Apa akan ada sesuatu yang salah? “Tapi… apa?” Tanya Hyukjae.

 

“Apa dia korban perkosaan? Aku menemukan beberapa luka didaerah vaginanya. Mungkin tidak terlalu parah, namun sepertinya untuk beberapa saat nanti ia akan kesulitan berjalan.” Jelas dokter itu.

 

Hyukjae terkejut bukan main. Kenapa ia tidak memikirkan kemungkinan itu saat Hyukjae menemukan Yoora dalam keadaan telanjang didalam bathup? Hati Hyukjae bergemuruh, ia akan membuat perhitungan pada orang yang melakukan ini pada Yoora. Sialan sekali.

 

-=JJ=-

 

Changmin memandang Kyuhyun yang sedang terduduk bersandar diranjangnya. Pria itu dengan keras kepala menolak keinginan Changmin untuk membawa Kyuhyun kerumah sakit. Bahkan setelah Changmin sudah akan menyeretnya, namun ternyata tenaga Kyuhyun yang sedang sakit masih lebih besar darinya.

 

“Kau merasa puas?” Tanya Changmin memecah keheningan diantara mereka selama beberapa menit. Dokter muda itu melipat tangannya didepan dada dan matanya menatap Kyuhyun tajam. Meski Changmin tahu, ekspresinya tak akan berpengaruh apapun pada Kyuhyun. Kyuhyun hanya terprovokasi dengan kata-kata.

 

Kyuhyun mendecih, pertanyaan Changmin benar-benar membuatnya ingin tertawa. “Puas apanya? Toh aku tidak benar-benar membunuhnya.” Jawab Kyuhyun. Memang begitu kenyataannya, sebisa mungkin Kyuhyun tidak menyiksa titik fatal Yoora dan Kyuhyun sangat membenci kenyataan itu.

 

“Jadi, kenapa kau tidak membunuhnya? Kau ketahuan, lalu kabur begitu?” Changmin mencercanya dengan pertanyaan bertubi-tubi, ia harus memancing Kyuhyun perlahan-lahan sebelum memukulnya telak. Untuk menghadapi Kyuhyun, Changmin belajar bahwa pria itu harus dipancing dulu sebelum dipukul dengan kencang agar sadar.

 

“Sialnya, ada dalam diriku yang menahannya Changmin. Kau bahkan sangat tahu bahwa hanya dialah penghalang utama saat aku ingin membunuh Yoora.” Kyuhyun mendecih. Ia benar-benar kesal dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia masih memiliki belas kasihan untuk Shin Yoora?

 

“Aku fikir aku akan benar-benar membunuhnya malam ini. Awalnya aku hanya ingin membunuh anaknya, namun ia menantangku untuk membunuhnya sekalian. Bukankah itu terdengar sangat menarik? Jadi yah, semua berlalu begitu saja. Tapi sialnya sisi itu menghentikanku dan membawaku lari kesini. Pengecut.” Lanjut Kyuhyun.

 

Changmin menghirup napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya dengan perlahan. Menghadapi Kyuhyun yang seperti ini memang harus ekstra sabar. Jika Changmin tidak sesabar itu, mungkin saat ini Kyuhyun sudah habis dipukulinya.

 

“Kenapa kau ingin membunuhnya?” Tanya Changmin seolah tak memperdulikan kata-kata Kyuhyun barusan.

 

“Kau jelas tahu alasanny—”

 

“Tidak. Anakmu. Anakmu dengan Yoora. Kenapa ingin membunuhnya? Kau tidak menginginkannya?” Changmin menjelaskan pertanyaannya lagi hingga membuat Kyuhyun mendelik kearahnya. “Sepertinya kau tahu banyak Shim Changmin. Kufikir kau sudah terlalu jauh masuk kedalam hidupku.” Ucap Kyuhyun.

 

“Ah begitu, kau benar-benar tidak menginginkannya? Apakah kau tidak ingin melihat anakmu tumbuh dan hidup lebih baik dari—”

 

“AKU MENGINGINKANNYA SHIM CHANGMIN!” Teriak Kyuhyun cepat menyela kata-kata Changmin. Nah, benar apa kata Changmin kan? Kyuhyun harus dipancing dulu sebelum dipukul dengan telak.

 

Lalu Kyuhyun mengulang kata-katanya dengan lebih pelan, “Aku menginginkannya Shim Changmin!” Sebelum ia kembali berteriak dengan kilat marah dimatanya, “Tapi aku tidak bisa membiarkan ia berada disana. Aku tidak bisa membiarkan ia lahir dari rahim wanita itu!”

 

“Kenapa? Memang Yoora sangat tidak pantas mengandung anakmu?” Pancing Shim Changmin lagi. Kyuhyun benar-benar harus mengeluarkan amarahnya dan membenahi dirinya sendiri. Jika tidak, kejadian ini bisa saja terulang lagi.

 

“Ya, dia sangat tidak pantas. Wanita jalang yang bahagia diatas semua kesakitanku. Dan kesalahannya yang paling besar adalah karena ia anak dari pria yang membuat ibu dan adikku mati. Membuatku sebatang kara bahkan sebelum aku sempat mengerti apa artinya mati! Dia wanita jalang, dia tak pantas mengandung anakku! Dan anakku tak pantas lahir atau bahkan berada dalam rahimnya!”

 

“Kau gila?! Darimana pun ia lahir, ia tetap anakmu!” Mendengar kata-kata Kyuhyun membuat emosi Changmin mulai terpancing. Gila, bagaimana bisa Kyuhyun mempunyai fikiran sekotor itu?

 

“Dia memiliki hak untuk hidup Kyuhyun. Sama sepertimu, sama sepertiku. Sama seperti ibu dan adikmu. Haruskah kau merenggut nyawanya bahkan sebelum ia lahir?! Hampir sama seperti apa yang dilakukan Shin Young Min?! Ah tidak, tidak, tidak. Tidak sama seperti Shin Young Min. Kau bahkan lebih hina dari pada dirinya Cho Kyuhyun!”

 

Mata Kyuhyun melebar, “AKU TIDAK SEPERTI ITU! Young Min lebih biadab dari pada siapapun!” Kyuhyun meronta-ronta, ia bahkan melemparkan apapun yang berada disekitarnya. Lampu, bingkai, bantal, selimut, apapun itu.

 

Shim Changmin sudah tak peduliakan seberantakan apa kamarnya nanti. Yang terpenting setelah ini Kyuhyun bisa lebih baik atau jika tidak, terpaksa Changmin harus menyeret Kyuhyun kerumah sakit dan membuatnya mendekam didalam sana untuk beberapa waktu.

 

-=JJ=-

 

TBC

178 thoughts on “But, I Love You Part 12

  1. Jantung kyuhyun melemah? Sungguh aku berharap suami yoora itu kyuhyun tapi…. melihat perlakuan kyuhyun ke yoora itu kejam banget jadi aku pilih hyukhae ajalah

    Suka

  2. Kyu kejam, gak nyangka bisa kayak gitu ke yoora.. Tapi ada kasian juga sama kyu.. Kyu jadi kayak gitu karena masa lalunya ditambah ada orang yang ngedoktrin kyu biar jadi psikopat..
    Yoora harus kabur.. Udah sama hyukjae aja..
    Wah gimana jadinya klo hyukjae tau yang ngebuat yoora kayak gitu itu kyuhyun? Keep writing😊

    Suka

  3. Mending yoora dengan hyukjae sajalah. Dari yg aku bayangkan ttg suami yoora dimasa depan, kenapa selalu mengarah ke hyukjae sih. Waduh otakku udah menolak kyuhyun kembali dengan yoora. Yang bikin penasaran lagi alasan Tuan Lee mendekati, mempengaruhi, memprovokasi kyuhyun untuk balas dendam pada yoora. Apa maksud sebenarnya Tuan Lee???

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s