Perfect Match Part 1


image

Author: Keita

Title: Perfect Match Part 1

Category: NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast:

Han Hyo Joo as Oh Yeon Joo

Park Chanyeol

Support Cast:

Oh Sehun (Yeon Joo Brother)

Lee Donghae

Mr. Kim

Annyeong haseyeo … Terimakasih untuk pada reader yang menyempatkan waktunya untuk membaca cerita yang saya buat.. Terimakasih untuk admin yang sudah mempost tulisan saya.. Maaf kalau ada kata-kata yang bikin bingung. Mmmmmmmm…. Moga suka sama ceritanya ya.. HAPPY READING…

Yeon Joo tidak merasa perlu mengangkat kepalanya saat ia mendengar ketukan di pintu masuk ruang kerjanya. Klien yang selanjutnya membuat jadwal lebih pagi, yang membuat Yeon Joo jengkel karena ia belum menyelesaikan rancangan untuk pertemuan selanjutnya dengan klien yang lain. Ia mendorong kacamatanya kembali ke tempatnya semula. Pasien itu bisa masuk ke dalam ruangan sepuluh menit lagi setelah ia menyelesai— .

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih memaksa, dan niatnya untuk tidak melayani keinginan orang lain hancur, seperti biasanya. Dia menjatuhkan pensilnya ke atas tumpukan kertas yang berada didepannya, dia berkata, “Masuklah.”

Kepala dengan rambut hitam tertata sempurna muncul di pinggir pintu. “Semoga aku tidak mengganggumu.”

“왜 (wae)?” Tanya Yeon Joo ketika melihat Sehun (kakaknya) yang muncul.

“kau tak lupa janji hari ini kan?”

“무슨 약속? (museun yagsog?)” jawab Yeon Joo sambil mengerutkan keningnya mengingat janji apa yang dia buat dengan Sehun.

“kau harus bertemu dengan Park Chanyeol.” Jawab Sehun berjalan masuk kedalam ruangan Yeon Joo.

“kenapa kau selalu menyuruhku untuk menemuinya?”

Sudah hampir 3 minggu ini Sehun selalu mengunjungi butik tempatku bekerja, dan selalu mengajukan pernyataan yang sama.

“karena kau belum pernah menemuinya sekali pun, aku tahu hari ini kau tidak terlalu sibuk”

“neo eotteohge arra?” Yeon Joo sedikit terkejut karena Sehun mengetahui jadwalnya. “bagaimana kalau aku tidak mau menemuinya?” lanjut Yeon Joo.

“kau lupa kalau hari ini adalah hari kamis?” Tanya Sehun,

Benar, setiap hari kamis Yeon Joo memiliki waktu luang yang banyak. Karena Yeon Joo tidak menerima klien di hari kamis.

“kau mau aku menyeret Chanyeol kesini untukmu?” lanjut Sehun agak kesal.

“arraso, aku akan menemuinya.” Kata Yeon Joo menyerah.

“anak pintar, aku akan memberi tahu appa jika kau hari ini mau menemui Chanyeol.” Kata Sehun sambil berjalan keluar ruangan Yeon Joo.

Setelah Sehun benar-benar meninggalkan ruangannya, Yeon Joo menghembuskan nafasnya dengan agak kasar. Walaupun umurnya sudah 24 tahun, ayahnya selalu mengaturnya. Termasuk pernikahan. Ayah menjodohkan Yeon Joo dengan pengusaha muda yang sukses bernama Park Chanyeol. Tentu saja Sehun mengenal Chanyeol, dan itu membuat ayah Yeon Joo semakin bersemangat untuk menjodohkan anaknya.

Ping!

Terdengar suara pesan masuk dari HP Yeon Joo.

From: Oh Sehun

Ini nomor Chanyeol  xxxxxxxxxx

Aku juga sudah memberikan nomormu kepadanya.

Yeon Joo pun hanya membaca pesan masuk tersebut, dan tak lama ada pesan baru masuk lagi ke HP nya.

From: Oh Sehun

Kau bertemu dengannya di Café xxxx jam 2.

Jangan lupa..

Jangan membuat Appa dan Oppa-mu ini malu..

Arraso?

Yeon Joo memutar bola matanya, karena Sehun sampai menyiapkan tempat bertemunya dengan Chanyeol. Appa benar-benar ingin Yeon Joo cepat menikah.

To: Sehun

Arraso.

Yeon Joo pun membalas pesan Sehun dengan singkat.

Chanyeol POV

aku memasuki Café , tempat aku akan menemui cinta pertamaku – Oh Yeon Joo.

Cinta Pertama?

Ya… Cinta Pertama..
Aku sudah menyukai Yeon Joo sejak masa kuliah..
Aku akan menceritakannya nanti.. 

Saat aku memasuki Café, aku langsung melihatnya. Yeon Joo duduk dipojok Café dekat dengan jendela. Dia sedang menatap keluar. Tanpa sadar aku pun tersenyum geli melihatnya.

“Oh Yeon Joo-ssi?” kataku menyapanya.

Yeon Joo pun mengalihkan pandangannya dan melihat ke arahku.
Ah.. dia masih bersinar sama seperti kuliah dulu.. dia tak banyak berubah..
Dan aku masih menyukainya, getaran yang sama saat aku pertama kali melihatnya waktu itu.

Yeon Joo POV

Saat aku sedang melihat keluar, ada suara yang memanggil namaku.

“Oh Yeon Joo-ssi?”

Aku pun langsung melihat kesumber suara.

Ada Pria tinggi dengan rambut warna hitam dan tertata rapi berdiri di hadapanku. Refleks aku pun tersenyum ke arahnya.
“Park Chanyeol-sii?” kataku memastikan.

Pria itu pun mengangguk.

“boleh aku duduk?”

“silahkan.” Kataku. “kau mau coklat panas atau kopi?” lanjutku setelah Chanyeol duduk.

“ah tidak, terimakasih.” Katanya menolak dengan halus.

“aku ingin mengajakmu makan di restoran kesukaanku, kau tak masalah kan?” lanjutnya, sambil berdiri dan memberi tanda padaku untuk pergi dari Café ini.

“aku tak masalah, kau tidak sibuk?” kataku sambil mengikuti Park Chanyeol keluar dari Café.

“aku sudah mengosongkan waktuku untuk hari ini.” jawab Chanyeol.

“ah maafkan aku menyusahkanmu.” Kataku tak enak.

“tak masalah kalau demi calon istriku” jawabnya tanpa malu.

Aku agak tersipu malu, karena ini kali pertama ada pria yang langsung berbicara seperti itu tanpa malu.

“mana kunci mobilmu?” lanjutnya sambil mengulurkan tangannya padaku.

“hah?” jawabku bingung sambil mengerutkan kening.

Aku bingung karena kita baru saja bertemu dan dia sudah menanyakan kunci mobil.. apa-apaan ini?

“ah maksudku, aku yang akan menyetir mobilmu dan kau duduk di kursi penumpang. Mobilku akan dibawa oleh supir” jelasnya atas terkejutanku.

“ah.. ini” kataku sambil memberikan kunci mobilku padanya.

Setelah menerima kunci mobilku, Chanyeol berjalan ke mobilku yang tak jauh terparkir dari Café. Dan dia membukakan pintu untukku. Aku pun berjalan ke arahnya setelah dia memberi kode padaku untuk masuk ke dalam  mobil.

“jangan lupa pakai sabuk pengamanmu” kata Chanyeol setelah dia masuk kedalam mobil.

Sebelum Chanyeol menjalankan mobilku, dia menelfon supirnya dulu dan bilang bahwa dia akan ke restoran xxxx dengan menggunakan mobilku.

Author POV

Saat direstoran.

“aku tak tahu kalau ada restoran dengan makanan seenak ini di dekat tempatku bekerja” kata Yeon Joo yang tak berhenti mengunyah sejak makanan dihidangkan.

“kau sudah tak makan berapa hari?” Tanya Chanyeol jahil saat melihat Yeon Joo makan dengan lahap.

“apa aku terlihat seperti kelaparan?” kata Yeon Joo agak malu.

“mmmm-hmm… tapi aku suka melihatmu makan banyak.” Jawab Chanyeol sambil mengunyah makanan.

“maaf, di hari pertama kita bertemu aku sudah seperti ini”

“kenapa kau minta maaf?” Tanya Chanyeol bingung. “aku suka kau yang apa adanya tanpa dibuat-buat.” Lanjut Chanyeol sambil menatap Yeon Joo tanpa mengalihkan tatapannya.

Yeon Joo pun tersenyum malu dengan jawab Chanyeol..

“Terimakasih” kata Yeon Joo sambil melanjutkan makannya

Mereka menghabiskan waktu yang cukup lama di restoran tersebut. Yeon Joo mau pun Chanyeol sangat menikmati saat mereka saling berbicara mengenai diri mereka sendiri, kadang di selangi dengan tawa untuk hal lucu yang mereka ceritakan. Dan tak terasa hari sudah gelap.

“kau mau menghabiskan malam denganku?” Tanya Chanyeol ketika sudah tidak ada topic yang mereka bahas.

“apa?” jawab Yeon Joo kaget atas pertanyaan Chanyeol.

“apa kau selalu seperti ini kepada semua wanita yang kau temui?” lanjut Yeon Joo dengan nada marah.

“Tidak! Aku hanya bertanya kepadamu” jawab Chanyeol tenang. “dan juga maksudku, bukan seperti melakukan ‘itu’, aku mengajukmu untuk jalan-jalan ketempat lain. Lagi pula kita sudah terlalu lama disini” lanjutnya.

“ah, maaf.” Jawab Yeon Joo malu.

“ayo, kita jalan-jalan sebentar sebelum aku mengantarmu pulang” ajak Chanyeol.

Yeon Joo POV

Saat diluar restoran.

Aku berjalan maju, dan aku tersandung, ke arah jalan.

“Yeon Joo!” Chanyeol menjerit.

Dia menyentak tanganku yang dia genggam begitu keras, sampai aku jatuh ke dalam pelukan dia ketika seorang pengendara sepeda lewat dengan cepat, nyaris menyambarku, menuju arah yang salah di jalan satu arah.

Itu semua terjadi begitu cepat. Satu ketika aku hampir jatuh, berikutnya aku dalam pelukannya, dan dia memelukku erat-erat di dadanya. Dia berbau segar dari parfum yang digunakannya dan sabun mandi mahal. Ya, itu memabukkan. Aku menarik napas dalam-dalam.

Oh my god. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.

“Apakah kau baik-baik saja?” Bisiknya.

Satu lengannya memelukku, menggenggamku ditubuhnya, sementara jari-jari tangannya yang lain menelusuri wajahku dengan lembut, lembut menyelidik, memeriksaku. Ibu jarinya menyapu bibir bawahku, dan aku mendengar napasnya tersentak. Dia menatap ke mataku, dan aku menahan tatapan cemasnya, tapi akhirnya, perhatianku tersedot ke mulut yang indah. Oh. Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun, aku ingin dicium.

Aku ingin merasakan bibirnya diatas bibirku.

Dia menutup matanya, menarik napas dalam, dan kepalanya memberiku goyang kecil seolah-olah menjawab pertanyaan diamku.

“Yeon Joo, ini bukan saat yang tepat” bisiknya.

Apa? Aku mengerutkan kening ke arahnya, dan kepalaku berputar karena penolakan.

“Tarik napas, Yeon Joo, bernapas. Aku akan mengantarkan kau pulang,” katanya pelan, dan dia dengan lembut mendorongku.

Adrenalin telah mengalir melalui tubuhku, dari nyaris tertabrak pengendara sepeda atau mabuk karena berdekatan dengan Chanyeol, membuatku tegang dan lemah. TIDAK! Jiwaku berteriak saat ia menarik diri, membuatku seperti kehilangan sesuatu. Dia meletakkan tangan di bahuku, memegangku dalam jangkauannya, melihat reaksiku hati-hati. Dan satu-satunya yang bisa aku pikirkan adalah bahwa aku ingin dicium, sepertinya cukup jelas, dan ia tidak melakukannya.

Dia tidak menginginkan aku. Dia benar-benar tidak menginginkan aku. Ini sangat memalukan.

“Terima kasih,” aku bergumamku dibanjiri dengan penghinaan. Bagaimana mungkin aku salah membaca situasi di antara kita sama sekali? aku harus menjauh dari dia.

“Untuk apa?” Ia mengerutkan kening. Dia tidak menarik tangannya dariku.

“Untuk menyelamatkanku,” bisikku.

“Idiot Itu menggunakan jalur yang salah. Aku senang aku di sini. Aku ngeri membayangkan apa yang akan terjadi padamu.” Dia melepaskanku, tangan di samping tubuhnya, dan aku berdiri di depannya merasa seperti orang tolol.

“Terimakasih atas makanannya,” bisikku.

” Yeon Joo… aku …” Dia berhenti, dan kesedihan dalam suaranya menuntut perhatianku, jadi aku terpaksa sedikit menatap ke arahnya. Matanya suram saat ia membelai rambutnya.

Dia tampak sedih, frustrasi, ekspresinya tegang, semua kontrol hati-hati miliknya telah menguap.

“Apa?” Tukasku kesal.

Aku hanya ingin pergi. Aku hanya ingin membawa pergi harga diriku yang rapuh dan terluka menjauh darinya dan entah bagaimana caranya merawat kembali sampai sehat.

“besok aku akan menemuimu,” bisiknya. “ayo ku antar pulang” lanjutnya.

Diperjalanan pulang tidak ada yang berbicara sama sekali, aku sangat malu atas kejadian tadi.

Aku terlihat sangat murahan dihadapannya.

Saat aku memasuki rumah Sehun duduk di meja makan dengan laptopnya ketika aku tiba. Senyumnya ramah memudar ketika ia melihatku.

” Yeon Joo apa yang terjadi?” selidik Sehun saat melihat wajahku masam.

Dan menghampiriku. Karena aku tidak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Apa yang bajingan itu lakukan padamu?” ia menggeram, dan wajahnya – ya ampun, dia menakutkan.

“Tidak ada Sehun. Dan jangan memanggilnya bajingan” Itulah masalah sebenarnya. Pikiran itu membawa senyum kecut di wajahku.

“Lalu mengapa wajahmu seperti itu? kau tidak pernah pulang dengan wajah seperti ini,” katanya, suaranya melembut.

Dia berdiri, matanya penuh dengan keprihatinan. Dia mejulurkan tangannya dan memelukku.
Aku perlu mengatakan sesuatu agar dia tidak mengejar lagi.

“aku hampir saja ditabrak seorang pengendara sepeda.” Ini yang terbaik yang bisa aku lakukan, tapi ini mengalihkan perhatian Sehun sejenak dari … dia.

“Ya ampun Yeon Joo – apakah kau baik-baik saja? Apakah kau terluka? “Dia memegangku di lengan panjang dan melakukan pemeriksaan cepat secara visual padaku.

Sehun dan Appa sangat khawatir padaku. Karena aku satu-satunya wanita di rumah. Ya, ibuku sudah meninggal saat aku kuliah dan itu membuat aku frustasi. Sejak saat itu aku selalu membuat diriku sibuk dengan hal apa pun sampai aku sering dibawa ke RS gara-gara kecapean. Dan sejak saat itu juga Appa dan Sehun selalu overprotektif terhadapku.

“Tidak Chanyeol menyelamatkanku, “bisikku. “Tapi aku cukup terguncang.”

“Aku tidak terkejut. Bagaimana pertemuannya? Kau menghabiskan waktu yang lama dengannya.”

“aku pergi makan di restoran dekat dengan butik, makanan disana sangat enak. Dan tidak ada hal aneh yang terjadi, kami hanya mengobrol.”

“Dia menyukai kau Yeon Joo.” Dia turun tangan.

“Tidak lagi. aku tidak akan bertemu dia lagi” Ya, aku berusaha terdengar acuh.

“Oh?”

Sial. Dia tertarik. Aku berjalan ke dapur sehingga dia tidak bisa melihat wajahku.

“Ya … dia sedikit diatas kelasku Sehun,” kataku sedatar yang aku bisa.

“Apa maksudmu?”

“Oh, Sehun, itu sudah jelas.” Aku berputar dan menghadapnya saat ia berdiri di ambang pintu dapur.

“Bukan untukku,” katanya.

“Oke, dia punya lebih banyak uang daripadamu, tapi ia punya uang lebih banyak dari kebanyakan orang di Korea!”

“Sehun dia-” aku mengangkat bahu.

” Yeon Joo! Demi Tuhan – berapa kali harusku katakan? Kau pintar, cantik, banyak uang dengan hasil keringatmu sendiri” potong dia.

Oh tidak. Sehun mengomel ini lagi.

“Sehun, tolonglah. aku perlu menyelesaikan rancanganku” Aku memotongnya dan pergi meninggalkan Sehun dengan kebingungannya.

1 minggu kemudian

Setelah kejadian waktu itu, aku dan Chanyeol tidak melakukan kontak apapun. Bahkan dia tidak menemuiku. Dan aku benar-benar sadar, Chanyeol tidak menyukaiku.

Hari ini aku bertemu beberapa klien. Ini bisa mengalihkan perhatianku. Waktu bergerak cepat tak jelas oleh banyaknya wajah baru, pekerjaan yang harus dikerjakan dan Lee Donghae dia tersenyum padaku, matanya berbinar, saat dia membungkuk di mejaku.

“kerja yang sangat bagus, Yeon Joo. Kupikir kita akan menjadi tim yang hebat.”

Entah bagaimana, aku berhasil melengkungkan bibirku keatas, menyerupai senyuman.

Lee Donghae adalah partner kerjaku. Kami sedang melakukan projek besar untuk next event yang akan di selenggarakan oleh suatu perusahaan fashion di Paris dan butik tempatku bekerja salah satu yang akan menghadirkan karyanya di event tersebut.

“Aku akan pulang  sekarang, jika kau tidak keberatan,” bisikku.

“Tentu saja, ini sudah jam 6. Sampai bertemu besok.”

“Selamat malam, Donghae.”

“Selamat malam, Yeon Joo.”

Aku mengambil tas, memakai jaket dan menuju pintu. Diluar aku menghirup dalam-dalam udara sore kota Seoul. Aku menghirup napas panjang.

Aku berjalan menuju mobilku dengan menunduk, menatap kakiku dan memikirkan wajah penolakan Chanyeol minggu lalu. Ah sangat memalukan Aku segera menutup pikiran itu. Tidak. Jangan berpikir tentang dia.

Rumah kosong. Aku merindukan Appa dan Sehun. Mereka sedang ada perjalanan bisnis dan aku tidak bisa ikut karena proyek yang sedang aku kerjakan.

Aku menyalakan televisi layar datar, jadi ada suara untuk mengisi keheningan dan memberikan suasana bahwa aku ditemani, tapi aku tak mendengar atau menontonnya. Aku duduk dan menatap kosong pada dinding.  Bel pintu mengejutkanku, dan jantungku berdebar-debar. Siapa itu? Aku menekan interkom.

“Pengiriman untuk Oh Yeon Joo.” Sebuah suara seperti bosan menjawab, dan rasa kecewa
langsung pecah dalam diriku.

Dengan lesu aku menuruni tangga dan menemukan seorang pemuda mengunyah permen karetnya dengan berisik, membawa kotak karton yang besar, dan bersandar di pintu depan. Aku menandatangani paketnya dan membawa ke atas. Kotaknya sangat besar yang membuatku heran. Di dalamnya terdapat dua lusin mawar putih dan sebuah kartu.

Maaf aku tidak bisa menemuimu.

Akhir-akhir ini aku sangat sibuk.

Semoga harimu menyenangkan.

Dan besok aku akan menjemputmu.

Chanyeol

Aku terpaku menatap kartu yang diketik. Aku tersenyum sendiri ketika melihat tulisan itu lagi. Ah, kenapa hatiku sangat berdebar.. Aku melihat mawar itu, mereka sangat indah, dan aku tak ingin membuangnya ke tempat sampah, jika ini sudah layu nanti. Dengan patuh, aku berjalan ke dapur untuk mencari sebuah vas.

Next Day

Aku baru beres bertemu klien hari ini. Ah, ini sangat melelahkan. Mendengar permintaan mereka yang ini itu. Saat aku kembali keruanganku dengan sengaja Donghae mulai mendekatiku, menggangguku, menanyakan hal-hal pribadiku.

Apa yang dia inginkan? Aku berusaha bersikap sopan, tapi aku harus tetap menjaga jarak. Aku duduk dan mulai memilah beberapa tumpukan surat yang datang hari ini dan aku senang bisa mengalihkan perhatian dengan pekerjaan sepele ini.

HP ku berbunyi.

Ya ampun. Sebuah pesan masuk dari Chanyeol.

Dan aku baru ingat bahwa Chanyeol akan menjemputku hari ini.

From: Park Chanyeol

Maaf mengganggu di tempat kerjamu. Aku berharap tidak apa-apa.

Apa kau sudah menerima bunga dariku?

Aku hanya ingin mengingatkan, bahwa hari ini aku akan menjemputmu.

Aku ingin makan malam bersamamu – jika kau mau.

Kabari aku, harus menjemputmu jam berapa.

Aku membaca pesan dari Chanyeol dan tanpa sadar aku tersenyum. Aku mengetik pesan balasan untuk Chanyeol.

To: Chanyeol

Aku sudah menerimanya.

Terima kasih untuk bunganya, bunganya sangat indah.

Ya, aku sangat senang menerima tawaranmu.

Terima kasih.

Tak lama terdengar ada pesan masuk lagi ke Hp-ku

From: Park Chanyeol

Jadi, jam berapa aku harus menjemputmu?



To: Chanyeol

Jam 7?

Aku harus mengerjakan beberapa dokumen penting hari ini.

From: Park Chanyeol

Okay. ^^

Oh. Aku akan bertemu Chanyeol, dan untuk pertama kalinya setelah lebih dari seminggu kami tak memberi kabar satu sama lain, sebagian semangatku terangkat dan aku membiarkan diriku ingin tahu bagaimana dia sekarang.

Apakah dia merindukanku? Mungkin tidak seperti aku merindukannya. Apakah dia sudah menemukan teman kencan baru dari mana pun mereka berasal? Pikiran itu sangat menyakitkan, aku segera menghentikannya. Aku tak tahu mengapa aku bisa cepat menyukainya. Mengapa perasaan ini muncul dengan cepat. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dan sekarang aku mencoba untuk focus kembali. Melupakan sesaat perasaanku padanya.

Aku melihat tumpukan surat, dan sekarang aku mulai focus terhadap pekerjakanku. Ada beberapa dokumen yang harus aku kerjakan untuk event itu.

Hari yang menjemukan dan sangat menjemukan dan Donghae sangat tidak biasa, penuh perhatian. Aku curiga penyebabnya adalah gaun plum yang kugunakan dan sepatu bot berhak tinggi warna hitam, tapi aku tidak ambil pusing dengan pemikiran itu.

Akhirnya, tepat jam tujuh, dan aku mengambil jaket dan tas, mencoba untuk meredam kegelisahanku. Aku akan bertemu dengannya!

“Apa kau punya kencan malam ini?” Tanya Donghae saat berjalan melewati mejaku dalam perjalanan keluar.

“Ya. Tidak. Tidak juga.”

Dia memiringkan alisnya padaku, terlihat jelas sangat berminat. “Pacar?”

Mukaku memerah. “Tidak, hanya teman.”

“Mungkin minggu depan kau mau datang untuk minum sepulang kerja. Sebelum kita pergi ke Paris untuk fashion show. Kita harus merayakannya.” Dia tersenyum dan emosi tak kukenal
terlihat di wajahnya, membuatku gelisah.

“ya” kataku

Donghae Menempatkan tangan di sakunya, dia keluar melalui pintu ganda. Aku mengerutkan kening mundur di belakangnya. Minum dengannya, apa itu ide yang bagus?

Aku menggelengkan kepala. Aku punya malam yang harus aku lewati dengan Chanyeol  dulu. Bagaimana aku akan melakukan ini? Aku bergegas ke kamar kecil untuk merapikan lagi disaat menit-menit terakhir.

Dengan gugup aku berjalan dengan tersenyum dan melambaikan tangan pada Wendy di meja kasir. Donghae sedang bicara dengan Naeun saat aku menuju pintu.

Tersenyum lebar, dia bergegas membukakan pintu untukku.

“Silakan, Yeon Joo,” bisiknya.

“Terima kasih.” Aku tersenyum, merasa malu.

Di tepi jalan, Supir Chanyeol – Mr.Kim sedang menunggu. Dia membuka pintu belakang mobil. Aku melirik ragu-ragu pada Donghae yang mengikutiku keluar. Dia memandang ke Audi SUV dengan kaget. Aku berbalik dan naik ke dalam mobil, dan di sana duduk Chanyeol mengenakan setelan abu-abunya, tanpa dasi, kemeja putih dengan kerah terbuka. Matanya bercahaya.

Dia terlihat sangat tampan kecuali dia cemberut padaku. Oh tidak!

“Kapan terakhir kali kau makan dengan layak?” Tanya Chanyeol menyelidik saat Mr-Kim menutup pintu belakang.

“Mm. . . Aku minum yogurt saat makan siang. Oh – dan pisang.”

“itu tidak bisa disebut sebagai makan Yeon Joo”

Mr-Kim masuk dan duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin mobil, dan mengemudikan
menuju jalan raya.

Aku melirik sekilas dan Donghae melambai padaku, meskipun tak tahu apa dia bisa melihatku
melalui kaca gelap. Aku balas melambai.

“Siapa itu?” kata Chanyeol terdengar tidak suka.

“temanku.” Aku mengintip ke arah pria tampan di sampingku, dan mulutnya ditekan menjadi
garis keras.

“Nah? Makan terakhirmu?”

“Chanyeol, sebenarnya ini bukan urusanmu,” bisikku, merasa sangat berani.

“Apa pun yang kau lakukan itu jadi urusanku. Katakan padaku.”

Tidak, itu bukan urusanmu. Aku merintih karena frustrasi, memutar mataku keatas, dan Chanyeol menyempit matanya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku ingin tertawa. Aku berusaha keras untuk menahan tawaku. Wajah Chanyeol melembutkan melihatku berjuang menjaga wajahku tetap lurus, dan aku melihat jejak senyum dibibirnya yang terukir sangat indah.

“Yah?”, Ia bertanya, suaranya lebih lembut.

“Korean-set, Senin lalu,” bisikku.

Dia menutup matanya, wajahnya seperti marah dan mungkin juga menyesal.

“Aku paham,” katanya, suaranya tanpa ekspresi. “Kau terlihat seperti kehilangan enam pound, mungkin lebih sejak saat itu. Tolong makan, Yeon Joo,” tegurnya.

Aku menatap jari tersimpul di pangkuanku. Dan mengangguk pelan tanpa suara.

Dia bergeser dan menghadap aku.

“Apa kabar?” Tanya dia, nadanya tetap lembut.

Aku menelan ludah. “Jika aku menjawab baik-baik saja, aku bohong.”

Dia menarik napas dengan tajam. “Aku juga,” bisiknya, meraih dan menggenggam tanganku.

“Aku merindukanmu,” tambahnya.

Oh tidak. Sentuhan kulit terhadap kulit.

“Chanyeol, aku-”

” Yeon Joo, kumohon. Kita harus bicara.”

Kenapa rasanya Aku akan menangis. Tidak.

“Chanyeol, aku. . . kumohon. . . Aku malu terhadap diriku sendiri, karena kejadian minggu lalu,” bisikku, berusaha untuk mengendalikan emosiku supaya stabil.

“Oh, sayang, tidak.”

Dia menarik tanganku, dan tahu-tahu aku sudah berada diatas pangkuannya. Dia memelukku erat, dan mencium rambut.

“Aku sangat merindukanmu, Yeon Joo,” dia mengambil nafas.

Aku ingin keluar dari pelukannya, untuk menjaga jarak tertentu, tapi tangannya memelukku sangat erat menekan kedadanya. Aku meleleh. Oh, disinilah tempat yang kuinginkan. Aku menyandarkan kepala padanya, dan dia mencium rambutku, berulang kali. Rasanya seperti pulang ke rumah. Wangi pelembut bajunya, sabun mandi, dan bau favoritku – Chanyeol. Untuk sesaat, aku membiarkan khayalanku bahwa semua akan menjadi baik-baik saja, dan itu menenangkan jiwaku yang rusak.

Beberapa menit kemudian Mr-Kim memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, meskipun kami
masih di dalam kota.

“Ayo”- Chanyeol bergeserku dari pangkuannya, “kita turun di sini.”

Apa?

“kita akan makan disini.” Chanyeol memberi penjelasan sambil melirik gedung itu.

Mr-Kim membuka pintu dan aku bergeser dan keluar. Dia memberiku senyuman hangat, seperti senyum seorang paman yang membuatku merasa aman. Aku membalas senyumnya.

Continue…

Next Chapter ada adegan panasnya..
Maaf kalau Part 1 terlalu panjang dan bertele-tele..
Soal cinta pertama, nanti author bakal ceritain..
Di part mana?  Yah.. tunggu aja…

Terimakasih sudah baca..
Maaf kalau ada typo..
~Keita~

Ps: di part-part selanjutnya bakal Yeon Joo POV ya..
cerita disini terinspirasi dari Fifty Shades

79 thoughts on “Perfect Match Part 1

  1. Ceritanya bagus aku suka dan baru pertama baca ff chanyeol karena biasanya baca punya si evil. Hanya penulisan kalimat perlu diperbaiki kadang ga ngerti ini siapa gitu dan penggambaran dialog nya menurut ku kurang detail. Over all aku syukaaaa. Keep writing author

    Suka

  2. hmm… aku tidak bisa membayangkan perasaan seorang wanita yang tumbuh sejak hari pertama..mungkin karena aku belum pernah merasakannya..
    tapi aku mulai ikut merasakan perasaan tidak percaya diri yeon joo.. karena aku memang bukan orang yang percaya diri.
    aku suka cerita ini..
    tidak percaya diri tapi berharap..
    kurasa aku pernah merasakannya 😂
    maaf, disini aku jadi curhat
    next
    terima kasih 😊

    Suka

  3. alur ceritanya bagus thor cuma masih banyak kesalahan tanda baca aja sih jadi bikin bingung bacanya kalah guru b indo😂😂 tapi emang itu sih yang menurutku menonjol thor😂 but so far so good👏

    Suka

  4. Trjdi kesalahpahaman di antara mrka,, Yoenjoo mengira Chanyeol tdk mnyukainya,,,pdhal kan aslinya Yeonjoo itu kn cinta prtamanya Chanyeol…

    Suka

  5. Dan aku baru nyadar kalo yang dibaca duluan itu part 3 baru ke part1 wkwkwk
    Jadi mereka itu dijodohin??? Dan yeon joo cinta pertama chanyeol? Apa ini rencana chanyeol buat ngedapetin yeon joo dengan embel2 perjodohan?
    Itu donghae suka sama yeon joo apa gimana?

    Suka

  6. Hehe baru sempet baca ni akunya . Masih bayang” ,jadi penasaran sm kisah cinta pertamanya chanyeol . Itu si donghae kok kaya ada maksud terselubung ya . Mudah” cuma perasaan aku aja deh . Ok ketemu lg di part 2 ya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s