Don’t Make Me Worry


tumblr_odtm3vaVqg1riav2to1_500njmbkj

Author : Pinku
Tittle : Don’t Make Me Worry
Category : NC21, Yadong, Romance, Oneshoot
Cast :
Oh Sehun (EXO)
Han Hyunra (OC)
Other Cast :
Han Haera (OC)
Author’s Note: Hello everyone~ Let me say that this is my first story to be published in Flying NC. Thank you so much for Flying NC yang udah publish ffku 🙂
Disclaimer: This story is mine, based on Sehun life as EXO in my imagination, enjoy reading!


“Han Hyunra!”
Tuan Park berjalan ke arahku dan menepuk pundakku, aku mendongak padanya dan memberikan senyum seadanya.
“Kau bekerja dengan baik. Good job!” aku kembali tersenyum pada Tuan Park kemudian ia kembali menepuk pundakku sebagai pertanda bahwa ia pamit dan meninggalkanku sendirian di lorong backstage studio. Sebelum ia benar-benar pergi, aku tak lupa mengatakan terima kasih padanya.

Aku kembali berjalan disepanjang lorong gedung C&J M untuk bersiap-siap pulang.

Astaga! hari ini sungguh melelahkan. Lagi-lagi Jaebum oppa melimpahkan tugasnya padaku dan hal itu membuatku sedikit kelimpungan. Walaupun hari ini tak banyak para idol yang meminta hal-hal aneh, tapi tetap saja rasanya melelahkan. Belum lagi aku masih harus mengatur jadwal dan mengkoordinasikanya dengan para manager.

Pekerjaanku memang terlihat mudah, seakan hanya mengatur Idol untuk menentukan jadwal mereka dan memberikan mereka pelayanan sebelum tampil. Tapi kalau harus mengerjakannya sensiri seperti ini aku bisa gila sendiri. Walaupun sebelumnya memang Tuan Park sudah memberitahuku akan ada bonus untuk hal itu, aku tetap saja merasa kesulitan. Bonus itulah alasanku untuk menerima kerja double ini.

Aku tiba di dekat sebuah mesin minuman kaleng dan mempersiapkan uang untuk mengeluarkan salah satu minuman soda. Aku butuh sesuatu yang dingin dan segar dan aku ingin menjernihkan pikiranku dari hal-hal yang berbau pekerjaan. Ini sangat memusingkan.

Setelah mendapatkannya, aku segera mendudukan diriku bangku dekat mesin tersebut. Rasanya malas sekali pergi ke parkiran untuk sekedar membawa scootermatic-ku.

Aku menatap kaleng soda yang kupegang, sedikit kesulitan untuk membukanya. Apakah ini efek kecapekan? Huh bahkan untuk membuka kaleng soda pun aku tak memiliki tenaga. Astaga.. Rasanya aku ingin menangis. Aku kembali mencoba untuk membuka kaleng minuman ini namun seseorang menarik paksa kaleng itu dari tanganku.

Huh?

“Sehun?” ucapku setengah sadar. Apa yang ia lakukan disini? Bukankah seharusnya ia tak memiliki jadwal untuk kesini?

Aku tahu ia dan teman satu groupnya telah menghabiskan masa promosinya dan kini mereka sedang mempersiapkan untuk konser mereka. Sehun seharusnya sedang latihan atau entahlah aku rasa tak seharusnya ia disini.

Sehun memberikan kaleng minuman sodaku yang sudah terbuka. Aku menerimanya kemudian meneguk minuman itu dengan tergesa-gesa. Aku sungguh kehausan. Ku lihat Sehun mendudukan dirinya disebelahku. Ia memperhatikanku minum sambil bertopang dagu. Aku rasa aku memang tak bakat menjadi seseorang yang memiliki hubungan dengannya, terlebih ia seorang idol. Aku tahu aku kurang feminin dan terkesan cuek dengan penampilanku. Dan entah kenapa hal tersebut membuatku sedikit mider jika berdampingan dengannya. Untung saja Sehun tak pernah menceritakan hubungan kami pada siapapun, ia audah berjanji sekalipun kepada anggota Exo.

Aku menurunkan kaleng soda itu dan dengan enggan menatap kearahnya. Ia kemudian mengambil kembali kaleng soda ditanganku dan mulai meminum sisa soda yang telah kuminum hingga habis.

“Aku kan masih haus! Kenapa dihabiskan? Huh.”

“Kau bisa membelinya lagi.”

“Kenapa aku? Kau kan yang sudah menghabiskannya. Dasar Sehun menyebalkan!”

Aku pun kembali memasukan uang koin pada mesin dan mengeluarkan sekaleng minuman soda rasa Strawberry. Aku berikan kaleng itu pada Sehun, dan ia ternyata paham maksudku dan segera membuka kaleng minuman itu untukku.

Aku kembali meminum soda yang baru saja kubeli. Sekarang aku dengan rela memberikan sisa minumanku pada Sehun. Sehun menerimanya dan kembali meminumnya dengan tenang. Tanpa ku duga aku bersendawa karena terlalu banyak mengonsumsi soda. Aku refleks menutup mulutku dan menunduk.

“Ck. Jorok.” aku mendengar Sehun terkekeh. Ia pasti menertawaiku. Phabo! Han hyunra phabo!

“Berhenti tertawa atau kusumpal mulutmu dengan kaleng!”

“Hahaha baiklah baiklah. Aku berhenti.” Sehun pun berhenti tertawa dan ia mengganti kakinya yang diteluk dan kembali memperhatikanku.

Aku rasa lebih baik jika ia mengacuhkanku ketimbang memperhatikanku seperti ini. Terasa memalukan. Padahal kami sudah berhubungan sekitar 2 bulan, namun aku masih merasa bahwa kami sama saja seperti bukan sepasang kekasih. Aku dan dia tetap bertengkar karena hal sepele, aku tetap memakinya dan aku tetap sering berkata ketus padanya, terutama ketika ada teman sesama anggota Exo. Ya, kami memang seperti itu, namun itu juga untuk menutupi hubungan yang kami jalin.

“Hmm apa yang kau lakukan disini? Aku kira kau sedang latihan.” Aku mencoba mengalihkan keadaan.

“Tidak, seminggu ini kami istirahat. Semua member memiliki kesibukan masing-masingi untuk mengisi waktu luang mereka.”

“Ah.. Begitu. Baguslah, kau memang seharusnya istirahat. Tapi.. Kenapa kesini? Kenapa tidak istirahat saja di dorm?”

“Apa kau mengusirku?”

“Anio.. Aku kan hanya bertanya, kenapa sangat sensi sekali huh.” aku sedikit menunjukan ekspresi kesalku padanya namun ia nampak cuek tak berusaha membuat dirinya merasa bersalah. Dasar! Pria tidak peka.

“Tidak usah seperti itu.”

“Seperti apa?” aku memang tak paham apa maksudnya kali ini.

“Kau membuatku gemas.”

“Ap– gemas? Aku bukan bayi. Sudahlah lupakan!” ia terkekeh, sungguh ini jadi terkesan menyebalkan. Dia selalu saja membuat pipiku bersemu sekalipun dengan perbuatannya yang menyebalkan.

“Apa kau lelah?”

“Ani. Ini sudah biasa, hanya saja mungkin lebih padat dari sebelumnya. Aku jarang-jarang ditunjuk menjadi staff yang memiliki pengaruh penting. Ini karena Jaebum oppa tidak hadir dan semua tugas dilimpahkan padaku.”

“Berhenti memanggilnya oppa.”

“Wae? Sudah kebiasaan dan memang seharusnya seperti itu.”

“Kalau begitu panggil aku oppa.” ia meghadapkan tubuhnya padaku dan menatapku.

“Shireo! Akan terdengar menggelikan. Lagi pula kita hanya berbeda satu tahun.”

“Ck. Aku rasa kau memang tak bisa bersikap layaknya seorang kekasih.”

“Ya.. Aku memang begini adanya. Kalau kau tidak suka kau bisammmpppphh..” ia mengecup bibirku untuk beberapa detik. Aku bungkam dibuatnya dan aku mulai menahan napas. Sedetik kemudian ia melepaskan ciumannya dan menatapku. Ya Tuhan, kenapa dadaku terasa nyeri. Perasaan apa ini?

Aku tak tahu selama 2 bulan hubungan backstreet kami apakah aku sudah memiliki perasaan padanya atau belum. Yang jelas setiap hal yang ia lakukan sekalipun itu sangat menyebalkan sesekali membuat kerja jantungku berpacu seperti tak seharusnya. Mungkinkah aku sudah menyukainya? Bodoh memang kalau aku menolak pesona pria di hadapanku ini. Ia terlalu menggoda untuk menjadi kekasih seorang Han Hyunra. Aku tak kuasa.

“Hyunra-ya, ayo kita jalan-jalan?”

“Huh? Jalan-jalan?” ia mengangguk.

“Ya, kita ke taman bermain mau?”

“Tapi ini kan sudah hampir malam Oh Sehun.”

“Malam akan mempermudahkanku agar tak dikenali untuk keluar. Lagi pula, kalau dipikir-pikir ini kan kencan pertama kita.”

“Iya juga sih. Jadi.. Ini kencan?” memikirkannya saja sudah membuatku senyum-senyum sendiri. Aku rasa ada yang aneh dariku. Dan ini karena ulah Oh Sehun!

“Kaja.” Sehun manrikku agar berdiri, ia berjalan menduluiku dan aku mengikutinya.

“Apa tidak sebaiknya kita pergi menggunakan scooterku?”

“Tidak. Ini hampir malam dan aku tak mau kau kedinginan. Aku membawa mobil Chanyeol hyung.” huh lagi-lagi hanya mendengarnya mengatakan hal seperti ini saja membuatku bersemu. Tenangkan dirimu Hyunra, ini bukanlah apa-apa. Pria dengan sejuta pesona seperti Oh Sehun pasti selalu bersikap seperti ini pada wanita. Tapi, bukankah kami pasangan kekasih? Wajar bukan kalau ia perhatian padaku? Huh sudahlah aku tak mau memikirkannya.

Kami sudah sampai di area taman bermain “Dream Land” yang Sehun maksud. Sehun membeli 2 tiket dan kembali menarik tanganku. Aku cukup terkesan dengan suasana petang taman bermain ini. Lampu-lampu malam mulai menghiasi beberapa spot tempat membuat keindahan disepanjang jalan yang kami lalui.

Setelah masuk, Sehun terlihat melihat-lihat area sekitar dan menimbang wahana apa yang harus kami naiki. Aku memperhatikannya dari samping.

Tampan.

Tentu saja.

Ia masih terlihat tampan sekalipun dengan topi dan masker yang menutupi wajahnya. Aku kemudian menilai penampilaku, hanya memakai kemeja merah dengan jeans dan sneakers. Aku bersyukur kami tidak kelihatan mencolok. Aku kan takut kalau sampai Sehun dikenali oleh orang-orang yang berlibur kesini.

Sehun kemudian menarik kembali tanganku agar berjalan sejajar dengannya, entahlah aku tak tahu apa yang ia rencanakan yang jelas aku hanya mengikuti kemana saja ia akan mengajakku.

Kami tiba di area wahana Roaler Coaster. Aku pikir ia akan mencoba wahana-wahana yang mudah dulu, namun ia terlihat cukup berani. Kami pun menaiki wahana tersebut dengan duduk di kursi paling belakang.

“Aku harap kau tidak ketakutan hm?”

“Jangan sombong, kita lihat saja siapa yang akan ketakutan.”

“Bagaimana kalau kita bertaruh? Siapa yang paling bisa menaklukan wahana pilihan lawan akan mendapatkan 3 permintaan?” Sehun menyeringai di tengah ucapannya itu.

“Apa? Shireo, aku tak mau.”

“Bilang saja kau takut kalah kan?”

“Tidak. Oke aku terima.”

“That’s good.”

Tepat saat itu pula permainan dimulai dan kalau boleh jujur sebenarnya aku cukup ketahutan. Tanpa sadar aku menggenggam tangan Sehun erat. Aku tak peduli yang penting aku tahu kalau aku tidak sendirian menaiki wahana ini.

Gila! Aku mual dan Sehun tertawa puas melihatku yang setengah sadar.

“Baru satu saja kau sudah kesulitan seperti ini. Bagaimana yang lainnya.” ia.amsih tertawa diatas penderitaanku. Heol~ apa ini yang namanya kekasih? Rasanya aku ingin melemparnya ke uju Bianglala.

“Tunggu saja. Aku belum cukup mual.”

“Apa? hahaha Hyunra-ya.. Aku pasti menang.”

“Ck, terlalu percaya diri itu tidak baik Oh Sehun.”

Sehun kembali menarik tanganku dan mengajakku menaiki wahana selanjutnya. Aku heran, kenapa sih ia suka sekali menarik tangan? Aku kan bukan anak kecil yang akan hilang. Dasar!

Kami sudah menaiki beberapa wahana, cukup menyenangkan dan diantara wahana-wahana yang seram untuk dinaiki aku akui aku kalah. Sehun lah yang menang dan aku siap untuk 3 permintaannya nanti. Mungkin ini bukan hari keberuntunganku.

Sekarang Sehun sedang membeli minuman ke dalam sebuah kedai minuman. Aku duduk di luar dekat sebuah lampu taman yang ada di area taman bermain. Aku melihat sekeliling, awalnya tidak ada yang aneh dengan suasana taman bermain ini namun aku melihat tepat di depan tempat yang kududuki aku menemukan seorang anak kecil yang berumur sekitar 5 tahun sedang menangis sendirian. Aku putuskan untuk menghampiri anak tersebut.

“Apa kau tersesat anak manis?” aku berjongkok di depan anak laki-laki tersebut. Ia mendongak dan mulai menatapku.

“Hiks eomma hilang, aku tak tahu eomma dimana.”

Aku sedikit menimbang apa yang ia ucapkan, lucu sekali. Bukannya yang hilang itu dirinya? Anak ini benar-benar manis.

“Tenanglah, ayo kita cari eomma-mu.” aku berdiri dan mengulurkan tanganku pada anak ini. Ia menggenggamnya dan mulai berjalan beriringan denganku.

“Eomma mu memakai baju apa?”

“Eeomna pakai baju merah. Sama seperti noona.” Aish rasanya menyenangkan dipanggil noona oleh anak seumurannya. Ia rerlihat tampan dan lucu. Hyunra! Bukan saatnya berpikiran seperti ini.

“Namamu siapa?”

“Aku Lee Jeno, noona.”

“Woah.. Nama yang tampan juga. Seandainya aku punya adik sepertimu. Kaja kita cari eomma-mu.”

Kami pun pergi berkeliling sekitar area dimana aku menemukan anak ini menangis. Beberapa wanita yang memakai baju merah selalu ku perhatikan dan kutanyakan pada Jeno apakah ia ibunya atau bukan. Hingga setengah jam kemudian kami bertemu dengan ibunya Jeno. Ia datang dengan wajah khawatir dan segera memeluk tubuh anak tersebut.

“Astaga Jeno, maafkan eomma meninggalkanmu sayang. Kau tidak apa-apa?” Jeno menggeleng dan ia memeluk ibunya dengan erat. Sungguh menyenangkan melihat kebahagiaan mereka. Aku iri.

“Agassi.. Aku sangat berterima kasih kau sudah menjaga Jeno.”

“Ne ahjumma, sebaiknya ahjumma selalu menggenggam tangan Jeno agar ia tidak pergi tanpa sepengetahuanmu.”

“Ye agassi, kamsahamnida. Jeno, katakan apa pada noona?”

Jeno menatapku berbinar dan aku bersumpah ia sangat lucu dan tampan. Semoga anakku kelak akan setampan dirinya.

“Gomawoyo noona.”

“Ne.. Sampai jumpa lagi yaa.”

“Sampai jumpa agassi.” Jeno dan ibunya pun pergi dengans aling berpegangan tangan. Mereka ibu dan anak yang sangat beruntung. Semoga saja Jeno tidak hilang lagi seperti tadi.

Aku terdiam, merasa melupakan sesuatu.

Bodoh.

Oh Sehun. Aku meninggalkannya.

Hyunra! Phabo.

Aku segera berlali ke tempat kedai minuman tadi dan mencari-cari keberadaan Oh Sehun. Aku tak menemukannya bahkan di dalam kedai. Namun aku melihat ada dua buah Ice Latte yang tergeletak diatas kursi tempat aku menunggu Sehun tadi. Aku rasa Sehun mencariku. Phabo kau Hyunra!

Aku berjalan sekeliling area ini dan mencari-cari keberadaan Sehun. Sama seperti saat aku menemani Jeno, aku mememperhatikan setiap orang dengan topi hitam. Sehun, kau dimana?

Beberapa menit setelah aku berkeliling. Aku merasakan ada sebuah tangan yang memegang bahuku dari belakang kemudian ia memutar tubuhku untuk menghadap orang tersebut.

Oh Sehun.

Ia kelihatan capek. Peluh membanjiri dahinya dan masker yang ia pakai sudah tak terpasang di wajahnya. Ia menatapku dengan wajah seolah-olah akan membunuhku. Astaga, ia pasti marah.

“Han Hyunra. Berhentilah membuat orang cemas. Kau tahu ini sudah malam dan kau pergi tanpa ijin padaku.”

“Maaf, aku tak bermaksud. Tadi aku menolong seorang anak kecil yang tersesat.”

“Oh Sehun, aku jujur. Tadi ada anak bernama Jeno yang hilang dari ibunya, aku mencoba membantunya bertemu dengan ibunya.” mendengar alasanku, Sehun pun menunjukan ekspresi leganya. Setidaknya ia tidak akan terlalu narah padaku.

“Aku takut.”

“Huh? Takut apa?” Sehun menarik tubuhku dan mendekatkan jarak diantara kami.

“Aku takut kau hilang. Jangan buat aku khawatir lagi.” setelah itu ia menarik tangaku, menggenggamnya dan memasukannya kedalam saku jaket yang ia pakai. Ia tak banyak bicara setelah ini. Aku tahu aku yang salah, aku pun tak mau mengatakan hal yang aneh, takut apa yang ku katakan malah memperburuk keadaan. Kami pun pulang pada saat itu juga.

Di dalam mobil ia masih tak berkata apapun, ia mendiamkanku. Aku pun ikut diam dan hanya menatap jalanan sepangjang perjalanan kami pulang.

Aku kan sudah minta maaf, kenapa ia begitu sensitif?

Tanpa aku sadari aku merasa mataku mulai berat, aku mencoba untuk tertap terjaga, namun aku pun perlahan memejamkan mataku dan tertidur.
***
Aku merasakan tubuhku cukup nyaman berbaring. Ini seperti berada di ranjang dan aku baru saja memimpikan hal yang indah.

Dengan berat aku pun mencoba untuk membuka mataku. Kamarku. Sejak kapan aku disini? Bukan kah tadi aku berada di mobil Sehun?

Aku melihat ke samping kasurku karena aku merasakan ada pergerakan. Benar saja, Sehun sedang tertidur disampingku. Pasti ia menggendongku untuk sampai ke apartemenku. Dasar Hyunra phabo. Aku sudah membuatnya kelelahan dengan menggendongku kemari. Aku menghadapkan tubuhku padanya. Ia sudah tertidur.

Aku rasa Sehun kelelahan, tentu saja. Aku merasa bersalah padanya, padahal tadi ia sedang kesal padaku namun aku selalu saja merepotkannya.

Aku melihat jam di nakas, waktu menunjukan pukul 2 dini hari. Aku rasa tak mungkin aku menyuruhnya pulang sekarang. Aku biarkan saja Sehun tidur disini. Sebelum aku melanjutkan tidurku, aku merasa tak nyaman tidur dengan pakaian yang sudah ku kenakan seharian. Aku putuskan untuk menggantinya denga baju untuk tidur.

Aku membuka lemari dan memilih pakaian tidur yang ingin ku kenakan. Sebuah kaos putih longgar dan legging. Aku membawanya dan masuk kedalam kamar mandi untuk sekalian menggosok gigi dan membasuh wajahku.

Aku rasa ini lebih baik. Aku merasa cukup segar dan siap untuk melanjutkan tidurku. Aku memperhatikan Sehun yang tertidur dengan menutup wajahnya dengan lengan. Aku menaiki ranjang dan memperhatikannya. Aku menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang kupakai. Ku turunkan tangan di wajahnya dan membenarkan posisi tidurnya. Tiba-tiba ia membuka matanya. Aku kaget tentu saja.

“Sehun..”

“Maaf.. Aku pasti menggangu tidurmu.”

Aku mencoba membenarkan posisi tubuhku agar tidak terlalu condong padanya. Namun tidak terduga ia malah menarik tubuhku. Hal itu membuat tubuhku menimpa tubuhnya, tubuh kami saling menempel dan ia menatapku intens.

Aku mencoba menahan beban tubuhku agar dadaku tak bersentuhan dengan dadanya. Namun Sehun semakin mempererat jarak diantara kami. Aku memperhatikannya yang menatapku dalam.

“Ada apa?”

“Kau tahu, aku sangat khawatir tadi.”

“Ya aku tahu. Aku minta maaf membuatmu khawatir.”

“Jangan ulangi lagi.”

“Ya..”

Sehun menarikku dan ia benar-benar merekatkan jarak antara kami. Ia memelukku erat, menyandarkan tubuhku untuk bersandar di dadanya. Posisi ini cukup intim dan aku merasa kurang nyaman.

“Sehun lepaskan..”

Ia melepaskanku, namun ia malah menggulikan tubuhnya hingga kini posisinya berada diatasku. Aku kaget tentu saja. Sehun menatapku dalam dan mulai mendekatkan wajahnya padaku. Aku memejamkan mata namun aku tak merasa ada sesuatu yang mendarat dibibirku. Tentu saja aku berpikir ia akan menciumku. Tidak bukan di bibir melainkan di leher. Aku merasakan ada hembusan napas disekitar leherku dan itu terasa geli. Sehun mulai mengecupnya dan hal itu membuatku merasakan sensasi aneh yang belum pernah kurasakan. Hembusan napasnya semakin dalam kurasakan, ia berulang kali mengecup leherku. Aku melengguh karena tak kuasa merasakan sensasinya.

“Sehun.. Apa yang kau lakukan?”

Sehun menghentikan aktivitasnya dan menatap mataku. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan namun hal ini cukup membuatku bersemu. Kami tidak pernah berada dalam posisi sedekat ini bahkan ia berani menciumi leherku.

“Aku mencintaimu. Apa kau sudah mulai mencintaiku?”

Apa? Apa ini yang ingin ia katakan? Jujur selama jalan-jalan kami hari ini, aku menyadari kalau aku sudah jatuh hati padanya. Terlebih aku dapat merasakan kalau ia sangat khawatir ketika aku hilang dari sampingnya. Aku rasa aku memang sudah jatuh cinta padanya. Aku tak akan ragu lagi untuk mengatakannya.

“Ya aku mencintaimu Oh Sehun.” aku memberikan senyuman tulus padanya, berharap ia percaya padaku bahwa aku memang benar-benar sudah mencintainya.

Setelah mengatakan hal itu, Sehun tersenyum menampakan seringaiannya yang cukup menggoda. Ia kemudian mendekatkan kembali wajahnya padaku. Aku merasakan hembusan napasnya disekitar wajahku. Aku masih menatapnya enggan untuk sekedar memejamkan mata. Apa kami akan melakukannya?

“Aku menginginkanmu.”

“Apa?”

“Aku menginginkanmu.”

“Lalu?”

“Do you let me to…?”

“What do you think?”

“Of course. Aku harap kau juga menginginkannya. Aku tidak akan melakukannya tanpa persetujuanmu. Aku ingin kau juga menikmatinya.”

“Aku tidak yakin, aku belum pernah melakukannya.”

“Ini akan nikmat.”

“Yak!” aku memukul kepalanya. “Apa kau sudah pernah melakukannya?” aku kesal tentu saja. Jadi ia sudah terbiasa?

“Phabo, ini memang akan nikmat dan menyenangkan. Tapi bukan berarti aku pernah melakukannya. Aku tidak akan melakukannya dengan orang yang tidak kucintai.”

Oh phabo Sehun! Kau membuatku semakin merona. Sepertinya dadaku mulai berdetam tak karuan. Apakah aku siap melakukan ini? Aku tahu ini salah, namun tak dapat kupungkiri aku juga menginginkannya. Aku ingin tahu apa yang orang lain selalu katakan tentang surga dunia. Ugh menjijikan.

“Aku mencintaimu dan aku menginginkamu.” lanjut Sehun kembali, ia kembali menatapku intens, aku sungguh tak sanggup menatap mata itu.

Hyunra-ya, apa kau sudah siap kelihalang keperawananmu? Oh Tuhan maafkan aku. Eomma, appa, eonni maafkan aku. Aku mencintai Sehun.

“Oh Sehun aku…”

Saat itulah aku mulai merasakan bibir Sehun menyapu bibirku. Tidak seperti biasanya, ia kini melakukannya dengan perlahan dan terkesan membuatku nyaman dengan perlakukan bibirnya. Apa karena ini yang pertama untukku? Aku pun membalasnya dan kami terlibat dalam perang bibir dengan saliva disekitar bibir kami.

“Sehunnnhhhhhh..” Ia turun menuju leherku kembali ia menggigit leherku setelah ia mengecupnya berulang kali. Hal itu sukses membuatku melengguh tak kuasa menahan perlakuannya.

“Nggghhhhh..” Kini tangannya tidak tinggal diam. Ia meraba bagian sensitif dari tubuhku. Aku merasakan tubuhku bergetar, ini sensasi pertama yang kurasakan dan aku tak sanggup menahan desahanku. Aku terus meremas sprei ranjangku dan merasakan sentuhan Sehun semakin membuatku hilang kendali.

Sehun terus bermain di sekitar leherku dan tanpa aku sadari aku mendongak memberinya akses lebih pada leherku. Ia terus menyecupinya dan sesekali menggigit kecil leherku. Tanpa menghentikan aktifitas bibirnya, tangannya mulai menjalar menelusuri kaos yang kupakai. Ia menariknya keatas dan saat itulah terlihat bagian atas tubuhku yang masih tertutupi oleh bra.

Aku malu tentu saja. Belum ada pria yang melihat tubuhku sampai sebegini jauhnya. Sehun melepas kecupannya di leherku dan mulai mengeluarkan kaos yang kupakai dan melemparkannya entah kemana. Sehun diam sejenak memperhatikan aku yang masih dengan napas memburu. Ia menatap bagian atas tubuhku tanpa memgatakan apapun, namun aku dapat melihat kilat matanya yang menunjukan kalau ia menikmati apa yang sedang ia pandang.

“Hyunra, ijinkan aku..”

“Ya, lakukan semaumu.”

Tangannya pun menggapai tubuhku dan mencoba mencari pengait bra di belakang tubuhku. Aku sedikit mengangkat tubuhku agar ia bisa melakukannya dengan mudah. Ia berhasil. Sekarang tubuh bagian atasku tak tertutupi apapun. Aku dapat melihat pandangan sehun tertuju pada payudaraku. Tangannya masih bertopang di sisi tubuhku untul menjaga jarak kami.

Aku mencoba menutup dadaku walaupun aku rasa ini tak berguna. Heol, aku malu. Sangat.

“Biarkan aku melihatnya.” Aku menggeleng. Ia sedikit tertawa dan kembali mendekat untuk merup bibirku. Kami kembali berciuman, saling melumat dan aku merasakan lidahnya mulai ikut bermain. Semakin lama ciumannya kembali turun menuju leherku, kini ia tak terlalu lama bermain disana karena aku tahu tujuannya bukan itu. Ia mengecup bahu telanjangku, turun dan semakin turun hingga mencapai dadaku. Dengan perlahan ia mengalihkan tangan yang ku pakai untuk menutupi payudaraku dan meletakannya diatas kepala.

“Ngghhhhhhhhh.. Sehunhhh.”

Gila! Sensasi apa ini? Aku menahan segala rasa yang terasa memabukan. Ia mengecup puncak payudaraku dan kemudian meraupnya. Napasku tak beraturan, bibirnya terlalu lihai melakukan ini semua. Ditambah sebelah tangannya mulai memainkan payudaraku yang lain.

Aku mencengkrang sprei rangangku kuat. Sehun terus-menerus melakukan hal yang membuat darahku berdesir. Ia terus mengecup, mencium dan menjilat bagian atas tubuhku. Ia kemudian berhenti, hal itu membuatku sedikit bisa bernapas lega. Aku melihatnya bangun dan melepas kaos yang ia pakai, sebelum tidur ia sudah melepaskan jaketnya hingga kini ia tak memakai apapun dibagian atas tubuhnya.

Aku tahu ia tampan dan memiliki tubuh yang bagus, terlihat dari bahunya yang lebar dan lengannya yang berotot. Namun pikiranku semakin tak karuan ketika aku melihat otot perutnya. Aku tak tahu badannya sebagus itu. Bolehkah aku katakan kalau aku beruntung melihatnya? Ia tersenyum melihat ekspresiku yang terkesan kagum pada tubuhnya.

“Aku tahu tubuhku bagus, ini milikmu dan tubuh ini milikku.” apa? Ucapannya memang selalu asal! Aku kesal, tapi aku cukup merona.

Kini kami tak memakai apapun, sama sekali. Dan aku sangat malu. Sehun masih betah mengecupi bagian-bagian tubuhku yang sensitif kecuali bagian bawahku. Aku tak mau ia melakukan apapun disana menjijikan. Ia masih mengecupi selurih wajahku dan sekarang ia memandangku. Ia mengalungkan lenganku pada bahunya yang lebar kemudian mengusap peluh yang membasahi dahiku.

“Hyunra-ya, aku mencintaimu. Aku tahu pertemuan kita sangat singkat untuk dapat ke tahap ini. Tapi kau harus tahu kalau aku tak pernah bermain-main denganmu. Aku tidak mudah jatuh cinta dan kau lah yang membuat aku mampu mengungkapkan perasaanku padamu dengan gamblangnya. Aku akan berusaha untuk hubungan ini dan aku harap kau juga.” ucapannya diakhiri dengan sebuah kecupan panjang di keningku. Aku cukup terharu dengan apa yang baru saja ia katakan. Boleh kah aku berkata kalau itu sangat manis? Aku rasa Sehun bukan lah seseorang yang mampu mengungkapkan segalanya dengan kata-kata. Ia bahkan terkesan pendiam dibandingkan hyung-hyungnya. Aku merasa beruntung memilikinya.

“Aku mencintaimu Oh Sehun.”

“Terimakasih dan maaf.”

Ia menatapku memberikan senyumannya yang manis. Saat itu pula aku merasakan sesuatu memasuki tubuhku. Aku memejamkan mataku tak kuat menahan rasa sakitnya. Ini benar-benar sakit dan aku ingin menangis. Sehun yang melihat ekspresiku berusaha memasukannya sepelan mungkin hingga milik kami menyatu sempurna.

“Cobalah menikmatinya sayang. Aku akan bergerak.” ya, dia mulai bergerak dan mulai mengeluarkan dan memasukan miliknya perlahan dan dengan tempo yang pelan.

“Ngggggg.. Ohhhh…sehunnnnhhhh.. A-aku tak kuat. Sakit.”

“Tenaglah, aku sudah berusaha sepelan mungkin. Milikmu sempit Hyunra-ya.” Aku tak memdengar apapun, aku tak fokus dengan apa yang ia ucapkan. Aku semakin mengcengkrang peganganku pada bahunya. Sehun semakin mempercepat gerakannya, temponyabaudah tak sepelan tadi. Dapat aku lihat ia memejamkan matanya dan peluh membasahi keningnya. Ku usap dan ku kecup kening Sehun.

“Gerakanlah. Aku sudah siap.” Mendengar itu Sehun pun mulai menggerakannya dengan lebih cepat. Bahkan tubuhku sampai bergerak mengikuti irama yang ia ciptakan. Milik Sehun masuk terlalu dalam hingga aku pusing merasakan kenikmatan ini. Sehun kini menciumku, berusaha memberikan kenikmatan lebih. Tangannya tak tinggal diam, kini tangan itu menjalar menemukan.payudaraku dan menainkannya. Sungguh! Ini luar biasa. Sehun terus bergerak hingga aku merasakan akan ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuhku.

“Sehunnnhhhh.. Ada yangghh ingin keluarrhh.” Sehun semakin mempercepat gerakannya dan remasan tangannya di dadaku. Aku rasa aku sudah tak sanggup menahan sesuatu yang ingin keluar itu. Sebelah tanganku meremas rambut Sehun yang tebal dan sebelahnya mencengkram erat lengan Sehun. Aku ingin keluar sekarang juga. Hingga aku merasakan cairan keluar dalam tubuhku disusul milik sehun yang mengeluarkan hal sama. Cairan itu mengalir dan aku dapat merasakannya dengan jelas. Ada sensasi aneh yang tubuh bagian bawahku rasakan.

Aku menghembuskan napasku kasar. Sehun juga melakukan hal yang sama dan ia menatapku dari atas. Ia membasuh peluhku dan kembali mengecupnya.

“Terima kasih.” ia kemudian menjatuhkan tubuhnya disampingku dan memelukku. Aku merasa tak nyaman karena tautan kami belum terlepas, sehun yang mengetahuinya kemudian melepaskannya dan ia terkekeh. Ugh itu tidak lucu!

Aku memejamkan mataku dan mencoba terlelap dalam pelukannya. Ia semakin mengeratkan tubuhku dan memelukku bagaikan guling.

“Sehun.”

“Hmm?” sepertinya ia masih belum tidur.

“Bagaimana kalau aku..”

“Shhhttt..” ia membuka matanya dan menatapku.

“Istirahatlah. Aku tahu kau lelah dan ng.. Sakit.” ya dia benar, milikku terasa sakit. Pria jahat!

“Baiklah.” kami pun mulai terlelap dengan slaing berpelukan. Aku senang aku bisa mencium aroma tubuhnya yang maskulin sekalipun bercampur dengan aroma keringatnya.
***

“Hyunra..”

“Jam berapa ini? Kenapa seperti ada suara eonni?” Aku melepaskan pelukan Sehun dan mencoba bangun. Aku duduk dan melihat kearah jam, pukul 9 pagi.

“Hyunra-ya.. Apa kau belum bangun?” aku rasa itu memang benar-benar suara kakaku, Haera eonni. Tumben sekali eonni datang di hari minggu. Aku mencoba bangun, namun aku merasa aneh dengan tubuhku, benar saja aku masih telanjang dan tak mengenakan apapun. Aku menatap Sehun disampingku dan ia juga dengan keadaan yang sama walaupun tubuhnya tertutupi selimut.

Gawat!

Eonni tidak boleh tahu kalau aku sudah tidur dengan Sehun. Bahkan aku saja belum mengatakan padanya bahwa aku sudah memiliki kekasih, terlebih Oh Sehun. Haera eonni mengenalnya.

Dengan segera aku memungut pakaian disekitar ranjangku yang berserakan. Aku memakainya asal tak peduli. Aku segera merapikan rambutku dan bercermin sejenak. Gila! Leherku kenapa? Ah masa bodo, aku harus mencega eonni masuk ke kamarku.

Aku mebuka pintu dan aku dapat melihat eonni sedang di dapur dan memasukan beberapa makanan yang ia bawa ke dalam lemari es. Aku berusaha senormal mungkin dan mendekatinya.

“Eonni.. Kenapa hari minggu datang? Bagaimana dengan kafe?” Aku pun mendudukan diri di dekat dapur.

“Junhyung oppa mengajakku pergi, aku kesini mampir dan membawa makanan untukmu.” Eonni menutup lemari es dan berjalan mendekatiku, ia duduk di hadapanku.

“Kau terlihat kelelahan. Apa sibuk sekali?” aku memperbaiki letak kaos yang kupakai agae eonni tidak melihat sesuatu dibaliknya.

“Ya, cukup melelah…”

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, menampakan tubuh jangkung Sehun yang sudah mengenakan celana dan kaosnya. Ia masih dengan wajah mengantuk tanpa sadar membuka pintu itu. Inilah akhir hidupku. Aku melihat eonni memandang pintu kamarku dan ia terbelalak, ia seperti sedang berpikir dan dengan refleks berteriak.

“OH SEHUN! APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMAR ADIKKU?”

-End-

77 thoughts on “Don’t Make Me Worry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s