Eternal Sunshine (Part 1)


Author : WonSiKyu

Title : Eternal Sunshine (Part 1)

Category : NC 21, Romance, Sad,  Angst,  Little BDSM, Yadong,  Chapter

Cast :

Cho Kyuhyun

Choi Sihyun

#Playlist
Anderson East – What Would It Take
Sia – Helium
Super Junior – Dorothy


A person called you, the happiness called you, the pain called you
If it all disappears, it’s like I would disappear too

I try hating you
Looking for the reason we had to break up
Then my heart sinks
When I find myself not having forgotten anything
Another day passes like this

Cho Kyuhyun – Eternal Sunshine

* * *

“Sudah ku bilang untuk meninggalkannya.” Sihyun tersenyum geli ketika memasuki ruang praktek Nayeon. Sahabat sekaligus kakak iparnya itu menyapanya dengan kalimat yang mungkin sudah ribuan kali ia dengar dan tak ia gubris.

“Sore dokter Nayeon. Nampaknya anda sangat sibuk hari ini.” Sihyun menyahut dengan sapaan ceria seperti biasa yang membuat wanita dihadapannya yang sudah menjalin pernikahan selama dua tahun dengan kakaknya itu mendengus.

“Aku baru saja mengobati lukamu dua hari yang lalu. Kini aku harus mengobatimu lagi?” Tanya Nayeon retoris membuat Sihyun lagi-lagi tersenyum geli sambil membuka resleting baju terusan berwarna beige yang membalut tubuhnya.

Nayeon menghampiri Sihyun. Wanita itu meringgis menatap bilur yang melintang di punggung Sihyun. Bilur kemerahan yang begitu kontras dengan kulit pualam Sihyun. Ini bukan kali pertama ia melihat luka mengenaskan adik iparnya itu. Tapi setiap melihat bilur baru di punggung Sihyun, Nayeon secara reflek meringgis menahan rasa sakit yang seolah ia rasakan juga. “Kau benar-benar harus meninggalkannya, Sihyun-ah.” Bisik Nayeon sambil mengoleskan dengan perlahan obat pereda nyeri dibilur punggung Sihyun.

“Dia suamiku, Nayeon-ah. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya?” Jawab Sihyun sambil sedikit menggelinjang merasakan dinginnya obat yang dioleskan pada lukanya.

“Dan suamimu itu lelaki psikopat yang dengan teganya menyiksa istrinya sendiri untuk melampiaskan sakit hatinya pada orang lain.” Sahut Nayeon masih dengan telaten merawat luka Sihyun. “Lihatlah luka ini.” Nayeon mengoleskan obat obat itu dengan sentuhan seringan bulu pada luka yang terlihat masih sangat baru dan dalam.

“Kau menyuruhku melihat punggungku sendiri? Aku bukan burung hantu yang bisa memutarkan kepalanya 360°.” Canda Sihyun berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

Nayeon menghela nafasnya perlahan. Sebanyak apapun ia menyuruh Sihyun meninggalkan lelaki psikopat itu, adik iparnya itu pasti tak akan mendengarnya. “Apa yang kau harapkan dari lelaki tak bermoral itu? “ Bisik Nayeon lirih tetapi Sihyun dapat mendengarnya.

“Cinta.” Tangan Nayeon terhenti ia menatap wajah Sihyun yang kini menatap keluar jendela. Rasanya sungguh menyedihkan hanya karena mengharapkan cinta Sihyun rela menjadikan dirinya jadi pelampiasan suaminya. Tapi apa lagi yang bisa diinginkan oleh gadis yang memiliki segalanya harta, kasih sayang keluarga, semuanya ia punya. Yang ia tidak miliki hanya cinta dari suami yang begitu ia cintai.

Andaikan bukan Cho Kyuhyun yang kau cintai. Kau pasti bahagia, Sihyun-ah.

* * *

Langit berwarna biru muda cerah. Terlalu cerah untuk langit yang akan meninggalkan musim gugur. Sihyun menatap daun-daun kecoklatan yang memenuhi trotoar jalan. Rasanya ia ingin kembali kerumah. Pepohonan maple disepanjang jalan membuat Sihyun merindukan Korea. Sudah dua minggu ia berlibur di Canada sambil menengok Siwon -kakak lelaki satu-satunya, yang sedang berkuliah disana. Selama satu minggu Siwon menemaninya mengingilingi Canada. Tapi kini kakak lelakinya itu telah kembali sibuk dengan kuliahnya, meninggalkan Sihyun dalam kebosanan di apartmentnya yang membuat gadis itu rindu akan rumah dengan balkon kamarnya yang tenang tempat ia menghabiskan secangkir cokelat panas dan novel dimalam sebelum ia tidur. Kebosanan yang membuatnya berani berjalan-jalan dalam dinginnya penghujung musim gugur.

Angin berhembus menerpa helaian rambut Sihyun. Ia menengadah menatap daun-daun pohon maple yang mulai berguguran karena terpaan angin. Tiba-tiba saja ia teringat drama yang pernah Sihyun tonton bersama Nayeon. Drama itu bercerita tentang dewa yang mendapat kutukan tidak akan pernah bisa mati kecuali pengantinnya mencabut pedang yang terhunus didadanya. Dalam drama itu pemain utama yang sedang berada di Canada mengatakan sebuah mitos tentang daun maple. Jika dapat menangkap daun maple, kau akan jatuh cinta dengan orang yang berjalan bersamamu.

Sihyun tersenyum mengingat bagaimana Nayeon, sahabatnya, menangis terisak menonton akhir cerita drama tersebut. Sihyun kembali menatap dedaunan yang gugur mengikuti angin yang berhembus. Mungkin jika ia membawa satu daun untuk Nayeon, sahabatnya itu akan senang -atau iri karen bisa mendapatkan daun maple dari negeri pohon maple. Dengan perlahan Sihyun melompat sambil mencoba meraih satu daun yang gugur tepat diatasnya. Namun bukannya mendapatkan daun itu, daun itu semakin terbang menjauhinya. Hingga sebuah tangan berhasil meraih daun itu.

“Jika kau melakukan itu daun ini tak akan jatuh ketanganmu.” Sihyun menatap wajah pemilik tangan itu sedikit terkejut karena ia berbicara bahasa korea dengan pasih. Dan saat itu waktu seakan berhenti. Tatapannya terpaku melihat lelaki didepannya. Hidungnya yang bangir, bibirnya yang berisi berwarna kemerahan, dan mata itu, mata hitam legam yang nampak begitu bersinar. “Ini,” Lelaki itu menyerahkan daun itu padanya.

“Terima kasih.” Ucap Sihyun sambil membungkuk. Selain untuk kesopanan ia juga ingin menyembunyikan wajahnya yang kini memerah karena sadar ia baru saja dengan tidak sopannya menatap wajah lelaki itu lama.

“Untuk apa daun itu?” Tanya lelaki itu menatap Sihyun yang masih membungkuk. Sihyun menatap tangannya yang masih menggenggam daun yang lelaki itu berikan. Tiba-tiba saja ia kembali teringat mitos daun maple. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Tidakkah terasa aneh jika ia mengatakan secara tidak langsung menginginkan lelaki itu mencintainya -walau sebenarnya ia bahkan tak tahu lelaki itu berada disana bersamanya?

Lelaki itu masih menatap Sihyun.yang kini hanya menunduk dalam. Ketika dirasanya Sihyun tak akan menjawab pertanyaannya. Ia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Sihyun.

“Tunggu,” Sihyun menegakkan kepalanya dan kembali menatap wajah rupawan lelaki yang kini sudah berbalik menghadapnya. Dilihatnya baik-baik wajah lelaki itu, “A-apakah kau seorang Goblin?”

“Apa?” Lelaki itu nampak begitu kebingungan bahkan ia terlihat begitu terkejut. Membuat Sihyun sadar dengan pertanyaan konyolnya.

“Ti-tidak,” Sihyun mencoba melangkah. Tapi langkahnya terhenti ketika ia dengar tawa renyah dari lelaki itu.

“Bukan. Aku hanya lelaki biasa.” Ucap lelaki itu sambil tersenyum semanis madu pada Sihyun. Lagi Sihyun terpaku. Senyum lelaki itu membuat jantungnya berdebar kencang menghangatkan seluruh tubuhnya. Dalam hangatnya jingga musim gugur, sejuknya angin berhembus menyambut musim dingin, Sihyun dengan hati berdebar berharap mitos daun maple tersebut menjadi nyata.

* * *

Siang sudah bergulir menjadi malam. Langit senja telah berubah menjadi biru kehitaman.  Sihyun membaca buku novelnya dengan mata yang sebenarnya sudah terasa perih. Sepulangnya dari rumah sakit –tempat Nayeon bekerja, ia menghabiskan harinya dengan membaca novel.

Sihyun menatap jam disampingnya. Masih beberapa jam lagi suaminya biasa pulang. Tapi saat ia mulai kembali mencoba fokus dengan novelnya, pintu kamarnya terbuka menampakkan seseorang lelaki walau wajahnya terlihat lesu tapi ketampanan tetap terpatri dengan jelas diwajah layaknya seorang adonis itu. “Oppa, kau sudah pulang?” Tanya Sihyun sambil bangkit dan melangkah mendekati Kyuhyun.

Sihyun membantu melepaskan dasi yang terpasang dileher suaminya –seperti biasa yang ia lakukan ketika suaminya itu pulang. Tanpa ia sadari Kyuhyun yang menatapnya dengan tatapan tajam. Dan kegiatannya terhenti ketika suaminya berkata dengan nada datar dan tatapan tajamnya, “Buka bajumu.”

Wajah Sihyun memucat. Ia tahu dengan pasti apa yang suaminya itu inginkan. “Ah, apa kau tidak ingin mandi terlebih dahulu? Aku akan menyiapkan air-” Gadis itu berusaha mengalihkan Kyuhyun, walau ia tahu sendiri jika itu tak akan berhasil. Tapi sungguh punggungnya masih terasa sakit. Meski sudah diobati tapi tentu saja bilur-bilur yang memenuhi punggungnya tak akan sembuh secepat kelinci berlari. Bahkan efek obatnya baru terasa kini.

“Apa kau tidak dengar apa yang aku perintahkan barusan?” Tanya Kyuhyun masih dengan datar, meski wajahnya kini lebih dingin dari sebelumnya. Dan tatapannya semakin tajam padanya.

“Tapi Kyuhyun-ssi-” Sihyun mencoba untuk menjelaskan walau kini lidahnya kelu, terlebih ketika suaminya dengan kasar membalikkan badan hendak meninggalkan Sihyun.

“Kyuhyun-ssi,” Dengan susah payah menelan ludahnya sendiri Sihyun melepaskan satu persatu kancing piamanya dengan tangan bergetar. Logikanya menyuruhnya untuk tidak melakukannya. Tapi hatinya mengatakan ia harus membahagiakan suaminya tak peduli ia harus merasakan sakit kembali.

Kyuhyun menatap Sihyun yang membuka pakaiannya dengan datar, “Balikkan badanmu.” Sihyun menurut berbalik dan memperlihatkan punggungnya yang menyedihkan.

Sihyun sedikit berjingkat ketika dengan perlahan suaminya itu menyentuh bilur-bilur dipunggungnya. “Punggungmu nampaknya sudah penuh. Bagaimana jika perutmu ini aku lukis juga?” Kyuhyun mengelus perut Sihyun seringan bulu.

“Berbaringlah.” Perintah Kyuhyun yang hanya dituruti oleh Sihyun dalam diam.

“Tadi siang ibumu datang.” Kyuhyun mulai melepaskan ikat pinggang yang melilit pinggangnya, membuat Sihyun dengan reflek menyentuh –tepatnya menutupi perutnya sendiri. “Seperti biasa ia menanyakan tentangmu. Tepatnya tentang kapan kau hamil. Nampaknya ia betul-betul ingin mempunyai seorang cucu.” Kyuhyun menyentuh tangan Sihyun. Menyingkirkan tangan istrinya yang menghalangi jalannya dengan perlahan. Kembali mengelus perut Sihyun seringan bulu. Membuat Sihyun menutup matanya menahan rasa geli dan hangat. Dan saat rasa hangat menjalar dari perutnya menuju seluruh tubuhnya, Sihyun merasakan rasa sakit yang menyengat yang terasa sangat familiar dalam beberapa bulan ini.

“Argh!” Sihyun berteriak ketika kembali rasa menyengat itu menyentuh perutnya.

“Aku tidak keberatan memberikan orang tuamu itu cucu.” Kyuhyun menatap bilur samar yang mulai terlihat diperut Sihyun. “Hanya saja kau tahu bukan, aku tidak akan terangsang sebelum melihatmu menyedihkan seperti ini.” Lelaki itu menyentuh ujung ikat pinggangnya, menariknya dan kembali badan ikat pinggang itu mencambuk perut istrinya memperjelas bilur yang semula terlihat samar.

“Sakit?” Tanya Kyuhyun yang hanya dijawab oleh Sihyun dengan diam. Wanita itu sedang mencoba menahan rasa sakit yang tengah dan akan ia rasakan. “Sakit yang kau rasakan tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan ketika kau hadir dan menghancurkan hidupku.” Sihyun mencoba menahan air matanya. Dibanding rasa sakit diperutnya, ia lebih merasakan rasa sakit dihatinya ketika –lagi Kyuhyun mengatakan dia adalah penghancur hidup lelaki itu.

Dan ketika biran kristal bening itu membasai pipi Sihyun. Kyuhyun menghentikan apa yang ia lakukan. Lelaki itu meletakkan ikat pinggangnya sembarang lalu dengan sikutnya menahan tubuhnya menindih istrinya yang mungil. Kyuhyun mencium bibir Sihyun, mengecupnya dengan lembut. Tangannya dengan perlahan menyentuh bilur diperut Sihyun. Beberapa diantara luka itu begitu dalam hingga bercak-bercak darah memenuhi perut Sihyun. Kyuhyun melepaskan ciumannya dan bangkit. Melepas kemeja yang masih melekat ditubuhnya dengan kasar membuat beberapa kancing yang masih melekat terlepas.

Kembali dengan perlahan ia mengusap bilur diperut Sihyun kali ini dengan kemejanya. Membersihkan bercak darah diperut istrinya itu. Sihyun memejamkan matanya merasakan kehangatan yang mengalir dari jantung keseluruh tubuhnya mengikuti setiap aliran darahnya. Ia membuka matanya ketika tiba-tiba rasa hangat diperutnya berubah menjadi rasa dingin yang menyejukan. Kyuhyun dengan perlahan mengoleskan obat pereda nyeri disetiap bilur diperutnya. “Kau tidak perlu datang ke klinik Park Nayeon lagi.” Bisik Kyuhyun membuat Sihyun menatap Kyuhyun dengan ‘Kau tahu? Lalu apa kau tahu jika Nayeon—‘.

“Ya. Aku tahu jika Nayeon-ssi selalu menyuruhmu untuk meninggalkan aku.” Kyuhyun kembali mengobati bilur diperut Sihyun. Tatapannya kini berubah sendu, “Dan kau selalu menolaknya.”

Selama beberapa menit keduanya hanya terdiam. Kyuhyun masih dengan telaten mengobati bilur diperut istrinya. Hingga akhirnya Sihyun membuka suara ketika akhirnya lelaki itu selesai dengan apa yang ia lakukan. “Maafkan aku.” Bisiknya pelan namun Kyuhyun dapat mendengarnya dengan jelas

Kyuhyun hanya menatap Sihyun dengan tatapan yang sulit diartikan. “Dasar bodoh.” Lelaki itu kembali mencium bibir ranum istrinya. Kali ini dengan sedikit kasar namun tidak menyakiti, malah membuat Sihyun merasakan tubuhnya seakan terbakar dengan gairah.

Sihyun memeluk leher Kyuhyun. Membalas ciuman lelaki itu. “Aku mencintaimu.”Bisik Sihyun di sela ciuman panas mereka.

Kyuhyun berhenti menciumnya, menatap kedalam cokelat gelap milik Sihyun lama. “Aku tahu.” Ucapnya akhirnya dan mulai menurunkan ciumannya menuju leher jenjang milik Sihyun. Membawa Sihyun larut dalam kungkungan gairah yang membakar tubuh keduanya.

Malam itu Sihyun kembali mendapatkan alasan mengapa ia harus tetap bertahan disisi suaminya. Bertahan untuk mencintai suaminya. Dan tetap bertahan dalam harapan Kyuhyun dapat membuka hati untuknya.

* * *

“Nama laki-laki itu Cho Kyuhyun bukan?” Nayeon meletakkan nampan yang terdapat dua muffin rasa blueberry dan cokelat di atasnya. “Lelaki yang terlewat jenius itu menyelesaikan s2-nya di Amerika. Saat kau bertemu dengannya dia sedang menyelesaikan tesisnya. Dan kini dia bekerja di perusahaan ayahmu.” Nayeon menjelaskan fakta yang ia ketahui tentang lelaki yang sudah tiga bulan mengetuk hati sahabatnya itu. Walau fakta itu sebenarnya sudah sejak lama Sihyun ketahui, tepatnya ketika hari pertama lelaki itu bekerja diperusahaan ayahnya. Park Nayeon memang selalu memberikan berita yang bahkan lalatpun sudah tahu.

Nayeon melihat Sihyun yang kini tersenyum sambil menatap ponselnya. Ia tahu dengan pasti apa yang tengah sahabatnya itu tatap dalam layar datar itu. Nayeon menghela nafas, “Dia memang lelaki yang baik. Ia mandiri, ia tidak ingin bekerja di perusahaan ayahnya sendiri karena tidak ingin diistimewakan.” Gadis didepannya semakin tersenyum lebar. Nayeon menghela nafas berat, “Tapi kau harus melupakan cinta pertamamu itu.” Nayeon berbisik ketika mengatakan kalimat terakhirnya. Sihyun yang sedari tadi hanya terfokus dengan ponselnya yang menampilkan wajah lelaki yang sedari tadi menjadi topik pembicaraan mereka berdua, menengadah menatap Nayeon dengan tanya diwajahnya. “Dia sudah memiliki kekasih.” Suara Nayeon lebih pelan dari semilir angin, walau begitu masih mendengarnya dengan begitu jelas. Ia sangat tahu berita ini akan menyakiti hati sahabatnya. Dan untuk kali pertama Nayeon memberikan berita yang tak Sihyun ketahui.

Beberapa menit keduanya hanya terdiam. Nayeon menatap sahabatnya yang tak menunjukan reaksi apapun selain menunduk sambil menatap ponselnya. Namun beberapa menit kemudian sahabatnya itu menengadah menatap keluar jendela, menatap salju yang mulai turun. Senyuman tulus mengembang diwajah cantik sahabatnya itu, “Aku harap mereka bahagia.”

* * *

Sihyun menatap cermin besar didepannya. Wajahnya semakin terlihat pucat setelah berusaha memuntahkan isi perutnya, tapi tak ada sedikitpun yang keluar. Sihyun tahu penyebabnya. Tadi pagi ia sudah mendatangi rumah sakit tempat Nayeon bertugas. Dan kali ini bukan karena ingin mengobati luka ditubuhnya, tapi karena sudah beberapa hari ini ia merasa tak enak badan dan selalu merasa mual. Hasil pemeriksaannya sesuai dengan apa yang ia duga. Hamil.

Sihyun menatap kembali pantulannya dicermin. Bagaimana ia harus mengatakan pada lelaki yang kini tengah mengerjakan pekerjaannya di sofa kamar mereka? Sihyun mengelus perutnya melangkah dengan perlahan keluar kamar. Dilihatnya lelaki itu masih fokus dengan berkas yang ada dipangkuan dan tangannya. Sihyun dengan hati-hati mendekati Kyuhyun, seolah suaminya itu bom yang bisa meledak kapan saja. Berdiri didepan lelaki itu sambil berpikir apa yang harus ia katakan terlebih dahulu.

Kyuhyun menghentikan kegiatannya ketika diujung matanya ia melihat istrinya itu hanya berdiri mematung didepannya. Mendongak, mendapatkan wajah istrinya yang pucat. “Kau sakit?” Tanya Kyuhyun.

Sihyun hanya menjawab dengan gelengan. Dengan tangan saling menggenggam Sihyun mencoba menghilangkan rasa gugup dan takut, “Aku hamil.” Bisik Sihyun lirih.

Kyuhyun terdiam berkas dalam genggamannya terjatuh seketika. Dalam beberapa saat hening menyelimuti keduanya. Sihyun kini hanya menunduk, tak berani menatap wajah Kyuhyun. Sedangkan lelaki itu hanya menatap Sihyun dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

“Baguslah.” Kyuhyun mulai membuka suara, suaranya terdengar serak karena menahan perasaan yang ia sendiri tak tahu perasaan apa. “Dengan begitu orang tuamu akan bahagia.” Ucapnya sambil berusaha kembali menekuni berkas dipangkuannya. Walau ia yakin ia tak akan bisa fokus kembali.

Sihyun menatap Kyuhyun yang kembali dengan pekerjaannya. Rasa sedih memeluk hatinya. Walau ia tak mengharapkan lelaki itu akan meloncat kegirangan atau datang memeluknya dengan tangis harus, tapi ia tak menyangka respon suaminya itu akan begitu acuh seperti itu‘Kau sendiri, apa kau bahagia dengan kehamilanku?’

* * *

“Pesta pernikahan itu diadakan secara meriah. Walau bagi keluarga Choi pesta ini tidak seberapa meriah. Choi Siwon, putra sulung keluarga Choi akhirnya menikah. Berita ini sungguh menggemparkan. Selama ini putra Choi Kiho dan Lee Haerin terkenal tak pernah dekat dengan satupun wanita, bahkan ada yang mengatakan bahwa pewaris Hyundai Corp. itu adalah seorang lelaki penyuka sesama jenis. Tapi tak disangka putra keluarga Choi itu akhirnya menikah. Dan menikah dengan sahabat adiknya sendiri. Diketahui wanita itu bernama Park Nayeon. Gadis dari keluarga menengah yang memiliki kecerdasan luar biasa. Gadis ini sudah menjadi dokter diumurnya yang masih 22 tahun—“

“Sihyun-ah, hentikan. Kau membuatku semakin gugup.” Nayeon memegang tangannya yang kini terbalut sarung tangan transparan berwarna putih tulang yang sangat cantik.

“Kenapa? Aku hanya membaca koran.” Jawab Sihyun acuh sambil mulai kembali membaca koran yang tengah ia pegang. Tapi belum sempat ia membaca satu katapun, koran itu telah direbut paksa.

“Berhentilah membaca dan hiburlah aku.” Sungut Nayeon membuat Sihyun tertawa.

“Ya, Park Nayeon! Kau itu akan menikah bukan menghadapi kematian, kenapa aku harus menghiburmu?” Sihyun masih tertawa melihat wajah pucat sahabatnya itu.

“Menikah dengan kakakmu itu seperti menghadapi kematian.” Ucap Nayeon sambil kembali memegang tangannya yang kini sudah berkeringat membasahi sarung tangan cantiknya.

“Jangan berkata seperti itu, Nayeon-ah. Bagaimanapun juga sebuah pernikahan adalah sebuah kebahagiaan. Kau harus mensyukurinya.” Shin Jiyeon –ibu Nayeon- yang semula hanya diam memperhatikan tingkah laku putri semata wayangnya bersama sahabatnya, mukai angkat bicara.

“Shin eomma benar. Kau harusnya bersyukur menikah dengan kakakku. Apalagi kau akan memiliki adik ipar yang sangat cantik.”

“Ya, Choi—“

“Apa pengantinnya sudah siap?” Seorang wanita datang memotong ucapan Nayeon.

Nayeon menatap ibunya. Memeluk wanita paruh baya itu dengan tangis. Selama beberapa saat keduanya hanya berpelukan sambil menangis. Hingga akhirnya Nayeon melepaskan pelukannya dan menatap Sihyun yang juga menatapnya dengan tatapan haru.

“Kau bahagia bukan?” Tanya Sihyun membuat Nayeon tertawa walau air mata masih mengalir dipipinya.

“Tentu saja.” Nayeon menggenggam tangan Sihyun, wajah Nayeon seketika berubah menjadi serius. “Kau harus mendapatkan kebahagiaanmu juga. Lupakan lelaki itu dan bukalah hatimu untuk pria lain.”

Sihyun menatap wajah Nayeon yang masih serius. Gadis itu tak menjawab dan hanya membalas genggaman tangan Nayeon. “Pernikahannya akan segera dimulai kau harus cepat-cepat. Jika tidak kakakku akan menikahi wanita lain.”

“Ya!”

* * *

Sihyun menatap pasangan didepannya yang tersenyum bahagia sambil menyambut satu persatu tamu yang datang. Ia tak pernah melihat wajah kakaknya yang terlihat begitu bahagia. Begitu juga dengan wajah sahabatnya. Wajah lovely-dovey-nya itu membuat ia mencibir tapi dalam hati tersenyum bahagia, sahabat dan kakaknya mendapatkan kebahagiaan mereka.

Sihyun mengalihkan tatapannya dan saat itu tatapannya terpaku pada seorang lelaki dengan langkah tegap melangkah menuju kakaknya. Lelaki itu seperti biasa terlihat tampan untuk Sihyun. Dan mungkin juga untuk gadis-gadis lainnya. Senyum mengembang diwajahnya tanpa ia sadari ketika lelaki itu tersenyum begitu manis. Bahkan lebih manis dari madu permen cokelat kesukaannya.

“Selamat, hyung. Akhirnya kau menikah.” Kyuhyun memberikan selamat pada sahabat yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.

“Kau sendiri? Kapan?” Tanya Siwon sambil menunjuk gadis dibelakang Kyuhyun dengan dagunya.

Kyuhyun tertawa sambil menggenggam tangan gadis dibelakangnya. “Mungkin tak lama lagi.”

Keduanya tertawa sambil bercakap ringan namun tak menyadari Nayeon yang sedari tadi hanya diam menatap Kyuhyun dan pasangannya. Wanita itu cantik. Hanya entah karena sahabatnya mencintai lelaki itu atau memang benar. Wanita bernama Jang Naeun itu terlihat sombong untuknya, senyum wanita itu terlihat tidak tulus. Belum lagi make-up yang gadis itu pakai terlihat terlalu berlebihan untuk Nayeon, dengan bibirnya yang begitu merah menampilkan sebuah keangkuhan.

“Ah, aku lupa. Aku belum memperkenalkan istriku sendiri.” Ucap Siwon membuat Nayeon tersadar dan tersenyum mulai memperkenalkan dirinya. Dan benar apa yang gadis itu rasakan, Jang Naeun memang gadis yang sombong. Gadis itu dengan tak tahu sopan santunnya menatap Nayeon dari atas hingga bawah, seolah menilai. Bagaimana mungkin Cho Kyuhyun mencintai gadis sombong ini? Padahal ada gadis yang jauh lebih baik yang mencintainya dan pantas untuk ia cintai.

“Sihyun-ah,” Siwon memanggil adiknya itu kembali membuat lamunan Nayeon buyar. Sihyun yang sedari tadi memperhatikan Kyuhyun dengan cokelat gelapnya yang berbinar dan sarat akan kerinduan, terkejut ketika siwon memanggilnya secara tiba-tiba. Dengan langkah bimbang menghampiri kedua pasangan itu.

“Kyuhyun-ah, ini adikku yang selalu aku ceritakan.” Siwon memperkenalkan Sihyun sambil merangkul adiknya itu yang hanya menunduk dalam tak berani menatap Kyuhyun. “Apa kataku dia cantik bukan?” Tanya Siwon dengan nada ejekan yang membuat dirinya mendapat pijakan keras dikakinya. Siwon menatap adiknya yang masih menunduk yang menginjak kakinya dengan kejam. Nayeon hanya menggelengkan kepala melihat interaksi brutal suami dan adik iparnya itu yang sudah biasa ia lihat.

“Dia memang cantik.” Ucap tulus Kyuhyun yang membuat Sihyun mendongak menatap wajah Kyuhyun yang kini tersenyum dengan manis padanya. Tiba-tiba ia merasakan sesak yang menyenangkan didadanya. Senyum itu, senyum yang ia rindukan selama ini. Terlebih dengan apa yang lelaki itu katakan tadi membuat seluruh darah dalam tubuhnya seakan mengalir ke wajahnya. Membuat rona merah diwajahnya begitu tampak.

Sebuah senyuman terukir diwajah Sihyun. “Terima kasi—“

“Oppa, aku lapar.” Seketika senyuman diwajah Sihyun menghilang. Ia baru saja menyadari sedari tadi lelaki itu tengah bersama kekasihnya. Membuat luka yang ada dihatinya yang selama ini tertutup menjadi terbuka. Menciptakan rasa sakit yang selama ini terasa samar menjadi jelas.

Tatapan Sihyun masih tak berpaling, ia menatap punggung lelaki itu yang berjalan bersama kekasihya. Perih semakin menggenggam hatinya erat ketika ditangan kyuhyun merangkul pinggang gadis itu. Mungkin untuk kali ini ia akan mendengarkan Nayeon. Ia harus melupakan lelaki itu dan membuka hatinya untuk lelaki lain.

* * *

Sihyun menatap makanan yang ada didepannya dalam diam. Kandungannya sudah memasuki bulan kedua dan akhir-akhir ini selera makannya menurun –tidak tepatnya ia memilih makanan. Janin dalam kandungannya akhir-akhir lebih suka makanan diluar daripada yang ia buat sendiri. Makanan buatannya bukanlah tidak enak, orang tuanya dan Siwon mengaku bahwa makanan yang ia buat sangat enak. Bahkan Cho Kyuhyun yang pemilihpun memakan masakkannya dengan lahap. Tapi entahlah untuk kini ia benar-benar tak ingin memakan masakannya sendiri.

Biasanya ia akan memesan makanan atau membeli makanan diluar. Tapi sore ini ia tidak bisa melakukannya karena suaminya tanpa ia sangka pulang cepat. Ia tak mungkin meninggalkan suaminya yang lelah bekerja bukan. Belum lagi ia belum memasak makanan untuk suaminya.

Kyuhyun yang sudah selesai menghabiskan makanannya melihat Sihyun yang hanya mengaduk makanannya tanpa memakannya mengerutkan keningnya. “Kau kenapa?”

Sihyun menghentikan yang dia lakukan dan hanya menggeleng pelan. “Kau sudah selesai? Aku akan mencuci piringmu.” Ucap Sihyun sambil bangkit membawa piring kotor milik dirinya dan Kyuhyun.

Lelaki itu hanya menatap Sihyun yang kini sibuk membasuh piring. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Cho Ahra –kakak perempuannya, yang waktu itu tengah hamil dan terlihat tidak berselera makan seperti Sihyun.”Kau ingin makan sesuatu yang lain diluar?” Tanya Kyuhyun membuat Sihyun seketika membalikkan badannya.

“B-bagaimana kau—“ Sihyun tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Sungguh ia benar-benar tak menyangka jika suaminya itu tahu persis apa yang ia inginkan.

“Ahra nunna pernah mengalami hal yang sama.” Sambil tersenyum ia bangkit dari duduknya menatap Sihyun yang kini masih menatapnya takjub. “Katakan kau ingin apa. Aku akan membelikannya untukmu.”

“Aku ingin bulgogi.” Bisik Sihyun sambil menundukkan wajahnya. Ini kali pertama ia meminta sesuatu dari suaminya itu, dan entah mengapa ia merasa sangat malu.

“Baiklah aku akan membelikannya.”

“Tapi kau baru saja selesai makan.”

“Tidak apa. Aku hanya akan duduk.” Sahut Kyuhyun lalu bangkit dan meninggalkan Sihyun yang hanya menatap punggungnya dengan senyuman.

Selama seminggu ini suasana hati suaminya itu nampak baik. Kyuhyun yang biasa acuh mulai memperhatikan setiap apa yang Sihyun lakukan. Sikap perhatian yang biasa lelaki itu hanya tunjukkan didepan orang tuanya maupun orang tua Kyuhyun, kini ia tunjukkan walau hanya mereka berdua di rumah itu. Sihyun menyentuh perutnya yang masih terlihat datar. Mungkinkah ini karena janin dalam kandungannya. Sihyun menatap perutnya, mengusap perutnya dengan sayang, ‘Aku harap kau juga bisa merubah hati ayahmu tidak hanya sikapnya,’ Ucap Sihyun pada janinnya yang lebih berupa doa.

Tak butuh waktu yang lama untuk Sihyun menunggu Kyuhyun membelikannya makanan karena pada dasarnya tempat tinggal mereka dekat dengan salah satu restaurant. Harum daging panggang yang berpatu dengan kecap dan bawang bombai menguar memenuhi ruang makan membuat perut Sihyun yang semula terasa kenyang berbunyi, seakan berteriak minta diisi. Nampaknya anaknya benar-benar tak menyukai masakan ibunya.

“Ini,” Kyuhyun tak dapat menahan senyumnya ketika memasuki ruang makan melihat Sihyun yang masih duduk dikursinya dengan cokelat gelap milik istrinya itu berbinar-binar menatapnya. Mengingatkannya pada keponakannya yang selalu berbinar ketika ia membawakan permen kapas.

“Terima kasih.” Ucap Sihyun dan tanpa repot-repot memindahkan makanan itu ke piring, ia mulai memakan makanannya. Sedikitpun tak peduli –atau tepatnya berusaha tidak peduli dengan Kyuhyun yang kini mengambil tempat duduk didepannya dan menatapnya takjub.

“Ini kali pertamanya aku melihat kau makan dengan lahap.” Sahut Kyuhyun ketika dilihatnya dalam hitungan detik isi styrofoam itu tandas tak bersisa. Membuat rona merah menghiasa wajah pualam milik Sihyun.

Kyuhyun masih tersenyum ketika ia ingat akan sesuatu yang ia ingin katakan pada istrinya. Seketika wajahnya berubah serius. “Aku ingin berbicara satu hal.” Entah karena perasaannya peka atau wajah Kyuhyun yang tiba-tiba berubah serius, Sihyun merasakan tidak enak dihatinya. Sebelum mengatakan apapun hatinya entah mengapa tiba-tiba merasa seperti terancam untuk tersakiti.

“Aku ingin kita bercerai.” Dan benar saja. Lelaki itu menyakiti hatinya. Ini bukan kali pertama lelaki itu menyakiti hatinya. Tapi ini kali pertama lelaki itu meminta perpisahan padanya, dan semua rasa sakit yang lelaki itu torehkan sebelumnya baik fisik maupun batinnya tak sebanding dengan rasa sakit yang kini tengah ia rasakan.

Rona merah yang semula menghiasi wajah Sihyun menghilang. Bahkan kini seakan tak ada darah yang mengalir ke wajahnya. Wajah wanita itu berubah menjadi pucat pasi. Dengan terbata ia memberanikan diri bertanya, “W-wae?”

“Aku tidak pernah mencintaimu. Bukankah sudah jelas?” Sakit itu bertambah. Ucapan Kyuhyun bagaikan garam yang ditaburkan pada lukanya yang masih menganga. Terasa perih tak terperi. Ia tahu selama pernikahan mereka Kyuhyun tak pernah mencintainya. dan pengakuan langsungnya membuat rasa sakit itu benar-benar terasa perih bahkan sampai ulu hatinya.

Ia tahu lelaki itu bertahan disampingnya hanya untuk menghindari pertengkaran dengan kedua orang tuanya yang sangat menyayangi Sihyun sebagai menantu mereka. Dan kini mengapa tiba-tiba suaminya itu memutuskan untuk berpisah dengannya. Seakan bisa membaca apa yang istrinya pikirkan, Kyuhyun menjawab pertanyaan Sihyun yang tak terucap, “Dia sudah kembali.”

Tak perlu mengatakan lebih banyak kata lagi, Sihyun tahu siapa yang Kyuhyun maksud dan apa yang suaminya itu inginkan. Jang Naeun, setelah beberapa bulan ini pergi meninggalkan Kyuhyun, akhirnya dia kini telah kembali. Suaminya ingin menyambut kembali wanita yang ia masih dan mungkin akan terus ia cintai.

Sihyun mencoba menahan air mata yang memaksa untuk keluar dari bola matanya. Hatinya benar-benar sakit. Baru saja beberapa menit yang lalu ia berdoa agar hati suaminya terbuka untuknya. Dan kini Tuhan menjawabnya doanya. Jawabannya adalah tidak. Lelaki itu tidak akan pernah membuka hatinya untuk Sihyun. Jika memang jawabannya adalah tidak mengapa Tuhan mempertemukan mereka. Mengikat mereka dalam pernikahan yang sama sekali tak pernah suaminya inginkan.

Kyuhyun bangkit dari duduknya ketika yakin istrinya itu tak akan mengatakan apapun. Ia tahu bahwa perpisahan yang ia minta ini telah sangat menyakiti istrinya. Tapi ia tak ingin mengorbankan kebahagiaannya lagi. Ia tak ingin terbelenggu dalam pernikahan yang sama sekali tak ia inginkan. Dan satu hal lagi yang tak diinginkannya –yang tak ingin ia akui secara logika, ia tak ingin menyakiti istrinya lagi dan lagi. Memikirkan bagaimana ia selalu melampiaskan kesedihan, kemarahan dan kekecewaan pada istrinya. Bagaimana ia melihat bilur-bilur dipunggung Sihyun. Membuatnya sakit. Walau ia masih merasa bingung rasa sakit itu berasal darimana. Dari rasa ibanya kah apa dari hatinya yang tanpa ia sadari mulai merasa nyaman dengan kehadiran Sihyun? Tidak opsi terakhir bukanlah jawaban yang tepat dan ia yakin. Karena hatinya selamanya hanya milik Jang Naeun. Ia mencintai gadis itu sampai kapanpun.

“Setelah anak itu lahir kita bercerai.”

* * *

Sihyun menggeliat berusaha menghilangkan rasa pegal dipinggangnya. Ini ketiga kalinya ia berkencan dengan lelaki yang Nayeon sarankan untuknya.

Walau Sihyun sudah tiga kali melakukan kencan dengan lelaki bernama Lee Donghae itu tapi efeknya sama. Ia selalu merasakan pegal setelahnya. Mungkin ini karena tubuhnya terlalu kaku ketika berkencan dengan Lee Donghae. Sihyun hendak memijat pergelangan kakinya yang terasa kram terhenti ketika seseorang memasuki rumahnya. Ia segera bangkit melupakan kakinya yang masih kram. Membuatnya terjatuh.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya seorang lelaki yang membuat Sihyun seketika mendongak menatap lelaki itu tak percaya. Cho Kyuhyun, bagaimana bisa lelaki itu berada disini?

“Kyu—“

Belum sempat Sihyun mengucapkan seluruh yang ingin ia katakan. Paman Cho membantu Sihyun berdiri sambil bertanya. “Sihyun-ah, kau tidak apa-apa?”

“Aku tidak apa-apa.” Cho Younghwan atau yang biasa Sihyun panggil paman Cho adalah salah satu rekan bisnis ayahnya yang sangat dekat dengannya. Selain karena paman Cho yang sering mengadakan makan malam dengan keluarganya. Paman Cho juga mempunya puteri yang sudah menikah yang menjadi salah satu teman bicara Sihyun ketika mereka makan malam. Dan kini mengapa paman Cho datang bersama Kyuhyun?

“Ah, kau sudah bertemu dengan puteraku? Ini puteraku Cho Kyuhyun.” Seolah dapat membaca kebingungan diwajah Sihyun, Paman Cho memperkenalkan siapa Kyuhyun yang sukses membuat Sihyun terkejut. Tuhan bagaimana bisa? Semula ia terkejut dengan kenyataan bahwa lelaki bermarga Cho itu adalah sahabat dekat kakaknya di Canada. Lalu ia terkejut dengan kenyataan lelaki itu adalah salah satu staff diperusahaan ayahnya. Dan kini ia terkejut dengan kenyataan bahwa Cho Kyuhyun adalah anak dari Paman Cho satu-satunya rekan bisnis ayahnya yang dekat dengannya. Apakah takdir sedang mempermainkannya? Setiap ia ingin menjauhi atau tepatnya melupakan lelaki itu. Lelaki itu seakan terikat dengannya melalui orang terdekatnya.

“Dia sudah mengenalku, appa. Kami pernah bertemu dua kali di Canada dan dipernikahan Siwon hyung.” Suara cokelat meleleh yang sangat Sihyun rindukan itu menhentikan lamunannya.

Tunggu. Canada? Sihyun menatap Kyuhyun yang masih menatapnya sambil tersenyum. ‘Dia mengingatnya’

“Ah, begitu.” Paman Cho menatap Sihyun dan Kyuhyun. Rona merah diwajah Sihyun dengan jelas ia dapat melihatnya. Paman Cho tersenyum penuh arti. “Sihyun-ah, apakah ayahmu ada?”

“Ya, dia ada diruang kerjanya, paman.” Jawab Sihyun. Semenjak Choi Siwon menjabat sebagai wakil CEO Hyundai Corp. ayahnya memang lebjh sering bekerja dirumah. Dan itu juga yang menjadi alasan mengapa ia bisa begitu dekat dengan Paman Cho.

“Ah, baiklah. Kyuhyun-ah kau tidak perlu menemaniku. Duduklah dan tunggu aku disini.” Ucap Paman Cho sambil melihat Sihyun yang kini hanya menunduk tak berani menatap puteranya. “Sihyun-ah, kau tak keberatan menemani Kyuhyun sebentar bukan?”

“Nde? A-ah baiklah.” Ucap Sihyun dan akhirnya mempersilahkan Kyuhyun untuk duduk.

Sebelum memasuki ruang kerja Choi Kiho, Cho Younghwan menatap Kyuhyun yang kini malah memijat kaki Sihyun yang keram. ‘Mereka akan menjadi pasangan yang serasi.’ Bisiknya dalam hati dan akhirnya mulai mengetuk pintu ruang kerja Choi Kiho.

* * *

Sudah seminggu semenjak Kyuhyun meminta cerai padanya dan semenjak itu lelaki itu tak pulang kerumah. Dan ia harus berusaha berpikir dengan keras mencari alasan yang bisa membuat kakaknya percaya. Ia baru sadar jika kini adalah jadwal rutin kakaknya untuk menengoknya. Choi Siwon memang selalu datang kerumahnya hanya untuk mengecek kesehatannya setiap bulannya. Dan Sihyun selalu tahu kapan kakaknya itu akan datang. Tapi kejadian minggu lalu benar-benar membuatnya tak ingat akan apapun. Belum lagi suaminya yang tak pulang-pulang membuat Sihyun tak bisa memikirkan apapun lagi. Selain itu akhir-akhir ini ia merasakan sakit diperutnya, dan ia belum sempat datang untuk memeriksa. Mungkin ia akan memeriksa besok atau lusa atau entahlah mengingat Kyuhyun yang tidak pulang membuatnya malas untuk keluar rumah.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu begitu pucat, Hyunie-ah.” Siwon yang masih mengupaskan mangga untuk adiknya baru sadar jika wajah Sihyun semakin memucat.

“Aku tidak apa-apa, oppa. Aku hanya merasa lemas membawa satu nyawa diperutku.” Jawab Sihyun sambil mencoba tersenyum. Lagi-lagi ia harus berbohong. Selama ini ia tak pernah berbohong pada kakaknya atau pada siapapun. Tapi setelah menikah dengan Cho Kyuhyun rasanya ia sudah terlalu sering berbohong hanya untuk menutupi apa yang telah lelaki itu lakukan padanya. Dan yang paling penting untuk menjaga agar lelaki itu tak pergi dari sisinya. Tapi kini suaminya itu meminta perpisahan padanya.

Tiba-tiba Sihyun merasakan sengatan diperutnya, membuat wajahnya semakin pucat bahkan kini bibir merah cherry-nya telah berubah pucat. Siwon yang ada disamping Sihyun langsung menyadari wajah adiknya yang semakin pucat. “Sihyun-ah, kau tak apa-apa?“

“Aku tidak apa—“ Belum sempat Sihyun menyelesaikan ucapannya telepon rumahnya berdering. Sihyun bangkit dari duduknya dengan susah payah, Siwon berusaha menawarkan agar dirinya saja yang mengangkat tapi adiknya itu dengan keadaan baik-baik saja-nya itu menolak dan mengangkat telepon yang terus berdering.

Siwon menatap Sihyun yang wajahnya semakin memucat, semua rona diwajah adiknya itu hilang. Bahkan dilihatnya tubuh adinya itu melemas “Sihyun-ah—Sihyun-ah!” Tanya Siwon tak berlanjut karena dengan cepat ia langsung berlari menghampiri menyanggah tubuh Sihyun yang kehilangan kesadarannya masih dengan telepon dalam genggaman lemahnya.

* * *

Cho Kyuhyun menatap pria dihadapannya yang selama ini selalu ia hormati dengan tak berkedip. Siang ini keluarga Cho cukup gempar dengan kedatangan salah seorang investor terbesar diperusahaan mereka. Dan yang lebih menggemparkannya lagi keluarga Choi datang untuk melamar putera mereka, Cho Kyuhyun. Karena tidak mungkin jika mereka akan melamar Cho Ahra puteri mereka. Pertama Cho Siwon putera satu-satunya keluarga Choi baru saja menikah setahun yang lalu. Kedua puteri mereka satu-satunyapun sudah menikah sejak lama. Satu-satunya yang masih berstatus lajang hanyalah Cho Kyuhyun. Walau status itu tak bisa dibilang lajang juga karena nyatanya Cho Kyuhyun sudah memiliki kekasih. Meski status mereka masih berpacaran tapi tak lama lagi Kyuhyun akan mempersunting gadisnya. Hanya menunggu waktu.

“Aku ingin kau menikah dengan puteriku, Kyuhyun-ah,” Kiho mengutarakan tujuannya kembali datang ke kediaman Cho.

Kyuhyun masih menatap Choi Kiho sebentar sebelum mengalihkan tatapannya pada gadis yang hanya menunduk dalam disamping pria paruh baya itu. “Maaf tuan Choi, tapi saya—“

Tiba-tiba saja paman Cho berbicara menghentikan apa yang ingin Kyuhyun ucapkan. “Tentu saja anak kami tak akan menolaknya.”

“Appa—“ Kyuhyun hendak membatah ketika ayahnya kembali berbicara pada atasannya.

Kyuhyun menelan kata-katanya yang ingin ia katakan dengan gusar. Sungguh ia sudah sangat ingin berdebat dengan ayahnya. Ia tahu selama ini ayahnya tidak menyukai Jang Naeun –kekasihnya. Ayahnya tidak setuju Kyuhyun memiliki hubungan dengan Jang Naeun, karena bagi ayahnya Jang Naeun hanyalah gadis yang mengharapkan hartanya. Ayahnya boleh saja tidak setuju dengan hubungannya. Tapi bukan berarti ayahnya harus menerima lamaran untuknya tanpa meminta persetujuannya dulu.

Sihyun menatap Kyuhyun yang terlihat gusar. Sungguh semua ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Semua berawal ketika ayahnya tanpa sengaja membaca diarynya. Ayahnya begitu bahagia ketika tahu ia mencintai Cho Kyuhyun, yang tak lain adalah sekertaris ayahnya. Ayahnya begitu bangga dengan ketekunan dan rendah hati Cho Kyuhyun. Ayahnya bermimpi untuk memiliki menantu laki-laki seperti Kyuhyun. Oleh karena itu mendapati puterinya mencintai lelaki yang selama ini ia impikan untuk menjadi menantuia sangat bahagia, bahkan tanpa memikirkan apapun lagi ia berniat melamar lelaki itu untuk menikah dengan puterinya. Dan disinilah dia sekarang memenuhi keinginan ayahnya untuk melamar Cho Kyuhyun.

Sihyun kembali menatap wajah Kyuhyun dan kali ini pria itu juga sedang menatapnya. Tatapan itu begitu tajam sarata akan kemarahan. ‘Tuhan apakah sekarang ia membenciku?’

Tanpa mengatakan apapun Kyuhyun bangkit dengan kasar dari duduknya meninggalkan Sihyun dan ayahnya yang terperangah dengan tingkah kasar Kyuhyun. Tapi lagi paman Cho segera berbicara meyakinkan Choi Kiho bahwa semuanya baik-baik saja dan berhasil. Hanya untuk gadis yang selalu memperhatikan puteranya itu tak berhasil. Gadis itu tahu bahwa semua tidak baik-baik saja.

“Paman Cho bolehkah aku—“ Paman Cho segera mengangguk mengerti dengan apa yang Sihyun inginkan.

Lelaki duduk dengan sikut dipahanya dan tangan yang menangkup wajahnya. Sihyun menghampiri lelaki itu dengan perlahan. Apa yang harus ia katakan? Bagaimana jika Kyuhyun menanyakan kenapa ayahnya melamar lelaki itu untuknya? Haruskah ia mengatakan karena ayahnya sangat menginginkan Kyuhyun menjadi menantunya? Tidak. Ia tidak mungkin mengatakan itu. Selama ini ia tak pernah menyalahkan apa telah terjadi pada orang lain. Ia tidak mungkin menyalahkan ayahnya. Dan itu artinya ia-lah yang harus mengakui perasaannya.

“Kemarilah.” Sihyun hampir saja terlonjak karena terkejut ketika sadar bahwa Kyuhyun tengah menatapnya dan menyuruhnya untuk mendekat.

Kembali dengan perlahan ia berjalan mendekati lelaki itu. Duduk tepat disebelah lelaki itu. Selama beberapa menit hening, hingga Kyuhyun akhirnya mulai berbicara tanpa menatap Sihyun, “Katakan padaku dengan sejujurnya. Kalian kemari itu karena keinginanmu atau ayahmu?”

Sihyun terdiam, lidahnya terasa kelu. Bagaimana ia harus menjawab? Apa ia harus mengakui bahwa ayahnya yang menginginkan? Tapi apa tidak apa-apa? Bagaimana jika Kyuhyun menjadi membenci ayahnya? Tidak, ia tak ingin membuat ayahnya terluka. Dengan perlahan dan takut, Sihyun berucap pelan, “Aku yang menginginkannya.”

Lelaki itu terdiam beberapa saat, tak menyangka jawaban itu yang akan ia dengar. “Kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau sudah tahu aku memiliki kekasih?” Tanya Kyuhyun nada suaranya masih terdengar santai dan tidak terdengar gusar. Pertanyaan itu masih berupa tanya karena rasa heran.

Tuhan, apa yang harus kini aku katakan? Sudah terlanjur. Dengan menelan ludahnya yang terasa pahit dan perutnya yang bergejolak, “A-aku mencintaimu,“

Kali ini hening benar-benar tercipta diantara mereka. Cho Kyuhyun hanya diam menatap Sihyun tiba-tiba merasakan resah atas pernyataan cinta Sihyun. Tidak, tidak mungkin.

Cho Kyuhyun bangkit dengan kasar. Membuat Sihyun mendongak menatapnya. “Aku tidak mencintaimu. Dan katakan pada ayahmu aku tidak ingin menikah denganmu.” Ucap lelaki itu sambil melangkah meninggalkan Sihyun yang kini menangis dengan hati yang terluka sangan dalam hingga menyentuh ulu hatinya.

* * *

Kyuhyun membuka matanya dan mendapati nuansa putih yang asing baginya. Bau khas obat-obat menyapa penciumannya. Sebuah suara mengintrupsinya membuatnya menoleh ke asal suara tersebut. “Kau sudah sadar?”

Dilihatnya wanita disampingnya itu dengan tanya. Wanita itu wajahnya tak berubah masih terlihat cantik, hanya saja cekungan dipipi wanita itu menandakkan ia telah kehilangan berat badan beberapa pound, “Kau dirumah sakit. Kau kecelakaan dan sudah sebulan koma.” Istrinya itu menjelaskan ketika melihat tanya besar diwajahnya.

Kecelakaan? Kyuhyun berusaha untuk mengingat kejadian terakhir. Ia ingat bahwa ia sedang dalam perjalan pulang dari luar kota setelah meeting yang harus membuatnya menginap diluar kota selama seminggu, tak sengaja menabrak pembatas jalan yang membuat mobilnya terlempar dan berguling. Dan ia ingat ia tidak sendirian di mobil itu, ia bersama sekertaris barunya—

“Jang Naeun!” Kyuhyun langsung menatap Sihyun meminta penjelasan akan keadaan cinta pertamanya itu. Dan ketakutan merayapinya ketika istrinya itu menunduk dalam.

“Maafkan aku, oppa. Maafkan aku, tapi Naeun-ssi tidak bisa diselamatkan. Ia terlalu banyak kehilangan darah.” Bisiknya lirih bahkan dari hembusan anginpun kalah lirihnya. Sihyun merasakan sakit ketika hal pertama yang suaminya itu khawatirkan adalah perempuan lain. Tapi ia lebih merasakan sakit ketika sadar suaminya itu akan merasakan sakit karena Kehilangannya wanita yang sangat ia cintai.

Kyuhyun terdiam sesaat. Tapi jawaban istrinya itu sadar seketika, “Apa? Kehilangan darah?” Tiba-tiba rasa sedih yang ia rasakan menguap tergantikan amarah dari masa lalu. “Bukankah kau memiliki banyak uang hingga membeliku saja kau mampu. Kenapa kau tidak bisa membeli darah untuk Naeun? Ah, aku tahu. Kau menginginkan Jang Naeun mati agar aku tidak jadi meninggalkanmu bukan.”

Sihyun terdiam sungguh ia tak menyangka Cho Kyuhyun akan menuduhnya sekejam itu. Sungguh meski ia menginginkan Kyuhyun membatalkan keinginannya untuk meninggalkannya tapi ia tak pernah mengharapkan kematian Jang Naeun. Dan lagi sakit itu memukul hatinya. Seburuk itukah ia dia mata suaminya?

“Kau benar-benar penghancur hidupku.” Seakan menjawab tanya yang terucap dalam pikirannya, suaminya berucap. Sebuah kalimat yang entah sudah berapa kali ia dengar, namun selalu memberikan efek yang sama. Sakit, sakit dan sakit. Hatinya yang semula terasa seakan ditusuk satu jarum kini ia merasakan hatinya ditusuk sembilu. Mengoyak hatinya sampai tak berbentuk. Membuat air mata yang sedari awal ditahannya keluar membasahi pipinya yang pucat.

Dan Cho Kyuhyun melihatnya. Untuk kali kedua ia melihat istrinya itu menangis. Kali ini ia tahu tangis Sihyun. Adalah tangis kesedihan dan kesakitan yang wanita itu rasakan. Tiba-tiba ia merasakan rasa bersalah dan lagi-lagi rasa sakit yang entah darimana ia rasakan. Dengan dingin Kyuhyun memerintahkan Sihyun untuk keluar yang langsung istrinya itu ikuti.

Kyuhyun menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan nanar. Dan tanpa disadarinya butiran kristal membasahi pipinya.

TBC

Bagi yang ingin baca sequel expectation silahkan di baca di blog pribadi aku. Dan bagi yang ingin bertanya atau kenalan sama anak masa depannya Anastasia Steele dan Christian Grey (?) boleh follow instagram @ranufaara. Gak follow juga gak apa langsung aja dm tapi maaf kalau slow respond 💁

256 thoughts on “Eternal Sunshine (Part 1)

  1. Kak ini next part udh upload blom sihhhh…. Aku udah usaha cari part 2 gak bisa… Klo blom cepet ya kakkk… Udh greget nihhhh nunggu… PENASARAN abis kakkk mata udh berlinang malah masuk lagi air mata nya….

    😂😂😂

    Suka

  2. Triangle love, tapi belum apa2 Jang Naeunnya pergi… kasian Sihyun, demi cinta rela di sakitin, pasti penderitaannya belum berakhir nih. Pasti bakal ada sakit ke2 ke3 dst. Sakit tak berdarah itu paling menyakitkan gan, mending sakit gigi. Eh ga dua2nya deh hehe. Mangkaa thor!❤🍉

    Suka

  3. Udah lama banget gak baca ff gara2 sibuk sama organisasi, tiba2 bangun jam 12 terus baca ff ini. Buset nangis bombai. Kyuhyun nya gitu ya huhu. Kasian Sihyun. Kalo bisa sihh Sad terus yaaaaa hihi. Lagi pengen nangis2an

    Di lanjut yaaaaaa Author. Penasaran sama Kyuhyunnya, dia bakal sadar gak kalo Sihyun tuh berarti buat dia. Semangat lanjutnyaaaa

    Suka

  4. Ceritanya bagus👍👍👍 aku suka☺
    Wah gilaaa.. kyunya gitu banget sih..
    Bisa-bisanya nuduh sihyun ingin naeun mati, ckckck.. kyu harus dibuat menderita..

    Cara penulisannya aku suka.. Keep writing😊

    Suka

  5. Ingin pukul kyuhyun , dasar doa jahat banget. Engga kebayang jadi sihyun gimana rasa sakitnya ituu
    Awas aja kyuhyun!!!
    Baru part 1 tapi udah nangisss, hebat banget kan cerita ini.
    Author di tunggu part selanjutnya
    Fighting!!!

    Suka

  6. selalu suka sama FF yang genrenya kaya gini apalagi yang berhasil ngaduk-ngaduk perasaan sampe greget sendiri.
    Udah lama ga kesini begitu mampir ada ff bagus itu rasanya luar biyazah!!! Hahahaha

    Suka

  7. Walau alurnya maju mundur..
    Tapi keren bikin nyesek..
    Saran yaa, bolehkan ?
    Ceritakan aja dulu kehidupannya sihyun sama kyuhyun, nanti part ke berapa baru ceritakan part masa lalunya..
    Biar ini hati ngena banget sama ceritanya kyuhyun..

    Eh tapi terserah deh, kan gak tau alur ceritanya 😂😂
    Semangat semangat.. jgn lama postnya yaa !!

    Suka

  8. agak kurang mudeng sebenernya. alurnya bikin bingung antara sekarang dan lampaunya jadi gagal paham. yang ngambilin daun maple itu Kyuhyun bukan? maaf author pendapatku sebaiknya flashbacknya jangan terlalu sering. apalagi baru diawal cerita yang semuanya masih blank.
    eh tapi kalo itu khasnya author gpp deh. toh akhirnya aku paham. terima kasih ceritanya..

    Suka

  9. Nyesek bgt,, sumpah
    Aku kira kyuhyun berubah jadi baik karna sihyun hamil, eh ternyata malah mau minta cerai, tega bgt sih
    Pasti habis ini kebencian kyuhyun semakin bertambah

    Suka

  10. sumpah nyesek banget bacanya…..
    keren” pokoknya ni ff… walaupun sempet bingung sih bacanya alurnya macu mundur gitu…. tp ini beneran keren feelnya dapet banget…..

    Suka

  11. tega sadis gak punya perasaan banget si kyuhyun, istrinya udah hamil aja malah minta cerai 😭😭 nanti nyesel ,baru tahu rasa lu cho 😑 aslii.. dapet banget feel nya, jadi kebawa emosi bacanya 😩. di tunggu kelanjutannya thor,fighting!! ^^

    Suka

  12. kyu tega bgt kasiaan mh sinhyun, bodoh kyu dipelet kli mh naeun. tpi syukurlaah naeunnya meninggal,, awas kyu ntar nyesel, penyesalaan mmg datang diakir.

    Suka

  13. Tega bgt sih kyu..

    SuudOn sihh orgnya. Jdikan cinta pertamanya fiilangin..

    Alhamdulillah.. *uppaa.. ;D maaf .. Ihh q sampe nangis bacanya. Author daebak. Semanagt nulisnya ya..

    Suka

  14. SETELAHHH SEKIAN LAMA RANUFARAA EONNIE MENGHILANG AKHIRNYA KEMBALI JUGAAAAAA

    Jujur agak pusing bacanya soalnya alurnya maju mundur tapi ffnya superrrrr daebak, sayangnya bagian nc-nya kurang (eh)

    Seumangaaaaaat buat nyelesaiin ffnya thor~

    Suka

  15. Halo thor lama gak post ff apa gimana nih? Heheheh
    Kejam bgt sih kyuhyun wkwkwk author korban fsog sama fsdarker ya? Wkwkwk
    Kebayangnya tuh ya si grey aja gitu:(

    Suka

  16. sumpahhhh bacanyaa nyesekkk ampe uluu hatiiii, ihhhh kesel sama sikyuhyunnnn, huaaa sedihhhhhhh, kasihan sihyunnyaa 😢😢😢 ini awalnya aku agak bingung bacanya, alurnya maju mundur, tapii kerennnabisss!!! lanjutttt thorr!! fighting 😄😄😄

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s