Idiot’s Love


InShot_20170306_124859

Title : Idiot’s Love
Author : KeyNana
Category : NC 21, Comedy, Romance, Oneshoot.
Cast :
• Kim Tae Hyung
• Kim Hee Chul
• Lee Jae Ha
Author Note : FF ini murni dari imajinasi author. FF ini menceritakan tentang seorang wanita yang mencintai seorang pria yang memiliki keterbelakangan mental dengan tulus. Dan untuk pemeran, maaf jika author memilih Kim Tae Hyung untuk memerankan pria yang memiliki keterbelakangan mental sebelumnya author memilih beberapa idola lainnya tetapi hanya Kim Tae Hyung yang muncul diotak author gak bermaksud apa-apa, sungguh. Dan untuk Comedy sebenarnya author sendiri gak yakin jika cerita ini bakalan lucu, jujur author sangat lemah dengan cerita bergenre comedy hehe 😀 dan juga NC-nya maafkan author jika jauh diluar imajinasi dan satu lagi maafkan jika ada kesalahan kata atau apapun itu alias typo hehehe. Terimakasih … ^^
Happy Reading…

 

‘Jika aku ditakdirkan untukmu, maka aku akan menjadi milikmu tanpa memikirkan apa kekuranganmu.’ –Lee Jae Ha-

Panasnya terik matahari begitu menyilaukan membuat semua yang ada dibumi terbakar dengan sinar panasnya. Sebagian besar orang pasti akan memilih untuk diam tetap tinggal didalam rumah atau mencari tempat yang sejuk. Semua orang menghindari surya yang menjadi pusat tata surya ini. Tetapi tidak dengan gadis ini, dengan berani dia melawan panasnya terik matahari. Baginya matahari sudah mejadi temannya sehari-hari. Tak banyak gadis yang bisa bertahan sepertinya, jika biasanya gadis ditengah siang hari aka lebih memilih untuk tidur atau memilih tempat untuk bersantai tetapi tidak utuk gadis satu ini. Seperti tak ada kata untuk bersantai, diirnya harus bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya. Tak tanggung-tanggung gais ini bekerja sebagai seorang petani.
Lee Jae Ha merupakan seorang gadis yang hanya hidup dengan Ibunya disebuah desa yang jauh dari kota. Desa Andong, Gyoungsakbuk-do. Sejak dirinya lahir dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ayah karena Ibunya melahirkannya tanpa suami, hal ini membuatnya cku menderita dalam hal apapun. Dia sering menjadi bahan ejekan dari teman-teman sebayanya bahkan samapi dia berusia 21 tahun yang seharusnya masih menikmati bangku sekolah yang menyenangkan tetapi nyatanya gadis malang ini tidak mendapatkannya karena kehidupan ekonomi keluarganya. Sehingga setelah dia lulus dari SMA dia memilih untuk bekerja membantu sang Ibu yang kini tak lagi kuat seperti dulu, ibunya yang sering sakit membuatnya harus bekerja lebih keras lagi agar mereka bisa hidup.
Bukan pedesaan jika mereka tak memilih lahan pertanian, darisanalah Jaeha mencari nafkah. Dengan buruh tani dia bisa menghasilkan sedikit uang dan juga mendapatkan beras. Tak banyak orang kaya didesa ini, hanya beberapa salah satunya adalah keluarga ‘Kim’ yang mejadi tuan Jaeha sejak 2 tahun silam. Mereka mempekerjakan para warga desa ini yang tidak memiliki pekerjaan utnuk mengurus lahan pertaniannya yang berhektar-hektar termask gadis lugu ini.

Denga menggunakan sweater yang entah berwarna apa karena sepertinya warna aslinya telah pudar. Dibalut dengan rompi yang entah kapan ia membelihnya dipandu dengan denga celana panjang berbunga dan juga topi petani tak lupa sepatu boot-nya. Lee Jae Ha masih disibukkan dengan kubis-kubis yang sedang ia panen bersama warga desa lainnya yang bekerja untuk keluarga ‘Kim’.
“Jaeha-ah, berhentilah sebentar dan segera makan siangmu.” Seorang Ibu paruh baya ini mengingatkan Jaeja untuk istirahat.
“Silahkan nimati makan siangmu, aku harus sgera menyelesaikan ini aga bisa segera pulang. Ibuku sedang sakit dirumah.” Jaeha tersenyum dan terus memanen sayuran kubis yang nanti akan dikirim ke Seoul.
“Ada berita besar … hosshh… hosh..” Seorang petani terlihat datang dengan teruburu-buru sampai sulit untuk mengatur nafasnya. Dia menghampiri para petani yang sedang beristirahat.
“Pak Go Bok Joo, berita besar apa yang kau maksud?” Ibu paruh baya ini bertanya penasaran.
Seperti baru saja melakukan lari maraton petani yang sudah tak lagi muda ini kesulitan mengambil nafas. “Anu… hossh..hoshh..”
“Cha..cha.. minumlah dulu dan bicara pelan-pelan.” Petani pria lainnya memberikan segelas air minum untuknya.
Setelah Go Bok Joo meminum segelas air putih ia mengambil nafasnya dalam-dalam. “Ketua Kim akan datang hari ini. Dia akan membawa kedua putranya.” Para petani menatap Go Bok Joo tanpa terkejut, Ketu aKim emamng pindah ke Soul tetapi dia sering berkunjung ke kampung halamannya guna mengurus lahan pertaniannya.
“Lalu kenapa jika ketua Kim datang, setiap bulan dia pasti datang. Mengapa kau membuat keributan disiang bolong, Go Bok Joo.”
“Dengarkan aku baik-baik, ketua Kim datang bersama keluarganya bahkan aku dengar jika dia datang untuk mencari jodoh untuk putranya.” Penjelasan Go Bok Joo kali ini membuat para petani terkejut tanpa terkecuali Lee Jae Ha yang bahkan berhenti memetik kubis.
“Benarkah, itu tidak mungkin. Bukankah gadis-gadis Seoul lebih cantik, mengapa ketua Kim mencari gadis disini?”
“Lalu putra yang mana yang akan dijodohkan dengan gadis didesa ini?”
“Bukankah ketua kim memiliki dua putra?”
“Aku bersumpah jika Ketua Kim mencarikan jodoh untuk putra sulungnya aku akan memberikan anakku padanya.” Para Ibu paruh bayah ini mulai memperebutkan putra Ketua Kim membuat Jae Haa terdiam, penasaran.
***
Pria dengan kaos berwarna putih dibalut dengan jaket denim tak lepas dari celana levis hitam panjangnya. Hanya gaya santai ini bisa membuatnya terlihat begitu tampan, dia memiliki wajah yang benar-benar tampan. Wajah yang seperti karya seni pasti akan mampu meluluhkan hati para gadis diluar sana. Tetapi, dibalik wajah tampannya terdapat tingkah laku aneh yang ia tujukan. Dia seperti anak kecil, menggemaskan tetapi bukankah dia terlalu tua untuk menunjukan tingkah – tingkah itu?
Lihatlah sekarang ketika kedua orang tuanya sibuk bersiap-siap dengan mengeluarkan koper-koper besar dari dalam kamar. Pria ini hanya diam memainkan sebuah boneka ditangannya.
“Eomma, Appa. Apakah kita akan pergi?” Bahkan nada suaranya begitu aneh berbeda dengan yang lain.
Ibunya tersenyum seraya menyentuh pipinya dengan lembut. “Iya. Kita akan pergi”
“Kemana, aku tidak mau pergi. Aku suka disini.” Pria ini memundurkan dua langkah, dengan terus menggelengkan kepalannya dia tak ingin pergi.
“Kim Taehyung, kita pergi untuk bersenang-senang nanti kita akan pulang lagi setelah kita selesai bersenang-senang.” Sang Ayah menjelaskannya dengan begitu lembut.
“Apakah Taehyung akan mendapatkan teman?” Begitu polosnya pria ini.
“Tentu saja, Kim Taehyung.” Seorang pria lain datang menghampiri mereka.
Seorang pria yang tak kalah tampan darinya. Demi apapun mereka sangat tampan, nyidam apa sang Ibu dulu sampai bisa melahirkan dua pria tampan ini.
“Hyung juga akan pergi?”
“Tentu saja karena hyung ingin sekali bersenang-senang.” Sepertinya keluarganya semua menyayanginya dan memperlakukan dengan baik.
“Lalu bagaimana dengan Yoonji, dia akan ikut ‘kan?”
Ibunya menganggukkan kepalanya. “Baiklah, Taehyung akan pergi.” semua tersenyum ketika melihat senyuman kembali hidup dibibirnya.
Kim Tae Hyung, anak bungsu dari Kim Yong Kwang yang sering dipanggil dengan Ketua Kim pemilik pertanian Kubis dan lainnya di Desa Andong. Tak seperti anak sulungnya, Kim Hee Chul yang lahir tanpa cacat apapun. Kim Yong Kwang serta istrinya Cho Yu An harus menerima kenyataan jika anak bungsunya lahir berbeda dengan yang lainnya. Kim Tae Hyung lahir dengan Retardasi Mental atau keterbelakangan mental merupakan keadaan dengan tingkat kecerdasaan yang dibawah rata-rata atau kemampuan mental dan keterampilan yang diperlukan dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Karena keterbelakangan mental yang dialami Kim Tae Hyung, pria yang berusia 23 tahun ini mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang disekitarnya. Dia benar-benar pria yang polos, tak tahu segala hal. Hanya satu yang dia sukai yaitu bermain, dia sangat senang bermain entah itu boneka, bola atau apapun itu dia sangat menyukainya.

Ketika mendengar Ketua Kim mencarikan jodoh untuk putranya semua warga menjadi penasaran dan ingin tahu putra yang mana yang akan menikah dengan gadis desa ini. Semua warga yang memiliki gadis mulai berharap jika Ketua Kim akan mencari jodoh untuk putra sulungnya, semua sudah mengetahui jika putra bungsunya memiliki keterbelakangan mental. Mana mungkin mereka memberikan gadisnya pada pria seperti itu tentu saja mereka akan memilih Putra sulung mereka yang normal.
Tetapi sepertinya, Lee Jae Ha tidak penasaran akan hal itu padahal gadis-gadis didesa inipun mulai membicarakan kabar itu bahkan sebagian dari mereka diam-diam datang kerumah Ketua Kim semata-mata hanya untuk melihat putra-putranya. Gadis yang menjadi tulang punggung keluarganya ini tak memperdulikan semua itu dan hanya pergi menuju sawah untuk mencari belalang.
Dengan menggunakan sepeda tuanya Lee Jae Ha terus menggoseh sepeda itu menelusuri jalan setapak dengan memperlihatkan pemandangan yang luar biasa disekililingnya yang dipenuhi dengan lahan pertanian yang tumbuh berbagai jenis sayuran, buah-buahan. Meskipun hidupnya keras tetapi dirinya tak pernah mengeluh dan selalu menikmati hidupnya yang apa adanya. Senyuman hangatnya selalu mengembang dibibirnya setiap ia berpapasan dengan para warga desa, dia dapat berbaur dengan baik dengan warga desa meskipun tak banyak dari mereka membicarakan sang Ibu yang melahirkannya tanpa suami disisinya.
Entah darimana asalnya tiba-tiba seorang Kim Hee Chul muncul dihadapannya dengan terus mengangkat ponselnya keatas. “Aissh… disini benar-benar tidak ada sinyal. Menyebalkan.”
Keberadaan Kim Hee Chul yang tiba-tiba datang membuat Jaeha menjadi tidak bisa menyeimbangkan sepedanya, dia berbelok kesana sini. “Yaaa…yaaa.. awas, minggir.” Jaeha berteriak memintanya untuk segera minggir tetapi pria ini hanya diam dengan kedua mata yang membesar.
BRUKK…..
Jaeha kehilangan keseimbangannya dan akhirnya menabrak Kim Hee Chul yang belum sempat menjauh dari Jaeha. Mereka jatuh kedalam sawah yang penuh dengan lumpur. Kim Hee Chul merintih kesakitan. “Aaaww…”
Jaeha segera bangun dan melihat Kim Hee Chul. “Kau tidak apa-apa?”
Kim Hee Chul mendengus kesal. “Apa aku terlihat baik-baik saja dan apa ini, lumpur?”
Jaeha menundukkan kepalanya dengan mengernyitkan dahinya. “Maafkan saya, jika kau tidak tiba-tiba datang maka aku tidak akan menabrakmu bahkan aku sudah berteriak memintamu untuk minggir.”
“Wah… jadi sekarang kau menyalahkanku?” Kim Hee Chul terkekeh sementara Jaeha hanya tetap menundukkan kepalanya meminta maaf. Kim Hee Chul mendengus “Sekarang kau mau bagaimana? Pakaiaku kotor semua bahkan ponselku .. hah” dengan tawa kesalnya dia menunjukkan ponselnya yang dipenuhi dengan lumpur.
“Didekat sini ada sungai, kau bisa membersihkan tubuhmu dan aku akan mencuci pakaianmu.” Kali ini Jaeha menatap Kim Hee Chul, dia sedikit terpukau meski wajahnya kotor karena lumpur tetapi ketampanannya sungguh tidak menghilang.
Kim Hee Chul kembali terkekeh. “Kau memintaku untuk mandi disungai, aku?” Jaeha hanya menganggukkan kepalanya. Entah keberapa kalinya Kim Hee Chul mendengus namun seketika kedua matanya memekik ketika melihat lutut kaki Jaeha terluka membuat celana bunganya sobek. “Kau terluka.”
Jaeha melihat kearah lututnya. “Aa… ini sobek, bagaimana ini.” Bukan mengkhawatirkan lututnya yang terluka Jaeha justru memikirkan celananya yang sobek.
“Lututmu terluka, kau tidak merasa kesakitan? ” Kim Hee Chul membolakan kedua matanya.
“Tidak, ini hanya luka kecil tetapi celanaku sobek. Aku tidak memilikinya lagi.”
Kim Hee Chul hanya menghela nafasnya tak percaya. “Kau tidak terluka itu lebih baik. Aa.. ayo kita kesungai untuk membersihkan badanmu.” Jaeha berdiri tanpa rasa sakit padahal lututnya terluka sementara Kim Hee Chul tidak memiliki luka hanya pinggangnya yang sedikit sakit sangat kesulitan berdiri sehingga Jaeha harus membantunya.
“Kau bisa berjalan?”
“Tentu saja, kau pikir aku pria seperti apa?” Kim Hee Chul terdengar seperti pria yang memaksakan dirinya agar terlihat kuat membuat Jaeha hanya tersenyum lalu berjalan terlebih dahulu sementara Kim Hee Chul mengikutinya dari belakang dengan sangat pelan.

Setelah sampai disungai Kim Hee Chul terlihat terpukau, sungainya sangat jauh dari pikirannya. Dia bahkan melebarkan senyumannya, sungai yang bersih dan juga bening dengan bebatuan besar menandakan bahwa sungai ini sudah pasti sering digunakan warga sekitar untuk mandi. Tunggu, apakah dia akan mandi disini? Tanpa penghalan atau penutuh apapun?
“Buka bajumu, aku akan mencucinya.” Kim Hee Chul memekik terkejut dengan spontan dia menyilangkan kedua tangannya pada dadanya.
“Apa? Kau menyuruhku untuk telanjang disini, didepanmu?”
“Tidak akan ada yang melihatmu.”
“Lalu bagaimana denganmu, kau ada disini.”
“Aku tidak bernafsu denganmu, cepatlah buka bajumu. Apakah kau mau pulang dengan baju kotormu?”
Kim Hee Chul diam, akan banyak pertanyaan jika dia pulang dengan keadaan kotor. “Baiklah, aku akan membukanya tapi kau harus benar-benar mencucinya dengan bersih tanpa noda apapun. Lumpur ini harus hilang.” Hanya anggukan kepala Jaeha menjawab permintaannya.
Dengan keyakinan yang tidak pasti Kim Hee Chul melepas kaos hitamnya menampilkan langsung tubuhnya yang begitu putih seputih susu dengan abs yang membentuk perutnya menjadi 6 kotak membuat Jaeha menelan ludahnya sendiri, dia tidak berfikir jika pria cantik ini memiliki abs.
Dengan malu Kim Hee Chul memberikan kaosnya kepada Jaeha tetapi nyatanya gadis ini tidak fokus pada tangan Kim Hee Chul dia masih melihat tubuh kekarnya. “Yak.. apa yang kau lihat!” dengan menyilangkan kedua tangannya kembali kedadanya.
Teriakan Kim Hee Chul menyadarkan fokus Jaeha kembali dengan segera dia meraih kaos Kim Hee Chul. “Tubuhmu bagus.” Kim Hee Chul memekik tak percaya jika wanita yang terlihat begitu lugu bisa mengatakan itu padanya.
Jaeha hanya tersenyum lalu mulai membasuh kaos Kim Hee Chul untuk membersihkan noda yang ada dikaosnya.
“Apakah airnya aman?”
“Tentu saja, warga disini sering mandi disini.”
“Benarkah, disini tidak ada penghalang. Apakah mereka mandi terbuka?” hanya anggukan kepala Jaeha menjawab pertanyaan Kim Hee Chul. “Kau juga?”
“Tentu saja tidak, jika aku mandi disini desa ini bisa ramai karena melihat bidadari sedang mandi disungai ini.”
Kim Hee Chul terkekeh. “Kau lucu juga.”
“Basuhlah wajahmu, air disini sungguh menyegarkan.”
Kim Hee Chul hanya diam tetapi langkahnya mulai maju kedepan mendekati air sungai. Menghilangkan rasa ragu Kim Hee Chul membasuh wajahnya membersihkan lumpur yang ada di wajahnya dan juga anggota tubuhnya yang lain.
“Waahh… ini menyegarkan, airnya sungguh dingin dan ini menyegarkan.” Kim Hee Chul terlihat seperti bocah yang pertama kali diizinkan untuk pergi bermain hujan. “Aku harus mengajak Taehyung kesini, dia pasti akan menyukainya.”
Kim Hee Chul melihat lutut Jaeha yang masih belum diobati. “Kau tidak membersihkan lukamu terlebih dahulu?”
“Nanti setelah aku mencuci kaosmu.”
Kim Hee Chul merasa tidak nyaman akhirnya mencekal tangan Jaeha membuatnya menghentikan membilas kaos Kim Hee Chul dan menatapnya. “Apa yang kau lakukan?”
“Luruskan kakimu.” Ketika Jaeha terkejut dengan perlakuan seseorang maka dia hanya akan menunjukan wajah polosnya karena permintaannya tak juga dituruti akhirnya Kim Hee Chul dengan perlahan meluruskan kaki Jaeha.
“Maafkan aku, bukan maksud aku untuk kurang ngajar aku hanya mau membersihkan lukamu.” Ujar Kim Hee Chul sebelum dirinya mengangkat celana bunga Jaeha keatas lutut sementara Jaeha hanya diam menurut, dia lebih fokus melihat wajah Kim Hee Chul.
Perlahan Kim Hee Chul membersihkan lumpur yang hampir menutupi lukanya dan darah segar mulai kembali keluar dari lututnya membuat Jaeha sedikit merintih. “Tahanlah, aku tahu ini perih tetapi jika tidak segera dibersihkan kau akan semakin sakit karena mungkin kuman akan masuk kedalam.”
Jaeha kembali hanya diam dan menatapnya. “Aku baru melihatmu didesa ini. Siapa kau?”
Kim Hee Chul tidak memperhatikannya dan tetap membersihkan luka Jaeha.
“Kau akan terkejut jika kau tahu siapa aku.”
“Apa kau salah satu putra Ketua Kim yang datang dari Seoul?” Tebakan Jaeha berhasil membuat Kim Hee Chul mengangkat kepalanya untuk menatap gadis polos ini. “Aku benar?”
“Kau tahu tumbuhan yang bisa mengobati luka, bukan? Pulang nanti kau bisa melakukannya sendiri” Kim Hee Chul tersenyum.
“Terimakasih, tuan.” Kim Hee Chul memekik ketika tiba-tiba Jaeha memanggilnya tuan. “Jika kau memang putra dari Ketua Kim maka kau adalah tuanku, aku bekerja dikeluargamu.”
“Kau seorang petani?”
“Iya”
Kim Hee Chul kembali mengerutkan dahinya dan mendesah tak percaya. “Dilihat dari tubuhmu, kau masih berumur 20-an, mengapa kau menjadi petani?”
“Itulah hidup, hidupku tak seberuntung tuan yang terlahir dengan sendok emas.”
Kim Hee Chul terdiam sejenak. “Siapa namamu, aku Kim Hee Chul.”
“Lee Jae Ha”
“Jaeha, baiklah. Senang bertemu denganmu Lee Jae Ha.” Lee Jae tersenyum lebar dan tertunduk malu.
“Cepat selesaikan cucianmu karena aku harus segera pulang.”
“Baiklah.”
Menunggu Jaeha memncuci kaosnya, Kim Hee Chul memilih untuk masuk kedalam sungai untuk membersihkan seluruh badannya yang kotor. Pemandangan ini tak luput dari penglihatan Jaeha, sesekali matanya melirik kearah Kim Hee Chul yang menikmati segarnya air sungai.

Dengan senyuman yang selalu terukir dibibir manisnya, Jaeha sulit untuk pergi tidur. Disampingnya ada sang Ibu yang menemaninya. Bayangan Kim Hee Chul tiba-tiba terbesit dalam benaknya membuatnya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya setelah sadar siapa Kim Hee Chul. Keresahan Jaeha membuat Ibunya membalikkan badannya karena Jaeha selalu saja bergerak.
“Kau belum tidur?”
Jaeha terkejut menoleh kearah sang Ibu. “Eomma, apa aku membangunkanmu?”
“Kau membuat eomma tidak bisa tidur.”
“Maafkan aku.”
Sang Ibu tersenyum lalu mengelus puncak kepala Jaeha penuh kasih sayang membuat gadis ini menutup kedua matanya karena merasa nyaman. “Apa yang membuatmu gelisah?”
“Eomma” Jaeha memiringkan tubuhnya menghadap sang Ibu. “Eomma akan terkejut siapa yang tadi Jaeha temui.”
Ibu Jaeha, Lee Jin Joo mengerutkan dahinya mentapa Jaeha penasaran. “Siapa?”
“Putra Ketua Kim.”
“Apa? Bagaimana kau bertemu dengannya?”
“Jaeha tidak sengaja menabraknya dengan sepeda Jaeha lalu kami masuk kedalam lumpur.”
Lee Jin Joo memekik terkejut. “Yaaa.. bagaimana bisa kau melakukan itu?”
“Jaeha tidak sengaja, tiba-tiba dia muncul didepan Jaeha.”
“Ternyata benar kata orang-orang jika putra Ketua Kim sangat tampan. Wajahnya tampan tetapi juga terlihat cantik, itu menakjubkan bukan eomma?” Jaeha terlihat begitu semangat menceritakan Kim Hee Chul kepada sang Ibu.
Dengan hati-hati Jinjo bertanya “Apa kau menyukainya?”
Wajah Jaeha memerah. “Apa? Tidak, Jaeha tidak menyukainya bahkan Jaeha tidak pantas menyukainya.” Dirinya tersenyum sedih membuat sang Ibu hanya bisa terdiam.
“Jaeha hanya terkejut dengan sikapnya. Biasanya putra orang kaya bahkan dia tinggal di Seoul itu sangat sombong tetapi dia tidak, dia pria yang sopan dan baik bahkan dia yang membersihkan luka Jaeha.”
“Lututmu?”
Jaeha menganggukkan kepalanya. “Aah.. Jaeha mulai mengantuk.”
“Baiklah, sekarang kau tidurlah.” Jaeha hanya menganggukkan kepalanya lalu mulai memejamkan kedua matanya, tertidur.
Perlahan Jinjoo kembali mengelus kepala Jaeha dengan lembut, tak terasa air matanya menetes. “Kau berhak menyukainya, kau berhak menyukai siapapun. Jaeha maafkan Ibu karena sudah melahirkanmu tanpa ayahmu.”

***
Pagi ini Kim Yong Kwang memanggil Kepala Desa memintanya untuk datang menemuinya dirumah. Sementara Kim Hee Chul yang masih menikmati sarapan paginya bersama sang adik mulai penasaran mengapa pagi-pagi sekali Ayahnya sudah memanggil Kepala Desa kerumah dan sampai saat inipun dia tidak tahu apa alasannya Ayahnya memaksa dia untuk datang kedesa dan meninggalkan kantornya. Diam-diam Kim Hee Chul berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keruang tamu untuk mendengarkan pembicaraan antara sang Ayah dan Kepala Desa.
“Saya mau melihat gadis-gadis didesa ini.”
“Apakah berita itu benar jika bapa akan menjodohkan putra bapak dengan gadis didesa ini?”
“Benar dan saya mau kau mencarikan gadis untuk putra saya.”
“Jika boleh saya tahu putra keberapa yang ingin anda jodohkan?”
Kim Yong Kwang terdiam sejenak, dirinya masih ragu jika dia menyebutkan Kim Tae Hyung yang akan dia jodohkan dengan gadis desa. “Putra bungsu saya, Kim Tae Hyung”
Mendengar jawaban dari Kim Yong Kwang membuat Kepala Desa memekik terkejut, dia tahu keadaan Kim Tae Hyung sekarang membuatnya tak bisa berkata-kata lagi.
“Jadi saya mohon tolong carikan gadis yang terbaik untuk putra saya.” Hanya anggukan kecil dari Kepala Desa mengiyakan permintaan Kim Yong Kwang.
“Abeoji!” setelah mendengar perbincangan antara sang Ayah dengan Kepala Desa membuat Kim Hee Chul tak tiba lagi diam ditempat.
Kim Yong Kwang memekik terkejut begitu pula dengan Kepala Desa.
“Mengapa Ayah ingin menikahkan Taehyung?”
“Tuan Go, kau bisa pulang sekarang dan tolong sore ini semua gadis harus berkumpul dirumah saya.”
Kepala Desa menganggukkan kepalanya seraya berdiri diikuti oleh Kim Yong Kwang. “Baiklah, kalau begitu saya permisi.”
Setelah Kepala Desa pergi, Kim Yong Kwang mendekati Kim Hee Chul. “Ayah akan menikahkan Taehyung disini.”
“Ayah tidak memikirkan bagaimana keadaan Taehyung? Dirinya tidak dalam keadaan siap menikah bahkan mungkin dia tidak tahu apa arti menikah.”
“Bagaimana bisa Ayah ingin menikahkan Taehyung, dia masih terlalu muda. Apa kau tidak memikirkan aku yang sudah berkepala 3 ini?”
“Justru karena kau perjodohan harus dilakukan.” Kim Hee Chul memekik terkejut, bagaimana bisa ini karena dia?
“Kau saja yang normal sangat susah mencari pasangan bagaimana dengan Taehyung. Ayah takut jika dia tidak akan memiliki istri.”
“Lalu gadis mana yang mau memiliki suami seperti dia?”
PLAK…
Satu tamparan keras menghantam pipi Kim Hee Chul.
“Heechul Appa. Apa yang kau lakukan?” Cho Yu An yang sedari tadi berada disana terkejut melihat suaminya menampar putra sulungnya membuatnya langsung menghampiri Kim Hee Chul.
“Jaga mulutmu, bagaimanapun dia tetap adikmu.” Kim Yong Kwang menggertakan rahangnya.
“Berhenti memarahinya lagipula tidak ada yang salah dengan Heechul. Apa kau yakin salah satu dari mereka akan mau menikahi Taehyung?” Kim Yong Kwang kembali memekik karena sang isteri yang membela Kim Hee Chul.
“Siapa yang menolak untuk menikah dengan putra Ketua Kim.”
“Benar, semua orang didesa ini menghormatimu. Mereka semua menyanjungmu tetapi kau harus ingat bagaimana keadaan putramu sampai kau berniat untuk menikahkannya.” Cho Yu An menangis, dirinya tak sanggup lagi menahan tangisnya.
“Ada apa ini, mengapa eomma menangis bahkan tadi Taehyung lihat Appa memukul hyung. Aaa…. apakah kalian sedang memainkan Cham.. cham ..cham?” Taehyung yang tak mengerti apapun menghampiri mereka.
“Lihat, lihat anakmu apakah dia ada dalam keadaan yang bisa menikah?” Dengan menangis Cho Yu An berteriak didepan sang suami.
“Eomma kenapa menangis?” Taehyung mendekat kearah sang Ibu dengan kedua mata yang mulai berkaca.
“Eomma gwaenchana”
“Hyung, ayo kita main. Kau bilang ada sungai disini, ayo kita kesana.” Setelah mendengar jawaban dari Cho Yu An yang mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, Kim Taehyung sudah tak memperdulikannya lagi.
“Jika Ayah tetap menjodohkan Taehyung, aku hanya ingin satu. Tolong carikan gadis yang benar-benar berhati tulus karena hanya gadis seperti itu yang bisa membuat Taehyung aman.” Dengan dewasa Kim Hee Chul mengatakan hal itu membuat sang Ayah menatapnya.
“Ayo hyung.. ayo kita main.” Rengek Kim Tae Hyung
“Ayo Taehyung-ah” Kim Hee Chul tersenyum mengikuti langkah sang adik yang setia menggandeng lengan Kim Hee Chul.
“Hee Chul benar, aku akan menerima gadis yang bisa menerima Taehyung apa adanya. Aku tidak peduli latar belakang keluarga itu asalkan gadis itu bisa dipercaya untuk Taehyung.” Kembali Cho Yu An menyetujui pendapat Kim Hee Chul sementara Kim Yong Kwang hanya diam mematung sendiri ditempat.

Kakak beradik ini berjalan bersama menyusuri jalan yang hanya cukup dengan satu mobil. Kim Tae Hyung terlihat begitu bahagia ini kali pertamanya pergi jalan-jalan didesa ini. Semua mata menuju kepada mereka menganggumi ketampanan yang mereka miliki ‘bak seorang idola yang berjalan diatas Red Carpet. Berbeda dengan Kim Tae Hyung yang tak lepas dari senyuman lebarnya sang Kakak hanya diam menatap sang adik pilu. Siapa yang akan tulus menerima keadaannya, adakah gadis dijaman sekarang yang seperti itu? Jika ada tolong berikan gadis itu pada Taehyung.
Drrrtt…Drrrttt….
ponselnya bergetar menandakan ada panggilan untuknya dengan segera Kim Hee Chul mengambil dari sakut celananya. “Taehyung-ah, tunggu disini. Hyung harus mengangkat telepon.”
Kim Tae Hyung yang selalu menuruti apa kata sang Kakak ini hanya menganggukkan kepalanya dan benar dia hanya berdiri sementara Kim Hee Chul berjalan menjauh darinya.
“Eoh Sekretaris Kim.” Kim Hee Chul mendapat panggilan dari kantornya.
Sementara menunggu sang Kakak yang mendapat telepon dari perusahaannya rupanya Kim Tae Hyung mulai bosan, dia akan memanyunkan bibirnya jika merasa bosan. Tetapi tiba-tiba matanya berbinar ketika melihat sesuatu didepannya. “Haha.. apa yang dia lakukan?” Mulutnya terbuka lebar lalu mengambil sesuatu disaku celanannya, sebuah ketapel. Apa yang dia lakukan dengan ketapel itu?
Kim Tae Hyung mengambil satu kerikil ditanah dan memasangkan di ketapelnya setelah itu ditarik ketapel yang sudah berisi kerikil dia mulai membidik menargetkan pada sesuatu dihadapannya. Tunggu, dia akan membidik kearah petani yang sedang menungging disawah.
“PPAAAA…” Suaranya mengiringi lepasnya kerikil itu dan “BUK” tepat mengenai sasarannya. Kerikil itu mengenai tepat dipantat seorang petani wanita.
“AW…” Rintihnya kesakitan
“Ha Ha Ha….” Kim Tae Hyung terlihat begitu puas dengan tertawa terbahak-bahak membuat Kim Hee Chul langsung menghampirinya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Lihat itu hyung, dia sangat lucu Hahaha” Kim Tae Hyung hanya menunjuk kearah petani itu yang kesakitan dan mencari tahu siapa yang melakukan ini padanya.
“Yak… kau tidak boleh melakukan itu.” Kim Hee Chul frustasi dengan tingkah sang adik.
“Mengapa, ini sangat menyenangkan” Kim Tae Hyung hanya tetap tertawa.
“Ikut aku, kita harus meminta maaf padanya.” Kim Hee Chul langsung menarik Kim Tae Hyung untuk turun kesawah.

“Jaeha-ah, kau baik-baik saja?” seorang Ibu paruh bayah yang sama dengan kemarin mengkhawatirkan Jaeha yang terlihat sakit disebelah pantatnya ulah dari Kim Tae Hyung.
“Apakah kau yang terkena ketapel adikku?” Kim Hee Chul dengan hati-hati bertanya ketika mereka sudah berada disawah menghampiri para petani.
Jaeha terkejut ketika menoleh kearah Kim Hee Chul yang tentu saja ekspresi yang sama diwajah Kim Hee Chul. “Kau.”
“Hyung, ayo pergi disini banyak nyamuk Taehyung tidak mau mati karena nyamuk.” Kim Tae Hyung mendekat kearah Kim Hee Chul dengan merangkul kuat lengan sang kakak.
“Aa.. apa kau terluka?”
“Tidak, aku baik-baik saja tuan.”
“Kim Tae Hyung, kau harus minta maaf padanya.” Pinta Kim Hee Chul
“Taehyung tidak salah apapun dia yang salah. Untuk apa dia menungging disini heheehe tapi tadi kau terlihat lucu, pantatmu seperti anjingku” tanpa rasa malu Kim Tae Hyung mengatakan itu pada Jaeha yang tentu saja membuat gadis ini menundukkan kepalanya sementara Kim Hee Chul memekik karena merasa malu.
“Aa.. maafkan adikku, dia tidak tahu apa-apa.” Kim Hee Chul memerah menahan rasa malu.
“Apakah kalian ini putra Ketua Kim?” Petani lainnya nampak penasaran.
“Iya, saya Kim Hee Chul dan ini adik saya Kim Tae Hyung. Maafkan kami atas ketidaknyamanannya.” Kim Hee Chul membungkukkan badannya.
“Hyung kapan kita akan kesungai, ayo kita main.” Kim Tae Hyung kembali mengajak sang kakak
“Aa.. kau harus meminta maaf dulu pada Jaeha jika tidak hyung tidak akan mengajakmu kesungai karena sebenarnya yang tahu sungai itu dia.” Kim Tae Hyung melihat kearah Jaeha yang hanya dengan polos menatapnya.
“Ya.. maafkan aku. kau akan memaafkan aku, bukan?” Dengan manis Kim Tae Hyung meminta maaf.
Jaeha hanya menganggukkan kepalanya. “Dia sudah memaafkanku jadi ayo kita kesungai.”
“Jaeha-ah bisakah kau ikut. aku tidak ingat betul dimana sungai itu.”
Jaeha terkejut dan spontan melihat kearah petani yang lainnya yang memandangnya tak percaya. “Tetapi tuan, aku sedang bekerja.”
“Kau lupa siapa aku. kau bekerja untuk keluargaku itu artinya aku tuanmu dan sekarang aku memintamu untk pergi bersama kami.” Kim Hee Chul mempergunakan kekuasaannya untuk membawa Jaeha pergi.
“Pergilah, biar kami yang mengurus disini.” Para petani membiarkan Jaeha pergi.
Jaeha hanya diam, dirinya masih ragu untuk pergi.
“Kenapa lama sekali, ayo kita pergi.” Teriak Kim Tae Hyung dengan kesal.
“Ayo Jaeha-ah.” Kim Hee Chul kembali mengajaknya seraya berjalan terlebih dahulu bersama Kim Tae Hyung.
“Maafkan aku.” Dengan sopan Jaeha menundukkan kepalanya sebelum pergi mengikuti Kim bersaudara ini dan meninggalkan pekerjaannya.
“Bagaimana mereka bisa saling kenal?”
“Sepertinya putra sulung ketua kim dekat dengan Jaeha.”
“Mereka tampan tapi sayang putra bungsunya benar-benar seperti orang gila.”
Para petani mulai bergosip ria membicarakan kedekatan antara Kim Hee Chul dengan Jaeha dan tak luput dengan membicarakan Kim Tae Hyung.

Setelah sampai di Sungai, Kim Tae Hyung langsung merasakan segarnya air sungai tanpa menunggu perizinan dari sang kakak dirinya langsung masuk kedalam air membasahi seluruh tubuhnya. Sementara Kim Hee Chul hanya duduk di bebatuan besar tepi sungai untuk mengawasi sang adik.
“Kau pasti terkejut.” Kim Hee Chul berbicara tanpa menoleh kearah Jaeha yang berdiri didekatnya.
“Iya ahh maksudku sedikit.” Kegugpan yang ditunjukan Jaeha membuat Kim Hee Chul terkekeh.
“Taehyung seperti itu sejak lahir, Ibu dan Ayahku sudah membawanya keberbagai dokter terbaik dikorea tetapi itu tidak berhasil. Taehyung memang ditakdirkan terlahir seperti itu.”
“Kurasa dia lucu.” Tanggapan Jaeha berhasil membuat Kim Hee Chul menoleh kearahnya “Kepolosannya dan ketidaktahuannya itu menggemaskan. Justru orang-orang sepertinya adalah orang-orang yang spesial karena dia akan menjadi sumber keceriaan dan juga orang yang paling jujur, dia akan mengungkapkan segala perasaannya dan menunjukan ekspresi suka atau ketidak sukaannya, itu menarik.”
Kim Hee Chul terdiam menatap begitu dalam Jaeha yang tak lepas menatap kearah Kim Tae Hyung seraya tersenyum. Tatapan seolah tak percaya jika gadis kecil ini bisa mengatakan yang belum pernah ia dengar dari orang-orang yang menilai Kim Tae Hyung.
Merasa diperhatikan Jaeha menoleh kearah Kim Hee Chul yang masih menatapnya. “Aahh.. apakah aku keterlaluan tuan. Maafkan aku”
Kim Hee Chul tersenyum dan kembali memandang sang Adik. “Tidak, aku senang mendengarnya. Ini kali pertama aku mendengar seorang gadis memuji Taehyung.” Jaeha hanya tersenyum mendengarnya.
Dddrrttt…Dddrrtt…
Ponselnya kembali bergetar dengan orang yang sama yang menghubungi Kim Hee Chul. “Sebentar.” Kim Hee Chul pergi menjauh dari Jaeha sementara gadis ini terus memandangi Kim Tae Hyung yang terlihat begitu bahagia. Memainkan air seperti anak kecil tanpa ia sadari sejak tadi dirinya terus tersenyum menatap Kim Tae Hyung tanpa sadar jika Kim Hee Chul memperhatikannya.
“Hyung, kemarilah ini menyegarkan. Aku suka disini.” Tatapan Kim Hee Chul dibuyarkan dengan panggilan sang adik.
“Taehyung-ah sepertinya hyung harus segera pulang. Sekretaris hyung ada disini, Hyung harus kerja.” Teriak Kim Hee Chul
“Aku tidak mau pulang. Aku disini.” Kim Tae Hyung dengan lantang menolak Kakaknya.
“Bagaimana ini sekretaris Kim akan sampai 10 menit lagi.” Gumamnya namun seketika dia melihat kearah Jaeha “Jaeha-ah bisakah kau menjaga Taehyung. Aku harus segera pergi”
Jaeha terkejut, dirinya tidak yakin bisa menjaga Kim Tae Hyung. “Tapi aku…
“Taehyung-ah, kau bermain dengannya sekarang dia temanmu nanti kau akan pulang dengannya, mengerti. Hyung harus segera pulang” Teriak Kim Hee Chul kembali “Jaeha-ah, aku mengandalkanmu.” Kim Hee Chul menyentuh pundak Jaeha sebelum dirinya pergi meninggalkan Kim Tae Hyung pada Jaeha.
“Tuan…” percuma saja dia memanggil karena nyatanya Kim Hee Chul berlari.
Dia menghelas nafas dan menatap kearah Kim Tae Hyung yang juga menatapnya. Perlahan Kim Tae Hyung berjalan mendekatinya, keluar dari sungai. “Aku lelah.”
“Benarkah, istirahatlah aaa..duduklah.” Jaeha mencoba berkenalan dengan baik.
Kim Tae Hyung duduk dibatu yang ditunjukan Jaeha padanya. “Hyung, apakah dia tidak akan kembali?”
“Dia harus kerja dan kau bisa pulang bersamaku.”
Kim Tae Hyung menoleh menatap Jaeha serius. “Kau siapa?”
“Namaku Lee Jaeha, kau bisa memanggilku Jaeha. Tuan.”
“Kau memanggilku tuan?”
“Karena kau tuanku.”
“Tidak, panggil aku Taehyung jika kau memanggilku tuan maka kau sama seperti Yoonji.”
“Tapi tuan..
“Hei… panggil aku Taehyung, kau temanku sekarang.” Kim Tae Hyung tersenyum lebar membuat Jaeha terdiam. Dia terpesona.
“Kau tidak ingin main air?”
“Aku lebih suka melihatmu main.” Entah sadar atau tidak Jaeha mengatakan itu.
“Aku sangat suka air tetapi jika aku terlalu lama didalam air aku akan sakit jadi aku tidak akan masuk lagi, Ibu bisa memarahiku nanti.” Pria ini benar-benar polos, kepolosannya berhasil membuat Jaeha tersenyum.
“Kau tersenyum, senyumanmu manis. Aku suka.” Jaeha memerah mendengar kata manis itu dari Kim Tae Hyung.
“Aku lapar.”
“Apakah kita pulang sekarang?”
“Tidak, aku belum ingin pulang. Dirumah berisik, tadi pagi Ibuku menangis melihat Ayah memukul hyung.” Dia terlihat begitu sedih.
“Taehyung-ssi, tunggulah disini sebentar.”
Kim Tae Hyung mengerutkan dahinya, dia tidak ingin ditinggal hal yang paling tidak ia sukai adalah ketika dirinya sendiri. “Tidak mau, aku tidak mau sendiri.”
“Sebentar saja, aku tidak akan lama bahkan kau bisa melihatku darisini. Aku hanya pergi kesana.” Jaeha menunjuk pada tumbuhan tebu yang berdiri tegak tidak jauh dari sungai. “Kau bisa melihatnya bukan?”
“Untuk apa kau kesana, bukankah itu berbahaya?” Nampaknya Kim Tae Hyung mulai merasa nyaman berada didekat Jaeha.
“Tidak. kau tunggu disini aku hanya pergi sebentar, hmm..”
“Baiklah, pergilah aku akan menunggumu disini tetapi jangan pernah tinggalkan aku. Aku benci sendiri.” Kim Tae Hyung memperingatkannya sementara Jaeha hanya menganggukkan kepalanya lalu melangkah maju menjauh dari Kim Tae Hyung. “Jaeha-ah” Panggilan Kim Tae Hyung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya “Hati-hati” Jaeha kembali tersenyum mendengar perkataan manis dari Kim Tae Hyung lalu kembali pergi.
Sesampainya disana Jaeha langsung mematahkan dua batang tebu dan membawanya kembali ke Kim Tae Hyung yang menunggunya. Kim Tae Hyung membolakan kedua matanya ketika melihat dua batang tebu itu. “Apa ini, apakah itu tongkat kau ingin bermain perang-perangan denganku?” Jaeha tak henti tersenyum ketika berada disamping Kim Tae Hyung.
“Ini makanan, kau bisa memakannya.” Kim Tae Hyung mengerutkan dahinya “Bentar aku akan mengupaskan untukmu.” Dengan sabar Jaeha benar-benar menjaga Kim Tae Hyung, dia memukul-mukul beberapa kali tebu itu kebatu besar sampai batang itu retak agar dia bisa menyobeknya dengan mudah.
“Chaa.. makanlah, ini sangat manis.” Jaeha memberikan satu potong tebu putih yang tadi ia kupaskan dengan tangannya sendiri.
Kim Tae Hyung hanya melihatnya, dia belum pernah melihat ini sebelumnya. “Makanklah ini benar-benar manis kau akan menyukainya” Kim Tae Hyung menurut dan memakan potongan tebu itu, dia mulai mengunyahnya dan senyuman tergambar diwajah tampannya.
“Maniskan?”
Anggukan antusias menjadi jawaban dari Kim Tae Hyung. “Jangan ditelan, jika rasa manisnya sudah hilang jangan ditelan” Jaeha mengingatkannya
“Seperti ini?” Kim Tae Hyung melepehkan sisa tebu tadi, Jaeha hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
“Cha… ini makan lagi.” Jaeha kembali memberikannya dalam potongan besar dengan senang hati Kim Tae Hyung menerimannya dan langsung ia masukan kedalam mulutnya mengunyah tebu itu agar dapat merasakan sari-sari manis dari tebu.
“Kau tahu, ini bisa dijadikan gula.”
“Benarkah, pantas saja ini manis. Aku menyukainya.”
“Syukurlah.”
Kim Tae Hyung tak berhenti memakan tebu, dia mulai jatuh cinta pada tumbuhan yang hidup didesa. Sementara Jaeha hanya tersenyum menikmati kebersamaannya bersama Kim Tae Hyung.

Rupanya keinginan Kim Yong Kwang untuk menjodohkan Kim Tae Hyung dengan gadis desa tak main-main. Sore ini Kepala Desa datang kerumahnya dengan membawa beberapa gadis yang dicalonkan akan menjadi isteri Kim Tae Hyung. Semua terlihat begitu muda seumuran dengan Jaeha.
“Siapa yang bernama Mo Chae Hee?” Tanya Kim Yong Kwang setelah melihat selembar kerta yang berada ditangannya yang merupakan data dari para gadis ini.
Seseorang yang terlihat paling cantik disini mengangkat tangan kanannya. “Saya, Mo Chae Hee”
“Kau cantik. Sekarang kau sedang kuliah jurusan musik, benarkah?”
“Iya, saya berada disemester 6 tahun ini.”
“Mengapa kau datang, apakah kau sudah siap menjadi seorang isteri?”
“Saya datang karena saya siap menikah lagipula sebentar lagi saya akan lulus.”
“Apa kau tahu dengan siapa kau akan dijodohkan?”
“Dengan putra sulung anda.” Raut wajah Kim Yong Kwang tiba-tiba memerah karena menahan kesal.
“Aku pulang.” Kim Hee Chul tiba-tiba datang dengan membawa berkas ditangannya. Semua gadis yang berada disini tak bisa menahan raut wajah mereka yang merona terpesona melihat kedatangan Kim Hee Chul.
“Dimana Kim Tae Hyung?”
Kim Hee Chul mengernyitkan dahinya. “Apakah dia belum pulang?”
“Kau meninggalkannya dimana?” Kim Yong Kwang spontan berbicara dengan nada tinggi membuat para gadis ini terkejut.
“Appa… Eomma …. Hyung” Sebuah teriakkan yang tentu saja dikenal dengan baik oleh Kim Yong Kwang ataupun Kim Hee Chul. Putra bungsunya pulang diwaktu yang tepat. Para gadis ini sempat terpesona melihat ketampanan Kim Tae Hyung tetapi setelah melihat tingkah lakunya mereka mulai terdiam dan Kim Hee Chul melihat perubahan ekspresi mereka.
“Kim Tae Hyung kau darimana saja, hmm. Mengapa kau terpisah dengan hyungmu?” Cho Yu An datang menghampiri Kim Tae Hyung.
“Taehyung baru saja main, hyung tadi harus pergi kerja.”
“Lalu kau bermain sendiri?”
“Tidak, Taehyung memiliki teman baru. Dia benar-benar baik, eomma” Kim Tae Hyung terlihat begitu bahagia.
“Abeoji, apakah mereka calon yang dijodohkan dengan Taehyung?” ketika nama ‘Taehyung’ disebutkan dalam pertanyaan Kim Hee Chul terlihat jelas mereka tak menginginkannya.
“Semuanya kenalkan, mereka putraku. Ini Kim Hee Chul putra sulung kami dan Kim Tae Hyung putra bungsu kami.” Kim Yong Kwang memperkenalkan kedua putranya pada para gadis ini.
“Dan untuk Mo Chae Hee, bukan Kim Hee Chul yang akan kami jodohkan tetapi Kim Tae Hyung putra bungsu kami.” Jelas Kim Yong Kwang yang tentu saja mengejutkan mereka. Mereka datang tanpa tahu siapa yang akan dijodohkan dengannya, mereka terlalu berharap jika Kim Hee Chul lah yang akan dijodohkan dengan mereka.
“Appa untuk apa mereka semua disini?” Kim Tae Hyung penasaran
“Salah satu dari mereka akan menjadi istrimu Kim Tae Hyung”
“Isteri, apa itu?”
“isteri, seseorang yang akan menemanimu seumur hidupmu. Dia akan menjagamu sepenuh hati, memberika semua keinginanmu.” Jelas Kim Yong Kwang dengan hati-hati.
“Seorang teman. Tunggu, Taehyung sudah memilikinya.” Kim Tae Hyung mengejutkan keluarganya tanpa meminta ijin Kim Tae Hyung berlari keluar dari rumahnya.
“Mau kemana dia?” Kim Yong Kwang penasaran kemana perginya Kim Tae Hyung.
Kim Hee Chul hendak mengejarnya tiba-tiba saja Kim Tae Hyung masuk dengan seorang gadis yang ia kenal, Lee Jae Ha. Kim Tae Hyung menggenggam erat tangan kiri Jaeha dan masuk kedalam. Semua mata saling menatap bertanya.
“Dia temanku, dia akan menjadi isteri Taehyung.” Pengakuan Kim Tae Hyung tentu saja membuat semua orang terkejut terlebih lagi Jaeha yang berada disampingnya.
“Kim Tae Hyung.” Cho Yu An memekik terkejut.
“Ketika hyung pergi Jaeha menemani Taehyung bermain, Jaeha menjaga Taehyung bahkan dia mencarikan Taehyung makanan yang sangat lezat.” Jelasnya
“Taehyung-ah, apa kau serius?” Kim Hee Chul bertanya dengan serius.
“Tentu saja, aku ingin menjadi teman Jaeha selamanya. Dia sangat baik pada Taehyung.” Dengan begitu tulus Kim Tae Hyung mengatakannya membuat Jaeha hanya diam menatap wajahnya dari samping.
Sementara kedua orang tua Kim Tae Hyung tak bisa lagi mengatakan apapun bahkan Jaeha hanya diam ditempat. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi disini, Kim Tae Hyung tidak tahu apa arti isteri yang sesungguhnya dan dengan mudah memilih Jaeha padahal baru satengah hari mereka bersama.

Keesokkan harinya setelah memikirkan apa yang sudah terjadi kemarin sore, siang ini Kim Yong Kwang memanggil Jaeha untuk datang kerumah. Tanpa berniat menolak permintaan dari Kim Yong Kwang, Jaeha datang seorang diri kerumah besarnya. Dan kini dirinya hanya menundukan kepalanya dengan jari-jari yang ia mainkan mencoba untuk menghilangkan ketakutan ataupun kegugupannya dihadapan kedua orang tua Kim Tae Hyung.
“Lee Jaeha, namamu Lee Jaeha. Benar?” Dengan lembut Cho Yu An memulai pembicaraan.
Jaeha menganggukkan kepalanya. “Ya nyonya nama saja Lee Jae Ha”
“Apa kau sudah tahu mengapa kami menyuruhmu untuk datang?”
“Apakah karena apa yang dikatakan oleh tuan Tae Hyung kemarin?”
Cho Yu An menganggukkan kepalanya. “Apa pendapatmu tentang itu?”
Sebelum Jaeha menjawab pertanyaan Cho Yu An tiba-tiba Kim Yong Kwang bertanya. “Bagaimana keluargamu, siapa Ayahmu?”
Jaeha terdiam ketika mendengar pertanyaan tentang sang Ayah.
“Jaeha-ssi?” Cho Yu An memanggilnya.
Perlahan Jaeha mengangkat kepalanya dan menatap sendu kearah kedua orang tua Kim Tae Hyung. “Saya tidak memiliki seorang Ayah. Ibuku melahirkanku tanpa seorang Ayah.”
Mereka terlihat begitu terkejut. “Jadi sekarang kau hanya hidup dengan Ibumu?” Cho Yu An bertanya
“Iya”
“Taehyung memilihmu menjadi isterinya apa kau mau menurutinya?” Pertanyaan Kim Yong Kwang kembali membuat Jaeha terdiam ditempat.
Bayangan Kim Hee Chul yang berbicara dengannya kemarin sore kembali terngiang dalam pikirannya.
Flashback On
Jaeha keluar dari rumah besar Ketua Kim yang sudah membuatnya terkejut sampai dia sempat kesulitan untuk bernafas. Dengan tiba-tiba dia akan menjadi calon isteri Kim Tae Hyung sementara mereka barus saja bertemu, apakah masuk akal jika mereka langsung menikah begitu saja? Tentu saja untuk Jaeha itu tidak tetapi untuk Taehyung iya. Jaeha tidak bisa menyalahkan Taehyung yang mengatakannya tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu karena Taehyungpun pasti tidak mengerti apa itu pernikahan, apa itu isteri dan bagaimana menjadi seorang suami.
Jaeha berjalan cukup lambat, apa yang harus ia lakukan jika keluarga Kim benar-benar akan menikahkannya dengan Taehyung?
“Jaeha-ssi” Kim Hee Chul memanggilnya menghentikan langkah Jaeha yang masih berada dihalaman rumahnya. Jaeha membalikkan badannya, dia bisa melihat Kim Hee Chul dengan jelas dihadapannya.
“Kau tidak apa-apa. Kau pasti syok.” Dia tidak berbicara satupun kata. “Jaeha-ssi, mungkin ini terdengar egois tetapi aku ingin mengatakannya padamu.” Jaeha menatap kedua mata Kim Hee Chul dengan serius.
“Kim Tae Hyung, aku tahu dia tidak mengerti apapun tetapi satu hal dia mengetahui setiap hati dari orang-orang yang ada disekitarnya. Dia menyukaimu itu benar bahkan aku juga mulai menyukaimu.” Pernyataan Kim Hee Chul membuatnya membulatkan kedua matanya.
“Aku merasa senang mendengar pendapatmu tentang seorang seperti Taehyung. Kau bisa dia orang yang special, ketika kau mengatakannya aku sungguh berfikir bagaimana jika kau menjadi isterinya aku rasa itu akan membuatku aman tanpa rasa khawatir pada Taehyung.”
Jaeha menatapnya sendu. “Apa tuan memintaku untuk menyetujui permintaan Taehyung?”
“Aku berharap iya hehehe apakah aku egois?” Jaeha hanya menggelengkan kepalanya pelan
“Maaf tuan, aku harus segera pulang Ibuku sudah menunggu dirumah. Permisi.” Jaeha membungkukkan badannya lalu berlalu pergi meninggalkan rumah besar keluarga Kim.
Flashback Off
“Jaeha-ssi” Cho Yu An membuyarkan lamunan Jaeha.
“Ya” Jaeha kembali menatap kedua orang tua Kim Tae Hyung sementara Kim Yong Kwang menatapnya menunggu jawaban darinya, Jaeha mengerti. “Saya menyukai Kim Tae Hyung, dia sangat lucu dan jujur tetapi untuk menjadi seorang isterinya saya masih belum yakin. Apakah saya bisa menjaganya dengan baik, saya takut jika Taehyung akan bosan denganku dan akhirnya meninggalkanku dan mencari teman lainnya.”
Cho Yu An tersenyum lebar. “Itu artinya kau menyetujuinya?”
“Jika diijinkan saya mau menjadi isterinya meskipun Taehyung menganggapku seorang temannya tetapi saya akan berusaha untuk tetap membuatnya bahagia.” Cho Yu An tersenyum mendengarnya.
“Kau tidak akan menyesal menikah dengannya?” Cho Yu An ingin meyakinkannya.
“Tidak, saya sudah memikirkannya sebelum datang kemari.”
“Apa aku bisa percaya denganmu bahwa kau ingin menjadi isteri Taehyung bukan karena maksud lain?” Kim Yong Kwang memastikan bahwa Jaeha menikahi putranya bukan karena harta yang ia miliki.
“Jika maksud tuan saya mengincar harta tuan, itu tidak benar. Aku senang berada didekat Taehyung, dia bisa membuatku banyak tertawa.” Jawaban Jaeha meyakinkan Cho Yu An begitupun dengan Kim Yong Kwang yang mulai mempercayainya.
“Baiklah, aku akan segera menetapkan pernikahan kalian.” Jaeha hanya terdiam mendengarnya.
“Temuilah Taehyung, dia ada ditaman” Cho Yu An tersenyum
“Baiklah nyonya” Jaeha berdiri lalu membungkukkan badannya berpamitan keluar dari ruangan yang entah dirinya sendiri tak tahu apa nama ruangan itu.
“Yeobo, akhirnya kita bisa mendapatkan gadis untuk Taehyung. Bukankah dia bisa dipercaya, benar?”
“Tetapi dia tidak memiliki Ayah, itu mengangguku.” Kim Yong Kwang masih membicarakan masalah status.
“Jangan kau pikirkan yang terpenting Taehyung akan bahagia. Dia bisa memilih pasangannya sendiri.”
“Bocah itu.”
Cho Yu An terlihat begitu bahagia meskipun Kim Yong Kwang hanya diam tetapi terkadang dirinya berseri. Mereka bisa mempercayakan Jaeha jika gadis polos nan lugu ini bisa menjaga putranya dengan baik.

Tuesday, March 08 2017 – 09-00 KST
Andong Village, Gyeongsakbuk-do.
Rumah besar keluarga Kim kini menjadi sebuah istana yang setiap sudut sisi dihiasi dengan bunga-bunga yang cantik nan harum. Hari ini adalah pernikahan putra bungsunya Kim Tae Hyung dengan Lee Jae Ha gadis polos nan lugu dari desa Andong. Dari luar rumah sampai ujung rumah ini semua dihiasi, Kim Yong Kwang mengeluarkan banyak uang untuk pernikahan putra bungsunya yang sangat berharga untuknya. Dia menjadikan pernikahan putranya seperti pernikahan seorang pangeran, di pandu dengan warna silver dan putih memperlihatkan kemewahan dan elegan dari pernikahan ini. Sudah jelas banyak gadis yang akan terlihat iri kepada Jaeha karena mereka tak membayangkan jika gadis miskin ini bisa menikah semegah ini.
Di ruang ganti perempuan, Jaeha nampak duduk bersama beberapa gadis yang menemaninya. Dia menunggu untuk dipanggil keluar. Dengan gaun putih selututnya dipandu dengan pita-pita yang berwarna silver membuat Jaeha terlihat begitu anggun. Riasan diwajahnya membuatnya terlihat begitu cantik, Jaeha yang selama ini hanya berdandan biasa dan kini dengan riasan seperti ini memperlihatkan kecantikannya yang bak seorang putri.
“Jaeha-ah” Seorang paruh baya datang menemuinya, Lee Jin Joo.
“Eomma”
Lee Jin Joo tersenyum menghampirinya. “Kau cantik sekali” dengan sentuhan lembut dipipinya membuat Jaeha tersenyum lebar.
“Sebentar lagi kau akan menjadi seorang isteri, kau akan memiliki suami …” Lee Jin Joo tak bisa menahan tangisannya lagi.
“Eomma” Jaeha menyeka air mata sang Ibu.
“Aku tidak tahu pilihanmu ini benar atau tidak tetapi Eomma hanya berharap semoga kau akan bahagia bersama suamimu. Bersabarlah, hmm” Lee Jin Joo ragu karena keadaan Kim Tae Hyung.
Jaeha tersenyum lalu menggenggam kedua tangan Lee Jin Joo. “Eomma, Taehyung sendiri yang memilihku dan akupun telah memilihnya. Kita akan bahagia dengan cara kita sendiri, meskipun akan berbeda dengan pasangan lainnya tetapi rasa sayang kita akan bisa melebihi dari pasangan lainnya. Jaeha bahagia dengan pilihan Jaeha dan Jaeha bangga memiliki seorang suami yang tampan. Bukankan Taehyung tampan?”
Ucapan Jaeha yang begitu dewasa berhasil membuat Lee Jin Joo tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
“Jaeha-ah.. mereka sudah memanggilmu. Sudah waktunya kau keluar.” Ucap Mo Chae Hee yang menjadi pendamping wanita Jaeha.
“Kau tak perlu gugup. Eomma akan menunggumu diluar.” Lee Jin Joo tersenyum lalu keluar meninggalkan Jaeha yang mulai merasakan gugup.
Dengan alunan lembut suara musik Jaeha berjalan dengan begitu anggun menggandeng Kepala Desa yang menjadi walinya menggantikan Ayahnya yang entah dimana. Taehyung tersenyum lebar ketika melihat Jaeha yang begitu berbeda bahkan semua orang disini terpukau kecantikannya. Pandangan Jaeha hanya mengarah kepada Taehyung yang terlihat begitu tampan dengan kemeja putih dibalut dengan jas silver tak lupa dasi kupu-kupu berwarna silvier membuatnya terlihat seperti pangeran.
Namun tiba-tiba Kim Tae Hyung berjalan maju meninggalkan panggung pernikahannya. Membuatnya semua terdiam bahkan Jaeha menghentikan langkahnya. Hal ini tidak pernah terjadi dipernikahan manapun. Kim Tae Hyung berjalan menghampiri Jaeha dan menggandeng tangan Jaeha menyingkirkan tangan Kepala Desa yang sebelumnya menggandengnya.
“Jaeha-ah kau sangat cantik, apa yang kau kenakan ini sangat cocok untukmu. Kau sama seperti cinderella yang sering dibacakan Yoonji untukku.” Kim Tae Hyung membuat pengantinnya tersipu malu sementara yang lain hanya tertawa melihat tingkah lucu Kim Tae Hyung.
“Taehyung-ah. Sekarang kau harus berjalan ke pendeta bersama Jaeha, pernikahanmu harus segera dilaksanakan.” Kim Hee Chul mendekat dan mengarahkan Kim Tae Hyung untuk segera.
Dengan semangat Kim Tae Hyung menggandeng Jaeha keatas altar pernikahan mereka. Pernikahan mereka dimulai dengan pendeta yang mulai menyebutkan janji suci untuk mereka. Kim Tae Hyung cukup cepat menjawab pertanyaan sang pendeta, sebahagia inikah Kim Tae Hyung.
Mengucap ikrar janji suci sampai tukar cincin sudah dilaksankan dengan baik. Pernikahan ini berjalan sesuai dengan rencana, semua berjalan begitu baik. Kim Tae Hyung tak lepas dari Jaeha, pria polos ini selalu menggandeng lengan Jaeha dan selalu mengatakan bahwa gadis yang kini telah menjadi isterinya cantik.
“Jaeha-ah..” Cho Yu An menghampiri Jaeha yang sedang menemani Kim Tae Hyung makan.
“Ne nyonya.”
“Eommoni. Kau harus memanggilku Eommoni” Cho Yu An menegaskannya.
“Ah.. Iya Eommoni” Dengan malu-malu Jaeha menjawabnya.
“Terimakasih sayang. Kau membuat Taehyung bahagia.”
“Kebahagiaan Taehyung adalah kebahagiaanku juga.” Cho Yu An tersenyum mendengar ucapan Jaeha yang selalu menghangatkan hatinya.
“Selamat adikku tersayang, kau menikah mendahului hyungmu.” Kim Hee Chul datang seraya merangkul Kim Tae Hyung dengan hangat.
“Apakah kau senang?” hanya anggukkan manis yang diberikan Taehyung.
“Jaeha-ah. Terimakasih” Kim Hee Chul tersenyum membuat Jaeha hanya tersenyum.

Setelah acara pernikahan selesai, Jaeha langsung membersihkan tubuhnya. Sementara Kim Tae Hyung nampak membawa sebuah DVD dan segera menonton dikamarnya dengan kemeja putih yang masih ia pakai.
30 menit sudah Jaeha berada dikamar mandi. Dirinya keluar dengan baju tidurnya, dia terkejut melihat Kim Tae Hyung yang nampak serius menonton televisi. Jaehapun menghampirinya dengan terus mengusap rambut basahnya.
“Taehyung-ah, apa yang kau tonton?”
“Jaeha, kau disini. Untuk apa kau dikamarku?” Kim Tae Hyung terkejut melihat Jaeha berada didalam kamarnya.
“Aku akan tidur disini mulai sekarang.”
“Denganku?” Jaeha menganggukka kepalanya “Mengapa? Apakah ibumu tidak mencarimu?” Jaeha tersenyum lalu duduk disebelah Kim Tae Hyung yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya.
“Taehyung-ah, dengarkan aku baik-baik. Aku isterimu sekarang, aku temanmu sekarang itu artinya aku akan selalu berada didekatmu, menemanimu makan, bermain untukmu dan juga menjagamu saat kau tidur.” Kim Tae Hyung memekik lalu kembali bertanya “Apakah bisa seperti itu, kenapa tidak dari dulu kau melakukannya?”
Jaeha kembali tersenyum “Karena kita baru saja menikah, lihatlah kita memiliki cincin yang sama itu artinya kita adalah pasangan.” Jaeha memperlihatkan cincin pernikahan mereka.
“Apakah seperti itu, kita akan tidur bersama?” Kim Tae Hyung menunjuk kearah televisi. Jaeha membolakan kedua matanya dan segera mengalihkan pandangannya.
“Darimana kau mendapatkannya?”
“Heechul hyung memberikan DVD itu padaku dan menyuruhku untuk menontonnya denganmu.” Ucap Kim Tae Hyung polos sementara Jaeha terlihat bergidik. Film yang kini Taehyung tonton adalah blue film, film yang menampilkan pasangan yang sedang berhubungan intim.
“Apa yang sedang mereka lakukan, mengapa mereka telanjang dan saling berpelukan. Pria itu dari tadi menindih wanita itu apakah tidak berat? Apakah itu permainan yang dilakukan pasangan?” Kim Tae Hyung bertanya begitu polos.
“Aa.. iya itu sebuah permainan yang hanya bisa dilakukan oleh pasangan.” Jawab Jaeha gugup.
“Kalau begitu ayo kita main seperti mereka.” Jaeha membolakan kedua matanya kembali terkejut “YA?”
“Tadi pria itu membuka kemejanya maka aku harus melakukannya juga.” Kim Tae Hyung berdiri dengan semangat dia membuka kemejanya spontan Jaeha langsung menundukkan kepalanya.
“Kenapa kau masih duduk, berdirilah. Pria itu tadi mulai mencium wanitanya maka aku akan menciummu.” Kim Tae Hyung menarik Jaeha dengan kasar untuk berdiri. Kini Jaeha menatap Kim Tae Hyung yang bertelanjang dada dihadapannya. Tak ada perut kotak-kotak seperti Kim Hee Chul tetapi tetap saja membuat Jaeha terdiam, menelan ludahnya sendiri.
“Aku akan menciummu sekarang.” Kim Tae Hyung tersenyum seraya meletakkan kedua tangannya dikedua rahang Jaeha sementara gadis ini hanya menutup kedua matanya kasar.
CUP
Kim Tae Hyung menciumnya, dia terus mengecup bibir manis Jaeha tetapi ketika Kim Tae Hyung ingin melepasnya Jaeha melarangnya dan merangkul leher Kim Tae Hyung lalu dilumatnya bibir tebal milik Kim Tae Hyung. Dilumatnya bibir atas dan bawah sementara Kim Tae Hyung hanya memejamkan kedua matanya entah darimana keberanian itu kini Jaeha memimpin ciuman diantara mereka.
Setelah belajar dari sebuah DVD yang diberikan sang Kakak dan juga keberanian Jaeha kini Kim Tae Hyung berani melepas baju tidur milik Jaeha dan menindihnya diatas ranjang besar miliknya. Jaeha menatap kedua mata Kim Tae Hyung lembut. Kini kulit perutnya bersentuhan langsung dengan kulit Kim Tae Hyung memberikan sensasi yang berbeda.
“Apakah aku tidak berat, ini sebuah permainan yang harus kita lakukan. Aku ingin memainkan ini denganmu seperti pria dan wanita itu.”
“Mainkan, ayo kita mainkan ini.” Jaeha pasrah dirinya juga menginginkan Kim Tae Hyung.
“Pria tadi memainkan dadamu, seperti ini.” Kim Tae Hyung langsung mempraktekkannya dengan meremas kuat dada kiri Jaeha membuat gadis ini memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang sewaktu-wakt akan keluar dari mulutnya.
“Aah…. aku menyukai ini.” Kim Tae Hyung tak henti bermain dengan dada sintal miliki Jaeha membuat gadis menahan kenikmatannya. “Aku akan melepaskannya. Bagaimana melepasnya?” Tanya Kim Tae Hyung menunjuk pada bra milik Jaeha yang masih menutupi payudaranya.
“Aku akan melepaskannya untukmu, duduklah dulu.” Pinta Jaeha dengan menurut Kim Tae Hyung duduk dan Jaehapun juga bangun untuk melepas branya sendiri.
Kim Tae Hyung membolakan kedua matanya melihat tubuh Jaeha yang setengah telanjang dihadapannya, bagaimanapun dia tetap seorang pria. Tanpa mengatakan apapun lagi Kim Tae Hyung langsung menyambar dada Jaeha dan memainkan dengan bruntal sementara Jaeha hanya tetap memejamkan kedua matanya menikmati setiap sentuhan yang dilakukan Kim Tae Hyung didadanya, dia pasrah malam ini.

JLEB
Kini Kim Tae Hyung berhasil memasukki sepenuhnya Jaeha. Namun tiba-tiba dia menghindar setelah melihat darah keluar dari kewanitaan Jaeha, Kim Tae Hyung takut.
“Jaeha-ah kau berdarah, apa aku melukaimu?” setelah melakukan sejauh ini pria ini tetap saja menjadi seorang pria yang polos.
“Tidak Taehyung-ah. Kau tidak melukaiku, ini karna aku pertama kalinya aku melakukan permainan ini tetapi aku tidak apa-apa.” Jelas Jaeha yang masih terengah
“Tadipun kau menangis, menjerit. Wanita disana tidak seperti itu kenapa kau menangis?” Tanya Kim Tae Hyung
“Taehyung-ah, sungguh aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja kau bisa melanjutkan permainan ini.”
“Benarkah, aku bisa melanjutkannya?” Jaeha hanya menganggukkan kepalanya. Kim Tae Hyung kembali menindih tubuh Jaeha dan kembali menyatukannya dengan bantuan Jaeha akhirnya Kim Tae Hyung berhasil memasukkan penisnya kembali pada tubuh Jaeha dan setelah itu hanya suara decitan dari ranjang mereka serta desahan diantara mereka yang terdengar dikamar ini.
Kim Tae Hyung berhasil meniduri Jaeha, pria ini berhasil merenggut keperawanan milik Jaeha yang kini telah menjadi isterinya. Ini semua karena ulah jahil sang kakak yang membuat Kim Tae Hyung menjadi pria normal yang menikmati hubungan diatas ranjang bersama seorang wanita.
Setelah pelepesanan diantara mereka, Kim Tae Hyung masih menindih Jaeha. Dan tetap memainkan kesukaannya, dada Jaeha. “Aku baru tahu jika permainan ini begitu menyenangkan aku ingin bermain ini setiap hari tapi itu membuatku pipis. Tadi aku pipis” Kim Tae Hyung yang polos menyebut pelepasannya adalah pipisnya.
“Itu bukan pipis Kim Taehyung. Itu cairan yang kau keluarkan setelah permainan ini.” Jelas Jaeha sedikit terengah karena tangan Taehyung masih tidak berhenti bermain didadanya.
“Besok aku akan memainkan ini dengan Yoonji.” Kim Tae Hyung menyeringai tetapi tidak dengan Jaeha, dia terkejut “Ya…! kau tidak boleh memainkan ini dengan gadis lain, kau hanya boleh bermain denganku, dengan Lee Jaeha. Isterimu!”
“Baiklah, kalau begitu ayo kita bermain lagi.”
Dalam satu hentakan penuh Kim Tae Hyung kembali memasuki tubuh Jaeha.
“Yaa… Kim Tae Hyung!!”
“Aku sangat menyukai permainan ini, ayo kita mainkan ini setiap hari.” Kim Tae Hyung terus mencumbu Jaeha yang sudah kelelahan dibawahnya.
Jaeha hanya pasrah dia hanya bisa mendesah, mendesah dan selalu mendesah. Kim Tae Hyung terus menerus mencumbunya entah itu dibagian atas tubuhnya ataupun dibawah tubuhnya. Dia tidak tahu jika Taehyung akan menyukai hal-hal seperti ini.

END

128 thoughts on “Idiot’s Love

  1. karena hbs baca yang i you and we entah kenapa penasaran baca yang ini
    hahahaha duduh heechul jadi pembawa virus yadong nihhh

    Suka

  2. haa mengharukan..

    taehyung yang tampan dan polos,.

    tapi agak khawatir juga sama taehyung.

    lee jaeha harus ekstra sabar dan harus ngawasin taehyung nih.
    gara-gara keisengan kakak taehyung ini..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s