Uncontrollably Crush Part 1


picsart_02-10-08-15-48

 

Author            : Shan Shine

Tittle               : Uncontrollably Crush

Category        : NC21, Yadong, Romance

Cast                :

– Cho Kyuhyun.                                 

– Shin Hyunni.

***

Hai, semuanya. Kali ini diriku membawakan cerita baru, romance chapter. Masih ingat diriku, kan? Aku yang sering kirim ff oneshoot fantasy. Kuharap semuanya menikmati cerita ini.  Selamat menikmati~

P.s : (Listen while reading) Double Jack – BoA.

So, Enjoy! and happy reading~

***

Part 1

Bunyi sirine dari dua mobil polisi terus terdengar begitu melengking di jalanan tersebut. Bunyi yang cukup mendominasi dari kedua mobil itulah yang menarik perhatian hingga membawa beberapa orang berhenti sejenak untuk melihat apa yang terjadi. Suara-suara berbisik yang merupakan obrolan dari para penduduk, cukup membuat tempat kejadian perkara terdengar riuh.

 

Beberapa orang bertanya akan apa yang terjadi, beberapa pula tampak menebak setelah melihat apa yang telah terjadi pada jalanan itu. Serpihan kaca mobil yang bertebaran di jalanan, pembatas jalan yang terbelah karena sesuatu keras dan besar menabraknya, hingga gambaran hitam decitan ban mobil di aspal jalan, membuat rasa penasaran mereka semakin jadi. Sayangnya, beberapa polisi  yang berjaga menahan mereka untuk mendekat dan melihat lebih jauh.

 

Suara orang-orang yang menarik napas kaget mereka terdengar, begitu mobil berat itu berhasil menarik sebuah mobil dari dasar laut. Air laut yang sempat tersimpan di dalam mobil segera berlarian jatuh kembali ke lautan sesaat setelah mobil malang itu diangkat naik kembali ke jalanan. Tampak badan mobil bagian depan hancur karena menabrak membatas jalan dengan kecepatan tinggi.

 

Sebuah mobil berwarna hitam mengkilap yang datang dengan cukup cepat. Mobil itu berhenti tiba-tiba di tempat kejadian perkara. Tampak seseorang seperti melompat turun dengan kalut dari dalam mobil sana, sebelum akhirnya terdiam di depan mobilnya. Matanya yang tampak berkaca-kaca menatap lurus dan lekat mobil merah yang baru saja diangkat dari lautan itu. Kaki-kakinya yang lemah perlahan kembali bergerak maju, mencoba mendekati mobil itu.

 

“Maaf, Anda tidak boleh mendekat dulu.” Seorang polisi yang berjaga di sekitar tempat kejadian pun menahannya untuk mendekat.

 

Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya menatap polisi itu dengan mata yang memerah karena mencoba sekuat mungkin menahan air matanya. Ia juga tengah menahan dirinya agar tidak menerobos masuk dan membuat keributan. Ia hanya bisa diam. Ia tampak tidak berusaha menenangkan diri atau setidaknya membuat dirinya bangun bahwa semua yang sedang terjadi di depan matanya hanyalah sebuah mimpi.

 

Kedua kakinya kembali mencoba melangkah maju saat pintu mobil itu dibuka dan memuntah banyak air laut yang masih terjebak di dalam mobil. Namun, ia terhenti begitu kakinya terasa menginjak sesuatu.

 

Ia menunduk sembari mengangkat kakinya dari benda yang ia injak itu. Keningnya sedikit berkerut dengan tatapan penasaran, sebelum perlahan ia berjongkok dan mengambil benda itu dari tanah. Ia menatap lama benda yang sudah ada di tangannya itu.

 

Pancaran matanya berubah. Dia segera menggenggam benda itu dengan erat menggunakan kepalan tangannya. Kuku-kukunya tampak memutih karena kuatnya genggamannya. Lalu dengan perlahan, ia menyimpannya di dalam saku celananya.

 

***

 

Tujuh bulan kemudian…

 

Udara Seoul cukup menyengarkan di pagi hari walaupun udaranya masih cukup dingin. Musim semi sudah datang dan menggantikan musim dingin yang baru saja berlalu. Semuanya tampak menyambut ceria musim baru. Semuanya, termasuk seorang gadis yang sekarang mengayuh sepedanya dengan santai, menikmati pemandangan di mana butiran salju sudah menghilang.

 

Sembari mengayuh sepedanya, gadis itu sesekali menghirup dalam udara musim semi yang sangat menyegarkannya. Bahkan ia sudah membuka sweter rajutnya dan mengikatnya di sekitar bahunya. Ia juga suka saat udara musim semi menyelimutinya kulit-kulitnya.

 

Gadis itu kemudian melirik jamnya. Ia sadar bahwa ia tidak boleh terlalu lama bersantai. Dengan segera, gadis itu mempercepat gerakan kakinya mengayuh sepedanya.

 

Ia berhenti tepat di depan sebuah kafe yang berada di pinggir jalan. Gadis itu kemudian memarkirkan sepedanya dengan baik sebelum masuk melewati pintu dorong yang terbuat dari kaca tembus pandang. Walaupun papan bertuliskan keterangan buka sudah dibalik, ia tahu bahwa ia tidaklah terlambat.

 

Eonni! Hyunni eonni! Lihat!” Seorang gadis tampak melambai-lambai memanggil begitu melihat Hyunni memasuki kafe. Gerakan tangannya tampak gemas menyuruh Hyunni mendekat.

 

“Ada apa?”

 

Hyunni melihat di atas meja kasir itu ada sebuah kue yang bisa Hyunni simpulkan sebagai sebagai kue coklat dari warnanya. Hiasannya pun cukup indah. Di mana hiasan utamanya adalah sebuah jeruk yang sudah dikupas tampak begitu segar.

 

“Sana-ya, apa ini?” tanya Hyunni menatap penuh minat pada kue cokelat itu.

 

“Menu baru.”

 

“Menu baru?”

 

Sana mengangguk. “Donghae oppa yang membuatnya. Katanya dia ingin menambah menu kue yang menurutnya sedikit kurang.”

 

“Kalian mau mencobanya?” Pria bernama Lee Donghae keluar dari dapur sambil mengelap tangannya dengan sebuah kain.

 

Donghae adalah sang pemilik sekaligus koki dari kafe tempat Hyunni bekerja sekarang. Donghae sendiri adalah kakak sepupu dari Sana, teman dekat Hyunni yang beberapa tahun lebih muda darinya. Hyunni sudah menganggap keduanya adalah teman dekatnya bahkan keluarganya, mereka  juga begitu baik pada Hyunni.

 

Hyunni dan Sana pun mengangguk antusias saat melihat Donghae mulai memotong kue coklat itu. Namun menariknya, saat Donghae memotong kue itu, aroma melon yang sama juga terasa indra penciuman mereka.

 

“Aku menambahkan ekstrak buah-buahan ke dalam rasa kue itu, tetapi rasa utamanya tetaplah cokelat. Buahnya hanya untuk pelengkap. Bagaimana? Cobalah!” Donghae kemudian menyerahkan dua piring yang masing-masing berisi sepotong kue kepada Hyunni dan Sana.

 

“Sangat enak!” pekik Sana pada suapan pertamanya.

 

Donghae tersenyum puas sebelum beralih kepada Hyunni yang masih sibuk mengunyah. Gadis itu benar-benar tampak menikmatinya. “Hyunni ya, bagaimana?”

 

“Terbaik!” kata Hyunni mengangkat jempolnya.

 

Donghae tertawa melihat reaksi kedua gadis yang ada di depannya. Ia kemudian menatap jam tangan yang ada di lengan kirinya. “Sudah mau jam sembilan! Aku sebaiknya cepat bergerak,” kata Donghae yang mulai kembali memasang apronnya dan kembali masuk ke dalam dapur.

 

Hyunni menatap heran sebelum mengalihkan pandangannya pada Sana yang masih sibuk menambahan potongan kuenya. “Dia tampak sibuk.”

 

“Ah itu? Jam dua belas nanti ada beberapa orang yang mau rapat di sini. Mereka memesan kopi dan beberapa potong kue untuk disajikan nanti. Jadi, Donghae oppa lebih sibuk hari ini.”

 

Hyunni hanya mengangguk-angguk mengerti. Ia kemudian juga memotong satu potong kue lagi untuk dimakan. Seperti biasa, kue Donghae selalu membuat lidah mereka ketagihan.

 

***

 

Daepyo-nim, orang-orang dari Busan sudah datang.” Seorang pria dengan perawakan cukup tinggi memasuki ruangan kantor yang cukup besar dan mewah itu. Tidak lupa ia menunduk kecil saat berada di depan meja besar yang terbuat dari kayu jati yang kokoh. “Apa Anda perlu bantuan untuk menyiapkan bahan rapatnya?”

 

Pria yang tengah menulis sesuatu di atas kertas, perlahan mengangkat wajahnya. Memperlihatkan wajah tampannya yang sudah menjadi salah satu kelebihan pria itu. Senyum miring yang khas dan mempesona terukir di wajah sempurnanya. Gadis manapun yang melihatnya akan terpesona setengah mati.

 

“Tidak usah, ini hanya rapat kecil sekaligus makan siang. Tugasmu hanya mengantarku saja kali ini. Tidak perlu terlalu serius, Shim biseo.” Pria itu kembali senyuman tampan,memperlihatkan deretan gigi rapih berwarna putih bersihnya.

 

“Baiklah.” Pria berwajah datar dan serius itu kembali menunduk kecil. “Mereka sudah ada di lobi.”

 

Pria itu pun bangkit dari kursinya. Ia meluruskan jasnya, sebelum mengancingnya dengan sempurna. Kemudian ia berjalan mengikuti pria yang sekarang menjabat sebagai sekretarisnya.

 

Setelah sedikit berbincang dengan para investor dari Busan, mereka segera melanjutkan pembicaraan mereka di sebuah kafe. Kafe itu adalah tempat yang disarankan oleh Cho Kyuhyun untuk rapat kecil itu. Cho Kyuhyun adalah pria yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi di sebuah perusahaan properti yang cukup besar di Korea bahkan hingga keluar negeri.

 

Pria itu sempurna. Bahkan dengan mendengar namanya saja, semua bisa mengetahui dan membayangkan betapa sempurnanya pria itu. Semua orang yang mengenalnya, menghormatinya, dan memujanya. Pesonanya sebagai pimpinan muda yang ramah sekaligus tegas, cukup membuat orang-orang sulit untuk tidak menyukai sosoknya. Apalagi dengan status lajang, pria itu berhasil masuk di majalah bisnis hingga majalah harian sebagai pria yang paling diinginkan oleh wanita-wanita lajang.

 

Mobil mewah yang dibawa oleh sekretarisnya pun melaju dengan sempurna di jalanan besar Seoul. Kyuhyun tampak sibuk menikmati suasa di luar mobilnya. Musim semi adalah satu musim yang ia sukai. Semua tampak indah di musim semi. Menurutnya, cuacanya sekarang cukup indah untuk memulai musim semi yang indah untuknya.

 

***

 

“Eonni, kumohon.” Sana terus memelas pada Hyunni yang sekarang tengah bersikap fokus mengelap kaca etalase kue. Ia berusaha keras agar Hyunni menyetujui penawaran yang sejak tadi ia ungkapkan. Selain karena ia sudah berjanji pada orang itu, ini semua juga menurutnya demi kebaikan gadis itu.

 

“Aku tidak suka kencan buta.” Hanya itu kalimat yang terus Hyunni keluarkan sejak Sana bertanya padanya dan memasaknya untuk bertemu dengan seorang pria di kencan buta yang disarankan Sana.

 

“Eonni, aku sudah berjanji pada temanku kalau kau akan datang,” kata Sana semakin memelas dan menatap Hyunni dengan memohon.

 

“Lagipula kenapa kau membuat janji pada temanmu bahwa aku akan kencan buta dengan oppanya?”

 

Sana dengan segera meraih tangan Hyunni, mengambil lap itu dan menggantikan pekerjaan Hyunni. “Hanya sekali saja, eonni. Lagipula kau juga belum pernah berpacaran apalagi berkencan sejak lahir, kan? Siapa tahu saja kakak temanku ini mau dengan eonni.”

 

Yak, Min Sana!” pekik Hyunni sedikit gemas.

 

“Kenapa kalian berdua selalu berisik?” Donghae kemudian muncul dengan dua nampan yang berisikan kue cokelat yang sama dengan tadi pagi. Hanya saja bentuknya lebih besar dan lebih rapih.

 

“Oppa, tolong bujuk eonni supaya ikut kencan buta,” kata Sana sambil mengapit lengan Donghae. Ia mencoba bersikap imut agar Donghae memihaknya.

 

“Jika Hyunni tidak mau, kenapa harus memaksanya.”

 

Sana hanya cemberut melihat Donghae dan Hyunni menyengir puas. Sana hanya merasa gemas dengan sikap Hyunni yang masih belum pernah berkencan hingga di usia 25 tahun. Entah karena kepolosan Hyunni soal pria atau karena Hyunni memang tidak perduli dengan para pria, membuat Sana sangat gemas ingin menjodohkan gadis yang sudah ia anggap kakaknya sendiri itu.

 

“Sudah, lebih baik kalian sekarang memotong kue ini. Sebentar lagi pelanggan dari perusahaan akan rapat. Aku masih mau memasak pesanan lain,” kata Donghae yang kembali tersenyum terutama pada Hyunni, sebelum ia kembali masuk ke dalam dapur.

 

“Sepertinya Donghae oppa butuh koki tambahan. Bagaimana bisa dia memasak semua pesan sendirian?” usul Hyunni sembari mulai mengambil pisau pemotong kue.

 

“Benar juga,” balas Sana. “Apa sebaiknya kita mencari koki baru?”

 

Tepat di luar kafe, tiga jejer mobil mewah baru saja terparkir di pinggir jalan. Tampak seorang pria berjas berwarna hitam kelam keluar dari pintu bagian pengemudi. Pria tinggi dan tegap itu berjalan sedikit memutari mobil itu, sebelum kemudian berdiri di samping pintu depan sebelah kiri mobil dengan wajah datar tidak berekspresinya.

 

Tanpa banyak diam, pria itu membuka pintu mobil itu. Membuat kaki bersepatukan pantofel hitam yang mengkilat perlahan turun. Kemudian, pria berjas abu-abu itu mulai tampak keluar dari mobilnya.

 

Senyuman miringnya yang indah kembali terukir di wajahnya. “Apa ini kafe yang kau maksud?”

 

Shim Changmin, sekretaris sekaligus asisten pribadi Kyuhyun mengangguk. “Iya, kafe ini baru berdiri tujuh bulan yang lalu. Kafe ini cukup digemari karena menunya yang benar-benar enak dan cukup murah. Selain itu, pelayan-pelayan di sini sangatlah ramah.”

 

Kyuhyun menganguk-angguk kecil. “Tidak buruk.”

 

“Apa ini tempat rapat kita?” Seorang pria lanjut usia yang juga memakai jas mendekat setelah turun dari salah satu mobil yang ada di belakang mobil Kyuhyun. Ia bertanya sembari tersenyum menatap kafe yang tampak nyaman itu.

 

“Iya, di sini. Bagaimana menurut Anda semua?” tanya Kyuhyun balik.

 

Keenam pria yang merupakan para investor Kyuhyun itu mengangguk dengan senyum cukup senang. Sebelum pria yang sama, kembali menjawab Kyuhyun, “Bagus. Di sini terasa cukup nyaman. Bagaimana kalau kita masuk sekarang?”

 

“Ah iya, udaranya masih cukup dingin, bukan?” Kyuhyun mulai melangkah maju sambil terkekeh bersama pria-pria itu.

 

Dengan cepat, Changmin mendahului langkah Kyuhyun. Ia kemudian membukakan pintu untuk Kyuhyun dan para pebisnis-pebisnis tersebut, membuat lonceng pintu kafe berbunyi nyarin. Namun, terdengar cukup indah

 

Seketika setelah Kyuhyun memimpin masuk ke dalam kafe, semua pusat perhatian tertuju pada mereka. Mereka semua, terutama Kyuhyun. Bagaimanapun segerombolan pria berjas rapih dan mewah merupakan hal yang menarik saat memasuk kafe itu. Apalagi jika yang memimpin langkah di depan adalah seorang pria tinggi dan tampan. Dan jangan lupakan senyum Kyuhyun yang terukir sempurna saat pria itu terkekeh bersama para investor yang lanjut usia. Hal itu membuatnya semakin menjadi pusat perhatian dari gerombolan para konglomerat tersebut.

 

Mendengar lonceng itu, sontak membuat Hyunni dan Sana yang sedang memotong kue cokelat mengangkat kepala mereka untuk menatap pelanggan baru mereka.

 

“Selamat da…” Hyunni terdiam. Suaranya yang hendak mengucapkan selamat datang terasa tersangkut di tenggorokannya, seolah ia sendiri lupa cara mengatakan selamat datang yang sudah menjadi rutinitasnya.

 

Perasaan aneh apa ini?, batinnya.

 

“Kami sudah memesan meja sejak kemarin untuk rapat kecil. Apa kalian sudah menyiapkannya?” Changmin kemudian berbicara pada Hyunni, mewakili Kyuhyun yang sekarang berdiri menunggu di depan meja kasir itu.

 

Hyunni terdiam. Ia menatap wajah yang berada di belakang pria jakung yang sedang berbicara padanya. Semua indra gadis itu hanya tertuju pada pria bermata elang yang ada di depannya. Perasaannya aneh menatap wajah pria itu. Ada perasaan membuncah sekaligus berdebar di dalam dadanya. Dan perasaan itu cukup membuatnya merasa melayang hanya dengan menatap wajah itu

 

“Ah, iya! Kami sudah menyiapkannya! Mari lewat sini!” Sana segera menyela saat ia sadar bahwa Hyunni dalam keadaan tidak benar-benar sadar. Bahkan dengan samar, Sana bisa melihat pipi Hyunni sedikit memerah merona. Melihat hal itu, Sana sangat ingin terkikik geli.

 

Sana membawa para pelanggan spesial mereka ke arah sebuah sudut terindah kafe. Tampak di sana sudah ada sebuah meja panjang yang cukup bagus untuk digunakan rapat kecil. Di ujung meja sendiri ada sebuah kursi yang di siapkan untuk Kyuhyun seorang.

 

Di lain sisi, Hyunni masih mematung terpesona dengan matanya yang terus mengikuti gerak Kyuhyun bahkan hingga pria itu duduk di kursinya. Ini pertama kalinya dalam hidupnya, ia menatap seseorang hingga pipinya terasa panas karena merona tanpa alasan. Pria itu hanya berdiri diam seperti pangeran, tetapi bagaimana bisa pria itu bisa membuat semua orang terpesona?

 

“Eonni!”

 

Kebisuan Hyunni pun menghilang saat ia tidak sadar Sana sudah berada di sampingnya. Sana menatap gemas. SSana bahkan sudah sedikit berteriak memanggil karena terus diabaikan oleh Hyunni.

 

“Oh, kenapa?”

 

Sana mendecih kecil sembari menggeleng-geleng. “Aigoo, mata eonni seperti akan keluar menatapnya. Apa kau sebegitu terpesonanya, eonni?”

 

Pipi Hyunni semakin memerah. Ia juga kembali sedikit salah tingkah, bahkan Hyunni terkekeh kecil seolah apa yang dikatakan oleh Sana adalah kelakar. “Yak, apa yang kau bicarakan? Terpesona apanya?”

 

“Eoh! Eonni salah tingkah lagi!” goda Sana sambil sedikit memekik. “Woah, akhir eonni melirik pria juga! Akhirnya eonni menyukai seorang pria!”

 

“Apa yang kau bicarakan?! Aku tidak menyukainya!” balas Hyunni dengan mata melotot lucu. “Aku hanya mengagumi ciptaan tuhan saja. Apa itu salah?”

 

“Benarkah?” Sana memicingkan matanya pada Hyunni yang sekarang memaksakan dirinya membalas tatapan mata Sana dengan galak.

 

Sana kemudian meraih nampan besar yang sudah berisi delapan piring kecil yang berisikan masing-masing dua potong kue cokelat yang tadi. Dia juga memberikan nampan itu pada Hyunni yang hanya menatap bingung sekaligus tidak mengerti. Sana menunjuk nampan itu dengan dagu sembari tersenyum licik.

 

“Kalau begitu kau yang bawa kuenya, eonni. Kau tidak menyukai pria itu, jadi kau pasti tidak akan salah tingkah hanya dengan membawa nampan, bukan?” bisik Sana dengan menekankan kalimat terakhirnya untuk semakin membuat Hyunni semakin gugup.

 

Hyunni menenguk ludahnya sebentar. “Ba—baiklah.”

 

Dengan langkah pelan dan jantung yang terus berdebar kencang dengan irama yang terasa membuat kakinya lemah, Hyunni pada akhirnya mendekati meja yang orang-orang tampak berbincang kecil. Tanpa sadar, dirinya menghitung jarak langkah yang semakin terkikis antara dirinya dengan pria mengagumkan itu. Bahkan Hyunni juga sudah sedikit mencengkeram pinggiran nampan itu karena gugup.

 

Hanya Shim Changmin yang menyadari kedatangan Hyunni, karena pria itu memang sedang tidak terlibat dalam pembicaraan. Apalagi posisi duduk Changmin berada di hadapan arah datangnya Hyunni. Hanya sekali lihat dari gerak-geriknya, Changmin sudah tahu bahwa Hyunni sedang sangat gugup sekarang.

 

Gadis itu hanya terdiam tepat di samping Kyuhyun saat ia tiba di meja mereka. Kata-katanya seolah tertelan kembali. Ia bahkan seperti merasa bahwa ia lebih gugup sekarang dibandingkan saat ia pertama kali menjadi pelayan. Bahkan hari pertamanya menjadi pelayan di kafe ini, tidaklah segugup sekarang.

 

“Daepyo-nim,” bisik Changmin yang berada posisinya memang berada dekat dengan Kyuhyun. Ia berusaha menyadarkan Kyuhyun bahwa seorang gadis pelayan tengah berdiri dengan gugup di samping Kyuhyun.

 

Menyadari itu, Kyuhyun berbalik. Pandangan Kyuhyun pun langsung beradu dengan mata sang gadis.  Beberapa detik Kyuhyun menatap bingung, sebelum akhirnya ia sadar bahwa Hyunni adalah pelayan yang membawa makan pembuka mereka. Senyum Kyuhyun pun terbit menyambut gadis itu. Cukup membuat Hyunni semakin membeku di tempatnya.

 

“Makanan pembukanya?” tanya Kyuhyun tanpa menghilangkan senyumannya sedikit pun. Ia kemudian menatap papan nama yang melekat di baju Hyunni dan membacanya dalam hati .

 

Hyunni yang masih membisu hanya mengangguk beberapa kali dengan manisnya. Membuat senyuman Kyuhyun berubah menjadi kekehan geli. Hyunni pun segera sadar bahwa ia harus membagikan piring itu ke masing-masing orang. Bukannya berdiam diri di tempatnya seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa selain menatap.

 

Dengan cepat Hyunni meletakkan piring-piring itu di depan semua orang yang ada meja itu. Ia kemudian memeluk nampan itu di depan tubuhnya sebelum menunduk dengan cepat dan berlalu pergi. Bahkan sebelum ia benar-benar pergi, Hyunni sekali lagi melihat pria itu tersenyum melihat tingkahnya. Pria juga menatap dengan tatapan yang cukup membuat Hyunni semakin merona.

 

Sana sendiri kembali menggeleng-geleng saat melihat Hyunni kembali. Ia benar-benar semakin gemas dengan Hyunni. Mungkin inilah jawaban kenapa Hyunni tidak pernah berkencan selama hidupnya. Gadis itu benar-benar tidak tahu cara mengekspresikan rasa sukanya dengan baik.

 

“Eonni, kau benar-benar menyedihkan. Hidungmu bahkan seperti hampir mengeluarkan darah, kau tahu?” ujar Sana mengejek. Ini membuatnya semakin serius ingin memperkenalkan Hyunni dengan para pria di kencan buta.

 

Hyunni hanya mendelik sebal. Ia menjatuhkan bokongnya di kursi di belakang kasir dengan malas. Ia juga tidak merespon Sana.

 

Senyuman puas kemudian muncul di bibir Sana. Ia merasa sepertinya ia punya ide kali ini. “Eonni, aku akan ke sana mengantar minuman mereka. Bagaimana jika kita bertaruh?”

 

“Bertaruh?” perhatian Hyunni pun terkumpul kembali pada Sana.

 

Sana mengangguk cepat. “Aku akan ke sana dan menanyakan namanya untukmu…”

 

“Ei, dia tidak akan memberitahumu! Kau tidak  lihat dia seperti orang besar! Dia tidak akan dengan mudah memberikan data dirinya pada kita,” sela Hyunni cepat sembari tertawa meremehkan perkataan Sana.

 

“Percayalah padaku! Jika dia memberi tahu namanya, eonni harus datang ke kencan buta itu. Hanya bertemu dan setelah itu semuanya menjadi keputusan eonni untuk terus bertemu atau tidak. Namun, jika aku gagal, aku tidak akan pernah memaksa eonni lagi untuk ikut kencan buta lagi. Bagaimana? Penawaran yang menarik bukan? Setuju?”

 

Hyunni tampak terdiam sebentar untuk menimbang-nimbang penawaran taruhan itu. Ia kemudian melirik pria itu sekali lagi hingga ia sadar, ia memang menginginkan nama pria itu. Ia ingin tahu, apa nama pria itu seindah pemiliknya atau tidak?

 

“Setuju,” balas Hyunni pada akhirnya membuat Sana tersenyum puas.

 

“Oke! Tunggu aku di sini!” seru Sana yang segera menyiapkan nampan untuk minuman.

 

Hyunni sendiri tidak terlalu memperhatikan tawaran itu. Ia cukup yakin dengan pilihannya sendiri bahwa Sana tidak akan berhasil menanyakan nama pria itu. Hyunni lebih memilih merebahkan kepalanya di atas meja kasir. Hyunni juga memutuskan untuk tidak terus menatap pria itu. Jika terus menatap pria itu, kesehatan jantungnya mungkin akan terganggu.

 

Hanya dalam dua menit, Sana sudah kembali dengan wajah ceria. Bahkan gadis itu datang dengan sedikit melompat dengan begitu senangnya. Tanpa pikir panjang, Sana berseru kecil membangunkan Hyunni dari rebahannya.

 

“Eonni!”

 

“Ada apa lagi?”

 

“Tada!!!” Sana sedikit berseru girang saat ia menunjukkan sebuah benda berbentuk segiempat kecil. Benda itu tidaklain adalah sebuah kartu nama. Kartu nama pria bermata elang itu.

 

“I—ini? Cho Kyuhyun?” Hyunni menatap tidak  percaya saat membaca kartu nama itu. Entah godaan atau tingkah imut apa yang dikeluarkan oleh Sana, tetapi gadis itu benar-benar berhasil mendepatkan nama pria itu.

 

“Lihat? Bukan cuma nama yang bisa kudapatkan. Aku bahkan mendapat  pekerjaannya dan juga nomor teleponnya!” pekik Sana girang. Ia cukup bangga dengan dirinya sendiri yang bisa mendapatkan itu semua untuk Hyunni.

 

Hyunni masih terdiam menatap kartu nama berwarna dasar abu-abu itu. Ia juga cukup kagum dengan Sana karena bisa mendapatkannya. Sepertinya ia akan menyimpan kartu nama itu, karena tampaknya ia tidak akan pernah bertemu dengan pria itu.

 

“Sekarang eonni harus menepati janji.”

 

“Janji?”

 

“Kencan buta,” jawab Sana dengan tersenyum penuh kemenangan. Bagaimanapun ia sudah berjanji pada kakak temannya itu.

 

Hyunni terdiam. Ia sempat menganggap taruhan mereka tadi hanyalah angin lalu karena ia pikir Sana tidak akan berhasil mendapatkan nama pria itu. Namun sayangnya, sekarang telah berbeda. Ia harus menepati janjinya. Hyunni menghela napas panjang. Harusnya ia harus sedikit berhati-hati jika bertaruh dengan Sana lain kali.

 

Hyunni pun kembali menatap pria yang ada di sana. Gerakan tubuh seorang profesional yang sedang menjelaskan, membuat Hyunni semakin jatuh pada sosok bernama Cho Kyuhyun itu.

 

Hyunni hanya terus menatapnya dalam diam. Hyunni tampak tenggelam pada perasaannya sendiri. Tanpa Hyunni sadari, Sana sampai harus menggantikan tempat Hyunni di kasir karena Sana takut Hyunni tidak dapat konsentrasi di kasir. Bisa-bisa Hyunni membuat kafe bangkrut karena pengembalian uang pelanggan yang kelebihan.

 

Bahkan saat rapat itu selesai, Hyunni hanya menatap pada Kyuhyun. Dan Hyunni selalu segera mengalihkan pandangannya jika Kyuhyun berbalik. Pipi Hyunni semakin merona merah setiap Kyuhyun mendapatinya menatap pria itu tanpa berpaling. Apalagi pria itu selalu tersenyum geli, melihat betapa salah tingkahnya Hyunni setiap ketahuan.

 

***

 

Besok sorenya, Hyunni tidak punya pilihan lain selain ikut dalam kencan buta yang dibuat oleh Sana. Hyunni bahkan sudah memakai gaun yang begitu feminim sesuai arahan Sana juga. Gaun berwarna krem dengan motif bunga-bunga yang menghiasi permukaannya, terlihat begitu indah di tubuhnya. Bahkan Sana juga dengan antusiasnya menata rambut dengan model kepang yang cukup indah. Membuat Hyunni terlihat cantik sekaligus manis.

 

“Oppa, bagaimana? Eonni tampak cantik, kan?” tanya Sana meminta pendapat Donghae yang sejak tadi menatap Sana yang sedang menatap rambut Hyunni.

 

“Sejak kapan Hyunni tidak tampak cantik?” balas Donghae dengan kekehan.

 

“Maksudku rambutnya, oppa!” seru Sana gemas.

 

“Lumayan,” kata Donghae memberikan komentar yang membuat Sana mendelik.

 

Donghae kemudian menyadari bahwa ia menyimpan sesuatu yang sejak tadi ia simpan untuk Hyunni. Donghae memasukkan tangannya ke dalam saku samping celananya untuk. mencari sesuatu, sebelum akhirnya ia segera mengeluarkannya. Donghae lalu memberinya pada Hyunni yang masih cemberut karena dipaksa di kencan buta.

 

“Oh, bukankah ini gelang yang sama dengan yang pertama kali?” tanya Hyunni melihat gelang yang modelnya cukup familiar.

 

“Karena gelang yang dulu kauhilangkan, jadi aku membuatkan yang baru untukmu. Maaf karena membutuh waktu yang lama. Aku baru membuatnya saat mendapatkan waktu luang beberapa minggu yang lalu.”

 

Donghae memang pernah membuatkan gelang untuk Hyunni dan Sana. Namun, Hyunni malah menghilangkan di jalan saat ia dan Sana pergi jalan-jalan bersama. Gelang yang terbuat dari kain dengan hiasan beberapa bentuk miniatur berbeda-beda yang di kaitkan dengan besi itu, cukup memakan waktu untuk membuatnya dengan sempurna. Sehingga Donghae baru memiliki waktu menyelesaikannya.

 

“Wah, kau membuatkan untuk lagi? Terima kasih, oppa!”

 

“Kalau begitu pakailah di kencan buta pertamamu. Jika pria itu bertanya ini gelang dari siapa, bilang saja itu hadiah dari mantan kekasihmu. Katakan bahwa kau belum bisa melupakannya jadi kau terus memakainya,” kata Donghae sambil mengedipkan matanya sebelah kepada Hyunni, menggoda gadis itu.

 

Melihat itu, Sana pun memukul gemas lengan Donghae. “Oppa, jangan mengajarinya untuk merusak kencannya sendiri. Apa kau tidak  kasihan melihat eonni tidak  pernah berpacaran seumur hidupnya? Bagaimana jika eonni sampai tidak menikah?”

 

“Kalau begitu aku yang akan menikahinya,” balas Donghae santai sambil kembali mengedipkan sebelah matanya pada Hyunni dan menjulurkan lidahnya mengejek Sana, membuat Sana semakin gemas dengan tingkah kakak sepupunya itu.

 

“Sudahlah, aku akan mencoba yang terbaik dalam kencan pertamaku ini. Oh, iya! Oppa, apa benar tidak  apa-apa jika aku ijin di kafe untuk sore ini? Jika tidak  boleh, aku tidak akan pergi.”

 

“Eonni! Sudahlah, pergi sana. Kita masih punya beberapa anak remaja yang magang. Mereka bisa menggantikan tempatmu selama kau pergi. Cepatlah pergi! Kencannya jam empat,” kata Sana yang juga gemas melihat tingkah Hyunni yang mencoba mencari jalan keluar agar tidak  ikut dalam kencan butanya.

 

Hyunni kemudian mengalihkan pandangan ke jam dinding yang ada di dinding dekat meja kasir itu. Matanya membulat saat ia melihat jam dinding itu menunjukkan hampir pukul empat kurang sepuluh menit. Sedangkan tempat yang mereka janjikan membutuhkan waktu setidaknya dua puluh menit paling sedikitnya untuk sampai di sana.

 

“Yak! Ini sudah mau jam empat!” pekik Hyunni dengan mata yang melotot ke arah jam dinding yang terus bergerak maju jarumnya.

 

Tanpa banyak bicara lagi, Hyunni segera meraih tas tangannya yang sejak tadi ia letakkan begitu saja di atas meja kasir. Bahkan Hyunni sudah berlari keluar sambil membenarkan letak kakinya dalam sepatunya. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terlambat begitu lama di kencan buta pertamanya

 

Sana bersorak memberi semangat pada Hyunni. Gadis itu terlihat begitu antusias. Bahkan Sana sudah tidak sabar menunggu Hyunni pulang dan menceritakan jalannya kencan pertama itu. Ia hanya berharap bahwa Hyunni tidak akan gugup selama kencan itu nantinya.

 

“Semoga kencanmu berjalan tidak lancar, Hyunni-ya!” Itulah seruan seorang Lee Donghae saat Hyunni akhirnya mencapai pintu keluar kafe. Hyunni pun sudah tidak memperdulikan suara lainnya. Ia segera berlari ke halte bus terdekat yang menuju ke restoran tempat di mana kencan butanya telah diatur.

 

Tepat setelah ia sampai di halte bus, ternyata di sana sudah ada bus yang berhenti dan sedang memuat penumpangnya. Dengan cepat, Hyunni juga ikut bergerak masuk ke dalam bus itu dan duduk di salah satu kursi. Ia juga segera mengambil oksigennya kembali setelah berlari karena mengejar bus. Ia tidak bisa membayang jika ia ketinggalan bus itu, kencan buta pertamanya benar-benar akan hancur tanpa ia mulai.

 

Beberapa menit duduk diam sambil memandang keluar dan menatap jamnya secara bergantian, perlahan bus itu melambat hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah halte bus lainnya. Para penumpang satu persatu mulai turun dari dalam sana.

 

Hyunni sendiri menyempat dirinya menatap jam tangannya lagi untuk melihat tinggal berapa waktu yang tersisa. Dahinya semakin berkerut cemas saat ia melihat bahwa ia sudah terlambat lebih dari sepuluh menit dari jam yang ditentukan. Mau tidak  mau, hal itu membuat Hyunni kembali berlari turun setelah ia membayar sang supir.

 

“Sial, bagaimana ini?” Hyunni sedikit mengumpat saat turun dari bus itu. Ia tidak  menyangka ternyata kencan buta ternyata serumit ini. Ia hanya berharap bahwa teman kencannya tetap bersabar menunggunya.

 

Semua ini salah Sana yang mengepang rambung dengan sangat teliti dan hati-hati, sehingga membuat dirinya terlambat. Hyunni bahkan sempat gemas saat Sana kembali mengurai kepang yang sudah mau selesai, jika Sana melihat sedikit saja kekurangan dari penataan rambutnya itu. Dan gadis itu akan mengulang kepangannya hingga benar-benar terlihat sempurna.

 

Hyunni pun kembali berlari pelan setelah ia benar-benar sudah turun dari dalam bus. Ia cukup takut menabrak orang lain yang sedang berlalu-lalang di jalan itu. Hyunni juga tidak berlari dengan cepat karena restoran itu sudah cukup dekat. Namun, betapa sialnya Hyunni saat ia melewati sebuah restoran cepat saji.

 

Tepat saat ia melewati restoran cepat saji yang ada di pinggir jalan itu, seseorang yang tengah memegang secangkir kopi yang masih penuh juga keluar dari dalam sana. Membuat tabrakan tubuh itu tidak terelakkan lagi.

 

Omo!” Hyunni memekik kaget saat isi dari cangkir kopi itu langsung menyembur keluar dan tertumpah dengan sempurna ke gaun Hyunni. Membuat perpaduan warna yang mencolok antara kain krem terang dan kopi hitam di tubuh Hyunni.

 

Kencan pertamanya benar-benar hancur. Hyunni terlambat dan sekarang pakaiannya penuh dengan kopi. Ia tidak  mungkin muncul dengan keadaan seperti itu di kencan buta pertamanya. Apalagi ia sudah berjanji pada dirinya akan melakukan yang terbaik untuk mencoba kencan pertamanya.

 

Hyunni menghela napas pasrah. Rasanya semua apa yang ia lakukan tidak pernah berjalan lancar. Tidak aneh jika ia masih lajang hingga sekarang.

 

“Kau tidak apa-apa?”

 

Suara yang terdengar khawatir itu membuat pandangan Hyunni yang awalnya menunduk menatap prihatin gaunnya, perlahan mengangkat kepalanya. Awalnya tatapannya terpaku pada sepasang kaki panjang yang berdiri di depannya, sebelum pandangannya perlahan naik. Hingga kemudian, Hyunni melihat dengan jelas wajah pria yang sudah ia tabrak.

 

“Maafkan aku, gara-gara kopiku gaunmu…” Pria itu tampak tidak  bisa melanjutkan kalimatnya sendiri karena rasa bersalahnya.

 

Hyunni semakin terdiam. Dia yang menabrak pria itu, tetapi yang meminta maaf juga malah pria itu. Seketika ia merasa seperti gadis yang tidak punya sopan santun.

 

“Ah, tidak!  Ini salahku yang berlari dan tidak melihat jalan sehingga kopimu tumpah. Maafkan aku,” sela Hyunni sambil membungkuk meminta maaf beberapa kali. Ia bahkan sudah tidak perduli dengan gaunnya yang basah karena tumpahan kopi.

 

“Apa benar kau tidak  apa-apa?” tanya pria itu lagi tidak  yakin dengan perkataan Hyunni.

 

“Iya, aku tidak  apa-apa. Kalau begitu aku pergi,” sahut Hyunni dengan cepat karena gugupnya. Ia bahkan kembali menunduk sekali dengan canggung sebelum berlalu dari hadapan pria itu. Hingga akhirnya Hyunni menghilang di pembelokan jalan yang ada di depannya.

 

Pria itu hanya menatap kepergian Hyunni hingga menghilang di pembelokan jalan. Ia menatap cangkir kopinya yang sudah hampir benar-benar kosong, sebelum akhirnya matanya terfokus pada pada sesuatu yang tampak tergeletak di depannya. Ia perlahan berjonngkok dan mengambilnya. Ia menatapnya sebentar dengan seksama sebelum kembali menatap jalan yang di lewati Hyunni. Ia kemudin terkekeh kecil sebelum akhirnya menyimpan.

 

Sedangkan Hyunni, gadis itu sebenarnya tidak  benar-benar pergi. Ia sebenarnya hanya bersembunyi. Gadis itu sedang bersembunyi di balik bangunan salah satu gedung karena ia mencoba menetralkan degup jantungnya.

 

Ia memegang dadanya sembari bersandar di balik dinding bangunan itu. Semuanya terasa begitu cepat dan tiba-tiba sehingga Hyunni tidak  bisa memikirkan jalan lain selain kabur dari pria itu. Pria yang sama dengan pria yang membuat jantungnya berdebar hanya dengan melihat wajahnya saja. Hyunni cukup yakin, bukan hanya dirinya yang merasakan efek seperti ini jika melihat pria itu. Ia yakin hampir sebagian besar gadis lain mungkin akan merasakan hal yang sama.

 

Ada rasa mendebarkan karena gugup sekaligus bahagia saat bertemu pria itu lagi. Siapa sangka mereka akan kembali bertemu? Hyunni pikir pertemuan mereka di kafe kemarin adalah yang pertama sekaligus terakhir kalinya karena ia cukup yakin pria itu tipe pria yang cukup sibuk. Namun sepertinya takdir berkata lain. Mereka malah kembali bertemu.

 

***

 

Sore hari sudah berganti malam. Hyunni tidak punya pilihan lain selain pulang ke rumahnya dan melupakan tentang kencan butanya yang sejak awal itu sudah hancur. Ia tidak mungkin muncul dengan gaun penuh kopi dan ia juga tidak mungkin pulang terlebih dahulu untuk mengganti gaunnya.

 

Seharusnya ia sedih karena kesempatannya untuk bertemu dengan seorang pria yang mungkin jodohnya menjadi gagal. Namun, yang sekarang dirasakannya hanyalah perasaan mendebarkan dari sisa pertemuan tadi sore itu. Rasanya begitu mendebarkan hingga membuat dadanya bergemuruh.  Bahkan sebelum mata Hyunni tertutup untuk tidur di malam harinya, ia masih sempat memikirkan pria itu. Bahkan ia juga membayangkan wajah pria itu, berharap bahwa pria itu akan mampir di mimpinya malam ini.

 

Paginya pun ia bangun dengan wajah yang cukup berseri. Bayang-bayang dari pertemuannya dengan pria itu, cukup membuatnya bersemangat menjalani hari-harinya. Hanya dengan membayangkan wajah pria itu, cukup membuat energinya terisi cukup untuk melewati hari ini.

 

Setelah ia mandi dan memakai baju kasualnya. Hyunni segera berjalan keluar rumah. Hyunni kemudian mengambil sepedanya yang berada di samping rumah kecilnya. Hyunni hendak menaikinya sesaat sebelum ia melihat sebuah kertas catatan kecil yang tertempel di tempat duduknya, menghentikan pergerakannya.

 

‘Apa kau sudah menikmati harimu?­’

 

Alih-alih penasaran, Hyunni malah bergidik ngeri dengan isi kertas itu. Baginya, setiap kata-kata di dalam kertas itu adalah sebuah ancaman. Entah kenapa ia merasa dengan sangat yakin bahwa seseorang menulisnya dengan bibir yang tersenyum mengerikan. Ia merasakan bahwa isi sebenarnya dari kalimat itu adalah sebuah pesan ancaman yang dingin sekaligus mengerikan.

 

Hyunni sudah menerima pesan-pesan itu hampir beberapa bulan belakangan. Entah apa salahnya, ia sendiri merasa tidak pernah memiliki persoalan dengan orang lain. Hyunni bukanlah tipe orang suka membuat pertikaian. Ia gadis yang ramah dan sedikit polos. Namun, entah kenapa ia merasa pesan-pesan di dalam sana berisikan kebencian. Di sepeda, di kursi teras, di pintu rumah, hingga di meja pelanggan kafe, kertas itu sering muncul dengan tiba-tiba. Meneror seperti hantu.

 

Dengan sedikit takut, Hyunni meremas pesan itu dan membuangnya. Hyunni menatap sekelilingnya memastikan bahwa ia sedangnya sendiri dan dalam keadaaan aman. Ia akhirnya segera menaiki sepedanya, pergi menuju kafe secepat mungkin.

 

Suara bel pintu yang berbunyi karena kedatangan Hyunni cukup menarik perhatian para karyawan yang bersiap untuk membuka kafe. Melihat kedatangan Hyunni, Donghae yang baru saja memakai apronnya pun melambai menyapa Hyunni. Begitu juga dengan pegawai lainnya.

 

“Kau sudah datang,” sahut Donghae.

 

“Iya, tapi di mana Sana? Apa dia sudah berangkat kuliah?”

 

Donghae mengangguk. Matanya kemudian menatap Hyunni jenaka. “Sepertinya kencan butamu kemarin gagal, yah?”

 

“Oppa, bagaimana bisa kau tahu?”

 

Donghae menunjukkan wajah Hyunni dengan gemas. “Terlihat jelas dari wajahmu yang tampak tidak  bersemangat. Jadi aku menyimpul kalau kau pasti kacewa dengan wajah pria itu atau kau kecewa karena kau tidak terlalu suka dengan perilakunya.”

 

Hyunni hanya menghela napas panjang dengan begitu lelahnya saat mendengar perkataan Donghae itu. Ia bahkan langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja kasir itu, mempertemukan dahinya dan permukaan meja. Hyunni ingin terkikik geli mendengar tebakan Donghae yang sok tahu, tetapi sayangnya ia terlalu malas.

 

“Malah sepertinya aku yang membuat orang itu kecewa. Aku bahkan tidak datang ke kencan buta itu.”

 

“Benarkah?!” Donghae terdengar takjub. Pria itu bahkan tertawa puas. “Sepertinya Sana akan menangis jika mendengarnya.”

 

Perkataan Donghae pun menjadi kenyataan. Tepat setelah tiga puluh menit jam makan siang dimulai, suara melengking Sana terdengar merengek saat memasuki kafe itu. Bahkan gadis itu sudah menghentakkan kaki-kakinya, menandakan bahwa gadis itu sedang kesal.

 

“Eonni!”

 

Hyunni menyengir. “Sepertinya kau sudah mendengarnya.”

 

“Eonni! Kenapa kau tidak datang di kencan butanya?! Temanku bilang, oppanya menunggu hingga dua jam tapi kau tidak  datang-datang! Kau sudah berjanji akan datang! Kenapa kau malah kabur?!” rengek Sana dengan menggemaskannya, membuat Hyunni malah tertawa gemas melihat tingkah sana.

 

“Maafkan aku,” kata Hyunni dengan lembut berusaha membuat rengekan itu berhenti.

 

“Eonni!”

 

“Maafkan aku, kemarin ada kecelakaan kecil sehingga aku memutuskan untuk tidak  datang.”

 

Rengekan Sana seketika berhenti, digantikan tatapan wajahnya cemas. Mata bulat Sana bahkan semakin membulat saat mendengar penjelasan singkat Hyunni. Sana pun segera duduk di samping Hyunni di balik meja kasir itu.

 

“Eo—eonni, kau kecelakaan?! Kecelakaan apa?! Apa kau terluka?! Eonni, katakan padaku!” Rengekan Sana kembali bersamaan dengan Sana yang memeriksa seluruh tubuh Hyunni. Rengekan kali ini bukan rengekan kesal lagi, melainkan rengekan khawatir yang berlebihan.

 

“Sana-ya, aku tidak  apa-apa. Bukan kecelakaan semacam itu yang aku maksud,” sahut Hyunni sambil memegang kedua tangan Sana. “Kemarin saat akan pergi ke restorannya, aku tidak  sengaja menabrak seseorang yang memegang secangkir kopi. Kau tahu? Kopinya tumpah ke seluruh badanku, bahkan kopinya masih terasa cukup panas. Jadi aku tidak  punya pilihan lain selain pulang. Aku tidak  mungkin muncul di depan pria itu dengan keadaan seperti itu, bukan? Jadi aku langsung pulang saja.”

 

“Eonni, kau benar-benar ceroboh! Bagaimana bisa kau menabrak seseorang? Seharusnya kau lebih berhati-hati. Sayang sekali, kencan pertamamu malah sehancur ini,” kata Sana memelas sedih.

 

“Hei, aku benar tidak  apa-apa. Aku sudah bilang sebelumnya kau aku tidak  terlalu mengharapkan kencan buta itu, bukan?”

 

“Lalu bagaimana dengan pria itu? Pria yang sudah kau tabrak?”

 

“Dia—”

 

“Permisi, Shin Hyunni ssi?”

 

Pembicaraan antara Hyunni dan Sana terpaksa terhenti saat seseorang datang ke meja kasir, memotong pembicaraan mereka. Sana dan Hyunni pun mengalihkan pandangan mereka. Mereka menatap pria itu bersama dan terdiam bersamaan.

 

Pria yang sekarang ada di depannya adalah pria yang sama dengan pria yang datang ke kafe mereka kemarin. Pria dengan senyuman mematikan sekaligus mempesona. Serta pria yang membuat Sana meminta nama pria itu untuk Hyunni.

 

“Cho Kyuhyun,” gumam keduanya secara bersamaan.

 

Pria yang disebutkan namanya itu hanya menatap Sana dan Hyunni bergantian, sebelum tatapannya berhenti pada Hyunni. Kemudian pria menyinggung senyumannya. Senyuman yang masih terlihat sama mempesonanya dengan senyuman yang kemarin, sangat tampan.

 

To be continue…

 

***

 

Hai semua, terima kasih sudah mau membaca part pertama cerita ini. Hehehe…. semoga kalian tetap berkenan terus membaca cerita ini hingga akhir^^

 

Oh iya, aku ingin menjelaskan beberapa hal yang berada di cerita. Pertama yaitu tentang ‘Daepyo’. Kenapa diriku memakai gelar panggilan direktur/CEO ‘Daepyo’ bukannya ‘sajang’? Aku sudah berselancar di internet dan menemukan arti ‘Daepyo’ sebenarnya dan apa hubungan dengan ‘sajang’.

 

‘Daepyo’ sendiri digunakan untuk memanggil seorang pengusaha yang memiliki perusahaannya sendiri. Inti pengertiannya sama dengan ‘sajang’. Hanya saja, ‘Daepyo’ adalah panggilan khusus untuk direktur/CEO yang sudah sukses diusia muda alias masih muda (kalau ngak salah 35 tahun ke bawah atau belum nikah). Sedangkan ‘sajang’ dipakai pada direktur/CEO yang lanjut usia atau sudah menikag. Namun tergantung dari perusahaannya juga sih, ada yang lebih suka memakai ‘Daepyo’ ada juga yang lebih suka memakai ‘sajang’.  Dan aku memutuskan mengikuti pengertian aslinya.

 

Dan ‘Biseo’? Itu artinya sekretaris yah^^ Dan ‘Yak’ itu adalah seruan yang berupa ‘Hei.”

 

Oke sampai sini penjelasanku. Sampai jumpa di part selanjutnya. Kurang lebihnya mohon maafkan. Love love!

249 thoughts on “Uncontrollably Crush Part 1

  1. Dijalan crita awal kenapa kyuhyun brada di tmapt kecelakaan y? Dan kenapa saat dimenginjak sesuatu dia mengambil brang trsbut dan itu blm diketahui

    Suka

  2. Hai…aku pembaca baru. Tahu alamat ini sbnrnya dr wattpad. Msh sedikit bingung dgn penggunaan wordpress. Maklum..angkatan tua hahahaha. Pas baca ini aku merasa nostalgia. Jaman remaja dulu sempat suka banget ma dedek Kyu (well..sampai skrg juga msh walau udh ga fanatik2 amat). Dulu mah smp kafe nya yg di Seoul aku datangin dan kenalan sama emaknya dedek Kyu hahahhaha. Karena ini msh part 1 aku msh meraba raba mau dibawa kemana ini plot cerita…jadi salam kenal dulu aja ya buat mbak penulisnya 😍

    Suka

  3. 안녕하세요
    aku lihat postingan Uncontrollably crush part 5..
    jadi aku baca dari part 1 .. aku suka banget castnya cho kyuhyun ..
    izin baca ya author…
    keep write

    Disukai oleh 1 orang

  4. Wktu lhat nma author : Shan Shine lngsung dah bca epepnya soalnya kakak trmasuk author favorit hehehe, ku kira bkalan bawa epep genre fantasy trnyata gak.. bca epep author kyak lgi lhat drama korea bkin snyum2 trus ,, izin bca next chapternya auhtorr 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  5. cerita nya keren kak
    ada teka teki yang bikin penasaran di awal cerita
    mungkin kah kecelakaan itu ada hubunngan nya antara kyuhyun dan hyuni … kaya nya kyu itu udah kenal sama hyuni terus yang ngancam hyuni juga kyuhyun haaha sok tahu banget ini 😅😅😅

    Disukai oleh 1 orang

  6. Halooo eonni, kmrn aku udah baca ff nya pagi pagi jam 2 an dan sekarang baru coment nyaaa hehehe.
    Alur nya menarik dan mudah bgt di bayangin, cerita nya juga ga ngebosenin. Terbaik dehhhh pokoknyaaaa.
    Hyunni itu mewakili yeoja muda bgt, yg kalo ketemu oppa oppa ganteng, langsung deh bawaannya kek gitu. Daebakkkkkk

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s