Sun Flower Part 11


cover-part-11

 

Title : SUN Flower part 11 (Blue Devil, Blue Phoenix)

Author : DEVITA

Gendre : Colosal, Angst, Romance, Drama, Thrailer, NC

Ranting : 17+

Cast :

  • Kim Taehyung
  • Choi Min Gi
  • Park Jong Soo
  • Han Ahn Rin
  • Kim Seokjin
  • Park Ji Soo
  • BTS member & Super Junior Member & SNSD

Author Note :

Stuck stuck stuck!!! Otak author udah tinggal dua watt buat nulis ini ceritanya jadi makin abstud. Huh kalo kayak gini tuj bawaanya pengen hiatus buat cuci otak karena author udah terlalu stres kuliah jadi berdampak ke ff juga kekeke. Tapi kalo di pikir author kan udah janji buat nyelesaiin ini ff dan lagi lagi nggak mau jadi author PHP jadi yah seadanya isi otak author lah yah di tulis aja disini kekekeke (Author macam apa ini?!!)

 

 

SUN Flower part 11

 (Blue Devil, Blue Phoenix)

 

“Jangan menikah denganya….” suara Seok Jin seperti tertekan di tenggorokan. “Lelaki itu tidak pantas untuk dinikahi.”

 

Matanya tetap menatap Seok Jin beberapa saat tanpa berkedip sebelm mengalihkan tatapanya ke bawah. “Kenapa?” Ahn Rin bergumam pelan. “Kenapa baru sekarang kau bilang seperti itu Jin?” lalu mendongak menatap Seok Jin kembali. “Tidak ada yang bisa mencegah pernikahan ini, semuanya sudah terlajur.”

 

“Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan keparat itu, dia menikahimu bukan karena dia menyukaimu Shin Ahn Rin. Dia menikahimu hanya karena tahta dan keserakahanya!”

 

“Lalu jika dia seperti itu kau mau apa?!” suara Ahn Rin meninggi sesuatu yang menjengkelkan seperti menggumpal di dadanya dan membuatnya sulit bernafas. “Kau melarangku menikah denganya memang kau siapa? Kau memintaku untuk tidak menikahinya karena dia lelaki berengsek sementara kau berprilaku sebagai lelaki pengecut!”

 

“Shin Ahn Rin!” suara Seok Jin menggelegar di ruangan itu lelaki itu bahkan meninju tembok di belakangnya mata Seok Jin benar-benar seperti ingin menelan Ahn Rin bulat-bulat saat itu juga membuat pertahanan gadis itu luntur.

 

Ahn Rin berusaha untuk tidak terpengaruh dengan kemarahan Seok Jin tapi teriakan Seok Jin yang tadi benar-benar membuatnya ketakutan. Tubuhnya bergetar matanya memerah dan berair mungkin dalam hitungan detik gadis itu akan menangis jika Seok Jin terus menatapnya seperti itu.

 

“Lepaskan aku…” kata Ahn Rin dengan suara yang sudah benar-benar serak. “Aku fikir kau tidak pernah perduli padaku Jin, dan selamanya akan begitu. Lalu kenapa sekarang kau marah padaku karena aku menikahi Tae Hyung? Bukankah tadinya juga kau senang?”

 

“Ya sebelum aku tau sifat aslinya…” matanya masih menatap Ahn Rin tajam membuat gadis itu mengalihkan padangannya ke samping.

 

“Jadi jika dia lelaki baik kau juga senang? Sebenarnya apa yang kau inginkan?” air mata Ahn Rin sudah tidak bisa di tahan lagi, beberapa tetes terjun begitu saja melewati pipinya.

 

Melihat air mata Ahn Rin membuat jantung Seok Jin menyempit, rasanya seperti di serang sesuatu. Sesuatu yang menjengkelkan, ia merasa bersalah sekarang Seok Jin menutup matanya sejenak sebelum mundur menjauh dari Ahn Rin.

 

“Bisa kah kau tidak terus membahas tentang hal itu?!” kata Seok Ji setelah membuka matanya kembali.

 

“Lalu apa yang ingin kau bicaraka sekarang? Kau tidak ingin aku menikah dengan Tae Hyung, apa kau bisa mencarikan lelaki baik untuk ku Kim Seok Jin? Atau kau mungkin ingin berbicara tetang lukisan baru mu sekarang? Kau selalu ingin aku mendengarkanmu tapi pernahkah sekali kau mendengarkan aku?” air mata Ahn Rin semakin deras gadis itu berdiri memandang wajah frustasi Seok Jin dengan matanya yang merah. Tubuhnya tegak kembali setelah Seok Jin melepaskanya namun ia tidak yakin ia bisa berdiri dengan benar mengingat saat ini ia bahkan tidak bisa bernafas dengan benar.

 

Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi lalu kembali menghadap gadis di hadapanya matanya begitu gelap dan penuh dengan kemarahan. “ Kau ingin aku mendengarkanmu?!” menatap tajam Ahn Rin, gadis itu sulit sekali untuk diberi tau. “Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?”

 

“Aku mencintaimu.” Satu kalimat yang terdiri dari dua kata itu membekukan Seok Jin menjadi batu. Mata tajamnya berubah menjadi tatapan tidak percaya, lelaki itu begitu terkejut dengan jawaban Ahn Rin. Bukan masalah ia tidak tau perasaan Ahn Rin kepadanya atau sejenisnya tapi yang membuatnya terkejut adalah ia tidak pernah berfikir kalau Ahn Rin akan seberani ini dengan gamblang mengucapkanya langsung di depan wajah Seok Jin.

 

“Lihat tidak sulit untuk mengatakanya Jin, sekali saja mengucapkanya aku tidak akan pernah berakhir di tangan Tae Hyung.” Katanya sambil mengusap air mata di pipinya sendiri, lalu kembali menatap Seok Jin. “Katakan sekali saja, sekali saja dan aku tidak akan penah menikah dengan Tae Hyung. Jangan berfikir apa yang terjadi nanti, apa yang akan kita lakukan setelah ini, sekali saja katakan apa yang kau inginkan. Aku ingin mendengar apa yang kau inginkan bukan apa yang seharusnya kau lakukan!”

 

Ruangan itu begitu sunyi setelah ucapan Ahn Rin selesai. Gadis itu menunggu Seok Jin sedangkan Seok Jin merasa otaknya seperti remas oleh sebuah tangan yang cukup kuat hingga membuatnya pecah. Cintanya tidak pernah sesederhana itu untuk Ahn Rin, ia bisa mengatakanya sekarang tapi setelah itu apa? Kenyataan kasta Ahn Rin jauh lebih tinggi darinya. Seok Jin hampir yakin jika orang tua Ahn Rin tidak akan menyetujui ini, dan jika mereka tau bukan hanya Ahn Rin dan dirinya sendiri. Tapi kakaknya Kim Youn Sun  dan juga ayahnya, semuanya akan terkena imbasnya.

 

Bukan tidak mungkin jika ayahnya nanti diberhentikan paksa bersama dengan kakaknya yang tidak akan pernah mendapat tempat di pemerintahan. Dan lagi jika berita itu sampai beredar luas nama baik bangsawan Kim di mata kerajaan akan benar-benar hancur. Gadis ini tidak tau, dan tidak akan pernah tau dan itu selalu berhasil memecahkan kepala Seok Jin.

 

“Hanya bagimu Tuan Putri, tidak untukku dan kau tidak akan mengerti.” Jawab Seok Jin akhirnya.

 

“Benar aku tidak akan pernah mengerti jika kau tidak memberi aku alasanya.”

 

Lalu keduanya terdiam lagi beberapa saat sampai Ahn Rin benar-benar jenuh, gadis itu mengalihkan wajahnya kesamping sambil mendengus. “Aku tidak tau mana yang lebih menarik? Menikah dengan seorang berengsek atau bersama seorang pengecut?” kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.

 

Ahn Rin terus berjalan memasuki lorong kemudian bertanya pada seorang pelayan dimana Tae Hyung? Pelayan itu menuntunya ke kamar yang disediakan kerajaan untuk Tae Hung. Tidak jauh dari istananya dan aula istana, ketika Ahn Rin membuka pintu begitu saja tanpa menunggu pengawal pintu mengumumkan kedatanganya atau menunggu ijin dari Tae Hyung gedis itu langsung menggeser pintu seperti mengeser baja mambuat beberapa tabib yang berada disana bersama dengan Tae Hyung terperanjat.

 

“Tuan Putri…” keluh para dayang sambil memegangi dadanya karena saking kerasnya Ahn Rin menggeser pintu.

 

Gadis itu tidak memperdulikan para dayang bahkan tabib di kamar itu. Kakinya langsung mengarah dimana Tae Hyung menatapnya dengan tatapan ala orang yang otaknya berada sebaruh di kepala dan separuh di lututnya. Tae Hyung mendongak sambil matanya berkedip beberapa kali menatap Ahn Rin bingung dan itu semakin membuat amarah Ahn Rin sudah tembus dan menguap di telinganya yang pastinya sudah berubah warna menjadi merah.

 

Tanpa aba-aba gadis itu menendang lutut Tae Hyung membuat Tae Hyung mengaduh kesakitan karena gadis itu menendangnya tepat di lutut yang di tendang Seok Jin tadi. Sementara para tabib dan pelayan hampir menjatuhkan bibir mereka dan sebagian ada yang hampir menggelindingkan mata mereka.

 

“Yang Mulia Pangeran!” seorang tabib tua langsung menyetuh lutut Tae Hyung. “Tuan Putri Anda tidak seharusnya berbuat seperti itu.”

 

“Keluar!” bukannya jawaban bersalah yang diberikan Ahn Rin gadis itu malah mengusirnya keluar.

 

“Tapi Tuan Putri…”

 

“Aku bilang keluar! Kalian semua keluar!” nada Ahn Rin menjadi dua kali lipat lebih tinggi membuat seluruh pelayan dan tabib disana merunduk takut lalu perlahan mereka keluar dari kamar Tae Hyung.

 

Tae Hyung hanya menghela nafas kasar sambil menatap kemarahan Ahn Rin. “Apa lagi sekarang? Kau bertengkar dengan Seok Jin huh?”

 

“Apakah itu masih perlu di jawab?” mengalihkan kembali wajahnya menatap Tae Hyung. “Apa yang kau katakan padanya?”

 

“Aku hanya bilang penilaianku tentangnya, hanya itu.” jawab Tae Hyung begitu santai sambil menaikan bahunya.

 

“Aku sungguh-sungguh Kim Tae Hyung!”

 

“Aku juga…” Tae Hyng mengangkat kaki kirinya yang di tendang Seok Jin dan Ahn Rin, lihatlah bahkan mereka berdua melukai Tae Hyung di tempat yang sama. Serasi sekali bukan? Tae Hyung meluruskan kakinya terasa sangat ngilu itu.

 

Ahn Rin menghela nafanya kasar, teman barunya ini benar-benar menarik ususnya sepanjang yang dia bisa. Gadis itu kemudian duduk di samping Tae Hyung menatap lebam di lutut lelaki itu.

 

“Apakah sangat sakit?”

 

“Jika kau tau kenapa kau mendangnya tadi gadis bodoh?!”

 

“Karena aku kesal padamu!” Jawab Ahn Rin tidak mau kalah.

 

“Kau tidak kesal padaku kau kesal pada Seok Jin, dan aku juga kesal padanya!” Wajah Tae Hyung merengut lucu membuat Ahn Rin menaikan sebelah alisnya menatap Tae Hyung. Pangeran yang benar-benar aneh dan pengidap biopolar akut sepetinya, dimana tatapan tajamnya saat di arena tadi? dengan seringaian iblisnya? Dan ucapan tajam yang mengancam?

 

“Tae-ah?”

 

“Hmm?” lelaki itu hanya berdehem sambil memijat lututnya sendiri.

 

“Apa yang Jin katakan padamu?”

 

“Tidak penting, tidak ada yang mempengaruhiku kecuali…” Tae Hyung berhenti sejenak kemudian berfikir. “Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan.”

 

“Sesuatu seperti apa?”

 

Tae Hyung menoleh menatap Ahn Rin dengan tatapan bosanya. “Aku bukan cenayang, jadi maaf aku tidak tau, tapi tenang saja aku sudah berbicara pada ayahnya, jadi aku yakin kita akan segera mengetahunya nanti.”

 

Ahn Rin menatap Tae Hyung beberapa saat kemudian memidah posisi duduknya di samping kaki Tae Hyung sambil menghela nafas pelan. “Biar aku lihat!” kata wanita itu ketus menyingkirkan tangan lelaki itu dari lutunya sendiri.

 

“Aku rasa Seok Jin juga menyukaimu, hanya saja terlalu banyak yang dia fikirkan.” Ucapan Tae Hyung menghentikan tangan Ahn Rin memijat kaki lelaki itu, gadis itu terdiam sejenak lalu kembali melanjutkan kinerja tangannya.

 

“Dia tidak pernah berbicara tentang apa yang dia inginkan dan apa yang mengganggunya, dia hanya berbicara tentang apa yang harus dia lakukan. seperti boneka di wayang golek, jika ayahnya atau ayahku bilang seperti ini atau seperti itu maka dia tidak pernah bertanya lagi. Ya seperti boneka yang tiak bisa berfikir, merasakan bahkan bernyawa…”

 

Kepala Ahn Ri merunduk menatap lutut Tae Hyung matanya mulai terasa panas lagi mengingat pertengkaranya dengan Seok Jin tadi. Ia hanya ingin mendengar pengakuan Seok Jin sekali saja, ia ingin mendengar pengakuan Seok Jin bahwa lelaki itu juga menginginkanya sama seperti ia menginginkan Seok Jin. Membuatnya percaya bahwa semuanya akan berhasil, lelaki itu hanya perlu mengakuinya dan disana ada Ahn Rin, Tae Hyung dan Ayahnya sendiri yang akan membantunya kenapa selalu menjadi sok kuat seolah dia bisa menanggungnya sendiri tanpa memikirkan orang lain lagi? Lelaki itu bukan hanya pengecut tapi juga egois.

 

“Ahn Rin-ya…” suara bariton Tae Hyung yang terdengar seperi ombak pantai tidak membuatnya menjadi lebih baik, air matanya tetap menetes.

 

“Sudah aku bilang tidak ada yang tidak bisa aku lakukan. aku yakin Seok Jin juga menyukaimu dan kau akan mendapatkanya.” Kata Tae Hyung lagi mencoba menghibur sahabat barunya yang sedang patah hati.

 

“Aku tidak tau, aku sudah tidak tau lagi bagaimana cara menghadapinya?” Kali ini Ahn Rin benar-benar menagis, ia tidak menahan air matanya lagi.

 

“Hey bukankah kau sudah berjanji untuk membantuku?” Tae Hyung mendekat pada Ahn Rin lalu menghapus air mata gadis itu. “Apa kau akan membatalkanya sekarang? Membatalkan perjanjian dan pertemanan kita?” tanya lelaki itu sambil sedikit merunduk untuk melihat wajah Ahn Rin.

 

“Tidak…” jawab gadis itu dengan nada yang sangat rendah dan serak.

 

“Kalau begitu tidak perlu khawatir…” Tae Hyung menarik tubuh Ahn Rin perlahan untuk memeluk Ahn Rin. “Aku ada disini untuk membantumu.” Lelaki itu menepuk-nepuk pelan bahu Ahn Rin sementara gadis itu tengah berusaha keras menenangkan dirinya.

 

“Yang Mulia Permaisuri Choi Min Gi tiba!” teriak seorang penjaga pintu begitu saja lalu selang sepersekian detik pintu kamar itu tebuka.

 

Ahn Rin dan Tae Hyung yang dalam posisi sulit masih sulit untuk mencerna keadaan mereka sepasang manusia itu hanya bisa membulatkan matanya ke arah pintu mendapati Min Gi tengah beridiri menatap mereka yang sedang berpelukan. Tae Hyung bisa melihat dengan jelas mata Min Gi yang melebar lalu mendingin di detik berikutnya.

 

Sialan!

 

Tae Hyung melepaskan pelukannya pada Ahn Rin ambil mengumpat dalam hati, sementara Min Gi menatapnya dingin. Seolah wanita itu tidak terpengaruh sama sekali dengan apa yang sudah ia lihat. Well jangan sebut namanya Choi Min Gi jika hanya dengan seperti ini berhasil membuka topeng dinginya itu, para aktor dan para seniman tidak pernah sebanding denganya.

 

“Aku berfikir aku harus menjengukmu karena aku lihat keadaanmu tadi cukup menghawatirkan pangeran.” Kata Min Gi dengan nada yang begitu tenang, “Tapi sepertinya aku tidak perlu khawatir, karena Tuan Putri Ahn Rin benar-benar tau bagaimana cara merawatmu.” Kemudian disambung dengan senyuman tipisnya.

 

“Yang Mulia…” Ahn Rin memuka mulutnya ingin menjelaskan bahwa ini salah paham namun Tae Hyung mencegahnya dengan menggengam tangan Ahn Rin. Percuma, Choi Min Gi tidak akan perduli apa yang dia liat benar atau salah yang wanita itu tau hanyalah Tae Hyung harus ikut aturan mainya.

 

Min Gi melirik tangan Tae Hyung yang menggengam erat tangan Ahn Rin dengan tatapan yang tenang tapi ia senyuman tipis di bibirnya Tae Hyung hampir bisa yakin wanita itu sedang terpanggang.

 

“Tidak apa-apa sayang,” mata Min Gi beralih pada Ahn Rin. “Aku senang kau memperlakukan Tae Hyung dengan baik, aku tidak salah memilihkan calon istri untuk Putraku.” Senyuman Min Gi melebar terlihat begitu cantik dan manis tapi Ahn Rin merasakan kesakitan di balik senyum itu.

 

“Terimakasih atas pujiannya Ibu Permaisuri.” Jawab Tae Hyung lalu merundukan sedikit kepalanya.

 

“Apa kau sudah merasa lebih baik Pangeran?”

 

“Ya…”

 

“Kalau begitu segera pergi ke aula istana setelah ini, bersama Putri Ahn Rin. Kita akan mulai membicarakan pernikahan kalian…” kemudian Min Gi berbalik pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka.

 

Min Gi berjalan kembali ke aula, tanganya meremas gaunya sediri di balik lengan bajunya matanya menajam dan rahangnya sedikit mengerat lurus menatap tajam ke depan. Jantungnya terasa panas, seperti darahnya tidak mengalir dengan lancar disana. Ia tau ini yang ia inginkan dan ia tau bahwa ia tidak bisa membatalkanya dan juga tidak boleh menyesal. Demi kabaikannya dan Tae Hyung demi Jung Soo, seandainya ia bisa membuang perasaanya mungkin perasaanya untuk Tae Hyung sudah menjadi abu karena ini benar-benar menyakitkan. Min Gi selalu berusaha untuk menguatkan dirinya dan berkata bahwa ini akan segera berakhir, Tae Hyung akan pergi dan kau tidak perlu bersandiwara lagi.

 

 

Lelaki itu akan bahagia, mungkin dengan berpisah dengan Tae Hyung akan membuatnya lebih bisa menerima Jung Soo. Lagi dan lagi ia harus menunjukan senyum manisnya di saat sekujur tubuhnya terasa sakit saat melihat Jung Soo, Shindong dan Yoon Joo menatapnya dari Aula istana.

 

“Bagaimana Permaisuri, apa Pangeran baik-baik saja?” Yoon Joo bertanya saat Min Gi tiba di hadapan mereka.

 

“Ya Yang Mulia, Tuan Putri merawatnya dengan baik. Mereka benar-benar manis saat bersama.” Min Gi semakin melebarkan senyumanya.

 

“Perdana Mentri ini peringatan pertama untuk Putramu, aku harap dia belajar dari kesalahanya.” Kata Sindong menatap Nam Jin dingin. Lelaki itu seketika merunduk dalam untuk yang kesekian kalinya ia meminta maaf atas nama Seok Jin.

 

“Saya akan mengingatkanya dengan keras Yang Mulia, sekali lagi saya minta maaf.”

 

“Bagus, pastikan itu.” sahut Yoon Joo tanpa menatap Nam Jin.

 

Nam Jin kembali berdiri tegak lalu berpamitan pergi, lelaki itu terlihat begitu tenang di luar tapi Min Gi bisa melihat tangan lelaki paruh baya itu yang mengepal di balik jubahnya. Nam Jin pasti sangat marah saat ini, entah itu pada Putranya atau pada hinaan Shindong dan Yoon Joo.

 

“Tae Hyung sungguh baik-baik saja Yang Mulia, Anda tidak perlu semarah itu pada Seok Jin maupun Perdana Mentri.” Min Gi kembali membuka mulutnya untuk mendinginkan suasana. Karena ia hampir yakin tidak mungkin Seok Jin yang memulai pertarungan sungguhan itu.

 

Dilihat dari wajahnya, Seok Jin adalah tipe lelaki yang kalem dan ramah, lagi pula yang membuatnya curiga tadi. Kenapa tiba-tiba Tae Hyung ingin sekali berduel dengan Seok Jin?

 

“Tetap saja Permaisuri, dia hampir membunuh Tae Hyung tadi!” sahut Yoon Joo tidak kalah.

 

Min Gi baru saja ingin membuka mulutnya membalas Yoon Joo namun suara langkah kaki mendekat membuat lawan bicaranya menoleh ke arah lorong masuk. Yoon Joo tersenyum sumringah saat melihat Tae Hyung dan Ahn Rin bergandengan berjalan ke arah mereka. Min Gi hanya diam menatap lurus ke depan ia tidak ingin memperburuk suasana hatinya.

 

“Apa kau baik-baik saja Pangeran?” Tanya Shindong “Maafkan atas ketidak nyamanan sambutan kami tadi.”

 

“Tidak apa-pa Yang Mulia, kami hanya salah paham.” Jawab Tae Hyung setelah membungkuk hormat lalu duduk di samping Jung Soo, sementara Ahn Rin duduk di samping ibunya.

 

“Baiklah kita bisa memulainya sekarang?” akhirnya Shindong membuka suaranya.

 

“Tentu saja besan…” Sahun Shindong sambil tersenyum. Sementara Ahn Rin dan Tae Hyung menatap mereka tidak mengerti.

 

“Begini sayangku, karena kami sudah sepakat mempercepat pernikahan kalian jadi kami akan mendiskusikan tanggal pernikahan kalian dan simbol kalian.” Kata Yoon Joo

 

“Aku pikir untuk tanggal kita sudah sepakat untuk mengadakanya bulat depan di hari terakir?” sahut Jung Soo.

 

“Dan utuk masalah simbol.” Kembali kepada Shindong. “Karena kalian yang akan memakainya apakah kalian ingin menggunakan simbol tertentu?”

 

Keduanya terdiam saling menatap satu sama lain, bingung? Tentu saja! Tae Hyung tidak pernah berfikir kalau dia akan menikahi Ahn Rin begitu pun juga dengan Ahn Rin. Lalu secara ajaib para orang tua ini menanyakan apa simbol yang ingin mereka pakai? Simbol seorang Putra mahkota tidak bisa di anggap remeh karena simbol itu yang juga nanti akan menjadi simbol kekuasaanya saat ia menjadi Kaisar nanti. Simbol itu jua yang akan menjadi pengaruh gelar atau sebutan pada dirinya kelak.

 

Seperti Jung Soo yang memakai simbol Naga atau mendiang ayahnya Kaisar Jung Hyung yang memakai simbol Srigala Api dan Kaisar Shindong yang memaki simbol Harimau. Sekarang Tae Hyung harus memilih Simbolnya sendiri dan jujur saja ia buntu, karena dia tidak berfikir pembicaraan ini sampai kesana.

 

“Maaf Yang Mulia, saya belum memikirkanya…” Jawab Tae Hyung sambil tersenyum.

 

“Benarkah? Sayang sekali, kalau begitu bagaimana jika kami membantumu Pangeran?” Shindong membalas senyum Tae Hyung.

 

“Dengan senang hati Yang Mulia.”

 

“Bagaimana menurutmu Ahn Rin sayang? Kau ingin menggunakan simbol apa? Atau mungkin kau berfikir sesuatu yang cocok untuk Tae Hyung?” tanya Yoon Joo pada putrinya.

 

“Belum ada ibu,” jawaban itu mambuat Yoon Joo menghela nafas.

 

“Bagaimana denga ular?” Jung Soo mengusulkan, matanya menatap Tae Hyung dengan senyuman yang mengejek. “Aku rasa itu cocok denganmu Pangeran.”

 

Apa Jung Soo coba mengatakan karena Tae Hyung sama licik dan licinya dengan ular? Oh ya terimakasih atas pujianya Tae Hyung ingin membunuhmu saking tersanjungnya. Lagi pula ular dan naga itu bukanya satu nenek moyang?

 

“Aku rasa itu kurang cocok besan, dia lelaki yang tampan dan pemberani kita harus mencarikanya yang lebih baik.” sahut Shindong.

 

 

“Bagaimana jika kau menggunakan lambang yang sama dengan mendiang ayah kandungmu Pangeran, Srigala Api?” usul Yoon Joo.

 

“Permaisuriku, jika dia menggunakanya lagi itu berarti dia tidak menghormai ayahnya.” Lagi-lagi Shindong tidak setuju, sementara Tae Hyung mengumpat dalam diam berkali-kali.

 

“Bagaimana dengan kuda? Kuda putih terbang bertanduk? Dia tampan dan gagah aku rasa ini cocok untuknya.” Usul Shindong.

 

“Bagaimana menurutmu Pangeran?” tanya Yoon Joo.

 

“Kuda Putih adalah hewan yang menakjubkan, mereka kuat dan cepat dan warna putih memang cantik.” Jawab Tae Hyung. “Tapi itu tidak cocok dengan Aura yang saya miliki Yang Mulia.” Tae Hyung pikir unicorn putih itu lebih cocok untuk Seok Jin.

 

Yoon Joo dan Shindong menghela nafas, apakah ia harus menunda memilihkan simbol untuk mereka dan membiarkan mereka berfikir? Tapi apakah waktunya cukup? Mereka hanya punya sisa waktu satu bulan untuk mempersiapkan semuanya dan mau tidak mau harus selesai. Yoon Joo melirik Min Gi yang hanya terdiam menatap lurus ke depan sejak tadi, wanita muda itu melamun?

 

“Permaisuri muda?” panggil Yoon Joo membuat Min Gi tersadar lalu menatap mereka satu persatu. “Apa kau mendengarkan percakapan kami?”

 

“Ah tentu saja Yang Mulia.” Di detik berikutnya Min Gi merasakan mata tajam Tae Hyung kembali membakarnya namun tidak menghetikan Min Gi untuk tersenyum.

 

“Kau adalah Ibunya, walaupun bukan ibu kandung aku yakin kau pasti mengenal Tae Hyung dengan sangat baik. Menurutmu, Simbol apa yang cocok untuknya?” lanjut Yoon Joo.

 

Min Gi terdiam sejenak, wanita itu terlihat sekali sedang berfikir sementara yang lain menunggu jawabanya. Kemudian menoleh ke arah Tae Hyung membuat nafas Tae Hyung berhenti beberapa saat. Sampai kapan Tae Hyung harus terus menerus mengontrol dirinya untuk tidak menyentuh Min Gi saat gadis itu menatapya dengan tatapan polos itu? Rasanya ingin sekali Tae Hyung menyeret Min Gi membawanya ke tempat yang sepi menelanjanginya dan menyetuh setiap bagian terkecil dari tubuh gadis itu sialan! Kendalikan otakmu!

 

Beberapa saat saling menatap satu sama lain, Min Gi menyadari tatapan panas Tae Hyung membuat gadis itu mengalihan tatapanya lagi ke depan. Kau fikir apa yang berada di dalam pikran Min Gi saat terlalu lama mengagumi ketampanan lelaki itu? Pasti tidak jauh dari melemparkan dirinya sendiri di bawah kaki Kim Tae Hyung.

 

Min Gi menetralkan detak jantungnya dengan menarik nafas pelan lalu menelan sivanya sendiri dengan ringan sebelum membuka suaranya.

 

“Phoenix…” jawab wanita itu pada akhirnya. Membuat semua yang berada di sana menatapnya dengan tanda tanya.

 

“Kenapa kau memilih Phoenix sayangku?” tanya Jung Soo pelan, sepertinya lelaki itu kurang suka dengan ide Min Gi.

 

“Kim Tae Hyung memiliki arti Kemegahan Matahari, sedangkan Phoenix adalah hewan penjaga Matahari simbol dari Dewa Matahari. Mereka memiliki pesona kecantikan tajam, bisa menjadi sangat indah atau sangat mengerikan. Simbol dari keabadian, kebijaksanaan.” Jawab Min Gi tanpa menatap Tae Hyung maupun Jung Soo.

 

“Itu bagus.” Sahut Shindong, “ Bagaiman menurutmu Pangeran?”

 

“Ya, sangat bagus. Saya sangat menyukainya, terimakasih Ibu Permaisuri.” Tae Hyung tersenyum setengah menyeringai, “Aku akan memakai simbol Phoenix, Phoenix biru…”

 

Mendengar itu tubuh Min Gi membeku, lalu menoleh pada Tae Hyung dengan tatapan marah yang tersembunyi. “Kenapa? Bukankah Phoenix biasanya bewarna merah atau keemasan?”

 

“Karena aku suka warna biru.” Tae Hyung tersenyum manis namun malah membuat amarah Min Gi semakin meninggi, ia tau itu bukan warna kesuakaan Tae Hyung lelaki itu adalah hijau. “Kenapa apa Ibu Permaisuri kurang suka?”

 

Warna biru adalah warna kesukaan Min Gi, Tae Hyung tau itu. Lelaki itu tengah menggodanya atau mengejeknya? “Tentu saja tidak, Pangeran.” Lagi Min Gi menunjukan senyum palsunya.

 

“Tuan Putri kau suka warna biru kan?” mata Tae Hyung beralih ke Ahn Rin membuat gadis itu menatapnya bingung namun detik berikutnya ia mengerti isyarat Tae Hyung.

 

“Uh, Ya saya menyukai warna biru.” Sebenarnya Ahn Rin lebih suka warna putih atau ungu dan apa-apaan Kim Tae Hyung? Kenapa ia jadi ikut terseret.

 

“Benarkah? Itu bagus.” Matanya masih tidak beralih pada Tae Hyung membuat lelaki itu menyeringai senang.

 

“Lagi pula Ibu Permaisuri, Api biru lebih panas dari Api merah….” Tae Hyung memiringkan sedikit kepalanya menatap Ming Gi dengan tatapan panasnya. Jung Soo yang berada di tengah-tengah mereka benar-benar merasa meradang terutama pada Tae Hyung. Tatapan menjijikan itu membuatnya ingin membunuh bocah ini sekarang juga.

 

“Aku rasa biru bagus!” Suara Jung Soo sedikit ia tinggikan membuat Min Gi tersadar lalu menatapnya beberapa saat.

 

“Baiklah,kita setuju menggunakan lambang Phoenix biru untuk kalian berdua.” Kata Shindong.

 

“Kami senang mendengarnya Yang Mulia.” Sahut Tae Hyung sambil tersenyum.

*****

 

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Nam Jin pada Putranya yang tengah sibuk memandang pohon oak lewat jendela kamarnya.

 

“Itu untuk petanyaan yang aku lakukan sekarang, atau yang aku lakukan tadi?” Matanya tetap terpaku pada pohon oak tapi kepalanya terpaku pada setiap ucapan Ahn Rin. Ia terus menerus mencoba mendingikan kepalanya dan itu berhasil walaupun tidak sepenuhnya, tapi masalah yang lebih besar bukanlah tentang pertengkaranya dengan Ahn Rin, tapi tentang Tae Hyung.

 

Seok Jin belum cukup bodoh untuk bilang pada Kaisar bahwa Pangeran yang dipilihnya adalah Pangeran Neraka. Tentu saja Kaisar hanya akan mengusirnya setelah ia mengatakan itu. Mereka pasti akan bilang Tae Hyung adalah Pangeran tertua Silla jika dia menikahin Ahn Rin memang hanya karena Tahta bukankah nergaranya sendiri lebih menjanjikan? Lagipula dari cerita yang beredar Tae Hyung menolak Tahta Silla karena dia tidak ingin menjadi Kaisar dan dijatuh cinta pada pandangan pertama pada Ahn Rin.

 

Jatuh cinta kepalamu!

 

Nam Jin terdiam menatap putranya beberapa saat sebelum mendekat ke arah Seok Jin, lelaki tua itu menghela nafas sambil duduk di samping Seok Jin. “Apa yang dia katakan padamu?”

 

Suara halus yang penuh kehangatan dan kesabaran itu membuat Seok Jin terkejut, ayahnya memang ayah yang baik tapi ada kalanya ayahnya juga menjadi keras. Saat pertama kali memasuki kamarnya dan bertanya. Nam Jin mengeluarkan suara tegas dan nada dingin jadi ia pikir ayahnya marah, lalu pertanyaan kedua terdengar seperti bumi dan bulan membuat lelaki itu menoleh dan menatap ayahnya.

 

“Apa kau mencintai Tuan Putri?” tanya Nam Jin lagi membuat kepala Seok Jin merunduk. “Aku tau aku memang jarang berbicara padamu, tapi kau adalah putraku. Aku selalu memperhatikanmu nak jangan berbohong pada ayahnmu.”

 

“Itu tidak penting ayah, yang terpenting-“ ucapan Seok Jin di potong sertamerta oleh ayahya.

 

“Kau juga penting! Kau juga Putraku, kau juga penting bagiku. Ibumu pasti menangis melihatmu seperti ini, kau hanya diam sepanjang waktu dan menyembunyikan perasaanmu sendiri.”

 

“Aku takut…” tenggorokan Seok Jin mulai terasa sakit, berapa lama ia telah menyimpan perasaan cinta dan takut ini untuk dirinya sendiri Seok Jin sudah lupa, ditambah rasa kehilangan ibunya dan seketika semuanya menjadi lebih sunyi bahkan Ahn Rin pun sekarang menjauh darinya.

 

Tidak ada yang bisa disalahkan disini kecuali dirinya sendiri, Ahn Rin bilang ia pengecut dan itu benar. Ia terus bersembunyi dari sesuatu yang membuatnya takut bahkan di dalam persembunyianya pun ia masih merasa takut. Bagaimana jika perasaanya semakin besar? Bagaimana jika ia tidak bisa menahanya dan berakir melukai ayah dan kakaknya? Bagaimana saat Ahn Rin meninggalkanya untuk menikahi lelaki lain suatu hari nanti? Apakah dia bisa? Bagaimana jika patah hatinya tidak terobati nanti? Bagaimana jika seumur hidupnya cintanya tidak pernah sempurna?

 

“Apa yang kau takutan putraku?” Nam Jin menyetuh kepala belakang Seok Jin dengan lembut lalu negusapnya pelan.

 

“Bagaimana dengan ayah dan kakak? Jika aku hanya melakukan sesuai yang inginkan bagaimana dengan kalian? Aku tau Kaisar pasti tidak menyukai hubunganku dengan Tuan Putri. Jika Kaisar tau, tidak masalah jika hanya aku yang menanggungnya, tapi kalian? Lagi pula ayah aku tidak mungkin bisa bersama Tuan Putri itu terlalu tinggi.”

 

“Dan bagaimana jika mereka menyukaimu, atau mereka tidak punya pilihan?”

 

“Mereka tidak menyukai aku.”

 

“Tapi mereka tidak punya pilihan.” Jawab Nam Jin mantap membuat kepala Seok Jin terangkat.

 

Seok Jin menatap langsung ke mata ayahnya, mencari dengan rasa ingin tau apa maksud dari peryataan itu. Apakah….?

 

“Aku tau, Apa yang ingin Pangeran Tae Hyung lakukan dan apa yang dia inginkan.” Tanpa menunggu pertanyaan yang terpancar dari mata Seok Jin menuju ke mulutnya Nam Jin menjawab pertanyaan itu. “Dia mendatangiku sebelum mendatangimu, dan kami berbicara tadi.”

 

“Apa yang dia katakan?”

 

“Dia akan membantumu…” mata Seok Jin melebar mendengar jawaban ayahnya, lelaki sialan itu ingin membantunya? Lelaki licik itu, apakah ini sebuah lelcon? Wah sepertinya Tae Hyung benar-benar ingin menghancurkan Tamna.

 

“Dan ayah mempercayai bocah sialan itu?” tanya Seok Jin tidak percaya.

 

“Ya, karena dia menunjukan bukti sekaligus jaminan padaku.” Lagi ayahnya menatapnya dengan penuh keyakinan seakan tidak ada celah kebohongan disana.

 

“Bagiamana jika dia gagal? Dan lebih buruknya bagaimana jika dia penipu?” Seok Jin menatap ayahnya setengah marah.

 

“Kalau begitu yakinkan dirimu dan temui dia.” Sahut Nam Jin “Kita tidak akan tau sebelum mencoba, ayah ingin kau berhasil, ayah ingin kau bahagia. Pikirkan dirimu!”

 

“Ayah.” Seok Jin mengalihkan wajahnya ke samping sesaat lalu menatap ayahnya kembali. “Ini bukan hanya soal aku, ini juga soal-“

 

Sebelum menyelesaikan kalimatnya ayahnya menepuk kedua pundaknya cukup keras lalu meremasnya membuat Seok Jin kembali duduk dengan tegak.

 

“Ayah ingin kau menjadi lelaki pemberani, ayah ingin kau menjadi jagoan ayah seperti yang selalu ayah ucapkan padamu saat kau kecil! Setiap ayah selalu ingin anaknya bahagia dan mendaptkan apa yang dia inginkan, kau bilang kau ingin menjadi Seperti ayah bukan? Tapi takdir menawarkan tempat yang lebih tinggi dari pada itu. dan ayah juga ingin kau menjadi lebih baik dari ayah, ayah ingin kau lebih bersinar…”

 

Kedua ayah dan anak itu saling menatap satu sama lain, baiklah sekarang tenggorkannya menjadi lebih berat dari sebelumnya.

 

“Ayah ingin kau menjadi Kaisar…”  ucap Nam Jin kemudian membuat jantung Seok Jin berdenyut kuat sekali lalu berdebar di detik berikutnya.

 

“Ayah?” Seok Jin menatap ayahnya tidak percaya.

 

“Kau mencintai Tuan Putri kan? dapatkan dia dan jadilah Kaisar.”

 

“Ayah apa yang kau pikirkan?”

 

“Apa yang ayah pikirkan? Jika kau mendapatkan Ahn Rin pasti kau akan menjadi Kaisar, karena dia adalah Putri Mahkota. Ayah ingin mendengar ‘Iya ayah, aku akan berusaha mendapatkan apa yang aku inginkan, aku akan berjuang dan aku akan bahagia!’. Ayah dan kakakmu ada di belakangmu, kami akan mendukungmu! Jangan pikirkan apa yang terjadi nanti lakukanlah sebaik mungkin dan berjuanglah sekuat yang kau bisa karena ayah tidak ingin kau menyesal nanti!”

 

Mata Nam Jin mulai memerah menginat bagaimana pendiam dan tertutupnya Seok Jin selama ini, dan apa yang putranya katakan tadi? Putranya ketakutan dan dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya melihatnya. Selama ini saat ia mencintai Ahn Rin dan ketakutan atas cintanya sendiri lalu kesepiannya, dimana dirinya sebagai ayah? Ia tidak bisa berbuat banyak karena Yoon Sun saat itu juga membutuhkan perhatian banyak karena putra sulungnya akan mewarisinya kelak.

 

Lalu tanpa sadar dia melupakan putra bungsunya, putra bungsunya yang selama ini ketakutan. Air matanya tidak bisa dibendung lagi, dua tetes air mata keluar begitu lancar dari matanya membuat Seok Jin terpaku menatap ayahnya rongga dadanya terasa menyempit saat melihat ayahnya menangis, dan itu semua karena dirinya.

 

Nam Jin memeluk putranya, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan setelah kepergian istrinya. Nam Jin pikir Seok Jin hanya butuh waktu sendiri, lalu lama kelamaan ia berfikir putranya memang memiliki sifat yang kalem dan pendiam. Namun semuanya salah, kemana dia saat putanya membutuhkan dukungan? Kemana dia saat putranya kesepian? Dan kemana dia saat putranya kebingungan?

 

“Ibumu pasti membenciku, aku tidak bisa menjagamu dan membahagiakanmu. Ibumu pasti sangat sedih melihatmu seperti ini nak. Dan ayah tidak bisa berbuat apa-apa.” Tapi Tae Hyung bisa membantu Seok Jin, Tae Hyung memiliki cukup kekuatan dan kekuasaan untuk membantu Seok Jin meraih apa yang dia inginkan, lelaki itu adalah harapan satu-satunya yang ia punya untuk Seok Jin.

 

“Ayah, aku tidak apa-apa…” Seok Jin memeluk ayahnya, “Tidak apa-apa asakan ayah dan kakak baik-baik saja, kalian sangat menyayangiku dan itulah semua yang aku inginkan.”

 

Melepaskan pelukanya pada putra bungsunya. “Ayah ingin kau bahagia, jika kau hanya berbicara dan terus berbohng bahwa kau bahagia ayah semakin merasa bersalah. Pangeran Tae Hyung berjanji akan membantumu, dia tau semua tentang dirimu dan Ahn Rin jadi ayah yakin dia tidak akan menipumu. Datanglah padanya, katakan apa yang kau inginkan.”

*****

 

Tae Hyung baru saja kembali dari perundingan tentang pernikahanya, karena mengetahui kondisi lutut Tae Hyung, jadilah mereka menyuruhnya istirahat lagi pula hari sudah mulai petang. Lelaki itu baru saja mendaratkan bokongnya di kursi kamar yang disediakan Tamna utuknya ketika suara seorang pengawal mengalihkan perhatian Tae Hyung.

 

“Tuan Muda Kim Seok Jin berkunjung Yang Mulia Pangeran…” kata pelayan di depan pintu tertutup itu.

 

Alis Tae Hyung berkerut sedikit, untuk apa Seok Jin mendatanginya? Apakah ingin meneruskan masalah yang tadi? lelaki itu mendengus lucu.

 

“Biarkan dia masuk!” beberapa deti berikutnya pintu terbuka menapilkan sosok tegap Seok Jin, tentu saja terlihat jauh lebih baik dari yang terakhir ia lihat.

 

Lelaki itu memasuki kamarnya lalu meruduk hormat mambuat semua spekulasi Tae Hyung hancur. Mata Tae Hyung yang tadinya terlihat sinis mengejek sekarang terlihat seperti orang  bingung.

 

“Aku ingin berbicara denganmu.” Kata Seok Jin setelah kembali berdiri tegak, Tae Hyung masih diam menunggu kelanjutan dari kalimat itu, dan lagi. Seok Jin merunduk hormat padanya tapi berbicara tidk formal?

 

“Tentang tawaranmu pada ayahku.” Lanjut Seok Jin membuat Tae Hyung menggerakan sedikit kepalanya berusaha membaca apa kiranya jawaban yang diberikan lelaki itu karena Seok Jin menampakan wajah tanpa ekspresi yang bisa di baca Tae Hyung.

 

“Lalu apa jawabanmu?” Tae Hyung menyerah, ia tidak bisa membaca raut wajah Seok Jin.

 

“Sebelum aku memberikan jawabanku, aku ingin bertanya padamu.”

 

“Kau ingin meyakinkan dirimu hyung? Lakukanlah, aku akan menjawab semuanya.” kemudian Tae Hyung melihat Seok Jin berjalan mendekat padanya, lalu duduk di hadapanya tanpa permisi.

 

“Dari cerita yang beredar, tidak bahkan cerita ini keluar dari mulut Kaisar bahwa kau tidak menginginkan kedudukan Kaisar. Kaisar bilang kau menyehkanya pada Pangeran Jung Dae, lalu saat acara pertunanganmu kau jatu cinta pada Ahn Rin dan akirnya kau bersedia menjadi Kaisar Tamna karena bujukan Permaisuri Choi. Itu semua bohong?”

 

“Kenapa kau bertanya hyung? Kau jelas tau jawabanya.”

 

“Lalu kenapa kau berbohong?”

 

“Kau fikir aku yang berbohong?” Tae Hyung tersenyum lebar meneyenderkan tangan kanannya ke meja. “Dan aku tebak kau pasti percaya dengan cerita tahayul itu.”

 

“Jika semua itu bohong kenapa kau menerima pertunanganmu dengan Ahn Rin?”

 

“Hyung….” Tae Hyung menyenderkan bahunya, “Seorang harimau tidak akan pernah mendapatkan mangsanya jika dia langsung menampakan dirinya pada rusa incaranya. Dia harus melihat keadaan, harus menghitung seberapa jauh rusa itu bisa berlari di banding dengan kecepatannya, jarak antara dia dan mangsanya, waktu tercepat cepat dia bisa mempersempit jarak itu. Waktu yang tepat saat ia melompat dan menangkap mangsanya, dan yang terpenting, bagaimana dia mengeksekusi mereka.” Tae Hyung tersenyum setengah menyeringai kepada Seok Jin.

 

“Jadi kau tidak pernah mencintai Ahn Rin dan sangat menginginkan Silla? Lalu kenapa Kaisar menyebarkan cerita bohong ini?”

 

“Karena dia tidak ingin aku menjadi Kaisar.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena aku adalah kesalahan paling besar yang terjadi di dalam hidupnya.” Tae Hyung menyeringai senang karena bagaimana tololnya Jung Soo yang bahkan tidak bisa membunuh seorang bocah ingusan sekalipun. “

 

“Hidupku adalah kesalahan terbesarnya jadi dia berusaha menghapusnya berkali-kali tapi dia terlalu tolol untuk melakukan itu. Setiap kali ia ingin menghapus kesalahanya maka kesalahan itu menjadi semakin besar dan besar hingga suatu hari dia harus membayar semua kesalahanya, dan itu hanya tinggal menunggu waktu.”

 

 

Seok Jin hanya diam memandang Tae Hyung tidak mengerti, apakah yang lelaki ini maksud dia adalah anak yang tidak diinginkan Kaisar? Mengapa Kaisar begitu berambisi untuk menyingkirkan Tae Hyung?

 

“Kau sudah mendengarkan cerita dari Pamanku, apa kau tidak ingin mendengar cerita dariku Hyung? Kebenaran yang sesungguhnya, Bagaimana dia bisa menduduki Tahta itu?”

 

Seok Jin menatap Tae Hyung dengan pebuh rasa ingin tau tapi juga ada sedikit rasa takut di dalam benaknya.“Bagaimana?”

 

“Dengan membunuh kedua orang tuaku.” Mendengar jawaban itu mata Seok Jin membulat seketika, “Dia juga ingin membunuhku tapi tidak berhasil saat itu karena pengikut ayahku yang sangat setia dan Choi Min Gi menyembunyikanku saat itu.”

 

“C-Choi Min Gi?”

 

“Benar, Permaisuri Choi Min Gi istri Pamanku itu.”

 

Seok Jin memundurkan kepalanya sendiri terkejut sekaligus tidak percaya tapi di satu sisi dia begitu prihatin kepada Tae Hyung. Bagaimana pun dia tau rasanya kehilangan salah satu orang tua, ya dia hanya kehilangan salah satunya sementara Tae Hyung kehilangan keduanya.

 

Namun rasa prihatinya teralihkan kemudian dengan sesuatu yang sangat janggal dan membuatnya penasaran. “Berarti Permaisuri Choi berada di pihakmu? Lalu kenapa beliau bisa menikahi Kaisar?”

 

“Dia menikahi Pamanku agar Pamanku tidak membunuhku.” Jawaban itu membuat Seok Jin semakin tercengang, seorang wanita secanti Choi Min Gi rela menggadaikan dirinya hanya untuk sebuah kesetiaan terhadap Tae Hyung. Sulit di percaya, ini sangat sulit di percaya ternyata masih ada kesetiaan seperti itu di dunia ini, maksudnya di dunia yang penuh dengan keserakahan ini?

 

“Saat itu aku masih berusia sepuluh tahun hyung, aku belum mengerti tentang bagaimana detailnya tapi sekarang aku mengerti. Saat itu pengikut pamanku meracun ayah dan ibuku dengan racun katak merah dan mengkambing hitamkan seorang pengikut ayah. Setelah kematian orang tuaku, pamanku mengambil alih tahta karena aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang kaisar. Jadi dia mengirimku untuk belajar ke timur, tapi itu hanya alasanya saja, yang terjadi sebenarnya adalah dia membuangku.”

 

“Aku lupa berapa orang yang sudah kehilangan nyawanya karena aku, dan mereka semua adalah orang-orang baik yang ingin menolongku. Aku juga sudah lupa berapa kali aku sekarat, lalu ketika aku kembali aku sadar. Aku disini karena Choi Min Gi, alasan pertama aku tetap hidup dan berada disini hanya karena Choi Min Gi.”

 

Seok Jin terdiam beberapa saat menatap jauh ke dalam mata Tae Hyung, mecari sebanyak mungkin rasa sakit dan putus asa yang tertinggal disana. Dan semakin lama ia menatap kedua mata gelap yang tajam itu semakin ia menyadari kalau dirinya memang seperti apa yang Tae Hyung katakan. Pecundang!

 

Dibandingkan dengan seluruh rasa sakit yang ia tanggung, rasa takut, kesedihan dan kehilangannya bahkan tidak sebanding denga satu per sepuluh yang di tanggung Tae Hyung. Lelaki itu sudah kehilangan semuanya, semuanya, rumahnya, keluarganya, orang-oranng terdekatnya, bahkan ketika ada orang yang mengulurkan tangan padanya pun akan mati. Dan semua itu ia tanggung bahkan di usianya yang masih menginjak sepuluh tahun, dimana anak lain masih begitu bahagia berlindung di kehangatan rumah keluarganya. Tae Hyung harus beradu dengan mau tanpa bisa lari atau pun bersembunyi.

 

“Alasanmu disini adalah Permaisuri Choi, apakah kau mulai mencintainya? Apakah dia juga mencintaimu? Tidak semua wanita bisa melakukan itu Tae Hyung-ah.”

 

“Aku tau, ya aku hampir yakin dia juga mencintaiku tapi dia juga yang menentangku. Dia yang mengorbankan dirinya untuku, tapi dia juga bilang dia akan menghentikanku. Apakah kau mengerti jalan pikiranya? Karena aku mulai gila memikirkanya.”

 

“Kenapa kau tidak bertanya?”

 

“Dia selalu bilang, apapun yang dia lakukan hanya untuk kebaikanku. Hanya itu.”

 

Seok Jin menepuk bahu Tae Hyung pelan. “Kalau begitu beliau memang melakukanya untuk kebiakanmu, setidaknya itu yang beliau pikirkan.”

 

“Hyung kau membelanya?” Tae Hyung menatap Seok Jin sedikit jengkel, dibalas dengan senyuman tipis dan gelengan ringan.

 

“Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk melidungi orang yang disayanginya Tae Hyung-ah karena kemampuan orang juga berbeda-beda dalam posisi yang berbeda pula.” Seperti Seok Jin yang mengurung diri demi melindungi Ayah dan kakaknya, atau seperti Tae Hyung yang berusaha menjatuhkan Jung Soo demi Min Gi, dan Min Gi yang mengorbankan dirinya untuk melindungi Tae Hyung.

 

“Dan jawabanku adalah, ya Aku ingin mendapatkan Ahn Rin. Aku ingin menjadi Kaisar supaya aku bisa melindungi semua orang yang aku sayang. Sudah waktunya aku bangun dan keluar menghadapi dunia, aku tidak ingin menjadi pecundang lagi.”

 

Mata Tae Hyung membulat berbinar mendengar jawaban itu, tanpa aba-aba dia langsung melompat ke arah Seok Jin dan memeluk lelaki itu erat. Senyum kotaknya begitu lebar dan cerah, akirnya setidaknya ada satu orang yang memahaminya, setidaknya ada satu orang yang mengerti rasa sakitnya. Rasanya begitu hangat dan menyenangkan seperti baru saja bertemu dengan seorang kakak yang pergi sangat lama.

 

“Terima kasih hyung!” Tae Hyung semakin mengeratkan pelukanya.

 

“Seharusnya aku yang berterima kasih padamu.” jawab Seok Jin sambil tersenyum membuat Tae Hyung melepaskan pelukanya dan menatap lelaki itu dengan tatapan bertanya.

 

“Untuk apa?” mata Tae Hyung membuat bingung dan itu berbeda dengan mata yang ia lihat saat pertarungan tadi. Sangat berbeda, mata itu bebinar polos seperti mata remaja pada umumnya bukan sepeti mata Pangeran yang ia hajar tadi.

 

Senyum Seok Jin semakin melebar, lelaki itu menaikan bahunya lalu mengacak kepala Tae Hyung ringan. Tae Hyung hanya mendengus sambil menatap tangan Seok Jin yang sedang mengacak rambutnya.

 

Terimakasih karena menunjukan rasa sakitmu padaku, karena tidak seharusnya aku menyerah karena luka kecil seperti ini sementara kau memiliki luka yang lebih besar dariku masih mampu berdiri tegak dan berusaha melawannya. Andaikan aku memiliki sedikit saja keberanian dan kecerdasanmu pasti aku tidak melihat airmata ayahku.

 

Tae Hyung mampu mendapatkan kepercayaan Baekje dengan cara yang begitu cemerlang, dan sekarang dia mampu membangkitkan keberanian Seok Jin dengan lukanya. Entah apa yang ada di dalam diri Tae Hyung, lelaki ini memiliki sesuatu seperti sihir di dalam dirinya Ahn Rin tidak salah memilih teman.

 

“Hyung sebelum aku membicarakan rencanaku,” Tae Hyung menghentikan kegiatan Seok Jin mengusap kepalanya. “Bolehkah aku meminta sesutu?”

 

“Apa itu?”

 

“Sebuah tempat persembunyian.”

TBC

55 thoughts on “Sun Flower Part 11

  1. Jujur aku suka bgt. Tpi kpn rencananya berjalan? Dan kyanya Tae Hyung emng butuh bgt banyak pengikut yahh. Lahh itu tempat persembunyian buat apa lagi???

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s