DESTINY Part 1


image

Destiny Part 1

Author : chely

Title : Destiny part 1

Category : NC21, kekerasan, romance, chapter

Cast.         : -Kim Jongin

                    -Im Nayeon

Other Cast :-Kang Seulgi

                     -Byun Baekhyun

                     -etc

Disclaimer : Sorry for typo. I hope u enjoyed my imagine:’) meskipun kacau:’) Ohya, makasih buat yang udah kritik dan saran di ff YMLM.❤ sequelnya masih proses kok hehe. happy reading💞

***

When i close my eyes I see those eyes

My heart kept aching So i wanted to forget

If this is a dream, please let me wake up

Are you really my destiny?

Falling you

***

Matahari terbit menandakan setiap manusia mulai melakukan aktfitasnya. Seorang namja dengan memakai kemeja ditambah dengan jasnya, setiap orang menebak bahwa ia bekerja di sebuah perusahaan besar atau mungkin menjabat sebagai CEO. Sayangnya tebakan mereka salah. Namja itu, Kim Jongin merupakan ketua mafia. Hidup dalam keluarga yang berantakan, membuatnya muak melakukan hal baik. Ia bahkan tak segan-segan membunuh orang yang mengusik ketenangannya. Ia bahkan tak pernah merasakan cinta. Eomma dan appanya bercerai, bahkan Jongin melihat langsung didepan matanya bagaimana appanya memukul eommanya.

Dan yang paling Jongin benci adalah eommanya pergi meninggalkannya. Sedangkan appanya, ia bahkan lupa seperti apa wajahnya. Ia sungguh membencinya, bagaimana cara appanya memakinya memukulnya bahkan hampir membunuhnya. Lima tahun lalu, ayahnya meninggal, seseorang membunuh appanya dan membuat perusahaan appanya yang saat itu berjaya bangkrut seketika, hal membuat Jongin semakin muak dengan kehidupannya. Ia memutuskan untuk menjadi mafia, dan akan membalaskan dendamnya pada orang-orang yang tidak bertanggungjawab itu. Meskipun Jongin membencinya, Jongin juga masih menyayangi appanya walaupun hanya sedikit. Karena hanya appanya yang merawatnya setelah kepergian eommanya.

Selain sebagai mafia, Jongin juga merupakan dosen di Kyunghee University. Ia bekerja sebagai dosen untuk menyamarkan identitasnya. Jongin berjalan menuju ruang kelas yang akan diajarnya tetapi tiba-tiba seorang yeoja tak sengaja menabraknya.

“Mianhae, ahjussi.” yeoja itu menunduk minta maaf kemudian mendongakkan kepalanya menatap namja yang ditabraknya itu.

“Gwenchana?” Bagaikan tersetrum sengatan listrik, ia menatap mata itu dalam. Ya, ia sangat ingat mata itu. Mata seorang yeoja yang menolongnya 13 tahun silam.

Flasback on

Jongin menangis menahan perih pada pelipisnya. Appanya sungguh kejam memukulnya dengan kayu meskipun saat ini mereka sedang berada di luar rumah. Bahkan pengguna jalan melihat kejadian itu, tetapi mereka hanya diam saja.

“Mianhae appa, aku tidak akan mengulanginya lagi” Jongin terisak merasakan perih di pelipisnya

“Apa dengan maafmu semua berkasku dapat kembali begitu saja? Dasar anak tidak tau diuntung!” namun ketika Tuan Kim hendak memukulnya ada seorang yeoja memegangi kakinya.

“Ahjussi jangan pukuli dia! Kumohon ahjussi, kepalanya berdarah” gadis cilik berumuran 8 taunan menangis histeris menahan kaki Tuan Kim. Tuan Kim tampak menghelakan nafasnya lalu kembali memasuki rumahnya.

“Biar kuobati lukamu” dengan masih terisak gadis cilik itu berlari memasuki mobilnya dan membawa plester serta kapas ditangannya. Dengan hati-hati ia menghilangkan darah pada dahi Jongin, lalu menempelkan plester pada dahinya.

“Sudah lebih baik, oppa harus lari ketika ada sesuatu yang membahayakan oppa. Arrachi?” gadis itu tersenyum memperlihatkan giginya.

“Geureu, aku Im–” namun belum sempat gadis itu melanjutkan pembicaraannya, orangtuanya sudah memanggilnya.

“Baby, apa yang kau lakukan disana? Cepat kemari, nenek sudah menunggu kita” gadis itu memberi sebungkus permen pada Jongin.

“Aku pergi dulu oppa, anyeong” Jongin tersenyum menatap punggung gadis yang menolongnya itu.

Flashback off

Yeoja itu menanyakan sekali lagi “Ahjussi, gwenchana?” gadis itu menatap Jongin lekat. Jongin hanya menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Anyeong” Jongin menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak boleh jatuh cinta. Ia harus ingat bahwa cinta akan membuat hidupnya berantakan.

Jongin melenggang masuk ke ruang kelas fakultas manajemen. Jongin mulai memperkenalkan dirinya. Sontak semua yeoja dikelas itu menatap kagum dosennya ini, masih muda dan tatapan matanya dapat membuat siapapun akan jatuh hati melihatnya. Jongin menatap yeoja yang menabraknya tadi, entah kenapa ia tidak suka melihatnya lagi. Hal itu semakin membuat Jongin mwngingat bagaimana baiknya yeoja itu.

Seusai mengajar, Jongin melangkahlan kakinya ke audy hitamnya. Menekan beberapa nomor di ponselnya dan terdapat jawaban dari seberang sana.

“Bagaimana? Apa kau sudah menemukan sasaran kita?”

‘Sudah tuan, dan kurasa ia merupakan CEO terkenal di Seoul’

“Cih, sudah kupastikan bahwa itu adalah uang hasil penggelapan dananya pada perusahaan appaku”

‘Ya, sudah kupastikan begitu. Mengingat ia adalah kaki tangan aboenim’

“Baiklah Oh Sehun, apa nama perusahaannya?”

‘Im Corps, ia memproduksi tekstil persis seperti pekerjaan aboenim dulu. Tapi Jongin-ah, sepertinya ia mempunyai seorang anak perempuan. Kulihat dari data keluarganya. Dan sepertinya ia adalah muridmu. Kyunghee university, fakultas manajemen. Im Nayeon’

“Geureu, kau awasi terus gerak gerik keparat itu. Akan kupastikan ia akan kehilangan anaknya” gumam Jongin.

***

Raut gelisah pada wajah tua tuan Im tak dapat disembunyikan. Ia tahu bahwa perbuatannya 5 tahun silam adalah salah. Ia tahu, tapi ada sesorang yang terus mendesaknya. Bahkan tuan Im tak dapat menyembunyikan perasaan bersalahnya kepada keluarga bosnya yang sudah dianggap kakaknya sendiri itu. Tuan Im berjalan pada gundukan tanah, lalu meletakkan sebucket bunga di atasnya.

“Anyeong hyung, bagaimana keadaanmu? Tentu kau sudah tenang bukan berada disana? Maaf, maaf karena aku baru saja menjengukmu. Aku-aku ingin mengembalikan apa yang seharusnya jadi milikmu dan keluargamu Hyung. Aku berjanji, setelah aku menemukan anakmu. Aku akan memberikan semua pada anakmu Hyung.” tuan Im terisak. Ya, dia tidak dapat hidup tenang dengan perasaan bersalahnya masih menyelimuti pikirannya.

Flashback on

“Aku senang anakku sudah beranjak dewasa, ia semakin mirip sepertiku. Dingin dan tatapan mengintimidasinya benarbenar mirip denganku. Ku mohon apapun yang terjadi, jagalah putraku. Aku ingin memberikan semuanya pada Kim Jongin. Biar bagaimanapun juga, ia merupakan hartaku. Aku selalu diliputi perasaan bersalah jika melihatnya menatapku tajam. Dan entah kenapa, kurasa sebentar lagi aku akan pergi Im Myeonsok.” tuan Kim menetaskan airmatanya.

“Tidak akan kubiarkan kau pergi meninggalkanku Hyung!” gertak tuan Im. Tepat setelah itu, seseorang dengan pakaian serba hitam menghantam kepala tuan Kim.

“Hyung!!” tuan Im memekik keras melihatnya bosnya lemas bersimbah darah.

“apa ada permintaan terakhirmu tuan Kim yang terhormat.” ujar seorang pria membuka penutup kepalanya.

“Kang Yoo Jin! Sialan kau, apa kau belum puas merebut istri Hyungku!” tuan Im meronta meneriaki pria itu.

“Sayangnya aku tidak akan puas setelah merebut apa yang seharusnya milikku” tuan Kim memegang tangan Im Myeongsok.

“Pergilah sekarang, ku-kumohon bilang pada putraku aku-aku menyayanginya. Dan ku-kumohon jaga dia” tuan Kim tampak terengahengah menahan sakit dikepalanya.

“Kha!” dan dorr

“Hyung!!” Im Myeongsok menangis kemudian melihat seringaian licik pada wajah orang yang berhasil menembaknya.

“Sialan kau! Aku berjanji akan membalasmu!” tuan Im berlari mencari bantuan. Namun naas, Jongin datang ke kantor ayahnya menyaksikan ayahnya terkapar lemah dengan darah mengalir di pelipis serta dadanya. Kakinya gemetar memeluk ayahnya.

“Appa kumohon jangan tinggalkan aku” Jongin menangis memeluk appanya.

“Jongin, ca-carilah sekertaris Im, ia” belum sempat melanjutkan kata-katanya, tuan Kim menutup matanya. Jongin beranggapan bahwa ini sekertaris Im lari tidak menyelamatkan ayahnya terlebih dahulu, bahkan semua saham milik ayahnya dibawa lari olehnya. Ia berjanji akan mencari orang itu.

Flashback off

“Aku pengecut bukan. Aku bahkan tidak ingin menampakkan diriku ke publik mengenai kasusmu, aku sungguh takut Hyung. Aku takut mereka akan menyerang keluargaku, mianhae. Aku berjanji, aku akan mencari Kim Jongin.”

***

Jongin memperhatikan yeoja yang saat ini dihadapannya. Yeoja yang diketahui bernama Im Nayeong. Tepat sasaran, sepertinya ini adalah putri sekertaris Im. Jongin tersenyum licik menatap yeoja didepannya.

“Sudah selesai ssaem, bolehkah aku pulang sekarang juga?” rengek Nayeong kepada dosennya itu.

“Geureu, tapi ini sudah larut. Bagaimana jika kau kuantar?” Jongin tersenyum mencoba berbuat baik agar usahanya kali ini sukses. Ya, Jongin berencana membuat yeoja didepannya ini jatuh cinta padanya, dan setelah itu ia akan menikahinya. Membuat kehidupan gadis itu menderita adalah tujuan hidupnya. Tapi itu nanti, setelah gadis itu terikat dengannya.

“Apa tidak apa-apa ssaem?” Nayeong bertanya hati-hati menatap dosennya ini.

“Tentu saja, aa bukankah kita belum makan apapun sore tadi? Bagaimana kalau kita makan setelah itu mengantarmu pulang” Nayeong mengangguk setuju.

Jongin nampak sedang konsentrasi mengendarai mobilnya, bahkan ia tak menyadari bahwa ada sepasang mata menatapnya. Nayeong terus menatap dosennya ini, ya diamdiam ia mulai menyukai namja disampingnya ini. Setelah makan malam tadi, Nayeong beranggapan bahwa dosennya ini sungguh baik. Membuat yeoja manapun akan jatuh hati padanya. Karna selain baik, Jongin juga mempunyai paras tampan. Nayeong tanpa sadar tersenyum.

“Apa disini rumahmu?” Jongin menatap Nayeong dan mendapat anggukan darinya.

“Khamsamnida ssaem” Jongin memegang tangan Nayeong.

“Jangan panggil aku ssaem jika kita sudah tidak berada di kampus, panggil aku oppa. Oke?” Nayeong tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Pipinya memerah dan ia mengangguk pelan. Kemudian segera berlari menuju rumahnya.

“Omo!” Nayeon terlonjak kaget melihat eommanya menunggunya tepat didepan pintu rumahnya.

“Jadi, ceritakan pada eomma siapa namja yang membuat pipimu memerah itu?” eommanya tersenyum menyeringai. Entah kenapa, eomma Nayeon ingin sekali agar Nayeon cepat memiliki kekasih, bahkan pernah memaksa salah satu teman namja Nayeon untuk menikahinya. Sungguh sangat berbeda dengan ibuibu pada umumnya.

“Eomma ia hanya dosenku, aku mempunyai kelas tambahan hari ini. Dan ya, dosenku mengantarku sampai rumah bahkan mengajakku makan malam” Nayeon tersenyum memikirkan dosennya itu.

“Yak! Apa kau memacari seorang ahjussi?” eommanya selalu seperti itu, tidak pernah berhatihati jika berbicara. Membuat siapapun yang mendengarkannya akan terkena serangan jantung seketika.

“Ish, tidak eomma. Bahkan dosenku umurnya hanya selisih 3 tahun dariku.” eommanya tersenyum lega dan memulai kembali aksinya.

“Geureu, besok ajaklah ia ke rumah. Jika tidak, eomma sendiri yang akan mendatanginya” Selalu seperti itu, ingin tau asmara anak gadisnya. Nayeon melangkah sebal kekamarnya. Ini sungguh kelewat batas, bagaimana jika dosennya itu mengganggap bahwa Nayeon mengharapkan lebih? Ah tidak, memang Nayeon mengharapkan dosennya lebih. Hanya saja sebagai perempuan, ia terlalu malu untuk memulainya.

***

Srak srak srak

Jongin berlari mengejar incarannya. “Sialan kau Mr. Seo rupanya kau cari mati!” desis Jongin tajam. Ia menarik revolvernya dan dorr. Tepat sasaran.

“Ku mohon maafkan aku” ucap Mr. Seo.

“Ku mohon jangan bunuh a-aku, sungguh a-aku hanya ssurahan tuan Kang” ucap Mr. Seo dengan gemetar.

“Untuk apa kau mau melakukannya? Untuk apa kau mau menusuk appaku keparat!” dan sret. Jongin menusuk Mr. Seo tepat pada jantungnya.

“Mr. Kang kuharap kau siap menerima ganjarannya” Jongin tersenyum sinis.

“Oh Sehun! Bawa dia ke kediaman keluarganya, dan samarkan hasil otopsinya dan buat mereka semua beranggapan bahwa Mr. Seo mati karna bunuh diri.” Jongin menarik pisaunya dan membersihkannya di aliran sungai.

“Jongin sialan sekali. Selalu menyisakan mayat untukku” gumam Sehun sambil mengangkat tubuh tak bernyawa itu.

Jongin berjalan menuju markasnya, meminum whiskey favoritnya dan sesekali menyesap putung rokoknya. Tidak hanya itu, saat ini Jongin dikelilingi oleh wanita-wanita malam tanpa berniat sedikitpun menyentuhnya. Mereka menggerayangi Jongin dan dibalas tatapan jijik oleh Jongin. Sedangkan anak buahnya, Sehun ia sedang melakukan ciuman panas dengan seorang yeoja berambut pirang. Jongin berdecak tak senang melihatnya. Jongin tidak munafik, ia juga bisa terangsang apabila beberapa wanita menggodanya. Tapi ia melakukan hubungan intim sesuai moodnya. Apabila moodnya sedang kacau, ia tidak segansegan meniduri wanita malam itu hingga pagi menjelang, tentunya dengan pengaman. Jongin tak sudi menyiramkan benihnya pada rahim mereka. Karna moodnya sedang baik, Jongin tidak ingin menyentuh mereka. Biarlah mereka sendiri yang menyentuh Jongin sesukanya.

“Sampai kapan kau akan seperti ini Kai?” ujar seorang yeoja berjaket kulit itu. Ya, Jongin mempunyai julukan tersendiri di komunitas mafianya.

“Sampai aku berhasil mendapatkan apa yang seharusnya milikku” Jongin tersenyum menyeringai.

“Bagaimana? Apa kau berhasil menghajar kawanan perampok itu?” wanita itu, Kang Seulgi mengangguk bangga.

“Tentunya, dan aku mendapat gaji plus karna berhasil membuat ketua gengnya terkapar lemah” ujar Seulgi sambil menyesap rokoknya.

Kang Seulgi merupakan satu dari dua wanita yang bekerja sebagai mafia. Tapi bedanya, Seulgi tidak melakukan pembunuhan seperti yang Jongin lakukan. Ia hanya memukulinya hingga tak berdaya. Karna selain untuk kepentingan pribadi, mafia milik Kai juga membantu polisi untuk melacak keberadaan penjahat kelas atas. Selain Seulgi juga terdapat satu wanita rekannya, Lee Si Young. Ia merupakan senior di kelompok mafia Kai bersamaan dengan Lee Hyukjae.

“Dimana Siyoung noona?” ujar Park Chanyeol.

“Eonni ssedang melakukan pekerjaan sampingannya, tentunya sebagai waitress di Cafe sekitar rumahnya.” Jongin beranjak dari duduknya.

“Geureu, aku akan pulang terlebih dulu.” Seulgi menatap Jongin dengan tatapan penuh cinta. Seulgi memang mempunyai perasaan lebih kepada Jongin. Sejak pertama Jongin masuk komunitasnya. Namun, tidak mungkin bukan jika sekelompok mafia saling jatuh cinta? Tidak, bahkan hanya Seulgi yang mencintai Jongin.

***

Nayeon berjalan gontai memasuki ruang kelasnya. Bagaimana tidak? Eommanya selalu menanyakan Jongin. Sungguh, jika itu bukan eommanya sudah dipastikan bahwa mulut eommanya akan ia sumpal dengan apapun itu. Jongin menatap yeoja yang sedang berjalan menunduk itu.

“Gwenchana? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Jongin bertanya hati-hati menatap Nayeon.

“Op–maksudku ssaem. Eomma, huh eommaku memintamu untuk ke rumahku” Nayeon tertunduk lemah. Jongin tersenyum.

“Geureu, nanti aku akan ke rumahmu” Nayeon mendongakkan kepalanya terlalu keras hingga tanpa disengaja mengenai dagu Jongin.

“Mi-mianhae ssaem, apakah sakit?” Nayeon cemas memegangi dagu Jongin.

“Ani, ini tidak seberapa” Nayeon tersenyum kikuk.

“Apakah tidak apaapa ssaem jika nanti ke rumahku?” Nayeon menatap Jongin lekatlekat.

“Tentu. Apakah aku terlihat seperti terpaksa begitu?” Jongin tersenyum mengusap rambut Nayeon.

“Baiklah, kutunggu di parkiran. Aku harus mengajar kelas lainnya. Sampai bertemu nanti”

Tepat pukul 3, kelas Nayeon sudah dibubarkan. Sesuai janji, Nayeon melangkah cepat menuju parkiran sekolah. Dan melihat Jongin sudah berada di mobilnya.

“Ssaem, maafkan aku. Ssaem berkepala botak itu membuatku jengah, bagaimana mungkin kelasku keluar terlambat satu jam” Nayeon menggerutu kesal. Jongin terkekeh menatapnya.

“tidak masalah.” Jongin melajukan mobilnya menuju rumah Nayeon.

“Oppa, kuharap kau tidak kaget melihat eommaku. Ia sungguh cerewet, bahkan suaranya terkadang bisa melengking kapan saja. Siapkan jantungmu eoh?” selalu seperti itu, Nayeon pandai berbicara pada siapapun. Bahkan orang yang baru dikenalnya. Nayeon memasuki rumahnya dengan Jongin dibelakangnya.

“Jadi ini yang namanya Kim Jongin? Silahkan masuk nak” Nyonya Im tersenyum ramah.

“Sudah kubilangkan, suara eommaku membuat siapapun serangan jantung” bisik Nayeon pada Jongin. Jongin terkekeh pelan lalu memasuki rumahnya, tepat sasaran disana terdapat beberapa foto sekertaris Im. Jongin tersenyum menyeringai.

Dan sepertinya umur tuan Im panjang, tibatiba tuan Im datang menemui Jongin. Tuan Im menatap tak percaya pria didepannya ini. Perasaannya mengatakan bahwa ia sudah lama mengenal namja dihadapannya ini. “Sekertaris Im” Jongin tersenyum ramah menyapanya.
Tuan Im membelalakan matanya “Kim Jongin? Apa itu kau?” tuan Im memeluk hangat Jongin.

“Tsk munafik sekali” Jongin berkata dalam hati.

“Appa mengenalnya?” Nayeon menatap appanya bingung.

“Tentu, ia merupakan anak pemimpin perusahaan appa dulu” Nayeon mengangguk mengerti.
“Rupanya dunia ini sempit sekali eoh?” Nyonya Im terkekeh.

“Baiklah Kim Jongin, kurasa kau lapar benarkan? Mari kita nikmati masakanku yang tak seberapa enak ini” nyonya Im tersenyum membuka beberapa menu makanan. Suara dentingan piring memenuhi ruangan itu. Jongin ikut makan di keluarga itu meskipun sebenarnya ia sudah menolaknya, tetapi nyonya Im memaksanya untuk makan.

“Jadi, kapan kalian akan menikah?” Nayeon dan Jongin tersedak ketika tibatiba nyonya Im menanyakan hal itu.

“Yeobo, kau ini tunggu dulu hingga makanan mereka habis eoh?” tuan Im nampak cemas melihat keduanya tersedak.

“Eomma yak sudah kubilang jangan men–”

“Aku akan menikahinya, secepatnya” Nayeon menatap tak percaya dosennya itu. Apakah ia sedang becanda? Sungguh, jika memang ini becanda sangat tidak lucu.

“Apakah itu benar? Apa kau sungguhsungguh menikahi putriku?” tuan Im bertanya hati-hati.
“Geureu, saya bahkan tidak suka melalui fase berpacaran eommonim, aboenim. Maka dari itu, hati saya sudah mantap memilih putri anda sebagai pendamping hidup saya.” Nayeon nampak berkacakaca tak percaya menatap namja didepannya ini.

“Baiklah, kau mau kapan melangsungkan pernikahannya?” nyonya Im menatap Jongin dengan tatapan penuh arti. Ya, dia memang mengharapkan namja seperti ini, yang sungguh sungguh dengan putrinya. Jika nyonya Im tau tujuan Kim Jongin menikahi putrinya, ia tak akan segansegan menyerahkan putrinya itu.

“Seminggu lagi” “Mwo?” seluruh keluarga nampak kaget dengan pernyataan Jongin.

***

Setelah acara makan malam, Nayeon mengantar Jongin sampai mobilnya. “Oppa, apa kau sungguhsungguh dengan perkataanmu?” Nayeon masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan.

“Apa aku nampak tidak bersungguhsungguh? Aku bersungguhsungguh Nayeon-ah. Aku mencintaimu, bahkan pada pandangan pertama” Pipinya memerah ia menunduk malu.

“Kau cantik jika pipimu memerah seperti ini” Jongin menyentuh pipi Nayeon.

“Masuklah, aku akan pulang. Tidurlah dengan nyenyak dan persiapkan dirimu eoh? Saranghae” Jongin mengecup lembut kening Nayeon.

***

Brak!

“Yak! Hyung! Apa kau benarbenar menikahinya?” Sehun menatap Jongin dengan tatapan marah. Jongin tersenyum sembari menyesap wine.

“Mereka bahkan menawarkan pernikahan padaku” Jongin tersenyum menatap kearah segelas wine dan menuangkan lagi. “Sungguh beruntung bukan? Mereka bodoh sekali, bahkan sekertaris Im tidak menyadari kesalahannya.” Jongin meneguk wine.

“Hyung, pikirkan baikbaik. Mungkin saja tuan Im tidak sepenuhnya bersalah atas apa yang menimpa perusahaan ayahmu” Prang. Jongin melempar gelasnya marah.

“Apa kau kira aku percaya begitu saja? Sudahlah, aku tidak akan mengubah keputusanku.” Jongin menyandarkan kepalanya penat.

“Bagaimana jika kau jatuh cinta dengannya?” Seulgi datang dan langsung melempari pertanyaan itu. Ya, Seulgi sakit hati atas perbuatan Jongin kali ini. Bisakah ia hanya membalaskan dendamnya saja tanpa harus berbagi ranjang dengan wanita itu? Seulgi berharap Jongin tidak menyentuhnya, tidak. Seulgi tidak akan biarkan hal itu terjadi. Jongin menatap tajam yeoja didepannya itu.

“Tidak akan.” Jongin duduk santai mengambil putung rokoknya. Sesungguhnya saat ini Jongin takut, ia takut jatuh cinta dengan wanita yang akan menjadi istrinya itu. Ia benarbenar belum pernah merasakan cinta. Tidak, tidak akan. Hidupnya pasti akan sangat menderita seperti ayahnya dulu. Ditinggalkan oleh cinta? Tidak, Jongin tidak akan membuat hatinya repotrepot merasakan cinta.

“Chanyeol, apa hari ini ada misi lainnya?” Chanyeol membuka tablet miliknya.

“Keluarga Jung, sebentara lagi tuan Jung akan kesini. Sepertinya masalah penggelapan dana milik perusahaannya. Tentu itu tidaklah sulit bagi kita.”

Chanyeol duduk meletakkan kembali tabletnya. Dan tak berselang lama, suara decitan pintu membuat para mafia berdiri seketika.

“Anyeong tuan Jung” Chanyeol menunduk ramah menyapa clientnya ini. Seulgi menuntun tuan Jung untuk duduk ditempatnya.

“Kurasa kalian sudah tau untuk apa aku kesini bukan?” mereka mengangguk mengerti, terkecuali Jongin. Jongin menatap tajam nan dingin, memang seperti itulah dirinya.

“Perusahaanku terancam kebangkrutan, dan setelah ditelusuri diduga ada penggelapan dana orang dalam. Tapi, banyak karyawanku yang saat itu tibatiba mengundurkan diri. Sekertarisku sudah beberapa kali menghampiri kediamannya tetapi nihil, mereka sepertinya sudah pindah dan entah kemana. Ada 3 nama yang mengundurkan diri dari perusahaanku. Tuan Seo, Kang, dan satu asisten pribadiku. Tuan Byun. Kuharap kalian bisa menemukannya.” tuan Jung mengeluarkan amplop coklat dan mengeluarkan beberapa lembar foto.

“Ya, ini mereka. Mereka yang kucurigai mengambil sebagian dari dana perusahaanku” Jongin menatap sekertaris Jung tajam.

“Bagaimana jika orang terdekatmulah yang saat ini menggelapkan dana perusahaanmu?” Jongin mengalami pengalaman pribadi dengan sekertaris ayahnya. Ya, dia hanya asal bicara saat itu. Dan apabila itu benar, maka Jongin tidak akan segansegan membunuhnya. Ia nampak benci dengan apapun yang berbau sekertaris. Sehun membelalakkan matanya menatap Jongin tak percaya. Sial, disaat seperti ini ia masih mengungkit masalalunya. Sekertaris tuan Jung hanya menatap datar Kim Jongin.

***

Jongin meregangkan ototototnya. Ia hanya ingin membaringkan tubuhnya setelah seharian ia sibuk mempersiapkan acara pernikahannya. Namun ketika ia hendak memejamkan matanya, ponselnya berbunyi. Tanpa melihat siapa yang menelponnya, Jongin membanting kasar ponselnya. Benarbenar sialan. Ternyata menyiapkan pernikahan tak semudah yang ia bayangkan. Bahkan kurang 3 hari pernikahannya, Jongin belum membeli cincin dan fitting baju pengantin. Ia berharap esok dapat menyelesaikan semuanya dengan cepat.

Nayeon nampak gelisah menatap layar ponselnya, bagaimana tidak. Hingga saat ini, Jongin belum mengabarinya. Ia khawatir, sungguh terlewat khawatir. Ia takut sesuatu terjadi pada prianya itu. Tak berselang lama, kegelisahan itu lenyap seketika sembari menatap kelayar ponselnya ada satu pesan dari kekasihnya itu.

‘Mian chagi. Aku tadi tertidur. Ada apa? Apa semuanya baikbaik saja?’

Nayeon tersenyum menatap layar ponselnya. Apakah selelah itu prianya? ‘Semua baikbaik saja oppa, aku hanya mengawatirkanmu. Apa kau sudah makan? Cepatlah makan dan istirahatlah dahulu. Kau butuh banyak tenaga untuk menyiapkan pernikahan kita’  Nayeon terkekeh membaca pesannya. Sungguh ia tak menyangka sebentar lagi ia akan mendapat gelar Nyonya Kim.

***

Tepat hari ini, pemberkatan nikah dilangsungkan. Nayeon dengan gaun putihnya berjalan menuju altar dengan sebelah tangannya diapit oleh calon pasangan hidupnya, Jongin. Pernikahan dihadiri oleh beberapa kerabat dekat saja. Karna Jongin tidak ingin banyak publik mengetahui pernikahannya. Nayeon sempat kecewa ketika Jongin mengajukan permintaannya itu, akan tetapi kekecewaan itu segera ditepisnya karna Nayeon mengerti bekerja sebagai seorang dosen dan menikahi muridnya merupakan hal yang dapat membuat mulut siapapun tidak berhenti menghujatnya. Setelah mengucapkan janji sehidup semati. Jongin mencium bibir Nayeon, secara lembut. Merasakan setiap manis di bibirnya, membuat darah Nayeon berdesir hebat ingin merasakan lebih dan lebih. Ciuman itu diakhiri oleh tepuk tangan riuh tamu undangan. Jongin tersenyum licik, “It will starts baby” gumam Jongin.

“Chagi, aku akan menemui temantemanku dulu” Jongin berbisik dan meninggalkan Nayeon seorang diri.

“Hyung apa itu putri dari sekertaris Im? Ia sangat cantik. Jika kau ingin melakukan dendam, aku rela melakukannya jika dendammu ini menyangkut wanita cantik itu.” Sehun menatap Nayeon penuh arti dan mendapat pukulan dikepalanya.

“Yak! Bodoh, tutup mulutmu itu. Kau kira aku akan membiarkan orang lain menyakitinya? Tidak, hanya aku yang boleh menyakitinya” Jongin tersenyum licik. Seulgi menatap kosong temantemannya. Ia tidak menyangka, lelaki yang diidamkannya telah menikahi perempuan lainnya. Sungguh jika saja ia tidak dapat menahan hati, ia ingin menghancurkan wajah istri dari pria yang dicintainya itu.

“Yak seulgi-ah. Adaapa denganmu?” Chanyeol menepuk pundak seulgi sedikit kasar. “Tidak. Aku hanya tidak menyangka ketua kita menikah secepat ini, bahkan salah satu dari kita belum ada yang menikah. Sungguh tidak adil. Seulgi mengerucutkan bibirnya.

“Makanya, kau itu segeralah mencari lelaki dan segeralah menikah. Temanteman lelakimu ini tidak ingin cepatcepat terikat oleh satu wanita. Terutama Sehun, lihatlah ia. Bahkan diacara seperti ini ia melirik yeoja lainnya, sungguh menjijikkan”

“Yak! Hyung. Kau ini, aku hanya tidak ingin menyianyiakan kesempatanku.” Sehun mendengus kesal.

“O anyeong nayeong-ssi” sapa Sehun ketika tibatiba Nayeon datang menghampirinya.

“Anyeong” Nayeong tersenyum ramah menjabat tangan Sehun, sedangkan Sehun nampak terus menggenggam tangan Nayeon. Jongin memukul lengan Sehun dan menatapnya tajam, sedangkan yang ditayapnya hanya terkekeh.

***

Malam tiba, malam dimana sepasang pengantin menantikan hal ini. Terutama Jongin. Setelah membawa Nayeon ke rumahnya di kawasan Busan. Jongin melepas tuxedo dan bergegas membersihkan diri. Dia harus terlihat segar untuk malam panjangnya hari ini. Berbeda dengan Nayeon, ia gugup dan entah kenapa perasaan di hatinya bergetar hebat menandakan sesuatu akan terjadi padanya. Jongin sengaja membawa Nayeon jauh dari orangtuanya, untuk melakukan misinya. Misi menghancurkan hidup putri tuan Im. Jongin menghampiri Nayeon yang tengah duduk menggunakan gaun tidurnya. Lekuk tubuhnya bahkan terlihat jelas pada gaun tidur tipisnya itu. Jongin duduk disamping Nayeon. Mencium tengkuk Nayeon mengusap punggungnya halus, membuat Nayeon mendesah menikmati. Ciuman Jongin berpindah ke bibirnya, menciumnya lembut dan sesekali Nayeon membalasnya hingga membuat decapan decapan di kamarnya itu.

Namun semakin lama, Jongin semakin menyesap bibir Nayeon kasar. Bahkan Nayeon tidak diberi ijin untuk bernafas. Nayeon memukulmukul dada Jongin berniat untuk memberitahunya bahwa ia membutuhkan pasokan oksigen. Jongin sama sekali tidak menggubrisnya, dicengkramnya tangan Nayeon, Jongin semakin memperdalam ciumannya bahkan darah di bibir Nayeon tercetak jelas. Nayeon menangis, ia sungguh tidak tahan merasakan perih di bibirnya. Tidak, ini bukan Kim Jongin yang diidamkannya. Jongin kesetanan, melepas kasar gaun Nayeon dan meremas secara kasar dan menuntut kedua payudaranya. Bahkan sesekali menggigit putingnya dan menimbulkan luka di sekitar payudaranya. Nayeon menjerit menangis ketika tibatiba kejantanan Jongin memasukinya tanpa memberi abaaba. Bahkan ini adalah pertama baginya. Tetapi seakan Jongin dipenuhi oleh roh jahat, ia sama sekali tidak peduli dengan isak tangis Nayeon.

“Berhenti menangis brengsek!” hati Nayeon teriris perih mendengar ucapan Jongin. Sungguh, ini bukan Jonginnya. Nayeon menggigit bibirnya menahan perih di sekujur tubuhnya. Desahan lembut itu berganti menjadi erangan dan jeritan Nayeon di kamar Jongin. Jongin menghujami kewanitaannya tanpa ampun bahkan Jongin tidak segansegan memukul keras pantat istrinya itu.

Percintaan mereka berakhir pada pukul 3 pagi. Nayeon tak berhenti mengeluarkan airmatanya. Ia sungguh kecewa, bahkan malam pertamanya direnggut secara kasar. Jongin menatap Nayeon senang.

“Ada apa denganmu oppa, kenapa–kenapa kau melakukan ini? Siapa dirimu?” Nayeon terisak menatap Jongin.

“Kau tau betapa hancurnya aku ketika appamu sama sekali tidak menolong appaku. Bahkan appamu kabur meninggalkan appaku, dan ia juga meninggalkanku tanpa memberi sedikitpun harta dari appaku. Apa aku pantas berbuat baik padanya? Tidak, kau harus merasakan apa yang kurasakan. Appamu harus merasakan bagaimana rasanya jika anaknya menderita tanpa seorangpun membantunya” desis Jongin tajam.
.

.
TBC

65 thoughts on “DESTINY Part 1

  1. jong in salah sangka banget,, thor critanya keren tapi menurut aku alurnya kecepetan jadi feelnya kurang dapet, itu si menurut aku tpi bagus kok ceritanya,, next di tunggu ya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s