New Time (Sequel of Time) Part 2


newtime1234

 

Author : Mrs. Bi_Bi

Tittle: New Time

Category: NC17, Yadong, Marriage Life, Chapter

Cast : Cho Kyuhyun, Dennis Oh, Oh Joon Ae (OC)

Other Cast:  Cho Joon Hyun Choi Siwon, Cho Ah Ra

 

PERHATIKAN KETERANGAN WAKTU.  Alur maju-mundur.

 

***

2008

Duduk seorang diri pada salah satu sudut ruang kerja yang hanya digunakan ketika ada rapat pribadi dan harus dilakukan di rumah, berkas laporan dari salah satu cabang perusahaan yang baru didapatnya beberapa menit lalu menjadi fokus Siwon hingga ketika kedua matanya melirik jam tangan berbentuk bulat dengan detail emas yang melapisi pinggirannya serta batu mulia sebagai pengganti angka, hela nafas panjangnya menjadi tanda lain dari sudah teralihkannya perhatian pria itu.

 

“Permisi, Tuan.”  Song Joong Ki, asisten pribadi Siwon, menyela lamunan Tuan-nya tentang kemana perginya penghuni lain rumah itu.

 

Menutup laporan dari anak perusahaan dihadapannya, Siwon menoleh pada pria berpakaian rapi yang sudah bersamanya hampir 10 tahun itu.

 

“Ada apa?”  Tanya Siwon.

 

“Ini yang anda minta untuk saya cari kemarin.”  Menyodorkan sebuah map berwarna hitam kehadapan Siwon, Joong Ki meletakkannya pada sisi berkas pekerjaan Siwon dan atasannya itu hanya memberikan sebuah tanggapan berupa lirikan kosong pada map yang ia bawa.  “Namanya adalah Cho—.”

 

“Biarkan.”  Siwon memotong kalimat Joong Ki.  Masih menatap map dari Joong Ki, Siwon kembali membuka bibirnya  “Aku akan mendengarkannya sendiri dari bibir adikku.  Kau boleh pergi, terimakasih.”

 

Maka jika sudah begitu, Joong Ki yang paham tentu mengangguk.  Membungkukkan sedikit tubuhnya dan berjalan mundur hingga mencapai ujung pintu, barulah saat itu ia berbalik dan pergi—meninggalkan Siwon seorang diri seperti semula.

 

Merapikan semua berkas pekerjaannya di meja, menyusunnya rapi—Siwon menarik nafas panjang.  Sekali lagi matanya melirik jarum jam pada pergelangannya yang sudah menunjuk pukul 11:00 malam.  Tidak terlalu malam memang, namun bagi Siwon, itu sudah sangat malam dan melewati batas perjanjiannya bersama Joon Ae untuk jam pulang malam.

 

Tidak lama kemudian, saat Siwon akan mengambil ponselnya untuk menghubungi Joon Ae, deru mobil yang memasuki halaman depan rumahnya terdengar.  Bangkit perlahan dan berjalan menuju arah jendela yang langsung menampakkan area depan rumah, Mercedes SLR McLaren berwarna silver sampai dalam pandangan mata Siwon ketika tirai hadapannya ia pinggirkan.

 

Adiknya, Joon Ae, yang sejak tadi ia khawatirkan keberadaannya, keluar dari dalam mobil itu sesaat setelah seorang pemuda asing  yang baru kali ini Siwon lihat lebih dulu keluar dan kemudian membukakan pintu mobil untuk adiknya.

 

“Katakan pada Isabelle untuk menemuiku segera.”  Siwon memerintah, pada orang yang berjaga didepan pintu masuk ruang kerja pribadinya.  Membalik badan dan kembali duduk pada tempatnya semula, pria itu menghitung detik sembari menunggu kedatangan adiknya.

 

 

Oppa memanggilku?”  Joon Ae muncul dari arah belakang Siwon dengan riangnya dan segera memeluk tubuh tegap pria yang sudah bersamanya semenjak kecil itu dari belakang.  “Ada apa?”  Tanyanya makin mengeratkan kalungan tangannya pada leher Siwon.

 

“Duduk.”  Singkatnya hingga membuat Joon Ae memberengut.

 

Melirik Siwon dengan sedikit menolehkan kepalanya, wajah dingin juga kaku oppa-nya adalah apa yang Joon Ae dapat.  Merasa bahwa apa yang akan dibicarakan begitu serius, senyum Joon Ae memudar perlahan.  Melepas pelukannya, gadis itu segera duduk di kursi samping oppa-nya dengan raut tidak kalah serius seperti milik Siwon.  “Ada apa, oppa?  Apa aku sudah lakukan salah?”

 

“Ingin ceritakan sendiri, atau aku harus dengar dari orang lain?”  Siwon menunjuk map hitam yang tadi Joong Ki berikan padanya.

 

Terusik dengan map yang Siwon tunjukkan hingga keningnya sedikit berkerut, tanpa membuang waktu segera saja Joon Ae mengambil dan membukanya.

 

Membalik dan melihat satu persatu lembar kertas yang ada dalam map, hela nafas Joon Ae terdengar ketika paham tentang apa yang Siwon maksud dan inginkan.  Berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlihat gugup, sebelah tangan Siwon ia ambil dan digenggamnya erat.   “Namanya Cho Kyuhyun.  Usianya di atasku 2 tahun, dia lahir tanggal 3 Februari 1988 yang artinya tahun ini usianya 20 tahun.  Keluarganya adalah pemilik perusahaan Cho Corp yang bergelut pada bidang pendidikan, konstruksi, dan tahun ini mulai merambah pada real estate.  Kyuhyun sendiri saat ini sedang kuliah di Universitas Kyung Hee pada bidang musik.  Kami pertama kali bertemu ketika Taemin mengundangku pada perayaan ulang tahunnya, sahabat Taemin… namanya Shim Changmin adalah sahabat Kyuhyun.  Setelah itu kami beberapa kali bertemu, bertukar nomor ponsel, dan saling berhubungan.  Sekitar 4 bulan lalu kami semakin dekat.”  Jelasnya.

 

Sebelah alis Siwon terangkat.  Merasa ada yang kurang, pria itu menambah,  “Semakin dekat itu, kekasih?”

 

Berbohong-pun percuma.  Tidak mengakuinya apa lagi.  Maka dibanding berbohong dan tidak mengakuinya, meskipun sedikit ragu untuk jujur, Joon Ae mengangguk.  “Ya.”  Akunya pelan.

 

Makin mengeratkan genggaman tangannya pada Siwon, kebisuan yang oppa-nya tunjukkan setelah dirinya berkata ya—entah apa yang ada dalam pikirannya Joon Ae tidak tahu.  Namun kemudian, bersama pandangan juga perasaan bersalahnya, sebelah tangan Siwon yang masih berada di atas meja ia ambil dan ikut digenggamnya tidak kalah erat.  Menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya hingga Siwon mendengar, Joon Ae kembali membuka mulutnya,  “Maaf.”  Katanya.  “Harusnya aku ceritakan sebelumnya dan oppa tidak perlu tahu atau dengar dari orang lain.  Aku benar-benar menyesal.”

 

Ganti Siwon yang merengut.  Menggigit bibir bagian bawahnya, pria itu hanya menatap adiknya tajam tanpa hendak mengatakan atau memberikan satu patah kata yang bermaksud menenangkan.

 

Mendesah, Joon Ae kembali bertanya.  “Oppa, marah?”

 

“Marah?  Kenapa?”

 

“Karena aku sembunyikan ini dan oppa lebih dulu tahu dari orang lain.”

 

“Hanya karena itu?”

 

“Juga pada Kyuhyun.”

 

“Apakah dia pria baik?”

 

“Ya.”  Joon Ae segera mengangguk.  “Dia sangat baik padaku, dia juga pandai bermain musik dan suaranya bagus.  Dia sering menyanyikanku lagu.”

 

“Jadi kau bahagia bersamanya?”

 

Tersenyum, Joon Ae kembali mengangguk.  “Ya, aku sangat bahagia bersamanya dan aku sangat mencintainya.”

 

“Lalu kenapa tidak kau katakan padaku sebelumnya?”

 

“Aku tidak tahu harus bagaimana memulainya, dan aku juga takut jika oppa tidak suka padanya.”

 

“Bukankah kau bilang bahwa kau bahagia ketika bersamanya?  Maka aku tidak punya alasan untuk tidak menyukainya, bukan?”

 

“Ya, harusnya…”

 

Ucapan macam itu serasa menggantung dalam indra pendengaran Siwon.  Maka dengan pandangan makin tajam pada adiknya, ganti ia yang menggenggam tangan Joon Ae erat.  “Harusnya?”

 

Oppa terlalu memiliki standar yang tinggi.  Meskipun bagiku Kyuhyun sempurna, hal seperti itu belum tentu ada dalam pikiran oppa.  Karena itu, aku bilang… harusnya.”

 

Siwon terkekeh.  Mengusap puncuk kepala Joon Ae hingga rambut rapinya sedikit berantakan, sebelah tangannya kini berganti menyentuh pipi putih adiknya lembut.  “Lihat aku.”  Katanya pelan, disertai senyum, nada riang, dan pandangan hangat.

 

Joon Ae menatap oppa-nya, persis seperti yang pria itu minta.  Bedanya, pandangan khawatirnya tidak serta merta hilang meski raut pria dihadapannya tidak sedingin ataupun se-kaku sebelumnya.

 

“Aku mencintaimu lebih dari siapapun, dan aku menyayangimu lebih dari apapun.  Bagiku, kau adalah yang terpenting.  Bagiku, kau bukan hanya sebuah titipan dari daddy-mu dan eomma-ku, tapi kau adalah benar adikku, tanggung jawabku, dan hidupku.  Menjagamu, adalah sama hal-nya aku menjaga diriku sendiri.  Apa yang membuatmu bahagia, tentu aku akan mendukung asal itu sama sekali tidak merugikanmu.  Harapanku memang tinggi dan selalu tinggi untukmu, tapi jika harapan tinggi itu tidak membuatmu bahagia, maka buang saja.  Begitupun mengenai cintamu.”  Siwon meletakkan sebelah tangan bebasnya pada dada atas Joon Ae.  Makin mendekatkan wajahnya serta senyum yang makin lebar, pria itu mengusap sayang kepala adiknya.  “Cinta bukan sesuatu yang bisa aku kendalikan.  Aku tidak akan protes untuk itu asal kau bahagia.  Cintai siapapun yang ingin kau cintai, asal orang itu memperlakukanmu dengan baik.  Aku tidak akan marah ataupun melarang.”

 

Joon Ae tersenyum.  Dengan mata memerah dan bibir bergetar, gadis itu langsung memeluk oppa-nya.  “Terimakasih.”  Katanya dengan lelehan air mata haru yang menyentuh hatinya.  “Aku pasti akan bahagia bersama Kyuhyun, aku janji.  Aku tidak salah pilih dan dia adalah pria baik yang sudah pasti akan membahagianku hingga oppa tidak kecewa.”

 

“Maka,”  Siwon mendorong tubuh adiknya dan menghapus sisa air mata pada pipi Joon Ae.  “Katakan padanya, sebulan lagi saat aku kembali dari Canada, aku ingin bertemu dengannya.  Aku ingin mengenalnya lebih dekat, jika bisa, hingga kami bersahabat.”

 

Joon Ae tersenyum lega.  Kembali memeluk Siwon, gadis itu tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih untuk apa yang Siwon berikan padanya hingga sejauh ini.

 

“Keinginanku hanya bahagiamu, Isabelle….”

 

“Itu juga yang aku inginkan dari oppa.”

 

“Maka bahagialah jika kau ingin aku bahagia.  Karena jika kau bahagia. maka aku lebih bahagia dari siapapun di bumi ini.”

 

“Ya..”  Joon Ae bernafas lega dan melepas pelukannya dengan pandangan hangat yang tidak henti-hentinya ia terima dari Siwon.

 

“Adikku sudah dewasa sekarang.”  Kata pria itu menyisir pelan rambut adiknya.  “Tidak kusangka kau akan secepat ini bertemu dengan pria yang akan membahagiakanmu.”

 

“Maka oppa juga harus bertemu dengan wanita yang akan membahagiakan oppa.  Aku sudah cukup untuk oppa perhatikan hingga saat ini.”

 

“Iya, nanti.”  Angguknya.  “Tapi Isabelle, mulai sekarang jangan pulang terlalu larut seperti akhir-akhir ini lagi.  Kau boleh pergi dan menghabiskan waktu bersamanya sepanjang hari tapi kau harus ingat kapan waktunya pulang.  Pria baik-baik tidak mengajak keluar seorang gadis hingga tengah malam, bukan?”

 

“Aku mengerti.”

 

“Dan, ingatlah ucapanku ini.  Jika kau bahagia bersamanya, maka teruslah bersamanya.  Tapi jika kau tidak bahagia bersamanya meskipun kau mencintainya, lepaskan dia.  Bersamalah dengan seseorang yang mengerti arti dirimu ketika dirimu ada di sisinya, bukan mengerti arti dirimu ketika dirimu tidak bersamanya lagi.  Kau mengerti?”

 

“Ya, aku mengerti.”

 

“Baguslah…”  Ucap Siwon dengan hela nafas lega.  “Kau yakin bahwa dia juga memikirkanmu sebanyak dirimu memikirkannya?  Mencintaimu sebanyak kau mencintainya?”

 

“Iya oppa… iya.  Aku yakin Kyuhyun merasakan apa yang aku rasakan.”

 

“Aku hanya takut dia akan melukaimu.  Jangan mudah percaya dan pakai otakmu, jangan pakai hati.  Kau tidak boleh lakukan sesuatu yang merugikanmu, mengerti?”

 

“Iya oppa... berhentilah khawatir.  Aku baik-baik saja.”  Joon Ae terkekeh.  Memeluk Siwon erat bersama segala ceritanya tentang Kyuhyun yang mengalir begitu saja  malam itu. Layaknya dongeng pengantar tidur.

 

Hal menyenangkan terakhir yang mereka lakukan setelah masuknya nama Cho Kyuhyun.

 

 

 

***

2016

Dennis terkekeh, menatap Joon Hyun lucu.  Pria itu mendudukkan dirinya di lantai hingga pandangannya dan Joon Hyun sejajar.  Masih dengan sudut bibir tertarik yang membentuk lengkungan, pria itu membuka mulutnya.  “Apa katamu, adik kecil?  Bisa kau ulangi sekali lagi?”

 

Joon Hyun menatap Dennis takut meski pria itu menampakkan wajah malaikatnya.  Sedikit bergetar sebab menahan tangisnya, bocah itu menggosok hidungnya yang entah bagaimana serasa tersumbat padahal dirinya sedang tidak terserang flu.

 

Baru saja Joon Hyun akan membuka mulutnya untuk mengulang perkataannya sebelum ini, pemikiran-pemikiran aneh yang entah bagaimana ada dalam kepala kecilnya berdatangan dan memenuhi dirinya hingga hampir menangis.  Mungkinkan eomma-nya diculik oleh pria dihadapannya ini tanpa sepengetahuan appa-nya?  Atau mungkin eomma-nya juga tidak mencintainya seperti appa-nya maka dari itu pergi bersama pria ini?  Pria yang menyebut eomma-nya sebagai istri.

 

“Oh astaga.  Kau kenapa?  Apa ucapanku menyakitimu?”

 

Dennis memeluk Joon Hyun khawatir ketika kedua mata anak itu telah penuh dengan air mata.  Mengusap pelan punggung Joon Hyun, Dennis berdiri dan menggendongnya dengan beberapa gerakan kecil layaknya orang tua menenangkan anaknya.  “Apa paman menyakitimu?  Apa ucapan paman ada yang salah?  Maafkan paman, paman tidak bermaksud seperti itu.”  Jelasnya memundurkan tubuh Joon Hyun sedikit agar mereka berhadapan.

 

Diam saja, Joon Hyun tidak membalas ucapan Dennis.  Hanya kepalanya yang tertunduk lemas dengan jemari kecil yang menghapus air mata menggenangnya.  “Maafkan paman.”  Dennis mengulang.  Kali ini, pria itu menggunakan tangannya yang tadi mengusap punggung Joon Hyun untuk mengusap dada sesak anak kecil itu.  “Jangan menahan tangismu, kau akan merasa sesak nafas jika begitu.”

 

Joon Hyun mendongak.  Menaikkan kepalanya dengan wajah sedih dan takut yang masih terlihat.  “Kau boleh memiliki foto istri paman jika ingin.  Tapi jangan menangis, oke?”

 

Joon Hyun menarik lelehan air yang hampir mengalir dari kedua lubang hidungnya keras.  Sedikit mengernyit, anak itu mulai bicara.  “Dia eomma-ku, istri appa-ku, bukan istri Tuan.”  Ulangnya serak dan terbata.

 

Mengedipkan mata memerahnya beberapa kali, anak itu tidak membiarkan setetes air matanya jatuh.  Sambil memeluk dompet Dennis erat, pandangannya tidak teralihkan dari pria tersebut.

 

“Iya.”  Dennis mengangguk.  Mendudukkan Joon Hyun pada pinggiran wastafel, diusapnya pelan puncuk kepala Joon Hyun lembut.  “Isabelle adalah eomma-mu, istri appa-mu, dan bukan istri paman.  Kau sudah bisa tenang sekarang.  Maka berhentilah menangis, paman mintaa maaf.”

 

Raut waspada Joon Hyun masih bertahan.  Mengintip pelan foto Joon Ae pada dompet Dennis, anak itu melipat bibirnya dengan sesenggukan yang masih terjadi sesekali.

 

“Maka begini.”  Dennis melepas pelan jemari kecil Joon Hyun yang memegang dompetnya erat.  “Kau boleh memiliki foto eomma-mu jika ingin.  Paman tidak akan memilikinya lagi.”

 

“Lalu kenapa Tuan memilikinya?”

 

“Paman hanya tidak sengaja menemukannya.  Karena cantik, maka paman pikir tidak ada salahnya untuk menyimpannya, bukan?”  Dennis tersenyum hangat.  Mengambil foto Joon Ae dan kemudian memberikannya pada Joon Hyun, pria itu segera memasukkan dompetnya pada saku celananya.   “Foto Isabelle sudah menjadi milikmu sekarang, maka jangan menangis lagi.”

 

“Isabelle?  Siapa Isabelle?”

 

 

Oh!  Sial.  Dennis merutuk dalam hati.  “Bukan siapa-siapa.  Hanya nama yang sangat cantik dalam pikiran paman, karena itu paman selalu memanggil wanita cantik dengan nama itu.”  Ralatnya cepat.  “Omong-omong, siapa nama eomma-mu, adik kecil?”

 

“Oh Joon Ae.”

 

“Baiklah, maka foto eomma-mu, Oh Joon Ae, sudah menjadi milikmu sekarang.  Jangan menangis lagi, oke?  Paman minta maaf untuk tadi.”

 

Joon Hyun tidak menjawab.  Perhatiannya lebih tertuju pada lembar foto yang sudah berada dikedua tangannya.  Menatap foto itu lekat-lekat, beberapa pertanyaan beruntun kembali mengalir dari bibir mungilnya.  “Apakah Tuan benar-benar hanya tidak sengaja menemukan foto eomma-ku?  Lalu jika benar, kenapa tadi Tuan berkata bahwa eomma-ku adalah istri Tuan?”

 

Dennis membuang nafas kasar.  Menatap bocah kecil dihadapannya, pria itu bertanya-tanya tentang siapa orang tua-nya hingga bocah sekecil ini sudah begitu kritis dan bahkan membuatnya kesulitan untuk menjawab?  Bagaimana orang tua-nya mengajar ia hingga secermat ini?

 

“Kenapa, Tuan?”

 

“Hhhh—.”  Dennis memutar bola matanya, memikirkan jawaban cepat dan tepat yang sekiranya tidak akan menjadi sebuah pertanyaan lain.  “Itu—.”

 

 

Kring—kring

 

“Oh, sebentar.”  Bernafas lega, Dennis mengacungkan satu jarinya pada Joon Hyun, sementara tangan bebasnya mengambil benda berdering dari saku jas berwarna putihnya.

 

Mengerutkan keningnya tidak lama setelah mendekatkan ponsel ke telinganya, kata baiklah keluar dari bibir Dennis bersamaan dengan usainya pembicaraan di telfon.  Kembali menoleh pada Joon Hyun, Dennis memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

 

“Dengar, adik kecil.”  Katanya menurunkan Joon Hyun perlahan dari wastafel hingga kedua kaki mungil itu kembali berdiri tegak.  “Paman harus segera pergi, ada pasien yang harus segera paman tangani.  Lain kali kita akan mengobrol lagi, oke?”  Mengacak perlahan puncuk kepala Joon Hyun, Dennis menggandeng cepat tangan Joon Hyun dan membawanya keluar.  “Orang tuamu dimana?  Apa kau tahu jalan untuk kembali?  Keluargamu ada yang dirawat disini?  Apa kau tahu ruangannya ada disebelah mana?”  Dennis bertanya terburu.  Namun Joon Hyun, bukannya menjawab—anak itu justru merapatkan katupan bibirnya dan gandengan tangan Dennis dilepasnya segera.  “Kenapa?”  Dennis bertanya, kedua alisnya terangkat bingung.  Bukankah hubungan mereka sudah tidak seburuk sebelumnya?

 

“Aku tanya, kenapa Tuan berkata bahwa eomma-ku adalah istri Tuan?”

 

 

Oh.  Dennis memijit keningnya sendiri.

 

“Paman akan jelaskan itu lain kali.  Sekarang paman harus segera pergi dan biarkan paman mengantarmu pada orang tuamu.”

 

“Aku tidak mau bersama Tuan.”  Anak kecil itu merengut, mundur perlahan beberapa langkah dengan kedua tangan yang ia sembunyikan kebelakang.  Pandangan waspadanya yang beberapa menit lalu menghilang, kembali nampak untuk Dennis.

 

“Baiklah…..”  Dennis mendesah pelan dan melangkah keluar dari toilet tempatnya dan Joon Hyun berada.

 

Memanggil seorang perawat yang kebetulan lewat untuk mengantarkan  Joon Hyun pada keluarganya, Dennis kembali masuk sekedar untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.  Setelah perawat yang ia bawa bersedia mengantar Joon Hyun, bagaimana dan apakah Joon Hyun mau bersama perawat tadi untuk bertemu dengan keluarganya sesuai dengan yang ia harap—Dennis tidak tahu sebab ponselnya kembali berdering dan langkah cepatnya untuk meninggalkan tempat itu harus dilakukan.

 

 

 

***

Kedua alis Kyuhyun hampir menyatu ketika tidak melihat Joon Hyun di ruang rawat eomma-nya.  Hanya ada eomma-nya tentu, appa-nya, noona-nya, dan keponakan cantiknya.

 

Dimana anaknya?  Pikir Kyuhyun.  Namun tentu, pria itu tidak mengatakannya.

 

Masuk begitu saja dan duduk pada sofa memanjang dengan latar pemandangan kota sebab jendela besar yang tepat berada dibelakangnya, pria itu bertingkah bagai ia tidak melakukan satu salah apapun.

 

“Kau. Ikut aku.  Sekarang.”  Pantat Kyuhyun bahkan baru saja menyentuh kulit sofa yang begitu halus ketika Ah Ra menunjuknya dengan tatapan menusuk.  Melirik appa-nya yang bahkan membuang muka, juga eomma-nya yang masih terlelap—sambil menghela nafas panjang Kyuhyun berdiri dan mengekori Ah Ra, tepat dibelakangnya.

 

“Ada apa?”  Menggaruk pelipisnya malas, pertanyaan macam itu meluncur begitu saja dari bibir Kyuhyun begitu Ah Ra berbalik dan menatapnya berang.

 

“Kau benar-benar brengsek.  Apa kau tahu itu?”

 

Kyuhyun menghela panjang, sekali lagi.  Memutar matanya malas, pembicaraannya kali ini dengan Ah Ra nampaknya akan lebih panjang dibanding sebelum-sebelumnya dan Kyuhyun sudah bersiap dengan telinganya yang pasti akan memanas.

 

 

“Karena Joon Hyun?”

 

Oh beraninya.  Bagaimana bisa dirinya bertanya dengan begitu santai?  Benar-benar tidak tahu malu.  Kyuhyun tersenyum miris untuk dirinya sendiri, benar-benar menjijikkan.

 

“Jika kau tidak menginginkan Joon Hyun, maka katakan sekarang.  Aku akan dengan senang hati merawatnya dan menganggapnya anakku sendiri.”

 

Mata Kyuhyun menyipit.  “Dia anakku, maka dia hanya akan bersamaku, noona.”

 

“Maka perlakukan dia seperti anakmu, Cho Kyuhyun!  Kau pikir aku membawa Joon Hyun padamu untuk diperlakukan seperti itu?”

 

“Apa maksudmu membawa Joon Hyun padaku?  Joon Ae meninggal dan Siwon tidak menginginkannya, sudah tentu dia bersamaku.”

 

Ah Ra tersenyum miris, wanita itu mengeram tertahan namun tentu berusaha ditutupinya.  “Andai kau mengingat yang sebenarnya.”

 

“Apa yang sebenarnya?  Mengingat apa?”

 

“Mengingat betapa brengseknya dirimu.  Mengingat bagaimana Joon Ae berjuang untukmu dan anak kalian yang kau perlakukan seperti itu.  Mengingat bagaimana harusnya kau berlaku baik pada Joon Hyun, dan mengingat bahwa Siwon memang tidak salah menilaimu.  Kau tahu, Kyu?  Aku benar-benar malu atas apa yang kau lakukan.  Aku dan appa, juga eomma menyesal telah membantumu.”

 

“Oh, jangan mulai.  Ini Rumah Sakit.  Kita bicarakan ini di rumah saja.”  Jengahnya, bosan.

 

“Apa masalahmu sebenarnya?”  Ah Ra memelankan suaranya tanpa mengurangi pandangan berangnya.  Lengan Kyuhyun ditariknya dan karena itu, pria yang hanya terpaut beberapa tahun dibawahnya dan hendak pergi, kembali berbalik.  “Kau tidak seperti ini awalnya pada Joon Hyun.  Ada apa?  Apa yang mengganggumu, Kyu?  Apa yang membuatmu berubah?”

 

“Dia terlalu mirip dengan Joon Ae dan aku selalu merasa bersalah untuk itu.”

 

Ah Ra terkekeh pelan.  “Jangan membohongiku.  Kau bisa katakan alasan macam itu pada orang lain, tapi tidak padaku.”

 

Kyuhyun membuang muka malas.

 

“Katakan padaku.”  Ah Ra menekan.  “Jelas-jelas dulu kau bahagia karena dia sangat mirip Joon Ae.  Lalu sekarang kau katakan bahwa kau tidak bisa dekat dan memperlakukannya sebagaimana harusnya karena dia terlalu mirip Joon Ae dan kau selalu bersalah tiap melihatnya?  Tidak.  Aku tidak bisa menerima alasanmu.  Katakan padaku yang sebenarnya!”

 

“Sudah noona!  Hentikan!”  Sungutnya tidak kalah keras.  Menghentak kasar pegangan tangan Ah Ra, pria itu meluruskan tubuhnya hingga benar-benar berhadapan dengan noona-nya.  “Kau tidak tahu apapun.”

 

“Kau yang tidak tahu apapun!”

 

“Apakah kita harus bertengkar disini?”

 

“Lalu dimana?  Kau selalu pergi dan entah kapan bisa bertemu lagi.  Kita selesaikan saja disini jika perlu.”

 

Kyuhyun mendengus.  “Aku muak pada hidupku.”

 

“Apa?”

 

“Aku muak pada hidupku yang brengsek.  Karena itu, kenapa tidak menjadi brengsek seutuhnya saja?  Menuduh Joon Ae tidak-tidak dan membiarkannya melewati semua hal sendiri, aku bahkan tidak sanggup menatap Joon Hyun dengan kenyataan macam itu.  Bagaimana jika dia tahu bahwa aku sangat amat banyak menyakiti Joon Ae sejak awal?  Aku mempermainkan Joon Ae sejak awal, membuatnya kehilangan segalanya, dan bahkan membuangnya setelah semua hal yang dia korbankan untukku.  Aku!”  Kyuhyun memukul dadanya dengan wajah mulai memerah.  “Aku tidak memberikan apapun pada Joon Ae tapi Joon Ae, dia memberikanku segalanya bahkan saat aku tidak meminta itu.”

 

“Kyu—.”

 

“Kenapa dia memberikanku Joon Hyun?  Kenapa dia tidak menggugurkannya saja hingga aku makin hancur dan berantakan?  Kenapa dia menghadirkan Joon Hyun hingga aku tidak bisa menghancurkan hidupku?  Kenapa dia begitu mencintaiku tanpa memikirkan dirinya sendiri?  Dia meninggalkan mimpinya untukku, meninggalkan satu-satunya keluarga yang dia miliki, dan bahkan meninggalkan harga dirinya untukku.  Lalu kenapa?  Kenapa aku justru menghancurkannya setelah semua hal yang dia berikan dan lakukan padaku?  Kenapa dia masih mencintaiku hingga menghadirkan Joon Hyun?”

 

“Kau—apa yang kau bicarakan?”

 

“Aku ingin dihukum untuk semua kesalahanku.”

 

“Lalu apa hubungannya itu dengan Joon Hyun?!”

 

“Jika dia membenciku, maka bebanku akan sedikit berkurang.”

 

“Kau gila?!”  Ah Ra hampir berteriak.  “Jika kau ingin mengurangi bebanmu!  Perlakukan Joon Hyun dengan baik!  Jika kau ingin menebus rasa bersalahmu!  Sayangi Joon Hyun lebih dari siapapun!  Kau itu bodoh!  Tolol!  Atau apa?!  Dapat darimana kau pikiran gila seperti itu?!”

 

“Maka,”  Kyuhyun memelankan suaranya.  “Jika aku sudah memperlakukan Joon Hyun sebagaimana harusnya, apakah aku pantas untuk di maafkan?  Jika aku melakukan peranku dengan baik, dan kemudian Joon Hyun mengetahui tentang bagaimana jahatnya aku pada eomma-nya, apakah dia tidak akan semakin terluka?  Bukankah, lebih baik aku melanjutkan sikap brengsekku hingga Joon Hyun tidak lebih terluka?”

 

“Kyu—.”  Ah Ra menghela nafas panjang dan menarik Kyuhyun untuk duduk pada kursi panjang yang ada di depan kamar rawat eomma-nya.  Meremas pundak adiknya, wanita itu menggeleng dengan tatapan prihatin.  “Aku tidak tahu bagaimana bisa kau memiliki pikiran macam ini.  Tapi kumohon, jangan seperti ini atau kau akan makin menyesal.  Joon Hyun sudah kehilangan eomma-nya, jangan buat dia kehilangan appa-nya juga.  Jika kau ingin menebus rasa bersalahmu, kau harus memperlakukannya dengan baik.  Jangan begini, Kyuhyun-ah..”

 

“Aku ingin mati, noona.”  Pria itu mendesis.  “Andai tidak ada Joon Hyun, sudah sejak lama aku ingin membunuh diriku sendiri.  Memperlakukan Joon Ae seperti itu, kau tidak tahu bagaimana aku diburu rasa bersalah tiap detiknya.”

 

“Sekarang begini.”  Ah Ra menarik helai rambutnya kebelakang telinga.  “Jika Joon Ae masih hidup, apa yang akan kau lakukan?”

 

“Aku akan mengemis maafnya tidak peduli apapun.  Menariknya untuk kembali berada di sisiku.  Membangun keluarga yang bahagia bersamanya.  Dan, membuatnya tidak pernah menyesal bersamaku.”

 

“Lalu dengan apa yang kau lakukan saat ini, memperlakukan Joon Hyun dengan buruk, apa kau pikir Joon Ae mau untuk memaafkanmu?  Apa kau pikir, Joon Ae mau untuk kembali berada di sisimu?  Apa kau pikir, Joon Ae masih percaya untuk membangun keluarga yang bahagia bersamamu?  Apa kau pikir, Joon Ae tidak menyesal?”

 

“Ini beda ceritanya andai Joon Ae masih hidup.”

 

“Jadi kau tidak mencintai Joon Hyun?  Kau hanya melihatnya karena Joon Ae?  Akan memperlakukannya baik karena Joon Ae dan akan memperlakukannya buruk karena tidak ada Joon Ae?”

 

“Tidak.  Bukan begitu.”

 

Kyuhyun merengut dan meremas rambutnya kuat dengan kedua tangan hingga rasanya ia mampu untuk mencabut seluruh helainya.

 

“Aku hanya tidak bisa menemukan apa yang aku cari dan inginkan.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Aku tidak tahu.”  Kyuhyun menggeleng dengan pandangan putus asanya.  “Aku hanya tidak tahu tentang apa yang aku inginkan dan rasakan saat ini.  Aku tidak bisa merasakan apapun pada siapapun.  Aku bernafas tapi tidak benar-benar hidup, aku— aku benar-benar tidak tahu.”

 

“Kau ingin berlibur?  Beristirahat?”

 

“Entah…”  Jawabnya masih menggeleng.  “Sudah kukatakan aku tidak tahu apa yang aku inginkan dan rasakan.  Berliburpun rasanya akan makin menyedihkan.”

 

“Aku akan katakan pada appa untuk mengurangi beberapa pekerjaanmu dan kau bisa menghabiskan waktu bersama Joon Hyun, mengisi hatimu, Kyu?”

 

“Joon Hyun?”

 

“Ya.”

 

“Tidak.  Tidak bisa, noona.”

 

“Apa?  Kenapa?”

 

“Joon Hyun, entah bagaimana anak itu memiliki appa semenjijikkan aku.”

 

“Maka dari itu kau harus mengambil peranmu dengan baik.  Jangan perlakukan dia seperti itu, Kyu.  Dengarkan aku kali ini, kumohon….  pergilah berlibur dengan Joon Hyun, perbaiki hubungan kalian dan buang jauh-jauh pikiran anehmu itu.  Kau menyesal karena Joon Ae, maka jangan buat dia makin kecewa dan jangan lakukan hal tolol seperti ini lagi.  Kumohon… dengarkan aku dan lakukanlah ini.  Demi dirimu, demi Joon Hyun, demi orang tua kita, dan demi Joon Ae.  Kau tidak ingin mengecewakannya lagi, bukan?”

 

 

***

2008

Kyuhyun memperhatikan ponsel yang ia geletakkan begitu saja di atas meja dengan raut penasaran.  Melihat benda elektronik itu begitu intens, Kyuhyun bagai seseorang yang tengah mempelajari ilmu untuk menggerakkan suatu benda tanpa disentuh.

 

“Jangan membuatku takut.”  Changmin muncul dengan dua cangkir kopi yang salah satunya ia berikan pada Kyuhyun.  Duduk disamping sahabat yang seminggu ini sudah bagai hilang kewarasannya, Changmin menggeleng dan mulai menyalakan TV tidak jauh dari hadapannya.

 

Menyeruput kopinya perlahan, serta mengambil wadah berisi snack—sembari melihat tontonan didepannya, Changmin menyenggol Kyuhyun yang masih duduk dengan punggung membungkuk sebab kepalanya ia ajukan pada ponsel berwarna hitam yang tidak juga bergerak semenjak beberapa jam lalu meskipun sudah menjadi satu-satunya perhatian Kyuhyun.

 

“Kenapa tidak kau hubungi, atau datang ke rumahnya?”  Pria jangkung itu bertanya dengan mulut penuh snack.  “Dia sedang tidak menghindarimu, bukan?  Jika iya, kau benar-benar kalah taruhan, bung.”

 

Kyuhyun melirik Changmin.  Baru saja ia berdecak dan akan membalas ucapan sahabatnya, ponsel yang semenjak tadi ia tunggu untuk berbunyi, akhirnya berbunyi.

 

Ping!

 

Antusias, berpikir bahwa itu adalah pesan dari orang yang seminggu ini menghilang tanpa satu kabar apapun—segera saja Kyuhyun mengambilnya.

 

“Joon Ae?”  Changmin bertanya tidak kalah antusias.  “Apa katanya?”

 

“Bukan.”  Sesal Kyuhyun hingga kedua bahunya menurun setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya.  “Song Ga Yeon .”  Melempar ponselnya ke arah Changmin tanpa berniat untuk membuka pesan Ga Yeon, Kyuhyun menyandarkan punggungnya yang mulai terasa kaku.

 

Memejamkan kedua matanya sembari memijit pelipisnya, Kyuhyun berpikir.  Satu minggu lalu, tidak ada hal salah yang dirinya lakukan pada Joon Ae.  Seminggu lalu, Joon Ae bahkan menelfonnya dengan girang sebab oppa-nya, Choi Siwon, sudah datang.  Seminggu lalu pula, dirinya ditemani Changmin menunggu seharian kedatangan Joon Ae dan oppa-nya, namun mereka berdua tidak kunjung tiba hingga Kyuhyun memutuskan untuk pergi ketika restoran yang menjadi tempat mereka seharusnya bertemu hampir tutup.  Sejak saat itu, tidak ada kabar sama sekali mengenai Joon Ae.  Ponselnya tidak aktif, datang ke rumahnyapun, penjaga rumahnya berkata bahwa Joon Ae sedang pergi.  Selalu begitu.  Ada apa sebenarnya?  Kemana perginya gadis itu?

 

“Hei, Kyu.”  Changmin menepuk pundak Kyuhyun.  “Sebaiknya kau baca pesan dari Ga Yeon.”

 

Song Ga Yeon

Kemarin Na Hee memaksaku untuk mengantarkannya ke kelas balet.  Dia bilang ada gadis baru yang cukup terkenal di kelasnya dan menawarkanku untuk berkenalan serta berteman jika ingin karirku cepat naik.  Katanya, gadis ini sedang dalam masa pemulihan cidera dan seminggu ini mulai kembali berlatih sebelum kembali ke Belanda bulan depan.  Saat aku melihatnya, bukankah itu kekasih mainanmu, Kyu?  Bukankah dia Oh Joon Ae?

Katanya sih, yang sedang bersamanya itu adalah kekasihnya sejak di Belanda.  Namanya John Lee.  Tampaknya kau mempermainkan seseorang yang juga mempermainkanmu.  Dan tampaknya, kau harus mengembalikan tiket taruhan kita karena itu adalah milikku.  Kau baru saja kalah taruhan, bung. ^^

 

“Sialan!”  Kyuhyun mengumpat saat membaca pesan juga foto yang Ga Yeon kirimkan padanya.  Menggenggam ponselnya erat, pria itu berdiri dan melangkah cepat, keluar dari kediaman Changmin dengan isi kepala hampir meledak dan kedua telinga memanas.

 

 

 

 

Dalam pikiran Kyuhyun, mungkin Joon Ae sedang sibuk, mungkin ponselnya hilang, mungkin ada kepentingan yang sangat amat penting hingga tidak sempat menghidupkan ponselnya sekedar untuk memberinya kabar.  Menurutnya, dirinya adalah penting untuk gadis itu yang nyatanya—tidak sama sekali.  Menurutnya, gadis itu sangat mencintainya sebagaimana yang selalu dikatakannya namun nyatanya, tidak.  Tidak sama sekali.

 

“Oh Joon Ae!”  Kyuhyun berteriak kencang begitu membuka pintu kelas balet dimana Joon Ae berada disana.  Menyisir keseluruhan ruang dimana penuh dengan pria maupun wanita, gadis dengan tampilan mencolok sebab fisiknya yang tidak sama dengan sebagian peserta—ditemukannya dengan mudah.

 

Mendekat dengan langkah panjang, tampilan Joon Ae yang bahkan hampir bertelanjang—menurut Kyuhyun, ditambah seorang pria yang Ga Yeon katakan sebagai John Lee—kekasih dari kekasihnya, membuat dadanya memaanas.  “Jadi ini yang kau lakukan!”  Bentaknya makin membuat semua orang disana diam dan berbisik satu sama lain.

 

Joon Ae mengernyit.  Pegangannya dan John Lee terlepas.  Nampak bingung dan belum paham dengan keadaan yang tengah terjadi, atau maksud dari ucapan kencang Kyuhyun, atau bagaimana bisa pria itu menemukannya, gadis itu melihat sekitarnya linglung.  Kelas yang tadinya ramai dengan beberapa ballerina yang tengah berlatih dengan iringan musik, mendadak sunyi-senyap.

 

“Jadi ini yang kau lakukan?  Menghilang selama seminggu tanpa satu kabar apapun.  Kau mempermainkanku?  Dia kekasihmu?!”  Kyuhyun mendorong kasar pundak Joon Ae hingga gadis itu mundur beberapa langkah.  Menunjuk John Lee yang bahkan tidak tahu apapun dan sama bingungnya seperti Joon Ae, Kyuhyun mendekat pada pria itu sekedar melihat tampilannya dari atas hingga bawah bagai menelanjanginya.  “Jadi pria seperti ini pilihanmu?”

 

“Apa?  Tunggu dulu, tidak—Kyu dengar.”

 

“Berhenti membohongiku!”  Kyuhyun menepis kedua tangan Joon Ae yang hendak menyentuhnya.  “Mundur!”  Bentaknya lengkap dengan tangan menunjuk tanpa peduli pada bagaimana kagetnya Joon Ae.  “Aku membencimu.  Jangan katakan apapun dan hubungan kita berakhir!  Kau dengar?!”

 

“Kyu, dengar dulu.”

 

“Sudah!  Apa kau tuli?!  Bukankah sudah kubilang jangan katakan apapun lagi!”

 

“Sorry—.”

 

“Apa kau!”  Kyuhyun mendorong John Lee saat pria itu akan menengahi.  Menatap pria berambut pirang itu benci, Kyuhyun menajamkan pandangannya dan menunjuk John Lee lurus.  “Asal kau tahu, kekasihmu ini sudah bersamaku selama hampir setengah tahun ini.  Apa kau tahu apa yang sudah kami lakukan?  Aku adalah yang pertama untuk semua hal tentang tubuhnya.”

 

“Cho Kyuhyun stop!”  Joon Ae menjerit dengan kedua mata melotot.  Tidak percaya atas apa yang baru saja Kyuhyun katakan.  Menarik lengan Kyuhyun untuk kembali berpandangan dengannya, gadis itu meringis.  “What are you talking about?  Tidak seharusnya kau bicara seperti itu ditempat seperti ini.”

 

Kyuhyun tergelak.  “Kenapa?  Kau malu?”

 

“Kau tidak mau mendengar penjelasanku tentang ini?”

 

“Tidak.”  Pria itu menjawab cepat.  “Untukmu.”  Kyuhyun menoleh sekali lagi pada John Lee.  “Selamat menikmati bekasku.”

 

“Bekas?  Barang?!”  Tanya Joon Ae meninggi.  “Kau melihatku serendah itu sekarang?”

 

Kyuhyun tersenyum tipis mendengar ucapan Joon Ae bersama dengan kedua mata gadis itu yang berair.  “Ya, kau tidak lebih dari sebuah rongsokan untukku.”  Tolehnya dengan pandangan sinis dan berbalik, melangkah pergi begitu saja tanpa peduli atau bertanggung jawab untuk kekacauan besar yang sudah dilakukannya hanya dalam hitungan menit.

 

 

Joon Ae tergelak nyinyir pada dirinya sendiri.  Melihat punggung Kyuhyun yang makin menjauh, gadis itu menghapus air matanya yang mulai menetes.

 

“Is—.”

 

I’m fine.”  Joon Ae menjawab segera.  Menggeser sedikit tubuhnya saat John Lee hendak menyentuh pundaknya, gadis itu tidak melepas sedikitpun pandangannya pada pintu dimana Kyuhyun baru saja menghilang.  “I should go. ”  Ucapnya terburu.  Mengambil segera duffel bag berwarna coklatnya, Joon Ae bahkan hanya mengenakan coat sepanjang lututnya untuk keluar dan menutup tampilannya tanpa sempat untuk mengganti pakaian atau memperbaiki tampilannya.

 

 

 

***

“Kau terlalu berlebihan, Kyu.”  Changmin bersuara.  Kedua tangannya yang berada pada stir nampak sudah profesional hingga ketika pandangannya teralihkan untuk Kyuhyun—itu nampak bukan masalah.  “Ini bukan pertama kalinya kau melihat seorang ballerina melakukan sebuah tarian berpasangan dan kau tahu benar bahwa hal yang mereka lakukan adalah wajar, bahkan pakaian seperti yang Joon Ae kenakanpun wajar untuk seorang ballerina.  Lagipula Joon Ae yang seorang ballerina juga sudah kau ketahui sejak awal.  Lalu kenapa kau harus semarah itu?  Hubungannya dengan pria itu, bukankah lebih baik jika kau menanyakannya dulu dengan baik-baik?  Jangan langsung marah begitu.”

 

“Diam.”  Ketusnya.  “Lagipula kau tahu aku memang harus mengakhiri hubunganku dengan wanita itu.  Dia hanya sebuah taruhan.”

 

“Aku tidak berpikir seperti itu.”  Changmin mengangkat kedua bahunya dengan mata melirik Kyuhyun.  “Kupikir, kau mencintainya.”

 

“Hah!  Tidak.”  Kyuhyun tergelak meski nampak dipaksakan.

 

“Seminggu ini kau bagai orang gila karena tidak bisa berhubungan dengannya.  Kau juga tampak begitu marah saat melihat Joon Ae dengan pria lain.”

 

“Kubilang tidak, ya tidak!”  Kyuhyun menoleh dengan bentakan kencang.

 

Changmin membuang nafas kasar.  “Ya, baiklah, kau tidak mencintainya.  Lagipula memang tidak apa juga jika memang begitu.  Setidaknya, dengan hubunganmu dan Joon Ae yang sudah berakhir… aku tidak akan di kejar rasa takut lagi karena oppa-nya.  Beruntungnya pria itu belum tahu jika kau mempermainkan adiknya, jika dia tahu—kau sudah dimakannya hidup-hidup.  Oh dan, beruntungnya lagi yang membuat kalian berpisah adalah Joon Ae, bukan dirimu.  Tapi kupikir, Joon Ae benar-benar mencintaimu.  Ternyata tidak.  Tentang ucapanmu tadi, memangnya apa saja yang sudah kau lakukan bersama Joon Ae?  Kupikir dia sulit untuk disentuh.”

 

“Bisakah kau diam?”  Kyuhyun melempar pandangan kesalnya.  Melirik Changmin melalui sudut matanya, pria itu benar-benar risih untuk semua hal yang baru saja Changmin katakan.  Sumpah, dirinya tidak ingin mendengar apapun tentang  Joon Ae untuk saat ini.

 

Maka setelah ucapan Kyuhyun itu, tidak ada percakapan lagi di antara mereka.  Changmin berfokus pada jalanan dihadapannya, sementara Kyuhyun mencoba memejamkan mata dengan ingatan mengenai Joon Ae yang ia pikir mencintainya namun ternyata tidak.  Gadis sialan.  Umpatnya berkali-kali hingga mobil yang membawanya terhenti didepan pintu rumah Changmin.

 

“Keluar!”  Joon Ae yang entah bagaimana mengikuti mobil mereka langsung berteriak, bahkan menggedor kaca mobil Changmin begitu kendaraan yang ia ikuti menggunakan taxi itu berhenti dan membuat dua pria didalamnya terkejut.  “Cho Kyuhyun keluar!”  Bentaknya berkali-kali tanpa peduli.

 

Mendecak, Kyuhyun bahkan sudah membuang muka malas.  “Urus dia.”  Katanya tidak peduli dan membuka pintu mobil keras hingga Joon Ae yang berada tepat didepannya hampir terjatuh karena itu.

 

Tanpa peduli atau bahkan sekedar melirik Joon Ae, Kyuhyun langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Changmin.

 

“Kau baik-baik saja?”  Changmin bertanya saat wajah Joon Ae memucat sementara pandangannya jelas tertuju untuk Kyuhyun.

 

Ketika itu, Changmin yakin pastilah Joon Ae belum pernah mendapatkan perlakuan setidak menyenangakn ini sebelumnya hingga wajahnya langsung pucat dan kedua matanya langsung berair.  Lagipula jika dipikirkan, siapa pula yang berani memperlakukan gadis didepannya ini buruk?  Oppa-nya bahkan lebih menakutkan dibanding monster jika menyangkut adiknya.

 

“Jangan ikut masuk.  Aku memperingatkanmu.”  Kata Joon Ae saat Changmin masih sibuk dengan pikirannya.  Melemparkan tasnya pada Changmin, gadis itu bagai sudah siap bertempur ketika menyusul langkah Kyuhyun memasuki rumah Changmin.

 

“Oh.  Benar-benar.”  Pria jangkung yang sebenarnya adalah pemilik rumah dimana sepasang lawan jenis berada itu sudah menggaruk kepalanya frustasi.  Akan jadi seperti apa nantinya rumahku?

 

 

 

***

“Kyu!  Berhenti!”  Joon Ae membentak ketika sosok Kyuhyun yang tengah menaiki anak tangga rumah Changmin sampai dalam pandangan matanya.  “Cho Kyuhyun!”  Bentaknya lagi saat Kyuhyun tidak juga menghentikan langkah kaki lebarnya dan Joon Ae ikut melebarkan langkah kakinya menyusul Kyuhyun.  “Kau salah paham!”  Ucapnya saat berhasil menggapai pergelangan tangan pria itu.  Berusaha membalik tubuh Kyuhyun yang masih memunggunginya, cengkraman tangan Kyuhyun pada pergelangannya justru membuat ia tersungkur di lantai kemudian.

 

“Apa maumu!”  Kyuhyun balas membentak, mengabaikan pandangan terluka Joon Ae padanya.  “Sudah kubilang hubungan kita berakhir!”

 

“Aku tidak mau!”  Ucapnya sengit dan langsung berdiri.  Menghapus air matanya, Joon Ae kembali melangkah untuk mendahului Kyuhyun dan merentangkan kedua tangannya, berharap bahwa itu akan berhasil untuk menghadang langkah Kyuhyun.  “Aku mencintaimu.  Aku dan John hanya—.”

 

“Pembohong!”  Kyuhyun memaki, lengkap dengan kedua tangannya yang mendorong tubuh Joon Ae hingga terantuk tembok.  “Jangan katakan apapun lagi!  Aku membencimu!”

 

“Dengar dulu Kyu…”  Joon Ae mengiba, menyentuh tangan pria yang dicintainya namun disambut oleh sebuah tepisan keras.

 

“Kau bilang mencintaiku tapi seminggu ini menghilang!  Kau bilang mencintaiku tapi bersama pria lain!  dan akan kembali ke Belanda?  Sialan kau Oh Joon Ae!”

 

“Tidak.  Bukan begitu.”  Joon Ae kembali mengejar Kyuhyun saat pria itu kembali melangkahkan kakinya.  Mengekori Kyuhyun tepat dibelakangnya, berapa kalipun Joon Ae berusaha untuk menghentikannya—Kyuhyun selalu mendorong dan menghentikannya.  “Dengar dulu Kyu.”

 

“Sudah pergi sana!  Aku tidak mau bertemu denganmu!”

 

“Aku dan John hanya berteman.” Joon Ae menjelaskan.  Kembali menggapai tangan Kyuhyun saat selangkah lagi mencapai kamar Changmin, kali ini ia memegangnya dengan erat tanpa bisa Kyuhyun hempaskan dengan mudah.  “Kumohon…”  Joon Ae memelas.  “Dengar dulu.”

 

“Apa yang mau didengarkan?!”

 

“Kami tidak seperti yang kau pikir.  Kami memang pernah menjadi kekasih, tapi itu tidak lebih dari urusan panggung dan itu sudah sangat lama, sebelum aku bertemu denganmu.  Pelatih kami menyarankan kami untuk menjadi kekasih agar bisa membuat suasana panggung lebih hidup dan nyata.  Tapi saat kami menjalaninya kami justru makin canggung dan kami sadar bahwa kami hanya cocok dan nyaman menjadi seorang sahabat.  Sungguh demi Siwon oppa, aku tidak mempermainkan dan membohongimu.  Kumohon percayalah, Kyu.  Aku benar-benar mencintaimu.  Tidak ada yang lain.  Sungguh.  Dia kemari karena sedang libur dan karena tahu bahwa cideraku sudah sembuh dan aku butuh latihan, karena itu dia kemari dan kami mulai berlatih bersama.  Kumohon percayalah…. aku sangat mencintaimu dan tidak mau berpisah denganmu.”

 

Kyuhyun mendengus tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Joon Ae.  Deru nafas kasarnya terdengar jelas begitu Joon Ae menghentikan ucapannya dan entah itu akibat terlalu emosi, berjalan cepat dan lebar sejak keluar dari mobil tadi, atau karena berdebat dengan Joon Ae.

 

Namun, ketika Joon Ae masih mengatur nafas tersengalnya dengan pandangan memohon yang masih nampak jelas, kedua tangan Kyuhyun yang berada dalam genggaman Joon Ae justru berbalik.

 

Kyuhyun membalik genggaman Joon Ae hingga ialah yang menggenggam kedua tangan gadis itu.  Menarik kasar Joon Ae hingga tubuh gadis itu terantuk pada tubuhnya, menangkup wajah Joon Ae dengan kedua tangannya erat, pria itu mengarahkan bibirnya pada bibir Joon Ae dan mulai meraupnya kasar tanpa peduli bahwa Joon Ae sedang kehabisan nafas sebab mengejar dan menjelaskan panjang lebar padanya tentang kesalah pahaman yang sedang terjadi di antara mereka.

 

“Kyump—hh—.”  Joon Ae menggeliat gelisah saat dirinya benar-benar kehabisan nafas dan tidak suka dengan bagaimana cara Kyuhyun memperlakukannya.  Berusaha menjauhkan diri dari Kyuhyun dan memukul beberapa kali dada pria itu…. dorongan kerasnya pada akhirnya berhasil.  “Aku tidak bisa bernafas!”  Teriaknya dan menjauhkan diri dari Kyuhyun.

 

Menghirup udara sebanyak-banyaknya, Joon Ae menatap Kyuhyun waspada seolah ia masih tidak ingin berdekatan dengan pria itu. “Kau—hh.. ingin membunuhku?”

 

“Kau pikir begitu?”  Kyuhyun bertanya tanpa sedikitpun rasa bersalah untuk apa yang sebelumnya ia lakukan.  Mendekat pada Joon Ae dengan wajah seriusnya, pria itu menggenggam sekali lagi pergelangan tangan Joon Ae yang mencoba menghentikan langkahnya untuk semakin mendekat.  “Kau mencintaiku?”  Tanyanya.

 

Joon Ae merengut dengan pandangan penuh selidik pada Kyuhyun yang menatapnya tajam seolah hendak menelannya bulat-bulat.  “Apa yang kau inginkan?”

 

Gadis itu mencoba mundur dengan tangan yang berusaha ia lepaskan dari genggaman Kyuhyun.

 

“Kau.”

 

“Jangan macam-macam.”  Joon Ae memperingatkan.  Hatinya mulai khawatir dan tangannya menunjuk Kyuhyun dengan gemetar.  “Jangan.  Macam.  Macam.  Cho Kyuhyun.”

 

Kyuhyun menggeleng tanpa satupun kalimat atas pernyataan penuh penekanan Joon Ae.  Pria itu memperhatikan Joon Ae makin dekat.  Menelusuri keseluruhan wajah Joon Ae yang entah bagaimana baru ia sadari dan benar-benar diperhatikannya baru kali ini.  Kyuhyun bahkan mulai merengut saking seriusnya menatap Joon Ae.  Alis tebal dan rapi gadis itu, hidung kecil dan runcingnya yang sempurna serta tidak berlebih, bibir kecil dan menawannya yang baru dua kali disentuhnya, serta titik hitam pada tulang pipi di sebelah kanannya.  Bagaimana bisa dirinya baru memperhatikan ini?

 

“Kau—.”  Kyuhyun berucap dengan sebelah tangan menyisir rambut halus Joon Ae yang lepas dari ikatannya.  “Baik-baik saja?”

 

“Apa?”  Joon Ae melongo.

 

“Maafkan aku.”

 

Dan siapa yang tidak meleleh jika kekasihnya meminta maaf dengan sangat lembut seperti yang saat ini Kyuhyun lakukan?

 

Joon Ae pikir, Kyuhyun akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak padanya.  Joon Ae pikir, Kyuhyun akan melanjutkan sikap kekanakan dan egoisnya.  Nyatanya, pria itu meminta maaf padanya dengan pandangan tulus seperti yang selalu Siwon oppa-nya tunjukkan ketika terlambat atau membatalkan janjinya tiba-tiba.

 

“Kau, meminta maaf?”

 

“Ya.”  Kyuhyun mengangguk.  Menatap manik mata Joon Ae dalam hingga Joon Ae ikut terpaku padanya.  Mendekat wajahnya perlahan, Kyuhyun mulai menutup matanya saat bibirnya dan bibir Joon Ae kembali bersentuhan.

 

Jangan berpikir lebih, pria itu hanya mengecupnya tidak lebih dari 3 detik.

 

“Aku benar-benar menyesal.  Maafkan aku.”

 

Joon Ae tersenyum lega sembari mengangguk.  “Aku tahu aku tidak pernah salah mencintaimu.  Kau adalah pria terbaik selain oppa-ku.”

 

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?”  Kyuhyun mulai menanyakan tentang hilangnya Joon Ae selama seminggu ini.  Tangannya yang tadi menyisir helai rambut Joon Ae, tetap berlanjut seolah itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihentikannya.

 

“Kupikir kita harus membicarakan ini sambil duduk.”

 

Joon Ae mengambil tangan Kyuhyun yang masih memainkan rambutnya.

 

Menatap Joon Ae sesaat seolah terkejut, pria itu akhirnya mengangguk.  “Ya.  Di kamar Changmin saja.”  Katanya dan langsung menarik Joon Ae tanpa menunggu tanggapan gadis itu.  “Jadi?”

 

Kyuhyun langsung bertanya begitu mereka saling berhadapan dengan ranjang Changmin yang dijadikan sebagai tempat untuk duduk.  “Ada apa dengan pertemuan seminggu lalu?”

 

Oppa berkata padaku bahwa kau mempermainkanku dan hanya menjadikanku taruhan?”

 

“Apa?”

 

“Saat kami datang kau sudah datang lebih dulu bersama Changmin.  Tapi ketika itu aku harus ke toilet, makanya aku meminta Siwon oppa untuk menemuimu lebih dulu.  Tapi saat aku keluar dari toilet, ternyata Siwon oppa sudah menungguku didepan pintu toilet wanita.  Aku pikir Siwon oppa ingin menemuimu bersama-sama dan karena itu menungguku, tapi Siwon oppa langsung menarikku dan membawaku ke dalam mobil.  Siwon oppa terus berkata bahwa kau mempermainkanku dan menjadikanku taruhan.  Ponselku oppa sita dan mempercepat kepulanganku ke Belanda saat dokter pribadi kami berkata bahwa cidera di kakiku sudah sembuh.”

 

Joon Ae terus menjelaskannya dengan rinci seolah tidak ingin ada kesalahapahaman lagi antara dirinya dan Kyuhyun.  Sementara Kyuhyun, pria itu hanya mampu mematung dengan degup jantung cepat dan perasaan was-was.

 

 

 

***

2016

Dennis keluar dari kamar mandi ruang kerjanya sembari menggosok rambut basahnya menggunakan handuk kecil berwarna kuning, dan handuk warna putih dengan ukuran lebih besar lainnya yang melilit sempurna pada pinggangnya.  Menatap sosok istrinya yang mungkin baru saja tiba jika dilihat dari bagaimana wanita itu masih menata bekal makan siangnya di atas meja, Dennis tersenyum dan mendekat.

 

“Apa yang hari ini kau bawa?”  Tanyanya dengan kedua tangan merangkul Joon Ae hingga kesibukan istrinya menata makan siangnya terhenti.  “Beri aku satu ciuman.”  Bisiknya dengan hidung yang sengaja ia usapkan pada sekitar wajah Joon Ae persis anjing mengendus tuan-nya saat pulang bekerja.

 

“Oh.  Hentikan.”  Joon Ae tersenyum geli dan melepas rangkulan tangan Dennis.  Melirik pria disampingnya yang tengah tersenyum, wanita itu ikut menarik kedua ujung bibirnya. “Sudah, hentikan.”  Joon Ae memukul paha suaminya saat pria itu akan mendekatkan wajahnya.

 

Memberikan pelototan mata dengan senyum yang masih terkembang, Dennis hanya mampu menahan tawanya melihat ekspresi lucu yang istrinya buat.  Mengambil potongan apel yang Joon Ae bawa, Dennis mengunyahnya dengan pandangan dan senyum lucu yang masih tertuju untuk Joon Ae.

 

“Jangan melihatku seperti itu.”  Ucap Joon Ae dengan senyum cerahnya tanpa menatap Dennis yang seperti akan mati jika mengalihkan sedikit saja pandangannya dari ia.  “Cepat makan.  Aku tidak mau kau kelaparan seperti kemarin.”

 

Mengambil satu potong sandwich dari salah satu kotak makan yang dibawanya, menyerahkannya pada Dennis, wanita itu kemudian mengambil garpu dan menusukkannya pada potongan wortel sepanjang telunjuk.  “Ayo cepat makan.  Kenapa diam saja?  Waktu istirahatmu hanya satu jam, bukan?  Kau ada jadwal operasi lagi setelah itu.  Ayo, cepatlah habiskan ini semua.”  Kata Joon Ae merujuk pada semua bekal makan siang yang hari ini dibawanya.  Menyuapi Dennis dengan potongan wortel sebab ia tidak sabar saat suaminya itu bahkan tidak bergerak sedikitpun sekedar untuk menggigit sandwich di tangannya, potongan wortel tadi langsung Joon Ae suapkan paksa.

 

“Hentikan.”  Pria itu berucap sambil mengunyah wortel yang baru saja Joon Ae suapkan padanya.  Menggunakan sebelah tangan kosongnya untuk memegang pergelangan tangan Joon Ae agar wanita itu tidak lagi menyuapinya, sebelah tangannya yang memegang sandwich ia ulurkan untuk meletakkan makanan itu pada kotaknya semula.

 

“Apa yang kau lakukan?  Kau harus makan, Den.”

 

“Aku masih kenyang… kau tidak tahu operasi macam apa yang tadi aku lakukan.  Sebanyak dan sesering apapun aku melakukannya, aku masih tidak bisa untuk makan saat ini.”

 

“Lalu?”  Joon Ae melongo dengan kedua tangan terbuka.  “Kau tidak mau makan sampai malam nanti?  Bukankah operasi yang akan kau lakukan sebentar lagi memakan waktu panjang?”

 

“Oh!”  Dennis memberengut.  “Bagaimana bisa kau mengingat semua jadwal operasiku, hm?”

 

Joon Ae tersenyum geli ketika Dennis mencubit ujung hidungnya dan mulai memakan sandwich yang dibawanya perlahan.

 

“Karena aku istrimu.”

 

Dennis hanya mampu mencibir senang ucapan Joon Ae tanpa mengatakan apapun selagi mulutnya mulai mengunyah satu persatu bekal yang Joon Ae bawakan untuknya seperti biasa.  Memakan satu persatu dan menghabiskannya seperti yang Joon Ae inginkan, tidak inginpun jika istrinya yang meminta apalagi istrinya yang membuat bekalnya, rasanya sangat tidak pantas untuk ia menolak.  Maka tentu saja, Dennis mulai menghabiskan satu persatu hidangan yang ada dihadapannya.

 

“Aku tidak sangka bahwa kau akan benar-benar membeli dan membawa masuk sebuah ranjang kemari.”  Ucap Joon Ae menunjuk ranjang kecil tidak jauh dari meja kerja suaminya.  “Apakah boleh membawa ranjang kedalam ruang kerja?”

 

“Jika kau adalah keluarga Choi  Siwon, tidak ada yang tidak mungkin.”

 

Joon Ae tergelak seketika itu juga hingga deret gigi rapinya nampak.  Melirik suaminya yang masih sibuk dengan makanan dihadapannya, wanita itu bangkit dan mendekat pada ranjang yang baru hari ini dilihatnya.

 

“Kupikir kau hanya bercanda saat berkata ingin membeli sebuah ranjang dan menempatkannya di dalam ruang kerjamu.  Ternyata kau serius.”

 

“Kenapa bercanda?”

 

“Kau akan jarang pulang jika seperti ini.”

 

“Apa?”  Dennis menghentikan kunyahannya.  Menoleh pada istrinya yang sudah duduk di atas ranjangnya, pria itu menaikkan sebelah alisnya.

 

“Kau akan tidur disini dan tidak pulang.”

 

“Oh.  Yang benar saja?”  Dennis mengelak.  “Mana mungkin aku membiarkanmu berada di rumah sendirian?  Selarut apapun, aku pasti akan pulang.  Sepenuh apapun jadwalku, aku akan tidur di rumah.  Itu janjiku saat akan menikahimu, kau lupa?  Apa selama ini aku pernah tidur di tempat lain kecuali saat ada tugas ke luar kota?”

 

“Lalu kenapa membeli ranjang?”  Joon Ae merengut, mengusap sprei putih bersih yang sekali sentuh diketahuinya bahwa itu adalah baru.  “Bukankah itu artinya kau akan tidur disini?”

 

Mendapati pandangan memelas Joon Ae, Dennis terkekeh geli.  “Jadi itu yang kau pikirkan?”  Pria itu bertanya dengan langkah menghampiri Joon Ae dan ikut duduk pada ranjang yang hanya untuk ditiduri satu orang saja itu.

 

“Lalu?  Hanya untuk tidur siang?”

 

“Tidak.”  Dennis menggeleng masih dengan senyum mengembang yang tidak juga hilang.

 

“Untuk beristirahat sebentar?”

 

“Tidak juga.”

 

“Lalu?”  Joon Ae mulai mengerutkan keningnya kembali.  “Jika bukan untuk tidur siang atau istirahat sebentar, dan bukan untuk bermalam, lalu untuk apa?”

 

“Untukmu.”

 

“Aku?”

 

“Sambil menungguku kau bisa tidur disini, saat kau kesepian di rumah dan ingin kemari kau bisa tidur disini, dan yang terpenting… kita bisa melakukan sesuatu yang berharga.”

 

“Se—su—a—tu—yang—ber—har—ga?”

 

Dennis tertawa lucu dengan sebelah alisnya yang terangkat dan Joon Ae meringis dengan pandangan horror pada suaminya sendiri.  “Oh.  Kau—.”

 

“Kenapa?”  Dennis bertanya dengan wajah berbinar.  “Kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.”

 

“Dasar gila.”  Maki Joon Ae pelan dengan ujung bibir yang tertarik sementara pandangannya jelas terpaku pada suaminya yang masih tertawa.

 

“Tadi aku bertemu seorang anak kecil.”

 

“Lalu?”

 

“Bayangkan.”  Dennis meletakkan sebelah tangannya pada perut Joon Ae dan mengusapnya pelan.  “Bayangkan jika kau hamil dan kita memiliki anak.  Jika perempuan, dia akan mirip denganku.  Jika laki-laki, dia akan mirip denganmu.”

 

“Aku ingin memiliki 3 anak.”  Joon Ae langsung mengatakannya dengan 3 jari yang terangkat kehadapan Dennis.  “Anak perempuan pertama mirip denganmu, anak laki-laki pertama mirip denganku, dan yang selanjutnya entah perempuan atau laki-laki memiliki setengah bagian dari kita.”

 

“Itu yang kau inginkan?”  Tanya Dennis.  Merangkul pinggang istrinya dan menariknya makin dekat.  “Tampaknya kita harus bekerja keras karena 2 tahun ini kita belum menghasilkan satupun.”  Candanya.  “Kenapa 3?”

 

“Karena aku suka angka ganjil.”

 

“Bagaimana jika 5?”

 

“Asal kau yang melahirkan 2 dari 5 anak itu.”

 

Terkekeh pelan, Dennis mendekatkan wajahnya pada Joon Ae, menyesap bibir lembut istrinya yang juga mulai membalas ciumannya dan sebelah tangannya ikut bergerak perlahan menuju dada istrinya yang ia rasa makin bertambah volumenya kian hari.

 

“Ouch…..”  Joon Ae melenguh hingga meremas lengan Dennis ketika pria itu sedikit menekan ujung dadanya.

 

“Hei, kau mudah terangsang ya sekarang?  Aku bahkan belum lakukan apapun.”

 

“Oh diamlah.”  Joon Ae menggeleng tidak peduli.  Mengalungkan tangannya pada leher Dennis, wanita itu bahkan mendudukkan dirinya pada pangkuan suaminya tanpa permisi dan menggesekkan miliknya pada milik Dennis yang hanya tertutupi oleh handuk dengan lihainya bagai ia biasa dengan semua itu.

 

Dennis hanya mengernyit nikmat sambil menahan keherannya dalam diam.  Ia ikuti apa yang Joon Ae inginkan dan lakukan.  Begitupun ketika Joon Ae melepaskan handuk yang menjadi satu-satunya benda ditubuhnya.  “Kau ingin memulainya lebih dulu?”

 

Joon Ae tersenyum dihadapan Dennis.  Menyentuh otot perut Dennis yang terbentuk, tangan Joon Ae berhenti saat sampai pada tattoo yang ada pada bagian bawa pusar suaminya.

 

“Kenapa?”  Dennis memperhatikan tangan istrinya yang terhenti saat sedikit lagi menyentuh pusat tubuhnya.

 

“Berapa kalipun aku melihatnya, aku tidak tahu bentuk tattoo macam apa yang kau miliki ini.”  Joon Ae turun dari ranjang tempatnya berada.  Duduk pada lantai ruang kerja Dennis, tepat dibawah kaki suaminya, wanita itu menyentuh salah satu tattoo ditubuh suaminya itu serius.  “Awalnya kupikir ini kabel, lalu ubur-ubur.”

 

“Ubur-ubur?”  Dennis hampir tidak bisa menahan tawa kencangnya saat Joon Ae mengatakan itu.  “Bagaimana bisa ini ubur-ubur?”

 

“Lalu?”

 

“Sebuah pedang dalam manga.”

 

“A~.”  Joon Ae mengangguk dengan mulut menganga.  “Tapi, apakah boleh seorang dokter memiliki tattoo?”

 

Dennis tersenyum lebar.  Menarik Joon Ae agar kembali duduk berhadapan dengannya, pria itu mengecup singkat bibir istrinya dan kemudian berbisik.  “Jika kau adalah keluarga Choi Siwon—.”

 

“Maka tidak ada yang tidak mungkin.”  Joon Ae melanjutkan kalimat suaminya dan tawa kencang keduanya memenuhi sudut ruang kerja itu.

 

 

 

***

Duduk seorang diri pada ranjang kecil putranya, menyisir tiap hal dalam kamar Joon Hyun yang terakhir di masukinya beberapa minggu lalu dan terakhir diperhatikannya setiap hal didalamnya entah kapan, Kyuhyun membuang nafas panjang.

 

Beberapa garis halus memanjang nampak pada keningnya.  Pria itu menunjukkan raut seriusnya ketika pandangannya sampai pada foto Joon Ae yang berada pada meja belajar Joon Hyun.  Mendekat, Kyuhyun mengambil salah satu dari 3 foto Joon Ae yang berada pada meja putranya.

 

Tersenyum, Kyuhyun mengusap pelan foto Joon Ae.  “Aku bahkan sudah mulai melupakan wajahmu andai tidak melihat fotomu, Joon Ae-ya.  Apa kau bisa melihatku dari sana?  Jika iya, maaf karena aku tetap menjadi seorang yang mengecewakanmu hingga saat ini.  Jika kau bisa melihatku, kau juga pasti bisa melihat putra kita, Joon Hyun, bukan?  Dia memiliki wajah yang mirip denganmu, sangat.  Seolah dia hanyalah anakmu dan bukan anakku.  Apa kau tahu apa yang saat ini terjadi?  Aku menyia-nyiakan putra kita seperti aku menyia-nyiakanmu dulu.  Kenapa kau mencintaiku?  Kenapa kau lebih memilihku?  Seandainya kita tidak pernah bertemu dan seandainya kita tidak pernah bersama, Joon Ae-ya.  Seandainya, ya… seandainya kita tidak pernah berhubungan maka kau akan memiliki kehidupan yang sempurna dan jauh dari kata menyedihkan.  Mungkin sekarang kau bahkan sangat bahagia karena memiliki suami yang sesuai dengan pilihan oppa-mu, dan kalian memiliki keluarga yang bahagia dengan anak-anak yang lucu.  Maafkan aku, maaf karena aku datang dalam kehidupan indahmu dan merusaknya.”

 

Kyuhyun tersenyum kecut menatap foto Joon Ae.  Mengingat foto itu, mengingat betapa muda dan polosnya Joon Ae saat itu.  Mempercayainya untuk segala ucapan entah jujur atau bohong.  Mengikutinya kemanapun bagai dirinya sangatlah berharga.  “Sekarang aku tahu bagaimana perasaan oppa-mu saat itu.  Oppa-mu benar, kau terlalu bodoh hingga percaya padaku.  Kau bahkan masih sangat muda ketika aku melakukan hal yang tidak sepantasnya padamu.  Maafkan aku.  Aku benar-benar sangat menyesal untuk kita.  Andai aku bisa memutar waktu, aku tidak akan pernah mendekatimu hanya untuk sebuah pertaruhan konyol.  Aku tidak akan merusak gadis semuda, sebaik, dan semengagumkan dirimu.  Maaf—.”

 

 

 

“Ini gila!”  Suara kencang Ah Ra yang tiba-tiba terdengar dari arah ruang tamu, menghentikan segala ucapan menyesal Kyuhyun pada Joon Ae.

 

“Diamlah!  Jangan sampai ada yang dengar!  Bawa Joon Hyun ke kamarnya!  Pastikan anak itu tetap tidur!”

 

Kyuhyun merengut dengan kepala menoleh pada pintu kamar putranya yang terbuka sedikit dimana pembicaraan antara appa-nya dan noona-nya terdengar dari sana.

 

Jangan sampai ada yang dengar?  Apa maksudnya?  Kenapa pula noona-nya marah?  Apakah tentangku?  Tanya Kyuhyun dalam hati.  Masih juga dirinya kebingungan dengan ucapan appa dan noona-nya,  langkah kaki terburu Ah Ra yang bisa didengarnya dan makin terdengar mendekat entah bagaimana membuat Kyuhyun langsung bersembuyi dibawah celah ranjang Joon Hyun.  Berbaring tepat dibawah ranjang putranya, kaki panjangnya yang melewati sudut ranjang Joon Hyun, Kyuhyun lipat.  Dalam hati, pria itu berucap semoga noona-nya tidak sadar bahwa ia bersembunyi dibawah celah ranjang anaknya.  Bukan hanya kebingungan untuk menjawab pertanyaan tentang kenapa dirinya bersembunyi, hal tentang jangan sampai ada yang dengar membuatnya penasaran dan dirinya harus tetap bersembunyi jika ingin mengetahui tentang hal itu.

 

Langkah kaki Ah Ra makin terdengar jelas dan tidak lama kemudian pintu kamar putranya terbuka.  Masih nampak terburu, Ah Ra yang menggendong Joon Hyun segera meletakkan bocah kecil itu ke atas ranjangnya dan bergegas pergi begitu menyelimuti tubuh Joon Hyun.

 

“Ada apa?”  Pikir Kyuhyun saat kembali mendengar suara kencang appa-nya.

 

Kyuhyun makin mengerutkan keningnya.  Selama dirinya tinggal disini, sejak dirinyakecil hingga sedewasa ini, tidak pernah sama sekali noona-nya atau appa-nya berbicara dengan penuh emosi tidak terkendali seperti malam ini.  Maka dengan perlahan, sebab mendengar namanya yang disebut-sebut, Kyuhyun merangkak perlahan keluar dari bagian bawah ranjang anaknya untuk mendengar lebih jauh tentang apa yang mereka berdua bicarakan sebenarnya.

 

“Eomma, hiks—hiks— eomma,”

 

“Eomma?”  Kyuhyun menoleh dan segera keluar dari bagian bawah ranjang anaknya.  “Joon Hyun-ah?  Kau belum tidur?”  Tanya Kyuhyun terkejut.

 

“Appa….”

 

“Eo, wae?  Kau kenapa huh?”

 

Oh.  Kyuhyun merasa jantungnya hampir copot kali ini karena tangisan Joon Hyun.  Menghidupkan lampu kamar putranya, wajah memerah dan mata bengkak anak itu yang baru kali ini dilihatnya—makin menambah beban dan rasa bersalahnya seketika itu juga.  “Kau… kenapa matamu sampai bengkak begini?”

 

Appa—.”  Anak itu meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya erat masih dengan tangis sesenggukan yang rasanya begitu sesak.

 

“Kau kenapa?  Ada apa denganmu?  Katakan pada appa.  Seseorang menyakitimu?”

 

Oh Kyu, kau adalah orang pertama dalam daftar siapa yang menyakiti Joon Hyun.

 

Eomma, eomma belum meninggal.  Eomma masih hidup.  Mereka menyembunyikan eomma.”

84 thoughts on “New Time (Sequel of Time) Part 2

  1. So, fix. Ada campur tangan Siwon kayaknya. Yah, kalo lihat kelakuan Kyuhyun, gak heran lah Siwon gak setuju sama hubungan mereka. Astaga, gak ngira Kyuhyun brengsek banget. Udah jadiin bahan taruhan, manfaatin, gak ngehargain pula. Kirain pertemuan mereka gak bakal secepat ini, tapi ternyata…

    Suka

  2. Demi apa pls gau ga rela kalo joonae balik lagi sama kyuhyun anjiir ia udah brengsek dari dulu keselll!!!! Lebih suka sama daniel udah cocok aku suka sekaliiii lebih serasiihh. Biarin aja kyuhyun biar tau rasa si brengsek itu

    Suka

  3. Oh betapa brengseknya Kyuhyun,,jd slma ini dia hnya mmprmainkan Joon Ae…

    Syukurlah skrg Joon Ae udah pnya suami lg,,, smg dia langgeng ama Dennis,,,dan dikaruniai anak yg lucu2 sprti keinginan mrka,,, dan Joon Hyun biar ikut ibunya aja heheheheheh

    Suka

  4. emang masih ada ya kesempatan ke 3…..

    itumah terserah author aja sih,… kalo menurut.ku jngn buat yang realistis bikin yg biasa.nya bikin baper

    ..good job kak

    Suka

  5. aghhh shock berat dah itu kyuhyun klo tau joon ae masih hidup.. berubah lah kyu supaya kau tidak menyesal dan sayangi joon hyun ..
    kasian joon hyun, pertemukan lah joon hyun dan kyuhyun dengan joon ae thor..

    Suka

  6. makiinn penasaran, akhir ceritanya gimanaa,, apa jonae bakal balik lagi sama kyu ??? trus denis suaminyaaa ??? aaarrghhh….
    dbikin happy ending pleaseeee 😥😥

    Suka

  7. ha? apakah joon ae hamil? kalau iya gmna dong? kyuhyun juga, gmana reaksi kyuhyun pas tau joon ae masih hidup? ihhhh greget bacanyaa 😭😭 ditunggu kelanjutannya thorr semangat!!

    Suka

  8. Reaksi kyuhyun pasti shock deh joon ae masih hidup..
    Dan kyuhyun pasti bakal berjuang mati2an supaya joon ae mau balik lagi..
    Di tunggu part selanjutnya

    Suka

  9. Mau memihak ke kyuhyun rada g rela, soalnya dia kejam bgt sih
    Padahal uda tau kl dia salah dan menyesal, bukan memperbaiki malah semakin memperburuk
    Mudah2an setelah ini kyuhyun baik sama joonhyung

    Suka

  10. Astaga… Kalo memang menyesal harusnya kyuhyun lebih peduli dan menyayangi anaknya…
    Apa joon hyung melihat joon ae di rumah sakit? Curiga nih…
    Hhhmmmmm….
    Lanjut thor…
    Makin penasaran nih…
    Hihihihi….

    Suka

  11. Pertemukan Joon Hyun dengan eommanya please …
    Kyuhyun? Buang saja kalau bisa hahaha dia terlalu bodoh, bukannya menyayangi anaknya karena rasa bersalahnya, justru kebalikannya.
    Ckckckcc

    Suka

  12. Disini hati saya terbagi…. Belahan yg satu buat Dennis… Belahan yg satu lagi buat kyu…. Dan aku penasaran… Ehem… Kemungkinan cerita ini akan mengharubiru, biasanya aku nggak suka sama model cerita yg mengharubiru… Tapi cerita ini bikin penasaran….
    Good job Mrs. Bi_bi….

    Suka

  13. oohhh makin seruh, makin buat was-was sendiri bacanya.
    Penyesalan memang selalu datangnya belakangan, tapi bisa gak KyuHyun perlakuin JongHyun sewajarnya ayah keanaknya. Sudah tau banyak salah sama JongAe.
    Bakalan gimana nanti ini, Dennis, JongAe, KyuHyun?

    Suka

  14. Kasihan joonhyun disini dia jadi korban atas apa yang terjadi ma orangtuanya kyu pasti shock banget klu tau joon ae masih hidup dan udah menikah lagi

    Suka

  15. awalnya aku lupa nich dengan cerita nich yali kelama lamaan bisa dimengerti… hiks..kasihan joon hyun kira kira gimna reaksi kyuhyun mengetahui joon ae masih hidup. gx sabar next paet

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s