One Last Shot Part 9


flynctumblr_oankmhuitu1r1aju5o1_1280

 

Author : Ssihobitt

Tittle : One Last Shot (Part 9)

Category : Romance, NC-21, Chapter

Cast : Cho Kyuhyun & Cha Eungi

Other Cast :Choi Siwon

 

Perjalanan pulang mereka kembali ke apartemen dipenuhi dengan kesunyian yang sangat tidak nyaman. Lagi-lagi mereka menggunakan mode transportasi Metro kota Paris yang malam itu kebetulan dipenuhi sangat banyak orang. Kyuhyun harus berpegangan erat pada tiang yang bisa digapainya sementara tangannya satu lagi melingkar erat di seputar pinggang Eungi, menjaga agar wanita itu tidak terjatuh saat kereta bawah tanah berhenti. Eungi menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun di sepanjang perjalanan dan tetap bungkam hingga akhir perjalanan mereka. Wanita itu sedang sibuk menata perasaan dan pikirannya dari serangan memori yang menyerangnya tanpa ampun barusan.

 

Kyuhyun pun tidak kalah sibuk dengan pikirannya sendiri.

 

Pria itu mengutuk dirinya karena telah memiliki pikiran pendek untuk mundur dari hidup Eungi sekarang. Bagaimana mungkin ia sanggup melepaskan apa yang telah ia bangun dari nol bersama wanita ini, dan sangat mustahil baginya untuk meninggalkan satu-satunya wanita yang pernah dicintainya seorang diri. Kyuhyun sadar bahwa detik ia memutuskan untuk berada di sisi Eungi, adalah detik di mana ia harus bisa bersikap lebih dewasa, dan ia pun berjanji untuk menjadi sandaran bagi wanita itu. Pria itu tahu Eungi membutuhkannya dan Eungi juga telah meminta Kyuhyun untuk tetap berdiri di sampingnya, jadi tidak ada alasan bagi pria itu untuk meragukan Eungi bukan? Yang dibutuhkan wanita itu hanyalah waktu, dan Kyuhyun harus menjadi manusia berjiwa besar untuk memberi Eungi waktu sebanyak-banyaknya yang ia butuhkan.

 

Setelah malam panjang nan emosional yang melelahkan ini berakhir, mereka akhirnya tiba di apartemen sewaan, keduanya terlalu lelah dari kegiatan keliling kota mereka hari ini dan tidak sempat memikirkan apapun selain ‘pulang’ ke apartemen mereka yang lebih nyaman. Sebenarnya Eungi dan Kyuhyun hanya mengunjungi tiga tempat, namun tekanan mental yang mereka hadapi membuat liburan ini terkesan lebih seperti pekerjaan dengan deadline yang ketat ketimbang bersenang-senang. Setibanya mereka di dalam kamar, Eungi langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa, mengambil bantal kecil terdekat dan menutup wajahnya dengan bantal itu. Menikmati kegelapan dan ketenangan semu yang untuk sementara sangat dibutuhkannya.

 

“Noona, kau mau makan malam?” Kyuhyun ikut duduk di samping Eungi.

 

Wanita itu menggeser duduknya untuk bersandar pada dada Kyuhyun, mencari kenyamanan yang selalu ia rindukan dari pria itu. “Ng, aku tidak terlalu lapar sebenarnya, tapi lebih baik kita menyiapkan sesuatu bukan?”

 

Dengan ragu Kyuhyun melingkarkan lengannya pada bahu Eungi, ia masih harus berusaha menghapus pikiran kejam yang ada dalam kepalanya sejak tadi. Wanita inim asih membutuhkan Kyuhyun untuk menjadi sandarannya, dan ia harus kuat. Sayangnya, Eungi bukan satu-satunya orang yang membutuhkan kenyamanan malam ini, Kyuhyun pun butuh waktu untuk menenangkan dirinya, ia sejujurnya sangat mengharapkan Eungi sedikit lebih sensitif untuk menyadari bahwa ia bukan hanya ia yang terguncang hari ini. Kyuhyun membutuhkan pelukan wanita ini, membutuhkan kenyamanan yang bisa diberikan Eungi padanya—Ah, tidak, sesungguhnya pria itu hanya butuh mendengar satu pernyataan dari Eungi: bahwa wanita itu mencintainya dan tidak akan ada yang berubah dari hubungan mereka.

 

Ingin sekali rasanya Kyuhyun memasukkan seluruh barang mereka ke dalam koper dan segera pergi ke bandara untuk mengajak Eungi pulang. Wanita itu sudah menuntaskan perjalanan berkabungnya, dan Kyuhyun benar-benar hanya ingin pulang dari kota yang kini juga masuk ke jajaran ‘tempat yang tidak akan pernah kukunjungi’ baginya. Tapi ia tidak sampai hati memaksa Eungi untuk menuntaskan urusannya dengan tergesa-gesa, Kyuhyun sudah berjanji untuk mendampinginya dan meskipun ia pernah bilang bahwa jika semua menjadi terlalu berat untuknya, ia akan mengajak Eungi pulang; pria itu tidak bisa benar-benar melakukannya. Karena Eungi hanya membutuhkan waktu sedikit lagi dan Kyuhyun belum  mau menyerah pada pikiran-pikiran jahat dalam kepalanya.

 

“Kyu, aku sangat menghargai apa kau kau lakukan hari ini.” Ujar Eungi sambil menanamkan wajahnya pada dada Kyuhyun, “Aku tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa terima kasihku.”

 

Pria itu mengeratkan pelukan pada tubuh ringkih kekasihnya dan mengecup puncak kepala Eungi dengan sayang, menghirup aroma manis dari shampo yang digunakannya, menikmati kehangatan tubuh mereka yang berdekatan.

 

Momen khhidmat mereka terganggu oleh suara nyaring yang muncul dari perut Kyuhyun, mereka sarapan telat sekali pagi tadi, hanya makan sepotong sandwich di siang hari dan belum sempat mencari makanan dalam bentuk apapun sesudahnya—jelas saja perut pria itu memberontak.

 

Eungi terkekeh geli mendengar suara dari perut Kyuhyun. “Ayo kita beli makan malam.” Ujarnya sambil mencubit hidung Kyuhyun.

 

“Aku malas jalan.” Rengek Kyuhyun, “Aku sudah menyimpan nomor restoran asia di dekat sini, mereka menyediakan jasa delivery. Sebentar biar kutelpon.” Ia meraih kantung celana belakangnya untuk mengambil ponsel.

 

Pria itu menautkan alisnya keheranan sambil terus menepuk seluruh kantung yang ada di celananya. Seluruh kantongnya kosong, ia bahkan berusaha merogoh masing-masing kantung untuk memastikan.

 

“Ada apa Kyu?” Tanya Eungi heran setelah kekasihnya bergerak gelisah sambil mencari-cari sesuatu.

 

“Aneh sekali, perasaan aku menaruh ponselku di kantung.” Kyuhyun bangkit untuk mengambil jaket tipis yang digunakannya siang tadi, merogoh kantung jaketnya dengan cemas.

 

“Mungkin kau meninggalkannya di meja samping ranjang?” Eungi meyahut.

 

Kyuhyun menggelengkan kepalanya cepat, “Kita berfoto di Sacre Coeur menggunakan ponselku, aku yakin sekali aku membawanya hari ini. Tolong telepon nomor ponselku noona.”

 

“Oke.” Eungi mengambil ponsel dari tote-bag yang ia bawa hari ini dan segera menekan nomor yang sudah disimpan pada speed-dial nomor satunya. “Kyu, ponselmu tidak aktif.”

 

Kyuhyun menghela napas sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya. “Ugh, apa jangan-jangan dicopet.”

 

Eungi mengakat kedua bahunya bingung sambil terus mencoba menghubungi ponsel Kyuhyun. “Wow, kota ini benar-benar—bahkan pencurian ponsel di Seoul saja sudah tidak pernah terjadi! Semiskin apa kriminal-kriminal di Paris ini sebenarnya sampai ponsel saja dijadikan komoditas curian.”

 

Kyuhyun duduk kembali ke samping Eungi dengan ekpresi yang lebih kusut dari sebelumnya. “Aku benci Paris.” Ujarnya.

 

“Yeah, aku juga. Kita tidak akan kembali ke kota ini lagi dalam hidup kita!” Tambah Eungi menyetujui pernyataan Kyuhyun. “Apa banyak data penting di dalam ponselmu?”

 

“Foto-foto kita.” Balasnya singkat.

 

Eungi tersenyum dan memeluk Kyuhyun erat. “Aku juga menyimpan foto-foto kita di ponselku, aku bisa mentransfernya untukmu nanti setelah kita tiba di Seoul, ng?”

 

“Tapi aku tetap masih kesal.” Balas Kyuhyun jujur. Sepertinya mood-nya benar-benar hancur lebur hari ini.

 

Tiba-tiba Eungi ingat hal yang lebih penting dari ponsel, “Apa dompetmu masih ada? Bagaimana dengan seluruh ID-card mu, paspor, serta surat perjalanan?”

 

“Aku tidak membawa dompetku, hanya membawa beberapa lembar uang Euro di kantung depanku—uang itu juga masih selamat di situ. Paspor dan dompetku selalu kusimpan di dalam koper, aman bersama seluruh tanda pengenalku.” Jelasnya, “Hanya ponselku.”

 

“Maafkan aku.”

 

Kyuhyun terkekeh, “Hey, kau bukan orang yang mencurinya, mengapa kau harus minta maaf. Tidak apa-apa, aku bisa beli yang baru nanti, jangan lupa kirim foto-foto kita, ng?”

 

Eungi mengangguk.

 

“Aku akan keluar sebentar untuk beli makan malam, kau belum bosan dengan makanan dari restoran itu bukan?”

 

“Belum, apa perlu kutemani?” Tawar Eungi.

 

“Istirahatlah, noona. Aku akan kembali segera.” Pria itu mengacak rambut Eungi.

 

“Baiklah, sementara kau belanja, aku akan berendam dalam bath-up dengan nyaman.” Ia menyeringai nakal pada Kyuhyun, “Atau mungkin kau mau bergabung denganku?”

 

Jelas pria itu tergoda dengan tawaran menggiurkan dari Eungi, tapi malam ini bukan waktu yang tepat untuk memaksakan keintiman mereka. Eungi masih terlihat sedih, dan perasaan Kyuhyun sedang kacau—ia tidak mau memaksakan kondisi mereka dan menggunakan sex sebagai jalan keluar dari kegundahan yang sedang mereka alami.

 

“Kurasa malam ini kita harus menahan diri, noona.” Kyuhyun tersenyum hangat sebelum mengecup bibir Eungi lembut, tidak ingin terkesan seperti menolak Eungi mentah-mentah dan membuat wanita itu sedih. “Tapi aku akan mengingatkanmu mengenai rencana berendam bersama, kau hutang satu treatment padaku.” Tambahnya dengan cengiran lebar.

 

“Arraseo.” Wanita itu mengangguk lemah.

 

*

 

Eungi berjalan bolak-balik dengan gelisah dalam apartemen sewaan mereka, rasanya ia menghabiskan waktu cukup lama untuk berendam, namun Kyuhyun belum juga kembali dari membeli makanan. Wanita itu tidak terlalu mempermasalahkan, karena dalam hati membatin mungkin Kyuhyun butuh waktu untuk menenagkan pikirannya sendiri sekalian berjalan-jalan tanpa Eungi.

 

Karena wanita itu juga bisa melihat bahwa ia bukan satu-satunya orang yang terpengaruh dari rangkaian acara mereka hari ini. Ekspresi pria itu sangat murung dan Kyuhyun terlihat seperti sedang berpikir keras sepanjang perjalan pulang tadi.

 

Eungi sangat bisa menerima fakta bahwa Kyuhyun sekarang mungkin sedang merasa sangat tidak nyaman karena sekapnya. Memang pria itu hanya diam saja tanpa mengutarakan pendapatnya, tapi Eungi tidak bodoh, ia bisa mengamati air muka Kyuhyun yang suram dan mood pria itu yang semakin malam semakin memburuk—dan sejujurnya Eungi takut menanyakan Kyuhyun mengenai perasaannya, karena khawatir pria itu justru tersinggung jika Eungi terkesan meragukannya.

 

Karena wanita itu tetap berusaha untuk berpikir positif, ia memutuskan untuk langsung mengenakan piyama tidurnya dan mengambil laptop dari laci di samping tempat tidur. Eungi tidak merasa lapar sama-sekali, luapan kesedihan yang ia rasakan hari ini sepertinya cukup membuatnya merasa muak menyentuh makanan dalam bentuk apapun. Saat ini, kepala Eungi hanya dipenuhi dengan berbagai asset memori baru untuk dituangkan ke dalam paragraf-paragraf ke dalam bukunya. Ia segera mencari posisi yang nyaman di sofa sebelum mulai serius menuangkan serpihan-serpihan memori yang belum sempat ia tulis sebelumnya.

 

Sesungguhnya, menulis ulang semua ini justru memaksa Eungi untuk mengenang lagi semua kenangan pahit itu, tapi ia bersumpah bahwa ini adalah kali terakhir dirinya akan masuk ke dalam lubang kesedihan ini—ia akan mencoba menuntaskan bagian paling sulit dari bukunya dan segera melupakan tragedi ini dan memulai lembaran baru hidupnya dengan pria yang telah setia menunggunya. Eungi pun bersumpah, bahwa ini adalah kali terakhir ia akan menangis untuk tunangannya yang telah wafat. Buku ini adalah persembahan terakhir dan cara yang menurut Eungi pantas serta terhormat untuk mengenang pria yang telah berjasa menyelamatkan dirinya.

 

Eungi menambahkan detil-detil yang diingat ke dalam draft bukunya, menghiraukan pedih dalam hatinya dan terus memaksakan diri untuk menuntaskan kisah pembantaian itu malam ini, memilih untuk menuangkan rasa sakitnya ke dalam kata-kata. Kata-kata yang suatu hari akan dibaca banyak orang, agar mereka paham tragedi yang terjadi, agar orang lain bisa memahami situasi mencekan itu dari sudut pandang orang pertama yang berhasil bertahan melaluinya.

 

Ia tahu, jika bukunya terbit nanti, tidak akan ada dampak yang signifikan bagi dunia, bukunya tidak akan menghentikan propaganda keparat yang berlangsung di dunia ini. Tapi paling tidak, buku ini bisa menjadi saksi bisu sejarah yang akan terus hidup, layaknya buku harian Anne Frank yang kini menjadi bukti dari sisa-sisa propaganda Nazi yang kejam.

 

Wanita itu terus mengetik, tidak mempedulikan beratnya kedua kelopak mata yang sudah menuntut untuk terpejam, tubuhnya sangat ingin direbahkan di atas ranjang yang nyaman, tapi semangatnya membara malam ini dan ia masih tetap memaksakan diri. Untuk sesaat, Eungi lupa bahwa Kyuhyun belum juga kembali dari membeli makan malam.

 

Kyuhyun kembali ke apartemen mereka lewat tengah malam. Ia tahu bahwa waktu yang digunakannya untuk membeli makan malam terlampau lama. Tapi perjalanan pendek yang seharusnya hanya memakan waktu sepuluh menit ternyata menjadi panjang karena ia baru saja bertemu dengan orang yang paling tidak ingin dilihatnya di Paris.

 

Pria itu mencoba untuk kembali pada Eungi secepat mungkin, ia lebih khawatir dengan kekasihnya ketimbang dengan berita yang baru diterima dari orang yang baru ditemuinya. Kyuhyun tidak mau sampai Eungi merasa kesepian selama ia pergi membeli makan, pria itu paham tingkat protektif dan kekhawatiran Eungi pada dirinya sangat tinggi dan ia tidak mau kekasihnya gelisah.

 

Dengan mood yang semakin rusak, Kyuhyun meletakkan makan malam mereka yang sudah dingin. Pria itu baru saja selesai melakukan perbincangan yang cukup menghabiskan waktu dengan orang yang tidak disukainya, perbincangan mereka pun sukses menambah daftar buruk dalam harinya. Sepertinya malam itu Kyuhyun benar-benar membutuhkan Eungi, ia berharap bisa menuangkan kegundahannya pada Eungi setibanya di kamar mereka, tapi ternyata wanita itu sudah tertidur dengan posisi yang tidak nyaman di atas sofa.

 

Kyuhyun tersenyum pahit melihat kekasihnya yang tertidur sambil menyandar di sofa, kepalanya lunglai ke belakang dan mulutnya sedikit terbuka, jemari Eungi masih berada di atas keyboard laptop yang terbuka di pangkuannya.

 

“Aish, Cha Eungi. Bisa-bisanya kau tertidur dengan laptop di hadapanmu. Dasar kutu buku.” Kyuhyun berdecak pelan sambil memindahkan laptop dari pangkuan Eungi.

 

Pria itu menggendong Eungi dengan mudah dan memindahkan tubuh kekasihnya ke atas ranjang mereka, menutupi tubuhnya dengan selimut sebelum memberikan ciuman selamat malam pada kekasihnya. Ia mengambil napas dalam, mencoba fokus pada wajah polos Eungi yang terlelap di hadapannya, mencari kenyamanan yang sangat ia butuhkan malam ini.

 

Rasanya Kyuhyun siap meledak. Hari ini ia harus menapak melewati jalan kenangan Eungi dan Siwon, hari ini ia harus bersikap dewasa dan menyembunyikan keresahannya, hari ini ia juga harus menghadapi bentuk kejahatan kota Paris dalam wujud pencopet yang mencuri ponselnya. Seolah semua itu belum cukup membuat harinya buruk, ia juga harus bertemu dengan seseorang yang sukses membuat dirinya merasa seperti sampah.

 

Ia membutuhkan Eungi malam ini.

 

Ia ingin wanita itu mendekapnya, ia ingin wanita itu mengutarakan kata-kata yang membuatnya nyaman, sekali ini ia ingin berlindung pada Eungi, ia ingin melihat dirinya melalui kacamata Eungi yang selalu menempatkannya di tempat yang tinggi. Namun Kyuhyun pun tidak tega mengganggu tidur lelap wanita ini. Pria itu menghela napas panjang, mengecup kening Eungi sekali lagi sebelum ia beranjak untuk membereskan pekerjaan Eungi dalam laptopnya—setidaknya ia harus menekan ctrl+S pada apapun yang sedang digarap wanita itu, sebelum Eungi teriak histeris besok pagi karena pekerjaannya hilang belum tersimpan.

 

Layar laptop langsung menyala saat Kyuhyun menekan space bar, niat awalnya yang hanya ingin menutup berubah saat ia menyadari apa yang sedang dikerjakan Eungi barusan. Kesabaran pria itu habis saat ia membaca draft yang tertulis di laptop Eungi. Kyuhyun paham bahwa ia tidak seharusnya menginvasi privasi Eungi seperti ini, dan sekarang ia paham mengapa Eungi bersikeras melarang Kyuhyun untuk membaca draft awal bukunya.

 

Malam itu, sisa-sisa akal sehat yang masih melekat pada Kyuhyun lenyap.

 

*

 

Awalnya Eungi tertegun keheranan, karena ia membuka mata keesokan paginya dalam posisi sudah berbaring nyaman di atas ranjang, lengkap dengan selimut menutupi tubuhnya, padahal ia tidak ingat berjalan dari sofa menuju ranjangnya. Wanita itu langsung tersenyum simpul, pasti Kyuhyun yang menggendongnya semalam. Ia menguap sambil menggeliat panjang sebelum bangkit dari posisi tidurnya, langsung mencari-cari sosok Kyuhyun di dalam ruangan mereka.

 

Ia beranjak dari ranjangnya untuk berjalan menuju dapur kecil di apartemen itu dan menyadari beberapa bungkus makanan yang sepertinya Kyuhyun beli semalam. Pasti pria itu kembali malam sekali kemarin sampai Eungi ketiduran, Eungi berdecak kesal, seharusnya ia sanggup menunggu pria itu kembali bukannya malah tertidur, tapi tubuhnya sangat letih kemarin dan ia berharap Kyuhyun bisa memaklumi keteledorannya kali ini.

 

Eungi berjalan ke arah kamar mandi, mengetuk pintunya kalau-kalau Kyuhyun ternyata di dalam, tapi ternyata ruangan itu kosong. Ia memeriksa pintu utama apartemen sewaan mereka dan menyadari bahwa sepatu Kyuhyun tidak ada—pasti pria itu sedang mencari sarapan pagi untuk mereka seperti biasa, batin Eungi

 

Cha Eungi menarik napas dalam sambil menyengir konyol, bagaimana mungkin pria itu bisa memutar-balikkan dunia Eungi seperti ini. Ia benar-benar merasa seperti orang yang sedang jatuh cinta pagi ini. Tidak melihat Kyuhyun hanya beberpa jam saja sudah menimbulkan rasa rindu yang membuatnya resah sekarang, nampaknya wanita ini tidak bisa berlama-lama terpisah dari kekasihnya. Eungi sedikit murung karena Kyuhyun tidak ada di sampingnya pagi ini saat ia terbangun, wanita itu ingin memeluk kekasihnya erat, ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama pria-nya, ia ingin membanjiri Kyuhyun dengan ciuman selamat pagi dan sekali saja Eungi ingin menukar perannya sebagai orang yang menyiapkan sarapan bagi mereka di kota ini. Wanita itu tertawa sendiri pada gambaran yang melintas dalam kepalanya, merasa bahwa kerinduannya akan pria itu terkesan konyol sekali, padahal Kyuhyun tidak pergi ke mana-mana.

 

Alih-alih menghayal yang aneh, Eungi memilih untuk meracik kopi untuk mereka berdua dan sambil menunggu Kyuhyun kembali, ia membuka buku second-hand yang kemarin sempat dibelinya saat berjalan ke Sacre Coeur. Niatnya ia hanya ingin melihat bab awal pada buku itu, tapi kebiasaannya yang terlalu asik sediri ketika membaca membuat Eungi lupa waktu dan justru menghabiskan setengah buku itu dalam sekali baca. Ketika ia mengangkat wajah dari bukunya, waktu sudah menunjukkan nyaris tengah hari.

 

Sekarang Eungi mulai bingung, mengapa Kyuhyun masih belum kembali juga ke apartemen. Ia mulai cemas dan secara otomatis langsung menghubungi ponsel Kyuhyun untuk menanyakan keberadaannya—dan baru ingat bahwa ponsel pria itu telah dicuri malam sebelumnya. Wanita itu mulai khawatir dengan keberadaan Kyuhyun, pikiran buruk mulai melintas di kepalanya, ia takut Kyuhyun tersasar, atau lebih buruk lagi pria itu bisa saja diculik.

 

Dengan gusar wanita itu berjalan mondar-mandir di depan jendela besar apartemen sewaan mereka, fokus matanya ditujukan ke bawah, memantau jalanan untuk mencari-cari sosok Kyuhyun yang masih belum kelihatan. Saat kesabarannya habis, Eungi memutuskan untuk turun dan menunggu Kyuhyun di depan lobi masuk apartemen saja.

 

Wanita itu menunggu dengan resah selama kurang lebih satu jam, namun pria yang dinantinya masih belum juga muncul. Ia mulai mengoceh pada dirinya sendiri dengan panik sambil mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pada Kyuhyun. Akhirnya penjaga pintu yang sejak tadi berdiri dalam diam menyaksikan kegelisahan Eungi merasa iba padanya, dan menanyakan alasan dari kebingungan wanita itu menggunakan kosa kata Bahasa Inggris seadanya.

 

Eungi menjelaskan padanya—dalam Bahasa Perancis yang lancar—bahwa ia menanti kekasihnya yang belum terlihat sejak ia membuka mata pagi ini. Eungi menjabarkan ciri-ciri Kyuhyun, tinggi tubuh pria itu, fitur wajahnya, jaket yang ia kenakan—berharap penjaga pintu itu sempat melihat sosok Kyuhyun pagi ini.

 

Penjang pintu hanya menggeleng, ia menjelaskan bahwa shift-nya dimulai saat fajar dan ia tidak melihat ada pria berparas asia dengan deskripsi yang Eungi sebutkan keluar dari apartemen ini.

 

Detak jantung Eungi mulai berdegup tidak beraturan. Jika pria ini tidak melihat Kyuhyun sejak fajar, maka Kyuhyun keluar sebelum shift penjaga pintu ini mulai—apa yang dilakukan pria itu pagi-pagi buta di kota ini?

 

Eungi semakin khawatir.

 

Kota Paris sudah memberinya banyak alasan untuk gelisah dan ia tidak rela membuang sedetik pun untuk menyerah pada kejahatan yang mungkin mengintai mereka di sini. Setelah memaksakan diri untuk tenang dan berpikir dengan waras, akhirnya Eungi mendapat sebuah ide brilian.

 

Wanita itu segera berlari ke kamar mereka untuk mencari ponselnya sendiri dan segera menelepon kedutaan Korea Selatan. Awalnya Eungi menjelaskan kisahnya dengan cepat sehingga membuat pegawai keduataan kebingungan. Tapi setelah ia mengulang kembali informasinya dengan perlahan, akhirnya pegawai kedutaan yang berbicara dengannya di telepon mulai paham duduk masalah Eungi. Seperti biasa, pegawai kedutaan meminta Eungi untuk tenang dan memintanya untuk memberikan data-data penting berkaitan dengan Kyuhyun, memberikan nomor ID Kyuhyun serta paspor untuk membantu kecepatan pelacakan mereka. Namun, mereka belum bisa berbuat banyak karena syarat untuk menyimpulkan seseorang ‘hilang’ adalah setelah keberadaannya tidak bisa dipastikan lewat dari 24 jam.

 

Eungi langsung mendebat syarat yang menurutnya konyol. Ia berargumentasi bahwa 24 jam bisa saja terlambat untuk melakukan pencarian—bahkan sebagai usaha paling putus asanya, Eungi mengambil contoh dari refrensi film-film penculikan yang pernah ditontonnya. Pegawai kedutaan yang berbicara dengan Eungi akhirnya menyerah pada celoteh tanpa henti dan argument Eungi dan akhirnya meminta dokumen perjalanan Kyuhyun untuk segera melacak keberadaan pria itu.

 

Eungi ingat kemarin Kyuhyun bilang bahwa seluruh dokumennya tersimpan rapi di dalam kopernya, jadi ia meminta sedikit waktu pada pegawai kedutaan dan meminta mereka untuk meneleponnya kembali lima menit ke depan.

 

Wanita itu menemukan koper hitam milik Kyuhyun, kuncinya terbuka maka ia bisa dengan leluasa mencari dokumen yang dibutuhkannya. Eungi mencoba mengingat kembali detil yang Kyuhyun katakan kemarin mengenai surat-surat perjalannya, pria itu jelas-jelas berkata bahwa semua ia simpan dalam kopernya—tapi setelah mengobrak-abrik seluruh isi koper Kyuhyun, Eungi benar-benar tidak bisa menemukan satu pun dokumen penting milik pria itu.

 

Ponselnya berbunyi kembali, pegawai kedutaan telah menelponnya balik sesuai janji. Mereka menanyakan tentang informasi penting yang ada dalam dokumen perjalanan kyuhyun dan Eungi kebingungan bagaimana cara menjelaskan bahwa seluruh dokumen pria itu hilang, padahal barang-barang lainnya masih ada di dalam koper.

 

“A—aku, tidak bisa menemukan dokumennya.” Sura Eungi mulai bergetar, ia panik dan benar-benar kebingungan sekrang.

 

“Eungi-ssi, apa kau baik-baik saja?” Tanya pegawai kedutaan. “Kami akan membantumu untuk melihat rekam jejaknya segera. Bisa kau beri tahu kami info mendasar tentang pria ini? Tanggal lahir, nama lengkap dan alamatnya di Korea Selatan? Kami akan meneruskan informasi ini segera ke polisi dan petugas imigrasi.”

 

Eungi mengatur napasnya, mencoba mempertahankan sisa-sisa kewarasan dalam dirinya. Ia memberi tahu informasi umum tentang Kyuhyun dan menutup kembali telponnya sembari menunggu kabar dari kedutaan.

 

Tubuh wanita itu bergetar hebat karena ketakutan sekarang, ia membayangkan hal buruk terjadi pada Kyuhyun, namun bukan itu yang ia takuti sekarang.

 

Hati kecilnya menyadari ada kejanggalan dari kejadian ini, namun Eungi menolak untuk berpsekulasi lebih jauh—ia tidak mau membuat asumsi yang akan menghancurkan dirinya sekarang. Meskipun sesungguhnya tidak sulit bagi Eungi untuk menyatukan seluruh kepingan puzzle yang tersebar di otaknya, wanita itu hanya tidak punya keberanian untuk menarik kesimpulan sadis yang mulai terlihat nyata.

 

Ia memutuskan untuk menyibukkan diri selama menunggu kabar dari kedutaan. Ia membersihkan seluruh apartemen mereka, melipat baju-bajunya dan baju Kyuhyun dengan rapi, ia mencuci seluruh piring yang ada di dapur dan baru dua jam kemudian ponselnya kembali berdering.

 

Eungi mengangkat dengan gugup, dan berita yang diterima sukses menghancurkan hatinya.

 

“Pria yang kau cari baik-baik saja, Eungi-ssi. Cho Kyuhyun terdaftar dalam nama penumpang pesawat yang telah lepas landas menuju Seoul pagi ini. Nama pria itu juga tercatat pada dokumen imigrasi, ia sudah meninggalkan Paris sekarang. Kuharap berita ini membuatmu tenang.” Jelas petugas kedutaan tanpa dosa.

 

Puzzle-puzzle yang Eungi hiraukan sebelumnya kini tersusun menjadi satu gambar rapi dalam otaknya. Asumsi yang sejak tadi ia coba sangkal menjadi kenyataan dan tiba-tiba saja ia lupa cara untuk bernapas.

 

Eungi mengucapkan terima kasih dengan singkat, menutup teleponnya dan menatap nanar pada koper Kyuhyun yang masih terbuka di dekatnya sebelum gravitasi menarik tubuhnya jatuh ke lantai.

 

Tangannya bergetar hebat, berapa kali ia mencoba berdiri namun seluruh tenaga yang ada pada dirinya lenyap. Ia tidak bisa berpikir sekarang, ia mencoba menerima berita itu dengan tenang namun hatinya terasa sangat sesak.

 

Mustahil rasanya untuk bisa tetap tenang setelah pihak kedutaan memberitakan bahwa Kyuhyun baru saja terbang meninggalkan Paris—Kyuhyun baru saja meninggalkannya.

 

Sebuah kalimat muncul dalam memori Eungi tanpa bisa dicegahnya, kalimat manis yang kini justru menyayat-nyayat hatinya dengan kejam:

 

“Noona, jika ini berlebihan untukmu, kau bisa melambaikan bendera putih dan detik itu juga aku akan membawamu pulang, oke? Aku akan mendampingimu sepanjang waktu. Dan kalau hal itu menjadi terlalu berlebihan untukku, aku juga akan melambaikan bendera putih padamu dan kita tetap akan kembali ke rumah—yang pasti, aku tidak akan pergi dari sisimu, kita akan selalu bersama menghadapi ini. Aku janji.”

 

Pria itu baru saja melambaikan bendera putih dan membawa dirinya untuk pulang, hanya saja ia lupa satu detil kecil, ia tidak membawa Eungi bersamanya.

 

*

 

Wanita itu terdampar di sebuah kota kecil yang ia sendiri tidak tahu persis di mana lokasinya hanya beberapa jam setelah ia menerima berita menyakitkan tadi. Sejujurnya ia lupa bagaimana caranya bisa tiba di sini, yang masih mampu diingatnya hanyalah bertapa singkatnya waktu yang diambil Eungi untuk membereskan seluruh pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam koper, ia juga ingat ketika ia memanggil taxi di pinggir jalan dan mengabaikan seluruh prinsipnya yang tidak mau menggunakan mode transportasi itu. Eungi ingat ia minta diantar ke Gare du Noord, stasiun kereta utama di kota Paris untuk membeli tiket sekali jalan ke mana pun—asalahkan kereta itu segera berangkat membawanya keluar dari Paris.

 

Lagi-lagi kota itu menorehkan luka dalam pada hati Eungi yang belum sembuh, serangan pertama mungkin masih mampu dilawannya, namun serangan kedua kali ini membuat wanita itu tidak lagi sanggup untuk menghirup udara kota yang benar-benar dibencinya sekarang.

 

Eungi membawa langkahnya keluar dari stasiun kecil tempat kereta tadi membawanya. Sisa-sisa tenanganya hanya kuat mengantarkan langkah Eungi sampai ke hotel terdekat dalam jarak pandangnya. Resepsionis hotel menyambutnya ramah dan memberikan Eungi kunci kamar agar Eungi bisa segera beristirahat. Wanita itu langsung membayar dengan uang cash yang ia bawa, menghindari segala bentuk pembayaran dengan kartu yang bisa membuat keberadaannya terlacak. Bellboy hotel membantu membawakan koper berukuran sedang yang ia bawa sekaligus menunjukkan kamar untuk Eungi, ia segera memberi tip pada pria yang masih muda itu dan langsung mengunci pintu kamarnya.

 

Ia sendirian lagi.

 

Detik ketika daun pintu tertutup rapat di balik punggungnya merupakan saat Eungi benar-benar menyadari kesendiriannya, tidak ada yang ia kenal di sini, kini Eungi kembali menjadi sebatang kara di kota kecil yang asing. Hanya dirinya dan kesunyian yang langsung memenuhi setiap inderanya—kesunyian yang menyakiti setiap relung hatinya. Eungi kebingungan harus berbuat apa, bahkan bernapas saja rasanya sangat sulit sekarang.

 

Wanita itu masih mencoba mengatur deru napasnya yang semakin memburu, membawa langkahnya satu demi satu ke dalam kamarnya, mengarahkan dirinya menuju satu tempat yang sejak dulu selalu menjadi tempat perlindungannya. Tubuhnya ambruk ketika ia berhenti di depan meja yang ada di kamar itu, dengan seluruh tubuhnya yang bergetar, Eungi menggeser posisinya untuk bersembunyi ke kolong meja, menyesuaikan ukuran tubuhnya agar ia bisa bersembunyi dari kerasnya kenyataan yang baru menghantamnya.

 

Tangisnya tumpah seketika ia menyandarkan kepalanya pada permukaan kayu yang dingin di balik meja itu.

 

Air mata yang sejak siang tadi dibendungnya jatuh tanpa mampu ditahanya, dan tangisan histerisnya berubah menjadi raungan pilu ketika Eungi menyadari kejam takdir hidupnya, ia semakin histeris ketika ia menyadari bahwa ia benar-benar sendirian—tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu keberadaannya sekarang, bahkan Eungi pun tidak tahu ia sedang berada di mana sekarang. Tidak ada seorang pun bisa menemukannya di sini, dan belum tentu juga ada seorang pun yang mencarinya.

 

Eungi memeluk kedua lututnya dengan erat, masih mencoba melawan perih dalam hatinya tapi ia gagal melawan akal sehatnya dan ia mulai meraung putus asa. Ia pernah kehilangan orang yang dicintainya, namun pria itu datang menyelamatkan Eungi dari keterpurukannya sendiri. Kyuhyun melimpahkan Eungi dengan rasa aman dan nyaman yang membuatnya ketergantungan, dan pria itu mencabut seluruh kasih sayangnya tanpa peringatan. Eungi membutuhkan Kyuhyun seperti seorang pesakitan yang ketergantungan pada obat-obatan, namun pria itu telah membawa pergi sisa-sisa keyakinan Eungi ketika ia memutuskan untuk menyerah pada hubungan mereka.

 

Satu-satunya orang yang bisa membuat Eungi merasa lebih baik telah pergi, dan Eungi merasa semakin tersiksa sekarang karena ia sangat merindukannya—wanita itu benar-benar merindukan Kyuhyun, sampai-sampai ia tidak lagi peduli akan alasan pria itu meninggalkannya. Jika Kyuhyun muncul di hadapannya sekarang, Eungi akan menghambur ke dalam pelukannya, ia akan membanjiri wajah Kyuhyun dengan ciumannya, ia akan berlutut memohon pada Kyuhyun agar pria itu tetap berdidi di sampingnya, dan Eungi akan memeluk Kyuhyun erat agar pria itu tidak beranjak dari jarak pandangnya.

 

Ia menepuk-nepuk dadanya dengan kasar untuk menghilangkan rasa sakit yang semakin membuatnya sesak napas, seandainya saja bisa, Eungi ingin sekali meraih ke dalam hatinya dan menyobek-nyobeknya agar ia tidak perlu merasa kesakitan seperti sekarang. Rasanya ia seperti dibunuh secara perlahan dengan cara yang sadis.

 

Di mana kesalahan hubungan mereka? Apa yang telah ia lakukan hingga Kyuhyun tega mencampakkannya seperti ini?

 

Wanita itu menangis semakin keras, layaknya anak kecil yang benar-benar tidak tahu cara lain untuk mengungkapkan kepedihannya. Ia kehilangan seluruh tenaganya untuk tetap duduk tegak, perlahan tubuhnya merosot ke samping dan ia terbaring di atas lantai yang dingin. Tangannya kini memukul-mukul lantai di bawahnya sambil kakinya menghentak kaki meja yang sejak tadi menjadi tempat persembunyiannya. Puncak dari rangkaian emosi ini membuat Eungi mulai berteriak, karena ia tidak mampu menahan rasa sakit yang menyerangnya tanpa ampun.

 

Ia tidak sanggup.

 

Wanita itu tidak kuat menganggung rasa sakit ini, ia sedih, ia kesepian, dan hatinya hancur. Namun yang paling buruk dari semua ini adalah fakta kejam bahwa ia baru saja dicampakkan oleh pria yang dicintainya—ia baru dicampakkan tanpa penjelasan apa pun.

 

*

 

Beberapa hari kemudian Eungi baru menyadari bahwa ia memesan tiket kereta ke sebuah kota kecil bernama Hallstat di bagian barat negara Austria sebagai lokasi pilihan untuk melarikan diri dari kenyataan. Keadaan wanita itu tidak lebih baik dari sebelumnya, namun setidaknya ia merasa sedikit lebih tenang di sini, paling tidak tempat ini bukan Paris. Lokasi yang tidak sengaja dipilihnya memiliki pemandangan yang sangat cantik, dengan sebuah danau besar yang dikelilingi rumah-rumah tradisional khas Eropa, jalan-jalan berbatu bata yang sempit juga memberikan kesan perdesaan hangat di tengah kelamnya dunia Eungi sekarang. Ironis, kota ini terlalu indah untuk menyesuaikan atmospher hati Eungi yang hancur berantakan.

 

Minggu-minggu awal pelariannya mungkin bisa dikatakan sebagai momen perang dilemma terbesar dalam kepala Eungi. Ia bisa saja langsung memesan tiket pulang ke Seoul, melabrak Kyuhyun serta menuntut penjelasan pada pria itu, kemudian mengizinkan pria itu menghancurkan hatinya lebih parah lagi.

 

Tapi ia takut.

 

Eungi takut pria itu bahkan tidak sudi untuk melihatnya, ia cukup mengenal karakter Kyuhyun yang bisa berubah menjadi sangat dingin pada wanita-wanita yang masih ngotot mengejarnya—Eungi benar-benar tidak siap menerima kenyataan yang lebih pahit dari sekarang seandainya Kyuhyun menghiraukannya seperti itu.

 

Di sisi lain, wanita itu berharap Kyuhyun mencarinya. Ia tahu keahlian terpendam yang dimiliki pria itu dalam hal meretas data, Eungi berharap Kyuhyun bisa menemukannya di tempat ini menggunakan bakat kotornya itu. Meskipun pada kenyataannya, Eungi telah menutupi jejak pelariannya dengan sangat sempurna. Ia mencegah penggunaan kartu kredit dan hanya bergantung pada sejumlah uang cash yang disimpannya agar keberadaannya tidak bisa diretas. Dilemma. Ia ingin Kyuhyun mencarinya namun pada saat bersamaan ia tidak ingin ditemukan siapa pun.

 

Tentu saja skenario itu hanya akan berhasil jika Kyuhyun memang mencarinya—sesuatu yang semakin hari, semakin diragukan oleh Eungi.

 

Seminggu setelah tiba di Halstatt, Eungi memutuskan untuk mencari apartemen rental yang bisa digunakannya dalam tiga bulan ke depan, ia berniat menghabiskan seluruh sisa izin tinggalnya di EU, melarikan diri dari sumber masalahnya dan bersembunyi saja di kota kecil ini, karena ia masih terlalu pengecut untuk kembali ke Seoul.

 

 

Wanita itu juga tidak henti memeriksa ponselnya, menanti sebuah telepon yang ia tahu tidak akan pernah datang. Lalu saat ia sudah mulai putus asa, Eungi membungkus seluruh barang-barangnya ke dalam koper untuk kembali ke Seoul—dan lagi-lagi nyalinya ciut begitu ia siap memesan tiket pulang. Sisa-sisa harga diri dalam Eungi menuntut agar wanita itu tidak merendahkan dirinya untuk mengejar Kyuhyun—karena pria itu memilih meningalkannya, itu sudah cukup menyampaikan keputusan dan perasaan Kyuhyun kepadanya.

Hari-hari Eungi pun berjalan konstan. Setiap pagi ia akan terbangun dengan segudang kebencian pada Kyuhyun, ia bisa membuat daftar kalimat apa saja yang akan ia lontarkan pada pria itu seandainya mereka bertemu lagi suatu hari. Namun saat kegelapan malam tiba, Eungi akan mulai menangis kembali karena ia merindukan Kyuhyun, Eungi akan mencari pembenaran untuk memaafkan sikap Kyuhyun, ia akan mulai menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada pria itu, ia akan menyesali waktu yang ia sia-siakan untuk tidak mengabdikan diri pada Kyuhyun selayaknya pria itu menyerahkan seluruh cintanya pada Eungi. Biasanya pada malam-malam ini, Eungi akan memilih untuk tidur sambil mengenakan kaos Kyuhyun yang tidak sengaja terbawa olehnya, sekedar untuk menghirup sisa-sisa kehadiran pria itu yang masih bisa dinikmatinya.

 

Bulan pertama adalah masa di mana Eungi sepenuhnya menyerahkan kewarasan akalnya pada alkohol, ia melupakan seluruh proyek penelitiannya, melupakan proyek bukunya, bahkan ambisinya untuk kuliah lagi. Ia hanya menggantungkan hidupnya pada botol-botol wine di dalam apartemen. Saat itu Eungi nyaris tidak lagi mampu membedakan antara siang dan malam, ia menutup gordennya seharian untuk mengunci diri dalam kegelapan, menu sarapan wanita itu akan selalu melibatkan Vodka dan ia akan tertidur dengan sebotol wine di tangannya.

 

Wanita itu benar-benar tidak peduli akan dirinya, ia merasa seperti orang sekarat yang dibunuh perlahan dan bohong sekali kalau Eungi menyangkal pikiran-pikiran buruk untuk mengakhiri hidupnya tidak pernah terlintas—jika bukan karena hutang morilnya pada Siwon, Eungi pasti sudah menghabisi nyawanya sendiri.

 

Wanita itu juga bisa tiba-tiba menangis dan meraung sejadi-jadinya hanya karena mengingat Kyuhyun. Eungi merindukan pria itu, ia sangat merindukan keberadaan Kyuhyun dan ketidakmampuannya untuk menggapai pria itu membuatnya semakin sengsara. Ia tidak bisa menyalahkan Kyuhyun sepenuhnya, ia pun memiliki andil yang besar dalam kasus hilangnya Kyuhyun dari hidupnya.

 

Eungi sadar seberapa besar usaha pria itu untuk berubah dan menyesuaikan diri ke dalam hubungan serius mereka, ia paham Kyuhyun selalu mencoba memberikan Eungi yang terbaik ketika hati Eungi masih terbagi di antara dua pria. Dan satu hal yang membuat Eungi selalu takut untuk menyusul Kyuhyun ke Seoul adalah—ia tahu, bahwa Kyuhyun memiliki alasan yang kuat dan tepat untuk mencampakkannya.

 

Tapi Eungi juga berusaha. Eungi ingin Kyuhyun tahu bahwa ia juga berusaha. Wanita itu mencoba membayangkan masa depan mereka bersama dan ia benar-benar jatuh cinta pada pria itu dalam perjalan mengobati lukanya.

 

Selain kesedihan yang merudungi hatinya, Eungi juga marah. Marah karena ia terlalu lemah untuk melawan serbuan kenangannya dengan Siwon, marah karena ia terbuai dengan kenyamanan yang diberikan Kyuhyun, marah karena Kyuhyun tidak bertahan sedikit lebih lama di sisinya. Tapi ia paling marah pada dirinya sendiri, karena meskipun pria itu telah mencampakkannya, ia masih merindukan dan mencintai Kyuhyun.

 

Orang waras mana yang masih mau mengenang pria yang sudah mematahkan hatinya? Kalau Eungi masih normal, ia seharusnya sudah melupakan Kyuhyun, bukannya justru mengenang setiap momen manis mereka dalam benaknya. Seharusnya ia sudah menghapus seluruh foto-foto mereka, tapi wanita itu tidak pernah bisa melakukannya. Foto-foto itu adalah bukti nyata bahwa Kyuhyun pernah ada dalam hidupnya, bahwa Kyuhyun pernah mencintainya dan Eungi akan menyimpan semua itu sampai akhir hayatnya.

 

Selain itu Eungi pun masih berharap Kyuhyun akan memberikannya penjelasan sebelum benar-benar mengakhiri hubungan mereka, ia ingin percaya pada Kyuhyun yang dikenalnya sebagai pria lembut yang terjebak dengan stereotip jelek, dan ia percaya Kyuhyun masih punya hati nurani untuk memberikan penjelasan.

 

Pada bulan kedua, Eungi memasuki stage denial. Wanita itu akan mencari alasan untuk menyemangati dirinya sendiri, melantur kepada bayangannya di cermin sambil berkata kalau ia tidak membutuhkan siapa-siapa dalam hidupnya untuk membuat dirinya bahagia. Ia mengurangi konsumsi alkohol hariannya dan mulai menghabiskan waktunya untuk menonton sitcom lama. Ia menikmati metode ini sebagai cara untuk menangis dan tertawa tanpa harus terlihat seperti orang yang menyedihkan.

 

Bulan ketiga merupakan waktu ketika Eungi mengumpulkan keberanian untuk mencari tahu tentang pria yang telah mencampakkannya. Dengan sisa-sisa akses ke dalam portal kampus yang masih dimilikinya, Eungi memeriksa apakah Kyuhyun terdaftar pada kelas-kelas di semester yang tengah berlangsung sekarang, ia juga memeriksa jumlah beban SKS yang diambilnya serta memantau apakah pria itu datang ke seluruh kelasnya—agar ia bisa mendapatkan gelar sarjana dengan segera, seperti janjinya pada Eungi. Rasa campur aduk menguasai hati Eungi saat disadarinya Kyuhyun menepati janji untuk berkomitmen mengejar kelulusannya. Pria itu bahkan belum pernah tercatat membolos pada satu mata kuliah pun sejak semester baru dimulai.

 

Jadi Kyuhyun telah menjalani hidupnya dengan normal seperti sedia kala, seperti saat sebelum Eungi muncul di dalam hidupnya. Dari pikiran sederhana itu, hati Eungi kembali merintih dan wanita itu segera mencari kenyamanan pada efek alkohol yang mengebalkan rasa pilunya.

 

Izin tinggal Eungi di EU habis pada bulan keempat dan ia memiliki dua pilihan: kembali ke Korea Selatan untuk menghadapi ketakutannya, atau pergi ke negara lain di luar wilayah EU untuk memperpanjang izin tinggalnya—Eungi yang pengecut memilih pilihan kedua.

 

Ia membereskan seluruh barangnya dan memesan tiket sekali jalan ke Edinburgh, UK. Lagi-lagi pilihan kota yang salah, Edinburgh adalah sebuah kota kuno yang memiliki kesan medival dan romantisme yang kuat. Curah hujan di kota ini juga cukup tinggi, menciptakan suasana musim dingin yang berkabut dan justru membuat Eungi semakin berharap ada sosok Kyuhyun di sampingnya untuk dipeluk. Yang terlintas dalam benak wanita itu setiap kali ia berjalan ke luar apartemen sewaannya adalah: ia harus mengajak Kyuhyun ke tempat ini dan Hallstatt suatu hari nanti, menunjukkan indahnya kota-kota lain untuk mereka jelajahi bersama—kemudian ia akan tersadar dan menelan getirnya kenyataan bahwa agenda itu tidak akan pernah terjadi.

 

Bulan Desember tiba dan ia harus merayakan Natal sendirian—seperti yang sudah-sudah—di sebuah kota asing yang terlihat terlalu cantik saat salju menumpuk di jalan-jalan kecil berbatunya. Saat kebanyakan orang menghabiskan malam Natal di dalam rumah mereka yang hangat, bersama dengan orang-orang terkasih, Eungi justru memilih untuk berjalan-jalan sendirian di daerah Old Town untuk mengunjungi gereja berpintu merah yang terletak di dekat kastil Edinburgh, sekedar untuk mencari ketenangan. Sepulangnya dari gereja di malam Natal itu, Eungi memutuskan untuk pergi ke pub bawah apartemen sewaannya untuk meneguk Whiskey sebanyak yang ia mau sebelum menyeret langkahnya sendiri kembali ke kamarnya di tengah malam.

 

Enam bulan setelah Kyuhyun meninggalkannya merupakan batas waktu Eungi berhenti merasa terpuruk, ia bersumpah pada bayangan dirinya di cermin untuk memulai lembaran baru hidupnya. Fokus Eungi mulai kembali pada buku serta penelitiannya. Wanita itu berkeliling Edinburgh untuk mencari penerbit yang bersedia menerbitkan buku tetang terorisme yang digarapnya. Akhirnya, wanita itu kembali menemukan tujuan hidup baru setelah sebuah penerbit ternama di Edinburgh setuju untuk bekerja sama dengannya, perjanjian ini menuntut Eungi untuk kembali merapikan draft bukunya—yang sudah tidak pernah ia sentuh sejak malam Kyuhyun meninggalkannya.

 

Tahun baru ini juga sebuah momen kebangkitan bagi Eungi, karena akhirnya profesor yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri menghubungi Eungi, menawarkan posisi post-doktoral di kampus Eungi yang dulu. Dengan sopan Eungi memohon untuk diberi perpanjangan waktu, karena ia sedang dalam masa sabatikal dan profesornya dengan senang hati menunggu Eungi untuk kembali bergabung dengan penelitiannya di Delft, Belanda pada awal musim panas nanti—Agustus 2017.

 

Tekad Eungi untuk tetap tegar goyah saat lembaran kalender berubah menjadi bulan Februari, ia menyadari angka 3 yang dilingkari di kalendernya. Hari itu Kyuhyun berulang tahun dan seluruh benteng pertahanan Eungi lagi-lagi runtuh kerena kerinduannya akan pria itu kembali tidak terbendung. Eungi semakin benci pada dirinya sendiri, karena masih saja mengharapkan keajaiban yang tidak mungkin terjadi—yaitu Kyuhyun akan mencari keberadaannya dan datang menjemput Eungi. Wanita itu juga masih menyimpan seluruh foto kenangan mereka bersama dalam satu folder khusus di laptopnya, foto yang selalu melibatkan tangisan sedih setiap kali ia melihatnya. Eungi pernah mencintai seseorang sebelumnya, dan pria itu meninggal saat melindunginya. Kali keduanya mengalami perasaan jatuh cinta adalah bonus yang tidak pernah ia duga. Kyuhyun mungkin pria yang paling kejam dalam hidupnya, tapi fakta itu tidak merubah perasaaan Eungi padanya sedikit pun, ia masih tetap mencintai Kyuhyun seperti dulu—cinta yang tidak pernah sempat ia ungkapkan pada pria itu.

 

Ulang tahun Eungi datang di bulan berikutnya pada bulan ke-delapan dalam masa pelarian Eungi. Ia merayakannya dengan sederhana seperti cara ayahnya sejak dulu melakukan perayaan ulang tahunnya, dengan sebuah muffin coklat yang dilengkapi sebuah lilin kecil di atasnya. Dulu, hanya kue itu yang mampu dibeli ayahnya untuk merayakan ulang tahun Eungi dan meskipun kini Eungi tidak memiliki kesulitan keuangan, ia masih memilih merayakannya dengan cara lama untuk mengenang ayahnya.

 

Eungi keluar dari apartemen sewaannya dan memberli sebuah muffin coklat di toko roti favoritnya di Edinburgh, kemudian segera kembali pulang. Wanita itu menyalakan lilinnya, menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada dirinya sendiri dengan lirih dan terakhir, ia menutup matanya rapat-rapat untuk membisikkan harapannya—ia meminta kekuatan untuk melawan rasa kesepiannya, menminta kelapangan hati untuk memaafkan Kyuhyun, meminta akan kesempatan kedua dengan pria yang dicintainya, dan terakhir jika memang kisahnya dan Kyuhyun harus berakhir, Eungi berharap mendapatkan penjelasan dari pria itu suatu hari nanti.

 

Langkah hidupnya mulai tertata kembali pada bulan ke-sembilan setelah ia ditinggalkan. Eungi berhasil menyatukan seluruh draft bukunya dan wanita itu mulai kembali mendatangi perpustakaan lokal untuk mencari referensi dan sekedar menghabiskan waktu dengan cara yang lebih bermanfaat. Eungi pun mempersiapkan mentalnya untuk kembali ke Korea Selatan—hanya untuk mengambil surat-surat penting yang dibutuhkan untuk kepentingan mengurus visa belajar dan mengambil ijazah-ijazahnya yang masih ada di Seoul.

 

Izin tinggalnya di UK habis pada bulan May 2017 dan dengan berat hati akhirnya wanita itu kembali ke Seoul. Ia tinggal selama dua minggu untuk urusan dokumen izin tinggal di Belanda dan selama itu pula ia selalu gelisah kalau-kalau ia berpapasan dengan Kyuhyun. Sebenarnya Eungi tahu, ia bisa menghampiri pria itu di apartemennya, atau menghampirinya di café tempat pria itu biasa menghabiskan waktu jika ingin pertemuan mereka terkesan seperti ‘kebetulan’ belaka, bahkan wanita itu masih bisa memantau perkembangan studi Kyuhyun melalui website portal kampus yang aksesnya masih ia miliki. Satu-satunya alasan yang menahan langkah Eungi untuk melakukan itu hanya karena ia tidak siap dengan penolakan dingin Kyuhyun nanti, sementara ia sendiri masih berusaha menyatukan kepingan hatinya yang masih hancur.

 

Eungi menghabiskan dua minggunya di Seoul dengan memandang kosong ke jendela rumahnya yang menghadap jalanan setiap malam, berharap Kyuhyun akan melewati depan rumahnya dan segera membunyikan bel untuk menemui Eungi. Tapi pria itu tidak pernah kelihatan batang hidungnya dan untuk kesekian kalinya, Eungi dikecewakan kembali oleh ekspektasinya yang berlebihan. Wanita itu belum mampu move on dari Kyuhyun, dan ia benci fakta itu. Kalau menuruti logika, untuk apa Eungi mengharapkan kehadiran seseorang yang sudah dengan keji meninggalkannya di negara asing seorang diri? Faktanya, melupakan kenangannya dengan Kyuhyun ternyata jauh lebih sulit ketimbang melupakan kenanganya dengan Siwon. Paling tidak, saat Siwon meninggalkannya, Eungi memang tidak butuh penjelasan apapun, berlawanan sekali dengan kondisinya bersama Kyuhyun.

 

Sebelas bulan setelah pria itu pergi, akhirnya Eungi sudah cukup sibuk untuk mulai bisa menyingkirkan pikirannya tentang Kyuhyun. Pada masa ini, ia terlalu sibuk bolak-balik antara Edinburgh dan Delft untuk membenahi urusan penulisan bukunya sekaligus menyempurnakan proposal post-doktoral yang sedang diajukannya. Akhirnya Eungi kembali bertemu dengan kawan-kawan lamanya di Belanda dan beban mentalnya sedikit berkurang karena ia tidak lagi merasa sebatang kara.

 

Genap setahun dari momen Kyuhyun mencampakkannya di Paris, Eungi berharap agar ia bisa benar-benar melupakan pria itu, meskipun tingkat keberhasilan Eungi untuk move on bisa dibilang nol besar. Wanita itu masih peduli, ia masih mencintainya dan juga masih ingin tahu hal-hal kecil tentang pria itu. Apakah Kyuhyun sudah mendapatkan kekasih baru sekarang? Berapa banyak wanita yang ia tiduri setelah Eungi? Apa pria itu pernah menyesal karena meninggalkannya? Pernahkan Kyuhyun mencari Eungi, sekali saja? Apakah pria itu sudah lulus sesuai janjinya?

 

Setidaknya satu dari sekian banyak pertanyaan Eungi terjawab saat ia memeriksa portal kampus Kyuhyun di Korea. Mata Eungi berbinar-binar bahagia karena terharu dan bangga saat melihat nama pria yang masih dicintainya itu terpampang dalam daftar wisudawan di musim panas tahun 2017. Eungi menghela napas lega, karena setidaknya pria itu masih bisa menjaga janjinya pada dirinya sendiri—untuk lulus dalam kurun waktu satu tahun.

 

Setelah lewat dari satu tahun, Eungi belajar untuk menerima kenyataan bahwa ia memang dicampakkan. Kadang wanita itu berhalusinasi, ia merasa seperti melihat sosok Kyuhyun di dalam kampusnya di Delft—yang kemungkinan besar memang mustahil. Kadang ia merasa seperti diikuti seseorang, tapi ketika Eungi berhenti untuk memeriksa keadaan sekitar, ia tidak pernah menemukan orang yang mencurigakan.

 

Bahkan suatu hari, Eungi pernah bermabuk-mabukan total sembari menghisap marijuana bersama kawan-kawannya di Amsterdam hingga ia tidak ingat bagaimana caranya bisa pulang ke Delft yang jaraknya dua jam perjalan kereta—dan Eungi bersumpah bahwa yang membawanya pulang malam itu adalah Kyuhyun. Bagaimana pun juga, ia terlalu mabuk untuk percaya pada kesaksiannya sendiri, maka Eungi hanya menganggap semua itu ilusi semata. Ilusi itu dijadikan Eungi sebagai tembok pertahanannya untuk menangkis rasa sedih yang masih terus datang setiap kali ia merindukan Kyuhyun.

 

Lalu pada bulan November di tahun itu, buku Eungi akhirnya terbit. Penerbit Eungi di Edinburgh ingin membuat peluncuran bukunya menjadi sebih sentimental dan dramatis, dan menetapkan untuk meluncurkan bukunya tepat dua tahun setelah peristiwa naas itu terjadi. Eungi pun harus rela melakukan book-reading di tempat yang paling dihindarinya—Paris.

 

*

 

13 November 2017

 

Dua tahun sudah berlalu sejak tragedy tragis yang merenggut Siwon dari Eungi. Untuk mengenang kejadian itu, Eungi sekarang akan melakukan book-reading sekaligus peluncuran perdana bukunya di kota lokasi kejadian itu berlangsung. Takdir wanita itu sepertinya masih terus terseret-seret di seputar lingkaran setan kota ini yang baginya lebih nampak seperti humor semesta yang tidak lucu, padahal ia telah ratusan kali bersumpah untuk tidak menginjakkan kaki kembali ke Paris.

 

Eungi diantarkan oleh mobil yang diakomodasi oleh penerbitnya untuk melakukan book-reading di sebuah toko buku tua bernama ‘Shakespeare & Company’, merupakan salah satu toko buku yang menjual buku-buku terbitan berbahasa Inggris.  Mata Eungi sekilas mengagumi Notre Dame yang terlintas, mengindikasikan ia akan segera tiba pada tempat tujuannya. Mobil yang dinaikinya berbelok menyebrangi sungai Seine yang terkesan suram pada pagi musim dingin, berbelok ke kanan dan berhenti di depan sebuah bangunan bercat hijau dengan judul toko yang ditulis dengan warna kuning keemasan.

 

Awalnya penerbit Eungi menyarankan agar event ini dilaksanakan selama dua hari, tapi wanita itu langsung menolak mentah-mentah permintaan mereka—satu hari sudah cukup baginya untuk menghirup udara kota ini lagi. Eungi memaksa asisten yang dikirim untuknya dari Edinburgh untuk memesankan tiket kereta kembali ke Belanda pada hari yang sama, dan juga meminta mereka untuk tidak repot-repot memesankan hotel dan akomodasi lainnya karena ia tidak berniat membuang waktu di Paris.

 

Saat acara book-reading dimulai, Eungi sebenarnya takjub karena jumlah orang yang hadir melebihi ekspektasinya. Jelas saja ia heran, Eungi tidak pernah menyangkan bahwa buku memoar ini akan diminati banyak orang, apalagi karena ia menuliskannya dari sudut pandang orang pertama yang berhasil lolos dari maut di saat itu.

 

Eungi menghabiskan nyaris setengah hari untuk membacakan isi bukunya, dari satu bab ke bab lain, kembali menenggelamkan diri ke dalam peristiwa yang terjadi dua tahun silam. Isak tangisnya lolos ketika ia membacakan bagian tentang pembantaian sadis, begitu pula isak tangis mereka yang datang untuk mendengarkan kisahnya. Cha Eungi telah berhasil menggugah hati mereka yang datang hari itu, karena meskipun harus melalui trauma yang mendalam, wanita itu berhasil bangkit dari kesedihan dan keterpurukannya—bahkan sanggup menjadi orang yang lebih hebat dari sebelumnya.

 

Sesi tanya-jawab dilakukan setelah Eungi selesai membacakan bukunya, beberapa pembaca berebut untuk bertanya dan berinteraksi langsung dengannya. Salah seorang wanita paruh baya bangkit dari duduknya, bertanya dengan lirih apakah ia boleh memberi Eungi sebuah pelukan sekedar untuk menyemangati Eungi, untuk menyampaikan dengan cara yang paling nyata bahwa Eungi tidak harus menanggung kepedihannya seorang diri. Dengan senang hati Eungi menerima pelukan wanita itu, ia pun mengizinkan kerapuhan dirinya mengambil alih saat ia kembali terisak di pundak wanita yang memeluknya.

 

Pertanyaan berikutnya muncul dari seorang kakek, dengan suara parau pria itu bertanya bagaimana Eungi sanggup melanjutkan hidupnya seperti ini? Karena tragedi itu juga telah memakan nyawa anaknya dan kini si kakek kesulitan untuk menjalankan hidupnya tanpa merasa terpuruk. Eungi menghampiri sang kakek, memeluk pria gemuk itu dengan erat dan ikut menangisi kepedihan mereka. Ia berbisik pada sang kakek, bahwa kekuatan yang diperolehnya untuk melanjutkan hidup datang dari orang yang sangat spesial, orang yang selalu berdiri menjaga Eungi di sisinya. Eungi pun meminta agar sang kakek belajar untuk menerima kepedihannya, agar ia kembali bisa melihat dunia dengan sudut padang yang lebih cerah, agar kematian orang-orang terkasih mereka tidak sia-sia.

 

Ketika sesi tanya-jawab selesain, pembaca Eungi mulai mengantri untuk mendapatkan buku Eungi yang ditandatangani olehnya. Sepanjang acara, wanita itu telah menerima banyak sekali perlakuan hangat dari pembacanya, mereka menyemangati Eungi untuk terus berjuang, untuk tetap bahagia, karena momen saat para korban mulai terpuruk dalam kepedihan mereka, adalah momen saat teroris-teroris itu menang.

 

Antrian semakin pendek seiring matahari yang mulai terbenam. Asisten penerbit Eungi di sampingnya terus mengawasi jumlah orang-orang yang masih tersisa di antrian sambil menulis jumlah penjualan buku Eungi di hari pertama peluncurannya.

 

“Tinggal dua orang lagi, setelah ini kau bisa makan malam di Ritz kemudian pulang ke Belanda.” Ujar asistennya sambil melihat jam tangannya.

 

Eungi tersenyum dan berbisik pada pria Skotland itu, bahwa ia tidak tertarik untuk tinggal lebih lama lagi dan meminta untuk mengantarkannya langsung ke Gare du Noord saja untuk mengejar keretanya. Perhatian Eungi kembali pada pembaca di depannya, dengan sopan ia menanyakan nama orang itu, menulisnya di halaman depan bukunya, dan mengucapkan terima kasih. Lalu ia menyapa pembeli terakhir bukunya di malam itu.

 

Seketika jantung Eungi rasanya meluncur bebas ke bawah rongga perutnya saat ia mengenali sosok yang selama ini dirindukannya.

 

*

 

Tidak banyak yang berubah dari penampilan pria itu, ia masih tetap karismatik seperti yang Eungi ingat, sorot matanya masih tajam dan menusuk seolah ia mampu menilik ke dalam pikiran Eungi, wajah tampannya masih tetap sama meskipun tersamarkan oleh ekspresi yang terlalu suram, aroma menenangkan yang selalu dirindukan Eungi juga sukses membuat wanita itu tercekat. Ia telah memimpikan momen ini selama setahun penuh—momen saat ia bertemu kembali dengan Cho Kyuhyun. Eungi memainkan scene ini ribuan kali dalam khayalannya dan ia selalu punya beberapa alternatif reaksi untuk diberikan pada Kyuhyun.

 

Dalam salah satu imajinasinya, Eungi membayangkan bahwa ia akan bersikap tenang saat bertemu dengan pria itu. Ia akan melenggang santai seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka, seolah Kyuhyun tidak pernah mematahkan hati Eungi. Dalam pertemuan versi pertama ini, Eungi membayangkan Kyuhyun akan mengejarnya sampai ia berkesempatan untuk menjelaskan alasan kepergiannya—kemudian Eungi akan bilang kalau ia tidak tertarik mendengar penjelasan apapun dari Kyuhyun.

 

Versi lainnya yang pernah terlintas dalam khayalan Eungi mewakilkan kerinduan wanita itu padanya. Dalam versi ini, Eungi menempatkan dirinya sebagai wanita romatis bodoh yang akan langsung menghambur ke dalam pelukan Kyuhyun—melupakan seluruh kesakitan yang pria itu tanamkan dalam dirinya dan tanpa berpikir panjang menerima Kyuhyun kembali ke dalam hidupnya.

 

Mimpi siang-bolong ke-tiga yang ada di kepala Eungi adalah versi yang lebih emosional. Ia membayangkan Kyuhyun akan berlutut di hadapannya, memohon pengampunan Eungi sembari ia menjelaskan alasan yang membuatnya pergi dari Eungi, kemudian Eungi akan memaafkan dan menerimanya kembali dalam hitungan detik.

 

Masih banyak eisode-episode reuni pertemuan mereka yang pernah terlintas dalam khayalan Eungi, tapi reaksinya hari ini tidak ada yang mendekati seluruh imajinasi liarnya.

 

Kenyataannya, Eungi sekarang dengan tenang mencoba mengatur debaran jantungnya sendiri, dengan sopan ia berbisik pada asisten di sampingnya, menanyakan apakah pria di hadapannya nyata atau ilusinya lagi. Eungi sudah terlalu banyak berhalusinasi akan kehadiran pria itu di sekitarnya akhir-akhir ini sehingga ia membutuhkan konfirmasi dari orang yang masih memiliki akal sehat. Asisten Eungi mengangguk sambil menyikut lengan Eungi pelan, menyuruh Eungi untuk melanjutkan kegiatan menandatangani buku untuk pengunjung terakhir di malam itu.

 

Eungi mengambil buku dari tangan Kyuhyun dan menandatanganinya dengan santai. Sesungguhnya tangannya sekarang sudah sebeku batu es, napasnya putus-putus karena tegang dan jantungnya siap melompat dari rongga dadanya kapan pun, tapi hebatnya, ekspresi wanita itu tetap datar. Hanya pupil mata yang membesar saja yang mengindikasikan kerisauan hatinya sekarang.

 

“Terima kasih karena telah hadir, sir. Ini adalah sesi terakhir dari acara kami.” Asisten Eungi bicara dengan nada diplomatis. Pria Skotland itu memandang heran pada penulisnya yang sekarang sedang melamun. “Miss Eungi, acara kita sudah selesai hari ini, mari kuantar ke stasiun. Kau yakin tidak mau makan malam dulu di Ritz? Kami sudah memesan satu meja untukmu.” Ia lanjut berbicara pada Eungi yang masih tertegun di sampingnya.

 

Akhirnya Eungi bangkit dari duduknya setelah sang asisten menepuk bahunya sambil membawa tas Eungi bersamanya, pria itu heran apa yang salah dengan penulisnya. Kalau Eungi diibaratkan sebuah mainan, ia berhenti berfungsi dengan tiba-tiba sekarang tanpa alasan yang jelas setelah melihat pria yang masih berdiri di hadapannya.

 

Kyuhyun masih terpaku berdiri di tempatnya, ia pun juga telah memimpikan tentang hari ini, hari di mana ia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk muncul di hadapan Eungi. Tapi apa yang terjadi sekarang jauh dari perkiraannya. Kyuhyun selalu mempersiapkan diri untuk menerima amarah Eungi, ia siap dengan berbagai caci-maki dan kemurkaan yang sanggup dituangkan wanita itu. Namun reaksi tenang Eungi yang diterimanya justru membuat Kyuhyun semakin bingung, karena ia malah tidak siap jika Eungi setenang ini.

 

Wanita itu sudah berjalan mengikuti langkah asistennya menuju pintu depan toko. Akal sehat Kyuhyun kembali dan ia segera mempercepat langkah untuk menggapai Eungi, ia tidak tahu siapa pria Skotland di samping Eungi, tapi Kyuhyun yakin Eungi tidak memiliki hubungan khusus dengannya, dengan pikiran itu, Kyuhyun memberanikan diri untuk meraih lengan Eungi untuk membalikkan tubuh wanita itu agar menghapnya.

 

Eungi berputar sesuai keinginan Kyuhyun, wanita itu masih berusaha mempertahankan sikap cool-nya meskipun tangannya yang bergetar hebat dalam genggaman Kyuhyun tidak terlalu membantu aktingnya.

 

Miss Eungi, shall we?” Asisten Eungi menunjuk pada mobil yang sudah siap membawa Eungi ke stasiun.

 

Bibir Kyuhyun bergetar, pria itu berusaha keras mencari kata-kata untuk diutarakan pada Eungi tanpa membuat dirinya semakin terdengar seperti pria brengsek.

 

Eungi menyingkirkan tangan Kyuhyun yang menggenggamnya secara perlahan kemudian mengambil langkahnya untuk mendekati mobil yang masih menunggunya.

 

“Noona, kumohon jangan pergi.” Akhirnya pria itu bicara, mengutarakan kata-kata yang sangat ingin diucapkannya sejak lama.

 

Eungi memilih untuk mengacuhkan Kyuhyun dan tetap melangkah mengikuti asistennya.

 

Kyuhyun mempercepat langkahnya, menghalangi jalan Eungi menuju mobil dan mengejutkan dirinya sendiri ketika ia spontan berlutut di hadapan Eungi.

 

“Aku salah, noona.” Kyuhyun menggenggam buku Eungi di tangannya semakin erat untuk menahan air mata yang siap tumpah dari pelupuknya. “Aku tahu tindakanku keterlaluan saat aku pergi meninggalkanmu pagi itu, tapi aku bersumpah, aku kembali untukmu. Aku kembali selepas tengah hari dan kau sudah tidak di apartemen kita. Aku tidak pernah naik pesawat itu noona, aku kembali untuk menjemputmu pulang bersamaku, kumohon percayalah padaku. Jika kau tidak bisa memaafkanku, paling tidak percayalah kata-kataku.”

 

Wanita itu mengerahkan segenap tekadnya untuk tidak menitikkan air mata di depan Kyuhyun. Dulu ia selalu siap untuk memaki pria ini, menumpahkan kekecewaannya, baru kemudian memaafkannya. Tapi amarahnya justru meluap sekarang karena pernyataan yang baru keluar dari mulut Kyuhyun. Fakta bahwa pria itu kembali untuknya tidak membuat keadaan lebih baik—karena itu hanya mengkonfirmasi niatan awal Kyuhyun untuk meninggalkannya.

 

Eungi menarik napas dalam dan kembali melangkah, melewati tubuh Kyuhyun yang masih berlutut. Ketika ia tiba di samping mobil yang siap membawanya, Eungi berbalik untuk menatap mata Kyuhyun yang masih mengikuti gerakannya. Wanita itu menilik langsung ke dalam manik mata pria itu, dan entah dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk mengutarakan kalimat selanjutnya.

 

“Kau selalu memiliki keraguan bahwa dirimu kalah jantan dibandingkan dirinya, kurasa kau benar Kyuhyun-ssi.” Eungi berhenti sejenak sebelum menuntaskan kalimatnya. “Paling tidak, saat meninggalkanku, pria itu benar-benar tidak punya pilihan lain.”

131 thoughts on “One Last Shot Part 9

  1. arrghh, bikin nangis
    sumpah deh baper banget
    kenapa kyu ninggalin eungi?
    apa krna gadis d paris mlm itu?
    siapa itu?
    gak mungkin gara2 draft eungi kan
    emang yaa, kepercayaan, keraguan itu tuh bikin jengkel

    Suka

  2. Eungi kembali terpuruk setelah ditinggal kyu. Apa alasan kyu ninggalin eungi? Apa karna setelah kyu bertemu dengan seseorang di Paris yang bikin runyam

    Suka

  3. Argh! Demi apa, ini keren banget, serius! Coba kalo dijadiin novel, pasti keren! Author apa gak coba ngirim naskah ke penerbit, hm, mungkin diganti aja nama tokohnya biar bisa dinikmati umum juga? Author ada blog pribadi kah? Kya! Keren!

    Gak nyangka Kyuhyun bakalan ninggalin Eungi kayak gitu. Masa iya alasannya cuma karna draft Eungi? Dia udah berubah pikiran kan sebelumnya? Argh, baca part ini bikin baper parah. Bayangin gimana jadi Eungi, astaga. Kyuhyun kenapa sebenernya?

    Suka

  4. Aku mau minta maaf karna ga selalu meninggalkan komentar di setiap part ff ini karena aku baca langsung dari part 1 sampai selesai thor.. Karna ff nya seruuu

    Suka

  5. Haisshhh sumpah,,di chap ini yg ada hanya rasa “kesal dan sebal” dg sikap eungi dan kyuhyun. Eungi yg,menurutku, krng peka dg perasaan kyuhyun dan kyuhyun yg sll membandingkan dirinya dg siwon, yg berakibat jd rendah diri.
    Tp siapapun yg ada di posisi eungi,ditinggalkan seorang diri tanpa kabar selama setahun pasti akan marah.
    Smg segera baikan yaa… 😣😣😣

    Suka

  6. Kyu pergi setelah baca draf di laptopnya eungi..
    Klo tiba-tiba ditinggalin kayak gitu, siapa juga yang gaka bakalan kesel? Tapi di satu sisi juga ada kasiannya sama kyu.. Semoga mereka cepet baikan.. Kyu haris berjuang lagi buat dapetin eungi..
    Keep writing😊 ceritanta bagus banget👍👍👍

    Suka

  7. ahh bener bener menguras emosi baca cerita ini,, baguuus bangeet
    Kyuhyun mungkin punya alasan untuk pergi ninggalin eungi setelah hari panjang dan berat itu tp apapun alasannya sebenernya harusnya Kyuhyun langsung ngomong sama eungi supaya ga ada salah paham.. krn eungi pasti bener bener berpikiran buruk setelah itu, dan usahanya selama 1 tahun itu bener bener bikin sedih dan haru
    entah kenapa kesel banget sama Kyuhyun yang tiba tiba pergi tanpa penjelasan gitu, walaupun mungkin Kyuhyun kembali untuk jemput eungi tp nyatanya Kyuhyun ninggalin eungi sebelum itu bahkan tanpa pamit…. suka banget sama statementnya terakhir eungi buat Kyuhyun, bahwa Siwon ga punya pilihan lain waktu ninggalin eungi

    makin seruu,, makiin baguus dan aku makin suka baca ceritanyaa… keep writing yaa semangat terus lanjutin ceritanya

    Suka

  8. Huaa nyesek bacanya hiks😢😢
    Duh Kyu aku tau emang sulit untukmu tapi jangan buat Eungi terpuruk..
    Di tunggu next partnya..^^
    Dan juga kejutan yang tak terduga yang bikin ikut gemes sama sikap Kyu^^

    Suka

  9. sebenernya gak tega liat eungi terpuruk gitu gara2 kyuhyun, tapi mungkin kyuhyun punya alasan yg kuat,, aghh berasa baca novel thor bagus, bikin baper juga.. semangat thor..

    Suka

  10. sumpah kecewa banget sama kyu
    ga tega liat eun gi bener2 terpuruk karna kyu
    kenapa ga bisa sabar sih si kyu ini padahal kan dia sendiri yang mau masuk ke dunia nya eun gi tapi malah dia sendiri yang pergi gitu aja
    huuhh pengen nyeburi kyu ke sungai han 😃😃😃

    Suka

  11. bingug m komen apa di satu sisi aq sebel m kyuhyun niggalin eungi tp aq maklum juga cz ini jg kan pgalamn prtama kyuhyun dlm mncintai seseorang…ini bner2 berat bwt mereka,.moga nnti mreka bs brsatu kmbali…

    Suka

  12. feelingnya dapet banget thorr, aku sampe nangis bacanya bneran 😭😭 kenapa jadi kaya gini? sebenarnya knpa? ada apa? pengen tau cerita dari sisi kyuhyun.. ditunggu banget thor kelanjutan ceritanya penasaran banget 😢 jangan lama2 yah thor semangat 😁

    Suka

  13. Njirr, baper maksimal gue baca ff ini dari chapter 1. Mau nyalahain keduanya sih, sama sama “butuh waktu” dan pengertian, oh i can’t wait read next capt thor oa oe 💃💃
    Keep writing thor 😘😚

    Suka

  14. Setahun lebih dihabiskan oleh eun gi tanpa ketidakpastian, kegelapan, kehancuran, dan disaat eun gi memutuskan buat melupakan kyuhyun eh orangnya nongol
    Yg bikin aq Heran kenapa baru sekarang kyuhyun nongol setelah semua penderitaan dialami oleh eun gi, kemana kyuhyun selama ini? Apa dia ga ada keinginan buat mencari keberadaan eun gi?
    Next Thor… pengen tau dari sisi kyuhyun, sebenarnya apa yg terjadi… aq penasaran bgt

    Suka

  15. Daebak Thor four thumbs for you…..!!!! Ya ampun mau Komen gimana lagi, Kyu ninggalin eungi pasti ada alasannya to tetep aja kasian eungi…….Pling today Kyu kembali utk eungi….

    Suka

  16. Nyes banget ya ???
    D kira Kyu bisa gantiin posisi Siwon & bantu buat Eungi mup on ???!!!!

    Taunya c’Kyu keseringan & banyaknya keraguan sama perasaannya k Eungi karna masih liat bayang Siwon menurut dia

    Tapi Eungi sendiri kaga ngerasa begitu :/

    Duh -o-

    Suka

  17. Enggak bohong.. ceritanya kok sama banget ya.. cuman bukan karna penelitian..
    Pekerjaan.. mirip banget dicampakkan ..
    Ditunggu.. ceritanya bikin nyelekit, nangis sendiri tapi suka
    Dutunggu yaa kelanjutan ceritanya

    Suka

  18. Wah deabak…Luar biasa ajah ngga cukup buat ngungkapin rasanya…
    Kena banget alur nya rasanya Kaya baca model bukan ff ,keren banget ..
    Aku jarang banget komen..Tp sebagai rasa terimakasih ku hanya ini yg bisa aku lakukan semangat ya Thor semoga part selanjutnya cepet keluar ..GAMBATE..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s