Sun Flower Part 12


image

Title : SUN Flower part 12 (Great Generals)

Author : DEVITA

Gendre : Colosal, Angst, Romence, Drama, Thrailer, NC

Ranting : 17+

Cast :

Kim Taehyung

Choi Min Gi

Park Jong Soo

Han Ahn Rin

Kim Seokjin

Park Ji Soo

BTS member & Super Junior Member&SNSD

Author Note :

Hmmph Author balik nieh *Kagak ada yang nanya thor* gimana ceritanya sampe sini? Pasti ngebosenin yah, iya author tau kalo kebanyakan cewek kalian sukanya romance yang kentel, terus ceritanya yang ringan, suami istri berantem gitu atau enggak cowoknya ala pangeran disney. Author malah nyuguhin cerita perang-perangan pangeranya malah pangeran beneran yang juga suka perang juga jadi readersnya yang kagak suka action pada kabur semua wkwkwkwk. Apa karena tokoh utamanya bukan Kyuhyun yak jadinya pada kagak minat baca karena pada kagak kenal Tae Hyung? Jujur aja tadinya author sempet optimis karena cerita ini juga sempet dapet komen yang lumayan jadi author pikir kalian suka tapi makin kesini author jadi pesimis maaf yah^^

Author cuman pengen bikin cerita yang sereal mungkin di dunia nyata kerajaan, author juga nyeritainya nggak cuman fokus ke romancenya sama NC aja tapi kesemua aspek kayak di gendrenya, friendsip, Action, Angst, Thrailer. Jadi maaf kalo malah jadi ngebosenin

                       SUN Flower part 12

                          (Great Generals)

Tae Hyung menatap beberapa gulungan kertas yang Jung Woon berikan padanya lalu melirik lelaki itu beberapa saat. Senyumannya tergambar perlahan-lahan saat ia membaca setiap nama dan kata yang tertulis di lembar itu.

“Kau yakin ini sudah semua Tuan Kim?”

“Ya, Yang Mulia.”

“Kerja yang bagus Tuan Kim, Terimakasih.”

“Dengan senang hati Yang Mulia,” Jawab Jung Woon sambil membungkuk beberapa saat lalu menatap Tae Hyung kembali. “Boleh saya bertanya Yang Mulia?”

Tae Hyung tidak menjawab, lelaki itu hanya menatap Jong Woon dengan mata bertanya sambil tersenyum tipis.

“Apa yang akan Anda lakukan dengan daftar para pengikut Selir Seo dan juga para orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Yang Mulia Persmaisuri Soo Yeong?”

“Untuk sesuatu yang menyenangkan Ketua Departemen Kim,” Jawab Tae Hyung sambil tersenyum lalu kembali menatap lembaran itu. “Kau akan tau jika sudah waktunya nanti.”

Kali ini sepertinya dewi keberuntungan berpihak pada Tae Hyung, setelah kembali dari kunjungan ke Tamna dan mendapatkan Perdana Mentri Tamna beserta para pengikutnya kini lihat apa yang di dapatkan Tae Hyung? Sebuah persekongkolan pembunuhan atas nama Selir Kehormatan Seohyun untuk Permaisuri Soo Yeon. Lalu ia baru saja mendapat kabar bahwa Dong Hae akan diberi tugas ke perbatasan Goguryeo bersama dengan Ji Sung dan Kyuhyun, oh betapa sempurnanya hidupmu Kim Tae Hyung.

“Sebelum Kau pergi Tuan Kim, bisakah kau memanggil Wakil Jendral Ji Sung dan Jendral Kyuhyun untukku?” tanya Tae Hyung sebelum Jong Woon mengundurkan diri.

“Tentu saja Yang Mulia.” Jawab lelaki itu dengan sopan kemudian pergi.

“Pengawal…” Tae Hyung memanggil seorang pengawal yang berdiri di depan pintu, Pengawal itu menghampiri Tae Hyung kemudian membungkuk.

“Ada yang bisa saya bantu Yang Mulia.”

“Bisa kah kau sampaikan pesanku pada Hwarang Park Jimin? Katakan padanya untuk menemuiku siang nanti di istanaku?”

“Baik Yang Mulia…” kemudian pengawal itu pergi.
Setelah beberapa saat menunggu sambil membaca para daftar pengikut Seohyun seorang pengawal berbicara lantang mengumumkan kedatangan Ji Sung dan Kyuhyun. mereka bertiga duduk berhadapan di ruang perpustakaan yang masih sepi, yah ini masih cukup pagi bagi para anak bangsawan untuk belajar.

“Yong Han baru saja memberi kabar baik untukku, kalian pasti sudah tau bukan?”

“Ya, Yang Mulia.” Jawab mereka berdua. Lalu Ji Sung menatap Tae Hyung dengan tatapan yang penuh dengan keyakinan.

“Ini kesempatan kita Yang Mulia.” Katanya mantap.

“Aku tau Wakil Jendral makanya aku meminta kalian menemuiku disini.”

“Apa rencana Anda Yang Mula?” tanya Kyuhyun.

“Kita akan membuat kematian Jendral Besar senatural mungkin Jendral Cho, aku tidak ingin meninggalkan jejak sedikitpun maka dari itu. Wakil Jendral pilih semua prajurit pendukungmu dalam misi ini, aku yakin tidak mungkin Jendral Dong Hae memilihnya sendiri bukan? Dan Jendral Kyuhyun?” Tae Hyung menoleh pada Kyuhyun.

“Ya Yang Mulia?”

Seringaian Tae Hyung sedikit terlihat saat membayangkan apa yang terjadi pada Dong Hae sebentar lagi. Tsk Jendral Dong Hae adalah Jendral Besar, kuat, pemberani dan setia sayang sekali harus berakhir seperti ini.

“Mari kita buat sedikit keributan dengan Goguryeo.”

Kyuhyun dan Ji Sung menatap Tae Hyung tidak mengerti. “Maaf Yang Mulia?” Kyuhyun bertanya apa maksudnya dengan sedikit keributan dengan Goguryeo.

“Seperti pamanku yang ingin mengkambing hitamkan Baekje atas kematianku, aku juga ingin mencari kembing hitam untuk kematian pengikut setianya. Bukankah itu adil?” Tae Hyung kemudian menyeringai lebar. “Dan menyamarlah menjadi prajurit Buyeo saat kau bertarung dengan prajurit perbatasan Goguryeo Jendral Cho.”

Alis Kyuhyun berkerut tebal. Tadi Tae Hyung memintanya mencari sedikit keributan dengan prajurit Goguryeo dengan menyamar menjadi prajurit Buyeo? Lalu apa hubunganya dengan Silla? Lelaki itu tidak bisa menebak sedikitpun apa yang Tae Hyung rencanakan.

“Kenapa Yang Mulia? Kenapa kami harus menyamar?” tanya Ji Sung.

“Bukan kau dan pengikutmu Wakil Jendral, tapi sebagian pengikut Jendral Cho dan Jendral Chang Min.”

“Jendral Chang Min juga ikut?” tanya Kyuhyun.

“Ya tentu saja, kau tidak ingin kehilangan pengikutmu kan Jendral Cho?  Jendral Chang Min yang akan membantumu menghabisi prajurit Goguryeo.” Tunggu! Kyuhyun semakin bingung sekarang! Tae Hyung bilang dia ingin mencari sedikit keributan dengan Goguryeo, lalu meminta sebagian pengikutnya serta Chang Min menyamar sebagai prajurit Buyeo untuk menghabisi prajurit Goguryeo?

“Maaf Yang Mulia, saya tidak mengerti.”

“Kau dan Wakil Jendral serta pengikutnya bawa Jendral Besar ke perbatasn Goguryeo, sementara Jendral Chang Min membuat keributan dengan prajurit Goguryeo. Saat kalian tiba di perbatasan pastinya disana tengah terjadi pertarungan yang meriah bukan? Dan saat perang kecil itu kau hanya perlu menebas Jendral Dong Hae dan selesai.” Jawab Tae Hyung ringan.

“Lalu kenapa para pengikut saya harus menyamar bersama Jendral Chang Min Yang Mulia?”

“Kau tidak ingin menambah musuh bukan Jendral Cho. Walaupun aku akan mengkambing hitamkan Goguryeo aku tidak ingin Goguryeo tau mereka adalah kambing hitam, dan aku juga tidak ingin terjadi peperangan hebat antara Silla dan Goguryeo hanya karena masalah sepele seperti ini. Maka biarkan Buyeo yang menanggunnya.” Kata Tae Hyung sambil menegakan punggungnya.

Buyeo tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tae Hyung, dan hubungan bilateral Buyeo dan Silla hanya terjalin karena Jung Soo bukan karena Tae Hyung jadi ia rasa ia sama sekali tidak membutuhkan Buyeo sebagai pendukungnya disini. Justru Buyeo yang akan menghalangi jalanya jika hubungan bilateral ini semakin erat. Jung Soo pasti akan meminta bantuan Buyeo untuk menggagalkan Konspirasinya jika saatnya sudah tiba, dan jika kaisar Buyeo masih mendukung Jung Soo bukan tidak mungkin dia akan mengirimkan seluruh prajuritnya untuk membantu Jung Soo melawan Tae Hyung.

Tentu saja Tae Hyung harus memutus jalan keluar sekecil apa pun untuk Jung Soo hidup bukan? Dia harus membuat kepercayaan mereka luntur dimakan salah paham yang menyakitkan. Ah kau benar-benar seorang iblis Kim Tae Hyung, kau mengadu domba bukan hanya dua orang teman tapi dua negara yang berteman. Mengkambing hitamkan Goguryeo dan Buyeo sekaligus, memutus hubungan antar negara dan membunuh pengikut setia musuhmu dan tidak menutup kemungkinan juga menyulut perang antara Buyeo dan Goguryeo.

Seringaian Tae Hyung melebar, ia tidak tau kalau kemunduran rencana akibat ulah Min Gi akan menjadi permainan yang menarik untuknya. Setidaknya, Tae Hyung menjadi lebih matang dalam memikirkan rencananya.

“Dan saat kalian kembali setelah membunuh Jendral Dong Hae nanti kalian hanya perlu bilang…” Tae Hyung menatap kedua lelaki yang jauh lebih dewasa di hadapanya ini dengan tatapan bersiar penuh dengan kepuasan. “Jendral Besar terbunuh saat insiden itu, Jendral besar ingin melerai mereka namun yang terjadi salah satu prajurit Buyeo dan Goguryeo menyerangnya mereka pikir Jendral Besar terlibat dalam perseteruhan itu dan meminta Buyeo meneyerang Goguryeo.”

Kyuhyun dan Ji Sung memundurkan kepalanya sedikit setelah mengerti apa yang di maksudkan Tae Hyung. Jadi dia ingin nama Silla tetap bersih di hadapan mereka, memberikan kesan seolah Buyeo yang mencari masalah dengan Goguryeo. Dan karena Goguryeo tau bahwa Silla dan Buyeo berhubungan baik maka Goguryeo akan berfikir bahwa Silla lah dalang dari semua ini dan saat Dong Hae datang pemimpin perbatasan Goguryeo pasti berfikir kalo Dong Hae lah yang memberi perintah pada prajurit Buyeo.

Lalu karena merasa Dong Hae adalah pemimpin mereka maka pemimpin Goguryeo akan berusaha membunuh Dong Hae. Disana Ji Sung hanya dan Kyuhyun hanya perlu berpura-pura membatu Dong Hae menghabisi prajurit Goguryeo lalu setelah itu mereka akan menghabisi Dong Hae. Karena semua pengikut yang ikut saat itu adalah pengikut Ji Sung, Kyuhyun dan Chang Min tentu saja tidak akan ada yang buka mulut kan?

Dan saat mereka kembali membawa kabar duka untuk Jung Soo mereka hanya perlu bilang kekacauan ini dimulai oleh Buyeo dan berakhir Goguryeo yang salah paham dan membunuh Dong Hae. Lalu booom! Apa yang akan terjadi selanjutnya? Jung Soo pasti akan menjadi sangat kerepotan karena dia yang harus menyelesaikan masalah ini dan dia harus mencari pengganti Dong Hae.

“Baiklah kami mengerti Yang Mulia.” Jawab keduanya bersamaan membuat Tae Hyung tersenyum lebar.

“Dan satu lagi,” senyumnya luntur perlahan digantikan dengan tatapan serius pada kedua lelaki itu. “Mulai sekarang kalian harus berpura-pura tidak menyukaiku. Buat Jung Soo berfikir bahwa aku tidak pantas menjadi Pangeran Silla dengan begitu kalian akan mendapatkan simpati darinya. Dan dengan berpura-pura membenciku bisa sedikit menghilangkan kecurigaan Jung Soo kepada kalian apa kalian mengerti?”

“Ya kami mengerti Yang Mulia.” Karena tidak mungkin Jung Soo memilih pengganti Dong Hae dengan orang-orang yang mendukung atau pun bersimpati dengan Tae Hyung kan? Maka mereka harus menopengi diri mereka sementara Tae Hyung berusaha meyakinkan Jung Soo bahwa mereka berdua bukan pengikutnya.

Kyuhyun memiliki kekuasaan nomor dua setelah Dong Hae, kemungkinan besar Kyuhyun akan menggantikan Dong Hae dan Ji Sung menggantikan Kyuhyun. Tapi itu kemungkinan yang di harapkan Tae Hyung ada satu lagi batu sandungannya yaitu Lee Hyuk Jae. Sepupu Dong Hae itu bukan tidak mungkin akan di pilih Jung Soo menggantikan Dong Hae, apa lagi sepupu Dong Hae menjabat Wakil Jendra juga saat ini dan berada dalam rangkulan Selir Kehormatan. Tae Hyung tidak bisa membiarkan semua rencana dan kerja kerasnya terpeleset begitu saja hanya karena ia salah perhitungan sedikit saja.

“Jadi kapan Jendral Besar akan pergi bertugas?” tanya Tae Hyung raut wajahnya berubah menjadi datar karena ia mulai berfikir bagaimana caranya menaklukan Seohyun. Tentu saja ia tidak ingin berakhir seperti wanita itu yang sudah susah payah membunuh Permaisuri Soo Yeon tapi malah Min Gi yang dinobatkan menjadi Permaisuri.

Malang sekali bukan? Mungkin karena Min Gi bahkan sama sekali terlihat tidak perduli dan Jung Soo juga sangat jarang mendatangi Min Gi maka Seohyun tidak memperhitungkan bahwa mungkin saja Min Gi bisa mengalahkanya. Yah ia tidak ingin menjadi seceroboh itu maka ia harus memperhitungkan Lee Hyuk Jae.

“Besok malam Yang Mulia.” Jawab Ji Sung.

Besok malam, itu berarti setidaknya dia punya waktu tiga atau empat hari untuk menaklukan Selir kehormatan agar wanita itu tidak mencalonkan Hyuk Jae sebagai Jendral pengganti Dong Hae.

“Baiklah jalankan ini dengan baik dan rapi, ingat semua kata-kataku. Kalian boleh pergi.” Kedua lelaki itu kemudian berdiri dan membungkuk hormat sebelum berpamitan meninggalkan Tae Hyung.

Tae Hyung berdiri dari duduknya mengawasi tempat tersembunyi perputakaan ini beberapa saat memastikan tidak ada orang yang melihat atau mendengar mereka. Kemudian kakinya melangkah keluar dan berjalan ke arah istananya, sekarang waktunya bertemu dengan Jimin. Hari belum terlalu menjelang siang saat Tae Hyung tiba di depan gerbang istananya tapi Jimin sudah menunggunya di depan pintu masuk.

Tersenyum seklias ke arah Jimin namun lelaki itu mengacuhkanya membuatnya mendengus sekali lalu memutar bola matanya malas. Tanpa berbicara apa-apa, tanpa menyapa apa lagi membungkuk hormat pada Tae Hyung, Jimin mengikuti lelaki itu dari belakang masuk ke dalam ruang pertemuan istana Pangeran.

“Wow, entah karena kau sudah terbiasa padaku, atau kau memang merasa kita sudah akrab atau hanya aku yang berfikiran kau mulai berubah menjadi sama menyebalkanya dengan Yoongi hyung?” tanya Tae Hyung setelah duduk dan menyangga dagunya menatap Jimin dengan santai.

“Oh ya tentu saja kenapa aku harus membungkuk hormat pada sepupu jauhku?” Jimin dengan cuek ikut duduk di hadapan Tae Hyung.

Lelaki itu terkekeh beberapa saat lalu menyandarkan bahunya. “Jadi sekarang kau mengakuiku sebagai sepupu jauhmu huh?”

Jimin menghela nafasnya sambil menutup matanya malas. “Bisakah kau berbicara langsung pada intinya masih banyak yang harus aku urus Tae ini masih siang! Aku harus mengurs nangdoku dan Jungkook.”

“Baiklah-baiklah…” jawab Tae Hyung masih santai sambil menegakan punggungnya. “Jimin-ah, ayo kita menjenguk Jisoo!”

Mata sipit Jimin membulat menatap Tae Hyung dengan penuh antusias, benarkah? Ia bisa betremu dengan adiknya lagi?

“Kau serius?” tanya Jimin memastikan, Tae Hyung membalasinya dengan anggukan cepat.

“Aku berencana memindahkan Jisoo ke tempat yang lebih baik dan lebih nyaman dan aku baru saja menemukanya kemarin jadi aku fikir karena kau adalaah kakaknya kau berhak tau. Aku juga akan mengajak ibu angkatku untuk menemani Jisoo nanti.”

“Ibu angkat?” sejak kapan Tae Hyung memiliki ibu angkat.

“Dia pengasuhku saat sejak aku kecil di istana ini dis seperti ibu keduaku jadi aku memutuskan memanggilnya ibu… aku akan memintanya menjaga Jisoo beberapa saat sampai semua ini selesai. Kau pernah bilang kalau Jisoo kehilangan ibunya sejak lahir bukan?”

Mendengar pertanyaan itu membuat Jimin berhenti memandang Tae Hyung dan sedikit merundukan kepalanya ke bawah. Sebenarnya ia tidak terlalu suka membahas tentang mendiang orang tuanya itu hanya akan membuatnya merasa menjadi anak yatim piatu yang menyedihkan.

“Hmmm…”

“Ibu angkatku adalah wanita yang sangat hangat, aku yakin Jisoo pasti menyukainya dan aku rasa ibuku juga tidak akan keberatan merawat Jisoo seperti putrinya sendiri.” Lanjut Tae Hyung sambil tersenyum menatap Jimin.

“Kemana kau akan memindahkan Jisoo?”

“Ke Tamna, aku sudah merundingkanya dengan Seok Jin dan Perdana Mentri Kim. Mereka bersedia memberikan tempat untuk persembunyian kita dan tempat tinggal Jisoo. Mereka juga akan mengirimkan pengawal untuk menjaga Jisoo tidak mungkin kita terus menerus menyuruh Jungkook menjaga Jisoo. Orang-orang pasti akan mulai curiga dan mencari Jungkook. Jadi aku fikir ini yang adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini.”

“Dari ucapanmu sepertinya kau berhasil meyakinkan Seok Jin…” kata Jimin dengan senyuman yang menggoda.

“Tentu saja apa yang tidak bisa aku lakukan?!”

******

Jisoo menghela nafasnya berkali-kali sambil menyangga rahang kananya dengan tangan kanan, bisakah nasibnya lebih sial dari pada ini? Lebih sial dari pada berdua bersama Jungkook di tempat terpencil di sebuah gubuk tua

SENDIRIAN!!!

Dari sekian banyak Hwarang yang berteman dengan Tae Hyung kenapa harus Jeon Jungkook Kenapa?! Bukankah masih ada oppa kesayanganya Hoseok, atau mungkin Namjoon atau, ah ia tidak terlalu berharap jika Yoongi cukup manis untuk mau menemaninya disini. Tapi setidaknya tidak bisakah bukan Jungkook orangnya!

Lelaki itu menyebalkan, sangat menyebalkan! Bahkan disaat banyak orang di sekitarnya pun Jungkook sering mengganggunya apa lagi sekarang mereka hanya berdua?! Ini lebih mengerikan dari kutukan cenayang! Lagi pula  bisa-bisanya kakaknya mengijinkan seorang lelaki idiot, menyebalkan, usil dan mesum itu menjaganya? Bagaimana bisa! Yang ada malah dia yang akan mati pelan-pelan di tangan Jungkook.

Liat saja jika Jimin mendataninya nanti ia bersumpah akan menendang bokong lelaki itu karena membiarkanya bersama kelinci mesum itu. Kelinci mesum? Tidak lebih tepatnya serigala, lelaki itu satu juta persen jelmaan serigala yang berotak mesum! Oh Ya Tuhan Jisoo harus memanjatkan mantra berkali-kali saat bersama Jungkook dan harus selalu menjaga jarak aman.

“Hey Pendek!” teguran yang entah bagaimana Jungkook sudah berada di hadapannya membuat Jisoo terlonjak kaget hampir terjengkang dari duduknya. Matanya membulat menatap Jungkook yang berjongkok sambil tersenyum lebar hingga memperhatikan gigi-gigi kelincinya.

“Kau sedang memikirkan aku ya?” kata lelaki itu sambil menaik turunkan alisnya membuat Jisoo mengernyit. Benar kan apa yang ia katakan? Ia harus merapal mantra berkali-kali saat Jungkook berada disekitarnya sekali saja ia lupa maka lelaki itu pasti akan berulah.

Seperti saat ini, dari mana dia muncul kenapa lelaki ini seperti hantu yang tiba-tiba ada di depan wajahnya lalu menunjukan cengiran mengerikan alias mesum itu? Jisoo menegakan tubuhnya kembali lalu berdehem berusaha menetralkan rasa terkejutnya.

“Dari mana saja kau?” tanya Jisoo dengan nada yang sedikit tinggi membuat alis Jungkook berkerut tipis.

“Aku habis mencari ini!” tanpa aba-aba Jungkook menunjukan seekor ikan yang cukup besar tepat di depan wajah Jisoo, kembali Jisoo terjengkang saking terkejutnya melihat wajah dengan mulut yang masih bergerak  ikan itu yang hampir mecium hidungya.

Jungkook terkekeh senang melihat reaksi terkejut Jisoo, mata gadis itu mendelik waspada dengan mulut yang terbuka mirip seperti ekspresi ikan yang ia pegang. Wah sepertinya Jisoo begitu terkejut melihat kembaranya mereka terlihat seperti kembara yang sedang bercermin.

“JEON JUNGKOOOKKKK!!!!” teriakan Jisoo menggelegar membuat Jungkook dengan sigap berdiri dan kabur memasuki gubuk kecil yang mereka tinggali masih dengan tertawa puas. Ah ia menemukan panggilan baru yang cocok untuk gadis itu.

Jisoo pun ikut berdiri dengan cepat mengejar Jungkook yang sudah masuk ke dalam gubuk terlebih dahulu. Lalu apa yang kau harapkan dari kedua bocah itu ketika bersama? Bahkan hutan yang sepi pun menjadi begitu berisik hanya karena kedua manusia itu. mungkin besok para hewan yang berada di sekitar gubuk itu harus mengungsi karena mereka tidak bisa tidur apa lagi hewan nogturnal sudah dipastikan mereka tidak akan tidur karena suara melengking Jisoo.

Jisoo terus saja mengejar Jungkook mengelilingi gubuk melompati kursi sampai lelaki itu harus melompati perapian jika ia tidak mau mati di tangan Jisoo sekarang. Sementara Jisoo sudah mulai lelah dan kesabaranya juga sudah mulai habis karena terus menerus di uji oleh lelaki tengik itu. Nafasnya terengah-engah, akirnya gadis itu menyerah mengejar Jungkook namun beberapa saat kemudian melintas sesuatu di kepalanya.

“Argh!” Jisoo meringis lalu sedikit membungkuk memegangi punggungnya yang masih terbalut perban. Jungkook yang sedang berlari langsung berhenti mendengar erangan Jisoo, lelaki itu menoleh kebelakang dan tanpa berfikir panjang ia langsung menghampiri gadis itu.

“Kau kenapa?” tanya Jungkook wajah nakalnya berubah menjadi prihatin saat melihat Jisoo yang menyembunyikan wajahnya sepertinya gadis itu benar-benar kesakitan. “Mana yang sakit Jisoo-ya?” tanya lelaki itu dengan nada yang halus.

Jisoo mengangkat kepalanya lalu menunjukan telapak tanganya di depan wajah Jungkook. “Disini!” detik berikutnya kepala Jungkook sudah berada dalam genggaman Jisoo. Gadis itu menarik rambut Jungkook kuat hingga lelaki itu tertunduk-tunduk karena mengikuti arah tarikan tangan Jisoo.

“Rasakan ini hidung besar!” Jisoo masih menggengam erat rambut Jungkook.

“Aduh lepaskan, sakit bodoh!” Jungkook menggengam erat tangan Jisoo berusaha melepaskan tangan mungil itu dari kepalanya tapi tidak berhasil yang ada malah Jisoo yang semakin kuat menarik rambutnya.

“Dengarkan aku Jeon mesum, walaupun tangaku kecil tapi tanganku ini tidak bisa diremehkan katu tau?” Kali ini Jisoo yang tertawa puas karena berhasil memimpin keadaan tapi Jungkook tidak putus asa lelaki itu menaikan tanganya dan ikut menarik rambut Jisoo jadilah kedua manusia itu saling jambak menjambak.

“Kau! Bagaimana kau seorang lelaki dengan teganya menarik rambut seorang gadis Jeon Jungkook?!” kata Jisoo tepat disamping telinga Jungkook gadis itu akirnya juga harus ikut merunduk karena Jungkook menarik rambutnya.

“Memang sejak kapan Park Jisoo itu gadis huh? Aku tidak percaya sebelum kau membuktikan kau adalah seorang gadis!” wah lelaki ini bukan hanya bodoh tapi juga buta.

“Jeon Jungkook selama ini kau buta atau matamu kau taruh di kaki huh?! Aku ini wanita! Cepat lepaskan!”

“Benarkah? Lalu kenapa bokongmu rata? Dan kenapa aku tidak pernah lihat benjolan di dadamu?” Sialaaaan! Dasar otak dada dan bokong! Jisoo menguatkan tarikanya pada rambut Jungkook gadis itu menarik rambut Jungkook sekuat mungkin. Mungkin dengan bagini otak mesumnya akan ikut tercabut bersama rambutnya.

Apa karena beberapa hari Jungkook bersamanya jadi dia tidak bisa melihat dada dan bokong para dayang-dayang molek itu membuat otaknya dua kali lebih mesum dari pada seharusnya. Jika kau ingin melihat dada dan bokong pergi ke hutan sana! Mungkin kau akan menemukan monyet sexy yang akan berpose porno secara live dan gratis dasar kelinci mesum.

“ARGH! Aduh sakit bodoh lepaskan!” Jungkook semakin mengaduh matanya memerah karena sakin kuatnya Jisoo menarik rambutnya.

“Biar otak mesummu buntu, aku harus mencabutnya aku sedang membantumu Tuan Jeon.”

“Kau membunuhku sialan! Lepaskan!”

“Kau dulu yang lepaskan rambutku!”

“Apa jaminannya jika aku melepaskanmu kau akan melepaskanku? Kau duluan lepaskan!”

“Aku ini seorang gadis Jeon Jungkook, gadis harus diutamakan!” mereka dua mulai beradu mulut tentang siapa yang harus mengalah terlebih dulu diantara keduanya dan tentu saja tidak akan ada yang mau mengalah.

“Ya, kau adalah seorang gadis yang anarkis.”

“Apa ka…”

CETAR!! *bunyi apaan ini?*

Belum selesai Jisoo berbicara terdengar suara petir mengelegar mambuat gadis itu terkejut dan spontan tangan yang tadinya berada di kepala Jungkook beralih ke leher lelaki itu. Jisoo tanpa sadar menlompat ke pelukan Jungkook lalu menyembunyikan wajahnya di dada lelaki itu. Ia takut suara petir, sejak kecil ia sangat taku dengan petir.

Mendung? Jungkook mengadahkan kepalanya ke arah pintu, langit benar-benar seudah berubah menjadi gelap dan ruangan itu juga berubah menjadi gelap ia harus menyalakan perapian jika tidak ingin tidur dalam kegelapan dan kedinginan yang menyedihkan malam ini. Lalu kembali menatap Jisoo dan baru menyadari posisi mereka sekarang, Jungkook seketika mematung sambil menelan ludahnya berat. Kenapa rasanya jantungnya berdebar yah? Rasanya sama seperti saat ia berada di dalam arena saat duel Hwarang tahun lalu tapi sedikit berbeda.

Jika di dalam duel itu Jungkook merasa sangat berdebar, tegang dan khawatir apakah ia bisa menang atau tidak? Kali ini Jungkook juga berdebar hanya saja terasa hangat, tenang dan sedikit menyenangkan? Alisnya berkerut tipis. Tanganya masih menggengam rambut Jisoo tapi tidak menariknya, hanya menggengamnya dengan lembut lalu perlahan Jungkook menarik tanganya dari rambut Jisoo sambil memperhatikan setiap helai rambut Jisoo yang menyapu setiap selah-selah jarinya. Rambut panjang Jisoo terasa seperti kain sutra di tanganya.

Setelah beberapa saat Jisoo mengangkat wajahnya dan menyadi apa yang baru saja dia lakukan, mata gadis itu membulat lalu dengan sigap menjauh dari Jungkook. Jungkook menaikan alisnya lalu tatapanya kembali menatap Jisoo nakal.

“Jadi, bisa kau jelaskan apa yang kau lakukan tadi Nona Park? Karena jujur saja aku merasa sedikit di lecehkan.” Jungkook menyeringai senang pada Jisoo.

“A-apa?” dilecehkan?! Apa tidak terbalik?!

“Oh ya ampun, kau tidak tau apa yang kau lakukan tadi kau menyetuhku kamu menempel padaku tanpa seijinku Nona Park itu sudah terpasuk pelecehan!”

“Dengarnya hidung besar! Aku tadi tidak sengaja karena ada petir! Dan eoh aku sama sekali tidak bernafsu padamu!” jawab Jisoo sambil menyipitkan matanya marah.

“Oh jadi gadis preman ini takut petir huh?” Jungkook menatap Jisoo dengan tatapan remeh kemudian melipat tanganya.

“Tidak…” kata Jisoo merasa sangat tidak terima karena sudah diremehkan oleh seorang lelaki sejenis Jungkook. “Aku tidak takut pada petir! Aku hanya terkejut!”

“Benrakah, aku harap itu bukan hanya gengsimu Nona Park karena aku tidak akan segan membalasmu jika kau melakukan pelecehan lagi padaku.” Kata Jungkook menyeringai sekilas sebelum berjalan meninggalkan Jisoo di depan pintu sendirian untuk menyalakan perapian.

Tangan Jisoo mengepal erat di udara lalu membuat gerakan meninju-niju ke arah Jungkook gemas. Ingin sekali rasanya Jisoo menghancurkan isi kepala kotor Jeon Jungkook, melecehkan lelaki itu? yang benar saja! Dasar hidung besar! Tidak tau kah dia memiliki hidung yang bisa menghabisi seluruh pohon di hutan ini. Jisoo terus mengumpat sambil meninju-ninju udara ke arah Jungkook.

Jungkook yang merasa seperti mendengar seseorang merapal mantra-mantra terlarang dan terkutuk berhenti sejenak lalu dengan cepat berbalik ke arah Jisoo. Dengan cepat gerakan meninju Jisoo berubah, tanganya yang terkepal menjadi tebuka lebar dan seolah mengusir sesuatu lalu menepuk-nepuk udara.

“Sepertinya banyak serangga…” kata gadis itu kembali seolah sedang menepuk serangga di sekitarnya, mata Jungkook menyicing melihat tingkah aneh Jisoo lalu kembali memfokuskan dirinya menata kayu di perapian.

Cetar!

Terdengar bunyi petir lagi membuat Jisoo melompat langsung berlari masuk ke dalam dan duduk di belakang Jungkook yang sedang menyalakan api. Gadis itu meringkuk di belakang Jungkook sambil menutup telinganya, lalu tidak lama kemudian hujan deras mengguyur hutan. Setelah selesai menyalakan perapian membuat gubuk itu menjadi lebih hangat dan terang Jungkook menoleh ke ara Jisoo.

Sebenarnya ia agak kasihan melihat Jisoo yang meringkuk menutupi telinganya ketakutan tapi ada rasa usil yang menyenangkan dalam dirinya. Ia ingin membiarkan Jisoo seperti itu beberapa saat sampai gadis itu menyerah dan memohon padanya, ah terdengar sedikit jahat kan? tapi biar saja salah sendiri menjadi sok pemberani dan keras kepala. Pandanganya beralih pada bagian kanan gubuk yang terdapat satu kursi panjang namun di atasnya ada beberapa tetesan air. Tsk, gubuk kecil dan reot ini juga bocor.

Menarik kursi panjang itu dari tetesan air ke arah dekat perapian lalu Jungkook duduk di sana menikmati pemandangan Jisoo ang tengah ketakutan. Setiap kali petir menyambar Jisoo selalu tersentak dan menahan dirinya untuk tidak berteriak, kasihan tapi disisi lain itu terlihat lucu.

“Hey anak ikan!” kata Jungkook setelah mengambil dua selimut, satu ia gunakan untuk menyangga punggungnya yang bersandar pada lengan kursi yang satu ia selampirkan di sandaran kursi.

Jisoo mendongak lalu mendelik ke arah Jungkook, ia tidak berbicara apa pun namun matanya bertanya ‘apa?’ dengan sorot jengkel kepada Jungkook membuat lelaki itu terkekeh. Jungkook menepuk tempat kosong disampingnya, mengisyaratkan gadis itu untuk duduk di sampingnya.

“Tidak mau!” jawab Jisoo ketus.

“Ah dasar anak ikan keras kepala, aku tau kau takut petir. Tidak lucu jika aku mati di tangan Jimin hyung hanya karena kau yang sok pemberani itu.”

“Aku bilang aku tidak takut!” dengan keadaan seperti itu pun masih bilang tidak takut, orang yang memiliki otak di dengkul pun pasti tau gadis itu ketakutan saat mendengar petir.

“Tidak mau ya sudah, biar aku beri tau ya. Satu-satunya kamar di gubuk ini tidak bisa dipakai karena bocor dan sepertinya hujan tidak akan berhenti dalam waktu yang dekat. Jadi selamat malam anak ikan, semoga malammu menyenangkan.” Jungkoo menyenderkan kepalanya di lengan kursi bersiap untuk posisi berbaring namun saat ia ingin meluruskan kakinya sesuatu menahannya.

Menoleh ke bawah dan mendapati Jisoo yang sudah duduk manis di sana membuat Jungkook tidak bisa menahan tawanya. Ia mengangkat kaki kananya tinggi melewati kepala Jisoo lalu berakir terselip di bawah sandaran kursi dan tubuh Jisoo kemudian menaikan kaki kirinya ke kursi dan duduk menghadap Jisoo. Mata Jisoo membulat melihat posisi duduk mereka, Jungkook menjepitnya dengan kedua kaki lelaki itu dan menyandarkan punggung Jisoo pada kaki kananya.

“Apa yang kau lakukan hah?!” Jisoo bersuara protes namun suara petir yang keras membuatnya terkejut dan melompat mendekat ke arah Jungkook.

“Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan anak ikan?” Jungkook bertanya sambil melebarkan selimut menutupi kakinya dan kaki Jisoo yang hampir seperti duduk di pangkuan Jungkook.

“Kau yang memintaku duduk disini kan?!” setelah suara petir mereda Jisoo kembali ke posisi semula dan mendelik ke arah Jungkook.

“Aku memintamu duduk disampingku bukan di pangkuanku ini adalah pelecehan yang kedua. Aku cukup baik hati hari ini jadi aku berusaha mengabaikanya.” Lelaki itu kembali menyender ke lengan kursi sambil terenyum ah tidak, lebih tepatnya menyeringai pada Jisoo.

Tangan Jisoo terkepal erat, Ya Tuhan sampai kapan ia harus bertahan dengan lelaki super menjengkelkan kuadrat ini?! Jungkook terus saja mengganggunya dan menindasnya, bagaimana bisa Jimin membiarkan Jungkook menjaganya. Ingin sekali rasanya ia membunuh lelaki mesum ini sekarang juga.

“Anak ikan, aku tau kau takut petir dulu waktu kecil aku juga begitu.” Oh ya? Siapa yang bertanya Jungkook? “Jadi ibuku sering membacakan cerita atau bernyanyi untukku saat hujan lebat.” Lalu detik berikutnya Jungkook menyadari kesalahanya, tidak seharusnya ia menyinggung masalah ibu di hadapan gadis yang yatim sejak lahir. Ia menutup matanya sejenak mengerutuki kebodohanya lalu menatap reaksi Jisoo.

Gadis itu hanya terdiam menatapnya, ah sialan ia semakin merasa besalah sekarang! Bodohnya kau Jeon Jeongkook! Tidak biasanya kau bodoh seperti ini.

“Ayah dan Oppa juga begitu…” sahut Jisoo datar pada akirnya. “Oppa sering bernyanyi untukku dan Ayah sering bercerita.”

“Benarkah? Jimin Hyung memiliki suara yang lumayan, jauh berbeda dengan adiknya.” Detik berikutnya Jungkook mendapatkan lirikan tajam dari Jisoo namun membuat lelaki itu tersenyum tipis. Setidaknya ia bisa kembali memngalihkan pikiran Jisoo ke tempat semula.

“Aku mempunyai cerita yang bagus kau mau dengar?” kata Jungkook dengan nada yang cukup antusias.

“Cerita apa?” Jisoo kali ini benar-benar memberikan seluruh perhatiannya pada Jungkook. Lelaki itu berdehem sejenak lalu mulai bercerita.

“Pada suatu hari, hiduplah seorang lelaki dan seorang perempuan di sebuah gubuk tua yang berada di hutan di perbatsan negara. Si lelaki bernama Jungkook, dia adalah lelaki tampan, pintar dan pemberani…”

“Dan mesum, dan menyebalkan, dan aneh, dan…” Jisoo memotong cerita Jungkook.

Lelaki itu berdecak sambil menatap Jisoo sebal. “Kau mau aku melanjutkan ceritanya atau tidak?” Jisoo tersenyum sekilas lalu menaikan pundaknya. Jungkook melanjutkan ceritanya, “Dan si perempuan bernama Jisoo, dia adalah gadis cerewet bersuara cempreng bertingkah aneh memiliki tubuh yang sama ratanya dengan papan gubuknya dan… Argh!” Jungkook mengerang karena Jisoo mecubit pinggangnya kuat, namun setelahnya terkekeh melihat ekspresi marah Jisoo yang lucu.

“Di suatu malam terjadilah hujan lebat, petir manyambar dimana-mana membuat Jisoo ketakutan. Karena Jungkook adalah lelaki baik maka dia membiarkan Jisoo melecehkanya berkali-kali dengan pelukan-pelukan spontan karena dia tau Jisoo pasti ketakutan. Lalu hari semakin malam, gubuk yang mereka tempati bocor dan satu-satunya kamar disana tidak bisa ditiduri. Jisoo yang takut dan kebingungan karena tidak tau akan tidur dimana malam itu bertanya pada Jungkook dan Jungkook menjawab. ‘Jisoo malam ini kau tidur di bawah dan aku tidur di atas’ jawabnya” Jungkook berhenti sejenak memperhatikan kespresi Jisoo yang berkerut ringan karena ceritanya membuat lelaki itu harus menahan tawanya.

“Lalu di tengah malam terdengar sebuah suara…” Jungkoo merendahkan suaranya terdengar misterius.

“Suara apa?” mata Jisoo membulat waspada, masalahnya mereka hanya bedua di hutan di malam yang hujan seperti ini Jungkook malah menceritakan cerita seram padanya. Gadis itu perlahan meringsut mendekat pada Jungkook.

“Terdengar suara-suara menakutkan di tengah malam di dalam gubuk itu.”

“Seperti apa?” bulu kuduk Jisoo mulai meremang.

“Suara seperti ini… ‘Ahhh Ohhh yah iyaaah disitu Jungkook sayang aaah!’”

“DASAR KAU LAKI-LAKI SINTING!!”

Jisoo langsung memukuli Jungkook membabibuta sementara lelaki itu tertawa terbahak-bahak hingga perutnya terasa sakit. Kau harus melihat ekspresi Jisoo yang ketakutan tapi juga penasaran. Lalu ekpresinya luntur seketika digantikan rona merah malu dan marah saat Jungkook mengakhiri ceritanya. Setelah puas memukili Jungkook, Jisoo meringsut menjauh dari lelaki itu.

Lihat kan? lelaki ini seratus ribu persen tidak diragukan lagi kemesumanya, wajah Jisoo terlipat-lipat menatap Jungkook jengkel. Lelaki itu berdehem sejenak sambil mengusap perutnya yang hampir kram karena terlalu banyak tertawa lalu mengulurkan tanganya pada Jisoo.

“Oh merajuk? Hanya karena cerita seperti itu kau merajuk?” Jisoo tidak menjawab gadis itu melipat tanganya bibirnya maju beberapa centi dan matanya lurus menatap ke depan. Ia benar-benar sudah selesai dengan semua keisengan Jungkook terserah lelaki itu mau melakuka apa.

“Anak ikan jika wajahmu seperti itu kau terlihat dua puluh tahun lebih tua.” Kata Jungkook lagi sambil terkekeh.

Jisoo melirik sekilas menatap tajam Jungkook namun lelaki itu malah menatapnya santai. Sialan! Ia sangat ingin membunuh kelinci mesum itu sekarang jugaaaa!!!!! Bagaimana setelah mengucapkan hal-hal mesum seperti tadi lalu lelaki itu tersenyum manis seperti seekor anak kelinci yang tidak berdosa bagaimana bisa?! Hah! Kenapa lelaki yang memiliki wajah imut itu otaknya jauh dari kata imut! Jauuuh sangaaaaat Jauuuuuuuh!

Dan lagi Jungkook mengejeknya dengan senyuman manis ala kelinci paska, bukankah hidup ini sangat tidak adil?!

“Jadi kau mau mengabaikan aku huh?” Jisoo tidak menjawab, gadis itu terus saja terdiam sambil melipat tanganya.

Cetar!!

Dan lagi, petir keparat itu membuatnya harus menyerah dan melompat ke arah Jungkook keberuntungan memang tidak pernah ada di pihaknya jika ia bersama dengan lelaki bernama Jeon Jungkook. Lelaki itu kembali tertawa saat melihat wajah kesal Jisoo yang tertekuk-tekuk marah padanya tapi gadis itu juga menepel erat padanya.

*****

Masih menjelang pagi saat rombongan Jimin dan Tae Hyung tiba di sebuah gubuk kecil di pinggir hutan tampat ia menyembunyikan Jisoo. Tae Hyung mengamati sekitar, tempat ini sangat baik untuk di jadikan tempat persembunyian tapi sangat buruk untuk dijadikan tempat tinggal. Turun dari kudanya dan menghampiri sebuah kereta yang berada tepat di belakangnya, Tae Hyung membantu Hyemi turun dari kereta lalu menggandeng wanita paruh baya itu bersamanya sambil tersenyum Jimin yang berada di depan berjalan terlebih dahulu menghampiri gubuk itu lalu mengetuk pintu memanggi Jungkook.

Tidak ada jawaban? Lelaki itu mengetuknya berkali-kali, masih tidak ada jawaban akhirnya Jimin memutuskan mendorong pintu itu dan ternyata juga tidak terkunci. Matanya membulat seketika, sepagi ini mereka tidak ada di rumah apakah terjadi sesuatu? Lelaki itu langsung memasuki gubuk dan matanya kembali membulat dengan rahanyang hampir jatuh melihat pemandangan di hadapanya. Oh Ya Tuhan jantung Jimin hampir jatuh menggelinding di bawah kakinya rasanya melihat Jungkook dan Jisoo tidur di sebuah kursi panjang bersama-sama sambil berpelukan. Bukan hanya itu! Jisoo tidur menindih Jungkook dengan satu selimut yang menutupi mereka berdua ditambah kenapa tangan Jungkook seolah memeluk Jisoo huh?!

“Jimin-ah….” suara Tae Hyung langsung menyadarkanya, ya ampun! Ya ampun! Tae Hyung tidak boleh melihat ini! apa jadinya jika dia tau Jisoo tidur bersama Jungkook?! Jimin langsung berlari keluar gubuk sebelum Tae Hyung berjalan masuk.

“Y-ya..” jawabnya dengan wajah gugup yang tidak bisa di tutupi. “Me-mereka baik-baik saja tunggu disini sebentar aku akan membangukan mereka.”

Alis Tae Hyung dan Hyemi berkerut ringan melihat tingkah Jimin. “Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Tae Hyung bingung.

“Ya t-tentu saja, kau tunggu disini! Jangan masuk! Aku akan membangunkan mereka.”

Bukanya tetap diam Tae Hyung malah berjalan maju membuat mata Jimin membulat. “Kau bangunkan saja adikmu, aku akan bangunkan Jungkook. Bocah itu sulit dibangunkan.”

“Jangan!” dengan sigap Jimin menghalangi langkah Tae Hyung membuat lelaki itu semakin menatapnya aneh. “Maksudku tidak perlu, aku sudah biasa menghadapi mereka berdua sendirian kau tunggu saja disini.”

“Kau ini kenapa sih?” Tae Hyung mengernyit sambil tetap berjalan masuk ke gubuk.

Sialan kau Jungkook apa yang kau pada adikku, kemarin Tae Hyung dan sekarang Jungkook apa adiknya ini memang dilahirkan dengan penuh kesialan. Jimin mengikuti Tae Hyung dengan wajah yang seperti orang tengah merapalkan doa untuk parah roh-roh jahat. Saat memasuki gubuk tersebut dan menemukan sepasang manusia yang di carinya raut wajah Tae Hyung tidak jauh berbeda dengan wajah Jimin saat melihat mereka tadi, sementara Jimin menangis dalam hati habislah kau Park Jisoo.

Jisoo yang merasa begitu banyak suara berisik yang mengganggunya mulai menggeliat tidak nyaman sementara Jungkook sudah seperti orang mati di bawahnya. Mata gadis itu perlahan terbuka lalu menggeliat mengangkat kepalanya sedikit, betapa terkejutnya ia melihat wajah Jungkook yang jaraknya mungkin tidak lebih dari satu inchi dari wajahnya. Gadis itu langsung melompat terkejut dan sayangnya ia lupa kalu dia tidur di kursi yang sempi saat ini membuat gadis malang itu malah terjengkang jatuh, bokongnya mendarat indah di lantai.

Matanya membulat sempurna menatap Jungkook yang seperti kerbau mati sama sekali tidak terganggu dengan gerakan atau suara mengaduhnya. Gadis itu mendengus kesal sambil mengusap bokongnya yang sakit lalu perlahan bangun dan berbalik.

“Aaaaaa!” detik berikunya Jisoo berteriak karena entah ini halusinasinya ia melihat Tae Hyung dan Jimin berdiri menatapnya. Matanya membuat hampir keluar menatap kedua lelaki itu, apakah dia terlalu banyak dikerjai oleh Jungkook hingga kepalanya menjadi berhalusinasi jika Jimin dan Tae Hyung datang menolongnya dari lelaki mesum ini?

“Apa yang….?” Tanya Tae Hyung masih dengan tatapan terkejutnya.

“Ini salah paham!” sahut Jisoo cepat. Ini pasti mimpi kan kenapa Tae Hyung tiba-tiba ada di hadapanya?! Jisoo mencubit lenganya sendiri kemudian meringis, ini bukan mimpi! Tae.. Tae Hyung melihatnya sedang tidur bersama Jungkook! Seketika raut wajah Jisoo berubah, gadis itu hampir menagis di tempat.

“Anak ikan kenapa kau berisik sekali huh?” Jungkook menggeliat dalam tidurnya. Jimin membulatkan matanya jengkel lalu melempar Jungkook dengan selimut yang terjatuh karena Jisoo.

“Sekali lagi kau mengganguku aku cium kau!” sungut Jungkook masih dengan mata tertutup sambil menyingkirkan selimut di wajahnya.

Ketiga pasang mata yang berada disana melotot menatap Jungkook, Jimin yang mulai habis kesabaranya menedang kursi kuat membuat Jungkook terperanjat bangun. Lelaki it mengerang jengkel.

“Anak ik….aaan-” saat sadar bahwa tidak hanya Jisoo yang ada disana mata Jungkook membulat sempurna, semua mata menatapnya dengan aura membunuh membuat bulu kuduk Jungkook berdiri tegak.

Jungkook menoleh ke araj Jimin yang berdiri paling dekat dengannya, matanya menatap Jimin dengan tatapan memelas sambil menelan air liurnya susah payah. “Aku bisa menjelaskan ini hyung. Kami tidak melakukan apa pun aku bersumpah demi ayahku!”

“Apa yang terjadi?” Hyemi dengan anggun beralan masuk menatap para anak muda itu satu persatu dengan senyum tipus di wajahnya.

Jisoo langsung menoleh ke sumber suara menemukan seorang wanita paruh baya yang cantik berdiri menatapnya sambil tersenyum di depan pintu membuatnya tertegun. Aura amburadul di dalam ruangan itu seketika menghangat saat Hyemi masuk, wanita itu memiliki aura keibuan yang sangat kuat membuat jantung Jisoo berdebar saat melihatnya.

“Oh apakah gadis kecil ini yang bernama Park Jisoo, Tae-ya?” Hyemi berjalan perlahan mendekati Jisoo, seketika ruangan itu menjadi sunyi.

“Iya…” Jawab Tae Hyung singkat membuat Jisoo mendongak ke arah Tae Hyung dengan tatapan bertanya, lelaki itu hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

“Namaku Kim Hyemi, ibu asuh Tae Hyun sewaktu dia masih kecil.” Ucapan Hyemi kembali menarik perhatian Jisoo gadis itu kembali menatap Hyemi dengan tatapan bingung dan polosnya membuat Hyemi tersenyum lebar lalu mengambil satu tangan Jisoo dan menggengamnya hangat.

“Tidak apa-apa sayangku, Tae Hyung bercerita banyak tentangmu.” Seketika Ji merasa sesuatu yang hangat berdesir di jatungnya saat Hyemi menggengam tangannya. Wanita itu menariknya keluar dari gubuk dan Jisoo seperti orang yang terhipnotis hanya mengikuti Hyemi sambil terus menatap wanita itu tanpa berkedip.

“Jadi?” Jimin memecah keheningan di antara tiga pemuda itu setelah Jisoo dan Hyemi keluar dari gubuk.

“Jelaskan di perjalanan saja.” Sahut Tae Hyung. “Kita tidak mempuyai banyak waktu, ayo!”

“Ayo kemana?” tanya Jungkook menatap kedua hyungnya bingung.

“Tsk pokoknya ikut saja!” Tae Hyung tidak sabar menarik Jungkook dari kursi dan menyeret magnae itu bersama Jimin.

Membutuhkan waktu seharian sampai di Tamna, dan seharian itu juga Jungkook berusaha meyakinkan para hyungnya bahwa memang tidak terjadi apa-apa malam itu. Saat itu hujan lebat, Jimin tau Jisoo sangat takut petir jadilah mereka berdua khilaf dan akhirnya tanpa sedar ketiduran bersama. Sebenarnya, Jimin dan Tae Hyung mempercayai Jungkook hanya saja entah kenapa mereka berdua malah menjadi bersekongkol untuk mengerjai magnae malang itu.

Setibanya di pintu gerbang masuk Tamna Seok Jin sudah menunggunya disana, lelaki itu yang akan menunjukan jalan tempat pos perembunyian mereka. Setibanya di tempat persembunyian mereka di sambut beberapa pengawal yang membuat bibir Tae Hyung berhasil menyinggungkan senyumanya tipis. Ini tempat yang bagus, sebuah bangunan yang cukup luas dan mewah bukan hanya cukup untuk menampung Jisoo, Hyemi serta para pelayan dan penjaga tapi mungkin juga cukup untuk menampung beberapa ratus prajurit.

“Kau tau? Aku menyukai tempat pesembunyianmu hyung…” kata Tae Hyung sambi turun dari kudanya. Disini ia bisa menjamin keselamatan dan kelayakan Jisoo untuk beberapa saat dan juga tempat ini akan sangat cocok di jadikan markas mereka.

“Kau menyukainya? Aku sedikit tersanjung karena memang cukup sulit mencari tampat ini.” sahut Seok Jin “Apa rencana tertundamu sudah berjalan dengan lancar?” kedua lelaki tampan itu berjalan berirngan sementara Jimin dan Jungkook berjalan di belakang mereka menuntun Jisoo dan Hyemi ke kamar mereka bersama beberapa pelayan.

“Sedang dikerjakan…” Tae Hyung menyeringai tipis. “Aku hanya tinggal menunggu kabar baik saat aku kembali nanti.” Disini Tae Hyung sedang menyelesaikan masalah Jisoo dan markas mereka sementara disana para pengikutnya sedang menyelesaikan Dong Hae, jahat sekali bukan?

“Ah aku tidak bisa berlama-lama disini hyung, aku harus kembali atau mereka akan curiga. Tolong jaga Jisoo dan ibuku, dan juga titip salam untuk Ahn Rin.” Katanya sambil menaik turunkan alisnya.

“Ya… ya terserah saja!” Seok Jin memutar matanya malas karena ia tau Tae Hyung sedang menggodanya.

Jimin berdiri di depan pintu kamar Jisoo sambil bersandar di salah satu pintu melipat tanganya dan sesekali menatap wajah berbinar Jisoo. Senyuman tipis tergambar di bibirnya sesekali, ia merasa senang bisa melihat wajah ceria Jisoo lagi namun juga merasa sedih melihat bagaimana bahagianya Jisoo saat mengobrol dengan Hyemi. Sekalipun ia berusaha keras membuat Jisoo merasa tidak kehilangan seorang ibu tapi kenyataan tidak pernah berbohong. Wajah ceria Jisoo yang merona cantik dan matanya yang berbinar saat bercanda dengan Hyemi tidak bisa dibohongi kalau adiknya memang mumbutuhkan sosok ibu di sampingnya.

Apalagi disaat seperti ini dimana setiap gadis mulai mengenal dunia. Mereka pasti membutuhkan panutan, membutuhkan arahan dan teman bicara dan Jimin tidak cukup pandai untuk melakukan itu. Jimin merunduk, matanya mulai terasa panas. Seperti saat ini, saat pertama kali Jisoo bisa merasakan jatuh cinta ia tidak menceritakanya pada siapa pun bukankah itu berarti adiknya memang tidak memiliki teman yang dianggapnya nyaman untuk di ajak berbicara? Hingga akirnya dia malah masuk ke dalam masalah yang entah bagaimana akhirnya Jimin tidak tau.

Adiknya yang begitu polos dan belum mengerti dunia malah terperosok jauh ke dalam masalah yang melibatkan sampai sebuah negara. Ia harus berdiri di tengah Tae Hyung dan Min Gi, dan Jimin tidak bisa berbuat banyak, lagi ia mendengar kekekhan Jisoo membuat tenggorokanya mulai terasa sakit. Seandainya ibunya masih hidup pasti Jisoo berada di tempat yang aman adiknya kesepian seumur hidupnya dan tidak pernah mengatakan apa pun apa lagi mengeluh. Air mata Jimin mengalir begitu saja tanpa ia sadari saat melihat wajah Jisoo yang tersenyum lebar. Maafkan aku ibu, aku tidak pecus menjaga Jisoo….

“Jimin-ah!” lelaki itu terkejut langsung dengan cepat menghapus air matanya lalu berbalik menatap Tae Hyung yang berdiri di belakangnya.

“Kau kenapa?” Tae Hyung sedikit merunduk melihat mata Jimin yang memerah.

“Bukan apa-apa…” Jimin berusaha menghindar dan mengalihkan wajahnya membuat Tae Hyung terdiam sejenak membeku di tempat, apa lelaki itu habis menangis?

“Aku hanya berfikir terkadang Jisoo mirip dengan ibu…” katanya kembali menatap Jisoo yang sedang bercanda dengan Hyemi.

“Kita harus segera kembali.” kata Tae Hyung dengan nada rendah terdengar seperti orang yang menyesal.

“Aku tau.”

“Kau tidak ingin berpamitan dengan Jisoo?”

“Aku sedang akan melakukanya…” lalu Jimin berjalan masuk ke kamar Jisoo.

“Hey sepertinya sedang seru, apa yang kalian bicarakan?” hanya butuh waktu satu persepuluh detik Jimin bisa merubah raut wajah sedihnya menjadi senyuman lucu dan itu berhasil membuat Tae Hyung tertegun.

“Ini rahasia anak perempuan! Anak laki-laki tidak boleh tau!” kata Jisoo sambil menggengam erat lengan Hyemi membuat wanita itu terkekeh pelan.

“Huh mana bisa seperti itu?” Tae Hyung mengikuti Jimin merubah raut wajahnya. “Ibu jangan-jangan kau menceritakan semua kejelekanku pada Jisoo benar kan?” tuduh Tae Hyung sambil mengerutkan wajahnya.

Jisoo terkekeh lalu memeluk Hyemi. “Maaf yah aku tidak akan buka mulut!”

“Oh begitu rupanya, baiklah.” Tae Hyung mengangkat kedua alisnya lalu menoleh ke arah Jimin. “Jimin-ah, apa kebiasaan Jisoo yang paling buruk?”

“Ah…” Jimin membuka mulutnya lalu menjentikan jarinya. “Ini terdengar agak menijijkan tapi Jisoo suka mengipasi ketiaknya saat ia merasa kepanasan.”

“OPPA!!!!” gadis itu langsung berlari melompat ke arah Jimin, Jimin yang sadar dia berada dalam bahaya langsung kabur menghindar sementara Tae Hyung dan Hyemi hanya bisa tertawa melihat sepasang saudara yang mulai adu gelitik di dekat mereka.

Saat hari menjelang siang Tae Hyung pamit kembali ke istana bersama Jimin dan Jungkook. Tidak dipungkiri ia tidak tega melihat wajah sedih Jisoo gadis kecil itu terus menggenggam tanganya saat tau Tae Hyung akan segera kembali. Sekarang ia bisa menjadi lebih lega saat meninggalkan Jisoo karena dia tau gadis kecil itu berada di tempat yang aman di jaga oleh pengawal dan ada pelayang yang siap membatunya Tae Hyung menghela nafas ringan.

Sementara Jimin terus menatap Tae Hyung dalam diam beberapa saat berfikir mengenai apa yang telah Tae Hyung lakukan untuknya dan untuk adiknya. Tae Hyung adalah lelaki yang bisa dipercaya, lelaki itu bilang dia akan bertanggungjawab atas Jisoo dan dia melakukanya dengan baik, sangat baik bahkan lebih baik dari pada Jimin. Tae Hyung bisa memberikan segalanya yang Jisoo butuhkan, bukan hanya rasa cinta seorang lelaki tapi juga kasih sayang seorang ibu yang begitu Jisoo butuhkan pun Tae Hyung bisa memenuhinya tanpa diminta sekalipun.

Seketika Jimin merasa dirinya begitu kecil jika dibandingkan dengan Tae Hyung, Jimin hanya bisa memberikan kasih sayang seorang kakak pada Jisoo tapi Tae Hyung? Dia bisa menjadi teman, bisa menjadi kakak, bisa menjadi lelaki dan dia bisa memenuhi apa yang Jisoo inginkan.

“Terimakasih…” katanya membuat Tae Hyung menoleh menatapnya bingung. “Untuk Jisoo, kau sudah memberikan jauh dari cukup dari pada yang seharusnya.”

Mendengar ucapan itu membuat Tae Hyung tersenyum lebar, Jimin pasti sangat menyayangi adiknya. Jisoo memang manis, andai saja dia memiliki saudara pasti ia juga akan melakukan hal yang sama seperti Jimin.

“Aku berjanji setelah semua ini selesai Jisoo akan kembali padamu Jimin-ah…”

“Aku tau.”

*****

Kesokan paginya Jung Soo tengah menikmati sarapanya bersama Min Gi, lelaki itu tidak bisa melunturkan senyumanya melihat tingkah manis Min Gi. Gadis itu tengah mengaduk teh lalu tersenyum dan menyodorkan teh tersebut padanya.

“Terimakasih sayangku…”

“Apa hari ini kau sibuk Samchon?” Min Gi bertanya sambil mengambil segelas teh yang disiapkan pelayan untuknya.

“Tidak terlalu memangnya kenapa?”

“Bukan apa-apa.” Min Gi menaikan pundaknya sambil tersenyum lebar.

“Apa kau kesulitan tidur lagi? Kau ingin aku menemanimu?”

“Tidak…” Min Gi beringsut mendekat ke Jung Soo lalu menyetuh lengan lelaki itu lembut. “Aku tidur dengan sangat baik akir-akir ini…”

“Hmm?” Jung Soo meletakan tehnya di meja lalu menatap Min Gi sambil tersenyum dan menaikan alisnya. “Apa yang membuat gadis kecilku terlihat begitu bahagia huh?” katanya sambil mencolek dagu Min Gi.

Baru saja Min Gi ingin menjawab tapi kata-katanya tersendat karena seorang pelayan mendatanginya dengan raut wajah ketakutan dan tergesa-gesa.

“Yang Mulia maafkan saya, saya membawa berita buruk untuk Yang Mulia…” seketika senyum sepasang manusia itu luntur dan menatap pelayan yang tengah berlutut di hadapan mereka dengan tatapan tajam.

“Ada apa?” tanya Jung Soo dengan nada yang dingin dan rendah.

“Jendral Besar telah meninggal karena kalah bertarung dengan prajurit Gugoryeo.” Seketika Jung Soo dan Min Gi membeku di tempat.

“Bagaimana bisa?” kata Jung Soo dengan nada rendah yang benar-benar menakutkan sementara Min Gi semakin kuat menggengam lengan Jung Soo berjaga-jaga andai saja Jung Soo akan membunuh pelayan itu.

“Yang Mulia…” Min Gi mengusap pundak Jung Soo.

“Bagaimana seorang jendral besar bisa mati hanya karena pertarungan kecil seperti ini?!” detik berikutnya suara Jung Soo menggelegar di seluruh ruang makan istana. Lelaki itu berdiri mengabaikan tangan Min Gi yang tengah merangkul tanganya membuat tubuh gadis itu tersentak hampir kehilangan keseimbanganya.

“Siapa saja yang ikut dalam patroli itu?!” dan detik berikutnya suara gelas pecah menggelegar di ruangan membuat pelayang yang berada disana merunduk ketakutan.

“J-Jendral Cho dan Wakil Jendral Jeon Yang Mulia.” Jawab pelayan yang berlutut dengan suara yang pelan dan bergetar takut.

“Suruh dia menemui di ruang pertemuan sekarang!” lagi kali ini suara vas pecah memenuh ruangan. Pelayan yang hampir mati ketakutan itu langsung berdiri pamit dengan tergesa-gesa menunaikan apa yang Jung Soo inginkan.

Min Gi berdiri menghampiri Jung Soo yang sudah seperti banteng marah melihat warna merah. Ia mencoba menyetuh Jung Soo namun lelaki itu mengabaikanya.

“Samchon…” Min Gi berusaha menahan Jung Soo saat lelaki itu hendak pergi. “Tenangkan dirimu terlebih dahulu.”

“Bagaimana aku bisa tenang?!” jawabnya dengan nada membentak membuat Min Gi terkejut, pasalnya lelaki itu bahkan tidak pernah berbicara dengan nada tinggi padanya dan sekarang dia membentak Min Gi. Jung Soo yang baru saja menyadari apa yang barusan ia lakukan langsung mengerang frustasi sambil memegang kepalanya. Lelaki itu menyingkirkan tangan Min Gi di lenganya lalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan panggilan Min Gi.

Sementara Min Gi hanya bisa mematung lemas setelah kepergian Jung Soo, gadis itu limbung terduduk di kursi sambil menatap pintu keluar dengan tatapan kosong. Kemudian ia menyadari sesuatu, tanganya terkepal erat, tatapanya berubah menjadi dingin dan tajam menatap lurus ke depan.

Kim Tae Hyung….

TBC

Yuhyuuuuu Loooongggg Chaper permisah, gimana puas bacanya. Oh iya buat yang pengen Tae Hyung-Min Gi moment ada banyaaak di part 13 tapi siapian bayaaaak tisu juga yah di part 13 soalnya bikin bajir permisah part 13 ok see you Next Chapter!!!

51 thoughts on “Sun Flower Part 12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s