What’s Your Feeling Part 3


 

Chapter 3

 

Author             : Valadayunos

Title                : What’s Your Feeling?

Category         : NC 17, Romance-Comedy, Chapter

Cast                 : Han Rae Ra

Cho Kyuhyun

Lee Donghae

Alexander Kim

Notes               : Haiiii!!! Terima kasih untuk semuanya yang dengan begitu baiknya mau menyempatkan diri membaca cerita aku. Ini FF pertama aku lho hihihi… Terima kasih untuk semua komentar berisi pujian, pertanyaan, kritik, maupun sarannya, Teman-teman. Aku selalu membaca komentar-komentar kalian dan selalu girang setengah mati kalau ada komentar baru (setiap habis dipublish aku suka buka blog ini untuk lihat apakah ada komentar baru atau tidak hehehe). Maaf kalau masih terdapat kesalahan kata ataupun masih kurang memuaskan. Aku akan selalu berusaha membuat FF ini tidak mengecewakan. Semoga kalian suka dengan kelanjutannya. Sekali lagi, terima kasih banyak dan aku sayang kalian!!

 

ΰ ΰ ΰ

 

 

“They’ll judge it like they know about me and you.”

Taylor Swift  –  Ours

 

 

ΰ ΰ ΰ

 

 

Kriiingggg… Kriiingggggg……

 

“Ya, Bu! Aku sudah bangun!!” seru Rae Ra asal. Masih dengan mata terpejam, ia memiringkan tubuhnya ke kiri. Lalu memeluk bantal besar di sampingnya.

 

Rae Ra merasa wajahnya terasa hangat, seolah nafas seseorang tengah menerpa wajahnya. Tapi ia tidak mempedulikannya dan lebih memilih untuk kembali tertidur dengan tenang.

 

Kriiiingggg…… Kriiingggg…

 

“Ibu, aku sudah bangun!!! Aku sedang memakai baju…!!!” Rae Ra kembali berseru dengan suara mengantuk bercampur jengkel. Ia merapatkan rengkuhannya. Kemudian, akhirnya ia merasa ada yang janggal dengan sesuatu yang dipeluknya.

 

Sejak kapan bantalnya berukuran sebesar ini? Bahkan besarnya melebihi besar tubuhnya dan sangat tidak empuk.

 

Dan… sejak kapan bantal atau gulingnya dapat memeluknya seerat ini?

 

Perlahan-lahan, ia membuka matanya.

 

Seketika itu juga, matanya membulat sempurna. “Astaga! Kenapa kau bisa ada di kamarku?!!” teriaknya histeris. Ia masih menatap seorang pria yang sejak tadi tetap tertidur pulas meski Rae Ra sudah bertingkah berisik dengan terus berteriak. Rae Ra terduduk sambil masih menatap Kyuhyun yang tak kunjung membuka matanya.

 

Setelah sekian lama ia hanya terdiam sambil memandangi Kyuhyun, Kyuhyun tetap tidak kunjung membuka matanya. Membuat Rae Ra geram. Ditambah dengan suara alarm yang sejak tadi terus berdering, semakin membuat Rae Ra benar-benar darah tinggi.

 

Ia meraih jam wekernya yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya, lalu mematikan suara alarm itu dengan kasar. Setelah itu, ia menepuk-nepuk pipi Kyuhyun berulang-ulang kali, “Kyuhyun! Cepat bangun!!” ujarnya. “Kenapa kau bisa ada di kamarku?!”

 

Kyuhyun mengerang sesaat di tengah pejaman matanya karena mulai merasa terganggu. Tapi setelah itu, ia malah membalikkan tubuhnya, membelakangi Rae Ra.

 

Rae Ra mendengus.

 

“Hei! Cho Kyuhyun!! Cepat bangun!!!” Kali ini Rae Ra mengguncang-guncangkan tubuh Kyuhyun dengan kasar, “Kyuhyun, cepat bangun!!! Bagaimana jika Ibu melihat kau tidur di kamarku, bahkan sempat memelukku?? Bisa-bisa kita akan menikah hari ini!” kata Rae Ra dengan nada panik. Yang membuatnya panik saat ini bukanlah ia yang tidur satu ranjang dengan sahabat prianya, melainkan ia yang tidur bersama Cho Kyuhyun yang statusnya adalah calon suaminya. Ada kemungkinan bahwa ibu Rae Ra bisa saja berpikir macam-macam, seperti terjadi sesuatu di antara Rae Ra dan Kyuhyun semalam. Apapun itu dapat dijadikan sebagai kemungkinan bagi ibunya. Namun sialnya, Kyuhyun sepertinya tidak memusingkan hal itu.

 

Kyuhyun membalikkan tubuhnya ke arah Rae Ra, lalu sedikit membuka matanya. Ia menatap Rae Ra dengan mata memicing tajam. Kyuhyun benar-benar tampak terganggu dengan ulah Rae Ra. “Kita memang sudah menikah, bodoh! Dan di sini tidak ada Ibu!” desis Kyuhyun kesal. Rae Ra mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba memahami apa yang diucapkan oleh Kyuhyun barusan.

 

Menikah?

 

Oh, benar juga, bukankah kemarin mereka baru saja menikah? Bagaimana ia bisa lupa?

 

Rae Ra terduduk di atas tempat tidurnya dengan wajah tercengang. Lalu tertawa terbahak-bahak dengan geli. Tapi kemudian ia terlihat kecewa. “Maaf, aku lupa.” ucapnya. Kyuhyun bergumam tidak jelas sebelum akhirnya kembali memejamkan matanya.

 

Baiklah, pagi pertama dengan perubahan terbesar di dalam hidup Rae Ra.

 

Semangat?

 

 

ΰ ΰ ΰ

 

 

“Jadi, bagaimana malam pertama kalian?” tanya Lee Donghae yang sejak pagi sudah datang ke apartemen kedua sahabatnya yang baru saja menikah dengan alasan ingin mengganggu pasangan pengantin baru itu.

 

Kyuhyun mengangkat bahunya sambil mengolesi roti dengan selai kacang. “Ya, begitulah,” sahutnya singkat tanpa bermaksud untuk menjelaskan lebih banyak pada Donghae yang sudah melemparkan pandangan terlampau tertarik kepada dua manusia yang sangat tidak ingin membagi cerita mereka pada pria itu. Sedangkan Rae Ra hanya serius memakan sandwichnya tanpa memiliki niat untuk menjawab pertanyaan itu.

 

Donghae terkekeh dengan wajah menggodanya. “Eiyy… Kalian tidak ingin menceritakannya padaku?”

 

Alis Rae Ra beranjak naik. “Menceritakan apa?” tanyanya pura-pura tak mengerti. Lalu gadis itu meneguk susu coklatnya dengan tenang.

 

Donghae mencondongkan tubuhnya ke arah Rae Ra yang duduk di sampingnya di meja makan itu. “Kau tahu apa yang aku maksud, Nyonya Cho.”

 

Seketika, Kyuhyun dan Rae Ra langsung tersedak setelah mendengar panggilan Donghae yang ditujukkan pada Rae Ra tadi. Rae Ra memukul-mukul dadanya sambil terbatuk-batuk, sementara Kyuhyun hanya meminum teh hangatnya perlahan. Setelah selesai terbatuk-batuk, Rae Ra langsung memandangi Donghae dengan tajam. “Jangan memanggilku dengan sebutan itu! Ish, menjijikkan.” jengkelnya.

 

Lee Donghae terbahak di tempatnya.

 

“Memangnya kenapa? Itu memang namamu mulai sekarang. Cho Rae Ra. Kau harus membiasakan dirimu dipanggil dengan nama itu.” Jika kalian pikir kalau kata-kata itu berasal dari Lee Donghae, kalian salah besar. Karena tidak dapat dipercaya, kata-kata itu meluncur keluar dari bibir Cho Kyuhyun. Secara pribadi, Kyuhyun pun merasakan perasaan heran terhadap bibirnya sendiri.

 

Kini Rae Ra beralih menatap pria itu dengan tatapan menyeramkannya. Kyuhyun hanya menanggapinya dengan wajah datar yang menampakkan bahwa ia tidak menyesal telah mengatakan hal itu. “Kau… Aisssh!” Ia bangkit dari duduknya tanpa menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu, dan berjalan menuju ruang TV sambil membawa sandwich, juga susu coklatnya dengan langkah menghentak-hentak kesal.

 

Kyuhyun terkekeh geli bersama Donghae melihat kepergian gadis itu. Mereka ber-high five karena berhasil membuat gadis yang tidak pernah menyukai sebuah kekalahan itu, kini harus menelan sebuah kekalahan telak. Kemudian Kyuhyun menggigit rotinya yang sudah diolesi selai dengan perasaan bahagia.

 

“Cho Kyuhyun, kau harus menceritakan malam pertama kalian padaku!!” Donghae kembali membawa topik yang sulit untuk dijawab oleh Kyuhyun itu ke permukaan dengan wajah berlebihannya yang selalu membuat Kyuhyun merasakan mual. Dan Kyuhyun kini sudah merasakan dorongan kuat untuk muntah detik itu juga.

 

Kyuhyun mengalihkan tatapannya pada jendela besar yang berada di sisi kiri meja makan sambil menghembuskan nafas berat. Terlalu malas menatap wajah Donghae yang sangat mendramatisir itu. “Tidak ada yang perlu diceritakan, Hae. Aku dan Rae Ra tidak melakukan apapun,” Kini ia mengalihkan tatapannya pada pria yang sudah seperti kakaknya itu.

 

“Kau tidak melakukannya? Melakukan… Kau tentu paham yang aku maksud, bukan?”

 

Kyuhyun mengangguk. “Ya, kami tidak melakukannya. Kami sudah memiliki kesepakatan bahwa kami tidak akan pernah melakukannya. Karena, yeah, kami tidak saling mencintai.” tandasnya ringan.

 

“Tapi… bagaimana bisa? Hei, Kyu, bukankah kau adalah seorang casanova? Kenapa kau bisa melepaskannya begitu saja?” Donghae menyahut dengan alis mengernyit. Entah maksudnya bingung dengan pola pikir Kyuhyun atau karena pria itu tidak mempercayai  penjelasan sahabatnya itu.

 

“Aku tidak mungkin meniduri sahabatku. Memangnya jika kau berada di posisiku kau akan tetap meniduri Rae Ra?” ucap Kyuhyun sambil menatap Donghae sarkastik.

 

Donghae terlihat tertegun mendengar perkataan Kyuhyun. Tak lama, ia mengangkat bahunya asal. “Entahlah. Aku bisa saja menidurinya jika waktunya tepat.” jawabnya sambil menyengir lebar, membuat Kyuhyun langsung melemparinya dengan tatapan tak percaya.

 

Mungkin karena melihat tatapan Kyuhyun yang menatapnya seolah ia adalah pria mesum yang tak tahu malu, Donghae tertawa geli. “Aku hanya bercanda… Ya, aku mengerti kenapa kau tidak ingin meniduri Rae Ra. Karena pasti aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu jika aku berada di posisimu saat ini.”

 

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya tinggi dengan wajah mencibir. “Cih! Aku tahu kau akan tetap menidurinya.”

 

“Hei, aku tidak akan pernah meniduri seorang wanita jika aku tidak mencintainya!” kilah Donghae dengan nada bangga. Kyuhyun memutar matanya tak peduli dan tidak menyahuti ucapan Donghae, lebih memilih untuk kembali memakan sarapannya.

 

Selama beberapa saat, mereka sibuk dengan sarapan mereka sampai tiba-tiba, Donghae mencondongkan tubuhnya. “Kyu, kau benar-benar tidak melakukan apapun dengannya?”

 

Kyuhyun menggeram. “Tidak!” desisnya kesal.

 

“Memangnya kau tidak merasa tergoda?”

 

“Tidak!”

 

“Meskipun…” Donghae semakin mencondongkan tubuhnya pada Kyuhyun, lalu melanjutkan kalimatnya dengan suara yang sangat rendah, “…tubuhnya indah?”

 

Detik setelah Donghae menyelesaikan kalimatnya, Kyuhyun langsung tersedak air liurnya sendiri setelah mendengar ucapan mengejutkan itu. Cepat-cepat Kyuhyun teguk teh hangatnya untuk membersihkan tenggorokannya yang terasa sangat sakit. Setelah selesai, ia memandangi Donghae dengan wajah berang. “Aku benar-benar tidak melakukannya bersama Rae Ra, Hae! Aku tidak merasa tergoda walaupun tubuhnya indah! Seindah apapun tubuhnya, dia tetaplah sahabatku dan kami tidak saling mencintai!” katanya tegas.

 

Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti apa yang Kyuhyun katakan. “Lalu kenapa kalian tidur di kamar yang sama? Toh, di apartemen ini ada dua kamar lain yang masih kosong. Dan aku dengar, kau melarang orangtuamu dan orangtua Rae Ra untuk menyediakan pelayan yang akan mengurusi segala tugas rumah tangga di apartemen ini, apakah benar?”

 

Kyuhyun mengangkat alis sejenak, lalu, “Aku dan Rae Ra hanya berpikir bahwa tidur di kamar yang sama bukanlah hal yang asing bagi kami. Kau, aku, dan dia memang sering tidur bersama, bukan? Jadi, kenapa harus tidur di kamar yang terpisah?” Donghae memiringkan kepalanya dengan wajah berpikir—walau Kyuhyun curiga bahwa sebenarnya pria itu tidak bisa memikirkan apapun karena otaknya hanya terisi oleh hal-hal mesum saat ini. Namun tak lama, Donghae kembali mengangguk sambil mengangkat bahu. “Dan soal pelayan, ya, aku memang melarangnya tanpa sepengetahuan Rae Ra.” Kyuhyun melanjutkan.

 

“Kenapa?”

 

“Agar dia belajar untuk menjadi ibu rumah tangga.”

 

“Oh, awalnya aku pikir karena kau ingin selalu berduaan tanpa gangguan siapapun ketika berada di rumah. Yah, agar kalian cepat-cepat memiliki bayi.” papar Donghae dengan wajah tanpa beban. Kyuhyun mendesah sesaat, lalu memilih untuk tidak menjawab pernyataan yang sangat tidak penting itu. Tidak berguna dan sangat tidak berbobot sekali menurutnya.

 

”Jadi, apa yang kalian lakukan semalam?”

 

Setelah pertanyaan itu memasuki pendengarannya, muncul sekelebat bayangan di dalam ingatan Kyuhyun tentang apa yang terjadi padanya dan Rae Ra semalam. Kyuhyun tersenyum lebar sambil menatap Donghae yang sudah memandanginya penuh dengan rasa ingin tahu. Ia ikut mencondongkan tubuhnya ke arah Donghae. “Semalam kami berciuman.” katanya dengan suara rendah. Donghae mencebikkan bibirnya. Mencibir dengan tatapan kecewa.

 

“Bukankah kita sering melakukannya sejak kecil? Apanya yang istimewa?”

 

“Kau harus tahu, Hae, kali ini berbeda. Kami berciuman di tempat tidur dengan posisi saling menindih sampai keringat membanjiri pakaian kami.” Setelah mengatakan hal itu, Kyuhyun tertawa keras untuk alasan yang tidak jelas. Sedangkan Donghae memandangnya dengan wajah terkejut.

 

“Maksudmu, kalian melakukan French Kiss?” tanya Donghae bersemangat.

 

Kyuhyun mengangkat bahu dengan senyuman tipis sambil membetulkan posisi duduknya seperti semula. “Aku tidak tahu apakah ciuman semalam bisa dikategorikan sebagai French Kiss atau hanya ciuman main-main. Yang jelas, Rae Ra cukup mahir berciuman… Ah, tidak,” Ia menggeleng. “dia memang sangat mahir.” tukasnya jujur sambil memasukkan satu buah roti utuh ke dalam mulut. Mencoba menyamarkan senyuman lebar yang memaksa untuk tersungging di bibirnya dari Donghae dengan satu suapan besar.

 

Donghae tertawa dengan wajah khas pria mesumnya. “Ahh… Kalau begitu kau harus ceritakan padaku bagaimana kau bisa menciumnya tanpa mendapat cubitan darinya!” cecar Donghae sambil berlari ke arah Kyuhyun dan menduduki kursi meja makan di samping pria itu.

 

Kyuhyun terkekeh dengan pandangan menerawang.

 

“Sebenarnya itu semua berada di luar dugaanku. Awalnya, aku hanya ingin menggodanya dengan berpura-pura akan memperkosanya. Lalu, saat dia benar-benar sudah berada di bawah tubuhku sambil menutup matanya karena takut, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya… Dia benar-benar imut.”

 

“Setelah itu? Apakah tanganmu meraba sesuatu dari tubuhnya?”

 

“Tanganku selalu bermain dengan aman. Aku hanya mengelus lengan dan punggungnya.”

 

Donghae mengangkat alisnya tinggi. “Kau yakin? Bukankah di saat sedang melakukan ciuman panas semacam itu kita tidak bisa mengendalikan diri?”

 

Kyuhyun menghembuskan nafas frustasi saat menyadari bahwa sahabatnya itu mengharapkan hal mesum terjadi di antara ia dan Rae Ra. “Sudah aku bilang, ciuman kami tidak bisa dikategorikan sebagai French Kiss, Hae. Dia bahkan menciumku dengan sangat tenang sekali.”

 

Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah serius. Ia menggosok dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya. “Apakah dia sudah sering berciuman seperti itu dengan pria-pria yang dikencaninya?”

 

Kyuhyun mengerutkan kening dalam-dalam mendengar penuturan Donghae yang seperti diucapkan dengan tidak sadar. “Benarkah Rae Ra selalu melakukan hal itu dengan pria-pria yang dikencaninya?!” Ia bertanya dengan nada marah.

 

Ya, Kyuhyun memang marah jika sampai hal itu benar-benar terjadi.

 

Aisssh, Kyuhyun, tidak perlu cemburu begitu,” Donghae menatapnya dengan pandangan menggoda, “Bukankah sekarang kau sudah memiliki Rae Ra sepenuhnya?”

 

“Aku tidak cemburu, Hae.” sangkalnya mulai muak.

 

Kyuhyun jadi bertanya-tanya, kenapa semua orang jadi seperti ini? Seharusnya mereka tahu—terutama Donghae, jangan karena ia dan Rae Ra sudah menikah, mereka dapat menganggap ia dan Rae Ra saling mencintai. Sejak awal, ia dan Rae Ra tidak pernah mengkehendaki adanya pernikahan ini. Sudah sepatutnya mereka mengerti fakta bahwa pasangan yang dijodohkan tidak selamanya akan saling mencintai pada akhirnya.

 

Dan mencintai seseorang yang selama seumur hidupmu selalu kau anggap sebagai sahabat terbaikmu yang begitu kau sayangi dan mampu membuatmu rela kehilangan waktu berhargamu hanya untuk menemaninya menjahili orang lain, itu sama sekali bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

 

Jadi, kemarahan Kyuhyun tadi mengenai ucapan Donghae bukanlah sebuah rasa cemburu, melainkan rasa kesal seorang sahabat laki-laki ketika tahu bahwa sahabat wanitanya dicium oleh seorang pria.

 

Yah, kira-kira semacam itulah.

 

Donghae menepuk bahu Kyuhyun. “Tidak perlu cemas, Kyu. Aku dapat menjamin bahwa Rae Ra tidak pernah berciuman dengan seorang pria sampai sepanas ini. Dia pasti hanya sekadar mengecup singkat seperti yang biasa dia lakukan pada kita. Kau tahu sebesar apa harga dirinya itu.” Donghae mencoba menenangkannya. “Jadi, Cho Kyuhyun yang pertama.”

 

Jujur saja, Kyuhyun lega dan senang mendengar perkataan Donghae barusan, tapi ia khawatir jika Donghae akan berpikiran macam-macam, seperti menganggapnya benar-benar cemburu jika ia sampai terlihat senang. Jadi, yang dapat ia lakukan untuk menutupi rasa senangnya adalah dengan memasang ekspresi tak acuh sambil meneguk teh hangatnya sampai habis.

 

“Aku tidak peduli.” komentarnya tanpa melihat Donghae.

 

Donghae terkekeh ringan. “Jadi, ceritakan apa yang terjadi setelah kau mengajaknya berciuman untuk yang kedua kalinya.”

 

“Setelah itu, kami hanya tidur—“

 

Tunggu sebentar.

 

Kyuhyun mengerjapkan matanya bekali-kali. Berpikir di dalam otaknya mengenai hal janggal dari kata-kata Donghae tadi. Memangnya ia bilang pada Donghae bahwa mereka berciuman dua kali? Bernarkah?

 

Dengan cepat, Kyuhyun menoleh pada Donghae yang menatap susu yang sedang diaduknya dengan wajah polos yang sangat memuakkan. Kyuhyun menatapnya dengan tatapan dingin hingga Donghae akhirnya menyadari tatapan itu dan mendongak. Alisnya beranjak naik, dan kemudian ia bertanya dengan tidak berdosa, “Apa?” Wajahnya terlihat sok suci bagi mata Kyuhyun yang sudah mampu mencium kebusukan Lee Donghae.

 

“Bagaimana kau bisa tahu?”

 

“Tahu apa?” tanya Donghae lagi dengan wajah yang semakin terlihat bodoh.

 

“Lee Donghae!!!” sembur Kyuhyun mulai muak dengan sikap sok tidak tahu apa-apa Donghae.

 

“Baiklah, baiklah…” Donghae  akhirnya menyerah. Wajah kebanggaannya itu kini dipenuhi oleh cengiran mesum. Ia tertawa kecil sejenak sebelum kemudian melanjutkan perkataannya, “Aku melihatnya secara langsung. Sebenarnya semalam aku datang ke sini karena penasaran dengan apa yang kalian lakukan di malam pertama kalian. Lalu, setelah cukup lama aku bersembunyi di gudang dekat ruang TV dan hampir kecewa melihat kalian hanya sibuk dengan gadget kalian masing-masing, tiba-tiba aku mendapat tontonan gratis tak lama setelah Rae Ra menyusulmu ke kamar kalian dan tidak menutup pintu dengan rapat. Awalnya aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya kau lakukan sampai membuat Rae Ra teriak-teriak seperti orang sinting. Setelah itu, yeah, aku mengintip dari pintu dan menyaksikan semuanya.” jelasnya dengan mata berbinar jahil. Tangan Kyuhyun sudah mengepal kuat mendengar ucapannya. Sudah sangat siap untuk mendaratkan pukulan di wajah pria yang sangat menyebalkan itu. “Tapi setelah kau kembali menciumnya untuk yang kedua kalinya, aku putuskan untuk pulang dan merenungkan masa depanku sepanjang malam. Apakah sebaiknya aku cepat-cepat menikah?”

 

“ASTAGA!!! DONGHAE!!! DASAR KEPARAT!!! BRENGSEK!!! LAKI-LAKI SIALAN!!!” teriak Kyuhyun murka sambil menarik kerah kaos hijau Donghae yang telah melipat bibirnya menahan tawa. Wajah Kyuhyun sudah berubah menjadi merah padam dan nafasnya tidak terkendali. Tak lama, ia kembali berteriak. Kali ini berteriak pada Rae Ra yang masih berada di ruang TV, “RAE RA!!! SI MESUM INI MELIHAT KITA BERCIUMAN SEMALAM!!!!”

 

“APA??!! KAU PASTI BERCANDA!!!!”

 

“HAHAHAHAHAHAHAHA……”

 

 

ΰ ΰ ΰ

 

 

“Aku ingin ini.”

 

“Aku ingin ini juga.”

 

“Ah, ini juga.”

 

“Astaga, aku ingin itu!”

 

“Oh, aku harus beli itu!!”

 

“Itu imut sekali! Bungkuskan aku satu!”

 

“Ini… ini… dan ini juga.”

 

“Warnanya lucu sekali. Aku suka. Aku mau itu.”

 

“Kyuhyun, kau suka ini? Kau pasti suka, bukan? Kalau begitu, aku ambil yang ini juga.”

 

Kyuhyun menatap Rae Ra dengan wajah frustasi. Ia mengurut pelipisnya saat melihat Rae Ra dibantu oleh manajer toko prabotan itu sedang mendatangi sudut toko berisi berbagai macam lampu tidur dengan bentuk-bentuk yang sangat menggugah selera Rae Ra untuk kembali berbelanja.

 

Ia berjalan mendekati Rae Ra dan memberi tanda pada manajer toko itu untuk meninggalkan mereka berdua. Setelah manajer toko itu pergi, Kyuhyun langsung menarik pinggang ramping istrinya agar jarak mereka lebih dekat. Kyuhyun mendekatkan bibirnya pada telinga Rae Ra, kemudian berbisik, “Kau ingin membuat aku jatuh miskin?” dengan suara tajam. Kesal karena sebagian besar hal yang dibeli Rae Ra adalah hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan oleh mereka. Seperti misalnya alat menenun yang Kyuhyun tidak tahu akan diapakan oleh wanita itu.

 

Rae Ra langsung mencibir mendengarnya. “Kau ini perhitungan sekali pada istrimu! Tenang saja, nanti aku akan membayarnya dengan uangku! Kau pikir aku tidak mampu membayar semua barang-barang ini?” Rae Ra menatap Kyuhyun tajam.

 

Kyuhyun terkekeh geli. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Rae Ra. “Nah, begitu lebih baik.” bisiknya lagi, lalu mengecup pipi Rae Ra dengan tiba-tiba.

 

Rae Ra mendelik. “Dasar suami brengsek!! Pelit!!” serunya tertahan. Ia memukuli tubuh Kyuhyun yang sudah tertawa senang setelah melihat seberapa kesal dirinya saat ini. Kyuhyun terus tertawa dengan Rae Ra yang tetap memukulinya, tanpa berniat untuk peduli pada keadaan sekitar mereka. Banyak orang yang berada di toko prabotan dengan banyak barang-barang mewah dan kisaran harga diatas ribuan won itu menatap mereka sebagai pusat perhatian. Bahkan, beberapa orang merasakan dorongan yang cukup kuat untuk memotret mereka saat mengetahui bahwa dua orang yang sekarang tampak seperti anak kecil ini adalah putra dan putri dari pemilik perusahaan-perusahaan terbesar di Korea Selatan, yang kemarin baru saja melangsungkan acara pernikahan. Dan sejak pagi tadi sudah menjadi topik pemberitaan banyak media di Korea Selatan, bahkan dunia.

 

“Ehem.” Tiba-tiba ada sebuah suara berat yang menginterupsi kegiatan Kyuhyun dan Rae Ra. Sontak, keduanya menoleh ke asal suara. Lalu keduanya langsung terkejut ketika melihat siapa pemilik suara berat itu.

 

“Ayah?” gumam Kyuhyun rendah begitu melihat ayahnya sudah berdiri di hadapannya dengan memakai kemeja santai berwarna putih.

Cho Young Hwan tertawa kecil sambil menatap anak dan menantunya. “Kalian ini, selalu saja bertengkar. Kalian tidak lupa, bukan, bahwa kalian sudah menikah dan bukan anak kecil lagi?” ujarnya tak habis pikir.

 

Kyuhyun dan Rae Ra tersenyum kaku.

 

“Ayah, sedang apa di sini?” tanya Rae Ra mengalihkan pembicaraan dengan bibir sedikit kelu ketika memanggil ayah Kyuhyun dengan sebutan ‘Ayah’, yang biasanya ia panggil dengan panggilan ‘Paman’ selama seumur hidupnya.

 

“Ayah sedang mencari sofa dan meja baru untuk ditaruh di ruangan Tuan Park yang baru.” jawab Cho Young Hwan sambil tersenyum. Kini pria paruh baya itu melirik Kyuhyun. “Seharusnya ini tugas Kyuhyun sejak tiga bulan yang lalu tapi dia selalu beralasan kalau kau sibuk, Rae Ra.”

 

“Eh?” Rae Ra tampak tidak mengerti. Ia tidak tahu apa hubungan dirinya dengan hal ini.

 

“Ayah menyuruhku memintamu memilihkan meja dan sofa itu.” Kyuhyun menjelaskan.

 

Cho Young Hwan terkekeh. “Ya, karena pria selalu meminta wanitanya untuk memilih hal-hal semacam itu.”

 

“Ah, begitu rupanya.” Sekarang Rae Ra mengerti mengapa Kyuhyun tidak pernah memintanya untuk menemani pria itu membeli barang-barang itu. Karena Rae Ra juga menganggap bahwa hal tersebut adalah hal yang menggelikan. Setidaknya karena alasan pemikiran ayah Kyuhyun bahwa Rae Ra merupakan wanita Kyuhyun. Jika dalam pemikiran ini Rae Ra merupakan wanita dari laki-laki yang disukainya, mungkin Rae Ra akan beranggapan lain. Untuk mengalihkan pembicaraan, Rae Ra menatap sekitarnya. Seperti mencari sesuatu. “Jadi, di mana Ibu?” tanya Rae Ra lagi. Sekarang ia tahu bahwa ibu mertuanya pastilah berada di toko itu juga.

 

Young Hwan mengangkat bahunya. “Entahlah. Tadi dia bilang ingin melihat alat-alat dapur bersama sekretaris Kyuhyun. Setelah itu, mereka tidak terlihat lagi.”

 

Rae Ra dan Kyuhyun mengangguk menanggapi ucapan Cho Young Hwan. Diam-diam, Rae Ra membayangkan ekspresi wajah sekretaris Kyuhyun setiap kali bertatap muka dengannya. Ia tahu wanita itu menaruh hati pada suaminya. Ia tidak tahu apakah Kyuhyun menyadarinya atau tidak. Tapi sepertinya pria menyebalkan itu menyadarinya, karena bagaimanapun juga, Kyuhyun pasti sudah sangat mengetahui tanda-tanda jika seorang wanita menyukainya dengan kenyataan bahwa ia adalah seorang casanova yang sudah sangat sering berada di sekitar wanita yang menggilainya. Dan di luar itu, perasaan sekretarisnya itu juga sangat terlihat jelas terpancar dari matanya.

 

Kenyataan lainnya adalah sekretaris suaminya itu tidak menyukainya. Mungkin sangat tidak menyukainya. Atau bahkan, membencinya. Tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana bisa wanita itu membencinya. Sebab, siapapun tahu, bahwa ketika kita menyukai seseorang dan orang yang kita cintai bersama dengan orang lain, kita pasti akan membenci pasangan orang yang kita cintai. Tidak perlu munafik. Siapapun pasti pernah merasakannya. Yeah, mungkin ada orang yang tidak sampai merasa benci, tapi setidaknya, pernah ada perasaan kesal meski hanya sekelebat. Yang sebenarnya, rasa kesal itu timbul karena rasa iri dan dengki.

 

Tapi, perlu berapa kali lagi Rae Ra harus menegaskan hal ini? Pernikahan ini bukanlah keinginannya. Ia dan Kyuhyun dijodohkan. Jadi, ayolah, jangan benci dirinya karena ia kini sudah resmi menjadi Nyonya Muda Cho. Jangan menatapnya dengan sinis lagi setiap kali ia mengantar bekal makan siang untuk Kyuhyun, karena itu semua adalah keinginan ibunya dan ibu mertuanya. Jangan mengumpatinya diam-diam setiap kali ia dan Kyuhyun bergandengan tangan, karena itu sudah terjadi secara alami sejak mereka kecil. Jangan menyumpahinya di belakang setiap kali Kyuhyun membelai rambut panjangnya berkali-kali, karena Kyuhyun memang selalu menyukai hal itu sejak dulu.

 

Semua memang sudah harus berjalan seperti ini. Ini semua bukan kesalahannya. Jika ingin menyalahkan, salahkan takdir, bukan dirinya. Walaupun sebenarnya Rae Ra tidak pernah peduli terhadap perasaan benci orang-orang terhadap dirinya, namun kali ini berbeda—meski ia memang tidak seberapa peduli, tapi setidaknya ia masih memikirkan perasaan wanita-wanita yang membencinya dengan alasan ia bersama dengan Kyuhyun. Karena menurutnya, wanita-wanita yang membencinya itu pasti memiliki perasaan yang dalam dan berharga untuk pria bodoh itu, lalu kemudian dirinya seolah-olah datang untuk menghancurkan segalanya. Pasti menyebalkan, dan ia sangat tahu seberapa sakitnya rasa semacam itu.

 

“Hei, kau sedang memikirkan apa? Kenapa hanya diam?”

 

Suara Kyuhyun menyadarkan Rae Ra dari lamunannya. Kyuhyun merangkul bahu Rae Ra sambil mengamati wajah istrinya itu. Rae Ra mengerjap beberapa kali, kemudian menggeleng. “Tidak ada,” Kyuhyun memasang ekspresi hendak mencibir Rae Ra yang sedang berusaha menutupi sesuatu darinya. Namun Rae Ra lebih dulu membuka mulut ketika menyadari bahwa ayah mertuanya sudah tidak berada di dekat mereka, “Ke mana Ayah?”

 

Mendengar pertanyaan Rae Ra, Kyuhyun semakin penasaran dengan apa yang sejak tadi dipikirkan oleh istrinya itu hingga tidak menyadari bahwa ayahnya sudah tidak berada di sana. “Sebenarnya, apa yang tadi kau pikirkan?”

 

“Bukan hal penting. Jangan memaksa.”

 

Kyuhyun mendesah putus asa. “Kalau begitu lebih baik kita bayar semua barang-barang yang kau beli, lalu makan siang sambil membicarakan apa yang tadi Ayah katakan—karena sepertinya kau tidak mendengarkan.”

 

 

ΰ ΰ ΰ

 

 

Rae Ra mengalihkan pandangannya ke arah Kyuhyun yang berjalan mendekatinya dengan kedua tangan memegang kotak dan kertas makanan cepat saji berlambang ‘M’ yang sangat khas. Ia menerima kotak yang diulurkan oleh Kyuhyun dengan hati senang, dan tanpa basa-basi langsung membukanya. Matanya berbinar ketika menemukan spaghetinya ada di dalam kotak itu.

 

“Kau selalu tahu apa yang ingin aku pesan.” kata Rae Ra senang tanpa melihat Kyuhyun yang tersenyum samar di sampingnya.

 

“Bagaimana aku bisa tidak tahu jika kau selalu berada di setiap waktu yang aku miliki?” sahut Kyuhyun dengan nada datar. Sebenarnya kata-kata itu cukup manis, namun karena Kyuhyun mengatakannya dengan nada seakan hal itu merupakan sebuah kutukan, Rae Ra pun tidak merasa tersanjung sama sekali.

 

Kyuhyun mulai membuka kertasnya dan mengeluarkan sebuah hamburger dari sana saat Rae Ra bersuara, “Oh ya,” Ia memandangi Kyuhyun dengan wajah serius, “Kau bisa ceritakan bagaimana kau bisa menemukan tempat seindah dan sesunyi ini?” tanyanya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Saat ini mereka sedang duduk di kursi panjang yang berada di sebuah lahan kosong tanpa tanaman apapun selain sebuah pohon rindang yang menjadi peneduh kursi panjang yang mereka duduki, di ketinggian yang tidak main-main. Dan sejauh mata memandang, hanya ada tanah yang membentang luas. Tidak ada siapapun di sana selain dirinya, Kyuhyun, dan Porsche silver Kyuhyun. Sementara di hadapan mereka, tersaji sebuah pemandangan kota Seoul yang selalu sibuk dengan segala aktivitasnya. Dan pemandangan itu, adalah pemandangan yang selama ini selalu diharapkan Rae Ra setelah ia melihatnya di film-film atau drama romantis yang sering ditontonnya bersama Donghae.

 

Ini benar-benar menakjubkan. Selama bertahun-tahun ia mencari tempat seperti ini dan akhirnya menemukannya.

 

“Sekitar dua tahun yang lalu aku menemukan tempat ini tanpa sengaja ketika aku tersesat. Saat itu hari sudah gelap, dan kau bisa bayangkan seberapa mengagumkannya tempat ini saat itu dengan pemandangan kota Seoul yang dipenuhi lampu-lampu. Aku benar-benar jatuh cinta. Setelah hari itu, aku menyuruh salah satu pegawaiku untuk mencari tahu pemilik sah tempat ini. Selama satu tahun penuh aku perjuangkan tempat ini dengan terus menerus memberikan penawaran yang tidak tanggung-tanggung. Cukup sulit membujuk pemilik tempat ini untuk memberikannya padaku—karena seperti yang kau lihat, tempat ini memang terlalu berharga. Namun pada akhirnya,” Kyuhyun berucap dengan wajah bangga. Ia berhenti sejenak, lalu, “aku mendapatkannya.” lanjutnya dengan suara angkuh. Ia menyematkan sebuah senyuman miring di bibirnya.

 

Senyuman yang selalu Rae Ra kutuk keberadaannya.

 

Rae Ra menatap Kyuhyun takjub setelah sebelumnya mendesis karena melihat senyum itu. “Benarkah?! Jadi, tempat ini milikmu?!” tanya Rae Ra tak percaya.

 

Kyuhyun mengangguk dengan wajah senang. “Tepatnya, sejak sebelas bulan yang lalu, tempat ini resmi menjadi milikku.”

 

“Bagaimana bisa? Memangnya berapa tawaran yang kau berikan?”

 

“Sebenarnya tidak terlalu banyak. Pemilik sebelumnyalah yang memberikan harga untuk tempat ini, dan anehnya, harga itu bahkan setengahnya dari tawaranku. Tapi, dia memberikan aku beberapa syarat untuk memiliki tempat ini.” sahut Kyuhyun sambil menggigit hamburgernya dengan tenang.

 

“Syarat apa?” tanya Rae Ra penasaran. Ia membetulkan letak duduknya agar lebih menghadap ke arah Kyuhyun yang tampak tidak mempedulikannya. Dapat ia lihat Kyuhyun mengangkat bahunya dengan mulut penuh.

 

“Rahasia.” ujar Kyuhyun dengan suara seperti gumaman.

 

“Kau lupa? Tidak boleh ada rahasia di antara kita, Kyu.”

 

“Kau saja tadi tidak ingin memberitahukan apa yang kau pikirkan. Jadi kenapa sekarang kau malah berkata seperti itu?”

 

“Baiklah, akan aku beritahu!”

 

“Apa?”

 

“Sekretarismu menyukaimu dan dia tidak menyukaiku.”

 

“Kau cemburu?”

 

“Mau mati?” Rae Ra menunjukkan kepalan tangannya di hadapan Kyuhyun, membuat Kyuhyun tertawa geli. “Jadi, apa syaratnya?”

 

“Tidak bisa. Meskipun kau terus memaksaku, aku tetap tidak akan bicara.”

 

“Dasar sial! Kau menjebakku rupanya!” Rae Ra menampakkan wajah geramnya, tapi pertanyaan yang dikatakannya kemudian terdengar melunak, “Tapi kenapa?”

 

“Kali ini hanya aku, Tuhan, dan pemilik sebelumnyalah yang boleh mengetahui syarat apa yang diberikan.” jawab Kyuhyun. Kemudian ia menatap Rae Ra yang terlihat tidak setuju dengan jawabannya karena gadis itu kini dilanda rasa penasaran yang tidak sedikit. “Aku sudah berjanji.”

 

“Kau tahu, tidak boleh ada siapapun yang membuat aku penasaran!” umpat Rae Ra sebal. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan mulai memakan spaghetinya dengan kasar.

 

Kyuhyun terkekeh melihatnya. “Pelan-pelan saja. Kau lapar sekali, ya?” gurau Kyuhyun dengan cengiran.

 

“Ya, aku lapar sekali. Sampai-sampai aku ingin memakanmu juga.” sinis Rae Ra dengan lirikan buas di matanya untuk Kyuhyun.

 

Kyuhyun tertawa keras. Ia mengerling nakal pada Rae Ra. “Kau memang benar-benar ingin memakanku atau kau ingin memakanku dengan pengertian yang lain?” goda Kyuhyun sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Rae Ra dan langsung mendapat tatapan yang sama persis Rae Ra lemparkan saat seorang pria mesum tengah menggoda Rae Ra di pesta salah satu teman mereka beberapa bulan yang lalu.

 

“Mesum.” ucap Rae Ra sambil mendorong wajah Kyuhyun agar menjauh darinya.

 

“Aku tidak mesum!” sangkal Kyuhyun dengan wajah tak terima.

 

“Kalau begitu, kau menjijikkan!”

 

Kyuhyun tidak membalas dan lebih memilih memakan hamburgernya dalam diam karena tidak ingin memperkeruh keadaan. Rae Ra juga kembali melanjutkan makannya dengan tenang. Kini mereka telah sibuk dengan makanan masing-masing, dengan pandangan terpaku pada satu titik yang sama: pemandangan kota yang penuh dengan gedung-gedung.

 

Untuk sesaat, Kyuhyun dan Rae Ra menikmati suasana hening yang terjalin di antara keduanya. Perlahan, angin bertiup pelan membelai wajah mereka dengan lembut. Terasa sedikit dingin di wajah Kyuhyun dan ia menyukainya. Ia memang selalu menyukai setiap angin yang berhembus, sedingin apapun yang ditimbulkan angin itu pada tubuhnya. Karena, ketika merasa ia hanya seorang diri dan tak seorang pun dapat menolongnya menghadapi dunia, hanya angin yang berhembuslah yang berada di sisinya.

 

Dan bagi Kyuhyun, Han Rae Ra dan Lee Donghae adalah angin yang berhembus untuknya.

 

Tanpa sadar, Kyuhyun menatap wajah damai Rae Ra yang sedang mengunyah spaghetinya sambil menatap lurus ke depan. Diam-diam, pria itu merasa bersyukur karena Tuhan telah mendatangkan wanita dengan sejuta kejutan itu ke dalam hidupnya. Bahkan, sampai mengizinkannya mengenal seorang Han Rae Ra hingga sedalam ini. Dan mengizinkannya berada di dekat wanita itu selama bertahun-tahun.

 

Bahkan membuat skenario yang menyebabkan orangtua mereka membuatnya dan Rae Ra menikah.

 

“Oh ya, apa yang tadi Ayah bicarakan?” Suara Rae Ra memecah keheningan dan memaksa Kyuhyun keluar dari alam bawah sadarnya.

 

Kyuhyun mengangkat alisnya tinggi. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Rae Ra karena sibuk mencerna setiap patah kata yang keluar dari bibir Rae Ra selama beberapa detik. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah undangan berwarna emas yang terlihat berkelas dari dalam saku jasnya. Rae Ra menerimanya dengan bingung. “Tadi Ayah memberikan undangan ini padaku. Itu adalah acara ulang tahun perusahaan, sekaligus acara untuk merayakan pernikahan kita.” cetus Kyuhyun.

 

Rae Ra membaca kata per kata yang tertulis di dalam undangan itu dalam diam. Setelah selesai, ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kulitnya dengan gerakan tergesa. Kyuhyun melihat pemandangan itu dengan alis mengernyit. Sepertinya ia tahu ke mana cerita selanjutnya akan mengalir.

 

Hey, Diane, am I bothering you? No? Good…” Rae Ra berucap dalam bahasa Inggris setelah sebelumnya hanya terdiam dengan ponsel menempel di telinga, “I want to say, can you…

 

Kyuhyun sudah tidak mendengarkan lagi ketika tebakannya tepat sasaran. Rae Ra sedang menghubungi salah satu disainer ternama untuk merancang gaun untuknya. Ia menghela nafasnya dalam. Lalu kembali memakan hamburgernya sampai habis tanpa mendengarkan pembicaraan Rae Ra lebih banyak.

 

Tak lama, Rae Ra kembali menghubungi seseorang melalui ponselnya, “Hey, Christian, how are you …

 

Kyuhyun sadar, Rae Ra memang seorang penggila belanja—yeah, seperti para wanita pada umumnya, tapi Kyuhyun tidak tahu bahwa Rae Ra ternyata jauh lebih gila dari apa yang ia pikir selama ini. Wanita itu benar-benar akan kehilangan akal sehatnya ketika mendengar kata ‘belanja’ melewati telinganya. Saking sukanya belanja dan sering meminta pakaiannya untuk dirancang secara eksklusif, para disainer ternama di seluruh dunia sampai berteman baik dengannya. Bahkan, beberapa disainer datang ke acara pernikahannya kemarin.

 

Kyuhyun melirik Rae Ra sekilas, lalu menaruh kepalanya pada paha gadis itu dan memejamkan kedua matanya setelah menghembuskan nafasnya dalam. Suara Rae Ra tak lagi didengarnya karena rasa kantuk hampir menguasai seluruh kesadarannya. Terlebih lagi rasa nyaman yang selalu dan hanya didapatkannya ketika kepalanya berada di pangkuan Rae Ra, membantunya untuk semakin lelap tertidur.

 

Sebelum kesadaran Kyuhyun benar-benar menghilang, pria itu merasakan hembusan nafas Rae Ra menerpa wajahnya, disusul oleh kecupan ringan pada pipinya dari bibir lembut yang sangat dikenal Kyuhyun.

 

Bibir lembut yang kini menjadi favoritnya.

 

Rae Ra menutup kotak makanannya dan menaruhnya di dekat kaki dengan sedikit kesulitan. Kemudian, ia melihat layar ponselnya yang menampilkan berbagai macam koleksi gambar tas-tas terbaru keluaran Chanel pada musim kali ini dengan serius. Sedangkan tangannya yang lain sibuk mengelus rambut Kyuhyun yang tertidur seperti anak kecil dengan wajah damai.

 

Rae Ra menatap lurus ke depan dengan ekspresi berpikir. Ia masih bingung harus memilih tas yang mana yang akan dibelinya karena ia menyukai semua tas pada musim ini. Bukan karena ia tak mampu—ia bisa saja membeli semuanya sekaligus tanpa terkecuali, namun ayahnya tidak mungkin suka dengan hal itu.

 

Lalu, matanya tak sengaja menangkap wajah damai Kyuhyun di pangkuannya.

 

Teringat bahwa Kyuhyun juga pasti akan langsung mengomelinya.

 

Tanpa sadar, senyuman geli terlukis di bibir ranumnya.

 

Ia menyentuh layar ponselnya beberapa kali, sebelum akhirnya mengarahkan kamera ponselnya pada wajah Kyuhyun dan memotretnya. Lalu ia kembali menyentuh layar ponselnya untuk merubah pengaturan menjadi kamera depan. Rae Ra mendekatkan wajahnya pada wajah Kyuhyun dan memotret dirinya dan Kyuhyun dengan ekspresi meledek sambil memandang wajah Kyuhyun.

 

Saat melihat hasil fotonya, Rae Ra tertawa melihat bagaimana wajah Kyuhyun yang tak pernah berubah meski sudah bertahun-tahun berlalu dengan begitu cepatnya. Tetap tampak konyol ketika pria itu sedang tertidur.

 

“Ini rupa suamiku? Mengecewakan sekali.”

 
ΰ ΰ ΰ

 

 

Rae Ra berjalan di atas karpet itu dengan langkah anggun dan senyuman lebar, sementara tangan kanannya memeluk lengan Kyuhyun yang berjalan menuju pintu ballroom bersamanya dengan erat. Agar terlihat mesra di depan umum—itulah rencana Kyuhyun dan Rae Ra saat di perjalanan tadi. Rae Ra terus mencoba untuk mempraktekkan apa yang selama ini guru privat kepribadiannya ajarkan kepadanya sebagai seorang anak dari pengusaha ternama, meski sebenarnya, ia ingin sekali melarikan diri dari blitz-blitz kamera para wartawan yang seolah menamparnya tanpa ampun sejak ia turun dari Limousine-nya bersama Kyuhyun.

 

Walaupun sejak kecil Rae Ra sudah sering menjadi sorotan kamera para wartawan dan menyaksikan sendiri bagaimana hiruk pikuk orang-orang ketika ia menghadiri pesta semacam ini di gedung-gedung mewah, ia tidak terlalu menyukai hal itu. Menurutnya hal-hal semacam itu terlalu berlebihan. Tapi, ya, bagaimanapun juga, ada saat di mana Rae Ra merasa senang ketika menjadi pusat perhatian semua orang.

 

Donghae dan Kyuhyun pun tidak jauh berbeda. Sejak kecil, mereka sudah menjadi sorotan seperti halnya Rae Ra, tapi tidak seperti Rae Ra yang tidak terlalu suka menjadi sorotan, dua pria ini malah selalu menikmati saat-saat di mana semua orang menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Karena mereka merasa, sudah seharusnya pria tampan, keren, dan kaya seperti mereka menjadi sorotan. Saat Rae Ra pertama kali mendengar penuturan mereka mengenai hal itu, Rae Ra langsung menendang bokong Donghae dan menjambak rambut Kyuhyun dengan wajah muaknya.

 

“Selamat datang, Presdir. Selamat datang, Nyonya Muda Cho.” sapa dua orang pria sambil membungkuk penuh dan membukakan pintu ballroom untuk Kyuhyun dan Rae Ra. Sepasang suami istri itu hanya tersenyum simpul untuk membalas sapaan itu. Dalam hati, Rae Ra membatin bahwa ia jauh lebih suka ketika orang-orang memanggilnya sebagai ‘Nona Han’, ketimbang ‘Nyonya Muda Cho’.

 

“Hei, istrimu cantik sekali, Cho Kyuhyun. Saat dia masuk, hampir semua pria yang berada di sini menatapnya penuh minat. Aku sarankan, kau harus lebih berhati-hati.” Tiba-tiba, Choi Siwon, salah satu teman dekat mereka di SMP, berdiri di hadapan mereka dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Pria berlesung pipi itu memandangi Rae Ra dengan mata berbinar penuh ketertarikan. “Bagaimana jika aku saja yang menjadi suamimu?” tanyanya pada Rae Ra dengan wajah yang sangat serius. Jika ada orang lain yang mendengar hal itu dan tidak begitu mengenal pria bertubuh atletis itu, sudah dapat dipastikan bahwa pria itu akan dilabeli tidak waras karena sudah menawarkan dirinya untuk menjadi suami dari seorang wanita bersuami tepat di hadapan suaminya.

 

Rae Ra tertawa mendengar gurauan Siwon. Ia melepaskan tangannya dari lengan Kyuhyun dan kini menyelipkan lengannya pada lengan Siwon masih dengan tawa renyahnya. “Baiklah, tidak masalah. Syarat untuk menjadi suamiku hanya harus memiliki wajah yang tampan.” balas Rae Ra.

 

Siwon tersenyum lebar. “Kalau begitu, siapapun tahu bahwa aku memenuhi syarat.” jawab Siwon. Ia memberi tanda pada Rae Ra bahwa ia ingin mengajak wanita itu pergi menjauh dari hadapan Kyuhyun. “Ayo, kita menikah!” ajaknya riang.

 

Rae Ra menatap Kyuhyun yang sejak tadi hanya terdiam karena merasa sangat tidak tertarik dengan perbincangannya bersama Siwon. “Aku menikah dulu dengan Siwon, ya, Suamiku. Aku akan mengirim surat cerai kita besok pagi.” Setelah mengatakan hal itu, Rae Ra pergi dari sana bersama Siwon yang entah ingin mengajaknya ke mana. Kyuhyun mendesah pasrah mendapati dirinya ditinggal seorang diri di tengah orang-orang berwajah serius. Ia pun memutuskan untuk mencari Donghae yang sudah dipastikan datang juga ke pesta ini.

 

Kyuhyun merogoh saku tuxedonya untuk mencari ponselnya. Saat menemukannya, ia sudah akan menyentuh layar ponselnya, namun suara lembut seorang wanita menginterupsi gerakannya, “Ah, Kyuhyun,” Kyuhyun mengangkat wajahnya, dan matanya langsung berseborok dengan mata seorang wanita dengan senyuman manis di wajahnya.

 

“Kang Seulgi?” gumam Kyuhyun tanpa sadar.

 

Wanita yang dipanggil sebagai Kang Seulgi oleh Kyuhyun itu tertawa kecil. “Ternyata kau masih mengingatku. Syukurlah,” ujar Seulgi dengan nada riang.

 

Kyuhyun tidak menjawab perkataan Seulgi. Pria itu hanya terdiam dengan mata tak lepas dari wanita di hadapannya. “Kapan kau kembali dari Jepang?” tanya Kyuhyun kemudian.

 

“Sekitar satu minggu yang lalu,” sahut Seulgi masih dengan senyumannya. ”Oh ya, aku lihat berita di Jepang kalau kau sudah menikah. Selamat atas pernikahanmu!” Seulgi mengulurkan tangannya pada Kyuhyun. Kyuhyun memandangi tangan Seulgi untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menyambut uluran tangan wanita itu dengan canggung.

 

“Terima kasih.”

 

“Dan, di mana istrimu? Kalau tidak salah, kau menikah dengan Han Rae Ra, bukan? Apakah istrimu adalah sahabatmu yang sering kau ceritakan padaku dulu? Calon penerus perusahaan Olympus Kingdom Group itu?” tanya Seulgi dengan alis terangkat tinggi. Terlihat sangat antusias dengan topik yang tengah dibicarakan.

 

Kyuhyun mengangguk membenarkan dengan sedikit senyuman merekah di bibirnya. “Ya, dialah orangnya.”

 

“Di mana dia? Aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Aku hanya tahu wajahnya melalui foto di internet, berita, dan foto yang kau tunjukkan waktu itu.”

 

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh ballroom. Tak lama, ia dapat melihat seorang wanita mengenakan long dress biru muda dan silver dengan belahan di kaki yang cukup tinggi tengah bersama seorang pria dengan tuxedo merah marun sedang tertawa sambil memegang gelas kaca berisi cairan berwarna emas di salah satu tangannya.

 

“Di sana. Yang sedang bersama Choi Siwon itu.” Kyuhyun menunjuk ke arah Rae Ra dan Siwon dengan dagunya. Seulgi mengikuti arah yang ditunjuk Kyuhyun, lalu mengangguk. Ia tersenyum menggoda.

 

“Ternyata dia Han Rae Ra yang legendaris itu.” Seulgi masih mengangguk-angguk. “Benar, bukan, dugaanku bahwa Han Rae Ra akan menikah dengan salah satu di antara kau dan Donghae? Kau beruntung sekali bisa menikah dengan gadis yang disebut-sebut sebagai putri dari Korea Selatan itu. Istrimu cantik sekali. Tubuhnya juga indah. Malam pertama kalian pasti menyenangkan.”

 

Saat Kyuhyun hendak mengomentari ucapan Seulgi, tiba-tiba seluruh lampu di ballroom itu sedikit meredup. Sedangkan dari atas panggung, sebuah lampu sorot dinyalakan tepat di atas tubuh seorang pria yang terduduk di kursi grand piano berwarna putih dengan tangan yang sudah bersiap di atas tuts-tuts piano. Seketika, seluruh mata tertuju sepenuhnya pada pria itu.

 

Perlahan suara denting piano mulai mengalun memenuhi seluruh ballroom yang berubah sunyi. “…All I hear is raindropsFalling on the rooftop. Oh baby, tell me why’d you have to go… Cause this pain I feel it won’t go away… And today… I’m officially missing you…

 

Rae Ra terpaku di tempatnya. Lekuk tegas itu seperti tidak asing baginya. Ia merasa ia mengenal pria itu. Wajahnya tampak sangat familiar.

 

“Woah, ternyata ayah mertuamu hebat sekali sampai mengundang penyanyi terkenal. Ternyata beliau tahu juga, ya, siapa penyanyi yang sedang diminati saat ini.” Telinga Rae Ra mendengar suara Siwon yang berbisik padanya. Ia menatap Siwon dengan bingung.

 

“Penyanyi terkenal? Memangnya dia siapa?”

 


I thought that from this heartache

 

I could escape

 

But I fronted long enough to know

 

There ain’t no way

 

And today

 

I’m officially missing you

 

Siwon menatap Rae Ra dengan pandangan tak percaya. “Kau tidak tahu siapa dia?! Dia adalah penyanyi yang sedang naik daun, Rae Ra! Bagaimana mungkin kau bisa tidak tahu?! Astaga, apakah selama ini kau tinggal di balik batu prasejarah?” Siwon berkata dengan berlebihan.

 

“Aku tidak menyangka, ternyata kau peduli dengan hal-hal semacam itu.” cibir Rae Ra.

 

“Bukan begitu, hanya saja—”

 

“Siapa namanya?”

 


Oh, can’t nobody do it like you

 

Said every little thing you do

 

Hey baby, say it stays on my mind

 

And I, I’m officially

 

“Apa? Oh—Alex. Namanya, Alexander Kim.”

 

Rae Ra bersumpah, jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik setelah mendengar nama itu menggema di udara.

 


All I do is lay around

 

Ten years full of tears

 

“Alexander… Kim…?” tanya Rae Ra mengambang. Tatapannya kosong, dan pikirannya melayang kesana kemari. Terutama ketika ia mendengar sebuah kata pada lirik lagu yang dinyanyikan penyanyi pria itu terdengar sedikit ganjal dan tidak tepat.

 


From looking at your face on the wall

 

Just a week ago you were my baby

 

Now I don’t even know you at all

 

Tanpa sadar tubuh Rae Ra sedikit bergetar.

 


I don’t know you at all

 

Well, I wish that you would call me right now

 

So that I could get through to you somehow

 

But I guess it’s safe to say baby safe to say

 

That I, I’m officially missing you

 

Siwon mengangguk yakin. “Ya. Dia dari China.”

 


Well, I thought I could just get over you baby

 

But I see that’s something I just can’t do

 

From the way you would hold me

 

To the sweet things you told me

 

Alexander Kim?
 

I just can’t find a way

 

To let go of you

 

 

Mungkinkah?

 

 

It’s officially

 

You know that I’m missing you

 

Yeah yes

 

All I hear is raindrops

 

And I, I’m officially missing you

 

[Tamia – Officially Missing You]

 

ͼΘͽ

 

156 thoughts on “What’s Your Feeling Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s