Rancore Part 2


 

Tittle               : Rancore Part 2

Cast                 : Kyuhyun, Seung Hye, Seung Mi

Category         : NC 21, Yadong, Sad, Romance, Family, Chapter

Author             : Vhiy Zaza

 

*****

Part ini Seung Hye POV semua ya.

Semoga ceritanya gak semakin aneh, hehe

Happy Reading All

****

 

Seung Hye POV

 

Jantung bodoh. Tidak bisakah jantung ini berhenti berdetak terlalu kencang? Ini sangat mengganggu, bagaimana jika detakan jantungku didengar oleh Kyuhyun.

 

Sayang. Hanya satu kata, tapi sangat berpengaruh untukku. Pria yang sudah menarik perhatianku sejak pertama membuka mata itu memanggilku sayang. Pria yang katanya tunangan, kakak kandungku. Ini sangat mengejutkan. terlebih lagi, pria itu datang menjengukku saat hari masih terlalu pagi. Apakah aku penting untuknya?

 

“Sayang?” Dahiku mengernyit saat menyebutkan kata sayang bernada tanya.

 

Aku dapat melihat Kyuhyun gugup. Ia selalu menghindari bertatapan langsung denganku. Matanya bergerak gelisah. Sesekali mulutnya terbuka, seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun kembali mengurungkannya.

 

Oppa.” Kupanggil Kyuhyun dengan suara pelan. Meskipun samar, namun aku tahu Kyuhyun terlonjak dari tempat duduknya saat aku memanggilnya.

 

“Bukankah sudah kukatakan jika kita dekat?” Kyuhyun berbicara terlalu cepat, sangat menjelaskan jika dia sedang gugup. “Aku memang sudah biasa memanggilmu sayang.” sambungnya. Kali ini Kyuhyun sudah bisa mengontrol nada bicaranya.

 

“Ah, jadi seperti itu.” Aku bergumam sambil mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. “Apa oppa sudah lama menjadi kekasih Seung Mi eonni?” kuangkat kepalaku dan kutatap langsung bola mata bening milik Kyuhyun. “Jika melihat kedekatan kita, sepertinya kalian memang sudah lama menjadi sepasang kekasih.” Simpulku, karena Kyuhyun tak kunjung menjawab pertanyaanku tadi.

 

“Belum terlalu lama, kami baru menjalin hubungan setahun terakhir.” Akhirnya Kyuhyun membuka mulutnya dan menjawab pertanyaanku. “Tapi kami memang sudah cukup lama kenal dan dekat.” Sambungnya.

 

“Jadi mereka menjadi sepasang kekasih sejak setahun terakhir.” Batinku berbicara.

 

“Mengapa oppa memilih Seung Mi eonni untuk dijadikan kekasih?” Aku sangat yakin, raut penasaran itu terlihat jelas di wajahku. Tapi sungguh, aku sangat penasaran. Ada begitu banyak gadis-gadis yang masih sendiri dan tentu belum memiliki anak. Namun mengapa Kyuhyun memilih kakakku yang sudah pernah menikah dan memiliki seorang putri itu? “Ada Na Yoon. Bukankah pria yang belum pernah menikah seperti oppa akan lebih cocok bersama gadis yang masih sendiri juga? Sambungku.

 

Apa ada yang salah dengan pertanyaanku? Mengapa Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya seperti itu. Oh, apa aku terlalu lancang? Demi apapun, ingin kutepuk rasanya mulutku yang terlalu banyak bicara ini.

 

“Dari mana kau tahu aku belum pernah menikah?” Kyuhyun bertanya dengan suara dinginnya. Tatapannya begitu tajam dan tatapan itu menghunus tepat di dua bola mataku yang saat ini sedang bergerak gelisah. “Dari mana kau tahu, eoh?” Karena aku tak kunjung menjawab, Kyuhyun kembali melontarkan pertanyaan yang sama, dengan nada yang sama.

 

“Aku hanya asal menebak.” Jawabku dengan suara terlewat pelan. Aku menundukkan kepala, mencoba menghindari tatapan Kyuhyun. Sungguh, tatapan itu sangat mengerikan. Jika aku memaksakan diri untuk tetap melihat tatapan dingin dan penuh selidik tersebut, mungkin saja jiwa dan ragaku akan terpisah lebih cepat.

 

“Sangat aneh kau bisa menebak dengan tepat.” Suara dingin Kyuhyun mulai melunak. Tatapan dinginnya pun perlahan kembali menjadi tatapan hangat. Tatapan hangat yang aku sukai.

 

“Aku menebak dari penampilan oppa. Cukup mengejutkan aku menebak dengan benar.” Aku menjawab sambil tersenyum tipis.

 

“Justru karena Na Yoon, aku dan Seung Mi menjadi semakin dekat dan memutuskan menjalin hubungan.” Sempat mengernyitkan dahi karena merasa bingung dengan ucapan Kyuhyun, namun seperkian detik kemudian aku mengangguk pelan. Kyuhyun menjawab pertanyaanku sebelumnya. Jadi keponakanku itu yang menjadi jembatan cinta Kyuhyun dan Seung Mi eonni.

 

“Senang mendengarnya, Oppa.” senyumku semakin lebar saat berbicara pada Kyuhyun. “Jika oppa menjadi dekat dan menjalin hubungan dengan Seung Mi eonni karena Na Yoon, itu artinya oppa tidak akan menyakiti siapa pun.” Ada kerutan samar di dahi Kyuhyun saat mendengar ucapanku, sepertinya ia sulit menangkap maksud ucapanku. “Maksudku, jika oppa bisa menerima Seung Mi eonni walaupun sudah melihat kekurangan dirinya. Itu artinya oppa benar-benar mencintai Seung Mi eonni dan oppa tidak akan menyakiti Seung Mi eonni dan kami keluarganya.”

 

Entah aku salah melihat atau bagaimana. Ada kilat berbeda di mata Kyuhyun setelah mendengar ucapan panjangku tadi. Apa aku kembali salah berucap? Sialan sekali mulutku ini.

 

“Apa aku salah bicara, Oppa?” Tidak tahan melihat sesuatu yang berbeda di mata Kyuhyun tersebut, aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

 

“Tidak,” Jawab Kyuhyun pelan. “Semoga saja ucapanmu benar.” Sambungnya tidak terlalu yakin.

 

Seratus persen aku memang salah bicara. Mengapa Kyuhyun terlihat sangat bersalah? Kilat matanya sekan berbicara ‘aku tak sebaik itu Seung Hye’. Ya, seperti itulah arti tatapan Kyuhyun.

 

“Maaf.” Aku mengucapkan maaf sangat pelan, saking pelannya itu bisa disebut bisikan.

 

“Kenapa kau minta maaf?” Kyuhyun menyahuti kata maafku dengan pertanyaan. “Tidak ada yang salah, yang membuat kau harus mengucapkan kata maaf.” Tambahnya.

 

“Mulut besarku sepertinya salah bicara,” Gumamku, namun gumamanku masih didengar oleh Kyuhyun. Terlalu berlebihan memang, tapi saat ini mataku mulai berkaca-kaca. Kulihat kedua tanganku yang saling bertautan.

 

“Hei, Sayang. Angkat kepalamu.” Dengan lembut Kyuhyun menarik daguku dan membuat aku mengangkat kepala lalu menatap langsung pada matanya. “Sudah kukatakan tidak ada yang salah dengan ucapanmu. Jadi, jangan seperti ini. Aku tidak suka melihat air matamu.”

 

Air mataku justru semakin cepat jatuh saat mendengar ucapan Kyuhyun. Mengapa ia kembali memanggilku sayang. Ia juga berbicara dengan sangat lembut. Hatiku menjadi gelisah karena itu semua. Aku sangat takut jika sesuatu benar-benar terjadi, aku jatuh cinta pada Kyuhun. Aku tidak ingin jatuh cinta padanya. Demi Tuhan, jatuh cinta pada Kyuhyun adalah hal yang terlarang.

 

“Sayang.” Kyuhyun begitu panik. Diusapnya pipiku dengan lembut. “Mengapa kau justru semakin menangis? bukankah sudah kukatakan jika aku tidak suka air matamu.”

 

Ditariknya pelan tubuhku ke dalam pelukan hangatnya. Rambut panjangku yang tergerai, diusapnya dengan teratur. Sesekali kecupan menenangkan itu ia berikan di puncak kepalaku. “Jangan menangis, Sayang.” bisiknya, tepat di telinga kiriku.

 

Meski bergetar, kuangkat kedua tanganku. Perlahan kukaitkan kedua tanganku di punggung tegap Kyuhyun. Dan pelukan Kyuhyun semakin erat saat aku mulai membalas pelukannya. Aku tahu ini salah, sangat salah. Tapi, aku tak kuasa menolaknya.

 

“Apa yang kalian lakukan?!” Secepat kilat aku mendorong tubuh Kyuhyun saat mendengar suara yang sangat kukenal. Meskipun belum melihat wajahnya, tapi aku tahu orang itu sangat marah.

 

Eonni,

 

“Mi-ya,”

 

Ucapku dan Kyuhyun secara bersamaan. Perlahan Kyuhyun bergeser dan membuatku bisa melihat langsung pada Seung Mi eonni. Berbeda dengan bayanganku tadi, tidak ada wajah merah pada dan tatapan membunuh. Meskipun nada suaranya tadi sangat dingin, nyatanya wajah Seung Mi eonni tetap lembut.

 

“Kau menjenguk Seung Hye, Kyuhyun-ah.” Itu pernyataan bukan pertanyaan. Dengan anggun, Seung Mi eonni berjalan mendekat pada kami. Matanya menatap fokus pada bola mata Kyuhyun.

 

“Ah iya, aku menjenguknya,” Kyuhyun menjawab dengan sedikit terbata.

 

Situasi seperti apa ini. Apa aku baru saja melukai Seung Mi eonni? Aku melihat itu di mata Seung Mi eonni, melihat luka.

 

“Apa kau tidak pergi bekerja? Sekarang sudah pukul tujuh lewat.” Kembali Seung Mi eonni berbicara pada Kyuhyun. Tatapannya pun tidak teralihkan sedikit pun dari prianya itu.

 

Kyuhyun mengangkat tangannya dan matanya membelalak saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Kau benar, aku bisa terlambat. Aku pergi sekarang, Sayang.” dengan cepat diciumnya puncak kepala Seung Mi eonni, lalu berlari ke luar ruang rawatku tanpa sedikit pun melihat atau pamit padaku.

 

Kata ‘sayang’ yang diucapkan Kyuhyun pada Seung Mi eonni, entah mengapa menimbulkan perasaan tidak enak di hatiku. Tadi dia juga memanggilku seperti itu. Ia juga begitu lembut padaku tadi. Tapi mengapa ia sangat berubah setelah kedatangan Seung Mi eonni?

 

“Pemikiran macam apa ini. Siapa kau, Sehingga mengharapkan kasih sayang dan kelembutan dari Kyuhyun. Kau hanya adik dari Baek Seung Mi, tunangan Kyuhyun. Ingat! Hanya adik. Jadi lupakan semua yang dilakukan Kyuhyun sebelum kedatangan Seung Mi tadi.” Batinku terus menjerit.

 

Sentuhan lembut di lenganku membuatku kembali pada kesadaranku. Dengan cepat aku menatap mata Seung Mi eonni. Bibirku otomatis tertarik membentuk senyuman ketika melihat seulas senyum di bibir Seung Mi eonni. “Kau baik-baik saya, Hye-ya?” tanya Seung Mi eonni dengan suara lembutnya.

 

“Iya, Eonni. Aku baik-baik saja.” Jawabku pelan.

 

Eomma sebentar lagi akan sampai, kau tidak apa-apa kan sendiri?” Ia bertanya masih sambil menunjukkan senyuman tulus di wajahnya. Aku menjawab dengan anggukan dan membalas senyum Seung Mi eonni.

 

Perlahan senyumku menghilang saat Seung Mi eonni berbalik dan berjalan keluar ruang rawatku. Mengapa dia datang jika hanya untuk menanyakan ‘kau tidak apa-apa kan sendiri?’ itu sangat menyebalkan, ia menghancurkan suasana saja.

 

Aku terpesona pada Kyuhyun saat pertama kali membuka mata di rumah sakit ini. Tapi, saat Seung Mi eonni mengatakan Kyuhyun adalah tunangannya, ada perasaan tidak suka di hatiku.

 

Beberapa hari ini aku mencoba menasihati diriku sendiri, untuk tidak menyukai Kyuhyun, dan berhasil. Tapi itu hanya bertahan sampai beberapa saat lalu. Perasan itu kembali muncul, bahkan semakin bertambah ketika Kyuhyun bertingkah sangat manis dan lembut padaku.

 

Aku sangat menyukai perlakuan Kyuhyun padaku tadi dan aku sangat membenci kehadiran seung Mi eonni yang menghancurkan suasana menyenangkan itu. Katakanlah aku wanita jalang, tapi aku akan merebut Kyuhyun dari Seung Mi eonni. Cara apa pun akan kulakukan untuk mendapatkannya. Dan satu lagi lupakan, ajtuh cinta pada Kyuhyun adalah hal terlarang.

*****

 

Eomma,” Panggilku ragu. Eomma yang sedang mengupas apel, mengangkat kepalanya dan menatapku dengan raut penuh tanya. “Tidak, tidak jadi.” Sambungku sambil menunjukkan cengiran aneh.

 

“Ada apa, Nak?” Eomma bertanya dengan suara lembutnya. “Katakan saja, jangan ragu.” Sambungnya, masih dengan suara lembut keibuannya.

 

“Aku ingin menanyakan sesuatu,” Ucapku. “Apa sebelum mengalami kecelakaan ini aku menyukai seseorang?” Meskipun ragu, aku akhirnya bertanya juga pada eomma. Kuangkat sebelah alisku bingung ketika melihat eomma membelalakkan matanya. Apa pertanyaanku sangat mengejutkan?

 

“Mengapa kau menanyakan itu, Hye-ya?” Tanya eomma.

 

“Hanya ingin tahu saja, Eomma,” Jawabku. “Sepertinya saat ini aku juga sedang jatuh cinta.” Mata eomma semakin membulat saat mendengar ucapanku. Apa ini? Apa aku yang sedang jatuh cinta, sangat mengejutkan?

 

“Jangan lakukan itu!” Suara eomma tiba-tiba meninggi. Tentu saja bentakannya itu berhasil membuatku terlonjak dan mataku mulai berkaca-kaca. Mengapa eomma melarangku jatuh cinta?

 

“Jangan lakukan itu. Kalian bersaudara, jangan mencintai pria yang sama.” Kembali eomma membuka suara, kali ini suaranya terdengar sangat lemah. Matanya juga sama seperti mataku, mulai berkabut karena air mata.

 

Tapi tunggu, dari mana eomma tahu, pria yang kucintai Kyuhyun?

 

“Apa eomma baru saja menyatakan aku mencintai tunangan Seung Mi eonni?” Aku bertanya pada eomma.

 

“Apa bukan?” Eomma balik bertanya padaku.

 

Eomma benar,” Jawaban singkatku berhasil membuat eomma kembali membulatakan matanya. “Tadi pagi, Kyuhyun oppa datang ke sini. Dia memanggilku sayang dan memelukku, itu membuatku jatuh cinta padanya.” Sambungku.

 

“Jangan lagi, aku mohon jangan lagi.” Eomma memohon dalam gumamannya.

 

Apakah situasi yang sama terulang lagi? Pertanyaan itu yang muncul dalam kepalaku ketika melihat keadaan eomma.

 

Eomma mohon, Hye-ya. Jangan mencintai Kyuhyun. Eomma tidak akan melarang kau menyukai pria manapun, asal jangan tunangan kakakmu.” Dengan nada frustasi eomma memohon padaku.

 

“Baik, Eomma.” Suaraku terdengar kecut. Jangan pikir aku benar-benar mengabulkan permohonan eomma. Kata ‘baiklah’ itu hanya di mulut saja. Sementara di hati, aku justru semakin menginginkan Kyuhyun. Bukankah sebuah tantangan lebih menarik?

 

Bola mata eomma yang masih berkabut, melihat langsung tepat di kedua bola mataku. Mata itu berusaha menembus pikiranku melalui tatapan kami. Tapi aku tidak akan membiarkan eomma bisa menebak pikiranku. Dengan cepat kuganti mimik mukaku, semeyakinkan mungkin.

 

“Kau janji?” Eomma bertanya sekali lagi, untuk meyakinkan dirinya sendiri. Aku hanya menjawab pertanyaannya itu dengan anggukan lemah.

 

“Buah.” Aku menatap apel yang tadi sempat eomma kupas dan ia lupakan begitu saja ketika topik aku menyukai Kyuhyun muncul begitu saja. Dengan cepat eomma mengambil apel tersebut dan memotongnya. Sepotong apel ia suapkan padaku beberapa saat kemudian. Dalam hati aku tersenyum mengejek. Aku bisa mengganti topik dengan begitu cepat. Bukankah seorang ibu memang begitu, sangat memanjakan putrinya yang sedang sakit.

 

Apa yang akan dilakukan seorang ibu ketika seorang anak sedang sakit dan ia membutuhkan sesuatu? Sudah pasti ia akan memberikan segala keinginan anaknya tersebut agar anaknya merasa lebih baik. Situasi seperti itulah yang kumanfaatkan saat ini.

 

“Lagi.” Rengekku manja sambil membuka mulutku lebar. Kekehan pelan itu keluar dari mulut eomma. Dengan senang hati ia kembali menyuapkan sepotong apel ke dalam mulutku. “Eomma juga makan.” Dengan mulut penuh aku meminta eomma juga memakan apelnya.

 

“Astaga, jangan berbicara sambil makan.” Dengan gemas ia mencubit hidungku. Suara rengekan aneh keluar dari mulutku. Demi Tuhan, itu sangat menjijikkan.

 

Eomma juga makan.” Pintaku lagi saat mulutku sudah kosong. Dengan patuh eomma memasukkan sepotong apel ke mulutnya sendiri dan kembali menyuapiku. Lalu kami berdua tertawa pelan. Entah apa yang lucu, yang jelas aku sangat ingin tertawa.

 

“Apa sebenarnya yang kita tertawakan?” Eomma bertanya, masih sambil tertawa pelan.

 

“Aku pun tidak tahu, Eomma.” Jawabku. Ternyata bukan hanya aku yang tidak tahu alasan kami tertawa.

 

Aku dan eomma membicarakan beberapa hal menarik, layaknya seorang wanita. pembicaraan yang hanya berawal tentang cintaku yang dilarang, melebar kebanyak hal. Banyak topik yang sangat tidak bersangkutan dengan pembahasan awal kami muncul tanpa disadari. Tanpa terasa siang kini telah berubah menjadi malam. Aku yang masih ditemani oleh eomma, kini mulai memejamkan mata dan memasuki alam mimpi.

*****

 

Hari demi hari telah berlalu. Hari ini tepat dua minggu, dihitung dari hari aku sadar dari koma. Dan tepat pada hari ini pula aku bisa meninggalkan rumah sakit. Ada perasaan senang dan sedih yang muncul di hatiku, senang karena akhirnya aku bisa meninggalkan rumah sakit dan segala aroma obat yang menyengat, dan sedih karena Kyuhyun tidak pernah muncul lagi sejak hari itu, hari di mana dia memanggilku sayang dan memelukku.

 

Aku penasaran dengan alasan Kyuhyun tak pernah menjengukku lagi. Tapi, dibalik itu semua, aku semakin tertarik dengannya. Aku akan menjadi gadis egois yang sangat-sangat menyebalkan di muka bumi ini. Tidak ada hal lain yang aku pikirkan selain mengambil Kyuhyun dari tangan Seung Mi eonni.

 

“Sudah semua?” Suara Seung Mi eonni terdengar di telingaku. Ia yang baru saja masuk ke dalam ruang rawatku langsung bertanya pada eomma. Maksudnya, apa semua barangku sudah di kemas semua.

 

“Iya, sudah selesai, Mi-ya.” Jawab eomma tanpa melihat pada Seung Mi eonni. Ia masih sibuk menutup tas besar yang berisi pakaianku.

 

“Kalau sudah selesai, ayo kita pamit pada dokter.” Tangan Seung Mi eonni terulur padaku, dengan cepat kusambut uluran tangannya. Kami bertiga berjalan beriringan menuju ruangan dokter Han. Namun sebelum kami tiba ke ruangan dokter Han, kami justru sudah bertemu dengannya di lorong tak jauh dari ruang rawatku tadi.

 

“Dokter Han,” Dengan ramah eomma menjabat tangan dokter Han. “Kami ingin berterima kasih pada anda. Terima kasih sudah merawat Seung Hye.” Sambungnya.

 

Ucapan eomma dibalas dengan senyuman tulus oleh dokter Han. “Sudah kewajiban saya, Nyonya.” Jawab dokter Han.

 

“Kami juga ingin berpamitan, Dok.” Kembali eomma berbicara pada dokter Han.

 

Seperti tadi, dokter Han pun menunjukkan senyumannya. “Iya, Nyonya. Semoga Seung Hye-ssi selalu sehat.” Ucapnya tulus. Kami bertiga secara bergantian menjabat tangan dokter Han, membungkuk sopan sebelum berjalan menuju mobil Seung Mi eonni.

 

“Hua, mobil eonni sangat bagus.” Mulutku mengangah dan decakan kagum itu keluar begitu saja dari mulutku ketika melihat mobil Seung Mi eonni. “Apa merek mobil ini?”

“Ferrari LaFerrari.” Sahut Seung Mi eonni. Jawaban Seung Mi eonni berhasil membuatku terkejut. Bukan, bukan karena merek mobilnya aku terkejut. Tapi karena pertanyaan yang kukira hanya ada di kepalaku itu ternyata tanpa sadar kuucapkan.

 

“Apa aku tadi menanyakan merek mobil ini?” Tanyaku bodoh. Pertanyaanku membuat Seung Mi eonni mengangkat sebelah alisnya. “Aku kira pertanyaanku itu hanya ada di kepalaku. Sungguh aku tidak sadar jika pertanyaan itu keluar dari mulutku.” Dengan tanpa tahu malu, aku menunjukkan cengiranku pada Seung Mi eonni. Tentu saja Seung Mi eonni langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.

 

“Ayo masuk.” Perintahnya lembut.

 

Tanpa menunggu diperintah dua kali, aku langsung masuk ke dalam mobil. Duduk tepat di samping Seung Mi eonni yang sedang menghidupkan mesin mobil. “Eomma,” Aku menoleh cepat pada eomma yang duduk dengan santai di kursi belakang. “Mobil eonni sangat keren.” Ucapku semangat.

 

Mata tua itu manatapku geli. “Kau juga punya mobil yang sama, Hye-ya.” Sahut eomma.

 

“Benarkah?” Tanyaku antusias. Saking antusiasnya, suaraku melengking dan memekakkan telinga. “Mobil ini sepertinya mahal. Apa Kita sangat kaya?” Tanyaku lagi, masih sama antusiasnya dengan tadi. Aku melihat pada eomma dan Seung Mi eonni secara bergantian. Menunggu jawaban dari mereka.

 

“Kita tidak sekaya yang kau pikirkan, Hye-ya.” Akhirnya Seung Mi eonni memberikan jawaban yang sejak tadi kutunggu. “Tapi, Kyuhyun yang kaya, sangat kaya.” Sambungnya.

 

Jawaban Seung Mi eonni berhasil membuatku mengangakan mulutku kembali. “Jadi Kyuhyun yang memberikan kita mobil yang sepertinya mahal itu?” Tanyaku.

 

“Bukan sepertinya, Hye-ya. Ini memang mobil mahal.” Senyuman geli itu sangat jelas di wajah Seung Mi eonni ketika menyahuti ucapanku. “Dan, iya. Mobil ini pemberian Kyuhyun, begitu juga dengan mobilmu.” Sambungnnya dengan nada bangga.

 

Senyuman miring sekilas muncul di wajahku. Ini menarik pikirku. Aku akan mendapatkanmu Kyuhyun-ssi, itu janjiku pada diri sendiri.

 

“Wah, luar biasa.” Jeritku takjub. “Eonni, bisakah eonni memberi tahuku bagaimana eonni mengenal Kyuhyun? aku akan melakukan hal yang sama untuk mencari pria seperti tunanganmu.” Senyuman bangga di wajah Seung Mi eonni perlahan menghilang. Begitu pun dengan eomma, melalui kaca spion aku dapat melihat ia mendadak duduk dengan gelisah di kursi belakang.

 

“Dia pria yang baik dan penyayang.” Dengan suara pelannya, Seung Mi eonni berbicara padaku. “Ia begitu dekat dengan Na Yoon dan kedekatannya pada Na Yoon-lah yang membuat kami dekat, lalu memutuskan untuk menjalin hubungan.” Sambungnya.

 

Dengan semangat aku mengangguk-anggukan kepalaku. “Kyuhyun pria tampan, sangat kaya, dan penyayang. Itu sempurna. Kau sangat beruntung memilikinya, Eonni.” Kuangkat dua ibu jariku dan kuperlihatkan pada Seung Mi eonni. Senyuman tipis itu muncul di wajah Seung Mi eonni yang sepertinya sedikit pucat.

 

“Apakah rumah kita masih jauh?” Tanyaku. Mencoba mengganti topik.

 

“Tidak terlalu jauh, sebentar lagi kita sampai.” Kali ini eomma yang menjawabku.

 

Setelah itu suasana menjadi hening. Tidak ada diantara kami bertiga yang membuka suara. Seung Mi eonni begitu fokus mengendarai mobil dan aku menatap ke luar, melihat banyak hal menarik di sepanjang jalan. Saat Seung Mi eonni menghentikan laju mobil karena lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah, aku melihat sepasang kekasih berjalan tepat di depan mobil kami. Tangan mereka saling bertautan, senyuman mengembang di wajah keduanya. Sesekali sang pria mengusap pipi gadisnya dengan lembut.

 

Tes

 

Setetes air mata jatuh di pipiku. “Ahhkk.” Jeritku pelan sambil memegangi kepala. Kepalaku sangat sakit ketika ada kilasan kejadian melintas di kepalaku. Sepasang pria dan wanita sedang duduk di dalam sebuah ruangan rapi yang sepertinya sebuah ruang kerja. Posisi duduk mereka sangat tidak biasa untuk dilakukan di dalam ruang kerja. Sang wanita duduk di atas pangkuan sang pria, mulut mereka saling memagut. Siapa Mereka?

 

“Hye-ya, kau baik-baik saja?” Dengan cepat Seung Mi eonni menepi dan menghentikan laju mobil. Aku pun merasakan usapan lembut di kepalaku.

 

“Aku baik-baik saja.” jawabku pelan. “Tadi ada bayangan melintas di kepalaku dan tiba-tiba saja kepalaku sangat sakit.” Sambungku. Aku menoleh ke belakang dan mengambil tangan eomma yang sejak tadi mengusap kepalaku. Kuusap tangan tuanya dengan lembut. “Sekarang kepalaku tidak sakit lagi, Eomma.” Aku berbicara sambil menatap langsung pada mata eomma. Raut khawatir itu perlahan memudar di wajah eomma.

 

“Bayangan apa yang kau lihat tadi, Nak?” Tanya eomma.

 

“Entahlah, itu tidak terlalu jelas. Aku seperti melihat ruangan rapi yang sepertinya ruang kerja. Mungkin itu ruang kerjaku dulu.” Jawabku. Aku tidak menceritakan yang sebenarnya pada Eomma dan Seung Mi eonni. “Jalan saja, Eonni. Aku tidak apa-apa.” Pintaku pada Seung Mi eonni.

 

“Benar tidak apa-apa?” Tanya Seung Mi eonni, sepertinya ia belum terlalu yakin aku baik-baik saja.

 

“Aku benar-benar baik-baik saja, Eonni.” Kutunjukkan senyuman lebar pada Seung Mi eonni, agar ia yakin aku baik-baik saja.

 

Meski ragu, akhirnya Seung Mi eonni tetap menghidupkan mobil, lalu mengendarainya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik padaku. Mungkin untuk memastikan aku benar-benar baik-baik saja.

 

Tidak lama mobil memasuki pekarangan rumah sederhana namun indah. “Apa ini rumah kita?” Tanyaku.

 

“Iya, ini rumah kita.” Sahut eomma. Ia keluar dari mobil dan membawa tas besar yang berisi pakaianku. Aku pun mengekor di belakang eomma dan Seung Mi eonni. Suara tawa masuk dalam pendengaranku ketika baru selangkah masuk rumah. Itu suara Na Yoon, dia dengan siapa di rumah?

 

Deg

 

Jantungku berdetak cepat saat melihat seseorang sedang bercanda dengan Na Yoon. Ia sosok yang sebenarnya kurindukan, pria yang tidak pernah menunjukkan batang hidungnya lagi semenjak hari itu, hari di mana dia membuatku semakin jatuh cinta. Itu Kyuhyun, dia sangat tampan dengan kemeja merah hati dan celana kain berwarna hitam membalut tubuhnya. Lengan kemejanya dilipat sebatas siku. Tawa kecilnya membuat ia terlihat sangat santai dan semakin membuatku terpesona padanya.

 

“Sayang.” Aku menyipitkan mata tidak suka saat melihat Seung Mi eonni mendekat pada Kyuhyun dan Na Yoon. Desisan kesal pun keluar dari celah bibirku ketika tanpa merasa sungkan ia mengecup bibir Kyuhyun. Apa mereka tidak sadar situasi? Yang benar saja, walaupun hanya kecupan tapi mereka melakukannya di hadapan anak kecil.

 

Dengan hentakan keras aku melangkah meninggalkan mereka. Namun baru beberapa langkah, aku kembali lagi. “Di mana kamarku?” Tanyaku dengan nada sinis.

 

“Itu kamarmu.” Aku yang sedang kesal, seketika tersenyum ketika Kyuhyun yang menjawab pertanyaanku. Kuikuti arah telunjuk Kyuhyun dan mengangguk tanda mengerti.

*****

 

Aku merasakan sesuatu menindih tubuhku. Rasanya berat tapi menyenangkan. Lumatan-lumatan lembut pun terasa di bibirku. Bukan hanya itu, usapan selembut bulu menjalar di sepanjang tubuhku.

 

Kelopak mataku bergerak perlahan. Mataku yang tadinya tertutup, kini terbuka sempurna. Hal pertama yang kulihat adalah kegelapan. Tidak ada lagi yang menindihku, kamar terasa sunyi, seakan hanya ada aku di dalam kamar ini.

 

Ini akan berhasil. Rupanya bukan hanya aku yang tertarik padamu Kyuhyun­-ssi, teriakku di dalam hati sambil tersenyum miring. Seakan tidak menyadari keberadaan Kyuhun di sudut gelap dekat pintu, aku berbalik dan kembali memejamkan mata.

*****

 

Pagi pertama aku di rumah, setelah pulang dari rumah sakit. Rumah kami yang hanya dihuni oleh empat perempuan, terasa sangat berisik. Berisik karena ulah Na Yoon. Keponakan kecilku itu terlambat bangun, karena itulah ia mempercepat semua persiapannya sebelum berangkat sekolah.

 

Eomma, ikatkan rambutku.” Teriaknya ketika masuk ke dapur.

 

“Biar imo saja yang melakukannya, Yoonie.” Menyadari betapa Seung Mi eonni juga sangat kerepotan dengan urusannya, aku pun menawarkan diri untuk mengikat rambut Na Yoon.

 

Dengan senang hati, Na Yoon mendekat padaku yang sedang duduk di kursi di ruang makan. “Kita ke ruang TV saja.” Sambil tersenyum, kugandeng tangan mungil Na Yoon.

 

Tanganku sangat terampil. Tidak butuh waktu lama, rambut panjang Na Yoon sudah selesai kuikat. “Kau berangkat sekolah dengan siapa?” Tanyaku dengan suara lembut.

 

Appa, hari ini appa yang akan mengantarku.” Jawab Na Yoon antusias.

 

Aku tidak menyahuti ucapan Na Yoon. Kutatap wajah Na Yoon yang berbinar. Gadis kecil ini sangat bahagia, bagaimana kira-kira perasaanya jika aku mengambil pria yang dia panggil appa itu? Oh tapi aku tidak peduli dengan perasaan siapa pun. Aku akan mendapatkan Kyuhyun.

 

“Kau sudah siap, Yoonie?” Suara Seung Mi eonni mengalihkan perhatianku dari Na Yoon. “Eomma akan berangkat lebih dulu, tidak lama lagi appa pasti akan datang.” Dikecupnya pipi Na Yoon sebelum berbalik menatapku dan menunjukkan senyuman tipisnya. “Eonni berangkat, Hye-ya.” Pamitnya lalu berbalik dan keluar rumah.

 

Benar saja, belum lima menit Seung Mi eonni keluar, Kyuhyun sudah datang. Mungkin mereka masih sempat bertemu di depan rumah tadi.

 

“Sudah siap, Tuan Putri?” Tanya Kyuhyun pada Na Yoon.

 

Oh apa itu? Baru saja Kyuhun mencuri pandang padaku. Perasaan senang berkumpul di perutku karena itu.

 

“Iya, Appa. Aku sudah siap.” Terdengar suara kecil Na Yoon menjawab pertanyaan Kyuhyun.

 

“Kalau begitu ayo kita berangkat.” Kyuhun mengulurkan tangan kanannya dan langsung disambut dengan semangat oleh Na Yoon.

 

Mereka pun keluar tanpa melirik atau berpamitan padaku. Aku seperti makhluk tak kasat mata bagi mereka. Perasaan senang karena Kyuhyun mencuri pandang padaku tadi seketika hilang dan berganti dengan kekesalan. Dengan dongkol, aku berjalan dengan hentakan keras menuju dapur. Tanpa berbicara pada eomma, aku melahap cepat sarapan yang sudah eomma siapkan di atas meja.

 

“Pelan-pelan saja makannya, Nak.” Tegur eomma. Namun aku tidak menghiraukannya, seperti orang yang sudah bertahun-tahun tidak makan, aku menghabiskan semuanya. “Eomma akan pergi ke rumah kerabat sebentar lagi, kau ingin ikut atau di rumah saja?” tanya eomma.

 

kulirik sekilas eomma yang sedang memandangku. “Aku di rumah saja, Eomma.” Sahutku malas. Setelah itu, aku langsung meninggalkan meja makan.

 

Kuhempaskan pelan tubuhku di atas kasur empuk yang nyaman milikku. Kukerutkan dahiku saat melihat langit-langit kamar. Aku sangat kesal saat ini. Bagaimana bisa Kyuhyun bertingkah seperti itu. Ini tidak semudah yang aku bayangkan. Aku sangat yakin jika Kyuhyun sangat tertarik padaku, namun mengapa dia bertingkah seperti aku tak menarik minatnya sama sekali.

 

“Hye-ya. Jangan lupa minum obatmu.” Teriak eomma dari luar kamar. Dengan malas, aku pun turun dari tempat tidur dan mengambil bungkusan obat yang ada di atas nakas. Kutelan obat-obat itu dengan bantuan segelas air.

 

Eomma akan pergi sekarang.” Kembali terdengar teriakan eomma.

 

“Iya.” Aku pun menjawab dengan suara keras.

 

Beberapa menit setelah minum obat, mataku mulai berat. Yah, aku jamin seminggu setelah aku minum obat rutin, berat badanku naik. Bagaimana tidak naik, nafsu makanku meningkat dan aku hampir tidur selama 24 jam. Aku meringkuk di atas kasur, bergelung dengan selimut hangat berwarna hijau. Semoga saja tidur bisa membawa pergi kekesalanku.

*****

 

“Hye-ya.” Entah berapa lama aku tertidur. Yang jelas aku terbangun saat mendengar suara lembut memanggil namaku. “Bangun, Sayang.” kembali suara itu terdengar bersamaan dengan usapan-usapan lembut di puncak kepalaku.

 

Oppa.” Panggilku dengan suara serak saat melihat wajah Kyuhyun.

 

“Iya, Sayang.” Sahutnya sambil tersenyum.

 

“Mengapa oppa di sini?” Tanyaku. Dengan pelan aku bergerak, lebih merapatkan diri ke dada bidang Kyuhyun. Lengan kokoh Kyuhyun pun semakin erat memeluk tubuhku. Ya, saat ini Kyuhyun tidur di sampingku sambil memeluk tubuhku di balik selimut hangat yang sejak tadi melingkupiku.

 

“Ingin melihatmu.” Bisik Kyuhyun. Aku mendongak dan melihat mata Kyuhyun. senyum tipis muncul di wajahku, dan tanpa tahu malu kukecup bibir tebal Kyuhyun yang menurutku sangat menggoda.

 

“Aku tadi sangat kesal karena oppa mengabaikanku.” Rengekku manja.

 

Entah siapa yang memulai, yang jelas saat ini kami berdua sedang berciuman. Ciuman basah dan menuntut. Jari-jari lentikku bergerak mengusap dada Kyuhyun. begitu pun dengan tangan Kyuhyun, tangan itu bergerak menggoda di punggungku.

 

“Aku sangat merindukan ciuman ini.” Bisik Kyuhyun saat pagutan bibir kami terlepas.

 

“Apakah dulu kita sering melakukan ini?” Tanyaku.

 

“Sangat sering. Bahkan lebih dari ciuman.” Jawabnya masih dengan bisikan. Bibir kami yang hanya berjarak beberapa senti, kembali bertemu, pagutan panas itu tidak bisa terelakkan.

 

 

“Maaf aku mengabaikanmu sejak hari itu. Kita hanya bisa bertemu diam-diam seperti ini.” Tanya Kyuhyun sambil sesekali mencium pelipisku. Ciuman panas itu sudah selesai, sekarang kami hanya tidur sambil berpelukan. “Apa tidak masalah buatmu jika kita harus seperti ini?” Tambahnya.

 

Kutatap mata bening Kyuhyun, dan tanpa keraguan aku mengangguk. “Tidak masalah, asal aku bisa bersamamu.” Jawabku yakin.

 

“Oh Demi Tuhan. Aku sangat mencintaimu, Hye-ya.” Pelukan Kyuhyun semakin erat, bersamaan dengan ungkapan cintanya.

 

Oppa.” Bukan membalas kata cinta dari Kyuhyun, aku justru mendongak dan memanggil namanya.

 

“Iya, Sayang. Ada apa?” Kyuhyun bertanya sambil mengangkat sebelah alisnya.

 

Oppa tidak bekerja?” Oh astaga, sepertinya aku baru saja menjadi pelawak. Buktinya Kyuhyun bisa tertawa lepas hingga keluar air mata dari sudut matanya karena pertanyaanku.

 

“Aku kira kau akan mengatakan sesuatu yang sangat serius tadi. Tapi astaga, Sayang. kau sungguh menggemaskan.” Kyuhyun bergerak dan menindihku. Matanya yang berkilat geli menatap wajahku lama. “Baek Seung Hye, kau membuatku jatuh cinta lagi padamu.” Ucapnya kencang.

 

“Jatuh cinta lagi? Itu berarti sebelumnya oppa juga pernah jatuh cinta padaku.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan.

 

“Tentu saja pernah, Sayang. Karena itulah kita bersama.” Kurasakan kecupan manis di ujung hidungku setelah Kyuhyun menjawab pernyataanku tadi. “Ayo bangun, kita makan siang di luar.” Ajaknya.

 

Tanpa diminta dua kali, aku langsung bangun dan tanpa merasa malu membuka pakaian di depan Kyuhyun. siulan menggoda itu terdengar jelas di telingaku, namun aku mengabaikannya. Kuambil baju yang sedikit layak di dalam lemari dan memakainya cepat. “Ayo berangkat, Oppa.” aku menoleh pada Kyuhyun yang masih duduk di ranjang dan mengulurkan tanganku untuk mengajaknya pergi.

 

Bukannya berdiri lalu menggandeng tanganku, Kyuhyun justru menarik tanganku dan membuat kami berdua kembali tidur di ranjang empukku. “Bagaimana jika kita menghabiskan waktu di ranjang saja?” bisik Kyuhyun menggoda.

 

Kudekatkan bibirku pada telinga Kyuhyun. dengan sensual kubisikkan “Tapi aku lebih tertarik mengisi perutku dengan makanan.” Lalu aku tertawa lepas saat melihat ekpresi dingin Kyuhyun. Ia menggeram, pura-pura kesal.

 

“Baiklah Tuan Putri, ayo kita mencari sesuatu untuk mengisi perutmu itu.” Ucap Kyuhyun. aku menjerit saat lengan kokoh Kyuhyun mengangkat tubuh mungilku dalam gendongannya.

 

Oppa, turunkan aku.” Kupukul-pukul pelan bahunya sambil tertawa.

 

“Berikan satu ciuman jika ingin turun.” Kyuhun menunjukkan seringaian mesumnya. Tapi aku suka seringaian itu. Kugigit bibir bawahku menggoda, sebelum mendaratkan ciuman hangat di bibir Kyuhun. “Gadis pintar.” Bisik Kyuhyun saat aku melepas ciuman kami. Segera setelah itu, ia menurunkanku dan membiarkan aku berjalan dengan kedua kakiku. Lengan kokohnya memeluk erat bahuku.

 

“Kau ingin makan apa?”aku mendongakkan kepala saat mendengar pertanyaan Kyuhyun.

 

“Aku tidak ingat makanan apa saja yang enak.” Jawabku acuh.

 

“Silakan masuk, Tuan Putri.” Kyuhun membukakan pintu mobil dan membungkuk layaknya pelayan istana. Ini sangat konyol, tapi romantis. Aku tersenyum lebar sebelum masuk ke dalam mobil. Tak lama Kyuhyun pun masuk dan duduk di balik kemudi. “Pakai sabuk pengamannya, Sayang.” perintahnya halus.

 

Dengan serius kuperhatikan Kyuhyun yang memakai sabuk pengamannya, lalu mengangguk tanda mengerti. Kuikuti apa yang Kyuhyun lakukan tadi. “Kita akan makan apa, Oppa?” Aku bertanya pada Kyuhyun, sebelum akhirnya tersenyum senang karena berhasil memakai sabuk pengaman seperti yang Kyuhyun perintahkan tadi.

 

“Kita akan ke restoran Mexico langgananmu.” Jawab Kyuhyun. Dengan santai Kyuhyun mengendarai mobil. Tidak ada pembicaraan setelah itu. Hanya saling membalas senyuman serta sentuhan-sentuhan kecil yang kami lakukan. Seperti saat ini, Kyuhyun menggenggam tangan kiriku lalu menarik ke depan mulutnya, ia mengecup buku-buku jariku dengan lembut.

 

Tangan Kyuhyun beralih menyentuh rambutku, menyelipkan rambutku di belakang telinga. Setelah itu ia pun mengusap rambut panjangku dengan penuh kasih. Sungguh ini adalah sentuhan yang bisa membuatku melupakan segalanya.

 

“Kita sampai.” Ucap Kyuhyun. Ia memakir mobilnya di samping restoran. Dengan cepat Kyuhyun keluar dari mobil lalu berjalan memutar dan membukakan pintu untukku.  Kusambut uluran tangan Kyuhyun dengan senang hati. Layaknya pasangan yang sedang bahagia, kami berjalan masuk restoran dengan tangan saling bertautan.

 

“Selamat datang.” Seorang pelayan dengan seragam berwarna Cokelat menyambut kami dengan ramah.

 

“Seperti biasa. Kami ingin tempat yang lebih tertutup.” Kyuhyun berbicara pada pelayan yang tadi menyambut kami.

 

“Baiklah, Tuan Cho. Silakan ikut saya.” Sambil tersenyum, pelayan itu membawa kami ke sebuah ruangan. Di sana terdapat meja dan kursi seperti di luar tadi, namun bedanya di dalam ruangan ini hanya ada satu meja. Jelas privasi pengunjung akan terjaga jika berada di dalam ruangan ini.

 

“Dua Fajitas dan dua jus alpukat” Kyuhyun memesan makan. “Dan bisa tolong bawakan satu gelas air hangat.” Sambungnya, tanpa melihat pada pelayan yang berdiri di samping meja kami.

 

“Baiklah, mohon menunggu sebentar, Tuan.” Pelayan ramah itu pun segera keluar dan meninggalkan kami berdua dalam keheningan. Tidak, keheningan itu tidak berlangsung lama, hanya beberapa detik setelah si pelayan keluar.

 

Oppa sering ke sini?” Aku bertanya pada Kyuhyun. Tanpa dijawab pun, sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, bisa dilihat dari pelayan yang tahu nama Kyuhyun.

 

Bukannya menjawab pertanyaanku, Kyuhyun justru mengambil tanganku, mendekatkannya pada mulutnya lalu mengecup Buku-buku jariku. “Iya, aku sering datang ke sini.” Jawabnya setelah puas mengecupi jariku.

 

“Mengapa kita tidak duduk di luar saja?” kembali aku bertanya pada Kyuhyun.

 

kulihat Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. Dengan gerekan pelan dan keren ia berdiri, mengitari meja lalu membungkuk di sampingku. “Karena aku ingin bebas menyentuhmu.” Bisiknya tepat di telinga kananku. “Dan kau tentu tidak ingin mempertontonkan kemesraan kita kan, Sayang.” Sambungnya, sebelum menggigit pelan telingaku.

 

“Ya, tentu saja tidak.” Aku menjawab dengan napas yang mulai memburu. Demi apa pun, sentuhan pelan jemari Kyuhyun di leherku serta bisikan sensualnya berhasil membangkitkan gairahku. “Apa oppa selalu seperti ini saat makan di sini?” Tanyaku, masih dengan napas memburu.

 

“Ya, kita selalu melakukan hal ini, Mi-ya.” Jawab Kyuhyun.

 

Nyawaku seperti dicabut paksa saat mendengar nama siapa yang keluar dari mulut Kyuhyun. bahkan saat bersamaku, Kyuhyun salah menyebutkan nama. Ini aku, Baek Seung Hye bukan Baek Seung Mi.

 

Apa memang cinta Kyuhyun hanya milik Seung Mi?

 

TBC

121 thoughts on “Rancore Part 2

  1. Kok kyuhyun salah sebut nama? Kyu itu sukanya sama siapa? Seunghye atau seungmi? Kok kesel ya😒 kyu kesana mau kesini mau..
    Pengen tau awalnya hubungan mereka itu kayak gimana..
    Keep writing😊 keren ceritanya👍👍👍

    Suka

  2. kok gua kesel banget sama kyu … kalo di lihat2 sih kaya nya kyu suka nya sama seung he tapi kenapa jadian nya sama seung mi itu juga pula malah salah nyebut nama lagi .. kyu pengen gua bungkus terus buang ke rawa2 haaha

    Suka

  3. Aku kira hanya ada satu ular di cerita ini ternyata ada dua. Saat baca part ini dipertengahan udah pengen cpet2 selesain aja bacanya. Awalnya kaget dengan niat seung hye ingin merebut kyuhyun dan semakin melongo dengan tingkah laku mereka yang ttiiiiiiiiiiiitttttttt….

    Suka

  4. eonniiiiii…. kyuhyun gimanasih labil? ‘-‘ jangan lagi menyukai orang yg sama? jadi seunghye slalu nyukai orang yg sama ama kaka nya? ayah kandung nayoon kmna? gue bingung ‘-‘ molla. greget akuhhhh ><

    Suka

  5. 😂 sebetulnya Kyu Hyun suka sm siapa sih? Seung Mi apa Seung Hye? Maruk bener jadi orang. Pas sm Seungmi dia pengen sama Seunghye dan sebaliknya 😂
    Ini hampir semua POVnya Seunghye ya? Aku kok ngarep si Seungmi aja yg sama Kyuhyun. Masih belum ketahuan siapa yg antagonis. Seungmi sm mamahnya juga keliatan baik. Malah dari POVnya Seunghye dia yg egois pengen memiliki Kyuhyun. Tapi … ah sudahlah. Aku baca part 3 dulu kak Vhiy 😂😂😂

    Suka

  6. Sebenarnya siapa yg jahat disini? Masih penuh tanda tanya.

    Si kyu jadi cowok plin plan banget, masak adik kakak di mainin keduanya. Ndak punya hati banget sih. Pengin cincang dah kalau ada cowok seperti ini.

    Di tunggu next chaptnya mimin. 😘

    Suka

  7. Greget bgt ini ya adek kakak…. Kyuhyun jg dapet sana sini-_- hfttt suka ceritanya, masih banget bikin penasaran sebenernya hubungan mereka itu gimana..
    Semangat author:) hwaiting!!

    Suka

  8. Siapa yang jahat disini sebenarnya sich seung hye atau seung mi
    Kyuhyun bener” brengsek ya mau dapetin dua duanya kayaknya hatinya buat seung mi tapi hasratnya untuk seung hye

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s