Perfect Match Part 4


image

Author: Keita

Title: Perfect Match Part 4

Category: NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast:

Han Hyo Joo as Oh Yeon Joo

Park Chanyeol

Support Cast:

Mr-Kim

Lee Donghae

Oh Sehun

Annyeong haseyeo … Terimakasih untuk pada reader yang menyempatkan waktunya untuk membaca cerita yang saya buat.. Terimakasih untuk admin yang sudah mempost tulisan saya.. Maaf kalau ada kata-kata yang bikin bingung. Mmmmmmmm…. Moga suka sama ceritanya ya.. HAPPY READING…

Chanyeol POV

“lalu kapan kalian akan bertunangan?” Tanya omma.

Aku melirik sekilas ke arah Yeon Joo.. dia terlihat agak kaget.

“omma, kami baru bertemu. Aku ingin Yeon Joo mengenal diriku lebih jauh lagi.”

“dan aku akan membiarkan Yeon Joo mengatur masalah pertunangan dan pernikahan kami” lanjutku tenang sambil melingkarkan tanganku pada pinggang Yeon Joo.

Aku melihat kearah Yeon Joo dan dia melihatku juga sambil tersenyum.

“okay, omma tidak memaksa. Tapi yang jelas omma ingin cepat mempunyai cucu”

“kau sudah punya 2 cucu dari noona” jawabku.

“Yeon Joo, jangan lama-lama memikirkannya ya. Kau bisa mengenal Chanyeol setelah menikah nanti.” Kata omma sambil menggenggam tangan Yeon Joo.

“omma” kataku coba menghentikannya untuk menekan Yeon Joo.

“ne, omeoni. Aku akan segera memikirkannya.” Jawab Yeon Joo tenang.

Tanpa sadar aku pun tersenyum mendengar jawaban Yeon Joo.

“Bagus. Ah, omma membawa beberapa makanan.” Kata omma menarik Yeon Joo dari pelukanku dan berjalan ke arah dapur.

Aku mengekor mengikuti mereka berdua.

“kau harus makan ini bersama Chanyeol”

Seperti biasa omma akan membawa beberapa makanan. Tentu saja makanan korea.

“ne, omeoni. Terimakasih”

“Yeon Joo sangat menyukai makanan korea” kataku.

Yeon Joo melihat sekilas ke arahku. Ada raut malu di wajahnya.
Aku pun hanya mengangkat bahu untuk ekspresinya.

“ah benarkah? Kalau begitu kau harus datang ke rumah. Omma akan memasak banyak makanan korea” kata omma senang.

“ne, omeoni. Aku akan mengunjungimu bersama Chanyeol” kata Yeon Joo malu.

“arraso. Omma akan pulang” kata omma berjalan ke arah ruang utama.

“omeoni tidak lama disini?”

“tidak, ada beberapa hal yang harus omma lakukan hari ini.” kata omma menjawab pertanyaan Yeon Joo.

Sebelum memasuki lift omma memeluk Yeon Joo dan memelukku juga.

“jangan lupa datang ke rumah” kata omma lebih kepada Yeon Joo, dan tak lama setelah itu pintu lift nya tertutup.

“apa kau menceritakanku pada omma-mu?” selidik Yeon Joo setelah pintu lift tertutup.

“mmmm-hmm”

“dari mana kau tahu aku suka makanan korea?”

“aku sudah mengenalmu jauh sebelum kau bertemu denganku minggu lalu” jawabku sambil duduk di sofa ruang utama dan menyalakan TV.

“kau pernah bertemu denganku sebelumnya?” Tanya Yeon Joo penasaran dan ikut duduk sambil menghadap ke arahku.

“mmmm-hmmm” kataku dan menghadap ke arah Yeon Joo.

Sekarang kami duduk berhadapan.

“berhenti hanya menjawab dengan kata ’mmm-hmmm’. Ceritakan padaku” jawab Yeon Joo kesal.

“tidak sebelum kau memanggilku oppa” godaku.

“oh ayolah” rengek Yeon Joo manja.

Aku tersenyum geli melihat tingkahnya.

“oppa” kataku sekali lagi.

“Chanyeol oppa… oppa…” kata Yeon Joo dengan genit.

Aku hampir tertawa senang karena kata-katanya. Aku mencondongkan tubuhku untuk menciumnya sekilas.

“kau hanya boleh berkata ‘oppa’ dengan nada seperti itu kepadaku. Tidak pada pria lain. Arra?”

Yeon Joo menggangguk pelan. Dan aku pun mulai menciumnya lagi. Kali ini ciuman agak lama dari yang tadi. Sampai tangan Yeon Joo menghentikanku.

“kapan kau akan bercerita?” katanya terenga-engah.

Aku pun menyeringai melihat dia terengah-engah. Dan menjauhkan bibirku.

“mmmm…. Saat kuliah dulu. Kita berkuliah di universitas yang sama” kataku mulai cerita.

“benarkah? Tapi aku tak pernah melihatmu” kata Yeon Joo tak percaya.

“ya, karena kau terlalu sibuk belajar” kataku sambil mengelus pipi nya.

“dimana kau pertama kali melihatku?” Tanya Yeon Joo penasaran

“perpus lantai 2. Saat itu kau sendirian dan sangat serius. Duduk tempat, yang biasa aku duduki untuk mengerjakan penelitianku.”

Ku lihat Yeon Joo berusaha mengingat.

“selama 2 minggu di jam yang sama, setiap harinya kau selalu duduk disitu.”

“lalu?”

“aku mulai penasaran. Siapa sebenarnya gadis ini? kenapa dia selalu duduk disana sendirian dengan muka serius sambil membaca buku. Apakah dia tak punya teman? Atau dia juga sedang melakukan riset?”

“ah aku ingat.. saat itu omma-ku baru meninggal. Itu baru 1 minggu dia meninggalkanku. Aku butuh waktu sendirian saat itu. Makanya aku selalu pergi ke perpus lantai 2. Karena aku tahu disitu sepi dan tak aka nada yang menggangguku.” Jelas Yeon Joo

Ah sekarang aku tahu alasannya.

“maaf aku tak tahu” kataku sambil menggenggam tangannya.

“tak apa. Itu sudah sangat lama. Lagi pula kita belum saling mengenal.” Katanya membalas genggaman tanganku.

“lalu bagaimana kau bisa menyukaiku?” lanjut Yeon Joo

“saat kita berpapasan di koridor. Dan kau hanya melirik sekilas padaku. Aku menyadari kau berbeda dengan gadis lain. Kau tampak tak tertarik padaku. dan aku merasa, aku telah menyukaimu sejak saat itu”

“gadis lain? Memang gadis lain akan bagaimana jika berpapasan denganmu?” Tanya Yeon Joo penasaran.

“mereka akan melihatku terus. Dan tersenyum padaku jika aku melihat mereka. Padahal aku tidak tahu siapa itu.”

“kau sangat populer” kata Yeon Joo

“ya. Aku akui itu” kataku bangga

Yeon Joo tersenyum atas kata-kataku.

“ayo kita jalan-jalan” ajakku padanya sambil bangkit dari sofa.

“kemana?”

“Ambil barang-barangmu, kita akan membeli beberapa baju untukmu dan makan siang di luar. Aku harus ganti baju.”

“Aku akan menelpon,” bisiknya

“Pria yang kemarin malam?” kataku dengan nada tidak suka

Yeon Joo hanya berkedip kepadaku.

“Aku tak suka berbagi, Yeon Joo. Ingat itu.”

Kataku memperingatkan, dan berbalik menuju kamar.

“Siap?”

Yeon Joo mengangguk yakin.

Mr-Kim sudah menunggu depan lift.

“aku akan keluar, mungkin sampai malam” kataku pada Mr-Kim yang mengangguk.

“Ya tuan. Mobil mana yang akan anda pakai? ”

Aku melihat ke Yeon Joo sebentar.

“Veyron.”

“Semoga perjalanannya lancar, Tuan. Nona” kata Mr-Kim sambil mengganguk.

Mr-Kim menahan pintu lift agar tetap terbuka untuk kami.

Kami masuk, dan aku menekan tombol G.

“Ada apa, Yeon Joo?” kataku

Dia meraih dan menarik daguku.

“Berhenti menggigit bibirmu, atau aku akan bercinta denganmu di lift, dan aku tak peduli siapa yang akan masuk ke lift bersama kita.” Kataku sambil tersenyum

Yeon Joo terlihat tersipu.

“Chanyeol, aku punya masalah.”

“kenapa?”

“tak bisakah kita langsung pulang?”

Aku agak kecewa mendengar perkataan Yeon Joo.

“kau tidak mau bersamaku?”

“bukan, bukan seperti itu. Hanya saja aku sudah punya banyak baju yang masih layak untuk digunakan” jelasnya.

“siapa bilang baju itu untuk di bawa pulang ke rumahmu”

Yeon Joo menatapku dengan bingung.

“baju-bajumu akan di taruh di penthouse ku. Di lemari bajuku.”

“untuk apa?”

“jaga-jaga jika kau ingin menginap di penthouse.” Kataku sambil tersenyum padanya.

Aku menangkup dagu  Yeon Joo dan langsung memberikan ciuman manis di bibirnya saat pintu
lift terbuka. Aku menggenggam tangan Yeon Joo dan membawanya ke garasi bawah tanah.

“Mobil yang bagus,” gumam Yeon Joo datar.

Aku menoleh dan nyengir.

“Aku tahu,”

Yeon Joo POV

Aku kira Veyron adalah nama yang diberikan Chanyeol untuk mobilnya. Tapi aku salah.. ini adalah Bugatti Veyron.. Oh my god… aku tau harga mobil ini…

Oh pria dan mainannya..

Dia mulai menyalakan kunci kontak, dan suara mesin mengaum di belakang kami.  Dengan menyentuh tulisan switch, Musik Far East Movement terdengar di seputar kita.

“Aku suka Far East Movement,” dia nyengir dan mengemudikan mobilnya keluar dari tempat parkir, dan melewati jalan tanjakan keatas dimana kita berhenti sejenak sampai palangnya terbuka.

Lalu lintas tidak terlalu padat. Far East Movement Feat Jay Park menyanyikan lagu SXWME. Bagaimana bisa cocok. Mukaku memerah saat aku memperhatikan kata-katanya. Chanyeol melirikku. Mulutnya menyeringai sedikit, dan dia meletakkan tangannya di lututku, meremas lembut.

Napasku jadi sesak.

“Lapar?” Tanya dia.

Bukan untuk makanan.

“Tidak terlalu.”

Mulutnya mengencang menjadi garis keras.

“Kau harus makan, Yeon Joo,” tegurnya.

“Aku tahu tempat yang menyajikan Samgyetang enak. Kita akan makan siang disitu nanti.” Lanjutnya sambil meremas lututku lagi, lalu mengembalikan tangannya ke kemudi, saat kakinya menekan pedal gas.

Aku merasa ditekan ke belakang kursiku. Mobilnya ngebut.
Kami berhenti di Cheongdam-dong. Chanyeol turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.

“ayo” ajaknya sambil menarikku masuk ke dalam toko pakaian dengan merk-merk terkenal.

Kami kembali ke mobil setelah hampir 3 jam memasuki toko ini dan itu, dengan banyak sekali kantong belanjaan. Chanyeol membeli banyak pakaian untukku. Bahkan dia membeli pakaian dalam juga untukku. Tidak hanya pakaian saja, dia membelikanku sepatu juga. Ini terlalu berlebihan.

“ada yang masih kau butuhkan?” Tanya Chanyeol saat kami sudah berada dalam mobil.

“kau terlalu membeli banyak barang untukku” keluhku.

“karena kau akan menjadi istriku. Dan itu wajar bukan?”

“ya, tapi itu tidak untuk saat ini. terlalu berlebihan.”

“ini untuk persiapan. Siapa tahu tiba-tiba kau ingin menikah denganku minggu depan” kata Chanyeol sambil tersenyum jahil.

Aku pun menghela nafas dan memutar mataku.

“kau memutar matamu?” kata Chanyeol

Sebelum aku menjawab Chanyeol sudah menyerangku terlebih dahulu. Ciumannya saat memaksa.

“kalau kau melakukan itu lagi, aku akan menyerangmu. Tidak perduli kita ada tempat umum atau tidak.” Ancamnya.

“kau sangat mesum”

“hanya padamu. Dan aku tak pernah puas denganmu” jawabnya sambil menyeringai.

“ayo kita makan” lanjutnya sambil menjalankan mobil.

Restoran

Aku tak terlalu lapar. Jadi aku hanya memakan 1 paha utuh.

“Sudah? Apa kau sudah selesai makan?” kata Chanyeol saat melihatku tidak menyentuh makananku lagi

Aku mengangguk. Dia cemberut padaku, tapi memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Aku menarik napas kecil lega.

Aku menyaksikan dia makan semua yang ada. Dia makan banyak. Dia pasti berolah raga untuk tetap dalam kondisi prima. Ingatan tentang celana piyama yang tergantung di pinggulnya datang tanpa diminta masuk ke dalam pikiranku. Gambarannya benar-benar mengganggu. Aku menggeliat tak nyaman. Dia melirik ke arahku, dan aku tersipu.

“Aku akan memberikan segalanya untuk mengetahui apa yang kau pikirkan pada saat ini,” bisiknya.

Aku tambah tersipu.

Dia tersenyum nakal padaku.

“Aku bisa menebak,” dia menggoda lirih.

“Aku senang kau tak bisa membaca pikiranku.”

“Pikiranmu, tidak, Yeon Joo, tapi tubuhmu – Aku sudah tahu cukup banyak sejak kemarin.”

Bagaimana dia bisa beralih dengan cepat dari satu suasana ke suasana yang lainnya? Dia begitu
lincah … Sulit untuk mengikutinya.

Dia melambai ke pelayan dan meminta bon. Setelah dia membayar, dia berdiri dan mengulurkan tangannya.

“Ayo.” Dia menggenggam tanganku, dan membawaku kembali ke mobil.

Saat dia parkir di luar rumahku, tepat jam lima sore. Dia mematikan mesin, dan aku menyadari bahwa aku akan meninggalkannya.

“Apakah kau mau masuk?” Aku bertanya.

Aku tak ingin dia pergi. Aku ingin memperpanjang waktu kita bersama.

“Tidak Aku punya pekerjaan yang harus diselesaikan,” katanya sederhana, menatapku dengan ekspresi tak terduga.

Aku menatap tanganku, saat aku menautkan jari-jariku bersama-sama. Tiba-tiba aku merasa emosional. Dia akan pergi. Mengulurkan tangannya, dia mengambil salah satu tanganku dan perlahan menarik ke mulutnya, lembut mencium punggung tanganku, seperti kebiasaanya, sikap manis. Hatiku melompat.

“Terima kasih untuk kemarin malam. Ini adalah… yang terbaik. Besok? Aku akan menjemputmu dari tempat kerja, atau dimana pun?” Katanya lembut.

“Besok,” bisikku.

Dia mencium tanganku lagi dan menempatkan kembali di pangkuanku. Dia keluar, memutar ke sampingku, dan membuka pintu penumpang. Mengapa aku merasa tiba-tiba kehilangan? Memasang senyum di wajahku, aku keluar dari mobil.

“Oh … omong-omong, aku memakai pakaian dalammu.” Aku memberinya senyum kecil

Mulut Chanyeol menganga, terkejut.

Reaksi yang hebat. Suasana hatiku segera jadi berubah, dan aku balik masuk ke dalam rumah, sebagian diriku ingin melompat dan meninju udara. YA! Dewi batinku merasa gembira.

Sehun sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku.

“kau sudah pulang?” kataku menyapa Sehun

“ya. Kemarin malam. Dan kau tidak ada di rumah.”

“aku menginap di rumah Chanyeol. Mana appa?”

“penthouse? Appa di Jepang. Dia tidak ikut pulang denganku”

Aku pun menggangguk atas pertanyaan Sehun.

“Mana Chanyeol?  Kau tak menyuruhnya masuk?”

“dia sibuk. Ada pekerjaan yang harus dia selesaikan”

“aku harap dia segera menemui appa. Karena dia sudah menidurimu”

“Hoel, bagaimana kau tahu?” kataku kaget

“kau menginap di penthouse nya. Pasti kalian melakukannya.”

Tidak ada rahasia diantara aku dan Sehun. Kami menceritakan semua hal-hal yang kami alami. Tapi tidak secara detail.

“Aku senang kau kehilangan itu dengan seseorang yang tahu bagaimana melakukannya.” Sehun mengedipkan mata padaku. “Jadi kapan kau bertemu dengannya lagi?”

“Besok.”

“Jadi kau menyukainya?”

“Ya. Tapi aku tak tahu tentang … masa depan.” Kataku sambil berlalu ke kamar.

Hari ini sangat melelahkan. Aku akan tidur lebih awal.

Butik

“Yeon Joo, kau sudah kembali!” Teriak Lee Donghae lega.

“Jelas.” Sindiran keluar dari nada suaraku,

Dia diam sejenak.

“Bisakah aku makan malam denganmu hari ini?”

“aku tidak bisa. Maaf”

“Jadi kau dengan dia sekarang?” Nada suaranya penuh dengan kebencian.

“Lee Donghae, aku tidak dengan siapa pun.”

“Tapi kau menghabiskan malam bersamanya.”

“Itu bukan urusanmu!”

“Apakah itu karena uang?”

“Lee Donghae! Beraninya kau!” teriakku, Tergoncang oleh kelancangannya.

Untung di ruangan ini hanya ada aku dan Donghae, jadi tak ada yang mendengar kami bertengkar.

“Yeon Joo maaf” kata Donghae menyesal dan langsung keluar ruangan.

Aku menghela nafas.

Ping!

Ada pesan masuk. Chanyeol.

From: Chanyeol

Aku akan menjemputmu jam 7?

Kita makan malam bersama.



To: Chanyeol

Aku akan pulang lebih awal.

Kau tak usah menjemputku.

Dimana aku harus menemuimu?



From: Chanyeol

Hotel xxxx jam 7 malam. Okay?



To: Chanyeol

Arraso.

Hotel xxxx

Mengambil napas dalam-dalam dan aku masuk ke hotel.

Chanyeol bersandar santai membelakangi bar, minum segelas anggur putih. Dia mengenakan kemeja linen putih seperti biasa, dan menggunakan jas hitam tanpa dasi. Rambutnya yang kusut seperti biasa. Aku menghela napas. Tentu saja dia terlihat tampan. Aku berdiri selama beberapa detik di pintu masuk bar, menatap dia, mengagumi pemandangan.

Dia luar biasa tampan. Dia melirik, dengan gugup aku pikir, ke arah pintu masuk dan diam saat dia melihatku. Berkedip beberapa kali, kemudian dia tersenyum culas, nakal, senyum seksi yang membuatku terdiam dan meleleh. Dia berjalan mendekatiku.

“Kau sangat mempesona,” gumamnya sambil membungkuk dan mencium pipiku singkat.  Menggenggam tanganku, dia membawaku ke pojok yang terpisah dan memberi isyarat kepada pelayan.

“Apa yang ingin kau minum?”

Aku langsung tersenyum rahasia saat aku duduk, setidaknya dia bertanya dulu padaku.

“Aku mau seperti apa yang sudah kau pesan.”

Geli, dia memesan segelas Sancerre dan duduk di depanku.

“Mereka punya gudang anggur yang sangat baik di sini,” katanya, memiringkan kepalanya ke satu sisi melihat ke arahku
Aku bergerak tak nyaman di bawah tatapannya, jantungku berdebar.

“Apakah kau gugup?” Tanyanya lembut.

“Ya.”

Dia membungkuk ke depan.

“Aku juga,” bisiknya penuh rahasia.

Aku berkedip padanya, dan dia tersenyum miring sangat menggemaskan ke arahku. Pelayan datang membawa anggurku, piring kecil berisi bermacam-macam kacang, dan satu lagi buah zaitun.

“Ayo, aku sudah memesan ruang yang lebih pribadi.” Dia tersenyum padaku penuh rahasia dan berdiri, menggenggam tanganku.

“Bawa anggurmu,” bisiknya.

Bertumpu di tangannya, aku bergeser keluar dan berdiri di sampingnya. Dia melepaskanku, dan tangannya meraih sikuku. Dia memimpinku kembali melewati bar dan menaiki tangga besar. Seorang pemuda berseragam Hotel xxxx mendekati kami.

“Mr. Park, this way sir.”

Kami mengikutinya dan sampai di ruangan yang lebih pribadi tempat duduknya sangat mewah.
Ruangan yang kecil tapi mewah. Di bawah sebuah lampu gantung berkilauan, gelas kristal, sendok garpu perak, dan karangan bunga mawar putih. Sangat kuno, ruang berdinding kayu keindahannya sudah tak asli. Pelayan menarik kursi untukku, dan aku duduk. Ia menempatkan
serbet di pangkuanku. Chanyeol duduk di depanku. Aku mengintip ke arahnya.

“Jangan menggigit bibirmu,” Bisiknya.

Aku mengerutkan kening. Sialan. Aku bahkan tak sadar jika aku melakukannya.

“Aku sudah memesan makanannya. Aku harap kau tak keberatan.”

Terus terang, aku lega, aku tak yakin aku bisa membuat keputusan lebih lanjut.

“Tidak, itu bagus,” aku menyetujui.

“kau tak masalah dengan makanan lautkan?”

“ya” kataku sambil mengangguk.

Tak lama makanan datang. Oh ini terlalu banyak. Aku sudah kenyang.

“Kau tak makan banyak.”

“Aku sudah cukup.”

“Tiga tiram, empat gigitan ikan, dan satu tangkai asparagus, tak makan kentang, tak makan kacang, dan  aku tahu kau tak makan seharian. Kau bilang aku bisa percaya padamu.”

Astaga. Dia memberikan daftar rincian makanannya.

“Chanyeol, tolong, sekali saja tidak mempermasalahkan tentang makanan”

“Aku membutuhkan engkau bugar dan sehat Yeon Joo.”

“Aku tahu.”

“Dan sekarang, aku ingin mengupasmu keluar dari gaun itu.”

Aku menelan ludah. Mengupasku keluar dari gaunku. Aku merasa ada tarikan di dalam perutku. Ototku sekarang mencengkeram semakin akrab saat mendengar kata-katanya. Tapi aku tak bisa memiliki ini. Senjatanya yang paling ampuh, digunakan untuk melawanku lagi. Dia begitu nyaman dengan seks – bahkan aku sudah tahu ini.

“Aku berpikir itu bukan ide yang bagus,” bisikku pelan. “Kita belum makan makanan penutup.”

“Kau ingin makanan penutup?” Dia mendengus.

“Ya.”

“Kau bisa menjadi makanan pencuci mulut,” bisiknya penuh arti.

“Aku tak yakin aku cukup manis.”

” Yeon Joo, kau nikmat dan manis. Aku tahu.”

“Chanyeol. Kau menggunakan seks sebagai senjata. Itu benar-benar tak adil,” bisikku, menatap tanganku, dan kemudian menatap langsung padanya.

Dia mengangkat alis, terkejut, dan aku melihat dia mempertimbangkan kata-kataku. Dia mengusap dagunya sambil berpikir.

“Kau benar. Dalam hidupmu kau menerapkan apa yang kau tahu, Yeon Joo. Ini tidak mengubah betapa aku menginginkanmu. Di sini. Sekarang.”

Bagaimana dia bisa merayuku hanya dengan suaranya? Aku sudah terengah-engah – darahku memanas mengalir melalui pembuluh darahku, kegelisahan menggelitikku.

“Aku ingin mencoba sesuatu,” dia mengambil nafas.

Aku mengerutkan kening. Dia hanya membebaniku dengan ide omong kosong untuk diolah pada saat ini.

Haruskah terjadi di sini? Bisakah itu terjadi sekarang?

“… Tubuhmu memperlihatkan semuanya. Kau menekan pahamu bersama-sama, Mukamu memerah, dan tarikan napasmu berubah.”

O, ini terlalu banyak.

“Bagaimana kau tahu tentang pahaku?” Suaraku pelan, tak percaya.

Ya ampun padahal pahaku di bawah meja.

“Aku merasa taplak meja bergerak. Bukankah aku benar?”

Mukaku memerah dan menunduk menatap tanganku. Aku sangat terganggu oleh permainannya yang menggoda.

“Aku belum selesai dengan makananku.”

“Kau lebih suka makanan dingin dari pada aku?”

“Kupikir kau suka aku menghabiskan makananku.”

“Saat ini, aku tidak peduli dengan makananmu.”

Kau dapat melakukan ini, dia merayuku – mainkan dewa seks ini pada permainannya sendiri. Bisakah aku? Oke. Apa yang harus kulakukan?  Mengambil asparagus, aku menatapnya dan menggigit bibirku. Kemudian dengan sangat perlahan meletakkan ujung asparagus dingin ke mulutku dan menghisapnya. Mata Chanyeol membelalak, dan aku menyadari itu.

” Yeon Joo. Apa yang kau lakukan?”

Saya menggigit ujungnya.

“Makan asparagusku.”

Chanyeol bergeser di kursinya.

“Aku pikir kau bermain-main denganku, sayang.”

Aku berpura-pura merasa tak bersalah.

“Aku hanya menghabiskan makananku, oppa.”

Tiba-tiba pelayan mengetuk dan tanpa diminta lalu masuk. Dia melirik sebentar ke Chanyeol, yang mengerutkan kening padanya tapi kemudian mengangguk, jadi pelayan itu membersihkan piring kita. Aku harus pergi. Pertemuan kami hanya akan berakhir dengan satu cara jika aku menundanya, dan aku perlu batasan sehabis melakukan percakapan yang begitu bersemangat. Tubuhku sangat membutuhkan sentuhan pria itu, pikiranku memberontak.

“Apa kau ingin makanan penutup?” Chanyeol bertanya dengan sopan, tapi matanya masih membara.

“Tidak, terima kasih. Aku rasa aku harus pulang.” Aku menatap tanganku.

“Pulang?” Dia tak bisa menyembunyikan kekagetannya.

Pelayan buru-buru meninggalkan kami.

“Ya.” Ini keputusan yang tepat.

Jika aku tinggal di sini, di kamar ini bersama dia, dia akan meniduriku.

Sengaja aku langsung berdiri.

Chanyeol berdiri secara otomatis, memperlihatkan kesopanan.

“Aku tak ingin kau pergi.”

“Tolong … aku harus.”

“Kenapa?”

“Karena kau telah memberiku begitu banyak hal untuk dipertimbangkan … dan aku perlu jarak.”

“Aku bisa membuatmu tinggal,” dia mengancam.

“Ya, kau pasti bisa, tapi aku tak ingin kau melakukan itu.”

Dia berjalan kearahku. Dia membelai wajahku, ibu jarinya menelusuri bibir bawahku.  Dia membungkuk ingin menciumku, tapi berhenti sebentar sebelum bibirnya menyentuh bibirku, matanya langsung melihat mataku, ingin minta izin. Aku menempelkan bibirku ke bibirnya, dan dia langsung menciumku dan membiarkan – tanganku bergerak atas kemauanku sendiri dan memutar ke dalam rambutnya, menariknya padaku, mulutku membuka, lidahku membelainya. Tangannya menggenggam tengkukku saat dia memperdalam ciumannya, menanggapi semangatku. Tangan satunya meluncur ke punggungku dan menempel ke dasar tulang belakangku sambil mendorongku ke tubuhnya.

“Aku tak bisa membujukmu untuk tinggal?” dia mengambil nafas diantara ciuman.

“Tidak.”

“Habiskan malam bersamaku.”

“Dan tak boleh menyentuhku?”

Dia mengerang.

“Kau gadis yang sulit.” Dia menarik diri, menatap ke arahku.

Dia menutup matanya dan menekan dahinya di bibirku, memberi kami berdua kesempatan mengatur pernapasan kita. Setelah beberapa saat, ia mencium keningku, menghirup dalam-dalam, mencium rambutku, kemudian dia melepaskan aku, melangkah mundur.

“Aku akan mengantarmu ke lobi.”

“Apa kau memiliki tiket valet?”

Aku merogoh ke dalam tasku dan menyerahkan tiket, kemudian dia memberikan kepada penjaga pintu. Aku mengintip ke arahnya saat kita berdiri menunggu.

“Terima kasih untuk makan malamnya,” gumamku.

“Sangat menyenangkan seperti biasa, sayang,” katanya sopan, meskipun dia tampak tenggelam dalam pikirannya, benar-benar terganggu.

Tiba-tiba dia menatap ke arahku, ekspresinya sangat dalam.

“Sepertinya sekarang bertambah dingin, tidakkah kau membawa jaket?”

“Tidak”

Dia menggeleng dengan kesal dan melepas jasnya.

“Pakai ini. Aku tak ingin kau masuk angin.”

Aku berkedip ke arahnya saat dia membuka jasnya, dan saat meletakkan tanganku di belakang,
Jaketnya hangat, terlalu besar, dan aromanya. Oh… sangat lezat.

Mobilku berhenti di depan.  Dia meringis saat membuka pintu pengemudi dan membantuku masuk, aku menurunkan kaca jendela. Dia menatapku dengan ekspresi tak terduga, matanya gelap.

“Hati-hati,” katanya pelan.

Aku memberinya senyuman kecil.

Continue…
Gimana? Bagus gak? Suka ga?
Makin aneh ga ceritanya?

Terimakasih sudah baca.
Maaf kalau ada typo.
Keita..

Ps: cerita disini terinspirasi dari Fifty Shades

51 thoughts on “Perfect Match Part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s