Uncontrollably Crush Part 2


picsart_02-10-08-15-48

 

Author            : Shan Shine

Tittle               : Uncontrollably Crush

Category        : NC21, Yadong, Romance

Cast                :

– Cho Kyuhyun.                                 

– Shin Hyunni.

 

***

Uncontrollably Crush part 2^^ So, Enjoy! and happy reading~

***

Part 2

“Cho Kyuhyun,” gumam Sana dan Hyunni secara bersamaan.

 

Pria yang disebutkan namanya itu hanya menatap Sana dan Hyunni bergantian, sebelum tatapannya berhenti pada Hyunni. Kemudian pria menyinggung senyumannya. Senyuman yang masih terlihat sama mempesonanya dengan senyuman yang kemarin, sangat tampan.

 

“Shin Hyunni-ssi?”

 

Kyuhyun terus menatap Hyunni dengan senyumannya yang tetap terukir menawan. Kyuhyun kembali memanggil nama gadis itu. Namun, Hyunni masih saja terus terdiam di tempatnya dan hanya menatap Kyuhyun dengan mulut yang sedikit terbuka.

 

“Eonni!”

 

Hyunni akhirnya mengerjap kecil saat Sana menyikut kecil pinggangnya. Tatapannya yang sempat teralih dari pria berjas Armani di depannya, akhirnya kembali berpusat pada pria itu. Dengan sedikit kelabakan, Hyunni berdiri dari kursinya dan menatap Kyuhyun dengan kaget sekaligus heran.

 

“A—Anda memanggilku?” tanya Hyunni dengan nada yang terdengar begitu rendah. Ia masih tidak akan percaya bahwa pria yang ia kagumi mengetahui bahkan memanggil namanya seperti itu.

 

Kyuhyun tersenyum sebelum mengangguk kecil. “Namamu Shin Hyunni, bukan?” mata Kyuhyun beralih menatap papan nama Hyunni dan kembali mengejanya di dalam hati. “Kurasa papan nama yang ada di bajumu tidak salah, kan?”

 

“Ah, iya! Aku Shin Hyunni. Ada apa Anda mencariku?”

 

Nada Hyunni yang sempat meninggi di awal kembali meredah di akhirnya, membuat Kyuhyun merasa geli sendiri dengan tingkah manis gadis kafe yang sedang berada di depannya itu. Kyuhyun bahkan bisa melihat bahwa wajah gadis itu merona samar saat Kyuhyun memanggil namanya tadi. Gadis yang benar-benar menggemaskan.

 

Kyuhyun kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku celana sebelah kanannya. Ia tampak mencari sesuatu di dalam sana, sebelum akhirnya ia mendapatkannya. Kyuhyun kemudian memberikannya pada Hyunni yang masih menatap sedikit bingung.

 

“Oh, ini?!”

 

“Kemarin kau menjatuhkan ini saat kita tidak akan sengaja bertabrakan. Awalnya aku bingung bagaimana cara mengembalikannya padamu, tetapi kemudian aku ingat kalau aku pernah melihatmu sebelumnya. Jadi aku ke sini untuk mengembalikannya. Dari yang kulihat, tampaknya ini tidak akan dijual di manapun.”

 

“Oh, bukankah ini gelang yang dibuatkan Donghae oppa kemarin? Eonni, kau menghilangkannya lagi?!” ujar Sana sambil menggeleng-geleng tidak percaya.

 

Hyunni segera meraih gelang yang ada di tangan Kyuhyun. Ia menatapnya sebentar sebelum membenarkan bahwa itu adalah gelangnya. Hyunni baru menyadari bahwa ia menghilangkan gelang itu saat ia melihat pergelangan tangan kanan dan pergelangan tangan kirinya kosong. Ia sendiri benar-benar tidak akan sadar bahwa ia sudah menjatuhkannya.

 

“Benar, ini gelangku,” gumam Hyunni masih menatap gelang itu.

 

“Kurasa pengaitnya tidak kuat saat itu. Jadi, aku sudah menguatkan pengaitkannya yang sedikit longgar. Aku harap, kau tidak akan menghilangkannya lagi setelah ini.”

 

“Terima kasih banyak sudah memperbaikinya, Cho Daepyeo-nim.”  Donghae yang muncul dari dalam dapurnya, membalas perkataan Kyuhyun soal pengait gelang itu dengan nada yang terdengar dingin. Tentu saja, Donghae masih ingat bahwa pria yang berdiri di depannya sekarang adalah pria yang sama yang telah menyewa hampir setengah ruangan kafenya dua hari yang lalu untuk rapat.

 

Sebenarnya Donghae adalah orang yang ramah dan murah senyum. Donghae bahkan bersikap ramah saat pria itu menelpon bahwa ingin menyewa setengah kafe Donghae selama jam makan siang. Namun, ia menjadi dingin dan sinis saat ia sempat melihat Kyuhyun berbicara dan tersenyum pada Hyunni dari dalam dapur.

 

Kyuhyun tersenyum miring dengan tenang. Ia sama sekali tidak akan terintimidasi dengan nada dingin Donghae. Ia bahkan mengulurkan tangannya, menjabat pria yang masih memakai apron putih itu.

 

“Donghae-ssi? Kau pemiliki kafe ini, bukan? Senang berkenalan denganmu. Jangan panggil aku seformal itu, panggil saja aku Kyuhyun. Aku juga mau mengatakan bahwa aku cukup merasa puas dengan pelayanan di kafemu selama rapat dua hari yang lalu. Mulai sekarang, mungkin aku akan sering-sering menyewa kafemu untuk rapat kecil seperti saat itu.”

 

Donghae menerima uluran tangan Kyuhyun dengan antisipasi. Menurutnya, pria dari kalangan chaebol seperti Kyuhyun adalah kalangan yang cukup membuatnya tidak nyaman jika berkenalan dengannya. Kalangan seperti mereka terkadang menyeramkan.

 

“Ah, iya. Terima kasih sudah mempercayai kafe kami.”

 

Kyuhyun tersenyum ramah. Ia kembali menatap Hyunni dengan senyumannya yang lebih mengembang dan mengabaikan tatapan dengan sirat ancaman dari Donghae. Kyuhyun hanya terus menatap Hyunni dan tersenyum pada gadis itu.

 

“Hyunni-ssi, gaunmu dua hari yang lalu? Apa nodanya bisa keluar? Kopi yang dua hari yang lalu mengenaimu adalah kopi hitam pekat. Apa nodanya benar-benar menghilang dengan sempurna?”

 

“Ah, iya?” Hyunni kembali mengerjap, entah kenapa ia selalu merasa tidak  siap dengan segala pembicaraan dengan pria itu. Atau mungkin ia terlalu serius menatap pria itu sehingga ia tidak akan terfokus akan kata-katanya. “Itu… lumayan.”

 

Kyuhyun mengernyit. Dari raut wajah Hyunni, sepertinya ia bisa mengetahui jawabannya. “Jadi nodanya tidak hilang, ya?”

 

“Tidak apa-apa! Itu gaun lama, aku juga sudah berniat membuangnya.”

 

“Pembual.”

 

Hyunni segera menyikut Sana setelah mendengar gumaman serta kikikan jahil gadis yang tengah duduk di sampingnya itu. Hyunni memang berbohong. Sebenarnya gaun itu baru ia beli di hari ia kencan buta. Sana sendirilah yang menyuruh Hyunni membelinya, sehingga itulah kenapa Sana yang hampir meledak ketawanya saat mendengar jawaban Hyunni tadi.

 

Kyuhyun sendiri mendengar gumaman itu. Membuatnya semakin menerbitkan senyumannya bahkan sedikit terkekeh geli. Kyuhyun kemudian menatap Donghae lagi.

 

“Donghae-ssi, apa aku bisa meminjam Shin Hyunni sebentar? Aku berhutang sebuah gaun padanya.”

 

Mata Hyunni sedikit melebar. “Aku benar tidak akan apa-apa, Kyuhyun-ssi. Kau tidak akan usah mengganti gaun itu.”

 

“Tidak, aku harus menggantinya. Bagaimanapun kopiku telah merusak gaunmu. Jadi, aku harus bertanggung jawab.”

 

“Iya, bawa saja Hyunni. Kami bisa menyuruh orang lain mengganti tempat Hyunni,” kata Sana menyela dengan senyuman lebarnya. Ia menjadi antusias sendiri karena ia tahu bahwa Hyunni menyukai pria itu. Hyunni hanya tidak tahu bagaimana cara mengembang rasa sukanya dan mengambil kesempatan untuk bisa dekat dengan Kyuhyun. Jadi, Sana yang akan membantunya.

 

“Kau…” Donghae tampak ingin protes.

 

Tanpa mendengar ucapan Donghae lagi, Kyuhyun segera jalan ke arah Hyunni. Ia juga langsung meraih tangan Hyunni, menggenggamnya dan membawanya bersamanya. Kyuhyun akan membawa Hyunni membeli gaun sebagai ganti gaun yang telah ia rusak dengan kopinya.

 

“Ayo.”

 

Hyunni sontak menatap tangannya yang digenggam oleh Kyuhyun. Terasa ada begitu banyak getaran yang menyengatnya sehingga ia semakin merasa gugup. Hyunni bahkan belum sempat membuka mulutnya saat pria itu membawanya keluar dari kafe itu.

 

“Yak, kenapa kau asal menyutujuinya!” protes Donghae pada Sana, sesaat setelah ia melihat Kyuhyun dan Hyunni sudah keluar dari dalam kafenya.

 

“Oppa, aku rasa pria itu tertarik pada eonni,” sahut Hyunni mengabaikan pertanyaan Donghae.

 

“Yak, bagaimana kalau Hyunni kenapa-kenapa di tangan pria itu? Kita baru mengenalnya, kita tidak akan tahu apa yang pria itu bisa lakukan pada Hyunni,” kata Donghae lagi mengeluarkan rasa protesnya.

 

“Oppa, Hyunni eonnie bukan anak kecil. Dia bisa menjadi dirinya sendiri. Lagipula, bukankah akan mengagumkan kalau Hyunni eonni dan pria itu sampai berhubungan? Itu akan sangat hebat! Jika benar-benar terjadi, itu tandanya bahwa Hyunni eonni tidak akan sia-sia melajang sejak lahir.” balas Sana dengan antusias sekaligus gemas pada Donghae. Donghae selalu saja protektif bukan hanya pada Sana, namun pada Hyunni juga.

 

“Bagaimana kalau pria itu ada tipe pria pemain wanita? Bagaimana jika dia hanya mengejar Hyunni untuk dijadikan salah satu koleksi wanitanya?” Donghae kembali gigih dengan protesnya.

 

“Oppa, kau sepertinya terlalu banyak nonton drama. Cho Kyuhyun adalah pelangganmu, kenapa kau malah berpikiran buruk tentangnya?”

 

Sana hanya menggeleng kecil, sebelum ia akhirnya memutuskan masuk ke dalam dapur untuk mengambil makanan yang akan disajikan. Sedangkan Donghae yang masih tidak akan terima Hyunni dibawa oleh Kyuhyuh. Ia kemudian menyusul Sana masuk ke dalam dapurnya sembari berseru.

 

“Yak, kau dan Hyunni yang selalu mengajakku nonton drama bersama kalian! Jadi jangan salahkan jalan pikiranku yang kalian nodai dengan drama romantis yang menyedihkan!”

 

***

 

“Masuklah!” perintah Kyuhyun saat mereka sudah berada tepat di samping mobil mewah Kyuhyun. Pria itu bahkan sudah membukakan pintu mobil itu untuk Hyunni, tepat di samping kursi pengemudi.

 

“Aku benar tidak apa-apa, kau tidak akan perlu mengganti gaunku. Lagipula, yang salah adalah aku. Aku yang lari tanpa memerhatikan sekitar hingga akhirnya menabrakmu. Harusnya aku yang meneraktirmu kopi, bukannya kau yang mengganti gaunku.” kata Hyunni yang mengabaikan perintah Kyuhyun untuk segera masuk di mobil mewah pria itu.

 

“Baiklah, kau bisa meneraktirku kopi. Namun, setelah aku mengganti gaunmu. Dengan begitu kita akan impas. Bagaimana? Setuju?”

 

Hyunni terdiam sebentar. Ia sekali lagi tampak menimbang-nimbang. Dari yang ia lihat, orang seperti Kyuhyun adalah orang yang sulit dibantah keinginannya. Apalagi Kyuhyun adalah seorang pemimpin perusahaan besar, sehingga tidak akan aneh jika pria itu memiliki mental seorang diktator.

 

“Baiklah, aku setuju.”

 

Kyuhyun tersenyum saat Hyunni akhirnya menghela napas panjang. Gadis itu kemudian masuk ke dalam mobilnya tanpa banyak protes lagi. Kyuhyun sendiri berjalan memutari bagian depan mobilnya dan ikut masuk ke dalam mobil itu.

 

Pria itu tersenyum miring dengan geli saat ia melihat Hyunni hanya mematung gugup di tempatnya. Bahkan gadis itu tidak memakai sabuk pengamannya, gadis itu hanya duduk dan terdiam memandang ke depan. Ia sangat tahu, pasti gadis itu cukup canggung bersamanya di dalam mobil berdua seperti ini.

 

Kyuhyun pun mendekat ke arah Hyunni, membuat gadis itu tiba-tiba saja tersentak di tempatnya karena gerakan tiba-tiba Kyuhyun. Padahal Kyuhyun hanya berniat memasangkan sabuk pengaman pada Hyunni, tetapi gadis itu malah memundurkan tubuhnya seolah Kyuhyun akan melahapnya. Tingkah Hyunni itu pun membuat senyum miring Kyuhyun semakin menggembang dengan geli.

 

“Kenapa?” tanya Hyunni waspada saat Kyuhyun mencondongkan tubuhnya padanya.

 

“Sabuk pengamanmu.”

 

“Ah, maaf.”

 

Dengan salah tingkah dan sedikit malu, Hyunni pun segera menarik sabuk pengaman yang di sampingnya dan memakainya. Hyunni benar-benar meruntuki dirinya yang selalu merasa canggung dan gugup di samping pria itu. Apalagi, jarak mereka yang begitu dekat seperti sekarang membuat jantung Hyunni berdebar lebih cepat dari biasanya.

 

“Tidak usah canggung denganku. Aku bukan atasanmu ataupun orang jahat. Anggap saja aku temanmu,” sahut Kyuhyun melihat Hyunni masih sedikit gugup di tempatnya.

 

“Baiklah.”

 

Kyuhyun kembali tersenyum puas. Ia kemudian mulai menyalakan mobilnya sehingga suara halus dari mobil mulai terdengar. Suara mobil mewah memang terdengar beda dari mobil-mobil biasa lainnya. Suaranya lebih halus dan tidak terdengar terlalu berantakan. Bahkan saat mobil itu berjalan, mobil itu meluncur dengan halus pula. Hal itulah yang membuat Hyunni sedikit terkagum. Bagaimanapun ini pertama kalinya ia menaiki mobil yang bahkan dalamnya terlihat mewah.

 

Di dalam mobil itu, sesekali Kyuhyun melihat ke arah Hyunni dan tersenyum kecil. Gadis itu masih terlihat begitu gugup sehingga tingkahnya tampak begitu manis dan menggemaskan. Semua orang yang melihat raut Kyuhyun sekarang pasti akan yakin bahwa Kyuhyun sudah benar-benar tertarik pada Hyunni.

 

“Kita sudah sampai.”

 

“Iya?”

 

Kyuhyun kemudian menunjuk bagunan yang ada di depan mereka dengan dagunya masih sambil menatap Hyunni. “Kita sudah sampai di toko pakaian.”

 

Mendengar itu, Hyunni menengok keluar. Ia melihat sebuah gedung dengan beberapa lantai tingkat berada di depan mereka. Melihat dari luar saja, Hyunni bisa tahu bahwa bangunan besar itu benarlah sebuah toko pakaian. Ia bisa melihat banyak gaun-gaun cantik sedang dipamerkan di kaca etalese besar di toko itu.

 

“A—apa kita akan membeli di sini?” Nada bicara Hyunni sedikit tergagap saat ia dan Kyuhyun keluar dari dalam mobil itu. Matanya bahkan terus menatap gedung itu dengan cukup terperangah. Menurutnya gedung itu terlalu besar hanya untuk diisi pakaian.

 

Biasanya Hyunni membeli pakaiannya di pasar dengan harga yang murah. Hyunni tidak akan pernah sekalipun memasuki toko sebesar yang ada di hadapannya kini hanya untuk sebuah gaun. Hyunni memang selalu menyayangi uangnya. Ia mengaggap uangnya lebih baik ia pakai untuk hal lain yang lebih berguna, selain memanjakan dirinya. Namun sepertinya, itu berbeda dengan Kyuhyun. Bagaimanapun pria seperti Kyuhyun tidak akan pusing dengan uangnya karena uang yang akan mendatangi pria itu setiap harinya.

 

“Tentu saja,” jawab Kyuhyun sebelum mulai melangkah mendahului Hyunni. “Hyunni-ssi, ayo! Kenapa kau berdiam diri di sana?”

 

Terlalu lama melamun, membuat Hyunni tidak akan sadar bahwa Kyuhyun sudah ada tepat di depan pintu masuk bangunan toko itu. Kyuhyun sendiri berhenti di sana karena ia sadar sejak tadi, Hyunni belum mengikuti langkahnya.

 

“Apa kau yakin?” tanya Hyunni sekali lagi, saat ia sudah berada tepat di samping pria itu.

 

Kyuhyun hanya tersenyum. Gadis itu membuatnya gemas dengan pertanyaan-pertanyaannya yang selalu terdengar kagum dan tidak percaya. Kyuhyun pun kembali meraih tangan Hyunni. Kyuhyun tahu, jika Hyunni tidak akan diseret masuk, maka gadis itu akan tetap berdiri terus di depan pintu itu dengan pertanyaannya terus menerus.

 

“Ayo.”

 

Mereka akhirnya memasuki bangunan dengan ratusan gaun indah di dalamnya. Bahkan Hyunni yakin, di lantai atas berikutnya masih ada beberapa ratus gaun lagi yang tidak akan kalah indahnya. Ia sekarang hanya berharap bahwa Kyuhyun akan membelikannya gaun yang termurah saja.

 

“Pilihlah! Jika kau sudah memilih, beritahu saja aku dan aku akan membayarnya. Aku akan duduk di sana menunggu,” kata Kyuhyun sembari menunjuk sebuah sofa besar yang terletak di tengah ruang.

 

Hyunni hanya terdiam. Matanya terlalu fokus pada semua gaun yang indah hingga ia tidak akan terlalu menggubris kalimat Kyuhyun. Perlahan, ia melangkah mendekati sebuah gaun yang tampak sederhana. Ia menganggap semakin sederhana gaun itu, makan semakin murah pula harganya.

 

“Empat ratus ribu won!”

 

Hyunni menarik napasnya sangat dalam sebelum memekik kecil karena kaget saat melihat label harga dari gaun yang terlihat sederhana itu. Hyunni bahkan segera membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan kanannya begitu ia sadar ia memekik.

 

Hyunni kemudian menengokkan kepalanya ke arah Kyuhyun yang tengah duduk sembari sibuk melihat-lihat majalah yang disediakan. Dari yang ia lihat, sepertinya Kyuhyun tidak mendengar pekikkan memalukannya tadi. Hyunni cukup bersyukur bahwa jarak mereka cukup jauh. Hanya ada beberapa pelayan di dekatnya yang terkikik geli mendengar Hyunni saat itu.

 

Tatapan Hyunni akhirnya kembali pada gaun itu. Ia menatap gaun  dan label harganya secara bergantian, sebelum menghela napas panjang. Ia yakin, bahwa harga gaun ini yang termurah di toko itu.

 

Harusnya ia sadar, saat pria itu membawanya di daerah Cheongdamdong. Selera orang kaya memang begitu beda dari orang biasa lainnya. Pria seperti Kyuhyun adalah orang yang tidak keberatan memberikan enam ratu ribu won lebih hanya sebagai ganti rugi. Bahkan ia melihat pria itu duduk dengan angkuh menyilangkan kakinya, seolah ia bisa membeli seluruh isi toko yang mereka datangi ini.

 

Helaan napas panjang kembali keluar dari dalam mulut Hyunni. Matanya kemudian menatap gaun-gaun indah yang ada di sekitarnya. Sekarang tujuannya hanyalah mencari gaun termurah yang ada di toko itu, lalu pulang. Ingin rasanya Hyunni bertanya pada pelayan toko tentang gaun termurah, jika saja ia tidak akan punya malu.

 

Akhirnya, hampir sepuluh menit hanya dihabiskan oleh Hyunni untuk berdiri diri menatap sekeliling. Ia benar-benar bingung ingin memilih apa. Bahkan saat pelayan bertanya gaun apa yang Hyunni inginkan, Hyunni hanya menjawab jika ia ingin melihat-lihat saja dulu.

 

Merasa ia telah duduk dengan cukup lama, Kyuhyun kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap Hyunni. Kyuhyun melihat gadis itu hanya terdiam gugup dengan menatap gaun-gaun sekitarnya seolah gaun-gaun itu tampak menakutkan. Senyum miring mempesona itu kembali terbit, membuat beberapa pelayan—yang memang didominasi oleh wanita—terdengar berbisik kagum satu sama lain.

 

Kyuhyun bangkit dari sofa itu. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam masing-masing saku yang di samping celana, sebelum kemudian berjalan ke arah Hyunni.

 

“Pilihlah, apa pun yang kau inginkan,” sahut Kyuhyun tiba-tiba membuat Hyunni yang tidak menyadari kehadiran Kyuhyun di sampingnya, hanya sedikit tersentak kaget.

 

Hyunni menyengir kecil dengan senyuman kaku. Ia benar-benar tidak akan tahu harus memilih apa. Padahal jika ia membeli baju di pasar, rasanya ia menjadi pembeli yang rakus. Bagaimapun harga pakaian di pasar biasanya hanya lima sampai sepuluh ribu won saja, bukannya ratusan ribu won.

 

Melihat tidak akan ada balas dari Hyunni, Kyuhyun pun segera memanggil salah satu pelayan yang ada di dekat mereka. Ia menjentikkan jemarinya, memberi tanda untuk salah satu pelayan mendekat.

 

“Tolong bawakan gaun-gaun terbaru yang masuk hari ini. Biarkan dia memilihnya.”

 

Hyunni akhirnya hanya bisa terbengong mendengar perintah Kyuhyun. Tampak perintah itu direspon dengan anggukan patuh oleh pelayan yang segera berlalu pergi. Namun ia kemudian berpikir, mungkin dengan begitu ia akan lebih mudah memilihnya. Hyunni sejak tadi bingung memilih karena melihat ada ratusan pilihan yang ditawarkan padanya. Setidaknya beberapa pilihan gaun akan membantunya.

 

Tidak selang tiga menit, empat orang pelayang masing-masing membawa tiga sampai empat pasang baju di tangan mereka. Sehingga sekarang ada lima belas gaun yang berjejer di depan Hyunni. Mata Hyunni cukup membulat menatap semua gaun-gaun itu. Semuanya terlihat indah.

 

“Apa hanya ini?” tanya Kyuhyun pada salah satu pelayan.

 

Pelayan toko itu mengangguk membenarkan. “Ini semua gaun yang baru datang pagi ini.”

 

Kyuhyun mengangguk mengerti sebelum kemudian Kyuhyun memberikan senyuman tanda terima kasihnya. Senyuman mempesona itu cukup membuat pelayan itu salah tingkah. Memangnya siapa yang bisa tahan menatap menatap ketampanan pria itu?

 

“Cobalah semuanya dan perlihatkan padaku. Aku akan membantu memilih,” kata Kyuhyun pada Hyunni yang masih terdiam menatap gaun-gaun itu. Kemudian, tanpa menunggu jawaban Hyunni, Kyuhyun kembali menatap para pelayan itu. “Letakkan semua gaun itu di dalam ruang ganti. Biarkan dia mencobanya sendiri.”

 

Keempat pelayan itu kembali mengangguk, sebelum kembali mulai bergerak untuk mengambil gaun-gaun itu dan meletakkannya di ruang ganti.

 

“Ikuti mereka dan cobalah gaun-gaun itu,” kata Kyuhyun sekali lagi pada Hyunni yang selalu terdengar seperti perintah bagi gadis itu. Namun aneh, Hyunni tetap saja menurutinya tanpa banyak bicara.

 

Beberapa menit kemudian, Hyunni muncul dengan salah satu gaun yang ia coba. Gaun itu berwarna jingga lembut dengan motif bungan di ujung-ujung rok gaun gaun itu. Gaun itu membuat Hyunni tampak seperti gadis polos yang manis. Apalagi, gadis itu muncul dengan wajah malu-malu di hadapan Kyuhyun.

 

Kyuhyun tampak menatap dan menelaah penampilan pertama Hyunni. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Kyuhyun menilai semuanya dengan serius. Terlihat jelas di wajah pria itu bahwa ia sedang mencoba melihat kecocokkan gaun itu dengan tubuh Hyunni.

 

“Hmm…” Kyuhyun menggosok dagunya sebentar sebelum menatap wajah Hyunni dan memberikan senyuman miringnya dengan puas. “Sangat bagus. Namun cobalah yang lain, aku ingin melihat mana yang terbaik.”

 

Hampir satu jam lama mereka lewati selama di dalam toko. Kyuhyun benar-benar menyuruh Hyunni untuk mencoba semua gaun. Pria itu benar-benar terlihat jeli dalam melihat gaun-gaun yang dikenakan oleh Hyunni.

 

Kelima belas gaun itu dipakai secara bergantian oleh Hyunni. Sembilan dari gaun itu disukai oleh Kyuhyun, sisanya tidak akan disukai oleh pria itu. Sedangkan Hyunni, ia hanya berharap agar Kyuhyun segera memilihkan salah satunya, karena ia sudah mulai merasa lelah.

 

Kyuhyun berdiri dari duduknya sembari tangannya kembali mengusap kecil dagunya. Pria itu sekarang menatap kelima belas gaun—termasuk dengan gaun terakhir yang dicoba Hyunni dan masih melekat indah di tubuh gadis itu—untuk memilahnya.

 

“Aku ambil kesembilan yang tadi, bungkus secepatnya,” ucap Kyuhyun memberikan keputusan akhirnya sembari mengeluarkan dompetnya dan memberikan sebuahkartu kredit berwarna hitam mengkilap.

 

Pelayan itu mengangguk patuh. Mereka mengambil semuah gaun itu dan memisahkannya dengan gaun yang tidak akan disukai oleh Kyuhyun, meninggalkan Hyunni yang membuka lebar mulutnya mendengar keputusan Kyuhyun. Kyuhyun sendiri hanya tersenyum puas di tempatnya, menatap pelayan itu pergi membawa kesembilan gaun itu.

 

“Kyuhyun-ssi, kau membelinya semua? Untuk siapa?”

 

Kyuhyun terkekeh gemas mendengar pertanyaan Hyunni. Bahkan suara gadis itu terdengar sedikit gemetar tidak percaya. “Tentu saja untukmu. Untuk siapa lagi?”

 

“Kupikir kita hanya akan membeli satu,” nada suara Hyunni terdengar semakin rendah. Dia dibelikan sembilang gaun! Bukan satu atau dua, tapi sembilan!

 

Kyuhyun tersenyum miring. “Semuanya terlihat cocok denganmu, jadi lebih baik aku mengambil semuanya.”

 

“T—tapi, sembilan itu…”

 

“Shin Hyunni-ssi, jika kau takut aku mengeluarkan uang terlalu banyak, kau tidak akan perlu khawatir. Aku senang bisa mengeluarkan uangku untuk orang selain diriku sendiri. Aku bosan menghabiskannya sendirian. Membelikanmu gaun sekali ini, tidak akan membuatku bangkrut. Jadi, kumohon terima saja niat baikku ini. Entah kenapa, aku benar-benar ingin membelikan banyak barang untukmu.”

 

Selama ini, Kyuhyun memang tidak pernah memakai uangnya selain untuk dirinya sendiri. Itu karena setiap anggota keluarganya juga memiliki penghasilan yang tinggi sehingga membuat mereka tidak mengharapkan pemberian uang satu sama lain. Kecuali saat mereka perlu saling memberikan kado, barulah uang mereka keluar untuk yang lain.

 

Hyunni menghela napas panjang. “Kalau begitu kau bisa membaginya dengan yang lebih membutuhkan?”

 

“Apa?”

 

Senyum yang sejak tadi terukir sedikit angkuh di kedua sudut bibir Hyunni, menghilang menggantikan raut bingung. Awalnya, ia pikir Hyunni akan merasa terkesan dan bangga karena gadis itu tahu hanya Hyunnilah tempat Kyuhyun berbagi uangnya. Namun, pertanyaan Hyunni itu seketika membuatnya bungkam seribu bahasa.

 

“Mengeluarkan atau menghabiskan uang tidak selalu identik dengan berfoya-foya, Cho Kyuhyun-ssi. Kau bisa mengeluarkan uangmu untuk sesuatu yang bermanfaat. Misalnya donasi, memberi makan pengemis, atau bahkan membangun tempat layak untuk oranglebih membutuhkan. Aku tahu, uangmu mungkin tidak akan habis hingga keturunanmu mempunyai keturunan lagi, tetapi bukan berarti hanya dirimu saja yang bisa menikmatinya. Berbagi itu adalah hal yang menyenangkan.”

 

“Ini belanjaan Anda, Nona.”

 

Salah satu pelayan pun datang di antara Kyuhyun dan Hyunni. Dia memberikan sembilan tas belanjaan yang terbuat kertas tebal itu pada Hyunni. Dengan senyuman pun Hyunni menerimanya, sebelum akhirnya pelayan itu mengembalikan kartu kredit Kyuhyun lalu benar-benar berlalu pergi.

 

“Terima kasih untuk semua ini, Kyuhyun-ssi,” ucap Kiara sembari mengangkat semua tas kantung yang berada di kedua tangannya. Hyunni kemudian tersenyum lembut dengan manis. “Aku benar-benar menghargainya. Namun, lain kali jika kau ingin mengeluarkan uangmu, aku akan memberitahumu yayasan yang bagus.”

 

Perlahan, senyuman tipis terbit di kedua sudut bibir Kyuhyun. Entah sudah berapa kali pria itu tersenyum hari ini. Namun, kali ini terlihat lebih lembut.

 

“Kalimatmu benar-benar seperti pencerahan, Hyunni-ssi. Kau membuat sampai terdiam. Aku akui, kalimat itu sangat benar. Tapi biarkan aku menjadikan orang pertama yang kuajak berbagi,” ucap Kyuhyun sambil terkekeh kecil.

 

Hyunni tertawa kecil. “Aku tidak sekekurangan itu.”

 

“Aku tahu, aku hanya mau saja,” balas Kyuhyun cepat.

 

Ia kemudian mengambil semua belanjaan yang ada di tangan kiri Hyunni dan memindahkannya di tangan kirinya sendiri. Sedangkan tangan yang satunya, menggenggam tangan kiri Kiara dan mengajaknya pergi.

 

“Ayo, kau berhutang secangkir kopi padaku.”

 

“T—tapi, jangan tempat yang mahal. Aku tidak punya banyak uang sekarang.”

 

Kyuhyun terkekeh. “Iya, aku mengerti.”

 

Kyuhyun pun mengambil sisa belanjaan yang ada di tangan Hyunni. Ia menaruh sembilan tas belanjaan itu di jok belakang mobilnya, sebelum keduanya kembali memasuki mobil untuk kembali pergi mencari kedai kopi tempat persinggahan mereka berikutnya. Hanya butuh beberapa menit berkendara, mereka sudah menemukan kedai kopi yang tampak lumayan bagus.

 

“Cho Kyuhyun-ssi, kau ingin minum apa? Aku akan pergi memesannya.”

 

Kyuhyun tampak menimbang sebentar. “Karena cuaca musim seminya sangat cerah, aku ingin cappuccino manis saja.”

 

“Baiklah.”

 

Hyunni pun segera menuju ke kasir, ia memesan satu cangkir cappuccino dan satu gelas milkshake. Pelayan itu pun mengangguk sembari mulai mengerjakan pesanan Hyunni. Gadis itu sendiri hanya tersenyum mengangguk sembari berdiri di pembatas setinggi dadanya dan mengedarkan pandangannya untuk menunggu pesananya.

 

Mata Hyunni kemudian terpaku pada meja tempat dia duduk. Di sana, Kyuhyun tampak sabar menunggu sembari menopang salah satu kakinya di atas kakinya yang lain dan menyandarkan punggungnya dengan santai. Hyunni terdiam, pria itu tampak sempurna dengan segala pesonanya. Bahkan dapat ia lihat dengan jelas, beberapa pelanggan wanita di kedai itu sesekali mencuri lirik pada Kyuhyun.

 

Kyuhyun sendiri awalnya tidak sadar bahwa Hyunni tengah menatapnya. Namun, tetap saja indra perasa lain pria itu bekerja dan tahu bahwa ia sedang ditatap lama. Kyuhyun pun berbalik sebelum akhirnya tersenyum begitu menyadari bahwa Hyunni yang menatapnya. Pria itu bahkan melambaikan kecil pada Hyunni yang sudah merona malu ditempatnya karena—seperti biasa—kedapatan menatap pria itu dengan segala keterpesonaan.

 

Agassi, ini pesanannya Anda.”

 

Suara dari pelayan yang memberinya sebuah nampan kecil berisi dua minuman, membuat Hyunni teralihkan dari rasa malunya. Hyunni segera mengambilnya dan memberikan sejumlah uang pada pelayan itu sebelum mulai berjalan ke meja mereka, di mana Kyuhyun juga sedang menunggu. Pria itu sendiri hanya tersenyum kecil menatap kedatangan Hyunni.

 

“Kulihat kau terus menatapku dari sana,” ucap Kyuhyun menggoda Hyunni begitu gadis itu memberinya pesanan minumannya.

 

“Aku tidak akan punya objek lain untuk ditatap,” jawab Hyunni dengan sedikit salah tingkah, segera menyesap minumannya melalui sedotannya.

 

Kyuhyun terkekeh kecil. Sikap gadis itu benar-benar manis dan menggemaskan. Kyuhyun pun ikut menyesap minumannya dengan mata yang masih menatap Hyunni jenaka. Pria itu benar-benar menikmati waktunya bersama Hyunni hampir setengah hari ini.

 

Di lain sudut kafe itu, di bagian yang cukup tersembunyi dari perhatian pelanggan lain, seseorang dengan mantel dan kacamata hitam terlihat tersenyum kecil. Ia menyeringai menatap raut bahagia dari Kyuhyun dan Hyunni bergantian. Tangannya yang menyentuh pegangan gelas kopi espresso, mengelusnya perlahan. Rasanya ia tidak sabar lagi.

 

Ia kemudian terkekeh kecil. Ia kemudian sedikit menaikkan posisi kacamatanya dengan jari telunjuknya. Orang itu menatap Hyunni dengan lekat.

 

“Kelinci kecil, tunggulah aku, sayang.”

 

***

 

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, saat mobil mewah Kyuhyun akhirnya kembali berhenti di depan kafe tempat Hyunni bekerja. Sesuai janjinya, Kyuhyun mengembalikan Hyunni setelah meminjam gadis itu hampir empat jam lamanya. Kyuhyun juga membantu Hyunni mengeluarkan tas-tas belanjaan itu dari jok belakang mobilnya.

 

“Terima kasih untuk semuanya, Kyuhyun-ssi.”

 

Hyunni membungkuk perlahan saat Kyuhyun sudah memberikan tas-tas belanjaan itu pada Hyunni. Hyunni benar-benar merasa sungkan setelah Kyuhyun membelikan semua gaun-gaun yang sangat mahal itu. Apalagi ia tahu, ia tidak akan bisa mengembalikan gaun-gaun sekeras yang ia mau. Ia tahu, pria itu punya seribu alasan untuk menolaknya.

 

Kyuhyun kembali tertawa melihat Hyunni yang membungkuk begitu hormat. “Shin Hyunni-ssi, kau tidak perlu membungkuk sedalam itu. Kau bahkan tidak akan perlu membungkuk padaku. Sudah aku bilang bersikap santai saja padaku, aku bukan atasanmu.”

 

“Bagimanapun, kau sudah mengganti gaunku sembilan kali lipat. Sedangkan aku hanya membelikanmu secangkir minuman. Tentu aku harus berterima kasih,” ucap Hyunni lagi.

 

Kyuhyun kemudian terdiam. Ia tampak memikirkan sesuatu sebelum ia mulai berkata, “Kalau kau merasa berterima kasih, cukup dengan cara kau mengangkat teleponku jika aku sedang menelpon. Dengan begitu, aku akan menerima terima kasihmu.”

 

Hyunni terdiam sebentar. Menurutnya itu adalah syarat yang cukup aneh. Namun, Hyunni akhirnya mengedikkan bahunya tanda terserah. Ia kemudian mencoba meraih ponsel yang ada di tas tangan yang ia sampirkan di bahunya, tetapi ia sedikit kesusahaan karena banyaknya belanjaan yang ia pegang.

 

“Tidak usah, aku akan menelponmu nanti.”

 

“Bagaimana kau tahu nomorku?” tanya Hyunni heran karena Kyuhyun tampak tidak berniat sama sekali menanyakan nomor ponselnya. Padahal pria itu berkata agar mengangkat terleponnya.

 

“Tidak ada yang tidak bisa kudapatkan, Hyunni-ssi. Mencari tahu nomor seseorang adalah yang sangat mudah dilakukan,” kekeh Kyuhyun, tersirat nada angkuh dalamnya.

 

Pria itu pun berjalan kembali ke mobilnya. Tangan meraih tuas pintu mobilnya dan membukanya. Kyuhyun kemudian menutup pintu mobilnya kembali, sebelum perlahan, kaca jendela mobil itu terbuka. Menampakkan Kyuhyun yang sudah memakai kacamata hitamnya dan kembali memanggil nama Hyunni.

 

“Hari ini, benar-benar menyenangkan. Aku benar-benar menantikan pertemuan berikutnya, Hyunni-ssi,” Senyuman miring Kyuhyun yang tampak mempesona kembali terlihat seiring suara mobil yang mulai menyala. “Sampai jumpa lagi.”

 

Hyunni sekali lagi tertegun sembari matanya menatap mobil yang sudah meluncur menjauh di jalan besar itu. Dia tidak akan percaya dengan apa yang ia dengar. Ucapan Kyuhyun barusan seolah mengatakan bahwa pria itu masih ingin terus bertemu dengan dirinya. Itu adalah kalimat yang cukup membuatnya tertegun dari pria pertama yang jalan dengannya. Mengingat, ia tidak akan pernah berjalan berdua bersama pria seperti hari ini sebelumnya.

 

“‘Aku benar-benar menantikan pertemuan berikutnya, Hyunni-ssi. Sampai jumpa lagi.’ dan brummm…”

 

Suara yang yang mengulang kalimat Kyuhyun tadi, terdengar dari belakang Hyunni. Hanya saja nada suara itu dibuat berlebihan untuk menggodanya. Hyunni bahkan bisa mendengar tawa, sebelum ia berbalik dan menemukan Sana yang sekarang tengah menahan kikikkannya.

 

“Dia terlihat sangat keren. Aku seperti melihat romeo metropolitan,” ucap Sana menabahkan sembari mengangguk-angguk dengan wajah yang ia buat seperti sedang mengomentari hal yang cukup lumayan.

 

“Yak, Min Sana. Apa kau sedang mengejekku?”

 

“Tidak,” balas Sana cepat dengan wajah seriusnya, sebelum persekian detik wajahnya tersenyum jahil. “Aku sedang mengulang dialog Romeo pada Julietnya.”

 

“YAK!” Seru Hyunni kesal. Hyunni kemudian melihat sebuah kertas, selotip, dan gunting di tangan Sana. “Kau sedang apa dengan semua barang-barang itu?”

 

“Aku tadi mau memasang brosur di pintu masuk kafe. Ini brosur pencarian koki baru. Donghae oppa juga menyetujuinya tadi siang, dia sadar dia memang butuh bantuan di kerajaan dapurnya. Jadi aku segera membuatnya dan hendak memasangnya sebelum aku melihat adegan drama romantis hingga membuatku tertarik menontonnya diam-diam.”

 

Sana kembali terkikik melihat Hyunni mememutar bola matanya malas dengan godaan Sana. Kemudian, Sana juga sadar akan barang-berang belanjaan di kedua tangan Hyunni. Sana cukup meruntuki kebodohannya karena baru menyadari barang-barang itu.

 

“Woah, eonni! Apa Romeo yang membelikan itu semua?” tanya Sana cepat untuk mengganti topic mereka.

 

“Namanya bukan Romeo!”

 

“Baiklah, baiklah. Apa Cho Daepyo yang membelikan itu semuanya?”

 

Hyunni kembali memutar bola matanya. Ia kemudian menurunkan belanjaan itu dari kedua tangannya. Hyunni lalu mengambil barang-barang yang ada di tangan Hyunni.

 

“Biar aku saja yang memasangnya dan aku minta tolong kau yang bawa masuk tas-tas itu ke dalam.”

 

“Siap, eonni!”

 

***

 

Malam mulai datang. Bulan menggantikan matahari. Namun, cahayanya yang redup membuat malam ini semakin mencekam dan menakutkan. Namun, Hyunni sadar, ada yang lebih menakutkan dari malam yang gelap dan dingin.

 

Pria itu mendekat. Berjalan dengan perlahan, memberikan sejuta perasaan takut dan cemas di setiap langkahnya. Membuat jantung Hyunni ingin meledak karena pompaan yang begitu cepat.

 

Hyunni tidak mengenali pria itu. Wajahnya bahkan tidak nampak karena kelamnya kegelapan ikut melindunginya. Namun, dibalik semua itu, Hyunni bisa melihat seringai pria itu. Seringainya seolah menyimpan banyak rahasia. Rahasia yang mungkin tidak ingin ia ketahui saking takutnya.

 

Langkah gemetar Hyunni semakin mundur menjauhi sosok menakutkan itu. Langkah pria itu semakin maju mendekati gadis rapuh itu. Ia terus mendekat hingga Hyunni menyadari, ada dinding tidak kasat mata muncul secara tiba-tiba dan menghentikan langkah mundurnya.

 

Jantung Hyunni semakin kuat  debarannya. Pria itu berada di depannya, tetapi kegelapan masih menyelimuti wajah pria itu. Tangan pria itu kemudian terulur, membuat jeritan ketakutan Hyunni mulai terdengar. Hyunni bahkan merosotkan dirinya, berjongkok sembari memeluk kedua sisi kepalanya yang menunduk dengan segala ketakutannya. Hingga kemudian, tangan dingin itu berhasil menyentuh pundaknya.

 

Hyunni seketika langsung membuka matanya secara tiba-tiba. Rasa kagetnya yang cukup kuat di dalam mimpi itu berhasil membangunkannya. Bahkan beberapa bulir keringat tampak menghiasi dahi Hyunni. Napasnya bahkan terengah tanpa sebab, seolah ia benar-benar baru saja berlari.

 

Helaan napas lega karena terbangun dari tidurnya, membuat napas cepat perlahan normal. Hyunni menengok ke arah jam dinding dan melihat jam itu menunjukkan pukul tiga subuh. Tatapannya kemudian beralih pada kertas yang ia letakkan di atas meja kecil dekat. Ia yakin kertas itu yang membuatnya terbawa dalam mimpi buruk.

 

Kertas itu ia temukan jam sembilan malam, sepulang dari kafe. Kertas kecil—yang memang sudah sering muncul itu—tertempel di pintu rumahnya. Hyunni selalu ingin mengabaikannya, tetepi pada akhirnya ia malah selalu membacanya. Mungkin sudah menjadi kebiasaannya.

 

Hyunni yang sudah merasa kembali mengantuk pun membuang dengan asal kertas itu ke lantai. Dia memutuskan kembali tidur. Hyunni sudah menganggap isi kertas itu hanya kelakuan orang kurang kerjaan. Ia sudah sedikit terbiasa sekarang dengan kehadiran kertas-kertas itu. Walaupun begitu, ia akan tetap mencoba waspada. Bagaimanapun isi kertas kali ini, membuatnya cukup merinding.

 

Hyunni pun kembali membaringkan tubuh. Ia sudah kembali masuk keaalam tidurnya. Membiarkan kertas dengan tulisan masih tampak di atasnya.

 

Nikmatilah kebahagiaan. Terus nikmati. Sebelum kau tidak bisa menikmatinya lagi saat aku merenggutnya.”

 

***

 

“Eonni!”

 

Hyunni baru saja memasuki kafe saat Sana tampak memanggilnya dengan tidak sabaran dari meja kasir. Dengan langkah santai, Hyunni mendekat. Hyunni melihat tas-tas belanjaan kemarin tersusun penuh di atas meja kasir, bahkan isinya tampak berserakan.

 

Hyunni baru ingat bahwa kemarin ia lupa untuk membawanya pulang. Hyunni membiarkan tas-tas belanjaan itu begitu saja di kafe. Dia sendiri sebenarnya tidak tahu bagaimana caranya untuk membawa pulang semua tas-tas besar itu. Ia sendiri hanya memakai sepeda selama ini. Hyunni cukup menyalahkan pelayan toko yang memberikan satu tas hanya untuk satu gaun. Benar-benar pemborosan.

 

“Eonni, kemarin  kau tidak membawa pulang semua ini?” Mata Sana tampak terus membulat menatap gaun-gaun indah itu. Bahkan rahang gadis itu sejak tadi seolah ingin terjatuh.

 

Hyunni mengangguk sembari duduk di depan meja kasir. “Aku lupa. Lagipula aku tidak tahu mau bawa bagaimana semua itu.”

 

“Eonni, apa kau tahu berapa harganya gaun-gaun ini.”

 

Hyunni mengangguk malas. Dia sendiri juga mempunyai respon yang sama persis dengan Sana saat pertama kali melihat harga gaun-gaun itu. Namun sayangnya, ia tidak akan bisa menahan pria boros itu.

 

“Aku tahu.”

 

“Eonni, aku baru menjumlah semuanya dan ternyata semunya hampir dua puluh juta won. Dua puluh juta won!”

 

“Apa?!” Hyunni seketika menjerit tidak akan percaya. Ia tahu harga gaun-gaun itu. Namun, ia tidak akan tahu bahwa harga akan mencapai sebanyak itu.

 

Seketika kepala Hyunni merasa pening. Entah kenapa ia merasa ia sedang ditimpa beban sekarang. Harga itu bukan main. Bahkan gajinya selama setahun tidak akan mencapai nominal itu. Ia mengira hanya satu sampai tiga jutaan. Namun kenyataannya, dua puluh juta. Pria itu benar-benar sudah gila!

 

“Eonni, ini cantik! Apa boleh buatku?” tanya Sana sambil merentangkan sebuah gaun berwarna merah muda di depan tubuhnya.

 

“Tidak, jangan sentuh gaun itu!”

 

Hyunni dengan tiba-tiba bangkit. Ia segera meraih gaun-gaun itu dan memasukkan kembali dengan tergesa-gesa ke dalam tas-tas itu. Seolah gaun-gaun itu adalah benda yang berbahaya untuk disentuh.

 

“Kita harus mengembalikannya. Kita tidak boleh mengambilnya. Kita bisa dikira perampokkan.”

 

Sana tertawa geli. “Dia sudah membelikannya untukmu. Dia mungkin akan marah jika kau mengembalikannya, eonni.”

 

“Aku tidak perduli. Pokoknya ini harus dikembalikan pada pria itu.”

 

Sana akhirnya mengalah. Ia menghela napas dengan pasrah melihat tas-tas itu disimpan oleh Hyunni. Padahal ia benar-benar menyukai gaun-gaun itu. Dan ia berharap, Hyunni akan memakainya. Karena menurutnya, gaun-gaun itu akan sangat cocok dengan Hyunni.

 

“Kenapa kau masih di sini? Bukannya ini jadwal kuliah pagimu?” tanya Hyunni begitu kembali ke meja kasir itu.

 

“Sebentar lagi. Oh, iya! Eonnie!”

 

“Kenapa?”

 

“Nanti malam, temani aku belanja. Tasku sudah usang. Bahkan rasanya sudah mau putus. Jadi, aku ingin membeli tas baru di sana.”

 

“Baiklah. Kita akan pergi setelah kafe tutup.”

 

***

 

Kyuhyun menatap layar ponselnya dengan lekat. Ia memutar ponsel itu di tangannya. Tertera sebuah nama dan sebuah nomor ponsel di sana. Kyuhyun tampak mempertimbangkan dirinya untuk menelpon kontak itu atau tidak. Jemari tangan kiri Kyuhyun sendiri hanya mengusap bibir bawahnya perlahan. Kyuhyun sendiri tidak tahu harus mengatakan apa jika sambungan itu nanti sudah diterima.

 

Kyuhyun kemudian beralih menatap jamnya. Ia melihat bahwa sekarang sudah hampir jam sembilan malam. Berarti kafe tempat Hyunni bekerja juga sudah hampir tutup.

 

Kyuhyun hendak bangkit dari kursi besarnya sebelum Changmin masuk sembari menunduk hormat. Tampak seorang gadis berjalan dengan tidak akan sabaran di belakang Changmin, ikut masuk ke dalam ruangan Kyuhyun. Gadis cantik berambut pendek itu tampak menatap Kyuhyun manja, membuat Kyuhyun memutar bola matanya. Kyuhyun tahu, gadis itu menginginkan sesuatu.

 

“Ada apa, Jihyun-ah?”

 

***

 

“Kalian akan pergi dengan menggunakan apa?” tanya Donghae.

 

Donghae baru saja mengunci pintu masuk utama itu bersama Hyunni dan Sana. Kedua gadis itu sendiri sudah rapih dengan pakaian hangat mereka malam ini. Donghae tahu bahwa keduanya akan pergi berbelanja malam ini karena Sana telah memberitahukannya dan meminta ijin Donghae.

 

Walau Donghae hanyalah sepupu Sana, tetapi Sana sebenarnya tinggal di rumah yang sama dengan Donghae. Itulah kenapa Sana selalu meminta ijin Donghae terlebih dahulu jika ia akan pergi. Sana sendiri sebenarnya tinggal di Jepang, namun ia memilih kuliah di negara kelahirannya di Korea Selatan. Ia pun tinggal di rumah Donghae yang beranggotan dia, Donghae, serta ibu Donghae seorang.

 

“Kami bisa naik bus,” jawab Hyunni yang dibenarkan oleh Sana.

 

“Kalian bisa memakai motorku kafe jika kau ingin.”

 

Hyunni bergidik. “Tidak, terima kasih. Kau tahu Sana trauma naik motor semenjak kami pernah jatuh bersama saat dia yang membawa motornya. Lagipula motormu itu sangat maskulis dan besar. Mana mungkin kami bisa membawanya.”

 

“Benar juga.”

 

“Sudahlah, oppa. Kami bisa naik bus. Lagipula rumah kita searah.”

 

“Baiklah, berhati-hatilah. Jangan pulang terlalu malam.”

 

“Siap, oppa!” jawab Hyunni dan Sana serempak.

 

Donghae terkikik geli melihat dua gadis yang ada di hadapannya. Dia pun membiarkan Sana dan Hyunni berpamitan pergi. Donghae sendiri mulai memakai helm dan menaiki motor besarnya itu. Hingga kemudian menghilang di pembelokkan jalan.

 

Hyunni dan Sana segera berlari ke arah halte bus terdekat yang akan membawa mereka ke salah satu pusat pembelanjaan di Seoul. Mereka memasuki bus yang kebetulan sudah berhenti di halte itu. Keduanya kemudian turun dari bus dan kembali berjalan sebentar selama beberapa menit. Hingga mereka sampai di sebuah Departemen Store yang cukup besar.

 

Sana sendiri mengatakan bahwa ia menangkan sebuah voucher belanja setelah bertaruh dengan teman-teman kampusnya. Voucher itu katanya cukup untuk membeli sebuah tas. Mengingat tas Sana sudah lama dan sedikit usang, Sana jadi berniat membeli satu tas baru untuk ia pakai kuliah.

 

“Bukankah ini menakjubkan. Kita jarang ke sini sebelumnya. Ternyata di sini lebih indah dari di iklannya.”

 

Sana pun memandang takjub begitu ia memasuki salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul. Sana sama dengan Hyunni. Mereka lebih sering membeli barang-barang di pasar dibandingan di pusat perbelanjaan karena harga yang lebih terjangkau. Bisa dibilang, Departemen Store adalah pasarnya para orang-orang kaya yang memiliki banyak uang untuk dihabiskan. Persis seperti pria boros itu, Cho Kyuhyun, pikir Hyunni.

 

“Eonni, ayo! Aku melihat ada tas bagus di sebelah sana.” Tunjuk Sana pada sebuah bilik besar yang berada di dekat mereka.

 

“Pilihlah, apa yang ingin kau beli. Kita harus segera pulang sebelum Donghae menelpon.”

 

“Iya, eonni. Tunggu sebentar.”

 

Hyunni hanya terus mengekor di belakang Sana yang tampak sibuk melihat tas-tas indah yang terpajang di sana. Gadis itu sendiri tampaknya bingung dengan pilihan pastinya. Apalagi Sana sedikit gemas pada Hyunni. Hyunni hanya terus mengangguk mengiyakan setiap Sana meminta pendapat apakah tas itu cantik atau tidak.

 

Hyunni sendiri hanya menatap sekitarnya. Sebenarnya ia juga cukup terpanah dengan semua barang-barang mewah dan indah yang ada di Departemen Store itu. Namun sayangnya, ia tidak akan punya banyak uang untuk membeli barang-barang indah itu. Jikalau ada, Hyunni juga akan berpikir berulang kali untuk membeli barang-barang mahal itu.

 

“Eonni, bagaimana dengan ini? Bukankah warna indah?” tanya Sana lagi sambil memegang sebuah tas berwarna hitam dengan beberapa warna perak pada beberapa sudut tas itu.

 

Hyunni menatap sebentar. Tas itu memang indah. “Iya, itu cantik. Menurutku itu lebih baik dari yang sebelumnya.”

 

“Baiklah, aku ambil ini. Eonni, tunggu di sini. Aku akan membayarnya dulu.”

 

“Iya, cepatlah. Sudah hampir jam sepuluh malam.”

 

Sana segera berlalu membawa tas itu. Dengan tenang dan tanpa banyak bergerak, Hyunni menunggu Sana membali tas itu. Hingga kemudian Sana sudah kembali muncul dengan sebuah tas belanjaan di tangannya.

 

“Sudah?”

 

Sana mengangguk antusias. Senyuman lebar tampak terukir di kedua sudut bibirnya. Sepertinya, gadis itu benar-benar senang telah membeli tas baru. Hyunni sampai dibuat terkekeh geli melihat kebahagian Sana yang berusaha gadis itu tahan agar tidak akan terlalu berlebihan.

 

“Sepertinya kau senang sekali,” goda Hyunni.

 

“Tentu, aku akhirnya mempunyai sebuah tas yang cukup mahal dengan penghasilanku sendiri. Walaupun hanya hadiah taruhan, bukankah itu mengagumkan?”

 

Hyunni tertawa kecil. Sana benar-benar menggemaskan. Sana selalu terlihat seperti gadis kecil yang menggemaskan. Ia dan Donghae bahkan sering dibuat gemas dengan sikap manis Sana.

 

Mereka tertawa satu sama lain. Mereka terus berjalan tanpa memperhatikan sekitar mereka. Hingga kemudian, Hyunni terlonjak kaget saat ada yang menabrak tubuh bawahnnya.

 

Seorang gadis kecil yang kemungkinan berumur enam tahun, tampak terduduk di tempat ia jatuh. Gadis kecil yang berlari-lari itu tanpa sengaja menabrak Hyunni. Hyunni sendiri yang sedang berbicara dengan Sana tidak bisa menghindari gadis kecil itu, sehingga sekarang gadis kecil itu tampak meringis di tempatnya.

 

“Eonni, kau menabrak anak kecil!”

 

Hyunni yang sedikit kaget segera sadar. Hyunni hendak berjongkok untuk menenangkan gadis kecil itu. Namun, seseorang mendahuluinya berjongkok, membuat Hyunni terdiam. Pria itu berjongkok sembari membawa tubuh gadis kecil itu berdiri. Pria itu bahkan mengusap lembut kedua lutut gadis kecil itu agar gadis itu tidak menangis.

 

“Kau tidak apa?” tanya pria itu lembut.

 

Gadis kecil itu mengangguk dengan manis. Ia mengusap matanya yang tadi hendak mengeluarkan air mata dengan jemari mungilnya. Sebelum gadis kecil itu mulai memanggil wanita yang mendekat padanya.

 

“Eomma!”

 

“Jihyo-ya, kau tidak akan apa-apa? Eomma sudah bilang jangan suka berlarian.”

 

“Anda keluarganya?”  tanya pria itu dengan senyuman ramah yang tidak pernah pudar sejak awal Hyunni melihatnya.

 

“Iya, maaf sudah membuat keributan kecil.”

 

“Ah, itu bukan apa-apa,” balasnya kemudian beralih pada gadis kecil itu. Ia mengusap lembut pucuk kepalanya.

 

“Terima kasih,” ucap gadis kecil itu.

 

Pria itu hanya mengangguk sembari membungkuk kecil, seiring wanita dan anaknya itu berjalan pergi. Meninggalkan mereka tiga bersama. Sebelum pria itu berbalik menatap Hyunni dan Sana dengan senyuman ramah yang sama.

 

“Maaf, atas ketidaknyamanannya.”

 

Jeomjang-nim, apa ada masalah?” Tiba-tiba dua orang pelayan Departemen Store itu mendekat dan menanyakan keadaan setelah mereka melihat ada keributan.

 

“Tidak apa-apa, semuanya bisa diatasi. Kalian kembali ke tempat kalian.”

 

“Baik, Jeomjang-nim.”

 

Kedua pelayan wanita itu kembali berlalu menuju ke tempat mereka. Pria itu pun kembali menatap Hyunni dan Sana bergantian, sebelum akhirnya tatapannya berakhir di Hyunni. Ia membungkuk kecil lagi sambil tersenyum lembut serta ramah pada Hyunni.

 

“Maaf, sekali lagi. Silahkan nikmati pusat perbelanjaan kami,” ucapnya lagi sebelum pergi setelah ia tersenyum kembali pada Hyunni.

 

Keduanya hanya terdiam. Senyum pria itu manis. Tanpa sadar, Hyunni membandingkan senyuman pria itu dengan senyuman miring Kyuhyun. Senyuman pria itu manis dan ramah yang membuat wanita meleleh, sedangkan senyuman Kyuhyun adalah senyuman mempesona yang pembunuh wanita. Senyuman keduanya benar-benar hebat.

 

“Eonni, dia tampan! Walau memang tidak setampan Cho Kyuhyun, tapi bukankah dia cukup tampan?” bisik Sana terkekeh geli.

 

Hyunni hanya ikut terkekeh. Hyunni sendiri tidak terlalu tertarik dengan pria itu. Memang pria tadi tampan, tapi sayangnya ia masih sempat memikirkan ketampanan Kyuhyun tadinya. Membuatnya sadar hanya Kyuhyun yang berhasil memasuki pikirannya.

 

Kemudian Hyunni merasa dirinya ditatap lekat. Ia merasa seseorang tengah memperhatikannya dengan pandangan tajam.

 

“Eonni, sepertinya pria tadi menyukaimu. Dia tidak akan pernah mengalihkan tatapannya darimu.”

 

Hyunni tidak akan terlalu mengubris pertanyaan itu. Hyunni masih merasa seseorang menatapnya. Hingga akkhirnya, ia memutuskan berbalik dan mencari sumber tatapan itu. Dan yang ia temukan membuatnya menegang.

 

Di sana, seorang pria menatapnya dengan tatapan terbaca. Seolah pria itu kaget juga marah. Pria itu Cho Kyuhyun. Dia berdiri di dalam sebuah bilik tempat pakaian-pakaian wanita berada. Kyuhyun terus menatap Hyunni lekat-lekat, membuat Hyunni percaya ia sedang tidak bermimpi.

 

“Bukahkan itu Cho Kyuhyun? Sedang apa dia di sana?” tanya Sana yang mengikuti arah pandang Hyunni saat dirinya diabaikan tadi.

 

Hyunni hanya terus terdiam menatap Kyuhyun. Hyunni sadar bahwa itu benarlah Kyuhyun. Tiba-tiba kemunculan seseorang membuat Hyunni kaget sekaligus bingung. Saat seorang gadis tiba-tiba saja keluar dari toko itu sambil membawa-bawa beberapa tas belanjaan. Gadis itu tampak langsung menggandeng Kyuhyun dengan manja. Hingga pekikkan tertahan Sana kembali menyadarkannya.

 

“Apa-apaan itu! Dia bersama seorang gadis!”

 

To be continue…

 

P.s : Jeomjang adalah sebutan untuk manajer sebuah Department Store.

 

Thanks for reading. Kurang lebihnya mohon maafkan. Typo itu kadang muncul tiba-tiba TT. Keep reading yah^^ Love love!

196 thoughts on “Uncontrollably Crush Part 2

  1. Kyu sama hyunni manis juga ya..😘
    Itu siapa yang nyebut hyunni kelinci kecil? Apa orang itu ada hubungannya sama orang yang neror hyunni? Penasaran..
    Trus jihyun siapa? Semoga cuma sepupunya kyu..
    Keep writing😊

    Suka

  2. Mklum lah si abang kan holang kaya. Jd baju sgtu g ad ap2 ny 😎 .
    Si kyu kykny trtarik deh am hyunni. Aplg liat cra dy mperhatikan hyunni.
    Itu cp sih pria misterius yg nulis surat k hyunni?…jd pnsrn q.
    N itu jihyun itu cp?..kok kykny dekat bgt am kyu?.. jgn2 😑😑😑

    Suka

  3. Itu siapa yg di kafe saat hyunni dam kyuhyun minum kopi? Dan Seperti nya ada hubungan nya deh antara tuh org sma surat yg selalu ada di rmh hyunni
    Manis bgt moment saat hyunni sma kyuhyun dan seperti nya kyuhyun cemburu tuh sma si jeomjang kkk

    Disukai oleh 1 orang

  4. penasaran sama kelanjutannya.. Siapakah pria itu? Dan siapakah wanita itu? 😀 keduanya buat penasaran ditambah siapakah yg meneror hyunni? Apakah kyuhyun ternyata udah punya kekasih? Apakah pria yg di mall itu yg meneror hyunni? Hmm.. Semangat ngetiknya thor..

    Disukai oleh 1 orang

  5. Wowww
    Aku nebak kalau kyuhyun itu sifat aslinya gak sebaik itu
    Tasanya aneh aja kalau kyuhyunnya baik terus konflik apa yang bakalan terjadi di keduanyA
    Terus siapa yang meneror hyunni???
    Next baca hehe

    Disukai oleh 1 orang

  6. Halooo eonn, aku ninggalin jejak lagi yaaa di chap 2
    Selalu suka sama alur ceritanya. Ga monoton
    Untuk kesalahan kata, buat aku sih bukan masalah karena di samping itu cerita nya semakin menarik dan bikin baper bgtttt hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  7. makinnn menarikkkk, tapi kok pas aku baca kata2nya kayak kurang pas gitu hehe tapi ceritanya keren!! 😄 itu yang neror hyuni sopoooo tohhhh?? aduh sikyuhyun udah mulai tertarik nih kayaknyaaa 😄😄😄 fighting thor!!

    Suka

  8. makinnn menarikkkk, tapi kok pas aku baca kata2nya kayak kurang pas gitu hehe tapi ceritanya keren!! 😄 itu yang teror hyuni sopoooo tohhhh?? aduh sikyuhyun udah mulai tertarik nih kayaknyaaa 😄😄😄 fighting thor!!

    Suka

  9. si hyuni diterror sama siapaaa yaa? kepooo.. kenapa dibuntutin hyuni muluuu? donghae protective bangetttt.. janganjangan wkwkwk
    kyuhyun kayaknya udah mulai tertarik nihhh sama hyuni, makinnn seruuuuuu 😄😄😄 very interesting wkwkwk fighting thor!!

    Suka

  10. Makin penasaran siapa yg selalu neror hyunni apa motif dia sehingga dia neror hyunni terus. Dan kyuhyun aku rasa dia misterius penuh dengan rahasia menurutku sih. Kayanya dia juga udh mulai tertarik sama hyunni mm makin seru

    Disukai oleh 1 orang

  11. Pasti itu yeoja yg sm kyu, ngejar” kyu
    Tp kyu ga suka wkwk
    Siapa manager toko itu ><
    Dan siapa yg buntutin hyunni terus menerus
    Apa kyu ngeliat adegan itu? dan jgn bilang pikiran mereka berdua lagi kaluttt wkwk

    Disukai oleh 1 orang

  12. Jadi penasaran kira2 siapa orang yang suka menerror hyunni selama ini? dan kenapa orang itu menyebut hyunni dengan “kelinci kecil”
    dan siapa kira2 jihyun itu kekasih kyuhyun atau saudaranya???

    Disukai oleh 1 orang

  13. Ko gue ngerasa bahasanya agak susah di baca ya….gue kagak tau itu salah ketik atau emang tata bahasanya salah…tapi mian thor itu agak sesikit mengganggu.
    tapi tetep cetitanya oke punya 😄

    Disukai oleh 1 orang

  14. Maaf sebelumnya,, banyak banget typonya thor..
    Ada nama baru yang tak diundang, apa ya tadi.. Kirana atau siapalah itu?? Agak mengganggu fokus.
    Dan juga kalimat “…tidak akan apa-apa…?” menurutku itu pemborosan kalimat banget dan agak aneh kalau “tidak apa-apa” ditambahi kata “akan”,
    Tapi aku suka ceritanya kok^^

    Dan ada mystery yg bikin penasaran, siapakah yg selalu meneror hyunni??

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s