Human Addiction Part 9


image

Title : Human Addiction –  chapter 9

Cast : Cho Kyuhyun – Kim Nana (OC) – Lee Donghae

Rating : NC-17

Author : Leyraah/ Autumnlouvre

Nana yakin dia sudah berlari cukup jauh dari hotel. Menembus malam dan hujan, dengan hati yang sakit dan ketakutan parah tidak tertolong. Nana hanya perlu bersembunyi meski telapak kakinya yang telanjang harus berlari lebih jauh lagi. Aether tidak akan mencarinya sampai pria itu menyadari kamar hotel yang kosong. Kecurigaan Nana pada setiap sikap Aether yang palsu menggores hatinya cukup parah. Aether bukan lagi Aether yang pernah datang di depan kedua mata Nana dua tahun yang lalu. Pria yang datang tanpa aba-aba atau peringatan bahwa dia yang akan mengambil sebagian dari hatinya. Sekarang Nana seperti separuh sayap yang telah patah, dia kesakitan dan jangan mencoba membandingkannya dengan luka yang lain, karena Aether melakukannya dengan sangat baik. Nana hanya terlalu naif bahwa kenyataan Aether mendekatinya seajuh ini hanya untuk sebuah dendam.

Gadis itu merapatkan jaket di tubuhnya, sunyi yang dingin mengingatkan Nana pada lubang di dadanya yang bertambah besar. Bahkan angin hujan membiarkan jejak aroma Aether yang tertinggal pada jaket menembus hingga ke dalam aliran darahnya. Nana sudah tidak ingin berpikir bahwa lari dari Aether adalah keputusan benar atau salah, karena pikiran seperti itu akan menyebar tanpa arah hingga dia akan berakhir tanpa pilihan. Setelah Aether meninggalkan kamar hotel, Nana hanya dipenuhi adrenalin dan kemarahan. Dia mengambil satu dari tiga ponsel Aether yang ada di koper dan menyambar jaket  untuk dipakainya berlari sejauh mungkin.

Nana mengabaikan tatapan orang yang berhenti padanya, gadis itu duduk dengan kedua lutut ada dalam pelukan di bawah kanopi toko roti yang tutup. Hanya di sini tempat Nana bisa berteduh, semua orang yang berjalan melewati toko menatapnya dengan mengerikan. Mungkin Nana terlihat seperti pengemis. Kaki pucat tanpa alas. Jaket yang hanya mampu menutup sebagian bathrobe hotel di tubuhnya dan rambut basah yang berantakan. Nana berharap tubunya tidak menggigil tapi angin malam dan hujan yang dingin sudah perlahan-lahan nyaris menghancurkannya.

Suara ‘Bip’ dari ponsel yang masih di tangannya kembali berbunyi. Nana sudah tidak bisa melakukan apa pun kecuali hanya melihat ponsel milik Aether mati kehabisan daya dan sambungan telpon Kyuhyun putus. Nana tahu dia sudah menjadi munafik paling besar di dunia karena kembali berurusan dengan Cho Kyuhyun. Rasanya mustahil Nana sanggup menekan nomor ponsel Kyuhyun saat sebagian dari kepercayannya hancur di tangan pria itu. Tapi Nana tidak bisa mencegah tindakannya setelah melihat ke dalam isi koper Aether yang pria itu tinggalkan di hotel. Nana menemukan berkas dokumen proyek royal kasino Dream Sky, banyak hal yang tidak Nana pahami isinya meski dengan jelas gadis itu bisa membaca tentang pembatalan kerja sama dan ganti rugi yang harus Kingdom tebus. Nana tidak mengerti apa yang Kyuhyun rencanakan-sebelum mendengar langsung dari pria itu- tapi untuk saat ini Nana hanya bisa bersyukur karena makam ibunya tidak akan menjadi korban keserakahan.

Gadis itu memasukkan ponsel Aether ke dalam saku jaket dengan rasa waspada. Orang-orang yang berjalan di depan toko sudah mulai berkurang dan malam menjadi begitu sepi. Nana tidak memiliki keberanian untuk menatap sekitar dan beresiko menemukan Aether di depan matanya. Pikiran seperti itu membuatnya gelisah. Ponsel dalam kondisi mati dan Nana tidak bisa menghitung berapa lama sejak dia menelpon Kyuhyun hingga hujan deras beberapa saat lalu telah pergi. Nana tidak akan bertindak bodoh lagi dengan meninggalkan tempat ini. Nasib buruk atau sebaliknya yang akan datang menghampirinya, Nana tidak tahu. Dia buta arah dan tanpa uang. Seolah semua yang terjadi belum cukup buruk, Nana harus mendapati kenyataan bahwa dia kelaparan. Hal terakhir yang Nana ingat adalah bubur rumah sakit kemarin malam.

“Saya mencatat lokasi terakhir di sekitar distrik Pyeonghchang, nona Kim ada di sekitar pertokoan ini.”

Nana mengangkat kepala begitu mendengar suara pria juga langkah kaki dari kejauhan. Suara familiar yang menghentak Nana hingga mampu berdiri di atas kedua kakinya yang gemetar.

Di sebrang jalan yang sepi, di antara titik hujan ringan dan angin, di sana Nana menemukan tatapan paling tajam dari mata legam yang berhenti padanya. Dua detik yang mengambil sebagian dari napasnya, tentang ilusi dan kewarasan bahwa Nana melihat Cho Kyuhyun berdiri dengan kaku dan mata gelap menyalang padanya. Seperti memandang pencabut nyawa, Nana merasa menggigil di bawah tatapan Kyuhyun. Anehnya Nana tidak melangkah mundur atau mencari jalan balik untuk menghindar meski tahu bahwa dia akan habis di tangan Cho Kyuhyun. Pria itu melangkah, nyaris berlari menyebrangi jalan dan jarak pandang mereka berubah tipis. Nana sudah menutup mata saat Cho Kyuhyun menarik tangannya yang dingin dan bersiap untuk sebuah kata-kata kasar atau tamparan. Tapi Kim Nana justru berakhir linglung dalam dekapan kencang Cho Kyuhyun.

Pria itu memeluknya, nafasnya keras dan berantakan.

“Jangan lakukan ini padaku lagi, Nana. Atau aku tidak akan pernah mengampunimu!” Kyuhyun tidak berteriak tapi Nana mendengar suaranya sedikit parau dan berat. Nana tidak tahu apakah itu jantungnya yang berdebar keras atau milik Kyuhyun karena pria itu sedang menahan amukan yang bisa lepas kendali dan berakhir melukainya. Tapi tangan Kyuhyun yang berada di punggungnya bergetar atau Nana menduga bahwa itu tubuhnya yang menggigil ketakutan dalam dekapan pria itu.

Nana memilih diam.

Pelukan yang asing dan nyaris meremukkan tubuh Kim Nana  membuatnya terpaku, kedua tangan menggantung di sisi tubuhnya tanpa ada pemahaman tentang perbuatan Cho Kyuhyun.  Pandangannya beralih pada Alex yang berdiri di belakang Kyuhyun, bersikap siaga dengan tatapan tajam memperhatikan sekitar atau Alex hanya berpura-pura tidak melihat tindakkan impulsif bosnya. Kyuhyun belum melepas pelukan sementara Nana sudah merasa cukup canggung untuk mengatakan sesuatu. Nana ingin Kyuhyun mengakhiri semua ini dan memilih pria itu meneriakinya dengan kemarahan karena pelukannya terlalu asing meski Nana sudah terlibat hubungan seksual dengan pria itu.

“Kyuhyun~ssi-“ Nana belum selesai dengan ucapannya karena Kyuhyun tiba-tiba melepasnya, tangan pria itu beralih meremas bahu Nana dan pandangannya bergerak dari bawah kaki telanjang Nana sampai mata legam itu bersibobrok dengannya lagi.

Nana bersumpah bahwa dia melihat Kyuhyun meringis sebelum pria itu berkata. “Kau berjalan tanpa alas kaki?”

Gadis itu mengangguk dan menolak mengatakan bahwa yang dilakukan kaki telanjangnya sejak tadi adalah berlari, bukan berjalan. Nana tidak memiliki kesempatan untuk berpikir tentang alas kaki sebelum dia kabur meninggalkan hotel.

Kyuhyun tiba-tiba menyingkap kerah jaket Nana sebelum gadis itu bisa menghindar akan sentuhannya yang lain, tangan pria itu menyentuh tepian luka sayatan pisau pada leher Nana yang terekspos. Tapi Kyuhyun tidak mengatakan apa pun selain kedutan pada otot rahangnya yang mengeras dan Nana menggunakan kesempatan itu untuk menarik resleting jaketnya ke atas dengan penuh hingga tangan Kyuhyun menjauh dari lehernya.

“Kita pergi sekarang!” Alex mengangguk pada Kyuhyun dan membiarkan pria itu berjalan mendahuluinya, tapi Nana menahan langkah Kyuhyun dengan menarik sebelah tangannya yang digenggam.

Kyuhyun berbalik, tatapannya menelusuri Nana yang terlihat ragu sebelum gadis itu berkata nyaris gugup. “Aku…aku ingin tahu. Apakah itu benar, kau…Kyuhyun~ssi dan proyek kasino milikmu batal? Kau tidak akan membangun kasino di atas Dream Sky? Aku menelponmu untuk mendengar yang sebenarnya darimu.”

Kyuhyun menatapnya dalam diam untuk beberapa saat, tidak terduga dengan pertanyaannya. Apa Nana membaca berita? Apa yang dilakukan Nana selama tiga belas jam menghilang bersama seorang  psikopat sinting bisa membuat gadis itu bebas mencari tahu informasi?  tiba-tiba Kyuhyun penasaran darimana Nana bisa tahu nomor ponsel pribadinya.

“Katakan padaku, kalau kau tidak berbohong. Proyek itu benar-benar tidak akan pernah terjadi, kan?” Nana hampir tidak tahan dengan tatapan Kyuhyun dan cara diamnya yang mengintimidasi. “Aku menelponmu bukan karena percaya padamu, Cho Kyuhyun~ssi, tapi aku peduli tentang kebenaran nasib makam ibuku yang akan kau hancurkan!”

Kyuhyun mendengus dan melempar pandangan sinis yang tajam pada Nana.

“Kupikir kau sudah kehilangan seluruh harga dirimu saat menelponku.” Kata Kyuhyun, nadanya kasar dan tidak menyenangkan. Matanya bergerak memperhatikan penampilan Nana. “Kau nyaris seperti gelandangan dan berkata sombong tentang kepercayaan. Menghubungiku dan menolak mengaku bahwa kau butuh bantuanku. Apa kau tahu pendapatku tentang ini, kau terlalu bodoh untuk mengambil keputusan. Sikapmu seolah kau bisa datang pada pria mana pun yang sanggup menjamin rasa percayamu! Keparat itu tidak bisa melakukannya untukmu sampai kau berakhir menjijikkan seperti ini!”

Nana tahu bahwa ini adalah satu dari banyak konsekuensi yang harus dia terima, cara kasar Kyuhyun untuk merendahkannya. Hatinya berkedut panas dengan rasa sakit yang berat saat mengakui Kyuhyun tidak sepenuhnya salah dengan tuduhannya. Kyuhyun benar, Nana bahkan tidak tahu mengapa dia harus berdebat  di tengah situasi mereka saat ini. Nana menahan kelopak matanya yang hampir berkedip, tidak ingin air matanya jatuh di depan pria itu.

“Proyek kasino yang kau sebut sialan itu batal!” Jelas Kyuhyun, Nana menghindari tatapan matanya.  “Kau sudah dengar kepastian dariku dan aku tidak peduli kau krisis kepercayaan terhadapku. Itu masalahmu. Aku datang karena kau punya urusan denganku yang belum selesai!”

Kyuhyun membuang napas keras dan hampir gila. Nana tidak pernah membiarkan kepalanya menjadi dingin jika gadis itu mulai bicara. Egonya terluka hanya karena Nana mengatakan tidak percaya padanya dan menjadi pilihan terakhir gadis itu saat keadaannya sudah di ujung kata mengenaskan.

Nana menatap tangannya yang masih ada dalam genggaman Kyuhyun ketika pria itu mulai menariknya lagi untuk berjalan.

“Terima kasih.” Kata Nana pelan, dia menghentikan langkah Kyuhyun dan genggaman pria itu melonggar. Nana mendongak untuk menatap matanya. “Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, kau begitu keras mengabaikanku saat aku memohon padamu tentang pembangunan kasino. Kau benar, Kim Nana yang bermental anak enam tahun, bodoh dan naif bukanlah level sebanding untuk mengerti kasus tentang dunia bisnis. Aku hanya datang untuk memperjuangkan tempat terakhir yang ada di Dream Sky, taman itu adalah sebagian dari hidupku. Aku tidak peduli kau menganggap sepele, tapi sekarang aku akan baik-baik saja. Hari ini sampai tiga bulan selanjutnya, aku akan mengikuti perjanjian kontrak kita. Maaf, untuk kata-kataku yang membuatmu marah. Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh, terima kasih, Cho Kyuhyun~ssi.”

Wajah Kyuhyun memucat. Badai kemarahan seketika lenyap dari matanya dan Nana tidak terlihat seperti akan menarik semua ucapannya. Terima kasih? Untuk apa? Untuk seluruh harga diri gadis itu yang telah Kyuhyun hancurkan di atas ranjang atau kebodohan karena Nana harus terlibat sejauh ini dengannya. Gadis itu sudah mengacaukan sebagian tempat paling gelap dalam diri Kyuhyun dan tidak seharusnya kata-kata murahan itu mempengaruhi kewarasannya atau tentang perubahan sikapnya yang tidak terprediksi. Tapi Kyuhyun bahkan tidak mampu bertahan sedikit lebih lama melihat dua bola mata cokelat terang milik Nana yang sedang menelanjangi setengah jiwanya.

“Aku tidak butuh kata terima kasihmu!”Kyuhyun berbalik dan melanjutkan langkahnya seolah  tidak mendengar Nana mengatakan sesuatu.

Mereka berjalan dengan diam di antara langkah kaki yang bergerak cepat. Kyuhyun nyaris menyeretnya dan Nana susah payah mengikuti tanpa berusaha mengaduh saat kaki telanjangnya menginjak kerikil. Mereka masuk pada salah satu gedung pertokoan bertingkat yang cukup besar dan beberapa orang yang masih berada di sana memperhatikannya dengan heran. Alex berjalan mendahului untuk menekan tombol lift dan keheningan berubah menjadi lebih berat saat lift bergerak naik dan berhenti pada atap gedung. Helikopter dengan bunyi desingan baling-baling yang berputar adalah hal pertama yang Nana lihat sebelum tiba-tiba kepalanya berubah menjadi berat. Nana melihat Kyuhyun dengan pandangan kabur saat pria itu berbalik menatapnya, bibir penuhnya ditekan keras tapi Nana tidak yakin pria itu marah atau khawatir.

Nana tahu kesadarannya tidak akan bertahan lama karena kepalanya berputar cepat dan langit gelap di atas berubah miring, hal terakhir yang Nana dengar sebelum pingsan dengan wajah nyaris menabrak lantai adalah umpatan Cho Kyuhyun.

“Brengsek!”

Human Addiction – Chapter 9

“Jalang sialan!”

Aether Lee melihat dengan tatapan tamak pada cermin, kemarahan mendidih dalam kepalanya tanpa ampun. Sebagian properti kamar hotel berantakan tapi emosi pria itu belum padam. Aether terlalu murka dan berpikir Kim Nana tidak bisa melakukan ini padanya. Gadis itu sudah melanggar aturan fatal dengan pergi darinya. Melarikan diri dan meninggalkan setengah kewarasan Aether yang liar. Pria itu berteriak, mengumpat pada situasinya yang sial. Kim Nana bisa menghancurkan tujuannya tapi pria itu tidak akan menyerah!

Tiba-tiba Aether menyentuh dadanya, debarnya yang sangat kencang membuat pria itu harus bertahan dari serangan rasa sakit yang sungguh keparat. Dia mulai tidak terbiasa dengan sakit seperti ini, tapi hal pertama yang di lakukan Aether untuk sekarang hanyalah mengendalikan amarah. Dan kepala dingin untuk berpikir.

“Aku akan mendapatkanmu kembali. Kau tidak boleh berbuat curang padaku, Nana!”

Kekacauan datang setelah tahu Kim Nana menghubungi Cho Kyuhyun dan sketsa wajah Aether sudah tersebar di seluruh kota sebagai tersangka buronan polisi. Itu akan setimpal bila Lee Donghae benar-benar mati! Dia menyumpah dan menyambar ponselnya. Mengetik beberapa nomor dan menunggu panggilan tersambung. Aether mengangkat kopernya, berjalan meninggalkan kamar dan menuju lift yang membawanya pada basement tepat sebelum telponnya dijawab.

“Tunda keberangkatan ke Brooklyn. Aku ingin kau jalankan rencana B, lakukan seperti perintah. Kabari aku setelah kau membuang mayatnya.” Aether duduk di balik setir kemudi Jeep hitamnya dan mendengar jawaban dari sebrang telepon. “Ya….aku tidak mau kau berbuat kacau dan kesalahan, Tatsuya.”

Aether melempar ponsel pada bangku sebelahnya setelah sambungan terputus. Jeepnya meninggalkan basement hotel dan menjauhi seluruh pusat-pusat kota. Aether belum bisa berhenti berpikir tentang Kim Nana dan segala kecerobohannya sampai gadis itu lepas dari pengawasan. Dia menyambar lagi ponselnya, tiba-tiba seringai naik pada sebelah sudut bibirnya. Aether menemukan sasaran untuk melampiaskan sisa kemarahan yang masih tertinggal dan Cho Kyuhyun memberinya jawaban begitu mudah.

Cho Kyuhyun dan kelemahan barunya.

***

“Dia salah satu investor proyek kasino Dream Sky yang batal?” Donghae mencoba memperjelas pernyataan yang baru didengar. Kyuhyun mengangguk, wajahnya kacau menatap Donghae yang duduk di atas kursi rodanya.

“Nana,” Kyuhyun berhenti saat menyebut nama itu. Dia menegeluarkan dua lembar kertas kusut dari saku kemejanya pada Donghae. “dia tahu nomorku dari coretan di atas berkas dokumen ganti rugi.”

Donghae tahu Kyuhyun selalu berhati-hati dengan hal pribadinya, nomor ponsel adalah satu daftar di antaranya. Semua rekan atau klien harus melewati Sandra untuk mendapat akses ke pria itu. Kecuali dia pernah dekat dengan Kyuhyun. Sialnya, Donghae tidak mendapat bukti konkret siapa pemilik potongan dokumen penting ini. Sketsa wajah yang didapat dari pihak kepolisian  tidak dalam batas wajah familiar yang pernah Kyuhyun atau Donghae tahu. Nana menciptkan situasi menjengkelkan bagi Kyuhyun untuk pertama kalinya. Tapi mereka sama-sama tahu, ini lebih dari sekedar lelucon yang menjengkelkan.

Kim Nana ada dalam status bahaya.

Kangin sudah mengumpulkan seluruh data mantan investor Kyuhyun juga perusahaan yang terkait untuk bahan penyelidikan. Orang-orang Kyuhyun dan team milik Kangin masih memburu pria itu. Bukan perkara bagus karena dia berada di luar sana dengan senjata api. Informasi akhir yang mereka terima setelah kembalinya Kyuhyun dari Pyeongchang, pria buron itu kabur meninggalkan kamar hotel di mana dia menyembunyikan Nana dalam keadaan nyaris hancur. 

Keheningan mereka dalam koridor sepi rumah sakit berakhir dengan keluarnya dokter Hwang dari IGD. Kyuhyun adalah yang pertama mendekati pria paruh baya itu.

“Nona Kim baik-baik saja.”

“Dia tidak sadarkan diri tiba-tiba! Kau bilang baik-baik saja?” Kyuhyun menyembur dalam nada kasarnya.

Donghae memutar roda kursinya pada dokter Hwang. “Pingsan tiba-tiba? Apa dia hamil, dokter?”

“Brengsek!” Tatapan Kyuhyun menyala pada Donghae dan leluconnya. Donghae langsung menutup mulut, tapi tarikan pada sudut bibirnya tidak mampu ditahannya.

“Kau selalu bermain aman. Aku tahu.” Gumam Donghae. Kyuhyun akan melempar pria itu dari atas kursi rodanya kalau Dongae bicara satu kata lagi.

“Nona Kim sungguh baik-baik saja, tuan Cho.” Dokter Hwang meyakinkan. “Dia mengalami dehidrasi dan kekurangan energi. Syukurlah, luka pada lehernya tidak terinfeksi. Hanya—“
“Apa?”

Dokter Hwang belum pernah merasa menggigil hanya karena seseorang memotong kata-katanya dengan ‘apa’ secara tegas. “Nona Kim mungkin masih mengalami trauma, percobaan bunuh dirinya belum mendapat penanganan langsung dari psikiatri. Saya sarankan nona Kim di rawat paling tidak sampai besok pagi.”

“Tidak perlu. Aku akan membawanya pergi.”

Dokter Hwang tahu dia tidak bisa membantah Kyuhyun. Kesalahan terakhirnya adalah membiarkan Kim Nana keluar dari kamar rawatnya dan menyebabkan insiden itu terjadi. Dia masih bernapas dengan baik dan menjadi dokter di rumah sakit ini tanpa mendapat teguran keras dari Kyuhyun itu sudah luar biasa.

“Baiklah, itu keputusan anda. Sebagai dokternya, boleh saya memberi saran?” Dokter Hwang tersenyum begitu Kyuhyun memberinya satu anggukan. “Tolong ambil waktu untuk nona Kim berada di tempat yang tidak membuatnya merasa tertekan. Dia sangat membutuhkan itu. Saya percaya anda bisa menjaganya.”

Kyuhyun tidak berkata apapun. Pria itu berbalik dan masuk ke dalam IGD. Donghae tahu, dokter Hwang selalu peduli dengan pasiennya. Tidak ada yang berlebihan. Kyuhyun akan melakukan apa yang pria paruh baya itu katakan. Tentu saja. Dan Donghae tahu tujuan mana yang akan Kyuhyun singgahi untuk sementara waktu.

***

Ketika Nana bangun, kedua matanya mendapati interior kamar yang asing. Bukan tempat sama dengan dinding merah muda pucat seperti di kamar penthouse Kyuhyun atau nuansa putih aroma disinfektan rumah sakit. Ini kamar yang sangat indah. Warna hijau pohon pinus di luar mengelilingi dua bagian dinding kamar yang terbuat dari material kaca. Nana tidak yakin dengan keberadaannya kalau berpikir di luar sana adalah hutan, tapi sungguh, pemandangan hijau di luar nyaris membuatnya terperangah. Begitu nyata ketika cahaya matahari perlahan menerobos di beberapa bagian celah pohon hingga menyentuh lantai kamar. Perabotan di dalam kamar tidak terlalu banyak, Nana hanya menemukan sofa putih panjang di depan perapian, lukisan water lilies karya Claude Monet menggantung simetris di atasnya dan tempat tidur luas di mana dia berbaring dengan keadaan kagum dan setengah bingung.

Tempat apa ini?

Ingatan terakhir Nana hanya sampai pada helikopter yang berada pada salah satu atap gedung daerah Pyeongchang. Setelah itu Nana tidak yakin bagaimana dia bisa pergi dari sana. Apa Kyuhyun membawanya ke tempat asing yang baru lagi? Apa ini masih di Seoul?

Aether Lee.

Nana menutup mata saat tidak mampu mencegah nama itu datang kembali. Begitu tiba-tiba dan semua sakit di hatinya berhamburan lagi. Nana harus berhenti memikirkan Aether.  Dia harus melakukannya. Nana sudah mengambil jalan untuk kembali dengan cara seperti ini. Hanya perlu menyelesaikan kontrak tiga bulan bersama Kyuhyun, karena pada pria itu jalan pulangnya ke Tokyo akan menjadi nyata.

Gadis itu turun dan langsung mendapati tubuhnya di balut pakaian tidur kimono sutra. Tahu kalau di balik kain tipis ini ketelanjangannya sangat terasa, Nana mengencangkan ikatan tali pada pinggangnya sebelum siapa pun datang dari balik pintu di ujung sana. Tapi sepertinya keadaan terlau tenang, Nana tidak mendengar apapun kecuali bunyi alam dari hutan atau kicauan samar suara burung. Memutuskan untuk mencari tahu, Nana berjalan keluar dan melewati lorong di antara dinding kaca. Secara keseluruhan, Nana tidak mampu mendeskripsikan keindahan rumah ini. Seperti berdiri di tengah batas alam terbuka dan seni bagunan modern tingkat tinggi. Nana tidak melihat celah di mana ada kebosanan pada setiap bagian rumah, semua tertata dengan cara yang benar dan pada tempatnya.

Ini terasa begitu manusiawi, tenang yang melibatkan perasaan dan mewah, tentu saja.

Pandangan Nana ketika itu jatuh pada meja makan besar dengan material kayu berukir klasik, bukan hanya karena sudut ruang itu menghadap langsung pada danau yang menarik perhatian Nana, tapi lebih kepada apa yang tersimpan di atasnya. Asap masih mengepul di atas panci liat yang Nana tahu betul itu aroma kuah Sukiyaki, seseorang membuat masakan yang mengingatkan Nana pada ibunya. Sebagian di atas meja makan ini adalah masakan khas Jepang yang dulu pernah ada di atas meja makan rumahnya. Tidak, Nana tidak menangis saat teringat seluruh kenangan yang pernah ada meski hatinya terasa remuk ketika mendapati dia hanya seorang diri berada di antara semua ini.

“Sudah bangun.”

Nana hampir tidak menemukan suaranya ketika dia berbalik dan mendapati Cho Kyuhyun. Pria itu baru berolahraga, memakai jaket hitam dengan tutup kepala yang baru saja dia turunkan, training abu-abu cerahnya menggantung di bawah pingganya dan juga berkeringat. Kyuhyun terlihat cukup manusiawi tanpa setelan jas formal yang sering Nana lihat, meski arogansinya masih mengancam dengan cara sempurna di atas wajah pucatnya yang dingin. Saat pria itu berjalan mendekat padanya dan meletakkan dua paper bag super besar di atas meja, Nana baru sadar dia terlalu lama memperhatikan Kyuhyun.

“Baju ganti untukmu.”

Nana mengerjap dan kembali menemukan suaranya. “Terima kasih.”

Kyuhyun masih menatapnya, iris gelapnya yang pekat membuat Nana tidak tahu apa yang pria itu pikirkan. Nana meraba tali pada pinggangnya tanpa sadar, menggenggam simpulnya dan yakin bahwa dia sudah mengikat dengan kencang kimono sutranya. Tapi tatapan Kyuhyun tidak pergi kemana pun selain matanya. Kyuhyun masih terlihat sama, pandai menyimpan pikirannya dalam ekpresi wajah datar yang terkadang membuat Nana jengkel. Nana hanya mengenal bagaimana ekpresi ketika pria itu marah, selebihnya dia terlihat seperti air danau paling tenang dan gelap.

“Kita di mana sekarang?” Nana merasa perlu mengatakan sesuatu dalam situasi ini. Tapi kata ‘kita’ yang terucap tanpa sengaja membuat Nana menyesal.

“Villa pribadiku, kau tidak perlu tahu di mana.”

Nana melihat sekeliling rumah dan berhenti pada dinding kaca raksasa yang membatasi puluhan pohon tinggi juga lebat di luar sana. Kemudian Nana mendengus dalam senyum sarkasme. “Kenapa kalau aku tahu? Ini seperti tempat persembunyian di tengah hutan. Apa kau takut aku akan kabur, Cho Kyuhyun~ssi.”

Nana tahu dia baru saja melakukan kesalahan, wajah dan rahang Kyuhyun mengeras. Tapi perubahan itu terjadi tidak lebih dari dua kedipan matanya, Kyuhyun kembali pada mode datar.

“Apa kau mulai berpikir kau cukup penting untukku?” Ucap Kyuhyun tanpa ada emosi dari tatapan matanya. “Kau hanya terlibat kontrak seks denganku. Aku perlu tubuhmu untuk kesenanganku. Aku tidak suka bila seseorang di bawah tanggung jawabku berbuat kekacauan seperti kabur sebelum perjanjian berakhir. Jadi jangan salah mengartikan kenapa aku membawamu ke tempat ini.”

Nana mengerjap akan kata-kata tajam Kyuhyun. Tuduhannya seperti cambuk yang mengingatkan Nana akan posisinya di mata pria itu. Kontrak seks! Nana seperti menelan ludah pahit ketika dia berusaha mencari kalimat yang tepat untuk membalas ucapan Kyuhyun.

“Aku belum pernah terlibat kontrak seperti itu. Maaf kalau aku cukup amatir di bandingkan perempuan simpananmu yang lain saat mengartikan semua ini, Kyuhyun~ssi.” Nana ingin terlihat baik-baik saja tapi dia gagal mengatur suaranya setenang mungkin. Apa yang salah, Nana? Pria itu mengatakan kebenaran! Tidak seharusnya kau terluka ketika dia memperjelas semuanya.

“Perempuan simpanan?” Mata Kyuhyun menyipit dan kebingungan terbaca saat pria itu melihat Nana.

“Ya. Mereka yang sama sepertiku dan terlibat kontrak seks denganmu.” Jelas Nana tanpa menutupi emosi yang membengkak secara perlahan di dadanya. “Apa selain penthousemu kau juga membawa mereka ke tempat ini?” Itu terdengar seperti tuduhan.

Sekarang Kyuhyun tidak hanya diam menatapnya saja, tapi berdiri sangat dekat di depan Nana hingga bau tubuh pria itu mengalir bersama oksigennya. Keringat dan sisa wangi parfum atau body wash yang tercium hampir memabukkan nyaris membuat Nana terpengaruh. Gadis itu mencoba melihat ke arah mana pun kecuali Kyuhyun, tapi dagunya ditahan dalam genggaman Kyuhyun. Nana tidak ingin Kyuhyun melihatnya seperti itu!

“Yang sama sepertimu? Ucap Kyuhyun lirih. Nana menahan napasnya. “Aku menyebutnya pelacur.”

Kata-kata Kyuhyun menggema keras dalam kepala Nana. Tiga kata itu sanggup menekan hatinya pada batas yang cukup sakit. Kyuhyun mengatakan kebenaran yang begitu tajam untuk Nana. Pelacur? Kenapa Nana begitu terkejut ketika dia memang terlihat seperti itu sekarang? Mungkin Nana harus belajar mengatasinya dan mengabaikan rasa sakit jika nanti Kyuhyun berkata seperti itu lagi atau bahkan yang lebih parah.

“Tidak ada simpanan lain. Pelacurku hanya satu, Nana.”

Kyuhyun melepas Nana tapi dia tidak membuat jarak dengan gadis itu. Matanya menyala dalam antisipasi, tapi Nana hanya diam. Iris cokelat terangnya pudar dan kosong.

“Selesaikan sarapanmu! Jangan mengacau dengan membanting makananmu atau kau akan tahu caraku melemparmu ke hutan!”

Kyuhyun berbalik dan meninggalkan semua situasi memberat dalam kepala Nana. Seperti biasa, Kyuhyun selalu mengakhiri perdebatan mereka dengan cara yang cukup tajam lalu pergi begitu saja. Nana hanya mampu menatap penuh benci pada punggung yang berjalan menjauh.

***

Dua hari kemudian Nana masih berada di tempat yang sama. Villa tengah hutan yang entah pada titik bumi bagian mana ini berada. Mungkin berlebihan kalau Nana berpikir Kyuhyun benar-benar membangun rumah jauh ke dalam hutan, Villa ini tidak cukup jauh pada jalan umum ketika Nana bisa melihat tiang-tiang lampu jalan saat dia berdiri pada balkon lantai dua. Nana tahu dia butuh melewati beberapa menit yang cukup melelahkan untuk bisa mencapai gerbang baja setinggi empat meter yang berada pada ujung pangkal jalan setapak villa ini.

Nana tidak memikirkan hal macam seperti kabur. Tidak. Mana mungkin dia bisa menembus gerbang raksasa di pangkal jalan sebelum Kyuhyun kembali menyeretnya. Meski Nana jarang berada dalam satu ruang yang cukup lama bersama pria itu sejak dua hari mereka di villa, Kyuhyun akan tahu di mana akan menemukan Nana kalau gadis itu tidak berada di dalam kamarnya. Nana tidak mendengar Kyuhyun memberi peringatan tentang berkeliaran di sekitar villa, bahkan saat Nana pernah mencapai danau pada bagian belakang, pria itu hanya mengawasinya dari  selasar kiri villa yang berada di lantai dua. Paling tidak, Nana sanggup mengatasi keheningan dalam rumah ini dengan berkeliling.

Gadis itu menoleh pada dinding kaca, Sabtu sore yang dingin dan hujan baru saja berhenti. Villa selalu dalam keadaan sunyi. Nana tidak mendapati Kyuhyun di ruang tengah atau meja makan sejak siang tadi. Pria itu punya ruangan di lantai dua dan Nana tidak perlu tahu apa yang membuat Kyuhyun berada di atas sana nyaris setengah hari. Nana hanya hafal Kyuhyun terus sibuk dengan ponselnya. Dia bicara tentang pekerjaan dan terlihat serius.

“Aku ingin dengar kesimpulannya sekarang….”

Nana menurunkan kakinya yang terlipat di atas sofa ruang tengah ketika suara Kyuhyun datang dari balik punggungnya. Dia sedang menelpon. Kyuhyun berjalan melewatinya menuju pintu lemari kayu ganda dan membukanya, memperlihatkan isi kulkas yang selalu penuh. Nana bisa melihat Kyuhyun mengambil botol air mineral dan mengisinya pada gelas kaca yang dia ambil dari meja mini bar. Dia masih tidak berhenti menelpon saat menghabiskan isi gelasnya.

“Bagus. Kirim skemanya pada Sandra besok pagi…..Tidak…Akan kuberitahu setelah aku kembali ke Seoul…Ya…suruh Sandra menghubungiku sebelum rabu siang.” Kyuhyun mematikan telepon dan menatap Nana yang baru saja berpura-pura memperhatikan layar datar televisi di depannya.

“Taesan akan datang terlambat malam ini.” Kyuhyun bicara padanya, Nana mengangkat kepalanya dari layar televisi dan tahu Kyuhyun yang masih berdiri di samping mini bar.

“Tidak masalah. Aku juga belum lapar.”

Taesan adalah koki yang setiap pagi dan sore akan mengantar makanan ke villa. Pria paruh baya pemilik restauran Jepang di wilayah ini. Nana menyukai Taesan karena pria itu tahu betul bagaimana cara membuat rasa orisinil pada setiap masakannya. Nana seperti pulang ke rumah ibunya berkat Taesan. Sepertinya Kyuhyun tahu bahwa Nana tidak akan mengacau dengan makanan bila menu hidangan Jepang akan memenuhi meja makan.

Nana baru saja akan mengatakan sesuatu tapi dering ponsel Kyuhyun datang terlalu cepat. Wajahnya berubah tegang ketika menjawab panggilan. Kyuhyun masih mendengarkan seseorang di sebrang telepon tapi matanya tidak berhenti melihat pada Nana. Gadis itu menahan napas ketika Kyuhyun mengumpat kasar. Ada dorongan liar dalam kepala Nana untuk bangkit dan perlahan mendekati pria itu. Tapi Nana tidak sanggup melanjutkan langkahnya saat Kyuhyun mematikan telpon.

“Diam di tempatmu!”

Nana berhenti. Kyuhyun masih berada di samping meja bar. Pria itu kembali mengecek ponselnya. Nana tidak mengerti situasi seperti apa yang membentang di antara mereka. Kyuhyun tidak bergerak memperhatikan ponselnya, bibirnya mengatup membentuk satu garis lurus yang mampu membuat jantung Nana seolah berhenti di dadanya.

“Kyuhyun~ssi–“

Kyuhyun memotongnya dengan berjalan mengahampiri Nana. Kaki gadis itu nyaris menyerupai ranting yang akan patah, wajah Kyuhyun menggelap dipenuhi kemarahan.

“Katakan padaku siapa nama keparat itu?!” Tanya Kyuhyun tiba-tiba, tatapan matanya mengetat.

Kebingungan terlihat jelas pada wajah Nana. “Aku tidak mengerti ap-“

“Keparat yang membawamu pergi dari rumah sakit, sialan!”

Darah berhenti mengalir di kepala Nana. Nama Aether menerjang segala kepanikan gadis itu dalam diam. Apa yang terjadi pada Aether setelah dia pergi meningglkannya? Kenapa Kyuhyun bertanya tentangnya?  Tapi demi Tuhan, Nana tidak sanggup mengatakan apapun pada Kyuhyun. Dia tidak ingin membicarakan pria itu! Tapi Kyuhyun tidak memberinya kesempatan untuk menghindar. Pria itu mencengkram lengan Nana dan menarik gadis itu mendekat padanya. Napas Kyuhyun memburu, Nana masih bungkam di bawah seluruh intimidasinya.

“Dia…aku…aku tidak tahu.” Nana menghindari tatapan matanya. Tapi Kyuhyun punya cara yang kejam membuat gadis itu melihat padanya.

“Akh!” Nana memekik dengan tatapan terkejut. Kyuhyun menggenggam seikat rambut panjangnya dan menariknya ke belakang.

“Sebutkan namanya, jalang!” Mata Kyuhyun melebar penuh amarah. Dia tidak peduli pada iris cokelat terang yang mulai basah. Kyuhyun tidak bisa menghentikan dirinya tanpa mendengar jawaban gadis itu.

“Kenapa?” Nana mengabaikan nyeri di atas kulit kepalanya. Dia tidak akan membiarkan Kyuhyun puas melihatnya dalam kesakitan. “Dia tidak ada urusan denganmu, Kyuhyun~ssi.”

Nana tahu dia sudah bertindak bodoh dengan melawan kata-kata Kyuhyun. Air mata yang jatuh tanpa peringatan itu menghianati keberanian Nana. Nyatanya dia menciut, dia takut pada Kyuhyun. Tapi Nana tidak ingin membuka identitas Aether.  Genggaman Kyuhyun pada tambutnya melonngar dan lepas. Emosi perlahan pudar dari mata legamnya, tapi Nana belum sepenuhnya lega.

“Kau melindunginya?” Kyuhyun bertanya. Ada kilat terkejut dari tatapan matanya. “Kau tahu apa yang sudah keparat itu lakukan?”

Nana masih bungkam. Kyuhyun belum berhenti mengintimidasi. Pria itu mengangguk dan menyeringai tanpa sebab. Lalu dia mengangkat ponselnya dan menunjukkan pada Nana apa yang membuat pria itu meledak dalam kemarahan.

Nana yang tidak mampu menutupi rasa terkejutnya. Wajah gadis itu pucat dan air mata jatuh tanpa aba-aba. Sebuah rekaman video di putar dalam ponsel Kyuhyun. Nana tidak mengerti apa yang terjadi, tapi gadis telanjang dalam video itu adalah dirinya. Tubuh polos berdiri di antara air shower dan tangisan. Nana meyakinkan diri bahwa itu bukan dia, tapi sungguh sialan itu memang tubuhnya. Nana ingat itu adalah kamar mandi hotel tempat di mana dia dan Aether singgah. Apa Aether sebejat itu? Kenapa dia jahat sekali.

“Tidak hanya aku yang mendapat ini, Nana.” Desis Kyuhyun. Buku jarinya memucat di atas ponsel yang masih dia genggam

Apa?

“Keparat ini menyebar video ke seluruh mantan investor proyek kasino Dream Sky! Karena kebodohanmu mereka menikmati tubuhmu dengan semua pikiran kotor. Brengsek”

PRAAKK!

Kyuhyun melempar ponselnya, menghantam keras pada meja mini bar sebelum hancur di bawah lantai. Jantung Nana bergemuruh kencang di telinganya, antara malu dan ketakutan. Tapi wajah Kyuhyun yang pucat dalam kemarahan adalah yang mendominasi Nana.

“Aku akan menghancurkan kepalanya tepat di depan matamu. Hanya aku yang berhak melihat semua itu!”

TBC

559 thoughts on “Human Addiction Part 9

  1. When romance comes to ur life. Alah. Bilang aja cemburu sih. Mengintimidasinya Kyuhyun malah bikin melting walah walah mau dong di tatap sama leser matamu mas😍

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s