Perfect Match Part 5


image

Author: Keita

Title: Perfect Match Part 5

Category: NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast:

Han Hyo Joo as Oh Yeon Joo

Park Chanyeol

Support Cast:

Choi Siwon

Park Yoora

Annyeong haseyeo … Terimakasih untuk pada reader yang menyempatkan waktunya untuk membaca cerita yang saya buat.. Terimakasih untuk admin yang sudah mempost tulisan saya.. Maaf kalau ada kata-kata yang bikin bingung. Mmmmmmmm…. Moga suka sama ceritanya ya.. HAPPY READING…

Ketika sampai dirumah..
Aku bertanya-tanya..
Apakah benar Chanyeol menyukaiku?
Atau dia hanya ingin berhubungan seks denganku?
Aku memikirkannya sampai tak bisa tidur.. jam sudah menunjukkan jam 12.
Aku sungguh penasaran.. aku harus ke sana..
Semoga dia masih di hotel itu..

Hotel xxxx

Aku mengetuk pintu ruang kamar yang tadi aku tempati bersama Chanyeol. Dengan perasaan malu dan menunggu, semoga dia masih disini. Chanyeol membuka pintu. Dia sedang menelpon. Dia berkedip tercengang saat melihatku, kemudian membuka pintu lebar dan mengundangku masuk ke kamarnya.

“Kesimpulannya semua paket kelebihan? … Biayanya? … ” Chanyeol terdengar agak marah “Shsh … itu salah satu kesalahan yang fatal… ”

Aku melihat ke sekeliling ruangan. Perabotan disini sangat modern, terbaru. Semuanya berwarna ungu tua dan emas dengan dekorasi berbentuk cahaya bintang di dinding. Aku tak menyadari tadi saat aku masuk. Chanyeol berjalan menuju lemari kayu gelap dan membuka pintu memperlihatkan mini bar. Dia mengindikasikan bahwa aku harus mengambil sendiri, kemudian masuk ke kamar tidur. Aku menganggap bahwa ia masuk kamar agar aku tak bisa lagi mendengar pembicaraannya. Dia tak berhenti menelpon saat aku memasuki ruang kerjanya waktu itu. Aku mendengar air mengalir … dia mengisi bak mandi. Aku ingin mengambil jus jeruk. Dia kembali masuk ke dalam ruangan dengan santai.

“Bisakah Yeri mengirimiku skemanya. Jongin bilang, dia akan memecahkan masalahnya … ”
Chanyeol tertawa. ” aku ingin besok kita membicarakannya lagi.”

Chanyeol tak melepaskan matanya padaku. Sambil memberikan gelas, dia menunjuk ke wadah es.

“Bukan,… Ada sebidang tanah di sana yang membuatku tertarik … Yeah, suruh Suho untuk menelepon… Tidak, besok … aku ingin melihat apa yang akan ditawarkan Jeju jika kita pindah kesana”

Wajahnya jadi gelap sesaat. Mengapa? ” Suruh Suho untuk menelpon. Besok … Jangan terlalu pagi.” Dia mematikan telpon dan menatapku, wajahnya tak terbaca.

Oke … giliran aku untuk berbicara. Chanyeol melangkahkan kakinya padaku. dan melirik sekilas pada jam tangan yang melingkar di tanggannya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Yeon Joo?” dengan nada khawatir

“Aku ingin bertanya padamu.”

Dia mengambil napas dalam-dalam.

“kau bisa menelfon atau mengirim pesan padaku. tidak usah datang kemari. Ini sudah jam 1.”

“aku ingin berbicara langsung padamu” kataku malu.

“lain kali jangan melakukan ini lagi. Kau bisa menyuruhku untuk datang padamu dan aku akan datang” kata Chanyeol lembut.

Aku mengangguk.

“jadi apa yang ingin kau tanyakan?” katanya was-was

“apakah kau benar-benar mencintaiku?”

Aku melihat ekspresinya. Kaget, malu bercampur geli.

“kau datang kemari tengah malam, hanya untuk menanyakan hal itu?” katanya sambil senyum.
“aku sangat mencintaimu. Melebihi yang kau kira.” Jawab Chanyeol tenang. “ada lagi?”

“ya, apakah kau hanya ingin  berhubungan seks denganku? Atau…”

“ah, jadi kesini arah pembicaraanmu.” katanya memotong. “tentu tidak. Aku ingin kita menikah, mempunyai anak, dan menghabiskan sisa hidup kita bersama. Aku ingin kau menjadi milikku, seutuhnya. Kau ingin aku melakukan apa agar kau percaya?”

“tapi kau pernah berhubungan seks dengan wanita lain. Sedangkan aku tidak pernah…” kataku agak kecewa.

“itu hanya sebuah kecelakan.. dan aku hanya melakukannya sekali dengan wanita itu”

Wanita itu? Siapa?

“tapi  kau sangat.. eer…..”

“jago?”

“ya”

“hahahaha… aku banyak menonton dan membaca buku tentang itu. Dan aku mempraktekannya padamu”

“Tolong berhenti menggigit bibirmu. Kamu berada dalam ruanganku,” lanjutnya

HP-nya berdengung, mengganggu kami berdua, dan dia mematikannya tanpa melirik untuk melihat dari siapa itu. Napasku tersentak. Aku tahu kemana arahnya ini … tapi kita harus bicara.
Dia melangkah kearahku berpenampilan seperti seorang predator yang seksi.

“Aku menginginkan kamu, Yeon Joo. Sekarang. Dan kau juga menginginkan aku. Itulah mengapa kau di sini.”

“Aku benar-benar hanya ingin tahu,” bisikku sebagai pembelaan.

“Nah, sekarang kau sudah tahu, apa kau akan tinggal atau pergi?”

Mukaku memerah saat dia berjalan dan berhenti di depanku.

“Tinggal,” gumamku, menatap dengan gugup ke arahnya.

“Oh, aku harap begitu.” Dia menatap ke arahku. “Kau begitu marah padaku,” dia mengambil nafas.

“Ya.”

“Aku tak ingat siapa pun kecuali keluargaku yang pernah marah padaku. Aku menyukai ini.”

Dia menjalankan ujung jarinya di pipiku. Oh, kedekatannya, baunya wanginya Chanyeol. Kita harusnya berbicara, tapi hatiku berdebar-debar, darahku menyanyi seperti mengalir melalui penggabungan hasrat tubuhku, yang membentang … dimana-mana. Chanyeol membungkuk dan hidungnya menyusuri sepanjang bahuku dan sampai pangkal telingaku, jari-jarinya masuk ke dalam rambutku.

“Kita harus bicara.” Bisikku.

“Nanti.”

“Begitu banyak yang ingin aku bicarakan.”

“Aku juga.”

Dia mencium lembut di bawah daun telingaku sementara jari-jarinya mengencang di rambutku. Menarik kepalaku ke belakang, bibirnya meng-ekspos tenggorokanku. Giginya menggigit lembut daguku, dan dia mencium leherku.

“Aku menginginkan kamu,” dia mengambil nafas.

“Ayo kita mandi.” Lanjutnya

Oh?

Dia menggenggam tanganku dan membawaku masuk ke kamar tidur. Didominasi dengan ranjang ukuran super king dengan tirai yang rumit. Tapi kita tak berhenti di situ. Dia membawaku ke kamar mandi terdiri dari dua bilik, Ruangannya sangat besar – Di bilik kedua ada sebuah bak mandi cekung, cukup besar dengan tangga batu yang mengarah ke dalamnya, air mengisi sangat pelan. Uapnya naik dengan lembut di atas busa, dan aku memperhatikan disekeliling bak mandi dibentuk tempat duduk dari batu memutar.

Lilin berkerlip disampingnya. Wow … dia melakukan semua ini sambil menelpon.

“Apa kau punya ikat rambut?”

Aku berkedip padanya, aku merogoh ke dalam saku celana jeansku, dan mengeluarkan karet ikat rambutku.

“Ikat rambutmu ke atas,” dia memerintah dengan lembut.

Aku melakukan seperti yang dia suruh. Terasa hangat dan gerah saat berada di samping bak mandi, dan kamisolku mulai menempel. Dia membungkuk dan menutup kran. Membawaku kembali ke bilik pertama kamar mandi ini, dia berdiri di belakangku saat kami menghadap cermin berukuran sangat besar yang menutupi dinding di atas dua wastafel yang terbuat dari kaca.

“Angkat tanganmu,” dia mengambil nafas. Aku melakukan apa yang dia katakan, dan dia mengangkat kaosku dan melepaskan braku hingga aku berdiri telanjang dada di depannya. Tanpa mengalihkan pandangan dariku, dia membuka kancing celana jinsku dan menarik ritsletingnya.

“Aku akan memiliki kamu di kamar mandi, Yeon Joo.”

Miring ke bawah, dia mencium leherku. Aku menggerakkan kepala ke satu sisi dan memberikan akses agar lebih mudah. Mengaitkan ibu jarinya ke celana jinsku, perlahan-lahan dia menurunkannya sampai kakiku, dia merosot di belakangku sambil menurunkan celana jins dan celana dalamku ke lantai.

“Melangkahlah keluar dari celana jinsmu.”

Mencengkeram pinggiran wastafel, aku melakukan hal itu. Aku sekarang benar-benar telanjang, menatap diriku sendiri, dan dia berlutut di belakangku. Dia mencium kemudian menggigit dengan lembut pantatku, membuatku terkesiap. Dia berdiri dan menatapku sekali lagi di cermin. Aku berusaha keras untuk diam, mengabaikan kecenderungan alamiku untuk menutupi tubuhku. Dia melebarkan tangannya diatas perutku, merentangkan tangannya menyusuri dari pinggul ke pinggul.

“Lihat dirimu. Kau begitu cantik,” bisiknya. “Lihat bagaimana kamu merasakan.” Dia menggenggam kedua tanganku, jari-jarinya masuk di antara jari-jariku yang terentang. Dia menempatkan tangan kami di perutku.

“Rasakan betapa halus kulitmu.”

Suaranya lembut dan rendah. Dia menggerakkan tangan kami membuat lingkaran lambat ke atas menuju dadaku. “Rasakan bagaimana penuh payudaramu.”

Dia terus mengarahkan tanganku hingga menangkup payudaraku. Dengan lembut membelai putingku dengan ibu jarinya berulang-ulang. Aku mengerang diantara bibirku yang terbuka dan punggungku melengkung hingga payudaraku mengisi telapak tanganku. Dia meremas putingku diantara ibu jari kami, menarik lembut hingga bertambah keras. Aku mengawasi dengan terpesona pada makhluk binal yang menggeliat di depanku. Oh terasa nikmat. Aku merintih dan memejamkan mata, tidak lagi ingin melihat wanita di cermin dengan libido yang berantakan di bawah tangannya sendiri … keahlian tangannya … merasakan kulitku saat dia mengarahkan caranya bagaimana membangkitkan gairah itu – hanya dengan sentuhannya, dan perintahnya yang tenang dan lembut.

“Benar, sayang,” bisiknya.

Dia menuntun tanganku ke sisi tubuhku, menyusuri dari pinggang ke pinggulku, dan menyeberang ke pangkal pahaku. Dia menggeser kakinya di antara kedua kakiku, mendorong untuk membuka kakiku, dan mengarahkan secara bergantian kedua tanganku, mengikuti irama. Sangat erotis. Sesungguhnya aku adalah bonekanya dan dia dalangnya.

Tiba-tiba dia melepaskan tangannya.

“Lanjutkan sendiri,” dia memerintah, dan berdiri kembali menontonku.

Aku mengelus diriku sendiri. Tidak. Aku ingin dia yang melakukan. Rasanya tak sama. Aku tersesat tanpa dia.

Dia menarik kemejanya ke atas kepalanya dan dengan cepat melepas celananya.

“Kamu lebih suka aku yang melakukannya?” Matanya terbakar menatapku di cermin.

“Oh ya … kumohon,” Aku mengambil napas.

Dia melingkarkan tangannya di sekitarku lagi dan mengambil tanganku sekali lagi, melanjutkan belaian sensual di atas daerah paling sensitifku. Rambut dadanya menggesek punggungku, bagian tubuhnya yang mengeras menekanku. Oh… tolong sekarang. Dia menggigit tengkukku, dan aku memejamkan mata, menikmati segudang sensasi; leher, pangkal pahaku … nuansa dia di belakangku.

Tiba-tiba dia berhenti dan memutar tubuhku, memegang kedua pergelangan tanganku dengan satu tangan, memegang kedua tanganku di belakangku, dan menarik kuncirku dengan tangan satunya. Mukaku memerah melihatnya, dan dia menciumku dengan liar, memporak-porandakan mulutku dengan bibirnya. Menahanku diam di tempat.

Napasnya terengah-engah, begitu juga denganku.

“Pegangan pada wastafel,” dia memberi perintah dan menarik pinggulku kebelakang lagi, seperti yang dia lakukan di ruang bermain, jadi aku membungkuk.

Dan …  Kemudian dia dalam diriku … ah! Langsung antara kulit dengan kulit … pada awalnya bergerak perlahan… dengan mudah, mengujiku, mendorongku … oh. Aku pegangan diatas wastafel, terengah-engah, memaksa diri kembali pada dirinya, merasakan dia dalam diriku. Oh siksaan yang terasa nikmat … tangannya menggenggam pinggulku. Dia membuat irama, masuk-keluar, dan tangannya menemukan daerah paling sensitifku, memijatku … oh ya ampun. Aku bisa merasakan diriku mengencang.

“Itu benar, sayang,” suaranya serak saat dia mendorong ke dalam diriku, memiringkan pinggulnya, dan itu semakin membuatku terbang, terbang tinggi.

Wow … dan aku keluar, dengan lantang, mencengkeram erat ke wastafel saat aku mencapai klimaks yang melingkar turun ke bawah, semuanya berputar dan mengejang sekaligus. Dia mengikuti, mencengkeramku erat-erat, saat dia mencapai klimaks dan memanggil namaku mirip permohonan atau suatu doa.

“Oh, sayang!” Napasnya tersengal-sengal di telingaku, bersinergi sempurna denganku. “Oh, Sayang, bisakah aku pernah puas denganmu?” Bisiknya.

Akankah akan selalu seperti ini? Begitu luar biasa, menyita semuanya, begitu membingungkan dan memukau. Aku ingin bicara, tapi sekarang tenagaku terkuras habis dan linglung setelah berhubungan intim dengannya dan bertanya-tanya apakah aku bisakah aku pernah puas dengan dia? Apakah hubungan kami akan berjalan lancar?

“Bangun, sayang,” dia berbisik, dan pengaruh suaranya yang merdu menyebar seperti karamel hangat meleleh melalui pembuluh darahku.

Ini Chanyeol. Astaga, masih gelap, dan bayangan dia di mimpiku terus berlanjut, meresahkan dan menggoda di kepalaku.

“Oh … tidak,” erangku. Aku ingin kembali ke dadanya, kembali ke mimpiku. Mengapa dia membangunkan aku?

Sepertinya masih tengah malam. Sialan. Apa dia ingin seks – sekarang?

“Waktunya bangun, sayang. Aku akan menyalakan lampu samping.” Suaranya tenang.

“Tidak,” aku mengerang.

“Aku ingin mengejar fajar denganmu,” katanya, dia mencium wajahku, kelopak mataku, ujung hidungku, mulutku, dan aku membuka mata. Lampu samping menyala. “Selamat pagi, cantik,” bisiknya.

Aku mengeluh, dan dia tersenyum.

“Kau bukan orang yang suka bangun pagi,” bisiknya.

Melalui cahaya yang redup, aku memicingkan mata dan melihat Chanyeol membungkuk, tersenyum. Geli. Geli melihatku. Sudah berpakaian! Warna hitam.

“Aku pikir kau menginginkan seks,” aku menggerutu.

“Yeon Joo, aku selalu menginginkan seks denganmu. Rasanya menyenangkan mengetahui bahwa kau merasakan hal yang sama,” katanya datar.

Aku memandang dia saat mataku sudah bisa menyesuaikan dengan cahaya, tapi dia masih terlihat geli … syukurlah.

“Tentu saja aku menginginkannya, hanya saja tidak pada waktu yang masih terlalu larut.”

“Ini bukan masih larut, ini sudah pagi. Ayo – kau harus bangun. Kita akan jalan-jalan keluar. Nanti aku akan menagih seksnya nanti.”

“Aku tadi bermimpi menyenangkan,” aku merengek.

“Mimpi tentang apa?” Tanyanya dengan sabar.

“Kamu.” Aku tersipu.

Bibirnya berkedut bekas tanda tersenyum.

“Cepat berpakaian. Tak usah mandi, kita bisa melakukannya nanti.”

Kita!

Aku duduk, dan selimutnya turun di pinggangku, memperlihatkan sebagian tubuhku. Dia berdiri untuk memberiku ruang, matanya gelap.

“Jam berapa sekarang?”

“5:30 pagi.”

“Terasa seperti masih jam 03:00 pagi.”

“Kita tak punya banyak waktu. Aku sudah membiarkan kau tidur selama mungkin. Ayolah.”

“Tidak bisakah aku mandi?”

Dia mendesah.

“Jika kau mandi, aku ingin mandi bersamamu, kau dan aku tahu apa yang akan terjadi setelahnya –kita harus berangkat pagi-pagi ini. Ayolah.”

Dia begitu semangat. Seperti anak kecil, dia menjadi penuh harap dan semangat. Yang membuatku tersenyum.

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Ini kejutan. Seperti yang sudah aku katakan.”

Aku tak tahan untuk tak tersenyum ke arahnya.

“Oke.” Aku merangkak keluar dari tempat tidur dan mencari pakaianku.

Tentu saja semuanya sudah terlipat rapi di kursi samping tempat tidurku. Tapi mana celana dalamku? Aku melihat dia menata sepasang celana boxer Ralph Lauren-nya. Tak ada pilihan. Aku tak menemukan celana dalamku. Aku mengenakan boxernya, dan dia nyengir melihatku. Hmm, sepotong pakaian dalam Chanyeol yang lain. Dia membawa baju lengkap? Tapi untuk apa?

“Aku akan memberimu ruang sekarang karena kau sudah bangun.”

Chanyeol Keluar menuju ruang tamu, dan aku masuk ke kamar mandi. Aku punya kebutuhan untuk mencuci dengan segera. Tujuh menit kemudian, Aku sudah berada di ruang tamu, menggosok badan, menyikat gigi dan memakai jeans, kaosku, dan celana dalam Chanyeol. Chanyeol melirik ke atas dari meja makan kecil di mana dia sedang sarapan. Sarapan!

Astaga, saat ini.

“Makanlah,” katanya.

” Yeon Joo,” katanya dengan tegas, menarikku keluar dari lamunan.

Ini benar-benar masih terlalu pagi bagiku. Bagaimana aku bisa makan?

“Aku akan minum teh. Bisakah aku mendapatkan sarapan untuk nanti?”

Matanya curiga menatapku, dan aku tersenyum sangat manis.

“Jangan memperagakan pertunjukan didepanku, Yeon Joo,” dia memperingatkan dengan lembut.

“Aku akan makan nanti saat perutku sudah bangun.. oke?”

“Oke.” Dia menatap kearahku. “ sekarang minum tehmu.”

Aku duduk berhadapan dengannya, minum sambil melihat keindahannya. Apakah aku akan merasa cukup dari pria ini?

Saat kami meninggalkan ruangan, Chanyeol melempar sweter padaku.

“Kau akan membutuhkan itu.”

Aku menatapnya, bingung.

“Percayalah.” Dia menyeringai, membungkuk dan mencium bibirku dengan cepat, kemudian meraih tanganku dan kami berjalan keluar.

Di luar, relatif dingin, belum begitu terang masih menjelang fajar, petugas valet memberikan pada Chanyeol satu set kunci mobil sport mengkilat dengan warna lembut. Aku mengangkat alis pada Chanyeol, dan dia menyeringai ke arahku.

Dia membuka pintu mobil untukku dengan cara membungkuk secara berlebihan, dan aku naik. Dia sedang dalam suasana hati yang bagus.

“Kita mau kemana?”

“Nanti kau akan tahu.” Dia menyeringai saat dia mengendarai mobil.

Tak lama kita sampai di parkiran penthouse nya. Aku melirik ke arahnya bingung.

“kau pernah bilang akan mengunjungi omma-ku. Tadi pagi sebelum kau bangun, omma menelfon dan menyuruhku membawamu ke rumah” kata Chanyeol sambil keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untukku.

“lalu kenapa kau membawaku ke sini? Kau bisa mengantarkan aku ke rumah dulu” tanyaku penasaran saat kami berada di lift.

“karena semua kebutuhanmu ada disini.” Katanya sambil mengajakku keluar dari lift.

Chanyeol mengajakku ke arah kamarnya. Dan membuka lemari bajunya. Oh my.. semua baju dan sepatu yang dibelikan Chanyeol waktu itu sudah tertata rapi di lemarinya. Dia berbagi lemari denganku. Itu membuat aku tersipu.

“gunakan waktumu untuk bersiap-siap sayang.” Kata Chanyeol sambil mencium rambutku dan berlalu keluar kamar.

Aku mulai berjalan untuk melihat baju yang cocok aku gunakan untuk bertemu orangtua Chanyeol. Setelah memilih baju dan sepatu yang akan di gunakan. Aku keluar kamar untuk mencari Chanyeol. Aku baru teringat mobilku yang ada di hotel. Dan aku melihat Chanyeol ada di meja makan, sedang focus menatap ke laptopnya.

“jam berapa kita akan pergi?” tanyaku

Chanyeol menoleh kearahku dan tersenyum. Dia tidak meninggalkan tatapannya padaku sampai aku duduk dengannya, bergabung dengannya di meja makan.

“makan siang.” kata Chanyeol saat aku duduk.

“bagaimana mobilku yang ada di hotel?” kataku penasaran.

“aku sudah menyuruh seseorang untuk membawanya kembali ke rumahmu”

“oh”

“kau ingin sesuatu untuk dimakan?”

Aku menggeleng lemah.

“tapi kau tadi tak sarapan” katanya sambil meraih tanganku yang ada di meja makan.

“mmmm.. roti?” kataku

“oke, aku akan menyiapkannya untukmu” katanya bangkit dan berlalu ke dapur.

Tak selang berapa lama, Chanyeol membawakanku nampan yang berisikan beberapa lembar roti panggang, segelas susu dan beberapa macam selai.

“makanlah” katanya dengan nada bossy sambil meletakkan nampan itu di hadapanku.

“aku ingin kau makan juga bersamaku” kataku

“aku sedang kerja sayang” kata Chanyeol lembut.

“please”  kataku manja

“kalau begitu suapi aku” katanya sambil tersenyum jail dan aku pun menggangguk.

Aku menyukai adegan ini. Ketika Chanyeol tetap focus pada laptopnya, tetapi dia tetap menerima suapan dariku tanpa protes. Rasanya sangat menyenangkan.

—-

Sebelum jam satu Audi sudah memasuki halaman rumah yang cukup besar. Sangat mempesona, rumahnya besar, tapi terlihat sederhana.

“Apa kau siap untuk ini?” Tanya Chanyeol saat Mr-Kim berhenti di depan pintu depan yang mengesankan.

Aku mengangguk, dan dia menggenggam tanganku meremas meyakinkan.

“Pertama kali untukku juga,” bisiknya, lalu tersenyum jail.

Mukaku memerah.

Ibu Chanyeol ada di ambang pintu menunggu kami. Dia tampak sangat anggun dengan gaun biru pucat; di belakangnya aku menduga itu adalah ayah Chanyeol.

“Yeon Joo, kau sudah bertemu dengan ibuku. Ini ayahku.”

“sekali bertemu denganmu.” Aku tersenyum dan menjabat tangannya.
“Aku juga senang bertemu denganmu, Oh Yeon Joo.”

“Yeon Joo, sangat menyenangkan bertemu denganmu lagi.” Ibu Chanyeol melingkarkan lengannya dengan pelukan hangat.

“Masuklah, Sayang.”

“Apa dia sudah disini?” Aku mendengar suara jeritan dari dalam rumah. Aku melirik gugup pada Chanyeol.

“Itu Yoora, kakakku,” katanya sepertinya agak gusar, tapi tidak.

Seperti ada rasa sayang yang terpendam dalam ucapannya, suaranya bertambah lembut dan matanya berkerut saat dia menyebutkan namanya. Chanyeol jelas memuja dirinya. Ini adalah sebuah pengungkapan.

Dan dia datang dari dalam, rambutnya hitam berkilau, tinggi, dan cantik.

“Yeon Joo! Aku sudah mendengar banyak tentangmu.” Dia memelukku keras.

Ya ampun. Aku tak bisa untuk tidak tersenyum melihat antusiasmenya yang menggebu.

“senang bertemu denganmu,” bisikku saat dia menyeretku ke ruang depan yang luas.

Semua lantainya terbuat dari kayu berwarna gelap dan tangga dilapisi karpet antik menuju lantai lantai dua.

“Dia belum pernah mengajak gadis kerumah sebelumnya,” kata Yoora, matanya gelap bersinar penuh kegembiraan.

Aku melihat sekilas Chanyeol memutar matanya, dan aku mengangkat sebelah alis padanya. Dia menyempit matanya ke arahku.

Kami semua masuk ke ruang tamu. Yoora belum melepaskan tanganku. Ruangan ini luas, dengan fasilitas lengkap bernuansa warna krem, cokelat, dan biru muda, nyaman, berselera tinggi, dan sangat bergaya. Aku meihat seorang laki-laki, dan ada 2 anak kecil disana. Laki-laki itu langsung berdiri dan aku mengenalnya.

“Oh my god. Siwon Oppa” kataku senang sambil ke arahnya.

Siwon tersenyum senang, merentangkan tangannya dan memelukku dengan hangat.

“kalian saling mengenal?” suara Chanyeol terdengar cemburu.

“dia saudara Kwon Ji Yong. Dan kami pernah bertemu beberapa kali” jelas Siwon saat melepaskan pelukkannya dariku.

Saat aku mundur, ada Chanyeol berdiri di sisiku, melingkarkan lengannya di pinggangku, dia membentangkan jemarinya dan menarikku mendekat.

“senang bertemu denganmu lagi” kata Siwon lembut

“aku juga oppa”

“ini anakku, Taehyun dan Sarang” kata Siwon menunjuk anak laki-laki yang mungkin umurnya sekitar 4 atau 5 tahun dan anak perempuan yang masih kecil 1 tahun mungkin?

“akhirnya aku bertemu mereka” kataku senang saat melihat kedua anak Siwon.

“dan kau pasti sudah bertemu istriku Yoora tadi” kata Siwon bangga.

“ya” kataku mengangguk.

“Makan siang hampir siap,” kata ibu Chanyeol saat mengikuti Mia keluar dari ruang tamu.

Chanyeol mengerutkan kening saat dia menatap ke arahku.

“Duduk,” dia memerintah sambil menunjuk sofa mewah, dan aku mengikuti apa yang dikatakannya, dengan hati-hati menyilangkan kakiku. Dia duduk di sampingku tapi tak menyentuhku.

“Kami baru saja membicarakan tentang liburan,” kata ayah Chanyeol ramah.

“Siwon dan Yoora berencana untuk pergi ke Paris minggu depan.”

Aku melirik Siwon, dan dia menyeringai, matanya cerah dan melebar.

“oh ya? Berapa lama oppa akan pergi?” kataku penasaran

“2 atau 3 minggu. Ada bisnis disana. Ku dengar kau juga akan pergi ke Paris?”

“ya. Ada fashion show disana, dan Ji Yong ingin aku pergi juga”

“apakah kau akan pergi minggu depan juga?” Tanya ayah Chanyeol

“ah tidak, acaranya bulan depan. Masih lama”

“lalu apa rencanamu minggu depan?” Tanya ayah Chanyeol lagi.

“Aku berpikir akan pergi ke Jepang selama beberapa hari.” jawabku.

Chanyeol tercengang padaku, berkedip beberapa kali, ekspresinya tak terbaca. Oh sial. Aku belum menceritakan ini padanya.

“Jepang?” Bisiknya.

“Appaku ada disana dan dia ingin aku datang kesana untuk menjemputnya.”

“Rencanamu pergi, kapan?” Suaranya pelan.

“Besok malam.”

“Untuk berapa lama?” Tanya Christian, nada suaranya pura-pura lembut.

Ya ampun … dia benar-benar marah.

“Aku belum tahu. Tergantung Ji Yong memberiku berapa hari untuk liburan”

Dia mengatupkan rahangnya, dan Siwon melihat dan wajahnya sangat mengganggu. Dia tersenyum manis dibuat-buat.

“Yeon Joo berhak untuk liburan,” katanya tajam tertuju pada Chanyeol. Mengapa dia begitu memusuhinya? Apa masalahnya?

“Makan sudah siap di atas meja,” ibu Chanyeol mengumumkan.

Kami semua berdiri. Siwon menggendong Sarang dan memegang tangan Taehyun mengikuti ayah Chanyeol keluar dari ruangan. Aku bersiap mengikuti, tapi Chanyeol mencengkeram sikuku, membuatku henti.

“kenapa kau tidak bilang bahwa kau akan pergi?” Tanyanya mendesak.

Nada suaranya lembut, tapi dia menutupi kemarahannya.

“Aku bukan meninggalkanmu, aku akan menemui appa-ku.”

Dia menyempit matanya, kemudian dia seperti diingatkan sendiri. Melepaskan tanganku, dia memegang sikuku dan membawaku keluar dari ruang tamu.

“Pembicaraan ini belum berakhir,” bisiknya mengancam saat kita memasuki ruang makan.

Oh, ampun. Dia benar-benar marah. Padahal kami baik-baik saja tadi pagi.

Ruang makannya mengingatkanku pada saat makan malam pribadi kami kemarin malam. Sebuah lampu Kristal tergantung di atas meja kayu yang besar warna gelap dan ada hiasan ukiran cermin yang besar di dinding. Meja ditutupi taplak linen putih, rangkaian bunga warna merah muda diletakkan ditengah meja. Sangat menakjubkan.

Kami mengambil tempat duduk yang disediakan buat kami. Ayah Chanyeol di ujung meja, sementara aku duduk di sebelah kanannya, dan Chanyeol duduk di sampingku. Yoora mengambil tempat duduknya di hadapan Chanyeol.

“Di mana kau bertemu dengan Yeon Joo?” Tanya Yoora penasaran pada Chanyeol

“Sehun yang mengatur semua pertemuan kami. Dan tentu saja itu permintaan dari ayahnya. Kami bertemu di sebuah café 1 atau 2 minggu lalu.” Jelas Chanyeol

“siapa Sehun?” Tanya Yoora

“kakakku” kataku menjawab pertanyaan Yoora.

“ah, aku kira kau anak tunggal. Siwon belum menceritakannya padaku” kata Yoora sambil tersenyum.

“ah, tidak. Aku punya 1 saudara kandung”

“ah, ku dengar kau akan melanjutkan studimu setelah fashionshow di Paris selesai?” Tanya Siwon mendadak.

Oh my god.. Chanyeol pasti akan tambah marah.. aku belum menceritakan ini padanya.

“aku belum memikirkannya lagi” kataku sambil tersenyum.

Aku mengintip ke arah Chanyeol, dan dia menoleh padaku, kepalanya miring ke satu sisi.

“Apa?” Tanya dia.

“Tolong jangan marah padaku,” bisikku.

“Aku tak marah padamu.”

Aku menatapnya. Dia mendesah.

“Ya, aku marah padamu.” Dia menutup matanya sebentar.

“Apakah marah hingga tanganmu harus mengepal seperti itu?” Kataku gugup.

“Kalian bisik-bisik tentang apa?” Yoora menyela.

“Hanya tentang perjalananku ke Jepang,” kataku dengan manis.

Ibu Chanyeol muncul kembali membawa dua piring, diikuti dengan seorang wanita muda cantik dengan kuncir, berpakaian rapi berwarna biru pucat, membawa nampan berisi piring. Matanya langsung menemukan Chanyeol di ruangan ini. Mukanya memerah dan menatap ke arahnya dibawah kedipan bulu matanya yang panjang.

Ya ampun!

Di luar ruang makan suara telepon rumah berbunyi.

“Permisi,” ayah Chanyeol berdiri dan keluar.

“Terima kasih, Dasom,” kata ibu Chanyeol lembut.

Dasom mengangguk, dengan sembunyi-sembunyi melirik sekilas pada Chanyeol, lalu dia keluar.
Jadi keluarga Park memiliki pegawai, dan pegawai itu mengincar calon suamiku.

Continue…

Gimana? Gimana?
Suka?

Terimakasih sudah baca…
Maaf kalau ada typo..
Keita..

Ps: cerita disini terinspirasi dari Fifty Shades

55 thoughts on “Perfect Match Part 5

  1. wah itu si yeon joo nurut banget sih sama chanyeol,
    mudah tergoda nih..
    wah ada typo nih,
    namanya ada pemeran di film & novel F S O G
    ini bener ‘terinspirasi’ dari film itu ya
    terserah authornya sih mau bikin ff seperti apa,
    tapi saran aku sih jangan sampai ada typo..
    apalagi sampai ada nama cast di film F S O G..
    mudah-mudahan sih jalan cerita dan karakter cast di ff ini tidak sama dg film F S O G..
    next ..
    terima kasih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s