But, I Love You Part 13


 

Tittle: But, I Love You [Chapter 13]

 

Main Cast:

 

Shin Yoora

Cho Kyuhyun

 

Categori: NC18+, Hurt, Romance, Sad.

 

Author: Jeje

-=JJ=-

 

Mata Kyuhyun melebar, “AKU TIDAK SEPERTI ITU! Young Min lebih biadab dari pada siapapun!” Kyuhyun meronta-ronta, ia bahkan melemparkan apapun yang berada di sekitarnya. Lampu, bingkai, bantal, selimut, apapun itu.

 

Shim Changmin sudah tak peduli akan seberantakan apa kamarnya nanti. Yang terpenting setelah ini Kyuhyun bisa lebih baik atau jika tidak, terpaksa Changmin harus menyeret Kyuhyun ke rumah sakit dan membuatnya mendekam di dalam sana untuk beberapa waktu.

 

-=JJ=-

 

Hyukjae membuka pintu itu dengan perlahan, sangat perlahan agar tak ada satupun suara yang terdengar. Ia ingin melihat, mungkin hanya sebentar saja. Selagi Kyuhyun belum datang, ia ingin memastikan bahwa wanita yang pernah atau bahkan masih disukainya, baik-baik saja.

 

Suhu yang lebih hangat langsung menyapa kulit Hyukjae. Satu hal yang menandakan bahwa suhu ini sudah cukup nyaman untuk Shin Yoora. Langkah kakinya membawa ia lebih dekat ke sudut yang tertutupi oleh tirai putih. Hyukjae menyibaknya perlahan dan terlihatlah seorang wanita terbaring lemah di sana.

 

Wanita itu masih tetap menutup matanya dengan tenang. Bahkan Hyukjae sempat mengira bahwa wanita itu sudah meninggalkan dunia ini, jika saja layar itu tidak menunjukkan garis berliku. Namun, untunglah, sepertinya Yoora sudah lebih baik dari yang Hyukjae lihat terakhir kali.

 

Hyukjae benar-benar mensyukuri bahwa ia dengan cepat membawa Yoora ke rumah sakit. Ia juga sangat bersyukur bahwa Yoora meninggalkan paper bag-nya. Jika saja…jika saja Yoora tidak meninggalkan paper bag itu di mobilnya, mungkin saat ini…saat ini Shin Yoora sudah…

 

Hyukjae benar-benar tidak bisa membayangkan jika ia terlambat semenit saja, mungkin nyawa Shin Yoora sudah tidak ada di sana. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika itu sampai terjadi. Bukan hanya dirinya yang akan terluka, namun sepupu datarnya itu pasti juga akan sangat terluka. Mungkin jika Shin Yoora tidak terselamatkan, Hyukjae juga akan segera menyusulnya atau Kyuhyun tidak akan membiarkan ia hidup dengan damai.

 

“Bodoh.” Desis Hyukjae pelan.Masih saja ia memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti itu. ‘Toh, Yoora selamat dan tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Hyukjae juga sangat yakin bahwa Kyuhyun akan segera menemukan pelakunya.Pria itu memiliki relasi yang luas, Hyukjae yakin, semua ini hanya tinggal menghitung waktunya saja.

 

“Shin Yoora, tolong jangan seperti ini lagi. Kau membuat banyak orang khawatir, jadi…tetap baik-baik saja.” Ucap Hyukjae terakhir kali sebelum memilih keluar dari ruangan itu. Berada di dalam terlalu lama benar-benar menguji dirinya. Ia sangat ingin memeluk Yoora, namun ia tak mampu. Yoora milik sepupunya dan ia bukan siapa-siapa.

 

“Lee Hyukjae!” Hyukjae baru saja menutup pintu ruangan Yoora saat ia mendengar suara Changmin yang memanggilnya dari kejauhan. Ia langsung menoleh dan menemukan Changmin serta Kyuhyun sedang berjalan ke arahnya.

 

“Kenapa kau lama sekali?” Hyukjae bertanya dengan kesal tepat ketika Changmin berdiri tegak di hadapannya. Changmin baru saja ingin menjawab, namun suara pintu yang terbuka mengalihkan mereka.

 

Kyuhyun masuk ke dalam.

 

Changmin baru saja ingin mencegahnya namun Hyukjae lebih cepat menarik tangan Changmin, “Biarlah, mungkin ia terlalu khawatir.” Ucap Hyukjae yang lebih tenang membiarkan Kyuhyun masuk ke dalam. Sedangkan Changmin yang masih ragu dengan keadaan Kyuhyun, akhirnya hanya bisa pasrah dan mempercayai Kyuhyun.

 

-=JJ=-

 

Kyuhyun’s POV

 

Aku membuka pintu itu dengan cepat, tak peduli dengan Changmin dan Hyukjae di sana. Aku ingin melihatnya dan tidak bisa menunggu lagi.

 

Ruangan itu lapang, hanya ada satu ranjang yang tertutup tirai di sudut dan aku yakin itu ranjang Yoora. Kututup pintu itu dengan lebih pelan. Membiarkan suasana di sini tetap tenang, akupun berjalan dengan perlahan.

 

Jarak dari pintu ke ranjang sebetulnya tidak terlalu jauh. Namun entah mengapa aku merasa jaraknya menjadi terlalu jauh. Sangat jauh hingga otakku sempat memutar ingatan beberapa jam yang lalu. Ingatan saat Yoora memohon untuk tetap mempertahankan bayinya, bayiku, bayi kami.

 

Aku ingat, Yoora sudah sangat lemah namun wanita itu masih sangat kuat untuk berbicara tentang membesarkan anak yang masih berada di kandungannya. Dan aku justru, menolaknya dengan mentah-mentah.

 

Jangankan membesarkannya, anakku berada di perutmu saja aku sudah tidak sudi.

 

Bukannya aku tidak ingin membesarkannya, bukan juga karena aku tidak menginginkannya. Ayah mana yang tidak menginginkan darah dagingnya lahir ke dunia? Namun terlalu jauh dari perkiraanku bahwa wanita yang akan melahirkannya adalah Shin Yoora.

 

Wanita itu…aku tidak tahu bagaimana, aku hanya tidak ingin. Rasa marah ini sudah merembet kemana-mana hingga aku tak ingin sama sekali terhubung dengan Yoora. Namun dengan bodohnya, aku justru menarik Yoora semakin dekat hingga sekarang, calon anakku berada dalam rahimnya.

 

Bodoh jika ada yang sempat berfikir bahwa aku akan benar-benar tega membunuh anakku sendiri. Yang aku benci ayah dari ibunya, kenapa aku harus membunuh bayinya? Bayi itu anakku, darah dagingku. Tidak pantas aku membunuh seorang anak yang bahkan belum melihat dunia.

 

Walau bagaimana pun, aku pernah merasakan menjadi seorang anak. Anak kecil yang polos dan tidak tahu apapun. Meski hanya sesaat sebelum berubah dengan cepat menjadi masa kanak-kanak yang mengerikan, aku menikmatinya. Dan aku ingin anakku juga merasakan bagaimana menyenangkannya menjadi seorang anak-anak serta bagaimana indahnya masa itu. Aku ingin anakku bahagia dan tak ingin ia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku dan adikku rasakan.

 

Jadi…tidakkah lebih baik kau membunuhnya dan membunuhku sekaligus?

 

Saat itu, Yoora memang sudah menyulut emosiku. Aku sudah benar-benar gelap mata, hingga membeturkan kepalanya sekali lagi ke meja itu. Yoora menutup matanya, namun aku tahu ia belum mati. Ia masih hidup dan bernapas dengan cukup baik untuk seseorang yang sekarat.

 

Aku membawanya menuju kamar kami, dan meletakkannya di bath up. Saat itu aku sangat ingin membenturkan kepalanya lagi dan lagi hingga remuk tak bersisa sebelum aku menenggelamkannya dalam air, namun satu hal menghentikanku…

 

Langkahku terhenti di samping ranjang Yoora. Wanita itu terbaring lemah dengan peralatan-peralatan yang mengelilinginya. Melihatnya terlelap dengan tenang, tanganku terangkat menyentuh perutnya yang tertutup selimut.

 

Satu hal yang menghentikanku adalah dirinya…bayiku, bayiku menendang. Aku tidak tahu saat itu aku berilusi atau bagaimana, namun yang kuyakini bahwa bayiku bergerak seakan-akan mengingatkanku bahwa ia masih ada disana. Ia mengingatkanku bahwa aku harus berhenti dan menyelamatkannya.

 

Aku benar-benar berhenti saat itu dan merasakannya menendang sekali lagi. Aku benar-benar takjub, namun hanya sesaat. Karena setelahnya aku benar-benar panik. Bagaimana jika Yoora benar-benar mati dan membawa bayiku ikut bersamanya? Aku tidak bisa berfikir dan hanya Changmin-lah yang saat itu terlintas dalam fikiranku.

 

Bertahanlah ,jangan pernah pergi sebelum aku membalas semuanya. Aku berkata seperti itu di telinganya sebelum benar-benar pergi dari sana. Pergi meninggalkan mereka dengan sangat pengecut.

 

Tanganku beralih pada tangan Yoora yang terkulai lemah. Tangannya lebih hangat dibanding tanganku yang hampir beku. Aku menggenggamnya perlahan namun semakin lama semakin erat. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar menginginkan Yoora hidup bersamaku dan anakku.

 

“Dia datang…kau tahu?” Ucapku perlahan di telinganya. Lalu aku melanjutkan, “Ia memakiku…”

 

“Ia sangat mencintaimu bahkan lebih besar…lebih besar dibanding ia…ia mencintaiku. Karena itu…karena itu…jangan pergi, jangan tinggalkan aku…”

 

Kyuhyun’s POV END

 

-=JJ=-

 

Changmin baru saja selesai membaca laporan kesehatan Yoora di ruangannya. Yoora ditangani dengan cukup cepat oleh dokter jaga yang cukup handal. Dan Changmin bersyukur bahwa yang menanganinya bukan Chaerin, karena sepupunya itu akan sangat menjengkelkan jika penasaran tentang suatu hal.

 

Hari ini terasa sangat panjang, bahkan Changmin sendiri tidak ingat kapan ia beristirahat. Tolong sebentar saja, biarkan ia memejamkan matanya. Changmin berharap semuanya dalam keadaan baik-baik saja hingga ia terbangun nanti. Namun sayangnya Dewi Fortuna tidak sedang berpihak padanya karena tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu ruangannya dengan cukup kencang. Sial.

 

Changmin seketika membuka matanya dan mendapati Kyuhyun-lah yang berdiri di sana. Pria itu menatap Changmin datar sebelum berjalan melewati Changmin dan duduk dengan santai di sofa yang ada.

 

“Maaf pak, sesi kita sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Jadi—”

 

“Ia datang…” potong Kyuhyun dengan cepat, bahkan tanpa memperdulikan Changmin yang sudah sangat lelah di sana.

 

Changmin mengernyit heran mendengar ucapan Kyuhyun. Baru saja pria itu ingin bertanya, namun Kyuhyun lebih dulu menjelaskan.”Dia datang…anakku. Dia datang ke dalam mimpiku.”

 

Ruangan ini serba putih, sangat putih hingga Kyuhyun tidak tahu dimana ujung dari ruangan ini. Kyuhyun berjalan dengan perlahan. Tak penting dimana, yang penting ia harus terus berjalan siapa tahu nanti ia akan sampai di ujung. Begitu fikirnya.

 

Setelah lama sekali berjalan, akhirnya Kyuhyun menyerah. Ia sudah lelah dan tidak sanggup melangkah lagi. Dengan tenaga yang tinggal sedikit itu, Kyuhyun memilih duduk di tengah-tengah ruangan putih itu. Kyuhyun memandang lurus ke depan, semuanya putih. Namun perlahan terlihat sosok lain berjalan dari sana.

 

Sosok itu berjalan ke arahnya. Awalnya ia hanya seperti sosok hitam namun semakin lama semakin jelas bahwa sosok itu adalah seorang remaja. Kyuhyun mengernyit heran, apakah anak ini tersasar sama sepertinya?

 

Anak itu berhenti tepat di hadapannya dan membuat Kyuhyun berdiri menyambutnya. Kyuhyun memperkirakan tinggi anak itu mungkin sebahunya. Wajah anak itu datar, dengan rambut coklat yang agak ikal.

 

“Kau…siapa?” Tanya Kyuhyun.

 

“Aku membencimu…” ucap anak itu tiba-tiba yang membuat Kyuhyun semakin heran. Bagaimana bisa anak itu membencinya sementara mereka baru saja bertemu?

 

“Kita baru saja bertemu, bagaimana—“

 

“Kau melukai ibuku. Ibuku tidak bersalah! Ibuku tidak tahu apapun. Kau tak punya alasan untuk membunuhnya! Kau penjahat, kau yang bersalah. Kau egois, kau tidak memikirkan aku dan ibuku. Kau bahkan tidak tahu namaku!” Ia memaki tanpa henti membuat Kyuhyun semakin tak mengerti apa yang sedang terjadi. Pria itu bahkan tak bisa menanyakan apapun, mulutnya seakan dilakban hingga ia hanya bisa berdiri mematung mendengarkan anak itu memakinya sesuka hati.

 

“Aku membencimu. Ibu tidak tahu apapun, kau tak bisa menyalahkannya seperti itu. Ibuku juga menderita sama sepertimu. Kau tidak bisa membuat ibuku tambah menderita lagi.” Dengan wajah yang tetap datar, ia terus memaki Kyuhyun hingga akhirnya ia berhenti. Napasnya naik turunsetelah ia mengucapkan makian yang panjang. Lalu pada akhirnya ia mengatakan, “Aku membencimu.”Dan berbalik begitu saja.

 

“Tunggu—” ucap Kyuhyun, akhirnya ia bisa mengatakan sesuatu.

 

Anak itu berhenti, lalu menoleh perlahan ke arah Kyuhyun. Terlihat wajah yang datar itu telah berubah menjadi wajah penuh kesedihan dengan linangan air mata yang terlihat jelas di sana. “Tapi…walau bagaimanapun…aku…aku tetap mencintai ayah.” Ucapnya pelan namun Kyuhyun masih dapat mendengarnya.

 

“Ingat aku, Jino, Cho Jino.” Ucap anak itu terakhir kali sebelum hilang ditelan cahaya.

 

Kyuhyun menghela napas yang entah sejak kapan ia tahan. Air matanya berlinang setelah ia mengakhiri ceritanya. Mimpi itu…entah Kyuhyun harus menganggap itu mimpi indah atau buruk, namun Kyuhyun berterima kasih, setidaknya mimpi itu membawa Kyuhyun kembali pada cahaya.

 

“Itu namanya anugerah Tuhan, Tuhan masih mengingkan kau untuk berjalan dengan lurus. Lalu, setelah ini, kau akan bagaimana?” Pertanyaan Changmin membuat Kyuhyun tersentak, ia belum memikirkan sejauh ini.

 

Melihat Kyuhyun yang seperti itu, membuat Changmin berdecak sebal, “Aku yakin Yoora akan pulih dengan cepat. Kau tidak bisa kembali ke apartemen itu, Yoora setidaknya pasti memiliki sedikit trauma pada apartemen itu.”Ucap Changmin.

 

Kyuhyun berfikir sebentar, lalu akhirnya berkata, “Aku akan mengurusnya, yang penting cukup jauh dari jangkauan ayah.”

 

-=JJ=-

 

 

Hari berlalu dengan cukup cepat, namun tidak untuk Kyuhyun. Ini sudah tujuh hari sejak kejadian itu, namun Yoora belum sadar hingga saat ini. Dan tujuh hari pula Kyuhyun selalu di sana, menanti kesadaran Yoora dengan cemas.

 

Menurut Kyuhyun, wanita itu terlalu lama untuk dikatakan tertidur. Waktu 24 jamnya yang berharga bahkan hampir dihabiskan hanya untuk menunggu Yoora membuka matanya. Kyuhyun tahu, mungkin Yoora sedang menghukumnya. Mungkin Yoora sangat marah padanya, hingga mungkin nanti ia tak ingin bertemu dengannya lagi. Namun sekali saja, biarkan Kyuhyun melihat Yoora membuka matanya agar Kyuhyun tahu bahwa Yoora selamat dan hidup.

 

Kyuhyun menatap Yoora dalam diam. Ia tak melakukan apapun, hanya duduk di hadapannya selama berjam-jam. Bahkan Kyuhyun mulai terlalu takut untuk hanya menyentuh Yoora. Bayangan ia menggila seperti kemarin terus menghantuinya. Ia sendiri ketakutan. Ia takut suatu saat ia akan kembali seperti kemarin. Menyakiti Yoora, bahkan mungkin bisa saja membunuh wanita itu.

 

Mimpi-mimpi yang telah lama hilang juga mulai menghantuinya lagi. Kilasan-kilasan masa lalu yang selalu menghampirinya saat ia terlelap. Kyuhyun mulai takut bahwa ia tidak bisa menahannya, menahan rasa marah sekaligus rasa ketidakadilan yang masih menggerogoti fikirannya. Katakanlah Kyuhyun memang tengah berjuang, berjuang melawan rasa marah dalam dirinya, berjuang melawan semua perasaanmasa lalunya. Seperti apa yang dikatakan oleh Jino saat itu, ia tidak bisa menghakimi Shin Yoora. Yang ia benci adalah ayahnya, ia tidak bisa membalas semua kesakitan ini pada putrinya.

 

Bukan Yoora, Yoora tidak bersalah. Kata-kata itulah yang selalu ia ulang dalam hati dan fikirannya. Meski ada sisi lain dalam  dirinya yang masih belum terima, namun Kyuhyun terus berusaha untuk menanamkan keyakinan baru dalam dirinya. Keyakinan bahwa Yoora juga sama menderita seperti dirinya, bahwa Yoora juga terluka sama seperti dirinya, bahwa Yoora tak ada sangkut-pautnya dengan apa yang telah ayahnya lakukan. Dengan kata lain Yoora sama sekali tidak tahu apa-apa.

 

Kyuhyun masih sama, ia memandang Yoora dan duduk terdiam di tempat yang sama. Namun detik selanjutnya, suasana hening terpecah saat terdengar suara piano yang mengalun pelan. Suara ponselnya. Ia mengambil napasnya dalam, sebelum menghelanya pelan. Lalu mengambil ponsel tersebut dalam saku jasnya.

 

“Ya, halo” ucapnya pelan. Terdengar suara sekretarisnya di ujung sana. Wanita itu berbicara panjang lebar mengenai ini dan itu, lalu pada akhirnya Kyuhyun menjawab, “Aku akan mengurusnya, tahan hingga 20 menit.” Dan panggilan itu pun berakhir. Kyuhyun bangkit dari duduknya, menatap Yoora sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.

 

Dan Kyuhyun tak pernah tau bahwa beberapa detik setelah kepergiannya, Yoora mulai menggerakkan tangannya. Dan detik selanjutnya, wanita yang ia tunggui beberapa hari ini mulai membuka matanya.

 

-=JJ=-

 

Matahari bersinar dengan cukup cerah di luar sana, padahal musim dingin belum berakhir. Ini bahkan masih awal Januari, namun cuaca terasa begitu hangat. Bukankah ini termasuk tanda yang baik dari Tuhan untuknya?

 

Shin Yoora menghela napas perlahan. Ia masih tak menyangka bahwa ia masih berada di dunia ini. Ia fikir, ia tak akan pernah melihat matahari lagi, namun nyatanya ia masih bisa melihatnya. Bahkan ia masih bisa melihat awan berarak di luar sana. Yoora benar-benar tak menyangka bahwa ia masih dibiarkan hidup bersama anaknya dan sekarang ia benar-benar merasa lebih baik. Mungkin ini yang dikatakan seperti terlahir kembali.

 

Seorang perawat memberitahunya bahwa ia sudah tertidur selama tujuh hari dengan keadaan yang stabil. Entah apa yang terjadi, tubuhnya menandakan semua baik, namun dirinya masih terlalu nyaman dalam tidurnya. Sejujurnya, Yoora juga tidak mengerti bagaimana ia bisa tertidur selama itu. Yoora sendiri tak menyangka bahwa ia bisa bertahan, apalagi menjawab pertanyaan bagaimana ia bisa tertidur selama itu? Apapun itu, yang penting sekarang adalah bayinya masih baik dan tak ada hal yang berbahaya terjadi pada bayinya. Yoora sangat mensyukuri itu.

 

Suara pintu yang terbuka perlahan membuat perhatian Yoora teralih, meski sangat perlahan seakan tak ingin mengganggu orang yang berada di dalam, Yoora dapat mendengarnya dengan cukup jelas. Entahlah, telinganya menjadi lebih peka sejak ia terbangun beberapa jam yang lalu.

 

Tak lama sosok Shim Changmin telah berdiri di hadapannya, jangan lupakan senyum khas player sudah tercetak jelas di wajahnya. “Hai.” Sapanya, jangan lupakan lambaian tangannya yang membuat Yoora sedikit tertawa. Hell, Changmin menyapanya seakan-akan pria itu sedang menyapa anak kecil, bagaimana ia bisa tidak tertawa?

 

“Hai.” Balas Yoora pelan.

 

“Bisa aku duduk?” Tanya pria itu dan Yoora hanya menjawab dengan gerakan matanya saja, mempersilahkan dokter muda itu duduk di kursi yang ada.

 

Changmin menatap Yoora dengan seksama sebelum pria itu bertanya lagi, “Kau merasa lebih baik?” Tanpa ragu Yoora mengangguk, sudah ia katakan bukan bahwa ia merasa sangat baik.

 

Changmin diam sebentar, ia sedang menimbang-nimbang haruskah ia menanyakan ini atau tidak. Yoora telah melewati hal yang cukup berat. Changmin hanya ingin tahu apakah psikis Yoora tetap baik-baik saja atau bagaimana.

 

Dan setelah melakukan pertimbangan selama beberapa detik, akhirnya Changmin memutuskan untuk mengatakan, “Tak ada yang ingin kau tanyakan padaku?”

 

Yoora terdiam, bukannya ia tak tahu harus bertanya apa. Namun ia hanya takut menanyakannya. Ia sudah menahannya sejak ia terbangun beberapa jam yang lalu, ia ingin mengabaikannya saja. Namun ternyata tak semudah itu, rasa keingintahu-annya ternyata lebih besar dibanding apapun.

 

“Aku tahu ini semua Kyuhyun yang lakukan…” ucap Changmin lagi yang membuat Yoora sedikit terkejut. Apakah Changmin mengetahui sebanyak itu? Apa Kyuhyun menceritakannya? Banyak pertanyaan bermunculan di otak Yoora saat ini. Namun tak ada satu pun jawaban yang dapat ia temukan.

 

Changmin menghela napas sebelum kembali berkata, “Pria itu…memang gila, kau tahu. Namun maafkan aku…sebagai sahabat sekaligus hyung-nya, aku tak bisa membuka kasus ini untukmu. Karena…karena…”

 

“Tak perlu, aku tidak ingin menggugatnya.” Sela Shin Yoora cepat, ia bahkan tak memikirkan akan membawa kasus ini ke pengadilan. “Kyuhyun…sekarang dimana? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Yoora.

 

Changmin mendecih saat mendengar pertanyaan Yoora, bisa-bisanya wanita ini mengkhawatirkan seorang pria yang hampir membunuhnya. “Cukup baik untuk mengurus perusahaannya.” Jawab Changmin seakan-akan meluapkan rasa frustasinya terhadap pria datar itu.

 

Beberapa detik suasana kembali hening dengan mereka yang masing-masing berkutat pada fikirannya. Lalu tiba-tiba Changmin bertanya, “Kau takut padanya?”

 

Yoora terdiam beberapa detik dan akhirnya menjawab dengan sedikit ragu, “Aku…aku tidak bisa bilang bahwa aku tidak takut. Namun…Kyuhyun pasti memiliki alasan dibalik sifatnya dan aku tidak tahu itu.”

 

“Justru aku akan merasa heran jika kau tidak takut. Tapi saat ini, cobalah mempercayai Kyuhyun kembali. Aku sudah bicara padanya dan semua jawabannya adalah hal-hal baik. Aku akan membantu sebisaku.” Ucap Changmin sambil tersenyum sebelum pria itu berdiri sambil merapihkan sedikit jas putihnya yang kusut, “Baiklah, pasienku pasti sudah mengantri di luar sana. Kau baik-baiklah, jangan fikirkan hal-hal tidak penting. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa memanggilku atau perawat-perawat itu. Sampai jumpa.” Pamit Changmin dan Yoora hanya bisa mengiyakan dan tersenyum. Setidaknya berbicara dengan Changmin dapat membuat perasaannya lebih tenang.

 

-=JJ=-

 

Sudah hampir dua hari Yoora bangun dari tidur panjangnya, namun hingga saat ini pun ia tidak melihat Kyuhyun. Entah bagaimana ia memikirkan seorang pria yang bahkan tidak memikirkannya? Yoora tidak tahu dimana letak kesalahan dalam otaknya yang membuat dirinya selalu memikirkan keberadaan dan apa yang tengah dilakukan oleh pria itu. Yoora tahu ini terdengar gila, namun ada perasaan dalam dirinya yang tak bisa ia tepis dengan mudah. Ia…ia merindukan Kyuhyun, merindukan pria yang hampir membunuhnya.

 

Ini bahkan sudah lewat tengah malam, namun Yoora tidak bisa berhenti untuk memikirkan Kyuhyun. Setiap ia mencoba untuk terlelap, Kyuhyun selalu terbayang dalam benaknya. Ia bahkan tak bisa menutup matanya hingga membuatnya hanya terbaring miring sambil menatap lampu-lampu yang bersinar di luar sana.

 

Ruangan ini sudah gelap sejak beberapa jam yang lalu dan Yoora pun sudah tidak mendengar aktifitas di luar sana. Mungkin para perawat sudah ada yang pulang atau sudah bersiap di posnya masing-masing. Dokter pun mungkin hanya tersisa sedikit saja. Suasana di sini begitu hening dan sepi hingga Yoora hanya bisa mengalihkan fikirannya pada lampu-lampu di luar sana.

 

Namun ditengah-tengah suasana sepi ini, tiba-tiba Yoora mendengar suara langkah kaki yang mendekat di luar. Yoora awalnya ingin mengabaikannya saja, namun suara pintu ruangannya yang terbuka membuat ia merasa buruk. Fikirannya bertanya-tanya, siapakah yang datang saat malam-malam seperti ini?

 

Yoora tidak bisa menoleh dan melihat siapa disana, akhirnya ia memutuskan untuk berpura-pura memejamkan matanya. Tangannya terkepal dalam selimut, semakin erat saat suatu bayangan seakan menutup pencahayaan yang masuk.

 

Yoora tidak bisa menebak siapa itu, ia tak bisa melihatnya. Bahkan Yoora tak berani hanya untuk membuka matanya sedikit saja, mengintip siapa yang berada disana.

 

“Maaf baru datang melihatmu…” Yoora terdiam. Seketika rasa takutnya mulai sirna karena suara ini. Suara yang sangat dikenalinya, suara Kyuhyun, suara pria yang hampir membunuhnya serta anaknya.

 

Meski sekarang ia tahu bahwa orang ini adalah Kyuhyun, Yoora tetap memilih memejamkan matanya. Ia hanya…ia hanya ingin tahu apa yang akan dilakukan Cho Kyuhyun. Jika memang pria ini berniat membunuhnya sekali lagi, Yoora mungkin bisa menerimanya  tentu setelah Kyuhyun memberikan alasan yang masuk akal.

 

“Bukan karena aku tak ingin. Aku hanya takut kau tak ingin melihatku…” suara itu memang pelan, bahkan terlalu pelan untuk di dengar dengan jarak satu meter. Namun sudah dikatakan dari awal bahwa telinga Yoora kini sudah jauh lebih peka.

 

“Aku…bersalah.Maafkan aku…” Ucap pria itu lagi.

 

Suara itu memang datar, bahkan terlalu datar untuk orang yang merasa bersalah. Namun entah mengapa Yoora tahu bahwa kalimat itu adalah kalimat paling tulus yang pernah Kyuhyun ucapkan. Yoora tahu bahwa di dalam hati pria itu, ia sangat menyesali apa yang telah ia lakukan. Kyuhyun memang selalu seperti itu, jika tidak seperti ini, mungkin Yoora tak akan pernah mendengar permintaan maaf dari pria itu.

 

Lalu beberapa detik setelah Kyuhyun mengucapkan permohonan maaf, terdengar derap langkah yang mulai menjauh. Hanya beberapa kali, dan Yoora tak dapat mendengarnya lagi. Mungkin Kyuhyun telah pergi. Sesingkat itukah?

 

Yoora tak dapat menahannya lagi, dengan masih terpejam, air matanya meluap begitu saja. Ia menahan mati-matian untuk tidak menangis saat mendengar suara itu lagi, menahan untuk tidak memeluk Kyuhyun. Jujur saja, Yoora tidak bisa menampik bahwa ia benar-benar merindukan Kyuhyun.

 

Sesesak inikah rasa rindu itu? Semenyakitkan inikah saat merindukan seseorang yang justru hampir membunuh dirinya? Sekosong inikah rasa kehilangan atas ketidak-hadiran seorang yang ia kasihi?

 

Yoora membuka matanya perlahan. Pandangannya memburam karena air mata yang menggenang terlalu banyak, namun perlahan semua menjelas.Tiba-tiba mata Yoora melebar,betapa terkejutnya diabahwa sosok itu masih berdiri disana, Yoora bahkan masih mengenali punggungnya meski dalam gelap seperti inu.

 

Yoora masih terlalu terkejut ketika tiba-tiba Kyuhyun menoleh ke arahnya. Ekspresi memang bisa menipu, namun mata mengatakan segalanya. Pria itu sama terkejutnya seperti Yoora. Bahkan tubuhnya menegang seketika saat matanya bertemu dengan mata Yoora.

 

Dengan panik pria itu langsung bergegas meninggalkan Yoora, namun Yoora tidak diam saja. Wanita itu ingin mengetahui banyak hal. Lalu akhirnya dengan keberanian yang entah sejak kapan ia kumpulkan, Yoora memanggil Kyuhyun dengan lantang, “Cho Kyuhyun!” Beruntung pria itu berhenti melangkah, meski tak menoleh sama sekali, namun Yoora tahu bahwa Kyuhyun siap mendengarkan.

 

“Jangan pergi seperti ini.” Ucap Yoora pelan, namun ia kembali menegaskan, “Jangan pergi seperti itu!”

 

“Kau selalu seperti itu. Membuatku kebingungan atas semua sikapmu. Kau bahkan sangat baik, namun hanya…hanya dengan lima tahun kau berubah sangat jauh. Aku bahkan tidak bisa mengenalimu lagi, kau seperti…seperti terlalu jauh untuk ku jangkau. Kau…terasa seperti bukan Kyuhyun yang dulu…” suara Yoora semakin pelan di akhir. Air matanya terlalu banyak mengalir dan dadanya terlalu sesak untuk berbicara lebih banyak.

 

Tanpa Yoora tahu, Kyuhyun mengepalkan tangannya dengan erat. Pria itu sedang menahan untuk tidak berbalik dan memeluk Yoora. Pria itu sedang berperang dengan otaknya. Ia tak mau jika ia berbalik sekarang, ia akan menyesal nantinya.

 

“Kau…berubah. Namun bodohnya…bodohnya meski aku tahu kau berubah begitu banyak, aku…aku tetap memiliki rasa yang sama. Aku…aku mencintaimu…”Kepalan tangan Kyuhyun semakin erat saat pernyataan itu mengalun di telinganya dan terus berulang seperti kaset rusak.

 

Pada akhirnya pria itu menyerah. Dengan segala keegoisannya, ia berbalik, tak peduli dengan apapun resikonya. Dengan langkah lebar ia menghampiri Yoora, menggapai wanita itu dan memeluknya dengan erat.Kyuhyun tak pernah ingat kapan terakhir kali ia menangis, namun justru malam ini ia menangis karena ucapan Yoora yang menyentuh hatinya. Pernyataan Yoora begitu berpengaruh pada hati dan otaknya.

 

“Maaf…maafkan aku…” ia mengecup lembut kepala Yoora, sangat lembut karena ia sendiri takut perbuatannya akan kembali menyakiti Yoora. Melukai wanita itu, baik fisik maupun batinnya. Kyuhyun tak pernah lebih takut daripada ini.

 

“Maaf, maafkan aku Shin Yoora…”

 

-=JJ=-

 

Yoora menatap Kyuhyun yang masih asyik berkutat dengan buku di tangannya. Pria itu sudah duduk di sofa sana sambil menyilangkan kakinya sejak sekitar dua jam yang lalu. Bahkan Yoora saja sudah merasa kebas sendiri melihat Kyuhyun, tapi entah mengapa pria itu bisa bertahan pada posisinya selama dua jam? Benar-benar luar biasa gila.

 

Pagi ini Yoora terbangun dengan perasaan tak menentu. Ia kira semalam hanyalah mimpi semata karena ia sangat merindukan Kyuhyun. Namun nyatanya, ia tidak bermimpi. Kyuhyun datang pagi ini, membawakan pancake keju kesukaannya. Tapi hanya sekedar sampai disana. Semua fantasi tentang romantisme di otak Yoora berakhir saat Kyuhyun mengambil bukunya dan duduk di sana. Pria datarnya memang sulit untuk berubah seperti dulu lagi. Lima tahun sepertinya memang berdampak besar pada sifat dan sikap Kyuhyun.

 

Tapi ini sudah benar-benar keterlaluan! Bayangkan, dua jam yang ia lakukan hanya menatap Kyuhyun yang sedang membaca. Bahkan pria itu tak menoleh sedikitpun padanya. Pria itu diam bagai pajangan yang memang sengaja didudukkan di sofa. Yoora menjadi kesal sendiri, untuk apa pria itu datang hanya membuat perasaan Yoora semakin buruk?

 

Dengan wajah tertekuk, Yoora memilih bangkit dari tempat tidurnya. Ia bahkan sengaja membuat bunyi segaduh mungkin agar Kyuhyun melihatnya, namun nyatanya tidak sama sekali! Pria itu masih fokus pada buku yang bahkan menutupi seluruh wajahnya.

 

Dengan perlahan, ia mulai berdiri. Ia mendorong tiang infusnya dan berjalan menghampiri Kyuhyun yang berada di sofa tepat di depan ranjangnya. Yoora bahkan heran sendiri, suara dorongan tiang infusnya bahkan sudah cukup berisik, namun Kyuhyun tetap diam di tempatnya.

 

“Kyu…” panggilnya pelan saat ia sudah berada di jarak yang cukup dekat dengan Kyuhyun. Pria itu masih dalam posisi yang sama, bahkan menyahut pun tidak. “Kyuhyun…” panggil Yoora lebih keras, namun hasilnya tetap nihil.

 

“Kyu-”

 

PLUG!

 

Ucapannya terhenti saat melihat buku itu tiba-tiba jatuh di kaki Kyuhyun. Mata Yoora melebar saat menatap buku itu jatuh di bawah sana. Lalu perlahan matanya mendongak ke atas menatap Kyuhyun yang masih dalam posisi yang sama namun ternyata matanya tertutup!

 

Fikiran-fikiran buruk langsung menghantui Yoora saat itu juga, namun saat ia mendekat untuk merasakan napas Kyuhyun. Ternyata pria itu hanya tertidur karena napasnya sangat teratur. Yoora terkikik, ada dalam sisinya yang merasa lucu saat mengetahuinya, namun sisi lain juga merasa kasihan pada Kyuhyun yang bahkan dapat tertidur dalam posisi ini. Apakah pria itu sangat lelah?

 

Yoora menatap Kyuhyun dalam selama beberapa detik, wajah pria itu terlihat begitu lelah. Mungkin ia juga mengalami hari-hari yang berat belakangan ini. Mungkin Kyuhyun juga tertekan makanya ia bersikap di luar batas saat itu. Ya, mungkin seperti itu. Yoora mencoba untuk berfikiran positif saat ini, ia tak bisa menghakimi Kyuhyun begitu saja. Dengan permintaan maafnya, Yoora sudah merasa cukup untuk kembali mempercayai Kyuhyun. Ya seperti itu.

 

Dengan sedikit senyum, Yoora berbalik berniat mengambil sebuah selimut untuk Kyuhyun. Namun tiba-tiba tangannya tertarik ke belakang dan ia terjatuh di pangkuan Kyuhyun.”Arggh!” Ia spontan berteriak.

 

Beruntung selang infusnya cukup panjang sehingga tidak ikut tertarik, lagi pula yang tertarik tangan kanannya, jadi tangan kiri Yoora beserta infus masih aman.

 

Sebuah tangan melingkar di perutnya. Meski sudah bisa dibilang cukup besar, namun tangan itu bahkan masih cukup untuk melingkar dengan pas di perutnya. “Kyu…” lirih Yoora saat terasa kepala Kyuhyun menekan punggungnya.

 

“Sebentar saja…” balas pria itu singkat. Lalu Yoora hanya terdiam, ia tak dapat melakukan apa-apa. Ia bahkan tak bisa bergerak, tubuhnya terkunci dalam pelukan Kyuhyun. Sial, pria ini benar-benar mencari kesempatan dalam kesempitan!

 

“Kau terbangun?” Tanya Yoora pelan. Pria itu mengangguk lalu berkata, “Ya, buku itu membangunkanku.”Yoora awalnya benar-benar berfikir bahwa Kyuhyun tertidur dengan sangat lelap. Namun nyatanya pria itu sudah terbangun sejak buku itu jatuh. Sial, tenyata ia telah tertipu.

 

“Ck, kau menipuku!” Protes Yoora. Ia kesal tentu saja. Ia fikir Kyuhyun mengabaikannya, ia fikir telah terjadi sesuatu pada Kyuhyun namun nyatanya pria itu hanya tertidur. Dan sekarang apa? Sudah bangun namun masih pura-pura tidur, bukannya itu menipu namanya?

 

Kyuhyun terkekeh, “Wajahmu lucu saat melihat buku itu jatuh.” Entah itu pujian atau apa, namun Yoora tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mencubit paha Kyuhyun. Pria itu benar-benar gila.

 

“Lepaskan aku!”Yoora berontak, ia mencoba berdiri namun Kyuhyun menahannya dengan cukup erat.

 

“Tolong biarkan sebentar saja, aku benar-benar lelah sekarang.” Kyuhyun memelas namun Yoora tetap pada pendiriannya, “Tidak, lepaskan aku.” Ucapnya lagi.

 

“Sebentar saja Yoo…aku ingin tidur.” Ucap Kyuhyun lagi memohon.

 

“Tidak.” Ucap Yoora masih pada pendiriannya. “Yoo—”

 

“Jangan disini, kau bisa sakit punggung. Aku biarkan kau tidur di ranjangku sekali ini saja.” Potong Yoora cepat.

 

“Kau?”

 

“Aku akan memelukmu.”

 

“Sampai?”

 

“Sampai kau terbangun.”

 

“Benar? Janji?”

 

“Aku tak pernah berbohong dan selalu menepati janji”

 

Termasuk janji; apapun yang terjadi, aku akan selalu mempercayaimu.

 

-=JJ=-

 

Matahari sudah semakin meninggi, namun jam 12 seakan terlalu lama untuk Shim Changmin. Pria itu bahkan sudah merasa sibuk dan waktu tersita cukup lama, namun kenapa pekerjaannya belum berakhir juga?

 

“Setelah ini, siapa lagi?” Tanya Changmin pada seorang suster di belakangnya. Berhubung asistennya sedang cuti,suster ini menggantikannya dan telah mengikutinya sejak pagi.

 

“Pasien terakhir dok, Ny. Shin Yoora. Setelah itu Anda bisa makan siang.” Jawab suster itu dengan gamblang. Tanpa Changmin sadari suster itu telah mendengar dengan jelas gerutuan Changmin sepanjang pagi.

 

“Akhirnya…” seakan mengisi penuh baterainya setelah mendengar ‘makan siang’, ia dengan semangat mengatakan, “Ayo kita ke ruangan Shin Yoora!” Dan suster yang lebih tua darinya itu hanya bisa menggeleng aneh, ia baru saja tahu bahwa ada kelakuan dokter seperti ini.

 

Ruangan Yoora tak terlalu jauh dari tempatnya berada, mungkin hanya lurus beberapa meter lalu berbelok ke kanan. Tak jauh dari sana sudah terlihat kamar VIP bernomor 166 yang ditempati oleh istri dari sahabatnya itu.

 

Dengan ketukan dua kali, Changmin masuk ke dalam ruangan tersebut. Suasana begitu hening hingga membuat Changmin berfikir bahwa Yoora sedang tidur. Dengan langkah pelan ia mendekati ranjang yang tertutup tirai itu.

 

Dan benar seperti apa yang ia duga, Yoora sedang tertidur…ah tidak, lebih tepatnya sedang menidurkan bayi besar yang ada dalam pelukannya, Cho Kyuhyun.

 

Changmin menggaruk kepala belakangnya yang bahkan tidak gatal sama sekali, ia bahkan mengalihkan matanya kemana saja. “Ah lebih baik nanti kita kemari lagi, aku sudah sangat lapar.” Ucapnya, lalu ia berbalik dan berjalan keluar. Suster itu terkekeh sebelum kembali mengikuti langkah Changmin, “Dasar anak muda.” Desahnya dan sekali lagi terkikik.

 

-=JJ=-

 

TBC

182 thoughts on “But, I Love You Part 13

  1. Ff kali ini alurnya maju mundur maju mundur cantikkk cantiikkkk😆😆
    Semoga kyuhyun cepat sadar dijauhh dari roh jahatt kasihan istrinya di gituinn

    Suka

  2. Semoga kyu cepat sadar sabelum semuanya terlambat dan yoo pergi meninggalkan dia.aku yakin semua penderitaan kyu juga yoo semua ulah ayah angkatnya.bagus jino yg maki2 kyu hingga sadar…..semoga happy end…

    Suka

  3. Haaaaah….aku menghela nafas lega melihat mereka akur kembali setelah peristiwa tragis yang hampir merenggut nyawa yoora.
    Dan thanks too much untuk Jino yang udah muncul untuk memperingatkan ayahnya yang sangatlah bodoh itu, semoga setelah ini hubungan mereka selalu romantis seperti ini

    Suka

  4. Heol daebak!
    Liat kyu berubah ky gtu aku seneng
    Semoga kyu sllu bgty selamanya dan menjadi awal yg baik
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^

    Suka

  5. Tumben banget lihat mereka akur dan bertingkah manis. Terlebih Kyuhyun yg tidak berpura”.

    Semoga jadi awal yg baik aja buat mereka berdua.

    Suka

  6. Smoga kyu akan tetap baik dgn yoora stlh ini.. Dan tak mencelakakan yoora dan kandungannya… Hayo kyu bicara jujur dgn yoora, alasan kyu bersikap slama ini… Kasian yoora yg tak tahu apa2…

    Suka

  7. wah perkembangan yg baik untuk hubungan kyuhyun sama hyora…

    anak selalu bisa menjadi alat pemersatu hubungan yg kritis… :-p

    kyak’y kyuhyun yg ngidam nih.. kelakuan’y makin aneh hihihiii

    Suka

  8. Moga aja hubungan mereka berdua membaik setelah kejadian ini , sedih liat hidup nya yoora yg trs dlm kegalauan atas sikap kyuhyun yg selalu berubah-ubah.
    Btw..pasangannya changmin blm ada ya? Kasih dong, Thor.. biar changmin ga stress mulu gara2 ngurusin kyuhyun.
    ..

    Suka

  9. syukurlah kyuhyun akhirnya mw ngelawan rasa dendamnya dan moga aja sampai seterusnya,kasian klo kyi sampai dendam terus dy gak akan tenang hidupnya,
    ayah kyu jg kayaknya gak bakal tinggal diam liat kyu jadi baik ma yoora kx jadi was -was ma ayah kyu takut klo dy pengaruhin kyu lagi dan nyelakain yoora,
    ditunggu next part ya…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s