Rancore Part 3


 

Tittle               : Rancore Part 3

Cast                 : Kyuhyun, Seung Hye, Seung Mi

Category         : NC 21, Yadong, Sad, Romance, Family, Chapter

Author             : Vhiy Zaza

 

*****

Peringatan, part ini ceritanya NC udah keluar, jangan sampai muntah ya bacanya.

Masih seperti part 2, part ini masih Seung Hye POV semua.

Happy Reading All

Vhiy Zaza

 

*****

Senyuman miring muncul begitu saja di wajahku. Dengan cepat kutarik leher Kyuhyun, lalu kucium bibirnya keras. Decakan karena ciuman kami terdengar sangat jelas di dalam ruangan ini.

 

“Maaf.” Suara pelan sarat akan rasa bersalah itu menghentikan kegilaanku. Dengan kikuk kulepaskan ciumanku. Kulirik pelayan yang masih berdiri tidak nyaman di depan pintu.

 

Kyuhyun kembali duduk ke kursinya, tanpa peduli dengan rasa malu serta rasa bersalah sang pelayan, ia mengelap bibirnya yang basah karena ciumanku tadi. “Tidak masalah. Letakkan saja makanannya, jangan pedulikan kegiatan kami.” Kyuhyun berbicara santai tanpa melihat pada pelayan tersebut.

 

“Selamat menikmati.” Ucap sang pelayan setelah selesai meletakkan makanan dan minuman pesanan kami di atas meja. Dengan sopan ia menunduk lalu berjalan keluar, meninggalkan kami berdua.

 

“Itu tadi sangat luar biasa, Sayang.” Kyuhyun tersenyum menggoda padaku. “Bagaimana jika kita melanjutkannya sebelum makan?” sudut bibirnya terangkat dan matanya pun berbinar.

 

Tidak menanggapi godaan Kyuhyun, aku menunduk dan melahap makanan yang ada di depanku dengan gugup. Tawa Kyuhyun meledak melihat kegugupanku itu. Dengan jahil, tangannya terulur lalu mengelus pipiku lembut.

 

Oppa.” Rengekku.

 

“Baiklah-baiklah, lanjutkan makanmu, Sayang.” Kyuhyun akhirnya mengalah dan berhenti menggodaku. Ia pun mulai menyantap makannya. Sesekali kami saling melirik dan melempar senyuman. “Minum ini.” Kyuhyun mengulurkan air hangat yang tadi ia pesan padaku. Dan itu berhasil membuatku mengerutkan dahi bingung. “Kau biasanya sangat suka minum air hangat saat makan daging.” Seakan mengerti kebingunganku, Kyuhyun pun menjelaskan maksud ia memberiku air hangat.

 

Kusambut gelas air hangat yang Kyuhyun ulurkan tersebut, dan mulai menyesap air hangat tersebut perlahan. “Sepetinya oppa sangat mengenalku.” Ucapku sebelum kembali memasukkan daging ke mulutku.

 

Kyuhyun tidak menyahuti ucapanku. Ia hanya tersenyum lembut dan terus mengunyah daging di mulutnya.

 

Oppa, apa aku boleh menanyakan sesuatu?” Tanyaku pada Kyuhyun. Yang langsung dijawabnya dengan anggukan. “Kata eomma, aku memiliki mobil yang sama seperti milik Seung Mi eonni, dan mobil mahal itu pemberian oppa. Apa Seung Mi eonni tidak marah, oppa juga memberiku mobil sama seperti miliknya?” Kyuhyun menghentikan kunyahannya saat mendengar pertanyaanku.

 

“Mengapa kau menanyakan itu?” Jawab Kyuhyun, sesaat setelah menelan makanannya.

 

Kuangkat bahuku acuh. “Hanya penasaran saja?” Jawabku.

 

“Tidak, dia tidak marah.” Kyuhyun pun akhirnya menjawab pertanyaanku. “Mengapa ia harus marah? aku membelinya dengan uangku bukan uangnya.” Sambung Kyuhyun acuh.

 

“Apa dia tidak cemburu?” kembali aku bertanya.

 

“Aku tidak peduli dia cemburu atau tidak.” Jawaban Kyuhyun kali ini berhasil membuatku terdiam. Ada rasa sakit di hatiku karena jawabannya tersebut.

 

Diamku ternyata mengganggu Kyuhyun. Tangannya terulur ke wajahku, lalu mengusapnya pelan. “Mengapa diam.” Bisiknya. Aku bersandar pada telapak tangan Kyuhyun yang ada di pipiku. Kupejamkan mata untuk menikmati usapan lembutnya.

 

“Hanya tidak tahu harus menanggapi seperti apa.” Jawabku dengan bisikan juga. Kusentuh punggung tangan Kyuhyun yang masih mengusap pipiku. “Jangan seperti itu padaku.” Sambungku dengan suara serak.

 

Suara decitan keras terdengar ketika Kyuhyun berdiri cepat lalu berjalan mendekatiku. Direngkuhnya tubuhku ke dalam pelukan hangatnya. “Jangan menangis.” Kyuhyun berbisik di puncak kepalaku. “Demi Tuhan Tidak, Sayang. Aku sangat peduli dengan perasaanmu.” Ucap Kyuhyun dengan nada khawatir.

 

Air mataku mulai jatuh dengan deras karena ucapan Kyuhyun. Entahlah, aku tidak mengerti jenis air mata apa yang keluar ini. Air mata bahagia atau air mata karena sedih. “Hye-ya, buka matamu, Sayang.” Kyuhyun beralih menangkup pipiku. Perlahan kubuka mataku, hal pertama yang kulihat adalah wajah pucat sarat akan khawatir Kyuhyun.

 

“Dengar, aku sangat peduli dengan perasaanmu. Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu, Hye-ya.” Kyuhyun kembali berbicara dengan nada frustasinya. “Jadi Kumohon sayang, berhenti menangis.” Sambungnya.

 

“Aku juga tidak ingin menangis, tapi air mata bodoh ini tidak mau berhenti.” Suaraku terdengar jauh. Tetesan air mataku semakin deras, dan semakin mengundang kepanikan Kyuhyun.

 

Kecupan lembut Kyuhyun daratkan dikedua kelopak mataku. Bukan hanya kelopak mata, pipi basahku pun ikut ia kecupi. Diusapnya pipiku, sebelum mengeluarkan lembaran uang lalu meletakkannya di atas meja. “Kita pulang sekarang.” Ucap Kyuhyun. Telapak tangan hangatnya menggenggam jari-jari lentikku, lalu menarikku keluar restoran.

 

Kyuhyun berjalan dengan sangat cepat. Begitu pun saat mengendarai mobil, ia melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Ada apa sebenarnya dengan Kyuhyun? lalu dia akan membawaku ke mana?

 

Pertanyaan awalku terjawab. Mobil Kyuhyun memasuki pekarangan rumah megah. “Ayo turun.” Perintahnya halus.

 

“Rumah siapa ini?” kali ini aku benar-benar bertanya pada Kyuhyun, bukan hanya bertanya dalam hati.

 

“Rumah kita,” Jawabnya tanpa melihat padaku. Tunggu, apa katanya tadi ? rumah kita? Ini, telingaku yang bermasalah atau Kyuhyun yang salah ucap?

 

“Rumah Kita?” Aku mengulangi ucapan Kyuhyun dengan nada bertanya. Mencoba meyakinkan diri, jika aku tidak salah mendengar.

 

“Iya, rumah kita.” Kali ini Kyuhyun berbicara sambil melihat mataku. “Ada apa dengan raut wajahmu?” Tanya Kyuhyun geli.

 

“Sejak kapan kita memiliki rumah bersama?” Dengan tampang bodoh, aku kembali bertanya pada Kyuhyun.

 

“Aku baru membeli rumah ini, dan baru hari ini sempat mengajakmu melihatnya.” Jelas Kyuhyun. “Sudah, simpan semua pertanyaanmu itu, Sayang. Sekarang ayo kita masuk.” Ditariknya lenganku pelan.

 

Tampang bodohku karena mendengar kata ‘rumah kita’ tadi semakin terlihat bodoh lagi saat mulutku menganga. Sungguh aku sangat takjub melihat interior rumah yang katanya rumahku dan Kyuhyun ini. Pada bagian ruang tamu terdapat sofa mewah berwarna cream yang tertata rapi, desain interiornya juga mengagumkan, terlihat dari perpaduan warna yang konsisten. Pada bagian dinding tersusun batuan marmer yang semakin mempercantik ruangan tersebut. Dinding kaca yang memperlihatkan langsung indahnya taman juga menjadi nilai tambahan. Decakan kagumku tidak berhenti di ruang tamu saja. keseluruhan interior rumah ini mengagumkan. Kami berjalan menaiki tangga, dan masuk ke ruangan luas yang sepertinya kamar utama di rumah ini.

 

Kyuhyun menunjukkan senyuman yang begitu lebar, ia sepertinya senang melihat reaksi kagumku yang berlebihan. Tangan hangatnya terulur, mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

 

“Apa oppa juga mempunyai rumah bersama Seung Mi eonni?” Sial, mulutku sangat sialan. Pertanyaanku baru saja menghapus senyuman menawan Kyuhyun. Tangannya pun seketika berhenti mengusap puncak kepalaku.

 

“Pertanyaan bodoh macam apa itu?” Suaranya begitu dingin. Suara dingin itu cukup untuk membuat bibirku mengering karena gugup dan takut. “Bisakah tidak membahas siapa pun saat kita bersama?” Kyuhyun berbicara dengan nada bertanya. Tapi yakinlah itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah perintah.

 

Karena tidak ingin memperkeruh keadaan, aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa yang mengira, tatapan dingin dan gelap itu seketika berubah hangat dan cerah hanya karena sebuah anggukan pelan. “Gadis pintar.” Dicubitnya pipiku pelan.

 

“Apa ini kamar kita?” Kali ini aku bertanya sambil melirik Kyuhyun. Sedikit takut jika pertanyaanku kembali membuat Kyuhyun marah. Tapi untunglah Kyuhyun menanggapi pertanyaanku dengan senyuman mesumnya.

 

Apa? Apa aku baru saja aku mengatakan senyuman mesum? Oh tidak, sepertinya bahaya akan segera menghampiriku.

 

Oppa.” Aku merengek manja sambil memeluk lengan Kyuhyun. “Jangan tersenyum seperti itu. Itu sedikit menakutkan.” Sambungku sambil mengerucutkan bibir.

 

Sudut bibir Kyuhyun terangkat. Semakin menunjukkan senyuman menggodanya. “Menakutkan hem?” Kyuhyun bertanya dengan suara pelan menggodanya. “Bukan menggairahkan?” Mataku membulat sempurna mendengar ucapan Kyuhyun. Mengapa ia bisa tahu jika senyuman miringnnya itu membangkitkan gairahku?

 

“Aku sangat tahu, Sayang. Dari dulu kau sangat menyukai senyuman miringku dan kau bilang itu menggairahkan.” Sepertinya Kyuhyun tidak hanya tampan dan kaya. Sepertinya dia juga mempunyai semacam telinga yang pendengarannya sangat tajam. Buktinya ia bisa mendengar pertanyaan yang hanya bersarang di kepalaku.

 

Tawa keras Kyuhyun memenuhi kamar luas ini. “Demi Tuhan, Sayang. Lupakan semua pemikiran konyolmu itu.” Aku benar. Kyuhyun memang bisa mendengar pikiranku. “Aku tidak bisa mendengar pikiranmu. Wajahmu menunjukkan pertanyaan di kepala cantikmu itu dengan sangat jelas.” Satu kecupan memabukkan Kyuhyun daratkan di bibirku yang sedikit terbuka. “Ok, kita kembali pada senyuman miringku yang membangkitkan gairahmu ini. Apa kau tidak ingin mengurus gairahmu itu?” Kyuhyun memberi pertanyaan yang sangat mesum. Demi apa pun, pertanyaannya itu membuatku ingin segera melemparkan tubuhku pada tubuh tegap Kyuhyun.

 

Sedetik setelah pikiran melemparkan tubuhku pada tubuh Kyuhyun, melintas di kepalaku. Aku langsung melakukannya. Kupeluk erat pinggang Kyuhyun, lalu kusandarkan kepalaku di dada bidangnya. “Maukah oppa mengurusnya untukku?” Tanyaku serak.

 

“Apa pun untukmu, Sayang.” Dengan sedikit kasar, Kyuhyun menarik daguku. Ciuman basah segera aku terima sesaat setelah mendongak. Decakan terdengar sangat jelas karena perpaduan bibir kami. Erangan pelan pun keluar dari celah bibir kami yang saling bertautan. Tentu saja itu eranganku.

 

Karena butuh oksigen, kudorong pelan dada Kyuhyun, agar ia menjauhkan bibir kami. Aku menghirup napas dalam, mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya, agar bisa melanjutkan ciuman dengan Kyuhyun. Ciuman yang lebih dalam, lama dan menuntut.

 

“Bibirmu selalu saja terasa manis.” Kembali Kyuhyun mempertemukan bibir kami. Berbeda dengan harapanku tadi, Kyuhyun justru menciumku dengan lembut, terlewat lembut, hingga membuatku mabuk dan semakin menginginkannya. Dengan berani, kuusap punggung lebar Kyuhyun dengan gerakan sensual. Usapanku itu berhasil membuat Kyuhyun mengeluarkan erangannya. Erangan yang tertahan oleh pagutan bibir kami.

 

“Kita butuh ranjang,” Ucap Kyuhyun. Ia menarikku hingga kami jatuh di atas rajang. Dengan cepat Kyuhyun menindihku lalu mendaratkan bibirnya di dahi, kedua mata, hidung, lalu bibirku.

 

Oppa.” Aku merintih, memohon sentuhan Kyuhyun.

 

“Iya, Sayang,” Sahut Kyuhyun dengan suara seraknya. Dan remasan tanganku di rambut cokelat Kyuhyun menjelaskan semuanya. Seperti kerasukan, Kyuhyun mengabulkan keinginan tak terucapku. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengalihkan ciumannya ke leherku. Isapan kecil di sana membuatku lembap. Kujenjangkan leherku, agar Kyuhyun bisa lebih leluasa.

 

Dari mulut terbukaku, keluar desahan-desahan yang semakin membuat gairah memuncak. Jari-jariku tak ingin berdiam diri, mereka bergerak bebas mengusap, menarik dan mengacak rambut Kyuhyun.

 

“Duduk, Sayang.” perintah Kyuhyun dengan suara menggodanya.

 

Dengan cepat kuturuti perintah Kyuhyun. Kyuhyun pun segera menarik gaunku melalui kepala, sehingga aku hanya memakai bra dan celana dalam. Matanya begitu fokus melihat tubuhku, seakan tubuhku adalah hal terindah yang pernah ia lihat.

 

“Kau selalu cantik, Hye-ya. Aku sangat suka saat kau begitu terbuka di hadapanku.” Tangan Kyuhyun terulur, ia mengusap dadaku yang masih terbalut bra. “Benda ini harus disingkirkan.” Sedetik setelah Kyuhyun mengatakan itu, dadaku sudah terekspos tanpa halangan di depan Kyuhyun. Seperti bayi yang kelaparan, Kyuhyun langsung melahap sebelah dadaku. Satu tangannya bergerak aktif di dada yang bebas dari keganasan bibirnya.

 

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain merintih dan mendesah. Tulang-tulangku sepertinya mencair. Untung saja saat ini kami duduk di atas ranjang, kalau tidak mungkin aku sudah terjatuh di lantai.

 

Melepaskan hisapannya pada puncak dadaku. Kyuhyun melirikku sebentar lalu tanpa kuduga ia merobek celana dalamku. Ciumannya perlahan turun, semakin ke bawah. Dan aku menjerit ketika lidah sialan Kyuhun menemukan sesuatu yang sejak tadi mendambakan sentuhan Kyuhyun.

 

Biarkan aku mengumpat puluhan kali. Sialan! demi apa pun ini sangat nikmat. Lidah itu mengapa sangat pandai menarikku ke pusaran kenikmatan. Tanpa bisa ditahan, aku meledak dan menjeritkan nama Kyuhyun berkali-kali.

 

Oppa berhenti, kumohon berhenti.” Aku mencoba mendorong bahu Kyuhyun saat ledakan itu meredah. Namun sekali lagi sial, Kyuhyun tak menghiraukan ucapanku. Ia tetap bertahan di bawa sana, lidah sialannya yang kupuja itu menjilatiku semakin cepat.

 

“Sialan!” Umpatan itu akhirnya keluar dengan tanpa halangan. “Itu sangat nikmat.” Kakiku yang terbuka lebar tak bisa berhenti bergerak. Hanya berselang beberapa menit dan aku kembali menjerit karena gelombang itu datang kembali, gelombang yang lebih dahsyat dari yang pertama kurasakan.

 

Aku memejamkan mata, dengan mulut terbuka. Menikmati sisa kedutan di bawah sana. Aku hanya menjerit dan mendesah tanpa bekerja keras. Namun mengapa tubuhku terasa sangat lemas.

 

Sesuatu yang hangat dan keras menyentuhku di bawah sana. Di tempat yang masih berkedut pelan. Kubuka mataku perlahan, dan hal pertama yang kulihat adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, tubuh telanjang Kyuhyun yang sangat menggoda. Kulirik di bawah sana, milik Kyuhyun sudah siap memasukiku.

 

Tanpa peringatan, ia mendorong masuk miliknya. Dan tubuhku seperti mendapatkan energi tambahan. Gairah seolah memberi kekuatan lebih.

 

Perlahan, perlahan, lalu mulai cepat hingga tak terkendali. Dorongan Kyuhyun sangat gila, gila nikmatnya. Namaku dan Kyuhyun menjadi musik di ruangan ini, kami tanpa henti saling memanggil.

 

Aku yang tidak tahan dengan semua kenikmatan yang Kyuhyun berikan,  menggigit pelan bahu telanjangnya untuk menyalurkan rasa nikmat itu. Kedua kakiku melingkar sempurna di pinggang Kyuhyun dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya.

 

“Aku tidak tahan,” Ucapku terputus-putus.

 

“Datanglah, datanglah untukku.” Kyuhyun terus meracau meminta pelepasanku. “Demi Tuhan, Hye-ya.” Dan aku pun mendesah tak terkendali bersamaan dengan jeritan panjang Kyuhyun. Kami mendapatkannya bersama.

 

Tubuh lemas Kyuhyun jatuh menimpahku. Aku tak protes dengan itu, sebenarnya tidak mampu untuk protes, kenikmatan yang kudapat berulang kali tadi menguras semua tenagaku.

 

“Sayang, kau sangat nikmat dan selalu nikmat.” Ucap Kyuhyun sebelum mengecup leherku dan berguling ke samping. Ia menarik tubuh lemasku ke dalam pelukannya. “Tidur, Sayang.” Aku tahu ini perintah, karena itulah aku langsung menurutinya.

******

 

Erangan pelan keluar dari celah bibirku, sebelum aku membuka mataku perlahan. Mengapa kasur ini sangat dingin? Setelah mataku terbuka sempurna, barulah aku menyadarinya., tidak ada Kyuhyun di ranjang ini. Hanya aku sendiri yang meringkuk di bawah selimut tebal berwarna cream.

 

Kuedarkan pandanganku ke setiap sudut kamar ini, berharap melihat Kyuhyun berada di salah satu sudut, namun nihil. Tidak ada dia di dalam kamar ini. Lalu kutajamkan pendengaranku, mungkin saja aku mendengar suara gemericik air yang menandakan Kyuhyun sedang membersihkan tubuhnya. Dan aku pun tidak mendengarnya. Di mana Kyuhyun?

 

Aku turun dari tempat tidur, kupungut gaun yang Kyuhyun lempar begitu saja ke lantai tadi, lalu memakai gaun itu tanpa perlu repot-repot memakai bra dan celana dalamku. Ok, celana dalam tidak masuk dalam hitungan, karena memang celana itu sudah Kyuhyun robek.

 

Dengan bertelanjang kaki, aku berjalan ke luar kamar. Berusaha untuk mencari keberadaan Kyuhyun. Dan akhirnya aku menemukannya di dapur bersih, ralat dapur yang sepertinya tadi bersih. Ia dengan hanya mengenakan celana pendek tanpa memakai baju, sedang serius mengaduk panci di hadapannya. Harum masakannya masuk ke dalam hidungku.

 

“Lapar.” Kupeluk Kyuhyun dari belakang.

 

“Hai, Tuan Putri.” Balas Kyuhyun sambil mengusap tanganku yang ada di perutnya. “Duduk dulu di sana. Ramyeon akan segera datang.” Kyuhyun menunjuk meja makan dengan dagunya.

 

“Aku tidak bisa pergi ke sana, tanganku diikat.” Aku menolak perintah Kyuhyun dengan manja. Dan tentu saja penolakanku membuat Kyuhyun tertawa geli.

 

“Eoh, kekasihku sangat manja.” Balasnya. “Ramyeon-nya sudah matang. Ayo kita duduk.” Sambung Kyuhyun. Aku mengikuti Kyuhyun berjalan masih sambil memeluknya erat. Lalu Kyuhyun menarikku duduk di atas pangkuannya. “Maaf hanya ramyeon ini yang berhasil kumasak.” Ucapnya sambil menunjukkan wajah bersalah.

 

“Ini sepertinya enak.” Dengan semangat aku ingin mengambil sumput yang ada di samping panci. Namun dengan sama cepatnya, Kyuhyun mengambil sumpit itu dari tanganku.

 

Satu kecupan Kyuhyun daratkan di bibirku. “Biar aku yang menyuapimu.” Ucapnya sambil tersenyum. Tentu saja aku tidak menolak. Disuapi kekasih, ya anggap saja kami sepasang kekasih, gadis mana yang akan menolak.

 

Tanpa berkedip, aku memperhatikan bibir Kyuhyun yang sedang meniup ramyeon. Bibir itu mengapa terlihat lebih menggoda dari pada mie yang ditiupnya itu. “Apa aku tidak bisa makan bibir oppa saja?” Celetukku.

 

“Bisa, sangat bisa. Tapi setelah kau selesai mengisi perutmu dengan makanan sesungguhnya.” Jawab Kyuhyun santai. “Buka mulutmu, Sayang.” Tanpa protes, aku membuka mulut. Kukunyah ramyeon yang disuapkan Kyuhyun dengan pelan. “Enak?”

 

Dengan pasti, aku mengangguk. Lalu kembali membuka mulut, meminta suapan berikutnya. “Aku ingin menghabiskan semuanya.” Aku bukan meminta, tapi menegaskan pada Kyuhyun jika ramyeon ini semuanya milikku, tidak ingin membaginya dengan Kyuhyun.

 

“Silakan, asal kau tidak menghabiskan pancinya juga, Sayang.” Kyuhyun menjawab sambil tertawa geli. Tangannya pun terangkat, menyuapiku kembali. “Ngomong-ngomong, kenapa kau pakai baju?” Kyuhyun melihatku dari atas sampai bawa, dan ia mengangkat satu alisnya.

 

Aku menelan ludah gugup  mendengar pertanyaan Kyuhyun tersebut. “Aku bahkan sengaja hanya memakai celana pendek saat memasak, tapi kau malah pakai baju.” Kembali Kyuhyun berbicara dengan nada protes.

 

“Apa aku harus melepas pakaianku?” Tanyaku gugup. Siapa yang menyangka Kyuhyun menjawab pertanyaanku dengan gelengan. Bukankah dia tidak suka aku memakai pakaianku?

 

“Aku yang akan membukanya.” Kyuhun menjawab dengan santai. Astaga, aku tidak tahu harus menanggapi seperti apa. “Tapi kau harus menghabiskan makanan ini dulu.” Sambungnya sambil menyuapkan mie ke mulutku.

 

Oppa kenapa tidak makan?” Dengan mulut penuh, aku bertanya tidak jelas pada Kyuhyun.

 

“Tadi kau ingin menghabiskan semuanya.” Sahut Kyuhyun.

 

“Aku hanya bercanda, Oppa.” Kujawab cepat ucapan Kyuhyun.

 

“Baiklah, Tuan Putri. Pangeran akan ikut makan.” Kami tertawa setelah Kyuhyun menjawab ucapanku dengan leluconnya. Secara bergantian ia menyuapkan mie padaku dan pada dirinya. Hingga tidak terasa ramyeon yang kyuhyun masak tadi sudah kami habiskan.

 

“Kenyang.” Kuusap perutku yang terasa sedikit sesak karena kenyang.

 

“Baju ini yang membuat perutmu sesak.” Secepat kilat, Kyuhyun menggeser panci yang ada di atas meja, lalu mengangkat tubuhku untuk menggantikan tempat panci tadi. “Angkat tanganmu, Sayang.” dengan patuh, aku mengangkat kedua tangan untuk mempermudah Kyuhyun membuka gaunku.

 

Oppa.” Jeritku. Seharusnya aku sudah siap dengan semua yang akan Kyuhyun lakukan pada tubuhku saat gaun yang kupakai tadi berhasil ia tanggalkan. Tapi aku justru masih menjerit terkejut ketika Kyuhyun menghisap puncak dadaku.

 

Hanya beberapa detik saja Kyuhyun menghisap puncak dadaku. Ia langsung melepaskannya setelah beberapa detik. “Aku hanya menggodamu, Sayang.” Ucapnya menyebalkan.

 

“Cih.” Aku berdecak kesal dan berpaling, tidak ingin melihat wajah Kyuhyun. Astaga Baek Seung Hye, kau resmi menjadi jalang yang selalu mengharapkan sentuhan Kyuhyun.

 

“Hei, jangan marah.” Bisik Kyuhyun sambil menarik daguku untuk membuatku menatap langsung pada matanya. “Kita baru saja selesai makan, Sayang. Jika kau sudah tidak sesak lagi, kau akan mendapatkannya.” Dengan tersenyum lembut, Kyuhyun mencoba membujukku. Dan tentu saja bujukannya berhasil. Aku langsung memeluk leher Kyuhyun, membiarkan dada telanjang kami bertemu.

 

“Aku tidak sesak lagi.” Ucapku serak. “Jadi tolong berikan sekarang!” Itu sebenarnya permintaan tolong, tapi aku mengucapkannya dengan nada memerintah.

 

Tanpa menunggu lama, Kyuhyun langsung mengabulkan keinginanku. Ia menciumi sepanjang leherku, sesekali menjilatnya. “Bukan hanya kau yang sangat menginginkannya, aku pun sangat menginginkannya.” Kyuhyun berbicara tidak jelas karena kegiatannya di leher hingga bahuku. Jari Kyuhyun perlahan menyentuh daerah bawahku, lalu ia pun menjerit frustasi. “Astaga, Sayang. Kau sudah sangat siap, aku akan langsung ke intinya.”

 

Kedua mataku hanya bisa melihat usaha Kyuhyun untuk memasukiku. Melihat itu membuat gairahku semakin memuncak. Kugigit sudut bibirku untuk menahan ledakan yang sepertinya akan datang dengan sangat cepat. “Oppa.” Suaraku terdengar jauh saat memanggil Kyuhyun.

 

“Kau membuatku gila, Hye-ya.” Jerit Kyuhyun saat ia berhasil mendorong masuk miliknya dan mulai bergerak pelan.  Sedangkan aku hanya bisa memeluk bahu Kyuhyun erat. Hanya beberapa menit aku langsung mendapatkan pelepasan pertamaku.

 

Oppa, oppa, oppa.” Berkali-kali aku memanggil Kyuhyun.

Kyuhyun semakin menggila, ia menghentakkan miliknya dengan cepat dan keras. Tak lama Ia pun mendapatkan kenikmatan seperti yang kurasakan tadi. “Ini gila.” Jeritnya panjang. Kami berpelukan erat, seakan enggan melepaskan kenikmatan yang telah kami dapatkan.

 

“Kita mandi, Sayang.” Tanpa menunggu tanggapanku, Kyuhyun mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar mandi.

 

Air dingin mengalir, membasahi tubuhku dan Kyuhyun. Aku kira, kami akan melakukannya kembali. Tapi, sepertinya Kyuhyun tidak mempunyai pemikiran yang sama denganku. Ia menahan tangan nakalku yang sedang membelai dadanya. “Tidak, Sayang. Sudah cukup.” Ucapnya.

 

Kecewa, sudah pasti aku sangat kecewa. Dengan cepat kupalingkan wajahku. “Hei, Cantik. Jangan marah,” Bisikan Kyuhyun membuatku meremang. Namun karena ingin menjaga harga diri, aku tetap tidak memandang Kyuhyun. “Aku tahu, kau lelah.” Tambahnya lembut.

 

“Aku tidak lelah.” Oh astaga. Apa aku baru saja mengucapkannya? Memalukan.

 

Tawa lepas Kyuhyun terdengar saat mendengar ucapan pelanku. “Ok, kau tidak lelah.” Sahut Kyuhyun.

 

“Jadi, Oppa tidak tertarik dengan tubuhku.” Itu kesimpulan yang kuambil. Tubuhku tidak cukup membuat Kyuhyun tertarik dan menggilainya.

 

“Dari mana asalnya pikiran konyol itu?” Kyuhyun bertanya, masih dengan suara lembutnya. “Kau harus tahu, tubuhmu itu sangat mempengaruhiku. Lihatlah ke bawa jika ingin buktinya.” Dengan cepat aku menunduk dan melihat milik Kyuhyun yang tegak seolah menantangku. “Aku hanya menahan diri, Sayang. Aku tidak ingin terus menyentuhmu hari ini dan membuat kau kelelahan, kau baru keluar rumah sakit.” Sambung Kyuhyun.

 

Mataku menatap kosong mata Kyuhyun. “Kita mempunyai banyak waktu untuk itu, Sayang.” dan perkataan Kyuhyun menimbulkan sesuatu di hatiku. Kupeluk erat pinggang Kyuhyun, dan Kyuhun pun membalas pelukanku dengan sama eratnya. Kami terus berpelukan seperti itu selama beberapa menit. Lalu saat guyuran air dingin membuat kami menggigil, barulah kami menyabuni tubuh masing-masing dengan cepat. Dan kembali berdiri di bawah shower sekilas untuk menghilangkan busah sabun.

 

“Ini sangat dingin.” Suara gemelutuk gigiku membuat Kyuhyun tertawa. Dengan hati-hati, diusapnya seluruh tubuhku dengan handuk lembut berwarna putih. Handuk kering lainnya segera melilit tubuhku setelah Kyuhyun selesai mengeringkan seluruh tubuhku.

 

Memakai handuk yang sama untuk mengeringkan tubuhku tadi, Kyuhyun mengusap tubuhnya sendiri. Dan mengambil handuk kering lain untuk dilingkarkan di pinggangnya. “Ayo keluar.” Kyuhyun membimbing tubuh menggigilku keluar kamar mandi.

 

“Sepertinya aku harus memakai gaun tadi.” Suaraku terdengar bergetar.

 

“Besok aku akan membeli banyak baju untuk kita. Jadi, kau bisa ganti baju kapanpun.” Jawab Kyuhyun. “Kau pasti tidak nyaman, karena tidak memakai celana dalam.” Sambungnya saat membantuku memakai pakaian.

 

“Ini tidak buruk.” Kucoba menujukkan senyuman terbaikku untuk Kyuhyun, namun sepertinya senyuman itu justru terlihat mengerikan. Gigiku terus gemelutuk karena menggigil.

 

“Tidur dan pakai selimut.” Segera setelah melihatku menuruti perintahnya, Kyuhyun berjalan ke luar kamar, masih dengan handuk putih melilit di pinggangnya. “Aku akan segera kembali.” Sebenarnya Kyuhyun mau ke mana dengan hanya menggunakan handuk?

 

Pertanyaanku itu segera terjawab saat Kyuhyun masuk ke dalam kamar dengan membawa gelas berisi susu hangat. “Minum ini.” Perintahnya halus.

 

Dengan gelas masih menempel di bibirku. Aku mengikuti gerakan Kyuhyun. Ia melepas handuknya sebelum kembali memakai pakaian kantor yang tadi ia pakai. Nyaris saja aku tersedak karena melihat bokong Kyuhyun. Mengapa Kyuhyun sangat cepat memakai pakaiannya? Aku harus kecewa karena tidak bisa menikmati pemandangan indah lebih lama.

 

“Minum dengan pelan, Sayang.” Ucap Kyuhyun saat mendengar suara batukku. Andai saja ia tahu apa yang menyebabkan aku tersedak hingga batuk seperti ini. Kyuhyun mendekatiku, ia duduk di pinggir ranjang sampil menatap penuh minat padaku. “Aku harus bagaimana?” Nada suara Kyuhyun terdengar frustasi.

 

“Apa yang bagaimana, Oppa?” Aku menjawab dengan pertanyaan juga, saat batukku mulai redah.

 

“Tidak.” Kyuhyun menggeleng, namun aku tahu ada keraguan dari jawabannya.

 

“Jam berapa oppa akan mengantarku pulang?” Aku bertanya pada Kyuhyun. Sebenarnya pertanyaanku itu untuk mengalihkan pikiran Kyuhyun.

 

“Ayo, aku antar sekarang.” Kyuhyun mengulurkan tangannya padaku. Aku pun segera menyambut tangan Kyuhyun.

 

Hening. Selama di perjalanan pulang, aku dan Kyuhyun tidak membuka mulut. Tidak ada pembicaraan, hingga mobil Kyuhyun berhenti di depan rumah kami. “Oppa, bisakah kita merahasiakan hubungan kita dari Seung Mi eonni dan eomma?”  Dengan cepat Kyuhyun berpaling ke arahku. Nampak kelegaan di matanya.

 

Walaupun aku yang meminta, mengapa ada rasa sakit karena tatapan itu. Kyuhyun bohong besar saat mengatakan ‘ia tidak peduli dengan perasaan Seung Mi eonni’. Nyatanya ia sangat peduli. “Katakan saja oppa tidak sengaja bertemu denganku di jalan,” Suaraku sangat pelan. “Dan aku akan minta maaf pada mereka karena sudah pergi keluar sendiri.” Anggukan cepat Kyuhyun semakin menambah perasaan sakit di hatiku. Tidak bisakah hanya aku yang ada di hati Kyuhyun?

 

Tanpa menunggu Kyuhyun membukakan pintu mobil, aku segera keluar dan masuk ke rumah  lebih dulu, meninggalkan Kyuhyun di belakang. “Aku pulang.” Teriakanku segera mengundang eomma  dan Seung Mi eonni. Mereka dengan sangat cepat muncul di hadapanku. Mulut Seung Mi eonni yang baru saja terbuka, menutup kembali saat melihat kehadiran Kyuhyun di belakangku.

 

“Kalian dari mana?” Suaranya memang lembut. Tapi tatapan tajamnya menunjukkan jika tidak suka dengan kebersamaanku dan Kyuhyun.

 

“Bukan kami, Eonni. Tapi aku.” Jawabku sesantai mungkin. “Tadi siang aku bosan, jadi aku memutuskan pergi keluar sendir. Tapi sial, aku tidak tahu jalan dan tersesat. Untung saja Kyuhyun oppa melihatku di jalan tadi.” Penjelasan panjangku membuat eomma membulatkan matanya. Dengan panik ia menghampiriku, dipeluknya erat tubuhku sebagai bentuk kelegaan karena aku bisa kembali.

 

Aku sangat ingin melihat ekspresi Seung Mi eonni, dan aku sangat berharap ia menunjukkan ekspresi seperti yang kuharapkan. Aku mengintip dari balik bahu eomma. Mata Seung Mi eonni seperti menatap pada Kyuhyun, tapi aku sangat tahu itu tatapan kosong. Apa ia menyadari kebohongan kami?

 

“Jangan ulangi lagi. Demi Tuhan, eomma sangat khawatir.” Perintah eomma lembut. Lalu ia melepaskan pelukan eratnya. “Kau dengar, Hye-ya?”

 

“Iya, Eomma. Tidak akan kuulangi lagi.” Berubah menjadi anak manis. Aku mengangguk dan menjawab sesuai yang eomma inginkan.

 

“Sekarang pergilah ke kamarmu dan mandi!” Perintah eomma.

 

Melanjutkan peran anak manis. Aku langsung berjalan menuju kamar. Sepuluh langkah dari tempatku berdiri tadi, aku menoleh ke belakang dan mengintip keadaan ruang tamu. Seung Mi eonni mulai menunjukkan amarahnya pada Kyuhyun. Matanya yang tadi menatap kosong pada Kyuhyun, saat ini mata itu memancarkan amarah. “Tidak sengaja bertemu ya?!” Suara Seung Mi eonni terdengar sangat sinis. Ia pun tertawa, tawa yang terdengar sangat aneh. Itu jenis tawa mengejek. “Aku sangat tahu seperti apa kamu, Kyuhyun-ah­. Dan itu tadi bukan hanya karena tidak sengaja bertemu.” Ia menegaskan masih dengan suara sinis.

 

Sebenarnya aku sedikit kasihan pada eomma, ia seperti tidak dihargai oleh anak dan calon menantunya. Untung saja eomma memutuskan pergi dari ruang tamu. Jika tidak, ia pasti lebih terlihat menyedihkan lagi karena harus menyaksikan pertengkaran sepasang kekasih.

 

Baiklah-baiklah, biarkan saja mereka berdua melanjutkan perang sepasang kekasihnya. Aku tidak peduli, kalaupun besok Kyuhyun berubah padaku karena kemarahan Seung Mi eonni malam ini, aku akan membuatnya memandangku lagi hingga ia tidak bisa mengalihkan tatapannya dariku. Tidak akan ada lagi Seung Mi eonni, maupun wanita lain di hati Kyuhyun. Aku akan membuat Kyuhyun bertekuk lutut dan memohon cintaku.

 

Kuganti dengan cepat gaun yang tadi kupakai dengan baju tidur nyaman. Tentu saja aku sekarang sudah mengenakan pakaian dalamku. Lalu kurebahkan tubuh lelahku di atas kasur empukku. Walaupun tadi aku sudah tidur, namun nyatanya sekarang aku kembali mengantuk, mungkin karena aku dan Kyuhyun kembali mengeluarkan tenaga di dapur tadi. Hanya dalam hitungan detik, aku pun memasuki alam mimpi.

*****

 

Pukul satu dini hari, aku terbangun karena mimpi yang sangat menyebalkan. Keringat dingin mengucur di pelipisku. Tangan dan kakiku sedikit bergetar. “Apa tidak ada mimpi yang lebih baik? Mengapa juga aku harus memimpikan kebahagian mereka. Sialan!” Umpatanku terdengar sangat keras.

 

Aku sangat terobsesi pada Kyuhyun, dan bertekat mendapatkannya. Memimpikan kebahagiaan Kyuhyun, Seung Mi eonni dan Na Yoon, adalah hal sangat kubenci. Tadi aku bertingkah layaknya adik yang baik untuk Seung Mi eonni, aku meminta Kyuhyun merahasiakan hubungan kami dari Seung Mi eonni. Oh, tapi percayalah itu bukan karena aku memikirkan perasaan Seung Mi eonni. Itu hanya sebagian dari caraku untuk mendapatkan Kyuhyun. Aku sudah tahu Seung Mi eonni tidak akan mempercayai alasan kami. Dan mereka akan bertengkar karena itu.

 

Pertengkaran mereka sangat meguntungkanku. Kyuhyun akan terus mencariku saat ia pusing karena pertengkaran mereka. Jika sudah begitu, kami akan semakin dekat. Dan tentu saja aku lebih muda membuat Kyuhyun tergila-gila padaku.

 

Lupakan masalah obsesi gilaku. Sekarang aku bingung harus melakukan apa, tidur sudah tidak masuk dari daftar hal yang ingin kulakukan saat ini. Aku turun dari ranjang dan berjalan ke luar kamar, mencoba mencari sesuatu yang bisa kulakukan di luar kamar.

 

Baru saja aku keluar kamar, tiba-tiba telingaku menangkap suara yang sangat kukenal. Suara yang tadi siang selalu lolos dari mulutku dan Kyuhyun. Tanganku terkepal karena amarah berkumpul di kepalaku. Jadi Kyuhun tidak pulang, dan ia berbohong padaku tadi siang. Tidak peduli akan perasaan Seung Mi bagaimana, baru saja dicurigai sedikit dan Kyuhyun sudah bertekuk lutut di hadapan Seung Mi. Bertekuk lutut di hadapan milik Seung Mi yang lebih tepatnya. Abaikan panggilanku untuk Seung Mi, aku tidak ingin memanggilnya eonni.

 

Aku tidak akan membiarkan mereka. Seketika senyum sinis muncul di wajahku saat sebuah ide muncul di kepalaku. Akan kubuat mereka tidak bisa menikmati malam ini. Dengan cepat aku masuk kembali ke dalam kamar. Naik ke atas ranjang dan berbaring di balik selimut hangat. Aku berdehem beberapa kali sebelumnya menjerit kencang. Bukan hanya sekali aku menjerit, tapi terus-menerus. Kita tunggu saja sebentar lagi akan ada yang menerobos masuk ke dalam kamarku. Dan ya, baru saja aku mengatakannya, dentuman keras dari pintu yang menghantam dinding terdengar. Secepat kilat kututup mataku, aku terus menjerit seolah saat ini aku sedang bermimpi buruk.

 

“Hye-ya, bangun.” Panggilan itu bersamaan dengan guncangan keras di lenganku. “Hei, kau kenapa? Cepat buka matamu.” Kembali suara itu terdengar. Itu suara Kyuhyun. Dalam hati aku tersenyum karena berhasil merusak moment Kyuhyun dan Seung Mi.

 

Tidak, aku tidak langsung menghentikan jeritanku. Aku tetap melanjutkannya agar Kyuhyun semakin khawatir. Bahkan sekarang air mata mengalir di pipiku. Sejak kapan aku mengumpulkan air mata itu, sehingga bisa mengalir sangat deras?

 

“Hye-ya, kau kenapa, Nak? Ayo buka matamu.” Kali ini suara eomma yang kudengar. Dari suaranya, aku tahu ia sama khawatirnya dengan Kyuhyun. tinggal menunggu satu suara lagi, dan aku akan berhenti pura-pura. Jika Seung Mi ikut khawatir dan mencoba membangunkanku, aku akan membuka mata lebih cepat.

 

“Hye­-ya, bangunlah. Kami ada di sini.” Dan akhirnya aku mendengar suara Seung Mi. Aku berhitung sampai sepuluh di dalam hati, lalu mulai membuka mata perlahan. Kepura-puraanku berlanjut, saat mataku terbuka sempurna. Aku mengedarkan pandanganku ke penjuru kamar. Mencoba semeyakinkan mungkin, menunjukkan raut ketakutan.

 

“Ada apa, Nak?” Suara lembut eomma terdengar. “Lihat eomma, Sayang.” Ditariknya daguku, sehingga aku bisa menatap wajahnya. “Apa kau mimpi buruk?” Eomma bertanya dengan hati-hati.

 

Air terus menggeleng, tidak ingin menceritakan apa yang membuatku menjerit. “Jangan bertanya, aku terus teringat hal mengerikan itu jika kalian bertanya.” Aku menjawab dengan suara parau.

 

“Baiklah, kami tidak akan bertanya lagi. Sekarang kau tidur lagi, Nak.” Dengan lembut eomma mengusap puncak kepalaku. Kututup kembali mataku, berusaha untuk tidur. Namun saat sadar Kyuhyun dan Seung Mi akan keluar, aku menggenggam tangan Kyuhyun dengan mata masih tertutup.

 

“Jangan pergi, aku takut.” Suaraku terdengar sangat lemah, namun aku yakin ucapanku membuat ketiga orang yang ada di kamar ini selain aku, terkejut. Tapi, apa peduliku dengan keterkejutan mereka, yang terpenting aku memisahkan Kyuhyun dan Seung Mi.

 

Hening, tidak ada suara di kamar ini setelah aku menggenggam tangan Kyuhyun. Dengan sengaja, aku menarik tangan Kyuhyun, kusandarkan pipiku di punggung tangannya. Tak lama terdengar pintu ditutup dengan kasar. Sepertinya Seung Mi semakin kesal.

 

Oppa.” Suara lemahku memanggil Kyuhyun.

 

“Iya, Sayang.” Kyuhyun menjawab dengan lembut.

 

Kubuka perlahan mataku, dan kulihat hanya ada kami berdua di kamar ini. Cukup mengejutkan eomma tidak tinggal bersama Kyuhyun, bukankah dia sangat menentang aku menyukai Kyuhyun. lalu mengapa ia membiarkan kami berdua saja?

 

“Peluk.” Rengekku. Sambil tersenyum, Kyuhyun naik ke atas ranjang, ia tidur di sampingku dan melingkarkan lengannya di bahu dan pinggangku. Membelitku dalam kehangatan tubuhnya. “Aku tidak akan mimpi mengerikan lagi jika oppa peluk seperti ini.”

 

“Tidurlah lagi, Sayang.” Kyuhyun bernyanyi pelan untuk membuatku terlelap, suaranya sangat merdu dan mendengar nyanyian Kyuhyun sangat menenangkan. Air mataku menetes kembali karena nyanyian Kyuhyun,  dan isakan mulai terdengar.

 

“Hei, kenapa menangis? apa ada yang sakit?” dengan panik, Kyuhyun menjauhkanku dari dadanya, ia menatap wajahku dengan serius.

 

Aku mengangguk dan menepuk dadaku berulang kali. Tingkaku itu membuat Kyuhyun semakin panik. Ia menahan kedua tanganku agar berhenti memukul dadaku sendiri. “Jangan lakukan ini, Sayang. Apa dadamu sakit?” tanya Kyuhyun.

 

“Hem, sangat sakit.” Sahutku dengan suara serak. “Aku ingin oppa hanya memperhatikan dan mempedulikanku.” Sambungku egois.

 

“Sayang, apa kau—“ Ucapan Kyuhyun menggantung, tapi aku tahu maksudnya.

 

“Iya, aku mendengarnya dan sengaja menjerit tadi agar kalian datang.” Jawabku.

 

“Demi Tuhan, Sayang. Aku minta maaf, aku minta maaf.” Berulang kali Kyuhyun mengucapkan maaf dan mengecup puncak kepalaku. “Tidak akan kuulangi, aku bersumpah.” Janjinya.

 

Dengan mata berkabut. Aku menatap mata Kyuhyun. “Benar?” Tanyaku.

 

“Iya, Sayang. Aku bersumpah.” Dengan tanpa keraguan Kyuhyun mengucapkan sumpahnya.

 

Kupeluk erat tubuh Kyuhyun. wajahku bersandar di dada bidang Kyuhyun. Dibalik dada itu aku tersenyum. Bukan senyum manis, melainkan senyuman sinis.

 

TBC

 

124 thoughts on “Rancore Part 3

  1. Benci bgt
    Ditikung sodara sendiri tp ga bs ngadu ke siapa2
    Krn kluarga no 1
    Tp…. oh no kyu… pengen bgt nabok deh
    Thanks ya autor
    Critanua OKE PAKE BANGET

    Suka

  2. Kyuhyun kok gitu sih?! Ke seungmi mau ke seunghye juga mau.. rese ah!😡
    Klo caranya kayak gitu seunghye ngeri juga ya.. Sebenernya siapa disini yang bener-bener tersakiti..?
    Kyu seolah suka sama dua-duanya..
    Keep writing😊

    Suka

  3. kyu itu kurang tegas sebel gua .. mempermainkan 2 saudara .. kalo cinta seung he perjuangkan dong jangan gini 😡😡😡
    di tunggu teeus lanjutan nya kak

    Suka

  4. Hubungan mereka tuh apaan sih jadinya?
    Oh yaa until authirnim.
    Maaf sebelumnya.
    Dicerita ini terlalu banyak kata Yang di ulang. Kalimat juga banyak yg diulang.
    Disaranin untuk dikurangi sedikit pengulangan Kata Dan kalimatnya.
    Terimakasih 😊

    Suka

  5. Ini kok gitu? Gimanasih kyuhyun? Suka siapa? ‘-‘ bingung >< seunghye egois banget ‘-‘ tapi. Siapa yg jaat siapa yg egois sebenarnya eonn….. cepet di next ><

    Suka

  6. sebenernya aku bingung mau bilang apa. aku juga bingung mau belain siapa. satu sisi aku gak suka sifat seung hye. satu sisi aku juga gak bisa nyalahin karna aku belum bisa nebak. bisa aja diawal seung minya salah. aku cuma bisa terus menunggu. hehe.

    semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattttttttt

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s