Perfect Match Part 7


image

Author: Keita

Title: Perfect Match Part 7

Category: NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast:

Han Hyo Joo as Oh Yeon Joo

Park Chanyeol

Support Cast:

Lee Donghae

Annyeong haseyeo … Terimakasih untuk pada reader yang menyempatkan waktunya untuk membaca cerita yang saya buat.. Terimakasih untuk admin yang sudah mempost tulisan saya.. Maaf kalau ada kata-kata yang bikin bingung. Mmmmmmmm…. Moga suka sama ceritanya ya.. HAPPY READING…

1 Minggu kemudian..

Tepat pukul lima tiga puluh, Donghae berada di mejaku. Pakaian santai pada hari Jumat jadi dia
mengenakan celana jins dan kemeja hitam. Dia tampak kasual.

“Minum, Yeon Joo? Biasanya kami suka jalan ke bar di seberang jalan.”

“Kami?” Aku bertanya, penuh dengan harapan.

“Ya, sebagian besar dari kami biasanya pergi. . . kau mau ikut?”

Untuk beberapa alasan yang tak jelas, aku tak ingin mengkaji terlalu mendetail, tapi aku merasa sangat lega.

“Mau sekali. Aku akan bergabung denganmu di sana.”

“Apa yang ingin kau minum?”

“Bir.”

“Okay.”

Aku ke toilet dan mengirim sms pada Chanyeol.

To: Chanyeol

Aku akan pergi ke bar di sebrang kantor peaceminusone.

Aku berharap bisa bertemu denganmu di sana.



From: Chanyeol

Aku segera akan bertemu denganmu.

Lebih cepat lebih baik, sayang.

Aku memeriksa diriku di cermin. Mataku bersinar. Aku menyeringai pada cermin dan meluruskan kemeja biru mudaku. Hari ini aku juga mengenakan jeans favoritku. Sebagian besar wanita di kantor memakai jeans atau rok santai model lebar. Aku perlu membeli satu atau dua rok seperti itu. Mungkin minggu ini aku akan membelinya dengan mengajak Chanyeol.

Saat aku akan keluar gedung, aku mendengar namaku dipanggil.

“Oh Yeon Joo-sii?”

Penasaran aku berbalik, dan seorang wanita muda bermuka pucat mendekatiku dengan hati-hati.
Dia tampak seperti hantu-begitu pucat, tapi cantik.

” Oh Yeon Joo-sii?” Dia mengulangi,

“Ya?”

Dia berhenti, menatapku dan aku membalas menatapnya, tak mampu bergerak. Siapa dia? Apa yang dia inginkan?

“Bisa saya bantu?” Aku bertanya.

Bagaimana dia tahu namaku?

“Tidak. . . Aku hanya ingin melihatmu.” Suaranya lembut menakutkan.

Dia memiliki rambut hitam yang sungguh kontras dengan warna kulitnya. Matanya berwarna coklat, ekspresinya datar. Wajahnya cantik, pucat, yang terukir dalam kesedihan.

“Maaf, kau menemuiku disaat yang tidak menguntungkan,” kataku sopan

Dia tertawa, aneh, suaranya sumbang yang hanya membuatku bertambah cemas. Siapa gadis ini sebenarnya?

“Apa yang kau punya yang tidak aku punya?” Tanya dia sedih.

Kecemasanku berubah menjadi takut.

“Maaf-siapa anda?”

“Aku? Aku bukan siapa-siapa.” Dia mengangkat tangannya untuk menyibakkan rambut panjangnya kebahu.

“Selamat sore, Oh Yeon Joo-sii.” Dia berbalik dan berjalan menuju jalanan saat aku berdiri terpaku.

Aku menyaksikan saat tubuh kecilnya menghilang dari pandangan, menghilang diantara para pekerja yang baru keluar dari berbagai kantor mereka.

Sebenarnya tadi itu apa?

Dengan bingung, aku menyeberang jalan menuju bar, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Apa ada hubungannya dengan Chanyeol?

Donghae sudah berada di bar bersama karyawan peaceminusone lainnya. Hanya beberapa karwayan yang ikut. Tidak semua.

“Hai, Yeon Joo!” Donghae memberiku sekaleng bir.

“Cheers. . . terima kasih,” gumamku, aku masih terguncang oleh pertemuanku dengan gadis tadi.

“Cheers.” Kami saling mendentingkan botol, dan ia meneruskan berbicara dengan Naeun.

Wendy tersenyum manis padaku. Dia karyawan baru di peaceminusone. Sangat beruntung dia bisa ditempatkan langsung di kantor pusat.

“Jadi, bagaimana hari-hari yang melelahkan selama beberapa bulan ini?” Tanyanya.

“Baik, terima kasih. Semua orang membantuku bekerja lebih baik.”

“Kau terlihat lebih bahagia hari ini.”

“mmmm… aku pikir juga begitu”

Pertemuanku Sebelumnya dengan Gadis yang aneh itu menyelinap lebih jauh dari pikiranku. Selama percakapanku dengan Wendy, Naeun menawarkan bir lagi.

“Terima kasih,” aku tersenyum padanya.

Wendy sangat mudah untuk diajak bicara – dia orang yang ramah – dan tanpa kusadari, aku sudah minum bir yang ke tiga saat aku berbasa-basi dengan salah seorang cowok dari keuangan.

Donghae bergabung dengan aku dan Wendy.

Dimana Chanyeol?

Salah satu cowok dari keuangan mengajak Wendy ngobrol.

“Kau gadis yang sangat cerdas, Yoen Joo. Kau akan cepat sukses.”

Aku malu. “Terima kasih,” gumamku, karena aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan.

Sambil tersenyum, Donghae bergerak lebih dekat dan bersandar di bar, secara efektif aku terperangkap.

“Apa kau punya rencana akhir pekan ini?”

“Yah. . . um-”

Aku bisa merasakan keberadaan Chanyeol sebelum aku melihatnya. Seolah-olah seluruh tubuhku sangat selaras dengan kehadirannya. Chanyeol menempatkan tangannya di bahuku seperti kebiasaannya memamerkan tanda sayang – tapi aku tahu ini berbeda. Dia ingin memperlihatkan bahwa aku miliknya, dan aku menerima dengan senang hati.

Dengan lembut ia mencium rambutku.

“Halo, Sayang,” bisiknya.

Aku tidak bisa tidak merasa sangat lega, merasa aman, dan senang karena lengannya ditempatkan di bahuku. Dia menarikku ke sisinya, dan aku melirik ke arahnya saat ia menatap Donghae, ekspresinya tenang. Berpaling, dia menatapku, tersenyum miring sebentar diikuti dengan sekilas kecupan. Seperti biasa dia mengenakan kemeja putih terbuka. Dia tampak mempesona.

Donghae terlihat tidak nyaman.

“Donghae, ini Chanyeol, Chanyeol, ini Donghae.”

“Aku pacarnya,” kata Chanyeol sambil tersenyum agak dingin yang tidak sampai menyentuh
matanya saat dia menjabat tangan Donghae.

Aku melirik Donghae yang secara psikis sedang mengukur kemampuan orang yang berdiri di depannya.

“Aku teman 1 timnya di peaceminusone,” jawab Donghae arogan. “Yeon Joo pernah menyebut kau hanya temennya.”

“Yah, sekarang bukan teman lagi,” jawab Chanyeol dengan tenang. “Ayo, sayang, saatnya pergi.”

“Tolong, tinggallah dan bergabung dengan kami untuk minum,” kata Donghae lancar.

Aku tidak berpikir itu ide yang baik. Mengapa rasanya tidak begitu nyaman? Aku melirik Wendy, yah, tentu saja dia terang-terangan sedang menatap, mulutnya menganga melihat Chanyeol.

Chanyeol benar-benar memiliki pesona yang sangat kuat, dapat membuat wanita gampang jatuh cinta padanya.

“Kami sudah punya rencana lain,” balas Chanyeol dengan senyum penuh teka-teki.

Kami punya rencana? Dan getaran penuh harap menjalar di seluruh tubuhku.

“Mungkin, lain waktu,” tambahnya. “Ayo,” katanya padaku saat ia menggenggam tanganku.

“Sampai ketemu hari Senin.” Aku tersenyum pada Donghae, Wendy, dan cowok-cowok dari keuangan, berusaha keras untuk mengabaikan ekspresi Donghae yang kurang senang, dan mengikuti Chanyeol keluar pintu.

Mr-Kim menunggu dibalik kemudi Audi di pinggir jalan.

“Mengapa tadi kalian seperti sedang bertarung?” Aku bertanya pada Chanyeol saat ia membuka pintu mobil untukku.

“Karena itu harus,” bisiknya dan memberiku senyum misterius lalu menutup pintuku.

“Mr-Kim,” kataku saat mata kami bertemu di spion dalam mobil.

“nona Oh,” Mr-Kim menjawab dengan senyum ramah.

Chanyeol duduk di sampingku, menggenggam tanganku, dan dengan lembut mencium buku-buku jariku.

“Hai,” katanya lembut.

Pipiku bersemu merah muda, menyadari bahwa Mr-Kim bisa mendengar kita, bersyukur bahwa dia tidak bisa melihat, sepertinya Chanyeol bisa membuat celana dalamku terbakar. Aku berusaha untuk menahan diri supaya tidak melompat padanya di sini, di kursi belakang mobil.

“Hai,” aku mengambil napas, mulutku kering.

“Apa yang ingin kau lakukan malam ini?”

“Kau bilang kita punya rencana.”

“Oh, aku tahu apa yang aku ingin lakukan, Yeon Joo. Aku bertanya padamu apa yang ingin
kau lakukan.”

Aku tersenyum padanya.

“Aku tahu,” katanya sambil menyeringai nakal dan mesum.  “Jadi… ingin memohon. Apa kau ingin memohon di tempatku atau tempatmu?”

Dia memiringkan kepalanya ke satu sisi dan tersenyum, oh-senyumnya yang begitu seksi ditujukan padaku.

“Aku rasa kau menjadi sangat sombong, Park Chanyeol-ssi. Kita pergi ke penthouse saja.” Aku menggigit bibir dengan sengaja, dan ekspresinya menjadi lebih gelap.

“Mr-Kim, kita kembali ke penthouse.”

“Ya, tuan,” Mr-Kim menjawab dan pandangannya ke lalu lintas.

“Jadi bagaimana dengan harimu?” Tanya dia.

“Baik. Dan kau?”

“Baik, terima kasih.”

Senyumnya lebar bercampur geli seperti aku, dan dia mencium tanganku lagi.

“Kau tampak menarik,” katanya.

“Kau juga.”

“Donghae, apa dia bekerja dengan baik?”

Whoa! Kenapa tiba-tiba arah pembicaraan berubah? Aku mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Chanyeol nyengir. “Pria itu ingin masuk ke celana dalammu, Yeon Joo,” katanya datar.

Mukaku merah padam, mulutku menganga, dan aku melirik gugup pada Mr-Kim. Bagaimana Chanyeol dapat berkata sevulgar itu. Ini memalukan.

“Yah, dia bisa menginginkan semua yang dia suka. . . mengapa kita memiliki pembicaraan
seperti ini? Kau tahu aku sama sekali tidak tertarik padanya. Dia hanya teman 1 timku.”

“Itulah intinya. Dia ingin apa yang jadi milikku. Aku perlu tahu apa dia baik dalam pekerjaannya.”

Aku mengangkat bahu. “Aku kira begitu.”

Kemana arah pembicaraannya?

“Kau harus mengatakan padaku, jika dia melakukan kejahatan moral yang kotor – atau pelecehan seksual.”

“Itu hanya minum sepulang kerja.”

“Aku serius. Satu gerakan, dia langsung keluar.”

“Kau tidak punya kekuasaan semacam itu.”

Yang benar saja!

Tapi sebelum aku sempat memutar mata ke arahnya, kesadaran memukulku seperti kekuatan truk barang yang sedang ngebut.

“Apa kau punya kekuasaan itu, Chanyeol?”

Chanyeol memberiku senyum penuh teka-teki.

“Kau membeli perusahaannya,” bisikku ngeri.

Senyumnya terlepas dalam menanggapi suaraku yang panik.

“Tidak persis seperti itu,” katanya.

“lalu apa? Aku tahu Ji Yong tak akan pernah menjual perusahannya pada siapa pun”

Dia berkedip padaku, hati-hati.

“aku menginvestasikan uangku pada perusahaannya. Investasi yang sangat besar. sehingga aku memiliki kekuasaan pada perusahaan itu juga.”

Apa-apaan ini?

“Kenapa?” Aku terkesiap, terkejut. Oh, ini hanya terlalu banyak.

“Karena aku bisa, Yeon Joo. Aku ingin kau aman.”

“Tapi kau bilang kau tidak akan ikut campur dalam karirku!”

“Dan aku tidak melakukan itu.”

Aku menarik tanganku keluar dari tangannya. “Chanyeol. . .” Aku tidak bisa meneruskan
kata-kataku.

“Apa kau marah padaku?”

“Ya. Tentu saja aku marah padamu.” Aku seperti mendidih.

Chanyeol membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi dan merengut padaku. Aku memelototi dia. Suasana di dalam mobil langsung berubah dari reuni hangat yang menyenangkan menjadi dingin dengan kata-kata yang tak terucap dan berpotensi saling menuduh saat kami saling menatap dengan marah.

Untunglah, perjalanan mobil kami yang tidak nyaman ini tidak berlangsung lama, dan aku langsung keluar dari mobil, tidak menunggu siapa pun untuk membukakan pintu. Aku merasa dia berdiri mendekat di belakangku saat aku menunggu pintu lift terbuka.

” Yeon Joo,” katanya dengan tenang saat berada dalam lift

Aku menghela napas dan berbalik untuk melihatnya. Aku sangat marah padanya, kemarahanku sangat jelas-berwujud gelap yang mengancam akan mencekikku.

“Pertama, aku sudah lama tidak berhubungan intim denganmu yang rasanya sudah sangat lama. Dan kedua, aku ingin mencoba bekerja 2 atau 3 tahun dengan orang lain. Sebelum aku memutuskan untuk membuka butik untuk diriku sendiri.” Kataku saat aku sudah berada di penthousenya.

Aku menatap dingin padanya. Matanya begitu intens, bahkan mengancam, tapi seksi. Aku bisa tersesat di kedalaman matanya.

“Jadi sekarang kau adalah bosku,” aku membentak.

“Secara teknis ya.”

“Dan, secara teknis, aku sudah tidur dengan bosku itu.”

“Saat ini, kau sedang bertengkar dengannya.” Jawab Chanyeol dengan cemberut.

Brengsek! Aku marah padamu, jangan membuat aku tertawa!

“Jangan membuatku tertawa saat aku marah padamu!” Teriakku.

Dan dia tersenyum,, mempesona, memperlihatkan semua giginya, dan aku tidak bisa menahannya. Aku tersenyum dan tertawa juga. Bagaimana tidak bisa terpengaruh kegembiraan ini saat aku melihat senyumnya?

Dia bersandar, dan aku pikir dia akan menciumku tapi dia tidak melakukannya. Dia mengendus rambutku dan menghirup dalam-dalam
.
“Seperti biasa, kau tidak bisa diduga.” Dia bersandar dan menatapku, matanya menari dengan humor.

Dan kami berdiri saling menatap, menyelami satu sama lain, tidak berkata-kata, hanya menatap. Aku menggigit bibirku saat gairah pada pria tampan ini menyitaku dengan sepenuh hati, membakar darahku, menyesakkan napasku, bersatu di bawah pinggangku. Aku bisa melihat reaksiku yang terpantul disikapnya, dimatanya.

Sejenak, dia menarik pinggangku untuk mendekat padanya, tanganku meraih rambutnya dan mulutnya menciumku. Dia mendorongku sampai menempel ke tembok. Aku mengerang di dalam mulutnya, dan salah satu tangannya meremas rambutku, menarik kepalaku kebelakang saat kami berciuman dengan liar.

“Apa yang kau inginkan, Yeon Joo?” desahnya.

“Kamu.” Aku terengah-engah.

“Dimana?”

“Tempat tidur.”

Dia melepaskan diri, menggendongku, dan membawaku dengan cepat seperti tanpa adanya beban masuk ke dalam kamar tidur. Menurunkan aku di samping tempat tidur, dia membungkuk dan menyalakan lampu samping tempat tidur.

“Sekarang apa?” Katanya lembut.

“Bercintalah denganku.”

“Bagaimana?”

Astaga.

“Kau harus menjelaskannya padaku, sayang.”

Sialan.

“Buka pakaianku.” Aku sudah terengah-engah.

Dia tersenyum dan mengaitkan jari telunjuknya ke kemeja terbukaku, menarikku ke arahnya.

“Anak manis,” bisiknya, tanpa melepaskan tatapan matanya yang berkobar padaku, perlahan
mulai membuka kancing bajuku.

Sementara aku meletakkan tanganku di atas lengannya supaya aku tetap stabil. Ketika selesai membuka kancingku, dia menarik lepas kemejaku melewati bahuku, dan aku melepaskan peganganku dari lengannya dan membiarkan bajuku jatuh ke lantai. Dia meraih pinggang celana jeansku, membuka kancing, dan menarik turun risletingnya.

“Katakan padaku apa yang kau inginkan, Yeon Joo.” Matanya membara dan bibir terbuka sambil terengah-engah.

“Cium aku dari sini ke sini,” bisikku, jariku menelusuri dari pangkal telingaku, turun ke tenggorokanku.

Dia menyibakkan rambutku keluar dari pangkal telingaku yang terbakar dan membungkuk, meninggalkan ciuman manis yang lembut di sepanjang jalan jariku tadi lalu kembali lagi.

“Jins dan celana dalamku,” bisikku, dan dia tersenyum di tenggorokanku sebelum berlutut dihadapanku.

Oh, aku merasa begitu berkuasa. Mengaitkan ibu jarinya ke dalam celana jinsku, dengan lembut dia menarik jins dan celana dalamku menuruni kakiku. Aku melepaskan sepatu dan pakaianku hingga aku hanya mengenakan bra-ku. Dia berhenti dan menatapku dengan penuh harap, tapi dia tidak berdiri.

“Sekarang apa, Yeon Joo?”

“Cium aku,” bisikku.

“Dimana?”

“Kau tahu di mana.”

“Dimana?”

Oh, dia tidak mau berbelit-belit. Karena merasa malu aku segera menunjuk pada pangkal pahaku, dan ia menyeringai dengan nakal. Aku menutup mataku, sangat malu tapi sekaligus sangat terangsang.

“Oh, dengan senang hati,” ia terkekeh.

Dia menciumku dan melepaskan lidahnya, lidah terlatih memberikan kenikmatan. Aku mengerang dan tanganku meremas rambutnya. Dia tidak berhenti, lidahnya berputar-putar di clitorisku, membuatku gila, dan terus, berputar-putar.

Ahhh. . . ini hanya. . . sampai berapa lama. . . ?

Oh. . .

“Chanyeol, kumohon,” Aku memohon.

Aku tidak ingin lepas sambil berdiri. Aku tidak punya kekuatan.

“Mohon apa, Yeon Joo?”

“Bercintalah denganku.”

“Aku sedang melakukannya,” bisiknya, dengan lembut menghembuskan napas padaku.

“Tidak. Aku ingin kau dalam diriku. ”

“Apakah kau yakin?”

“Kumohon.”

Dia tidak mau menghentikan siksaan yang nikmatnya. Aku mengerang keras.

“Chanyeol. . . kumohon.”

Dia berdiri dan menatap ke arahku, dan bibirnya berkilau dengan bukti gairahku. Sialan . .

“Jadi?” Tanya dia.

“Jadi apa?” Aku terengah-engah, menatapnya dengan keinginan yang membara.

“Aku masih berpakaian.”

Aku menganga padanya dengan bingung.

Menanggalkan pakaiannya? Ya, aku bisa melakukan ini. Aku meraih kemejanya dan dia melangkah mundur.

“Oh bukan itu,” ia memperingatkan. Sial, maksudnya celananya.

Oh, dan ini memberiku sebuah ide. Aku pun berlutut dihadapannya. Agak canggung dengan jari gemetar, aku membuka ikat pinggangnya, kemudian menarik celananya dan celana boxernya ke bawah, dan dia pun terlepas. Wow.

Aku mengintip ke arahnya melalui bulu mataku, dan dia menatapku dengan. . . apa?

Gelisah? Terpesona? terkejut?

Dia melangkah keluar dari celananya dan aku mengambil lalu menggenggamnya dengan tanganku dan meremas erat, mendorong kembali tanganku seperti sebelumnya yang pernah dia tunjukkan padaku. Dia mengerang dan menegang, dan napasnya mendesis melalui giginya yang terkatup. Aku menempatkan ke dalam mulutku dan mengisapnya dengan keras. Mmm, rasanya enak.

“Ahh. sayang. . . whoa, pelan-pelan.”

Dia memegang kepalaku dengan lembut, dan aku mendorongnya lebih dalam ke dalam mulutku, mengatupkan bibirku seketat mungkin, menyelubunginya dengan gigiku, dan mengisapnya dengan keras.

“Sialan,” dia mendesis.

Oh, ini bagus, membangkitkan semangat, suara yang seksi, jadi aku melakukannya lagi, menghisapnya lebih dalam lagi, lidahku berputar-putar di ujungnya. Hmm. . . lollipop rasa Chanyeol

“Yeon Joo, sudah cukup. Tidak lagi.”

Aku melakukannya lagi.

“sayang, kau sudah menunjukan maksudmu,” ia mengerang melalui giginya yang terkatup. “Aku
tidak mau terlepas didalam mulutmu.”

Aku melakukannya sekali lagi, dan ia membungkuk, mencengkeram bahuku, menarikku berdiri, dan melemparkan aku ke tempat tidur. Menarik kemejanya ke atas kepalanya, kemudian ia meraih kebawah untuk membuang celananya, dan mengeluarkan paket foil. Dia terengah-engah, sepertiku.

“Lepaskan bra-mu,” perintahnya.

Aku duduk dan melakukan seperti yang dia katakan.

“Berbaringlah. Aku ingin melihatmu.”

Aku berbaring, menatapnya saat dia perlahan-lahan menggulungkan kondomnya. Aku sangat menginginkan dia. Dia menatap ke arahku dan menjilati bibirnya.

“Kau adalah pemandangan yang sangat indah, Oh Yeon Joo.”

Dia membungkuk di atas tempat tidur dan perlahan-lahan merangkak naik di atasku sambil menciumi seluruh tubuhku. Dia mencium setiap payudaraku dan menggoda putingnya secara bergantian. sementara aku mengerang dan menggeliat di bawahnya, dan dia tidak berhenti.

Tidak. . . Berhenti. Aku menginginkan kamu.

“Chanyeol, kumohon.”

“Mohon apa?” Gumamnya di antara payudaraku.

“Aku ingin kau dalam diriku.”

“Apakah kau memohon sekarang?”

“Kumohon.”

Menatapku, ia mendorong kedua kakiku agar terpisah kemudian dia berpindah di atasku. Tanpa mengalihkan tatapan matanya dariku, dia tenggelam ke dalam diriku dengan kecepatan yang lambat dan terasa nikmat.

Aku memejamkan mata, menikmati rasa penuh ini, perasaan indah saat menjadi miliknya, secara naluriah aku menaikkan pinggulku untuk bergabung dengannya, mengerang keras. Dia mendorong masuk kembali dan dengan sangat lambat mengisiku lagi. Jari-jariku meremas ke dalam rambut halusnya dan dia oh begitu perlahan gerakannya, masuk dan keluar lagi dalam tubuhku.

“Lebih cepat, oppa, lebih cepat. . . kumohon.”

Dia menatap ke arahku dengan penuh kemenangan dan menciumku dengan keras, dan benarbenar mulai bergerak – ya ampun, sebuah hukuman, tanpa henti. . . oh sial – dan aku tahu ini tidak akan lama. Dia mulai melepaskan hentakan berirama. Aku mulai mempercepat, kakiku menegang di bawahnya.

“Ayo, sayang,” ia terengah-engah. “Berikan padaku.”

Kata-katanya meruntuhkan aku, dan aku pun meledak, menakjubkan, pikiranku seakan mati rasa, menjadi berkeping-keping di sekelilingnya, dan dia mengikutiku sambil meneriakan namaku.

” Yeon Joo! Oh, ya ampun, Yeon Joo!” Dia jatuh di atasku, kepalanya terkubur ke leherku.

Ada cahaya di mana-mana. Terang, hangat, dan aku berusaha untuk mengabaikannya walau hanya untuk beberapa menit yang sangat berharga. Aku ingin bersembunyi, hanya beberapa menit lagi. Tapi cahayanya terlalu terang, dan akhirnya aku menyerah untuk bangun. sinar matahari masuk melalui kaca jendela dan menyinari ruangan dengan cahaya yang terlalu terang.

Mengapa kita tak menutup tirai semalam? Aku di tempat tidurnya yang besar tanpa Chanyeol. Aku berbaring sejenak melihat dari jendela kaca pemandangan kota Seoul yang sangat indah. Hidup di atas awan pasti terasa tak nyata.

Aku merangkak keluar dari tempat tidur, merasa kaku, ungkapan yang lebih tepatnya, sering dipakai. Ya, jadi semuanya tentang seks. Aku ke kamar mandi dengan cepat, aku pergi mencari Chanyeol.

Dia tak di meja makan tapi ada seorang wanita setengah baya anggun sedang membersihkan dapur. Pandangannya menghentikanku. Dia memiliki rambut pendek rapi, mengenakan kemeja putih polos yang pas ditubuhnya dan celana berwarna biru tua. Dia tersenyum lebar saat dia melihatku.

“Selamat pagi, nona Oh. Apakah Anda ingin sarapan?” Nada suaranya hangat tapi agak kaku, dan aku tertegun.

Siapa wanita ini, kenapa berada di dapur Chanyeol? Aku hanya mengenakan t-shirt Chanyeol.
Aku jadi sadar dan malu dengan kekuranganku dalam berpakaian.

“Aku khawatir anda melihatku pada saat yang tak menguntungkan.” Suaraku tenang, tak bisa
menyembunyikan kegelisahan dalam suaraku.

“Oh, aku benar-benar minta maaf – aku Bibi Kim, pengurus rumah Tuan Park.”

Oh.

“Apakah anda ingin sarapan, Nyonya?”

Nyonya!

“Hanya teh pasti menyenangkan, terima kasih. Apakah anda tahu di mana Chanyeol?”

“Di ruang kerjanya.”

“Terima kasih.”

Continue…
Gimana?
Makin bingung gak sama ceritanya?

Makasih udah baca..
Maaf kalau ada Typo..
Keita..

Ps: cerita disini terinspirasi dari Fifty Shades

45 thoughts on “Perfect Match Part 7

  1. Wah chanyeol punya saingan baru… si donghae…
    Penyatuan yg begitu indah, aq suka cara menyusun kata2nya… jadi terlihat manis romantis dan hot gituuu…

    Suka

  2. sukaaa sama ceritanya hehehe habis baca ini aku langsung nonton fifty shades lagi hahahaha cuma mungkin perlu di perhatiin tanda bacanya thor hehe

    Suka

  3. Yeoja misterius yang nemuin yoon jo itu siapa?
    Mantan chanyeol kah???

    Euhhhh chanyeol makin hari makin over aja sama yoon jo takut yeoja nya di ambil orang sampai2 rela beli perusaaan yoon jo tempat dia kerja

    Suka

  4. Omo. Omo. Tumben pendek thor? Cepet pula. Tau tau dah pagi aja… hmmmm, kurang panjangggggggggg thooorrrrr. but, keren.. Ditunggu next partnya thor😊

    Suka

  5. Beberapa adegan seperti di Fifty shades darker. Yang datang ke tempat minun depan kantor dan membeli perusahaan. Obrolannya sama. Hehe tapi keren kok. Aku suka pria yang berkuasa. Sampai2 membeli perusahaan tempat kita bekerja karena kita bekerja di tempat itu.

    Disukai oleh 1 orang

  6. perempuan yg datengin yeon jo itu perempuan masa lalu chanyeol ya klo gk salah yg kerja drmh ortu chanyeol yeon jo makin agresif ya eon dtggu nextnya eon jgn lama2 eonn fighting

    Suka

  7. cerita ini bner” bkin iri org yg baca nya,,
    Ahh kapan ya mereka nikah,
    Ah blumnikah ajj udahromantis banget apa lagi klo udah nikah pasti mkin sweet

    Suka

  8. Yeonjo agresif ginj yaa. Kkkkk
    Kagak jauh dri kasur mereka inkj….
    Itubyg nemuin yeonjo dkantor siapa?? Apa mantan chanyeol kah???
    Makin menarik walaupun masih bingung ini crta mau dgimanakan.
    ttp semangat thor

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s