New Time (Sequel of Time) Part 3


newtime1234

 

Author : Mrs. Bi_Bi

Tittle: New Time

Category: NC21, Yadong, Marriage Life, Chapter

Cast : Cho Kyuhyun, Dennis Oh, Oh Joon Ae (OC)

Other Cast:  Cho Joon Hyun, Choi Siwon, Cho Ah Ra

 

HAL yang perlu ditekankan adalah, hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.  Takdir tidak sebaik, seramah, dan semenyenangkan itu hingga semua yang kita ingini akan terjadi meski telah melalui jalan yang sulit.

 

Tapi memang, dalam beberapa kasus apa yang diinginkan seorang pribadi menjadi kenyataan setelah pribadi tersebut melalui berbagai macam rintangan, namun dalam beberapa kasus lainnya? Tidak.  Tidak sama sekali.  Takdir tetap melakukan apa yang diinginkannya tanpa peduli pribadi tersebut menyukainya atau tidak.

 

Tanpa peduli apakah yang tengah disentuh dengan ke-egoisan-nya adalah seorang anak kecil macam Joon Hyun yang harusnya menjalani hidup dengan indah dan menyenangkan dengan limpahan kasih sayang kedua orang tuanya, atau pria dewasa macam Kyuhyun yang harusnya pulang bekerja dengan sambutan hangat dan penuh cinta istrinya, hingga entah seorang tua macam Tuan Cho yang harusnya duduk santai dengan pemandangan penuh tawa anak dan cucunya, takdir yang sering dikatakan tidak memiliki mata tetap melakukan apapun sekehendaknya.  Melakukan apa yang menurutnya baik dan benar tanpa ada niatan untuk sekedar bertanya apakah mereka yang disentuhnya menginginkan hal macam itu atau tidak.

 

 

 

***

Di antara anak seusianya yang lain, Joon Hyun memutuskan untuk duduk seorang diri pada pojokan tempat penitipan anak Rumah Sakit dimana halmeoni-nya di rawat.  Tanpa sedikitpun keinginan untuk mencoba beberapa permainan, bermain dengan anak seusianya—bahkan dengan Rae Mi sekalipun yang semenjak tadi berusaha menariknya untuk ikut bermain namun ia tolak, Joon Hyun berakhir dengan membiarkan dirinya sendiri tampak menyedihkan.

 

Terdiam dengan kepala tertunduk dan kedua tangan memeluk kedua kaki terlipatnya, sungguh, tidak seharusnya bocah berusia 6 tahun terlihat semenyedihkan itu.

 

 

“Joon Hyun-ah?”

 

Ah Ra yang baru saja datang setelah merasa cukup untuk menjenguk eomma-nya pada hari itu, dan bersiap untuk pulang, datang.  Muncul dan langsung duduk dihadapan Joon Hyun bersama putri kecilnya yang menyusul.

 

Sedikit menunduk untuk mengintip wajah Joon Hyun, tanpa bertanya-pun harusnya Ah Ra tahu bahwa bocah itu sedang tidak baik-baik saja.  Sayangnya wanita itu lebih memilih untuk bertanya dibanding paham dan melewati basa-basi kuno yang membosankan,  “Kau baik-baik saja?”  Mengusap puncuk kepala tertunduk Joon Hyun, sebelah tangannya yang lain menyentuh kedua tangan anak itu yang saling terpaut di antara kakinya.

 

Sedikit memaksakan senyumnya, kepala Joon Hyun yang mendongak padanya dengan kedua mata bengkak mengembalikan garis mendatar pada bibir Ah Ra.

 

Oh, sudah berapa lama ia menangis?

 

Iba dengan wajah memelas Joon Hyun, Ah Ra hanya bisa berkata, “Kau pasti salah orang, Joon Hyun-ah.  Orang itu pasti hanya tidak sengaja menemukan foto eomma-mu, seperti katanya.”

 

“Tapi ini berbeda.”  Joon Hyun berucap dengan riak perih yang baru kali ini Ah Ra lihat dari anak berumur 6 tahun.  Masih menggenggam foto Joon Ae yang didapatnya dari seorang asing siang tadi, Joon Hyun kembali menundukkan kepalanya sekedar melihat lembar foto itu dan meyakinkan dirinya bahwa benar, itu adalah eomma-nya dan bahwa benar, foto ini berbeda.   “Foto Eomma disini berbeda dengan yang appa miliki dan tunjukkan.  Eomma tampak lebih tua disini dibanding dengan foto yang appa miliki.  Seperti foto imo saat sekolah dulu, dengan foto imo saat ini.  Berbeda, imo.”  Lancarnya penuh penekanan tanpa satupun jeda atau keraguan dalam kalimatnya.

 

Anak itu jelas tengah mengungkapkan pikiran yakinnya, bahwa ia tidak salah dan anggukan kepala Ah Ra adalah apa yang diharapkannya, untuk mendukung dan untuk mengatakan pada appa-nya bahwa eomma-nya masih hidup.

 

Namun meski pada kenyataannya Ah Ra tidak mengangguk, Joon Hyun sudah berencana untuk mengatakan semua ini pada appa-nya tidak peduli pendapat mereka yang bersikeras mengatakan bahwa wanita dalam foto itu bukan eomma-nya.  Joon Hyun percaya bahwa Appa-nya pasti akan berpikiran sama sepertinya.  Bahwa wanita dalam foto ini adalah eomma-nya dan pria tadi adalah pria jahat yang mengambil eomma-nya.

 

Ah Ra tersenyum kecut melihat sorot tajam Joon Hyun juga ucapan yakinnya yang juga Kyuhyun miliki jika telah mengambil sebuah keputusan, cukup untuk membuatnya lupa tentang siapa orang tua anak ini sebenarnya.

 

“Beberapa orang terlahir ke dunia dengan rupa yang mirip meski bukan saudara.  Imo akan memberikan beberapa contohnya nanti.  Tapi sekarang, jangan lagi bersedih dan memikirkan tentang ini.”  Ah Ra hanya berkata seperti itu, dan Joon Hyun kembali menundukkan kepalanya dengan rengutan samar, memegang erat-erat foto di kedua tangannya dengan keputusan bahwa, sampai di rumah nanti dirinya akan tunjukkan ini pada Kyuhyun.

 

 

Sebenarnya setelah menit itu, menit dimana Ah Ra menggandeng tangan Joon Hyun juga Rae Mi pada masing-masing tangannya dan menuju mobil yang akan membawa mereka pulang dimana appa-nya, Tuan Cho sudah menunggu di dalam sana, tidak akan ada hal buruk apapun lagi.  Tidak padanya, keluarganya, bahkan pada Joon Hyun andai, andai ketika Ah Ra sudah berada di dalam mobil ia menutup kedua mata kantuknya seperti Joon Hyun tanpa keinginan untuk melakukan itu di rumah saja, saat tubuhnya bersentuhan dengan ranjang empuk.

 

Maka ketika Ah Ra bersikeras untuk memejamkan kedua mata kantuknya ketika sudah sampai di rumah saja itu, siluet familiar yang hadir dalam indra penglihatannya dan merembet pada indra pengecapnya tanpa sadar, tanpa bisa di kontrol, nama itu terucap begitu saja—membuatnya terkurung pada masalah yang sebenarnya tidak ingin dihadapinya lagi.  “Oh Joon Ae,”

 

Dari sanalah semuanya di mulai.  Joon Hyun yang belum benar-benar tertidur, langsung tersentak dengan gerakan tubuh memutar, menghadap arah depan mobil dimana sepasang mata Ah Ra tertuju kesana tanpa sekalipun bisa dibelokkan.

 

Eomma……”  Joon Hyun bereaksi cepat.  Membuka pintu mobil dengan mudah, anak itu beringsut turun dari pangkuan Ah Ra bahkan sebelum imo-nya itu tersadar dari kekagetannya akan sosok Joon Ae yang dalam kepalanya berputar-putar kalimat, tidak mungkin itu Joon Ae.

 

Gambaran wanita dengan tubuh penuh luka itu langsung muncul dalam kepala Ah Ra berikut kacaunya rumah sakit pada saat itu.  Semua dokter dan perawat berkumpul tanpa memikirkan pasien lainnya hanya untuk menyelamatkan satu pasien yang bahkan dari tampilannya sudah mengatakan bahwa pasien itu tidak bisa untuk di selamatkan.

 

Teriakan menakutkan dengan berbagai macam sumpah serapah dan ancaman bersama todongan pistol pada setiap kepala mereka yang berpakaian putih dan mengakui dirinya sebagai dokter agar pasien itu diselamatkan, pada akhirnya berakhir dengan berbagai macam kalimat mengemis saat para dokter itu menggelengkan kepala tidak mampu meski satu tarikan pelatuk mampu membuat kepala mereka berlubang.

 

Pria yang bahkan selalu menakutkan itu menangis 6 tahun lalu, menyembah setiap pasang kaki disana untuk menyelamatkan adiknya hingga untuk pertama kali, siapapun yang membencinya akan merasa begitu iba.  Lalu kini, wanita yang bahkan sudah dinyatakan tidak memiliki harapan untuk hidup lewat sedetik itu berdiri dengan anggun dan sehat, mungkinkah Siwon seperti yang dikatakan oleh semua orang?  Tidak ada yang tidak bisa dilakukannya.

 

 

“Apa yang kau lakukan?!  Cho Ah Ra!  Kejar Joon Hyun!”

 

Bentakan Tuan Cho dari kursi samping sopir menghentikan lamunan Ah Ra, sekaligus menyadari tentang perginya Joon Hyun dari pangkuannya.  Melangkahkan kakinya segera, Ah Ra mendekati Joon Hyun yang kini sudah memeluk dan berteriak dengan memanggil eomma pada wanita itu, wanita yang masih membuat kepala Ah Ra penuh dengan kalimat, tidak mungkin ini Joon Ae.

 

“Joon Hyun lepaskan!  Dia bukan eomma-mu!”  Ah Ra langsung menarik tubuh kecil Joon Hyun kuat dari tubuh wanita dihadapannya yang tampak begitu kaku dan terkejut dengan keadaan yang kini di alaminya.  “Joon Hyun-ah, Cho Joon Hyun, Joon Hyun-ah jangan begitu.  Lepaskan tanganmu, nak.  Sudah, Joon Hyun-ah!”

 

Eomma, imo.”  Joon Hyun menunjuk wanita dihadapan mereka lurus saat Ah Ra berhasil melepaskan pelukannya pada wanita yang di akuinya jelas sebagai Joon Ae, eomma-nya.  “Imo lepas!  Imo!”  Teriak Joon Hyun berontak dalam gendongan Ah Ra tanpa sekalipun niatan untuk memalingkan wajahnya dari Joon Ae, mencoba beringsut—anak itu harus menerima takdir bahwa tubuhnya masih belum mampu melawan Ah Ra.  “Imo,”  Suara Joon Hyun mulai melemah, berikut pandangan sendunya yang mulai teralihkan pada wajah pucat Ah Ra.

 

Joon Ae?  Tidak mungkin.  Ah Ra hanya mampu membatin selagi tubuhnya mematung kaku.  Dirinya tidak buta dan matanya masing sangat amat bagus jika harus dibandingkan dengan milik Kyuhyun yang minus.  Rupa wanita dihadapannya, dirinya tidak butuh kaca pembesar untuk memperjelas bahwa itu adalah benar Joon Ae, sosok yang harusnya memang benar meninggal sebagaimana yang selama ini ia dan keluarganya katakan pada Kyuhyun.  Seseorang yang terlahir dengan rupa mirip seperti yang tadi ia katakan pada Joon Hyun, tampaknya harus di tariknya kembali.  Wanita ini lebih dari sekedar mirip dengan Joon Ae.

 

Sementara dua orang dihadapannya bertahan dengan sikapnya masing-masing, wanita lebih dewasa yang menatapnya intens bagai menguliti dirinya juga anak kecil yang terus merengek untuk dilepas dan memanggilnya eomma, wanita itu, yang benar Joon Ae, menatap mereka berdua dihadapannya heran.

 

Bagi Joon Ae, ini adalah pertemuan pertamanya dengan Joon Hyun ataupun Ah Ra.  Lalu bagaimana bisa bocah asing dihadapannya ini memeluk dan memanggilnya eomma?  Dirinya bahkan dengan yakin berani berkata bahwa sebelum ini tidak pernah hamil.  Tidak menurut cerita Siwon, bahkan tidak menurut kesadaran penuhnya selama hampir 5 tahun belakangan ini.  Lalu kenapa bisa muncul anak kecil yang tiba-tiba saja mengakuinya sebagai eommaDarimana asal bocah ini?  pikir Joon Ae.

 

“Ada apa ini?”

 

Satu tokoh lain muncul, mendekat hingga berdiri di antara 3 orang yang membentuk 2 kubu berbeda.  Mirip seorang penengah konflik.

 

“Den,”  Joon Ae menoleh begitu sadar bahwa itu adalah suara Dennis dan tanpa mengurangi raut bingungnya ia langsung menarik suaminya untuk lebih dekat dengannya.  Seolah perisai, Joon Ae memundurkan tubuhnya dan bersembunyi di belakang tubuh tegap Dennis.  “Help me,”  Joon Ae berbisik dengan pandangan waspada pada mereka, Ah Ra dan Joon Hyun.  “I don’t know who they are.  Tapi anak kecil itu memanggilku eomma, dan wanita itu menatapku seolah aku ingin dibunuhnya.”

 

Dennis menoleh mengikuti pandangan awas istrinya.  Kembali bertatapan dengan Joon Hyun, pria itu tersenyum tipis dengan anggukan kepala pelan seolah paham dengan keadaan yang kini tengah terjadi.  Menyentuh kedua tangan Joon Ae yang merangkul lengannya erat, Dennis sedikit menelengkan kepalanya pada Joon Hyun dengan sebelah tangan melambai.  “Hai, adik kecil.”  Sapanya, menarik keseluruhan perhatian tiga orang disana padanya.

 

“Kau tahu mereka?”  Joon Ae kembali berbisik.

 

“Sesuatu terjadi padaku bersama bocah ini siang tadi dan kupikir, aku belum ceritakan itu padamu.”  Sebelah alis Dennis terangkat saat pandangannya dan Joon Ae kembali bertemu.  “Maaf,”  Dennis menghadap Ah Ra dan Joon Hyun lurus.  “Kupikir ini salahku hingga adik kecil ini menganggap istriku sebagai eomma-nya.”

 

“Dia eomma-ku, istri appa-ku, bukan istri Tuan.”

 

Joon Hyun mengulang kalimatnya siang tadi dengan pandangan lebih sendu.

 

“Wanita ini adalah istriku, adik kecil.”  Dennis tersenyum dan menoleh pada Joon Ae sesaat sebelum menatap Ah Ra.  “Maafkan aku untuk kesalahpahaman ini, Nyonya.”  Ucapnya pada Ah Ra yang bahkan belum tersadar dari keterkejutannya.  “Kupikir istriku mirip dengan eomma-nya, karena itu dia berkata bahwa istriku adalah eomma-nya yang bernama Oh Joon Ae.  Tapi dia adalah istriku, Isabelle O’Connell, dan bukan eomma-nya.”  Sebelah tangan Dennis menarik tubuh Joon Ae agar berdiri disampingnya.  Merangkul pundak Joon Ae, Dennis seolah hendak mengatakan tersirat pada istrinya itu bahwa tidak ada yang perlu untuk di khawatirkan.  “Aku membohongi adik kecil ini tadi, dengan berkata bahwa dia bukan istriku dan namanya bukan Isabelle.  Aku tidak berpikir sejauh ini hingga mereka bisa bertemu dan adik kecil ini memeluk istriku dengan kesalahpahaman yang aku buat.  Karenanya, maafkan aku.”  Dennis membungkukkan tubuhnya dalam pada Ah Ra hingga Joon Ae yang kembali memeluk lengan pria itu erat ikut membungkukkan sedikit tubuhnya.

 

“Den,”  Joon Ae menarik lengan Dennis untuk kembali menatapnya dan menghentikan bungkukan tubuhnya pada dua orang yang masih di anggapnya aneh.  Kerutan halus di kening Joon Ae yang langsung tampak, jelas untuk menggambarkan kebingungannya.

 

“Bukan apa-apa.”  Dennis mengusap puncuk kepala Joon Ae.

 

Kembali menoleh pada Ah Ra dan Joon Hyun yang entah sejak kapan menghentikan tangisnya, Dennis kembali berucap.  “Maaf aku mengatakan kebenarannya secara langsung dan dihadapan adik kecil ini.  Istriku mengalami kecelakaan 6 tahun lalu dan karena itu ingatannya menghilang.  Aku hanya tidak ingin terjadi kesalah pahaman yang akan membuat istriku kebingungan, juga adik kecil ini pada masa depan.”

 

Setelah itu, Joon Hyun tidak membuka sedikitpun matanya.  Membalik tubuhnya dan memeluk Ah Ra erat tanpa sedikitpun pandangannya terhadap Joon Ae lagi, Joon Hyun baru membukanya ketika berada di dalam kamar dan melepaskan hal mengganjal dalam hatinya begitu melihat Kyuhyun.

 

 

 

Eomma, eomma belum meninggal.  Eomma masih hidup.  Mereka menyembunyikan eomma.”

 

Kyuhyun hampir memaki andai yang mengatakannya bukan Joon Hyun, putranya.  Mengucapkan hal semacam itu dengan Joon Ae  yang bahkan sudah menyatu dengan tanah, mana boleh?

 

“Dengar,”  Kyuhyun sudah menuding Joon Hyun dengan telunjuknya tidak peduli pada bagaimana tubuh anak itu bergetar dan tangis menyayat hatinya nampak dengan lelehan air mata tanpa henti.  Ia tidak percaya tentu saja, jika Joon Ae masih hidup tidak mungkin Joon Hyun bersamanya.  Wanita itu sudah pasti akan membawa putranya tanpa bisa dicegah apalagi di halangi.  Namun sebelum Kyuhyun berucap, Joon Hyun mendahuluinya.

 

Eomma hilang ingatan karena kecelakaan itu, bukan meninggal.”

 

Bahkan setelah ucapan Joon Hyun tersebut, Kyuhyun belum percaya dan hanya menganggapnya sebagai ucapan kosong seorang anak kecil yang merindukan eomma-nya.

 

Barulah setelah Kyuhyun keluar dari kamar Joon Hyun dan setengah berlari ke lantai dua rumahnya untuk bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada appa juga noona-nya yang berada di sana, tentang bagaimana bisa Joon Hyun berkata seperti itu, ada kejadian apa sebelum ini?  itulah yang hendak Kyuhyun tanyakan.  Namun pertanyaan itu harus Kyuhyun telan ketika telinganya lebih dulu mendengar ucapan Ah Ra,  “Itu benar Joon Ae, appa. Dan dia masih hidup?  Bukankah harusnya dia meninggal karena kecelakaan itu?  Bagaimana bisa dia selamat dan berdiri dihadapan kita dengan keadaan sebaik itu?”  Terang Ah Ra, membuat Kyuhyun yang berada di balik pintu dan mendengarnya dengan jelas mulai terkikik pelan sementara wajahnya yang tadi memucat saat Ah Ra baru menyelesaikan kalimatnya mulai memerah diikuti lelehan air mata tidak terbendung yang sungguh-sungguh tidak senada dengan tawa kencangnya kemudian.

 

 

 

***

Kyuhyun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh tanpa melihat putranya yang masih menangis dalam pangkuannya.  Appa dan anak itu, mereka berdua, saling menangis bersautan hingga tidak bisa menenangkan satu sama lainnya, dan hingga tidak bisa dijelaskan siapa yang lebih menyedihkan dibanding siapa.  Seorang anak yang berpikir bahwa eomma-nya meninggal namun masih hidup, atau seorang suami yang berpikir bahwa istrinya sudah meninggal namun masih hidup.

 

 

Itu benar Joon Ae, appa. Dan dia masih hidup?  Bukankah harusnya dia meninggal karena kecelakaan itu?  Bagaimana bisa dia selamat dan berdiri dihadapan kita dengan keadaan sebaik itu?

 

 

Kyuhyun mengusap air matanya sesekali mengingat ucapan noona-nya.  Joon Ae masih hidup, istrinya belum meninggal, lalu kenapa mereka mengatakan padanya bahwa selama ini Joon Ae telah meninggal?  Kenapa mereka masih sebenci itu pada hubungannya dan Joon Ae hingga tega melakukan kebohongan sebesar ini?  Setidaknya, lihatlah Joon Hyun jika kebahagiaan dirinya memang sudah tidak berharga lagi.  Memisahkan suami dari istrinya, anak dari eomma-nya, apa mereka masih bisa dipanggil manusia?

 

Kyuhyun terluka, sungguh hatinya begitu sakit.  Belum pernah dirinya dibohongi hingga sekejam ini, belum pernah pula dirinya merasa terbakar karena marah hingga tingkatan ini yang bagaimanapun dirinya menangis dan mengeluarkan emosinya, sakit dalam dadanya tidak kunjung reda—menggerogotinya dari dalam hingga rasanya ia akan mati perlahan.

 

Sampai pada titik ini, Kyuhyun merasa benar-benar bodoh karena tipuan halus yang dilakukan oleh keluarganya, juga bodoh pada dirinya sendiri yang terkecoh dengan mudahnya oleh keadaan ini.  Joon Ae adalah adik Siwon, pria yang sejak bertahun-tahun lalu dikatakan sebagai pria paling berpengaruh di Asia dan bagaimana bisa dirinya terkecoh sebanyak ini?  Bagaimana bisa dirinya tidak mengetahui semua ini bahkan selama 6 tahun lamanya?  Bagaimana bisa dirinya buta untuk sesuatu hal yang sebenarnya sangat mudah diketahui?  Dan jika mengingat kenyataan itu, dirinya bahkan tidak benar-benar bisa menyalahkan orang tuanya.

 

 

 

***

19 September 2016

Pagi itu Changmin memasuki salah satu cafe miliknya yang bertempat di Dongdaemun dengan langkah terburu.  Piyama berwarna biru gelap yang semalam ia pakai ketika menemani anaknya menyelesaikan tugas menggambar dan dibawanya tidur bahkan masih menampakkan cat berwarna kuning dan putih pada bagian depannya tanpa sempat ia bersihkan, atau bahkan ia sadari hingga perlu kiranya untuk berganti sebelum muncul dihadapan beberapa pegawainya seperti saat ini.  Jangankan itu, rambut acak-acakan dengan beberapa helainya yang saling bertabrakan hingga terlihat benar-benar kusut, dan sepasang alas kaki yang dikenakannya namun tidak senada, makin menambah tampilan kacaunya yang baru pagi ini ditunjukkannya pada semua pegawainya disana.

 

Panggilan telfon dari salah satu pegawai yang sebenarnya tidak ia percaya sebab aneh, tidak masuk akal, dan mustahil, dipadukan kiriman foto sebab tidak percayanya ia, adalah alasan dari terlonjaknya pria jangkung itu dari ranjang empuknya dan langsung menuju kemari tanpa peduli pada tampilannya.

 

“Mana?”  Changmin langsung bertanya pada pegawai yang tadi menelfonnya.  Membuka matanya lebar-lebar, menelusuri tiap sudut cafe-nya… hanya pegawai cafe yang sedang berbenah yang bisa Changmin lihat dan ia sudah siap memaki andai ucapan juga foto tadi adalah bohong semata.  “Kau tidak sedang mempermainkanku, bukan?”  Pria itu lebih terlihat sedang mengancam dibanding bertanya.

 

Tentu saja, saat ini masih terlalu—amat sangat pagi untuknya mendatangi cafe dimana kini dirinya berada, beberapa pegawainya bahkan baru saja selesai menurunkan semua kursi untuk kemudian di tata rapi dan pelanggan baru akan datang sekitar satu atau dua jam lagi.  Secangkir kopi, sarapan lezat, koran, dan ciuman pagi dari istri juga anaknya adalah apa yang ia lewatkan hanya karena ucapan juga foto tidak masuk akal yang pegawai hadapannya ini kirimkan.  Maka jika semua itu bohong, mungkin Changmin bisa lebih menakutkan dibanding Kyuhyun mengingat bahwa pria ini pernah Kyuhyun ajari tentang bagaimana caranya membuat ciut nyali orang lain.

 

“Itu, mereka ada di ruangan anda.”  Pegawai itu menjawab dengan tangan menunjuk arah kantor Changmin, dan wajah yang sedikit memberengut seolah tersinggung dengan ucapan tidak percaya yang Changmin katakan.

 

Sayangnya Changmin tidak terlalu memperdulikan tentang bagaimana wajah pegawai dihadapannya.  Mendongak pada salah satu ruangan di lantai dua yang bisa dilihatnya langsung dari tempat dirinya kini berada, tanpa menunggu apapun pria itu kembali melangkahkan kakinya lebar dan sedikit berlari kecil ketika menaiki anak tangga.  Ucapan pegawai tadi di telfon kembali terngiang dan itu membuatnya merinding.  Ada Tuan Muda Cho disini, saya tidak tahu sejak kapan beliau disini sebab ketika saya tiba beliau sudah berada di luar cafe, tertidur di lantai bersama putranya.  Mereka tampak sangat kacau

 

 

Kejamnya perlakuan Kyuhyun terhadap Joon Hyun, sudah sangat terkenal.  Bukan tentang kejam dalam artian memukul atau mengumpat, seperti yang sudah diketahui bersama—menghindar.  Karenanya, meskipun terkejut tentang mereka tampak kacau, kalimat tertidur bersama putranya lebih mengejutkan bagi Changmin, apalagi setelah foto yang sangat amat mustahil pegawainya itu kirimkan.  “Kyuhyun?”

 

Changmin hampir lupa bagaimana caranya bernafas saat melihat Kyuhyun tertidur di atas sofa empuknya bersama Joon Hyun.  Kali ini dirinya tidak bisa berkata bahwa ini mustahil apalagi mimpi.  Cho Kyuhyun, pria yang sangat—entah bagaimana menyedihkan sekaligus menyebalkan itu, tidur pada sofa memanjangnya dengan tubuh Joon Hyun di atasnya, membiarkan tubuh kecil itu menjadikan dirinya sebagai pengganti ranjang.  Bukan hanya itu, Kyuhyun bahkan melepaskan jas mahalnya untuk diselimutkannya pada tubuh Joon Hyun—kali ini pria itu benar-benar nampak sebagai appa sempurna.

 

Joon Hyun-ah, bagaimana caramu menaklukkan pria keras kepala ini?  Changmin membatin saat kedua matanya masih belum mengedip begitupun mulut terbukanya yang belum terkatup.

 

Sambil melangkahkan kakinya perlahan mendekati mereka berdua, hembusan nafas teratur Kyuhyun dan Joon Hyun yang terdengar bersamaan seolah mereka benar-benar appa dan anak sebenarnya yang begitu kompak atas apapun menyunggingkan senyum Changmin.  Namun itu tidak bertahan lama, sembab pada mata keduanya hingga bengkak—membuat senyumnya pudar.  “Apa yang sudah terjadi?”

 

Changmin seolah dibuat terheran-heran dengan segala hal pada pagi ini, Kyuhyun yang entah bagaimana tampak begitu menjaga Joon Hyun, dan sembabnya mata mereka berdua.

 

Menarik sofa kecil lain dalam ruangannya agar ia bisa duduk berdekatan dan lurus dengan Kyuhyun, pria itu mengulurkan tangannya perlahan dengan tepukan pelan pada pundak Kyuhyun.  “Kyu?  Kyuhyun-ah?  Kyu?”  Panggilnya perlahan serta hati-hati.

 

Dalam hatinya, Changmin berjanji andai dalam hitungan ketiga Kyuhyun tidak juga membuka matanya maka ia akan biarkan saja pria itu tidur dan tidak mengganggunya.  Namun seperti yang diharapkan, Kyuhyun terbangun, membuka matanya yang memerah saat pandangannya dan Changmin bertemu.

 

“Kau,”  Satu lagi keterkejutan menghantam tubuh kurus Changmin hingga tidak bisa bergerak kala sepasang mata yang biasanya begitu tajam menusuk itu mengeluarkan tetes air matanya berikut pandangan sendu.  “Kenapa? Kau kenapa?”  Herannya.

 

Bukannya segera menjawab, Kyuhyun justru menghela panjang untuk melegakan kerongkongannya yang kembali tercekat dengan ingatan beberapa jam lalu yang langsung muncul.  “Joon Ae,”  Sebutnya getir.  Menelan ludahnya sendiri, Kyuhyun menarik nafas lebih dalam dan melanjutkan kalimatnya.  “Joon Ae masih hidup.  Orang tuaku, noona-ku, membohongiku, membodohiku.  Mereka, kenapa begitu kejam?  Setidaknya pada Joon Hyun, kenapa mereka harus sekejam itu?”

 

Changmin terhenyak dengan kedua bahu menurun lemas berikut tubuh yang tanpa sadar mundur hingga punggungnya terantuk punggung sofa sementara Kyuhyun tampak mengerutkan keningnya.  Kedua tangannya yang berada pada punggung kecil Joon Hyun untuk memeluk anak itu mulai ia gerakkan ke atas dan kebawah, mengusap punggung itu dengan raut sedih yang wajahnya tunjukkan.  “Tidakkah Joon Hyun cukup menyedihkan dengan kebohongan seperti ini hanya untuk memisahkan kami?”

 

“Maksudmu?”  Changmin masih belum cukup mengerti ditambah ia baru saja bangun dan belum sempat cuci muka untuk membuat otaknya sedikit lebih segar meski sedikit banyak apa yang Kyuhyun katakan dan ungkapkan sebenarnya mampu otaknya serap dengan baik.

 

“Keluargaku dan Choi Siwon, pasti mereka bersekongkol untuk ini, memisahkan kami.”

 

Changmin membuang nafas panjang dengan pejaman mata erat untuk sesuatu hal yang tidak ingin ia dengar.  Menatap Joon Hyun begitu pejaman kedua matanya terbuka, dan sedikit menggigit bibirnya dengan pandangan khawatir pada Kyuhyun—pria itu berucap,  “Mungkin kita harus bicara di luar.”

 

Kisah panjang yang coba Kyuhyun ceritakan namun tampak tidak Changmin dengar terhenti.  Sedikit mengerutkan keningnya ditambah raut heran begitu melihat wajah pucat dan khawatir Changmin, Kyuhyun bertanya, “Kenapa?”

 

Dan pria itu hanya mendapati sebuah hela nafas berat yang makin panjang dari Changmin.

 

Merasa tidak tenang, juga perasaan curiga yang entah bagaimana memenuhi dadanya untuk Changmin, Kyuhyun mendudukkan diri perlahan sebab Joon Hyun yang masih tertidur dalam pelukannya dan ia sama sekali tidak ingin anaknya itu terbangun.  “Shht……”  Kyuhyun mencoba menenangkan Joon Hyun ketika anak itu mengeliat pelan dalam pelukannya.  Menepuk pelan punggung Joon Hyun, Kyuhyun lebih berfokus pada anak itu untuk saat ini dibanding Changmin yang makin merasakan rasa bersalah dalam dirinya.

 

“Kyu,”

 

“Jangan buat aku berpikir bahwa kau juga tahu, menyembunyikan ini semua, hingga bersekongkol dengan mereka.”  Ucap Kyuhyun yang mulai berdiri dengan pandangan lurusnya untuk Changmin yang justru tertunduk.

 

Untuk kesekian kalinya, Changmin menghela berat.  Mendongakkan kepalanya pada Kyuhyun, tampilan kacau mulai dari rambut acak-acakan, mata sembab, kemeja terkoyak dengan kedua lengan panjangnya yang dilipat asal hingga mencapai siku, berikut gerakan kecil khas untuk menina bobokkan seorang anak berpadu tepukan pelan pada punggung Joon Hyun yang masih dilakukannya agar bocah itu tetap terlelap, tidak mengurangi sedikitpun aura menakutkan yang Kyuhyun lempar begitu saja pada dirinya.  Untuk beberapa saat dirinya bahkan lupa bahwa sepasang mata tajam yang mengarah lurus padanya hingga mampu menembus tubuhnya itu dalam keadaan sembab dan menyedihkan.

 

Menelan ludahnya, pria itu ikut berdiri perlahan dengan segala keberanian tersisanya tanpa berani memandang Kyuhyun lama-lama.  “Ayolah….” Ucapnya memaksakan diri dengan tepukan pelan pada pundak Kyuhyun.  “Ayo,”  Ulangnya lagi dengan sedikit anggukan kepala dan pandangan mengajak dengan sorot harap-harap cemas.

 

Membalik tubuhnya kaku, Changmin bahkan tidak berharap jika Kyuhyun akan mengikutinya.  Menuruni anak tangga yang membawanya pada lantai dasar cafe, satu kalimat keluar dari bibirnya dan itu mampu untuk membuat semua orang disana yang masih melakukan pekerjaannya, pergi.

 

Satu teguk air yang baru saja melewati kerongkongan kering Changmin hampir tidak berguna ketika suara dingin pria yang sudah berdiri di belakang tubuhnya terdengar.

 

“Jadi benar?  Kau juga tahu dan bersekongkol untuk ini?”

 

Pandangan terluka itu sama sekali tidak bisa Changmin elakkan.  Dirinya bahkan tidak menyangka bahwa pandangan menyedihkan itu mampu berlabuh pada sosok Kyuhyun.

 

Berdiri pada ujung anak tangga, melipat kedua tangannya kedepan, Kyuhyun berdiri tegak dengan keangkuhan juga kemarahan yang berusaha ditahannya dan entah bagaimana nanti luapannya jika ia sudah tidak bisa lagi menahannya.  Dengan dinginnya, Kyuhyun menatap Changmin. “Ceritakan sebelum langkahku mencapaimu.”  Ucapnya jelas dengan langkah kaki yang mulai menyapa indra pendengaran Changmin.

 

Changmin sedikit mengerutkan keningnya sebelum berjalan memutari counter dan berdiri di depan komputer yang ada disana dengan jemari berselancar ringan di atas keyboard.

 

“Shim Changmin?”  Kyuhyun berseru seolah mengingatkan Changmin bahwa langkahnya makin dekat dengan tempat pria itu dan dibanding menyibukkan diri dengan komputer, alangkah lebih baiknya jika Changmin segera melakukan penjelasan seperti yang Kyuhyun minta sebelumnya.

 

Changmin menatap Kyuhyun sebentar seolah memastikan berapa langkah lagi jarak Kyuhyun dengannya, setelah itu.. ia kembali berfokus pada layar komputer.  “Aku baru mengetahui tentang Joon Ae beberapa bulan lalu dari artikel perusahaan istriku,”  Memutar komputer dihadapannya agar menghadap Kyuhyun, pandangan tajam Kyuhyun yang sekali itu langsung teralihkan pada apa yang Changmin tunjukkan membulat seketika.  “Aku baru tahu mengenai ini.  Untuk keluargamu, aku tidak tahu menahu.  Tapi jika mengingat keadaan 6 tahun lalu, aku bisa pastikan bahwa mereka tidak melakukan rencana atau bekerjasama dengan Siwon untuk memisahkanmu dan Joon Ae.”

 

“Joon Ae-ya,”  Meskipun mengucapkannya dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca, tarikan kedua sudut bibirnya yang membentuk lengkungan tipis mampu menampakkan panacaran bahagia.  Mengulurkan tangannya kedepan, Kyuhyun hendak menyentuh sosok Joon Ae yang berada dalam komputer Changmin.  “Joon Ae, Joon.. Ae—ku,”

 

“Kuharap kau tidak melewatkan keterangan dari artikel itu.”

 

Changmin membuyarkan suasana haru sekaligus bahagia yang memeluk Kyuhyun.  Tidak peduli pada Kyuhyun yang mungkin tengah bernostalgia dengan memandangi foto-foto Joon Ae, Changmin memaksa Kyuhyun untuk membaca keterangan dari artikel yang dirinya tunjukkan.

 

Sedikit terhenyak, postingan beberapa foto Joon Ae yang semenjak tadi menjadi perhatiannya seolah ia benar-benar bertemu dengan wanita itu hingga melupakan segalanya—mulai sedikit di gesernya.  Mengikuti ucapan Changmin, beberapa kata yang membentuk kalimat, yang sebelumnya tidak diperhatikannya—mulai Kyuhyun baca.  Satu kalimat terakhir dari artikel itu berbunyi, “dibanding menjadi wanita dengan karir sempurna, aku lebih ingin menjadi istri sempurna” itu adalah jawabannya saat muncul pertanyaan mengapa tidak menjejakkan kaki sebagai wanita karir,  membuat pandangan Kyuhyun makin buram dengan cairan menggantung pada kedua pelupuknya.

 

“Jelaskan,”  Ucapnya lirih tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari kalimat itu.

 

Changmin menarik nafas dalam.  Sekali itu, pandangan kasihannya kembali tampak untuk Kyuhyun.  “Andai kau ingat, kecelakaan yang Joon Ae alami 6 tahun lalu sangat parah.  Seorang korban dari kecelakaan itu bahkan meninggal di tempat.”  Ucapnya pelan.  Menjeda kalimatnya untuk sekedar melihat raut mengeras Kyuhyun, Changmin kembali membuka bibirnya tidak lama kemudian.  “Semua dokter angkat tangan untuk Joon Ae, tidak ada yang sanggup mengatakan bahwa Joon Ae akan selamat.  Semenakutkan apapun ancaman Siwon saat itu yang kemudian berubah menjadi permohonan agar mereka menyelamatkan Joon Ae, tidak ada satupun dokter yang mampu untuk menjamin keselamatannya.  Lalu,”

 

Changmin kembali menjeda, dan kali ini lebih lama.

 

“Lalu apa, Shim Changmin?”  Geram Kyuhyun.

 

Changmin menggeleng pelan dengan pandangan kosong.  “Siwon membawanya entah kemana.  Tidak ada seorangpun yang tahu kemana Siwon membawa Joon Ae, dan bagaimana kabarnya setelah itu.”

 

“Karena itu kalian mengatakan padaku bahwa Joon Ae sudah meninggal?”

 

“Lalu apa yang harus kami katakan pada pria yang baru saja bangun dari komanya?  Membuatnya mencari keberadaan dari wanita yang bahkan tidak diketahui hidup atau tidaknya?”

 

“Setidaknya kalian mengatakan padaku bahwa Joon Ae belum meninggal saat itu!”

 

“Andai kau tahu seberapa besar kecelakaan yang terjadi saat itu, Kyu!  Melihatnya bisa bertahan semalaman di rumah sakit saja sudah beruntung.  Dan lagi, memangnya apa yang akan kau lakukan jika kami mengatakan bahwa saat itu Joon Ae belum meninggal?  Mencarinya?  Lalu jika sudah bertemu, apa yang akan kau lakukan?  Menariknya kembali?”

 

“Tentu!  Kami memiliki Joon Hyun!”

 

“Dan sekarang kau mulai membawa-bawa nama Joon Hyun setelah bertahun-tahun menelantarkannya?  Apa sekarang kau juga akan membawa Joon Hyun ke hadapan Joon Ae?  Mengatakan padanya seperti Joon Ae-ya, aku adalah suamimu dan ini adalah anak kita.  Mari kita hidup bersama seperti dulu.  Kau pikir semudah itu?  Dia sudah bersuami!”

 

“Aku suaminya!”  Kyuhyun makin mengeras dengan kedua tangan memukul counter bersama kedua matanya yang melotot pada Changmin.

 

“Karena inilah aku tidak mengatakannya padamu saat beberapa bulan lalu aku mengetahui bahwa ternyata Joon Ae masih hidup.  Saat aku tahu aku sudah bersiap untuk memberitahumu.  Tapi kenyataannya, dengan sikapmu memperlakukan Joon Hyun, bagaimana bisa kau muncul dihadapan Joon Ae dan berharap bahwa kalian akan kembali menjadi keluarga seperti dulu?”

 

“Aku suaminya, Joon Hyun anaknya.  Dia berhak tahu dan sudah seharusnya dia kembali pada keluarga yang sebenarnya!”

 

“Apa kau ingat bagaimana kehidupan kalian saat bersama dulu?  Andai kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri bagaimana sempurna dan bahagianya kehidupan Joon Ae saat ini, itu sangat berbanding terbalik dengan kehidupan kalian!”

 

“Itu semua karena Choi Siwon!”

 

“Mungkin memang benar karena Choi Siwon, tapi!”  Changmin ikut mengeratkan kedua tangannya dengan nada menekan.  “Tidakkah kau sadar kenapa Choi Siwon seperti itu?”

 

“Terserah!  Aku tidak peduli!  Yang jelas Joon Ae adalah istriku dan sudah seharusnya dia bersamaku, jika dia tidak mengingatku maka aku akan membuatnya mengingatku dan itu tidak sulit.  Kau tahu kenapa?  Karena dia sangat mencintaiku!”

 

Changmin mendengus sinis sementara kedua matanya berkaca-kaca.  “Apa yang kau tahu tentang cinta?  Kau bahkan menelantarkan Joon Hyun selama ini.”

 

“Itu untuk kebaikannya!”

 

“Untuk kebaikannya adalah jika kau melakukan peran sebagai appa dengan baik!”  Tegas Changmin meski ucapannya sedikit bergetar.  “Joon Ae sudah bahagia, Kyu.  Jangan kau ganggu dia lagi.”  Lanjutnya dengan gelengan pelan.  “Dia hilang ingatan, kenapa kau tidak lihat itu sebagai kado untuknya karena tidak perlu merasakan sakit lagi?”

 

“Lalu Joon Hyun?  Anak kami?  Bagaimana dengannya?”

 

“Sebelum kau berkata tentang Joon Hyun yang membutuhkan eomma-nya, kau juga harus sadar bahwa Joon Hyun membutuhkanmu sebagai appa-nya.  Jika dia sudah kehilangan cinta dari eomma-nya, harusnya kau tahu bahwa dia tidak boleh kehilangan cinta darimu sebagai appa-nya.  Jadi kumohon, sekali ini saja kumohon padamu…. dengarkan aku.  Jangan dekati atau muncul dihadapan Joon Ae lagi, dia sudah bahagia dengan keluarga barunya.  Dia berhak untuk bahagia, Kyuhyun-ah.”

 

“Dan aku?  Lalu bagaimana denganku?  Kau tidak memikirkan cintaku?”

 

“Cinta?”  Changmin justru bertanya.  “Cinta macam apa yang kau miliki untuk Joon Ae?  Apa kau mampu mengorbankan nyawamu untuknya?  Apa kau mampu mengorbankan kebahagiaanmu untuknya?”

 

“Aku tidak peduli,”  Ucapnya lirih.  “Joon Ae mencintaiku, dia istriku, dia bahagia bersamaku, dan sudah seharusnya dia bersamaku.  Dulu, sekarang, dan kapanpun itu…. dia adalah milikku.  Cintanya, dirinya, adalah milikku.”  Tegasnya dengan lirikan tajam sebelum berbalik dan melangkahkan kakinya kembali menuju ruangan Changmin dimana Joon Hyun berada disana.

 

Sembari menatap punggung Kyuhyun yang makin menjauh, Changmin mengucapkan rentetan kaliman panjang dengan pelan diantara nafas tersengalnya, kalimat yang ingin di ucapkannya semenjak tadi namun tidak sanggup di lontarkannya.  “Kalian sudah becerai, di rumah sakit, saat itu.  Dan jika kau membuat ingatan Joon Ae kembali, kau justru akan kecewa pada dirimu sendiri lebih dari sebelumnya, dan kau bahkan akan melihat kebencian Joon Ae padamu lebih dari kebencian yang mampu Siwon tunjukkan.”

 

 

 

***

“Kau tidak perlu sebaik itu hingga menemaniku.”

 

Changmin melirik Kyuhyun dengan sebelah alis terangkat dan wajah mengeras pria itu yang masih tidak mau menatapnya ia dapati.  “Aku hanya tidak ingin kau membuat keributan.”

 

Mendengus sinis, Kyuhyun tidak memberikan tanggapan apapun atas kalimat Changmin tersebut.

 

Duduk pada kursi memanjang didepan salah satu ruang operasi sejak 5 jam lalu yang masih belum terbuka juga untuk menuntaskan rasa penasaran Kyuhyun tentang sosok nyata suami Joon Ae saat ini yang menurut seorang suster tengah melakukan operasi, juga informasi pada layar eletronik yang terpasang di depan pintu ruang operasi atas nama-nama dokter dan suster yang tengah melakukan operasi di dalam sana, membuat pria itu tidak berniat sedikitpun untuk pergi dari tempatnya saat ini.

 

Duduk bersama keluarga pasien yang kemungkinan besar adalah keluarga dari pasien yang saat ini berada di dalam ruang operasi itu, Kyuhyun berbaur dengan tampilan sempurna sebab pikiran tentang, bagaimana dan apa yang akan dilakukannya jika ia sudah bertemu dengan pria yang saat ini mengakui dirinya sebagai suami Joon Ae?  Selain itu, bagaimana caranya meyakinkan Joon Ae bawa dirinyalah suami wanita itu sebenarnya dan sudah ada Joon Hyun di antara mereka?  Memenuhi kepalanya.

 

 

“Kyu, Kyuhyun-ah…. Cho Kyuhyun..”  Sebut Changmin beberapa kali dengan bahu menyenggeol tubuh Kyuhyun.  “Operasinya sudah selesai.”

 

Berdiri bersamaan dengan keluarga pasien yang berada disampingnya, raut Changmin bahkan tidak lebih khawatir dibanding mereka saat membayangkan sesuatu yang tidak-tidak dengan Kyuhyun yang terlibat di dalamnya.

 

Sementara Changmin hampir kebingungan tentang bagaimana caranya memecahkan masalah yang mungkin sebentar lagi akan Kyuhyun ciptakan, Kyuhyun—pria itu, justru baru tersadar dari lamunannya saat pintu lebar dihadapannya yang semenjak tadi tertutup rapat terbuka, dengan beberapa suster yang keluar bersama pasien diikuti beberapa dokter yang masih mengenakan pakaian operasi lengkap dengan masker yang menyembunyikan wajah mereka hingga Kyuhyun tidak tahu siapakah di antara mereka yang merupakan pria perebut istrinya.

 

Baru saja Kyuhyun berdiri dan hendak mendekat pada sekumpulan dokter itu untuk mencari tahu siapakah di antara mereka yang dirinya cari, suara jernih yang tidak mungkin dilupakannya memecah ketegangan disana,  “Den!”

 

Panggilan riang dan nyaring itu menolehkan kepala Kyuhyun begitu saja, menunjukkan sosok tidak asing yang nyatanya adalah asing.

 

Joon Ae, dalam hatinya Kyuhyun langsung membatin ketika sosok wanita yang selama bertahun-tahun ini dipikirnya telah tiada namun nyatanya masih hidup, berdiri dan melangkah dengan sehat tanpa kurang satu apapun.

 

Garis tawa wanita itu bahkan masih sama seperti dulu, seperti ketika terakhir kali mereka bercanda hingga sakit perut dan kemudian berakhir di ranjang yang selalu membuat suasana pagi kacau sebab terlambat untuk semua hal.

 

“Lamanya….”

 

Suara itu terdengar merajuk dengan langkah cepat, melewatinya begitu saja yang hampir tidak biarkan itu andai Changmin tidak menarik tubuhnya mundur begitu saja.

 

“Apa yang—,”

 

“Kumohon.”  Changmin menekan dengan tangan meremas pundak Kyuhyun kuat saat pria itu kembali akan melangkahkan kakinya.

 

 

“Kita bicarakan ini di ruangan saya saja,”  Suara yang terdengar berat itu muncul di antara pertikaian bisu Kyuhyun dan Changmin, membubarkan kumpulan dokter dan keluarga pasien tidak jauh dari hadapan mereka.   Setelah itu, pemandangan dimana wanita yang sedetik lalu masih Kyuhyun akui sebagai istri tampak, bergelayut manja pada lengan salah seorang dokter yang tidak ikut rombongan lainnya pergi.

 

 

Kyuhyun membeku.  Seingatnya tadi, ia berkata pada Changmin bahwa Joon Ae adalah istrinya dan bagaimanapun juga wanita itu harus kembali bersamanya.  Ingatan Joon Ae, bagaimanapun juga ia harus membuat wanita itu mengingatnya.  Sementara untuk pria yang kini Joon Ae ketahui sebagai suaminya, pukulan mentahnya seperti yang dulu dilakukannya pada John Lee sudah ia persiapkan dengan lebih keras hingga tidak akan pria itu lupakan.  Juga, segala kebohongan Siwon dengan memanfaatkan ingatan Joon Ae yang menghilang, tidak akan Kyuhyun lupakan untuk membongkar itu.

 

Namun saat apa yang ditunggunya selama 5 jam ini terkabul dan bahkan mendapatkan bonus dengan kehadiran tiba-tiba Joon Ae, Kyuhyun justru mematung ditempatnya tanpa bisa lakukan apapun hingga sepasang manusia yang tadinya ingin segera ia pisahkan itu melewatinya dengan senyum, tawa, juga pandangan cinta dari wanita yang kesemua itu dulu adalah miliknya seorang.

 

“Cinta,”

 

“Kyu?”  Changmin mengguncang pelan tubuh tidak bergerak Kyuhyun.  Wajah memucat dan sendu pria itu, entah bagaimana bisa muncul padahal beberapa waktu lalu masih menunjukkan kemarahan juga persiapan untuk meledakkan semuanya.

 

“Cinta?”  Kyuhyun meringis.  “Betapa menyedihkannya.”

 

“Apa yang kau katakan?”  Changmin melangkahkan kakinya dan berdiri tepat dihadapan Kyuhyun.  “Kau,”

 

“Lepas.”  Pria itu menepis kedua tangan Changmin yang berada di kedua pundaknya.  Menolehkan kepalanya dengan tubuh ikut bergerak menyamping, sepasang manusia yang berjalan beriringan dengan kikikan tawa yang masih bisa didengarnya meskipun langkahnya makin menjauh…. menggetarkan tubuhnya dengan hati yang mulai tidak bisa merasakan sakit apapun.

 

 

Aku ingin kau mengetahui ini, Tuan Muda Cho.  Isabelle, dia sangat berharga untukku, hartaku yang paling mahal dan indah, dan tidak ada yang bisa menggantikan itu.  Aku hanya ingin kau tahu dan memahami tentang ini, sebelum kau menyakiti seseorang, entah karena kau membencinya atau karena menurutmu dia tidak berharga, kau harus tahu bahwa seseorang itu sangat berharga untuk orang lain.  Hanya karena kau tidak melihatnya secara berharga, bukan berarti orang lain juga melihatnya seperti itu.  Hanya karena kau tidak mencintainya, bukan berarti dia tidak mendapatkan cinta dari orang lain.  Saat kau mempermainkannya, ada orang lain yang mati-matian membahagiakannya.  Saat kau melukainya, ada orang lain yang mati-matian menjaganya.  Kau menyakitinya, sama saja kau menyakiti orang yang memberikan cinta untuknya.  Kau mempermainkannya, sama saja kau mempermainkan orang yang mati-matian membahagiakannya itu.  Maka sebelum ini makin melebar, aku hanya ingin masalah ini menjadi milik kita berdua.  Kau mempermainkan Isabelle, aku tahu itu.  kau tidak mencintainya, aku tahu itu.  Kau menjadikannya taruhan hanya untuk sebuah liburan, aku juga tahu itu.  Maka sebelum hubungan kalian makin jauh begitupun cinta yang adikku miliki,  jika kau tidak melihat adikku, jika kau tidak menganggapnya berharga, dan jika kau tidak mencintainya, lepaskan dia.  Adikku tidak pantas disandingkan dengan harga sebuah liburan, adikku lebih berharga dari itu.  Dia adalah wanita yang mati-matian aku jaga dan bahagiakan, maka cukup sampai disini hal gila yang kau lakukan padanya dan jangan lanjutkan lagi.  Dia pantas untuk sebuah kebahagiaan.

 

 

“Hhh?”  Sunggingan senyum nyinyir Kyuhyun nampak dengan kalimat panjang yang entah bagaimana otaknya ingat betul meski telah berlalu selama ini.  “Dia pantas untuk sebuah kebahagiaan?”

 

“Kyu?”

 

“Apa Joon Ae tidak bahagia saat bersamaku?”  Tanyanya pada Changmin.  “Kau berkata padaku untuk melepaskan Joon Ae karena dia sudah bahagia sekarang.  Lalu menurutmu, apakah saat bersamaku Joon Ae tidak bahagia?  Apakah saat bersamaku Joon Ae tidak tertawa senyaring dan selebar itu?”

 

Changmin mengerutkan keningnya.  Bahkan meski ingin menggeleng, kepalanya tidak ingin berbohong hingga pada akhirnya mengangguk.  “Kau melihatnya sendiri.  Dan lagi, pria itu tidak mengambil keuntungan apapun dari Joon Ae apalagi memanfaatkannya.”

 

Changmin serasa ingin merobek mulutnya atas apa yang baru saja dilontarkan.  Namun tentunya itu sudah tidak berguna dengan Kyuhyun yang kembali terduduk dengan ingatan lain mengenai mengambil keuntungan apalagi memanfaatkan seperti apa yang baru saja Changmin ungkap.

 

 

Senyum puas itu tampak kala melihat bagaimana kakunya tubuh wanita yang kini berada dalam jangkauannya.  Sesuatu dalam dirinya makin menggebu, memukul rongga dadanya dengan debaran kuat yang Kyuhyun sebut kebahagiaan.

Mengusap lembut wajah Joon Ae yang langsung bergetar kaget, Kyuhyun bukannya tidak tahu bahwa gadis itu ingin menghentikan semua ini.  Makin menekan tengkuk Joon Ae dengan sebelah tangannya, lumatan sepihak yang Kyuhyun lakukan pada bibir Joon Ae berikut tundukan makin dalam gadis itu seolah menolak, pada akhirnya menghentikan lumatannya.

Membuka matanya dengan sebelah alis terangkat, wajah enggan Joon Ae masih dengan katupan mata erat, menyambut Kyuhyun dan ia memundurkan tubuhnya perlahan dari Joon Ae.  Memperhatikan gadis dihadapannya yang tidak juga bergerak atau membuka katupan mata eratnya meski ia sudah tidak lakukan apapun, pertanyaan bernada sinisnya terdengar.  “Kau belum mati, kan?”  Tersentak, Joon Ae langsung membuka matanya dengan wajah kesal juga dingin Kyuhyun yang sebelum ini tidak pernah diterimanya.  “Kenapa bersikap begitu?  Tidak suka?  Tidak mau?”

“Aku, a—aku,”

“Tadi kau bilang setuju untuk melakukan ini, ‘kan?”  Kyuhyun mendengus dengan pandangan tajam dan Joon Ae menelan kembali kalimat yang bahkan belum selesai di ucapkannya.

“Y—ya,”  Gadis itu mengangguk kaku.  “Maaf,”  Ucapnya untuk sesuatu hal yang sebenarnya tidak perlu untuk dimintai maaf dari Kyuhyun.

“Maka jangan buat aku berpikir bahwa kau terpaksa melakukan ini.  Kita saling mencintai, dan ini normal.”  Pria itu merayu dengan suara lembutnya yang kembali terdengar.  Menarik wajah Joon Ae agar melihatnya, Kyuhyun kembali mendaratkan kecupan singkatnya pada bibir memerah Joon Ae, cukup untuk sekedar menghilangkan kerut pada keningnya.  “Buka bibirmu dan nikmati ini, kau sedang berciuman dengan kekasihmu, bukan patung.”  Kyuhyun berbisik dan seolah terhipnotis, Joon Ae membuka sedikit katupan bibirnya hingga priaitu bisa melumat bibirnya dengan lebih leluasa.

“Kyu—hh..”

“Tenanglah…”  Kyuhyun menghentikan ciumannya dan memeluk tubuh gelisah Joon Ae.  “Aku tidak ingin berakhir hanya seperti ini.”

“Bagaimana jika aku hamil?”

“Kau pikir dengan sekali melakukannya maka akan langsung hamil?”  Pria itu terkekeh geli.  “Ini menyenangkan, aku berani jamin kau akan ketagihan.”  Lanjutnya dengan beberapa kecupan lain yang ia daratkan pada sekitar pundak Joon Ae.

Gadis itu memejamkan matanya erat dengan kedua tangan meremas sprei ranjang Changmin kuat, merasakan gelenyar aneh yang sesekali membuat tubuhnya bergetar berikut nafas tersendat.  “Kyu—hh, ii—ni,”

“Balas ciumanku,”  Pria itu memotong ucapan belum tersampaikan Joon Ae.  Mengarahkan kembali bibirnya pada bibir Joon Ae, sedikit bantuan dari jemarinya untuk membuka bibir Joon Ae berhasil membuat lidanya bersentuhan dengan lidah Joon Ae yang meskipun cukup lama, pada akhirnya berhasil untuk saling beradu.

Mengusap paha Joon Ae yang tertutupi stocking tipis, saat ciuman yang terjadi dirasanya mulai ikut Joon Ae nikmati, usapan itu mulai berubah perlahan dengan tangan Kyuhyun yang mulai bergerak menuju area tubuh lainnya.  Pinggang ramping Joon Ae, Kyuhyun usap perlahan dengan tangannya yang lain seolah ingin membuat gadis itu nyaman dan dengan begitu hati-hati, kembali bergerak naik menyentuh gundukan yang tidak pernah tersentuh kecuali oleh pemiliknya.

“Kyu!”  Kaget Joon Ae dengan kedua tangannya yang reflek memegang dan menghentikan sentuhan Kyuhyun pada dadanya.  Menelan ludahnya kuat, kegugupan Joon Ae makin menjadi dengan bulatan kedua matanya pada Kyuhyun.

“Kenapa?”  Pria itu justru tersenyum tanpa melihat raut tegang Joon Ae.  “Kau tidak suka?”

“Tidak.”  Gelengnya.  “Lakukan saja.”  Joon Ae membuang muka ketika berkata seperti itu dengan riak sedih yang tidak bisa ditutupinya.  Melepas perlahan pegangan tangannya yang menghentikan gerak Kyuhyun tadi, wanita itu menggigit bibir bawahnya saat Kyuhyun mulai menjamah tubuhnya satu persatu.

“Kita saling mencintai, jangan terlihat menyedihkan begitu.”  Kyuhyun berbisik untuk kesekian kalinya.  “Lepaskan dress-mu, ya?”

Joon Ae langsung menoleh dan menatap Kyuhyun dengan mata birunya.  Bahkan saat sepasang mata jernih itu masih dipenuhi dengan kekalutan untuk bertahan atau menolak sementara bibir merahnya terlalu kelu untuk melayangkan protes atau sekedar ucapan menunda, tanpa menunggu persetujuan Joon Ae ataupun melakukan sesuatu hal menenangkan lainnya meski tahu bahwa Joon Ae belum benar-benar siap untuk ini, Kyuhyun justru segera menarik pakaian balet Joon Ae yang sangat tipis dengan mudanya.

“Kyuhyun,”  Joon Ae kembali memegang sebelah tangan Kyuhyun yang sudah berhasil menarik pakaiannya hingga mencapai pinggang.  “Tidak bisakah, jika, kita—.”

“Kenapa?”  Kyuhyun berucap cepat saat Joon Ae bahkan belum melanjutkan kalimatnya.  Gadis itu memandang Kyuhyun was-was dengan riak keruh yang mulai menghilangkan sinar cerah di kedua matanya.  Menggerakkan sebelah tangannya yang lain pada dadanya, Joon Ae  menghalangi Kyuhyun melihat leluasa gundukan miliknya.  Melihat itu, Kyuhyun segera berucap, “Lepaskan tanganmu, Joon Ae-ya.”

“Aku takut, Kyu.”

“Apa yang kau takutkan?”  Pria itu bertanya bersamaan dengan air mata Joon Ae yang mengalir begitu saja.

“Jika oppa tahu, dia akan membenciku, dan makin membencimu.  Sebaiknya kita bertemu oppa, dan kau luruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara kalian berdua.”

“Katakan saja bahwa kau tidak ingin tidur denganku.”

“Tidak, bukan begitu.”

“Sudahlah!”  Kyuhyun menjauhkan dirinya dari Joon Ae dan kemudian berdiri, bersiap pergi dengan raut kesal yang ditunjukkannya.  “Kurasa hubungan kita sampai disini saja.  Kau pergilah jika ingin pergi, lakukan apapun yang oppa-mu ingnkan.”

“Apa katamu?”

“Kita berpisah, Oh Joon Ae.”

Tertunduk lemas, sebisa mungkin Joon Ae menahan tangisnya.  Menyentuh perlahan tangan Kyuhyun agar tidak pergi, meskipun bergetar dan tahu bahwa ini salah, gadis itu tetap menggerakkan tangannya yang sejak tadi menutupi dadanya menjauh.  Membiarkan Kyuhyun yang sekali itu menoleh, melihat leluasa sesuatu hal yang sejak tadi tidak ingin ia tunjukkan.

Kyuhyun kembali tersenyum girang, tidak ingin Joon Ae kembali ragu hingga berubah pikiran… pria itu langsung menindih tubuh Joon Ae, mencumbunya serakah dengan kedua tangan yang mulai leluasa bergerak tanpa ingin berhenti meski sesekali Joon Ae memegangnya erat dengan harapan agar ia menghentikan semua itu.

 “Kyu—Cho, Kyuhyun—ngh!”  Gadis itu mulai mendesis sesekali bersamaan dengan tubuhnya yang bergerak tanpa sadar.  Melupakan keinginannya untuk menghentikan Kyuhyun seperti beberapa menit lalu, Joon Ae bahkan lebih memilih untuk meremas rambut cokelat-nya sendiri dibanding menghentikan Kyuhyun yang makin membuat tubuhnya dilumuri oleh rasa yang terlalu rumit untuk diucapkan.

Tanpa mengucapkan apapun, Kyuhyun meloloskan tubuh Joon Ae begitu saja dari apapun yang membalutnya.  Tampilan tubuh polos yang selama ini hanya ada dalam bayangannya, kini mampu pria itu tatap dengan leluasa tanpa ada penolakan seperti sebelum-sebelumnya.

Masih diliputi oleh perasaan baru yang sulit untuk diucapkan, Joon Ae bahkan tidak sadar ketika Kyuhyun sudah melepaskan segala hal ditubuhnya berikut ketika pria itu membuka kedua pahanya lebar-lebar dan mengarahkan wajahnya kesana.  “Oh!  Kyu!  Apa yang—nghn—tikk—kan..”

Joon Ae berucap tidak berdaya di antara kenikmatan yang baru sekali ini dirasakannya.  Melihat Kyuhyun di antara pangkal pahanya, ia sama sekali tidak membayangkan itu.  Bukankah terkesan menjijikkan?  Tapi pria itu, bagaimana bisa melakukannya?  Joon Ae tidak berpikir panjang sebab gelenyar frustasi menyenangkan yang Kyuhyun berikan padanya.

Menggelinjang sesekali dengan perutnya yang terasa makin di kocok-kocok, pejaman mata Joon Ae makin rapat sementara Kyuhyun makin menunjukkan kelihaiannya membuat Joon Ae tidak berdaya di antara nikmat yang ia ciptakan hingga erangan kecil wanita itu yang mulai terdengar tanpa jeda, membuat Kyuhyun bangga pada dirinya sendiri. 

Masih berfokus pada pusat tubuh Joon Ae, tanpa menjeda permainan lidahnya disana, Kyuhyun menggunakan satu jarinya untuk menambah erangat nikmat Joon Ae.  “Kyu, itu—.”

Joon Ae berusaha bangkit untuk melihat apa yang tengah Kyuhyun lakukan padanya.  Bersamaan dengan itu, satu jemari Kyuhyun tadi berhasil masuk dan kembali membuat Joon Ae merasakan sesuatu hal baru.  “Sudah kubilang, santai dan nikmati.”

Pria itu berujar dengan tangan mendorong tubuh Joon Ae perlahan agar kembali merebahkan dirinya.  Menatap langit-langit kamar Changmin, sembari merasakan benda asing yang berada dalam tubuhnya dan itu adalah baru pertama kalinya, Joon Ae mengatur nafasnya agar lebih tenang serta berpikiran bahwa semua ini adalah normal dan semuanya akan baik-baik saja bersama Kyuhyun.

Seolah menangis, entah lenguhan atau justru merintih yang Joon Ae perdengarkan.  Namun semua itu, keluar bersama kenikmatannya ketika Kyuhyun mulai menggerakkan jemarinya dengan lidah yang saling bekerja sama.

“Kyu—ngh—ngg—hhh—hh—Kyu—it—tu, seperti—.”

“Keluarkan saja.”  Ucapnya santai melihat wajah frustasi juga gerak gelisah Joon Ae yang berusaha untuk menghentikannya namun tidak berhasil.  “Jangan di tahan.”  Lanjutnya lagi dengan tempo permainan yang sengaja ia percepat hingga Joon Ae makin tampak tidak berdaya.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri tanpa takut terluka sementara tangannya meremas seprei ranjang Changmin makin erat hingga tanpa sadar sudah menariknya kesana kemari asal dan Kyuhyun tersenyum girang menyaksikan kacaunya Joon Ae sebab ia.  Lenguhan frustasi wanita itu untuk hal baru untuknya yang tidak bisa di tolak makin terdengar kencang bersama tubuhnya yang menggelinjang tidak karuan hingga ketika Kyuhyun makin mempercepat gerak jarinya dan sesapannya pada milik Joon Ae makin kuat, wanita itu berteriak kencang dengan tubuh kaku yang sebentar kemudian kembali menggelinjang tidak terkendali dihadapan Kyuhyun yang melakukan itu padanya.

Mengatur nafasnya yang tersengal, dada Joon Ae nampak naik turun serirama nafas kasarnya yang terdengar masih dengan tubuh bergerak tanpa kendali sesekali.

“Kau suka?”  Kyuhyun bertanya sembari melepas seluruh pakaian yang dikenakannya.  “Joon Ae-ya?”

Entah.  Mungkin begitu yang hendak Joon Ae sampaikan namun tidak terucap.  Tubuh bagian bawahnya masih bergerak sesekali tanpa bisa ia cegah sementara kesadarannya mulai berangsur-angsur kembali meskipun matanya masih terpejam lemah seolah ia baru saja melakukan pekerjaan berat.

“Sekarang giliranmu.”

Kyuhyun bergerak, merangkak pada sisi tubuh Joon Ae dan mengambil tangan wanita itu kemudian mengarahkannya pada miliknya yang sudah mengeras.

“Apa—ini, Kyu?”  Joon Ae bertanya masih dengan deru nafas berat dan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.

Terkekeh pelan, Kyuhyun menatap Joon Ae lucu.  “Maka buka matamu dan lihatlah sendiri.”

Membuka matanya perlahan dan nafas tersengalnya juga mulai teratur, Joon Ae menoleh, melihat tentang apa yang tangan kanannya saat ini sentuh.

“Oh astaga!”  Gadis itu memekik hingga kedua matanya yang tadi setengah terbuka langsung membulat, begitupun tubuhnya yang langsung terduduk dan sedikit menjauhi Kyuhyun.

“Kenapa?”  Kyuhyun bertanya tanpa menghilangkan senyumnya.  “Sentuh ini, rasakan, nikmati, dan buat aku melayang seperti yang tadi aku lakukan padamu.”

“Tapi—.”  Joon Ae memandang Kyuhyun ragu, menatap bergantian antara wajah juga milik Kyuhyun yang sudah mengeras, gadis itu menyembunyikan tangan kanannya yang tadi menyentuh milik Kyuhyun kebelakang tubuhnya.

“Ayolah,”  Kyuhyun mengulurkan tangannya dan kembali memberikan senyumnya dengan maksud agar Joon Ae menyambut tangannya seperti biasa.  “Kau pasti bisa.”

“Bagaimana caranya?  Aku tidak tahu.”

“Instingmu akan menuntunmu.  Ayolah….”

Joon Ae memberengut.  Sekali lagi hatinya berkecamuk, benarkah ia akan melakukan ini?

“Jangan terlalu banyak berpikir.  Sudah terlalu terlambat untuk berhenti”  Kyuhyun menarik Joon Ae tidak sabar hingga sprei ranjang Changmin ikur tertarik bersama tubuh Joon Ae yang sudah berada dihadapannya.  “Lakukan sebisamu.”

Joon Ae menelan ludahnya paksa.  Melihat milik Kyuhyun, ini bahkan adalah pertama kalinya bagi ia melihat hal semacam ini.  Lalu, apa yang harus dilakukannya?  Bagaimana ia melakukannya?

“Kenapa diam?”

“Bagai—mana, caranya?”  Gadis itu menatap kekasihnya polos.  Sungguh, Joon Ae tidak memiliki sedikitpun gambaran untuk semua itu.

“Sentuh.”

“Sentuh.”  Joon Ae mengikuti ucapan Kyuhyun dan meletakkan ujung jarinya pada milik Kyuhyun.

“Bukan begitu, astaga!”  Pria itu mengerang frustasi menatap Joon Ae tidak percaya.  “Kau tidak pernah melihat hal semacam ini?”

“Tidak.”  Gadis itu langsung menggeleng.  “Aku tidak tahu dan tidak punya gambaran untuk semua ini.”

“Begini.”  Kyuhyun membawa tangan Joon Ae pada miliknya, menuntun gadis itu tentang apa dan bagaimana ia harusnya memperlakukan miliknya.  Meski tampak terkejut dan ragu, toh—Joon Ae benar-benar melakukan apa yang Kyuhyun minta seperti sebelum-sebelumnya.

“Gunakan mulutmu juga.”

“Mulutku?”  Joon Ae langsung menatap Kyuhyun sendu.  “Maksudmu?”

“Seperti ketika kau mencicipi lolipop.”

Joon Ae membuang nafas berat dengan pandangan enggan yang mengarah pada milik Kyuhyun di tangannya.  Bagaimana aku melakukannya?  Pikir gadis itu.

“Cobalah,”  Dorong Kyuhyun sekali lagi.

Dengan sedikit keberanian dan banyak keraguan, Joon Ae mulai membungkukkan tubuhnya setelah sebelumnya memandang Kyuhyun yang menunjuk miliknya agar segera Joon Ae cicipi sebagaimana yang tadi ia lakukan pada milik Joon Ae.  Mengarahkan wajahnya tepat pada milik Kyuhyun, Joon Ae kembali memejamkan matanya erat dengan ucapan pada dirinya sendiri lolipop, ini permen lolipop, ini permen lolipop.

Dan, perlahan namun pasti Joon Ae mulai mencicipi permen lolipop yang ia ciptakan dalam kepalanya.  Melakukan sebagaimana yang Kyuhyun inginkan, gadis itu menikmatinya begitupun Kyuhyun yang lenguhannya sesekali mulai terdengar meski pelan.

“Ya, begitu… teruskan.”  Kyuhyun mulai meracau tidak jelas dan Joon Ae yang seolah terhipnotis, mempercepat gerak tangannya sembari menghisap milik Kyuhyun kuat-kuat.  “Oh, Joon Ae-ya.”  Pria itu mengusap wajahnya kasar sementara Joon Ae terus menambah intensitas kegiatannya.  “Lebih cepat, lebih kuat….”  Katanya mulai hilang kesabaran dengan Joon Ae yang mulai membuatnya hilang kewarasan.  Seolah robot, Joon Ae benar-benar melakukan apa yang Kyuhyun perintahkan meski sedikit banyak itu semua karena tangan Kyuhyun yang berada di kepalanya dan mengatur semua gerak kepala Joon Ae.

 

“Uhuk—uhuk— hoek—.”  Joon Ae mendorong kuat tubuh Kyuhyun hingga terbanting ke ranjang dan ia segera mengarahkan wajahnya pada ujung ranjang, memuntahkan semua cairan Kyuhyun yang memenuhi rongga mulutnya pada lantai kamar Changmin tanpa peduli.  Jijik, jelas gadis itu merasakannya.  Menatap Kyuhyun yang masih merebahkan tubuhnya sembari menikmati pelepasannya, wajah gadis itu memerah dan air matanya kembali bersiap mengalir.  “Aku tidak mau melakukannya lagi.  Itu menjijikkan.”  Ucapnya bergetar dengan tangan mengusap air matanya yang terlanjur mengalir.  Menyadari itu, Kyuhyun segera membuka matanya dan menatap Joon Ae yang duduk disampingnya dengan raut pucat.

“Apa?”

“Itu menjijikkan, Kyu.  Aku tidak mau melakukannya lagi.”

“Kau—.”  Kyuhyun melongo di tempatnya sebelum akhirnya ikut duduk dihadapan Joon Ae.  Cairannya yang berada di lantai, Kyuhyun pandangi bergantian dengan Joon Ae.  “Itu maksudmu?”  Tunjuknya pada cairan putih kental miliknya yang beberapa detik lalu ada dalam mulut Joon Ae.

“Menurutmu?”

“Baiklah maaf, aku janji tidak akan mengeluarkannya dalam mulutmu lagi.”  Ucapnya sepelan mungkin sembari menyisir poni milik Joon Ae.

“Janji?”

“Iya, janji.”  Kyuhyun menarik kedua sudut bibirnya dan kembali menarik Joon Ae untuk sebuah kecupan singkat.  “Sekarang kau rebahkan dirimu.”

“Mau melakukan yang tadi lagi?”

“Tidak.  Kali ini benar-benar bercinta.”

Oh.  Jantung Joon Ae tiba-tiba saja berhenti berdetak selama beberapa detik begitu Kyuhyun mengatakan itu.  Merasakan degup jantungnya yang makin kencang, Joon Ae selayaknya tadi—patung tidak bergerak yang kaku dan diam saja ketika Kyuhyun merebahkan tubuhnya. 

“Santailah, Joon Ae-ya.”  Kyuhyun mengulang kalimat yang sejak tadi ia katakan pada Joon Ae ketika mata wanita itu kembali nampak kalut.  “Aku akan melakukannya pelan-pelan.  Aku jamin, kau akan lebih menikmati ini dan ketagihan.”  Pria itu mencoba merayu, jelas.

Membuka paha Joon Ae dimana pemiliknya bahkan sudah tidak bisa membedakan benar dan salah, Kyuhyun memijat perlahan miliknya sebelum ia arahkan pada milik Joon Ae.

“Ngh—.”  Joon Ae meringis dengan remasan erat pada sprei ranjang Changmin ketika miliknya dan milik Kyuhyun bersentuhan.

Merengut, gadis itu menatap Kyuhyun seolah ingin menangis dan ingin Kyuhyun menghentikan ini meskipun ia sendiri bisa andai mau membuka mulutnya untuk menghentikan Kyuhyun.

“Joon Ae,”  Panggil Kyuhyun padahal Joon Ae sudah memandangnya dan menjadikannya sebagai satu-satunya pusat perhatian.  “Percaya padaku, ini akan menyenangkan.”

“Ya.”  Joon Ae mengangguk pelan tanpa mengurangi raut gugupnya.

Menatap Kyuhyun yang membuatnya melenguh sesekali ketika mencoba memasukkan miliknya namun harus lebih bersabar, tidak lama setelahnya Joon Ae mulai meringis dengan beberapa garis halus yang muncul di antara kedua alisnya saat Kyuhyun memaksakan masuk miliknya.

“Kyu—.”  Joon Ae menggigit kuku-kuku tangannya dengan pejaman mata erat dan kali ini ia tidak merasakan kenikmatan seperti yang sebelumnya dirasakan ataupun seperti yang Kyuhyun katakan.  “Hentikan, tolong.  Sakit…”  Ia merintih.

“Tidak akan lama, Joon Ae-ya.”  Kyuhyun menjawab, masih berusaha memasukkan keseluruhan miliknya pada milik Joon Ae tanpa peduli pada keinginan gadis yang sudah dijadikan wanitanya itu.  “Seb—ben—tar, laggih…. oh.”

Joon Ae menjerit bersama pekikan lega Kyuhyun.  Menutup wajahnya dengan kedua tangan, wanita itu membiarkan air matanya turun sementara Kyuhyun, tidak berniat menenangkan Joon Ae dan lebih memilih untuk mendapatkan kenikmatannya sendiri.

“Kyuhyun sakit, kumohon berhenti sebentar…”  Wanita itu mencoba menghentikan gerak Kyuhyun yang mulai menyakitinya.

“Tenanglah,”  Kyuhyun kembali memberikan jawaban macam itu dengan pinggulnya yang mulai bergerak teratur bersama Joon Ae yang membanting tubuhnya ke ranjang setelah sebelumnya hendak bangkit untuk menghentikan Kyuhyun namun tidak berhasil.

“Sak—kit, tolong…hh.. Kyu, hyun—.”

“Nikmati saja, kubilang,”  Kyuhyun tersenyum mengejek saat Joon Ae kembali menutup wajahnya yang kesakitan namun bibirnya sesekali mengeluarkan desahan nikmat.

Memegang kedua lutut Joon Ae, Kyuhyun mulai mempercepat temponya.  Dada wanita itu yang ikut bergerak seirama pinggulnya menarik perhatian Kyuhyun dan sesekali—Kyuhyun meremasnya, menambah lenguhan Joon Ae seraya melenyapkan rintihan sakit wanita itu.

“Kyu, oh—ng—ng—.”

Kyuhyun tersenyum puas melihat Joon Ae dibawahnya, tanpa keinginan untuk sekedar berhenti meski sebentar, Kyuhyun justru makin menggerakkan pinggulnya tidak terkendali sebab lenguhan makin kencang Joon Ae yang ingin ia dengar lebih lama.

Menghentakkan miliknya dalam-dalam, pria itu tampak benar-benar ingin membuat wanita dibawahnya hilang kendali dan tidak akan pernah melupakan semua ini.  Tidak ada lagi Oh Joon Ae yang berusaha menolak ataupun ragu kini, wanita itu sepenuhnya milik Kyuhyun tanpa satu ingatan apapun tentang Siwon ataupun peraturan tentang sopan santun.  Makin mengeratkan kalungan tangannya pada leher Kyuhyun yang saat ini tengah menyesap lehernya, wanita itu kembali berteriak gelisah dengan kegilaan menjadi dengan pelepasannya,  “Cho Kyuyun!  Oh God!”  Joon Ae memekik kencang dengan mata membulat sempurna dan tubuh melengkung sebelum akhirnya menggelinjang tidak karuan dan barulah ketika itu Kyuhyun menghentikan kegiatannya, membiarkan Joon Ae menikmati pelapasannya yang lain.

“Kau suka, bukan?”  Pria itu berucap penuh kemenangan dan membalik tubuh Joon Ae sementara pinggul wanita itu ia angkat setinggi pangkal pahanya tanpa niatan untuk menunggu Joon Ae menyelesaikan pelepasannya sebelum ini.

Masih setengah tidak sadar, Joon Ae yang bahkan baru sadar dengan posisinya yang kini sudah berubah—kembali melenguh ketika Kyuhyun kembali memasukkan miliknya.  Menggigit bantal Changmin seolah menyumpal mulutnya, Joon Ae tahu itu tidak benar-benar berhasil dengan Kyuhyun yang membuatnya gila dan menarik bantal dalam jangkauannya, menginginkan wanita itu mendesah dan melenguh sekencang-kencangnya.

“Nikmati, dan keluarkan suaramu.”  Pria itu berucap dengan tubuh membungkuk sementara kedua tangannya kembali meremas dada Joon Ae yang makin mengeras.  “Keluarkan, Joon Ae-ya.”

“Ahs—sh—ngh—ngh—.”

Kyuhyun tersenyum puas mendengar desahan Joon Ae.  Meninggalkan beberapa jejaknya pada pundak polos Joon Ae, pria itu tidak mengijinkan satu hal apapun luput dari jangkauannya bersama pinggulnya yang makin ia gerakkan cepat dan Joon Ae kembali memekik dengan pelepasannya namun Kyuhyun belum juga sampai.  Membalik sekali lagi tubuh wanita itu yang sudah lemas, gundukan pada dada Joon Ae, kembali Kyuhyun nikmati dengan lidahnya yang seolah gatal sejak tadi.

Joon Ae pikir dirinya akan gila.  Kyuhyun terlalu mengerti bagaimana membuatnya nyaman dan selalu berteriak nikmat, begitupun ketika pria itu menyesap dadanya kuat-kuat dan mulai berganti mengulum bibirnya hingga tampak bengkak.

“Kyuhyun!”  Joon Ae kembali memekik untuk kesekian kalinya dengan pandangan tersiksa yang ia lemparkan pada Kyuhyun, sungguh ia mulai tidak berdaya atas semua ini sementara pria itu lebih sibuk memfokuskan miliknya yang mendapatkan kenikmatan dari milik Joon Ae.

Mulai tersengal dengan gerak pinggul lebih cepat dan miliknya yang ia tusukkan dalam-dalam, Kyuhyun akhirnya melenguh panjang dan ambruk pada tubuh Joon Ae dengan pinggulnya yang sesekali bergerak tanpa kendali seolah memastikan bahwa semua cairan kental itu memasuki rahim Joon Ae, begitupun pinggul Joon Ae yang bergerak tanpa perintah makin merapatkan miliknya dan milik Kyuhyun seolah memang menginginkan dan menunggu itu.

 

Akhirnya,

 

 

“Kau benar,”  Kyuhyun berucap kosong, dirinya bahkan mengingat apa yang kemudian hatinya katakan setelah mendapatkan apa yang dirinya inginkan pada waktu itu.  Akhirnya.  “Aku memang tidak tulus dan memanfaatkannya.  Tapi setelah itu, setelah kami pindah rumah, aku berubah.”

 

“Jika kau cukup yakin untuk ketulusanmu, kenapa tidak kau susul Joon Ae sekarang juga seperti niatanmu tadi?”

 

Kyuhyun bungkam.  Alasan yang tidak bisa diterimanya muncul dan ia benci mengakui itu.  Maka tanpa ada niatan untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Changmin, juga menuntaskan keinginannya untuk menarik Joon Ae, Kyuhyun pergi, dengan langkah gontai begitu saja.

 

Kini jika ada yang berkata bahwa dirinya pengecut, Kyuhyun tidak akan marah ataupun tersinggung.  Kenyataannya, ia bahkan tidak bisa muncul kehadapan Joon Ae yang selama ini dikatakannya sebagai hidupnya, dan beberapa jam lalu dikatakannya pada Changmin bahwa dirinya akan menarik wanita itu agar kembali berada di sisinya.

 

Ucapan Siwon, cinta Joon Ae, juga perbuatannya dulu dan kini… muncul bergantian dalam kepalanya.  Membuatnya berkeputusan untuk membahagiakan Joon Hyun dan Joon Ae dengan atau tanpa dirinya.

 

 

***

1 Februari 2017

Dennis berguling ke sisi kiri Joon Ae dengan tubuh bermandikan keringat dan deru nafas kasar hingga dada juga perutnya naik turun bergantian.  Rambut pria itu tidak lagi rapi seperti biasa, acak-acakan bagai baru saja terjadi angin topan yang mengacaukan dirinya.  Begitupun beberapa bagian pada lengan juga punggungnya yang terdapat garis merah memanjang akibat kuku-kuku cantik Joon Ae.

 

Menolehkan kepalanya lemah pada Joon Ae yang tampilannya tidak terlalu berbeda jauh dengan tampilannya saat ini, pria itu langsung tersenyum menikmati sisa-sisa pelepasannya di pagi hari dan menutup kedua matanya.  “I wish we could just stay in bed forever.  Spend hours between your legs; teasing… sucking.. sipping… tasting,

 

God!”  Joon Ae berseru dengan pelototan tajam pada Dennis yang sayangnya justru tertawa lepas karenanya.  “You want to kill me?”  Wanita itu bertanya tersengal dengan kedua tangan memegangi perut ratanya yang masih kembang kempis bagai di pompa.

 

Of course not.”  Dennis memiringkan tubuhnya dengan sebelah tangan memangku kepalanya.  “Tapi aku harus memanfaatkan liburan pertamaku selama disini dengan sebaik-sebaiknya, bukan?”

 

Joon Ae terkekeh pelan, mengulurkan tangannya lembut pada wajah Dennis membuat satu kecupan singkat kembali terjadi diantara mereka.  “I love you.

 

I know,”  Pria itu tersenyum sombong dengan cubitan kecil yang Joon Ae terima pada ujung hidungnya.

 

Menarik nafas lega, Joon Ae menarik sebelah tangan Dennis dan menjadikan lengan pria itu sebagai bantalnya.  “I love you Den,”  Ulangnya dengan pandangan lurus pada langit-langit kamarnya.

 

“Dan, apakah kau akan katakan itu sepanjang hari?  Satu kali saja sudah cukup bagiku.”

 

I love you,”  Ulang Joon Ae seolah tidak peduli, kali ini pandangannya tertuju pada Dennis.  “Aku berharap bahwa kita akan sebahagia pagi ini selamanya.”

 

“Tentu, tidak akan terjadi hal buruk apapun pada kita.”

 

“Tapi kata beberapa orang tua yang aku kenal, kita tidak boleh berkata seperti itu.”

 

“Berkata apa?”

 

“Mendahului takdir.”

 

“Memangnya takdir mana yang aku dahului?”

 

“Tidak akan terjadi hal buruk apapun pada kita.”  Joon Ae mengulang kalimat Dennis sebelumnya dan makin merapatkan tubuhnya pada tubuh suaminya itu.  “Kau tidak boleh berkata sesombong itu, nanti Dewa bisa tersinggung.”

 

Dennis melirik Joon Ae tidak percaya,  “Jadi kau berpikiran dan berharap bahwa sebentar lagi akan ada badai dalam pernikahan kita?”

 

“Tentu tidak,”  Pekiknya sambil mencubit lengan Dennis yang sayangnya tidak berhasil karena ototnya yang terbentuk.  “Hanya berjaga-jaga, jangan ucapkan kalimat seperti itu.”

 

“Ya, ya, baiklah…”  Dennis menyerah.

 

“Pukul berapa kita akan pergi ke Busan?”  Joon Ae mengganti topik pembicaraan.  “Kakakmu sudah berada di rumah orang tuamu, kan?  Artinya hanya kita yang belum sampai.”

 

“Nanti sajalah,”  Dennis mengambil ponsel yang baru saja Joon Ae ambil untuk mengetahui waktu saat ini.  “Aku masih ingin bersamamu.”  Pria itu mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil istrinya hingga dengan tubuhnya yang seperti itu, Joon Ae serasa diperas.

 

“Aku tidak bisa bernafas,”

 

And that’s what i want.”

 

“Apa katamu?” Joon Ae memukul dada bidang Dennis sebisanya saking eratnya pria itu memeluknya.  Rengutan kesal di antara alisnya nampak sementara pria yang memeluknya justru tersenyum lebar dengan mata terpejam seolah menikmatinya.

 

Mendekatkan bibirnya pada telinga Joon Ae, Dennis berbisik, “I want you come until you can’t breathe.”

 

“Hei!”  Joon Ae mendorong kuat tubuh Dennis hingga pelukan pria itu sedikit melonggar dan langsung duduk ia pada perut Dennis, sukses membuat suaminya membelalakkan mata tidak siap dengan beban yang diterimanya.  “Kau menantangku?”  Tanyanya dengan kedua tangannya yang berada di antara kepala suaminya dan helai rambut panjangnya menyapu lembut wajah Dennis.

 

“Ya,”

 

Sebelah alis Joon Ae terangkat dengan senyumnya dan senyum Dennis yang muncul bersamaan.  “Spend all day between your legs?

 

“Mm..hm…”

 

Lick every inch of you?

 

Dennis tertawa dengan gelengan kepala pelan, hampir tidak percaya dengan apa yang istrinya katakan.  “Apa aku tidak salah dengar?  Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya.”

 

“Oh, jangan rusak suasana.”  Wanita itu menyingkirkan tangan Dennis yang hendak menyentuh wajahnya dan memegangnya erat.  “Yeon Hee eonni berkata padaku untuk menggunakan beberapa kata kotor untuk menghidupkan suasana dan membuat ini makin menyenangkan.”

 

“Yeon Hee eonni?  Jadi maksudmu, oppa-mu dan…”

 

“Ayolah Den,”  Joon Ae merengek dengan tubuh yang mulai duduk tegak masih pada perut suaminya.  Wajahnya jelas menggerutu dengan bibirnya yang mengerucut.  “Kau merusak suasana kita.”

 

That pretty little face deserves to get fucked!”  Pria itu mengatakannya penuh penekanan dan senyum yang tidak pernah pudar.  Joon Ae tersenyum tipis dengan Dennis yang mulai mengikuti permainannya, kembali membukukkan tubuhnya pada Dennis hingga ujung hidungnya bersentuhan dengan ujung hidung Dennis,  “Show me how badly you are, my little slut.”

 

And tell me how badly you want me to fuck you.

 

Until we wake up the neighbours.”  Jawab Dennis tanpa ragu dengan gumulan kuat dan panjang dimana sebelumnya mereka tidak pernah sampai pada tahapan itu seolah ucapan terakhirnya untuk membangunkan tetangga benar-benar akan dilakukan.

 

***

110 thoughts on “New Time (Sequel of Time) Part 3

  1. Bru sadar Kyu,,tntng prlakuan kurang baiknya dlu trhdp Joon Ae,,dan apakh kyu msi pnts utk mmprjuangkan Joon Ae???

    Qu suka dgn kemesraan Joon Ae dan Dennis,,,smg mrka sll bhgia

    Suka

  2. Nah loh uda ketemu kyu nya gabs berbuat apa2
    Joon ae sm dennis ud bahagia bgt hmm. Tp kasihan joon hyun ya
    Konfliknya pst berat dan bkn org penasaran hihihi
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^

    Suka

  3. nunnggu apdetan ff ini kaya nunggu gebetan peka ka kwkwk tp ini salah satu ff yg paling aku tunggu . alur ceritanya bagus cuman nanti buat endingnya ga bakal ketebak gmna kwkkw semangat nulis ka

    Suka

  4. Dua sisi.
    Sisi pertama enggan merusak kebahagiaan joon ae, dan sisi satunya lagi kasian joon hyun kalo nggak ketemu eommanya.
    Ceritanya bagus, penulisannya lumayan.
    Next part ditunggu yaa thor

    Suka

  5. Wawww joon ae dan denis pasangan yg benar2 hot
    Sebenernya sayang bgt kl kebahagian joon ae terganggu, kasian sama joonhyung bukan sama kyuhyun
    Masih bingung harus milih joonae sama denis atau kyuhyun

    Suka

  6. Gil tu de la gakuat aku baca ini, dari senyum senyum sendiri sampe nangis kek orng kesetanan aja ih…
    Thor fighting keep writing, jan lupa bikin aku kesemsem lagi sama ceritanya di next chapter lupyuuuu

    Disukai oleh 1 orang

  7. mungkin bagi readers yg lain bingung di bbrp part, tp menurutku engga sih. jelas malah.
    aku jg sempet bingung awalnya, setelah aku baca ke bawah lama2 paham kok “mau dibawa kemana” ceritanya wkwkw.
    sejauh ini penulisan authornya uda bagus si. uda sesuai EYD juga. jd no comment deh. kalo typo, wajarlah kalo kata aku hehe kan ga banyak juga typo nya ff ini.

    entahlah aku gemezz bgt sama ff ini antara mau kasian apa engga sama cast nya WKWK. tp overall, jjang! xD
    ditunggu kelanjutannya thor, mangatse!

    Suka

    • Pov?? Setauku itu untuk campuran sudut pandang kan? Dari awal aku pke sudut pandang orang ke-3… gaada campuran sudut pandang orang pertama. Perlu aku kasih keterangan pov kah?

      Suka

  8. karna kesakahan n keegoisan kyuhyun kasihan jo hyun yang harus jadi korbaan.
    gaak tega bngt liat jo hyun sedih thor 😦 😦 😦

    jon ae ingat thor???
    kalau jon ae ingaat kira2 dia mau balik lagi gak sama kyuhyun????
    tapi gimana dengan denis????

    huwaaaaaa rumit bngt sih jalan ceritanya :3 :3 :3

    next thor

    Suka

  9. Emang klo joon ae ingat lg masa lalunya, Dijamin bakal bahagia ama kyuhyun? Setelah semua kesakitan yg kyuhyun berikan ke joon ae..
    Meskipun udah ada joon hyun tapi, ga bisa buat alasan joon ae balik lagi ke kyuhyun..
    Lagipula joon ae udah punya Dennis… dan mereka bahagia..benar2 bahagia.
    Aq harap joon ae ga balik lg ke kyuhyun, meski dia ingat lg masa lalunya…lalu joon hyun?? Joon hyun bisa dapatkan kembali eomma nya tanpa joon ae hrs kembali ke kyuhyun kan???

    Suka

  10. DAEBAKKKKK!!!
    Author… kisah kyuhyun terlalu bertele2 atau basa basinya terlalu kebanyakan…
    Apa author ingin terlihat meratapi dalam sekali???
    Aku bingung thor alur ceritanya kyuhyun di part ini

    Suka

  11. Badai itu akan segera datang.
    tp apakah kita mampu atau tidak untuk menghadapi smua itu.
    kalau t mampu maka kebahagian itu akan menghilang begitu saja.
    namun, apabila qt mampu menghadapix niscaya smua akan indah kedepanx.

    Suka

  12. ceritanya makin rumit dan konfliknya agak berat. memang karena perbuatan Kyu di masa lalu membuat dia merana di masa sekarang tapi yang jadi korban di sini Joon hyun kalau g ada anak sih g masalah mau Joon ae bahagia sama Dennis juga g apa. kasihan Joon hyun kehilangan sosok ibunya hanya karena Joon ae berhak untuk bahagia setelah segala kesakitan yang dialaminya hidup bersama Kyu. rada g rela sih Joon ae bahagia sama Dennis sementara dia kehilangan ingatan apa. apa yang terjadi kalau ingatannya kembali. jujur bingung mau memihak siapa😭😭😭😭😭

    Suka

  13. Khm.. pertama.. maaf aku baru baca komenan panjang kamu ini yg setelah aku cek udah kamu lakuin dari part 1. Aku gaktau kalo ffku udah di posting dan gk sempet cek.. baru bisa cek hari ini dan ternyata udah part 3.
    Ini kamu kasih masukan to?? Makasih untuk masukannya. Untuk contoh kata yg kamu perbaiki.. aku gaktau apa itu ada di dalam ffku karena aku ketik ini udah lama dan gk inget dengan setiap katanya.. tapi aku ucapin makasih untuk pembenaran katanya.
    Untuk contoh nama.. aku gaktau nama selain Kyuhyun… maksudku nama Kyuhyun yang dipisah karena saat aku liat wajah pria itu di sosmed.. keterangannya selalu Kyuhyun/ Cho Kyuhyun. Tapi setelah aku baca komenmu… aku cek di google nama dia di Korea pake 3 huruf. Karena di komenanmu kamu gak sebut nama Kyuhyun harus bagaimana… aku tanya dan tolong di jawab karena kamu sepertinya lebih berpengalaman. Yang bener Cho Kyuhyun/ Cho Kyu Hyun (조규현)? Cho Siwon/Choi Si Won (최시원)? Oh Sehun/Oh Se Hun (오세훈)? Choi Minho/Choi Min Ho (최민호)??
    Kemudian… typo jangan di pelihara… kakak sepertinya copas ya.. komenannya. Aku baca nama Kyuhyun tetap tertulis “Kyuhun” dibagian koreksi nama.
    Makasih masukannya untuk ffku 😊

    Suka

  14. huaaa masih pen baca. meskipun disini kyu bad bgt. tpi tetep aja pengen mereka balikan. tpi si jon ae udh terlanjur cinta bgt sma denis. ditunggu bgt next chapt nya thor. seru parahhh

    Disukai oleh 1 orang

  15. Sebenernya apa yang di katakan Kyuhyun bener. Setidaknya jika mereka ga memikirkan Kyuhyun, pikirkan JooHyun. Dia masih kecil.
    Tapi kalo di jelaskan, dan keadaan nya seperti ini juga susah. Changmin juga bener soal walaupun JooHyun kehilangan eomma nya dia masih punya Kyuhyun sebagai appa nya andai Kyuhyun peduli ama JooHyun.
    Tapi ngeri juga kalo Joo Ae ingat semua nya. Kalo dia pengen JooHyun ama dia gimana? Siwon selalu bisa mengabulkan apapun mau JooAe. kyuhyun cukup merana karna kehilangan JooAe, dan bakalan makin hancur kalo kehilangan JooHyun juga. Duhhh ga sabar deh, kalo JooAe ingat semua nya gimana ya? Dia kan udah ama Dennis Oh yang mampu membahagia kan JooAe. Semoga aja tulus ya Dennis, cukup Kyuhyun aja yg menyesal atas semua nya. Ga sabar buat next nya, semangat ya kaka author nulisnya. Karya nya dj tunggu sangat loh 😚😚😚😚

    Disukai oleh 1 orang

  16. Jadi bingung belain siapa karena kedua sisi sama2 salah. Kyu memang sudah mulai berubah, tapi kesalahannya ke Joon Ae di masa lalu fatal banget dan susah dimaafkan. Tapi di sisi lain juga kasihan Joon Hyun (di sini dia yg jadi korban kesalahan ayahnya sekaligus keluarga orangtuanya). Mau belain Dennis juga bingung karena dia nggak ikut bantuin Joon Ae mengingat masa lalunya. Jadi seolah-olah keluarga Joon Ae juga penuh kebohongan. Kasihan Joon Ae, dia hidup dikelilingi kebohongan (begitu juga Kyu dan Joon Hyun). Rumit banget nih konfliknya.

    Disukai oleh 1 orang

  17. Kayanyaaa, dengan ketemu lagi Joonae sekarang. Tapi dalam k adaan yang beda (Joonae kaga inget dia)

    Buat Kyu bisa makin deket sama Joonhyun deh ??? Mungkin memperbaiki sikap dia yang dulu ???

    & apa Kyu bakalan bener² nyerah sama Joonae ???

    Menyesal boleh sama sikap & prilaku masa lalu lu Kyu ….
    Tapi, kalau masih cinta ?! Ayo kejar & pertahanin Joonae ^o^

    Disukai oleh 1 orang

  18. aku sih berharap gak balikan saya Kyuhyun lagi ,, agak gak terima klo Joon ae harus balik sama Kyuhyun lagi gimana perasan Dennis sama Siwon huhuhu
    itu pendapat aku ya hehehe
    semoga cepet di lanjutin cerita nya fighting^^

    Disukai oleh 1 orang

  19. Buat Dennis oh, ikat aja oh joon ae. Kyuhyun, cho kyuhyun jangan pernah mengusik kehidupan joon ae yang sekarang. Dan oh joon ae, joon hyun adalah anakmu. Ambil dia dari appany.

    Disukai oleh 1 orang

  20. Aq dukung joon hyun aja…kasian masih kecil.dia perlu kasih sayang orang tuanya.
    Masalah joon ae mau pilih siapa…nunggu ntar aja saat joon ae ingat masalalunya.benar kt changmin…joon ae yg skrng udah bahagia…gantian kyu yg merana

    Disukai oleh 1 orang

  21. aku setuju sama changmin. semua yg dibilangnya itu bener. dan kalau emang takdir mengatakan kalau saat ingatan joon ae kembali dia lebih milih kyuppa dan anaknya. apalagi yg mau dibilang. kalau dia juga lebih milih dennis dan membawa joon hyun bersamanya. kyuppa harus iklas. mengingat perbuatannya sendiri. tapi untuk saat ini, biarkan aja dia bahagia tanpa ada gangguan. dan kyuppa, uruslah joon hyun dengan baik.

    semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttttttttt

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s