Perfect Match Part 8


image

Author: Keita

Title: Perfect Match Part 8

Category: NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast:

Han Hyo Joo as Oh Yeon Joo

Park Chanyeol

Support Cast:

Kwon Ji Yong

Choi Sulli

Annyeong haseyeo … Terimakasih untuk pada reader yang menyempatkan waktunya untuk membaca cerita yang saya buat.. Terimakasih untuk admin yang sudah mempost tulisan saya.. Maaf kalau ada kata-kata yang bikin bingung. Mmmmmmmm…. Moga suka sama ceritanya ya.. HAPPY READING…

Aku bergegas ke arah ruang kerja, malu. Mengapa Chanyeol mempunyai pegawai yang menarik untuk bekerja padanya? Aku mengulurkan kepalaku dengan malu-malu dari balik pintu. Dia sedang menelepon, menghadap jendela, memakai celana hitam dan kemeja putih. Rambutnya masih basah sehabis mandi.

“Kecuali jika perusahaan-nya membaik, aku tak tertarik. Kita tak akan membawa beban yang terlalu berat. Aku tak perlu alasan yang lemah lagi… Ya, katakan pada Jongin bahwa prototipe-nya terlihat bagus… Tidak aku ingin bertemu dengannya sore ini untuk membahas… Dia dan timnya… Oke. Sambungkan kembali ke Jisoo…”

Dia menunggu, menatap keluar jendela, penguasa dari alam semestanya, menunduk memandangi orang-orang yang terlihat kecil di bawah dari ketinggian kastilnya.

“Jisoo…”

Melirik ke belakang, dia melihatku di pintu. Perlahan senyum seksi menyebar di wajahnya yang tampan, dan aku jadi terdiam karena bagian dalam tubuhku meleleh. Tanpa diragukan lagi dia adalah orang yang paling tampan di planet ini, terlalu tampan untuk orang-orang yang terlihat kecil di bawah itu, terlalu tampan untukku.

Tidak, tidak terlalu tampan untukku. Dia adalah milikku, untuk saat ini.

Dia melanjutkan pembicaraannya, matanya tak pernah meninggalkanku.

“Kosongkan jadwalku pagi ini, tapi suruh Suho meneleponku. Aku akan disana jam dua. Aku perlu bicara dengan Yesung sore ini, itu akan butuh setidaknya setengah jam … Jadwalkan Jongin dan timnya setelah Yesung atau mungkin besok.. Katakan padanya untuk menunggu…. Acara yang mana?… Sabtu depan? … Tunggu dulu.”

“Kau ada acara Sabtu depan?” Tanya dia.

“Tidak.”

Dia melanjutkan percakapan teleponnya.

“Aku butuh tiket tambahan karena aku punya kencan … Ya Yeri, itu yang aku katakan, kencan, Miss Oh Yeon Joo akan menemaniku … Itu saja.” Dia menutup telepon.

“Selamat pagi, sayang.”

Aku tersenyum malu-malu.

Dia berjalan mengelilingi meja dengan anggun seperti biasa dan berdiri di depanku. Baunya sangat wangi; bersih dan bau baju yang baru dicuci. Dengan lembut dia membelai pipiku dengan punggung jarinya.

“Aku tak ingin membangunkanmu, Kau tampak begitu tenang. Apa kau tidur nyenyak?”

“Aku tidur sangat nyenyak, terima kasih. Aku hanya datang untuk menyapa sebelum aku mandi.”

Aku menatapnya dalam-dalam. Dia membungkuk dan menciumku dengan lembut, dan aku tak bisa menahan diri. Aku langsung meletakkan tanganku ke lehernya dan memutar jariku di rambutnya yang masih basah.

Mendorong tubuhku yang bergairah padanya, aku membalas ciumannya. Aku menginginkannya. Seranganku membuat dia terkejut, tapi membuat dia kalah, dia membalas, tenggorokannya mengerang pelan. Tangannya menyelip ke rambutku dan ke bawah punggungku menangkup pantatku yang telanjang, lidahnya menjelajahi mulutku. Dia menarik kembali, matanya berkabut.

“Yah, tidur tampaknya sesuai denganmu,” bisiknya. “Aku sarankan kau mandi dulu, atau aku akan membaringkanmu di mejaku, sekarang.”

“Aku memilih meja,” bisikku sembrono karena hasrat yang melanda seperti adrenalin melewati sistemku, membangun segala sesuatu di lewatinya.

Beberapa detik, dia menatapku dengan bingung.

“Kau benar-benar punya selera untuk ini, benarkah, sayang. Kau menjadi tak pernah merasa puas,” gumamnya.

“Aku hanya punya selera untukmu,” bisikku.

Matanya melebar dan gelap sementara tangannya meremas pantatku yang telanjang.

“Benar sekali, hanya aku,” dia mengeram,

tiba-tiba dengan satu gerakan, dia membersihkan semua rancangan dan kertas dari meja kerjanya hingga mereka menyebar di lantai, membawaku ke dalam pelukannya, dan meletakkan aku di mejanya sampai kepalaku hampir ke tepi meja.

“Kau menginginkannya, kau mendapatkannya, sayang,” dia bergumam, mengeluarkan paket foil dari saku celananya saat dia membuka ritsleting celananya.

Oh Astaga. Dia menggulung kondom ke bagian tubuhnya yang mengeras dan menatap ke arahku.

“Aku yakin kau sudah siap,” dia mengambil nafas, senyum penuh nafsu tampak di wajahnya.

Dalam sekejap, dia memasuki diriku, dan mendorong dalam-dalam ke dalam diriku.

Aku merintih … oh ya.

“Ya ampun, Yeon Joo. Kau begitu siap,” bisiknya memuja.

Kakiku membungkus di pinggangnya, satu-satunya cara, aku hanya bisa menahan dia yang berdiri, menatap ke arahku, matanya bercahaya, bergairah dan posesif. Dia mulai bergerak, benar-benar bergerak. Ini bukan bercinta, ini hanya berhubungan intim – dan aku menyukainya.

Aku mengerang. Ini sangat liar, begitu alami, membuatku begitu nakal. Aku merasa senang di tangannya, hasratnya membuatku puas. Dia bergerak pelan-pelan, menikmati di dalam diriku, memiliki aku, bibirnya sedikit terbuka seiring dengan pernapasannya yang meningkat. Dia memutar pinggulnya dari satu sisi ke sisi yang lain, dan terasa nikmat sekali.

Oh. Aku memejamkan mata, perasaan itu mulai terbangun – pelan-pelan melangkah menuju kenikmatan, mendaki terus naik. Mendorongku lebih tinggi, Aku mengerang keras. Aku berada di dalam semua sensasi … dia, menikmati setiap desakan, setiap dorongan yang mengisiku. Dan dia mempercepat gerakannya, mendorongku lebih cepat … lebih keras … dan seluruh tubuhku bergerak mengikuti iramanya, dan aku bisa merasakan kakiku menjadi kaku, dan bagian dalam tubuhku bergetar dan makin cepat.

“Ayo, sayang, relakanlah untukku,” dia membujukku dengan gigi terkatup – dan kebutuhan kuat dalam suaranya – ketegangan – mengirimku sampai ketepian.

Aku berteriak tanpa kata, memohon penuh gairah saat aku menyentuh matahari dan terbakar, jatuh di sekelilingnya, jatuh ke bawah, kembali terengah-engah menuju puncak yang terang ke atas permukaan Bumi.

Dia menghempas ke dalam diriku dan tiba-tiba berhenti saat dia mencapai klimaks nya, menarik pergelangan tanganku, dan membenamkan dengan anggun dan tanpa kata didalam diriku.

Wow … itu tak terduga. Perlahan-lahan aku turun kembali ke permukaan Bumi.

“Apa yang kau lakukan padaku?” Dia mengambil nafas sambil mencium leherku. “Kau benar-benar memperdayaku, kau memiliki sihir yang sangat kuat.”

Aku menjalankan jariku ke rambutnya, perlahan turun dari ketinggianku. Aku masih mengencangkan kakiku di sekelilingnya.

“Aku juga salah satu yang terpedaya,” bisikku.

Dia mendongak, menatapku, ekspresinya bingung, bahkan terkejut. Menempatkan tangan di kedua sisi wajahku, dia memegang kepalaku.

“Kau – adalah – milikku,” katanya, menekankan setiap kata -katanya. “Apa kau mengerti?”

Dia begitu sungguh-sungguh, penuh gairah. Permintaannya yang kuat begitu tak terduga dan melumpuhkan. Aku heran mengapa dia merasa seperti ini.

“Ya, aku milikmu.” bisikku, terbawa oleh gairahnya.

“Bagus”

Tiba-tiba dia menarik diri, membuatku meringis.

“Apa kau merasa nyeri?” Tanya dia, bersandar di atasku.

“Sedikit,” aku mengaku.

“Aku suka kau sakit.” Matanya membara. “Mengingatkan di mana aku sudah memilikmu, dan hanya aku.”

Dia mengenggam daguku dan menciumku dengan kasar, kemudian berdiri dan tangannya meraih untuk membantuku. Aku melirik paket foil di sampingku.

“Selalu siaga,” bisikku.

Dia menatapku bingung sambil menarik retsleting celananya. Aku mengangkat paket kosong.

“Seorang pria bisa berharap, Yeon Joo, bahkan dalam mimpi, dan terkadang mimpi-mimpinya bisa menjadi kenyataan.”

Suaranya kedengarannya sangat aneh, matanya terbakar. Aku benar-benar tak mengerti.

“Jadi, di atas mejamu, pernah menjadi sebuah impian?” Tanyaku acuh tak acuh, mencoba bercanda untuk meringankan suasana di antara kami.

Dia tersenyum penuh misterius yang tak mencapai matanya, dan langsung aku tahu ini bukan pertama kalinya dia berhubungan intim di atas mejanya. Pemikiran yang tak diinginkan. Aku menggeliat tak nyaman karena pasca senggamaku yang bergelora sudah menguap.

“Lebih baik aku segera mandi.” Aku berdiri dan berjalan melewatinya.

Dia mengerutkan kening dan mengacak-acak rambutnya.

“Aku harus menelepon dua panggilan lagi. Aku akan bergabung denganmu untuk sarapan begitu kau selesai mandi. Kurasa kemarin bibi Kim sudah mencuci pakaianmu. Dan sekarang sudah di letakkan didalam lemari.”

Apa? Kapan dia melakukan itu? Astaga, apa dia bisa mendengar kita? Mukaku memerah.

“Terima kasih,” aku bergumam.

“Terima kasih kembali,” jawabnya secara otomatis, tapi ada nada lain dalam suaranya.

Aku tak mengatakan terima kasih untuk berhubungan intim denganku. Meskipun, itu sangat …

“Apa?” Tanyanya, dan aku menyadari aku mengerutkan kening.

“Ada yang salah?” Tanyaku pelan.

“Apa maksudmu?”

“Yah … kau menjadi lebih aneh dari biasanya.”

“Kau mendapati aku jadi aneh?” Dia mencoba menahan senyum.

Aku malu.

“Kadang-kadang.”

Dia memperhatikanku sejenak, matanya spekulasi.

“Seperti biasa, aku terkejut denganmu, sayang.”

“Terkejut bagaimana?”

“Anggap saja kenikmatan yang tak terduga.”

“Kami bertujuan untuk menyenangkan oppa.” Aku memiringkan kepala ke satu sisi seperti yang sering dia lakukan padaku.

“Dan kau memang sudah menyenangkanku,” katanya, tapi dia terlihat gelisah. “Aku pikir kau harus mandi.”

Oh, dia mengusirku.

“Ya … hmm, aku akan segera menemuimu.” Aku bergegas keluar dari ruang kerjanya benar-benar tercengang.

Bibi Kim masih di dapur.

“Anda mau minum teh sekarang, nyonya?”

“Aku akan mandi dulu, terima kasih,” aku bergumam dan keluar dengan cepat dari ruangan.

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk, menyisir dengan satu sisir Chanyeol dan menata rambutku menjadi sanggul. Bajuku sudah di cuci dan si setrika, digantung di dalam lemari bersama dengan bajuku yang lain. Bibi Kim adalah seorang yang hebat. Setelah memakai sepatu, aku merapikan gaunku, mengambil napas dalam-dalam, dan kembali ke ruang besar. Chanyeol masih tak terlihat, dan Bibi Kim sedang memeriksa isi lemari dapur.

“Teh sekarang, Nyonya?” Tanya dia.

“Ya, terima kasih.” Aku tersenyum padanya.

Sekarang aku merasa sedikit lebih percaya diri karena aku sudah berpakaian.

“Apakah Anda ingin sesuatu untuk dimakan?”

“Tidak, terima kasih.”

“Tentu saja kau akan mendapatkan sesuatu untuk dimakan,” bentak Chanyeol, melotot. “Dia suka makanan korea Bibi Kim.”

“Ya, tuan. Apa yang anda inginkan,?”

“Tolong, Omelet, dan beberapa buah.” Dia tak melepaskan pandangan mata dariku, ekspresinya tak terduga.

“Duduklah,” dia memerintah, menunjuk ke salah satu dari kursi bar.

Aku menurut, dan dia duduk di sampingku sementara bibi Kim menyibukkan diri membuatkan sarapan. Ya ampun, terasa mengerikan ada orang lain yang bisa mendengarkan percakapan kami.

“kau punya acara hari ini?”

“ya, aku harus bertemu Ji Yong nanti siang.”

Dia bersandar pada siku tangannya, sambil mengusap dagunya.

“untuk?”

“untuk meminta Ji Yong mengembalikan uang yang kau investasikan,” kataku bercanda

Dia mengangkat alis mengecamku. Sialan.

“Just Kidding. Ada beberapa dokumen penting yang harus ku serahkan padanya,” aku memperbaiki dengan cepat.

“kalau begitu aku akan mengantarmu?”

“kau tidak bekerja hari ini?”

“Sebenarnya, aku akan cukup sibuk siang ini. Tapi jika kau meminta aku mengantarmu, aku akan mengosongkan jadwalku”

Dia menyeringai.

“tidak, aku bisa pergi sendiri kalau begitu.”

Bibirnya berkerut menyembunyikan senyumnya.

“Just Kidding.” Katanya mengikuti kata-kataku. “aku tak punya jadwal hari ini. jadi kau mau ku antar?”

“baiklah jika kau memaksa” kataku tak acuh

Aku merasa Chanyeol tersenyum penuh kemenangan.

Bibi Kim menyajikan sarapan dan untuk beberapa saat kita makan dengan diam. Setelah membersihkan panci, dengan bijaksana, dia keluar dari ruangan. Aku mengintip ke arahnya.

“Apa?”

“apa bibi Kim tinggal disini?”

“Jumat-Senin biasanya dia akan tinggal disini. Di hari lain, jika aku tak membutuhkan bantuannya. Dia akan pulang.”

Tak lama terdengar deringan dari HP Chanyeol.

“Park.” katanya agak tegas

“When? … Ok, I’ll be there…” Chanyeol menutup telfonnya.

Chanyeol mengetik 1 angka. Dan menelfon kembali.

“aku butuh jet pribadi untuk penerbangan malam ini ke Jeju… standby… aku akan pulang Senin… bagus…” katanya sambil memutuskan telfonnya.

Dan menekan angka 1 lagi. Berapa kali dia akan menelfon..

“atur ulang jadwalku sampai hari Senin.. aku ada pekerjaan mendadak disana.. tidak..”

Dia mematikan telfonnya.. Dan menyimpan HPnya di saku celananya.

“aku ada pekerjaan mendadak di Jeju.” Tatapannya lembut kepadaku, seperti minta izin untuk pergi.

Aku pun mengangguk.

“Akankah kau merindukanku?”

Aku menatap dia, terkejut dengan pertanyaannya.

“Ya, tentu saja.” jawabku jujur.

Dia tersenyum dan matanya menyala.

“Aku akan merindukanmu juga. Lebih dari yang kau tahu,” dia mengambil nafas.

Hatiku menghangat dengan kata-katanya. Dengan lembut dia membelai pipiku, membungkuk, dan mencium lembut.

Chanyeol benar-benar mengantarku ke kantor. Bahkan dia menungguku di dalam mobil sampai aku beres dengan pekerjakan ku. Chanyeol keluar dari Bugatti Veyron nya ketika melihat aku keluar dari kantor bersama Ji Yong.

“Ji Yong” katanya menyapa dan menjabat tangan Ji Yong.

“Chanyeol” membalas sapaan Chanyeol. “kalian punya waktu luang untuk makan siang?” lanjutnya..

“kita punya rencana lain” kataku sebelum Chanyeol menjawab.

Chanyeol menatap padaku. Dia menyeringai kepadaku.

“maaf. Seperti nya pacarku ingin menghabiskan waktu denganku, hanya berdua” kata Chanyeol menjelaskan pada Ji Yong

“baiklah. Lain kali. Dan jaga baik-baik adikku” kata Ji Yong sambil membeli usapan pada rambutku.

“Pasti”

Setelah perpisahan itu. Chanyeol mulai menjalankan mobilnya.

“so… Where are we going?” Tanyanya tetap focus ke jalan

“Shopping…” kataku senang.

Chanyeol melirikku sekilas. Dan tersenyum.

“clothes in the penthouse still lacking?”

“No. itu sangat cukup. Tapi aku ingin beberapa baju santai untuk di penthouse. Dan juga beberapa baju baru untuk kerja.”

“ow, kau akan pindah ke penthouseku?” Tanya Chanyeol dengan nada senang.

“Tidak.”

“tidak?”

“tidak untuk saat ini.”

“lalu kapan?”

“after we got engaged, maybe..”

Chanyeol langsung mengerem mobilnya. Untung saja jalanan yang kita lalui sepi. Kalau tidak, bisa terjadi kecelakaan.

“kau mau bertunangan denganku?” katanya senang..

Aku bisa melihat wajah Chanyeol bahagia. Sangat bahagia.

“Ya, kalau kau melamarku” kataku malu.

“aku akan segera melamarmu” katanya sambil menciumku singkat.

“aku akan sangat menantikan itu”

Chanyeol pun tersenyum bahagia. Dan mulai menjalankan lagi mobilnya. Senyumnya bahkan tak menghilang pada saat kami sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Seoul. Tepat pada jam 5 aku sampai di depan rumahku.

“tolong rapikan baju santaiku di lemarimu” pintaku

“siap sayang”

“hati-hati untuk penerbangannya ke Jeju”

“ok, laters baby” kata Chanyeol sebelum aku keluar dari mobil.

Aku pun tersipu malu dengan kata-kata Chanyeol.

2 Bulan kemudian

Hubunganku dengan Chanyeol berjalan lancar.. sampai akhirnya aku bertemu gadis itu..

“Yeon Joo” Ji Yong memanggilku.

Hari ini adalah sesi pemotretan untuk produk baru peaceminusone. Ada beberapa model dengan wajah baru yang datang hari ini.

“kenalkan ini Sulli. Dia model baru kita” kata Ji Yong memperkenalkan wanita di sampingnya.

Oh my god.. Dia gadis yang kulihat 2 bulan lalu.. aku masih ingat wajahnya.. Dia model? Gadis itu tersenyum padaku. tapi aku merasa senyumannya sangat menyeramkan.. dia menatapku dari atas hingga bawah, seperti sedang menilai penampilanku.

“hai.. Choi Sulli” katanya sambil mengulurkan tangan.

“oh, hai.. Oh Yeon Joo” kataku, walaupun dia pasti sudah tau namaku.

“Nice to meet you”

“nice to meet you too”

“Yeon Joo, kau bisa menemani Sulli ke ruang ganti baju?” kata Ji Yong

“oh, ya.” Kataku sambil mengangguk. “This Way” lanjutku sambil mengarahkan jalan pada Sulli.

“what do you have that I don’t have?” kata Sulli saat kami berada di ruang ganti.

Aku mengerutkan keningku ke arahnya.. pertanyaan yang sama di ajukannya olehnya. Sebenarnya siapa dia? Apa dia mengenalku?

“aku tak mengerti apa yang kau bicarakan” kataku sambil tersenyum.

“suatu saat kau akan mengerti” katanya sambil menyeringai dan berjalan masuk ke ruang yang lebih tertutup untuk berganti pakaian.

Setelah sesi pemotretan beres. Aku melihat Ji Yong sedang mengobrol dengan beberapa model, termasuk Sulli. Aku merasakan HPku bergetar.

Chanyeol Call

sayang..” terdengar suara bahagia Chanyeol dari sebrang sana setelah aku mengangkat telfon darinya.

hai. Kau dimana?”

aku… di depan peaceminusone

what?”

aku datang untuk menjemputmu. Kau sudah beres?”

belum. Masih ada beberapa hal yang harus aku bereskan.”

ok, i’ll be waiting for you

maafkan aku. Aku janji ini tak akan lama”

ok

Setelah menutup telfon dari Chanyeol, aku bergegas membereskan berkas-berkas penting untuk dijadikan laporan nanti. Aku pun keluar dari ruang pemotretan dan bergegas ke ruanganku. Saat aku sedang sibuk membereskan berkas, aku merasa ada orang yang berdiri dibelakangku, seketika aku pun menoleh. Sulli?

“kau akan bertemu dengannya hari ini?” katanya

Aku kaget dengan kata-katanya. Apa maksud dia, Chanyeol? Bagaimana dia bisa mengenal Chanyeol? Aku diam tak menjawab pertanyaan dia.

“titipkan salamku untuknya” katanya sambil berlalu meninggalkanku.

Saat aku keluar peaceminusone, Chanyeol menyambutku dengan senyuman hangat, di luar mobil Audinya.

“kau bawa mobil?” katanya saat aku sudah berada di depannya.

“tidak. Mobilku rusak, dan aku menjualnya. Jadi tadi Ji Yong menjemputku”

“bagus. Ayo masuk.” Katanya sambil membuka pintu belakang mobil untukku.

“Sayang, kau baik-baik saja?” katanya saat kami sudah berada di penthousenya.

Selama perjalanan pulang aku diam, bahkan Chanyeol pun tak mengatakan sepatah kata pun. Hanya menggenggam tanganku erat.

Dia menatapku, wajahnya terlihat cemas.

“The Girl,” Bisikku.

“What is it? What girl?” dia bertanya dengan lembut.

“aku bertemu dengan gadis ini 2 bulan lalu. Dan barusan aku bertemu dengannya lagi. Dia model baru di peaceminusone. Rambutnya berwarna hitam, wajahnya pucat, tapi cantik. Sepertinya dia mengenalmu”

Chanyeol terdiam, dan aku melihat wajahnya pucat.

“Apakah kau tahu siapa dia?” kataku bertanya.

“Ya.” Dia menjalankan tangannya ke rambutnya.

“siapa?”

“mantanku”

Mulutnya terkatup rapat seperti garis, tapi dia berkata apa-apa.

Aku menelan ludah. Chanyeol tak pernah menceritakan tentang mantannya. Dia menatapku dengan gugup.

“Apakah dia mengatakan sesuatu?”

“Dia mengatakan, ‘Apa yang kau miliki yang tidak aku miliki?’”

Chanyeol menutup matanya seperti dalam kesakitan. Oh tidak. Apa yang terjadi? Apa artinya
gadis itu bagi dia? Bagaimana jika dia sangat penting baginya? mungkin dia merindukannya? Dia pasti sudah pernah berhubungan dengannya. Pikiran ini membuatku mual.

Chanyeol langsung mengambil Hpnya yang berada disaku celananya. Dan berjalan menjauhiku. Dia menelfon seseorang.

“Cari tahu bagaimanapun caranya . . . Ya . . ., tapi aku tidak pernah berpikir dia akan melakukan hal ini.” Dia menutup matanya seperti sedang kesakitan.

“Tetap informasikan padaku,” dia membentak dan menutup telepon

“Apakah kau mau teh?” Tanyaku.

“Sebenarnya, aku ingin ketempat tidur.” Tatapannya menunjukan bahwa maksudnya bukan mau tidur.

“Yah, aku mau minum sedikit teh, kau mau juga minum secangkir bersamaku?” Aku ingin
tahu apa yang terjadi.

Aku tidak akan dialihkan dengan seks. Dia menjalankan tangannya ke seluruh rambutnya dengan jengkel.

“Ya, tolong,” katanya, tapi aku tahu dia kesal.

Apakah dia akan memberitahuku apa masalahnya? Atau aku harus mengoreknya? Aku merasakan pandangan matanya ke arahku – merasakan ketidakpastiannya dan kemarahannya jelas terlihat. Aku melirik, dan matanya berbinar dengan kebimbangan.

“Ada apa?” tanyaku lembut.

Dia menggelengkan kepala.

“Kau tak akan memberitahukan?”

Dia mendesah dan menutup matanya.

“Tidak.”

“Kenapa tidak?”

“Karena ini seharusnya tak ada kaitannya denganmu. Aku tak mau kau terbelit dalam masalah ini.”

“Masalah ini memang sebenarnya tak ada kaitannya denganku, tapi jadi berkaitan. Dia mendatangiku diluar kantorku. Dan dia sekarang menjadi model baru di peaceminusone. Bagaimana dia bisa tahu tentangku? Bagaimana dia tahu dimana tempatku bekerja? Aku rasa aku punya hak untuk tahu ada apa sebenarnya.”

Dia menjalankan tangannya ke rambutnya lagi, memancarkan frustasi seperti berperang dalam diri sendiri.

“Tolonglah?” Tanyaku lembut.

Mulutnya terkatup rapat, dan lalu memutar bola matanya padaku.

“Oke,” katanya, pasrah. “Aku tak tahu kenapa dia bisa menemukanmu.”

Dia menghela napas lagi, aku rasa kekecewaannya ditujukan pada dirinya sendiri. Aku menunggu dengan sabar, menuangkan air mendidih ke teko saat dia mondar-mandir. Beberapa saat kemudian dia melanjutkan.

“aku berpacarannya dengannya 2 tahun. Hubungan kami sangat baik. Saat aku berpacaran dengannya, aku baru menjalankan bisnisku. Aku memulai dari nol dengannya. Tapi semua berubah ketika 1 tahun kami berpacaran, dia meminta ‘lebih’.”

“lebih?” kataku tak mengerti

“dia meminta berhubungan badan denganku. Dia terus memintaku. Dan kami akhirnya melakukannya” katanya berhati-hati sambil melihat ke arahku.

“lalu?”

“setelah aku menurutinya. Dia memintaku untuk menikahinya.”

“lalu kau mau?” kataku agak sedih.

“kalau aku mau, aku tak akan ada disini bersamamu sayang” katanya menenangkanku

“kenapa?”

“aku belum siap waktu itu. Masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku baru memulai bisnisku selama 1 tahun. Dan dia memintaku untuk menikahinya. Aku merasa terbebani akan hal itu.”

“kau putus dengannya?”

“dia pergi meninggalkanku dan menikah dengan pria lain tak lama kemudian”

“orangtuamu tahu?”

“mereka hanya tahu bahwa aku memiliki kekasih. Tetapi aku tak pernah memperkenalkannya.”

“kenapa?”

“Sulli tidak mau. Dia tidak pernah mau.” Katanya sambil menggeleng lemah..

“kau tidak pernah bertemu dengannya lagi?”

Dia menggeleng.

“Jadi kenapa dia mencarimu sekarang?”

“Aku tak tahu.” Dan dari nada bicaranya memberitahuku bahwa setidaknya dia punya satu teori.

“Tapi kau menduga . . .” Matanya jelas meyipit karena amarah. “Aku menduga ini ada hubungannya denganmu.”

Aku? Apa yang diinginkannya dariku?

“Kenapa kau tak memberitahuku?” Tanyanya lembut.

“Aku lupa tentang dia.” aku mengangkat bahu minta maaf.

“Kau tahu, minum-minum setelah kerja. Kau muncul di bar dan kemudian kita disini. Itu jadi terselip dipikiranku. Kau punya suatu kebiasaan membuatku lupa berbagai hal.”

Dia menyeringai nakal.

“Apakah kamu tidak mau minum secangkir teh saja?”

“Tidak, Yeon Joo, Aku tak mau.”

Matanya membara menatapku, membakarku dengan tatapan ‘Aku menginginkanmu-dan menginginkanmu- sekarang’. Sial . . . itu terdengar panas.

“Lupakan dia. Ayo.” Dia mengulurkan tangannya.

Aku bangun, terlalu hangat, dan aku berada dipelukan Chanyeol yang telanjang. Walaupun dia tidur nyenyak, dia memelukku dengan kuat. Cahaya lembut pagi masuk lewat gorden. Kepalaku didadanya, kakiku bersilangan dengan kakinya, dan tanganku ada di perutnya. Aku mengangkat kepalaku sedikit, takut aku akan membangunkannya. Dia terlihat sangat muda, sangat tenang ditidurnya, sangat tampan. Aku tak percaya pria ini milikku, sepenuhnya milikku.

Hmm . . . menjulurkan tanganku, aku membelai dadanya, menjalankan ujung jariku melewati dadanya, dan dia tak bergerak. Ya Ampun, Aku tak percaya ini, dia benar-benar milikku – dalam beberapa momen berharga. Aku bersandar sedikit dan dengan lembut mengecup dadanya. Dia mengerang pelan tapi tak bangun, dan aku tersenyum. Aku menciumnya lagi, dan matanya terbuka.

“Hai.” Aku nyengir padanya, merasa bersalah.

“Hai,” Dia menjawab hati-hati. “Apa yang kau lakukan?”

“Melihat dirimu.” Aku menggerakkan jariku di happy trail-nya.

Dia menangkap tanganku, menyipitkan matanya, kemudian tersenyum sebuah senyuman Chanyeol-saat-senang, dan aku jadi rileks.  Tiba-tiba dia pindah keatasku, menekanku ke kasur, tangannya ditanganku, memperingatkanku. Dia menggosok hidungku dengan hidungnya.

“Aku rasa kau punya niat tak baik, sayang,” Tuduhnya, tapi senyummya tetap tersisa.

“Aku suka punya niat tak baik saat berada didekatmu.”

“Benarkah?” Dia bertanya dan mencium ringan bibirku.

“Seks atau sarapan?” Tanyanya,

Ereksinya menusuk ke dalamku, dan aku mengangkat pinggulku untuk bergabung
dengannya.

“Pilihan yang bagus,” Bisiknya dileherku, saat ciumannya turun ke payudaraku.

Aku berdiri didepan lemariku, menatap cermin, mencoba membujuk rambutku agar mau diatur lebih bergaya —ternyata sudah terlalu panjang. Aku memakai jins dan T-shirt, dan Chanyeol, segar sehabis mandi, berpakaian dibelakangku. Aku menatap tubuhnya dengan bernafsu.

“Seberapa sering kamu berolahraga?” Tanyaku.

“Setiap hari kerja,” Katanya, mengancingkan celananya.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Lari,mengangkat beban, kickboxing.” Dia mengangkat bahu.

“Kickboxing?”

“Ya, aku punya pelatih pribadi, seorang bekas atlet olimpiade melatihku.”

Aku berputar untuk menatapnya saat dia mulai mengancing baju kemeja putihnya. Dia berjalan mendekat dan melingkarkan lengannya di sekelilingku, matanya yang menggelap bertemu mataku di cermin.

“Jadi—apa yang ingin kau lakukan hari ini?” Dia mengelusku, mengirim sensasi nikmat diseluruh tubuhku.

“Aku mau potong rambut”

“Ah,” Dia langsung paham dan menggigit bibirnya. Menarik satu tangannya dariku, dia meraih saku jinsnya, mengeluarkan kunci mobil dan memberikannya padaku.

Continue…
Gimana?

Terimakasih sudah baca..
Maaf kalau ada Typo
Keita…

Ps: cerita disini terinspirasi dari Fifty Shades

43 thoughts on “Perfect Match Part 8

  1. Omg. No chapter without hotness.. love! Keep the good work author.. and dont be too conflicting pleaseeee.. kamsahamnidaaa`~~~~

    Suka

  2. kapan nikahnya ya?? apa nikahnya ntar, setelah masalah yang baru muncul ini selesai. aku suka. tapi ntah aku kadang agak kurang paham sama kalimatnya. trus, dari cerita yg satu lanjut ke yang satu kadang aku bingung karna gak ada tanda akhir. dan sekarang yeon joo sudah ketularan canyeol. mesum. haha.

    semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttttttt

    Suka

  3. Wow orang ke-3nya udh muncul. Tapi apa yang dia mau? N apa hubungannya ma yeon joo? N kenapa dia muncul lagi padahal udh punya suami? Apa sebelumnya dia punya anak dari chanyeol atau dia muncul supaya bisa nguasain harta chanyeol? Huh jadi gx sabar buat nunggu part selanjutnya

    Suka

  4. Mantan pcr muncul toh
    Trnyata bukan dasom aj. Ad sulli
    Sulli kynya yg akn buat konflik menjadi oke(?)wkwk
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^

    Suka

  5. jadi yeoja yang nemuin yeon jo didepan gedung kntor dia itu sulli mantan chanyeol????

    mau aapa yahhh sulli balik lagi dikehidupan chanyeol dia pan udah punyaa suami.
    apa dia mau balas dendam sakit hatinyaa sama chanyeol ????
    apa dia mau nyakitin yeon jo????

    sepertinya konflik akan dimulai
    next thor

    Suka

  6. Ending nya kurang klimaks, konfliknya blm kliatan jelas.
    Cuma mantan pacar yg dateng..dan blm kliatan juga, apa yg mau dilakukan Sulli terhadap yeon joo, tp knp chanyeol udah parno bgt sieh??

    Suka

  7. Tp binggung juga kan chayeol kenal dengan yeon jo pas mereka kuliah…perasaan chayeol udah jatuh cinta nggak ama yeon jo pas kuliah dan kenapa ia pacaran ama sulli 2 tahun berarti chayeol cinta juga pd sulli waktu itu….pas chayeol berhubungan badan dengan sulli pakai pengaman nggak seperti dengan yeon jo….jangan2 sulli dan chayeol mempunyai anak makanya ia menikah sama orang lain bukannya chayeol,karena chayeol belum siap menikah….klu ia punya anak dgn sulli ntar chayeol bimbang dan meninggalkan yeon jo demi kepentingan anaknya,tp saya harap chayeol bukan laki2 begitu….walau pun ntar ia punya anak tp saya harap ia tidak akan pernah melepaskan yeon jo

    Suka

  8. nah kan.. mantan beneran kan.. tapi jadi ikut penasaran gmana sulli.. kenapa dia tiba2 pergi dan skrg balik lagi.. terus katanya punya suami ? ah molla

    fighting thor.. di tunggu kelanjutannya

    Suka

  9. jgn sampe chanyeol berhubungan lagi ama sulli diblkang yeon joo,,pasti sulli dah cere makanya cari chanyeol lagi dtggu nextnya eonn jgn lama2 fighting

    Suka

  10. waks mau potong rambut malah dikasi kunci mobil hahahahah love banget sm chanyeol😍😍😍 semoga ga ada kesalahpahaman yg panjang diantara yeon joo dan chanyeol soalnya mereka cocok bgt😍😍 aku juga seneng ff ini banyak cerita senengnya daripada sedihnya, ada tuh kadang ff biarpun genrenya ga sad tapi sedih terus, jadi males baca karena bawa negative vibes hahaha

    Suka

  11. Woaaahh tokoh antagonis udh mncul 2x..ehehehe…apa yg d inginkan sulli klw dia udh nikah…masa ingin nikah d ajak knalan sma calon mertua kok gk mau…aneh bnget ya..😁😁😁..ok see next time thor..ttp smangat ya…

    Suka

  12. Wah sepertinya mulai ada konflik nich?? Dan kenpa sulli balik lagi kehidupan chanyeol bagaimana dengan suaminya apa sulli berniat untuk kembali sama chanyeol tapi semoga aja enggak dech krena pasangan ini benar benar sweet dan yeon joo tidak ragu dengan hubungannya bersama chanyeol

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s