Uncontrollably Crush Part 3


picsart_02-10-08-15-48

 

Author              : Shan Shine

Tittle               : Uncontrollably Crush

Category        : NC21, Yadong, Romance

Cast                :

– Cho Kyuhyun.                                 

– Shin Hyunni.

 

***

Uncontrollably Crush part 3^^ So, Enjoy! and happy reading~

***

Part 3

“Bukahkan itu Cho Kyuhyun? Sedang apa dia di sana?” tanya Sana yang mengikuti arah pandang Hyunni saat dirinya diabaikan tadi.

 

Hyunni hanya terus terdiam menatap Kyuhyun. Hyunni sadar bahwa itu benarlah Kyuhyun. Tiba-tiba kemunculan seseorang membuat Hyunni kaget sekaligus bingung. Saat seorang gadis tiba-tiba saja keluar dari toko itu sambil membawa-bawa beberapa tas belanjaan. Gadis itu tampak langsung menggandeng Kyuhyun dengan manja. Hingga pekikkan tertahan Sana kembali menyadarkannya.

 

“Apa-apaan itu! Dia bersama seorang gadis!”

 

Hyunni hanya terus terdiam menatap Kyuhyun bersama gadis itu. Ia melihat di tangan gadis itu banyak tas-tas belanjaan. Persis seperti dirinya saat Kyuhyun mengganti gaunnya

 

Hyunni segera mengalihkan pandangannya. Perasaan sedih bercampur pasrah membuatnya tidak tahan menatap gadis yang bergelayut manja di lengan pria itu. Ia sadar, seharusnya sejak awal ia tahu bahwa seorang pria yang paling mempesona tidak selalu lajang. Hyunni pun tidak bisa memungkiri bahwa ia memang juga ikut tertarik dengan Kyuhyun. Persis seperti gadis-gadis lain.

 

“Wah, ternyata dia brengsek. Sepertinya dia memang mempunyai kebiasaan membelikan para gadis pakaian-pakaian mahal. Dia benar-benar memanfaatkan wajahnya untuk mendapatkan gadis-gadis!” Sana sepertinya memikirkan apa yang Hyunni pikirkan sejak tadi, sehingga Sana mengucapkan kalimat-kalimatnya itu. Sana adalah tipe gadis yang suka mengeluarkan isi pikirannya. Sehingga tidak aneh jika sekarang Sana sangat terang-terang menatap Kyuhyun tidak suka sembari mengucapkan kalimat itu tadi.

 

“Sudahlah, ayo kita pulang.”

 

Hyunni yang awalnya menunduk pasrah bercampur sedih itu kembali mengangkat kepalanya. Hyunni segera meraih lengan Sana dan tersenyum lebar. Menunjukkan bahwa ia tidak apa-apa. Dengan sedikit menyeret Sana yang masih diliputi rasa kesal, mereka hendak kembali berjalan.

 

“Shin Hyunni-ssi.”

 

Langkah kedua gadis itu terhenti saat sebuah suara mengintrupsi mereka dari belakang. Suara berat namun terkesan maskulin itu membuat mereka sontak berbalik ke sumber suara itu. Tampak Kyuhyun sudah berdiri di belakang mereka diikuti oleh gadis yang datang bersama Kyuhyun.

 

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu,” ucap Kyuhyun tersenyum.

 

Hyunni tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil. Hyunni benar-benar berusaha menyembunyikan raut terlukanya, karena ia sadar ia bukanlah siapa-siapa. Sedangkan Sana hanya menatap tajam Kyuhyun dan gadis di sampingnya bergantian.

 

Kyuhyun menatap bingung. Sebelum ia sadar kedua gadis itu menatapnya dengan lekat. Apalagi Sana menatap gadis di sampingnya dengan tajam. Kyuhyun sadar bahwa kedua gadis di hadapannya itu sedang salah paham padanya.

 

“Ah, perkenalkan! Ini adikku, Cho Jihyun. Cho Jihyun perkenalkan Min Sana dan Shin Hyunni.” Kyuhyun saling memperkenalkan keduanya. Ia berbicara bergantian pada ketiga gadis itu.

 

Jihyun tersenyum sejak awal melihat kedua gadis itu. Jihyun juga dengan hangat menyapa dan menjabat tangan Sana. Namun, saat Kyuhyun memperkenalkan gadis bernama Shin Hyunni, raut wajah Jihyun tiba-tiba saja berubah. Raut wajah sinis dan tidak suka langsung terpatri di wajah gadis cantik itu.

 

Dia tahu siapa Shin Hyunni. Karena Kyuhyun sendiri yang pernah menceritakannya dengan antusias. Hyunni sendiri bisa melihat perubahan raut wajah adik Kyuhyun yang seumuran dengan Sana itu. Bisa ia lihat tatapan sinis dan tajam itu seolah menyuruhnya menjauh pergi dari keduanya. Seolah Jihyun tidak menginginkan keberadaannya berada di dekat keluarganya.

 

“Oppa, sudah malam! Ayo, pulang!” seru Jihyun meraih lengan Kyuhyun. Memeluknya erat dan memaksanya pergi. Jihyun tidak mau ketampanan kakaknya semakin membuat gadis seperti Hyunni jatuh cintanya. Ia tidak mau jika Hyunni sampai benar-benar jatuh cinta pada kakaknya. Ia tidak mau gadis penyedihkan seperti Hyunni dekat dengan keluarganya.

 

“Cho Kyuhyun-ssi, aku ingin bicara sebentar,”

 

Kyuhyun tersenyum lebar. “Tentu, tentu saja Hyunni-ssi.”

 

“Ini tentang gaun-gaun itu,” ucap Hyunni memulai pembicaraan dengan Kyuhyun saat mereka sudah agak jauh dari Sana dan Jihyun.

 

“Kenapa? Apa kau tidak suka dengan gaun-gaunnya? Atau ukurannya tidak pas?”

 

Hyunni menggeleng cepat. Ia tidak mungkin protes seperti itu setelah Kyuhyun mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk gaun-gaun itu. “Bukan, bukan! Aku berniat mengembalikannya. Kulihat harga keseluruhannya begitu mahal, aku tidak bisa menerima sebanyak itu. Aku merasa berhutang. Jadi lebih baik aku mengembalikannya. Lagipula aku belum pernah memakainya ke mana-mana. Mereka masih baru, jadi kau bisa…”

 

“Shin Hyunni-ssi, jika kau mengembalikannya, aku benar-benar akan menulisnya sebagai hutang. Karena jika kau mengembalikannya, kau membuat egoku terluka” sela Kyuhyun setelah mengambil napas panjangnya.

 

Hyunni hanya terdiam. Ia sudah tahu bahwa pria itu pasti tidak akan menerimanya begitu saja. Namun, Hyunni hanya merasa takut menerima gaun-gaun seharga begitu. Itu sangat banyak baginya.

 

“Aku tulus membelikannya. Jadi, kumohon terima saja.”

 

Hyunni mengambil napas panjang. “Kalau begitu, apa aku boleh memberikan beberapa pada Sana. Ada beberapa gaun yang dia sukai.”

 

Kyuhyun tersenyum tipis. “Mereka milikmu sekarang. Kau bisa melakukan apa pun pada gaun-gaun itu, selama tidak membuang dan mengembalikannya padaku.”

 

“Oppa, kenapa kalian lama sekali?” tanya Jihyun menunjukkan ketidaksukaannya terang-terangan pada Hyunni saat mereka kembali ke tempat Sana dan Jihyun berdiri. Jihyun sengaja mengatakan itu agar Hyunni melihat jelas ketidaksukaannya pada Hyunni. Padahal mereka hanya berbicara tidak sampai tiga menit. Namun Jihyun yang kesal, membuatnya seolah mereka telah berbicara berjam-jam.

 

“Maaf, ayo,” ucap Kyuhyun yang akhirnya berjalan bersama Jihyun. Namun beberapa langkah kemudian, pria itu berbalik kepada Sana dan Hyunni karena mengingat sesuatu. “Besok ulang tahun Jihyun, aku mengundangmu untuk datang.”

 

“Oppa!” seru Jihyun tidak terima dengan apa yang diucapkan Kyuhyun.

 

Hyunni menggeleng.Hyunni tahu Jihyun tidak menyukai dirinya. Jadi, ia tidak mungkin pergi ke pesta itu. Lagipula, Hyunni tidak pernah menghadiri sebuah pesta yang digelar oleh pada anak orang kaya. Ia cukup tahu posisi, bahwa ia tidak bisa masuk ke dalam kaum itu.

 

“Maaf, Kyuhyun-ssi. Besok kafe sibuk, aku harus bekerja,” kilah Hyunni.

 

“Baiklah aku tidak akan memaksamu, Hyunni-ssi,” ucap Kyuhyun sebelum benar-benar pergi bersama Jihyun.

 

Sana dan Hyunni hanya memandang punggung Kyuhyun yang menjauh. Sana sebenarnya sedikit lega, ternyata gadis yang berada di samping Kyuhyun adalah adik kandung pria itu. Sana tadi sempat jengkel dengan Kyuhyun karena mengira Kyuhyun adalah seorang pemain wanita. Bagaimanapun Sana tahu, Kyuhyun sedang tertarik dengan Hyunni, begitupun dengan Hyunni.

 

“Eonni, kenapa kau tidak menyutujui ajakannya?”

 

“Aku hanya sedang malas. Lagipula aku tidak tahu caranya berbaur di pesta orang kaya, aku pasti akan memalukan di sana. Dan sepertinya Cho Jihyun tidak mengharapkan kehadiranku,” jawab Hyunni dengan senyumannya.

 

Sana terdiam. Ia tahu Jihyun tidak menyukai Hyunni. Sana sendiri bisa melihatnya. Namun ia bingung, kenapa Jihyun membenci Hyunni, padahal Jihyun cukup baik padanya. Apa gadis itu tahu bahwa Hyunni dan Kyuhyun sedang dekat dan saling tertarik satu sama lain? Sehingga Jihyun tidak terima jika kakaknya sampai berkencan dengan seorang pelayan kafe? Itu bisa saja terjadi.

 

Sana kemudian mengangguk mengerti. Ia tidak bisa memaksakan Hyunni untuk pergi. Ia tahu Hyunni bukan gadis pecinta pesta. “Kalau begitu kalian tadi membicarakan apa?”

 

“Aku berniat mengembalikan gaunnya, tetapi dia tidak mau. Dia bahkan mengancam bahwa dia akan menghitungnya sebagai hutang jika aku mengembalikannya.”

 

“Sudah kuduga dia pasti tidak mau. Bagaimanapun ia tulus memberikannya padamu, eonni. Kau harus menghargainya.”

 

“Iya, kau benar.”

 

“Kalau begitu apa aku boleh meminjamnya?”

 

“Kau boleh mengambil yang kau sukai, bukannya ada gaun yang kau suka tadi pagi? Ambillah.”

 

“Aku mencintaimu, eonni!”

 

***

 

“Semuanya tujuh ribu won,” ucap Hyunni saat seorang pelanggan menanyakan harga keseluruhan yang hendak dibeli. Hyunni menunduk setelah mengembalikan uang kembali pelanggan itu.

 

Donghae baru saja keluar dari dapur saat ia melihat Hyunni tampak begitu sibuk melayani pelanggan-pelanggan itu di meja kasir. Donghae tersenyum kecil saat melihat—seperti biasa—Hyunni melayani pelanggan-pelanggan itu dengan senyum ramah yang manisnya. Dan Donghae suka melihat senyuman Hyunni di pagi seperti ini.

 

“Sana sudah pergi kuliah?” tanya Donghae membuka pembicaraan sembari mengelap tangannya yang baru saja memasak di dalam dapur kafe.

 

Hyunni tersenyum membalasnya. “Iya, dia baru saja pergi tadi.”

 

Donghae mengangguk-angguk mengerti. “Oh, iya! Apa belum ada orang yang melamar? Sudah tiga hari kita memasang brosur tapi tidak ada orang yang datang.”

 

“Bersabarlah. Mencari koki memang lebih sulit daripada mencari pelayan. Apalagi kita mencari koki pria yang tidak sedang sekolah. Mungkin jika kita mencari pekerja paruh waktu dengan posisi pelayan akan lebih cepat.”

 

“Kau benar, tetapi akhir-akhir ini kafe begitu ramai. Aku mulai kewalahan menghadapi semua pesanan-pesanan,” kata Donghae sembari menghela napas panjangnya.

 

Melihat itu, Hyunni hanya terkekeh kecil. Hyunni tidak menyangka bahwa pria itu sedang pusing karena mencari koki asisten. Donghae memang koki yang hebat. Dia bahkan pernah memasak dengan tujuh kompor yang menyala dan tujuh menu berbeda. Namun tetap saja Donghae hanyalah manusia biasa, dia juga bisa kewalahan. Apalagi jika jam makan siang, Donghae hampir tidak bernapas karena kesibukannya.

 

“Tenang saja, hari ini pasti akan ada yang mengajukan diri.”

 

Donghae terkekeh geli. Kepercayaan diri Hyunni benar-benar menghiburnya. Apalagi Hyunni mengatakan itu dengan senyuman sombong yang menggemaskannya. “Dari mana kau tahu?”

 

Hyunni hanya mengedikkan bahunya dan terkekeh. “Intuisi wanita, mungkin?”

 

Donghae ikut terkekeh. Hyunni sebenarnya adalah gadis yang tidak terlalu banyak bicara. Namun, jika Hyunni sudah akrab dengan seseorang, ia akan menjadi sosok yang manis dan menggemaskan. Di balik sikap dewasa Hyunni, ia juga terkadang menjadi kekanakkan jika sudah bersama Sana yang notabene suka melakukan aegyo.

 

Mata Donghae perlahan menyusuri tubuh Hyunni. Gadis itu tampak berbeda. Donghae kemudian menyadari bahwa Hyunni memakai sebuah gaun yang tampak baru. Gaun itu tampak sederhana sekaligus kasual, namun kualitasnya tampak sangat baik. Hyunni selama ini jarang memakai gaun, jadi tidak aneh jika Donghae menyadari perbedaannya mencolok itu.

 

“Gaun baru?”

 

Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat Hyunni menunduk menatap dirinya sendiri. Ia sendiri sedang memakai salah satu gaun yang dibelikan Kyuhyun untuknya. Sebenarnya Hyunni cukup sayang pada gaun mahal itu. Namun sayangnya, Hyunni bukanlah gadis yang sering berpergian. Jadi, ia hanya memakai gaun itu untuk pergi kerja seperti sekarang. Daripada ia harus menyimpan gaun itu begitu saja tanpa dipakai-pakai.

 

“Ini gaun yang dibelikan oleh pelanggan kita, Cho Kyuhyun. Sebenarnya gaun ini sangat mahal dan rasanya aku hanya ingin menyimpannya, tetapi sepertinya akan lebih tidak baik jika aku menyimpannya saja tanpa memakainya.”

 

Raut wajah Donghae berubah. Ia terlihat tidak suka, namun raut itu segera ia sembunyikan. Hanya raut datar yang memenuhi lingkup wajah Donghae. Sebenarnya Donghae tidak suka Hyunni terlalu dekat dengan Kyuhyun. Bagaimanapun Kyuhyun dan mereka berada di dunia yang beda. Jadi, ia berharap agar Hyunni tidak terlalu dekat dengan pria seperti Kyuhyun.

 

“Kalian tampaknya menjadi dekat,” ucap Donghae sedatar wajahnya.

 

Hyunni tersenyum miris. Entah kenapa, ia berharap ucapan Donghae benar. “Tidak, kami hanya berhubungan karena ia mengganti gaunku. Tidak lebih dari itu.”

 

Donghae hanya menghela napas panjangnya. “Hyunni-ya, jujurlah padaku. Apa kau tertarik pada pria itu?”

 

Hyunni terdiam. Pertanyaan Donghae itu benar-benar tidak terduga. Di lain sisi ia begitu malu mengakuinya, namun di lain sisi ia sudah menganggap Donghae seperti kakaknya sendiri. Dan Hyunni merasa tidak enak jika ia tidak mengakuinya di depan Donghae.

 

Perlahan, Hyunni pun mengangguk, membenarkan pertanyaan Donghae. Tanpa disadari Hyunni, terbesit sirat kecewa di mata Donghae. Sebenarnya Donghae sudah lama tertarik pada gadis itu. Namun, ia juga sadar, Hyunni tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang kakak lelaki.

 

“Aku tahu aku tidak punya hak akan perasaanmu. Tapi… Hyunni, kumohon kau tidak mengharapakan lebih dari pria itu. Kita sangat berbeda dengan Cho Kyuhyun. Aku ingin kau dilukai oleh pria dari golongan chaebol seperti mereka. Aku tahu pria itu baik padamu, tetapi terkadang mereka baik karena kasihan. Bukan karena perasaan lainnya. Kau tahu, terkadang kehadiran kita tidak diharapkan untuk mereka.”

 

Hyunni sedikit menunduk mendengarnya. Kalimat Donghae sedikit mempengaruhinya. Mendengar itu, sontak membuat Hyunni mengingat sosok Cho Jihyun. Apa yang dikatakan Donghae sama sekali tidak salah. Kehadiran orang biasa seperti mereka memang terkadang tidak diharapkan. Persis Jihyun yang tidak mengharapkan Hyunni berada di dekat Kyuhyun.

 

Helaan napas itu keluar dari pernapasan Hyunni kali ini. Hyunni tidak menyangka menyukai seseorang akan seberat dan sesulit ini. Ia baru pertama kali menaruh perhatian pada seseorang dan ia tidak menyangka perasaan itu akan membuat situasi yang rumit.

 

“Oppa, tidak usah mengkhawatirkan itu. Lagipula, aku yakin kami tidak akan lebih dari seorang kenalan.” Hyunni tersenyum kecil. Ada bayangan miris di balik senyuman itu. “Lagipula, kau benar. Pria seperti Kyuhyun akan berpikir ribuan kali untuk melirikku sebagai wanita. Aku juga sudah menyadarinya sejak awal.”

 

Donghae menatap memelas. Ia tahu, kata-katanya sedikit keterlaluan. “Aku tidak pernah melarangmu jatuh cinta, Hyunni-ya. Namun, aku melarangmu untuk sakit hati. Itu akan menyakitkan bagi gadis yang baru pertama kali menyukai seseorang sepertimu.”

 

“Aku tahu. Oppa, kau selalu melakukan yang terbaik untukku. Untuk Sana juga. Dan aku menyayangimu. Terima kasih sudah memperhatikanku selama ini,” ucap Hyunni dengan senyuman tulusnya.

 

Donghae tersenyum. Ia benar-benar menyayangi Hyunni. Melebihi rasa sayang seorang kakak. Mungkin sekarang tindakkan sedikit egois. Dia mengatakan itu bukan hanya agar Hyunni berhati-hati dengan pria. Namun, juga untuk menjauhkan Hyunni dari Kyuhyun. Karena Donghae tahu, ia tidak akan bisa mengalahkan sosok pria sempurna seperti Kyuhyun di mata Hyunni.

 

Ponsel Hyunni bergetar tepat setelah Donghae kembali masuk ke dalam dapur. Pesanannya yang terus berdatangan membuat Donghae tidak bisa duduk paling lama lima menit hanya untuk bersantai. Melihat itu, Hyunni hanya berharap agar segera ada seseorang yang mengajukan diri untuk membantu Donghae.

 

Mata Hyunni menatap ponselnya. Ia melihat layar ponselnya menyala dan menampilkan sebuah gambar yang menandakan sebuah pesan baru saja masuk di ponselnya. Sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenalnya.

 

‘Hyunni-ssi, bagaimana kabarmu?’

 

Isi pesan itu membuat Hyunni mengernyit. Jelas, pesan itu bukanlah pesan yang salah kirim. Namanya memanglah Hyunni,berarti pesan itu memang untuknya. Hyunni pun segera membalas pesan itu, menanyakan perihal siapa sang pengirim.

 

Hanya butuh beberap detik setelah Hyunni mengirim balasan, sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya. Bahkan Hyunni belum sempat meletakkan ponselnya, pesan balasan pun masuk. Pesan itu pun berhasil membuat mata Hyunni membulat tidak percaya.

 

‘Ini aku, Cho Kyuhyun.’

 

***

 

‘Cho Kyuhyun-ssi, kau tahu nomorku dari mana?’

 

Kyuhyun tersenyum menerima balasan itu. Dengan cekatan, jemarinya kembali mengetuk-ketuk layar ponselnya untuk segera membalas pesan itu. Dia membalasnya dengan cepat, tidak ingin membuat gadis itu menunggu pesannya walau hanya beberapa detik lamanya.

 

‘Sudah kubilang, tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan. Kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kabarmu hari ini?’ Isi pesan balasan yang Kyuhyun tulis untuk Hyunni. Dengan tidak sabar dia pun segera mengirimnya.

 

Semenit kemudian, ponselnya kembali berbunyi. Ia hendak membuka pesan itu dengan antusias, saat tiba-tiba suara gebrakkan pintu terdengar. Kyuhyun melihat adiknya berdiri tidak terima di depannya. Cho Jihyun tampak menatap tajam seperti setajam mata Kyuhyun, sang kakak.

 

“Jihyun-ah, kenapa kau berada di apartemenku? Kenapa kau tidak bilang mau datang?” tanya Kyuhyun. Dia sama sekali menghiraukan tatapan marah dan tajam Jihyun.

 

“Oppa, aku ingin kau berhenti berhubungan dengan gadis bernama Shin Hyunni itu. Aku bisa melihat dia benar-benar tertarik padamu, oppa! Aku tidak tahan melihat tatapan memujanya padamu!” seru Jihyun sedikit memekik tidak terima.

 

“Jihyun-ah, sejak awal aku sudah bilang untuk tidak mengurusi kehidupanku, termasuk percintaanku. Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku rasakan padanya. Kau tidak tahu perasaanku. Ini perasaanku, kau tidak bisa mencampurinya walau kau adikku. Jadi, kau jangan pernah menentang pilihanku.”

 

Wajah Jihyun memelas menyedihkan. Ia berusaha menunjukkan wajah memohonnya. “Oppa, kumohon. Lupakan perasaan itu. Aku mengenal banyak eonni yang cantik dan baik. Aku yakin kau akan tertarik dengan salah satu mereka.”

 

“Jihyun-ah,” lirih Kyuhyun sembari memijit pangkal hidungnya menahan diri.

 

“Kyuhyun oppa, tinggalkan gadis menyedihkan itu!”

 

“Cho Jihyun!” bentak Kyuhyun saat ia merasa sudah tidak bisa menahan dirinya dari kekesalan yang memuncak.

 

Bentakkan itusukses membuat Jihyun terdiam. Ia terlonjak kaget. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca karena mendengar suara bentakkan dari satu-satunya kakak kandungnya. Mereka sama-sama keras kepala, tetapi  Jihyun tidak pernah bisa menang melawan Kyuhyun. Karena Kyuhyun adalah kakak lelakinya. Dan ia tidak pernah bisa melawan kakak kandungnya itu.

 

Tatapan kecewa Jihyun berubah menjadi tatapan marah. Bukannya ia marah dan tidak terima dibentak sekeras itu oleh kakaknya. Jihyun marah karena gadis itu. Gadis itu benar-benar sudah merubah kakaknya yang penyayang, berubah menjadi pria pemarah seperti sekarang.

 

Sejak awal mengenal gadis itu, Jihyun sudah tidak suka. Ia tidak suka kehadiran gadis itu di sekitar kakaknya. Dia banyak belajar tentang gadis-gadis yang mendekati kakaknya hanya karena status keluarga mereka, bukannya dengan ketulusan. Ia hanya ingin kakaknya bahagia. Apa itu salah? Kenapa ia malah dibentak? Ia tidak ingin kakaknya terjebak di perasaan yang akan menghancurkan dirinya. Ia sangat tidak ingin.

 

Dengan mata yang masih berair di pelupuk matanya, Jihyun mengangguk mengerti. Ia perlahan membalikkan tubuhnya dan meraih kenop pintu kamar kerja Kyuhyun. Jihyun berusaha sekeras mungkin menahan air matanya.

 

Melihat itu, Kyuhyun kali ini memijat pelipisnya. Ia benci membentak dan memerahi adik satu-satunya itu. Kyuhyun sangat menyayangi Jihyun. Namun, bukan berarti Jihyun dapat mengatur kehidupannya. Ini pilihan Kyuhyun dan tidak ada yang boleh membuatnya keluar dari pilihannya.

 

***

 

Hyunni menopang dagunya dengan lelah di atas meja kasir. Sesekali ia melayani pelanggan dan sesekali ia melirik ponselnya. Begitu terus hingga senja menjelang.

 

‘Aku baik. Bagaimana denganmu, Cho Kyuhyun-ssi?’ Isi pesan balasan Hyunni sebelumnya.

 

Hyunni kembali menghela napas panjangnya, melihat ponselnya yang sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda sebuah balas dari kiriman pesan terakhirnya. Hyunni awalnya bingung, tetapi perlahan ia tahu bahwa pria seperti Kyuhyun pasti sangat sibuk. Namun tetap saja, Hyunni menunggu terus menerus.

 

Lama Hyunni menatap ponselnya itu, sebelum getaran mulai terasa. Layar ponselnya mulai menyala, membuat Hyunni sedikit terlonjak. Hyunni yang berusaha menyembunyikan keantusiasannya, menjadi cemberut mengetahui siapa yang menelpon. Dengan cepat ia meraihnya dan berbicara dengan lemah.

 

“Ada apa, Sana-ya.”

 

Eonni, aku sedang membeli Jjangmyeon. Kau mau?

 

Masih dengan nada yang sama, Hyunni membalas, “Iya, aku mau satu porsi.”

 

Oke, sampai jumpa, eonni!

 

Hyunni kembali menghela napas. Seketika ia merasa aneh pada dirinya yang terus menunggu balasan pria itu. Hyunni merasa seperti gadis yang mengharapkan hal yang tidak mungkin. Dan itu membuatnya merasa menyedihkan.

 

Memangnya apa yang aku harapkan? Dekat dengannya? Sadarlah, Shin Hyunni. Kau bermimpi di tengah hari, bantin Hyunni mencelos.

 

“Permisi, apa benar di sini mencari koki untuk kafe ini?”

 

Hyunni yang tampak sibuk menatap diam ponselnya, perlahan mengangkat kepala setelah mendengar suara lembut seorang pria. Tampak pria berumur 27 tahun berdiri di depannya, menatap dengan malu dan ragu. Terlihat sesekali ia menggaruk tengkuknya. Wajah pria itu tampan juga manis dan cukup tinggi.

 

“Aku melihat brosurnya di depan kafe dan aku cukup tahu tentang memasak. Jadi, aku berminat untuk mencobanya,” ucap pria itu lagi.

 

Hyunni menepuk kedua tangannya sekali. ia mulai mengerti akan apa yang dibicarakan oleh pria itu. Dengan cepat, ia mengangguk antusias. Akhirnya tiba juga apa yang mereka tunggu.

 

“Iya, benar. Kau ingin menjadi koki kafe ini?!” Tanpa menunggu jawab pria itu, Hyunni berdiri. Ia berbalik ke arah dapur dan mulai berteriak memanggil orang yang berada  di dalam dapur itu.

 

“Ada masalah apa, Hyunni-ya?”

 

“Ada yang ingin melamar menjadi koki kita,” ucap Hyunni antusias. Ia sedikit melompat kecil di tempatnya, sebuah tingkah imut yang selalu dilakukan Hyunni tanpa gadis itu sendiri sadari.

 

“Benarkah?”

 

Donghae berbalik. Ia tersenyum menyambut pria yang tampak lebih muda darinya itu. Donghae kemudian mengulurkan tangannya, dibalas oleh pria itu dengan senyum sungkam.

 

“Kau bisa memasak?”

 

“Aku sering memasak sejak sekolah menengah pertama. Aku cukup tahu banyak masakan.”

 

Donghae mengangguk-angguk mengerti sembari memegang dagunya. Ia tampak menilai tampilan pria itu sebentar. Pria itu memakai kaos dengan jaket diluarnya, celana jeans serta sepatu pria itu tampak rapih. Dari penampilan yang dilihat, pria itu sepertinya pengangguran yang memang sedang mencari pekerjaan.

 

“Siapa namamu?” tanya Donghae lagi.

 

“Myungsoo. Kim Myungsoo.”

 

Donghae mengangguk mengerti sekali lagi. Hyunni juga tampak mengangguk-angguk polos di samping Donghae. Hyunni berusaha mengingat nama orang yang akan menjadi koki baru sekaligus teman baru mereka.

 

“Baiklah, Myungsoo-ssi. Aku Lee Donghae, panggil saja hyung karena umurku sudah tiga puluh dan aku yakin kau masih muda. Sekarang, ikut aku. Aku akan mengujimu apa kau layak berada di dapurku atau tidak. Setelah itu, aku memutuskan menerimamu atau tidak.”

 

“Baiklah, hyung.”

 

Hyunni hanya menatap kedua pria yang berjalan memasuki dapur itu. Dia berharap pria bernama Kim Myungsoo itu dapat membantu Donghae di sini. Jadi, pekerjaan Donghae sedikit berkurang.

 

Hyunni benar-benar kasihan melihat Donghae yang bekerja begitu keras sendiri di dalam kafe. Hyunni sendiri sebenarnya bisa membantu Donghae di dalam sana, tetapi sayangnya ia tidak secekatan Donghae. Walau ia bisa memasak, ia tidak bisa memasak dengan cepat tampak merusak makanannya. Jadi, Hyunni tidak bisa melakukan apa-apa selain mencarikan Donghae koki asisten.

 

Beberapa saat kemudian, Sana datang dengan membawa sekantung plastik yang berisi dua mangkuk Jjangmyung yang ia janjikan di telepon tadi. Tampaknya Sana tidak sempat makan di universitasnya sehingga ia tidak punya pilihan lain selain membeli makanan dan membawanya ke kafe. Donghae sendiri tidak terlalu suka memakannya, sehingga Sana sengaja hanya membeli dua porsi. Untuknya, serta untuk Hyunni.

 

“Semua mata kuliahmu hari ini sudah selesai?”

 

Sana mengangguk antusias. Ia kemudian meletakkan kantung plastik itu dan mengeluarkan dua mangkuk Jjangmyung. Sana kemudian duduk di samping Hyunni di balik meja kasir itu, sebelum keduanya mulai mempersiapkan sumpit mereka.

 

Hyunni cukup bersyukur karena di senja begini, pelanggan sedikit renggang. Sehingga ia tidak harus sibuk makan sembari melayani pelanggan. Apalagi saus kacang hitam dari makanan mereka, cukup membuat bibir pinggiran bibir mereka terlihat kacau. Namun, tidak sekacau Sana yang begitu fokus dalam makannya. Sana bahkan tidak perduli saat saus itu juga mengenai pipinya yang mirip tupai itu.

 

“Pelan-pelan,” tegur Hyunni sembari mengusap-usap punggung belakang Sana saat gadis itu tampak sedikit tersedak. Hyunni juga menuangkan segelas air putih untuk Sana.

 

“Aku sangat lapar.”

 

Hyunni menggeleng geli mendengarnya. Sana benar-benar hanya perduli dengan makanannya. Gadis itu bahkan hanya meminum sedikit setelah tersedak kecil, sebelum kembali fokus makan.

 

“Ah, iya. Kita sudah menemukan asisten koki untuk Donghae oppa,” ucap Hyunni yang sudah menghabiskan porsinya. Sekarang Hyunni tampak mengelap pinggiran bibirnya dengan tisu untuk menghilangkan saus Jjajangmyung itu.

 

“Benarkah?” tanya Sana tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkuknya. Bibirnya masih dipenuhi saus dan pipinya menggembung lucu karena memakan lahapp Jjajangmyun itu.

 

“Iya, mereka ada di dalam. Sepertinya pria itu cukup lumayan pintar menjadi koki. Donghae oppa tampak betah mengajarinya memasak menu. Walau belum pasti, tapi aku yakin Donghae oppa akan menerimanya.”

 

“Baguslah, dengan begitu pekerjaan Donghae oppa sedikit ringan.”

 

Hyunni mengangguk setuju. “Benar, kan?”

 

“Kau boleh mulai bekerja besok. Sekarang pulanglah dan beristirahat.”

 

Suara dari belakang punggung kedua gadis itu pun membuat Hyunni membalikkan badannya, sedangkan Sana masih tidak mau beralih dari makanannya. Melihat itupun, Hyunni menjadi gemas. Ia pun memukul lengan Sana gemas agar gadis itu berbalik.

 

“Yak, lihatlah. Itu dia,” bisik Hyunni yang terdengar seperti seruan tertahan.

 

Pukulan itu membuat Sana mau tidak mau berbalik. Wajahnya yang tampak penuh saus di pinggiran bibirnya menatap malas. Sebelum akhirnya pandangan mata Sana berhenti pada pria yang berada di depannya.

 

Seketika dunia Sana terasa berhenti. Apalagi saat Myungsoo tersenyum menyapa pada Sana, gadis itu tampak merona samar. Lama Sana terdiam karena tatapan mempesona Myungsoo, ia kemudian sadar akan penampilannya. Apalagi mulutnya yang penuh saus seperti anak tujuh tahun yang makan dengan urakan.

 

“Ah, bibirku!” seru Sana kebalakan.

 

Sana yang salah tingkah segera menengok kanan kiri. Hingga kemudian Sana meraih pinggiran gaun Hyunni dan mengelap kasar mulutnya di sana. Hal itu pun sukses membuat Myungsoo menatap bingung, Donghae yang menggeleng pasrah, hingga Hyunni yang sudah membulatkan matanya tidak percaya.

 

“Yak! Gaun ini seharga sembilan ratus ribu won! Pakailah tisu ini, Sana-ya!” teriak Hyunni sembari memberikan beberapa helai tisu yang tersedia sejak tadi. Padahal ia berjanji akan memperlakukan gaun mahal pemberian Kyuhyun itu dengan lembut. Namun nyatanya, sekarang gaunnya tampak seperti serbet sekali pakai.

 

Sana sendiri hanya langsung merampas tisur itu. Mengelap bibirnya agar sebersih mungkin, sebelum berlari masuk ke ruang karyawan. Di sana, ia bersembunyi di balik tembok.

 

“Dia itu kenapa?” tanya Myungsoo polos. Ia tidak tahu bahwa Aana kelabakkan seperti itu karena dirinya.

 

“Entah, tadi dia masih sehat,” jawab Hyunni membuat Myungsoo terkekeh geli.

 

“Kalau begitu aku pulang dulu. Aku bisa berkenalan dengan semuanya besok.” Myungsoo kemudian memandang Donghae dan Hyunni bergantian, sebelum menunduk kecil. “Kalau begitu, aku pamit.”

 

Donghae menangguk sembari tersenyum. Hyunni sendiri melambaikkan tangannya dengan ramah saat melihat Myungsoo sudah berjalan ke arah pintu keluar kafe.

 

Beberapa menit kemudian, Hyunni melihat kepala Sana perlahan menyembul di ambang pintu ruangan karyawan itu. Mata Sana tampak melirik ke segala arah, berharap bahwa orang itu sudah pergi. Sejak tadi, Sana hanya bisa meruntuki kebodohannya karena tampil memalukan di depan pria itu tampan seperti itu.

 

“Yak, Sana! Kemarilah!”

 

Sana perlahan berjalan mendekat. “Dia sudah pergi?”

 

“Iya, baru saja.”

 

“Siapa namanya?”

 

“Kim Myungsoo.”

 

“Myungsoo?” ucap Sana mengulang nama itu.

 

“Panggil dia oppa. Dia lebih tua dari kita berdua.”

 

“Myungsoo oppa?” Senyum sana perlahan terbit dengan antusias. Ia sudah panggilan itu di lidahnya. Nama yang sangat indah, seindah orangnya, pikir Sana.

 

“Apa Donghae oppa menerimanya?”

 

“Sepertinya begitu. Donghae oppa tadi menyuruhnya mulai masuk besok.”

 

Seketika Hyunni terlonjat saat Sana berteriak girang. Beberapa pelanggan kafe yang ada di sana tampak ikut terlonjak kaget sebentar. Hyunni bahkan rasanya gemas ingin membekap mulut Sana yang sering tidak terkontrol itu.

 

“Kau itu kenapa sih dari tadi?”

 

“Eonni!” seru Sana menyela. Ia berseru seolah Hyunni berada jauh darinya.

 

“Kenapa?”

 

“Eonni, apa ini perasaan yang kau rasakan pada si Romeo Cho?”

 

Hyunni terdiam. Saat Sana menyebut Kyuhyun membuatnya berdebar. Baru mendengar namanya saja, Hyunni rasanya merona. Apa begini orang yang jatuh cinta? Berdebar hanya walau dengan mendengar namanya saja?

 

“Apa maksudmu? Perasaan apa?” tanya Hyunni dengan pipi yang sedikit merona malu. Ia selalu merasa malu setiap Sana mengungkit tentang betapa terpesonanya dia pada sosok Cho Kyuhyun.

 

Sana hanya tersenyum bodoh, persis seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cinta pertamanya. Gadis itu meletakkan kedua lengannya di atas meja sebelum menopang dagunya. Matanya menatap, menerawang ke depan. Senyuman yang tidak terkendali masih terus terukir di wajah Sana.

 

“Perasaan yang kurasakan ini, eonni.”

 

Hyunni hanya terdiam. Hyunni memposisikan wajah dan tangan seperti Sana. Hanya saja wajah Hyunni tidak menerawang ke depan. Hyunni hanya menatap wajah Sana, menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh gadis muda itu.

 

“Perasaan saat jantungmu terasa memompa kencang seolah debarannya akan melompat keluar melewati rusukmu. Serta ada juga perasaan bahwa matamu merasakan kebutaan yang aneh di mana kau merasa tidak bisa melihat siapa pun atau apa pun dan kau hanya bisa melihat satu orang. Dan juga perasaan yang membuatmu pusing dan lemah saat seorang pria tersenyum mempesona padamu hingga kaki-kakimu terasa lemah,” ucap Sana terus seperti gumaman pada dirinya sendiri.

 

Hyunni terdiam. Matanya menatap Sana kosong karena pikirannya sedang menjelajahi waktu. Walaupun begitu, kalimat-kalimat Sana itu masih terdengar jelas di telinganya.

 

Kalimat demi kalimat Sana seolah semakin membawa pikirkannya pergi dari raganya. Hyunni mengerti betul perasaan yang dirasakan Sana saat ini. Saat pertama kali melihat Kyuhyun, ia juga mengalami kebutaan aneh itu. Rasanya ia berada di ruang hampa dimana hanya dirinya dan Kyuhyun berada, membuat Hyunni hanya bisa menatap Kyuhyun seseorang selama beberapa detik saat itu. Bahkan saat ia memandang langsung ke dalam bola mata Kyuhyun, ia merasa jantung melompat ke seluruh tempat di rongga dadanya. Jantung itu seolah ingin keluar dari tubuhnya karena hentakkan debaran yang begitu jelas. Seolah jantungnya telah menemukan pasangan yang selama ini ia tunggu.

 

Semua perasaan yang dirasakan Sana juga tengah ia rasakan saat ini. Ia sendiri baru menyadari perasaan aneh itu, saat Sana menjelaskannya.

 

“Eonni, apa itu perasaan yang kau rasakan pada Romeo Cho?”

 

Hyunni mengangguk, sebelum ia bersuara menjawab, “Iya, persis seperti itu.”

 

Tanpa sadar keduanya sekarang menatap menerawang ke depan. Senyum keduanya tampak sama. Mereka sadar, mereka sedang terjebak dengan perasaan yang mereka rasakan. Perasaan yang mana membuat mereka tidak bisa menemukan jalan keluarnya.

 

***

 

“Maaf, kalian harus lembur hingga jam sebelas malam seperti ini.” Itu adalah kalimat sungkan yang Donghae ucapkan kepada Hyunni serta karyawan lain saat kafe baru tutup saat lebih dari jam sebelas malam. Donghae merasa tidak enak hati sudah melanggar jam pulang pegawainya. Walau semuanya memakluminya, Donghae sebagai pemilik dan pria tertua di kafe itu merasa sungkan.

 

Jam delapan malam tadi, kafe mereka disewa untuh acara ulang tahun ketujuh belas seorang gadis. Sewanya sendiri sudah mereka pesan sejak seminggu lalu. Donghae lupa memberitahukannya pada pegawainya yang lain sehingga dengan berat hati, Donghae melemburkan pegawai-pegawainya secara tiba-tiba. Acara sendiri berjalan hingga sepuluh malam, tetapi mereka harus membersihkan sisa-sisa acara pesta itu sejam lebih agar kafe bisa dipakai besok pagi.

 

Hyunni pun turut membantu. Ia tidak mungkin membiarkan yang lain membersihkan sedangkan ia tidak. Donghae sendiri selalu menyuruhnya pulang karena jalan ke rumah Hyunni memang agak jauh dari rumah pegawai kafe lainnya dan hari ini Hyunni tidak datang bersama sepedanya karena sepedanya tadi pagi kekurangan angin pada bannya. Jalan yang ditempuh Hyunni pun biasanya akan sepi jika sudah lewat jam sebelas malam. Itulah kenapa Donghae khawatir jika Hyunni sampai harus pulang kemalaman.

 

Hyunni sendiri tidak mempermasalahkannya. Hyunni bisa menjaga dirinya sendiri. Walaupun harus ketinggalan bus, Hyunni tidak apa-apa selama ia membantu yang lain. Hyunni juga cukup bersyukur karena Donghae memberinya uang untuk naik taksi. Berkat Sana yang sudah jatuh tertidur di kafe, Donghae tidak bisa mengantar Hyunni pulang. Ia tidak mungkin meninggalkan Sana sendirian di kafe, apalagi ia hanya mempunyai sebuah motor, bukan mobil.

 

“Lelahnya,” lengguh Hyunni di dalam taksi yang berjalan itu.

 

Sembari merenggangkan lehernya yang terasa kaku, Hyunni merongoh tasnya. Ia mencari ponsel yang sejak acara ulang tahun tadi ia abaikan karena begitu sibuk. Tangan kanan Hyunni tampak mengeluarkan ponselnya dari tasnya, sedangkan tangan kiri Hyunni masih memijat pelan tengkuk dan lehernya bergantian.

 

“Pesan?!” Mata Hyunni melebar melihat ada beberapa pesan masuk di ponselnya. Semua pesan itu berasal dari satu pengirim yang sama, yaitu Cho Kyuhyun. Pesan itu baru masuk tepat jam delapan, yang kemudian secara bertahap terus masuk di ponselnya.

 

‘Maaf, baru membalas. Kabarku? Aku juga baik. Tapi… apa akan aneh jika aku bilang aku juga merindukanmu, Hyunni-ssi?’

 

‘Shin Hyunni-ssi, kenapa kau tidak membalasnya? Apa aku salah ucap? Apa aku sudah lancang?’

 

‘Baiklah, aku menarik kata-kataku jika itu membuatmu tidak nyaman. Tapi kumohon balas pesanku.’

 

‘Apa kau marah, Hyunni-ssi?’

 

‘Shin Hyunni-ssi, jika kau benar-benar marah sebaiknya kita bertemu. Aku akan meluruskannya. Aku tidak akan langcang mengatakan rindu lagi jika kau tidak suka.’

 

‘Shin Hyunni-ssi?’

 

‘Shin Hyunni-ssi, apa kau tidak apa-apa? Apa aku harus menelpon polisi?’

 

‘Hyunni-ssi?’

 

Rasa hangat memenuhi relung hati Hyunni begitu membaca sembilan pesan itu. Pesan itu dikirim terus menerus selama beberapa menit rentang waktunya. Dadanya kembali terasa berdebar dari dalamnya. Apalagi saat ia membaca kalimat ‘aku merindukanmu’, Hyunni merasa nyawa melayang tinggi.

 

Ada rasa ingin segera membalas pesan itu. Namun, Hyunni tidak tahu harus mengatakan apa. Rasanya ia tidak bisa membalas pesan dengan benar tanpa mengucapkan kalimat yang menunjukkan betapa salah tingkahnya ia sekarang. Ia takut tampak konyol.

 

“Agassi, kita sampai.”

 

Lama Hyunni menatap ponselnya saat ia merasa mobil itu sudah berhenti melaju. Hyunni memutuskan membalasnya begitu sampai di rumah saja. Pasti juga Kyuhyun sudah tidur. Lebih baik ia sampai di rumah lebih dulu, mengingat kawasan rumahnya cukup sepi jika sudah tengah malam seperti ini.

 

Hyunni membayar taksi sebelum turun dari mobil itu. Hyunni kemudian berjalan melewati jalan-jalan kecil yang merupakan jalan menuju ke rumahnya. Jalanan itu terasa begitu sepi senyap mengingat jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Hanya suara-suara dari serangga-serangga serta hewan malam lainnya yang terdengar.

 

Seperti biasa, Hyunni melangkah tanpa beban menuju ke rumahnya. Jalan yang ia lewati adalah jalan yang sama sering ia lewati selama ini, tetapi entah kenapa kali ini ia merasa jalan itu berbeda. Perasaannya melewati jalan itu berbeda. Tidak seperti biasanya, Hyunni merasa biasa saja. Kali ini, entah kenapa ia merasa sesuatu perasaan yang menyeramkan. Perasaan yang seperti diikuti itu menghantuinya.

 

Entah karena remangnya jalan itu atau memang karena ada hal lain, Hyunni tidak tahu pasti. Ia merasa ada sosok bayangan mengikuti. Menatapnya tajam dari belakang punggungnya. Mengikutinya seperti aliran sungai yang tenang. Namun, menyimpan air beracun jika diminum.

 

Semua indra perasa Hyunni meningkat. Ia yakin ada yang mengikutinya. Ia sangat yakin bahwa seseorang tengah berjalan perlahan di belakangnya, jauh di sana. Memantau dirinya dalam diam dan kegelapan.

 

Rasa takut seketika menyelimuti sekujur tubuhnya. Membuat bulir-bulir keringan dingin perlahan keluar dari pori-pori dahinya. Entah kenapa, ia tiba-tiba teringat akan kertas-kertas catatan tempel yang sering menerornya dengan kalimat aneh.

 

Apa dia si pengirim? Apa dia penguntit?, batin Hyunni semakin menegang takut.

 

Hyunni sangat ingin berbalik. Hyunni sangat ingin tahu apa benar ada orang yang mengikutinya atau perasaan itu hanyalah sebuah wujud manifestasi dari ketakutannya pulang di tengah malam yang sepi. Namun sayangnya, dirinya terlalu ketakutan hanya untuk sekedar membalikkan kepalanya. Hyunni hanya bisa berjalan dengan waspada, menajamkan setiap indranya agar ia bisa mewanti-wanti hal yang tidak terduga.

 

Tanpa sadar Hyunni mencengkram tali tasnya. Memegangnya dengan erat berharap itu bisa dijadikan tumpuan. Ia memejamkan kelopak matanya ketakutan begitu ia mendengar suara langkah pelan, namun tegas membelai pendengarannya.

 

Ya tuhan, dia mendekat, batin Hyunni.

 

Hyunni mempercepat langkah kakinya. Seketika bulu pada kuduknya menegang saat ia merasakan langkah itu juga menjadi cepat mengikutinya, seolah Hyunni memanglah targetnya. Hyunni meringis, merasa ingin menangis karenanya.

 

Hyunni pun segera menabah kecepatannya lagi dan lagi. Begitupun langkah kaki yang terdengar di belakangnya. Hingga akhirnya Hyunni memekik tertahan begitu sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya. Memegangnya dengan erat, membuat Hyunni hanya bisa memejamkan matanya kuat-kuat menahan tangisnya.

 

“Kau,” ucapan dari suara yang terdengar dari seorang pria itu membuat tubuh Hyunni semakin menegang. Gadis itu masih  tidak mau berbalik, ia masih terlalu takut melihat orang yang memegang pergelangan tangannya dengan begitu erat. Ia takut, sangat takut. “Bukankah kau salah satu pelanggan kami?”

 

Seketika rasa takut Hyunni surut begitu saja mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan itu terdengar ramah, bukannya mencekam seperti yang Hyunni bayangkan sejak tadi. Perlahan namun pasti, Hyunni membuka matanya. Kepalanya kemudian berbalik dengan ragu-ragu. Rasa takut masih sedikit menjeratnya.

 

“Kau…”

 

Hyunni menatap pria yang tersenyum di depannya. Wajahnya tampak akrab. Perlahan-lahan, Hyunni mulai mengingat wajah ramah itu. Hyunni sangat yakin pernah melihatnya di suatu tempat sebelumnya. Namun, Hyunni masih belum mengingatnya dengan pasti. Ia masih sedikit ragu.

 

Pria itu melepaskan genggamannya. Kedua tangan pria itu ia masuk di kedua sakunya. Ia tersenyum ramah, semakin mengingatkan Hyunni jika ia yakin pernah melihat senyuman itu sebelumnya.

 

“Kau melupakanku rupanya,” ujar pria itu sambil terkekeh.

 

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

 

Pria itu mengangguk. “Iya, kita bertemu di Departemen Store tempatku bekerja. Kau masih mengingatku?”

 

Lama Hyunni terdiam. Hyunni kemudian mengingatnya. Pria yang ada di depannya adalah pria yang bekerja sebagai manajer Departement Store tempat di mana Hyunni menemani Sana membeli tas. Pria itu adalah pria yang sangat ramah bahkan kepada anak-anak.

 

“Kau Jeomjang itu, bukan?”

 

“Iya, itu benar aku.”

 

“Sedang apa kau di sini?”

 

To be continue…

 

Thanks for reading, tinggalin jejak yah. Kurang lebihnya mohon maafkan. Keep reading and waiting yah^^ Love love!

189 thoughts on “Uncontrollably Crush Part 3

  1. Owalahhh tyta jihyun adikny kyu toh..hehehe kirain itu pcar ny kyu. Tp kykny jihyun g sk am hyunni y?..ksian dunk hyunni, belom mulai aj udh ad yg ngalangin.
    Cie sana kykny lg cenat cenut tu am myungsoo hahaha.
    Omo… Siapa itu?..jd pnsrn am pria itu?..

    Suka

  2. Haduhh.. Siapa sih yang selalu neror Hyunni itu? Penasaran banget aku..
    Btw, aku gasuka banget sama adik Kyuhyun: Jihyun. Gitu banget responnya ke Hyunni

    Penasaran sama kelanjutannya. Akankah terbongkar yg selalu meneror Hyunni?

    Fighting author-nim~

    Disukai oleh 1 orang

  3. duh duhh ga sabar next chaptnya nihh, kepo sama yg ngikutin hyuni ?? apa itu org suruhannya jihyun atau gimana ??

    ditunggu next chaptnya thorrr teruss semangat 🙂 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  4. aku kirain itu kyuhyun tpi ternyata.. Haha siapa sih sebenarnya yg suka meneror hyunni? Dan kenapa dia meneror hyunni? Apakah ada kaitannya dengan kecelakan yg di part 1? Aku penasaran.. Semangat mengetiknya thor..

    Disukai oleh 1 orang

  5. Uuu kebawa suasana jdi deg degeun .. Kok aku curiganya sma Manjer DS itu yakk?? Smpet curiga sih sma Myung Soo tpi wktu bgian akhir mkin curiga sma majer DS enth spa namnya

    Disukai oleh 1 orang

  6. jihyun baru ketemu hyuni udah ga suka aja
    nah nah kyu ada saingan baru tuh atau jangan2 itu jeomjang yang sering neror hyuni
    akkhhhh di bikin penasaran ini

    Disukai oleh 1 orang

  7. makin bnyak orang baru mulai dari myungsoo hingga jeomjang
    apa yg akan terjdi diantara para lelaki itu
    pesona hyumi spertinya mngikat para lelaki haha
    yaampun sana itu gaun mahal bukan tisu hehe

    Disukai oleh 1 orang

  8. Kaya ada yg aneh deh sama myungsoo, apa jgn jgn dia laki laki bertopi dan masker ituuuu?
    Entah apa yg ada di pikiran eonni author, cerita ini bagussssss banget. Alur nya selalu naik dan bikin antusias buat nge baca chap selanjutnyaaa.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s