Unconditional Love Part 13


hbgc_20151023235950-1

 

Author: Tian Cho

Cast : Cho Kyuhyun | Sarah Lee OC

Others : Lee Jieun | Andrew Choi | Lee Hyukjae | Seo Kang Joon

Category : NC-17, Yadong, Romance, Chapter

 

Selamat menikmati buat yang masih mau baca… jangan lupa tinggalkan jejak setelahnya okok ^^

[UNCONDITIONAL LOVE Part 13]

3 hari sejak Sarah meninggalkan Rumah Sakit, ia memutuskan besok akan mulaikembali bekerja karena merasa sudah terlalu lama cuti. Selama 3 hari Sarah hanya mendekam di kamarnya tanpa mau membuka pintu bahkan untuk makan, Nari selalu membujuknya bahkan Andrew selalu pulang ke apartemen setiap beberapa jam sekali hanya untuk melihat kondisi adiknya.

 

‘Tok Tok Tok’

 

“Sarah buka pintunya atau kuhancurkan pintu sialan ini hah!?” teriak Andrew yang sudah habis kesabarannya.

 

“Kau pikir akan mati dengan mudah hanya karena mogok makan? Tubuh manusia masih memiliki cadangan lemak setidaknya kau membutuhkan beberapa minggu untuk mati dalam kesakitan, kau mau seperti itu hah? Sekkiyaa!!!” bentaknya sambil memukuli pintu Sarah serampangan.

 

Sarah menatap pintu kamarnya dengan mata kosong, ia sendiri tidak tahu kenapa sikapnya jadi seperti ini. Ia hanya malas keluar, itu saja! Ia mendengus dan kembali membaringkan dirinya kedalam selimut, membungkus seluruh tubuhnya. Hingga suara ‘Brak’ membuat kamarnya yang gelap menerima sedikit cahaya dari luar setelah pintunya berhasil dibuka oleh Andrew. Sarah terperangah, melihat Andrew berdiri dengan napas memburu dan tampak garang, kini berjalan pelan dengan penuh kepastian kearahnya. Sarah merasakan bulu kuduknya meremang seolah Grim Reaper yang akan menjemputnya.

 

“Ooo oppaa….” suara yang keluar dari tenggorokannya hanya berupa desisan. Andrew mencengkeram lengannya masih dengan tatapan tajam yang menghunus kedalam pupil mata Sarah. Tak sampai 1 menit, Sarah sudah diseret untuk duduk disampingnya dan memakan makan malam yang sudah Nari siapkan di meja makan. Sarah tak menolak lagi, ia langsung melahapnya.

 

“Lihatlah caramu makan! Jelas sekali seperti gembel kelaparan, kau sengaja atau memang sudah gila hah? Minggu lalu melompat dari lantai 20 dan sekarang….Aishhh! kurasa rambut putihku makin bertambah karenamu, Sarah!”

 

Sarah tak menghiraukan omelan Andrew, ia makan seperti orang kesetanan dan bahkan ia sendiri tak percaya jika bisa makan sebanyak ini.

 

“Kau lupa jika dalam perutmu itu ada calon keponakan sekaligus calon cucuku hah? Aigoo….memikirkannya saja membuatku penuaan dini. Bagaimana bisa kau dan Kyuhyun, aisshh!!”

 

Sarah tersentak mendengarnya, tanpa sadar satu tangannya mengusap pelan perutnya yang masih datar. “Apa sudah mengomelnya? Aku hanya malas oppa, kau tahu malas? Itu saja.” Balasnya dengan mulut penuh ayam panggang.

 

“Geeezzz…..anak ini memang selalu merepotkan sejak kecil!” Andrew mengusap bibir Sarah yang belepotan saus barbeque dari ayam panggangnya. Sarah tampak tersenyum kecil membuat Andrew menghentikan tangannya. Ia teringat sejak Sarah berusia 3 tahun, ia selalu makan dengan belepotan dan Andrew yang selalu mengelap bibirnya namun disana dalam memorinya ia melihat kedua orangtuanya tersenyum kearah mereka..

 

“Oppa wae geurae?” tanya Sarah melihat perubahan ekspresi Andrew yang tak biasa. Andrew melempar tissunya kelantai setelah meremasnya menjadi bagian terkecil. Ia beranjak dari kursinya dan memakai jasnya sambil merapikan dasinya.

 

“Yura pasti mencariku, Sarah. Habiskan makananmu dan tidurlah yang nyenyak!” belum genap 5 langkah Andrew berhenti dan berbalik kearah Sarah. ia mengeluarkan koran dari tasnya dan meletakkannya diatas meja disamping Sarah.

 

Andrew mengusap puncak kepala  adiknya. “Kerja bagus! Kau sudah melakukan bagianmu dengan sangat baik Sarah, gomawoo.” Setelahnya Andrew benar-benar pergi, ia pulang ke rumah istrinya yang mungkin sudah menunggunya untuk makan malam yang tertunda karena Sarah.

 

Sarah membuka korannya dan melihat headline utamanya. “Kongressman Seo Dong Woo terlibat penggelapan dana mantan Direktur Hong Corp. Kampanyenya hancur!”

 

Sarah membelalakkan matanya saat melihat judul berita yang bercetak tebal dengan warna merah menyala, ia tak perlu repot-repot membaca badan berita karena sudah tahu apa isinya. Rasa bersalah tiba-tiba menggerogotinya, ia teringat belum meminta maaf atas perbuatan bodohnya minggu lalu dan malah menyebabkan Kyuhyun masih harus terbaring di Rumah Sakit, kini ia juga menyebabkan Cho Younghwan ikut terseret untuk diperiksa oleh jaksa.

 

Ia melirik makanannya yang sudah tak terlihat lezat lagi, Sarah bergegas kekamarnya dan mencari pakaian tebal. Ia sudah tidak tahan terus merasa tak nyaman karena menyebabkan Kyuhyun masih terbaring di rumah sakit. Ia memutuskan untuk mengunjungi Kyuhyun dan melihat keadaannya.

 

***

Sarah keluar dari taksi agak tergesa karena sejak ia keluar dari apartemennya, Do Kyungsoo terus menerus menelponnya.

“Aishh…apalagi orang ini menelponku seperti orang gila!” gerutunya menatap layar ponselnya yang menunjukkan caller id ‘Do Kyungsoo’ setelah ia berhasil keluar dari lift. Sarah memilih mengabaikannya meski ia penasaran. Tanpa sadar ruangan Kyuhyun hanya berjarak beberapa meter di depannya. Jantungnya berdegub kencang, Sarah berjalan dengan pandangan lurus dan langkah pasti. Tiba-tiba nyalinya menciut, ia menghentikan langkahnya.

 

“Apa aku pulang saja? Apa yang akan kulakukan disini? mengakui dosa dan memohon agar Kyuhyun segera bangun? Drama sekali!” desisnya pelan.

 

Mata Sarah berubah sendu saat melihat sosok Kyuhyun yang terbaring dengan mata tertutup, mereka hanya terpisah dinding kaca pembatas. Perutnya bergejolak bersamaan dengan air matanya yang sudah meleleh tanpa sebab. Sarah mengusap pipinya yang basah, ia menggigit bibirnya.

 

“Cho Kyuhyun ireonna! Ini membuatku frustasi hanya melihatmu begini.” Teriaknya dengan satu tangan di tempelkan di dinding kaca seolah bisa meraih Kyuhyun.

 

“Kau tahu? Setiap malam aku tiba-tiba menangis saat mengingat kau memelukku sebelum kita sama-sama tercebur ke kolam renang, itu membuatku gila karena rasabersalah. Ditambah lagi, aku baik-baik saja dan kau masih terbaring disana. Seharusnya aku tidak bertindak bodoh waktu itu. Cho Kyuhyun mianhae….mianhae, jebal ireonna!”

 

“Aku tidak tahu sejak kapan menjadi sangat sensitif, tapi aku memang sangat marah waktu itu. Aishh….apa yang kulakukan sekarang? aku bahkan tak berani menemuimu beberapa hari ini……” suaranya yang parau terdengar melemah.

 

Sarah menggunakan punggung tangannya untuk menghapus air matanya, ia masih sesenggukan saat merasakan kakinya melemas. Ia terduduk masih bersandar pada dinding kaca sambil menatap tempat tidur Kyuhyun. “Kyuhyun, aku sadar selama ini selalu mengabaikanmu, aku tidak tahu jika kau menyukaiku sebanyak itu, aku menyesal karena egois. Mianhaeeeee…….”

 

Sarah mengernyit ketika perutnya tiba-tiba keram, ia menunduk dengan tatapan panik kearah perutnya. “OhMyGod! Bukankah aku sedang hamil?” gumamnya tak percaya, lalu rasa nyeri itu datang lagi, Sarah merasa perutnya dipelintir dengan kekuatan penuh oleh seseorang. Ia berteriak pelan sambil berusaha mengatur napasnya, ia meluruskan kakinya dan duduk di lantai dengan posisi menyandar.

 

“Calm…..Sarah! ini pasti hanya shock karena berlari tadi. Gwenchana!” ia terus meyakinkan diri sambil mengatur napasnya.

 

Beberapa menit terlewati, Sarah berhasil meredakan rasa nyeri di perutnya. Ia bertekad akan mengunjungi Gynekologi setelah ini. Ia menahan beban tubuhnya dengan kedua tangan, nyeri perutnya berangsur menghilang. Sarah mengatur napasnya yang terengah, ia menatap lurus pada koridor rumah sakit yang sepi. Ia mendengar suara pintu kaca terbuka disampingnya dan langsung mendongak.

 

Belum sempat menguasai rasa terkejutnya, sosok yang beberapa detik lalu membuatnya terkejut karena berdiri didepan pintu ruangan Kyuhyun, kini merengkuhnya. Tubuh Sarah kaku, saat otaknya memberi informasi bahwa ini nyata, namja yang memeluknya adalah Cho Kyuhyun. Sarah mendorong tubuh Kyuhyun pelan, menatap matanya. Kyuhyun memeluknya lagi, Sarah memundurkan tubuhnya lagi masih memandang Kyuhyun dengan ekspresi tak percaya.

 

“Cho Kyuhyun, apa-apaan semua ini? Apa kau bercanda dan pura-pura tidak terbangun?” Sarah tersedak ludahnya sendiri ketika membayangkan jika Kyuhyun menjawab ‘ya’.

 

Kyuhyun tersenyum lemah, ia menggenggam tangan Sarah dan membantunya berdiri. “Aku tidak bercanda, aku benar-benar terluka dan kebetulan baru saja bangun saat kau berteriak minta maaf. Bukankah ini hebat? Kau memohon dan aku mengabulkannya!”

 

Sarah mendengus, ia yakin bahwa Kyuhyun pasti menikmati saat ia menangisinya seperti aktris dalam drama. Belum sempat ia menguasai rasa malunya, Kyuhyun membantunya berdiri dan menarik tangannya.

 

“Kita mau kemana?”

 

“Ikut saja!” jawab Kyuhyun singkat, ia tak berhenti tersenyum sambil memandangi wajah Sarah. pintu lift terbuka dan keduanya sampai di atap gedung. Rambut Sarah tertiup angin, ia buru-buru memasang syal yang dibawanya dalam tas.

 

Kyuhyun duduk diatas bangku panjang dan menarik Sarah untuk duduk di pangkuannya. Sarah hendak bangkit namun Kyuhyun menahan tangannya. Ia melirik tangan Kyuhyun yang masih tertancap selang infus.

 

“Kau seorang pasien, jangan terlalu memaksakan dirimu Kyu!” gumam Sarah yang diacuhkan oleh Kyuhyun.

 

“Bukankah ini menyenangkan? Jika saja waktu itu kau tidak melakukan aksi berbahaya, pastinya aku tidak perlu membuang waktuku di Rumah Sakit, Sarah.” balas Kyuhyun dengan mata menerawang jauh, Sarah mengikuti arah pandang Kyuhyun dan mendapati hiruk pikuk jalanan Seoul malam hari di bawah mereka.

 

“Mianhae, kau menjadi begini karena aku. Kurasa aku tidak waras waktu itu dan mengacaukan segalanya. Apa kau benar-benar sudah baik-baik saja Kyu? Kenapa kau melakukannya?”

 

Kyuhyun menoleh dengan mata sendunya, tiba-tiba mengecup pipi kanan Sarah. “Gwenchana, aku bahkan pernah mengalami yang lebih buruk dari ini. Bogoshippeo.”

 

Untuk sesaat, Sarah tertahan didalam mata Kyuhyun yang memancarkan rasa membuncah. Ia bahkan tak mampu menggerakkan satupun anggota tubuhnya, napasnya tertahan, matanya tak bisa berkedip. Ini pengalaman pertama bagi Sarah.

 

“Bogoshippeoyo….” kata Kyuhyun lagi dengan suara rendah. Sarah berhasil berkedip beberapa kali, dengan susah payah memundurkan wajahnya dan memalingkannya kearah lain.

 

“Mianhae Kyuhyun…..” Sarah menarik napas dalam-dalam. “Seharusnya kau marah padaku karena membuatmu terluka.” Ia kembali menatap Kyuhyun yang masih menampilkan wajah yang sama, dadanya nyeri.

‘Jangan menatapku begitu, akan sulit mengabaikanmu jika begini Kyuhyun!’ lanjut Sarah dalam hati.

 

Tangan Kyuhyun membelai pipi Sarah dan mengusapnya lembut. “Aku tak menyesal sama sekali, meski harus terluka untuk seseorang yang ingin kulindungi. Terdengar bodoh memang, tapi ada hal yang belum kau tahu Sarah.”

 

Sarah terdiam, menunggu Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya. Dadanya makin terasa nyeri dan tergelitik disaat bersamaan. Kyuhyun tersenyum tipis.

 

“Sejujurnya, sejak pertama kali saat kita bertemu di pesawat, kau menjadi seseorang yang secara misterius ingin selalu kulindungi dan selalu kurengkuh. Perasaan ini asing untukku, bahkan ketika kau selalu mendorongku menjauh dan mematahkan hatiku……” Kyuhyun memejamkan matanya. “Sarah, aku tidak percaya jika aku akan mengatakan ini. Aku ingin mencintaimu selamanya, ayo menikah!”

 

Kyuhyun meraih tangan Sarah, menggenggamnya erat sebelum mencium punggung tangannya. Sarah terkejut saat sebuah cincin berlian sudah tersemat di jari manisnya tanpa ia sadari. Kyuhyun tersenyum sambil menunggu reaksi Sarah dengan dada berdebar. Sarah menatap cincin di jarinya dengan mata berkaca, ia tak menyangka jika Kyuhyun akan melamarnya malam ini.

 

“Kyuh….aku.” jari telunjuk Kyuhyun menahan bibir Sarah, ia menarik tangan Sarah yang masih digenggamnya. Bibir Kyuhyun sudah mencium bibir Sarah dengan rakus. Disela ciumannya, ia berdesis. “Apapun yang akan kau katakan, kuanggap kau menjawab ‘YA’.”

 

Ia tak memberi ruang bagi Sarah untuk menjawabnya, Kyuhyun mengeratkan pelukannya, membuat ciumannya makin intens. Sarah tersenyum dan menutup matanya, ia merengkuh punggung Kyuhyun dan membalas ciumannya, membuat Kyuhyun makin bersemangat. Untuk beberapa menit yang terasa manis, Sarah merasakan jika kepalanya seolah akan meledak. Fakta bahwa ia terlalu mabuk dalam keintimannya dengan Kyuhyun, adalah pengalaman pertamanya.

***

 

Kyuhyun melepaskan tautan bibirnya, menempelkan dahi mereka dalam nafas keduanya yang sama-sama menderu, Sarah tak berani membuka matanya karena terlalu malu tanpa alasan. Kyuhyun mengecup kelopak matanya beberapa kali.

 

“Gomawo.” Bisik Kyuhyun sebelum ia mengernyit sambil memegangi punggung kirinya.

 

Perlahan, Sarah membuka matanya melihat wajah Kyuhyun yang sudah pucat. “Kyuhyun-ah gwenchaana?” tanyanya panik, matanya tertuju pada punggung kiri Kyuhyun, ia menepuk jidadnya setelah mengingat jika beberapa rusuk Kyuhyun patah dan belum pulih sempurna.

 

Sarah membantu memapah Kyuhyun menuju ruangannya dan memanggil dokter. Ia menonton dari luar saat perawat menyuntik Kyuhyun yang kini berteriak kesakitan saat rusuknya ditekan. Ia masuk ketika dokter selesai mengomeli Kyuhyun dan keluar. Ia menarik kursi dan mendekati ranjang Kyuhyun.

“Mianhae…..apa masih sakit?” tanya Sarah ragu-ragu, ia menggenggam tangan Kyuhyun yang terasa dingin.

 

“Hahahahahahaha……..” tawa Kyuhyun memenuhi ruangan, “Lucu sekali melihat wajah khawatirmu, Sarah.”

 

“Mwo?”

 

“Hey, untuk pertama kalinya aku menyadari keliaranmu saat berciuman hingga bibirku mati rasa.” Ujar Kyuhyun sambil menyentuh bibirnya.

 

Sarah menutup bibirnya dengan mata terbelalak lucu, ia mencebik. “Yaa!! Frontal sekali..aishhh!”

 

Tangannya digenggam Kyuhyun lagi, dengan mata mengarah pada cincin yang telah disematkan, Kyuhyun mengulum senyumnya. “Mulai sekarang kau tidak bisa melepaskan tanganku, secepat setelah aku keluar dari rumah sakit kita bicarakan tentang pernikahannya. Jangan pikirkan apapun, Sarah Lee kau milikku! Aracchi?”

 

Mata Kyuhyun menelisik manik mata Sarah yang tampak berbinar. “Cepatlah sembuh!!”

Kyuhyun mengangguk mantap, keduanya tersenyum lebar tanpa kata.

***

 

Keesokannya, Sarah sudah kembali masuk kerja dengan pekerjaannya yang menumpuk. Matanya menatap jenuh pada layar komputer di hadapannya. Tiba-tiba Dahyun muncul dan langsung menarik tangan Sarah.

 

“Woaahhhh……yeppuda!! OMG! Apa Kyuhyun melamarmu?” pekiknya sambil memelototi cincin berlian di jari Sarah.

 

“Eoh? Ummm….mmm.” Sarah terlihat salah tingkah dan hanya menggaruk bagian belakang lehernya. Ia menggigit bibir bawahnya saat Sohyun ikut mendekat dan langsung melirik cincinnya. Sarah menarik tangannya.

 

“Daebak! Cincin ini pasti sangat mahal, Cho Kyuhyun jjang!” seru Sohyun.

 

“Sssttt…..kalian kembalilah bekerja!”

 

“Kau tahu? Aku hampir mati penasaran karena kau tiba-tiba menghilang selama seminggu dan saat masuk tampil dengan cincin cantik ini. Bagaimana ceritanya? Apa kalian berlibur ke pulau Maldives dan Kyuhyun melamarmu disana?” tanya Dahyun dengan intonasi cepat.

 

Sarah menggeleng sambil mendengus, namun Sohyun terlihat percaya dengan hipotesis Dahyun akan lamaran romantis Kyuhyun di pulau Maldives. “Hidupmu seperti gadis dalam drama Sarah…..aku jadi iri!” sahut Sohyun.

 

“Mwoya? Kalian bermimpi terlalu jauh! Kejadiannya sama sekali tidak romantis, bahkan bergenre thriller, melibatkan nyawa, darah dan rumah sakit.” Jawab Sarah acuh.

 

Sohyun dan Dahyun sama-sama melotot kearahnya, Sarah hanya memalingkan wajah agak malas menceritakan bagaimana aksi percobaan bunuh dirinya. “Aishh…baiklah, akan kuceritakan saat makan siang. Sekarang kembalillah bekerja, aku berbicara sebagai atasan kalian, ini perintah!”

 

Setelah Dahyun dan Sohyun kembali ke meja masing-masing, diam-diam Sarah mengagumi cincin di jari manisnya sambil tersenyum tipis. Memori tentang lamaran Kyuhyun semalam terputar kembali di otaknya, ia tak bisa menutupi rasa rindu yang tiba-tiba meluap luar biasa. Sarah mencium cincinnya sambil bergumam. “Cho Kyuhyun bogoshippoyo.”

 

Namun tanpa ia sadari, Seo Kang Joon yang sejak tadi mengamatinya telah berdiri didepan mejanya dengan tatapan menghunus ia berkata. “Ke ruanganku sekarang!”

 

Sarah mendongak kaget melihat sosok yang sangat ia hindari di kantor ini malah berdiri di depannya sambil melirik cincin di jarinya. Sarah mengangguk tepat saat Seo Kang Joon berbalik. Ia mendengus malas dan bangkit dari kursinya.

 

Di ruangan direktur, Sarah duduk berhadapan dengan mantan kakak kelasnya saat senior high yang kini muncul kembali sebagai bossnya.

 

“Kau mengambil cuti selama seminggu dengan keterangan sakit tapi kulihat kau….” Seo Kang Joon melirik cincin di jari Sarah sekali lagi. “Kau tampak sehat.” Lanjutnya.

 

“Ne? jjeosonghamnida depyeonim, aku benar-benar sakit beberapa hari yang lalu.”

 

Kang Joon menampilkan ekspresi jengah. “Aku penasaran, apa pacarmu mengetahui tentang orientasi seksualmu yang melenceng? Mungkin dia tidak akan melamarmu.”

 

Dahi Sarah berkerut. “Ye? Aku tidak mengerti apa maksud anda depyeonim, kenapa tiba-tiba membahas masalah pribadi yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan?” ia mulai terpancing emosi, suaranya ditahan mati-matian agar tak meninggi.

 

Satu alis Kang Joon terangkat, ia mencondongkan wajahnya kearah Sarah. “Wae? Kau tak suka aku membahasnya? Atau kau perlu kuingatkan jika mulutku bisa membocorkan rahasiamu kapan saja tentang hubunganmu dengan Lee Jieun.”

 

“Seo Kang Joon-ssi, aku tidak mengerti apa intuisimu yang sebenarnya saat mengancamku dengan masa lalu yang sudah basi. Tapi Jieun tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita!” balas Sarah.

 

“Ohh ya? Tapi kurasa pacarmu akan berpikir ribuan kali jika melihat foto ini.” Kag Joon terlihat mengusap layar ponselnya lalu menunjukkannya pada Sarah. ia melihat potret dirinya dan Jieun berciuman di taman hotel setelah pesta pertunangan Jieun dan Hyukjae.

 

Sarah menarik napas panjang, darahnya terasa mendidih, ia kembali deja vu dengan memorinya 7 tahun lalu. Ia tersenyum sinis. “Tunjukkan saja! Tak masalah, aku bukan gadis remaja yang bisa kau ancam dengan tipuan yang sama persis seperti 7 tahun lalu Seo Kang Joon-ssi. Kupikir kau sudah melupakannya, ternyata kau pendendam dan sangat kekanakan!”

 

Kang Joon terlihat tak senang mendengarnya, ia menggebrak meja sambil membentak Sarah. “Mwo? Tak masalah katamu? Baiklahh bagaimana jika kusebarkan foto ini ke seluruh karyawan? Apa kau masih akan mengatakan baik-baik saja?”

 

“Silahkah lakukan! Aku tak peduli, jika kau melakukannya aku bisa mengundurkan diri saat ini juga. Lagipula aku sudah muak, kau pikir duniaku akan hancur dan menjadi suram jika kau menyebar rumor tentangku? Sudah kubilang, aku bukan gadis berusia 16 tahun!” balas Sarah tak mau kalah.

 

“Mwo? Kau berencana mengundurkan diri?” pekik Kang Joon kehilangan kesabaran.

 

“Ne! aku siap mengundurkan diri kapan saja.” Jawab Sarah mantap dengan mata melotot tajam. Tanpa diduga, Kang Joon malah mencengkeram kedua pundaknya, Sarah berontak.

 

“Neo!! Kau tidak bisa pergi begitu saja Sarah Lee! Kau pikir dengan menolakku lalu masalah selesai? Kau benci melihat matamu yang tampak sama seperti hari itu, aku selalu bermimpi buruk setelah hari itu, aku tak pernah bisa melupakan hari itu, semuanya karenamu!!”

 

Sarah mulai ketakutan, ketika Kang Joon masih mencengkeram kedua pundaknya dan menggoncangkkan tubuhnya, ia hanya bisa terpejam masih berusaha melepaskan diri. Dalam hatinya bergumam. ‘Seseorang tolong aku!’

 

“Aku tidak akan membiarkanmu bebas dan hidup bahagia setelah menciptakan mimpi buruk untukku! Aku tidak akan membiarkanmu Sarah Lee!”

 

“Geumanhae!” Sarah memukulkan dahinya ke dahi Kang Joon dengan kekuatan penuh. Kepalanya terasa nyeri dan terus berputar namun berhasil, Kang Joon melepaskan cengkeramannya. Sarah langsung berdiri dan meninggalkan Kang Joon yang terjatuh di lantai sambil merintih kesakitan.

 

Sarah memegangi kepalanya, tenggorokannya terasa kering hingga ia kesulitan menelan ludahnya sendiri. Ia berjalan sempoyongan kearah toilet. Napasnya tak teratur, ia membasuh wajahnya berulang kali namun kata-kata Kang Joon terus berdengung di telinganya bagaikan kutukan. Sarah menatap cermin dengan mata yang tak fokus, air matanya mengalir dan ia hanya bisa terus membasuh wajahnya berulang kali hingga kerah bajunya ikut basah.

 

“Dia pikir hanya dia yang menderita, aku juga mengalami mimpi buruk semua karenamu sunbae!” isaknya pelan.

***

 

Rencananya malam ini ingin mengunjungi Kyuhyun di rumah sakit tapi urung karena Sarah merasa lebih membutuhkan waktu sendiri. Ia membungkus dirinya kedalam selimut setelah makan malam. Ia memikirkan banyak hal, mencoba memejamkan mata namun sulit. Sarah ke dapur dan melihat koran yang Andrew tinggalkan kemarin, tiba-tiba ia teringat pada Kyungsoo yang terus menghubunginya sejak semalam namun acuhkan. Sarah mencari ponselnya, melihat puluhan panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Kyungsoo.

 

“Wow! Ada apa anak ini? Apa ia sengaja menerorku?” gumamnya sambil melakukan men-dial panggilan ke nomor Kyungsoo.

 

Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi ‘BIP’

 

“Nomornya tak aktif? Heol….apa dia sengaja membalas dendam? Tidak peduli, lebih baik aku tidur…..” Sarah kembali masuk kedalam selimutnya dan mencoba memejamkan matanya dan tertidur.

***

 

Keesokannya, Sarah masuk kerja dengan perasaan masih kesal setelah pertikaiannya dengan Kang Joon, tapi ia bukan tipe orang yang meninggalkan tanggung jawab begitu saja. Baru saja Sarah tiba di mejanya, Sera menarik lengannya dan mengajaknya ke rest room.

 

“Mwondae? Kenapa menyeretku kesini? Kita bisa bicara di mejaku Sera.” Sarah menelisik ekspresi Sera yang tampak kesal.

 

“Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Seo Depyeonim sebelumnya, tapi semalam ia memutuskan pertunangan kami.”

 

“Ye? Ap-apa maksudnya? Aku tak mengerti yang kau bicarakan Sera. Tolong ceritakan pelan-pelan! Jebal!” Sahut Sarah masih berusaha mencerna apa yang Sera katakan.

 

 

“Publisher ini dibangun oleh keluargaku, tapi setelah kematian pamanku, Dongwoo grup mengakuisisi perusahaan ini. Kami ingin merebutnya setelah aku menikah dengan Seo Depyeonim dan mendapatkan bagian sahamku. Semalam ia memutuskan pertunangan kami tanpa sebab, aku menduga ini ada hubungannya denganmu karena aku melihat kau masuk ke ruangan Depyeonim dan bertengkar.”

 

Sarah berdiri kaku, otaknya seolah berhenti memproses.  “Oke, jadi menurutmu Seo Depyeonim memutuskan pertunangan kalian karena aku? Tapi kenapa? Jujur aku tidak mengerti apa hubungannya Sera.”

 

“Bukankah kalian sudah saling mengenal sebelumnya?” tanya Sera.

 

“Yeahh….seperti yang pernah kukatakan, dia sunbae yang kukenal saat Senior High. Tapi kami tidak memiliki hubungan spesial apapun Sera. Aku bahkan menyukai orang lain jadi sangat konyol jika aku penyebab kekacauan pertunangan kalian!” bantah Sarah agak gelagapan, ia menjadi takut tak beralasan.

 

Sera berjongkok sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia terisak pelan. “Samchoon meninggal sangat tiba-tiba, setelah orangtuaku meninggal dia mengurus publisher kami hingga sebesar ini, ia juga membesarkanku seperti anaknya sendiri.” Tutur Sera masih sesenggukan.

 

Sarah ikut berjongkok, ia menjadi bingung dan menepuk pelan pundak Sera. “Mianhae, aku tidak bisa banyak membantumu Sera.”

 

“Dongwoo grup sedang goyah karena terseret kasus dengan mantan CEO Hong corp. Jika aku tidak berhasil mengambil alih publisher ini juga akan hancur jika semua itu benar. Sarah, aku tak bisa menerima semua ini……”

 

“Sera, aku janji akan membantumu mungkin mencoba berbicara dengan Seo Depyeo. Jadi tenanglah! Uljimayeo!” Sarah membantu Sera berdiri dan memberinya tissue.

 

“Gomawo Sarah, selama ini aku tak pernah memiliki teman, samchoon tak mempunyai anak dan istri serta sibuk bekerja. Mendengarmu berjanji akan membantuku membuatku senang.” Sera tersenyum tipis, tangannya sibuk mengusap air mata dipipinya. Sarah tercenung sejenak mendengar penuturan Sera, ia  juga tak mengerti kenapa rasa bersalah ini muncul tiba-tiba.

***

 

Sarah masuk ke ruangan Seo Kang Joon, ia berdiri didepan meja kerja direkturnya. Kang Joon agak terkejut melihat kunjungan Sarah.

 

“Well, ada urusan apa kemari?” tanya Kang Joon dengan tangan sibuk menandatangani beberapa berkas, ia terlihat acuh.

 

“Aku ingin bertanya padamu Depyeonim!” jawab Sarah singkat, ia berhasil membuat Kang Joon mendongak kearahnya dan memberi isyarat untuk melanjutkan.

 

“Kenapa kau memutuskan pertunanganmu dengan Sera?”

 

“Mwo? Kau kemari saat jam kerja hanya untuk bertanya masalah pribadi? Aku berhak tak menjawabnya.” Sahut Kang Joon dengan nada sinis.

 

“Masalahnya dia mencurigaiku sebagai penyebabnya. Aku hanya tidak suka memiliki beban rasa bersalah jadi aku berniat mengklarifikasi langsung padamu Depyeonim!”

 

“Kau bisa acuhkan saja anak itu!” bentak Kang Joon sambil berdiri tiba-tiba, tanpa sadar Sarah mundur 1 langkah ke belakang. Kang Joon terduduk lagi sambil mendengus.

 

“Aku bisa saja melanjutkan pertunanganku dan Sera dengan satu syarat…..” Kang Joon menampilkan smirknya, membuat Sarah mengernyit.

 

“Mwondae?”

 

“Tidurlah denganku! Cukup sekali saja!”

 

Sarah melotot tak percaya mendengarnya. “Ye? Aku tidak salah dengar?”

 

“Anii….ini semua memang karenamu, sejak 7 tahun lalu hingga saat ini aku selalu mendambakan tidur bersamamu.” Jawab Kang Joon santai.

 

“Aku menyesal datang kemari! Permisi.” Sarah mengepalkan tangannya terlalu erat dan langsung berbalik pergi. Ia berjalan ke mejanya dan mengambil tasnya lalu meninggalkan kantor. Sera yang memperhatikan Sarah dari ruangannya, ingin memanggilnya namun urung.

***

 

“Dia memang sosiopath gila! Bagaimana bisa ia selalu mengacaukan hidupku? Kupikir otaknya berkembang dan menjadi lebih dewasa ternyata sama saja isinya sampah!” gerutu Sarah sepanjang jalan menuju ruangan Kyuhyun dirawat, ia sudah sampai didepan pintu dan masuk tanpa mengetuk terlebih dulu.

 

“Omona! Sarah-ah….kau tidak kerja?” eomma Kyuhyun menghampirinya dan memeluknya, sedangkan Sarah melirik Kyuhyun yang tersenyum.

 

“Eomonim apa kabar?” tanya Sarah basa basi. Eomma Kyuhyun masih cerewet seperti biasa dan menanyakan banyak hal.

 

“Kudengar Kyuhyun melamarmu? Eomma sangat senang mendengarnya, kita harus makan malam setelah Kyuhyun keluar dari rumah sakit!”

 

Sarah tersenyum malu sambil mengangguk, ia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Kyuhyun memeluknya.

 

“Yaa….kenapa kau tidak bilang jika kau sedang hamil? Apa semacam kejutan eoh?” Sarah melirik eomma Kyuhyun setelah mendengar pertanyaan ini. Eomma Kyuhyun hanya mengendikkan bahunya.

 

“Aku ayahnya, seharusnya aku yang tahu pertama kali dari mulutmu Sarah! kenapa malah aku menjadi yang terakhir tahu itupun dari eomma. Aku jadi marah memikirkan bagaimana bisa kau meminum alkohol dan menjatuhkan dirimu, aishh…aku jadi kesal saat mengingatnya.”

 

Eomma Kyuhyun menyela. “Oke anak-anak, kalian lanjutkan bertengkarnya! Eomma harus pulang agar tak mengganggu.” Eomma Kyuhyun mencium kedua pipi Kyuhyun dan memeluk Sarah sekali lagi. Sarah ingin mencegahnya namun eomma Kyuhyun sudah lebih dulu berjalan menuju pintu.

 

Kyuhyun masih menggerutu tak jelas. “Mianhae, sejujurnya aku baru tahu tentang kehamilanku saat di rumah sakit Kyuhyun-ah. Aku juga menyesal karena nyaris membunuh bayiku.”

 

“Lalu kenapa tak memberitahuku kemarin lusa? Kita kan mengobrol semalaman.”

 

Sarah memutar bola matanya. “Sejujurnya aku lupa. Mian….”

 

“Jinja? Kau lupa jika sedang hamil?” suara Kyuhyun meninggi. Sarah mengangguk dengan mata tak bersalah. Kyuhyun menariknya agar lebih dekat, ia mengganggam tangan Sarah dan menatap lurus matanya.

 

“Mulai sekarang, kau tinggal bersamaku saja! Aku akan menjagamu dan calon bayi kita. Percayalah padaku!”

Sarah mengangguk, tak membantah. Tangannya sibuk mengupas jeruk yang berada diatas meja. Mungkin karena kehamilannya ia menjadi berbinar tiap melihat buah-buahan. Sarah menyuapkan jeruk yang sudah dikupas kedalam mulutnya.

 

Kyuhyun melanjutkan. “Eomma sudah menyetujui pernikahan kita dalam waktu dekat, setelah aku keluar dari rumah sakit dan pulih.”

 

Sarah mengangguk lagi, Kyuhyun jadi menyipit curiga. “Kenapa aneh sekali? Kau tak biasanya begitu menurut.”

 

“Bukankah tau tak suka mendengar penolakan?” sahut Sarah sambil mencebik.

 

“Benar juga….kau tahu? Sebenarnya aku memang mau melamarmu malam itu, tapi kau mengacaukannya dan malah mengatakan omong kosong. Apa yang terjadi waktu itu?”

 

Sarah buru-buru menunduk, ia merasa bodoh jika mengingat malam itu. Setelah menimbang-nimbang, dia juga penasaran kenapa. “Umm….malam itu di Pub aku tak sengaja melihatmu berciuman dengan seseorang.”

 

Mata Kyuhyun terbelalak. “Mwo? Kapan? Eodiga?” suaranya meninggi namun tiba-tiba ia teringat tentang Hyuna. “Changkaman! Maksudmu Hyuna? Hei….dia yang menciumku paksa, aku bahkan tak merasakan apapun.” Bantah Kyuhyun.

 

Sarah mengangguk setuju. “Ne, aku juga melihatnya, yeoja itu yang agresif tapi bukan itu yang membuatku sakit hati.” Ia menarik napas panjang. “Agak memalukan mengakuinya, tapi aku mengikuti yeoja itu ke toilet dan menguping pembicaraannya.”

 

 

“Jadi malam itu kau juga berada di pub itu? Kenapa tidak menghampiriku? Aku akan mengenalkanmu sebagai yeojaku pada……”

 

Sarah menyela. “Maksudmu pasangan seks barumu?”

 

Mendengarnya membuat Kyuhyun bungkam, tatapannya berubah sendu. Sarah menatap tajam, kekesalannya berlipat saat melihat reaksi Kyuhyun.

 

“Kau mengatakan bahwa sudah menemukan pasangan seks barumu, itu aku kan? Aku tidak tahu bagaiman tepatnya perasaanku waktu itu yang jelas aku sangat terluka mendengarnya. Kupikir kau benar-benar menyukaiku, saat aku hampir menyerahkan hatiku ternyata kau hanya menganggapku sebagai……ahhh begitulah!” jelas Sarah tanpa mau menatap Kyuhyun, ia hanya menunduk melihat lantai rumah sakit yang berwarna putih.

 

Kyuhyun langsung menarik tangan Sarah dan meletakkan kepala Sarah di dadanya. “Kau bisa mendengarnya? Suara jantungku? Aku tidak bermaksud merendahkanmu saat mengatakannya pada Hyuna, aku hanya terpancing emosi saat dia memaksa tidur denganku. Aku tidak berbohong Sarah, aku selalu gugup saat melihatmu. Seperti orang bodoh semua karenamu, mana mungkin aku tidak menyukaimu.”

 

Rambut Sarah diusap pelan oleh Kyuhyun. Sarah hanya diam, ia sebenarnya tidak mau mengungkit masalah ini tapi mendengar penjelasan Kyuhyun membuatnya lebih baik.

 

“Jeongmal?” tanyanya dengan suara parau, Sarah bisa merasakan dagu Kyuhyun diatas kepalanya.

 

“Saranghaeyo….” ucap Kyuhyun tanpa aba-aba. “Ini pertama kalinya aku mengatakannya pada seorang yeoja, kau harus merasa tersanjung mendengarnya!” tambahnya, Kyuhyun menciium puncak kepala Sarah berulang kali.

 

Sarah mengulum senyum, merasa pipinya memanas seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. “Gomawo….” balasnya. Sarah mendongak dan mengecup pipi Kyuhyun. “Sudah hadir di hidupku…gomawo Cho Kyuhyun!”

 

“Mulai sekarang, jangan pernah sembunyikan apapun lagi dan main terjun seenaknya, aku tahu kau hanya cemburu dan takut kehilanganku jadi jangan marah lagi! Aracchi?!”

 

Sarah tersenyum dan mengangguk. Kyuhyun melirik bibir Sarah sekilas. “Boleh kucium?” tanya Kyuhyun ragu-ragu.

 

Tanpa pikir panjang, Sarah memejamkan mata sambil memonyongkan bibirnya. Kyuhyun mengecupnya sambil menggoda. “Bukan bibirmu, tapi perutmu Sarah, bolehkah kusapa anak kita? Itu maksudnya……hahahahah”

 

Sarah mencebik dan menggelitiki perut Kyuhyun sebagai gantinya. Kyuhyun tertawa kegelian lalu menahan kedua tangan Sarah dan memeluknya, mencium bibirnya berulang kali.

 

“Bogoshippeoyo…..aku ingin segera pulang dan menikah denganmu.” Rengek Kyuhyun sambil menundukkan kepalanya kearah peruh Sarah, satu tangannya mengusap perut Sarah.

 

“Anyyeong baby Cho….aku appamu, banggapta! Sehat terus dan cepatlah lahir agar kita bisa bermain bersama…..”

 

Sarah tertawa mendengarnya, ia ikut menyapa calon bayinya dan Kyuhyun kembali menciumi perut Sarah.

***

 

Meski Kyuhyun memaksanya untuk menginap di Rumah Sakit, Sarah merasa tak nyaman jika tidak tidur dikamarnya dan memilih pulang ke apartemennya. Ia berjalan pelan keluar rumah sakit dan berhenti di pinggir jalan menunggu taksi. Ponselnya bergetar karena panggilan masuk dari Kyungsoo. Sarah tidak langsung menjawabnya, ia berpikir agak lama saat melihat layar ponselnya.

 

“Yeoboseyo?” sapanya. Ia tak mendengar sahutan dari Kyungsoo, Sarah hanya mendengar suara mesin mobil dan tiba-tiba mendekat dari arah kiri, sebuah mobil melaju kearahnya. Lampunya sangat silau ketika mobil itu berhenti tiba-tiba disampingnya. Sarah melongokkan kepalanya mencari tahu siapa yang mengendarai mobil.

 

Ia melihat tangan seseorang melambai keluar dari dalam moobil yang berhenti. “Yakk!! Sarah cepat masuk! Palli! Palli!” teriak si pengendara.

 

Sarah heran karena si pengendara mengetahui namanya dan terus berteriak padanya. Ia mendekat dan melihat dengan jelas wajah si pengendara yang baru ia sadari jika itu Kyungsoo.

 

“Kyungsoo-ssi? itu kau? Ada apa dengan rambutmu?” tanya Sarah pelan, Kyungsoo tampak gelisah dan membukakan pintu.

 

“Cepat masuk!!” desaknya, Kyungsoo tampak sangat gelisah dengan mata yang diedarkan ke sekeliling. Sarah langsung masuk dan Kyungsoo menekan gas.

 

“Bisa katakan kita akan kemana?”

 

“Ke apartemenmu! Masukkan alamatnya ke gps, palli!” balas Kyungsoo.

 

“Kau tidak mungkin menelponku dan tiba-tiba muncul hanya untuk mengantarkanku pulang, bukan?”

 

Kyungsoo menoleh sekilas, wajahnya tak dapat dibaca. “Tentu saja tidak, aku butuh bantuanmu Sarah, jadi sekarang cepat masukkan alamatnya!”

 

Sarah memasukkan alamatnya meski setengah hati. “Kau mewarnai rambutmu? Aku sampai tak mengenalimu Kyungsoo-ssi.”

 

“Jinja? Baguslah….aku memang sengaja melakukannya.” Jawab Kyungsoo sambil tertawa pelan. Ia menghentikan mobilnya ketika lampu merah dan menoleh. “Aku sudah menerbitkan artikel itu, aku melakukan sesuai permintaanmu, aku sudahmengirimkannya pada relasiku di beberapa koran dan majalah bahkan aku menaruhnya di internet.” Kyungsoo menekan gasnya saat lampu telah berubah hijau.

 

“Ne, gomawoyo karena kau sudah melakukannya. Aku akan mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu tapi nomormu tidak aktif.”

 

“Kau yang sulit dihubungi…..” cerca Kyungsoo.

 

“Aku dirawat di rumah sakit beberapa hari dan saat kau menghubungiku aku sedang sibuk. Jadi kau menemuiku untuk menagih uangmu? Chuaa….kirimkan nomor rekeningmu, akan ku transfer sekarang.”

 

“Andwe! Jangan kirimkan ke rekeningku, aku sedang dikejar seseorang.”

 

Sarah mengerutkan keningnya. “Ye?’

 

“Karena artikelmu, kantorku diobrak-abrik, mereka ingin menangkapku dan sekarang aku sedang dalam pelarian. Jika kau mengirimkan uangnya ke rekeningku maka bisa bahaya untukmu juga.” Kyungsoo tampak mendongak keatas saat sudah sampai didepan apartemen Sarah. “Benar ini gedungnya?” tanyanya.

 

“Ne….masuk saja ke basement sebelah sana!” Sarah menunjuk jalur masuk di seberang. “Jadi kau akan meminta uangnya dalam bentuk cash?” tanya Sarah lagi.

 

Kyungsoo melepaskan seatbeltnya setelah memarkirkan mobil, ia mengangguk. “Aku akan pergi ke luar negeri lewat pelabuhan sebelum mereka menemukanku, jadi aku butuh bantuanmu. Bisa berikan uangnya malam ini?”

 

Sarah berpikir sejenak, ia menggaruk dahinya pelan. “Umm….agak mendadak sebenarnya, tapi aku tidak punya uang cash. Bisakah kau menunggu sampai besok?”

 

Kyungsoo menggeleng…”Aku harus berangkat besok pagi pukul 4, sangat berbahaya jika terlalu lama karena mereka bisa melacakku. Kau tahu kan kita berhadapan dengan siapa? Seo Kongressmen  dari Dongwoo grup dan mantan CEO Hong corp! Mereka tidak akan segan membunuhku jika berhasil tertangkap.”

 

Sarah bergidik ngeri, ia tak pernah membayangkan kemungkinan terburuknya. Ia langsung keluar dari mobil dan menelpon Andrew. Kyungsoo keluar dengan memasang topi baseball hitam di kepalanya. “Sangat dingin di luar, kau tidak akan mengajakku masuk?”

 

Setelah memasukkan ponselnya kedalam tas, Sarah menoleh dan berpikir agak lama. Ia pun mengajak Kyungsoo naik ke lantai atas. Di dalam lift, mereka hanya saling diam, Sarah tak berniat mengajaknya ke apartemennya tapi ke apartemen Nari yang berjarak satu lantai diatasnya. Ia menekan bel membuat Kyungsoo bertanya.

 

“Bukankah ini apartemenmu? Kenapa memencet bel? Kau kan bisa langsung masuk saja….”

 

“Bukan, ini bukan milikku. Tapi apartemen asistenku, tunggu saja dia akan membukakan……..” pintu terbuka, meski sempat bingung saat melihat Sarah di layar intercomnya.

 

“Eonni? Wae geurae?” tanya Nari setelah membuka pintu, ia menoleh kearah Kyungsoo. “Nuguseyo?”

 

Sarah mendorong Nari untuk masuk, ia menyuruh Kyungsoo untuk duduk dan menarik Nari ke dapur. “Dia temanku, kami menunggu oppa datang jadi aku membawanya kesini.” Sarah melirik Kyungsoo sambil berbisik. “Aku tidak terlalu mengenalnya jadi kurang mempercayainya. Bagaimana jika dia seorang psikopat dan membunuhku jika kubawa ke apartemenku?”

 

Nari jadi ikut meringis ngeri, ia memeluk pundaknya sendiri “Lalu kenapa membawanya ke rumahku eonni?”

 

“Yaaa….disini kan ada kau, jadi ia tidak akan macam-macam. Jika ia menyerang salah satu dari kita maka yang lainnya bisa menolong. Kau paham kan?”

 

Tanpa mereka sadari, Kyungsoo dudah berdiri dibelakang Sarah. “Kalian bergosip tentangku?”

 

Nari dan Sarah terlonjak bersama. “Aishhh…..kau mengagetkan saja Kyungsoo-ssi! kenapa kemari?” tanya Sarah yang berposisi saling berpelukan dengan Nari.

 

“Suara kalian terdengar jelas sampai tempat dudukku, cih, siapa juga yang akan membunuhmu Sarah? kau terlalu banyak menonton drama. Beri aku air!” pinta Kyungsoo sambil berjalan kembali ke tempatnya semula.

 

Sarah menatap Nari dan tiba-tibaterbahak-bahak bersama. Tak sampai 10 menit, ketiganya sudah asyik mengobrol ini itu. Sarah bahkan baru menyadari jika Kyungsoo orang yang cukup humoris meski tatapan matanya agak aneh menurutnya. Tapi mereka menjadi lebih akrab padahal saat kuliah, jangankan mengobrol bahkan menyapa saja tidak pernah. Sarah hanya pernah sekali saja sekelompok bersama Kyungsoo untuk salah satu tugas mata kuliah.

 

“Woahh……jadi kau pernah menjadi paparazi artis A dan dilaporkan ke polisi?” tanya Sarah setelah meneguk cola miliknya.

 

“Tidak hanya itu, aku bahkan pernah diduga namja mesum dan masuk penjara.” Jawab Kyungsoo bersemangat. Nari mendengar bunyi bel dan bergegas membukakakn pintu.

 

Andrew masuk dengan menjinjing tas berukuran sedang, ia langsung duduk disamping Sarah. “Eoh..oppa wasseo?” sapanya.

 

“Apa kalian berpacaran?” tanya Kyungsoo secara gamblang.

 

Sarah melambaikan tangannya. “Aniya….dia kakakku, uri-oppa.” Sarah pun menjelaskan apa yang dialami Kyungsoo pada Andrew. Lalu Andrew menyuruh Sarah dan Nari pergi ke kamar dan meninggalkan Andrew berbicaraempat mata dengan Kyungsoo. Sarah tak tahu persis apa yang mereka bicarakan, yang jelas Sarah tak sampai 1 jam kemudian Andrew mengajaknya pulang.

 

“Apa sudah selesai oppa?” tanya Sarah sesampainya mereka di apartemennya.

 

“Eoh, mulai sekarang semuanya akan baik-baik saja. Kudengar dari Yura bahwa Kyuhyun melamarmu?”

 

“Ne oppa, eomonim bilang akan mengajakku makan malam setelah Kyuhyun keluar RS. Jadi apa yang sebenarnya kau rencanakan oppa? Kenapa sepertinya ini masalah yang serius?”

 

Andrew menatap lurus kearah Sarah yang sangat penasaran. “Chuaa….menikahlah dengan Kyuhyun dan hidup berbahagia. Kau tidak perlu memikirkan apapun, biar oppa yang mengurusnya, arasso?” tangan Andrew menepuk pelan puncak kepala Sarah.

 

“Tapi oppa……” Sarah hendak membantah tapi urung setelah melihat wajah Andrew yang tampak pucat dan kelelahan. “Apa oppa akan tidur disini atau pulang kerumah eomonim?” ia memilih mengganti topik pembicaraan.

 

“Aku akan pulang setelah kau tidur….” Sarah mengangguk paham. Andrew terlihat mengendurkan dasinya dan menyandarkan punggungnya di sofa. Sarah pura-pura bodoh dan langsung masuk ke kamarnya.

***

 

Sarah menjemput Kyuhyun yang hari ini baru diperbolehkan keluar dari Rumah Sakit. Kyuhyun terlihat sudah sehat dan bisa berjalan dengan baik meski harus ekstra hati-hati dengan lukanya. Sarah memeluk lengannya, Kyuhyun tersenyum sambil mengusap perut rata Sarah, menyapa bayinya. Supirnya sudah membawakan barang mereka.

 

Di koridor depan, Sarah berpapasan dengan Jieun, keduanya sama-sama mematung karena terlalu terkejut. Kyuhyun tampak tidak suka melihat Jieun lagi.

 

“Eonni? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jieun sambil melirik Kyuhyun sebal. “Apa kau terluka?” tambahnya, ia berjalan mendekat.

 

“Bukan aku, tapi Kyuhyun. Dia dirawat beberapa hari disini, kau sendiri apa kabar Ji?”

 

Jieun menatap sendu kearah Sarah. “Eomma collaps eonni, aku tidak tahu persisnya.”

 

Sarah melepaskan tangan Kyuhyun dan beralih memeluk Jieun, Kyuhyun tampak tak terima tapi hanya bisa mengomel tanpa suara. “Gwenchana Ji, kuharap ahjumma segera sembuh. Aku akan menjenguk besok.”

 

“Gomawo eonni…..kuharap kau akan berada disisiku selamanya.” Kata Jieun tanpa mau melepaskan pelukan Sarah.

 

Kyuhyun menyela. “Aishhh apa-apaan ini, apa kalian sedang syuting melodrama? Aku sampai mau menangis rasanya. Sudah lepaskan!” Kyuhyun menarik tangan Sarah agar melepaskan pelukan Jieun.

 

“Lee Jieun-ssi, aku turut bersedih tentang eommamu. Tapi aku dan Sarah harus pergi. kau yang tabah ya…!!”

 

Kyuhyun menarik Sarah dan meneruskan jalannya. Sarah menoleh ke belakang sambil memberi isyarat jika akan menelpon Jieun nanti. Ia membuka pintu mobil namun ditutup paksa oleh Kyuhyun yang kini mendorongnya pelan ke badan mobil.

 

“Apa-apaan tadi?” tanyanya dengan nada tak sabaran.

 

“Mwoya?” Sarah balik bertanya, wajahnya sama sekali tak mengerti.

 

“Jieun kan mantan kekasihmu, kenapa kau berani sekali di depanku? Kau akan menelponnya?cih.” omel Kyuhyun dengan wajah dibuat-buat.

 

“Kau cemburu?” tanya Sarah cepat, ia bahkan ingin tertawa jika melihat ekspresi Kyuhyun saat ini yang mirip anak kecil.

 

Kyuhyun menatap Sarah agak lama sebelum menjawab. “Kau sudah tahu jawabanku.”

 

“Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Jieun, kau terlalu posesif Cho Kyuhyun! lagi pula kami sudah lama putus. Aku bersikap ramah padanya karena ia sedang kesulitan, bagaimanapun dia sudah seperti adikku.”

 

 

“Aku hanya tidak suka saat mengingat kalian pernah berciuman.” Suara Kyuhyun terdengar melemah, Sarah langsung mengecup bibir Kyuhyun.

 

“Jadi apa kita akan terus berdiri disini sampai malam? Orang-orang akan menganggap kita aneh.” Sahut Sarah sambil mengedarkan matanya ke sekitar mereka. Supir mereka bahkan sudah menunggu lama.

 

Satu tangan Kyuhyun menggapai ganggang pintu dan membukanya. “Oke aku mengalah, masuklah calon istriku!”

 

Sarah langsung masuk ke kursi penumpang, Kyuhyun mengikuti setelahnya dan duduk disamping Sarah. Kyuhyun menyebutkan untuk ke mansion eommanya pada supir. Mereka memang berencana makan malam keluarga malam ini.

 

-TBC-

65 thoughts on “Unconditional Love Part 13

  1. makin seru ceritanya apalagi Siwon memberi restu Sarah untuk menikah dengan Kyu. apa mereka akan bahagia apalagi Sarah bakal punya baby

    Suka

  2. Udah dapet restu ???

    Tapi masih penasaran sama kasus yang Andrew suruh k sarah. Itu sebenernya apa sih ? Atau kenapa ???
    Penasaran sama masalah itu :/

    Cepet nikah deh merekaaa ^^

    Suka

  3. akhirnya dapat restu. tapi tetep aja ada keganjilan dari sikap andrew. masih banyak misterinya. aku akan selalu nunggu.

    semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattttttttt

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s