A Song For You Part 1


 

Author        : DraKyu

Tittle            : A Song For You Part 1

Category       : NC 17, Yadong, Romance, Family, School Life, Chapter

Cast             :

  1. Cho Kyuhyun (Super Junior)
  2. Park Channie (OC)
  3. Park Chanyeol (EXO)

Other Cast        :

  1. Park Chanbie
  2. Super Junior Members
  3. EXO-K Members

Author’s Note : Holla! Tahun baru, fanfiction baru, author lama/? Wkwk. Masih ingat dengan Lie to Me dan Love Story kah? Engga ya? Yasudahlah :” hehe aku comeback dengan membawa ff baru hasil pengalaman pribadi campur imajinasiku hehe. Semoga kalian suka ya chingudeul :* Don’t forget to comment and like J

Happy Reading………………………………..

 

 

Suara music klasik mengalun ke setiap pendengaran insan yang ada di ruangan itu. Dinding berwarna nude itu dihiasi dengan berbagai tempelan hiasan dari keramik. Kotak-kotak kaca berisikan vas dan guci tersebar di penjuru ruangan. Tak hanya seni rupa keramik, beberapa lukisan pun ikut dipajang dalam ruangan megah itu. Orang-orang berjiwa seni berlalu lalang memandangi karya-karya indah hasl tangan dingin sang pengrajin.

 

Seorang wanita tampak berdiri dihadapan sebuah guci bercorak cherry blossom. Ia tersenyum tipis memandangi guci indah tersebut.

 

“Eomma!!” wanita itu menoleh. Ia tersenyum begitu melihat seorang anak perempuam berlari menghampirinya. Wanita itupun berjongkok dan memeluk anak perempuan tersebut.

 

“Aigoo, kau sudah lama menunggu ya?” tanya wanita itu.

 

“Ne, aku sudah menunggu dari tadi. Kenapa kau baru datang? Tadi oppa memberikan pidato didepan semua orang. Dan semua orang bertepuk tangan untuknya,” jelas anak perempuan tersebut.

 

“Mianhae, aku baru menyelesaikan pekerjaanku. Apakah tadi oppamu memberikan pidato pembukaannya? Apakah dia gugup saat bicara? Aish, pasti dia memalukan!” keluh wanita itu.

 

“Jaga bicaramu itu, sayang!” interupsi seorang pria muda yang tampan. Wanita itu berdiri dan menjitak kepala pria tampan itu.

 

“Tutup mulutmu, Park Chanyeol! Apa kau pikir dengan menggelar pameran seni seperti ini dirimu sudah begitu hebat eoh?” sindir wanita itu.

 

“Aku memang hebat Eonnie. Benar kan, Chanbie?” tanya Chanyeol pada anak perempuan itu, yang namanya adalah Chanbie. Chanbie hanya mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolnya.

 

“Oppa yang terbaik!” puji Chanbie. Chanyeol tersenyum puas, sedangkan wanita itu hanya memutar bola matanya dengan malas.

 

“Park Channie,” sapa seorang pria paruh baya. Pria itu terlihat datang bersama istrinya. Wanita itu, Channie tersenyum padanya.

 

“Song Ahjussi! Apa kabar? Ahjumma, apa kabar?” sapa Channie ramah.

 

 

“Kami baik-baik saja nak. Kami menunggumu dari tadi.  Kami menanyakan dirimu pada Chanyeol dan Chanbie,” ucap Song Ahjumma. Channie tersenyum mendengarnya.

 

“Aku baru menyelesaikan pekerjaanku. Jadi aku datang terlambat Ahjumma,” jelas Channie.

 

“Kau pasti sangat sibuk, karena kau adalah seorang CEO yang sukses. Begitu pula Chanyeol, dia adalah seniman yang berbakat. Dan aku yakin Chanbie pun akanmenjadi orang yang hebat seperti kakak-kakaknya. Orang tua kalian pasti merasa bangga pada kalian. Aku yakin mereka merasa senang disana,” ucap Song Ahjussi.  Ketiga kakak beradik itu hanya tersenyum.

 

“Kami harap, mereka bangga pada kami,” tutur Chanyeol. Song Ahjussi tersenyum sambil mengangguk.

 

“Kalau begitu kami pergi dulu ya. Kami ingin melihat-lihat karya Chanyeol yang lain. Chanyeol, berikan aku potongan harga untuk keramik hijau yang satu itu!” tunjuk Song Ahjumma pada guci yang ada di sudut ruangan. Chanyeol tertawa

 

“Silahkan Ahjumma, dan untuk harga aku bisa mengaturnya untukmu,” jawab Chanyeol. Sepasang suami istri itu pun berjalan kembali menikmati pameran yang diselenggarakan oleh Park Chanyeol.

 

“Chanbie, apa kau sudah makan?” tanya Channie. Chanbie mengangguk.

 

“Aku dan Jiyeon sudah mengajaknya makan tadi,” sahut Chanyeol.

 

“Ah,ya. Dimana Jiyeon?” tanya Channie.

 

“Aku disini Eonnie,” suara wanita membuat Chanyeol membalikkan badannya. Ia tersenyum pada wanita itu. Channie melambaikan tangannya pada Jiyeon.

 

“Kau dari mana?” tanya Channie.

 

“Aku habis menemani orang tuaku berkeliling eonnie,” jawab Jiyeon.

 

“Orang tuamu disini? Park Chanyeol, hidupmu akan tamat jika orang tua Jiyeon mencaci maki guci-gucimu!” peringat Channie. Jiyeon tertawa mendengarnya.

 

“Tidak Eonnie, mereka menyukai karya-karya Oppa,” sergah Jiyeon.

 

See? Aku memang beruntung,” ucap Chanyeol sembari merangkul pinggang Jiyeon. Channie mendengus melihat tingkah adiknya.

 

Niat Channie untuk membalas perkataan adiknya terhenti saat backsound berganti menjadi instrument yang bernuansa klasik. Bukan Beethoven ataupun Mozart yang menjadi komposernya, melainkan seseorang yang pernah singgah di hati Channie. Dan sampai sekarang, hanya nama pria itulah yang mengisi hati Channie.

 

“Kenapa kau malah memutar lagu ini?” tanya Channie dingin. Pura-pura tak ada yang terjadi, berpura-pura jika dirinya tidak terpengaruh ketika mendengar lagu ini.

 

“Eeeng… Molla..lagu ini memiliki melodi yang indah. Lagipula aku turut andil dalam pembuatan lagunya,” jawab Chanyeol yang langsung mendapat sikutan halus dari Jiyeon.

 

“Eonnie, gwaenchanayo?” tanya Jiyeon yang mengerti perasaan Channie. Channie hanya tersenyum tipis.

 

Aku merindukannya… Aku sangat merindukannya,” jawab Channie dalam hati.

 

“Gwaenchanayo, Jiyeon-ah,” jawab Channie menenangkan. “Aku ingin pergi berkeliling untuk melihat hasil karya dari manusia ini,” ucap Channie sambil menunjuk Chanyeol. Chanbie, Jiyeon dan Chanyeol mengangguk dan membiarkan Channie pergi berkeliling.

 

Channie melangkahkan kakinya menyusuri ruang pameran ini. Sebenarnya Channie tidak terlalu memiliki jiwa seni seperti adiknya, Park Chanyeol. Channie hanya tahu dulu ia pernah berkecimpung dalam sebuah pembuatan karya, namun karya itu belum rampung sampai sekarang.

 

Berbicara tentang karya yang belum rampung, terkutuklah Park Chanyeol yang sudah memutarkan lagu instrumental yang menenagkan jiwa ini sebagai backsound pamerannya. Channie ingat betul lagu siapa ini. Lagu yang diciptakan oleh orang yang sekarang ‘menghilang’. Melodinya seakan mengatakan bahwa sang komposerakan selalu mencintai pujaannya.

 

Sebenarnya instrument ini adalah hadiah untuk Channie. Bukan hanya satu, si pencipta menghadiahkan Channie beberapa lagu instrumental lainnya. Yang Channie yakin akan Chanyeol putar dalam acara pameran ini. Tapi apakah benar Channie menyebutnya sebagai hadiah? Bahkan orang itu tidak memberikan langsung pada Channie. Dan setelah Channie menerima hadiah lagu ini, orang itupun menghilang entah kemana.

 

Channie terdiam didepan sebuah guci berwarna dasar putih. Motif yang ada pada guci itu Channie interpretasikan sebagai kunci G dalam not balok. Walaupun sudah menjadi motif dekoratif, tapi Channie masih bisa merasakan jiwa bermusik Chanyeol dalam hiasan berwarna hitam itu.

 

Channie terdiam, ia mengingat Chanyeol yang dulu sangat suka bermain musik. Sebenarnya bukan Park Chanyeol yang menjadi fokus dalam ingatan Channie. Tapi seseorang yang selalu mendampingi Chanyeol, memberikan arahan dan semangat untuk adik laki-lakinya. Seseorang yang juga memberikan kelembutan cinta untuk Channie. Seseorang yang pernah singgah dalam hatinya, dan sampai sekarang pun masih begitu.

 

“Ehem,” deheman seseorang membuat Channie menoleh. Channie tersenyum manis. Ia membungkukkan badannya sebentar, memberi hormat pada pria berlesung pipit yang ada dihadapannya.

 

“Selamat datang, Siwon Sajangnim,” sapa Channie.

 

“Aigoo, kau bertingkah seperti orang yang menggelar pameran ini. Kau bahkan meninggalkan aku,” protes Siwon. Channie terkekeh mendengarnya.

 

“Aku kira kau akan kembali dari Jeju sore nanti,” ujar Channie.

 

“Aku sudah menyelesaikan meeting itu dengan cepat. Dan setelah itu aku langsung terbang menuju Seoul. Namun sayang ternyata aku masih terlambat,” ucap Siwon. Channie tersenyum.

 

“Aku sungguh tidak tahu, Sajangnim. Aku pikir kau akan kembali sore nanti. Dan jika aku menunggumu sampai sore, Chanyeol akan mengamuk dan tidak akan membiarkan aku hidup tenang selama satu bulan,” jelas Channie. Siwon mengangguk.

 

“Arasseo. Tapi sebagai gantinya, kau harus menjadi pemanduku dalam pameran ini,” pinta Siwon.

 

“Baiklah. Tapi kau jangan protes jika aku tidak menerangkan apapun. Kau tahu kan aku tidak mengerti tentang gentong-gentong itu,” ujar Channie yang membuat Siwon tertawa.

 

“Tak masalah,” jawab Siwon.

 

Channie menemani Siwon berkeliling di ruang pameran. Sebelumnya Channie mengantar Siwon menemui Chanyeol. Siwon ingin memberikan ucapan selamat untuk kesuksesan Chanyeol. Tapi seperti biasa Chanyeol hanya menanggapi segala tingkah laku Siwon dengan senyum separuh nan tidak ikhlas.

 

Siwon dan Channie berhenti didepan sebuah pajangan keramik berwarna peach. Siwon memandangi lukisan yang ada pada keramik itu. Menggambarkan dua musim yang berbeda dengan siluet wanita yang berdiri dibawah pohon. Pohon dan wanita itu tepat berada ditengah keramik. Dibagian kanan terlukiskan suasana cerah dan pohon yang tumbuh rindang. Sedangkan disebelah kiri menggambarkan suasana yang kelam dengan daun yang berguguran dari pohon tersebut.

 

“Keramik ini indah sekali,” puji Siwon. Channie hanya tersenyum menanggapi ucapan Siwon. Ia fokus memandangi lukisan yang tertera pada keramik itu.

 

Apa si bodoh Chanyeol itu sedang menggambarkan diriku?” Channie bertanya dalam hati.

 

“Sepertinya lukisan ini cocok dengan penantianmu,” suara Siwon terdengan parau. Channie masih tetap fokus memandangi keramik itu.

 

“Masih berada ditempat yang sama. Menunggu kembalinya seseorang yang dicinta. Walaupun musim telah berkali-kali berganti,” tambah Siwon.

 

“Tak inginkah kau pergi dari sana? Tak inginkah kau membagi kasih dalam hatimu kepada orang lain?” ucapan Siwon lebih tertuju untuk dirinya sendiri. Channie tersenyum masam, ia memandang Siwon yang menatapnya sendu.

 

“Seandainya aku mampu, maka akan aku berikan padamu. Namun aku tak berdaya. Jangankan pergi, berkutik saja aku tidak mampu,” jawab Channie pelan. Siwon menghela napas.

 

“Kau memang sangat mencintainya,” ujar Siwon.

 

“Dan juga sangat merindukannya,” tambah Channie dalam hati.

 

*Flashback*

A Song For You

 

Winter Season, 22nd February 2014

Busan, South Korea

 

Wanita itu menghampiri kursi yang sesuai dengan nomor yang ada di tiket keretanya. Park Channie, wanita itu adalah Park Channie. Seorang Direktur dari perusahaan properti yang terkenal di Korea Selatan, Chanryeo Group. Sekarang ini Channie sedang ada didalam kereta dari Busan menuju Seoul. Channie yang selalu diliputi kemewahan kali ini merasa ingin menikmati perjalanan dari balik jendela kereta.

 

Sambil menunggu kereta berjalan, Channie mengeluarkan headset dan ponselnya. Channie mendengarkan lagu-lagu klasik karya Johann Sebastian Bach. Channie pun mengeluarkan novel Harry Potter  kesukaannya yang  baru ia beli. Channie tenggelam dalam dunianya yang berisikan karya Bach dan Rowling.

 

Sampai kereta berjalan pun, Channie tak menghiraukannya. Matahari pagi yang menyinari kota Busan tak membuat Channie mengangkat pandangannya dari novel Harry Potter-nya tersebut. Bahkan Channie pun tak sadar jika bangku disebelahnya sudah terisi oleh seorang pemuda yang dari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya. Menurut pemuda itu, Channie, novel, dan mentari yang menyinarinya adalah keharmonisan visual yang menawan hati. Sama seperti simfoni-simfoni Mozart yang selalu dipujanya.

 

Getar dari ponsel Channie membuyarkan konsentrasi membaca Channie. Channie pun menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.

 

“Ne?”

“…..”

“Aku sudah menuju Seoul,”

“….”

“Arasseo,”

 

Channie meletakkan kembali ponselnya. Ia menoleh kekiri dan sedikit terkejut mendapati seorang pemuda yang duduk disebelahnya. Pemuda itu tersenyum simpul pada Channie. Channie pun membalas senyumannya.

 

Channie tak tahu bahwa detak jantung pemuda itu sudah terpacu dengan cepat. Layaknya sebuah genderang pertanda perang. Ingin sekali rasanya pemuda itu menyapa Channie. Mendengar alunan suara yang keluar dari bibir Channie.

 

“Chogiyo, apa anda butuh sesuatu?” tanya seorang wanita yang bertugas di kereta. Sebenarnya suara wanita itu cukup membuat mereka terkejut.

 

“Tidak, terima kasih. Kau butuh sesuatu?” tanya Channie pada pemuda disampingnya.

 

“Aku juga tidak,” jawab pemuda itu. Wanita petugas itu tersenyum dan membungkuk sopan. Lantas berjalan kembali meninggalkan Channie dan pemuda itu.

 

“Kau mau ke Seoul juga?” tanya Channie memulai pembicaraan.

 

“N..ne,” jawab pria itu. Ternyata kegugupannya malah bertambah ketika diajak berbicara oleh Channie.

 

“Kau sendiri?” tanya pemuda itu.

 

“Aku akan pulang ke Seoul. Aku habis melakukan kontrak dengan klien,” jawab Channie.

 

“Oh, arasseo,” jawab pemuda itu.

 

“Park Channie,” ucap Channie memperkenalkan diri.

 

“Cho Kyuhyun. Aku berasal dari Busan dan akan pindah ke Seoul untuk bekerja,” sahut pemuda yang bernama Cho Kyuhyun itu.

 

“Oh ya? Kau benar-benar pekerja keras,” puji Channie. Kyuhuyun tertawa pelan.

 

“Pekerja keras apanya,” gurau Kyuhyun. Channie mengangkat bahu sambil ikut tertawa.

 

“Ini gitarmu?” tanya Channie melihat tas gitar yang ada dihadapan Kyuhyun. Kyuhyun menggeleng.

 

“Ini kekasihku,” jawabnya dengan menyelipkan tawa. Channie terkekeh mendengarnya.

 

“Sampai seperti itukah? Ya ampun, aku mengira hanya adikku saja yang tidak waras karena menganggap piano kesayangannya sebagai yeojachingunya. Ternyata ada juga orang diluar sana yang berprilaku sama seperti adikku,” ujar Channie.

 

Ring a bell, jadi barusan kau baru mengatakan bahwa aku juga tidak waras, begitu?” tanya Kyuhyun penuh selidik.

 

“A..aniyo.. aku tidak bermaksud begitu,” jawab Channie canggung. Kyuhuyun tertawa.

 

“Gwaenchanayo, memang begitulah aku. Saking cintanya aku pada musik, aku terkadang menganggap alat musik sebagai kekasihku yang paling rapuh, dan lagu sebagai dopamin yang memberikan kebahagiaan dan ketenangan. Bagi sebagian orang mungkin itu terdengar gila,” Kyuhyun mengaku.

 

“Benar-benar Park Chanyeol,” gumam Channie.

 

“Ne?” tanya Kyuhyun.

 

“Ucapanmu barusan benar-benar persis seperti apa yang dikatakan oleh adikku, Park Chanyeol,” jawab Channie. Kyuhuyun terkekeh

 

“Adikmu pasti orang yang menyenangkan,” tutur Kyuhyun.

 

“Mungkin bagimu ia menyenangkan karena kalian sama-sama pencinta musik. Bagiku dia tetap saja remaja labil yang menyebalkan,” gerutu Channie. Kyuhyun tertawa mendengarnya.

 

“Kau pasti seorang noona yang galak,” canda Kyuhyun. Channie mengangguk. Mereka pun tertawa. Kyuhyun melirik novel Harry Potter yang ada di pangkuan Channie.

 

“Kau suka Harry Potter?” tanya Kyuhyun. Channie mengangguk.

 

“Ya, Harry Potter. Terkadang aku ingin tinggal di Hogwarts saja,” jawab Channie.

 

“Waw, kau benar-benar berbakat menjadi penyihir jahat Channie-ssi,” ledek Kyuhyun. Channie terkekeh.

 

“Berhati-hatilah Kyuhyun-ssi. Aku ini orang yang berbahaya,” bisik Channie. Kyuhyun memincingkan matanya dan memasang wajah waspadanya. Tak lama, ia pun tersenyum geli.

 

“Adikmu adalah seorang pencinta musik, apa kau tak punya ketertarikan dalam musik?” tanya Kyuhyun mengganti topik.

 

“Hmmm, aku suka musik klasik. Invention 4 dan 8 milik Bach, Les Adieux 1st,2nd,3rd, movement dari Beethoven, dan Sonata 16 karya Mozart sering aku dengarkan. Tapi komposer favorit ku adalah Johann Sebastian Bach,” jawab Channie.

 

“Jinjayo? Aku juga suka karya-karya Bach. Air on the G String tak pernah lupa aku dengarkan sebelum tidur,” sahut Kyuhyun.

 

“Benar, musik klasik adalah lagu pengantar tidur yang terbaik,” tutur Channie.

 

“Tentu saja. Ah ya, apa adikmu juga suka lagu klasik?” Kyuhyun terus bertanya.

 

“Dia hanya memainkan lagu klasik saat bermain piano. Tapi dia lebih sering mendengarkan lagu-lagu hardcore seperti Metallica. Aku pusing mendengar lagu-lagu semacam itu,” keluh Channie.

 

“Adikmu sangat hebat, Channie-ssi. Apakah dia juga suka mendengarkan Avanged Sevenfold? Atau Dream Theater?” Kyuhyun sangat antusias.

 

“Ya, kamarnya penuh dengan poster Dream Theater,” Jawab Channie. “Kau sangat tahu banyak tentang musik ya? Apa kau seorang penyanyi?” tanya Channie.

 

“Bukan, aku kuliah di jurusan Seni Musik,” jawab Kyuhyun.

 

“Pantas saja! Dan apa pekerjaan mu di Seoul ada hubungannya dengan jurusan kuliahmu? Apa kau akan menjadi penyanyi?” tanya Channie lagi. Kyuhyun terkekeh.

 

“Kenapa kau sangat berikeras kalau aku ini seorang penyanyi eoh?’ tanya Kyuhyun geli.

 

“Emm, maksudku kau pasti berbakat menjadi seorang penyanyi. Suaramu lumayan bagus,” puji Channie.

 

“Begitukah? Bahkan kau belum mendengarku bernyanyi sama sekali,” ujar Kyuhyun.

 

“Suaramu itu hangat, sepertinya genre ballad akan cocok dengan suaramu,” tutur Channie. Kyuhyun tersenyum mendengarnya.

 

suaramu juga hangat dan menenangkan, Channie,”

           

“Aku lebih percaya diri bermain musik daripada bernyanyi,” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Kyuhyun. Sedangkan kalimat sebelumnya tertahan di tenggorokannya.

 

“Sayang sekali,” ucap Channie. Kyuhyun tersenyum melihat ekspresi wajah Channie.

 

“Dan kau belum menjawab pertanyaanku, Kyuhyun-ssi. Kau akan bekerja apa di Seoul?” tanya Channie.

 

“Aku direkomendasikan oleh dosenku menjadi guru musik di Seoul,” jawab Kyuhyun.

 

“Woah! Daebak! Selamat datang di Seoul Kyuhyun Seonssaengnim,” ucap Channie sambil membungkukkan badannya.

 

“Sudahlah, kau berlebihan. Dan kau sendiri? Apa pekerjaanmu?” tanya Kyuhyun.

 

“Aku Direktur di sebuah perusahaan property, perusahaan keluarga” jawab Channie.

 

Awesome! Kau sangat hebat Channie-ssi. Aku rasa umurmu tak jauh berbeda denganku, tapi kau sudah menjadi direktur, woah daebak!” Kyuhyun tak dapat menyembunyikan kekagumanya.

 

“Bukan apa-apa, kau juga orang yang hebat. Kita semua orang yang hebat, karena sejatinya kita semua adalah pemenang. Yang paling hebat,” ujar Channie.

 

“Benarkah? Mengapa bisa begitu?” tanya Kyuhyun.

 

“Kau tahu kan bahwa kita semua berasal dari satu sperma yang mengalahkan jutaan sperma lainnya? Dari sebelum kita menatap dunia pun, kita semua sudah menjadi yang paling hebat. Maka Kyuhyun Seonssaengnim, janganlah pernah merasa bahwa kau bukanlah apa-apa. Sejak awal, semua manusia adalah pemenang,” ucap Channie. Kyuhyun mengangguk-angguk mendengarnya.

 

“Hmm, pemikiranmu mengesankan nona Park,” puji Kyuhyun. Channie tersenyum mendengar pujian itu.

 

Selama perjalanan dari Busan menuju Seoul, baru kali ini Channie merasa tidak bosan dan mengantuk. Karena ia mendapat seorang teman sebangku yang menyenagkan. Dan Kyuhyun merasa bahwa kepindahannya ke Seoul bukanlah suatu yang asing lagi karena ia baru saja mendapat seorang kawan yang begitu menyenangkan, dan juga membuat dirinya terpikat.

 

Tak terasa kereta sudah sampai di stasiun Seoul. Channie dan Kyuhyun melangkah keluar dari kereta. Mereka keluar beriringan dari Stasiun Seoul.

 

“Aku sudah memesan taksi. Kau mau bergabung denganku?” tawar Channie

 

“Ah tidak, terima kasih. Lagipula aku harus pergi ke suatu tempat dulu,” jawab Kyuhyun.

 

“Arasseo. Aku pergi dulu Kyuhyun-ssi. Senang berkenalan denganmu,” ucap Channie.

 

“Nado. Semoga kita bisa bertemu lagi Channie-ssi,” balas Kyuhyun. Channie mengangguk lalu masuk kedalam taksi. Channie membuka kaca taksi tersebut dan melambaikan tangan pada Kyuhyun.

 

“Kyuhyun-ah annyeong,” Channie tersenyum manis pada Kyuhyun. Kemudian taksi yang membawa Channie pun berjalan meninggalkan Kyuhyun. Kyuhyun melambaikan tangannya.

 

“Semoga kita dapat bertemu lagi, Channie-ah. Segera,” batin Kyuhyun.

 

**

 

“Aku pulaaang!!” suara Channie menggelegar di dalam rumah yang bernuansa European classic itu. Terlihat seorang anak perempuan berusia 5 tahun menuruni tangga dengan wajah yang gembira.

 

“Eoommmmaaaa!!!” anak perempuan tersebut langsung menghambur kepelukan Channie. Channie tertawa dan memeluk anak perempuan tersebut dengan erat.

 

“Bagaimana kabarmu, princess?” tanya Channie.

 

“Aku baik,” jawab anak manis itu.

 

“Dimana oppamu?” tanya Channie pada gadis kecil itu.

 

“Aku disini,” sahutan pemuda terdengar. Pemuda tampan itu keluar dari dapur dan membawa secangkir kopi.

 

“Disana kau rupanya,” ujar Channie.

 

“Eomma, kau tidak bawa oleh-oleh untukku?” tanya gadis kecil itu.

 

“Ah benar, mana pesananku? Dan Chanbie, tolong berhenti memanggilnya eomma. Kau akan menjadi gadis terbelakang jika memiliki eomma seperti dia,” ucap pemuda itu. Gadis kecil yang bernama Chanbie itu hanya menatap oppa nya dengan pandangan tidak mengerti.

 

“Yaampun dasar dongsaeng kurang ajar!” gerutu Channie.

 

“Kau mengatakan sesuatu, noona?” tanya Chanbie.

 

“Ah, aniyo. Ini hadiah untukmu sayang!” Channie memberikan paperbag berwarna merah muda kepada Chanbie.

 

“Terima kasih eonnie! Aku sayang eonnie,” Chanbie memeluk Channie.

 

“Sekarang kau buka hadiahnya dan bermainlah,” ucap Channie.

 

“Arasseo,” Chanbie pun berlari menuju kamarnya. Tak lupa ia membawa paperbag yang diberikan Channie.

 

Channie pun menghampiri adik laki-lakinya, Park Chanyeol, yang ada duduk di sofa depan televisi. Channie pun duduk disebelah Chanyeol.

 

“Bagaimana perjalananmu?” tanya Chanyeol.

 

“Ya, biasa saja,” jawab Channie. Chanyeol mendengus.

 

“Tidak adakah pria yang bisa kau goda? Umurmu sudah tua, tapi tetap saja masih sendiri,” hina Chanyeol. Channie menjambak rambut hitam Chanyeol.

 

“Tidak bisakah kau berkata lebih sopan pada kakakmu ini hah?! Dan apa kau bilang? Aku tua?! Hey Park Chanyeol, usia ku baru 23 tahun, jangan lupakan itu!” murka Channie. Chanyeol hanya berusaha melepaskan rambutnya dari cengkraman Channie. Setelah itu ia hanya terkekeh tanpa dosa.

 

“Bagaimana keadaan rumah selama 4 hari aku pergi?” tanya Channie sambil menyeruput kopi milik Chanyeol.

 

“Ya, belum ada pencuri yang masuk,” jawab Chanyeol asal.

 

“Park Chanyeol, otakmu itu hanya kau gunakan untuk mengganjal kepala saja kah?” Channie benar-benar frustasi dengan jawaban adiknya.

 

“Memangnya jawabanku salah?” elak Chanyeol. Channie hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.

 

“Noona, Chanbie kembali menanyakan appa. Ia bertanya mengapa appa belum juga pulang dari tempat kerjanya,” suara Chanyeol mula melembut ketika mengatakannya. Tak ada lagi nada lelucon dalam ucapannya. Wajah Channie seketika murung.

 

“Aku tak tahu bagaimana memberitahunya,” ujar Channie.

 

“Tapi noona, sampai kapan kita akan menyembunyikannya dari Chanbie? Ayah sudah meninggal sekitar 3 bulan yang lalu, dan sampai sekarang kita berkata kepada Chanbie bahwa ayah sedang pergi bekerja. Tak tahukah kau bahwa setiap hari selalu ada rasa penantian didalam hatinya?” Park Chanyeol bertransformasi menjadi pria berkeluarga yang bijak dalam waktu singkat.

 

“Aku tahu. Kita pasti akan memberitahunya. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Berikan aku waktu Chanyeol-ah. Dia pasti akan sangat terpukul,” lirih Channie. Chanyeol menggenggam tangan kakaknya.

 

“Arasseo, aku selalu mendukung keputusanmu,” ucap Chanyeol menguatkan.

 

**

“Direktur, kau mau ikut makan siang di lantai 7?” tanya seorang wanita.

 

“Anniyo, hari ini aku ingin minum kopi, Yeri-ah. Kalian pergilah,” jawab sang ketua tim, Park Channie.

 

“Baiklah, kami pergi dulu Direktur,” sahut Kim Ryeowook. Lalu 2 orang wanita dan 3 orang pria itu yang notabene adalah teman-teman Channie pun keluar dari ruangan kerja Channie. Channie membereskan berkas-berkas yang ada dimejanya. Kemudian Channie mengikat rambutnya dan memakai manteldan syal nya. Channie pun pergi dari ruangan kerjanya.

 

Channie memasuki sebuah kedai kopi ternama yang berada tepat di seberang kantornya. Channie melihat dua baris antrean didepan kasir. Tak heran jika kedai kopi ini sedang ramai, karena sekarang adalah jam makan siang.

 

Channie memilih mengantre di barisan sebelah kanan, dan Channie berdiri dipaling belakang. Channie melihat papan menu yang tertempel di dinding. Secangkir hot caramel macchiato merupakan pilihan yang tepat disiang hari yang dingin.

 

“Channie-ssi?” Channie menoleh ketika ada yang menyebutkan namanya.

 

“Kyuhyun-ssi?” tanya Channie. Dalam hati ia berharap agar ia tak salah menyebutkan nama. Kyuhyun tersenyum dan mengangguk.

 

“Ne. Bagaimana kabarmu?” tanya Kyuhyun.

 

“Kabarku baik, dan bagaimana denganmu? Bagaimana harimu selama seminggu di Seoul?” tanya Channie. Kyuhyun pun pindah ke antrean Channie.

 

“Sebaiknya kita memesan kopi dulu,” tawar Kyuhyun. Channie pun terkekeh.

 

Setelah perdebatan panjang tentang siapa yang membayar, akhirnya mereka sepakat jika Kyuhyun yang membayar minumannya, dan Channie yang membayar makanannya. Kemudian Channie dan Kyuhyun duduk di sudut ruangan dekat jendela. Kursi empuk yang nyaman membuat Channie sedikit merilekskan diri.

 

“Kau sedang istirahat ya?” tanya Kyuhyun setelah meletakkan nampan berisi minuman dan makanan yang tadi mereka pesan.

 

“Ya, dari tadi pagi pekerjaan datang tak henti-hentinya. Kepalaku lumayan pusing,” keluh Channie. Kyuhyun tersenyum mendengarnya.

 

“Kau pekerja keras Channie-ah,” puji Kyuhyun.

 

“Dan bagaimana pekerjaanmu?” tanya Channie.

 

“Ya, aku sudah mulai mengajar. Pertama kali aku mengajar murid-murid SHS rasanya badanku berkeringat dingin,” tutur Kyuhyun. Channie tertawa mendengarnya. Ketika Channie akan menanyakan pertanyaan pada Kyuhyun, ia tak sengaja menoleh keluar jendela. Channie melihat Chanyeol dan Chanbie yang sedang berjalan kaki. Channie melambaikan tangannya pada mereka.

 

Kyuhyun terheran melihat Channie. Kyuhyun pun ikut menoleh dan melihat seorang anak perempuan yang melambaikan tangannya kearah Channie. Kyuhyun melihat anak perempuan, dan seorang pemuda yang berjalan bersamanya menuju kearah kedai kopi ini.

 

“Tak apa jika mereka bergabung?” tanya Channie pada Kyuhyun. Kyuhyun hanya mengangguk sambil tersenyum melihat ekspresi antusias Channie.

 

“Eommaaaa!!” Chanbie berlari menghampiri Channie. Channie pun memeluk Chanbie. Kyuhyun yang tak tahu apa-apa hanya bisa memasang ekspresi sekarat ketika mendengar Channie dipanggil eomma oleh seorang anak kecil.

 

Apakah pria itu suami Channie?” batin Kyuhyun.

 

“Chanbie-ah, jangan memanggilnya eomma, kau membuat pria dihadapan eonnie terkejut,” Chanyeol mengingatkan Chanbie, dan menyindir Kyuhyun. Sadar jika ekspresinya sangat tidak wajar, Kyuhyun pun berdehem dan menormalkan kembali mimik wajahnya. Chanyeol terkekeh melihatnya dan duduk di sebelah Channie.

 

“Oppa awas! Aku ingin duduk!” Chanbie mengusir Chanyeol.

 

“Pergi sana!” Channie pun ikut mengusir Chanyeol. Chanyeol menggerutu dan pindah posisi duduk menjadi disebelah Kyuhyun.

 

“Kyuhyun-ssi, mereka adalah adikku. Si cantik Park Chanbie, dan si buruk rupa Park Chanyeol. Chanbie-ah, Chanyeol-ah, dia adalah temanku, Cho Kyuhyun-ssi,” ucap Channie memperkenalkan. Chanyeol hanya menghela napas mendengar julukan dari kakaknya itu.

 

“Chanbie-ah annyeong,” sapa Kyuhyun.

 

“Annyeong,” jawab Chanbie manis.

 

“Ini adikmu yang waktu itu kau bicarakan?” tanya Kyuhyun sambil menatap Chanyeol. Channie mengangguk.

 

“Aigoo, kau selalu saja membicarakan aku dimana pun. Maaf Tuan Cho, apa yang dikatakan oleh penyihir itu belum tentu semuanya benar. Dia memang suka melebih-lebihkan,” keluh Chanyeol. Kyuhyun terkekeh.

 

“Kakakmu tidak berkata sesuatu yang buruk tentangmu, dan jangan panggil aku seformal itu Chanyeol-ah,” jawab Kyuhyun.

 

“Hyung? Kau tidak keberatan?” tanya CHanyeol.

 

“Tentu saja tidak,” jawab Kyuhyun.

 

“Eomma, aku ingin green tea latte,” pinta Chanbie.

 

“Baiklah, ayo. Chanyeol kau ingin apa?” tanya Channie.

 

“Kesukaanku,” jawab Chanyeol. Channie mengangguk paham.

 

“Kyuhyun-ssi, aku tinggal sebentar. Lapor saja petugas keamanan jika anak ini menggigit,” pamit Channie. Kyuhyun hanya tertawa dan Chanyeol hanya mencibir.

 

“Eomma kami meninggal ketika melahirkan Chanbie. Sejak Chanbie bayi, noona lah yang membantu appa untuk mengurus Chanbie. Maka dari itu Chanbie menganggap noona seperti eommanya juga,” tutur Chanyeol. Kyuhyun mengangguk paham

 

“Jadi tak heran jika Chanbie sangat menyayangi kakakmu,” ucap Kyuhyun.

 

“Dia juga menyayangiku. Aku sangat menyayangi mereka. Kami semua saling menyayangi. Orang tua kami sudah meninggal, jadi kami hanya bisa menjaga satu sama lain,” jelas Chanyeol.

 

“Kalian benar-benar keluarga yang hebat,” puji Kyuhyun. “Tapi kenapa kau menceritakan ini padaku?” tanyanya.

 

“Entahlah, aku merasa kau memiliki ketertarikan pada kakakku. Jadi aku tidak ingin kau mundur dari medan perang hanya karena mendengar Chanbie memanggilnya eomma,” jawab Chanyeol. Kyuhyun hanya terkekeh.

 

“Kau tidak kesekolah?” tanya Kyuhyun.

 

“Aku sedang libur sekolah,” jawab Chanyeol. “Kau tidak memiliki pekerjaan?” tanya Chanyeol.

 

“Aku sedang libur bekerja,”jawab Kyuhyun.

 

“Benarkah? Memangnya kau bekerja dimana? Aneh sekali kau bisa libur dihari rabu.” Ujar Chanyeol.

 

“Aku bekerja di Hwanyeo High School,” jawab Kyuhyun.

 

“Eyy jinjayo? Aku bersekolah disana,” ucap Chanyeol antusias.

 

“Oh benarkah? Kau kelas berapa?” tanya Kyuhyun.

 

“Aku kelas 2-3. Apa pekerjaanmu?” Chanyeol bertanya.

 

“Aku guru musikmu yang baru,” jawab Kyuhyun.

 

“Oh astaga! Senang bertemu anda Seonssaengnim. Maaf aku tidak menggunakan sapaan formaltadi,” ucap Chanyeol. Kyuhyun tertawa.

 

“Sudahlah, gwaenchana,” sahut Kyuhyun.

 

“Ssaem, aku memiliki video konser terbaru Dream Theater. Dan mereka menggunakan gitar 12 string. Ajari aku gitar 12 string ya,” pinta Chanyeol.

 

“Ternyata benar apa yang dibilang kakakmu. Kau sangat memiliki ketertarikan dalam musik. Baiklah, nanti akan aku ajarkan padamu,” tutur Kyuhyun.

 

Saat Channie dan Chanbie kembali, obrolan antara Chanyeol dan Kyuhyun sudah keluar dari dimensi pemahaman Channie. Mereka membicarakan tentang drum 4 pedal, gitar elektrik keluaran terbaru, dan hal-hal lain yang Channie tidak paham.

 

Selama Chanyeol dan Kyuhyun mengobrol, Channie menyuapi Chanbie dengan Strawberrry cupcakes yang dipesannya. Channie sesekali melirik Kyuhyun yang asik mengobrol dengan Chanyeol. Kyuhyun pun sesekali mencuri pandang pada Channie yang sedang menyuapi Chanbie. Dan tak jarang pandangan mereka bertemu, namun mereka langsung mengalihkan tatapan masing-masing.

 

“Jam makan siangku sudah habis, aku harus kembali ke kantor. Kalian lanjutkan saja mengobrolnya,” ucap Channie.

 

“Eonnie kau pergi sekarang?” tanya Chanbie.

 

“Iya sayang. Aku janji akan segera pulang. Jangan nakal ya,” jawab Channie. Chanbie hanya mengangguk.

 

“Aku pergi dulu. Kyuhyun-ssi, sampai bertemu lagi,” pamit Channie.

 

“Baiklah, hati-hati,” tutur Kyuhyun.

 

“Kau tidak pamit padaku?” tanya Chanyeol.

 

“Masa bodoh denganmu,” cibir Channie sambil berdiri dari kursinya. Channie pun mencium pipi Chanbie dan melambaikan tangan pada Chanyeol dan Kyuhyun. Lalu ia keluar dari kedai kopi tersebut.

 

“Kau ingin pulang sekarang?” tanya Chanyeol pada Chanbie.

 

“Tidak juga. Kalau kalian masih ingin mengobrol silahkan saja, aku akan mendengarkan obrolan orang dewasa,” jawab Chanbie yang membuat Kyuhyun tertawa.

 

“Aigoo Chanbie-ah kau sangat manis. Berapa usiamu?” tanya Kyuhyun.

 

“Usiaku 5 tahun,” jawab Chanbie. Kyuhyun mengangguk paham.

 

“Apa kau sudah bersekolah?” tanya Kyuhyun lagi.

 

“Sudah, aku bersekolah di taman kanak-kanak. Dan aku juga mengikuti klub paduan suara. Eonnie yang menyuruhku bergabung, karena kata eonnie suaraku bagus,” pamer Chanbie.

 

“Benarkah? Kau hebat sekali, boleh aku mendengarmu bernyanyi?” pinta Kyuhyun. Chanbie menggeleng menanggapinya.

 

“Waee?” protes Kyuhyun.

 

“Eonnie bilang kita tidak boleh mengganggu kenyamanan orang lain. Disini sedang ramai, jika aku bernyanyi dan ternyata suaraku tidak bagus maka aku akan mengganggu ketenangan mereka,” jawab Chanbie. Kyuhyun mengulurkan tangannya dan mencubit pipi Chanbie gemas.

 

“Kau benar-benar anak yang manis,” puji Kyuhyun.

 

“Terima kasih,” balas Chanbie.

 

“Chanbie, ayo kita pulang sekarang. Sebentar lagi serial TV favorit kita akan segera tayang,” ajak Chanyeol.

 

“Baiklah oppa.” Jawab Chanbie. Kyuhyun, Chanyeol, dan Chanbie pun keluar dari kedai kopi tersebut.

 

“Kalian pulang naik bus?” tanya Kyuhyun.

 

“Tidak ssaem, kami akan pulang jalan kaki saja. Rumah kami tidak terlalu jauh,” jawab Chanyeol.

 

“Kyuhyun ahjussi, apa kau mau mampir kerumah kami?” tawar Chanbie. Kyuhyun sedikit terkejut mendengar Chanbie yang memanggilnya ‘ahjussi’.

 

“Mungkin lain kali Chanbie-ah. Dan kenapa kau memanggilku ahjussi? Aigoo, aku masih pantas kau panggil oppa,” rajuk Kyuhyun. Chanyeol tertawa mendengarnya.

 

“Tak apa Chanbie-ah, lagipula Kyuhyun ahjussi ini adalah guruku. Jadi kau memanggilnya ahjussi saja,” ledek Chanyeol.

 

“Eyy Park Chanyeol,” gerutu Kyuhyun.

 

“Benarkah? Kalau begitu sampai jumpa lagi Kyuhyun seonssaengnim,” ucap Chanbie sambil membungkukkan badannya. Chanyeol juga ikut membungkukkan badannya. Kyuhyun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Anggap saja itu panggilan sayang dariku, karena aku selalu memanggil semua teman lelaki eonnie dengan sebutan Ahjussi. Tapi aku memanggilmu seonssaengnim. Itu spesial kan?” tanya Chanbie. Kyuhyun terkekeh mendengarnya.

 

“Arasseo. Kau boleh memanggilku apa saja,” ujar Kyuhyun.

 

“Ssaem, kau akan pulang naik bus?” tanya Chanyeol.

 

“Ne. rumah sewaku lumayan jauh dari sini,” jawab Kyuhyun.

 

“Ssaem, kau tinggal bersama orang tuamu?” tanya Chanbie.

 

“Aniya, orang tuaku ada di Busan. Aku pindah ke Seoul untuk bekerja,” ucap Kyuhyun.

 

“Wah, nanti ajak aku ke Busan ya,” pinta Chanbie.

 

“Tentu saja manis,” sahut Kyuhyun.

 

“Ayo ssaem, kita ke halte bus. Halte bus nya searah dengan rumah kami,” ajak Chanyeol.

 

“Ayo,” balas Kyuhyun.

 

Mereka pun berjalan ke halte bus. Sampai di halte bus, Chanyeol dan Chanbie melanjutkan berjalan kaki sampai kerumah mereka.

 

**

 

“Kau menyukai Kyuhyun ssaem ya?” tanya Chanyeol pada Channie. Channie yang baru duduk disebelah Chanyeol langsung terlonjak kaget.

 

“Jangan memancing pertengkaran denganku dimalam hari, Park Chanyeol. Kau tahu kan aku dan dia baru bertemu seminggu yang lalu,” omel Channie.

 

“Ya, siapa yang tahu,” ucap Chanyeol sambil mengambil strawberry yang Channie bawa.

 

“Dan kenapa kau memanggilnya seonsaengnim?” tanya Channie sambil menonton tv dan memakan strawberrynya.

 

“Dia guru musikku yang baru,” jawab Chanyeol.

 

“JINJJAA?” Channie begitu terkejut.

 

“Eish, reaksimu selalu saja berlebihan,” cibir Chanyeol.

 

“Wae? Kenapa kau begitu terkejut? Kau akan pergi berkencan dengannya?” goda Chanyeol. Channie memukul kepala Chanyeol menggunakan bantal.

 

“Berkencan apanya? Dasar tidak waras,” gerutu Channie. Channie pun beranjak dari sofa dan berjalan menuju tangga. Meninggalkan Chanyeol di depan TV. Chanyeol  tertawa melihat tingkah kakaknya.

 

“Dia tidak tahu jika aku sering menjadi peramal gadungan disekolah. Dan anggap saja sekarang aku sedang meramalkan masa depannya yang akan hidup bersama dengan Kyuhyun ssaem selamanya,” ucap Chanyeol sambil terkekeh. Chanyeol melanjutkan acara menonton TV nya sambil menghabiskan strawberry yang ditinggalkan Channie.

 

 

 

-TBC-

 

 

Konfliknya kurang ya? Iyalah ini belum apa-apa cinnttah. Kenalan dulu, biar sayang/? :*

See you~

67 thoughts on “A Song For You Part 1

  1. lie to me n love story masih ingat lah thor…. saya suka ff itu
    n sekarang author bikin ff ini
    padahal ini part pertama tapi saya suka banget ff ini
    hebat thor neomu joha buat ff nya moga aja next part nya bisa cepet

    Disukai oleh 1 orang

  2. Sebenarnya aku udah baca ff ini dan udah nulis komentar, tapi ternyata kuota internet habis jadi komentar belum sempet dikirim..
    Aku suka ff ini,
    Bagus 👍
    Diawali dengan masa sekarang kemudian kembali ke masa lalu,
    Bikin penasaran..
    Dan hebatnya authornya memberi banyak pengetahuan tentang seni khususnya musik,
    Keren 👍
    Jadi belajar juga..
    Next..
    Semangat untuk semuanya
    Terima kasih

    Suka

  3. Wah, semakin penasaran dengan hubungan channie dengan kyuhyun…
    Ffnya bagus
    Aku suka ff yang masa sekarang diawal, kemudian masa lalu yang diceritakan..

    Suka

  4. Meskipun selalu terjadi pertengkaran kecil, tetapi kehidupan mereka terasa hangat seperti musim semi, ditambah lagi ada kyuhyun yg dg mudahnya berinteraksi dg mereka
    Ditunggu sebab menghilangnya kyuhyun yaa

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s