Uncontrollably Crush Part 4


 

Author              : Shan Shine

Tittle               : Uncontrollably Crush

Category        : NC21, Yadong, Romance, Oneshoot

Cast                :

– Cho Kyuhyun.                                 

– Shin Hyunni.

 

***

Uncontrollably Crush part 4^^ So, Enjoy! and happy reading~

***

Part 4

“Kau Jeomjang itu, bukan?”

 

“Benar, itu aku.”

 

“Sedang apa kau di sini?”

 

“Ah itu?” Pria itu tampak menggaruk tengkuknya sebentar. “Aku baru saja pulang dari minum bersama teman-temanku di sekitar sini. Aku tadi berniat pulang, tapi aku melihatmu dan merasa akrab dengan wajahmu. Jadi, aku mengikutimu sebelum memastikan kita memang pernah bertemu.”

 

Hyunni mengangguk-angguk mengerti sembari tersenyum. Hyunni kemudian merapatkan sweter yang tidak terlalu lebarnya. Menurutnya ini cukup canggung, bertemu dengan orang baru. Hyunni kemudian sadar bahwa mereka belum benar-benar berkenalan.

 

“Oh iya, aku Shin Hyunni, Jeomjang-nim” ucap Hyunni sembari mengulurkan tangannya.

 

“Namaku Nam Minhyuk. Panggil saja Minhyuk, jangan Jeomjang. Itu terlalu formal.” Pria itu membalas uluran tangan Hyunni dengan senyuman ramah. Ia kemudian melihat penampilan Hyunni, sepertinya gadis itu baru saja kembali dari suatu tempat. “Kau baru pulang dari kerja?” tebaknya.

 

Hyunni mengangguk. “Aku bekerja di kafe. Lumayan jauh dari sini. Dekat Gangnam. Aku baru saja pulang karena hari ini kafe cukup sibuk. Rumahku berada di dekat sini, tinggal beberapa pembelokkan lagi.”

 

“Kalau begitu aku akan mengantarmu. Ini sudah tengah malam, tidak baik jika seorang gadis jalan sendirian di tengah malam. Kau tahu, di kota besar punya banyak kejahatan.”

 

Hyunni menggeleng sungkan. “Ah, tidak usah, Minhyuk-ssi. Aku bisa sendiri. Aku sudah biasa pulang sendirian di malam hari. Walaupun bukan tengah malam seperti ini, tapi aku rasa aku tidak akan apa-apa.”

 

Takkan apa-apa, Shin Hyunni? Yang benar saja, batin Hyunni meringis.

 

Bagaimana bisa dia sekarang mengatakan tidak apa-apa? Padahal jantungnya tadi hampir lepas dari dadanya karena merasakan teror bahwa seseorang yang mengerikan tengah mengikutinya. Walaupun Hyunni senang melihat ada orang lain di dekatnya saat ini, tetap saja Hyunni tidak bisa merepotkan seseorang yang baru ia kenal hanya karena ketakutannya yang menyebalkan.

 

“Tidak, aku akan menemanimu. Kurasa aku harus memastikan kau sampai di rumahmu dengan selamat.”

 

Hyunni mengenyitkan tidak mengerti.  Tiba-tiba saja perasaan takutnya kembali, tetapi segera ia enyahkan. Minhyuk tampak seperti pria baik-baik dengan wajah tampannya yang manis. Ia tidak boleh berprasangkaburuk, walau ia memang baru mengenal Nam Minhyuk.

 

“Kenapa kau harus menemaniku?” tanya Hyunni hati-hati.

 

Minhyuk terdiam sebentar.Ia tampak ragu mengatakannya. Namun, melihat pandangan curiga Hyunni padanya membuatnya mau tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya Minhyuk khawatirkan.

 

“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi aku rasa aku harus mengatakannya.” Minhyuk berhenti sebentar menatap wajah Hyunni, memastikan bahwa ia tidak akan menakuti gadis itu. “Sebenarnya tadi akutidak berniat mendekatimu, tetapi aku melihat seseorang mengikutimu dari belakang.”

 

“Mengikutiku?”

 

Minhyuk mengangguk. “Tadi, saat aku melihatmu lewat, ada seseorang yang juga melewatiku. Dia mencurigakan dan kurasa dia sedang mengikutimu. Dia memakai masker, jaket, dan topi serba hitam. Topinya seolah sangat turun hingga hampir menutupi setengah wajahnya. Itulah kenapa aku juga mengikuti kalian, tapi saat aku berbalik sebentar, dia sudah hilang. Jadi, kurasa lebih baik aku mengantarmu pulang saja.”

 

Hyunni diam-diam meneguk salivanya. Ternyata yang tadi ia rasakan bukan hanya sekedar perasaan paranoidnya saja. Seketika rasanyaia tidak ingin menolak tawaran Minhyuk yang mengajukan diri mengantarnya. Mungkin itu memang pilihan terbaik.

 

“B—baiklah,” ucap Hyunni sedikit tergagap, masih syok karena mengetahui bahwa benar ada seseorang yang mengikutinya.

 

Jarak rumah Hyunni masih berjarak seratus meter lebih. Tidak terlalu jauh.Ia juga senang bahwa Minhyuk ada di sampingnya, terus mengajaknya mengobrol sembari berjalan. Minhyuk kemudian mengerutkan alisnya, melihat dahi Hyunni sejak tadi lembab karena keringat dingin.

 

“Kau tahu, cuaca cukup dingin malam ini dan dahimu terus berkeringat.”

 

Hyunni menyentuh dahinya sebentar. Ia sendiri tidak sadar bahwa keringat itu terus ada. Yang ia rasa hanya degub jantungnya yang berdetak kencang, persis seperti yang ia rasakan setiap berada di tempat tertentu. Hyunni kemudian tersenyum kecil sambil menunjuk dahinya.

 

“Ah, ini? Sepertinya hanya gejala fobiaku. Aku terkadang masih sedikit berkeringat dingin saat suasananya sangat remang seperti ini,” jawab Hyunni menatap sekitar.

 

Banyak penduduk yang sudah mematikan lampu depan rumah mereka karena tidur, sehingga jalan pulang Hyunni sedikit gelap dan remang. Penerangan lampu pun sudah tidak bercahaya sempurna. Menambah kesan remang yang sedikit menakutkan.

 

“Kau punya fobia? Fobia apa?”

 

“Kau tahu Claustrophobia dan Achluophobia?”

 

“Maksudmu ketakutan akan tempat sempit dan ketakutan akan kegelapan? Kau mempunyai dua fobia sekaligus?” tanya Minhyuk kagum sekaligus tidak percaya.

 

Hyunni mengangguk. Langkah santai dan lambat mereka terus berjalan. Minhyuk sendiri tertarik mendengarnya. Minhyuk sendiri memang sering mendengar fobia itu di acara-acara serta drama-drama televisi dan ia tertarik mendengarnya langsung dari orang yang mengalaminya.

 

“Semacam itulah,” jawab Hyunni tersenyum kecut.

 

“Bagaimana bisa?”

 

“Aku pernah kecelekaan dan itu membawa trauma hingga menimbulkan fobia-fobia itu,” jawab Hyunni sambil tersenyum pada Minhyuk yang menatapnya kasihan, menunjukkan bahwa ia sudah tidak apa-apa sekarang.

 

“Apakah menakutkan?”

 

Hyunni mengangguk. Ia kemudian menggeleng lagi. “Awalnya sangat mengerikan. Kau tahu, bahkan saat berada di ruang ganti toko baju yang terang atau di kamar sendirian saat malam, aku akan ketakutan setengah mati. Tapi itu dulu, aku sudah hampir sembuh. Walau belum sembuh total dan gejalanya belum menghilang sepenuhnya, tapi aku sudah bisa cukup mengatasinya sekarang.”

 

Minhyuk terus menatap Hyunni. Hyunni bisa melihat tatapan iba Minhyuk, tetapi ia terus tersenyum menunjukkan bahwa ia sudah tidak apa-apa. Memang awalnya cukup mengerikan bagi Hyunni, tetapi perlahan ia belajar untuk menghadapinya. Ia juga sering konsultasi dengan beberapa dokter untuk melawan fobianya. Bagaimanapun fobia itu muncul dari manifestasi traumannya dan ia cukup sudah bisa melawan ketakuannya. Walau belum sepenuhnya.

 

“Tapi terkadang jika aku berada di ruang sempit sekaligus gelap, fobiaku akan menjadi parah. Kalau berada di ruang sempit terang atau tempat yang tidak terlalu gelap gulita, aku sudah cukup bisa mengatasinya. Tapi jika aku berada di situasi yang mendukung kedua fobiaku, itu akan menjadi parah,” ucap Hyunni menambahkan membuat Minhyuk mengangguk-angguk mengerti.

 

Tanpa sadar, Hyunni sudah berada tepat di depan pagar rumahnya. Rumah Hyunni pun tidak terlalu bagus. Warna cat rumahnya rumahnya sedikit pudar karena usang dimakan usia. Walau rumah Hyunni tampak minimalis, tetapi rumah itu cukup nyaman bagi Hyunni.

 

“Terima kasih sudah mengantarku, Minhyuk-ssi. Kau harus semakin terlambat pulang karenaku.”

 

Minhyuk tersenyum. Ia sendiri sebenarnya orang yang tidak suka mencampuri urusan orang lain. Namun melihat Hyunni, membuatnya ingin melindungi Hyunni. Apalagi saat ia pertama kali melihat Hyunni berada di Departemen Store tempat ia bekerja, Minhyuk sudah cukup tertarik dengan wajah manis Hyunni.

 

“Itu bukan apa-apa. Lain kali, kau jangan pulang terlalu malam, kita tidak tahu apa yang bisa terjadi jika kau berjalan sendirian.”

 

Hyunni tersenyum ramah sembari mengangguk mematuhi. “Iya, aku akan berusaha.”

 

“Kalau begitu, aku pergi. Ini sudah malam, aku juga harus segera pulang.”

 

Hyunni pun membungkuk kecil saat Minhyuk sudah berbalik pergi. Ia melihat punggung ia sudah menjauh. Minhyuk tampak memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya demi menghalau angin malam menyetuh tangannya yang tidak berkain.

 

Maupun Minhyuk atau Hyunni, tidak ada yang menyadari bahwa sosok itu sebenarnya belum pergi. Sosok itu hanya bersembunyi sebentar dari pandangan Minhyuk dan Hyunni. Dia hanya diam di balik pohon, menatap keduanya.

 

Sosok itu mendengar semua pembicaraan keduanya sejak tadi. Karena ia juga mengikuti keduanya tanpa keduanya sadari. Dan akhirnya ia berjalan pergi saat melihat Hyunni sudah masuk ke dalam rumahnya.

 

***

 

Langkah mengendap-endap itu cukup menarik perhatian Hyunni yang sedang duduk di balik meja kasir. Melihat itu membuat Hyunni hanya bisa menggeleng-geleng. Ia berharap ia tidak terlihat seperti Sana sekarang jika ia beradadi dekat Kyuhyun.

 

“Yak, Sana-ya! Kau bukannya kau punya jadwal kuliah pagi ini?”

 

Gadis yang yang dipanggil itu hanya mengabaikkannya. Ia sekarang tengah sibuk menyebulkan kepalanya, menatap masuk ke dalam dapur. Hanya matanya yang terlihat, sedangkan sisa badannya bersembunyi di balik dinding dekat pintu.

 

Sana tersenyum puas saat ia melihat sosok pria yang sejak kemarin mengganggu pikirannya. Sana mendesah kagum melihat Myungsoo tampak sangat keren di matanya saat pria itu memegang penggorengan di atas api kompor yang menyala. Apalagi keringat yang ada di dahi Myungsoo, rasanya Sana ingin mengusapnya dengan saputangannya.

 

“Yak, Min Sana!”

 

“Eonni, shh…” Sana berbalik pada Hyunni. Ia menempatkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Ia tidak mau jika panggilan Hyunni itu malah membuatnya ketahuan kalau ia sedang menatap Myungsoo diam-diam.

 

“Kau harus kuliah!”

 

“Hari ini aku meliburkan diri,” bisik Sana dengan wajah kesalnya yang menggemaskan.

 

“Dasar kau.”

 

Sana hanya menjulurkan lidahnya pada Hyunni. Ia pun kembali membalikkan pandangannya ke dalam dapur. Dan betapa terkejut Sana saat ia berbalik dan melihat ternyata Myungsoo sudah menatap tepat ke arahnya.

 

Berkat suara Hyunni di luar, Myungsoo jadi menengok keluar dapur. Ia pun melihat sosok Sana yang tampak terlihat di pinggir ambang pintu, sebelum akhirnya gadis itu menengok masuk. Sekali melihat, ia tahu Sana tengah menatapnya.

 

Myungsoo pun tersenyum membalas tatapan Sana, membuat gadis itu langsung kelabakan di tempatnya. Hingga akhirnya, Sana menghilang karena malu.Ia sudah pergi dengan wajah memerah, membuat Myungsoo mau tidak mau tersenyum geli karena tingkah gadis berwajah dan bertingkah menggemaskan itu.

 

“Eonni, kau menyebalkan.”

 

Hyunni sendiri hanya tertawa puas di tempatnya, melihat Sana berjalan menghentak ke arahnya. Ia yakin pasti Sana ketahuan karena suaranya yang tidak berhenti memanggil Sana dengan suaranya yang cukup keras.

 

“Pergilah kuliah,” balas Hyunni dengan wajah puasnya mengerjai Sana.

 

“Tak mau.”

 

“Yak, Min Sana.”

 

“Oh, eonni!” Tiba-tiba saja Sana memekik kecil dengan mata membulat. Ia kembali mengabaikan seruan gemas Hyunni yang sekarang memaksanya pergi kuliah.

 

“Kenapa?”

 

“Romeo Cho,” bisik Hyunni.

 

“Apa?”

 

“Dia di belakangmu,” jawab Sana masih dengan berbisik.

 

Hyunni yang memang sejak tadi membelakangi meja kasir saat melihat Sana yang mengendap-endap ke dapur pun menegang kecil di tempatnya. Seperti biasa, hanya dengan mendengar akan pria itu membuat Hyunni seolah berada di dunia lain. Dunia yang dimana Kyuhyun mendominasinya.

 

Dengan perlahan dan ragu, Hyunni membalikkan tubuhnya. Ia segera mengatupkan mulutnya yang terbuka kecilsetelah ia melihat bahwa pria itu benar ada di hadapannya. Padahal Hyunni sempat berpikir bahwa Sana sedang berbohong hanya untuk membalasnya dengan mengerjainya balik.

 

Kyuhyun, pria itu berdiri menjulang dengan tubuh yang mengenakan jas tanpa kusutnya. Kedua tangannya berada di dalam kedua saku celana yang berada di sisi tubuh pria itu. Dan Hyunni benar-benar suka melihat di balik jas itu adalah sebuah kemeja turtle-neck yang mencetak jelas tubuh sempurna pria itu. Dada bidangnya itu bahkan seolah memamerkan diri, memaksa agar Hyunni memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di sana.

 

Menatap Hyunni membuat senyuman miring Kyuhyun yang mempesona itu kembali terbit. Ia pun tidak bisa menahan senyumannya menjadi lebih lebar saat ia melihat Hyunni ternyata sedang memakai gaun yang pernah ia belikan. Gaun itu terlihat menggemaskan dengan apron di depannya.

 

“Aku ingin memesan,” ujar Kyuhyun.

 

“Ah, iya. Anda ingin pesan apa?”

 

Kyuhyun kembali menarik sudut bibirnya. Sangat lucu karena sekarang Hyunni memanggilnya dengan formal, memberikan kesan pelanggan dan penjual yang jelas.

 

Kyuhyun kemudian mengusap dagunya sebentar. Ia bingung ingin memesan makanan apa. Bagaimanapun ia datang hanya untuk melihat Hyunnisetelah gadis itu tidak membalas pesannya semalam hingga hari ini.

 

“Cappucino saja. Buat yang manis,” ucap Kyuhyun memutuskan bahwa ia hanya akan memesan minuman saja.

 

“Baiklah, Anda bisa menunggu di salah satu meja kosong. Nanti kami akan mengantarkannya.”

 

Kyuhyun mengangguk sebelum berjalan ke salah satu meja kosong yang berada di dekat sudut kafe. Melihat punggung yang menjauh itu, Hyunni menghela napas panjang. Ia seperti merasa bahwa sejak tadi ia tengah menahan napasnya selama berbicara dengan Kyuhyun. Pria itu seperti telah merenggut setengah napasnya. Padahal mereka sudah sering bertemu.

 

“Eonni, kau pecundang,” bisik Sana menggoda Hyunni.

 

“Yak, kenapa kau masih di sini? Buatkan pesanan pelanggan tadi.”

 

Sana mengangguk-angguk dengan wajah masih menatap Hyunni jenaka. “Iya, iya, Juliet Shin. Aku akan membuatkan pesanan Romeon Cho milikmu itu.”

 

Hanya dalam dua menit, Sana sudah membuakan cappuccino manis itu. Bukannya membawa ke Kyuhyun, Sana malam memberikan nampan itu pada Hyunni. Sana bahkan mengedipkan matanya menggoda.

 

“Eonni yang harus mengantarnya. Anggap saja kau sedang belajar menjadi istri yang baik nantinya.”

 

“Apa? Aku tidak mau,” balas Hyunni.

 

“Eonni, aku mau pergi kuliah. Aku sudah terlambat dan yang lain juga sedang sibuk,” ucap Sana seolah-olah ia sedang terburu-buru.

 

Hyunni menghela napas pasrah. Dengan sebal, dia meraih nampan yang diberikan Sana. Sana selalu pintar membuatnya tidak berkutik. Mau tidak mau pun Hyunni yang mengantar minuman itu kepada sosok Kyuhyun yang duduk dengan gaya aristokratnya.

 

Penampilan pria itu benar-benar mendominasi dari pria-pria lain yang berada di toko. Apalagi wajah pria itu, wajah Kyuhyun benar tidak bisa dianggap main-main. Sekali lihat, mereka semua sudah menyimpulkan pekerjaan pria itu. Apalagi kalau bukan pekerjaan yang bisa membuatnya mandi uang.

 

“Ini pesan Anda,” ujar Hyunni sembari meletakkan cappuccino itu di meja tepat di hadapan Kyuhyun.

 

Hyunni menunduk kecil pada Kyuhyun setelah memberikan cangkir minuman itu. Tatapan lekat Kyuhyun padanya pun membuat jantung bekerja berkali lipat. Tidak ada senyuman, hanya tatapan lekat yang tidak bisa di baca oleh Hyunni.

 

“Shin Hyunni-ssi,” panggil Kyuhyun saat Hyunni hendak berbalik pergi.

 

“Iya?”

 

“Kenapa kau tidak membalas pesanku semalam?”

 

Hyunni terdiam sebentar untuk mencerna pertanyaan Kyuhyun. Ia kemudian sadar bahwa semalam ia lupa membalas pesan Kyuhyun begitu sampai di rumahnya semalam. Ia begitu lelah sehingga ia langsung tertidur begitu sampai.

 

“Ah, itu! Aku ketiduran semalam.” Nada Hyunni sedikit mengecil di akhir saat ia menatap mata tajam Kyuhyun. Entah kenapa ada sirat ketidak sukaan saat membahas tentang kenapa Hyunni tidak membalas pesan pria itu. Tatapan Kyuhyun itu cukup membuatnya bergidik ngeri.

 

“Kupikir kau marah,” ujar Kyuhyun setelah ia menghela napas panjang.

 

“Marah?” Hyunni bergumam sembari kembali mengingat sesuatu.

 

Pipi Hyunni seketika merona. Ia kembali sadar bahwa Kyuhyun juga tengah mengungkit kalimat ‘aku merindukanmu’ yang ditulis Kyuhyun di pesannya. Hyunni tidak tahu harus membalas apa. Tidak mungkin ia bilang ia tidak marah karena ia menyukai kalimat itu seperti kenyataannya. Itu akan memalukan.

 

“Aku tidak membuatmu marah, kan?” tanya Kyuhyun lagi.

 

Hyunni menggeleng kecil sembari menunduk. Ia berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. Entah kenapa, setiap apa yang priaitu katakan padanya selalu membuatnya merona malu.

 

“Kalau begitu…” tanpa menyelesaikan kalimatnya, Hyunni kembali menunduk kecil lalu segera pergi ke meja kasirnya.

 

“Kau memakai gaunnya,” ucap Kyuhyun lagi dengan cepat.Ia kembali menahan Hyunni yang hendak pergi dengan suaranya. Seolah ia memang menahan Hyunni untuk pergi dari jarak dekat pandangannya.

 

“Iya. Kurasa aku lebih baik memakai mereka selama kerja karena aku tidak pernah pergi ke tempat lain selain tempat kerja.”

 

“Kau bisa menelponku setiap kau bosan dan mencari teman untuk keluar bersama. Aku akan selalu ada untukmu.”

 

Jawaban itu membuat Hyunni semakin merona. Jawaban Kyuhyun terdengar ambigu, memiliki arti yang luas. Seolah Kyuhyun memberi banyak perhatian padanya. Namun, ia masih takut berpikir bahwa Kyuhyun benar-benar menyukainya.

 

“Terima kasih, Cho Kyuhyun-ssi.Kau selalu sangat baik padaku.”

 

“Aku hanya baik padamu,”

 

Hyunni terdiam. Mata Kyuhyun yang tajam menyiratkan ketegasan dalam kata-katanya. Tidak ada senyuman, hanya tatapan tajam yang seolah ingin menusuk pandangan Hyunni. Pria itu seolah ingin memperlihatkan bahwa kata-katanya jujur.

 

Melihat diamnya Hyunni, membuat Kyuhyun kembali berkata, “Aku serius tentang kata-kataku. Jika kau membutuhkan seseorang untuk berbagi emosi atau membutuhkan seseorang yang bisa menemaniku, kau bisa menelponku kapan saja.”

 

“Kyuhyun-ssi…”

 

“Aku juga serius tentang pesanku semalam,” ujar Kyuhyun lagi, menyela kalimat Hyunni yang belum selesai.

 

Dari meja kasir, Sana tampak menatap penuh minat dengan senyumannya yang menatap jenaka pada Hyunni. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Hyunni terlihat terus merona dan sedikit salah tingkah. Entah apa yang Kyuhyun ucapkan pada Hyunni membuat keduanya betah mengobrol di sana.

 

Sana menatap sekitar.Ia melihat bahwa gadis-gadis pelanggan kafe mereka yang menatap Kyuhyun dengan penuh minat. Sebagian juga menatap iri pada Hyunni yang notabene adalah seorang pelayan kafe. Mereka mengobrol lama, membuat gadis-gadis itu ingin berada di tempat yang sama dengan Hyunni.

 

“Min Sana?”

 

Sana mengerjap saat sebuah tangan melambai-lambaidi depan wajahnya. Ia awalnya hendak marah pada orang yang menghalangi tontonannya. Namun, begitu melihat tangan siapa itu, Sana terdiam. Sekarang ia tampak salah tingkah dan merona. Persis seperti Hyunni di sana.

 

“Myungsoo oppa, annyeonghaseyo.”

 

“Namamu Min Sana, bukan? Kita tidak sempat berkenalan kemarin.” Myungsoo dengan senyum ramahnya mengulurkan tangannya pada Sana sebagai tanda perkenalan mereka.

 

“Ah, iya,” jawab Hyunni dengan suara kecil karena malu.

 

“Apa kau suka melihatku memasak?”

 

“Apa?”

 

Myungsoo tertawa kecil. “Aku melihatmu tadi saat kau melihatku memasak.”

 

Sana tertawa. Ia semakin malu karena Myungsoo memabahas dirinya yang melihat Myungsoo memasak diam-diam tadi.

 

Bukan aku suka melihat melihat memasak, tetapi karena aku memang suka melihatmu, batin Sana.

 

“Apa yang kau perhatikan begitu serius?”

 

“Ah, itu lihat di sana.”

 

Myungsoo menatap arah tunjuk Sana. Ia melihat Hyunni tampak mengobrol dengan seorang pria. Keduanya tampak berbicara dengan begitu dekat.Ia bahkan bisa melihat Kyuhyun menatap Hyunni tanpa beralih.

 

“Hyunni sedang apa dengan Cho Kyuhyun?”

 

“Kau mengenal pria itu?”

 

Myungsoo mengangguk. “Aku sering melihatnya di majalah bisnis.Dia juga sering menjadi sampul majalah bisnis. Aku tidak tahu bahwa pria itu ternyata pelanggan kita dan cukup dekat dengan Hyunni.”

 

Sana mengangguk antusias. “Mereka bukan hanya dekat. Mereka juga saling menyukai?”

 

“Benarkah? Apa mereka sepasang kekasih.”

 

Sana menggeleng dengan senyuman lebarnya. “Belum, tapi aku rasa sebentar lagi.”

 

Sana tersenyum. Ia senang ia bisa mengobrol lama dengan Myungsoo. Bahkan pria itu duduk tepat di sampingnya. Membuat jarak mereka begitu dekat. Sana suka mencium aroma dedaunan segar dari tubuh Myungsoo. Aroma itu membuatnya seolah merasa ingin memeluk Myungsoo lama.

 

***

 

Suara derap langkah dari sepatu pantofel Kyuhyun terdengar begitu ia menginjakkan kakinya di lain teratas perusahaan raksasa itu. Lantai teratas itu adalah tempat dimana ruangan kerja Kyuhyun sebagai CEO berada. Lantai itu begitu luas dan didesain semewah mungkin sesuai selera seorang Cho Kyuhyun. Terkesan klasik namun mewah.

 

“Daepyo-nim,” ucap Changmin menyapa sambil menunduk hormat saat ia melihat sosok Kyuhyun yang berjalan mendekat.

 

Walau Changmin sedikit lebih tinggi dari Kyuhyun, tetap saja aura mempesona Kyuhyun yang paling menguar sempurna. Changmin sendiri juga adalah sosok yang tampan, hampir seperti Kyuhyun. Namun wajahnya yang seperti robot membuat beberapa orang takut mendekatinya.

 

Pria bernama Shim Changmin itu sendiri bertugas bukan hanya sebagai sekretaris Kyuhyun. Changmin juga adalah tangan kanan sekaligus pengawal pribadi Kyuhyun. Changmin sendiri adalah seorang mantan atlit karate sekaligus sahabat Kyuhyun. Walau mereka bersahabat, tingkah bak seorang robot dari Changmin seolah memisahkan jarak dengan orang lain. Jadi, tidak aneh jika Changmin terbiasa bersikap sangat formal pada Kyuhyun.

 

“Daepyo-nim, Anda dari mana? Dua pulut menit lagi rapat dengan divisi keuangan.” Changmin mengikuti Kyuhyun yang sudah memasuki ruangan besarnya. Ia tampak sabar melihat Kyuhyun membuka jas luarnya dan duduk di kursi kebesarannya.

 

Kyuhyun menjawab sembari melonggarkan dasinya, “Dari kafe.”

 

“Maksud Anda kafe tempat Shin Hyunni bekerja?”

 

Kyuhyun mengangguk. “Tentu saja, aku mau ke kafe mana lagi?”

 

“Apa Anda benar-benar serius dengannya?” tatapan Changmin meredup.

 

Mendengar nada itu, Kyuhyun mengangkat kepalanya. Ia menatap tajam Changmin tidak suka. Ia hanya benci mendengar pertanyaan Changmin yang seolah melarangnya berdekatan dengan Hyunni secara tidak langsung.

 

“Kenapa? Kau mau menentangku juga? Hanya karena dia gadis miskin yang menyedihkan dan aku tidak seharusnya masuk ke dalam kehidupannya? Persis seperti yang dikatakan Jihyun?”

 

“Sayangnya itu benar,” jawab Changmin dengan ekspresi wajah yang tidak berubah sejak tadi. Tampaknya Changmin sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Kyuhyun yang sangat mengintimidasi.

 

“Shim Changmin!”

 

“Iya, Daepyo-nim.”

 

“Keluar.”

 

Tanpa banyak bicara, Changmin pun keluar setelah menunduk hormat  sekali. Sebagai sekretaris, Changmin menghormati Kyuhyun. Namun sebagai sahabat, Changmin juga ingin yang terbaik dengan Kyuhyun. Sehingga tidak jarang sosok sekertaris dan sahabat itu kadang muncul bersamaan dan menghasilkan sosok sekertaris formal yang kalimatnya menyebalkan seperti tadi.

 

Kyuhyun memijat kedua pelipisnya dengan sedikit pusing. Ia heran, kenapa tidak ada yang mengerti perasaannya? Semua menentang pilihannya. Hanya ada dua orang yang mengetahui tentang dirinya dan Hyunni, yaitu Changmin dan Jihyun. Namun, keduanya menentang. Ada yang secara langsung, ada juga yang secara tidak langsung.

 

“Oppa!”

 

Kyuhyun menghela napas panjangnya saat melihat seorang wanita berpakaian minim memasuki ruangannya. Wanita itu masuk begitu saja, membuat Kyuhyun cukup mengetahui bahwa Changmin sengaja membiarkan wanita itu masuk, mengingat Changmin hampir seperti tembok besar yang susah di lewati setiap orang. Menahan wanita melewatinya, hanyalah perkara kecil bagi Changmin.

 

Kyuhyun tahu, Changmin pasti kesal padanya. Sehingga Changmin membiarkan wanita itu masuk. Karena Changmin sangat tahu, Kyuhyun sangat jengkel dengan kehadiran-kehadiran wanita-wanita seperti itu.

 

“Oppa,” panggil wanita itu lagi dengan nada manjanya.

 

Kyuhyun kembali memijat pelipisnya. Ia tahu ia termasuk seorang casanova, semua wanita pasti akan jatuh cinta pada sosoknya. Sosok sempurna Kyuhyun seperti gula yang menarik segala macam semut. Sehingga tidak aneh, jika wanita murahan bak wanita yang ada di depannya sekarang juga tergila-gila akan pria bermarga Cho itu.

 

“Oppa,” panggil wanita itu sekali lagi dengan gemas karena ia terus diabaikan oleh Kyuhyun.

 

“Berhenti memanggilku oppa,” ucap Kyuhyun penuh penekanan.  Menurutnya begitu menjijikkan saat seorang wanita yang jelas-jelas lebih tua—walau beberapa bulan denganmu—memanggilmu dengan sebutan manja seperti itu. Seharusnya wanita itulah yang Kyuhyun panggil nuna.

 

“Aku suka memanggilmu seperti itu.”

 

“Aku tidak… um…”

 

“Kau sudah melupakan namaku ternyata. Padahal kita baru bertemu di pesta yang ada di Busan minggu lalu.”

 

Kyuhyun menarik napas panjangnya. Ia berusaha menahan geramannya saat wanita itu dengan lancangnya duduk di pangkuannya. Tidak perduli mereka bukanlah siapa-siapa, wanita itu duduk dengan nyaman di atas kaki-kaki kokoh Kyuhyun. Bahkan wanita itu mengalungkan tangannya di sekitar leher Kyuhyun, mengusap tengkuk pria itu dengan gerakan perlahan yang sensual.

 

Bagus, Shim Changmin. Aku akan membunuhmu karena ini, batin Kyuhyun menahan diri agar tidak segera melempar wanita itu melalui beranda besar yang berada di luar pintu sorong kaca di salah satu sisi ruangannya.

 

“Aku tidak perduli siapa namamu, tapi aku ingin kau turun dari pangkuanku sekarang…”

 

Belum sempat Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya itu, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka begitu saja. Membuat Kyuhyun terdiam sekaligus membeku di tempatnya.

 

***

 

“Eonni!”

 

“Kenapa?”

 

Hyunni sedang sibuk menghitung semua pesanan salah satu pelanggan saat suara Sana mengintrupsinya. Seharusnya Sana sekarang pergi kuliah, apalagi Hyunni sudah menggantikan posisi Sana saat mengantar pesanan minumannya pada Kyuhyun sesuai perjanjian. Namun dengan menyebalkannya, Sana malah mengatakan bahwa ia bercanda dan tidak akan pergi kuliah. Hyunni pun menyerah, mengalahkan sosok menyebalkan seperti Sana kadang menjadi ketidakmungkinan.

 

“Lihat!” Sana tampak melambaik-lambaikan tangannya yang memegang sebuah ponsel berwarna hitam mengkilap.

 

“Kau dapat ponsel sebagus itu dimana?”

 

“Ini milik Romeo Cho?”

 

“Apa?!”

 

Sana mendekat.Ia memberikan ponsel itu pada Hyunni begitu Hyunni sudah mengebalikan uang kembalian. Sana hanya menatap Hyunni yang tampak serius menatap dan membolak-balik ponsel itu di tangannya.

 

“Apa ini benar ponselnya?” tanya Hyunni seperti bergumam. Padahal ia sendiri tampak yakin bahwa ponsel itu milik Kyuhyun. Memang siapa lagi yang akan memiliki ponsel mewah keluaran terbaru seperti ini selain pria pemboros itu?

 

“Dia melupakannya di atas meja tadi,” jawab Sana sembari menunjuk meja kosong yang baru saja ditempati oleh sosok Kyuhyun.

 

“Eonni, pergilah. Aku akan menggantikan tempatmu sebentar.”

 

“Apa?!”

 

Sana mendecak kesal. Hyunni terkadang lambat menangkap maksudnya jika sudah berurusan dengan Cho Kyuhyun. Hyunni selalu tampak bengong jika sudah mengingat pria itu.

 

“Eonni, ponsel itu adalah hal yang penting bagi semua orang. Apalagi jika seorang pemimpin perusahan besar seperti Romeo Cho. Mereka kadang berbisnis lewat ponsel.”

 

“Benarkah?”

 

Sana menggeleng-geleng mencibir Hyunni. “Iya, tentu saja!”

 

“Kalau begitu ponsel ini penting.”

 

“Tentu saja! Dan kau harus mengembalikannya sekarang, eonni! Gedung perusahaannya juga lumayan cukup dekat.”

 

“Aku? Kenapa harus aku? Kau saja. Kau yang menemukannya,” protes Hyunni memberikan ponsel itu kepada Sana. Namun, Sana tampak tidak berniat sama sekali untuk mengambilnya kembali. Sana bahkan tampak mundur menghindar.

 

“Karena kau calon kekasihnya, bukannya aku, eonni!”

 

“Yak!” seru Hyunni gemas. Entah kenapa ia jengkel setiap Sana mengatakan itu. Kalimat itu seolah membawanya terbang tinggi sebelum terjatuh di tanah yang keras.

 

“Aku tidak perduli, eonni. Pokoknya, kau yang mengembalikannya.”

 

“Yak! Min Sana!”

 

Hyunni hanya bisa berseru memanggil Sana begitu gadis itu meninggalkan ponsel itu di tangan Hyunni. Sana langsung pergi begitu saja, membuat Hyunni mau tidak mau harus mengembalikannya.

 

Hyunni menatap ponselnya yang ada di tangannya. Ia menatap lekat ponsel hitam itu dalam diamnya. Ia berpikir apa harus mengembalikannya sekarang atau tidak. Namun, mengingat perkataan Sana tadi bahwa ponsel itu penting untuk seorang pebisnis, Hyunni menjadi tidak punya pilihan lain selain mengembalikannya sekarang.

 

Sembari melepaskan apron yang melekat di tubuh depannya, Hyunni meraih sweter yang ia pakai saat datang tadi. Hyunni berjalan keluar menuju ke samping kafe, di mana sepedanya berada. Hyunni sendiri sebenarnya tidak tahu di mana perusahaan Kyuhyun berada. Namun berkat ponsel pintarnya serta internet, ia dengan mudah menemukan alamat perusahaan itu.

 

Sana benar bahwa perusahaan itu memanglah dekat dari kafe.Jaraknya hanya empat kilometer dari kafe berada. Berarti paling lama hanya lima belas menit bersepeda, ia akan sampai di perusahaan.

 

“Woah!”

 

Hyunni sedikit terperangah melihat bangunan yang tinggi menjulang yang ada di hadapannya. Bangunan itu begitu tinggi hingga membuat leher Hyunni terasa sakit karena menengadahkan kepalanya melihat ujung gedung itu.Gayanya pun begitu modern, membuat semua orang bisa mengetahui bahwa perusahaan itu adalah perusahaan yang sangat besar dalam berbagai kategori.

 

Perlahan, Hyunni melangkah kakinya masuk.Ia terlihat ragu-ragu karena suasananya begitu asing bagi Hyunni. Banyak orang-orang berpakaian kantoran berlalu-lalang di lobi besar itu. Sedangkan Hyunni hanya bisa berdiri di tengah-tengah lantai kantor itu, sembari memegang erat ponsel yang ia genggam di depan tubuhnya.

 

Lama Hyunni hanya berdiri terus di sana. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia harus mengembalikan ponsel itu, tetapi ia tidak mungkin langsung pergi begitu saja mencari pria yang memiliki perusahaan itu. Lagipula ia tidak tahu di mana tepatnya pria itu berada. Mencari Kyuhyun di gedung raksasa itu rasanya akan memakan banyak waktu.

 

“Annyeonghaseyo, Shin Hyunni-ssi?”

 

Suara dari belakang tubuh Hyunni membuat gadis itu segera membalikkan tubuhnya. Ia menatap pria tinggi yang ada di hadapannya dengan kerutan dahi. Ia merasa ia pernah melihat pria itu sebelumnya di suatu tempat.

 

“Kau pria yang datang bersama Cho Kyuhyun ke kafe saat rapat itu, bukan?” tanya Hyunni saat ia mulai ingat bahwa ia pernah bertemu dengan pria itu saat perusahaan Kyuhyun mengadakan rapat kecil dan santai di kafe di hari pertama kali Hyunni menglihat Kyuhyun. Pria itu adalah sekretaris Kyuhyun.Sana yang mengatakannya padanya.

 

Dengan wajah datarnya, Changmin menundukkan kepalanya kecil. “Iya, benar. Namaku Shim Changmin. Ada apa Anda di sini?”

 

Mendengar pertanyaan itu, Hyunni mulai berseru dan memperlihatkan ponsel yang ada di tangannya. Ia menunjukkan ponsel Kyuhyun yang tidak sengaja pria itu tinggalkan di kafe. Sekali lihat sendiri, Changmin bisa mengenali bahwa ponsel yang ada di tangan Hyunni memanglah ponsel atasannya.

 

“Tadi, dia melupakannya di meja kafe. Kata Sana ponsel itu penting untuk pengusaha. Jadi, aku segera datang ke sini untuk mengembalikannya.”

 

Changmin hanya terdiam dengan wajah datarnya. Ia hanya mendengarkan semua perkataan Hyunni sembari memandang wajah Hyunni lekat. Sudah kebiasaan Changmin diam dan menatap saat seseorang berbicara padanya.

 

“Kalau begitu, berhubung sekarang aku bertemu dengan Changmin-ssi, bisa aku minta tolong berikan ponsel ini padanya?” tanya Hyunni sembari mengulurkan ponsel itu pada Changmin.

 

Beberapa detik Changmin hanya menatap Hyunni dan ponsel itu bergantian, sebelum Changmin kembali menundukkan kepalanya sebentar. Wajahnya masih datar dan kaku seperti biasa. Dan tatapan mata Changmin seolah tidak ada yang bisa membacanya karena tatapan Changmin tampak tidak pernah berubah.

 

“Maaf, tetapi saya ada keperluan sekarang. Anda bisa menemui Cho Daepyo ke ruangannya langsung. Ruangannya adalah di lantai 31. Terus saja berjalan setelah keluar dari lift dan Anda akan melihat pintu besar yang terbuat dari kayu mahoni. Masuk saja ke dalam, Cho Daepyo ada di sana.”

 

“B—baiklah,” jawab Hyunni yang sedikit ragu.

 

Changmin hanya mengangguk merespon. Ia kemudian berbalik, hendak pergi dari sana sebelum suara lembut Hyunni kembali memanggilnya. Membuat Changmin berbalik dan melihat wajah cantik Hyunni yang terlihat polos di matanya.

 

“Changmin-ssi, aku tahu kita baru bertemu. Tapi tidak usah berbicara terlalu formal padaku. Itu sedikit membuatku tidak nyaman,” kata Hyunni saat Changmin sudah kembali menatap dirinya.

 

Changmin kembali terdiam. Tanpa pria itu sadari, sebuah senyumannya yang cukup kecil juga samar, tercetak di bibir pria tinggi itu. Senyuman itu adalah hal yang paling langkah dari sekretaris itu.

 

“Baiklah, aku mengerti, Hyunni-ssi. Kalau begitu, sampai jumpa lagi. Semoga harimu menyenangkan.”

 

“Iya, semoga harimu juga menyenangkan, Changmin-ssi.”

 

Changmin berbalik setelah pamit untuk kedua kalinya. Begitupun Hyunni yang juga berbalik pergi menuju ke salah satu lift yang ia lihat. Namun, perlahan kepala Changmin berbalik lagi dengan langkah yang masih berjalan. Ia melihat punggung Hyunni yang tampak berjalan dengan ceria. Melihat itupun, Changmin merasa jahat pada gadis polos itu.

 

Changmin berbohong tentang urusan penting yang sedang ia kejar. Pria itu hanya akan ke kedai kopi yang berada di depan gedung perusahaan. Ia sengaja menyuruh Hyunni mengembalikannya sendiri pada Kyuhyun yang ada di ruangannya. Ia ingin Hyunni melihat dan berpikir bahwa Cho Kyuhyun itu brengsek. Mungkin terlihat jahat, tetapi itu yang terbaik.

 

Karena Hyunni tidak pantas untuk Kyuhyun.

 

Di lain sisi, Hyunni sedang menunggu lift itu membawanya ke lantai yang ia tuju sesuai dengan instruksi sekretaris Kyuhyun, Changmin. Kotak lift itupun terhenti tepat di lantai teratas bangunan perusahaan itu. Dengan perlahan, Hyunni berjalan keluar.

 

Gadis itu kembali terperangah melihat mewahnya lantai itu. Di beberapa permukaan dinding tampak tertempeli dengan lukisan-lukisan berukuran besar dengan bingkai berwaran emas. Ada juga beberapa vas keramik yang tidak kalah indah dan mewah terlihat.

 

Beberapa saat kemudian. Hyunni melihat ruangan luas. Di sana tampak beberapa sofa tersusun membentuk segiempat yang rapih. Ada pula akuarium yang cukup besar menghiasi salah satu sisi ruangan. Dan sebuah meja besar dengan computer mewah di atas, membuatnya Hyunni cukup yakin bahwa itu adalah meja khusus untuk Shim Changmin, sang sekretaris

 

Mata Hyunni kemudian melihat pintu besar yang dikatakan oleh Changmin sebelum. Pintu dengan dua daun pintu itu tampak begitu kokoh dengan warna cokelat dan ukiran-ukiran rumitnya. Pintu yang katanya adalah pintu ruangan Kyuhyun.

 

Hyunni berjalan perlahan. Ia meneguk ludahnya sebentar saat berada tepat di depan pintu itu. Ia akan bertemu Kyuhyun, dan itu selalu berhasil membuatnya gugup setengah mati.

 

Bunyi ketukan kecil terdengar saat tangan kecil itu bergerak beberapa kali di atas permukaan kayu tebal itu. Hanya dua ketukan, tetapi membuat jantung Hyunni berpacu. Dan dua ketukan itulah yang menjadi penanda bahwa Hyunni akan masuk, mengingat Changmin menyuruhnya untuk langsung masuk saja.

 

“Cho Kyuhyun-ssi…”

 

Napas Hyunni tercekat bahkan sebelum gadis itu benar-benar menyelesaikan kalimat pertamanya. Wajahnya pun seketika merah pada karena malu dan sedih. Ada pula sedikit rasa marah dan kecewa yang menyelip di dalamnya melihat bagaimana seorang wanita duduk di pangkuan Kyuhyun sembari mengusap tengkuk pria itu dengan lembut menggunakan kedua tangannya. Seolah memberikan rangsangan pada pria yang memangkunya.

 

Kyuhyun sendiri seketika terlonjak kaget dari tempatnya begitu melihat siapa yang muncul di ambang pintu yang terbuka kecil itu. Ia langsung berdiri dari duduknya setelah menyingkirkan wanita itu dari pangkuannya. Tubuhnya pun menegang diam menatap Hyunni, ia masih berusaha memastikan bahwa Hyunni benar-benar ada di depannya sekarang.

 

“H—Hyunni-ssi?” gumam Kyuhyun.

 

Gumaman kecil itu mungkin hanya didengar orang Kyuhyun sendiri. Betapa bodohnya ia hingga membuat Hyunni harus melihat adegan itu. Kyuhyun menghela napas gusar. Pasti semuanya Changmin sengaja membuat mereka bertiga bertemu.

 

Seandainya jika dia bukan sahabatku, sudah lama aku membuatnya angkat kaki dari sini, batin Kyuhyun.

 

“M—maaf, aku tidak bermaksud melihatnya,” ucap Hyunni dengan sekali tarikan napas. Dan tanpa Kyuhyun selesai mencernanya, sosok Hyunni sudah menghilang dan pintu ruangannya sudah tertutup dengan rapat kembali.

 

“Shin Hyunni-ssi!” seru Kyuhyun sembari melangkah panjang, berniat mengejar Hyunni.

 

“Oppa!”

 

Kyuhyun menggeram saat wanita penggoda itu menahan lengannya.Ia mengambil napas panjang, berusaha menetralkan emosinya. “Keluarlah, siapapun namamu aku tidak mengingatnya.Atau aku akan memanggil keamanan untuk membawamu keluar gedung.”

 

E6Wanita itu melepaskan cekalannya dengan kesal. Ia menghentakkan kakinya sebentar sebelum akhirnya berjalan pergi. Ia dengar Kyuhyun adalah pria yang menyeramkan jika sudah marah. Walaupun wanita itu merasa sebal, ia masih waras untuk tidak menyulut agar pria itu lebih marah.

 

Dengan mulut yang menggumamkan sumpah serapah kecil, ia keluar dari ruangan besar itu. Ia kemudian melihat gadis yang merusak suasananya masih berdiri mematung di depan ruangan itu. Tampaknya gadis itu masih syok akan tontonan tadi. Benar-benar terlihat seperti gadis polos menurut wanita itu, membuatnya mendecih kecil.

 

Hyunni sendiri masih terdiam di tempatnya sembari menggenggamerat ponsel yang ada di tangannya. Hingga ia sadar wanita yang ada di dalam sana sudah keluar melewatinya. Bahkan wanita itu sempat membuang muka dengan kesalnya pada Hyunni.

 

Suara pintu kembali terdengar terbuka, membuat Hyunni meneguk ludahnya. Jujur saja, apa yang ia lihat membuat dadanya berdesir nyeri. Ia tidak menyangka, tertarik dan menyukai Kyuhyun ternyata sulit dijalani. Pria dengan segala kesempurnaa bak dewa yunani yang berkuasa, membuat pria itu menjadi sosok yang tidak lepas dari sosok wanita.

 

“Hyunni-ssi,” gumam Kyuhyun sedikit lega melihat punggung gadis itu di depannya. Ia pikir gadis itu sudah lari menghilang entah kemana setelah apa yang terjadi tadi.

 

Hyunni pun berbalik saat mendengar suara itu. Ia bergerak kikuk dengan senyuman yang terlihat kaku. “K—kau melupakan ponselmu di kafe tadi.”

 

Kyuhyun menatap ponsel yang disodorkan Hyunni. Itu memang ponselnya. Kyuhyun sendiri tidak sadar melupakannya. Seingatnya tadi, ia memang meletakkannya di atas meja saat hendak meraih dompetnya. Dan saat ia mendapatkan dompetnya, Kyuhyun berdiri begitu saja lalu berjalan ke kasir tempat Hyunni duduk.

 

“Masuklah,” ucap Kyuhyun membuka pintua ruangannya lebih lebar, bukannya meraih ponsel yang ada ditangan Hyunni.

 

“Tidak, aku hanya datang mengembalikannya.”

 

“Aku bilang masuk, Hyunni-ssi.Aku ingin mengatakan sesuatu.”

 

Hyunni bergidik kecil. Sosok diktator Kyuhyun kembali muncul.Membuatnya tidak bisa membantah sedikit pun. Dengan perlahan,  Hyunni kembali melangkah masuk. Matanya secara spontan melihat ke tempat dimana Kyuhyun memangku seorang wanita tadi.

 

“Tentang tadi, itu tidak seperti yang terlihat,” ucap Kyuhyun begitu mereka kembali masuk ke dalam ruangan itu. Mereka bahkan masih berdiri di depan pintu masuk itu saat Kyuhyun mengatakannya dengan tidak sabaran.

 

“Tidak apa-apa, juga tidak melihat banyak. Tenang saja,” balas Hyunni dengan bersusah payah menahan sakit di dadanya.Ia tidak baik-baik saja. Ia sedih.

 

“Tidak! Itu bukan tidak apa-apa!” sela Kyuhyun sedikit berseru tidak menerima.“Kau harus mendengarku. Kami tidak melakukan apa-apa. Ia duduk begitu saja di pangkuanku. Aku bahkan tidak mengenal apalagi mengingat namanya. Aku bahkan sudah menyuruhnya turun dari pangkuan sejak tadi.”

 

Hyunni terdiam. Rasa berat dan nyeri di hatinya seketika terangkat. Kyuhyun sekarang terlihat persis seperti pria yang berusaha menjelaskan kesalahpahaman kepada kekasihnya. Namun bukan itu yang membuat Hyunni senang, melainkan karena ia tahu bahwa ia memang salah paham akan hal yang ia lihat tadi.

 

Hyunni kemudian tersenyum. Ia bahkan sudah tertawa kecil, membuat Kyuhyun hanya terdiam melihat respon Hyunni. Gadis itu tertawa sangat manis hingga matanya terlihat ikut tertawa.

 

Senyuman mata yang indah, batin Kyuhyun tanpa sadar.

 

“Baiklah, Kyuhyun-ssi. Aku mempercayaimu dan tidak akan mengatakan pada siapa-siapa,” balas Hyunni. Ia mengira Kyuhyun menjelaskan itu karena pria itu takut Hyunni menyebarkan tentang perilaku tadi kepada orang lain, yang mana akan merusak citra seorang Cho Kyuhyun.

 

Kyuhyun menghela napas. Ia kemudian ikut tersenyum karena tertular oleh Hyunni. “Baiklah.”

 

“Ah, iya! Ini ponselmu.”

 

Hyunni menyerah ponsel yang ada di tangannya. Namun, tanpa sadar Hyunni langsung melepasnya begitu saja sebelum Kyuhyun benar-benar mengambilnya. Sehingga ponsel itu terjatuh dari tangan Hyunni dan mendarat di karpet dan selamat dari retakan.

 

Hyunni menunduk mengambilnya. Namun ia kembali terdiam saat melihat ponsel yang menyala itu. Terlihat gambar yang menjadi gambar utama layar itu. Gambar seorang gadis tersenyum.

 

“Cantiknya,” gumam Hyunni tanpa sadar saat ia kembali berdiri dan menatap ponsel yang ada di tanggannya.

 

Hyunni kembali terdiam. Gadis itu tampak seumuran dengannya. Namun, yang menjadi pertanyaan kenapa gadis itu menjadi gambar layar ponsel Kyuhyun.

 

Apa ini kekasihnya?  batin Hyunni. Ia sedikit membuka mulutnya tidak percaya bahwa ia menyukai seorang pria yang telah memiliki kekasih.

 

“Hyunni-ssi.”

 

Hyunni yang terdiam, tersenyum miris.Ia mengembalikan ponsel itu pada akhirnya. “Dia sangat cantik. Pria yang menjadi kekasihnya benar-benar beruntung.”

 

“Dia kekasihku.”

 

Dada Hyunni kembali nyeri. Ia tahu itu. Namun, mendengarnya langsung dari Kyuhyun lebih menyakitkan dari pada memikirkannya.

 

“Tapi itu dulu,” tambah Kyuhyun tersenyum miris.

 

“Kalian putus?”

 

Kyuhyun tersenyum miring. Lebih terlihat mencemooh. “Kami berpisah. Lebih tepatnya dia yang meninggalkanku. Dia pergi begitu saja setelah mencampakkanku.”

 

“Maaf,” lirih Hyunni .Ia tidak bermasuk membuat pria itu sedih mengingat masa lalunya. Pasti begitu sakit sekali rasanya ditinggal begitu saja oleh orang yang kita cintai.

 

“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku sudah belajar menerimanya.” Kyuhyun tersenyum. “Aku tidak mengganti gambar layarku karena aku sudah terbiasa dengan foto itu. Jadi, aku membiarkan fotonya terus terpampang di ponsel itu.”

 

“Mungkin itu jalan yang terbaik.” Hyunni menyentuh salah satu pundak lebar Kyuhyun. Ia tersenyum berharap itu bisa membuat Kyuhyun merasa lebih baik. Walau ia sedih karena mengetahui Kyuhyun masih menyimpan rasa pada kekasihnya itu, Hyunni tetap berusaha menghibur Kyuhyun dengan senyumannya.

 

Tak sadar, jarak mereka begitu dekat. Mata Kyuhyun pun terkunci di mata Hyunni.Kyuhyun mengumpat kecil dalam hatinya. Ia terpesona melihat mata Hyunni yang diukir begitu indah oleh sang pencipta.

 

Hingga kemudian mata Kyuhyun beralih pada bibir Hyunni.Kyuhyun kembali mengumpat dalam hatinya. Ternyata ia baru sadar, bibir Hyunni terlihat begitu indah. Tipis, tetapi terlihat penuh secara bersamaan. Membuat Kyuhyun membayangkan. Bagaimana rasanya jika ia  mencecap bibir merah muda itu?

 

Persetan dengan semuanya! seru batin Kyuhyun.

 

Kyuhyun pun segera mendekatkan wajahnya. Menutup matanya menanti bibir itu menyapa bibirnya. Bibir yang sebenarnya sudah menarik perhatiannya sejak pertama kali melihat wajah Hyunni.

 

Plak!

 

Bibir yang sedikit lagi menyapa bibir Hyunni, berhenti bergerak maju. Bahkan mata Kyuhyun sudah membulat. Rasa sedikit perih di pipinya menyadarkannya. Dan tangan Hyunni yang telah menampar Kyuhyun masih melayang di udara.

 

Keduanya saling memandang. Kedua mata membulat. Dan saat itu Kyuhyun sadar, untuk pertama kalinya, ada seorang wanita yang menolak sentuhannya. Di saat di mana semua wanita menginginkan ciumannya, Hyunni malah menolaknya dengan tamparan.

 

To be continue…

172 thoughts on “Uncontrollably Crush Part 4

  1. Msh pnsran am org yg suka nguntit hyunni..
    Omo.. Ap kyu msih cinta am mantan ny?..buktiny dy msih pajang fto mantan ny. Hadeuhhhh.
    Wehhhh main nyosor aj si lu bang. Jd ny kena cap 5 jari deh hihihi

    Suka

  2. Trnyata Kyu udah pnya cwek,,,qu kira Kyu prnah ada hbngn dgn Hyunni dlu,,,trnyata gk…
    Apa krna alasan ini,,Changmin n Jihyun tdk suka Kyu mnjlin kasih dgn Hyunni????
    Qu kira Hyunni bklan sneng di cium ama Kyu,,,tp eeeh mlh Kyu di tampar,,,psti Hyunni mrasa trsinggung dgn prlakuan Kyuhyun.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ciee sekarang Sana sudah punya romeo sendiri.. Hahaha :v

    Gitu banget Changmin ke Hyunni-nya,, jahat!

    Uhhh.. Hyunni nolak ciumannya Kyuhyun? What the..
    Sini Oppa buat aku aja ciumannya,, aku selalu menerimamu kok >o<

    Disukai oleh 1 orang

  4. aku kasihan sama hyunni, yg diperlakukan seprti itu sama adiknya kyuhyun dan changmin, sebenarnya udah ngerasa pasti changmin mau jebak hyunni waktu mau ngembaliin hp kyuhyun. Yg sabar yaa hyunni, penguntit itu tau kelemahan hyunni sekarang.. Mudah”an minhyuk adalah pria baik”. Kalo ga ad yg restu hub kyuhyun sama hyunni mendingan hyunni sama minhyuk. Plak! Di tampar kyuhyunnya rasain siapa suruh mau melakukan hal yg ga boleh di lakukan sedangkan kalian baru kenal bukan juga pasangan kekasih, apakah nanti mantannya kyuhyun bakal dateng ditengah-tengah kyuhyun dan hyunni, kenapa sih mereka ga suka sama hyunni apa cuman karena status? Itu benar” keterlaluan.. Hyunni kan mempunyai pekerjaan emang sih ga sebanding sama kyuhyun tpi kan pekerjaan dia lebih baik darpda menjadi seseorang yg bekerja di club. Kan ga ada yg tau masa depan bisa sja hyunni 1 tahun kedepan jadi seseorang sukses?.. Aku kesel banget kalo kayak gini. Mandang status seseorang tanpa tau dia orgnya seperti ap.. Maaf kalo aku bawel 😀 semangat ngetiknya thor..

    Disukai oleh 1 orang

  5. Msih bnyak rahasia yg blum trungkap.. Kok aku skrng jdi curiga ke Myungsoo yakk wkwkwkwk msih bngung sma sifatnya Cho aplgi dia msih jdiin foto mntannya buat wallpaper klo udh lupa pan psti di gnti lah ini mngkin si Cho msih ada rsa sma mntannya

    Disukai oleh 1 orang

  6. kenapa changmin juga kaga suka sama hyuni
    apa changmin tahu siapa hyuni gitu
    sumpah ini cerita bikin penasaran banget kak
    di tunggu lanjutan nya

    Disukai oleh 1 orang

  7. Ahhhhhh aku bingung sama sifat kyu disini
    Apa dia emang baik atau pretend????
    Siapa laki2 yang nguntit hyunni
    Adudududududhh pening Aku
    But i really like this ff
    Ditunggu nextnya kak^^
    Keepwriting

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s